...karena dia adalah bagian tak tergantikan dalam resonansi jiwa...

.
.
.

"Aku pulang.."

Sekitar pukul empat sore, Soul sampai dan membuka pintu apartemennya dengan baju sedikit basah.

"Nyan~ Okaeri, Soul-kun!" Blair yang berdiri di depan kulkas sambil membawa sekotak susu menyambutnya dengan ceria. "Ara? Mana Maka-chan?"

"Entahlah." Soul melepas sepatunya dan menyampirkan jaket jeans nya di gantungan baju. "Mungkin dia masih di perpustakaan." Soul menambahi dingin sambil berjalan menuju dapur. Melewati Blair, lalu membuka kulkas untuk mengambil sekaleng soda.

"Kalian tidak pulang bersama?"

"Begitulah." Soul membuka kaleng itu dan meneguknya sambil berdiri. Blair terdiam beberapa detik memperhatikan albino itu menghabiskan sekaleng soda lalu membuangnya di tempat sampah.

"...doushitano, Soul-kun? Apa terjadi sesuatu antara kalian berdua?" Blair yang mengenakan piyama itu mulai cemas, menyadari tensi dan jeda yang ada ketika lelaki itu menjawab pertanyaannya tadi. Tapi yang ditanya hanya terdiam dan berlalu begitu saja. Masuk ke kamarnya dan menutup pintu. Meninggalkan kucing ungu itu sendirian dalam kebingungan.

"Kau nggak pulang, Maka?"

"Mhh sebentar lagi... hampir selesai." Maka terus menulis di buku catatannya setelah mengobrol panjang lebar dengan Hiro yang duduk di seberangnya. "Kau pulang duluan saja, Hiro."

"Ah, gapapa kok. Aku ga keberatan menunggumu." Sudah hampir dua jam mereka menghabiskan waktu bersama di perpustakaan. Yang berarti kelas privat mereka hampir usai.

Selama itu, mereka berdua hanya mengobrol tentang Hiro, dan Maka mengulas buku yang dibacanya. Ia bahkan bercerita kalau tujuannya membaca buku-buku ini adalah agar dia bisa lolos ujian meister bintang tiga.

Hiro merasa agak canggung, tapi ia mengagumi Maka dan teman-temannya dari grup Spartoi yang sudah diangkat menjadi bintang dua semenjak mereka dikirim untuk menyelamatkan Kid di dalam Buku Eibon. Ia menjadi terinspirasi banyak hal ketika mendengar cerita Maka, dan ingin mengambil langkah meski hal pertama yang ia lakukan sekarang adalah mencari partner tetap.

"Oke, sudah selesai." Tanpa ia sadari, Maka sudah selesai berbenah. Mereka lalu beranjak keluar dari perpustakaan Shibusen dan menuju gerbang.

"Kalau begitu sampai disini saja ya, Hiro. Besok Rabu, kita akan cari hal baru lagi." Hiro mengangguk berterimakasih dan melambai padanya lalu berjalan berlawanan arah. Maka menghela napas. Aku pulang jalan kaki lagi.

Pukul enam. Untung saja tidak hujan. Ia tahu kalau ia akan terlambat makan malam, tapi ia tetap berjalan santai sambil membaca buku -lagi. Ia berhenti tak lama setelah mendengar suara yang memanggilnya.

"Maka!" Ia menoleh.

Seorang pria berambut merah berlari menghampirinya. Ia berhenti tepat di depan Maka, menyentuh kedua lututnya dan terengah-engah.

"Papa..?"

Spirit Albarn tersenyum, raut wajahnya terlihat kelelahan setelah berlari. "Maka, kau mau pulang ya..?" Ia berdiri tegak meluruskan badannya, kemudian menoleh ke berbagai arah untuk mencari sesuatu. "Lho, mana Soul?"

"Sudah pulang." Maka menjawab singkat dengan tatapan bosan, membuat papanya membelalakkan mata. "Memangnya kenapa?"

"Tumben sekali.." Spirit menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Biasanya kalian selalu pulang bersama..."

Maka terdiam dan tidak menjawab. Ia membalikkan badan, dan berlalu. Berjalan santai sambil meninggalkan papanya begitu saja.

"Ada masalah, ya?" gadis itu terhenti. Ia tersenyum pahit. Menyebalkan.

Maka sebenarnya tidak pernah benar-benar membenci papanya. Ia hanya... memiliki perasaan rumit yang tidak bisa dijelaskan karena perceraian orang tuanya, kepergian Mama, dan kebiasaan buruk Papa. Sekesal apapun dia pada papanya, toh sekarang ia sudah mulai bisa menerima secara dewasa kenyataan sebenarnya. Ia sudah tidak terlalu menyalahkan papanya atas semua yang sudah berlalu. Tidak lagi terlalu sinis terhadap papanya. Dan dari dulu, ia tahu kalau Papa sebenarnya sangat menyayanginya...

"Iya, aku dan Soul sedang... berlawanan argumen." Maka menunduk memperhatikan buku-buku yang sedari tadi dipeluknya. Ia merasakan angin sore di musim gugur berhembus sepoi menerpa wajahnya. Dingin.

"Papa tidak keberatan mendengar kalau kau ingin bicara." Pria itu menepuk pundak anak gadisnya dengan lembut. Tersungging sedikit senyuman di kedua ujung bibirnya. Bersyukur karena putrinya yang dulunya pemarah, menjadi lebih terbuka padanya. "Apa ini tentang kau yang diminta Shinigami-sama untuk mengajar temanmu?"

Menyebalkan sekali. Maka mengangguk. Mukanya murung. Spirit Albarn merangkul pundaknya sambil berjalan pelan.

"Aku..tidak mengerti kenapa dia marah hanya karena aku melakukan kegiatan positif dengan orang lain di sekitarku. Maksudku, apakah dia pikir yang kulakukan ini bukan hal baik?" Maka mendesah pelan. "Dia mulai menyangkut-pautkannya dengan hal-hal lain. Aku tidak mengerti..."

Spirit Albarn terdiam mendengarkan ketika putrinya menceritakan -sebagian besar- apa yang telah terjadi. Ia tersenyum sedih mendengar perasaan anak kesayangannya sepanjang perjalanan. Mereka berhenti di taman dekat apartemen Soul dan Maka. Spirit menggandeng putrinya mendekati kolam air mancur.

"Apa menurutmu aku salah, Papa?" ia terus menunduk dan suaranya pelan.

"Maka, apakah kau tau kenapa dia emosi begitu tau kau mengambil keputusanmu itu?" Spirit melepas gandengannya lalu mendongak ke arah langit. Sudah mulai gelap. Matahari terlihat teramat sangat mengantuk.

Maka terdiam. Tidak menjawab.

"Kurasa, Soul-kun marah dan emosi.. karena kau membuatnya cemas." Maka mendengarkan papanya.

"Aku tidak mengerti..."

"..Kau, Maka. Kau sama seperti Mamamu.. Kau selalu berusaha keras. Selalu ingin berlari maju, memiliki pandangan luas ke depan.. kau selalu berusaha menolong semua orang yang ada di sekitarmu. Kau baik hati, namun kadang kau tidak sadar akan beberapa hal. Persis seperti Mama. Kalian selalu berusaha melakukan yang terbaik dalam segala hal, tanpa takut mengorbankan diri sendiri."

Maka terdiam. Ia masih tidak mengerti. Kenapa pemikiran lelaki itu memusingkan sekali? Ia merasakan Papa menatapnya, tapi ia terus menunduk. Tak tau harus berkata apa.

"Papa rasa, Soul-kun marah karena ia mencemaskanmu yang gegabah mengambil keputusan sendiri tanpa melibatkannya. Ia marah karena kau, Maka.. selalu memaksakan diri, dan bekerja keras di luar kewajibanmu yang juga berdampak menguras waktu berharga kalian berdua sebagai partner." Spirit mengusap rambut gadis itu dengan lembut. "Ia ingin berada bersamamu, tapi kau terus berlari meninggalkannya. Dan Papa rasa, kau harus lebih peka terhadap partnermu, karena dia adalah bagian tak tergantikan dalam resonansi jiwa kalian."

Begitu, Maka mendongak membelalakkan mata mendengar ucapan papanya. Ia menyadari beberapa hal yang mulai terkoneksi di kepalanya. Ia merasa bersalah pada Soul. Mungkin memang apa yang diucapkan Papa ada benarnya, meski Soul bukan lagi kewajiban utamanya, tetap saja Soul adalah partnernya. Menyebalkan sekali. Orangtua selalu menyadari banyak hal.

"Papa, begitukah cara Papa melihat Mama? Sebagai sesuatu yang penting yang tak tergantikan...?"

Spirit Albarn tersenyum. "Kalian berdua adalah hal yang paling Papa syukuri sepanjang hidup Papa." Ia mengelus rambut putrinya dengan halus. "Maafkan Papa, yang tidak bisa menjaga Mama agar tetap tinggal. Maafkan kebiasaan Papa yang tidak pernah bisa setia, yang membuat Mama pergi. Kesalahan Papa yang tidak sanggup mengistimewakan Mama dan kau adalah satu-satunya hal yang ingin Papa perbaiki seumur hidup." Spirit memaksakan senyum sambil menyeka kenangan keluarga kecilnya yang sudah berantakan itu. Maka-lah satu-satunya yang ia miliki sekarang.

Maka tersenyum kecil. Tak terhitung berapa kali Papanya meminta maaf padanya akan hal yang sama. Ia memang mencintai dan merindukan Mama, tapi ia juga menyayangi Papanya meskipun begitu. "Aku... Mmm.. Profesor Stein pernah bilang padaku, Papa memang memiliki kemampuan untuk mengontrol dan membaca gelombang jiwa partner Papa, karena itulah Papa terkenal di kalangan wanita."

"Haha, Stein selalu mengatakan hal yang tidak perlu." Maka memperhatikan Papanya yang tertawa kikuk.

"Uhmm.. anoo nee... Papa, bagaimana Kid sebagai Shinigami yang baru menurut Papa?"

"Oh, dia sudah banyak berkembang semenjak kepergian Shinigami-sama beberapa bulan lalu. Sekarang ia sudah mulai beradaptasi dan memperbaiki beberapa peraturan yang dibuat ayahnya." Spirit agak terkejut dengan peralihan topik barusan.

"Sasuga, Kid-kun. Dia memang hebat." Maka tersenyum bangga. "Papa akan lebih lama menghabiskan banyak waktu dengannya, kan?" Ia mendongak memperhatikan wajah papanya.

"Y-yah.. kan karena urusan pekerjaan. Memangnya kenapa? Apa kau perlu tau sesuatu tentang dia?" Spirit mulai menduga satu hal...

"Uhm.. apakah... mmm.." Maka ingin bertanya satu hal yang mengganggunya -tentang Kid. Tapi ia urungkan niat itu. "Uhmn tidak jadi deh."

Spirit kebingungan. Tapi ia diam saja. "Oh.. oke. Omong-omong, sudah hampir gelap. Kau harus segera pulang dan berbicara baik-baik dengan Soul. Kalian harus punya sistem demokrasi." Spirit menyentil dahi Maka pelan, membuat Maka terkikik geli sambil memeluk Papanya yang terkejut, namun merileks dan membalas dekapan putrinya dengan hangat.

"Terima kasih, Papa.."

Spirit Albarn melambai memperhatikan putrinya berlari menjauh menuju apartemennya dan Soul. Ia menghela napas.

Mereka sudah mulai beranjak dewasa.