A/N: para readers chapter kali ini wajib harus dibaca karna penting sekali


Aku melihat diriku di depan kaca sambil menyisirkan rambut pirang ku yang halus, sebenarnya hari ini aku malas sekali ke sekolah, aku takut kalau erza nanti di sekolah memaki-maki natsu dan lisanna, sejujurnya sih aku sudah tidak terlalu memikirkan tentang yang terjadi dulu, tapi aku juga tidak mau berdekat-dekatan dengan natsu dan lisanna "sepertinya aku menyisir terlalu lama" lalu aku meletakkan sisir ku dan berangkat ke sekolah.


Aku mendengar suara ribut-ribut di kelas, seperti suara orang saling bersahutan, saat aku masuk ke dalam kelas aku benar-benar kaget melihat erza dan lisanna sedang bersahhut-sahutan dengan nada yang sangat tinggi, beberapa anak termasuk juvia dan levy berusaha melerai mereka tetapi tidak bisa, sedangkan yang lainya hanya diam saja, mungkin takut karna erza. "kau memang benar-benar munafik lisanna!" teriak erza "itukan salah dia sendiri yang mudah diperdaya" jawab lisanna dengan nada mengejek "sudah-sudah kalian nanti lucy datang" kata juvia yang mencoba melerai mereka berdua, saat juvia menengok ke belakang dia kaget bahwa aku sudah datang "lu-lucy" kata juvia sedikit gugup "ada apa ini? Kenapa erza" kataku sambil berjalan ke arah erza, tapi erza tidak menjawabku, dia malah memasang tatapan membunuhnya ke arah lisanna.

Setelah acara tatap-tatapan erza dan lisanna usai natsu datang ke kelas bersama gray, dia kelihatan bingung karna anak-anak semuanya berkumpul di meja erza "ada apa sih?" tanya natsu, erza langsung melotot ke arah natsu, natsu dan gray pun langsung ketakutan (padahal yang dipelototin cuman natsu, eh si gray juga ikut-ikutan takut). Lalu bel berbunyi semua anak langsung berlari menuju bangku mereka masing-masing, begitu pula untuk erza, dia langsung duduk dengan muka yang sangat marah.


-pulang sekolah-

"erza kau tadi kenapa sih dengan lisanna?" tanyaku, erza dan juvia hanya diam saja sedangkan erza hanya menatap lurus ke depan "lucy,tadi pagi lisanna mengatai mu" kata erza, tapi dia tak memandang ku, dia hanya menatap lurus ke depan "dia bilang padaku 'tolong ya bilang ke teman mu yang bernama lucy itu, jangan pernah lagi dia mendekati natsu'" kata erza "terima kasih erza kau sudah mau membela ku, tapi aku sudah tidak mau lagi ambil pusing tentang masa lalu, jadu lain kali diamkan saja ya" blasku pada erza, erza langsung memeluk ku "kau memang baik lucy, kau tidak pantas diperlakukan se-enaknya" kata erza yang disertai anggukan levy dan juvia, aku tersenyum, aku sangat bahagia mendapat teman yang baik seperti mereka.


Saat aku sedang berlajar, bel rumah ku berbunyi "siapa sih?" guman ku, saat aku membukakan pintu rumah ku, aku melihat ayahku, natsu dan seorang perempuan yang sebaya dengan usia ayahku "ayah sudah pulang" kataku menyambut ayahku "ya lucy, oh ya kenalkan, ini tante grandline dan anaknya natsu dragneel, kudengar kau dan natsu satu sekolah ya " tanya ayah ku lalu aku mengangguk, aku menoleh ke arah natsu, natsu kelihatan sangat sedih sekali "ayah, apa tante grandline adalah rekan kerja ayah" tanyaku, ayahku menggelengkan kepalanya "bukan lucy,tante grandline bukanlah rekan kerja ayah tapi dia adalah calon istri ayah" mendengar kata-kata itu, aku langsung terbelak kaget, rasanya tubuhku seperti disambar petir.


A/N: saya minta maaf yang sebesar-besarnya karna chapter ini sangatlah pendek.

next chapter adalah chapter yang terakhir jadi akan panjang, tapi memerlukan beberapa hari

penasaran kan pasti sama endingnya, makanya tetap ditunggu ya chapter terakhirnya

PS: chapter terakhirnya benar-benar sedih, lebih sedih daripada yang kalian bayangkan

REVIEWS~