Pertanyaannya sekarang adalah, Apa yang membuat mood Euigeon menjadi buruk?
Tapi, kalau boleh jujur sebenarnya Euigeon merasa sedikit iri melihat Seongwoo datang pagi-pagi begini hanya untuk menjenguk Daniel, sebenarnya bagus, tapi tidak bagus untuk dilihat Euigeon.
Bahkan hari ini semakin memburuk ketika baru saja seorang anak kecil menginjak sebuah kubangan air didepan halte, tepat didepan Euigeon yang sedang duduk sekarang, kalau bukan karena dia anak kecil mungkin anak itu hanya tinggal nama saja.
Tapi sebisa mungkin Euigeon menahannya, menahan agar amarahnya tidak meledak.
Euigeon membuka tas ransel yang sedari tadi berada dipangkuannya, lalu membuka resleting paling depan, ia mengambil earphonenya dan menanamkan kedua earphone itu pada kedua telinganya.
Ia menggeser lockscreen diponselnya, lalu menyentuh icon musik dilayar ponselnya.
Lalu menshuffle lagunya, lagu yang terputar pertama kali adalah No More Sad Songs - Little Mix
"Ini benar-benar laguku" ucapnya lalu menyenderkan bahu lebarnya kebangku halte, sebentar ia memejamkan matanya untuk menikmati lagu itu, sembari menunggu bus yang datang.
…—…—…—…—…—…
"Hyung, kau sudah sarapan" Tanya Daniel, tapi Seongwoo hanya membalas dengan gelengan kepala. "Kau harus makan" ujar Daniel
"Aku tidak nafsu makan, Niel" Seongwoo mendekatkan wajahnya kewajah Daniel, jarak wajah mereka mungkin sekarang hanya sejengkal.
Seongwoo menatap kearah wajah Daniel intens, bahkan Daniel perhatikan Seongwoo tidak berkedip sama sekali.
"Hm.. ada sesuatu.. itu.. jerawat?" Ujar Seongwoo menyentuh dengan keras bintik merah dihidung Daniel.
"Ah sakit! Hyung jangan dipencet, ini memang jerawat, jerawat rindu, aku rindu kau Hyung hehe" lalu Daniel tertawa, Seongwoo pun ikut tertawa karena jujur saja dia sudah lama tidak melihat tawa Daniel semenjak Daniel dirawat.
"Haha, ngomong-ngomong kapan kau bisa pulang?" Seongwoo menjauhkan lagi jaraknya dan duduk dikursi samping ranjang Daniel.
"Kemarin suster bilang lusa aku bisa pulang, mungkin besok" Seongwoo hanya membalas dengan anggukan. "Syukurlah, kau harus berterima kasih pada Jaehwan, karena dia absenmu dikampus tetap berjalan haha"
"Serius? Lalu ada tugas?" Tanya Daniel agak membelalakan matanya tak percaya.
"Sepertinya tidak, Jaehwan tidak bilang kalau ada tugas, dia hanya mengatakan kalau absenmu tetap berjalan walaupun kau tidak ada haha" Seongwoo tertawa sekilas, "Oh iya, dia bilang mau menjengukmu sekarang, entahlah-"
"GUTMONING! GUTMONING!" Baru dibicarakan ternyata orangnya sudah sampai, Jaehwan datang bersama Minhyun.
"Jaehwan, jangan berisik! Ini rumah sakit" tangan Minhyun dengan cepat mencubit pergelangan tangan Jaehwan, Jaehwan meringis sejadi-jadinya. "Yang bilang diskotik siapa!!??" Seru Jaehwan
Lalu Jaehwan sedikit berpikir sejenak,
"Ahh maaf Hyung, bukan Jaehwan namanya kalau tidak berisik" Jaehwan berbicara dengan nada pelan tapi masih terdengar oleh Seongwoo dan Daniel.
"Yo! What's Up!!!" Ujar Jaehwan lagi nadanya lebih keras dari sebelumnya, keringat Minhyun sepertinya menetes dikepalanya.
"Kalian apa kabar?" Tanya Daniel, Jaehwan dan Minhyun saling menatap satu sama lain, lalu tertawa.
"Hey Daniel! Kan yang sakit kau! Kenapa malah tanya keadaan kita?" Jawab Jaehwan, Minhyun masih tertawa.
"Hehe iya, tidak salah kan kalau aku yang tanya duluan?" Jawab Daniel lagi, lalu Jaehwan dan Minhyun mendekat ke ranjang Daniel.
"Kami baik, lalu kau? Sepertinya sudah baikan" ujar Minhyun melihat setiap sisi kepala Daniel yang masih diperban.
"Katanya besok aku boleh pulang Hyung" ujar Daniel sembari membenarkan posisinya menjadi semi fowler (setengah duduk).
"Ah iya, kalian sudah baca berita pagi ini?" Tanya Minhyun, ketiga teman lainnya hanya diam dan menggeleng tidak tahu.
"Ini, kurasa berita pagi ini ada kaitannya dengan kasus yang menimpa Daniel" jelas Minhyun, "hah? Hyung tahu kejadiannya kenapa aku bisa masuk rumah sakit? Siapa yang cerita?" Tanya Daniel agak terkejut.
"Siapa lagi... Manusia dengan tiga tahi lalat itulah" lalu Minhyun memberikan sebuah artikel diponselnya, ketiga temannya serius untuk membaca artikel tersebut.
"Kasusnya... Mirip dengan kasus Daniel, perampokan digang sepi, kenapa digang sepi? Karena biasanya preman-preman itu bersarang digang-gang sempit dan kecil seperti itu, makanya sejak dulu aku tidak dizinkan untuk lewat gang sepi karena orang tuaku takut ada hal yang tidak diinginkan terjadi" ujar Minhyun panjang lebar.
"Daniel sudah jadi korban, sekarang yang aku takutkan adalah Seongwoo, biasanya kelas Seongwoo sering pulang malam bahkan Seongwoo juga jarang membawa mobil kakeknya, dia lebih suka naik bus, iyakan?" Tanya Minhyun, Seongwoo agak tersenyum manis lalu mengangguk.
"Kurasa kau harus selalu membawa mobil, karena aku tidak mau temanku menjadi korban lagi, aku sudah sering memperingatkan Seongwoo tapi dia selalu tidak mau dengar, nah sekarang aku tekankan padamu untuk tidak lewat gang sempit lagi, dan lain kali bawalah mobil kakekmu" ujar Minhyun yang nada bicaranyanya bahkan mirip seorang leader boygroup yang sedang mengatur member.
"Baiklah, untuk kedepannya mungkin aku akan selalu mengendarai mobil kakekku, tapi bukan membawanya, karena aku tidak sanggup untuk membawanya, aku lebih sanggup untuk mengendarainya" sedang serius, tapi nada bicara Seongwoo masih seperti candaan, Minhyun yang mendegarnya jadi kesal sendiri.
Mendengar itu Daniel teringat lagi kejadian yang terjadi beberapa tahun silam, memorinya tentang kejadian itu seakan-akan menjadi sebuah video yang sedang terputar diotaknya.
…—…—…—…—…—…
[16.45 - Toko Kue]
Euigeon berdiri didepan meja kasir, sedikit termenung melihat sepasang kekasih yang duduk disudut toko, sangat romantis pikirnya.
Sekali lagi otaknya tidak dapat berpikir jernih, dia membayangkan jika yang sedang duduk berdua itu adalah dirinya dan Seongwoo, duduk berdua dipojok toko menikmati secangkir teh hangat dan sepotong kue basah.
Tapi khayalannya sirna, ketika seseorang menepuk bahu lebar Euigeon. "kerja.. kerja.. jangan hanya melamun melihat dua sejoli berpacaran" ujar Jisung dari belakang yang sedang mengeringkan cangkir-cangkir basah dengan serbet ditangannya.
"Berisik Hyung, jangan ganggu" ujar Euigeon, Jisung mendekat dan berdiri disamping Euigeon kemudian melihat mata Euigeon yang masih terpaku pada dua sejoli itu. "Bukannya kau yang mengganggu mereka?" Ujar Jisung lalu kembali dengan cangkir-cangkir basahnya.
Euigeon langsung mengganti arah pandangannya, saat pintu toko itu terbuka dan bunyi gemerincing loncengnya berbunyi.
"Selamat Dat--ang" suaranya terpotong diakhir, orang yang ada dikhayalannya jadi nyata, Seongwoo disini.
Pria bermarga Ong itu jalan lurus kearah meja kasir,
"Aku mau pesan sesuatu--" ujarnya lalu mengernyitkan matanya, melihat nametag pria dibalik meja kasir itu "Kang Euigeon, susah dieja tapi nama yang bagus" ujarnya ketus.
Euigeon membuang napas kasar "kenapa kau ada disini?" Tanyanya, Seongwoo tersenyum "begitukan cara pekerja disini melayani pelanggan? Sangat buruk" ujarnya
Dari arah belakang, Jisung terlonjak kaget saat pelanggan yang sedang berdiri didepan Euigeon mengeluh.
"Ya! Bersikaplah ramah pada pelanggan! Kau mau dipecat? Hah?" Ujar Jisung sedikit menyikut lengan Euigeon, "sana kau yang bereskan cangkir itu, biar aku yang layani" ujar Jisung langsung mengambil alih"
"Silahkan, mau pesan apa?" Tanya Jisung ramah.
"Aku mau dia yang melayani" ujar Seongwoo menunjuk Euigeon.
"Kau mau apa? Hah?" Tanya Euigeon sedikit meninggikan nadanya ketus
"Aku mau Kang Euigeon..." Ujarnya meggunakan sebuah nada seakan-akan dia adalah seorang pemain drama korea, Euigeon yang mendengarnya agak sedikit menaikkan kedua alisnya, yang benar saja hati Euigeon rasanya seperti terjungkal, entah ini perasaan senang atau sedih, apakah pacar adiknya menyukai Euigeon? Masih menjadi misteri.
"E-eh? M-maaf.." ujar Euigeon terbata-bata, Seongwoo tersenyum tipis, Euigeon pun tersenyum karena bingung apa yang harus dia lakukan.
"Aku ingin Kang Euigeon, yang melayaniku, aku pesan blueberry cakenya dua, cappucino lattenya dua, ah.. ini uangnya.. aku akan duduk disana, tolong antarkan ya, Terima kasih Kang Euigeon." lanjut Seongwoo masih dengan senyum tipisnya lalu pergi menuju meja yang tadi ia tunjuk.
Dan sekali lagi, Mood Euigeon menjadi buruk untuk kesekian kalinya, dia berpikir kalau ini yang namanya diterbangkan lalu dihempaskan begitu saja, rasanya memang sakit.
Tidak, tapi sangat sakit, ia kemudian berpikir kalau ini memang terlalu berlebihan untuknya, mengharapkan kekasih adiknya untuk bisa dekat dengan Euigeon adalah hal tidak masuk akal.
Kemudian Euigeon membuang napas kasar, berharap hari buruknya menghilang dan berjalan untuk menyiapkan pesanan Seongwoo.
Ia berjalan dengan nampan berisi dua kue dan dua minuman, "hmm.. hmm.. ini pesanannya, selamat menikmati" ujarnya sembari menaruh semua pesanan Seongwoo, lalu pergi.
Tapi tangan Euigeon ditahan oleh Seongwoo, Euigeon menatap mata Seongwoo, "Temani aku" ucap Seongwoo dengan nada penuh pengharapan.
"Temani? Tidak! Ini masih jam kerjaku, bosku akan marah nanti"
Seongwoo masih menggenggam erat tangan besar Euigeon dengan tangan kirinya, sementara tangan kanannya ia gunakan untuk mengambil mengambil cappucino lattenya lalu menyesapnya sekilas.
"Kurasa Jonghyun tidak akan marah jika salah seorang pekerjanya menghabiskan waktunya bersamaku" ujar Seongwoo agak seperti seorang CEO, jangan lupakan kakinya yang ia lipat rapih dibawah meja.
"Hhhhh, ini hampir jam 5, Tunggu sekitar 10 menit lagi, jam kerjaku habis jam 5, baru aku bisa menemanimu" ujarnya agak santai sembari menahan rasa emosi.
"Aku menunggumu disini, Kang Euigeon"
*15 menit kemudian*
Euigeon selesai dengan jam kerjanya, ia sudah menganti pakaiannya, setelahnya ia keluar dari ruang istirahat para staff lalu melangkahkan kakinya menuju meja Seongwoo, dia masih disana.
Euigeon mendekat, "Kau masih disini?" Ujarnya ketus. Lalu Euigeon mendudukan dirinya dikursi diseberang Seongwoo. Euigeon melihat dua kue itu, yang satu masih utuh tapi yang satunya sudah habis, dan dua minuman itu, yang satu hanya tinggal setengahnya tapi satu lagi masih penuh.
"Siapa yang menyuruhmu duduk!!??" Ujar Seongwoo meninggikan suaranya, Euigeon jadi semakin bingung, rasanya sekarang ia mengundurkan diri saja jadi pacar Seongwoo jika mungkin Seongwoo adalah pacarnya, Euigeon heran bagaimana Daniel bisa tahan berpacaran dengan orang aneh seperti Seongwoo.
"Hahaha, aku hanya bercanda Euigeon, bagaimana actingku? Bagus tidak? Kau pasti bingung ya? Kenapa aku jadi aneh begini haha" Jadi semua hanya acting belaka, Euigeon ingin mengumpat tapi masih ia tahan, sebenarnya beberapa detik yang lalu sudah mengumpat tapi tidak tersuarakan.
"Iya! Aku sangat bingung! Aku hampir gila, herannya kenapa Daniel bisa tahan denganmu hhh"
"Maaf, terkadang aku suka membuat drama seperti tadi, ah iya silahkan dimakan kue dan cappucinonya, kurasa minumanmu sudah agak dingin" ujar Seongwoo ceria, tidak seperti tadi, Seongwoo sepertinya berbakat memainkan berbagai karakter, kenapa tidak daftar menjadi artis diagensi-agensi korea.
"Ini untukku Hyung?" Ujar Euigeon bertanya, tapi Seongwoo hanya tersenyum dan mengangguk bahagia. "Kau pikir untuk apa aku pesan dua?" Ucap Seongwoo masih tersenyum
"Mm.. terima kasih" Euigeon menyeruput minumannya lalu memakan kue itu.
"Hyung.. ngomong-ngomong kau kenal dengan Jonghyun Hyung?" Lalu Seongwoo yang mendengarnya sedikit berpikir, "Entahlah, sebenarnya kami tidak dekat, tapi kami saling kenal, aku hanya tahu kalau ini adalah toko miliknya, maksudku milik keluarganya tapi diwariskan untuknya" kemudian Seongwoo menyesap gelas cappucinonya, "aku bahkan tidak pernah tahu kalau kau bekerja disini, padahal aku sering mampir kesini" lanjutnya
Euigeon tidak mengedarkan pandangannya selain menatap kedua manik indah Seongwoo, dirinya hampir gila karena cinta, karena kedua matanya, karena Seongwoo.
Dan jangan lupakan ketiga bintang dipipi Seongwoo.
"Hmm.. aku bekerja hanya saat weekend, karena pada saat weekdays aku harus kuliah"
"Kau kuliah jurusan apa?" Tanya Seongwoo, "Kedokteran" jawab Euigeon singkat
"Hoho daebak!" Seru Seongwoo sedikit memberikan applause
"Apanya yang daebak? Itu normal!" ucap Euigeon tidak santai, "aku kan tidak normal haha, ketika kau adalah seorang mahasiswa kedokteran tapi malah kerja disini, aku heran, setahuku jurusan kedokteran itu adalah jurusan yang sangat menyibukkan, tapi kau malah mencari kesibukan lain, kau ini bukan main" sanggah Seongwoo lalu tersenyum.
"Kalau aku tidak bekerja, aku bisa mati kelaparan" jawab Euigeon, "Tumpukkan tugasku bahkan lebih dari gunung everest, jangan heran karena aku adalah workaholic, aku tipe pekerja keras dan tidak pernah puas dengan apapun" lanjutnya.
"Em.. aku mengerti, terlihat dimatamu yang sudah sayu itu" ucap Seongwoo pelan
"Kau benar, aku mau segera pulang, aku lelah" ucap Euigeon, lalu setelahnya ia melahap penuh sisa potongan kue blueberrynya.
"Aku boleh ikut?" Tanya Seongwoo, "untuk apa?" Euigeon sudah bangun dari duduknya lalu membenarkan kemejanya yang agak kusut
"Berkunjung mungkin? Atau bertamu" jawab Seongwoo ikut berdiri, "itu sama saja" Euigeon memutar bola matanya malas.
TBC
Akhirnya apdet:') lama ea? Pendek pula.. maafkan hehe x
