Author: Rio Hikari
Disclaimer: Eyeshield 21 adalah properti milik Inagaki Riichiro dan Yusuke Murata
Rating: K sampai M…chapter ntar2…
Pairing: HiruSena
Summary: Kalau kau menemukan sesuatu, jangan membawa pulang barang yang bukan milikmu…
Balasan Review!
NakamaLuna: Kan masih SMA, jangan dulu ah…XD Yep! Akhirnya bebas, jadi dy ga usah nyusup2 lagi..khan enak tuw…Keke, biarlah, saya suka romance yang ky gini. Srasa melayang..Thanks!
Aya-chan: (Ganti nama??) Harus dapet ijin dulu...biar ntaran gampang make kasurnya…Fluffy? Hm, sebenarnya saya memilih klo hubungan karakter itu dibangun pelan2, klo dah cukup akrab, baru boleh masuk tahap berikutnya, jadi terasa alami…Naruto itu ekstrim2!!Klo liat dojin, imajinasi berbatas karena gambar juga repot, klo fanfic terlampau liar….Makasih ya, ini dah bisa nulis ko..
Chi: Kapan? Hm…udah ada rencana, dah dibikin….tunggu timing aja dan itu mendekati tamat cerita, yah 1-2 chapter sebelum tamat....
Rui: Ya, standar M memang kurang. Namanya juga tumbuh pelan2…:D…Oh? Iya pasti ada. Soalnya waktu ngedit ternyata emang da yang nambah. Oke, liat dulu ya…
Hana:Haha..saya malah sebel..makan ati tuh..Iya nih, iri ama Pitt yah? XD And, yuph.. He's the 'key'..
Mihael: tau donk..kan dulu pernah mau cosu..Xd Rencana apa ya? Pokoke baik2 aja kok..Sip!
B'mania: Wah..baru nih! Halo, met kenal! hm hm..emang itu dag dig dug blajar nangkep bola..XD..Ehehe..L itu sih emang hidup dari gula..pantesan dia jadi manis gt ya?
YEEEEEEEE!! Jari saya sembuh!!! Huwe!!! Gomen, kemaren kena pisau waktu masak, trus kena pecahan plastik pas ngebenerin lampu, kena sisik salak…Jari jadi mati rasa, sy susah mau ngapa2in…XD
Gawatnya lagi, ES vol 28 terlalu banyak hint KidRiku...Sial, menggoda banget buat ditulis. Greget manis…=w= Hawfu…Karena kemaren keasyikan muter2 di fandom mereka (dan AbeMiha-nya Oofuri), saya hampir lupa klo yang saya tulis ini HiruSena…
Selamat membaca!
IX
Hell Tower
Pertandingan di akhir minggu melawan Zokugaku itupun berlangsung seru. Tentu saja…diawali dengan provokasi dari Hiruma, yang memanipulasi foto Eyeshield (dengan jari tengah diacungkan, tentu saja tidak disengaja) yang menantang Habashira Rui. Membuat amukan murid Zokugaku atas Devil Hero itu. Siaran dadakan dari radio sekolah agar para murid ikut menonton (yang ruangannya direbut paksa.) juga membantu meramaikan pertandingan.
Yang menarik pada saat pertandingan, Sena melihat bahwa Haha San Kyoudai yang dulu menghajarnya, tiba-tiba turut membantu sebagai line. (dia tidak tahu kalau sebenarnya Kurita tak sengaja menemukan mereka di ruang klub, sedang mencari 'sesuatu' dan menyangka ketiganya ikut bergabung.)
Poin terbaiknya adalah, bahwa anggota yang ditemukan Sena ini benar-benar cocok bermain di posisi receiver. Dua kali lemparan longpass dan mereka mencetak touchdown pertama. Tentu hal ini diluar perhitungan Zokugaku, yang menyangka bahwa kartu utama dari tim Deimon hanya ada pada runningback mereka.
Monta luar biasa senang ketika teman-teman dan pelatih tim baseballnya dulu mendukungnya penuh. Bahkan para penonton juga kagum dengan aksinya (walau ia mengamuk-amuk karena mereka memanggilnya "Monta!!" "Mon-Mon!!" dan "Monyeeet!!" Monta: Grr!! NAMAKU RAIMON!! )
Anggota tim lari, Ishimaru, juga bermain baik ketika tim Zokugaku berpikir kalau kartu permainan hanya ditambah receiver. Mereka sendiri kaget karena ingat kalau runningback itu ada dua orang. (Komentar tim Zokugaku: 24: "Habisnya keberadaan dia tak terasa!!" 52:"Tak terlihat sama sekali…" 64:"Aneh, kok bisa ya?! Samar-samar…" Ishimaru: "Ii yo…ii yo…")
Hiruma sendiri menunjukkan bahwa ia pantas memegang julukan Komandan Neraka. Bukan hanya strategi yang tepat waktu digunakan dan provokasi kata-kata, namun juga hasil latihan super melelahkan mereka yang membuat kelenturan tubuh maju pesat. Ini dirasakan Sena ketika ia dihantam oleh Rui yang mengamuk karena terus-terusan kecolongan angka. (Kali ini bukan akting…dia sebal setengah mati.)
Tentu saja amarah karena dipancing tidak berlaku hanya bagi Rui. Anggota tim lainnya pun sama kesalnya dan menggunakan kekerasan demi kemenangan. Tiga orang line ambruk, maka dibutuhkan pengganti, dan disinilah Haha SanKyoudai mengambil peran. (Haha: KAMI BUKAN SAUDARA!!). Karena sudah terbiasa berkelahi, cara-cara kotor dengan mengasari lawan dengan mudah dapat mereka atasi. Pun dalam hal menahan jalan, mereka masih lemah, Hiruma dengan cerdas menggunakan strategi screen pass untuk mengatasi hal tersebut.
Siang itu, hasil akhir di papan skor menunjukkan 46-28 untuk Deimon Devil Bats…
"Oi, Makeinu!!" Hiruma dengan santainya mendekati tim yang kalah.
"Huh?!"
"Lima juta yen!" Ujarnya sembari membuka telapak tangan menagih janji. Senyum iblisnya sungguh tak enak dilihat.
"Haa?! Mana bisa, Bego!!" Rui mengeluarkan butterfly knifenya dengan kesal. Anak buahnya juga siap menghajar ramai-ramai. Sial, awalnya dia berniat membantu dan bersikap baik, tapi ternyata kalah dalam permainan itu sangat menyebalkan.
"Kekkeeke…"
GRATAK!
Serangkaian senjata api dan alat peledak dengan siaga dikeluarkan pemuda pirang dihadapannya. Efektif membuat mundur para preman tersebut….dan dalam tiga hitungan, semuanya bersujud hormat.
"Hiruma-sama…."
"Bagus, mulai sekarang kalian jadi budakku. Kekekekeke…"
Di sisi lain lapangan, anggota Devilbats memiliki pemikiran yang sama melihat hal itu. //Jadi begitu ya…cara dia menambah budaknya…//
-x-x-x-
Piip! Piip!
"Ada apa lagi?" Hiruma bermalas-malasan mengangkat ponselnya. Jemarinya berhenti mengetik.
"Yang mana?"
"Ha?"
"Kuncimu."
"Eyeshield. Syumu…keduanya sama."
"Si chibi itu?.....Hm…."
"Oh ya…Karena sekarang kau salah satu pesuruhku yang setia…"
Geraman.
"Beritahu aku petunjuk lainnya."
Helaan. "…Percuma. Pasti dihalangi."
"Coba saja."
"……Kau haru-"
PIIIP!
-Mohon maaf, gangguan telekomunikasi dalam pembaharuan jaringan mengganggu kenyamanan anda-
"Chikuso!!"
(((1x21)))
Pertandingan latihan minggu lalu rupanya memiliki dampak kharismatik yang besar terhadap para murid di Deimon. Tak sedikit yang terkesan dengan permainan mereka dan tak sedikit pula para fans yang bertambah setelah melihat sang Devil Hero bermain secara nyata di depan mata mereka.
Melihat besarnya pancingan, Hiruma segera menyuruh mereka membagikan selebaran perekrutan anggota baru. Wawancara penerimaan akan dilakukan hari ini, Senin pukul 15.30 sepulang sekolah.
Sena membaca sekali lagi tulisan yang ada di selebaran itu, "'Ada kue enak juga…' Maksudnya kue sus di toko ini ya?" Ia mengadah melihat papan nama toko bertulisakan 'Kariya'. "Ah..ini kan favoritnya Mamori-neechan. Haie…kue mahal nih…" komentarnya.
"Sebaiknya beli berapa ya?" Monta menanyakan pendapatnya sembari menghitung uang dalam amplop, sebentar lagi antriannya sampai pada giliran mereka. (Rupanya Monta cukup dipercaya untuk memegang uang, karena kalau dicopet sekalipun, ia akan mudah menangkap pencuri. Atau kalau dikejar, ia bisa kabur memanjat tiang maupun pohon terdekat…)
"Zzzz…..Zz…..z…"
"….Sepertinya Kurita-san terlampau senang sampai tidak bisa tidur ya?" Monta memandang simpati pada seniornya, yang dengan ajaib mampu tidur berdiri tanpa jatuh.
"Ahaha…." Sena hanya bisa tertawa kecil. "Oh, giliran kita." Ia mendorong Monta supaya maju ke depan konter toko.
"Ah, iya….wah…kueya macam-macam.." Komentarnya memandang deretan warna-warni bolu dan manisan yang berbentuk lezat.
"Beli kue sus saja kan?"
"Iya. Beli sepuluh?"
"Apa tidak kebanyakan tuh?"
Sementara keduanya berdiskusi, Kurita yang sudah bangun dari mimpinya dan sadar ia dimana, langsung berteriak girang.
"SERATUS BUAH!!!"
Setelah membeli berkotak-kotak kue. Ketiganya tergopoh-gopoh berusaha membawa agar isinya tak rusak. Walau hanya kue, rupanya berat juga.
"Haih…untung datangnya bertiga ya?" Monta dengan mudah berlari menyeimbangkan tumpukan kotak kue. Hm…mungkin dia cocok juga di cabang olahraga akrobatik…
"Tepat sekali! Tahun lalu hanya aku sendirian, jadi kerepotan." Kurita membenarkan.
"Tahun lalu?" Receiver itu bertanya bingung.
"Iya, tahun lalu hanya ada aku dan Musashi saja. Kami cuma membagi-bagikan flier." Kenangnya sepi. Dulu kue itu akhirnya ia habiskan sendirian, karena hingga malam mereka menunggu, tak ada satupun yang datang bergabung ke dalam tim.
"Ah…begitu." Sena mencoba paham perasaan seniornya. Tapi, keduanya bisa bertahan terus dengan anggota dua orang, itu tandanya mereka benar-benar menyukai American Football. //Hebat sekali ya…// Pikirnya kagum.
"He? Musashi? Siapa itu? Jadi sebenarnya ada anggota lain ya?" Keduanya lupa bahwa Monta belum tahu siapa senior itu.
"Ah itu…BKH!" Sena yang menabrak punggung Kurita, memandang heran karena seniornya menghalanginya menjawab dengan tiba-tiba memblokir jalan dengan tubuh besarnya.
"Ahaha…Bukan kok..yah, nanti juga ketemu."
"Oh…gitu. Ya sudah! Ayo cepat MAX! Mamori-san pasti menunggu!!" Monta tak ambil pusing dan berlari cepat kembali ke sekolah, meninggalkan dua lainnya yang berjalan menyusul.
"Anu, Sena-kun tolong jangan beritahu apa-apa dulu soal Musashi ya. Aku menghormati keputusannya untuk berhenti dulu demi ayahnya."
"Eh? Tapi kenapa?"
"Soalnya kalau di pertandingan, bila ada keinginan untuk memaksanya kembali, kalian pasti akan membujuknya kan?"
"Ah….iya." tanggap Sena sadar. "Musashi-san pasti kembali. Karena ia dan Kurita-san adalah pendiri klub ini. Kalian pasti sangat ingin berjuang di lapangan untuk Christmas Bowl. Ya,kan?" Senyumnya yakin.
"Iya. Terima kasih ya…" Kurita bersyukur ia bersabar, karena pada akhirnya ia bisa bertemu dengan anggota tim yang loyal dan mau berjuang bersamanya di lapangan.
-x-x-x-
"Wuah!! Ba-banyak yang datang…" Lineman besar itu menangis haru melihat rombongan orang-orang yang menunggu di luar ruangan klub.
"Syukurlah ya..Kurita-san." Sena berkata riang sambil menuangkan teh ke gelas-gelas kertas.
"U-un!"
"Yosh! Ayo kita mengantar ini dulu untuk membantu Mamori-san MAX!" Monta berteriak semangat dan langsung membawa gelas-gelas yang tadi dituang Sena untuk dibagikan di luar. Ketika pintu dibuka lagi, terdengar suara Mamori yang sedang memberi pengumuman.
"Mohon masuk sesuai urutan ketika nanti dipanggil, kami akan melakukan sedikit wawancara."
Sena berjalan ke balik meja tempat pewawancara ketika akhirnya mereka selesai memberi pengarahan dan membagikan kudapan, dia duduk di kursi untuk Syumu."Emh…bagaimana konsep wawancaranya nanti?"
"Kita tanyakan mereka mau bermain di posisi apa., tapi kita juga harus melihat mereka cocok bermain dimana." Hiruma yang sedari tadi sibuk mengetik angkat bicara.
"Agar lebih mudah menentukan posisi, sebaiknya juga bertanya apa mereka cocok di defense atau offense. " Kurita melanjutkan.
"Jadi, bagaimana caranya kau bisa tahu hal itu?" Sena bertanya bingung.
"Dari cara mereka duduk." Hiruma menjawab.
"He??" Monta dan Sena mememandang heran.
"Misalnya saja, orang yang duduknya rapi, mereka biasanya baik dalam bermain strategi. Itu berarti offense." Jelasnya lagi. "Dan sebaliknya orang yang duduknya berantakan, katakanlah kaki terbuka lebar, tipe hewan liar yang menangkap mangsa berdasarkan insting dan memakai kekuatan mereka. Cocoknya defense. "
"Oh…kalau bergitu aku offense ya?" Runningback itu mengamati cara duduknya sendiri.
"Aku sih defense." Monta menanggapi.
"Apa yang kalian bicarakan sih? Sena tak ada hubungannya dengan offense atau defense, dia kan syumu." Mamori berkomentar riang.
"Ah…haha…iya sih." Pemuda berambut cokelat itu merasakan tatapan tajam dari belakang punggungnya. Terbayang kalau Hiruma mengirimkan pesan beritahu-maka-akan-kugantung-kau. Ia menghela panjang.
"Ah, sebentar lagi urutan pertama datang, tadi sudah kupanggil." Manajer mereka menginformasikan sembari mengambil tempat duduk di samping Sena. Belum lima manit, ada yang mengetuk pintu klub mereka.
KNOK! KNOK!
"Pe-permisi!" Pemuda kurus mengintip dari celah pintu yang digesernya.
"Ah, ya. Silakan masuk." Mamori menyambut ramah.
Satu…dua….gerakannya kaku dan ia langsung duduk rapi.
Empat orang yang tadi mengobrol tentang posisi langsung menjawab serempak. "Offense."
"Ha? Um…A-aku Yukimitsu Manabu, kelas 2-4."
"Murid kelas dua?!" Hiruma memandang kesal.
"Eh, tidak boleh ya?"
"Ketuaan!" Kata-kata protesnya teredam oleh tubuh besar Kurita yang berdiri menghalanginya. "Gendut! Minggir!!"
Tapi Kurita yang semangat ingin menarik anggota tetap menghalangi Hiruma yang masih ingin bicara . "Ahaha! Tidak apa-apa kok!! Siapapun boleh masuk."
"A-apa yang seharushnya pewawancara tanyakan ya?" Sena tegang bukan main.
"Ah..i-iya…coba Sena yang tanya. Ayo, ini tugas syumu juga kan?" Mamori mendukungnya pelan-pelan. "Nah…Ayo Sena."
"I-iya..uh..um…A-a-apa makanan favoritmu?"
GABRUK! (efek orang berjatuhan.)
"SI KUSO CHIBI INI!!" Hiruma mengamuk dan sudah menarik pelatuk senapannya. Mamori siaga dengan sapunya mendorong mundur dan Kurita menahannya dari belakang.
"Sena-kun. Coba lagi ya..ayo tenang…" Kurita berusaha memaklumi. Sena mengangguk cepat.
"Uh…um…a-a-apa warna favoritmu?"
"GAAAAH!! BAKA CHIBI!! Apa bagusnya pertanyaan seperti itu!!!?" Hiruma yang berhasil lepas kini mengapit kepalanya dengan kepalan tangan dan memutar-mutar dengan kesal.
"HIEEEE!! MAAF!!Adududuh!!!"
Tapi justru melihat hal itu, bukan pikiran takut terhadap Hiruma yang terlintas pada anggota baru yang terdiam di kursinya. //Wah..sepertinya klub ini menyenangkan.//
"O-oi..Sena, coba kau tanya kenapa dia mau masuk kesini…" Monta berbisik mencoba menyelamatkan Sena yang masih terjebak dengan kepalan tangan di kepalanya.
"U..Un!" angguknya. "Uh..em..kenapa kakak memilih klub American football?"
Di pertanyaan ini, Hiruma yang sekali lagi ditarik oleh Kurita, sudah mulai tenang dan mulai mendengarkan seksama. (Walau sebelumnya dia sempat mengeluarkan ejekan, "Untuk menutupi botaknya! Kekekkeeke!" Sebelum dihalangi lagi oleh Kurita. Hm..ada bagusnya juga tubuh besar sebagai peredam suara.)
"Kemarin ketika aku melihat pertandingan kalian dengan Zokugaku, ada seseuatu yang bangkit dalam diriku." Katanya lancar sambil takut-takut memainkan tangannya. "Aku…selama ini hanya belajar terus. Orang tuaku tak mengijinkanku untuk ikut ekstrakulikuler manapun lagi. Selama tiga tahun kuhabiskan hanya untuk menghadapi ujian, rasanya menyedihkan kalau masa sekolahku hanya dihabiskan untuk hal ini."
//Ah…ada yang seperti itu juga ya…// Sena memandang simpati.
"Karena itu…aku ingin punya kenang-kenangan terakhir."
"Kenang-kenangan?!! Botak sialan! Kita disini untuk menang!!" Hiruma berkata sarkastik sambil menembakkan magnum modif miliknya.
// Orang ini terlalu terang-terangan!!// Monta, Sena, dan Kurita rupanya berbagi pikiran yang sama. Yukimitsu sendiri terlihat syok.
"TAPI! Aku akan melakukannnya! Aku akan berusaha untuk menang!" Ujarnya menambahi di akhir. Kurita mengangguk senang. Ketika semuanya tenang lagi, ia melanjutkan.
"Lalu…Maskipun aku lemah, ketika aku melihat Eyeshield-san yang lebih kecil badannya dariku dan masih bisa menjadi seorang pahlawan. Aku merasa terdorong!"
Andai Yukimitsu mengadah sewaktu bicara, ia bisa melihat wajah Sena yang mendengarnya memucat dan mengerut.
"Dia begitu berani menghadapi berbagai kesulitan tanpa menyerah. Aku ingin belajar semangat itu darinya dan bekerja keras."
"Ha..ha..ha..Ku-kurasa kau tak perlu memuji Eyeshield sampai seperti itu…" Sena berkomentar cemas. Di sampingnya, Mamori memandang heran.
"Tidak! Eyeshield 21 sungguh luar biasa."
"Ta-tapi…"
"Mohon bantuannya!"
//Ah, jangan-jangan Sena dan Eyeshield-kun…tidak berteman baik?// Pikir Mamori melihat Sena yang terus menolak Eyeshield untuk tidak dielukan seperti itu.
Sena berusaha menenangkan dirinya dengan mengambil satu kue sus dan mengunyahnya pelan-pelan. Disampingnya ia mendengar Mamori memberitahu kakak kelas tadi untuk memanggil nomor urut berikutnya. Tak lama kemudian…
GRADAK! GRADAK!!
"He?" Seluruh anggota, bahkan Hiruma menatap heran pintu klub yang bergetar hebat. Sena melepaskan kue susnya, takut-takut tersedak nanti.
BRUAAAAK!!
Pintu itu terlempar dan dan membuat suara gaduh keras, disertai sesuatu yang berputar cepat masuk ke dalam ruangan. Hiruma sudah siaga menembak sebelum benda tadi akhirnya melambat lalu jatuh menabrak kursi. Seragam hijau. Rupanya seorang murid yang sama seperti mereka .
Lagi-lagi bersamaan, keempat keempat pemain Deimon berkata ."Defense."
Murid tadi membuka gulungannya. Rupanya anak gemuk pendek atau lebih tepatnya bulat. Berhidung merah bulat dan berambut zig-zag, sama seperti Monta. Alisnya melingkar jadi satu dan matanya kecil. Anak itu berbicara terbata-bata.
"Ko-Ko-Ko-Komusubi Daikichi. Kelas 1-1." Katanya lalu menoleh pada Kurita. "Mu-Murid!"
"Ha? Murid?" Monta dan Sena berpandangan bingung. Hiruma yang juga tak paham memilih diam dan duduk berselonjor di tembok belakang mereka dan melipat tangannya dibelakang kepala.
"Mu-Murid." Katanya lagi.
"Oh, mungkin maksudmu, ingin jadi muridnya Kurita. Begitu?" Mamori mencoba paham, sembari memasang kembali pintu yang terjatuh tadi. Anak itu mengangguk-angguk semangat.
"Eeeh?! Kau mau jadi line?"
"FUGO! FUGO!" Mungkin itu maksudnya mengiyakan, karena ia mengangguk-angguk terus.
"Wuah!! Senangnya punya teman line! Kita berjuang sama-sama ya!" Kurita tersenyum lebar mendengarnya.
Anak tadi terlihat bersinar-sinar matanya sebelum berlinangan haru. "Fu…FUGOOOOOOOOOOOOOO!!!!" Ia berbalik dan berlari keluar ruangan klub…
BRUAAAAAAAAAK!!
..dengan menabrak pintu hingga jebol…
"Hii…a-apa itu?"
"Kekeke….gendut junior itu tipe defense line yang sempurna.." Hiruma langsung memasukkan data sembari terkikik senang.
"Be-begitu ya?"Sena berkomentar kaget.
"YAY! Ada teman baru! Ada teman baru!" Tampaknya diantara kehebohan itu, hanya Kurita yang tak kaget.
Di kali berikutnya, murid yang dipanggil kebanyakan menjawab,
"Eyeshield 21 sangat hebat! Aku ingin seperti dia!"
"Mungkin aku bisa masuk TV dengan dia…mungkin aku bisa jadi populer juga."
"Aku ingin minta tanda tangannya Eyeshield."
Di samping Sena, Monta yang sedari tadi mendengar alasan itu menggerutu sebal. (Sena menjauh karena Monta mengeluarkan hawa hitam yang mengerikan.) Merasa kalah populer, ia memraktekkan seolah menangkap bola pada calon anggota berikutnya.
"HUP! HUP!"
"Oh, passnya keren!" Murid tadi menyadari. Monta terlihat berharap pujian akan datang.
"Itu, yang melemparnya hebat! Bunyinya SYUUUUUUUUUUUT! Dan melengkung tinggi!"
Gagal.
Setelah murid tadi keluar, Monta berucap niat."YOSH! Sebelum pertandingan berikutnya disiarkan, aku akan jadi hero MAX! Kalahkan kepopuleran Eyeshield!!" Ia berbalik menghadap Sena. "Kita jadi rival dan juga rekan! Oke?!"
Sena hanya tersenyum kecil mendengarnya. Belum sempat menjawab apapun, rupanya calon berikutnya sudah masuk dan langsung duduk.
//Eh? Dia..defense…mungkin?// Sena mencoba menebak. Duduknya semi formal, jadi bingung juga.
"Miyake, kelas 1-3. Pengalamanku yah…sebagai anggota cabutan di macam-macam klub. Lagipula kelihatannya disini kurang orang…" Ujarnya angkuh. Monta menggeram mendengarnya.
Ia menoleh menghadap Hiruma yang masih mengetik. "Alasanku masuk American Football karena aku sangat menghormati Hiruma-san. Bawahan banyak, uang kas klub banyak. Kuharap aku bisa jadi sepertimu…"
Quarterback itu hanya menguap bosan mendengarnya.
-x-x-x-
Sore menjelang ketika akhirnya wawancara anggota selesai. Monta menguap lebar dan meregangkan tubuhnya karena pegal.
"FUAH!!! Akhirnya selesai juga…."
"Haha…iya, ya. Tak disangka banyak begitu." Sena mengangguk setuju.
"Aah…tapi aku tak mau kalau mereka nantinya berhenti di tengah jalan." Kurita menghempaskan lelah tubuh atasnya di meja. "Ngomong-ngomong, tiga orang yang waktu itu membantu kita di pertandingan Zokugaku kok tidak datang ya?"
"Tak perlu mengurusi orang yang tak punya kemauan." Hiruma terdiam sejenak setelah selesai menginput data para calon sebelum terkekeh licik. "….Kekeke….kalau begini, kita adakan ujian masuk."
"EH?!"
"La-lalu caranya bagaimana?" Monta bertanya ragu.
"Hm…itu nanti urusanku, si gendut, dan kuso-mane, kalian berdua siapkan saja kartu-kartu untuk mereka pakai sebagai tanda identitas. Yah…sekitar 100 orang. Besok harus sudah siap." Hiruma menjelaskan. Kedua chibi tadi mengangguk paham bersamaan.
"Ah, semuanya sudah selesai kubereskan." Mamori yang tadi sempat keluar untuk merapikan barang sudah kembali rupanya. "Sudah sore, apa kita bisa pulang sekarang ? Besok masih sekolah loh.." ujarnya mengingatkan. Kurita mengangguk setuju dan mulai membereskan barangnya.
"Ah, benar juga MAX! Mamori-san, boleh pulang sama-sama ya???" Monta mengajak malu-malu.
"Oh, ayo saja. Sena, kau juga yuk! Kami tunggu diluar ya?"
"Aa…i-iya." Runningback itu menjawab pelan sebelum menyelempangkan tasnya. "Uh..Hi-Hiruma-san, Kurita-san. Kami pulang duluan."
"Hn…"
"Dah! Hati-hati ya!!" Kurita melambai ramah berbalik sejenak dari tasnya. Sena balas melambai senang, baru saja pintu digeser, Hiruma berpesan padanya.
"Kuso chibi, jangan lupa bekalku untuk besok."
Ia menghela pelan. "Iya..iya…"
(((1x21)))
Tak terasa hari begitu cepat berlalu dan kini hari Sabtu waktu ujian telah tiba. Syumu dan receiver mereka sedang membagi-bagikan kartu yang nantinya dituliskan nama calon anggota, untuk disematkan di baju. Mereka kini berkumpul di lapangan luar dibawah terik matahari pagi.
Monta mengipas-ipaskan tangannya untuk mengusir panas."Gawat MAX….Kenapa hari ini panas begini? "
"Iya…cerah sih…tapi kalau terlalu siang, nanti semuanya kelelahan sebelum ujian dimulai." Sena mengomentari. Langitnya bersih, biru berawan sedikit, dan suhunya seperti musim panas. Para calon anggota pun tampaknya memikirkan hal yang sama dan kemungkinan bentuk tes.
"Lari naik tangga ya?"
"Mudah sih…tapi kalau cuacanya begini….repot juga ya?"
Diantara kerumunan itu, terdapat satu-satunya seragam olahraga yang berbeda. Celana berwarna ungu muda, yang menandakan behwa ia kelas dua. Yukimitsu Manabu memandang panik kerumunan orang disekitarnya. "Se-semuanya kelas satu…Cuma aku saja ya? " Ia berkata takut-takut. //Tapi, ini kesempatan terakhirku. Jadi, aku akan berusaha sekuat tenaga!!// pikirnya menyemangati diri.
Dari lantai atas sekolah, salah satu dari tiga berandalan yang dulu mengganggu Sena, berambut pirang pucat, bermata tajam dan memiliki codet di pipi kirinya, memandang bosan ke arah lapangan.
"Mereka sedang apa sih?"
"Oh…klub American Football? Katanya mengadakan ujian masuk." Yang berkacamata oranye nyentrik, Togano, menjawab dari balik komik yang sedang dibacanya.
"Wah..wah…berjuanglah ya…" Kuroki mendukung malas-malasan.
Ketiga orang yang sedang melihat keluar jendela ini tak sadar ada langkah-langkah berat di belakang mereka. Langkah itu berasal dari anak lelaki pendek gemuk yang berlari untuk buru-buru turun ke lapangan.
"Fugo! Fugo! Fugo!"
Tak sengaja, anak tadi rupanya menyenggol Togano, dan menjatuhkan manga yang dibacanya.
GREP!
Jumonji, yang berambut pirang pucat tadi dengan cepat menarik baju anak pendek itu, tujuannya menghentikannya dan mungkin memeberinya sedikit pelajaran. Tapi tak sesuai perhitungannya. Anak itu terus saja berlari, menyeret pemuda yang memegang bajunya.
"UWO! Jumonji!!" Togano berusaha menariknya, dan Kuroki menarik Togano. Namun anak pendek itu rupanya dapat dengan mudah, dan tanpa sadar, menyeret ketiganya hingga berjatuhan.
"Fugo?" Ia berbalik ketika mendengar suara gedebuk. Sekilas ia ingat pertandingan yang dilihatnya dulu, dan mengenali siapa ketiga orang itu. Dalam pikirannya, tiga orang berandalan yang dulu bertanding bersama 'guru' nya, berada di deretan tengah dalam barometer kekuatan, namun melihat hal ini, derajatnya bergeser hingga yang terlemah dibawahnya, yang paling kuat tentu saja guru Kurita.
"….Fuh." ia menghela mengejek sebelum berbalik lari.
Dampaknya cukup efektif, karena tiga orang yang melihatnya….
"HAAAA?!!!"
"SI CEBOL…"
"SIALAN…"
"BERSUARA ANEH ITU!!"
"TUNGGU!!" teriak marah ketiganya bersamaan sebelum ikut mengejar.
-.-.-
Sementara itu di lapangan tempat para calon anggota berkumpul,"YOSH! Semuanya sudah berkumpul?! Bagus!" Suara Hiruma yang lantang menarik perhatian murid lainnya. "Oke, kalian naik ke bus sekarang." Ujarnya menunjuk ke belakang, dimana ada beebrapa bus besar menunggu mereka.
"Are? Bukannya kita akan lomba naik tangga?" Monta menunjuk ke arah tangga lapangan sekolah dengan bingung.
GRAK!
"Eh?"
DRATATTATATTATATTATATA!!
"HIEEE!!! Baik! Baik!! Kami akan pergi!!!"
Mulut tak perlu bicara tapi senapan yang bersuara. Dan itu membuat semuanya terbirit-birit melaksanakan perintah tadi. Dengan amat cepat, dilanda ketakutan, mereka masuk satu persatu ke dalam bus.
"Keh!" Hiruma tersenyum puas.
"JANGAN KABUR!!"
"Hn?" Ia mengangkat kepalanya melihat dari mana sumber suara tadi. //Ho…mereka…// Ia menyeringai membiarkan keempatnya lewat sebelum ikut masuk ke bus.
"Fugo! Fugo!"
"APA MAKSUDNYA 'FUGO' ITU?!"
Ketiganya tak sadar mereka terseret masuk ke dalam bus, baru ketika sudah berada di tengah-tengah kendaraan besar itu, mereka melihat sekelilingnya dengan masih menarik baju anak pendek tadi (yang sama sekali tak ada pengaruhnya).
"Wuah!! Kalian datang!!" Kurita tersenyum lebar mengetahui siapa yang terakhir masuk ke dalam bis.
CKEEEEEEES! GREEK!
Suara pintu bis tertutup.
"Ha?"
"Haa?"
"Haaa?"
TEEET!!
Dan bis pun berangkat.
-x-x-x-
Sudah setengah perjalanan dan mereka sama sekali tak tahu kemana akan pergi. Dia sejak tadi mencari-cari sesuatu untuk menenangkannya, hingga teringat satu hal. "Oh, ya. Mamori-neechan memangnya tidak ikut?"
"Ah benar. Aku juga tak melihatnya sejak tadi." Monta menambahi.
"Khehe…Dia sudah ada di sana." Hiruma menjawab dari bangku di depan Sena.
" 'Sana'?" Kedua chibi tadi berujar kompak.
"Ya. Di sana. Kalian akan melihatnya sebentar lagi." Tepat di akhir kalimat itu, bis akhirnya keluar dari terowongan. Menunjukkan satu pemandangan yang merupakan ikon kebanggan warga Jepang. Menara besi berwarna merah yang terletak di jantung ibu kota.
"IEEEEEEH?! Tokyo Tower?!"
"KAU PASTI BERCANDA!!" Ajaibnya, bukan hanya keduanya yang berteriak seperti ini. Tapi, orang-orang seisi bus, kecuali Hiruma, Kurita, dan supir yang membawa mereka.
Sena dan Monta menatap takut ketika mereka sampai di menara itu dan melihat tulisan.
'Maaf, menara sudah dipesan sepanjang hari ini dan terlarang bagi umum.'
Juga Hiruma yang dengan buku hitam di tangannya, berbicara pada seseorang yang menunduk takut padanya. "Oke, kita menyewanya seharian penuh!"
Mendengarnya, otomatis keduanya berpikir, //Gila…bagaimana dia bisa melakukan hal seperti ini ?// Perhatian mereka teralihkan ketika mendengar Kurita berbicara lantang,
"Dah! Aku pergi duluan ya!" Ujarnya sebelum menaiki lift sembari membawa sesuatu seperti….alat pembuat es serut?
"Oi, Kuso mane! Apa esnya cukup?" Hiruma berteriak ke sisi lain menara, dimana Mamori berdiri di balik meja yang di depannya banyak kotak berisi es batu kecil-kecil.
"Ya, cukup." Jawabnya memperlihatkan cadangan es di dua tempat lagi di belakangnya.
Semua yang melihatnya ber-oh bingung. Es? Untuk apa?
DRATATATATTA!
"HIE!!"
"Dengarkan baik-baik aturannya, Kuso gaki! Kalian harus pergi sambil membawa es hingga sampai ke puncak menara. Dia atas sana, gendut sialan menunggu kalian untuk membuatnya jadi es serut." Jelasnya. Ia kemudian mengambil kantung plastik dan memasukkan es sebagai contoh. "Kalian boleh bawa sebanyak apapun yang kalian bisa. Hingga sampai di puncak, asalkan esnya bersisa satu balok, kalian dinyatakan lulus. Kalau terlanjur semuanya meleleh, kalian boleh kembali untuk mengambil es lagi. PAHAM?!"
"BAIK!!" Jawab mereka serempak sebelum masing-masing merenggangkan otot dan bersiap-siap.
Sena mencoba mengambil satu balok es, anehnya es itu langsung mencair di telapak tangannya. "Eh? Esnya mudah sekali meleleh…"
Didengarnya Mamori tertawa kecil."Ya, memang diberi gula supaya mencair lebih cepat." Mendengarnya Sena serasa ingin menangis. Sudah ujiannya sulit, masih ditambah lagi…
"Oi! Kuso Syumu!!"
"I-Iya?" Sena berbalik takut-takut ke arah suara yang memanggilnya.
"Mana Eyeshield?"
"Eh? Tapi aku kan…."
"Cepat cari dia! Ia seharusnya datang dan memberi contoh baik pada para peserta..Kekekke…." Ketika Sena hanya terbengong diam, Hiruma dengan kesal menodongkan moncong senjatanya.
"Ba-baik!!" jawabnya patuh sebelum berlari pergi untuk berganti pakaian.
-.-.-
"Hm, esnya sebanyak ini cukup tidak ya?" Ia mengangkat plastik miliknya. Es di dalamnya mengisi tak lebih dari setengah kantung.
"Cukup kok. Kalau terlalu banyak, nantinya malah sulit." Monta yang melakukan peregangan di sebelahnya mencoba meyakinkan. "Pokoknya, makin sedikit makin ringan. Yang begitu pasti pertama sampai di atas menara…HAH!?" Ia tersentak teringat sesuatu.
Dan dalam khayalan Monta, ia berada di urutan pertama tribun untuk pemenang, pipinya dicium Mamori, dan Sena di sampingnya sebagai nomor dua sebagai penebar kertas. Ia tertawa-tawa tak jelas."Uhuehhehhe…."
"Hei…" Sena menegur menyadarkan sahabatnya.
"OUH! Eyeshield 21! Aku menantangmu! Kalau soal kecepatan, aku pasti kalah, tapi aku bisa mengalahkanmu dengan lompatanku." Ujarnya yakin sembari bersiap-siap lagi.
"Ah…Hm. Aku takkan kalah." Jawabnya yakin. Sekali-kali balapan begini boleh juga.
Tak sampai lima belas menit kemudian, terdengar dentuman meriam festival. Itu tanda yang biasa Hiruma pakai jika memulai sesuatu. Kedua chibi yang berada di bawah anak tangga lantas secepat kilat meniti ke atas.
"HYAAAAAAAA!!!!" Suara semangat peserta lainnya dan derap kaki mulai terdengar. Mereka sempat terdiam ketika Monta dan Eyeshield berbalapan dan berada di urutan terdepan.
"Fugo! Fugo!" Komusubi juga penuh semangat pergi menaiki anak tangga. Sementara Haha Kyoudai mengobrol bingung dengan santai.
"Kenapa kita juga harus ikut-ikutan begini sih?" Togano bertanya kesal.
"Ah, sudahlah. Kita sengaja kalah saja, nanti kan selesai semuanya." Juumonji menjawab santai.
"Ah…ya ya…" Kuroki di belakangnya mengangguk setuju.
Di bagian bawah tangga lagi, Yukimitsu memanggul plastik super besar berisi es. Ia tertatih-tatih menaiki satu persatu undukan merah besi itu. //Aku lambat, jadi harus membawa banyak es…//
Sementara di atas menara pengawas, Hiruma bersilang kaki di atas meja, bersantai mengelap AK 47-nya sembari mengamati jalannya ujian melalui kamera pengawas. Ia terkikik pelan, "Kekeke….Hell Tower, jangan kalian anggap ini mudah."
Kurita yang mendengarnya hanya bergumam bosan,"Ah..kuharap mereka cepat sampai. Aku ingin makan es…"
Baiklah, kembali pada dua orang chibi yang kini berada di pertengahan menara.
"Ah! Akhirnya sebentar lagi sampai juga di ruang observatori!!" Sena bersorak senang.
"Ou, sudah setengah jalan! Ternyata tak begitu sulit ya…" Monta menggangguk.
"Ung?"
"Ada apa?"
Di hadapan mereka, ada kabut tipis menyelimuti sesosok makhluk. Mata merah berkilat jahat dan ketika kabut menghilang…
GLEK!
"Ce-Cerberus!?" Sena mundur satu anak tangga.
"Te-tenanglah. Kurasa Cerberus tak mau makan es batu…" Monta memberanikan diri menjelaskan situasi secara logis. Sena tak percaya karena kali ini ia melihat Cerberus mengendus-endus sesuatu. Ia teringat kata-kata Mamori waktu di bawah menara tadi.
'Esnya ditambah gula supaya lebih cepat mencair.'
//Oh..tidak…//
Panik di pikiran kedua chibi itu, namun rasa senang bagi iblis yang melihat mereka di monitor. Ia berbisik riang sambil mengunyah potongan rumput laut. "Khihhihi…..tantangan pertama, anjing penjaga neraka."
Sementara di hadapan Cerberus, Sena dengan takut menarik lengan baju Monta. "A-ayo pergi, dia mengincar esnya….Eh?"
"GRAAAAAAO!" Cerberus dengan liar mengejar mereka.
DRAP! DRAP! DRAP!
"GYAA!! Ini sih bukan esnya!!" Sena berteriak panik.
" Dia mengincar apapun yang baunya enak!!!" Monta berteriak juga.
SRET!!
Runningback itu berbalik dan mencoba ide nekat yang tadi tiba-tiba terlintas di benaknya. //Tidak tahu apa ini berhasil. Coba saja!!// Kemudian ia melempar beberapa es balok tadi, tepat ketika kepala Monta akan diterkam anjing cokelat itu.
Monta menghela lega."Ha-hampir….fuh…Ara? Sena, esmu berkurang." Tunjuknya pada kantung es rekannya.
"Ah iya…"
"Hm….nih." receiver itu merogoh sebagian esnya untuk diberikan. "Aku tak mau berhutang. Ayo kita selesaikan pertandiangan ini dengan adil." Ujarnya sebelum Sena mengangguk dan membuka kantung plastiknya. Tapi, receiver ini memang tak punya kontrol tangan sama sekali, hanya berjarak 30 sentimeter, balok-balok es itu tetap jatuh ke lantai bawah. Bergemeletuk menarik perhatian Cerberus yang sudah selesai melahap es yang dilemparkan Sena.
"Grr…….SLRUP!"
"Oh..ow.."
"GRAAAAAAAOHHH!!"
"GYAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!!"
DRAP DRAP DRAP DRAP!
Beberapa saat kemudian…
"Hua….Entah bagaimana, kita berhasil melewati Cerberus." Sena berkata lega.
"Ada-ada saja menaruh hewan itu di tengah ujian begini. Orang bisa mati!!" Monta berkata frustasi.
"Yah..setidaknya sekarang kita sudah disini…" Ujarnya ketika membuka gagang pintu. Seketika ada udara sangat panas keluar dari ruangan itu.
"A-apa ini!!??"
Hiruma yang mendengar teriakan panic mereka, terkikik lagi di ruangan monitor."Khihihi…Rintangan kedua, kompor neraka."
Kurita yang duduk mendengarnya terkikik terus dari tadi merasa simpati pada para peserta yang sudah sampai sejauh itu."Er…Hiruma, lebih baik dipermudah saja…" bujuknya tak didengar Hiruma. Karena menurut iblis itu, hal ini lebih menarik.
BLUP! BLUP!
"Gya!! Esnya meleleh semua!" Sena menatap tegang kantung plastiknya.
"Mukyi! Punyaku juga!!"
"Ah, sial!! Cepat kembali lagi!!!!!"
"Ambil es lagi!!!"
Prosesnya kembali di ulang dari awal…
"Uwoh!! Hati-hati, di depan kita sekarang ada ruangan panas itu!!" Monta mengingatkan ketika mereka sudah kemabali di atas lagi.
"Pasti baik-baik saja!!" Sena berusaha yakin.
"Osh!! Segera sampai tujuan!!"
DRAP! DRAP ! DRAP!!!
Akhirnya mereka melewati ruanan panas itu dan tingal sedikit lagi sampai. Sena yang penasaran melihat ke bawah menara.
//Hwa!! Ti-tinggi!!// Ia bersandar menjauh dengan gemetar. (1)
Lain dengan Monta yang berjingkrakan riang di depan belokan dekat pintu,"YEY! Aku pemenangnya!" Sena berbalik melihatnya dan buru-buru menyusul.
BRUAK!!
Dengan gaya ekstrim, Monta mendobrak masuk dan berguling sebelum berpose."Nomor satu!!"
"Esnya yang terakhir baru meleleh tuh." Hiruma menunjuk ke kantung plastik milik Monta.
"Mhua!! " Monta menatap kaget. Runtuhlah imajinasinya jadi pemenang seperti di awal sebelum pertandingan tadi.
"Wah! Sena-kun, terima kasih ya!!" Kurita mengambil riang kantung plastik milik Sena yang masih banyak berisi balok es. Ia bersenandung membuat es serut.
//Keke…apa yang kuberikan memang seharusnya jadi terbaik…// Hiruma memandang bangga ketika Eyeshield jadi yang pertama datang dengan banyak balok es utuh.
"Hwa….Mukyi!!!!" Monta yang tak lama-lama bersedih langsung turun lagi dan kembali dengan memanggul kantung besar berisi es yang banyak utuhnya.
"Ce-cepatnya…." Komentar Sena setengah ingin tertawa. Ada-ada saja…
-x-x-x-
Jauh di bawah menara atas, ketiga Haha Kyoudai ini bersantai duduk-duduk di bangku istirahat. Mereka melihat para peserta yang hilir mudik berulang kali mengambil es.
"Ou..ou…berjuanglah ya."
"Yosh, kita coba sekali lagi, sehabis ini lalu pulang." Jumonji mengambil kantung plastic dan mengisisnya sedikit. Dua yang lainnya mengikuti dengan malas, toh mereka sengaja kalah. Jadi main-main dulu tak apa kan?
DUKH!
GRAK! GRAK!
"Fugo!" rupanya itu Komusubi yang kembali lagi untuk mengambil es. Pemuda gemuk itu memasukkan banyak-banyak ke dalam kantung plastiknya yang baru.
"Apa-apaan sih kau?!" Kuroki yang tersenggol mengumpat sebal.
Komusubi yang sudah selesai mengeruk es dan memanggulnya rupanya mendengar hal tadi. Dan hal pertama yang ia lihat adalah kantung plastic milik ketiganya. "Nh?...."
"Ha?"
"….Fuh." senyumnya mengejek sebelum pergi ke atas.
"Grr…."
"Si brengsek itu…"
"Dia pikir cuma dia yang bisa ya?!"
Belum lama Komusubi berlari menaiki tangga, sekelibat orang melewatinya.
"HA!"
"Haa!"
"HAAA!!"
"Kau lihat kan pendek?!"
"Kami duluan!"
Bocah itu menatap tak percaya. Namun di pikirannya terbayang guru Kurita memujinya karena berhasil. "Fugo! Shi-Shisou! (Guru)"
GRATAK! DRAP! DRAP!
Ah…pertandingan lain baru saja dimulai….
-x-x-x-
"…Hm?" Hiruma yang sedari tadi diam menatap layar menemukan hal menarik. Di salah satu bagian tower, si botak kelas dua itu rupanya disergap dan esnya dicuri oleh dua anak kelas satu lainnya, salahh satunya si hidung kurcaci. Mata hijau menatap dingn sebelum bangkit dari tempat duduknya. Ck..dasar rendahan…"Oi, Gendut. Aku ada kerjaan dulu sebentar."
"Oh, oke." Kurita menjawab dari mulutnya yang penuh es.
Tak menunggu lama, quarterback itu langsung menuju lift luar. Tapi ia tidak masuk ke dalamnya, melainkan naik di atasnya. Sena memandang heran hal itu.
"Ng, Kurita-san…Hiruma-san sebenarnya mau apa?"
"Hm?....Oh, itu…."
Apa yang dilakukan Hiruma?
Ia turun terus dengan lift hingga mencapai salah satu anak tangga dimana Miyake dan temannya yang mencuri es tadi berada. Keduanya keheranan melihat ada lift yang turun.
"Are?"
"Liftnya bergerak."
Mereka baru mematung takut ketika lift berhenti dan menunjukkan siapa yang ada di atasnya."Ya-Ha! Rintangan ketiga, penjaga neraka…"
DRATATTATAT!
"HIE!!" Kedua anak tadi melindungi diri takut-takut dari hujan peluru. Namun, rupanya tembakan tadi hanya mengincar kantung-kantung es mereka. Miyake mengambil sisa bubuk yang terjatuh dari isi peluru. "Apa ini?"
"Kekekke….Dehidran. Kalau kena air bahaya loh…(2) " Hiruma menginformasikan ketika lift bergerak turun.
BSSSSSSST!! TAR!!
"Gya!! Panaaaaaas!!!"
Setelah hukuman tadi, kedua orang itu kembali dengan jujur mengambil es di dasar menara. Namun, karena gagal berulang kali, akhirnya keduanya sambil mengumpat-umpat langsung pulang meninggalkan lokasi.
Pun demikian dengan para calon yang lain yang mulaii bertumbangan. Lalu bagaimana dengan pertandingan antara Komusubi dan Haha San Kyoudai?
Walaupun pendek kecil, rupanya anak itu bisa menyusul ketiga trio tadi. Yah, sedikit sih, tapi tetap menyusul. Dan tak kalah hebohnya dengan Monta, Komusubi mendobrak masuk ke dalam ruangan hingga pintunya jebol.
"Uwa!! Komusubi-kun lulus!!"
"Keke….Gendut junior lulus!" Hiruma melihatnya dengan senang, sebelum telinganya menangkap ada suara napas terengah dari pintu luar ruangan. Ia menyeringai dan anggota lainnya menoleh untuk tahu siapa yang tiba berikutnya.
"Haha San Kyoudai juga lulus."
"KAMI BUKAN SAUDARA!!..Tunggu, kenapa kita jadi lulus ??" ujar ketiganya kompak setengah sebal setengahnya lagi capek.
Lama tak terasa, tak ada lagi yang masuk sejak ketiga pemuda berandalan tadi dan Komusubi. Pun, mereka menunggu melepas lelah sembari makan es serut. (Karena sirupnya macam-macam dan ada camilan kue beras, jadi cukup betah.)
Sena dan Monta yang tampaknya lebih mirip saudara ketimbang teman, bermain-main melihat teropong maupun lomba makan es dengan yang lainnya. Sena menyerah ketika kepalanya terasa pusing karena terlalu banyak makan makanan dingin.
TING!
ZRAAAAAAK!
"Ah! Mamori-neechan!!" Sena menyadari siapa yang baru keluar dari lift. Mamori tersenyum ketika disapa adik kesayangannya.
"Ah, Hiruma-kun. Tampaknya sudah tak ada lagi peserta yang kemari. Semuanya tadi pulang." Gadis itu melaporkan keadaan di dasar menara.
"Cih…padahal kalau berusaha, mereka pasti bisa." Hiruma mengumpat sebal. Dasar manusia manja…
KLEK!
Pintu ruangan terbuka lagi. Semua yang bersada di sana memandang cemas. Siapa yang datang?
BRUK!!
"Wuah!! Yukimitsu-kun!!" Kurita yang mengenali sosok pingsan itu buru-buru memmbawa es untuk kompres. Mamori dengan sigap menyediakan kainnya.
"Ha…apa ini? Esnya sudah mencair semua…" Pemuda pirang jangkung di belakang mereka memeriksa isi kantung plastik dengan menuangkannya ke dalam baskom besar, sementara yang lainnya berkerumun khawatir di sekitar hiruma. (kecuali ketiga berandalan yang sedang menikmati es, sambil membaca manga maupun lihat-lihat pemandangan.)
"Yah..Yukimitsu-san…Kau tak apa?" Sena berusaha menyadarkan dengan khawatir.
"Senpai…gawat, dia dehidrasi…" Monta ikut mencemaskan bersama yang lainnya.
Hiruma menatap dingin pemandangan itu, sekelibat ia melihat pemuda kurus botak yang masih berbaring kelelahan. "….."
PLUK!
//'Pluk'?// Sena mencuri pandang ketika mendengar suara kecil sesuatu yang tercebur.
"Oho…Lihat. Esnya masih sisa satu. Si Botak lulus." Hiruma memberi pengumuman yang disambut sorak sorai anggota lainnya.
"Wah!! Yukimitsu-kun, kau lulus!! Selamat!!"
"Yey! Anggota baru!!"
"Ou, selamat bergabung, Yuki-san!"
Yukimitsu yang masih kelelahan tersenyum lemah mendengar kelulusannya. Usahanya tak sia-sia….
(((1x21)))
Es yang masih banyak tersisa dibuat lagi sebagai minuman. Giliran Mamori yang mencicipi, dan Kurita rupanya masih menyimpan banyak cadangan makanan di tas olahraga yang dibawanya. Makan besar sekali lagi dimulai.
Namun, ada satu orang yang tak larut dalam keramaian. Hiruma serius mengetik sesuatu di laptopnya. Sena sedari tadi melihatnya jadi terpikir sesuatu, //Apa Hiruma-san sudah coba makan esnya?//
"Ah…Kurita-san. Apa ada sirup Vanilla Mint dan Blueberry? (3)" tanyanya
"Oh, ini." Jawabnya tanpa berhenti makan dan mengobrol lagi dengan Mamori tenatang kue. Monta mulai bermain kartu dengan taruhan pisang dan kue beras dengan Komusubi.
"Trims.." ujarnya sebelum membuat semangkuk es lagi. Ia bangkit dan membawa beberapa camilan mendekati kapten tim mereka.
"Hm?" Hiruma tampaknya tahu siapa yang mendekatinya dan bergumam tanya.
"Mau es?"
"Aku tak begitu suka manis…"
"Ini vanilla mint. Coba ya?"
"….Hn.." Itu mungkin artinya iya.
Sena menaruh mangkuk di samping meja tempat Hiruma mengetik. Ia sendiri mengambil buku dasar pedoman football dan ikut membaca di kursi sebelahnya. Namun lewat sepuluh menit, esnya sama sekali tak disentuh.
"Hiruma-san…nanti esnya mencair."
"Hm…" Ia menjawab pendek.
"…." Sena menghela panjang sebelum bangkit mengambil gelas es tadi dan menyendok sedang es serut di mangkuk. "Hiruma-san, buka mulutmu…" Bujuknya menyuapi.
"Hap…" Tak disangka, iblis itu menurut saja. "Ah…wangi vanilinya terasa." Komentarnya tak sadar sebelum melanjutkan mengetik.
//He…Hiruma-san kalau konsentrasi seperti ini ya?// Pikir Sena agak kaget. Ia lebih terkejut lagi ketika Hiruma membuka mulutnya kecil."Oh…ini." Ia menyuapi lagi.
"Hap…"
"…." //Dia bisa tenang juga, ya?//
"A…"
"...."
"Hap…Tumben kau begini. Ada apa? Mulai suka padaku ya?" Ia menyeringai tipis sambil terus mengetik dan memakan suapan es.
Sena tersipu lembut."Bu-bukan…" //Karena tadi kulihat kau menghukum orang-orang yang curang dan meluluskan Yuki-san dengan memasukkan satu balok es secara sengaja... // Tapi ia tak mungkin berkata begitu, karena Hiruma pasti akan marah. Yah..dia tak mau mengakui saja. Tapi dari kejadian itu, pandangan Sena berubah. Sebenarnya pemuda itu baik, hanya cara menunjukkannya yang berbeda, dan seringkali tersembunyi. Hm…ternyata dia masih belum begitu mengenalnya.
"Lagi?" Sena menawari suapan.
"Hap…Sudah. Dingin…lama-lama jadi manis."Ia menyepat sebal.
Pemuda mungil tadi mengangguk dan melihat isi mangkuk es, "Sisanya masih banyak…"
"Kau makan saja."
"Aku sudah habis tiga mangkuk."
"…kasih si Gendut…"
Syumu Deimon itu mengangguk dan bangkit mendekati Kurita."Kurita-san, yang ini tak habis, apa kau masih mau?"
"MAU!!"
"FUGO!!!"
Keuntungan daripada adanya dua jagi makan di anggota tim adalah, takkan ada makanan yang bersisa, sebanyak apapun itu.
"Sena, sudah larut. Pulang yuk." Monta yang bermalas-malasan melihat langit yang menghitam dari jendela observasi.
"Ah, aku lupa harus merapikan bekas es tadi! Sena, kau duluan saja ya?" Mamori buru-buru bangkit menuju lift, tak lupa mengacak sayang rambut Sena ketika melewati pemuda bermata hazelnut itu. "Hati-hati di jalan ya! "
"Iya…"
"Wuoh!! Sena, aku bantu Mamori-san dulu. Kau mau tunggu atau duluan juga boleh." Monyet itu buru-buru mengejar kesempatan. Biar hanya bantu bersih-bersih, yang penting bisa bersama gadis itu, begitu pikirnya.
"Eh? Monta! Terus yang jaga disini…" Sena memandang lelah Kurita dan Komusubi yang terkapar kenyang. Yukimitsu yang masih tertidur, untungnya Haha San Kyoudai sudah pulang lebih dulu tadi.
KLAP!
Suara sesuatu mengatup dari sisi lain ruangan, sebelum ada yang memanggilnya."Kuso chibi."
Oh ya, dia lupa ada Hiruma.
"Ya?"
"Bereskan barang-barangmu. Kuantar pulang." Ujarnya singkat merapikan peralatannya sendiri.
"IEH??! Ti-tidak usah..aku bisa sendiri kok." Sena menggeleng panik.
Bola mata tosca hanya memandangnyna sekilas dengan dingin untuk membuat pikirannya berubah dan mengangguk. "Ta-tapi bagaimana dengan yang lainnya?"
"Ada kuso-mane yang mengurus mereka. Kau biar aku yang mengurus."
//Aku lebih suka diurus Mamori-neechan!!// Pikirnya ingin menangis namun menyetujui saja maunya apa. "Oh…oke.."
"Ayo cepat, aku capek." Pemuda pirang itu berkata pelan.
//Ha…khusus hari ini saja aku mengalah…// "Iya." Jawabnya patuh.
-x-x-x-
Lelah akan hari yang panjang, dalam perjalanan pulang, keduanya hanya terdiam. Sena yang tegang juga heran karena Hiruma begitu tenang. Sesekali ia mencuri pandang, namun apa yang dilihatnya sama. Pemuda itu menatap lurus jalan, kelopak mata sendu menutup sebagian pandangan mata tajamnya. Wajahnya rileks, tapi tetap siaga. Poni pirangnya menyapu lembut terkena angin malam, semburat tipis lampu-lampu jalan membuat bayang abu lembut di kulit pucat miliknya. Dan dia tak bicara apapun.
"Hiruma-san?"
"Hn?"
"Kau tak apa-apa?"
"Ya."
"Oh." //Dia benar-benar lelah ya?//
"…Kuso chibi, kita sudah sampai." Ujarnya pendek menunjuk pagar rumah di sampingnya.
Sena tersadar dan buru-buru masuk."Ah, i-iya. Terima kasih sudah mengantarkanku." Ujarnya terbata dibalik pagar.
Hiruma menguap ngantuk menepis ucapan tadi."….Ya, ya…" Ujarnya sembari memasukkan tangannya ke saku celana, "Oke, besok jangan lupa latihan. Terlambat, kubunuh kau." Ancamnya ketika akan pergi. Sena bergidik mengangguk.
Ia teringat sesuatu dan berteriak memanggilnya."Ah, Hiruma-san!"
"Apa lagi !?"
Pemuda mungil itu menaruh tasnya di sisi pagar sebelum keluar mendekati Hiruma."Umh…er.." //Oke, ini hanya hal kecil…ayolah…siapa tahu ia termotivasi...//
Iblis itu merasakan urat-uratnya akan pecah karena kesal mendengar kegugupan itu."Kuso Chibi…" geramnya kesal. Ia tak siap dengan apa yang terjadi selanjutnya, karena Sena menarik lengan bajunya hingga ia membungkuk.
CUP!
Mata Hiruma membesar ketika merasakan sesuatu yang lembut menyentuh pipinya. Memang hanya sekejap, tapi itu pertama kalinya Sena yang lebih dulu memberinya kecupan.
Takut Hiruma berpikir untuk lebih jauh lagi, Sena segera mundur jauh mengambil jarak. Benar saja, karena ia berhasil menghindari lengan ramping yang berusaha menggapainya. "Hari ini….Um, terima kasih untuk semuanya. Aku salah menilamu selama ini. " Ia meminta maaf.
Iblis itu keheranan,"Untuk apa?"
Sena hanya tersenyum, "Apa saja deh…" Ia membungkuk hormat. "Oyasuminasai!" Salamnya sebelum berbalik cepat, masuk ke dalam rumah.
-x-x-x-
TAP! TAP!
BLAM!
Sena bersandar pada di balik pintu berusaha tenang. Baru kali ini rasanya jantungnya berdegup kencang seperti seusai lari maraton. Ia menunduk malu, dagunya mengapit erat di atas sambung belikat. //Agh!! Apa yang aku lakukan tadi?! Bodoh! Bodoh!!!// Umpatnya dalam hati. //Aduh…tenanglah…// Ia berusaha menormalkan detak jantungnya.
"Siapa di situ?" suara seorang wanita memanggil dari dalam ruangan, sebelum sosoknya muncul di persimpangan ruang tengah dan serambi depan. "Ah! Sena! Kau sudah pulang rupanya."
"I-iya, Tadaima…" ucapnya sopan sebelum beranjak dari pintu dan duduk untuk melepas sepatunya.
"Bagaimana harimu tadi? Ujian masuknya banyak yang lulus?"
"Uhm…yah, lumayan." Ia berbohong. Nyatanya kebanyakan cepat menyerah.
"Ahaha…Kurasa senior-seniormu pasti senang ya? Ara…aku jadi ingat. Bagaimana kabar Hiruma-kun?" tanya mamanya riang.
Sena merasa pipinya hangat dan menunduk lagi. "Di-dia sehat-sehat saja…"
"Oh, baguslah! Hiruma-kun sungguh anak yang baik. Lain kali ajak dia kemari lagi ya?"
Mendengarnya, Sena tersenyum kecil."….Iya, dia baik…" Ia lalu bangkit setelah selesai melepas sepatu, dan memberi senyum lebar pada mamanya, "Pasti, kuajak main lagi kemari." //Asalkan saat itu kalian berdua ada di rumah dan keselamatanku terjamin.// tambahnya teringat.
-x-x-x-
Sementara di bawah langit hitam di bagian kota lainnya, pemuda jangkung ramping yang kini berpakaian santai, menatap kelap-kelip lampu kota dari atas atap apartemennya. Angin malam seolah memang tercipta untuknya, memberikan sapuan lembut pada rambut pirang yang membingkai wajah oval miliknya. Redup warna-warni kota menyinari tipis kulit pucat yang berpadu sempurna dengan lekuk tegas garis tulang dan mata hijaunya.
Pemuda itu tenang menatap kota, merasakan semilir angin yang membuatnya mengantuk, bersandar pada pagar besi yang membatasi atap gedung, ia mengadap melihat langit malam tak berbintang. Bulan sabit adalah satu-satunya perhiasan alam di gelapnya langit. Ia memejamkan matanya menikmati suasana yang jauh dari keramaian, berusaha bersatu dengan gelap malam dalam tenang.
Jemarinya yang panjang perlahan terangkat, menyentuh pipi kirinya yang tadi dikecup malu. Aneh, sudah beberapa jam sejak saat itu, tapi rasanya hangat? Entah, geli? Apapun itu, masih terasa ada disana. Ia tersenyum tipis mengingatnya,
//Kali ini…aku takkan gagal…//
Tte nanka omoikomi docchi na no?
Wa a a ow!
Demo moshikashite kono hito?
He's just mysterious…
(((1x21)))
A/N:
(1) Sena takut ketinggian, coba cari di ES vol.27 untuk info lengkapnya.
(2) Dehidran digunakan supaya kelembapan berkurang. Fungsinya kurang lebih untuk mengawetkan dengan mengurangi kadar air di udara. Karena air bisa menyebabkan tekanan sel bertambah dan menjalankan metabolisme. Namun, hasil yang ada dari metabolisme itu tak tersalurkan, maka makanan jadi membusuk. Nah, kalau berasksi dengan air, zat kimianya yang memecah molekul, menghasilkan panas..Klo ga salah sih..XD
(3) Di gerai supermarket ada kok….Dan yang vanilla itu enak!
(4) Candy Pop oleh Heartsdales, sekali-kali musik hiphop gapapa ya…XD
STRESSSSSSSSS!! Tugas tambahan numpuk..tapi demi kuliah biar cepet beres!! Berusaha trus!! Blajar..blajar..
Okei! Review, komennya ditunggu yagh!!
HR
