Why Should I
Chapter 10
Baekhyun : Kebahagiaan.
Suatu hari, jika bahumu lelah
Karena beban berat di sekujur tubuhmu,
Maka ingatlah, kau bisa kapan saja meletakkan aku
Dari tanggung jawabmu.
Lepaskan aku, dan tinggalkan saja di tanah.
Dengan begitu, bahumu tidak akan lagi berat.
Seharusnya bukankah dari awal ;
Membuatmu mencintai diriku yang bahkan tidak dapat mencintai hidupku adalah dosa?
Chanyeol,
Bahagiaku bukanlah ketika kau menggenggamku lagi.
Dahulu, memang.
Hanya saja, kini, bahagiaku hanyalah ketika kau bahagia.
Jadi, lepaskan bebanmu, tinggalkan aku.
Jika bahumu sudah terlalu berat...
...
Aku tersentak dan terus terentak.
Sedangkan mereka menggeram, di belakang daripada punggungku. Mereka tertawa, mengumpat keras, lalu mengentak lagi—milik mereka yang ada di rektumku meringsek masuk semakin dalam. Aku menahan kepalaku di meja, membiarkan mereka semua melakukan apa yang ingin mereka lakukan.
"Ohh—Fucking Byun, kau belajar bercinta dari ibumu, ya? Hebat sekali, sialan."
Tidak apa. Semua akan selesai dan baik baik saja.
Presdir Jang tersenyum culas pada tempatnya, "Dia memang jalang terbaikku, kau tahu."
Lalu tawa serempak mereka memorak-porandakan pandanganku.
Sebulan lalu, pada saat itu aku akan meminta mereka untuk memukul kepalaku saja saat akan memulai ini semua. Agar aku tidak tahu bagaimana mereka membuatku kotor. Agar aku bisa berpura pura bodoh dan tidak terjadi apa apa ketika terbangun nanti. Tapi perlahan, aku lelah. Aku menyerah untuk membuat mereka mendorong wajahku pada meja atau kursi, aku lelah untuk sekedar melarikan diri. Atau bahkan berpura pura. Lagi pula, sadar atau tidaknya aku, bekas jejakkan telapak demi telapak mereka terberkas dengan sangat kental dalam setiap tubuhku.
Aku lelah.
"Jika saja dia bukan milikmu, Jang. Sudah kupastikan dia akan kuculik dan kujadikan simpanan."
"Yah, yah, sayang sekali, ya. Aku sudah membuatnya membuka pahanya pada diriku terlebih dahulu."
"Dia memang milikmu yang paling manis, Jang."
Aku sebenarnya tidak ingin menanggapi perkataan mereka. Biarlah mereka berkata apapun sepuas hati ; sungguh. Tetapi mendengar perkataan orang yang paling kubenci di dunia ini, mengatakan bahwa aku adalah miliknya, hatiku memanas, "A—Aku bukan milik bajingan brengsek itu—"
Mereka semua berhenti. Termasuk presdir yang tadinya akan melepaskan dasi pada lehernya. Kulihat, dia mendekat kemudian dengan seulas senyum remeh, menatapku lekat lekat dan berdecih ;
"Kau kurang diberi pelajaran rupanya, Baekhyun." Katanya sambil melepaskan gesper, "Kupikir kau akan meminta maaf karena mengabaikan janji kita beberapa hari yang lalu?"
"Aku tidak perlu diberi pelajaran oleh seorang brengsek sepertimu, bajingan!" Aku menjerit, walaupun terendam karena seseorang di belakang-ku menahan kuat kuat kepalaku ke meja.
"Oh, karena kau sudah memiliki seseorang untuk bersandar.." Presdir Jang mengusap pelipisnya, "Kau jadi merasa hebat, ya—"
"Kau berpikir aku tidak tahu bahwa kau berhasil mendapatkan kekasih bayanganmu itu." Ia tersenyum miring, "Aku sebenarnya sedikit cemburu—"
"—Mungkin aku perlu membuatmu mengulang hari dimana kau berlutut sambil menjilat kakiku agar diampuni?"
—"T—Tidak kumohon, J—Ja—Jangan—"
— "Kau harus kuberi pelajaran," Permukaan benda berkilat itu mendekatiku, membuatku menjerit tertahan, mencakar tembok dan ingin berlari kemana pun. Tapi semua dia sia, ketika sesuatu itu mulai memasuki kulitku dan—
Punggungku bergetar, menggeleng cepat sehingga air mataku jatuh ; "T—Tidak, A—Aku tidak bermaksud seperti itu.."
"Benarkah?" Presdir Jang menatapku dengan sebelah alis terangkat, "Tapi aku suka untuk membuatmu mengingat dimana tempatmu seharusnya."
Ia melepaskan gesper sepenuhnya dan mengambil alih tubuhku ;
—Aku seharusnya tahu.
Aku seharusnya diam.
Aku.. Seharusnya hanya diam.
...
Jika aku kembali dengan bekas sabetan di punggungku hari ini, Chanyeol akan khawatir.
Maka dari itu, aku memilih untuk pergi ke atas atap.
Menghabiskan malam itu sendirian dengan hening.
Setidaknya malam tidak akan menyakitiku.
Setidaknya, jika mereka benar benar menyakitiku ; mereka tidak akan menghancurkanku.
...
Aku kembali sebelum fajar.
Pelan pelan merangkak masuk ke dalam selimut dan membaringkan tubuhku, menghadap Chanyeol yang sepertinya sudah terlebih dahulu lelap dalam mimpinya. Aku tidak berusaha memejamkan mata karena rasa sakit di punggungku kini sedang memakanku hidup hidup. Lantas, aku membiarkan air mataku jatuh di wajahnya, tidak peduli jika itu membuatnya terbangun sekalipun.
Chanyeol, dia pasti sudah terlalu terbiasa dicintai oleh semua orang. Karena kehidupannya adalah berbeda denganku ; dia lahir untuk dicintai. Itu tidak aneh menemukan banyak surat dan hadiah yang setiap hari datang silih ganti di dorm atas namanya. Semua orang mencintainya. Bahkan ketika dia mengumumkan bahwa dia memiliki kekasih, semua penggemarnya tetap mendukung dan melindunginya.
Dia adalah orang yang hidup untuk dicintai.
Maka tidak heran, jika kau menatap matanya selama beberapa detik ; maka kau akan jatuh cinta. Terdengar aneh dan gila, tapi seperti itulah pesona yang dia miliki. Lalu, rasa sakit di punggungku yang pasti berdarah ini menarikku kepada suatu pikiran aneh ;
Seseorang yang sesempurna dan dicintai semua orang seperti dia, dia bilang dia mencintaiku.
.. Kau bertanya, apakah aku akan percaya? .. Tentu saja aku akan. Aku sudah menunggu lama sekali untuk dia memiliki rasa yang sama sepertiku—sudah terlalu lama aku mengharapkannya. Bahkan jika dia hanya menyatakan perasaannya untuk merayakan satu April sekalipun, aku akan bersedia menangis darah agar dia tetap melanjutkan sandiwaranya ; selama dia masih bersamaku.
Tetapi, belakangan, pikiran pikiran ini pun mulai menjangkau pikiranku—
Aku mengelus wajahnya sembari meringis,
Chanyeol, jika suatu hari kau mengetahui bahwa aku adalah si kotor yang mengemis demi dapat bersamamu..
... Akankah kau memaafkan aku?
...
"Baekhyun, lebih bagus kalau kubiarkan warna nya seperti ini atau kuganti coklat saja?"
Chanyeol yang duduk di depan kaca mengacak-ngacak rambut berantakannya sambil bertanya padaku. Ia bahkan masih dalam piyama tidurnya tapi sudah berkaca dan berkata rambut hitam sepertinya tidak cocok lagi untuknya.
Aku tersenyum kecil, meneliti setiap surai rambutnya yang sepertinya menipis. Dalam diriku, aku sebenarnya tidak mengerti mengapa Chanyeol selalu suka untuk mengganti model dan warna rambutnya padahal mereka semua sangat sempurna jika ada pada dirinya. Tidak peduli gaya apapun yang ia pakai, warna apapun yang disepuh ke setiap surai, mereka semua akan berakhir dengan indah secara fatal dalam dirinya.
Chanyeol, kau tidak tahu betapa sempurnanya dirimu.
"Aku suka rambutmu sekarang," Ujarku kecil, "Lebih dari itu, kau harus perhatikan kesehatan rambutmu."
"Benarkah? Kau tidak mengatakan itu untuk menyenangkan aku, 'kan?" Chanyeol terkekeh, "Rambutku memang lebih sering rontok tapi seperti tidak apa."
"Tidak, sungguh. Kau sempurna dalam warna rambut apapun," Aku mencicit di akhir kalimat karena malu sekali mengatakannya, "Tidak ingin pergi ke dokter untuk meminta vitamin untuk rambutmu?"
Chanyeol berbalik padaku, tersenyum ; "Kau juga sempurna dalam setiap senyummu."
Jantungku berdegup kencang. Rasanya aku ingin membekukan waktu saat ini juga agar senyum itu selalu tertuju padaku—tapi aku tidak akan bisa. Alih alih membalas senyumnya, aku malah tertegun dengan mulut mengangga.
"Ibuku mengirimkan banyak vitamin rambu padaku, jadi kurasa aku tidak perlu pergi mengunjungi dokter." Chanyeol melanjutkan, "Kau ingin beberapa?"
"Tidak perlu, rambutku sehat sekali, kok!"—Aku mengakhiri kalimatku dengan senyum cerah yang aku sendiri lupa kapan terakhir kali aku mengeluarkannya.
"Kalau begitu, aku akan pergi mandi."
Chanyeol mendekat padaku dan mengecup bibirku cepat sebelum berjalan ke kamar mandi.
Aku tidak dapat menahan diriku untuk tidak meledak ledak dalam dudukku.
...
Seperti hari dimana dia menyatakan perasaannya, kami kembali keluar dari dorm pada pukul 11 malam.
Chanyeol terkikik ketika aku mengigil kedinginan sebelum menarikku masuk ke dalam pelukannya. Kami berada di atap sebuah gedung berlantai dua puluh—bisa kalian bayangkan betapa dinginnya udara saat itu? Aku mendelik jengkel padanya dan mendengus sehingga uap dari bibirku menguap tinggi, "Kenapa kita harus pergi kesini?"
Chanyeol tertawa puas, sepertinya senang sekali dia melihatku kedinginan seperti ini, "Karena kau suka melihat bintang, bukan? Disini kita bisa melihat bintang dengan jelas."
"Tapi ini terlalu dingin," Renggekku lagi, "Kenapa—"
Cup.
"Aku ada disini untuk menghangatkanmu, sayang."
Pipiku bersemu merah dan aku yakin wajahku pasti jelek sekali sekarang. Dia mengulum bibirku dan memasukkan lidahnya ke dalam rongga mulutku—seharusnya ini menjadi adegan yang familiar karena aku sering mengalaminya. Namun tidak satu pun dari mereka yang menciumku selembut ini. Tidak ada satu pun dari mereka yang mencoba menenangkan aku, karena mereka hanya tahu untuk menyetubuhiku lalu pergi.
Ah, kenapa aku harus memikirkan hal seperti itu saat ini?
Mengabaikan kami yang mungkin saja tertangkap kamera fans atau paparazi, aku melingkarkan tanganku di sekeliling lehernya agar bibir kami semakin bertautan dengan dalam. Diam diam, aku melebur ke dalam tangisan ketika ia mulai membuatku merasa terlalu rendah untuk menerima kebahagiaan sebanyak ini.
...
Chanyeol, jika kau terus memperlakukanku seperti ini..
"Baekhyun, ayo kita pergi ke arena ski besok!"
.. Bagaimana bisa aku mengakui, bahwa di hadapanmu ini ; sedang berdiri seorang pendosa?
Aku pikir, dengan menjalankannya dengan Chanyeol, ringan di dadaku akan terasa. Mungkin, dengan menjatuhkan diriku ke dalam lengannya, semua akan berakhir bahagia dan tidak akan ada lagi tersisa penderitaan bagiku. Kupikir begitu. Kupikir aku bahagia. Tapi belakangan, kusadari bahwa perhatian dan lembut darinya membuatku merasa begitu bersalah. Aku bukan Byun Baekhyun yang kau kenal, aku bukan lagi seperti saat dimana kita masih berada pada sekolah menengah ; polos, bersih. Aku tidak lagi, bukan lagi, bukan seseorang seperti itu.
Aku sudah hancur. Sekarang aku sadar, seberapa keras Chanyeol berusaha meraihku dan memperbaiki bagian bagian dari diriku, mereka semua tetap berserakan dan berceceran, meneteskan darah dan meretak. Semua diriku lebur ke dalam retakan luas di lantai, menghancurkan diri sendiri.
Aku bukan Byun Baekhyun yang dulu.
".. Baek?"
Chanyeol yang mana berdiri di hadapanku menatapku khawatir, telapak tangannya yang hangat dan sedikit kasar meraba ke pipiku dan kutemukan air mata mengalir disana. Mengapa? Mengapa aku hanya bisa menangis?
"Aku tidak memaksamu, kita bisa disini saja jika kau tidak ingin.." Chanyeol mengusap kedua kelopak mataku, maniknya yang penuh kekhawatiran itu menamparku ke dasar dan membuat hatiku sesak, "Aku hanya ingin membuatmu tersenyum lebih banyak, disana ada salju dan menyenangkan, udaranya dingin dan kau akan merasa segar."
"T—Tidak. Hanya saja, A—Aku rasa ada debu disini, mataku menjadi sedikit perih."
Chanyeol menatapku sekali lagi, kilatan ketidak-percayaan kental disana tapi dia tidak mengatakan apapun. Ia mendekapku kemudian dan berbisik, "Tidak apa, semua baik baik saja."
Tidak akan. Semuanya tidak akan pernah kembali menjadi baik baik saja.
...
Setiap malam, aku akan menatap Chanyeol diam diam.
Ini bukannya aku kehilangan kepercayaan, atau apapun itu, tetapi ; rasanya setiap aku tidak menatap dirinya—dia akan menghilang.
Karena, dia sudah begitu banyak melangkah menjauh sebelumnya. Di antara kami, sebetulnya terbentang ratusan kilometer laut yang menyerupai samudera. Yang mana selalu membuatku terlelap ke dasar apabila mencoba meraihnya. Dia seperti harapan yang terkabul secara begitu tiba tiba. Seperti ombak yang sewaktu waktu akan menghilang, juga.
Dia seperti akan menghilang.
Maka, aku akan menggenggamnya erat erat. Dia sudah kutemukan dan tidak akan kulepaskan lagi. Dia sudah lama hilang dari hidupku dan kini dia yang datang padaku—aku tidak akan pernah melepaskan genggamannya pada jemariku. Tapi bagaimana dengan dia? Karena aku begitu mudah untuk dirangkulnya kembali, mungkin dia akan berpikir bahwa aku masih jalang yang sama—masih orang yang mengemis agar balas dicintai. Aku bahkan tidak tahu apakah dia mencintai sungguhan atau sekedar belas kasihan.
Tapi, bahkan jika suatu hari dia mengakui bahwa semua ini hanyalah sebuah empati darinya ; kurasa aku akan tetap menjatuhkan hatiku sepenuhnya padanya.
Mengapa? Apakah aku berhutang begitu banyak padamu di masa lalu sehingga aku tidak dapat mencintai seseorang lain selain dirimu?
Aku tidak tahu.
Aku meraih jemarinya ke dalam genggaman dan perlahan, meremas hangat tangannya. Dahinya mengernyit, mungkin sedikit terganggu, sebelum ia akhirnya ikut membalas genggamanku dan memelukku dengan satu tangannya yang bebas.
Seharusnya aku bahagia.
Tetapi, mengapa aku tidak..?
...
"Sebenarnya, ada banyak cara untuk melampiaskan perasaanmu."
Aku mengangkat wajah, menatap pada acara interview seorang penulis di televisi.
"Kau bisa berteriak, atau bernyanyi, kadang beberapa orang melampiaskannya dengan tersenyum ; atau menangis. Ada banyak bentuk, ada banyak sekali cara. Tapi bagiku, cara yang terbaik adalah dengan menuangkan kata kata."
Penulis itu tersenyum, menggerakkan tangannya seakan sedang menggenggam sebuah pensil, "Dengan kata kata yang tak akan terbatas, aku bisa menggambarkan semua. Dari laut lepas di ujung dunia, sampai langit luas di antartika. Baik setiap senyumku, ataupun setiap lukaku, aku bisa menggoresnya tanpa batas. Tak ada kaidah, tak ada aturan, semua tergantung pada dirimu sendiri."
AkU tertegun,
.. Itu adalah awal mula mengapa aku menghabiskan waktu di hadapan komputer lebih banyak.
Kuakui, awalnya terasa aneh. Walaupun bibirku terkatup dan tidak mengucapkan apapun, tetap terasa setiap kali aku mengetikkan frasa demi frasa ; aku tengah mengungkapkan semua pada orang lain. Yang kulakukan hanyalah mengetik beberapa kata, memastikannya tidak terlalu terbuka, lalu lega akan menyusup di hatiku—rasa sesak itu perlahan berkurang. Ini menjadi kebiasaan pada saat aku tidak dapat tertidur, atau saat pagi masih terlalu dingin untuk di mulai.
Aku jatuh cinta pada aksara.
"Oh," Chanyeol menatap pada layar komputerku, "Kau menulis sajak?"—Sambungnya setengah terkejut.
".. Bukan sajak. Ini hanya—" Aku ikut menatap pada kursor yang berkerlip, "—Hanya rangkaian kata."
"Tetap saja, Baek. Kau hebat," Chanyeol tersenyum lebar lalu mengusak rambutku, "Coba biar kubaca.. Hm, hidup adalah sebuah noda dan kekotoran.. Apa maksudmu?"
"Bukankah memang seperti itu?" Aku mengulas sebuah senyum palsu, "Semua tidak lebih dari sebuah kehancuran dan perang yang sudah usai.."
Chanyeol mengerutkan kening, "Aku.. Tidak berpikir seperti itu."
"Mengapa?" Kutatap mata indahnya yang penuh binar ; ia tersenyum lebar sebelum menjawab dengan lembut,
"Karena di dalam kehidupan yang seperti ini, tetap akan ada seseorang yang polos dan manis sepertimu." Chanyeol meremas tanganku, "Bukankah itu berarti, tidak semua di dunia ini adalah noda?"
Aku tertegun.
Di dalam hatiku, semua lantas porak-poranda.
Seakan aku tengah tertangkap basah olehnya ;
Dia bilang aku polos.
Aku tidak.
".. Baek?" Chanyeol mengguncangkan bahuku pelan, tapi aku tidak memiliki respon yang baik untuk membalasnya selain membatu. Perlahan, aku mengarahkan kembali pandanganku pada kursor yang berkedip di layar monitor—seperti bintang. Dalam kerjapan setelahnya, aku patah patah menatap Chanyeol kembali dan berbisik ;
"Kau benar," Aku berkata, nyaris seakan itu meluncur begitu saja dari pikiranku, "Kau indah."
".. Apa?"
Aku mengabaikan dia yang menatapku dengan kening mengkerut, segera meraih kembali papan ketik di meja dan mengetik dua kata ;
"Kau indah."
Kau indah.
...
Tetapi kata kata itu tidak dapat menolongku.
Semua orang tetap membenciku, selega apapun aku ketika kata demi kata yang tertahan di ulu hatiku tertuang—mereka akan tetap membenciku. Seperti sebuah narkotik yang bekerja hanya sesaat, begitu juga dengan ketenangan hati yang seakan akan kubuat dengan semu.
Chanyeol mungkin tidak mengetahuinya, karena ia lebih sibuk belakangan. Manajer dengan terang terangan berkata bahwa banyak refund merch dengan nama atau wajahku selama seminggu ini. Ia juga berkata bahwa semua member mendapatkan pesan ancaman yang bilang akan membunuhku—jangan tanyakan mengapa aku tidak mendapatkannya, aku juga tidak mengerti.
Kai dan Tao menjaga jarak, tidak memilih untuk terlibat dan aku mengerti dengan hal itu. Sehun dan Luhan sering membelikanku camilan yang sangat banyak ; katanya untuk menaikkan suasana hati. Suho dan Kris juga sama sibuknya dengan Chanyeol. Mereka semua bekerja keras belakangan ; tapi aku sendiri. Dan, sebenarnya, belakangan kusadari bahwa rasa yang paling menakutkan adalah saat saat dimana aku sendirian dan tidak ada yang bisa kuajak untuk berbicara. Ada banyak hal yang akan terjadi ketika aku sendiri—presdir Jang, cacian, makian, kebencian orang orang.
Ketakutan itu menelanku hidup hidup.
Lalu, entah sejak kapan semua ketakutan itu begitu mempengaruhi hidupku.
Ketika orang orang menatapku dengan mata mereka—semua itu seakan mereka sedang menghakimiku, menatapku rendah, menatapku marah. Bahkan biarpun bibir mereka terkatup dalam suatu garis lurus, aku dapat mendengar mereka menjerit bahwa akulah pelaku dari pembunuhan malaikat itu—Kim Yejin. Aku dapat mendengar bahwa mereka meraungkan namaku dalam benci yang mendalam. Aku dapat melihat jemari mereka bergetar seakan ingin meraih leherku dan mematahkannya disitu juga. Aku dapat merasakan kebencian mereka di seluruh tubuhku.
Tak apa, aku pantas. Sejujurnya, yang Yejin katakan tidaklah sepenuhnya salah. Aku memang mencintai Chanyeol dan disitulah letak kebodohanku. Aku memang menghancurkan hidupnya dan itulah mengapa aku mendapatkan semua ini. Aku pantas.
Presdir masih merupakan orang yang sama—hanya saja, sekarang dia lebih kejam. Aku ingat, aku berlari di sepanjang jalanan dengan kaki telanjang karena dia mengejarku dengan pisau. Dia juga menggunakan ikat pinggangnya setiap waktu, terakhir kali, dia memukul betisku kuat kuat sehingga—
Aku tidak ingin memikirkannya.
Aku takut.
Langit terasa begitu rendah. Begitu pula dengan diriku. Chanyeol mulai sibuk dan dia lebih jarang menemaniku. Seluruh pusat hidupku itu bekerja keras belakangan ini. Aku harap aku dapat mengikutinya setiap waktu, tapi aku tidak bisa. Sebagai gantinya, aku semakin banyak menulis kata kata di dalam laptopku. Dan, belakangan kusadari bahwa Chanyeol akan membaca semua kata kata tidak bergunaku itu pada malam hari.
Ponselku kehabisan baterai sejak dua hari lalu dan aku tidak ingin membiarkannya menyala. Chanyeol sebenarnya ingin agar aku mengecek pesan pesannya—dia khawatir jika ibu atau ayahku mengirimkan pesan, tapi aku tidak ingin. Ayah dan Ibuku tidak akan peduli. Sekarang, di duniaku yang penuh kekotoran ini, hanya Chanyeol yang peduli padaku.
Hanya Park Chanyeol.
...
Agensi mengatur jadwalku untuk bertemu dengan beberapa psikiater.
Aku tidak tahu mengapa mereka melakukan itu, tidak ingin begitu peduli juga—sungguh. Biarpun para psikiater itu tersenyum seperti malaikat tiap kali mereka mengelus lenganku, aku tetap merasa begitu terintimidasi di dalam ruangan penuh putih seperti itu.
Mungkin karena itu, Chanyeol mulai menjadwalkan kencan kami setiap aku selesai mengunjungi para psikiater itu. Dia akan tersenyum di lobby utama dan berisik di telingaku dengan hangat, "Kau melakukan yang terbaik."
Seperti hari ini.
Chanyeol memelukku erat erat, seakan dia tidak pernah ingin melepaskan diriku. Kami memutuskan untuk menghabiskan akhir pekan di dorm, karena para member sedang berpesta dengan Suho di luar. Film terputar di hadapanku tapi aku sama sekali tidak tertarik—aku lebih terfokus pada rahang tegas Chanyeol daripada perkataan di film itu.
"Bagaimana perasaanmu?" Chanyeol tiba tiba bertanya, ia mengelus jemariku hangat dan menggenggamnya, "Kau merasa baik?"
"Aku selalu baik.." Aku bergumam, "Agensi terlalu melebihkan keadaan."
"Mereka hanya menjaga vokalis terbaiknya," Kulihat Chanyeol mengulum senyum, "Mereka baik padamu, 'kan?"
Aku mengangguk, entah mengapa merasa mengantuk ; "Mereka tersenyum sepanjang waktu seperti malaikat.."
"Baguslah," Dia mengecup pipiku, "Kau telah melakukan yang terbaik."
Aku tertidur di dekapannya yang hangat.
Untuk saat itu, aku berharap aku tidak akan pernah terbangun lagi.
...
Presdir Jang datang keesokan harinya.
Aku tahu, dia datang untuk menarikku ke neraka. Dia datang untuk membunuhku yang masih hidup—aku takut. Dia berjalan dengan seringaian culas dan menyergap tanganku terburu buru ;
"Kulihat kau terlalu senggang belakangan," Katanya sambil meremas kuat pergelangan tanganku—membuatku berjengit. Itu sakit.
"P—Presdir," Aku tergagap, keringat dingin memenuhi punggungku ; "J—Ja—Jangan lakukan itu disini—"
Setidaknya jangan di sini, jangan lakukan apapun padaku selagi aku masih berada di dorm. Bagaimana jika Suho kembali dari jadwalnya dan menemukanku sedang di setebuhi seperti anjing betina? Bagaimana jika Kai yang kembali dan menemukan Hyung yang selama ini dia hormati sedang terhentak dibawah Direktur Jang? Bagaimana jika mereka datang dan mendapati diriku seperti ini—Kumohon, jangan.
"J—Jangan—" Aku mulai menangis saat akhirnya tersadar dia tidak pernah mendengarkanku, "D—Di—Dimanapun selain d—disini, k—kumohon..—"
—Presdir kemudian menatapku dingin.
Dia mendorong tubuhku ke kamar. Kamarku dan Chanyeol. Tubuhku meremang dan bergetar, karena dia menatapku penuh kekejaman seperti malaikat kematian. Dia tersenyum penuh penuh sampai kedua sudut bibirnya terangkat tinggi dan memenuhi pengheliatanku, berkata buas ; "Memang sejak kapan kau bisa memilih dimana kita akan melakukan pembayaranmu?"
Air mata bodoh, berhenti keluar. Aku menggeleng keras, memaksakan diri untuk memohon lagi saat dia mendorongku untuk jatuh terbanting pada kasur. Tidak, ini kasur milik Chanyrol. Dia tidak dapat melakukan ini padaku.
Tidak. Tidak. Tidak.
"Jalang, nikmati ini."
Dia merobek pakaianku. Mencampakkannya pada lantai. Aku berusaha menjauh tapi dia menggunakan dasinya untuk mengikat kedua tanganku, lalu meraihku kasar ke belakang untuk memperlihatkan punggungku padanya. Dia menekan punggungku ke bawah, sehingga kini bagian bawahku terangkat tinggi—aku benar benar seperti jalang. Isakan ku tidak membantu, itu membuatnya semakin marah dan dia memberikan satu sabetan penuh kesakitan di tubuhku. Aku meraung saat dia mulai memasukkan miliknya dalam satu sentakan keras dan membuatku menjerit seperti kesetanan. Rasanya sakit. Sakit sekali.
Aku mengangga, tidak bisa berkata-kata saat dia semakin menghentak ke dalam.
Tapi tidak, kami tidak bisa melakukannya di sini. Ini kamarku dan Chanyeol, ini kasurnya.. Jika dia kembali, hidupku akan tamat—Kumohon..
"P—Presdir, J—Jangan—Huks—J—Jangan lakukan—"
Tentu saja, dia tidak mendengarkan. Ia mendongak dengan seluruh urat yang menimbul dari lehernya, mendesah keras keras seperti seekor hewan biadab. Aku menangis lagi dan dia menamparku keras keras—presdir Jang memang tidak menyukai suara apapun saat kami melakukannya.
Aku tidak tahu mengapa semua orang begitu menyukai untuk membuatku merasa sakit.
Mungkin yang pertama adalah ibuku, ia mendorongku ke tanah dan membuat lututku tergores. Aku menangis sepanjang siang tapi dia tidak kembali untuk membuatku terbangun. Aku dibiarkan begitu saja, melihat ibuku secara terang terangan menyuapi kakakku dengan penuh kasih sayang. Aku sering dikurungnya di gudang yang gelap, atau dibiarkan kehujanan saat pulang sekolah. Lantas, ibu juga sering memukul kepalaku dan memakiku dengan kata kata yang kuharap tidak pernah kudengar.
Yang kedua, teman-temanku. Mereka sangat suka menyembunyikan tas sekolahku dan melemparnya ke kolam. Pernahkah aku bilang pada kalian bahwa aku tidak bisa berenang? Semua itu karena aku takut tenggelam lagi seperti waktu itu. Gadis gadis di sekolah itu juga tidak ada bedanya ; mereka mengunciku di toilet. Ada juga yang secara sengaja menepuk pantatku ketika aku menaruh sesuatu di loker.
Yang ketiga, kakakku sendiri. Aku tidak sengaja menginjak tali sepatunya hingga dia tersandung dan aku di makinya habis habisan. Ayah pulang saat itu dan ikut mengolok-ngolokku juga—mereka membuatku berapa di luar rumah pada pukul dua dini hari.
Yang keempat, kelima, keenam, dan seterusnya—
Mengapa semua orang begitu menyukai untuk membuatku merasa sakit?
Aku memejamkan mata, pada akhirnya menyerah untuk bersuara. Aku menulikan telingaku dan mengatupkan bibirku erat erat, tidak peduli bahwa punggungku berdarah darah, tidak peduli rasanya tubuhku hancur luruh porak poranda. Aku tidak peduli, aku hanya berharap—
"Apa yang terjadi disini?"
—Chanyeol tidak kembali.
Dunia pasti sedang bercanda 'kan? Karena di hadapanku sekarang, berdiri seorang yang amat kucintai—dan dia melihatku dalam keadaan hina. Aku merasa malu, kehilangan muka, ingin menangis tapi terlalu kotor untuk menjadi pantas. Aku ingin berlari dan memeluknya, mengatakan bahwa ini hanya suatu kebetulan saja atau hanyalah sebuah bunga tidur di malam sabtu—tapi aku tidak bisa. Chanyeol bahkan hanya terdiam, menatapku seolah ia menjeritkan bahwa ia kecewa, di dalam maniknya yang terkejut, kutemukan secercah mata rantai kepercayaan miliknya yang putus.
Aku tahu, saat itu juga, aku akan kehilangan Chanyeol.
Tapi aku tidak bisa.
Di duniaku yang menjelma menjadi kotor ini, hanyalah dia yang kumiliki.
Bagaimana mungkin aku kehilangan dia dengan cara yang paling menyakitkan?
Lantas pandangku menggelap, di dalam diriku terdengar tangis patah patah—entah siapa, sementara sebuah suara tergiang berulang di dalam pikiranku.
"Chanyeol, bila suatu hari nanti kau menemukan bahwa diriku adalah bukan seseorang yang kau pikirkan selama ini.. Apa yang akan kau lakukan?"
Jika suatu hari nanti.. Kau menemukan diriku..
.. Yang sebenarnya.
".. Mengapa? Ada sesuatu yang menganggumu?"
"Tidak hanya saja, jika hal itu benar benar terjadi.." ". Aku ingin mati saja."
.. Maka aku—
".. Ingin mati saja."
...
Chanyeol : Kebahagiaan.
Kuakui, Baekhyun bersikap aneh belakangan.
Bukan hanya tentang dia yang bergetar setiap kali menatap orang orang, atau dia yang bersembunyi dari matahari hangat yang mulai muncul—bukan hanya itu. Dia juga mulai terganggu dengan suara suara keras, dia menangis ketakutan saat aku melepaskan ikat pinggang milikku, dia menghindariku habis habisan ketika aku mencoba mengelus punggungnya. Dia banyak ketakutan dan banyak menangis.
Mengapa, Baekhyun? Kupikir, dengan bersamaku kau akan bahagia.
Aku meremas pelipis milikku dan berjalan masuk ke dorm. Lampunya tidak di nyalakan, mungkin Baekhyun masih lelap. Aku berjalan ke dapur dan menuangkan segelas air dingin. Lantas, aku menjatuhkan diriku ke sofa di ruang tengah. Menghela nafas dan memejamkan mata.
Tidak lama, karena aku harus segra menemui Baekhyun. Pada perjalanan pulang tadi, aku melihat sebuah wahana permainan yang baru buka dan aku ingin dia pergi kesana bersamaku. Aku meninggalkan gelas yang kuminum di meja dan perlahan berjalan ke arah kamar. Terhenti. Karena kudengar—
—Baekhyun menangis.
Aku terkesiap, segera membuka pintu dan tidak pernah kubayangkan sebelumnya—bahwa aku akan melihat hal hal semacam ini. Disana, kulihat Presdir Jang menyetubuhi Byun Baekhyun seperti anjing yang sedang birahi, kulihat Presdir Jang menjilat bibirnya berkali kali seperti orang gila dan kulihat punggung Baekhyun-ku—
"Apa yang terjadi disini?" Kataku pelan, nyaris tanpa tenaga.
Baekhyun, disana, tersentak. Dia menolehkan kepalanya untuk menatapku dan sontak duniaku jungkir balik—di kedua matanya itu, ada banyak sekali luka. Presdir Jang ikut menatap kebelakang sebelum mendengus. Menarik dirinya dari Byun Baekhyun dan membiarkan tubuh mungilnya terjatuh tidak berharga begitu saja, ia menarik kembali celananya dan membenahi dirinya yang berantakan.
"Kau kembali."—Adalah satu satunya yang ia katakan sebelum aku memukulnya keras keras,
"Kau melakukan apa padanya, bajingan bangsat?!" Jantungku berdegub keras akan rasa amarah. Aku memukul seseorang yang seharusnya kuhormati tanpa tahu arah, aku hanya ingin membunuhnya dan membawa Baekhyun pergi jauh dari sini—Tapi entah mengapa Presdir Jang selalu lolos. Suho datang beberapa saat kemudian dan melerai kami berdua. Presdir kembali ke perusahaan dan aku dimarahi nya habis habisan.
"Aku harus pergi ke kamar," Aku menggeleng, menahan lengan Suho yang akan menarikku untuk pergi ke kantor presdir,
"Untuk apa, sialan?!" Suho mengumpat, "Kau harus—"
"Baekhyun!" Aku berteriak, "Baekhyun! Dia—"
Suho terdiam, melepaskan genggamannya sedangkan aku segera kembali ke kamar. Disana, Byun Baekhyun meringkuk dengan selimut yang membungkus dirinya. Aku melangkah pelan pelan, berusaha agar membuatnya tidak ketakutan. Kututup pintu di belakang punggungku, dan menatapnya, berusaha tersenyum meskipun aku ingin menangis.
"B—Baek," Panggilku, "A—Aku—"
Baekhyun tidak menoleh, tidak juga merespon. Sialnya, aku kehilangan semua kata kata yang ingin kukatakan. Akhirnya, aku hanya berdiri seperti orang bodoh dan dia tetap meringkuk disana. Bahunya bergetar sangat hebat, tapi dia tidak menangis.
Baekhyun-ku.
"B—Baek—" Aku memaksakan sebuah langkah untuk mendekat padanya, "Kau bisa menangis jika kau ingin—"
Baekhyun tidak menjawab.
"K—Kumohon," Akupun tidak mengerti mengapa aku memohon, "A—Apa kau baik?"
"Aku ingin minum." Baekhyun tiba tiba berkata, tanpa menoleh padaku. Aku segera mengangguk seperti orang gila, "Kau ingin air? Aku akan mengambilnya. Kau harus disini, oke? Aku akan segera kembali."
Aku berlari, membuka pintu kamar dan segera pergi ke dapur. Aku menuangkan segelas air panas dan mencampurnya dengan yang dingin. Tapi tanganku terlalu bergetar sehingga gelasnya pecah, aku kembali lagi untuk mengambil yang baru ; kali ini memastikan untuk menjaga jemariku agar tidak terus bergetar.
"B—Baek," Aku bergumam, berjalan terburu buru ke kamar.
Dia masih disitu, meringkuk di tempat yang sama. Yang berbeda adalah, dia mendongak padaku dengan kedua bilah matanya yang kosong dan pekat dengan keputus-asaan, ia ikut menjulurkan lengannya ke atas agar aku bisa melihat apa yang ada di telapak tangannya yang menegandah.
"Chanyeol, a—aku baru saja meminum semua obat dari psikiater i—itu," Katanya dengan senyuman kosong, ia tersengal dan seakan tersedak sesuatu, "Kalau sudah begitu, aku akan bahagia, ya?—uhuk—"
Tidak.
Kumohon. Kumohon. Kumohon.
Aku harus membawanya keluar, aku harus mendekapnya. Tapi kakiku seperti batu dan beku. Aku seakan terpaku dan satu satunya yang kulihat adalah ia yang terus bergetar—
"B-Baek—"
PRANK.
Dia menelan semua kapsul itu saat aku mengambil air minum. Itu bukan obat untuk membuatnya merasakan euphoria atau apalah, sama sekali bukan. Itu adalah obat tidur yang diberikan psikiater untuk mengatasi insomia miliknya—Itu bukan obat.
Dia tidak boleh minum itu.
Tidak.
Jangan—
Ia limbung, terjatuh ke kasur. Gelas yang kugenggam lantas pecah berantakan, seperti hatiku. Aku berlari padanya dan mendekapnya erat. Tapi sekujur tubuhnya kejang dan ia hanya tersenyum penuh kepalsuan.
"—A—Aku a—akan, uhukk—b—bahagia."
"Baekhyun!"
Dia, Byun Baekhyun, tersedak oleh pil-pil yang ia telan sehingga beberapa dari mereka jatuh ke kasur. Nafasnya patah patah dan kelopak matanya yang indah mengerjap seakan mereka mulai memberat. Pikiranku seperti lepas dan buntu, aku meraung raung tapi anehnya tidak menangis.
Hatiku kacau, dunia sekaan hancur dan porak poranda. Dimatanya, kental air mata dan rasa penderitaan, mengapa aku tidak menyadarinya? Aku terus terusan memanggil namanya sementara dia perlahan lahan memejamkan mata setelah beberapa kali mengernyit kesakitan.
"Baekhyun, kumohon. Kau tidak boleh—Jangan tinggalkan aku!" Aku menggoncang bahunya, frustasi akan rasa takit yang membelenggu, tapi Byun Baekhyun tetap terdiam. Seakan dia tidak mendengarku.
Tidak. Ini tidak boleh terjadi.
Tidak.
Aku mendadak mengingat percakapan kecil kami di depan agensi ;
"Chanyeol, terima kasih. Berkat kau, aku merasa menemukan diriku yang baru—"
"Dirimu yang baru?" Kuingat saat itu aku terkekeh, "Baru yang seperti apa?"
Ia tersenyum, menoleh padaku ; "Seperti, tidak takut kepada kematian misalnya."
Tidak.
"Kau bicara seakan akan kau sangat terbiasa," Aku merangkulnya pelan, "Jangan berbicara seperti kau akan meninggalkanku."
"Kau meninggalkanku berkali kali dulu—"
"Ya Tuhan, itu masa lalu," Aku terkekeh, "Maafkan aku. Aku berjanji aku akan membuatmu bahagia sehingga tidak akan tersisa penderitaan sedikitpun untukmu."
Tidak.
"Kau berjanji?"
"Janji."
Tidak.
"B—Baekhyun, K—Kau tidak boleh—" Aku tercekat, jemarinya yang lentik mengejang dan wajahnya mengkerut kesakitan. Aku berusaha menyadarkannya tapi yang dia lakukan hanya tersedak oleh pil demi pil yang seperti tersangkut di tenggorokannya.
Apa.. Apa yang harus aku lakukan?
Dengan sisa kewarasan yang masih ada dipikiranku, aku menanggil nama Suho keras keras untuk meminta bantuan. Suho kemudian datang dengan medis. Mereka membawa Baekhyun ke rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan—
Sementara aku terdiam, termenung. Di tanganku, terdapat botol kosong dari pil yang tadi Baekhyun minum.
Tuhanku, siapapun, tolong aku. Karena jika aku kehilangannya, bagaimana aku akan mempertanggung jawabkan janjiku untuk membuatnya selalu bahagia?
Kumohon.
Aku tidak ingin kehilangan dia lagi.
TO BE CONTINUED
"Chanyeol, bila suatu hari nanti kau menemukan bahwa diriku adalah bukan seseorang yang kau pikirkan selama ini.. Apa yang akan kau lakukan?"
".. Mengapa? Ada sesuatu yang menganggumu?"
"Tidak hanya saja, jika hal itu benar benar terjadi.." Byun Baekhyun menegandah ; saat itu, aku berpikir dia hanya melihat langitnya yang indah—tapi tidak. Dia menahan semua air mata yang ada di pelupuknya, ".. Aku ingin mati saja."
I'M SORRY FOR ANY TYPO(S), OOC, etc.
aloha~
Aku tahu ini nggak nge feel, maaf maaf. Karena mungkin aku lagi bahagia, susah untuk dapet feel yang cocok tapi aku janji untuk chapter selanjutnya aku akan berusaha semaksimal mungkin. Kita masih punya bahan buat mewek kok di chapter depan, nggak usah kecewa dulu. Ini baru permulaan guys, semacem pemanasan gitu deh KEKEKEK.
Makasih kalian yang udah dukung aku sejauh ini, kemaren kemaren aku lihat ada yang promosiin epep ku di snapgramnya at derpwhiteboy, sampe ada yang komen di postingan minta mereka baca itu, aku terharu banget. Thanks semuanya, masih inget akutuh waktu pertama post ff ini EYD nya masih berantakan banget kayak hidup T^T. Semoga dah membaik ya sekarang hehehe. Kalian yang mau ngobrol-ngobrol soal Chanbaek atau mau kasih kritik ke ff aku, monggo di add id line ; carey titik chn, titik diganti lambang titik ya (sebenernya authornya yang nggak ada temen ngobrol soal Chanbaek *hapus air mata*)
AH IYAAA! TERIMA KASIH KALIAN YANG UDAH DUKUNG AKU DARI MAU UN. Astaga nggak kebayang lho kalau aku bakal berhasil masuk ke SMA Idaman dari jaman SMP (bener bener makasih buat kalian). Makasih banget buat kalian yang udah doain aku pas TO, UN, USBN, dll. Akhirnya aku udah SMA nih, kekeke. Semoga tulisanku bisa makin improve dan makin banyak kesempatan buat nulis (i hope). Big thanks buat kak Restika Dena yang telah bersedia mendengarkan keluhanku soal pendaftaran PPDB, INTINYA, TANGGAL 16 NANTI AKU RESMI PUTIH ABU-ABUUU~~~ YUHUUU!
'KAY, kebanyakan nih bacotnya.
Next? Leave your review below, please?
