DADDY, I MISS YOU!
.
AQUARYOUNG21
.
FAMILY, ROMANCE, DRAMA, HURT/COMFORT
.
CAST
SM FAMILY, GS for UKE
.
.
.
.
DADDY, I MISS YOU! CHAPTER 11
.
.
.
.
.
Sekedar ingetin aja, kalo dicetak miring itu berarti isi hati atau flashback-an tokohnya yaa~~
.
.
.
Lampu ruangan itu dinyalakan redup. Ada seseorang di dalamnya yang terlihat hanya seperti siluet. Sosok itu terduduk di depan meja riasnya. Menatap kosong pada pantulan bayangannya di cermin. Wajahnya yang cantik itu menyimpan kekalutan yang luar biasa.
"kau tahu, betapa sukanya tao padamu?"
Dia memegang dadanya yang berdenyut nyeri.
"tidak mungkin kan?"
.
"jadi ini rumahmu?"ucap Jessica pada namja blonde di sampingnya. Namja itu hanya mengangguk pelan. Membuka pintu jati bercat cokelat tua itu perlahan dan terlihatlah interior megah rumah itu.
"sepi sekali.." gumam Jessica lagi.
"tentu saja, karena hanya ada aku dan kau di sini" ucap namja itu dingin. Jessica duduk di sebuah sofa kulit mahal nan empuk di rumah itu. tak lama seorang maid datang membawakan minuman. Setelahnya dia dan namja blonde itu terkurung dalam keheningan hingga sampai seorang pemuda lain masuk. Rambutnya hitam legam dan badannya atletis. Kulitnya agak kecoklatan dengan lingkaran hitam di sekeliling matanya. Sekilas Jessica tak bisa mengalihkan pandangannya dari sosok itu.
"ge!" sapa namja itu pada namja blonde yang berada di samping Jessica. Namja blonde itu menoleh.
"darimana saja?"
"latihan wushu ge, aku ke atas ya!"selesai mengucapkan kalimat itu mata namja itu tertuju pada Jessica. Tatapannya tajam dan Jessica merasa terhipnotis. Apalagi saat namja itu menarik satu sisi dari ujung bibirnya. Jessica merasa dunianya berhenti dan hanya namja itu yang hidup.
.
.
Namanya huang zitao, namja yang menghentikan duniaku untuk beberapa detik itu. dia sepupu dari namja dingin yang menjadi tunanganku, kris wu atau wu yifan.
"berkirim pesan dengan siapa?" Tanya kris mengagetkanku. Aku segera memasukkan ponselku kedalam tas yang memang ku bawa.
"aniya, hanya teman.."
"kau sudah tentukan gaun pilihanmu?"Tanya kris lagi seraya mengutak atik ponselnya.
"aku bingung"
Kris menatap ku dingin. Sejak awal aku tahu dia tak menunjukkan ketertarikkannya terhadapku. Salah juga aku hanya tertarik karena wajah tampannya.
Drrt
From: tao
Noona, aku harus latihan dulu. Kita bicara lagi nanti, bersenang senanglah memilih gaunnya, sudah hampir hari pernikahan^^
Aku tersenyum samar. Tao sosok yang hangat. Benar –benar hangat dan berbeda, tak seperti kris.
.
.
"tao –ya! Let's take a picture" seru Jessica tepat di depan altar yang baru saja beberapa menit lalu menjadi saksi bisu dari pengikatan janji sucinya dengan kris. Namja dengan tuxedo hitam yang sewarna dengan rambutnya itu berjalan menghampiri Jessica.
"kau ambil fotonya, tanganmu lebih panjang" ucap Jessica memberikan kamera polaroidnya.
CKRIK
Jessica mengibas –ngibaskan foto yang baru saja keluar dari kamera polaroidnya. Dia menatap foto itu dan tersenyum melihat ekspresi lucu yang ia dan tao tunjukkan dalam foto itu.
"aku suka.. noona, selamat ya atas pernikahanmu" ucap tao pelan dengan senyuman terkembang. Hal itu justru membekukan Jessica.
"jess?" suara bass kris membuyarkan semuanya. Dengan alis terangkat sebelah, kris menatap Jessica juga tao. "ada banyak tamu di sana, kenapa masih disini?" lanjut kris. Tao menatap Jessica teduh.
"noona, aku keluar ya, sebaiknya kau juga.." ucap tao pelan sebelum pergi.
.
.
Tahun pertama yang penuh kepalsuan. Jessica merasa stress dan berada di bawah tekanan dengan sikap kris yang begitu dingin, bahkan kris tak pernah menyentuhnya dan terlihat tak berminat padanya. Dan untuk melampiaskan semua keresahannya tak jarang Jessica pergi keluar rumah sampai larut malam. Dan kris nampak tak terganggu dengan hal itu. dia hanya diam dan terlarut dalam kesunyian ruang kerjanya.
"hallo? Noona ada dimana sekarang?"suara tao terdengar dari ujung telepon genggamnya dan Jessica tersenyum mendengarnya.
"di club biasa.." ucapnya pelan dan terdengar mabuk. Tak butuh berjam –jam sampai akhirnya tao ada di club itu. Jessica menyunggingkan senyuman manisnya. Pangerannya datang.
"kau datang.."
"noona kau harus pulang, kris –ge pasti mencemaskanmu" ucap tao membopong tubuh Jessica sampai ke mobilnya.
"dia tak pernah begitu, dia tidak peduli tao"
.
.
Joonmyeon dalam perasaan kalutnya, berlari di sepanjang koridor rumah sakit. Sehun sudah dipindahkan ke rumah sakit karena dia belum juga sadar setelah 2 jam. Kris berjalan di belakangnya mencoba mengejar langkah yeoja itu. kamar nomor 94, ruangan sehun terdahulu. Joonmyeon membuka pintunya sedikit kasar dan dia dapat melihat tubuh putra semata wayangya tengah terbaring lemah di sana.
"sehun.." lirihnya pelan. Joonmyeon merasakan lemas menjalari seluruh tubuhnya melihat putranya harus terbaring lagi. Tak ada hal lain yang bisa dilakukannya selain menangis.
"yak.. sehuna waeyo? Kenapa tak bilang kalau kau sakit? Kenapa menyembunyikannya?" ucap joonmyeon seraya mengelus surai kepala sehun. Dokter yang berada di ruangan itu menatap kris dan joonmyeon bergantian hingga akhirnya dia berbicara.
"bisa saya bicara dengan kerabat sehun?" ucap si dokter. Joonmyeon tak mengacuhkan ucapan dokter, terlalu focus pada sehun.
"aku bisa," ucap kris akhirnya.
"maaf anda ini.."
"saya ayahnya.."
"baiklah itu bagus."
Lalu dokter itu pun mengajak kris ke ruangannya meninggalkan joonmyeon dan sehun seorang diri di ruangan itu.
.
.
Luhan juga jongin hanya terdiam beberapa jam lalu sehun dibawa ke rumah sakit. Semua berlangsung sangat cepat. Sehun terlihat tidak baik baik saja tapi dia tetap memaksakan dirinya.
"jongin.." panggil luhan pelan. Jongin menoleh ke arah luhan. Gadis itu terlihat begitu cemas. Tangannya juga gemetar dan masih memegang obat sehun. Melihat mata rusanya yang sudah berkaca –kaca.
"hiks.. apa.. apa sehun akan baik baik saja?" ucapnya dengan suara bergetar. Jongin menarik luhan ke dalam pelukannya. Mereka memang tengah berada di kelas berdua saja. duduk di lantai di belakang kelas.
"dia baik baik saja, dia pasti akan baik baik saja"
Jongin memeluk luhan terlalu erat sampai dia tak menyadari ada mata lain yang menatap mereka.
"aku memang tak seharusnya berharap.." lirihnya pelan.
.
.
Di koridor sepi itu, kris melangkah lunglai. Dia bahkan bisa mendengar langkahnya karena koridor itu terlampau sepi. Apa yang dikatakan dokter barusan membuat perasaannya begitu hancur. Ia hanya termenung di depan pintu bernomor 94. Lewat kaca bening yang tertanam di pintu itu kris bisa lihat joonmyeon masih mengenaskan memegang erat tangan sehun yang terkulai lemas.
KREK
Kris membuka pintu itu sepelan mungkin walau tak mungki suara decutan pintu itu dapat dia redam. Lantas saja joonmyeon menoleh kea rah kris. Matanya memerah, jadi selama kris tinggal joonmyeon menangis? Kris sadar, betapa cintanya yeoja ini pada anaknya. Pada sehun. Sekarang melihat hal itu, kris jadi berpikir kembali untuk bisa tampil sebagai ayah sehun. Apa dia masih punya muka untuk mengatakan 'hay sehun, aku daddymu' setelah 14 tahun mencampakkannya?
"apa kata dokter kris? Sehunku tak apa kan?"
Sehunku. Mungkin aneh juga jika joonmyeon mengatakan sehun kita sejak kris tak pernah melakukan apapun selama ini. Hanya muncul setelah 14 tahun dan membuat joonmyeon kembali harus struggle dalam kenangan pahitnya.
"kau yakin ingin mendengarnya?" ucap kris dengan suara parau. Mata obsidiannya yang bisa menatap tajam kini berubah sendu. Joonmyeon beranjak dari duduknya dan menghampiri kris. Menatap kris begitu dalam.
"katakan! Hal ini menyangkut keselamatan anakku kris!"ucap joonmyeon mengguncang lengan kris. Kris bisa lihat sisi lain joonmyeon yang begitu rapuh. Wajah frustasi itu terlihat sangat jelas. Apa 14 tahun lalu joonmyeon juga menampakkan wajah seperti ini? Jika iya, bodoh sekali kris meninggalkannya begitu saja.
"ada hematoma di pembuluh darah otaknya, benturan kecelakaan kemarin salah satu faktornya.."
Jika bisa joonmyeon minta tuli saja dari pada mendengar kabar yang dibawa kris. Hematoma? Joonmyeon tak dapat membayangkannya. Sehun nya, sehun pelita kehidupannya, sehun yang sempurna, kenapa hematoma itu harus ada di tubuh sehun?
BRUG
Joonmyeon menjatuhkan dirinya dan menangis sesenggukan. Kris pun ikut terduduk menyamakan tingginya dengan joonmyeon sekarang.
"apa yang harus kita lakukan? Eottokhe?"lirihnya. kris sangat ingin memeluk joonmyeon, tapi dia merasa tak pantas melakukannya.
"eottokhe, uri sehuna, wae? Eottokhe kris? Eottokhe?"
"uljima, dia akan baik baik saja, sehun pasti kuat" ucap kris pelan. Kris hanya mencoba tegar, walah sebenarnya ketakutan itu ada di dalam hatinya.
.
.
"kenapa noona tak menjawab telponku?"ucap chanyeol cemas. Dia membenturkan ponselnnya ke meja beberapa kali. Joonmyeon tak lagi memeberinya kabar sejak pergi menemui presdir wu tadi pagi sebelum makan siang. Ini pukul 5, 1 jam setelah jam kantor berakhir dan joonmyeon belum kembali. Tak biasanya.
DRRTTT
Ponsel chanyeol bergetar menandakan sebuah pesan masuk. Dari jongdae.
From: jongdae
Chan, sehun masuk rumah sakit dan sekarang noonaku juga berada di sana.
DEG
Sehun masuk rumah sakit lagi? Chanyeol lantas mengambil jasnya dan segera berlari keluar ruangan menuju mobilnya yang terparkir. Bagaimana dia baru bisa tahu sekarang? Kenapa noonanya tak mengatakan apapun?
Di dalam perjalanan chanyeol menggila. Ketika jalanan cukup lancar dia memacu mobilnya kencang, ada kesempatan menyalip dia menyalip. Memegang setirnya keras dan kebiasaannya ketika panic menggigiti ibu jari tangannya. Hingga sampai dia ke rumah sakit. Resepsionist mengatakan kamar nomor 94.
Chanyeol baru saja memegang kenop pintu saat matanya menangkap sosok noonanya tak sendiri. Melainkan sedang dipeluk orang lain. Dilihat dari posturnya itu.. chanyeol tahu, presdir wu. Kris Wu, presdir wu corp yang juga merupakan suami temannya. Sejak awal, chanyeol sudah mencium kedekatan kris dengan keluarga joonmyeon dan mencoba menerka apa hubungan mereka sebenarnya. Dia mendengar joonmyeon menyebutkan nama kris saat dia tak sengaja lewat di depat ruangan joonmyeon saat joonmyeon menerima begitu banyak kado ulangtahun. Itu pasti kerjaan kris kan? Lalu foto mereka berdua di sebuah restoran cina yang didapatnya dari orang suruhan chanyeol untuk membuntuti mereka berdua. Termasuk keributan di kafetaria saat joonmyeon dibawa pergi oleh presdir wu. Apa mereka mantan kekasih? Tapi kenapa kris sangat ingin mendekati joonmyeon ketika dia telah memiliki Jessica? Pemikiran itu, membuat chanyeol sulit tidur akhir akhir ini.
Dan langkah kakinya membawanya menuju kursi di bagian tempat menunggu rumah sakit. Tepat didepan meja resepsionist yang tapi disambanginya. Chanyeol hanya diam, menatap kosong pada suasana di sekelilingnya. Matanya berubah gelap. Tak secerah biasanya. Hingga jongdae lewat dan mengenali sosok chanyeol. Namja itu menepuk bahu chanyeol dan tersenyum. Mengajak chanyeol ke cafeteria rumah sakit. Memesan 2 buah Americano dan hanya berdiam diri.
"ku pikir kau sudah ke ruangan sehun" ucap jongdae akhirnya. Chanyeol kembali dari lamunannya dan menatap jongdae sendu. "apa kau melihatnya?" Tanya jongdae lagi. Chanyeol mengerutkan dahinya tak mengerti maksud jongdae.
"mwo?"
"aku tahu, kau pasti sudah melihatnya kan? Noonaku, dan kris hyung" ucap jongdae pelan kemudian menyesap americanonya pelan. Chanyeol meringis. Yah, dia melihatnya dengan sangat jelas. Di detik saat matanya menangkap bayang tubuh joonmyeon yang tengah dipeluk erat kris, di detik itu juga ia mendengar kepingan hatinya jatuh ke dasar abdomennya.
"ku pikir.. hubungan kularga mu dengan kris.. sangat dekat" ucap chanyeol berusaha memancing jongdae untuk mengatakan apa yang sangat ingin dia ketahui. Jongdae tersenyum samar.
"memang.. dekat sekali" ucap jongdae.
"sedekat apa?" Tanya chanyeol. Saat ini chanyeol tengah menyiapkan dirinya untuk mendengar apa yang akan jongdae katakan.
"sedekat.. hubungan.. ayah dan anak"
DEG
"ayah dan anak?"
Jongdae berdehan sebelum kembali bersuara.
"kris hyung adalah ayahnya sehun"
DEG
DEG
Bisakah chanyeol mati karena terkena serangan jantung setelah mendengar pernyataan gila itu?
"kau bercanda"
Jongdae tertawa pelan.
"kau harus menerimanya chanyeol, sehun memang anak noonaku dengan kris hyung, kau tidak berpikir noonaku bunga cantik yang sempurna kan?" ucap jongdae.
"maksudmu?"
"apa kau tahu bagaimana sehun bisa lahir? Sehun adalah sebuah kecelakaan.. noonaku yang begitu sempurna itu pernah melakukan kesalahan fatal. Dia memberikan bagian terpentingnya untuk kris hyung, pria yang begitu dicintainya. Hingga, semua mimpinya hancur berantakan, noonaku hanya beruntung, plan B dari tuhan cukup baik untuk membuatnya tetap hidup"
Chanyeol tak dapat berkata apa apa.
"tapi noonaku dicampakkan, ah terlalu kasar, noonaku hanya ditinggalkan saat dia hancur, berulang kali mencoba bunuh diri, bisa kau bayangkan betapa hancur dan kacaunya dia saat itu? dia yang selalu terlihat cerah saat ini, pernah begitu kelam. Sulit untuk membangkitkannya, dan aku tak mau melihat noonaku kembali harus tenggelam seperti itu"
"jadi menurutmu.."
"aku hanya tak ingin kau meninggalkannya setelah kau ku beri tahu kecacatannya"
"kenapa berpikir begitu?"
"karna kau sudah tahu, bunga itu cacat, bukankah kau akan mencari bunga sempurna lainnya?"
"tidak.. banyak bunga sempurna, tapi noonamu hanya satu di dunia, aku hanya menginginkan dia tak peduli kau mengatakan dia cacat, aku hanya menginginkan dia, bagiku, dia satu satunya bunga cantik yang sempurna, she's not perfect but she's more than enough.. aku tak akan mencampakkannya kecuali jika dia yang mencampakkanku.."
.
.
Chanyeol tak bisa menahan dirinya untuk tidak ke bar malam itu. setelah mendengar semua perkataan jongdae yang membuatnya tertekan. Apa yang ditakutkannya selama ini benar adanya.
"hey, kau baru disini?" seorang gadis berambut hitam panjang menghampirinya. Gaunnya sangat minim dan memperlihatkan setiap lekuk tubuh indahnya. Chanyeol sendiri sedikit kagum melihat tubuh menggiurkan gadis itu.
"ya" ucapnya singkat.
"mau ditemani?" Tanya dengan nada manja dan seduktif. Chanyeol menggelengkan kepalanya yang terasa sedikit berat berkat beberapa gelas alcohol yang dimunumnya.
"aku memiliki kekasih maaf" ucap chanyeol. Dia pun bangkit dari kursinya dan hendak keluar. Namun gadis itu mencegatnya dengan menarik tangan chanyeol.
"bermainlah sebentar"ucap gadis itu. menarikan jemarinya pada bahu chanyeol.
Apa dulu noona juga melakukan hal ini dengan kris?
Gadis itu menyeringai tipis saat mendapati wajah chanyeol yang mengerut bingung. Mungkin dipikirannya chanyeol sudah mulai terpengaruh.
Kenapa kau berpemikiran buruk tentang joonmyeon noona park chanyeol? Dia kekasihmu, kekasih macam apa yang tak mempercayai kekasihnya sendiri?
Chanyeol tersentak. Pemikirannya benar. Chanyeol segera menghempaskan tangan yeoja nakal itu dan pergi berlari menuju mobilnya. Menuju rumah sakit dimana sehun dirawat. Sesampainya dia di sana dia segera berlari menuju kamar rawat sehun. Membuka kenopnya dan mandapati joonmyeon masih setia disamping sehun dengan menggenggam erat jemari anak laki laki itu.
"noona.."lirih chanyeol pelan. Joonmyeon menoleh slow motion. Untuk sedetik joonmyeon menatap chanyeol dengan mata sembabnya. Chanyeol tak bisa menahan langkahnya untuk menghampiri joonmyeon. chanyeol memeluk joonmyeon erat.
"mianhae noona, aku sempat meragukanmu" ucap chanyeol. Joonmyeon mengerutkan dahinya tak mengerti.
"apa maksudmu?" Tanya joonmyeon.
"aku tahu semaunya, tentang kau dan sehun, dan sehun dengan presdir wu.." ucap chanyeol pelan. Joonmyeon menggigit bibir bawahnya, ia gelisah. Chanyeol adalah orang yang paling dia inginkan unutk tidak mengetahui masa lalunya dengan kris. Kenapa justru dia tahu?
"kau tahu?" ucap joonmyeon menarik dirinya dari pelukan chanyeol. Menatap chanyeol dalam kebingungan yang jelas terlihat. Matanya menatap chanyeol takut takut.
"waeyo noona?" Tanya chanyeol bingung. Joonmyeon kembali menjatuhkan air matanya.
"aku bersumpah chanyeol, aku tak bermaksud mebohongimu ataupun menipumu"racau joonmyeon panic. Chanyeol mengerutkan dahinya. "aku juga kaget saat melihat kris, aku.. ingin mengatakannya sejak awal.. aku.."
GREP
Chanyeol menggenggam tangan joonmyeon yang bergetar.
"apa yang kau katakan?"chanyeol mengguncang pelan tangan joonmyeon yang sudah sangat bergetar sejak tadi. Sejak ia datang. Joonmyeon yang saat ini benar benar joonmyeon yang terlemah yang pernah dilihatnya.
KLEK
Jongdae memunculkan kepalanya dari balik pintu.
"noona wae?"Tanya jongdae pada chanyeol namun pria tinggi itu menggeleng tak tau.
"chan, bisa antar noonaku pulang? Dia butuh istirahat sejak siang tak berhenti menangis, biar sehun aku yang jaga"ucap jongdae santai.
"andwae!"joonmyeon memekik. Jongdae menatapnya lelah.
"wae? Waeyo?" Tanya jongdae tak sabaran.
"bagaimana bisa kau menyuruhku pergi saat anak ku sekarat?! Jongdae –ya kau yang melarangku membunuhnya tapi kau juga yang menyuruhku meninggalkannya saat dia sekarat!"
DEG
Chanyeol terkesiap saat joonmyeon mengatakan 'membunuhnya', membunuh sehun? Joonmyeon pernah mencoba membunuh sehun?
Jongdae melembutkan pandangannya dan menatap noonanya sendu.
"aku pikir saat sehun bangun nanti, dia akan sedih melihat mommy nya berantakan kelelahan dan terlihat seperti mayat hidup karena terus menangisinya. Pulanglah noona, istirahat yang cukup. Aku akan menjaga pelitamu sampai kau datang esok pagi" jongdae merapikan surai joonmyeon yang agak berantakan. Jongdae tahu, noonanya terguncang cukup parah. Dia terlalu histeris seperti ini. Dan jongdae tak suka melihatnya. Noonanya butuh istirahat sejenak.
"chan, gomawo" ucap jongdae saat chanyeol hendak pergi setelah menuntun joonmyeon.
"cheonmaneyo"
.
.
Kris sampai di rumahnya yang gelap gulita. Sepertinya Jessica sudah tertidur atau mungkin kembali ke aktifitas dunia malamnya. Namun ternyata pemikiran kris salah, Jessica sudah tidur di kamar mereka. Sejenak kris menatap wajah yeoja itu. pucat dan sembab. Apa Jessica habis menangis seharian? Kris menaruh jasnya di tepi ranjang lalu segera bergegas ke kamar mandi. Rasanya sudah begitu lama ia tak membasuh tubuhnya yang terasa lengket setelah beraktifitas seharian. 20 menit kris habiskan untuk membasuh dirinya kini giliran dia untuk berganti pakaian. Namun ia sedikit terkejut saat melihat Jessica sudah duduk di pinggiran ranjang dengan tatapan sendu. Tangannya memegang jas yang kris gunakan tadi dan secarik kertas.
"jess aku membuatmu bangun ya?"Tanya kris. Jessica beralih menatapnya. Ia terlihat begitu sedih.
"ada apa jess?" Tanya kris bingung. Jessica hanya diam, tapi tangannya terulur memberikan secarik kertas yang dipegangnnya sedari tadi. Kris gelisah ingin tahu isi surat itu.
Hasil Tes DNA
DEG
Apa Jessica membacanya?
"kau mengambil ini dari jasku?!" ucap kris dengan nada tinggi, berusaha menutupi kegugupannya sendiri. Jessica menggeleng pelan.
"itu terjatuh saat aku mencoba merapikan jasmu"ucap Jessica pelan dengan suara yang begitu lirih dan serak. Dan di detik berikutnya rasa bersalah menyelimuti diri kris, kenyataannya setelah mengatakan itu Jessica hanya diam dan bahunya bergetar. Isakan kecil itu terdengar dan sekan mengatakan segalanya. Semua yang harusnya terucap.
"Jessica.. aku.."
"kim sehun.. dia putramu? Kenapa? Kenapa kau melakukan ini kris? Kenapa kau tega?" ucap Jessica ditengah isakannya. Kris mengusap wajahnya frustasi.
"Jessica dengar aku! Pertama, aku tidak berselingkuh dan kedua aku saja baru tahu kalau ternyata sehun anakku, mengerti? Jangan tuduhkan hal yang macam macam!" ucap kris mengerti kemana arah pembicaraan Jessica akan berlanjut.
"tidak selingkuh? Lalu kau sebut ini apa?!" Jessica memekik marah. Mungkin juga kecewa dan sakit. Kris tersulut emosinya saat mendengar Jessica memekik ke arahnya. Dia begitu ingin menampar yeoja itu tapi diurungkannya karena kris tak pernah menyakiti wanita secara fisik.
"justru, aku mencampakkannya karena aku memilihmu! Aku justru berselingkuh denganmu! Kau orang ketiga dalam cerita ini jess! Aku bukan seperti yang kau pikirkan!"kris berkata dengan nada tajamnya dan hendak melenggang keluar kamar. Jessica masih dengan kemarahannya mengikuti langkah kris.
"kenapa kau melakukan ini?! Kenapa kau memberi tahu semua ini padaku secara tiba tiba?! Kau menghancurkan segalanya, kris wu kau sialan!" pekik Jessica marah namun kris tak mempedulikannya.
Harus dia akui. Kris mengakui dirinya memang sialan. Karena sejak awal kris mengetahui semuanya. Perasaan tao untuk Jessica, juga rasa suka Jessica pada tao. Hanya karena sebuah perusahaan dan keinginannya itu menjadi boomerang sendiri untuknya.
Sementara kris sudah menghilang dibalik pintu nya Jessica jatuh terduduk dan kembali menangis. Andai saja, dulu dia mendengarkan kata hatinya dan berani untuk membatalkan pertunangannya dengan kris yang sudah sangat nyata tak menyukainya. Mungkin sekarang dia bisa berbahagia dengan joonmyeon juga sehun, bisakah?
.
.
Ada banyak hal di dunia ini yang tak bisa dimengerti. Perasaan benci dan cinta yang hidup berdampingan dengan dinding tipis sebagai pemisahnya. Hal itu dirasakan oleh joonmyeon. ditengah perjalanannya menuju rumah, dengan chanyeol di sampingnya yang masih fokus menyetir walau sesekali matanya melirik kearah tempat joonmyeon duduk di sampingnya. Mereka hanya diam di sepanjang perjalanan. Bahkan sampai kaki mereka masuk ke rumah. Joonmyeon segera mandi sementara chanyeol duduk di ruang tv dengan tv menyala menayangkan berita malam. Saat joonmyeon keluar wanita itu memberikan chanyeol handuk.
"mandilah, kau bisa pakai baju jongdae" ucap joonmyeon pelan. Dan kini gentian gadis itu yang duduk.
Hanya butuh 10 menit sampai chanyeol keluar dari kamar mandi. Dia menatap joonmyeon di sofa yang tadinya ia duduki. Yeoja itu hanya memandang kosong ke layar televise.
"kau harus tidur"ucap chanyeol. Masih menatap layar televise itu joonmyeon berucap.
"aku tak ingin tidur, kalau aku tidur kau akan pergi"ucap joonmyeon pelan. Matanya tetap menatap kosong layar televise yang menyilaukan itu. ucapan joonmyeon barusan menyulut segaris senyuman di wajah chanyeol. namja itu akhirnya duduk di samping joonmyeon dan yeoja itu menyandarkan kepalanya di lengan chanyeol. dan reflek jemari chanyeol menyapu lembut surai joonmyeon yang masih setengah basah.
"sekarang, pikiranku melayang kemana mana, bagaimana dengan sehun? Apakah dia masih bernafas dengan baik? Apakah aku bisa melihatnya lagi besok? Apakah dia akan kembali? Aku merasa begitu kesepian dan sakit di saat yang bersamaan, aku tak pernah merasa sekacau ini sampai aku tak tau apa yang harus ku lakukan selain menangis seperti orang gila.." ucap joonmyeon dengan air mata yang kembali mengalir tapi matanya masih menatap kosong ke layar televise. Chanyeol hanya diam mendengarkannya.
"sehun sangat ingin bertemu ayahnya, aku terlalu egois .. aku terlalu menjaga perasaanku sendiri dan mengabaikan pelitaku, bagaimana jika sehun tak lagi bernafas? Bagaimana jika sehun tak bisa ku lihat besok? Bagaimana jika sehun tak kembali? Aku mungkin akan mati bersama penyesalanku, aku sudah berlaku kejam dan aku tak pantas melakukan itu, aku tahu ayahnya sehun menyakitiku, tapi aku seharusnya tak menjadikan itu sebagai alasan untuk menyakiti sehun, aku sadar sehun butuh tahu tentang ayahnya, yakan chan?"
Entah mengapa, chanyeol mencelos mendengar curhatan joonmyeon. dalam hati, chanyeol berteriak dan meminta kepada tuhan, dia ingin jadi pria itu. dia ingin jadi kris wu. Dia ingin menjadi ayah sehun yang sebenarnya tapi sayangnya tak bisa. Andai saja chanyeol bisa bertemu dengan joonmyeon lebih dulu ketimbang kris. Mungkin sekarang keadaannya tak semenyakitkan ini.
Hati kecilku berkata, kalau kau akan segera mencampakkanku, apa yang akan ku lakukan jika kau melakukan itu noona?
Chanyeol mengelus kepala joonmyeon lembut sampai yeoja itu tertidur. Tak ada pilihan lain bagi chanyeol selain memindahkan joonmyeon kekamarnya. Chanyeol membaringkan yeoja itu di ranjangnya, menyelimutinya dan memandang wajah manis itu lekat dengan desahan pelan. Menahan kekecewaannya.
"aku ingin menghabiskan waktuku, memilikimu seutuhnya di waktu yang kau berikan untukku noona, sebelum akhirnya kau mencampakkanku.."
KLEK
Chanyeol menutup pintu kamar itu dan akhirnya memutuskan untuk tidur di sofa. Malam itu chanyeol tak sepenuhnya tidur karena, pikirannya melayang membayangkan kapan waktu itu datang. Apakah nantinya chanyeol siap dicampakkan?
.
.
Pagi hari, chanyeol mengantar joonmyeon ke rumah sakit sementara dia segera bergegas ke apartemennya kemudian pergi bekerja seperti biasa. Banyak hal yang dilewatkannya dan harus diselesaikannya. Seperti beberapa meeting yang harus dilakukan, beruntung ada baekhyun yang setia mengingatkannya.
"sajangnim, pagi ini ada meeting pukul 10 bersama dewan direksi lalu saat jam makan siang anda ada janji lunch meeting dengan predir lee"
"lalu?"
"setelah itu tidak ada sajangnim"
"oh begitu, terima kasih"
"sama sama, semoga harimu berjalan lancar sajangnim"
Ucapan baekhyun terakhir menghentikan langkah chanyeol yang tergesa. Ia menatap gadis yang tertinggal beberapa langkah di belakangnya. Gadis itu berdiri dengan senyuman manis nya seperti biasa. Hal yang selalu mengingatkan chanyeol dengan penyesalan dan betapa kejam dirinya.
"ada yang bisa saya bantu mungkin sajangnim?" Tanya baekhyun. Chanyeol menghela nafas pelan.
"terima kasih atas semuanya baek, kau yang terbaik" ucap chanyeol pelan kemudian kembali melanjutkan langkahnya menuju ruangan rapat. Baekhyun tak dapat menahan semua merah di pipinya, ia tersenyum lembut pada punggung chanyeol yang semakin menghilang.
Kau buatku selalu berharap padamu sajangnim.
.
.
Bagitu sampai di kamar perawatan sehun, joonmyeon membuka semua tirai dan sinar matahari pun dengan cepat menerobos masuk sehingga ruangan dingin itu terasa lebih hangat dan terang. Joonmyeon juga mengganti bunga yang ada di meja nakas samping tempat tidur sehun. Dia kemudian mengambil air di sebuah mangkuk yang cukup besar juga sebuah handuk kecil. Dia mencelupkan handuk itu kemudian memerasnya. Dan dengan telaten joonmyeon membasuh tangan sehun yang dingin itu dengan handuk basah.
"kau harus cepat bangun sayang" gumamnya pelan di tengah tengah acara memandikan sehun pagi ini. Yeoja itu tersenyum lembut menatap wajah sehun yang memucat. Mengelapnya lembut penuh kasih sayang.
"kau tahu, jika kau bangun mommy janji akan tunjukkan siapa daddy sehun, orang baik yang memberikan sehun untuk mommy" ucap joonmyeon bermonolog ria.
"mommy akan ceritakan bagaimana daddy sehun itu, ini pengganti karena mommy tak bacakan cerita penghantar tidur untuk sehun semalam.."
"daddy sehun namanya Wu Yifan, tapi dia lebih suka dipanggil Kris katanya itu terdengar keren. Dia es yang paling hangat yang pernah mommy temui. Dia tampan dan mempesona, senyumannya terkesan mengejek dan tatapan tajamnya seakan mengintimidasi, tapi sehun tak perlu takut, daddy seorang yang penyayang... apa mommy terdengar berlebihan?" joonmyeon tak lagi dapat membendung telaga bening yang tertahan di kedua mata sendunya.
"mommy mencintainya melebihi mommy mencintai diri mommy apa kau tahu kenapa? Karena daddy pernah bilang, dia mencintai mommy sepenuhnya, satu hal yang tak mungkin bisa mommy lakukan, mencintai diri mommy sendiri seperti dia mencintai mommy. Tapi sehun tak perlu cemburu, mommy jauh lebih mencintai sehun, sehun adalah hidup mommy.."
Joonmyeon merasa seperti orang gila. Sehun juga tak meresponnya, ia menangis menceritakan rahasia yang sangat ingin sehun ketahui tanpa sadar ada orang lain yang mengamatinya dari balik pintu geser itu.
"sehun juga menanyakan apa alasan daddy selalu tidak hadir.. daddy yang sempurna itu memilih pergi, dia tak pernah janji untuk kembali dan mommy tahu itu. maafkan mommy yang terlalu egois sehun, mommy sakit hati karena daddy meninggalkan kita, mommy sakit hati karena dia berani membuatmu merasa berbeda, membuatmu tumbuh tanpa sosok daddy, membuatmu harus menahan rindu juga begitu banyak pertanyaan tentangnya, tapi sekarang mommy sadar, mommy juga salah karena membiarkanmu merasa berbeda sendirian.. apa sehun mendengar? Apa sehun memaafkan mommy sekarang? Apa sehun puas dengan semua cerita mommy?" joonmyeon menggenggap sebelah tangan sehun dan menangis di sana.
"sehuna, ku mohon kembali sadarlah.."
Pria berambut dirty blonde itu memilih pergi setelah mendengar semua curhatan menyakitkan keluar dari bibir peach joonmyeon. berjalan lunglai di sepanjang koridor rumah sakit.
Aku, ternyata aku sekejam itu.
"hyung?" suara jongdae menyapa telinga kris dan membuat pria itu menengadahkan wajahnya dan menatap jongdae.
"ada apa?"Tanya kris pelan.
"dokter yang menangani sehun ingin bicara, kebetulan aku bertemu denganmu, kau bisa ke ruangannya di ujung koridor ini, nanti setelah itu kau bisa menceritakannya kepada joonmyeon noona, bisakah? Aku ada sesuatu yang harus ku kerjakan di UGD.." ucap jongdae menepuk pelan bahu kris kemudian segera berjalan meninggalkannya. Kris pun segera menepis rasa penyesalan dan bersalahnya, melangkah pasti menuju ruangan diujung lorong yang ditapakinya. Menyiapkan hatinya mendengar kabar apa yang akan disampaikan dokter mengenai anak terkasihnya.
Dan seiring langkahnya yang memelan, batin kris menerka nerka. Dalam kegelisahan itu, kris melangkah.
TBC
Chap 11 nih~~~
Huaaaaa aku telat update T. T mianhae chingu~~ aku sibuk banget ngurusin irs kemarenan ini bermasalah T.T mian yaa =(( maapin juga ini masih banyak typo ga elit yaa maap~~
Biggest thanks for my reader~~ chingu~~ saranghae~~ aku LittleMyeon gbrlaxy EXOTICARMYsasha deerLu200490 fishyunicorn k123 luhan8045 R053Wood HamsterXiumin AmbarAmbarwaty RilahZhapitri deerbaozi park suchy salsabilajum Blingblingdino 4Season LynKim Sita12keynes Mr. Jongin albino jimae407203 KyuraCho BLUEFIRE0805 PikaaChuu kmldr100 ppyongmelizwufan SyiSehun chans boobearSarang SeenaPark DiraLeeXiOh sehun chagiya Choi Seong Yeon Kim XiuXiu Hunnie leeyeol zoldyk Guest xing mae30 Kim Hyunsoo .37 KrisHo WonKyu ShinHaein61 bellasung21 Park FaRo HyLau Lin pinkcaramel lisnana1 Prince Changsa DeerIAM evirahmadani9 Emmasuho honeykkamjong ruixi j12 akiko ichie fallforhaehyuk makasii banget kalian masih setia baca dan nungguin tulisan absurdku ini juga ripiuu kalian yang bikin semangat banget~~ aaakk cinta kalian banget banget deh =*
Untuk next chap gabisa janji cepet nih udah mulai kuliah lagi minggu besokk ah-_- semangat yaa kawan kawan semuanya~~ ! see you next chap!
*pyyong bareng tao-ge*
