Bleach sampai kiamat tetep puNya TITE KUBO.

Dhiya : Hallo semuanya (Muncul dari kolong tempat tidur)

Ichigo: Woii, kemana aja lo tor. Kok udah hampir setengah abad lo kaga muncul-muncul. Gue pikir Lo udah is dead kena gempa di aceh sono !

Ichigo di deathglare Author samapi terpingsan-pingsan (Hahahah, Lebay banget sampe pingsan)

Rukia : Napa si Ichigo sampe pingsan kayak gitu. Lo apa'in dia tor ?

Dhiya : Tar tor tar tor, Panggil gue Dhiya chan. Author paling manis seindonesia !

ALL muntah darah abis denger dHiya ngomong.

Ulquiorra : Cepetan donk Fic nya udah ditungguin tuh (Masang muka serem)

Dhiya : Heheh, i..iya Ul. Nich mo di publish bentar (Keringat dingin).

Gin : Dhiya ada Review nich dari Ray, dibales ga ? (Teriak pake Toa)

Dhiya : Dibales donk (Angel smile) *Huekk

Gin : Tuh kan si Ray bilang gue OCC di Fic ini. Nangis mulu sich adegan nya (Cemberut kayak ikan buntal)

Rukia : Iya tuch, gue aja dibilang ampe bunuh diri gara-gara lo tor. Ray-kun, tega banget kamu bilang aku mo bunuh diri, seberat apapun cobaan hidup gue, gue ga bakal bunuh diri dech (Nangis guling-guling)

Dhiya : Namanya juga bersalah sama sahabat sendiri, pasti lah pake acara nangis Gin chan untuk pendukung suasananya kalu lo bener-bener ngerasa bersalah, trus Untuk Rukia, gila Hebat banget akting lo sampe-sampe Ray nyangka Lo bunuh diri. aJib kan ? (Author di timpuk rukia pake pohon sakura belakang rumah Byakuya)

Byakuya : Trus Ray nanya Gin bakal ngelepasin Rukia ga ?

Dhiya: Ohh itu Rahasia (Pasang muka sule)

Grimmjow : Dasar, abang ama adek sama aje. Ya udalah, dari pada readers liet omongan yang ga bermutu dari mereka semua. Mending baca aja dech Ch 11 ini. Ditunggu Review nya ya !

ALL : Ape Lo bilang ! (Ngejer Grimmjow pake sapu lidi)

.

.


Chapter 11

"Rukia !" teriak seorang gadis dari tempat itu.

Mobil truk itu melintas melaju dengan kecepatan tinggi menerobos jalan yang dipijaki oleh gadis mungil itu.

"Ichigo, Rukia kalian tidak apa-apa" teriak Renji menghampiri Ichigo yang tengah terbaring memeluk Rukia di sisi jalan. Rukia yang sedang terpejam, kembali membuka matanya saat tubuh kekar yang memeluknya tadi melepaskan dekapannya.

"APA KAU SUDAH BOSAN HIDUP HAH ! Kenapa bertindak sebodoh itu, kau sudah tidak sayang pada nyawamu lagi ya bodoh !" sembur Ichigo pada gadis yang ada dihadapannya. Gadis itu hanya terdiam, pandangan matanya tampak kosong.

"Rukia-chan apa kau tidak apa-apa ?" tanya Inoue khawatir pada Rukia yang terus terdiam. Melihat Rukia yang terus terdiam tanpa suara membuat Ichigo berang. Dicengkramnya kedua lengan Rukia dengan kuat hingga gadis mungil itu terguncang.

"Kenapa denganmu Rukia ! Apa yang terjadi denganmu sebenarnya ! Kenapa kau bersikap seperti orang asing saja ! Jawab aku Rukia !" teriak Ichigo histeris tanpa memperdulikan orang-orang yang menatapnya.

"O-Oii Ichigo apa yang kau lakukan. Rukia sedang terluka kenapa kau seperti itu" kata Renji khawatir dengan luka disiku tangan kanan Rukia yang terus mengeluarkan darah.

"Jawab aku Rukia !" teriak Ichigo melengking.

Rukia tetap membisu, ia seperti tidak mendengar apa yang dikatakan Ichigo. Bukannya Rukia tidak bisa mendengar, tetapi tidak mampu lagi mendengar apapun yang terlontar dari mulut semua orang. Baginya semua sangat hampa.

"KEMBALIKAN RUKIA YANG DULU !" teriak Ichigo lagi.

Rukia tersentak mendengar perkataan Ichigo, matanya terbelalak lebar. Seperti nya kata-kata Ichigo mampu membuat ia sadar lagi dengan dunia yang ia pijaki sekarang.

"Aku tidak tahu siapa kau. Yang jelas kembalikan Rukia kami yang dulu !, kembalikan Rukia yang selalu tersenyum pada kami, Rukia yang ceria, Rukia yang selalu memukul kepala ku, Rukia yang selalu marah jika tiap kali ku ejek dia pendek, Rukia yang selalu semangat, dan Rukia yang selalu tabah dalam menghadapi apapun ! Kumohon kembalikan dia !" teriak Ichigo lagi dengan suara yang bergetar.

Air mata Rukia lagsung mengalir dengan bebas saat mendengar penuturan Ichigo."M-Maaf a-aku tidak tahu dimana R-Rukia yang itu..." lirih Rukia dengan suara bergetar. "A-aku tidak tahu...M-aaf" isak Rukia mulai muncul.

Ichigo terpaku, matanya terbelalak lebar. Ia tidak tahu harus berbuat apa saat melihat Rukia yang tersedu-sedu mencoba mencari dimana Rukia yang sebenarnya. Ia seperti kehilangan arah.

"Akan ku bawa dia ke UKS" ucap seorang pemuda berambut gelap merangkul Rukia dan mengendongnya.

Ichigo terdiam, kemudian ia bangkit dan berjalan menuju kelas.

"Ichigo-kun" panggil Inoue sambil menatap Ichigo yang mulai menjauh, tampak dari wajah nya terlihat bimbang ingin bersama Rukia, atau menyusul kekasih nya yang sedang gundah itu.

"Sebaiknya kalian kekelas saja, Rukia biar aku yang tangani" kata pemuda itu lagi.

"Terima kasih Hisanagi senpai" ucap Inoue dan Renji serempak.

.

.

"Sakit tidak Rukia ?" tanya Shuhei saat dokter Mayuri mulai membersihkan luka Rukia. Rukia masih tetap bungkam.

"Sebaiknya aku tinggal saja kalian berdua disini" kata Dokter Mayuri hendak beranjak dari ruang UKS.

"Sensei, bagaimana lukanya ?" tanya Shuhei dengan wajah dinginnya, walapun wajahnya tidak menggambarkan ekpresi apappun, tapi hatinya tidak bisa menghilangkan kegundahan yang melanda dirinya.

"Lukanya tidak apa-apa, tapi yang lebih penting sekarang adalah hati gadis itu. Ia lebih membutuhkan perawatan ektra untuk yang satu itu" gumam Dokter berdandan aneh itu sambil menutup pintu UKS.

"Kau tidak apa-apa ?" tanya Shuhei lagi.

"Aku tidak tahu..."

"Ehh ?"

"Aku tidak tahu dimana d-dia..."

"Rukia apa maksudmu ?" tanya Shuhei meminta kejelasan dari perkataan Rukia.

"A-aku tidak tahu Shuhei-san... Aku tidak tahu dimana dia berada Shuhei-san, a-aku tidak tahu dimana diriku yang sebenarnya. Ak-aku tidak tahu Shuhei-san..." rintih Rukia sambil menarik rambutnya.

"Rukia, kumohon tenangkan dirimu" ucap Shuhei lembut memegang kedua tangan Rukia yang mengengam rambutnya dengan frustasi dan memeluknya.

"Ak-aku tidak tahu..." kata Rukia dengan isak tangis yang kembali keluar.

"Husss,, tenang lah Rukia, sudah jangan dipikirkan lagi. Semua akan baik-baik saja. Percaya lah padaku. Aku janji semua ini akan hilang dengan sendirinya. Jadi jangan terlalu memaksakan dirimu..." kata Shuhei pelan mengeratkan pelukannya pada gadis rapuh dihadapannya ini.

.

.

"Ohayu anak-anak" sapa seorang pria memasuki kelas 1-3.

"Ohayu sens..sei" ucap semua murid yang kaget dengan sosok didepan mereka.

"Lama ya tidak jumpa, maaf aku beberapa hari ini tidak bisa hadir dikelas kalian" kata pria itu dengan seringai nya yang lebar.

"Kyaaa ! Ichimaru sensei !" teriak murid perempuan.

"Hehehe, seperti nya kalian sangat rindu sekali ya padaku" kata Gin sambil membuka buku yang dibawanya.

"Sensei kemana saja sich, kami tidak tahan tau dengan Urahara sensei yang mengajar tidak jelas di kelas kami. Bukannya kami makin pintar, malah bertambah bodoh kalau terus bersama guru aneh itu" celetuk Renji dari arah bangkunya.

"Hahaha, aku senang sekali mendengarnya. Maaf-maaf semuanya, baiklah bagaimana kalau kita mulai sa-..."

"Maaf menggangu waktu mengajar anda, saya mau mengantarkan Rukia ke tempat duduknya" ucap seorang pemuda didepan pintu masuk kelas 1-3.

Gin terdiam, kaget melihat Shuhei yang merangkul Rukia yang sedang tertunduk lemas menatap lantai yang tempat ia berdiri. Hatinya terasa membara, rahangnya mengatup keras saat melihat tangan Shuhei yang mendekap erat Rukia.

"Tidak apa-apa. Silahkan masuk Hisanagi-kun, saya juga baru memulai pelajaran" kata Gin mempersilahkan Shuhei masuk sambil mengepalkan tangan kanannya. Shuhei pun mulai berjalan menuju bangku yang diduduki Rukia. Kemudian dia berjalan keluar dari kelas 1-3.

"B-Baiklah, kita mulai saja pelajarannya. Ahh, Hinamori-san" panggil Gin pada gadis capul dibelakang rambutnya.

"Iya sensei" jawab Momo.

"Mulai sekarang, kau menjadi perangkat kelas bersama Kurosaki-kun mengantikan Ukitake-san" kata Gin.

Kontan seluruh murid terbelalak kaget mendengarnya, termaksud Rukia yang diam membeku ditempat.

"T-tapi k-kenapa sensei mendadak begini" ucap Momo gugup.

"Ukitake-san yang memintanya. Apa kau bersedia Hinamori-san. Kalau tidak mau bisa saya gantikan dengan yang lainnya" kata Gin mengalihkan pandanganya kearah murid nya yang lainnya.

"B-Baiklah sensei" kata Momo menyanggupi. Ia pun mengedarakan kembali pandanganya kearah Rukia yang tertunduk menatap meja di hadapannya.

"Nanti jam istirahat, kau dan Kurosaki-kun keruangan ku ya. Oke, kita lanjutkan pelajaran kita. Sampai dimana Urahara mengajar kalian kemarin"

.

.

"Hinamori-san..." panggil Aizen pada Momo yang sedang berjalan menuju keruang wakil kepala sekolah.

"Aizen sens-sei" guman Momo pelan. Ia merasa tidak enak dengan Aizen saat kejadian Momo mengungkapkan perasaannya.

"Bi-bisa kita bicara" kata Aizen gagap.

"Ma-maaf sensei bu-bukanya saya tidak mau tapi saya sedang buru-buru, Ichimaru menyuruh saya untuk keruangannya sekarang" balas Momo tak kalah gugup.

"Ahh, ini tentang yang k-kemarin Hinamori-san..."

"Ehh ?" ucap Momo kaget dengan peluh yang bercucuran.

"Ak-aku sangat menyukai mu Hinamori-san.." lirih Aizen pelan.

"Ahh !" Momo membekap mulutnya tak percaya.

"Mungkin kau pikir aku sangat aneh ya kan. Menyukai muridku sendiri. Tapi semakin bersamamu a..aku semakin nyaman saja. Tak pernah kurasakan perasaan ini sebelum nya selain pada tunanganku sendiri, tapi entah kenapa didekatmu terasa berbeda.."

"..."

"Sayang sekali Hinamori-san, a-aku tidak bisa membalas apa yang kurasakan saat ini padamu. Ak-aku sudah bersama seseorang sekarang. Maaf, aku bukannya bermaksud menyakitimu atau apapun, hanya saja aku harus mengungkapkan perasaan yang sama kau alami dengannku. A-ak..."

"Aizen sensei..."

"Ehh !"

"Saya sudah tahu apa yang Aizen sensei ingin katakan. Saya sangat senang sekali Aizen sensei memiliki perasaan yang sama dengan saya. Sangat senang... Tapi takdir sepertinya berkata lain pada kita, walaupun kita sama-sama menyukai, kita tidak bisa bersama. Dari awal memang tidak bisa bersama..." gumamnya pelan.

"..."

"Maka dari itu saya mengatakan perasaan saya agar saya tidak lagi menjadi beban dihati saya. Saya tahu anda sudah mempunyai pendamping hidup. Biarlah kisah kita menjadi bumbu yang melengkapi kehidupan kita dalam menjalani hidup. Anda punya seseorang yang telah tuhan siapkan, dan saya juga. Kita tidak mungkin menyakiti mereka hanya karna keegoisan saja. Oleh karena itu ayo kita sama-sama berbahagia bersama orang yang kita cintai" ucap Momo tersenyum lebar.

"Hehehe, Hinamori-san. Itu lah yang kusuka darimu, kau ini.." kata Aizen sambil tertawa kecil.

"Hei, kenapa sensei tertawa, tidak ada yang lucu tau dengan perkataan ku ini" ngambek Momo dengan mengembungkan pipinya kayak ikan buntal (Hahahaha, Author ngakak keras. *Ditimpuk Momo pake sendal jepit). "Jadi mana jawabannya ?"

"Hehehe, ayo kita sama-sama meraih kebahagian bersama orang yang kita cintai" kata Aizen berusaha menahan tawanya. Momo tersenyum lembut.

.

.

"Rukia-chan belum tidur ?" tanya Retsu pada gadis yang sedang menatap lagit dari jendela kamarnya.

"..."

"Rukia..." lirih wanita itu menyentuh bahu Rukia.

"Akkh, ahh Okaa-san" seru Rukia terlonjak kaget.

"Belum tidur ?, sudah malam loh. Tidak baik untukmu, besok kau harus sekolahkan ?" katanya sambil membelai rambut pendek Rukia.

"Iya, sebentar lagi Okaa-san. Okaa-san juga tidur ya" ucap Rukia pelan mengedarkan pandangnya pada wajah pucat wanita dihadapannya ini. Hatinya sangat miris melihat ibunya yang sudah seperti ini hanya karna memikirkan dirinya.

"Jangan malam-malam ya" gumam Retsu mengecup kening Rukia lembut, dan berlalu meninggalkan Rukia seorang diri dikamarnya. Rukia kembali menerawang langit yang berhamburan bintang-bintang.

"Nii-sama... Aku sedang melihat bintang kejora saat ini. Kenapa kau tidak datang juga... Kau bilang jika aku sedang sedih, kau akan datang saat aku melihat bintang itu.." rintih Rukia.

"Jangan jadi pembohong dong. Cukup dia saja yang membohongiku seperti ini..." lirih Rukia memeluk kakinya yang ia tekuk, air mata kembali menganak di wajah manisnya.

.

.


"Dimana lagi ini..." gumam gadis pendek saat melihat sekelilingnya yang berwarna putih. Ia pun berjalan beberapa langkah mencari jalan keluar. Hatinya berdegup kencang takut akan hal buruk menimpa nya lagi.

"Seseorang.. Adakah seseorang disini" katanya nyaring mencoba menghilangkan kekalutan hatinya. "Ini pasti mimpi" ucapnya pelan. Seketika langkah kakinya terhenti saat mengingat mimpi buruk yang ia alami. Mimpi buruk yang harus disaksikannya saat Byakuya pergi meninggalkanya keparis dan selamanya tak kembali. Keringat dingin kembali mengucur di pelipisnya. Langkah kaki nya sedikit gotai karna tak kuat menahan tubuhnya yang gemetar hebat. Tak lama samar-samar dentingan piano terdengar di telinga Rukia. Diujung jalan tampak seberkas cahaya muncul dari kejauhan hingga membuat Rukia sedikit metutup matanya dengan tangan menghindari kilauan sinar yang terpancar. Jantungnya kembali terpompa cepat.

"Apa lagi sekarang ini" umpatnya marah. Harus kenyataan pahit apa lagi yang akan diterimanya. Mau tak mau Rukia pun segera beranjak dari tempat nya berdiri menuju cahaya tersebut. Dentingan piano kembali terdengar dengan jelas ditelinganya. Rukia kini berada disebuah taman bunga yang luas, burung-burung tampak berkicau dengan riang, kupu-kupu menari-nari diudara, suara gemercik air mengalun diantara udara.

"Indahh.." kagum Rukia melihat sekeliling tempat yang ia lihat. Rukia kembali berjalan menyusuri pepohonan sakura yang berguguran mencari dentingan piano yang menghantui telinganya. Tenggorokannya kembali tercekat saat melihat sosok yang pria tampan berbaju sebra putih memainkan jarinya diatas tuts piano yang senada dengan warna bajunya.

Rukia tertegun dengan sosok yang ia lihat. Nada piano yang mengalun lembut terasa sangat pas dengan suara pria itu saat menyanyikan lagu itu.

"Kau sudah datang Rukia-chan" tanyanya pada Rukia yang bersembunyi dibalik pohon sakura yang berguguran.

Rukia mendongkakkan kepalanya melihat pria yang memanggil namanya tadi. Terlihat seulas senyum mewarnai wajahnya yang dingin bak es. Rukia tersenyum dan menghampiri laki-laki itu.

"Nii-sama..." lirihnya saat didekat pria bernama Byakuya itu. Iapun segera mengeser tubuhnya pada kursi yang ia duduki, memberi ruang pada Rukia agar duduk disebelahnya. Rukia pun duduk.

"Kenapa kau memotong rambutmu" tanya Byakuya menatap Rukia dalam.

"Ahh, ini..." sambil menundukkan kepalanya dalam-dalam.

"Tidak apa-apa. Aku mengerti alasanmu kenapa kau melakukan itu Rukia... Tapi aku lebih suka rambut panjangmu, kau terlihat cantik kalau berambut panjang" katanya tersenyum lembut.

"Hemm" gumam Rukia malu-malu dengan wajah yang sudah memerah.

"Aku sangat merindukanmu..." gumam Byakuya sambil merangkul bahu Rukia dan mendekapnya. Rukia terdiam, kemudian memejamkan matanya. Mencoba merasakan kehangatan tubuh Byakuya agar ia tahu bahwa ia tidak bermimpi sekarang.

"Maaf ini salahku Rukia.." lanjut Byakuya lagi.

Rukia melepas pelukan Byakuya dan menatap mata abu-abunya.

"Apa maksud Nii-sama, ini bukan salah Nii-sama kok. Jangan berbicara yang tidak-tidak seperti ini Nii-sama" ucap Rukia keras.

"Dan ini juga bukan salah Gin Rukia..."

Mendengar nama Gin terlontar dari mulut Byakuya, membuat Rukia mendengus kesal. Bisa-bisanya Byakuya masih membela Gin yang jelas-jelas sudah menusuknya dari belakang.

"Kenapa sich Nii-sama membela dia. Dia itu telah menyakitimu, dia mengaku-ngaku sebagai tunanganku padahal jelas-jelas aku ini tunanganmu, tunangan sahabatnya sendiri. Dia itu pembohong Nii-sama, penipu, pengkhianat, dia itu benar-benar orang rendah yang baru kukenal. Dia tidak pantas di perlakukan baik seperti itu oleh mu Nii-sama. Seorang sahabat tidak pantas disebut sahabat jika ia berani mengkhianati sahabatnya sendiri !" berang Rukia memberi penekanan pada kata-kata terakhirnya.

"Aku juga akan melakukan hal itu Rukia jika dalam posisi dia saat ini.." lirih Byakuya.

"Ehh ?"

"Dia melakukan itu semua untuk dirimu..." lirih Byakuya lagi menatap Rukia sendu.

"Cukup Nii-sama, aku tidak mau mendengar apapun tentang orang itu. Dia itu munafik Nii-sama, Nii-sama tidak tahu sama sekali kalau dia itu sangat licik, bersikap sok seperti malaikat tapi dalamnya iblis yang mengerikan. Heh, orang itu tidak pantas untuk dikenang Nii-sama. Sebaiknya kita lupakan saja dia" kata Rukia meledak-ledak saat ingat segala kelakuan Gin yang menurutnya sangat memuakkan.

"Rukia..Aku sudah mati" kata Byakuya singkat. Rukia menoleh secepat kilat pada pria tampan itu.

"Akupun juga tidak akan sanggup jika melihatmu sedih kalau kau mengenangku kelak. Aku akan sangat sakit Rukia bila itu terjadi. Dia memikirkan mu saat itu walaupun dia belum begitu mengenalmu seperti sekarang. Dia walaupun benci denganmu saat aku hanya memikirkan mu seorang dalam bayang-bayang saja. Dia tetap peduli padamu. Dia tidak ingin kau terluka" lirihnya pelan.

"Apapun alasan nya pada akhirnya aku juga akan sakit kan ? Akan terluka kan ? Bahkan lebih sakit dari yang seharusnya. Itu yang dinamakan melindungi ! Sepertinya otaknya sudah rusak ya karna terus berbohong sehingga tidak tahu apa yang akan terjadi nanti. Benar-benar naif !" kata Rukia sengit.

"Itu karna kau telah mencintainya Rukia" kata Byakuya.

"Apa ? Nii-sama apa maksudmu, kenapa berbicara seperti ini" kata Rukia sedikit emosi.

"Hehehe, kau tahu, sebelum aku meninggal. Aku pernah berpesan padanya suatu hal yang sangat penting"

"..."

"Aku bilang tolong jaga Rukia saat aku tidak ada kelak. Jaga ia, sayangi dia, lindungi dia, buat ia bahagia. Itu yang aku sampaikan kepadanya. Sepertinya ia sudah melakukan amanatku dengan sangat baik" katanya sambil tersenyum.

"Nii-sama, bisa-bisanya kau berbicara seperti itu pada orang yang kau cintai" ucapnya tak percaya.

"Rukia, sudah ku bilang aku ini sudah mati. Aku tidak mungkin lagi bersamamu dan kau juga tidak mungkin bersamaku. Ini sudah menjadi takdir Rukia. Maka dari itu aku meminta Gin untuk menjagamu karna ku tahu dia pasti akan menjaga dan melindungimu dengan sebaik mungkin melebihi ku yang hanya mampu memuja bayang-bayangmu saja selama 12 tahun ini. Aku sudah mengenal Gin hampir 12 tahun ini Rukia. Selama itu juga aku tahu semua tentang Gin baik itu dari dalam maupun dari luar. Dia orang yang terbaik untukmu , terlebih dia mencintaimu. Memang dalam keadaan seperti ini dia yang bersalah karna telah menduakanmu, tapi semua ini dilakukan nya tanpa maksud menyakitimu. Dia hanya tidak bisa memilih dari awal antara kau dan Rangiku, bukannya tidak bisa memilih tapi ia terlalu bahagia bersamamu hingga ia lupa apa yang harusnya ia lakukan Rukia. Pahami lah itu, jangan biarkan egoisme mu mengalahkan nuranimu yang telah mencintainya. Ikutiah kata hatimu.."

"Seberapa keras Nii-sama mencoba membuatku memaafkannya, aku tidak akan memaafkan nya. Bagiku dia memang tidak pernah berada dihatiku, dipikiranku, dan dikehidupanku" katanya skeptis.

"Jangan berbohong lagi Rukia. Singkirkan lah egomu dan turutilah hatimu. Jika kau terus mengelak seperti ini, aku yakin pasti kau akan menderita" ujar Byakuya menatap mata violet Rukia dalam-dalam.

"Aku yakin ini langkah terbaik yang kuambil Nii-sama, dan kau juga yakin bahwa pada nantinya aku tidak akan menyesal atas apa yang kulakuan ini" kata nya pasti.

"Mungkin saat ini belum, tapi jika itu terjadi. Turutilah hatimu Rukia" katanya tersenyum lembut. Rukia terdiam, tak percaya pada apa yang didengarnya. Kenapa Byakuya yang Notabene mencintainya selama 12 tahun melepaskannya begitu saja pada orang yang telah menusuknya dari belakang. Rukia tak habis pikir, apa yang bisa membuat Byakuya begitu percaya pada laki-laki bertampang rubah yang sudah membuatnya sekarat seperti sekarang ini.

"Sudah waktunya kau pergi Rukia.." katanya sambil membelai pipi Rukia lembut.

"Nii-sama.." Rukia mencengkram baju Byakuya seakan tak mau Byakuya pergi dari sisinya.

"Ingat Rukia, aku sudah tiada. Aku tidak akan bisa melindungimu, dan menjagamu lagi. Carilah seseorang yang terbaik menurut hatimu Rukia. Carilah seseorang yang kau cintai sepenuh hatimu, dan mencintaimu juga. Walaupun aku sudah tiada kau harus melanjutkan hidupmu Rukia , cita-citamu, dan kebahagianmu bersama orang yang kau cintai. Biarpun pada akhirnya aku hanya akan menjadi masa lalumu tapi ingatlah. Aku akan selalu dihatimu" kata Byakuya sambil mengengam tangan mungil Rukia yang mencengkram bajunya.

"Tapi aku hanya mau Nii-sama saja !" sanggah Rukia lagi.

Byakuya tak menjawab, ia hanya terus tersenyum pada Rukia yang kembali memacarkan kilauan kecil dimata violetnya. Perlahan-lahan sosok Byakuya menghilang seiring berhembusnya angin yang menerpa wajah mulusnya.

"Nii-sama...Ni-Nii sama.. J-jangan tinggalkan ak-aku.." lirih Rukia sendu.

"Nii-sama !" teriak Rukia saat sosok Byakuya tak lagi terlihat di pandangan matanya.

.

.

.

"Nii-sama apa maksud dari perkataanmu ?" gumam seorang gadis yang sedang menatap sendu sebuah gundukan batu-batu kecil yang tersusun didekat pohon.

"Kau lihat sendirikan. Ini sudah hampir 2 bulan, tidak ada apapun yang terjadi seperti yang kau katakan. Jika kau hanya ingin membuatku memaafkannya, maaf sepertinya aku tetap pada pendirianku..."

Fushh, angin musim dingin berhembus kencang di wajah mungil gadis itu.

"Aku tidak akan pernah memaafkannya. Lagipula semuanya juga akan berakhir, dia akan pergi sebentar lagi dari kehidupanku. Selamanya..."

"Tidak baik dimusim seperti ini berada diluar Rukia.." ucap seorang laki-laki sambil melepaskan jaket tebal ke arah gadis itu.

"Shuhei –san..." kata Rukia berbalik arah melihat pria yang berada didekatnya mengematkan mantelnya pada dirinya.

"Sekarang sedang musim dingin, nanti kau bisa sakit jika terus berada disini" jelas Shuhei.

"Shuhei-san ada yang ingin ku tanyakan padamu ?" kata Rukia dengan pandangan yang terus menatap tumpukan batu yang ia susun didekat sebuah pohon.

"Apa" jawab Shuhei singkat.

"Kenapa kau sangat baik kepadaku. Padahal kita tidak saling mengenal, tapi kenapa kau bersikap seperti ini kepadaku. Kau selalu datang kerumahku, menjemputku dan mengatarkanku sekolah. Setiap saat kau selalu ada didekatku. Sebenarnya hal ini sudah lama ingin kutanyakan. Sekarang bisakah kau jelaskan padaku Shuhei-san dibalik semua sikapmu selama ini padaku" pinta Rukia.

"Semua hanya berawal dari rasa kasian saja padamu" jawab Shuhei pelan.

"Kasihan ya" gumam Rukia.

"Saat pertama aku sangat kesal melihatmu, kau sepertinya sangat bahagia sekali. Bisa tertawa sepuasnya, bercanda, tidak kesepian seperti hal nya terjadi padaku. Entah kenapa aku sangat muak sekali melihat orang bahagia sedangkan aku menderita seperti ini. Betapa sangat tidak adil nya takdir yang kudapatkan dari tuhan. Hal yang seharusnya ku rasakan bersama orang-orang yang kusayangi dalam kebahagian lenyap begitu saja tanpa berbekas"

"Lalu.." kata Rukia.

"Kau lihatkan tato 69 yang ada diwajahku ini ?" tanya Shuhei. Rukiapun mendongkan wajahnya melihat tato yang ada ditunjuk oleh Shuhei, kemudian menggangguk pelan.

"Angka 69 itu adalah tanggal lahir ibu dan ayah ku yang tewas dalam kecelakaan pesawat 7 tahun yang lalu" kata Shuhei lirih. Rukia membekap mulutnya tak percaya.

"Sejak saat itu duniaku terasa hampa. Tidak ada lagi yang bisa kurasakan. Kehangatan, kelembutan dari seorang ibu, belaiannya, pujian seorang ayah saat aku berhasil mencetak double point dalam tanding basketku, tidak ada lagi. Tidak ada lagi semua itu... " cerita Shuhei dan menarik nafasnya pelan.

"Kakek ku orang yang sangat sibuk, tak ada waktu hanya untuk sekedar menyemangati cucunya yang sedang berduka. Dia pun seperti nya tidak berduka atas kematian orang tuaku, buktinya dia bisa-bisanya pergi saat pemahkaman orang tuaku berlangsung hanya demi menyelesaikan perkerjaanya di perusahaan. Aku sangat benci saat itu, benci pada kakek, pada takdir yang menyakitkan, pada waktu yang memisahkan ku dengan mereka, pada semuanya aku sangat benci. Kenapa harus aku yang mengalami semuanya. Selama 7 tahun terakhir aku melarikan diri dari semua ini, aku yang tidak lagi ingin menjadi Shuhei yang dulu, tidak lagi Shuhei yang ceria, yang kekanak-kanakan. Yang ada hanya Shuhei yang suka memukul orang seenaknya, Shuhei yang pendiam, Shuhei yang dingin, Shuhei yang pembangkang, Shuhei yang yang tak pernah lagi menghiraukan apa yang sedang terjadi didunia ini. Semua ini ku lakuakan hanya agar kakekku bisa memeperhatikanku lagi, pemberontakan yang kulakukan hanya demi mendapatkan lagi perhatinnya. Tapi sepertinya ia tidak perduli sama sekali. Dia seperti menganggapku ikut tewas dalam kecelakaan pesawat itu. Aku seperti tak pernah ada didekatnya"

"Saat melihatmu disini beberapa waktu yang lalu, aku jadi ingat akan diriku yang dulu. Diriku yang sama menderitanya denganmu saat kehilangan orang yang kita cintai" jelas Shuhei.

"Jadi itukah alasanmu mengasihaniku ?" tanya Rukia dengan tatapan sendu. "Tapi itu lebih baik bagiku dari pada harus ada alasan lainnya. Aku lega jika rasa kasihan yang ada kau rasakan padaku daripada harus ada perasaan seperti cinta diantara kita berdua, itu hanya akan membuat ini sulit saja. Benarkan ? Aku juga tidak ingin lagi mengenal hal yang namanya cinta dikehidupanku lagi, sebab itu hanya kan membuatku makin menderita saja"

"Sampai saat itu memang benar apa yang kau katakan" kata Shuhei menatap mata Rukia dalam.

"Maksudmu Shuhei-san ?" tanya Rukia binggung mengerutkan alisnya.

"Aku hanya bermaksud membantumu saja Rukia, hanya sekedar membantumu meringankan luka yang telah ditinggalkan oleh orang yang sama-sama kita cintai. Karna pada dasarnya luka hati akan sangat sulit terobati dari pada luka fisik. Dan itu yang awalnya kurencanakan, tapi sepertinya rasa kasihan itu merambah pada perasaan yang lain" jawab Shuhei.

"Shuhei-san.." panggil Rukia pelan.

"Tanpa ku sadari, luka hati yang telah lama tergores di hatiku sedikit demi sedikit terobati oleh adanya dirimu" jawab Shuhei lagi.

"Shuhei-san aku-.."

"Tidak apa Rukia, tak perlu kau pikirkan ataupun menjawab pernyataanku. Aku tahu saat ini kau sedang dalam masa sulit. Saat ini aku hanya baru menyadarinya saja. Tak perlu kau risaukan, karna aku akan menunggumu sampai kau bilang 'siap'" sangah Shuhei.

"Jadi kumohon" sambil berjalan menghampiri Rukia. "Jangan pernah menghindariku, biarkan aku tetap disisimu sampai hatimu sembuh Rukia" menggenggam tangan Rukia erat.

.

..

.


"Hei, Rukia-chan kau pergi apa tidak nanti ?" tanya gadis hitam bercapul pada Rukia yang sedang termenung di bangkunya.

"Ahh, iya Momo ada apa ?" tanya Rukia linglung.

Momo hanya tersenyum tipis menghadapi tingkah Rukia yang sering melamun disetiap saat. "Kau pergi apa tidak ke pesta tahun baru nanti yang akan diadakan sekolah ?" tanya Momo lagi.

"Pesta ?" tanya Rukia bingung.

"Iya pesta, tahun ini sekolah kita akan mengadakan petsa tahun baru sekaligus juga pesta perpisahan buat Ichimaru sensei yang akan pindah tanggal 14 Januari nanti. Kepala sekolah langsung membuat satu pesta, jadi tidak perlu repot nantinya membuat pesta perpisahan sensei" jawab Momo.

"Kau datang tidak Rukia-chan ?" tanya Inoue.

"Ahh, entahlah. Aku sama sekali tidak berminat datang kepesta itu" jawab Rukia pendek.

"Heii semuanya diam lah Ichimaru-sensei sudah datang" seru salah satu siswa di bangku paling belakang.

"Tidak usah teriak bisa ga sich. Semua orang juga tahu kalau Ichimaru sensei datang. Dasar !" hardik Renji kesal melihat tingkah teman sekelasnya. Siswa itu hanya nyengir mendengar omelan Renji.

"Konbanwa anak-anak" seru Gin dari balik pintu.

"Konbanwa sensei !" teriak para murid semangat kecuali Rukia.

"Kalian sudah pegang alat musik kalian masing-masing ?" tanya Gin lantang.

"Iya !" jawab mereka serempak.

"Baik semuanya ikuti aba-aba dariku, pegang ganggang biola ini dengan tangan kiri kalian dan senderkan pada bahu sebelah kiri kalian. Ingat bagi yang kidal boleh melakukanya di lain arah. Setelah itu tongkat ini di pegang di tangan sebelah kanan. Hanya dipegang, bukan digenggam" jelas Gin lantang.

Para muridpun mengikuti aba-aba dari Gin.

"Oke, bagus. Selanjutnya tekan jari-jari kalian pada senar biola ini seperti ini. Ini namanya kunci G, permainannya sama seperti gitar perbedaannya hanya terletak di tongkat ini. Nah, aku ingin kalian mengesekannya hingga mengeluarkan nada seperti ini" jelas Gin lagi dengan mengesek pelan biola yang ada di tangannya.

"Nahh silahkan kalian coba" kata Gin sambil berkeliling di ruang kesenian itu untuk megecek semua muridnya. Pandangannya menatap satu persatu semua gerakan yang dilakukan oleh para muridnya. Saat tatapan matanya dan Rukia tak sengaja bertemu, Gin pun segera mengalihkan nya pada murid lain yang ada didekatnya.

"Bukan begitu caranya. Seperti ini" ucap Gin pada salah satu murid yang salah menekan jarinya pada senar biola. Mendengar suara Gin yang tidak jauh darinya membuat Rukia reflek menoleh. Matanya sedikit membulat saat melihat tangan kurus Gin memegang jari salah satu murid perempuan. Gin tampak sangat antusias sekali mengajar murid itu, sedangkan murid perempuan itu hanya menatapnya dengan pandangan kagum yang tak pernah memudarkan semburat merah dipipinya. Hati Rukia tiba-tiba saja sangat panas saat melihatnya.

'Kenapa bersikap seperti itu pada yang lainnya. Kenapa hanya aku yang di acuhkannya hampir selama 2 bulan ini. Tunggu kenapa aku, bukankah harusnya aku senang jika dia membuktikan ucapannya tidak akan pernah mengganggu ku lagi. Tapi kenapa aku tidak rela saat melihatnya bersama gadis itu. Kenapa ?.. Tidak !, apa yang kupikirkan. Kenapa aku ini, tidak boleh. Ini tidak boleh. Aku tidak boleh memikirkan ini, jangan Rukia, dia pasti melakukan itu hanya ingin membuatmu menderita saja. Aku tidak boleh seperti ini' kata Rukia dalam hati sambil mengembuskan nafasnya perlahan.

Memang selama hampir dua bulan ini baik Rukia dan Gin tidak pernah menyapa satu sama lain. Jangan kan menyapa melihat wajah meraka saja enggan rasanya, jabatan perangkat kelas pun sudah digantikan menjadi Momo. Intesitas pertemuan meraka hanya terjadi di pelajaran saja. Sisanya nihil, tidak ada kemajuan sama sekali. Ditambah tidak hanya pada Gin, Ichigo pun tak pernah mengobrol bersama Rukia. Hubungan Rukia dan Ichigo semakin memburuk saat insiden mobil truk yang hampir menyeruduk tubuh mungil Rukia. (Emangnya banteng apa pake nyeruduk segala)

Teng-teng. Bel istirahatpun berbunyi.

"Baiklah pelajaran kita cukup sampai disini. Kita lanjutkan pelajaran terakhir kita di minggu berikutnya" kata Gin menyudahi pelajarannya.

"Kyaa Ichimaru sensei, jangan bicara begitu donk kami bakal sedih jika tidak ada sensei lagi" teriak murid perempuan yang sudah menangis gaje.

Gin hanya tersenyum dan hendak menuju keluar ruangan. Saat membuka pintu, tampak sesosok murid laki-laki dengan tato berangka 69 dan berambut biru berdiri diambang pintu.

"Maaf menganganggu waktu mengajar anda Ichimaru sensei. Saya kemari ingin memanggil beberapa murid kelas 1-3 sedang ditunggu oleh Kenpachi-sensei" ucap cowo berambut biru itu.

"Tidak apa-apa Jaegerjaquez-san. Kelasku juga sudah selesai. Untuk perlombaan itu kan" tanya Gin pada pemuda itu.

"Iya sensei" jawab Grimmjow singkat dengan sedikit menundukkan kepalanya.

"Biar saya yang panggil mereka. Toushiro Hitsugaya, Ichigo Kurosaki, dan... Rukia Ukitake kalian dipanggil Kenpachi sensei" teriak Gin.

Yang dipanggilpun menoleh kerah suara itu.

"Dipanggil.." kata Hitsugaya mengangkat salah satu alisnya.

"Kenpachi-sensei.." sambung Ichigo mengerutkan kedua alisnya.

"Iya boncel, jeruk. Kalian di panggil Kenpachi sensei di ruang olahraga sekarang" teriak Grimmjow sekenanya.

Bukk, Ichigo dan Hitsugaya melempar sepatu mereka kearah Grimmjow yang sedang berteriak sehingga sepatu Ichigo masuk kemulutnya.

"Jangan panggil kami seenaknya !" teriak Ichigo dan Hitsugaya bersamaan.

"Kau mau kubunuh ya, hah !" teriak Hitsugaya berang.

"Hahahahaha, sudah lama sekali ya aku tidak mendengar sebutan itu. Ahh, jadi nostalgia ya" kata Renji sambil tertawa terpingkal-pingkal.

"Diam kau nanas busuk !" maki Ichigo pada Renji yang sudah terbungkuk-bungkuk karna banyak tertawa.

"Apa maksudmu kepala strawberry !. Ngajak berantem ya" balas Renji berapi-api.

"Hehehe, sudah-sudah. Sebaiknya kalian segera menemui Kenpachi-sensei, pasti ada hal penting yang ingin disampaikan olehnya" kata Gin berlalu meninggalkan ruang kesenian.

"Ayo Rukia-chan kita pergi" ajak Grimmjow.

"Ahh, iya Grimmjow senpai" kata Rukia beranjak menyusul Grimmjow yang berada didepan pintu bersama Ichigo, Shuhei, dan Hitsugaya.

"Ichimaru-sensei !" teriak segerombolan murid perempuan dari arah ujung koridor. Gin yang sudah berjalan di koridor menuju ruangannya berhenti dan berbalik. Rukia yang sedang berjalan dikoridor tersebut bersama Shuhei cs, terjatuh di tabrak oleh salah seorang murid yang berlarian menuju kearah Gin.

"Aduh !" gumam Rukia pelan dengan mengedarkan pandangannya kearah orang yang menabraknya. Gin terdiam saat melihat Rukia terjatuh, pandangan mata mereka kembali bertemu.

"Ichimaru-sensei. Terima ini ya sebagai hadiah perpisahan dari kami" ucap seorang murid dengan suara cemprengnya.

"Terima kasih" ucap Gin tersenyum dan secepat kilat memalingkan wajahnya dari Rukia.

Melihat Rukia yang tertunduk lesu, Shuhei pun segera merendahkan tubuhnya untuk membantu Rukia berdiri.

"Kau tidak apa-apa ?" tanya Shuhei dengan menatap tajam pada Gin yang tertawa-tawa kecil.

"Iya" jawab Rukia pelan seraya berdiri. "Aku tidak apa-apa"

.

.

.

"Kalian tahu kenapa ku panggil kalian kemari" tanya Kenpachi to-the-point.

"Tidak" jawab Ichigo dan Hitsugaya dengan gelengan kepala.

"Ichigo Kurosaki, Toushiro Hitsugaya, dan Rukia Ukitake. Aku memanggil kalian bertiga karena..."

.

.

TO-BE-CONTINUE