Kindle


Hari Rabu.

Artinya harinya duduk bebas.

Tanpa denah.

Baekhyun dan Luhan sudah pasti duduk bersama.

Pagi – pagi sekali Baekhyun sudah sampai di sekolahnya.

Hanya untuk mendapatkan tempat duduk idamannya.

Di baris tengah tapi deret paling belakang.

Sebenarnya bukan belakang juga, karena Sehun juga sudah duduk di pagi ini pukul setengah enam pagi.

"Sehun? Niat sekali kau. Datang jam berapa?" tanya Baekhyun.

Sehun tersenyum dan berdiri. "Sekitar pukul lima. Demi bisa menatap Lulu dari belakang, hehehe."

Tas Luhan mendarat di muka bangun tidur Sehun.

"PINDAH!"

"Tidak."

"Pindah kubilang!"

Sehun mengabaikan Luhan dan kembali tidur di mejanya.

Baekhyun menghela napasnya. "Sudahlah Lu, biarkan saja. Sekarang ayo kita tunggu Jongdae untuk menyalin laporan biologi!"

Setelah itu Baekhyun dan Luhan menunggu Jongdae hingga jarum jam menunjukan pukul setengah delapan.

Dan Jongdae belum muncul juga.

Jangan sampai Jongdae tidak masuk.

Kalau iya, itu bencana bagi Baekhyun.

Bisa – bisa terkena amukan Guru Kim.

Lalu disuruh keluar kelas selama jam pelajarannya.

Dia kan jadi mengurangi waktunya untuk menghirup wangi Chanyeol yang tercium hingga di tempat duduk Baekhyun.

Oh iya.

Chanyeol duduk di samping Sehun.

Tepat di belakang Baekhyun.

Maka dari itu Baekhyun hanya duduk kaku.

"Baek, aku mau pinjam punya Chanyeol saja. Jongdae sepertinya tidak masuk."

Baekhyun menghentikan Luhan yang hendak berbalik badan untuk meminjam laporan biologi.

"Biar aku saja." Ujar Baekhyun sambil memberanikan diri membalikan badannya.

"Ada yang sudah mengerjakan laporan biologi?"

Sehun bangun dari tidurnya, "Oh, yang praktikum itu ya. Sudah, Lulu mau pinjam?"

Luhan yang sedang menulis agendanya langsung membalikan badan dan memukulkan pulpen ke kepala Sehun.

"Kau mau menyalin? Kenapa tidak dari tadi. Ini."

Duh.

Itu Chanyeol.

"T-Terimakasih." suaranya bergetar seperti menahan tangis.

Dengan cepat Baekhyun berdeham keras. "Terimakasih Chanyeol", Baekhyun mengambil buku laporan milik Chanyeol, "Akan kusalin dengan cepat." Lanjutnya.

Kemudian laporan Baekhyun dan Luhan selesai.

Tepat ketika bel berbunyi.

Hari ini mereka aman dari amukan Guru Kim.

Namun setelah dua puluh menit, Guru Kim belum juga masuk ke kelas.

Tidak berapa lama kemudian, Guru Lim masuk dan memberi tugas pengisi jam kosong.

Oh.

Tangan Baekhyun sudah pegal karena menyalin dengan kekuatan penuh dan ternyata Guru Kim tidak masuk.

Sialan.

Lalu di dua jam kosong tanpa guru ini, kelas sangat berisik dengan tawa canda anak – anak.

Termasuk Baekhyun dan Luhan.

Berkat kekonyolan Sehun dan Chanyeol.

Oh.

Baekhyun juga jatuh untuk entah keberapa kalinya pada Chanyeol.

Hatinya kadang suka lupa ingatan dengan peristiwa di bioskop yang lalu.

Ketika tengah tertawa karena guyonan Sehun, mata Baekhyun menangkap tatapan tak suka dari Nayeon yang duduk di kursi paling pinggir dekat jendela.

Antara tatapan tidak suka dengan iri sih.

Awalnya tidak apa.

Tapi lama kelamaan Baekhyun merasa tatapan itu mengajak dirinya perang dengan wanita satu ini.

"Apa masalahmu? Tatapanmu aneh terhadapku."

"Tidak ada. Memangnya kenapa aku tidak boleh menatapmu seperti itu?"

Baekhyun menatap Nayeon garang.

Nadanya sangat tidak bersahabat–nyolot– sekali orang ini.

"Aku tidak suka tatapanmu." ucap Baekhyun sembari melipat dadanya.

Nayeon menyeringai.

"Yasudah, tidak usah dilihat."

Ugh.

Demi suaranya yang cempreng dan nadanya tidak bersahabat.

Cempreng yang membuat telinga Baekhyun sakit.

Baekhyun mendengus kasar, "Demi Tuhan! Apa yang kau inginkan?"

Salahkan temper Baekhyun yang bisa mendidih di titik tujuh derajat.

Sangat mudah terpancing emosi.

Nayeon berdiri dan membereskan buku – buku di mejanya lalu memasukan ke dalam tas.

Kemudian berjalan ke arah Baekhyun.

"Tukar tempat duduk denganku."

Kening Baekhyun mengernyit.

Bukan hanya Baekhyun sejujurnya.

Sehun, Luhan, dan Chanyeol juga turut mengernyitkan keningnya.

"Tidak."

Suara Baekhyun dan Chanyeol bersamaan mengeluarkan penolakan.

Giliran Nayeon yang mengernyit.

"Tapi aku ingin di sini! Pindah!"

Kemudian buku cetak tebal milik Nayeon mengenai kepala Baekhyun dengan keras.

Ouch.

Keras sekali kok, bahkan seluruh anak di kelas langsung menatap tempat kejadian perkara.

Sontak Baekhyun langsung berdiri.

"Maksudmu apa?!"

"Aku sudah bilang, pindah! Tukar tempat duduk denganku apa sih susahnya?!"

Well, air mata Baekhyun sudah menggantung di kantung matanya.

Antara karena sakit di kepala dan menahan marah di ujung kepalanya.

"Baekhyun akan pindah. Begitu juga aku. Toh kursi di sebelahmu kosong kan, Nayeon-ssi?"

Lalu Baekhyun dan Chanyeol pindah.

Meninggalkan Luhan dan Sehun yang langsung diam dan tidak berbicara lagi meski Nayeon mencoba memulai pembicaraan.

"Dingin sekali di sini, pantas saja ia minta tukar." Gerutu Baekhyun.

Padahal, yang duduk tepat di samping jendela adalah Chanyeol.

Dasar memang tubuh lemah Baekhyun.

"Pakai saja ini."

Balloon jacket berukuran besar berwarna hitam diberikan Chanyeol dari dalam tasnya pada Baekhyun.

Baekhyun yang kecil kewalahan dengan ukuran jaket itu.

Tidak sengaja, matanya menatap tulisan IZRO di label mark jaket itu.

"Ternyata merk IZRO? Wow, kau mapan juga ya hahaha."

Chanyeol tertawa kecil. "Tidak juga. Aku masih kalah mapan dengan Sehun."

Baekhyun turut tertawa kecil dan menggunakan jaket tebal itu.

Wangi dan hangat.

"Tukar tempat denganku, Byun Baekhyun-ssi!"

Ugh.

Itu ucapan Nayeon.

Lagi.

Kalau tidak salah, Baekhyun sudah pernah mengandaikan barisan panjang dari antrian di hati Chanyeol, kan?

Sudah dipastikan Nayeon salah satu orang dari barisan itu.