.11.
Eniq kembali ke kursinya, implisit maupun eksplisit.
Bangku kayu itu sekarang dihangatkan kembali meskipun pada porosnya saja, sang bangku tidak bisa meminta lebih akibat bobot pemakainya yang jauh dari kata ideal.
Kejadian malam di hari berakhirnya festival tidak masuk dalam artikel atau pamflet sekolah apapun, hanya tersebar begitu saja dari mulut ke mulut, dengan penambahan-penambahan bombastis tentunya. Apalah gunanya fakta tanpa bumbu, tetap kurang sedap didengar.
Konon pelaku sebenarnya mendapat skorsing, akan berlanjut ke tahap paling kritis. Tidak ada yang tahu, guru pun tidak pernah membuka mulutnya untuk itu.
Pemain pada 'drama' malam itu memang optimal namun seadanya, mengakibatkan orang 'ketiga' alias penonton yang terlibat secara tidak langsung cuma bisa bersemu merah wajahnya setiap kali melihat sang aktor utama, spesifik saja, dia adalah Elize.
Ketidakpercayaan dan kekecewaan terhempas ke karang, berganti dengan risih dan sedikit harapan mengintip. Harapan untuk segera bicara lagi, dan kali ini, kali ini, bila mereka sudah berkomunikasi wajar kembali, Elize tidak akan menyembunyikan apapun, mendeklarasikan Eniq sebagai bagian dari kehidupannya. Maknanya boleh sedikit dipranatakan dalam konteks 'teman'. Teman saja. Belum waktunya bagi mereka tiba di persimpangan pubertas. Apa yang mereka perlukan adalah menikmati waktu yang ada.
Jadi, kapan harapan itu bersambut?
--HF-Smile--
Wendy, aku adalah Wendy.
Mantra terucap, namun tidak ada reaksi terjadi sebagai imbalan mantra yang telah tepat disebutkan ketika anak laki-laki itu melintas tepat di hadapannya.
Elize sedang mengantarkan buku tugas di kala istirahat siang. Lorong ruang guru sepi, siapa juga yang mau berlari-lari di depan lorong dengan konsekuensi berdiri di dalam ruang guru dan dicemooh oleh tua-tua itu?
Kesempatan datang lalu membuih.
Mantranya tidak ampuh, tidak tepat untuk situasi dan kondisi yang terlanjur menjadi masa lalu. Bahkan orang-orang sudah mulai mendekat pada anak laki-laki itu.
Elize tersisih.
Eniq tetap melintas pergi.
--HF-Smile--
Datang... ...Pecah.
Gelembung
Datang... ...Pecah.
Lagi
Lagi...
Frustasi.
Satu kata saja untuk menyelesaikan konflik pelik, yang biasa didefinisikan sebagai penghanturan penyesalan, maaf.
Entah karena gengsi atau karena penyesalan kelewat mendalam berimplikasi rasa rendah diri, litotes untuk menambal kebolongan itu tidak pernah terucap. Baiklah, bukan litotes. Karena bola 'kesalahan' sepenuhnya ada di tangannya.
Padahal mereka sedang makan siang.
Konsentrasi ke arah lain bisa menyebabkan lidah terbakar.
Elize nyaris memuntahkan seluruh isi perutnya setelah rasa tidak masuk akal mampir di lidahnya. Rasa tidak masuk akal tercipta dari racikan cabai overdosis, aglomerasi merica, cuka dan garam yang bisa menyebabkan vitaminosis. Dia lah kokinya. Koki yang pikirannya mengawang-awang di lautan penyesalan diri.
Keseluruhan temannya panik karena tidak menyediakan minuman secukupnya untuk menenangkan Elize.
Akibatnya anak perempuan itu buru-buru melompat dari kursinya, berlari ke salah satu stand terdekat dan memesan segelas besar air suam-suam kuku untuk berdamai dengan lidahnya.
Dia meneguk terburu-buru sambil berjalan, tidak memperhatikan apapun atau siapapun yang mampir ke jangkauan sirkulasinya.
Sudah bisa ditebak, dia pun membentur seseorang.
Isi gelasnya muncrat ke seragamnya, bagian depannya nyaris basah sepenuhnya. Untunglah diorama ini terjadi di penghujung musim dingin yang masih ngotot bertahan. Gelasnya sendiri melompat dari tangannya, membuat lantai jadi berbahaya untuk dilalui kaki telanjang atau sepatu bersol tipis.
Dia maupun oang yang tertabrak sama-sama merunduk. Berniat memunguti serpihan-serpihan berbahaya, termasuk bagi jari-jari kecil mereka.
Dan Elize terhenyak.
Ini adalah Eniq. Eniq yang belakangan menyita alam imaginya.
Ngomong-ngomong soal harapan bersambut?
Satu kesempatan ini, ucapkan mantranya sekali lagi dengan tepat.
…Apa mantranya?
Frustasi kronis menyebabkan meledaknya kelenjar air mata. Elize, dia yakin, ini pertama kalinya dia menangis meraung-raung di sekolah. Hebatnya, dia sama sekali tidak peduli.
Eniq memperhatikan sekitarnya, sekilas langsung kembali ke Elize dengan gelagapan. Apa dia yang menyebabkan Elize menangis? Masalahnya semua orang juga terpaku menatap mereka berdua. "Errr...Eh...Apa kau tertusuk? Per-Permen?"
Cuma orang tolol yang menawari permen pada saat-saat begini. Bahkan biarpun sebenarnya dia brilian. Bicara pembelaan diri, kegugupan bisa mengambil alih kerja otak hingga stadium berat, termasuk di dalamnya orang berotak brilian itu.
Apa mantranya??
"Wendy," Elize terisak-isak dengan dahi, hidung, pipi, kuping memerah.
"?"
"Aku mau menjadi Wendy!"
Mantranya bukan begitu! Dia cuma memelas.
Semua anak melongo, berspekulasi seharunya Elize meminta itu pada orang tuanya untuk mengubah nama di akta kelahirannya. Siapa pula Wendy?
Koneksi itu bagaikan line telepon, cukup dua orang saja yang mengerti. Gelombang signal itu tersampaikan tepat ke penerima yang juga tepat.
Sudut-sudut bibirnya terangkat seperti melebarkan sayap, menghilangkan bibir pucat ke balik mulutnya membentuk garis tipis. Namun itu adalah senyum disertai hela menahan lega membuncah di balik rongga dada sempitnya. "Wendy adalah peranmu. Tidak mungkin berganti peran di tengah lakon."
Elize mengerjap, menitikan dua bulir air mata lagi, tapi matanya melotot besar menandingi mata besar lawan bicaranya. Tangisnya meledak-lagi-, dia menubruk tubuh kerontang Eniq hingga anak itu harus menanggung kiriman banjir dadakan di kaos putihnya. Isak bercampur derai tawa halus, sementara pihak bocah korban pemelukan sepihak cuma bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi.
Walaupun persepsi di setiap kepala kecil situasi di sekitar berbeda-beda, tapi mereka digerakan gelombang positif untuk mulai bertepuk tangan dan bersorak riuh rendah.
Mantranya tidak manjur.
Tapi harapannya sudah disambut, kan?
--HF-Smile--
Author's note: hehehehe, setelah chap sebelumnya sangat panjang, kembali ke format awal, cukup chap yang bantet saja...hehehe. Lagipula ini adalah epilogue, jadi tidak perlu panjang-panjang...iya kan...iya kan...iya kan?? (maksa).
Still one chapter to go, Dear Readers! Hehehe, be patience, I'm working on it. But just an addition. But you still need to read it! (maksa lagi).
Saya juga mau verivikasi soal hubungan L dengan Elize. Mereka itu bukan teman biasa, bukan juga TTM, apalagi pacar! Just like i said, Elize is Wendy. Tidak ada kata yang tepat untuk menerjemahkan Wendy, tapi yang terdekat adalah 'closest friend' menjurus 'ibu'. Nah loh…saya sendiri juga bingung…Tapi memang tidak bisa digambarkan dengan kata-kata. Biarlah hubungan mereka itu positif dalam kenegatifan, masif di dalam absurb. Sisanya saya serahkan kepada pembacaCiao!
