Bocah bersurai cokelat itu pun mengerjapkan matanya beberapa kali saat menoleh ke arah pemuda bersurai raven yang sedaritadi menyentuh pundaknya.

"Ma-maaf…?", si bocah itupun angkat bicara.

"Tsunayoshi? Kau Tsunayoshi?!", tanya Hibari begitu tidak santainya.

"Hei Tsuna, kau mengenalnya? Apa dia temanmu di tempat lama mungkin?", si pirang yang sedaritadi bersama bocah caramel ini ikut bicara, sepertinya tidak suka dengan si raven yang mengganggu kegiatan jalan-jalannya.

"Maaf… kau ini siapa ya?", tanya bocah caramel itu dengan tatapan bingung ke arah Hibari.

'Mustahil..!', Hibari membulatkan matanya dan mengerjap beberapa kali. "Aku Hibari. Hibari Kyoya, aku kakak kelasmu di Namichu."

"Apa benar itu, Tsuna?" tanya si pirang itu kepada bocah caramel yang ada di sampingnya.

"Aku tidak tahu, Bel-kun. Aku tidak mengenalnya. Aku juga tidak ingat aku pernah sekolah di sana."

"Tsunayoshi, berhenti bercanda. Aku serius.", Hibari memperlihatkan wajah seriusnya.

"Sungguh aku benar-benar tidak mengenalmu. Mungkin kau salah orang atau aku hanya orang yang mirip. Orang bernama Tsunayoshi bukan hanya aku, kan?"

"Namamu Sawada Tsunayoshi, kan?"

"Bukan. Namaku Rokudo Tsunayoshi."

Hibari semakin terdiam dibuatnya. "Tsunayoshi kenapa kau mengganti namamu?"

"Maaf aku harus buru-buru mencari sesuatu. Permisi.", dengan sopan Tsunayoshi membungkuk dan berjalan meninggalkan Hibari.

"Jangan sok kenal.", ucap si pirang sebelum ikut berjalan meninggalkan Hibari.

Hibari membatu di tempat. Apa-apaan ini, ia baru saja dicampakkan? Ia sangat yakin bahwa bocah caramel itu adalah Sawada Tsunayoshi. Kenapa dia mengganti namanya? Memangnya orang tuanya menikah lagi? Hibari semakin tidak mengerti saja. Ia kembali melangkah menuju stasiun untuk pulang kembali ke Namimori.

.

.

.

Sesampainya di rumah, Hibari terduduk diam di sofanya. Entah mengapa, hari ini adalah di mana ia banyak sekali melamun. Apa yang ia lamunkan? Banyak. Antara bingung, terkejut, dan tidak percaya. Ia sangat yakin bahwa di Nakano tadi ia bertemu dengan Tsunayoshi. Ia sangat yakin bahwa bocah itu adalah Tsunayoshi. Namun kenapa bocah yang dimaksud tidak mau mengaku? Ia malah mengaku menggunakan nama orang lain.

Entah apa lagi yang ia pikirkan sekarang, ia berniat ingin memberitahukan apa yang terjadi hari ini kepada Dino. Hibari langsung mencari-cari ponselnya dan segera menghubungin nomor ponsel Dino.

"Kyoya… ini kau?", sebuah pertanyaan yang cukup mengejutkan saat sambungan telepon tersambung.

"Dino, kau sedang tidak sibuk, kan?", tanya Hibari terdengar panik dan terburu-buru.

"Tentu tidak. Ada apa? Kau ingin bertemu?"

"Tidak. Bukan itu. Ada yang aku bicarakan, tapi rasanya cerita ini akan panjang sekali."

"Panjang? Baiklah, ceritakan saja."

"Aku baru saja kembali dari Nakano, dari rumah nenek ku. Saat dalam perjalanan menuju stasiun untuk kembali ke Namimori…", Hibari memberi jeda yang cukup lama.

"Ya…?"

"Aku bertemu dengan Tsunayoshi."

Diam.

Keduanya pun terdiam. Tidak percaya, itulah kalimat yang berada di dalam hati kecil Dino. Hibari pun terdiam karena ia merasa seperti orang bodoh yang baru saja melihat orang mati sedang berkeliaran.

"Kyoya… apa kau sedang mengkonsumsi obat? Mungkin kau sedang berhalusinasi."

"Itu bukan halusinasi! Ia berbicara padaku tadi! Sayangnya… ia tidak mau mengaku kalau dia adalah Sawada Tsunayoshi."

"Mungkin kau sedang kelelahan. Beristirahatlah, nanti kau juga akan membaik."

"Aku tidak sedang-", tut.. tut...

Sambungan pun diputus oleh Dino. Hibari langsung melempar ponselnya sembarangan. Tentu saja ia kesal, hari ini sudah dua orang yang mengacuhkannya. Apa-apaan ini? Memangnya dia patung. Sekaligus ia kesal karena Dino pasti tidak percaya dengan apa yang dibicarakannya.

.

.

.

Dino yang sedaritadi sedang serius dengan laptopnya, langsung menutup layar laptopnya penuh emosi. 'Apa sih yang Kyoya bicarakan? Tidak masuk akal! Tsunayoshi sudah mati!', dan benaknya terus mengatakan itu berkali-kali.

Moodnya yang sedang asyik mengerjakan tugas, langsung hilang ditiup tornado. Hilang tak bersisa. Dino langsung berpindah dari meja kerja ke tempat tidurnya. Baru kali ini Dino sangat kesal menolong Squalo untuk mengerjakan tugas kantornya sebagai balas budi karena telah menemaninya saat Squalo sedang sibuk-sibuknya.

Dino mengacak-acak surai pirangnya. Kepalanya terasa sangat pusing. Ia terus meyakinkan kepada dirinya bahwa yang dibicarakan Hibari tadi adalah fiktif belaka. Pikir saja sendiri, mana ada orang mati berkeliaran di kota?

Namun di sisi hatinya yang lain, Dino tergelitik untuk mencari tahu manusia berbentuk Tsunayoshi itu. Dan ternyata rasa penasarannya bisa mengalahkan rasa ketidakpercayaannya. Dino langsung bergegas memakai sepatunya dan pergi keluar apartmen.

Waktu menunjukkan pukul empat sore, Dino masih dalam perjalanan menuju stasiun untuk pergi ke Nakano. Untungnya hari ini hari sabtu, jadi Dino tidak perlu berdesak-desakkan seperti hari biasa.

Sesampainya di stasiun, entah hanya perasaannya saja atau apa, stasiun ini terasa sangat sepi bagi Dino. Kalian tahu sendiri, kereta termasuk ke dalam alat transportasi yang paling banyak di pakai, sekalipun hari libur. Rasanya tidak mungkin kalau stasiun sepi begini.

Dengan sangat sabar, Dino menunggu kereta menuju Nakano yang cukup lama tiba. Ia bulak-balik melihat jam tangannya. Waktu sudah menunjukkan pukul lima. Hampir setengah jam Dino berdiri di sini menunggu kedatangan kereta yang tak kunjung tiba.

Padahal tempat duduk untuk para calon penumpang sudah disediakan, tapi Dino tidak bisa setenang orang yang sedang menunggu kereta sambil duduk. Bagaimana ia bisa tenang setelah mendengar seseorang melihat adiknya hidup kembali?

Tiba-tiba, suara kereta masuk terdengar. Dino cukup lega mendengarnya, tapi ternyata itu kereta di jalur lain. Dino sempat mengalihkan pandangannya kepada kereta tersebut. Kereta tersebut datang dari Nakano. Setelah kereta itu menurunkan penumpang, kereta pun kembali berjalan.

Setelah kereta itu berlalu, terlihatlah dua orang penumpang yang baru saja turun dari kereta itu. Dua orang itu sangat menarik perhatian Dino. Dua orang itu masing-masing memiliki surai cokelat spiky dan surai blonde tidak spiky namun cukup berantakan.

Rasanya Dino sangat mengenali orang bersurai cokelat itu. Dengan setengah berlari, Dino menghampiri dua orang tersebut yang berjalan menuju pintu keluar stasiun. Sepertinya langkah Dino tidak akan membawanya ke sana tepat waktu.

"Tsunayoshi…!", teriaknya begitu keras.

Dino sudah tak tahan lagi. Dan ternyata, orang bersurai cokelat itu menoleh kepadanya. Dino melebarkan pupilnya. Meskipun dari jarak yang cukup jauh, Dino bisa melihat, orang itu benar-benar Tsunayoshi. Dino sangat mengenali orang itu.

Orang yang dimaksud pun hanya melempar pandangan penuh tanya. Dino mulai beraut sedih, apakah Tsunayoshi benar-benar tidak mengingat Dino dan dirinya sendiri?

"Ada apa, Tsuna?", tanya laki-laki bersurai blonde kepada orang yang ada di sebelahnya.

"Itu, tadi ada yang memanggilku?"

"Orang aneh lagi? Sudahlah biarkan saja. Ayo kita pulang."

Laki-laki bersurai blonde itu langsung menarik tangan laki-laki bersurai cokelat itu dan mengajaknya pergi. Dino yang melihat itu, baru pertama kali merasa hatinya begitu tercabik-cabik. Rasanya perih sekali. Bak luka merah yang masih basah disiram air garam.

.

.

.

"na…"

"Tsuna…"

"Tsuna!", Dino langsung membuka matanya lebar-lebar. Sungguh ini adalah mimpi terburuknya. Saat ia menoleh kea rah lain, ia melihat dengan sangat jelas Enma sedang duduk di sampingnya. Ekspresinya begitu khawatir dan bingung.

"Ohayou gozaimasu, Dino-san.", Enma mencoba tersenyum untuk menyemangati mantan pelatihnya itu.

"Enma, kenapa kau bisa ada di sini? Kapan aku memberitahu di mana apartmenku?", Dino langsung mendudukkan tubuhnya dan melihati Enma lekat-lekat.

"Dino-san lupa? Semalam kau memberitahu alamatmu kepadaku, lewat telepon. Dan kebetulan saat aku datang tadi, sepertinya kau lupa mengunci pintu."

"Hari ini, hari apa?"

"Ini hari minggu."

"Maaf, Enma. Rasanya otakku tidak bekerja dengan baik sejak kemarin."

"Apa Dino-san baik-baik saja? Kau sakit?"

"Tidak. Aku sangat sehat. Tapi, akalku sudah tidak sehat."

"Ke-kenapa kau bilang begitu?"

"Kau pasti tidak percaya jika aku menceritakannya, jadi percuma saja."

Enma seakan mengerti apa yang sedang dirasakan mantan pelatihnya itu. Enma memilih untuk diam dan segera mencari topic pembicaraan yang lain agar tidak canggung.

"Bagaimana kalau aku membuatkanmu sarapan? Kau pasti lapar, kan? Apalagi setelah melewati mimpi buruk.", 'Apa aku salah ucap..?', takut-takut Enma salah berkata.

"Baiklah. Tolong buatkan aku sarapan ya.", ucap Dino selembutnya. Cukup untuk memunculkan semburat merah di pipi Enma.

"A-aku… akan segera membuatnya. Kau mandi saja dulu. Aku sudah menyiapkan air hangatnya.", Enma langsung beranjak dari posisinya semula dan bergegas menuju dapur. Maksudnya, agar Dino tidak melihat wajahnya yang bersemu merah.

Dino juga segera beranjak dari tempat tidurnya dan membereskannya. Demi apapun, jika Dino melihat Enma tak ada bedanya dengan melihat Tsunayoshi. Lagi-lagi ia teringat dengan kejadian kemarin sore. Jika mengingat itu kepala Dino terasa dibentur batu besar.

Dengan sangat tiba-tiba, Dino langsung menyambar ponselnya dan segera mungkin menelpon Hibari.

"Ada apa?", telepon pun langsung tersambung.

"Kau benar…", kalimat pembuka yang sangat singkat memang.

"Apa yang benar?", Hibari pun mengakui bahwa dirinya tidak mengerti dengan ucapan Dino barusan.

"Aku melihat Tsunayoshi di stasiun kemarin, sepertinya dia habis dari Nakano."

"Aku memang selalu benar. Kapan aku berbohong. Apa yang aku katakan sama menyakitkannya dengan kenyataan."

"Kyoya, apa maksudmu-"

Sambungan pun segera diputus oleh Hibari. Yah Dino juga sadar bahwa pembicaraan mereka tadi tidak jauh dari kata fantasi.

Tanpa disadari, Enma mendengar percakapan Dino dengan mantan pacarnya itu dari balik pintu. Entah apa yang membuatnya begitu nekat, ia langsung membuka pintu kamar Dino tanpa mengetuknya.

"Kau habis menelpon siapa, Dino-san?"

Dino yang sedang melamun pun, langsung tersadar dan melihati Enma yang berdiri canggung di ambang pintu. "Itu.. aku menelpon temanku."

"Teman ya? Bukan mantan pacar?"

Dino membulatkan matanya, demi apapun apa maksud bocah berplester di hidungnya itu? "Kalau begitu, kenapa? Kau cemburu?"

"Ya. Aku cemburu.", 'Tak ada yang perlu disembunyikan lagi…', "Sangat cemburu."

Dino malah membuang muka dan tak merespon apapun kepada Enma.

"Bagaimana rasanya jika ada seseorang yang membutuhkanmu, tapi kau tak pernah menghiraukannya. Apa kau merasa baik-baik saja?", ucap Enma tiba-tiba.

Perhatian Dino kembali teralihkan. Ia mengkerutkan dahinya, merasa janggal dengan ucapan Enma barusan. Apa tokoh seseorang dalam ucapannya adalah dirinya sendiri?

"Maaf, aku ngelantur.", Enma menggaruk kepalanya yang tak gatal.

"Enma.. apa maksud perkataanmu tadi?"

"Bukan apa-apa. Aku ingin keluar sebentar untuk membeli minum.", ucapnya terburu-buru lalu segera pergi keluar.

.

.

.

Enma pergi ke minimarket terdekat dari apartmen Dino. Padahal di lantai dasar apartmen ada mesin penjual minuman. Tapi entah mengapa Enma ingin pergi menjauh sebentar. Meskipun ia tak pernah berkeliling di kota Tokyo ini, tapi untuk jalan-jalan sebentar tak apa, kan?

Setelah menyelesaikan urusannya di minimarket, ia menyempatkan diri untuk berjalan-jalan sebentar. Ia agak bosan dan muak berada di apartmen Dino. Terlebih lagi setelah mendengar percakapan Dino dengan mantan pacarnya lewat telepon tadi. Rasanya hati Enma seperti tersayat saja. Enma kira semua akan berjalan dengan lancar setelah perpindahan Dino ke Tokyo. Namun ternyata tak sesuai harapan.

Ia menyusuri jalan yang cukup ramai. Berbagai macam toko ia lihat di sana. Dan entah mengapa dari tadi Enma melihat toko baju terus. Tiba-tiba, perhatian Enma teralihkan oleh seseorang. Seorang anak bersurai cokelat spiky dan memiliki tinggi tubuh setara dengannya. 'Apakah itu…?'. Rasa penasaran Enma menang telak. Ia membuang jauh-jauh keraguannya. Ia segera mengikuti anak itu melangkah. Yang ia inginkan sekarang adalah siapa anak itu sebenarnya?

Enma terus mengikutinya dengan tenang agar tidak dicurigai anak itu. Sepertinya Enma sudah mengikutinya cukup jauh, karena mereka sudah jauh dari keramaian. Enma sudah tidak peduli lagi dengan bagaimana ia bisa pulang setelah dari sini.

Lima menit berikutnya, anak itu berhenti di sebuah rumah yang cukup besar. Desainnya sederhana, sama seperti rumah biasa pada umumnya, hanya saja lebih besar. Anak itu segera menghilang dari balik pintu rumah. Enma hanya bisa terdiam heran di depan rumah itu. 'Apa aku harus menyusup masuk juga? Jangan konyol.'

.

.

.

Sudah hampir tiga puluh menit Enma tak kunjung kembali. Sudah tak heran lagi kalau Dino khawatir. Enma hanya ingin membeli minuman dan hampir setengah jam belum kembali juga. Padahal di lantai dasar ada mesin penjual minuman, walaupun ia beli di minimarket juga tidak mungkin akan selama ini. Jarak dari apartmen ke minimarket dapat ditempuh dalam waktu lima menit. Dino sudah sangat yakin tujuan Enma bukan hanya ingin membeli minuman semata.

Satu jam ia diam di depan tv dan Enma belum kembali juga. 'Bocah ini benar-benar keterlaluan!', Dino menjerit dalam hati. Oh ayolah jangan bilang Enma mencari supermarket yang ada di tengah kota untuk membeli minuman. Ini benar-benar tidak beres. Dino segera mencari ponselnya, tanpa pikir panjangn segera menghubungi nomor Enma yang sudah ada di ponselnya.

Hampir satu menit, bunyi nada sambung belum berhenti juga. Artinya Enma belum mengangkat teleponnya sedaritadi. 'Ah, sial kemana bocah itu?', gerutu Dino. Enma tidak mungkin kembali ke Namimori tanpa memberitahunya. Dino meletakkan ponselnya dengan kasar dan membaringkan tubuhnya di sofa.

.

.

.

Mengikuti orang yang sepertinya dikenal mungkin masih biasa, tapi untuk kali ini menyusup ke rumah orang yang belum diketahui identitasnya sama sekali bisa jadi merupakan tindak kriminal. Itulah yang dilakukan Enma sekarang. Rasa penasarannya membawa ia masuk ke dalam rumah besar itu.

Sudah hampir dua puluh menit, Enma berputar-putar di dalam rumah itu. Singkatnya ia tersasar. Ia tak bisa menemukan jejak anak bersurai cokelat itu. Ditambah lagi Enma tidak akan tahu bagaimana nasibnya jika ia ketahuan sedang menyusup.

Enma kembali berjalan untuk mencari anak itu. Tiba-tiba di depannya ada sebuah pintu yang terbuka. Dari sana tercium bau asap rokok yang sangat menyengat. Lagi-lagi rasa penasarannya membawa ia mendekat ke ruangan itu dan sedikit mengintip apa yang ada di dalamnya.

Di dalam ruangan itu, terdapat empat orang laki-laki sedang duduk melingkari sebuah meja sambil menghisap rokok. Mereka sedang bermain kartu. Beberapa uang dan asbak penuh sampah rokok memenuhi meja tersebut. Mungkin mereka sedang berjudi? Entahlah Enma juga tidak mengerti.

Enma kembali melangkah menjauhi ruangan tersebut dengan sangat pelan. Melihat di depannya ada belokan, Enma segera berbelok ke kiri. Baru saja ia berbelok, ia mendapati orang yang dicarinya. Anak bersurai cokelat spiky sedang berjalan di depannya. Enma segera mempercepat langkahnya.

Akhirnya, Enma bisa menggapai pundak bocah itu. Si empunya pundak pun langsung menoleh ke arahnya dan memandangnya penuh tanya.

"Si… siapa kau..?", tanya anak itu.

"Tsunayoshi… san?", Enma berusaha memanggil anak itu.

"Ke-kenapa kau bisa mengenalku? Kau pasti bukan orang dari 'sini', kan?", yang dipanggil Tsunayoshi pun semakin heran.

"Apa yang kau bi-"

"Oya, siapa anak manis ini, Tsunayoshi?"

'Siapa lagi dia?!', batin Enma panik. Ia melihat seorang laki-laki yang lebih tinggi darinya, berdiri di belakang Tsunayoshi dengan tatapan tajam dari manik dua warna itu.

"Mungkin saja dia tersesat.", ucap Tsunayoshi begitu polos.

"Kau tersasar rupanya?", tanya laki-laki itu semakin mendekatkan wajahnya kepada Enma.

"A-aku… aku hanya ingin bertemu dengan Tsunayoshi, sungguh!", Enma pun semakin panik.

"Hm?", laki-laki itu menatap Tsunayoshi sekilas, lalu kembali menatap Enma. "Apa kau kenal dengannya, Tsunayoshi?"

"Aku sama sekali tidak mengenalnya.", lagi-lagi Tsunayoshi berkata dengan entengnya. Dia sendiri tak sadar bahwa ia sedang menjerumuskan orang tak bersalah ke dalam masalah.

"Jadi… kau datang dari mana, anak manis?", lelaki itu semakin mendekatkan wajahnya kepada Enma. Enma pun tak tahu apa yang harus dilakukannya. Ia merasa jika ia hanya melarikan diri, ia malah tertimpa masalah yang lebih besar lagi.

"Aku… hanya mengikutinya.", merasa tak ingin disalahkan, Enma membela diri.

"Dan apa urusanmu dengannya? Padahal ia tidak mengenalmu sama sekali.", ucap lelaki itu sinis.

"Aku mengikutinya… karena kakakmu mencarimu, Tsunayoshi! Dino-san sedang mencarimu! Ia menderita tanpamu!", ucap Enma tak ingin kalah.

Nama yang diucapkan Enma pun memberikan pergerakan di hati Tsunayoshi. Tsunayoshi berpikir dalam-dalam, apa ia memiliki kakak? Seingatnya tidak. Tiba-tiba sekelebat ingatan yang begitu buram muncul di dalam pikirannya. Memberikan rasa pening yang cukup memilukan.

Tsunayoshi memegangi kepalanya yang terasa sakit. "Ada apa, Tsunayoshi?", tanya lelaki tampak sangat khawatir.

"Tidak apa, Mukuro-san. Sepertinya aku butuh istirahat.", Tsunayoshi segera membalikkan badannya dan pergi meninggalkan mereka berdua.

Enma hanya menatap punggung Tsunayoshi bingung. Ada apa dengan Tsunayoshi yang sekarang? Lelaki yang disebut sebagai Mukuro itu, kembali mengalihkan perhatiannya kepada Enma. Enma kembali bergidik ngeri.

"Rupanya, kau mau mencari masalah ya.", Mukuro langsung menarik baju Enma dan menggeretnya entah kemana.

"Lepaskan aku!", merasa terancam, Enma pun memberontak.

"Bersikaplah sebagai anak manis.", ucap Mukuro pelan namun mengerikan.

Cukup jauh Mukuro menggeret Enma. Hingga mereka sampai di sebuah ruangan yang hanya dihiasi cahaya lilin yang berderet di dinding. Enma menggenggam ponselnya erat-erat sambil berusaha menghubungi Dino.

Tak disangka Dino menjawab telepon dari secepat itu. "Enma kau ada di mana?"

"Dino-san, tolong-!"

Mukuro langsung melempar Enma hingga punggungnya mencium dinding dengan keras. Ponselnya pun terlempar juga entah kemana. Mukuro semakin merapatkan tubuh Enma ke dinding.

"Mencoba menghubungi seseorang hah?", ia menarik dagu Enma. Sudah tak perlu ditanya lagi seberapa dekat wajah Enma dengan Mukuro.

"Ka-kau mau apa?!", tanya Enma takut-takut.

"Em..", Mukuro menjilat sendiri bibirnya seakan Enma adalah santapan lezat. "Ingin memberimu sedikit pelajaran." , di detik berikutnya Mukuro membuka sendiri kancing kemeja yang ia kenakan.

"Tu-tunggu…", Enma pun semakin panik.

Mukuro langsung menangkup wajah Enma dengan kedua tangannya dengan kasar. Lalu menciumi wajahnya dengan rakus.

"TIDAK! HENTIKAN!", Enma menjerit.

.

.

.

Dino terdiam dengan mulut menganga saat mendengar jeritan Enma dari seberang telepon.

"Enma…"

.

.

.

To be continued.


Eyo eyo! Aku update lagi kan? Ga boong kan?

Maaf ya kalau apdetnya kelewat telat. Yah author tahun ini akan sangat sibuk sekali. Mengingat tahun ini adalah tahun terakhir author bersekolah. Doakan author agar selalu sehat ya readers ;)

Ada sedikit bocran nih. Jadi Mukuro adalah yakuza yang paling ditakutin di Tokyo. Tsunayoshi sekarang tinggal dengan Mukuro di rumah aka markas yakuza. Tapi Tsunayoshi nya ga tau kalau ternyata dia itu diasuh sama seorang yakuza. Dikit banget ye bocorannya.

Seperti biasa arigatou gozaimasu bagi silent readers ataupun yang non silent yang sudah mengikuti fic ini dari awal sampe sini. Jangan lupa tinggalkan salam tempel aka review ya readers ;)

Sampai bertemu di chapter berikutnya!

Ja~