Todomatsu yang tadinya asyik bermain telepon pintar miliknya melirik ke arah Karamatsu yang duduk di jendela. Sesuatu menggelitik rasa ingin tahunya.
"Nee, Choromatsu-niisan. Belakangan ini Kak Karamatsu benar-benar tidak ada keluar, ya?" kata adiknya itu senada menerka. "Ini sudah beberapa hari sejak dia keluar dari rumah sakit. Apa dia sungguh sudah baik-baik saja?"
"Aku kira sudah," balas Choromatsu setengah peduli, sedang membaca majalah kualifikasi yang tak pernah ia tekuni petunjuk praktisnya.
"Yang pasti, lah, Kak," gerutu Todomatsu. Pria di hadapannya itu menyipit seakan waktu pribadinya sedang diganggu oleh si bungsu.
"Hish, yang benar saja." Todomatsu membuang muka, sebal dengan respons kakaknya.
Osomatsu muncul menggebrak pintu. "Karamatsu! Pachinko, yuk! Ada mesin baru, loh!" Kemudian ia baru tahu kalau ada dua adik lainnya lagi yang sedang berada di dalam ruangan. "Choromatsu! Todomatsu! Mau ikutan juga?"
"Lagi nggak pengin," balas Todomatsu sembari mengibas salah satu tangannya.
"Kau itu nggak ada kerjaan selain judi, apa? Sumpah, ya! Jadi kakak kok nggak guna banget. Nggak guna sebentar boleh, tapi sampai kapan kau mau begitu?" omel Choromatsu pada kakak sulungnya. Osomatsu sudah malas kalau adik yang satu ini begini.
"Dek, jadi orang nggak usah berlagak terus bisa, 'kan? Kalau yang ngomong ke aku karyawan yang seenggaknya udah raih jabatan supervisor aku bakal kicep, deh." Osomatsu melirik sinis. "Sumpah, ya, Dek. Kau itu kadang buat aku muak."
Choromatsu membalas. "Setidaknya aku berusaha!"
"Tapi setengah-setengah."
"Mending daripada enggak sama sekali!"
"Justru setengah-setengah itu yang nggak baik! Iya, iya! Enggak, enggak sekalian!"
Anak pertama dan ketiga itu cekcok tanpa henti. Todomatsu rasanya mau tutup telinga saja saking berisiknya mereka. Ia hendak mengucap sepatah kata, namun sudah ada yang mendahului walau samar-samar.
"Diamlah, kalian. Aku tidak nyaman mendengarnya." Suara ringan bariton Karamatsu keluar dari tenggorokannya. Orang yang dituju belum berhenti bicara juga sampai membuat Karamatsu menoleh ke belakang. "Burazza. Jangan berisik." Ia menguatkan suaranya, namun di telinga Todomatsu itu seperti orang yang berbicara biasa.
"Hei, kalian berdua. Sudahlah, hentikan! Karamatsu-niisan juga suruh kalian berhenti!"
Cicit burung masih terdengar merdu. Lah, ini?
"Hei!"
"Todomatsu jangan ikutan teriak juga …." Suara Karamatsu kembali memelan. Todomatsu tak dapat mendengarnya dan ia sibuk menenangkan kedua saudaranya hingga ia ikut terjun dalam pertikaian searah menjadi segitiga. Karamatsu memegangi kepalanya yang terasa nyeri. Ia tak dapat menahan walau sudah merasakan jenis sakit yang sama beberapa kali. Badannya tumbang ke belakang menubruk lantai. Debum raganya yang kemudian membuat ketiga saudaranya berhenti bertekak.
Jyushimatsu dan Ichimatsu baru saja datang setelah sang ibu masuk ke ruangan dokter. Ketiga kakaknya menunggu di depan pintu. Choromatsu was-was. Todomatsu antara kecut dan cemas. Sementara, Osomatsu menggigit kuku ibu jarinya berlaku tak sabar terlalu lama menanti.
"Kak Karamatsu kenapa lagi, sih?" celetuk Todomatsu yang bernada tidak enak.
Ichimatsu langsung menyerangnya. "Oi, Todomatsu. Kau tahu kau berkata seperti kau menyalahkan dirinya atas setiap keadaannya yang seperti ini?"
"Apa, sih, Ichimatsu-niisan! Kalau bicara jangan belepotan!"
"Todomatsu!"
"Diam!"
Osomatsu dan Choromatsu menegur si bungsu. Mereka berdua ditegur pegawai rumah sakit. Semua bungkam. Suasana kembali tegang. Derap langkah mendekat membuat mereka semua menoleh. Sang ibu telah di depan mata.
"Mulai sekarang rumah harus tenang, atau Karamatsu menginap di sini." Matsuyo menjelaskan. "Ia sedang tidak bisa berada di lingkungan yang berisik. Ia bukan hanya membutuhkan istirahat, melainkan juga ketenangan."
Tidak ada yang ingin membantah. Osomatsu menggigit bibir. Niatnya menjaga sang adik serasa pupus termakan omongan. Ia kesal pada dirinya yang suka tidak berpikir panjang dalam bertindak. Si sulung menyalahkan dirinya. Ia bukan panutan. Ia tidak bisa dijadikan kakak.
Di saat yang sama ia tak terima dengan anggapan itu. Benar-benar tak terima. Kepalanya panas dan hampir mengeluarkan asap kalau Choromatsu tidak menepuk pundaknya.
"Kak," panggilnya pelan. Hanya itu. Tak ada lanjutan lain lagi yang terucap sang adik, namun aliran darah Osomatsu menjadi normal kembali. Ia membalasnya dengan senyum jenaka khas miliknya.
Matsuyo menatap kelima anaknya. "Ibu ada urusan. Kalian ingin di sini saja?" tanyanya. "Dokter bilang Karamatsu paling cepat akan terbangun sore, tapi bisa saja malam nanti dia baru bangun."
"Nanti aku akan pulang sebelum petang," ucap Choromatsu membalas ibunya.
"Baiklah. Ibu serahkan pada kalian, ya." Matsuyo mulai beranjak pergi.
Setelah bayangan sang ibu menghilang, Osomatsu sebagai yang tertua meraih bagian gagang pintu dan menggesernya pelan. Kemudian, kepalanya melongok ke dalam ruangan. Ia lega melihat Karamatsu yang masih memakai kaos berlengan panjang biru lautnya tanpa ditambati peralatan medis apa pun. Sang kakak merah masuk diikuti yang lain. Walaupun setiap Karamatsu masuk rumah sakit ia ditempatkan di ruangan yang berbeda dengan sebelumnya, namun kelima saudaranya tetap mengambil posisi berkunjung yang sama seperti ketika lelaki biru itu pertama kali masuk ke rumah sakit sebagai seorang pria dewasa. Osomatsu yang duduk di sofa kecil berlengan persis di depan ranjang Karamatsu. Choromatsu dan Todomatsu yang duduk di sofa panjang sebelah Osomatsu, terpisahkan oleh meja yang diisi vas bunga. Terakhir, Jyushimatsu dan Ichimatsu yang duduk di lantai menghadap sisi kiri ranjang Karamatsu.
Sepi. Semuanya sibuk dengan pikiran masing-masing.
Malam sudah berlalu lama. Bulan purnama terang benderang tanpa ditemani bintang. Mata Karamatsu membuka atas izin Sang Pencipta. Ia mendudukkan diri. Badannya rileks seakan ia telah mengeluarkan seluruh energi negatif yang terdapat dalam dirinya. Di saat bahunya sudah tegaklah tatapannya bertemu dengan Osomatsu.
"Oh, brother." Ia bersikap biasa. "Menungguku bangun?"
"Pake tanya." Yang menjawab Todomatsu. Osomatsu hanya melirik ke arah adik bungsunya itu. Si merah muda berdiri, menghampiri kakaknya.
"Bagaimana?"
"Aku tak apa, kok."
"Kalau tak apa kenapa bisa sampai masuk rumah sakit lagi?"
"Todomatsu." Osomatsu menegurnya. Lelaki berpenutup kepala cokelat itu mencebik, lalu membuang muka. Wajah Karamatsu menjadi sendu melihatnya.
"Maaf, Todomatsu," ucapnya menyesal.
"Tidak perlu, Karamatsu." Osomatsu masih duduk di tempatnya. "Ini salahku. Gara-gara aku, kami bertiga bertengkar dan itu membuatmu pusing. Aku benar-benar minta maaf."
Mata Karamatsu kontan melebar. Ia tak ingat Osomatsu pernah menjadi orang yang setidaknya tegas untuk sekali.
"Todomatsu," panggil kakak merahnya lagi, mengisyaratkan hal lain.
"Apa? Aku kan mencoba menghentikan kalian karena aku tahu Kak Karamatsu—"
"To-do-ma-tsu." Ia memanggilnya lagi seperti mengeja. Wajah adiknya itu berubah kecut.
"Aku minta maaf, Kak." Namun, ia tulus mengatakannya. Suaranya lembut. Lebih mengenakkan daripada suara-suara biasanya yang mencoba dibuat imut. Karamatsu tahu bahwa takkan ada yang bisa mengalahkan keindahan nada dari orang yang tulus mengeluarkannya.
"Tidak apa, Todomatsu." Ia tersenyum padanya. Lelaki itu harap perlakuan saudaranya akan terus begini.
Karamatsu mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru ruangan. "Choromatsu di mana?"
"Pulang duluan tadi sore. Melakukan pekerjaan rumah yang bisa ia urus," jawab Osomatsu.
Karamatsu kembali melihat Ichimatsu dan Jyushimatsu yang duduk di lantai. Ia memandang keduanya heran. "Kalian kok duduk di bawah? Kenapa tidak duduk dengan Totty di sofa?"
"Kami sudah nyaman dengan posisi kami duduk!" jawab Jyushimatsu ceria, lalu disusul tawa. Lelaki biru itu memfokuskan pandangannya pada Ichimatsu yang duduk memeluk lutut. Matanya melirik ke samping, sedangkan wajahnya ia pendam semakin dalam di balik paha. Mungkin Karamatsu tahu kenapa dua adiknya bersikukuh mempertahankan posisi duduk mereka.
Walau begitu, ia tetap memberi tahu mereka. "Di lantai kan dingin. Kalian bisa masuk angin nanti."
"Ichimatsu-niisan bisa memelukku kok kalau dia kedinginan. Aku kan selalu hangat, Kak," kata Jyushimatsu sambil mesem.
"Apa-apaan, Jyushimatsu," ucap kakak termudanya yang sedang dalam mode bete itu.
"Hehehe, tapi aku beneran hangat loh, Kak." Jyushimatsu masih setia memasang senyum lebarnya pada sang kakak.
Karamatsu terkekeh geli melihat keduanya. Suara langkah Osomatsu membuat dirinya menoleh kemudian. Ia melihat lelaki itu memencet tombol untuk memanggil dokter di dinding samping kepala ranjang Karamatsu.
Hari ini cuacanya mendung. Karamatsu dan Osomatsu menghabiskan waktu bersama di atap rumah, sementara yang lain sedang keluar rumah dengan tujuannya masing-masing. Peristiwa yang jarang terjadi. Biasanya Ichimatsu hanya sebentar untuk mengecek kucingnya di salah satu gang yang sering ia datangi, namun sudah lebih dari tiga jam anak keempat Matsuno itu belum pulang. Biarlah, batin keduanya. Waktu berdua mereka sedang tidak ingin diinterupsi.
"Osomatsu-niisan," panggil adik birunya itu dengan panggilan jarang-jarang. Osomatsu mengerti arah pembicaraan akan menjadi serius meski ini baru permulaan.
"Ya, Karamatsu." Sang kakak menjawab setelah sekian detik Karamatsu belum melanjutkan.
"Belakangan ini aku merepotkan, ya?" katanya, namun masih ada keraguan di suaranya. Keraguan yang bergejolak tak mau dikatai merepotkan.
"Jangan salahkan dirimu kalau belakangan ini sudah masuk rumah sakit dua kali, Karamatsu," ucap kakaknya. "Ada apa?"
Ia menanyakan kondisi Karamatsu yang sebenarnya. Osomatsu bisa saja bilang semua manusia itu bisa sakit, 'kan. Kita mana tahu apa yang akan terjadi ke depan. Namun, ia yang paling tahu bagaimana fisik seorang Karamatsu. Kalau mau diamati, tubuh Karamatsu sebenarnya lebih 'berbentuk' dibanding dengan saudara yang lain. Memang, otot lengannya tak sebesar Jyushimatsu yang selalu berlatih mengayun tongkat baseball—atau kegiatan menguras tenaga lainnya yang keluarga Matsuno tidak ketahui.
Jauh hari sebelum kejadian Karamatsu dihajar preman tiga bulan yang lalu, Osomatsu mendapati sesekali kalau Karamatsu pamit ke gimnasium. Dia, sih, tak heran-heran saja karena menurutnya mungkin Karamatsu sedang melakukan tahap lain untuk menjadi pria keren dari majalah yang dibacanya—yang menurutnya menuju ke arah yang lebih benar sehingga ia membiarkannya, berlaku tak acuh saja. Ia yakin, Karamatsu pasti lumayan sering melatih tubuhnya karena bukannya setiap hari ia selalu tahu apa yang dilakukan adiknya itu. Dengan begitu, Karamatsu tergolong pria yang sehat—lebih sehat dibanding Choromatsu yang sering ketahuan sedang membaca majalah miliknya dan ia sendiri yang sering mampir ke toko hanya untuk mendatangi tempat koleksi pornografi kesukaannya. Karamatsu memang cowok, tapi ia belum separah itu. Paling sesekali menonton bareng.
Ah, dia lupa kapan menonton bersama adik pertamanya itu.
Ia menoleh ke wajah Karamatsu yang menatap atap rumah di bawahnya.
"Nggak apa-apa, Kak." Ia menjawab lemah.
Osomatsu mendengus. "Ceritalah, Karamatsu." Ia mencoba untuk tidak kelihatan mendesaknya. "Kalau kau tidak bilang, orang mana tahu apa yang sebenarnya kau inginkan."
Karamatsu lantas menatap wajah sang kakak. Ada rasa tak nyaman yang hinggap. Ia bimbang. Ia malu. Ia takut. Ini hanya pikiran buruk sepintas lalunya yang sering mampir di waktu-waktu tertentu. Apakah berlebihan jika menceritakan ini pada kakaknya?
Tidak cerita, semuanya akan berlalu begitu saja, dan pikiran-pikiran itu akan terus bertengger dalam kepalanya. Tak pernah hilang, karena perilaku saudaranya takkan pernah selalu sama.
"Apakah aku dibenci?" Karamatsu akhirnya mau mengeluarkan suara. Osomatsu masih menatapnya tanpa ekspresi. Selain Ichimatsu yang berusaha meyakinkannya, ia takut kalau-kalau saudaranya yang lain justru benar-benar membencinya. Choromatsu sering memarahinya. Todomatsu sering mengatainya norak dan malu kalau berada di dekat kakaknya satu itu. Jyushimatsu? Ia sepertinya tidak mengerti apa-apa—karena itu. Karena itu Karamatsu tidak bisa benar-benar terbuka pada sang adik yang hiperaktif dan hanya berusaha untuk menikmati momen berdua yang bisa membuat adiknya senang. Karamatsu senang kalau adiknya senang.
Kalau Osomatsu? Orang yang paling transparan dalam keluarga Matsuno itu yang sejujurnya paling tidak bisa ditebak. Kadang ia mendiamkan Karamatsu tanpa alasan. Mungkin suasana hatinya kala itu sedang buruk, tapi kau tahu kan Karamatsu pikirannya suka ke mana-mana?
Pokoknya, yang Karamatsu butuhkan sekarang hanyalah seorang teman untuk bercerita, sebelum ia kembali pada suatu titik yang akan menjerumuskannya lebih dalam lagi.
"Aku takut … dibenci—"
"Tidak ada yang membencimu, Karamatsu." Osomatsu bertekad untuk benar-benar meyakinkannya. "Kau menyakitkan bukan berarti kau harus dibenci. Aku sudah pernah bilang, 'kan? Jadi dirimu sendiri saja. Tak usah pedulikan apa kata orang." Ia berhenti sebentar. "Lagi pula, apa ada yang pernah bilang begitu padamu? Paling-paling, Ichimatsu. Tapi kau sebagai kakak harusnya tahu kan sifat adik-adikmu bagaimana. Bahkan, Choromatsu yang paling bawel serumah tidak pernah berkata begitu."
Karamatsu memeluk lututnya, memandang arah bangunan lain. "Tetapi aku tidak sebaik dirimu, Osomatsu-niisan."
"Aku pun tidak sebaik dirimu, Karamatsu." Osomatsu menatap langit abu-abu. "Tentu sajalah. Adikku yang satu ini benar-benar baik. Super baik malahan."
"Kau berlebihan, Osomatsu." Suara berat Karamatsu akhirnya muncul.
"Berlebihan ketika kau diminta tolong dan untuk berkata tidak ingin saja susahnya minta ampun?" Osomatsu masih mengatur supaya intonasi ucapannya tidak seperti sedang menekan Karamatsu. "Kalau kau terus begitu nanti ketika kau terjun ke masyarakat yang ada kau ditindas, Karamatsu. Aku tak rela kalau kau ditindas oleh siapa pun."
"Cuma aku yang boleh menindas Karamatsu."
Kedua kakak beradik itu menoleh ke belakang. Kepala Ichimatsu menyembul dari bagian atap yang lain.
"Sok-sok tidak rela kau, Kak. Tiap hari lihat adikmu ditindas juga," celetuk Ichimatsu. Perasaan diintimidasi berdenyar di sekitar Karamatsu.
"Kalau yang itu sih beda, dong." Lalu, Osomatsu tertawa renyah. "Masa adik sendiri tega menindas kakak?"
"Lah, selama ini yang kau lihat apa?" Lelaki ungu itu sudah duduk di antara mereka, agak ke belakang.
"Kelakuan sayang malu-malu kucing yang kau berikan~" Osomatsu mengatakannya dengan suara bernada. Sayang, humor Karamatsu sedang tidak sereceh itu untuk tertawa terbahak-bahak.
"Bicara lagi kalau mau kuludahi," ancam Ichimatsu garang.
"Jangan kejam-kejam dong, Dik," balas Osomatsu masih senada menggoda. "Kasihan kakakmu ini. Lagi curhat malah diganggu. Sudah berapa lama kau di sana?"
Ichimatsu melirik ke serong atas. "Uh, barusan kok. Ketika kudengar ada perkataan 'terjun ke masyarakat'." Kemudian, Ichimatsu memandang kakak birunya itu. "Apa yang dikatakan Osomatsu-niisan benar, Karamatsu. Kau itu jangan terlalu baik. Marahlah sekali-sekali. Aku itu menindasmu karena ingin melihat kau marah."
Karamatsu terbeliak. Ia tak pernah menyangka alasan di balik perbuatannya kepada dirinya selama ini ternyata demikian.
"Sekarang ini, yang ada kau malah tertawa sok remeh sebagai balasan untukku. Jangan gila, lah. Aku takut, nih." Ichimatsu menunjukkan bagian dirinya yang jarang sekali bisa dilihat oleh saudaranya. Mungkin ia merasa tak apa. Lagi pula pada akhirnya mereka saudara, terlebih yang di hadapannya kini adalah dua kakak tertuanya.
Tak apa. Sesekali. Namanya juga saudara.
Perasaan tak nyaman yang tadi mampir pada diri Karamatsu seketika menghilang. Ia bertopang pipi sambil menarik salah satu sudut bibirnya ke atas sedikit. "Aku rela gila demi adikku, kok."
"Nonton JAV bareng, yok?!" teriak Ichimatsu kembali jengkel. Osomatsu yang melihat mereka berdua sampai terpingkal-pingkal.
"ICHIMATSU NGEGAS BANGET NGAJAK ABANG SENDIRI NONTON JAV HAHAHAHA MAU DIAJAK NONTON YANG SESAMA, DEK?" Osomatsu tak mampu mengatur volume suaranya lagi.
"Lah, ini satu mau kuhajar beneran?! Nonton bertiga kita!" Ichimatsu sudah meraih kerah baju Osomatsu, namun Karamatsu menahan tangannya supaya tidak memukul. Ichimatsu berpaling dengan pandangan tak suka yang menusuk.
Karamatsu spontan memekik, "Jangan tatap aku kek gitu juga, lah, Dek!"
Air muka Ichimatsu berubah bengong. Osomatsu berlaku sama. Keduanya terdiam, dan Karamatsu menjadi bingung akan perubahan tingkah mereka yang mendadak.
"Pfft!" Ichimatsu tak mampu menahan. Gelaknya mengudara sampai angkasa. Osomatsu ketularan adiknya, dan Karamatsu pun ikutan tertawa karena seketika kebahagiaan menghampirinya.
Rintik-rintik hujan mulai turun dan mereka masih belum berhenti.
Yeash plot hole bertebaran wakakakakaka.
NEXT ▶▶
