Disclaimer: "I don't own all characters in here. They are belongs to them selves. If I can, I would do it ! xD I don't own the story. The original story made by Guiyeon. I just insipired by her story. I make no money from this—please don't sue me. "
Title: SHINE
Based on manhwa: "That Guy Was Splendid" by Guiyeon
Author : blackorange aka nda
Rating : T
Main Casts: Kim Jaejoong, Jung Yunho, Park Yoochun, Kim Junsu, Shim Changmin
Other Casts: Shirota Yuu, TOP, Tiffanny, Jessica
Genre : AU, crack, romance, fluff, humor, school life.
Length this chapter : 34 pages MsW
"Eleven: Kiss"
"Apa kalian tidak tahu kalau sekarang sudah lewat jam tengah malam, Junsu? Changmin?" desis Boa sambil melipat kedua tangan di depan dada ketika melihat dua bocah yang sudah berdiri di depan pintu rumahnya. Ia menatap sebal keduanya ketika tadi tiba-tiba saja ia menerima telepon dari Junsu yang meminta tolong padanya untuk membukakan pintu ketika ia sedang fokus dengan chatting nya.
"Kami tahu nuna~~ tapi tolong ijinkan kami untuk menemui Jaejoong." Ucap Junsu memohon sambil mengatupkan kedua tangannya. Ia tidak punya pilihan lain selain menelpon Boa dan meminta tolong padanya untuk membukakan pintu kediaman keluarga Kim ketika ia tidak bisa menghubungi ponsel Jaejoong.
"Aku rasa dia sudah tidur. Dia tidak keluar dari kamar semenjak pulang dari keluyuran malamnya."
"Kalau begitu bolehkah kami menginap di sini?" tanya Junsu penuh harap karena ia tidak tahu lagi bagaimana cara untuk menghubungi Jaejoong dalam keadaan genting seperti ini.
"Ya! Kalian punya rumah untuk di tinggali! Kalian pikir rumah kami hotel?!"
"Nuna~ temanku di Amerika banyak sekali yang menyukai perempuan Asia. Mereka selalu memaksa untuk dikenalkan dengan teman-teman perempuanku. Aku jadi berpikir, mungkin aku bisa mengenalkan nuna pada teman-teman ku di Amerika?" suara Changmin akhirnya terdengar. Ia mencoba melakukan negosiasi dengan Boa, karena biasanya dengan cara seperti ini, perempuan berumur 22 tahun yang masih single itu akan luluh.
Manik mata Boa bergerak menatap bocah bertubuh jangkung yang berdiri di belakang Junsu. Ia memperhatikan Changmin dari ujung kepala hingga ujung kaki, kemudian kembali menatap wajah tampan Changmin yang sedang tersenyum polos padanya. Tidak habis pikir jika bocah ingusan bernama Shim Changmin bisa tumbuh begitu drastisnya. Ia mendengus pelan kemudian memutar kedua bola matanya sebal.
"Aku tidak se-desperate itu untuk mendapatkan pasangan. Tapi maaf, aku tidak tertarik dengan orang asing." Jawab Boa sambil membukakan pintu lebih lebar dan membiarkan dua bocah yang –entah mengapa sekarang sering sekali mengganggunya– untuk masuk ke dalam rumah.
"Gomawo nuna!" pekik Junsu masuk ke dalam rumah dan memeluk Boa. Membuat wanita yang lebih tua 4 tahun dari Junsu itu menjitak pelan kepalanya.
"Now~now~ cepat temui Jaejoong dan jangan menggangguku lagi!" ucap Boa yang membuat Junsu melepaskan pelukannya dan tersenyum lebar.
Junsu langsung melangkahkan kakinya menuju kamar Jaejoong. Boa hanya menghembuskan nafas sambil menggeleng pelan melihat tampang bocah Kim Junsu yang tidak pernah berubah sedikitpun sejak dia di lahirkan ke dunia, tetap polos dan menggemaskan bahkan masih terlihat chubby seperti bayi.
Boa menolehkan kepala menatap Changmin yang masih berdiri diam di luar pintu rumah. Ia menyipitkan matanya ketika melihat wajah Changmin yang begitu serius seperti memikirkan sesuatu.
"Apa yang terjadi?" tanya Boa pada Changmin. Ia tahu, pasti ada sesuatu yang terjadi pada adik laki-lakinya hingga membuat Junsu dan Changmin harus datang untuk menemui Jaejoong sekalipun sekarang sudah lewat jam tengah malam. Lagipula, sudah lebih dari seminggu ini sikap Jaejoong memang terlihat aneh.
Manik mata Changmin perlahan bergerak menatap Boa yang sedang menatapnya. Kening perempuan bertubuh pendek itu sampai terlihat berkerut samar. Changmin hanya tersenyum tipis sambil melangkahkan kakinya masuk ke dalam kediaman keluarga Kim sebelum akhirnya menjawab.
"Kenapa? Apa nuna merasa déjà vu?"
Jawaban berbentuk pertanyaan Changmin membuat Boa menaikkan sebelah alis matanya. Ia menyipitkan mata sambil memperhatikan wajah Changmin. Suatu neuron di dalam otaknya seperti tersambung ketika ia mengingat memori di dalam otaknya. Ia melipat kedua tangan di depan dada sambil menyandarkan bahu kirinya pada sisi pintu kemudian menatap Changmin dengan tatapan serius.
"Kau bisa menceritakannya padaku." Desis Boa ketika ia tahu ke arah mana pembicaraan ini akan mengarah, karena ia benar-benar merasa déjà vu.
Changmin menggeleng pelan, "Tidak sekarang, nuna. Aku belum bisa menceritakannya padamu. Aku masih belum 'melihatnya' secara menyeluruh. So, no.. not yet." Jawab Changmin yang membuat Boa menghembuskan nafasnya perlahan, " –tapi aku akan melindunginya, nuna tenang saja." Lanjutnya begitu yakin.
Boa berdecak pelan.
"You know, you are such a lovely young brother. Apa kau yakin kau tidak merasakan perasaan yang 'lebih' terhadapnya?" tanya Boa ketika melihat sisi protektif Changmin yang tidak pernah berubah sedikitpun, meskipun kini ia sudah tumbuh menjadi sosok Changmin yang berbeda dari sosok Si Bocah Changmin 3 tahun yang lalu. Dengan sosoknya yang sekarang, ia justru terlihat semakin meyakinkan ketika mengucapkan kalimat itu. Boa selalu merasa bahwa semua sikap protektif itu hanyalah sebuah kamuflase untuk menyembunyikan perasaan sesungguhnya.
Pertanyaan Boa membuat Changmin tertawa karenanya. Ia hanya menggelengkan-menggelengkan kepala sambil melangkahkan kaki menuju kamar Jaejoong. Membiarkan pertanyaan Boa menggantung di udara beberapa detik lamanya. Ia lalu menolehkan kepala ke belakang menatap Boa yang masih mengerutkan keningnya penasaran. Ia hanya tersenyum menyeringai.
"You bet?"
"Brat!"
Changmin lagi-lagi tertawa ketika mendengar gerutuan Boa yang beringsut kesal. Ia hanya menggelengkan kepala sambil tersenyum lebar dan terus melangkahkan kakinya menuju kamar Jaejoong.
Setiap langkah yang mengiringinya, senyum lebar itu perlahan memudar. Pertanyaan Boa tadi tiba-tiba saja terngiang di dalam benaknya hingga membuat keningnya berkerut samar ketika memikirkan itu. Ia menolehkan kembali kepalanya ke belakang untuk melihat Boa, namun ia tidak menemukan sosoknya di pintu depan yang sudah tertutup rapat.
Changmin menghentikan langkah kakinya ketika sudah tiba di depan pintu bercat putih yang sedikit terbuka. Ia terdiam sambil menyentuh dadanya yang tiba-tiba saja merasakan perasaan yang begitu hangat. Ia menghembuskan nafas sambil menutup kedua mata, kemudian menggeleng pelan menghilangkan pikiran yang tiba-tiba terbesit di dalam benaknya.
Ia mendorong pintu kamar Jaejoong dengan perlahan dan ia bisa melihat Junsu yang duduk di tepi tempat tidur.
"Jaejoong ah.." panggil Junsu membujuk Jaejoong untuk keluar dari dalam selimut yang menutupi seluruh tubuh hingga kepalanya. Namun Jaejoong tidak bergerak sedikitpun di dalamnya. Junsu dan Changmin bisa mendengar suaranya yang sesengukan karena habis menangis. Changmin melipat kedua tangan di depan dada sambil menyandarkan bahu kirinya di sisi pintu dan memperhatikan kedua hyung nya dari ambang pintu.
"Kenapa kau jadi seperti ini, Jaejoong ah?" tanya Junsu sambil menepuk-nepuk pelan bahunya. Ia tidak tega melihat sahabatnya terus-menerus terluka seperti ini.
"Aku tidak bisa –sobs melupakannya, Junsu yah… eottohkae?" bisik Jaejoong pelan dari dalam selimut. Ia ingin sekali mendapatkan jawaban atas pertanyaannya itu. Pertanyaan 'bagaimana' yang terus berputar-putar di dalam kepalanya namun tidak pernah mendapatkan jawabannya.
"Aish.. kau ini babo! Sudah tahu kau sangat menyukainya, tapi kau begitu keras kepala ingin melupakannya. Sekarang lihatlah apa yang kau lakukan pada dirimu sendiri?" Junsu beringsut gemas.
"Dia membenciku Junsu yah.. –sobs aku sudah membuatnya kecewa, aku sudah membuatnya marah, –sobs dan aku sudah melukainya." Ucap Jaejoong lagi mengakui bahwa semua yang terjadi karena kesalahannya juga, kesalahannya yang tidak bisa memahami Yunho.
Ia tidak bisa memahami apa yang sebenarnya Yunho inginkan. Yunho terlalu membingungkannya. Ia sudah menutupi kesalahnnya dengan ego dan ia sudah dibutakan oleh harga diri yang membuatnya begitu menutup mata dengan apa yang sesungguhnya Yunho inginkan darinya hingga tanpa ia sadari, ia sudah melukai Yunho. Namun ia begitu terlambat untuk menyadari dan mengakuinya ketika sekarang Yunho sudah menjadi milik orang lain.
Penyesalan selalu saja datang di akhir, ironis.
"Dia tidak membencimu.. well, dia mungkin memang kecewa padamu. Tapi, kalau saja kau bisa lebih mengerti tentang dirinya dan tidak menyerah begitu saja dengan perasaanmu lalu memperjuangkannya, dia akan memaafkanmu dan akan memberimu kesempatan karena dia juga sangat menyukaimu." Ucap Junsu menjelaskan keadaan yang seharusnya bisa meluruskan benang kusut itu.
"Tapi bagaimana sekarang? Dia sudah semakin jauh dariku –sobs aku tidak bisa menjangkaunya.. dia sudah memilih Tiffanny. Tapi aku merindukannya –sobs aku ingin bersamanya.. tapi aku tidak bisa.. " lirih Jaejoong pelan ketika ia ingat bahwa Tiffanny sudah memberikan 'segalanya' pada Yunho. Ia merasakan konflik di dalam batinnya.
"OH GOD, Jaejoong! Berhentilah bersikap seperti seorang pengecut! Jangan membuat kepalaku semakin berdenyut sakit! Percayalah padaku, dia sangat menyukaimu!" Junsu mengerang kesal dengan sikap lembek dan takut-takut Jaejoong. Rasanya ia ingin memukul kepala itu dan membuat otaknya kembali berfungsi. " –kau harus tahu bagaimana kecewanya Yunho ketika kau tidak datang ke Gwangju! Kau harus tahu bagaimana eskpresi terluka Yunho ketika kau menampar wajahnya! Dan kau harus tahu bagaimana tersiksanya Yunho ketika kau meninggalkannya! Karena dia begitu menyukaimu! Jadi jangan buat dia kecewa lagi dengan sikap setengah hatimu! Perbaiki semua kesalahanmu! He is so fuckin in love with you! Bagian mana dari kalimatku yang tidak kau mengerti kalau dia begitu menyukaimu?!"
"Tapi dia terlihat seperti muak ketika melihatku! Aku tidak –"
"–Kalau kau ingin tahu, terjadi kekacauan besar di sana." Suara Changmin yang memotong teriakan frustasi Jaejoong akhirnya terdengar. Ia memperhatikan Jaejoong yang masih tertutupi selimut. Junsu menolehkan kepalanya menatap wajah serius Changmin. " –Club Paradise mengalami kerusakan parah ketika pertempuran yang sangat mengerikan antar gang pecah." Lanjut Changmin dan menunggu reaksi dari Jaejoong. Namun beberapa detik lamanya Jaejoong hanya diam tidak berkomentar dan hanya suara sesengukan darinya yang terdengar.
"Jung Yunho.. keadaannya sekarang kritis." Lanjut Changmin yang akhirnya membuat Jaejoong keluar dari dalam selimut dan langsung bangkit terduduk ketika mendengarnya.
Kedua mata Jaejoong terlihat sembab dan memerah. Ujung hidungnya yang mancung pun terlihat begitu memerah. Jejak air mata yang mengalir masih nampak di kedua pipi putihnya. Manik matanya yang hitam dan besar menatap kedua sahabatnya secara bergantian. Nafasnya masih terdengar sesengukan karena terlalu lama menangis.
"Apa?"
"Ia di larikan ke rumah sakit setelah 10 orang memukulinya tanpa ampun." Jawab Changmin yang membuat Jaejoong membelalakan matanya terkejut. Ia menolehkan kepala menatap Junsu, seperti ingin meminta konfirmasi bahwa apa yang diceritakan Changmin adalah benar.
Junsu hanya menghela nafas. Manik matanya bergerak menatap wajah menangis Jaejoong. Tangan kanannya perlahan terangkat dan menghapus jejak air mata di pipi putih itu dengan ibu jarinya, kemudian mengangguk pelan.
'Fuck you, Jung Yunho! Fuck you! Just go and die!'
"Shit! Apa si idiot itu benar-benar melakukan apa yang aku katakan padanya?!" pekik Jaejoong langsung beranjak dari tempat tidur dan berjalan cepat keluar kamar, ketika menyadari apa yang sedang terjadi sekarang.
Jaejoong berlari mendekati pintu keluar sambil memakai sepatu converse hitamnya dengan asal-asalan kemudian berlari keluar rumah untuk menemui Yunho yang sekarang ada di rumah sakit tanpa menyadari kenyataan bahwa sekarang sudah lewat dari jam tengah malam, kenyataan bahwa wajahnya terlihat begitu kusut dan berantakan, kenyataan bahwa ia tidak membawa dompet dan ponselnya, kenyataan bahwa sekarang ia berlari di tengah dinginnya malam, kenyataan bahwa ia tidak tahu dimana Yunho di rawat ketika rasa gelisah dan panik begitu membelenggunya. Ia tidak menyadari itu semua.
Rasa bersalah yang terasa familiar itu kembali ia rasakan. Rasa bersalah yang telah membiarkan Yunho sendirian dalam kesepian dan kesendiriannya. Rasa bersalah yang berubah menjadi rasa takut jika ia benar-benar kehilangan Yunho untuk selamanya.
Ia tidak ingin kehilangannya.
~.~.~.~.~.~
"Apa Jaejoong tahu di rumah sakit mana Yunho di rawat?" tanya Junsu pada Changmin ketika menyadari Jaejoong yang sudah berlari keluar rumahnya. Gerakannya begitu cepat hingga membuat Junsu tidak bisa menahan dan menenangkan Jaejoong yang panik.
"Kurasa tidak. Dia akan menemukan Yunho dengan instingnya. Well.. I guess." Jawab Changmin menghembuskan nafasnya setelah melihat ekspresi gelisah dan panik terpancar jelas di wajah Jaejoong yang berlari dengan begitu cepat keluar dari rumah untuk menemui Yunho.
"Ish! Si Bodoh itu!" Junsu beringsut kesal seraya bangkit berdiri dari tempat tidur Jaejoong dan berjalan mendekati Changmin yang berdiri di ambang pintu kamar, "–kenapa kau mengatakannya pada Jaejoong? Bukankah kau bilang kau ingin membuatnya melupakan Yunho? Kupikir kau akan menahanku untuk mengatakannya?" tanya Junsu sambil melirik Changmin dari sudut matanya.
"Aku hanya ingin tahu situasi sesungguhnya." Jawab Changmin sambil membalas tatapan mata Junsu. Junsu mendengus pelan mendengar jawaban magnae nya. " –Jaejoong hyung benar-benar idiot." Lanjut Changmin mengerang pelan ketika ia mulai mengerti situasinya.
"Jadi, sekarang kau sudah tahu dan mengerti dengan apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Junsu berdecak pelan sambil berjalan keluar dari kamar Jaejoong untuk menyusul sahabatnya yang bodoh.
"Jung Yunho.. kalau dia melukai Jaejoong hyung, aku tidak akan segan-segan untuk mematahkan lehernya sekalipun dia seorang kkapgae." Desis Changmin sambil berjalan mengekor di belakang Junsu. Junsu hanya tertawa pelan mendengar pernyataan Changmin.
"Sebelum kau melakukannya, dia sudah melakukannya lebih dulu kepada siapa saja yang melukai Jaejoong walau hanya seujung rambutnya sekalipun."
~.~.~.~.~.~
Setidaknya sudah tiga rumah sakit yang Jaejoong kunjungi untuk menanyakan apakah ada pasien bernama Jung Yunho yang masuk UGD. Ia terlalu panik hingga lupa menanyakan dimana Yunho di rawat. Ia tidak membawa ponsel dan juga uang yang membuatnya tidak bisa menghubungi siapapun untuk menanyakan di mana Yunho berada dan membuatnya hanya bisa berlari dari satu rumah sakit ke rumah sakit lainnya ketika ia tidak bisa menggunakan taksi.
Jaejoong hanya bisa menebak di rumah sakit mana Yunho di rawat dari berbagai kemungkinan yang bisa terjadi. Ada sekitar enam rumah sakit yang tersebar di kawasan Gangnam. Ia akan mencarinya di keenam rumah sakit untuk menemukan Yunho sekalipun itu harus membuatnya berlarian di tengah dinginnya malam yang sepi.
Kedua kakinya seperti mati rasa ketika ia terus saja berlari dari rumah sakit ke rumah sakit lainnya. Tubuhnya terasa begitu dingin seperti membeku karena hembusan angin malam yang terasa begitu membunuh ketika ia hanya mengenakan long sleeve hitam tipisnya tanpa di balut jaket tebal. Kepulan asap putih hingga terlihat begitu jelas seiring ia menghembuskan nafas beratnya.
Namun ia tidak mempedulikannya ketika rasa ingin bertemu Yunho begitu menggerogotinya.
"Apa ada pasien bernama Jung Yunho yang di larikan ke UGD?!" tanya Jaejoong sambil mengatur nafasnya yang naik turun tidak teratur pada bagian administrasi. Ini sudah rumah sakit ke empat yang ia kunjungi.
Suster jaga itu mendongkan kepala menatap wajah kusut Jaejoong kemudian memeriksa daftar pasien yang ada di komputernya.
"Iya, Jung Yunho tadi di larikan ke bagian UGD pukul 12.27 AM. Sekarang pasien sudah dipindahkan ke ruang inap." Jawab suster itu membenarkan pertanyaan Jaejoong, membuat Jaejoong menghembuskan nafas ketika akhirnya ia menemukan Yunho.
"Di kamar berapa dia di rawat?" tanya Jaejoong lagi tidak sabar.
"Maaf, untuk saat ini pasien tidak bisa di ganggu. Pasien masih butuh istirahat setelah menjalani operasinya." Jawab suster itu lagi yang membuat Jaejoong mengerang pelan. Ia tidak mungkin datang ke sini hanya untuk hasil yang sia-sia.
"Ayolah suster~ katakan saja dimana kamarnya? Aku janji tidak akan mengganggunya. Aku hanya ingin melihat kondisinya." Mohon Jaejoong begitu depresi dan frustasi ingin mengetahui keadaan Yunho.
"Maaf Tuan, tapi pasien harus istirahat total. Besok pagi saja Tuan kembali untuk menjenguknya di jam besuk."
"Tapi –"
" –Jaejoong?"
Suara seseorang yang memanggil namanya membuat Jaejoong menolehkan kepala kebelakang. Ia bisa melihat tubuh jangkung Yuu dan juga dua sahabatnya berjalan mendekatinya. Ia mengerutkan kening samar ketika tidak mengerti bagaimana Junsu dan Changmin bisa berada di sini.
"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Yuu cukup terkejut melihat Jaejoong yang ada di rumah sakit dimana Yunho dirawat. Ia pikir, Jaejoong sudah benar-benar tidak peduli lagi dengan Yunho setelah apa yang dilakukan leader nya terhadap seseorang yang ia ketahui bernama Changmin yang ternyata adalah sahabat sejak kecil Jaejoong dan yang kini menjadi saksi kunci tentang apa yang sebenarnya terjadi di Club Paradise. Ini terlalu memusingkannya sekarang.
Manik mata abu tuanya menatap Jaejoong dari ujung kepala hingga ujung kaki. Ia semakin dibuat terkejut melihat penampilan baru Jaejoong yang terlihat begitu berbeda namun juga terlihat begitu berantakan. Rambut black-maroon nya sudah menghilang yang kini digantikan dengan rambut berwarna pirang yang cukup mencolok hingga membuat kulit putih pucatnya terlihat semakin pucat. Aura yang terpancar darinya pun terasa begitu berbeda.
Kesibukannya selama seminggu mengurusi semua kekacauan ini menggantikan posisi Yunho membuatnya kehilangan informasi tentang Jaejoong.
"Junsu? Changmin?! Bagaimana bisa kalian ada disini?" pekik Jaejoong tidak menjawab pertanyaan Yuu ketika ia lebih terkejut melihat dua sahabatnya. Pertanyaan konyol Jaejoong membuat Junsu memutar kedua bola matanya jengkel.
Changmin hanya diam memperhatikan setiap ekspresi yang Jaejoong tunjukkan. Intuisinya tidak pernah salah. Yunho memang begitu 'berbahaya' karena mampu membuat hyung nya terluka sedemikian hebatnya, namun intuisinya kini salah dalam hal bahwa, Yunho juga lah yang dapat mengembalikan senyum manis itu di wajah cantik Jaejoong dan hanya Yunho yang mampu melepaskan topeng semu yang selama ini menutupinya. Hanya Yunho yang mampu mengembalikan sosok Jaejoong yang sebenarnya.
Hanya Yunho.
"Kau begitu bodoh untuk tidak menanyakan kepada kami dimana Yunho di rawat dan berlari seperti orang kesetanan tanpa membawa informasi apapun. Bahkan ponselmu kau tinggalkan begitu saja di dalam kamar. Dari mana saja kau?! Sudah dua jam kami menunggu kedatanganmu, idiot!" Junsu memarahi Jaejoong karena kebodohannya dan gemas melihat Jaejoong yang begitu kacau dan berantakan.
"Dimana Yunho?!" tanya Jaejoong tidak mempedulikan lagi bagaimana ceritanya Junsu dan Changmin bisa ada di sini ketika ia ingat tujuan utamanya yang berlarian ke sana kemari hanya untuk mencari Yunho. Ia sangat ingin bertemu dengannya sekarang.
"Dia sudah di pindahkan ke VIP room." Jawab Yuu yang membuat perhatian Jaejoong akhirnya tertuju padanya. Jaejoong langsung menyentuh kedua lengan Yuu dengan tangannya yang bergetar hebat karena kedinginan seperti membeku.
"Apa yang terjadi padanya? Apa dia baik-baik saja? Bagaimana kondisinya? Apa lukanya parah?! Aku ingin bertemu dengannya!"
"Wow~wow~! Tenanglah. Sekarang kita belum diizinkan untuk menjenguknya." Ucap Yuu menenangkan Jaejoong yang terlihat sangat panik. Ia sedikit terlonjak kaget ketika tangan dingin itu menyentuh lengannya bahkan hingga terasa sampai ke permukaan kulit yang tertutupi oleh jaket sekalipun. Menunjukkan betapa membekunya kedua tangan putih itu. Ia melepaskan kedua tangan Jaejoong di lengannya lalu menyentuhnya. "–astaga Jaejoong, tanganmu dingin sekali." Ucap Yuu sambil mengatupkan kedua tangan Jaejoong dan menggosokkan tangannya untuk menyalurkan kalor dan menghangatkan tangan dingin itu.
Manik mata abu tuanya menatap mata hitam Jaejoong yang terlihat berkaca-kaca dan menunggunya untuk mengatakan bagaimana kondisi Yunho tanpa mempedulikan tangannya yang membeku. Ia menghela nafasnya perlahan ketika melihat sorot kekhawatiran terpancar jelas dari kedua mata indah itu.
"Dia baru selesai menjalani operasinya. Cederanya cukup serius. Tiga tulang rusuk patah dan hampir saja mengenai jantungnya. Tulang tangan kiri dan kaki kanannya patah. Kepalanya di jahit karena pukulan benda tumpul hingga merobek kulit kepalanya sepanjang 3cm. Perut kirinya sobek karena pisau yang menancap di perutnya dan mengalami banyak pendarahan. Tapi –"
" –Apa?! Bagaimana bisa dia mendapatkan luka hingga seperti itu?! Apa mereka mencoba untuk membunuhnya?! Apa yang terjadi pada mereka yang memukuli Yunho?! Mereka harus di tuntut karena memukuli seseorang hingga terluka parah!" Jaejoong beringsut kesal memotong ucapan Yuu. Rasanya ia ingin memukul orang-orang yang sudah memukuli dan mencoba membunuh Yunho.
"Sudah kubilang, tenanglah Jaejoong. Kau tidak perlu khawatir, dia sudah melewati masa kritisnya." Ucap Yuu mencoba menangkan Jaejoong kembali. " –si idiot itu, meskipun seorang diri, tapi dia masih bisa melumpuhkan tiga orang hingga membuat ketiganya masih berada di ruang operasi. Kalau kita terlambat satu menit saja, sudah dipastikan dia akan dihabisi mereka." Lanjut Yuu yang membuat Jaejoong membelalakan matanya horror.
"Maksudmu.. Yunho.. akan.." Jaejoong tidak sanggup untuk melanjutkan kalimatnya.
"Ya, dia bisa saja mati."
"Ya Tuhan! Kau pasti bercanda 'kan?!" pekik Jaejoong terkejut dan tidak sanggup untuk membayangkannya, "–aku ingin menemuinya!" lanjutnya semakin khawatir dengan kondisi Yunho meskipun Yuu sudah mengatakan padanya bahwa dia sudah melewati masa kritisnya, namun tetap saja, Jaejoong masih skeptis sebelum ia melihat kondisi Yunho dengan mata kepalanya sendiri.
"Kita belum diizinkan untuk menjenguknya sekarang."
"Kumohon Yuu.. kumohon.. biarkan aku melihat kondisinya. Aku hanya ingin melihatnya." Jaejoong menatap mata abu tua Yuu dengan tatapan memohon. Berharap ia mengabulkan permohonannya.
Yuu hanya menghembuskan nafas perlahan, kemudian menggelengkan kepalanya. Jawaban Yuu membuat Jaejoong mengerang frustasi. Ia menyapu rambut pirangnya ke belakang kepala sambil membenturkan punggung pada dinding rumah sakit dan memikirkan cara untuk bisa bertemu dan melihat kondisi Yunho. Namun ia tidak bisa menemukan caranya ketika ia tidak tahu di ruang mana Yunho di rawat.
"Sebaiknya kau pulang dan beristirahat, Jaejoong ah. Kau terlihat begitu lelah. Besok saja kau datang lagi. Sekarang sudah jam 03.10AM, percuma kau menunggunya seharian di sini karena kita belum diizinkan untuk menjenguknya." ucap Yuu menyarankan agar Jaejoong pulang dan beristirahat.
"Tidak, tidak. Aku akan menunggunya disini." Jawab Jaejoong menggelengkan kepalanya kuat-kuat.
"Jae, aku tahu kau mengkhawatirkannya. Tapi benar apa yang di katakan Yuu, percuma saja kau menunggunya di sini karena kita belum diizinkan untuk bisa menjenguknya." Junsu berusaha membujuk sahabatnya. Ia tahu, Jaejoong akan semakin keras kepala jika seseorang melarangnya. Oleh karena itu ia menunggu Jaejoong ke rumah sakit untuk membawanya pulang.
"Tapi Junsu….." Jaejoong menatap Junsu dengan tatapan memohon. Namun ia hanya mendapatkan gelengan kepala dari sahabatnya.
"Pulanglah, hyung. Kau tidak ingin menemuinya dalam keadaan kacau dan berantakan seperti ini 'kan? Bagaimana reaksinya ketika seseorang yang begitu dinantikannya terlihat berantakan tidak karuan seperti ini? Aku yakin dia ingin melihat wajah segar dan tersenyummu." Suara Changmin akhirnya terdengar yang membuat Yuu, Junsu, dan Jaejoong menolehkan kepala menatapnya. Changmin tersenyum sambil berjalan mendekati Jaejoong.
"Kau itu bodoh. Sangat bodoh. Kau tahu itu?"
Jaejoong hanya menundukkan kepala ketika Changmin berkata seperti itu padanya. Ia tahu ia sangat bodoh, ia mengakuinya.
"Jaejoong? Junsu?"
Suara husky khas milik Yoochun membuat semuanya menolehkan kepala menatap Yoochun dan TOP yang berjalan mendekati mereka. Manik mata hitam Jaejoong menatap TOP dengan hati-hati, berjaga-jaga jika dia akan menyerangnya lagi.
"Tenanglah, TOP tidak akan memukulmu." Bisik Yuu yang berdiri di sampingnya ketika menyadari ekspresi hati-hati Jaejoong ketika melihat TOP.
Manik mata Jaejoong bergerak menatap tubuh jangkung Yuu yang berdiri di sampingnya, lalu kembali menatap Yoochun dan TOP yang semakin mendekatinya. Ia menelan ludah perlahan dan mencoba mempercayai ucapan Yuu.
"Aku hampir saja tidak mengenalimu karena warna baru rambutmu yang benar-benar pirang meskipun Junsu sudah memberitahuku, tapi tetap saja aku sedikit terkejut dengan penampilan barumu." Ucap Yoochun yang sudah berdiri di hadapan Jaejoong sambil memperhatikannya dari ujung kepala hingga ujung kaki, kemudian kembali menatap wajah cantik Jaejoong yang kini terlihat begitu berantakan. Mata dan hidungnya masih terlihat memerah karena habis menangis. Yoochun hanya menyeringai melihat kondisi Jaejoong.
"Kau baru datang menemuinya saat Yunho hyung nyaris mati. Kalau begitu, kenapa aku tidak menyarankannya untuk bunuh diri jika itu bisa membuatmu kembali padanya lebih cepat?"
"Hey Yoochun! That's not even funny!" desis Yuu menatap tajam Yoochun.
"Tentu saja itu tidak lucu, karena aku memang tidak sedang melucu." Decak Yoochun lagi sambil terus menatap wajah Jaejoong, membuat Jaejoong hanya menunduk dan menggigit bibir bawahnya salah tingkah ketika mendengar kalimat sindiran itu.
"Both of you are really giving me a headache." Lanjut Yoochun sambil menghempaskan tubuh lelahnya di atas kursi tunggu rumah sakit. Ia menghembuskan nafas keras-keras sambil memejamkan kedua matanya. Junsu langsung mendekati Yoochun yang lelah dan memijat pelan bahu kirinya.
Yuu menggelengkan kepala sambil memutar kedua bola matanya melihat Yoochun yang menyindir Jaejoong, meskipun ia menyetujui ide Yoochun di dalam benaknya. Yunho dan Jaejoong benar-benar membuatnya sakit kepala.
"Bagaimana Tiffanny?" tanya Yuu pada TOP yang berdiri bersandar pada dinding rumah sakit sambil melipat kedua tangan di depan dadanya. TOP menatap Yuu dari sudut matanya yang tajam.
"Dia baik-baik saja. Dia hanya butuh istirahat." Jawab TOP dengan suara bass nya yang husky.
"Tiffanny? Ada apa dengannya? Apa dia baik-baik saja?" tanya Jaejoong ketika mengingat bahwa perempuan itu berada di dalam toilet di mana kekacauan itu terjadi.
"Ya, dia baik-baik saja. Kami menemukannya dalam keadaan pingsan ketika Yunho hyung di serang oleh Jinwoo dan yang lainnya." Ucap TOP menjawab pertanyaan Jaejoong. Manik mata Jaejoong bergerak menatap TOP dengan ragu. Masih merasa sedikit takut jika TOP akan memukulnya.
"Tsk~ tenanglah. Kau tidak perlu takut seperti itu. Aku janji tidak akan memukulmu." TOP berdecak pelan ketika melihat ekspresi ketakutan yang terpancar dari wajah Jaejoong ketika melihatnya dengan ragu-ragu. Jaejoong hanya tersenyum tipis menanggapi ucapan TOP.
"Jadi kapan aku bisa melihatnya?" tanya Jaejoong sambil menolehkan kembali kepalanya menatap Yuu.
"Secepatnya aku akan mengabarimu, kami akan berjaga disini."
"Kalau begitu, aku juga akan menunggunya di sini."
"Jaejoong ah, jangan keras kepala."
"Tapi –"
" –beberapa jam lagi anggota-anggota gang kkapgae Chil Sung Pa akan berkumpul disini termasuk ketua Chil Sung Pa. Apa kau yakin kau tidak apa-apa dengan kehadiran mereka?"
"Baiklah, kalau begitu aku akan pulang." Jawab Jaejoong langsung menurut ketika mendengar kata 'kkapgae' yang membuat semuanya berdecak pelan melihat sikap polos Jaejoong.
"Aku akan langsung menghubungimu." Ucap Yuu lagi meyakinkan Jaejoong sambil tersenyum padanya. Jaejoong mengangguk sambil menghembuskan nafas perlahan tanda menyerah.
Jaejoong berpamitan kepada semuanya dan meminta tolong agar mereka segera menghubunginya jika terjadi sesuatu dengan kondisi Yunho. Jaejoong pulang ditemani dengan Junsu dan Changmin. Namun sebelum mereka pulang, Yuu mengatakan sesuatu pada Changmin.
"Changmin ssi, I count you in this matter." Ucap Yuu penuh harap. Changmin tersenyum tipis kemudian mengangguk pelan.
"Thanks." Yuu membalas senyuman Changmin, namun ia hanya berdecak pelan kemudian tersenyum menyeringai padanya.
"Katakan padanya, jangan harap ini akan menjadi sesuatu yang gratis." Ucap Changmin kembali melangkahkan kakinya menemani Jaejoong pulang. Membiarkan kalimat membingungkan itu mengudara.
Ucapan ambigu Changmin hanya bisa membuat Yuu mengerutkan keningnya samar.
~.~.~.~.~.~
Jaejoong berdiri diam di depan pintu kamar VIP yang tertutup rapat dimana Yunho di rawat. Sudah dua hari berlalu sejak kejadian malam itu, namun baru sekarang Yunho diizinkan untuk menerima tamu selain keluarga inti.
Dua hari yang membuatnya tidak bisa tidur dan berselera makan karena begitu mengkhawatirkan kondisi Yunho. Dua hari yang ia gunakan untuk menata kembali perasaannya. Dua hari yang ia gunakan untuk membuat keputusan.
Ia menggigit bibir bawahnya perlahan sambil menggenggam erat sebuket bunga yang ia bawa. Ia sudah tidak tahu lagi apa yang harus dibawanya ketika ia akan menjenguk Yunho. Hanya sebuket bunga yang terbesit di dalam benaknya saat itu.
Tangan kanannya perlahan terangkat dan menyentuh knob pintu. Ia menggenggamnya begitu erat, namun setelahnya ia melepaskan kembali knob pintunya. Ia tidak mempersiapkan kata-kata apa yang akan ia ucapkan begitu ia akan bertemu Yunho. Ia tidak tahu apa yang harus di katakan padanya ketika situasi yang membelit mereka terasa begitu canggung dan tidak mengenakan. Dadanya berdegub hebat seolah akan mencelos keluar dari dalam rongga dada ketika membayangkan ia akan melihat wajah Yunho lagi.
"Hey Yunho, aku datang."
Jaejoong mempraktekkan kalimat apa yang akan ia ucapkan pada Yunho. Namun setelahnya, ia mengerutkan kening samar ketika menyadari kalimat itu terkesan begitu akrab seolah tidak terjadi apa-apa.
"Hey, sudah lama tidak bertemu."
Jaejoong mengganti kalimatnya, namun ia mengerang kesal ketika ia merasa tidak puas dengan kalimat itu karena terkesan begitu kaku.
"Hey, bagaiamana keadaanmu?"
"Aku baik-baik saja."
Suara seseorang membuat Jaejoong terlonjak kaget ketika monolognya di jawab. Ia menolehkan kepala ke belakang dan mendapati Tiffanny yang mengenakan baju pasien sudah berdiri di hadapannya. Jaejoong berdehem pelan melihat perempuan yang masih saja terlihat cantik sekalipun ia mengenakan baju pasien dan walaupun wajahnya terlihat sedikit agak pucat.
Keduanya terdiam dalam suasana kaku. Rasanya Jaejoong ingin cepat-cepat masuk ke dalam kamar Yunho kalau saja ia tahu ia harus terjebak dengan perempuan itu lagi. Sekarang ia menyesali sikapnya yang tadi begitu pengecut dan takut-takut untuk masuk ke dalam.
"Uhm.. apa kita bisa bicara sebentar?" suara Tiffanny perlahan terdengar. Manik mata Jaejoong bergerak menatap Tiffanny yang sedang menatapnya.
Tiffanny langsung berbalik tanpa menunggu jawaban dari Jaejoong kemudian berjalan mendekati bangku tunggu di ujung koridor, mengindikasikan pada Jaejoong bahwa ia harus mengikutinya.
Jaejoong menghembuskan nafasnya perlahan ketika ia tidak punya pilihan lain. Ia mengikuti Tiffanny yang kini sudah duduk di ujung bangku tunggu kemudian ia duduk di ujung bangku satunya lagi, membuat keduanya terpisahkan oleh dua seat yang kosong.
"…."
"…."
Keduanya masih terjebak dalam suasana diam yang terasa begitu hening. Tiffanny hanya terdiam menatap kedua kakinya yang ia goyang-goyangkan dengan perlahan. Seperti gadis kecil yang sedang bermain karena bosan.
"Kau datang untuk menjenguk Yunho oppa?" suara Tiffanny akhirnya memecah keheningan yang menyelimuti keduanya. Sedari tadi atmosfernya terasa begitu tidak mengenakan.
"Hum.. ya." Jawab Jaejoong singkat. Ia memperat genggaman tangannya yang menggengam buket bunga yang dibawanya, " –kau di rawat di sini juga? Apa kau baik-baik saja?" tanya Jaejoong basa-basi. Ia hanya tidak ingin terjebak kembali dalam suasana diam itu.
"Hum.. ya. Kamarku tepat di samping kamar Yunho oppa. Aku baik-baik saja, terimakasih." Jawab Tiffanny seadanya.
Hening kembali.
Jaejoong menegakkan tubuhnya ketika merasakan atmosfer yang terasa begitu kaku di sekelilingnya. Ia tidak tahu apa yang ingin dibicarakan Tiffanny padanya. Namun ia merasa sangat yakin kalau perempuan itu akan mengatakan 'sesuatu' padanya.
"Bisakah kau tidak datang kesini?"
Pertanyaan tiba-tiba Tiffanny membuat Jaejoong berhenti bernafas. Ia terdiam mencoba memahami maksud dari kalimat itu.
"Kenapa? Lagipula tidak ada salahnya 'kan seorang teman datang menjenguk temannya yang sedang sakit?" tanya Jaejoong berusaha kembali untuk bernafas normal dan bersikap tenang. Walau sekarang rasanya ia ingin langsung berlari menuju kamar Yunho dan bertemu dengannya untuk meyakinkan diri bahwa ia masih bisa bertemu Yunho.
"Maksudku, bisakah kau tidak datang dan muncul lagi di hadapan Yunho oppa? Kau 'kan sudah tahu kalau aku sangat menyukainya dan kau sudah mengatakan padaku bahwa Yunho oppa adalah milikku. Kau juga berjanji tidak akan merebutnya dariku." Ucap Tiffanny terdengar seperti memohon dan mendesaknya.
Jaejoong menolehkan kepala menatap perempuan yang kini sedang menatapnya dengan mata yang berkaca-kaca.
"Uhm.. well.. bagaimana ya? Eehhm.. bagaimana kalau aku bilang, aku juga menyukainya?" jawab Jaejoong jujur. Dua hari yang ia gunakan untuk menata perasaan dan pikirannya, berujung pada suatu keputusan bahwa ia akan terus menyukai Yunho dan akan memperjuangkannya.
"Andwae! Kau tidak boleh menyukainya!" Tiffanny menaikkan nada suaranya. Jaejoong sampai menatap Tiffanny tanpa mengerjapkan matanya barang sedetikpun. Tiffanny menyadari kalau nada suaranya tiba-tiba meninggi, ia berdehem pelan salah tingkah, "–uhm.. maksudku, mungkin sebenarnya kau hanya mengaguminya? Aku tahu, semua orang memang selalu mengaguminya. Mungkin perasaan yang kau rasakan padanya, hanya rasa kagum saja, iya 'kan? Tidak mungkin kau menyukainya. Aku yakin, itu pasti hanya rasa kagum." ucap Tiffanny sambil menggeser tubuhnya mendekati Jaejoong dan tersenyum lebar seperti layaknya seseorang yang begitu posesif terhadap sesuatu yang di sukainya.
Rasanya Jaejoong ingin tertawa keras mendengar pernyataan Tiffanny yang terdengar memaksa. Bagaimana bisa Tiffanny menyimpulkan perasaan apa yang ia rasakan pada Yunho seenaknya begitu?
"Aku rasa bukan. Aku benar-benar menyukainya. Kau tahu, rasa suka kepada seorang kekasih. Rasanya seperti itu." Jawab Jaejoong sedikit risih dan jengah dengan sikap Tiffanny yang menurutnya, sekarang terlihat begitu menyebalkan dan menjengkelkan.
Air mata Tiffanny mengalir di kedua pipinya yang putih. Ia menangis semakin terisak ketika mendapatkan jawaban yang tidak sesuai dengan apa yang ia harapkan dari Jaejoong.
"KAU JAHAT! Kau bilang, Yunho oppa adalah milikku! Kau bahkan berjanji tidak akan merebutnya dariku! Sekarang apa yang kudapatkan darimu?! Kau pembohong! Kau hanya orang baru yang tiba-tiba saja muncul di hadapan Yunho oppa! Kau tahu seberapa besar pengorbananku untuk mendapatkannya, hah?! Aku sampai harus masuk ke sekolah yang sama dengannya yang mayoritas berisi laki-laki berengsek yang menjijikan hanya untuk bisa bersamanya!" Tiffanny membentak marah, namun Jaejoong hanya diam tidak mengomentari.
Wajah putih Tiffanny terlihat begitu memerah menahan emosi ketika melihat sikap dingin dan tidak peduli Jaejoong. Ia bangkit dari duduknya dan berdiri di hadapan Jaejoong.
"Kau tahu?! Aku sudah tidur dengannya! Yunhooppasudah menjadi milikku! Mungkin sekarang janin di dalam rahimku sudah terbentuk dan tumbuh! Yunho oppa bilang padaku dia akan bertanggung jawab! Kalau kau tidak percaya, kau bisa menanyakannya langsung pada Yunho oppa! Jadi berhentilah mengganggu kami!"
Manik mata hitam Jaejoong bergerak menatap wajah penuh kemenangan Tiffanny. Sorot mata Jaejoong terlihat begitu dingin ketika menatap perempuan itu. Rasanya ia ingin membungkan bibir cerewet itu dengan buket bunga yang di bawanya.
Jaejoong tahu kalau Tiffanny sudah tidur dengan Yunho, ia tidak perlu mengatakan hal itu berkali-kali padanya. Tiffanny tidak perlu mengorek kembali luka di dalam hatinya yang sudah ia tata dengan rapi dan membuat keputusan yang sudah diambilnya tiba-tiba goyah.
"Well.. kita coba saja." Jawab Jaejoong seadanya. Ia benar-benar sudah malas untuk berbicara dengan Tiffanny.
Tiffanny tersenyum menyeringai mendapatkan jawaban pasrah dari Jaejoong. Ia menarik lengan Jaejoong untuk mengikutinya.
"Kalau begitu, ayo kita katakan pada Yunho oppa kalau kau tidak akan menemuinya lagi!" ucap Tiffanny begitu bersemangat yang membuat Jaejoong membelalakan mata terkejut dengan ucapan Tiffanny.
"Hey –siapa yang akan mengatakan padanya kalau aku –"
Ucapan Jaejoong terhenti ketika Tiffanny sudah menyeretnya masuk ke dalam kamar inap Yunho.
"Annyeong oppa~ aku datang lagi~" suara Tiffanny membuat Yunho mendongakan kepala menatapnya. Ia melemparkan buku yang tadi dibacanya hingga membentur pintu yang terbuka ketika melihat perempuan itu datang lagi ke kamarnya. Suara lengkingan Tiffanny terdengar begitu memekakan telinga ketika perempuan itu menjerit melihat buku yang terbang ke arahnya.
"Kau sudah datang tadi! Apalagi maumu, hah?! Just get out!" teriak Yunho membentak Tiffanny. Ia sedang tidak ingin di ganggu oleh siapapun, terutama Tiffanny. Perempuan itu benar-benar sudah membuat kesabarannya melewati batas maksimum.
Ia sudah akan berteriak lagi untuk mengusir Tiffanny ketika manik matanya yang coklat menangkap sosok seseorang yang selama ini dirindukannya. Ia melihat Jaejoong yang berdiri di belakang Tiffanny. Tiba-tiba saja ekspresi wajahnya berubah menjadi serius ketika melihat Jaejoong bersama Tiffanny.
"Kenapa baru datang sekarang, hah?! Apa kau sudah benar-benar tidak peduli lagi padaku?!"
Jaejoong hanya menghembuskan nafasnya melihat sifat temperamental Yunho yang tidak berubah sama sekali. Ia berusaha sabar menghadapinya dan sekarang berusaha untuk lebih mengerti dirinya.
Ia melangkahkan kaki mendekati Yunho yang sedang menyandarkan punggung pada headboard tempat tidur. Kaki kanannya terlihat tergantung dan di gips, lengan kirinya juga di perban dan gips, perban putih melilit di sekeliling kepalanya, dan beberapa luka memar begitu nampak di wajah tampannya. Meskipun dalam keadaan menyedihkan seperti itu, Yunho tetap terlihat tampan dan seksi. Sial..
"Bagaimana kabarmu, Yunho yah? Sepertinya kau baik-baik saja." Ucap Jaejoong sambil sedikit tersenyum ketika melihat Yunho yang sekarang terlihat begitu tidak berdaya namun tetap terlihat begitu enerjik. Ia bisa bernafas lega melihat Yunho yang baik-baik saja. Setidaknya, ia tidak perlu melihat Yunho dalam keadaan terbaring lemah di atas tempat tidur dan koma seperti yang selalu di bayangkannya.
"Apa yang seperti ini yang kau bilang baik-baik saja?! Apa kau tidak lihat tulang kaki, tangan, dan rusukku patah?! "
"YA! Kalau kau masih bisa berteriak-teriak seperti itu, menunjukkan bahwa kau baik-baik saja! Aish!"
"Aku seperti ini karena kau tidak kunjung datang menjengukku!"
"Aiiissh! Apa hubungannya denganku?! Sekarang aku sudah berdiri di depan kedua matamu! Jadi berhentilah bersikap seperti bocah menyebalkan!" balas Jaejoong beringsut sebal sambil melemparkan buket bunganya ke atas tempat tidur dimana Yunho berada. Ia begitu tulus datang untuk menjenguknya, namun Yunho menyambutnya dengan cara membentak seperti itu. Tentu saja itu membuatnya kesal.
"Ya! Apa seperti itu caramu menjenguk orang yang sedang sakit?!"
"Aish! Berhentilah berteriak-teriak! Bersyukurlah aku masih mau datang jauh-jauh hanya untuk menjengukmu!"
Manik mata coklat Yunho menatap Jaejoong yang terengah-engah seperti habis berlari puluhan kilometer. Jaejoong pun membalas tatapan tajam Yunho. Nafas keduanya terdengar naik turun tidak teratur karena berteriak-teriak, namun tidak bisa dibohongi juga kalau mereka merindukan momen-momen sepert ini. Mereka merindukannya.
Jaejoong yang datang untuk menjenguk Yunho, menunjukkan bahwa ia masih peduli padanya. Ia masih peduli dan tidak benar-benar meninggalkannya. Membuat Yunho begitu yakin bahwa ia bisa memperbaiki semuanya, sebelum ia terlambat dan kembali ke dalam lingkaran labirin itu yang membuatnya terus berputar-putar di sana.
Yunho memperhatikan penampilan baru Jaejoong. Ia baru menyadari penampilannya yang terlihat begitu berbeda. Terutama rambut black-maroon nya yang kini menghilang dan digantikan dengan rambut blonde. Ia mengerang pelan ketika melihat rambut pirang Jaejoong. Warna pirang yang mengingatkannya dengan perempuan menjengkelkan bernama Jessica.
"Tiffanny, keluarlah." Desis Yunho pada Tiffanny ketika menyadari perempuan itu sedari tadi berdiri diam di belakang Jaejoong. Ia harus menjauhkan Jaejoong dari Tiffanny sebelum perempuan itu mengatakan hal yang tidak-tidak padanya.
"Shiro, oppa."
"Apa kau tidak tahu aku paling tidak suka jika harus mengulangi perkataanku?! KELUAR!" bentak Yunho lagi semakin kesal ketika melihat Tiffanny yang keras kepala tidak ingin keluar.
Tiffanny tidak mendengarkan perkataan Yunho, ia justru berjalan mendekati Jaejoong dan berdiri di sampingnya. Manik mata coklat Yunho menatap tajam Tiffanny yang terlihat sedang tersenyum menyeringai padanya. Yunho menggertakkan gigi menahan amarahnya.
"Ada yang ingin Jaejoong katakan padamu, oppa~~ benarkan, Jaejoong?" tanya Tiffanny sambil mendongakan kepala menatap Jaejoong yang menolak untuk menatapnya. Ia merangkul lengan kanan Jaejoong dan sedikit menancapkan kuku panjangnya yang membuat Jaejoong berdesis pelan menahan sakit.
"Apa? Apa yang ingin kau katakan padaku?" desis Yunho sambil menatap Jaejoong yang juga sedang menatapnya. Ia bisa melihat ekspresi wajah Jaejoong yang tiba-tiba saja terlihat begitu datar dan dingin.
Rasa takut itu mulai menyelimutinya ketika melihat wajah dingin Jaejoong hingga melupakan kehadiran Tiffanny yang masih berada di dalam kamar inapnya. Ia tidak bisa membagi perhatiannya ketika ia begitu fokus dengan apa yang akan Jaejoong katakan padanya.
"Kapan kau keluar dari rumah sakit?" tanya Jaejoong spontan ketika ia merasa terdesak dengan tatapan mata Yunho dan Tiffanny. Ia tidak bisa berpikir di bawah tekanan hingga ia mengatakan kalimat tanya itu.
Yunho dan Tiffanny mengangkat sebelah alis mata mereka karena tidak mengerti maksud dari pertanyaan Jaejoong. Yunho pikir, ini akan menjadi perbincangan yang serius.
"Aku tidak tahu." Yunho tetap menjawabnya.
"Hey, bukan itu 'kan?!" desis Tiffanny pelan yang berdiri di samping Jaejoong sambil kembali menekan kuku panjang itu ke lengan yang di rangkulnya.
"Uhm.. kapan kau masuk sekolah?" lagi-lagi Jaejoong melontarkan pertanyaan acak yang spontan. Pertanyaan Jaejoong membuat Tiffanny mengerang pelan dan Yunho yang berdecak menertawainya.
"Kau tahu, aku paling tidak suka kalau kau mulai menanyakan pertanyaan aneh dan konyol seperti itu. Sebenarnya, apa yang ingin kau katakan padaku?" Ucap Yunho tersenyum menyeringai ketika ia tahu, bukan pertanyaan-pertanyaan itu yang ingin di lontarkan Jaejoong padanya.
"…."
Jaejoong hanya diam saja tidak segera menjawab desakan Yunho. Ia harus menenangkan diri sebelum ia kembali melontarkan pertanyaan acak yang konyol karena pengaruh tekanan dari keduanya.
"Apa kau ingin aku membantumu untuk mengatakan padanya?" bisik Tiffanny lagi yang membuat Jaejoong mengerlingkan mata jengkel padanya. Ia melepas paksa tangan Tiffanny yang melingkar di lengannya kemudian berjalan semakin mendekati Yunho.
Ia terdiam dan memperhatikan sepasang mata coklat hazelnut itu dengan seksama. Mata coklat yang terlihat begitu mempesona dan membuatnya menyukai laki-laki pemilik mata coklat itu. Laki-laki yang sudah membuat kehidupan ramajanya jungkir balik tidak karuan seperti jet coaster.
"Apa yang sudah kau lakukan dengannya di Gwangju?" tanya Jaejoong akhirnya. Ia merasa begitu hebat ketika bisa menanyakan pertanyaan itu padanya. Pertanyaan yang sesungguhnya tidak ingin ia dapatkan jawaban darinya.
Pertanyaan tiba-tiba Jaejoong membuat Yunho membelalakan matanya terkejut. Ia tidak menyangka bahwa kejadian itu akan terdengar sampai ke telinga Jaejoong. Ia sudah berusaha menutupi kejadian itu hingga membuatnya begitu di perdaya oleh Tiffanny dan Jessica. Hanya satu orang yang tahu tentang kejadian itu dan hanya satu orang yang mampu mengatakannya pada Jaejoong…
... Tiffanny.
Manik mata hitam Jaejoong menatap ekspresi terkejut Yunho dengan tatapan datar. Sekali lagi, hatinya kembali terluka.
"…."
"Kenapa kau diam saja?" tanya Jaejoong lagi. Ia mendengus pelan ketika melihat Yunho yang begitu membisu. Kini dirinya yang mendesak Yunho untuk segera menjawab pertanyaannya.
"…."
"Well.. kalau begitu, aku hanya ingin mengucapkan salam perpisahan denganmu. Salam perpisahan dengan cara yang baik-baik... kurasa." Ucap Jaejoong sambil tersenyum pada Yunho.
Keputusannya sudah goyah. Ia tidak punya pilihan lain ketika kenyataan yang menghimpitnya itu begitu menyakitkan. Ia tahu ia harus memperjuangkan Yunho, namun ia juga tahu bahwa kenyataannya, Yunho sudah menjadi milik Tiffanny. Ia tidak bisa merubah kenyataan itu.
Ucapan Jaejoong membuat Yunho hampir terkena serangan jantung ringan. Ekspresi wajahnya tiba-tiba mengeras ketika ia mendengar kalimat itu. Ketakutan yang selama ini ditakutinya sekarang benar-benar terjadi.
"Perpisahan?! Perpisahan apa maksudmu?!" desis Yunho berusaha tenang meskipun kini ia ketakutan setengah mati jika Jaejoong melangkahkan kaki keluar dari sini dan meninggalkannya untuk yang kedua kalinya.
"Mungkin ini terakhir kalinya kita bertemu."
"Kau tahu darimana kalau ini pertemuan terakhir, heh?!"
"Aku hanya ingin mengatakan itu." Ucap Jaejoong sambil berjalan mundur ketika tangan kanan Yunho akan menggapai tangannya.
"Kau mau kemana, Kim Jaejoong?!" teriak Yunho semakin panik ketika Jaejoong membalikkan tubuhnya. Ia berusaha bangkit berdiri dengan susah payah ketika kaki kanannya di gantung karena patah.
"Aku tidak akan muncul lagi dihadapanmu dan Tiffanny. Semoga kau cepat sembuh, Yunho ssi." Ucap Jaejoong tanpa berbalik dan berusaha untuk menahan air mata yang akan mengalir dari kedua sudut matanya. Dadanya terasa begitu sesak seperti akan pecah membuncah. Ia melangkahkan kaki untuk segera keluar dari sana, namun suara Yunho menghentikan langkah kakinya.
"Kalau aku bilang ingin bertemu denganmu, kau bisa apa?! Kalau aku bilang kau harus menemuiku, kau bisa apa?! Kalau aku bilang jangan meninggalkanku, kau bisa apa?!" Yunho berteriak frustasi ketika Jaejoong yang belum begitu jauh dari jangkauannya, tidak bisa ia kejar dalam kondisinya yang begitu menyedihkan.
Jaejoong semakin terdiam mendengar teriakan frustasi Yunho di balik punggungnya. Bendungan di kedua sudut matanya seolah pecah hingga air mata itu mulai mengalir di kedua pipinya yang putih. Rasanya ia ingin berbalik dan memeluk Yunho ke dalam pelukannya. Namun ia sudah membuat keputusan dan melangkahkan kakinya untuk melepaskan Yunho. Keputusannya sudah berbalik arah. Ia tidak bisa mundur lagi.
"Jangan hanya menangis! Kalau kau tidak ingin meninggalkanku, tetaplah di sisiku!" teriak Yunho lagi sambil berusaha turun dari tempat tidurnya ketika kakinya yang di gantung berhasil ia turunkan.
"Oppa.. kau mau kemana? Kenapa kau seperti ini? Kenapa kau masih mengejarnya ketika kau sudah memiliki aku? Bukankah kau sudah berjanji padaku bahwa kau akan bertanggung jawab?" tanya Tiffanny mulai terisak sambil menahan Yunho yang akan turun dari tempat tidur dan mengejar Jaejoong.
"Don't fucking touch me!" Yunho melepas paksa pegangan tangan Tiffanny, membuat perempuan itu terkejut dengan sikap Yunho yang kembali kasar padanya.
"Bukankah malam itu kita sudah melakukannya dan kau berjanji padaku akan bertanggung jawab, oppa?!" lengking Tiffanny semakin terisak karena kesal dan frustasi dengan sikap Yunho yang masih setengah hati padanya.
"Tiffanny, apa kau belum pernah di pukul olehku, hah?!" teriak Yunho semakin jengkel dengan Tiffanny yang memperkeruh keadaannya. Ia sungguh tidak ingin Jaejoong mendengar cerita itu. Ia sudah berusaha keras untuk menjauhkan Jaejoong dan Tiffanny. Namun Tiffanny justru mengatakan kejadian tabu itu tanpa malu seolah kejadian itu adalah sesuatu yang patut di banggakan.
"Jaejoong! Jangan diam saja! Katakan padaku bahwa kau tidak akan meninggalkanku untuk yang kedua kalinya!" teriak Yunho lagi sambil menatap punggung Jaejoong. Ia berusaha untuk turun dari tempat tidur dan berdesis pelan ketika kaki kanannya yang patah terasa seperti akan patah kembali.
"Sudahlah Yunho, tidak ada yang perlu kita bicarakan lagi. Semuanya sudah begitu jelas." ucap Jaejoong sambil mengepalkan kedua tangannya menahan emosi yang seolah akan pecah membuncah ketika ia tidak mendengar Yunho yang membantah semua perkataan Tiffanny. Menunjukkan bahwa apa yang dikatakan perempuan itu adalah benar. Yunho sudah tidur dengan Tiffanny dan ia bahkan berjanji akan bertanggung jawab dengan apa yang sudah ia lakukan.
Wow.
"Shit! Kau pikir kau mau kemana, Kim Jaejoong?! Ya! Kita belum selesai bicara!" teriak Yunho lagi sambil berusaha berdiri untuk mengejar Jaejoong ketika ia melihat sosok itu meninggalkannya lagi.
Jaejoong terus melangkah tanpa sedikitpun menghentikan langkah kakinya. Ia sudah berada di luar kamar inap Yunho namun ia masih bisa mendengar teriakan Yunho yang memanggil namanya. Rasanya begitu menyakitkan mendengar Yunho yang berteriak frustasi memanggil namanya. Namun perasaannya jauh lebih terasa sakit jika membayangkan Yunho dan Tiffanny sudah menghabiskan malam bersama.
Ini kah akhir dari segalanya?
~.~.~.~.~.~
Jaejoong kembali ke rumahnya setelah seharian hanya berjalan-jalan keliling kota untuk menenangkan hati dan pikirinnya yang begitu semerawut. Ia pikir, semuanya akan kembali seperti dulu jika ia bisa lebih memahami Yunho dan memperbaiki semua kesalahannya. Ia pikir, ia bisa menerima Yunho sekalipun ia sudah tidur dengan Tiffanny. Namun terkadang, harapan dan kenyataan tidak berjalan sesuai rencana. Ia merasa yakin bahwa ia bisa menerima Yunho apa adanya, namun perasaannya yang terluka tidak bisa menerima kenyataan itu. Hatinya yang terluka tidak bisa ia bohongi.
Benang kusut itu benar-benar sudah tersimpul mati. Tidak ada pilihan lain selain ia memutuskan untaian yang kusut itu dan kembali memulai semuanya dengan untaian benang baru.
Ia sudah memutuskan benang kusutnya.
Jaejoong berbaring di atas tempat tidur sambil menatap nanar langit-langit kamarnya. Menatap satu titik tanpa berkedip. Langit-langit putih pucat itu terlihat seperti sebuah layar besar dan kedua matanya seperti proyektor yang memperlihatkan semua memori-memori di dalam otaknya.
Jaejoong terbatuk perlahan ketika tenggorokannya terasa begitu tercekat. Kedua matanya tiba-tiba saja terasa memanas. Sesuatu yang terasa basah dan hangat berdesak-desakkan seperti akan pecah membuncah di kedua sudut matanya. Ia menutup mulut dengan punggung tangan kanan ketika suara isak tangis mulai pecah yang diringi mengalirnya sebulir air mata di pipi putihnya.
Ia mulai menangis terisak ketika rasa sakit yang sedari tadi berusaha di hilangkan dan dilupakan kembali menyelimutinya. Membelenggunya dengan perasaan yang begitu menggerogoti jiwanya.
Jaejoong terus menumpahkan segala emosi dan rasa sakitnya. Menangis hingga terisak. Menangis hingga tenggorokannya terasa kering. Menangis hingga air matanya habis. Menangis hingga rasa sakit itu menghilang. Menangis hingga ia tertidur karena lelah.
~.~.~.~.~.~
'Drrtt~drrtt~'
Sebuah ponsel begetar di atas meja nakas hingga membuat seseorang terbagun dari tidur lelapnya. Tangan kanannya perlahan terulur dan meraih ponsel yang masih bergetar tidak sabar. Ia berusaha membuka mata dan melihat jam analog Hello Kitty yang ada di samping ponselnya.
Jam 04.00AM.
Ia mengerang kesal pada seseorang yang menelponnya di pagi buta seperti ini. Ia mengangkat panggilan itu tanpa melihat siapa yang menelponnya.
"Hallo?" sapa Jaejoong dengan suara serak bangun tidurnya.
"Keluarlah."
Kesadaran Jaejoong seutuhnya kembali ketika ia mendengar suara itu. Ia bangkit terduduk di atas tempat tidur berusaha meyakinkan diri bahwa ia benar-benar mendengar suaranya.
"Keluarlah.. kumohon.."
"Yunho.."
"Datanglah ke Doil Elementary School di samping rumah sakit. Aku menunggumu disini."
Ucapan Yunho membuat Jaejoong membelalakan matanya. Ia kembali menolehkan kepala menatap jam analog Hello Kitty nya. Ia memekik terkejut.
"Apa yang kau pikirkan, Yunho? Apa yang kau lakukan di sana di pagi buta seperti ini? Bagaimana kau bisa keluar dari kamar inapmu dalam keadaan seperti itu?!" tanya Jaejoong panik dan khawatir sambil menyibakkan selimut yang menutupi kakinya.
"Cerewet! Cepatlah datang! Aku sudah membeku kedinginan menunggumu disini. Alkohol yang kuminum tidak bisa menghangatkan tubuhku."
"Ya! Apa kau mabuk, Yunho?! Apa sih yang kau pikirkan?! Aku tidak menyuruhmu untuk pergi ke sana dan menungguku. Sungguh, aku tidak bisa mengerti jalan pikiranmu!"
"Aku tidak peduli. Aku akan menunggumu disini sampai kau datang."
"Yun –"
Ucapan Jaejoong terputus ketika Yunho mengakhiri sambungan teleponnya begitu saja. Ia menatap ponselnya dengan mulut menganga lebar tidak percaya dengan apa yang sedang Yunho lakukan sekarang.
"Aish! Si Bodoh itu!" Jaejoong mengerang pelan sambil turun dari tempat tidur dan membawa hoodie biru dongkernya yang tergantung di balik pintu. Ia kemudian berlari keluar rumah di pagi buta tanpa menyadari bahwa ia tidak membawa dompet dan ponselnya lagi –untuk yang kedua kalinya. Ia selalu tidak pernah bisa berpikir jernih dan tenang jika segala sesuatunya menyangkut Yunho.
Jung Yunho benar-benar membuatnya gila.
~.~.~.~.~.~
Nafas Jaejoong terdengar naik turun tidak teratur ketika ia terpaksa berlari menuju Doil Elementary School karena tidak membawa dompetnya. Ia menyadari ia menjadi begitu bodoh ketika hanya Yunho yang ada di dalam benaknya.
Ia menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri mencari sosok Yunho yang menunggunya. Manik matanya yang hitam menatap pintu gerbang yang tertutup dan tergembok. Tidak mungkin Yunho bisa memanjat gerbang setinggi 2,5m itu dalam keadaan kaki kanan dan tangan kirinya yang patah, jadi Yunho pasti menunggunya di depan gerbang. Namun, ia tidak menemukan sosok Yunho di sana.
"Aish.. dimana dia?"
Jaejoong menggosokkan kedua tangan yang terasa dingin kemudian memeluk dirinya sambil terus menunggu Yunho. Ia berjongkok di depan gerbang ketika rasa dinginnya benar-benar begitu membunuh. Membuatnya bertanya-tanya bagaimana dengan keadaan Yunho yang menunggunya di cuaca dingin seperti ini?
"Ah sial! Aku tidak membawa ponsel! Kau benar-benar membuatku seperti orang tolol, Jung Yunho!" gumam Jaejoong sambil menempelkan kening di atas kedua lutut yang ia tekukan dan memeluk kedua kakinya ketika tubuh itu masih terus menggigil kedinginan. Namun ia tidak peduli jika ia harus menunggu Yunho di sana sekalipun hawa dingin itu bisa membuatnya mati kedinginan, karena sekarang.. Jaejoong yang akan menunggu Yunho hingga dia datang.
.
.
.
.
Jaejoong terbangun dari tidurnya. Ia mendongakan kepala dan langsung menghalau sinar mentari pagi yang menyorot wajah cantiknya dengan tangan kanan. Matahari sudah terlihat sudah cukup tinggi di atas garis horizontal. Ia memperhatikan sekelilingnya dan terkejut ketika menyadari bahwa ia sudah tertidur di sana hingga matahari terbit. Ia pikir, ini semua hanya mimpi.
"Astaga! Jam berapa sekarang?!"
Ia menatap jam besar yang ada di dalam halaman Doil Elementary School. Ia memekik terkejut dan membelalakan matanya lebar ketika melihat jarum jam itu menunjukkan angka 07.30AM.
"Jam 07.30AM?!" pekik Jaejoong sambil menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri untuk mencari Yunho, namun ia tetap tidak menemukanya di sana. Ia bahkan sampai memanjat pagar sekolah itu untuk mencarinya di dalam.
Jaejoong menunggu Yunho hingga pukul 10 pagi. Beruntung hari ini adalah hari Minggu, jika tidak, ia bisa di usir satpam penjaga sekolah karena sudah masuk sembarangan.
Jaejoong terus menunggunya, namun ia tetap tidak menemukannya di sana dan Yunho pun tak kunjung datang. Ia hanya bisa menghembuskan nafas menyerah sambil melangkahkan kakinya pulang.
Mungkin ini sudah benar-benar berakhir.
~.~.~.~.~.~
Jaejoong langsung mengambil ponsel yang masih tergeletak di atas tempat tidur dan memeriksanya begitu ia masuk ke dalam kamar. Ia membelalak lebar ketika puluhan panggilan dari Yunho dan dua panggilan dari Junsu tak terjawab olehnya. Ia benar-benar merasa bodoh dan tidak berguna. Rasanya ia ingin terjun dari tebing karena kebodohannya itu.
Ia langsung menelpon Yunho untuk menyakan keberadaan dan keadaannya. Ia menggigit bibir bawahnya gelisah ketika tidak terdengar nada sambung di ponselnya.
Jaejoong mencoba kembali menghubungi Yunho, namun setelahnya, ia mengerang kesal ketika suara operator yang menjawab. Ponsel Yunho tidak aktif. Ia merasa déjà vu sekarang.
"Sial! Sial! Sial!" Jaejoong mengumpat kesal sambil melemparkan ponsel itu ke atas tempat tidur kemudian menyapu rambut pirangnya ke belakang kepala hingga berantakan.
Ia benar-benar merasa frustasi sekarang.
Tiba-tiba saja ponsel Jaejoong bergetar yang membuatnya langsung mengangkat panggilan itu.
"Jaejoong ah? Dimana kau sekarang?" suara Junsu di sebrang telepon membuat Jaejoong rasanya ingin kembali menangis.
"Junsu yaaaahhhh! Bagaimana ini?! Aku sudah membuat keputusan bahwa aku akan benar-benar melupakannya. Tapi tiba-tiba saja Yunho menelponku dan menyuruhku untuk datang menemuinya. Sebenarnya aku tidak ingin menemuinya, tapi dia bilang dia akan menungguku di Doil Elementary School hingga aku datang. Aku ingat kalau Yunho itu bodoh dan keras kepala, dan aku khawatir kalau dia benar-benar akan terus menungguku di sana. Akhirnya aku memutuskan datang untuk menemuinya, tapi aku tidak melihatnya disana. Aku terus menunggunya hingga jam 10 pagi, tapi Yunho tak kunjung datang. Apa mungkin dia hanya mengerjaiku? Tapi, apakah aku boleh berharap kalau Yunho masih mengharapkanku?! Aaaarrggh! Aku tidak bisa membaca apa yang sedang dipikirkannya! Kepalaku rasanya akan meledak!"
Junsu hanya terdiam mendengar cerita panjang lebar sahabatnya yang seperti ingin menangis karena frustasi. Namun setelahnya, ia menghembuskan nafas lelah. Lelah dengan kebodohan yang di pelihara Jaejoong.
"Hhhaaahh.. apa kau tahu Doil Elementary School memiliki dua gerbang utama?"
"Eh?!"
"Tsk~ aku bisa membayangkan dua idiot menunggu di depan gerbang yang berbeda."
"Maksudmu?!"
"Doil Elementary School memiliki dua gerbang utama, utara dan selatan. Aku yakin kalian sama-sama menunggu, namun di gerbang yang berbeda."
"Apa?! Jadi.. maksudmu.. aku menunggu di gerbang yang salah?"
"Kau ini.. mengatakan orang lain bodoh, tapi kau sendiri jauh lebih bodoh darinya dengan meninggalkan ponsel begitu saja hingga kalian terlihat seperi duo idiot yang tidak ada habisnya."
"Oh My God! Eottohkae?! Aku yakin dia akan kembali mengamuk! Oh Tuhan, aku benar-benar merasa seperti orang tolol yang tidak berguna!"
"Dia tidak bisa mengamuk sekarang karena demamnya sangat tinggi."
"Demam?! Bagiamana bisa dia terkena demam?"
"YA! Apa perlu aku melubangi kepalamu dan mengaduk otakmu agar kau bisa bepikir kembali?!"
"Jangan katakan padaku kalau dia terkena demam karena berjam-jam menungguku di cuaca yang dingin?!"
"Terima kasih Tuhan, akhirnya kau bisa berpikir lagi."
"Ya!"
"Apa? Aku hanya mengatakan hal yang sebenarnya. Kalau kau sudah bisa menyadari kesalahanmu, mengakui kebodohanmu, dan menghilangkan egomu, aku yakin kau tahu apa yang harus kau lakukan sekarang. Sebelum semuanya terlambat dan sebelum kau benar-benar menyesalinya."
Kalimat Junsu begitu terngiang-ngiang di dalam benaknya. Ia menelan ludah sambil memikirkan ucapan sahabatnya. Ia mulai berlari keluar kamar ketika ia tahu apa yang harus ia lakukan sekarang. Namun ia kembali ke dalam kamar dan mengambil dompetnya yang tergeletak di atas meja belajar.
"Gomawo, Junsu." Ucap Jaejoong sambil memutuskan sambungan teleponnya dengan Junsu dan berlari keluar rumah kemudian menyetop taksi.
Kali ini ia tidak akan mengulangi kesalahan dan kebodohannya.
~.~.~.~.~.~
'BRAK!'
Suara pintu yang terbuka kasar membuat semua orang yang ada di dalam ruangan menatap seseorang yang berdiri terengah-engah di depan pintu. Manik matanya yang hitam membelalak lebar ketika melihat begitu banyak orang yang ada di dalam ruang inap Yunho. Namun ia tidak mempedulikannya ketika tatapan matanya terfokus pada Yunho yang terbaring lemah di atas tempat tidur. Wajahnya terlihat begitu pucat, dadanya naik turun tidak teratur seperti kesulitan bernafas, dan tubuhnya terlihat menggigil karena kedinginan.
"Ya! Kau ini benar-benar tidak tahu malu, heh?! Masih berani kau datang ke sini setelah membuat kondisi tubuhnya menurun karena menunggu orang brengsek sepertimu selama hampir 5 jam?!" suara teriakan Jessica terdengar begitu menggelegar di dalam ruang inap Yunho yang membuat laki-laki tampan yang berbaring lemah itu membuka kedua matanya.
Mata coklat Yunho menatap sosok Jaejoong yang berdiri di ambang pintu. Ia mendengus pelan ketika melihat Jaejoong yang berjalan mendekatinya. Ia pikir, Jaejoong akan berjalan semakin menjauhinya.
"Dengarkan kalau ada orang lain yang berbicara!" teriak Jessica lagi sambil menahan tubuh Jaejoong yang berjalan semakin mendekati Yunho.
"Lepaskan!" teriak Jaejoong menghempaskan tangan Jessica yang menahan lengannya dengan kasar. Membuat perempuan berambut pirang itu terkejut dengan perubahan sikap Jaejoong.
"Apa lagi maumu, Kim Jaejoong?!" kini Tiffanny yang berdiri menghadang Jaejoong untuk menahannya. Namun Jaejoong mendorong perempuan itu untuk tidak menghalanginya yang membuat Tiffanny melengking kesal karena terjatuh. Jaejoong terus berjalan tidak mempedulikannya ketika perhatiannya hanya tertuju pada Yunho.
"YA!" Tiffanny dan Jessica beringsut kesal.
"Kau.. kau sungguh luar biasa. Kau benar-benar membuatku terlihat seperti orang idiot. Kau seharusnya bangga mendapatkan special treatment dariku, tapi kau cukup brengsek untuk membuatku menjadi seperti ini. Kau sudah tidak perlu lagi bertemu denganku karena aku sudah melepaskanmu. Aku tidak ingin bertemu denganmu lagi. Aku sudah lelah untuk terus 'menunggu'. Kau bebas sekarang.." Ucap Yunho pelan sambil menutup kedua matanya karena lelah. Ia sudah lelah untuk menunggu seseorang, ia sudah lelah untuk mendapatkan perhatian palsu, dan ia sudah lelah menjadi 'mainan' yang hanya dipermainkan begitu saja.
"Kau dengar itu?! Yunho sudah menyuruhmu pergi!" Jessica menarik tangan kiri Jaejoong untuk tidak semakin mendekati Yunho. Namun lagi-lagi Jaejoong menghempaskan tangannya ketika keputusan yang di ambilnya sudah bulat.
Jaejoong tidak akan melepaskannya begitu saja ketika Yunho sudah membuatnya benar-benar gila karena menyukainya.
"You jerk!" desis Jaejoong sambil menarik leher Yunho kemudian menciumnya tepat di bibir. Merasakan bibir kering yang terasa dingin itu di atas permukaan bibirnya.
Yunho membuka kedua matanya terkejut ketika merasakan bibir lembut itu menyentuh bibir keringnya yang dingin. Jantungnya berdegub kencang seperti akan mencelos keluar ketika ia merasakan sensasi seperti tersengat jutaan volt listrik yang baru ia rasakan. Kepalanya berdenyut sakit ketika memikirkannya, namun ia seolah melayang ketika bisa merasakan bibir lembut dan manis itu di atas bibirnya.
Jaejoong mulai menggerakkan bibirnya dengan perlahan. Mengigit lembut bibir penuh Yunho lalu menjilatnya dengan gerakan yang begitu sensual, bermaksud untuk menggodanya. Gerakan bibir Jaejoong, membuat Yunho ikut menggerakan bibirnya dengan perlahan dan membalas ciuman itu. Kedua bibir mereka kini bergerak dalam gerakan yang berirama dan harmonis.
Jaejoong cukup terkejut ketika merasakan lidah panas Yunho menyentuh bibir bawahnya. Menjilat bibir dan menyapa lidahnya. Tanpa penolakan, ia membuka kedua bibirnya dan membiarkan lidah itu menyeruak masuk ke dalam mulutnya. Membiarkan lidah itu merasakan dan menjilati setiap sudut di dalam mulutnya hingga akhirnya, kedua lidah mereka bertemu dan saling beradu untuk menjadi yang dominan.
Nafas keduanya terdengar semakin memendek. Oksigen yang ada di sekitar, seolah menipis ketika mereka berlomba-lomba untuk menghirupnya. Hingga membuat hembusan nafas Jaejoong menjadi oksigen bagi Yunho, dan hembusan nafas Yunho menjadi oksigen bagi Jaejoong.
Mereka saling berbagi.
Lidah mereka masih beradu untuk menjadi yang dominan ketika akhirnya, Jaejoong melenguh pasrah dalam pertempuran itu karena Yunho begitu mendominasinya. Membiarkan Yunho mengambil kendali dan membiarkan Yunho mencium bibirnya tanpa ampun.
Sialan.. Yunho bilang kalau saat itu adalah ciuman pertamanya, namun entah mengapa Jaejoong merasa, ciuman Yunho layaknya seorang yang pro.
Jaejoong terkesiap ketika gigi Yunho menggigit bibir bawahnya dengan gemas hingga ia bisa merasakan rasa asam yang merembes dari luka akibat gigitan Yunho. Ia melepaskan ciumannya dengan nafas terengah-engah dan menatap mata coklat yang juga sedang menatapnya dengan tatapan lembut. Rasanya Jaejoong ingin mencium bibir penuhnya lagi ketika melihat tatapan mata yang lembut itu kembali terlihat dari mata coklat hazelnut nya.
"Wow.. that was.. hot." Suara Yuu membuat Jaejoong menolehkan kepalanya menatap laki-laki jangkung yang sedari tadi berdiri di samping tempat tidur Yunho. Wajah Jaejoong langsung memerah karena malu ketika menyadari kalau banyak orang di dalam ruang inap Yunho.
"Amazing." Gumam Yoochun yang sedari tadi tidak mengerjapkan matanya barang sedetikpun melihat adegan ciuman panas Yunho dan Jaejoong tepat di depan kedua matanya. TOP hanya berdecak kagum melihat keberanian Jaejoong yang begitu blak-blakkan.
"AAAAAAAAAHHH! Kenapa kau lakukan itu?! Kenapa kau mencium Yunho oppa?! Bukankah kau sudah berjanji padaku?! Bukankah kau bilang kau tidak akan muncul lagi di hadapan Yunho oppa?! Kau sialan, Jaejoong!" teriak Tiffanny menangis keras sambil berjongkok dan menutup kedua telinga dengan tangannya karena kesal. Ia menangis semakin histeris setelah melihat Yunho yang membalas ciuman Jaejoong.
Oh well.. Jaejoong benar-benar lupa dengan keberadaan Tiffanny ketika pikiran untuk mendapatkan kembali hati Yunho begitu memenuhi pikirannya.
"Apa?! Perjanjian apa yang kau maksud, Tiffanny?!" tanya Yunho ketika ia mendengar teriakan Tiffanny. Manik mata coklatnya menatap tajam perempuan yang berjongkok di samping tempat tidur.
"Perjanjian bahwa dia tidak akan menemui oppa lagi! Aku yang menyuruhnya bicara seperti itu! Aku yang menyuruhnya untuk mengucapkan kata perpisahan padamu! Aku yang menyuruhnya, karena Yunho oppa hanya milikku!" teriak Tiffanny sambil berdiri dari jongkoknya dan mendekati Yunho. Ia menggenggam erat tangan Yunho sambil menangis terisak. Namun Yunho menepis tangan Tiffanny dengan kasar ketika ia mengerti mengapa kemarin Jaejoong tiba-tiba bersikap begitu dingin padanya.
Jaejoong yang masih duduk di tepi tempat tidur dengan Tiffanny yang ada di sampingnya, membuat ia merasa tidak nyaman dan canggung. Ia hendak berdiri dari sana ketika tiba-tiba saja tangan hangat Yunho karena demam menggenggam tangannya erat agar ia tidak pergi kemanapun.
Yunho tidak akan melepaskan genggaman tangannya. Ia tidak akan melepaskannya lagi.
"Shit! Sejak kapan aku menjadi milikmu, heh?!" teriak Yunho semakin geram dengan tingkah Tiffanny yang semakin tidak karuan.
"Sejak kita melakukannya malam itu! Oppa bahkan berjanji padaku akan bertanggung jawab!" teriak Tiffanny frustasi yang membuat orang-orang di dalam ruangan itu terkejut mendengarnya.
"Fuck!" desis Yunho kesal ketika Tiffanny terus saja mengatakan kejadian itu tanpa rasa malu. " –ya, aku memang mengatakan padamu bahwa aku akan bertanggung jawab! Tapi aku akan menikahimu ketika aku berumur 100 tahun! Jadi, cari aku setelah aku berumur 100 tahun dan aku akan menikahimu!" Yunho beringsut kesal dengan sikap kekanak-kanakan Tiffanny yang begitu terobsesi terhadap dirinya.
Jawaban asal Yunho membuat Tiffanny semakin histeris dan menangis terisak. Ia menatap tajam Jaejoong yang ada di sampingnya.
"Sialan! Gara-gara kau, Tiffanny menangis sampai seperti itu! Keluar kau, brengsek!" Jessica semakin marah ketika melihat Tiffanny yang begitu berantakan. Ia hendak menarik Jaejoong keluar dari sana ketika ucapan Yunho menghentikannya.
"Kau yang keluar, blonde! Berani kau menyentuhnya walau seujung helai rambut sekalipun, aku akan benar-benar membuat perhitungan denganmu, Jessica!" ucap Yunho yang membuat Jessica menggertakkan giginya kesal.
"Kau tidak akan mungkin melakukannya, Jung." Desis Jessica sambil menatap tajam Yunho.
"Jangan kau berpikir aku hanya main-main dan menggertakmu. Aku bisa memukul perempuan kalau aku mau." Desis Yunho berbahaya. Manik matanya yang coklat kini bergerak menatap tajam Tiffanny yang sedang menatap Jaejoong dengan tatapan bengis.
"Kau dan perempuan sialan itu, keluarlah dari kamarku! Kalian membuat demamku semakin tinggi!" teriak Yunho lagi menyuruh Jessica dan Tiffanny untuk keluar.
'BUGH!'
Jaejoong memekik terkejut ketika melihat Yuu yang tiba-tiba memukul pipi kiri Yunho hingga wajahnya terlempar kesamping. Semuanya bahkan terkejut dengan apa yang di lakukan Yuu.
"Shit! Apalagi sekarang?!" geram Yunho sambil menggeleng kepalanya yang terasa berkunang-kunang karena pukulan Yuu. Ia bisa merasakan sudut bibirnya yang berdarah.
"Bicaramu keterlaluan." Desis Yuu sambil berjalan mendekati Tiffanny yang sudah terduduk di atas lantai. Ia membantu tubuh bergetar itu untuk berdiri. Manik mata abu tuanya menatap tajam Yunho.
"Kau sangat keterlaluan padanya. Kau tahu Tiffanny sangat menyukaimu, tapi kau memperlakukannya seperti barang yang tidak ada gunanya!" desis Yuu berbahaya. Yunho mendengus kesal mendengar pernyataan Yuu.
"Kalian kenapa sih?! Kalian selalu saja meributkan Tiffanny ini, Tiffanny itu, Tiffanny, Tiffanny dan Tiffanny. Aku muak mendengar nama itu!"
Perkataan Yunho membuat Yuu hampir saja memukulnya kembali kalau saja Yoochun dan TOP tidak menahannya.
"Shit! Tenanglah, Yuu! Apa yang terjadi padamu?!" tanya Yoochun sambil menarik tubuh jangkung Yuu untuk menjauh dari Yunho.
Jaejoong hanya diam saja tidak mengerti dengan apa yang terjadi. Ia tidak mengerti mengapa tiba-tiba saja Yuu memukul Yunho dan memihak Tiffanny.
"Aku tahu kenapa kau seperti ini. Kau suka Tiffanny 'kan? Kalau kau suka padanya, katakan 'suka'! Jangan jusru melibatkanku dan menghajarku seperti seorang pengecut! Kalau saja aku tidak dalam kondisi seperti ini, aku sudah mengirimmu ke UGD karena sudah memukul wajahku!"
Perkataan Yunho membuat Yuu menggertakkan giginya menahan amarah. Ia menatap tajam Yunho sambil mengepalkan kedua tangannya. Yunho hanya menyeringai menanggapi tatapan tajam Yuu.
"Apa? Kau.. menyukai Tiffanny?" gumam semuanya terkejut dengan kenyataan itu. Bahkan si objek yang menjadi perbincangan, Tiffanny.
Perempuan berambut hitam panjang itu menolehkan kepalanya menatap wajah blasteran Yuu. Ia terkesiap ketika mata abu tua itu menatap matanya. Ia menggelengkan kepalanya kuat-kuat kemudian berlari keluar dari kamar Yunho.
"Tiffanny!" teriak Jessica memanggil Tiffanny. Ia mengerang pelan sambil menolehkan kepalanya menatap Jaejoong. Ia mengatupkan rahangnya kuat-kuat kemudian menyuruh seluruh anak buahnya untuk keluar dari sana.
Sekarang suasana ruang VIP terasa sedikit tenang dengan keluarnya Tiffanny, Jessica dan beserta gang nya. Hanya tersisa gang Shine dan Jaejoong di dalam sana yang entah mengapa suasananya justru terasa semakin menegangkan.
"Now, all of you just get the fuck out from here!"
Desis Yunho sambil merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur ketika sakit kepala itu kembali menyerangnya. Demam yang di deritanya membuat Yunho benar-benar tidak berdaya sama sekali.
Yuu melepaskan diri dari pegangan Yoochun dan TOP kemudian berbalik dan berjalan keluar dari sana tanpa mengatakan apapun. Yoochun dan TOP hanya menghembuskan nafas ketika melihat pertengkaran dua orang itu. Ini sesuatu yang sangat baru bagi keduanya, karena selama mereka mengenal Yunho dan Yuu, dua orang itu tidak pernah bertengkar sedikitpun. Pasti ada sesuatu yang terjadi di antara mereka hingga membuat Yuu begitu marah pada Yunho.
"Baiklah hyung, kami ada di luar. Kalau kau butuh sesuatu, telepon saja kami." Ucap TOP dengan suara bass nya kemudian berjalan keluar kamar Yunho dengan Yoochun yang mengekor di belakangnya.
Jaejoong menghembuskan nafas perlahan ketika melihat Yunho yang memejamkan mata. Ia hendak melepaskan genggaman tangan Yunho yang melonggar dan keluar dari sana ketika tangan itu kembali menggenggamnya dengan begitu erat.
"Kau mau kemana?" tanya Yunho sambil membuka kedua matanya kembali.
"Errr… keluar? Bukankah kau menyuruh kami keluar?"
"Aish! Apa kepalamu hanya berisi labu saja?!"
"Ya! Apa maksudmu?!"
"Aku tidak menyuruhmu untuk keluar!"
"Tapi kau bilang 'all of you' bahkan kau menyuruh 'blonde' untuk keluar! Apa kau lupa kalau aku juga blonde?!"
"HAISH! Maka dari itu aku tidak suka dengan warna baru rambutmu!"
"Kalau kau tidak suka melihatnya, aku akan keluar dari sini dan kau tidak akan melihat si blonde lagi!"
"Bukan itu maksudku! Aish~ jangan membuat kepalaku semakin berdenyut sakit!"
"Kalau begitu katakan apa yang harus kulakukan!"
Jaejoong berusaha menahan senyumnya ketika melihat Yunho yang seperti ini. Sikap salah tingkah Yunho terlihat begitu lucu dan manis, membuatnya tidak tahan untuk tidak menggodanya. Lagipula, ia ingin membuat Yunho lebih jujur dengan perasaannya. Ia ingin Yunho lebih mengekspresikan keinginannya.
"Maksudku.. kau.. tetaplah.. disini." bisik Yunho sambil memalingkan wajahnya. Ia belum pernah meminta kepada seseorang dengan tidak membentaknya. Ini sangatlah baru baginya hingga ia merasa tergagap seperti itu.
Jaejoong tersenyum menyeringai melihat wajah memerah Yunho. Oh, tentu saja wajahnya memerah karena demam, namun ia terlalu tahu bahwa ada rona lain di wajah yang memerah itu. Ia berdecak pelan melihat Yunho yang malu-malu.
"Sudah lama kita tidak berbicara seperti ini." Ucap Jaejoong sambil menatap tangan mereka yang bertautan, membuat ia tidak bisa menahan tarikan di kedua sudut bibirnya. Ia tidak menyangka kalau mereka bisa menjadi seperti ini. Ini bahkan jauh di luar ekspektasinya.
"Hum.." jawab Yunho pelan. Ia pun tidak bisa menahan tarikan di kedua sudut bibirnya ketika merasakan tangan Jaejoong bertautan dengannya. Ia merasa begitu nyaman ketika menyentuhnya. Namun ia langsung membalikkan tubuh memunggungi Jaejoong untuk menyembunyikan senyum lebarnya yang terlihat seperti orang idiot.
" –kau.. tidak akan pergi lagi 'kan?" tanya Yunho berdehem pelan sambil melepaskan genggaman tangannya. Ia hanya ingin memastikan bahwa apa yang sekarang ia rasakan adalah nyata dan ia ingin memastikan bahwa Jaejoong tidak akan meninggalkannya lagi. Ia hanya ingin membuktikan bahwa apa yang ditakutkannya tidak akan terjadi lagi padanya.
Jaejoong menatap Yunho yang memunggunginya. Ia mengerang pelan ketika ia tidak bisa melihat wajah malu-malu Yunho.
"Kalau kau berbicara dengan lawan bicaramu, tatap wajahnya. Jangan memalingkan wajah seperti itu. Hey –!" panggil Jaejoong sambil berusaha melihat wajah Yunho..
"Jawab saja pertanyaanku, ish!" desis Yunho menolak untuk membalikan tubuh menghadap Jaejoong.
"Aigooo~~ ternyata kau bisa malu juga ya? Manis sekali kalau kau tidak membalikkan badanmu, aku akan meninggalkanmu." Jawaban Jaejoong membuat Yunho lagi-lagi hampir terkena serangan jantung ringan. Ia langsung berbalik bahkan bangkit terduduk karena terkejut.
"Kau benar-benar cari mati, hah?!"
"Aish~ apa tidak ada kata lain selain mati yang bisa kau ucapkan, eh?! Kau ini benar-benar tidak romantis."
"Kau ingin kupukul?! Berhentilah tertawa seperti maniak!" desis Yunho sambil memutar kedua bola matanya kesal melihat Jaejoong yang menertawainya. Namun tidak bohong juga kalau ia merindukan suara tawa itu. Suara tawa yang terdengar begitu melodis dan renyah di kedua telinganya.
"Hahaha~ wajah sudah memerah seperti kepiting rebus masih bisa membentakku seperti itu? Tsk~ Jung~Jung~ you are really something." Decak Jaejoong sambil menggelengkan kepalanya takjub melihat pribadi Yunho yang begitu unik.
"Kau –"
Ucapan Yunho terhenti ketika bibir merah cherry itu menyentuh bibirnya kembali. Membuat mata sipit Yunho membelalak lebar dan membuat wajahnya kini terlihat semakin memerah.
"Silly~ tentu saja aku tidak akan meninggalkanmu." Bisik Jaejoong kemudian mengecup pelan pipi Yunho.
Jaejoong tertawa puas melihat wajah memerah Yunho. Ini seperti sesuatu yang baru baginya melihat wajah Yunho yang memerah karena malu. Yunho terlihat begitu lucu dan manis ketika seperti itu.
Yunho hanya terdiam pasrah mendengar suara tawa melodis Jaejoong. Ia tidak bisa melakukan apapun untuk membalas Jaejoong ketika ia dalam kondisi seperti itu. Namun setelahnya, ia tersenyum menyeringai ketika aksi balas dendam terbesit di dalam benaknya.
Revenge will be so sweet~
====================== TBC =======================
NB (please read!)
1: annyeong every bodeeeeeeeeeehhhh? Aaaahhhh huft huft huft (abis lari marathon) miss meh? xD ahehehehe
2: maaf untuk apdet yang aga ngareeeeeettt! Dx aaahhh hectic schedule! This is the best thing that I can give u.. sorry If it dissaponting.. no editing enymore coz this ff is fresh from the oven! Aaaakkkkkk *di kejar deadline*
3: okay, this part is really like a hot cake with 34 pages of MsW! Wow! I give u another 4 pages as bonus xDD
4: akhirnya yunjae balikaaaaaaaannn! Aaahhh dari kmaren pengen bgt cepet2 nyampe ke part ini! Hiiiiiiiiii lama kaliiiiiiiiii~~~ jadi gimana ama ceritanya? Makin penasaran? Ihiiiiwww smoga kalian makin geregetan bacanya xD tarik ulurnya yunjae bikin gerah emang.. klo mau nampol yunjae, tampol aja LOL tp yang bikin cerita yunjae tarik ulur kan aku juga xD kkkkkk #kabur
5: aaahh apa yg terjadi dengan yuu? XDDD *tebak2an ama author, hehe* #smacked
6: cma mau bilang, untuk part2 selanjutnya bakalan bener2 lama nih, soalnya aku udah mau UAS dan smua tugas mendekati deadlinenya, jadi aku ga janji minggu depan bsia apdet ato ga.. tp mudah2an bisa sih… tp gtw juga akunya bisa lanjutin editing ato ga di tengah2 kesibukan ini D8 jadi aku cuma minta pengertiannya harap maklum #deepbow
7: aku mau ngucapin, makasih bangeeeeeeetttt buat smua reader yg udah baca bahkan ampe follow, favorite even review this ff! #huggles aku bener-bener terharu banyak yg suka 8'D #sobs ampe ada yg ga sabar nanyain terus gmn lanjutannya ;A; don't worry my beloved reader, karena aku bakal tamatin ff ini ;) karena draft kasarnya udah ada, jd untuk pengembangannya bakal lebih mudah.. Cuma constraint di sini tuh 'waktu' xD jd aku harap kalian bener2 memakluminya #wink
8: Jangan lupa untuk review nya #smooooooccchhhhh
9: last but not least, thank you very much! I do really love u guys 8'D
10: THANK YOU!
