Uke VS Seme
Summary:: Dibalik sekolah asrama khusus laki-laki yang elit dan terkenal ternyata ada sebuah kejadian yang tidak diketahui oleh orang luar, yaitu permusuhan antar penghuni asrama disekolah itu. Bagaimana cara pihak sekolah mengatasi kejadian ini?
Pair:: Kyumin, Yewook, Hanchul, Haehyuk, Kangteuk, Sibum, Zhoury, Yunjae, Yoosu, Onkey, 2Min
Rated:: T
Genre:: Romance, Humor
Warn:: Unsur BL, OOC
Annyeong~! Author kembali bersama FF Uke VS Seme~ Chap 11 update! Chap ini partnya 2min.. Ada yang nunggu part 2min? Oke, langsung aja deh..
Enjoy~! ^^
~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~
Kelas X-A
"Taemin-ah, kau tidak lupa membawanya 'kan?" tanya Henry yang duduk di depan meja belajar Taemin. Taemin menoleh pada Henry. Ia lalu mengambil tasnya dan meletakkannya di atas meja.
Taemin hendak membuka tasnya, namun gerakkannya terhenti. Ia menatap Henry.
"Jangan hilang ya, hyung." Ujar Taemin mengingatkan. Henry mengangguk. Taemin kembali hendak membuka tasnya, namun kembali berhenti.
"Jangan rusak ya, hyung." Ujar Taemin lagi. Henry mengangguk.
"Jangan lecet ya, hyung!" Henry mengangguk lagi.
"Jangan lupa kembalikan ya, hyung." Henry menganggukkan kepalanya berkali-kali.
"Jangan-"
"Iya, iya! Mana kasetnya? Cepat!" Henry mengulurkan tangannya, meminta kaset Michael Jackson yang ingin dipinjamnya dari Taemin.
Dengan berat hati, Taemin membuka tasnya dan mencari kaset Michael Jackson kesayangannya.
Taemin mengobrak-abrik tasnya dengan dahi mengernyit.
"Waeyo, Minnie? Kau lupa membawanya?" tanya Henry yang melihat perubahan ekspresi pada dongsaengnya yang satu ini. "Ani, aku tidak lupa membawanya. Tapi kenapa tidak ada di dalam tasku, ya?" Taemin membalikkan tasnya sehingga semua barang yang ada di dalam tasnya berjatuhan ke atas meja.
Taemin melihat kembali isi tasnya. "Kok gak ada, sih?' Taemin menggaruk belakang kepalanya.
"Kau yakin sudah menaruhnya ke dalam tas?" tanya Henry khawatir. Tentu saja khawatir. Pasalnya, dongsaengnya kini tengah kehilangan kaset kesayangannya. Kalau sampai kaset kesayangannya hilang, bisa di pastikan, Taemin akan galau tingkat akut, stress, nangis gaje, melempar semua barang yang ada di sekitarnya, bahkan bisa dipastikan bebek-bebek yang ada di depan sekolah akan melarikan diri ketika mendengar jeritan histeris Taemin.
"Huwaaa! Mana?" teriak Taemin histeris. Henry segera membekap mulut Taemin. "T-tenang, Taemin-ah. Jangan nangis," bisik Henry.
Setelah dirasanya Taemin sudah tenang, Henry pun melepaskan tangannya.
"Ukkh! Padahal kaset itu sangat mahal," Taemin mengerucutkan bibirnya. "Aku menghabiskan uang jajanku selama 3 bulan hanya untuk membeli kaset itu," Taemin menggembungkan pipinya. "Haahh~" Henry menghela napasnya. "Mungkin kasetmu ketinggalan, Taemin-ah,"
"Nggak mungkin, hyung. Kemarin jelas-jelas aku memasukkannya ke dalam tas," jelas Taemin. Ia kembali menggembungkan pipinya.
"Aisshh! Kenapa bisa hilang sih?" mata Taemin tidak sengaja menangkap Minho yang kini tengah berdiri di ambang pintu dengan senyum kemenangan yang terpampang di wajah tampannya.
Taemin mengernyit curiga pada Minho yang terlihat terkejut dan langsung pergi saat Taemin melihat ke arahnya. Taemin bukanlah orang yang mudah mencurigai orang lain. Tapi kalau dalam urusan Minho, Taemin akan mudah curiga pada namja yang satu itu.
"Aku akan coba memeriksanya di meja kamarku." Ujar Taemin. Henry yang sedang membaca bukunya segera membalikkan badannya ke arah Taemin.
"Hmm. Begitu lebih baik." Komentar Henry, lalu ia kembali fokus pada bukunya.
~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~
Pulang sekolah~
Saat bel sekolah berbunyi pertanda pelajaran di sekolah telah berakhir, Taemin langsung melesat dari kelasnya menuju gedung asrama.
Taemin tengah mengatur nafasnya yang tersenggal-senggal saat ia telah sampai di depan pintu kamarnya. Taemin meneggakkan badannya dan memegang knop pintu.
"Annyeong," sapa seseorang dari arah samping Taemin. Taemin menghentikan gerakan tangannya. "Minho hyung?" Taemin mengernyit tidak senang.
"Hmm, kenapa ekspresimu begitu? Jangan mengernyit seperti itu. Jarang-jarang loh ketemu namja ganteng sepertiku," ujar Minho seraya menopang tubuhnya dengan sebelah tangan pada dinding sebelahnya.
"Tapi aku bosan setiap hari melihat wajahmu di sekolah," ujar Taemin. Minho hampir saja terjatuh saat mendengar perkataan Taemin.
"Mwo? Bosan? Hahahaha," Minho tertawa kaku.
"Sudah, ya. Aku mau masuk dulu,"
"Eittss! Tunggu dulu," Minho menahan tangan Taemin.
"KEPADA SISWA LEE TAEMIN DAN CHOI MINHO, DIHARAPKAN SEGERA DATANG KE RUANGAN GO SEONSAENGNIM. TERIMA KASIH." Suara dari loudspeaker yang terpasang di setiap sudut gedung asrama menggema cukup keras sat pengumunan itu disampaikan.
"Itu.. Yang dipanggil itu kita, hyung?" tanya Taemin. Minho menggaruk tengkuknya. "Entahlah. Sepertinya bukan," Taemin terlihat berpikir. "Mungkinkah di sekolah ini ada orang yang bernama Lee Taemin dan Choi Minho selain kita?" tanya Taemin dengan polos.
Minho memasang tampang babo yang ia pinjam dari salah satu hyungnya.
"Mungkin saja ad-"
"YA! LEE TAEMIN DAN CHOI MINHO DIHARAPKAN SEGERA KE RUANGAN GO SEONSAENGNIM!" suara sang ketua OSIS di speaker itu kembali terdengar, kali ini dengan sedikit teriakan.
Taemin dan Minho langsung melesat menuju ruangan seonsaengnim.
~#~#~#~#~#~#~#~#~#~
"Haahh~! Haaahh! Hahh!" Taemin mengatur napasnya ketika telah sampai di depan pintu.
TOK TOK TOK
"Ne, masuk!"
Minho pun masuk ke ruangan itu dengan langkah coolnya. Sedangkan Taemin, berjalan seperti orang setengah mati di belakang Minho.
"Ada apa, seonsaengnim?" tanya Minho dengan sopan. "Hmm. Saya ada dinas ke luar kota sebentar lagi, sedangkan SooMan seonsaengnim menyuruh saya membawa buku-buku ini ke perpustakaan. Karena saya sudah telat, jadi saya tidak bisa membawa buku-buku itu ke perpustakaan," Taemin merasakan firasat buruk saat mendengar seonsaengnim menjelaskan dan melihat Go seonsaengnim sedang membereskan buku pelajaran yang akan dibawanya untuk dinas.
"Kalian ini murid kesayangan saya, jadi saya ingin kalian membawa buku-buku ini ke perpustakaan," Taemin membulatkan mata dan mulutnya. "Membawa semua buku-buku ini?" tanya Taemin dengan tidak percaya. Bayangkan! Disuruh membawa buku-buku yang banyaknya segunung itu ke perpustakaan? Hanya berdua? Ditambah lagi dengan ketebalan buku itu yang kira-kira 5 sampai 7 cm.
Go seonsaengnim mengangguk. "Ne, semuanya. Kenapa? Ada masalah?" tanya Go seonsaengnim dengan tatapan tajam. "A-ah, aniyo, seonsaengnim." Go seonsaengnim tersenyum dan kembali membereskan barang-barangnya.
"Nah, baiklah! Ruangan ini tidak saya kunci, jadi tolong bawa buku-buku itu, ok? Bye-bye!" Go seonsaengnim melambai-lambaikan tangannya dengan senyuman yang seolah mengatakan, 'Selamat-berjuang-anak-anak!-Semoga-harimu-menyenangkan~'
"Oh, guru menyebalkan." Gumam Taemin yang melempar tatapan datar pada pintu yang baru saja tertutup.
"Katanya kita ini murid kesayangan, tapi kenapa malah disiksa begini." Omel Taemin.
"Ok! Lalu, sekarang kita apakan buku-buku ini?" tanya Minho.
"Ya dibawa ke perpustakaan, dong." Jawab Taemin enteng.
"Yaudah, bawa itu!" ujar Minho seraya duduk di kursi milik Go seonsaengnim.
Taemin berjalan mendekati tumpukan buku-buku itu dan membawa beberapa buku itu. Taemin mengernyitkan dahinya ketika melihat Minho yang duduk santai di kursi seonsaengnim.
"Kenapa hyung duduk di sana? Bantu aku!" Taemin menyerahkan buku yang ada di tangannya pada Minho.
"Kau saja yang bawa ini, kenapa aku harus ikut?" Minho mengembalikan buku-buku itu pada Taemin. Taemin menatap buku-buku yang yang di tangannya, lalu kembali menyerahkan buku-buku itu pada Minho.
"Kita sama-sama membawa buku-buku ini. Seonsaengnim menyuruh kita untuk membawa ini, bukan hanya aku saja. Jadi hyung harus membawa buku-buku ini juga," ujar Taemin seraya mengambil beberapa buku lagi dari tumpukan buku-buku yang ada di sudut ruangan itu.
"Tidak mau," jawab Minho yang mengembalikan buku-buku itu pada Taemin.
"E-eh?" Taemin kesusahan membawa buku-buku karena Minho yang mengembalikan buku itu yang menjadikan Taemin membawa buku 2 kali lipat dari yang tadi. Wajah Taemin hampir tertutup oleh buku-buku yang ad di tangannya.
"Aigoo~ Hyung tega menyuruhku membawa buku sebanyak ini ke perpustakaan sendirian?" Taemin membulatkan matanya dengan penuh harap.
Minho merasa risih dengan tatapan itu. "Aisshh! Ne, ne. Aku juga akan membawa buku-buku ini." Ujar Minho. Ia mengambil sebagian buku yang ada di tangan Taemin.
"Kajja!" Minho berjalan duluan di depan Taemin. Taemin mengikuti Minho dari belakang. Mereka berdua masih menyandang tas sekolah yang tadi tidak sempat mereka letakkan di kamar.
Taemin berjalan seraya memandangi punggung Minho yang berjalan di depannya. 'Sebenarnya Minho hyung itu baik, tapi kenapa aku sangat jengkel padanya, ya?' pikir Taemin. Saat sadar apa yang ia pikirkan, ia langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat.
'Ani! Minho hyung memang menyebalkan! Dia selalu mengerjaiku.' Taemin menggembungkan pipinya mengingat kelakuan Minho selama ini.
"Ya! Ya! Kau mau berjalan sampai mana, eoh? Perpustakaannya ada di sini," ujar Minho yang sudah berdiri di depan pintu perpustakaan. Taemin menghentikan langkahnya ketika mendengar perkataan Minho. Taemin menoleh ke arah belakang. "Eh?" Ia lalu berjalan mundur. Ternyata saking asyiknya dengan pikirannya sendiri, Taemin berjalan sampai melewati Minho yang telah berhenti dan bahkan sampai melewati perpustakaan.
"Kau melamun saat berjalan?" tanya Minho ketika Taemin telah berada di depannya. Taemin mengangkat kedua bahunya lalu berjalan masuk ke dalam perpustakaan.
"Sepi," ujar Taemin pelan. "Tentu saja sepi, ini 'kan sudah waktunya semua siswa kembali ke asrama." Jawab Minho. Taemin mengangguk.
Minho meletakan buku-buku itu di sudut ruangan, begitu pula dengan Taemin. "Haaah~ Balik lagi nih?" tanya Taemin. Minho mengangguk. Taemin dan Minho meletakkan tas sekolah mereka di kursi perpustakaan.
"Ah, males ah bolak-balik. Mana ruangannya Go seonsaengnim ada di lantai bawah. Capek~" Taemin mendudukkan dirinya di kursi.
Minho menghela napas.
"Mau bagaimana lagi? Beginilah nasib orang tampan," jawab Minho. Mata Taemin berbinar mendengar perkataan Minho.
"Jinjja? Aku tampan?" tanya Taemin dengan senyum lebar. Minho menggeleng.
"Ani, kau tidak tampan. Sama sekali tidak tampan. Tadi aku hanya mengatai diriku saja," Jawab Minho telak.
Taemin memonyongkan bibirnya.
"Ayo cepat! Masih banyak buku di bawah sana." Ujar Minho seraya berjalan keluar dari perpustakaan sambil tersenyum. 'Kau tidak cocok disebut tampan, Taemin-ah.' Pikir Minho seraya menahan senyumnya agar tidak semakin lebar.
Taemin berdiri dari kursi dengan wajah kusut. 'Aku tidak tampan? Masa' sih? Jadi aku gak laku karena aku gak tampan? Masa' sih?' pikir Taemin sambil memegang wajahnya.
Minho berjalan di depan dengan kedua tangan di saku celana. Sedangkan Taemin yang berada di belakangnya masih memegang wajahnya dan memikirkan perkataan Minho.
'Aisshh! Minho hyung pasti sudah rabun! Mana mungkin aku tidak tampan?' pikir Taemin seraya mencubit-cubit kecil pipinya.
'Dia juga tidak tamp-'
"Huwaaa!" Lagi-lagi karena keasyikan dengan pikiran sendiri, kaki Taemin tersandung saat turun dari tangga.
Minho yang ada di depan pun sontak menoleh ke arah Taemin.
Brukkhh!
"Auwwh!" rintih Taemin dan Minho. 'Eh? Empuk.' Pikir Taemin.
"Aisshh! Cepat berdiri dari sana! Kau berat!" ujar Minho yang ada di bawah Taemin. "E-eh? Mi-mianhae~!" Taemin sesegera mungkin berdiri dari atas tubuh Minho.
Minho juga hendak berdiri dari atas lantai sekolah itu. "Auw!" rintih Minho ketika hendak berdiri. Ia kembali terbaring di lantai sambil memegangi pinggangnya.
Taemin mengernyit dan berjongkok di samping Minho yang terkapar. "Hyung? Gwaenchana?" tanya Taemin. Terdapat sedikit kekhawatiran di pertanyaannya itu.
"Aduhh! Pinggangku sakit," jawab Minho. Taemin jadi semakin khawatir dan panik. "Mwo? Pinggang hyung sakit? Aduhh~ Mianhae, hyung. Tadi aku tidak sengaja tersandung kaki sendiri. Aduh~ Bagaimana ini?" Taemin bergerak-gerak gelisah. Minho menahan senyumnya saat nmelihat ekspresi Taemin.
"Ba-bagaimana kalau hyung ku gendong saja?" tawar Taemin.
"Bwhh-bwahahahahaha!" Minho tidak bisa lagi menahan tawanya ketika melihat ekspresi bersalah dan penawaran Taemin.
"Eh? Hyung kok ketawa, sih?" tanya Taemin yang bingung dengan Minho yang tiba-tiba tertawa guling-guling.
Taemin membulatkan matanya ketika menyadari sesuatu. "Hyung membohongiku?" Taemin berdiri. "Hyung tidak sakit, 'kan?" tanya Taemin. Minho mendudukkan dirinya sambil masih terus tertawa.
Taemin menggembungkan pipinya dengan kesal.
"Huh!" Taemin berjalan meninggalkan Minho yang memegangi perutnya yang sakit.
Minho menghela napasnya untuk meredakan tawanya. Ia beranjak hendak berdiri dan menghampiri Taemin.
Minho terdiam saat ia telah berdiri dengan tegak. Ia menelan ludahnya dengan paksa.
"Taemin-ah," panggilnya. Taemin berbalik. "Apa?"
"Pinggangku sakit," jawab Minho. Taemin mengeluarkan lidahnya, mengejek Minho. Lalu ia kembali berjalan meninggalkan Minho.
"Ya! Taemin-ah! Pinggangku benar-benar sakit! Aku tidak berbohong!" seru Minho saat Taemin telah berjalan cukup jauh.
Taemin terus berjalan sambil mengangkat tangan kanannya dan menunjukkan kelima jarinya tanpa menoleh.
"Aisshh! Inikah yang namanya kualat?" gumam Minho dan berjalan pelan menyusul Taemin sambil memeganggi pinggangnya yang sakit.
.
"Kenapa Minho hyung sangat lama?" tanya Taemin saat ia telah sampai di ruangan Go seonsaengnim. Taemin berjalan mendekati pintu dan melongokkan kepalanya.
Ia melihat Minho sedang berjalan bak kakek-kakek 90 tahun ke atas. Berjalan dengan lambat sambil memegangi pinggangnya.
"Dia benar-benar sakit pinggang?" tanya Taemin. Ia berjalan keluar dari ruangan itu dan mendekati Minho. "Hyung," panggil Taemin. "Hm?"
"Perlu ke UKS sebentar?" tanya Taemin. Minho menggeleng. "Tidak perlu,"
jawab Minho. "Mianhae, hyung."
Minho tersenyum. "Gwaenchana. Lagian, tadi juga aku sudah membohongimu," ujar Minho. Taemin yang memang merasa bersalah meskipun agak kesal pada Minho yang tadi membohonginya.
Ia berjalan mendekati Minho dan berdiri di belakang Minho. Minho berhenti berjalan saat mengetahui Taemin berdiri tepat di belakangnya. "Waeyo, Taemin-ah?" tanya Minho. Ia hendak membalikkan badannya namun di tahan oleh Taemin.
"Diam dulu, hyung!" Taemin memegang ke dua bahu Minho dari belakang. Minho yang bingung dengan Taemin hanya menuruti perkataan namja cantik nan manis itu.
Taemin mengeratkan cengkramannya pada bahu Minho. Lalu, ia mengangkat lutut kanannya dan menempelkannya tepat di pinggang Minho.
Dengan cukup kuat, Taemin menarik ke dua bahu Minho ke belakang.
"UWAAA!" teriak Minho saat pinggangnya rasanya seperti keropos saat itu juga. Bahkan sempat terdengar suara 'kretekk' dari pinggangnya saat Taemin dengan tenangnya menarik bahunya ke belakang. (melengkungkan tubuh Minho ke belakang, lohh)
"Bagaimana?" tanya Taemin dengan senyum manis yang terpahat di wajahnya. Minho memegangi pinggangnya seraya menatap ngeri pada Taemin.
"Sakit," jawab Minho seadanya. Taemin mengangkat sebelah alisnya.
"Coba tegakkan badanmu, hyung. Pasti tidak sakit lagi," ujar Taemin.
Dengan ragu, Minho menegakkan badannya. "Ukh!"
"Bagaimana?" tanya Taemin dengan antusias. Minho mengangguk. "Gomawo," ujarnya.
"Aigoo~! Aku ini ternyata ahli," puji Taemin.
"Ne, ne. Kajja! Kita masih harus membawa buku-buku itu." Ujar Minho seraya berjalan ke arah ruangan Go seonsaengnim. Masih terasa sedikit nyeri di bagian pinggangnya.
"Haaah~" Taemin menghela napas ketika mengingat tugas berat itu lagi. "Hari yang buruk." Gumamnya.
~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~
"Fhuaaaahhh~!" Taemin langsung terduduk lemas di kursi perpustakaan setelah sebelumnya meletakkan buku-buku terakhir.
Minho juga ikutan duduk di depan Taemin yang tepar tak berdaya.
"Ini sudah jam berapa?' tanya Minho. Taemin mengangkat kepalanya yang sedari tadi terlungkup di meja. "Jam 16.30." jawab Taemin setelah melihat jam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya.
"Hmm, sudah hampir sore." Ujar Minho seraya berdiri dari kursinya dan berjalan menyusuri perpustakaan.
Taemin kembali meletakkan kepalanya ke meja. Matanya tanpa sengaja melihat ponsel Minho yang tergeletak di meja. Ia mengambilnya.
Taemin menahan napasnya ketika melihat wallpaper yang terpampang di layar ponsel Minho. 'Fotonya dengan yeoja?' pikir Taemin.
"Kau sedang apa?' tanya Minho yang menghampiri Taemin dengan beberapa buku di tangannya.
"Ah! Ani," Taemin meletakkan kembali ponsel Minho di meja. Minho duduk di depan Taemin.
Taemin kembali menelungkupkan kepalanya di meja. Namun, beberapa detik kemudian, ia kembali mengangkat kepalanya.
"Itu," Taemin menggantung kalimatnya. Minho mengangkat kepalanya yang sedari tadi tertunduk karena membaca buku.
"Hm?"
"Yeoja yang ada di wallpapermu itu siapa?" tanya Taemin. Sebenarnya ia benar-benar tidak ingin menanyakan hal ini, tapi rasa penasarannya yang besar mendorongnya untuk bertanya pada Minho.
Minho terdiam. "Dia itu mantan yeojachinguku," jawab Minho. Taemin terdiam mendengar jawaban Minho, ada perasaan aneh yang menyusup ke dadanya. Ia tersenyum kaku.
"Oh." Respon Taemin.
"Kami putus 2 tahun yang lalu, sebelum aku bersekolah di sekolah ini. Saat itu, aku ingin ke rumahnya untuk memberitahunya bahwa aku akan pindah sekolah dan bersekolah di sekolah asrama khusus namja." Minho melihat ke arah samping kirinya, tepat dimana jendela perpustakaan sedang terbuka.
"Saat itu, aku melihat dia sedang bersama namja lain. Bermesraan dengan namja lain," sorot mata Minho menjadi dingin.
"Saat aku menghampirinya, dia terlihat gelagapan. Dan saat itulah aku meminta putus padanya." Jelas Minho.
"Oh. Mianhae, aku tidak bermaksud menyuruh hyung menceritakan hal itu." Ujar Taemin. Minho tertawa kecil.
"Gwaenchana, lagian aku sudah melupakannya sejak lama." Ujar Minho. "Eh? Lalu kenapa di ponsel hyung masih memakai fotonya?" Minho mengambil ponselnya dan melihat wallpapernya.
"Itu karena tidak ada foto lain yang bagus untuk aku gunakan sebagai wallpaper, jadi kugunakan saja foto ini." Jawab Minho.
"Oh." Minho tersenyum seraya mengarahkan ponselnya pada Taemin.
Cklik!
"Eh?" kaget Taemin. "Apa yang hyung lakukan?" tanya Taemin. "Mengambil fotomu. Kurasa ini cocok untuk menjadi wallpaper ponselku," ujar Minho seraya mengotak-atik ponselnya. "Nah! Bagus, 'kan?" tanya Minho seraya menunjukkan wallpaper ponselnya yang terdapat foto Taemin.
"Aisshh! Itu memalukkan, hyung. Hapus! Dan jangan gunakan fotoku sebagai wallpaper ponselmu!"
"Shirreo!" Minho memasukkan ponselnya ke saku celananya dan kembali melanjutkan acara membacanya yang sempat tertunda tadi.
Taemin hanya bisa menutup wajahnya dengan ke dua telapak tangannya.
Zrrssshh!
"Hm? Hujan?" gumam Minho seraya melihat ke arah jendela. Taemin menjauhkan tangannya dari wajahnya dan melihat kearah jendela. "Woaahh, deras sekali." Ujar Taemin.
"Lalu, bagaimana caranya kita kembali ke asrama, hyung? Jarak kita dengan gedung asrama lumayan jauh, loh." Ujar Taemin mengingat jarak gedung sekolah dengan gedung asrama cukup jauh karena dipisahkan oleh lapangan sekolah yang sangat luas.
"Tunggu sampai reda saja," jawab Minho dan kembali membaca bukunya. Taemin menghela napasnya.
"Taemin-ah," panggil Minho setelah cukup lama mereka terperangkap dalam suasana hening. "Ne?" Taemin melepaskan headset yang ada di telinganya.
"Kau.. sudah punya pacar belum?" tanya Minho dengan ragu-ragu. Taemin menggelengkan kepalanya.
"Belum. Memangnya kenapa, hyung?" tanya Taemin. Minho tidak menjawabnya, ia hanya tersenyum dan kembali fokus pada bukunya. Taemin yang bingung hanya menaikkan sebelah alisnya.
Ponsel yang ada di saku celana Minho bergetar. Minho merogoh sakunya dan mengambil ponselnya. "Waeyo, hyung?" tanya Taemin. "Ada yang meneleponku. Nomor asing," jawab Minho. "Angkat saja, mana tahu ada hal yang penting." Minho mengangguk lalu mengangkat panggilan itu.
"Yeoboseo?"
"Yeoboseo, oppa~" jawab seorang yeoja dari seberang panggilan itu dengan suara lirih. "Ne? Nuguseyo?" tanya Minho. Taemin memperhatikan Minho dengan seksama.
"Oppa tidak mengingatku?" tanya yeoja itu.
"Ani. Kau sia-" belum sempat Minho menyelesaikan perkataannya, ia teringat sesuatu. "Eh? Kau.."
"Ne, ini aku." Jawab yeoja itu. " Mianhae, kau tidak perlu menghubungiku lagi." Minho hendak memutuskan panggilan itu ketika mendengar suara yeoja itu kembali berbicara.
"Oppa, kembalilah padaku!" Minho tertawa meremehkan.
"Kau tidak ingin mengganggu namja yang sudah memiliki pacar, 'kan?" tanya Minho. Taemin tampak terkejut dengan perkataan Minho.
"Eh? Oppa sudah memiliki pacar? Kau bohong, oppa!"
"Ani, aku tidak membohongimu. Kalau kau tidak percaya, aku akan mengirimkan fotoku dengan pacarku padamu." Jawab Minho. "Aku tidak percaya! Kau harus mengirimkan bukti padaku, oppa!" lalu yeoja itu pun memutuskan sambungan panggilan itu secara sepihak. Minho tersenyum puas.
"Nuguya, hyung?"
"Mantan yeojachinguku yang tadi aku ceritakan," jawab Minho. "Eh? Lalu, hyung bilang padanya kalau hyung memiliki pacar. Memangnya ada yang mau sama hyung?" tanya Taemin dengan polosnya.
"Hei, tentu saja ada yang mau denganku. Tapi aku belum memiliki pacar," jawab Minho.
"Eh? Jadi hyung membohonginya?" tanya Taemin. Minho mengangguk. "Lalu, bagaimana caranya hyung akan membuktikkannya?" tanya Taemin yang tadi mendengarkan pembicaraan Minho dari awal sampai akhir.
"Dari mana kau tahu aku harus memberikan bukti pada yeoja itu?"
"Tadi, yeoja itu berbicara dengan sangat keras. Bahkan suaranya sampai mengalahkan suara hujan yang ada di luar." Ujar Taemin seraya menutup jendela itu agar air hujan tidak masuk ke dalam.
"Tenang saja. Sebentar lagi aku akan memiliki pacar kok," ujar Minho. Taemin menatap Minho. "Siapa?" tanya Taemin penasaran. "Ada deh." Jawab Minho dan kembali membaca bukunya.
Taemin hanya mengerucutkan bibirnya dan kembali memasang headsetnya. Ia memilih lagu yang sedih untuk menyesuaikan dengan suasana hatinya. Ia sedang galau.
Ada perasaan aneh yang menyelimuti dadanya ketika mengetahui bahwa sebentar lagi namja tinggi itu akan memiliki pacar.
~#~#~#~#~#~#~#~#~#~
"Ukhh! Kenapa hujannya belum reda, sih?" tanya Taemin yang melihat ke arah jendela. "Sepertinya semakin deras saja," ujar Minho yang juga melihat ke arah jendela. Hujan di luar semakin deras, dan bahkan sepertinya angin di luar sangatlah kencang.
"Ini sudah sangat malam, hyung. Sekarang sudah jam 18.25." Ujar Taemin seraya memandangi jam tangannya.
"Eh? Sudah selarut itu?" Minho berdiri lalu berjalan mendekati pintu perpustakaan. Ia melihat keadaan di luar perpustakaan. Sepi dan gelap. Itulah keadaan yang ada di gedung sekolah ini.
Kemudian, ia kembali berjalan mendekati Taemin yang terlihat menaikkan ponselnya setinggi mungkin.
"Di luar sangat sepi dan gelap," ujar Minho sambil kembali mendudukkan dirinya. "Jelas saja. Siapa juga yang berani datang ke gedung sekolah dalam cuaca seburuk ini," jawab Taemin.
"Kau sedang apa?" tanya Minho yang melihat Taemin berdiri di atas kursi dan mengangkat ponselnya tinggi-tinggi.
"Mencari sinyal. Setidaknya aku bisa mengabari hyundeul bila aku tidak bisa pulang sekarang. Mereka pasti khawatir." Ujar Taemin.
"Aisshh! Dalam cuaca seperti ini, ponselku tidak ada sinyal. Punyamu ada, hyiung?" tanya Taemin yang telah kembali duduk.
Minho memeriksa ponselnya, lalu menggeleng. "Tidak ada," jawabnya. "Aigoo~ Bagaimana caranya kita bisa kembali ke gedung asrama?" Taemin mendengus kesal lalu meletakkan kepalanya di meja.
"Kalau kita berlari menerobos hujan, bisa di pastikan selama 3 hari kita tidak akan bisa masuk sekolah." Ujar Minho seraya melihat hujan yang turun semakin deras.
BLAMM!
"Huwwaa!" kaget Taemin. "A-apa itu, hyung?" tanya Taemin. "Sepertinya itu suara pintu yang tertutup karena angin," Jawab Minho.
"Hyung tadi tidak menutup pintu perpustakaan?" tanya Taemin. Minho menaikkan ke dua bahunya. "Entahlah." Jawab Minho sekenanya. Taemin menelan ludahnya. Ia berdiri dari kursinya lalu berjalan mendekati Minho yang sedang memainkan ponselnya. Ia lalu mendudukkan dirinya tepat di samping Minho.
"Kau kenapa?" tanya Minho yang baru menyadari keberadaan Taemin. Taemin menggelengkan kepalanya.
"Kau takut?" tanya Minho. Taemin menggeleng lagi. "Aigoo~ Kau takut, kan?" tanya Minho dengan nada menggoda. Lagi-lagi Taemin menggelengkan kepalanya.
"Haisshh, bilang saja takut." Ujar Minho yang menggeser kursinya agar lebih dekat dengan Taemin. "Sudah kubilang tidak-" kata-kata Taemin terputus ketika Minho menariknya dan mendekapnya dengan erat.
"Kau terlihat pucat, Taemin-ah." Ujar Minho dengan pelan dan dengan nada.. khawatir?
"Kau kedinginan?" tanya Minho. Taemin tidak menjawabnya, ia merasakan tenggorokannya kering. Bahkan ia kesusahan menelan ludahnya. Oh, dan jangan lupa jantungnya yang saat ini berdetak dengan cepat.
"A-ani, aku tidak kedinginan." Jawab Taemin yang menjauhkan dirinya dari Minho. "Kau kedinginan, Taemin-ah." Ujar Minho seraya menyentuh kedua pipi Taemin dengan kedua telapak tangannya. Ia mengernyit.
"Tapi kenapa pipimu hangat?" tanya Minho. Taemin membulatkan matanya lalu melepaskan tangan Minho dari wajahnya. Ia memegang kedua pipinya dan menepuknya pelan. "Ahahahaha, entahlah." Jawab Taemin sekenanya.
Minho menyeringai. Otak jahilnya kembali aktif.
"Hoowaa! Kau lihat itu, Taemin-ah?" tanya Minho seraya menunjuk ke arah pintu perpustakaan. Taemin melihat kearah yang ditunjuk Minho. "Itu. Ada putih-putih di dekat pintu itu." Taemin menatap Minho dengan tatapan horor.
"Memangnya itu apaan, hyung?" tanya Taemin. Minho dengan susah payah menahan tawanya melihat ekspresi Taemin. "Itu.. Masa' kau tidak melihatnya, sih?" Taemin menggeleng. Ia menelan ludahnya dengan susah payah.
"Ahahahahaha!" Minho memegangi perutnya yang terasa sakit. "Ya! Hyung! Kau membohongiku lagi!" seru Taemin dengan kesal.
"Ahahaha! Siapa suruh kau begitu menggoda untuk dikerjai," jawab Minho yang masih berusaha menahan tawaanya. Taemin memasang wajah ngambek.
Minho yang melihat itupun tertawa geli. "Mianhae, mianhae. Jangan ngambek gitu, ne?" Taemin memalingkan wajahnya ke arah lain masih dengan wajah ngambek.
"Aigoo~ Jangan marah, dong. Aku 'kan hanya bercanda." Ujar Minho. "Nggak mau sebelum hyung melakukan sesuatu untukku," ujar Taemin. "Melakukan apa?" tanya Minho.
Taemin menatap Minho. "Aku ingin melihat hyung membuat gaya aegyo," ujar Taemin dengan senyum jahil.
Minho mengernyitkan keningnya. "Kalau aku tidak mau?"
Taemin melepaskan sepatu kirinya. "Lebih memilih merasakan sepatuku atau melakukan apa yang aku katakan?" tawar Taemin dengan senyum manis bertengger di wajahnya.
Minho menelan ludahnya. 'Tahu gitu, lebih baik aku tidak meladeninya ketika dia ngambek.' Pikir Minho.
Ia lalu menengadahkan ke dua telapak tangannya di bawah dagunya seraya tersenyum, persis seperti Cherryb*l*e.
Taemin tertawa terbahak-bahak. "Hyung.. Kau tidak cocok bergaya seperti itu!" ujar Taemin yang menahan tawanya. "Sepertinya hanya Junsu hyung yang cocok bergaya seperti itu." Ujar Taemin setelah mati-matian menghentikan tawanya.
"Aisshh! Benar-benar memalukan!" gumam Minho. "Hyung," panggil Taemin. "Apa?" jawab Minho ketus. "Aigoo~ Jangan marah, dong. Anggap saja kita impas, oke?" Minho hanya menghela napas mendengar perkataan Taemin.
"Ada apa, Taemin-ah?" tanya Minho. "Ini sudah jam 7 malam loh, hyung." Ujar Taemin. "Dan hujannya belum reda juga," Taemin melihat hujan yang terus turun dengan derasnya.
Minho menghela napasnya.
"Kita berlari ke gedng asrama saja," ujar Minho. "Eh? Kita kehujanan, dong." Minho mengangguk. "Tidak apa-apa, 'kan? Dari pada kita tidur di sini?" Taemin melihat kearah jendela. Hujan masih sangat deras dan anginnya juga bertiup sangat kencang.
"Gwaenchana. Kita segera kembali saja, hyung." Taemin berdiri dari kursinya seraya menenteng tasnya. Minho juga menenteng tasnya. Lalu mereka berdua pun keluar dari perpustakaan. "Gelap sekali," ujar Taemin pelan. Minho menggenggam tangan Taemin. Lalu berjalan menuruni tangga.
Minho melepaskan blazernya saat mereka telah berada di depan pintu gedung sekolah. Minho melebarkan blazernya ke atas dan menarik Taemin agar mendekat padanya.
"Kajja!" Minho dan Taemin berlari cepat menyebrangi lapangan sekolah.
Taemin mengacak-acak rambutnya yang basah ketika mereka telah sampai di gedung asrama, tepatnya sedang berteduh di kantin asrama.
Meskipun mereka berpayung dengan blazernya Minho, tetap saja mereka basah karena hujan yang sangat deras.
"Hatchii!" Taemin mengusap hidungnya.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Minho. Taemin mengangguk. "Aigoo, wajahmu pucat sekali." Minho merendahkan badannya.
"Naik," suruh Minho. "Untuk apa?" tanya Taemin. "Aku akan menggendongmu sampai ke kamarmu. Sepertinya kau sakit." Jawab Minho. Taemin yang memang sudah merasa sangat lemas pun akhirnya melingkarkan tangannya pada leher Minho dari belakang.
Minho menggendong Taemin di punggungnya lalu berjalan menuju kamar Taemin, lantai 2.
Sesampainya di depan kamar Taemin, Minho mengetuk pintu kamar itu. Tidak ada yang menyahut ataupun membukakan pintu itu. Minho kembali mengetuk pintu itu. Lagi-lagi, tidak ada yang membuka pintu itu.
"Mungkin Key hyung sedang tidak ada di kamar," ujar Taemin. "Aku turun di sini saja, hyung." Ujar Taemin. Minho mengangguk lalu menurunkan Taemin. "Gomawo," ujar Taemin lalu membuka pintu itu dan masuk ke dalam. Minho mengikuti Taemin dari belakang.
"Kenapa hyung ikut masuk?" tanya Taemin. "Kau sedang sakit dan di kamar ini tidak ada orang, bukankah lebih baik aku yang merawatmu?" Minho mencari handuk Taemin. "Handukmu yang mana?" tanya Minho.
"Yang warna biru," jawab Taemin seraya duduk di kasurnya. Minho berjalan mendekati Taemin lalu mengeringkan rambut Taemin dengan handuk itu.
"Ehem! Sebaiknya aku kembali saja. Kau ganti bajumu dan cuci muka dengan air hangat. Dan jangan lupa keringkan rambutmu. Kau sedang sakit, jadi jangan mandi dulu." Ujar Minho seraya berjalan mendekati pintu kamar. Ia juga perlu mengurus dirinya sendiri, 'kan? Dan lagi, Taemin itu bukanlah anak-anak, ia bisa mengurus dirinya sendiri.
"Hyung," panggil Taemin. "Ne?" Minho membalikkan badannya. "Gomawo." Ujar Taemin. Minho tersenyum seraya mengangguk. "Istirahatlah." Ujar Minho sebelum pergi dari kamar itu.
~#~#~#~#~#~#~#~#~#~
Kamar Minho dan Onew
"Hatchii!" Minho mengusap hidungnya dengan tissue yang ada di tangannya. "Kenapa kau pulang malam sekali?" tanya Onew. Minho membaringkan tubuhnya ke kasur. Ia telah selesai mandi, tentu saja dengan air hangat. Dan ia juga telah mengeringkan rambutnya.
"Tidak bisa kembali, hyung. Hujannya sangat deras. Kalau tadi kami tidak berlari menerobos hujan, pasti kami tidak akan bisa kembali sampai besok." Ujar Minho mengingat di luar masih hujan.
"Oh. Sebaiknya sekarang kau istirahat dari pada sakit dan besok tidak bisa masuk sekolah?" Minho mengangguk lalu memejamkan matanya.
'Sakit, ya? Taemin sudah sembuh belum, ya?'
~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~
Kamar Taemin dan Key
"Panasmu sudah turun?" tanya Key seraya menyentuh kening Taemin. "Demammu sudah turun, banyaklah istirahat. Mianhae tadi hyung tidak ada di kamar," ujar Key. "Gwaenchana, hyung. Gomawo. hyung." Ujar Taemin.
"Minnie-ah, apa sebaiknya besok kau tidak perlu sekolah?" tanya Key. "Gwaenchana, hyung. Besok aku pasti sudah sembuh, kok. Aku akan ke sekolah besok," jawab Taemin. Key menghela napas.
"Arraseo. Tapi kalau kau memang belum sembuh total, jangan memaksakan diri, ne?" Taemin mengangguk. "Ne, eomma!" Key tertawa kecil seraya mengacak rambut Taemin.
"Jangan memanggilku seperti itu. Sekarang, tidurlah." Ujar Key.
"Oh ya! Kasetku!" seru Taemin yang langsung berdiri dari kasurnya. "Eh? Kaset apa?" tanya Key. Taemin tidak menjawab. Ia sibuk mencari kasetnya di sekitar kamar dan meja belajarnya. "Kok gak ada sih~?" Taemin terduduk lesu di tepi kasurnya.
"Kaset apa Taemin-ah?" tanya Key lagi. "Kaset Michael Jacksonku." Jawab Taemin. "Eh? Michael Jackson? Yang ini bukan?" tanya Key menyerahkan kaset itu pada Taemin. "Eh? Kenapa ada di tangan hyung?"
"Aku menemukannya di lemarimu." Jawab Key singkat. "Di lemari? Siapa yang meletakkannya di sana?" tanya Taemin. Key menaikkan kedua bahunya. "Entahlah," Jawab Key.
Taemin menatap kaset itu dengan penuh tanda tanya. Yasudahlah, toh kaset ini sudah ketemu, kok. Untuk apa dipermasalahkan lagi?
~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~
Keesokan Harinya~
Hari ini, Minho bangun lebih awal dari biasanya. Kini ia sedang menuruni tangga hendak menuju kamar Taemin.
TOK TOK TOK
"Ne, nuguseyo?" tanya Key serya membuka pintu kamarnya. "Eh? Minho? Ada apa?" tanya Key. Minho tersenyum. "Taemin sudah bangun belum, hyung?" tanya Minho. Key mengangguk. "Sudah, kok. Kau ingin berangkat bersamanya?" tanya Key. Minho mengangguk.
"Dia sudah siap, kok. Sebentar," Key masuk ke dalam kamarnya untuk memanggil Taemin.
"Hyung!" panggil Taemin yang berjalan mendekati Minho. "Taemin-ah, sudah baikkan?" tanya Minho. Taemin mengangguk. "Sudah baik, kok." Jawab Taemin.
"Taemin-ah, sepertinya bukuku ketinggalan di perpustakaan. Bisa kita pergi ke sana sebentar?" tanya Minho. Taemin tersenyum seraya mengangguk. "Ne."
Minho lalu menarik tangan Taemin.
'Dia tidak pernah menanyakan soal kasetnya padaku. Haaah~ Sudahlah, itu lebih baik.' Pikir Minho.
.
"Ini dia bukunya," ujar Minho setelah mencari-cari bukunya yang ketinggalan. "Hyung, kenapa perpustakaan ini sepi?" tanya Taemin. Minho melihat ke sekelilingnya. "Mungkin karena ini masih terlalu pagi," jawab Minho.
"Oh.. Lalu, hyung ngapain bawa gitar?" tanya Taemin seraya menunjuk tas gitar yang sedang dibawa Minho. "Ah? Ini? Hari ini ada kelas musik, jadi aku membawa ini. Tapi, sebenarnya ada alasan lain juga kenapa aku membawa gitar ini." Jawab Minho. "Alasan lain?" Taemin menaikkan sebelah alisnya. Minho mengangguk.
Ia lalu duduk di salah satu kursi perpustakaan. Taemin juga ikutan duduk di depan Minho. Minho mengeluarkan gitarnya dan memposisikannya senyaman mungkin untu dimainkan.
"Dengarkan baik-baik, ya! Aku nyanyikan khusus untukmu!" Taemin mengangguk. Minho mulai memainkan gitarnya.
"Haruman noui goyangiga dwegoshipo, oh baby
Niga junun mainun uyowa buduroun nipumaneso
Umjiginun jangnanedo noui gweyoun ibmachume
Nado mollae jertu reulneu ggee doh isseonabwa.
Nae maumi iron goya
Nuh bahkgen bohl soo eobnungoji
Nugureul bwado odi isseodeo
Nan neoman barabojanha
Dan haruman aju chinhan noui aeini dwaego shipo
Noui jasangdo ddaeron thujongdo
Dah deuleulsu isseul tehndae
In my heart, in my soul nayege sarangiran
Ajig osaeghajiman uh uh baby
Isesang modun geol noyege jugoshipo ggeumesorado."
Minho berhenti memainkan gitarnya lalu tersenyum manis ke Taemin. Taemin menatap Minho tanpa kedip. "Itu beneran dinyanyikan untukku? Bukan untuk orang lain?" Minho menggeleng. "Hanya untukmu," jawab Minho.
"Bagaimana menurutmu?" Taemin tersenyum. "Bagus! Suara hyung juga bagus!" Minho tersenyum mendengar jawaban Taemin. "Lagu ini diajari oleh Yunho hyung, Yoochun hyung dan Changmin hyung." Ujar Minho.
"Kau tahu arti dari lagu ini, 'kan?" tanya Minho. "Tentu saja tahu," jawab Taemin. "Kalau begitu, satu pertanyaan untukmu,"
Minho menatap Taemin. "Would you be my boyfriend?"
Taemin tidak menjawab. Hal yang ditanyakan oleh Minho cukup membuatnya shock. "Hyung.. serius?" Minho mengangguk. "Hyung tidak sedang bercanda, 'kan?" tanya Taemin lagi. "Ani. Selama nafas ini masih ada, selama jantung ini masih berdenyut," Minho memegangi dada kirinya.
"Aku akan mencintaimu dan membahagiakanmu." Ujar Minho.
"Eoh," respon Taemin setelah cukup lama terdiam. "Eh? Hanya itu saja?" tanya Minho.
Taemin tertawa kecil seraya menundukkan kepalanya.
"Yes, I would." Jawab Taemin pelan. "Mwo?"
Taemin mengangkat kepalanya. "Ne, aku mau jadi namjachingumu, hyung." Jawab Taemin.
Minho tersenyum. Ia merogoh sakunya dan mengambil sesuatu dari sana.
Minho meletakkan gitarnya di lantai.
"Ini untukmu," Minho menunjukkan sebuah kalung yang memiliki angka 2.
"Eh? Kenapa angka 2?" tanya Taemin. Minho berdiri dari kursinya lalu berjalan mendekati Taemin. Ia memakaikan kalung itu pada Taemin. "Lihatlah ini," Minho menunjukkan kalung yang kini tengah ia pakai.
"Min?" tanya Taemin saat membaca tulisan di kalung itu.
"2Min," ujar Minho. "Woaahh! Kereen!" ujar Taemin. Minho tertawa kecil melihat ekspresi kagum Taemin.
"Segitu sajakah? Tidak ada yang lebih hot?" tanya Kyuhyun dari ambang pintu perpustakaan. Mendengar perkataan Kyuhyun, hyungdeul dan dongsaengdeulnya memukul kepala evil itu. Taemin dan Minho melihat kearah Kyuhyun dan yang lainnya yang sedang berdiri di amabang pintu.
"Aisshh! Sakit! Ehehe, silahkan lanjutkan ke tahap berikutnya~!" ujar Kyuhyun yang langsung lari sebelum dihajar massa oleh hyungdeul dan dongsaengdeulnya.
Taemin menatap Minho. "Kyuhyun hyung bilang apa, hyung?" tanya Taemin dengan polos. Minho tertawa kaku. "Kata-kata setan tidak perlu didengar, oke?" Taemin mengangguk mengerti. 'Kyuhyun hyung sungguh berbahaya. Aku kasihan pada Sungmin hyung.' Pikir Minho.
"Oh ya, Taemin ah," panggil Minho. "Ne?"
"Nanti kita foto berdua, ya? Aku baru ingat kalau aku harus mengirim foto bukti ke yeoja itu." Ujar Minho. "Ne, ne." Jawab Taemin.
"Kajja! Kita ke kelas." Minho menggenggam erat tangan Taemin. Menggenggam erat tangannya seolah takut kehilangan makhluk Tuhan yang kini harus ia jaga baik-baik.
Mutiara paling berharga yang hanya dimiliki oleh Choi Minho seorang diri.
~TBC~
Fiuuuhh~! Ngetik chap 2Min ini yang paling susah… Ini FF pertama author tentang 2Min. Ada yang tahu lirik lagu yang di atas, nggak?
Hehehe, itu lagu Hug-TVXQ.. Hehehe, sekedar info.
" rainy hearT, Black Sappire597, Kim Min Lee, Fujoshi103, Eikaru46, Liu HeeHee, JoongieJungJung, shin young rin, No Name, Fefellie Cassiopeia, hatakehanahungry, nurulamelia, Ayuni Lee, Kim Ryeokyung, snowhitehatesapple, JAESA, orangeblast52, petalkom, Kim Kwangwook, MiEunMinWook, Chinatsu Kajitani Teukkie, WookieWookieWookie, Apdian Laruku "
Gomawo atas reviewnya~! Beribu-ribu gomwo deh buat readers…! ^^
Kim Min Lee:: Ada di chap 9, kok.. ^^ gomawo..
MiEunMinWook:: Author nyesek kalau harus ngetik 100 alasan.. Ide habis gara-gara 100 alasan itu. 100 alasan itu 'kan Cuma Yunppa yang tahu… XD Gomawo… ^^
Orangeblast52:: Itu bener kok, chingu.. Author nyari sendiri di google.. XD gomawo, ya.. ^^
~#~#~#~
Chap depan, KangTeuk couple!
Kangteuk shipper mana? Persiapkan diri, ya! ^^
Akhir kata dari author,
Review, please~? Gomawo… ^^
m(_ _)m
