"Ladies and gentleman, welcome onboard Flight 4A8 with service from Tokyo to London. We are currently third in line for take-off and are expected to be in the air in approximately seven minutes time. We ask that you please fasten your seatbelts at this time and secure all baggage underneath your seat or in the overhead compartments. We also ask that your seats and table trays are in the upright position for take-off. Please turn off all personal electronic devices, including laptops and cell phones. Smoking is prohibited for the duration of the flight. Thank you for choosing Tokyo Airlines. Enjoy your flight."
Sakura menghitung mundur dalam hati. Napasnya diembuskan pelan dan lambat-lambat.
Sebuah tangan hangat menangkup jemari-jemarinya yang dingin. Ia menoleh, dan mendapati senyum Naruto yang menghangatkan hatinya.
"Welcome, short-holiday," pria itu menyeringai.
Sakura menahan tawa. Ia mulai merasakan getaran pesawat yang semakin kencang.
Sebelum memejamkan mata dalam doa, gadis itu membalas seringaiannya.
"Yeah, and welcome, London."
.
Disclaimer: All character belong to Masashi Kishimoto. But this story purely mine. I don't take any profit from this work. It's just because I love it.
Warning: AU, miss-typo, OOC, another NaruSaku fic. M just for safe.
And for all anti-NS, if you DON'T LIKE, I know you'll smart enough to DON'T READ
.
Come Hell or High Water
by LastMelodya
.
.
"If travel teaches us how to see, how come every time all I see is you? –Ika Natassa"
.
.
Chapter 11
London, 08.00 am.
Bagi Naruto, yang memiliki kuantitas pergi ke luar negeri menggunakan pesawat lumayan banyak, penerbangan kali ini adalah yang paling melelahkan. Dua belas jam di udara, dimulai dari langit masih terang hingga gelap, segalanya terasa begitu memuakkan. Belum lagi masalah udara yang membuat badannya terasa tak nyaman dan perutnya yang bergejolak hebat setiap sepersekian jam sekali.
Namun, ketika akhirnya ia turun menapaki tanah London Airport dengan berhiaskan satu teriakan kagum dan satu tawa cerah dari gadis yang sepanjang hari ini tertidur di sampingnya, segala ketidaknyamanan itu hilang begitu saja, berganti menjadi perasaan hangat yang menyenangkan. Sangat menyenangkan hingga rasanya Naruto rela merasakan siksaan dua belas jam di pesawat berkali-kali lagi asal setelahnya yang ia lihat adalah tawa cerah di wajah Haruno Sakura.
"Narutoooo! Ini London! Kita di London!"
Jarum jam menunjukkan pukul delapan malam lewat sedikit, ia tersenyum miring ke arah Sakura, mengulurkan tangan dan mengacak lembut helai merah mudanya yang sudah tak rapi. Gadis itu masih tertawa, matanya menaut segala yang ada di sekitar mereka, lamat-lamat. Entah mengapa, dada Naruto berdesir pelan.
Seperti menyadari sesuatu, Naruto menggelengkan kepalanya. Kemudian ia berdeham pelan. "Ayo, cepat. Yamato-san pasti sudah menunggu di bagian penjemputan."
Yamato adalah sopir yang disediakan Namikaze Travelling Pocket untuk mengantar Naruto dan Sakura selama di sini. Usianya sekitar lima tahun di atas mereka, dengan raut wajah ramah yang sering menguarkan senyum. Sakura dengan baik menyambut tegurannya ketika mereka bertemu dan digiring masuk ke dalam mobil untuk diantarkan menuju hotel.
"Servismu sangat bagus, ya. Pantas saja perusahaanmu sukses." Sakura berbisik pelan di sebelah Naruto, membuat pria itu menyeringai lebar.
"Cih. Memang kau sempat meragukannya?"
Sakura hanya menjulurkan lidah ke arah Naruto, kemudian memilih untuk fokus mengatensi jalanan malam London.
Kelip-kelip lampu di sekelilingnya mengingatkan ia pada suasana malam hari Tokyo, juga beberapa gedung tingginya. Namun, London memiliki konstruksi bangunan yang lebih modern dan lebih simpel. Yang mendominasi adalah bar-bar dengan kafe yang didesain begitu dinamis. Sangat menarik perhatian entitas-entitas dewasa muda di malam hari seperti ini.
Beberapa menit kemudian mereka sampai. Sakura menggumam takjub dengan konstruksi dua puluh lantai itu. Bentuknya lebih menyerupai apartemen, dengan dinding kaca yang membuatnya terlihat begitu mewah. Sorot warna emas dipancarkan dari setiap lampu di sisi-sisi bangunannya, menambah kesan "kaya" pada bangunan ini.
Setelah menemukan spasi kosong untuk parkir, mereka akhirnya keluar dari mobil.
"Ada yang bisa saya bantu lagi, Namikaze-san? Mungkin untuk pergi makan malam?" Yamato berujar ketika mereka berdua telah berada di luar. Naruto menggeleng, kemudian dengan satu senyum, memberikan beberapa lembar uang pada Yamato.
"Tidak, aku cari sendiri saja nanti. Terima kasih banyak, Yamato-san."
"Terima kasih kembali, Namikaze-san. Kunci kamar sudah ada di resepsionis, juga kunci mobil yang dapat Anda gunakan ada di sana," ujarnya lagi.
"Oke, kau boleh pergi."
Sedan silver itu pun akhirnya berbalik, kemudian melesat pergi. Naruto menoleh pelan ke arah Sakura, mengedikkan kepala dan meminta gadis itu mengikutinya di samping.
Mereka pergi ke meja resepsionis. Ketika sampai, Naruto mengurusi segala administrasinya. Sakura mengulum senyum saat mendengar Naruto berbicara dengan aksen Inggrisnya yang mengagumkan dan wibawa sebagai pemimpin Namikaze Corp. Jarang, jarang sekali ia bisa mendapati Naruto yang seperti itu. Sebab Naruto yang dikenalnya adalah pria cuek yang mesum dan kekanakan. Bukan yang seperti ini.
"Kamar 640." Naruto berbisik padanya dan melambai-lambaikan sebuah kartu berwarna gold di depan Sakura.
Sakura tersenyum lebar. "It mean … lantai enam?"
"Right."
Senyum Sakura semakin melebar. Emerald-nya berbinar nyalang seperti beberapa menit ketika mereka sampai di bandara lalu. Lagi-lagi, rongga dada Naruto menghangat.
Bagaimana bisa senyum itu memberikan efek sebegini banyak pada detakkan jantungnya?
Selesai dengan administrasi, mereka melangkah menyusuri koridor untuk menaiki lift. Tak hanya mereka entitas yang memenuhi kubikel lift ini, ada banyak sekali. Suasana malam yang semakin melarut seakan tak melarutkan kemeriahan di sini. Suara tawa, sapaan, konversasi sana-sini, semuanya menyatu menjadi kakofoni tak terarah yang menghibur pendengaran mereka.
Ting.
Lift berhenti di lantai tujuan Naruto dan Sakura. Mereka kembali memasuki koridor, namun kali ini lebih kecil. Dindingnya diukir dengan wallpaper vignette dan lampu-lampu ruangan yang agak redup. Lantainya berlapis beledu cokelat gelap, meredam segala onomatope langkah yang mengganggu para penghuninya.
Kamar mereka terletak di sudut koridor. Di depan kamar 430 dan di sebelah kanan kamar 439. Ketika Naruto membukanya, mereka diserang aroma kamomail yang menenangkan. Sakura melangkah cepat-cepat, meninggalkan Naruto di belakangnya sembari menarik koper kecilnya dan meletakkannya begitu saja di sudut kamar. Tubuhnya tiba-tiba saja minta dimanja saat melihat sebuah ranjang king size di pusat ruangan. Maka dari itu, tanpa berpikir untuk melepaskan sepatunya, Sakura sudah lebih dulu berguling dan merebahkan diri di tengah ranjang.
"Astagaaaaa, ini surgaaaaaa!"
Naruto terkekeh-kekeh melihat sahabatnya itu. Pintu di belakangnya ia tutup dan langkahnya statis menuju sudut kamar untuk meletakkan tas. Kemudian, dengan santai ia menghampiri tempat tidur, melepas sepatu hingga akhirnya duduk di tepinya, mengamati Sakura.
"Hei, hei, lepas dulu sepatumu, Sakura-chan." Naruto mengujar pelan.
"Hmmm, sebentar." Gadis itu menjawabnya dalam gumaman. Matanya terpejam di antara bibirnya yang mengurva indah. Tatapan Naruto tertaut, tak pernah bosan dan tak pernah ingin melepaskan tatapan dari wajah itu.
Ada banyak hal yang Naruto pikirkan di kepalanya, tentang perjalanan ini. Tentang absurditas-absurditas perasaannya yang beberapa waktu ini mendistraksinya, tentang Sakura yang semakin membuatnya bertanya-tanya, tentang relasi mereka. Ada beberapa hal yang mengganggunya. Tapi, kemudian, sebelah pemikirannya yang lain mencoba untuk mengabaikan semua itu. Ia ingin menikmati ini, perjalanan ini, bersama Sakura di sampingnya. Hanya berdua. Wacana-wacana telah tersusun di otaknya untuk membentuk quality time di antara mereka.
Dan diam-diam, jauh di sudut hatinya, ia merasa senang.
Merasa senang, dengan fakta bahwa seminggu ini, Sakura hanya miliknya.
Entah mengapa.
Tanpa sadar, pria itu menghela napas. Ia menggelengkan kepala pirangnya cepat-cepat. Jet-lag membuat pikiran-pikirannya meliar. Mungkin … ia harus mandi. Berhubung ia dan Sakura memang belum membersihkan tubuh.
Ketika Naruto mengstagnasikan pemikirannya, ia baru menyadari dengkuran halus yang semenjak tadi teruar dari gadis di sampingnya. Saat Naruto menoleh, ia mendapati dada Sakura yang naik-turun dengan statis. Mulutnya yang berdengkur sedikit terbuka, memperlihatkan deretan gigi atasnya yang rapi. Naruto tertawa, mengikuti nalurinya ketika membiarkan tangan kanannya terangkat untuk menyentuh wajah Sakura dan mengusapnya lembut. Lembut sekali. Dan lama. Hingga Sakura bergerak sedikit tak nyaman.
Naruto tak melepaskan tangannya, ia lebih memilih untuk mencondongkan tubuh, mendekatkan wajah ke arah Sakura dan memerhatikannya beberapa detik sebelum mengecup pipinya lembut—kemudian berujar;
"Bangun, Sakura-chan, kita belum mandi."
Sakura hanya menggumam.
Naruto mengembuskan napas, jemarinya menusuk-nusuk pipi gadis itu. "Oi, Sakura-chan."
Gumaman lagi.
"Dasar."
Kesal tak mendapat respons, Naruto menatap wajah Sakura dengan lengkung terbalik di bibir. Masih dengan tubuh condong ke depan, tangannya ia angkat lagi, untuk membelai lembut helai-helai merah muda Sakura. Merasakannya di antara telapak besarnya yang hangat, terus ke depan kening, mencapai helai poninya yang mulai memanjang.
Debaran itu muncul lagi, dan safirnya tertaut wajah itu kembali. Seminggu bersama Sakura tanpa jeda … apa yang akan terjadi? Pikirannya meliar di atas batasan-batasan persepsi yang tak bisa ia hindari. Mengapa segalanya terasa rumit bahkan sebelum hal-hal tersebut terjalani? Ada perasaan was-was dalam hati Naruto, entah apa sebabnya, tapi ia tak mengerti.
Wajah Naruto kembali mendekat, kemudian kecupan itu datang lagi—ke kening, kelopak mata yang tertutup, hidung, terus turun ke belah-belah pipi. Aroma Sakura mendominasi udara di sekitarnya ketika Naruto terlalu ragu untuk menurunkan kecupannya lebih ke bawah. Berhenti di sana, di sana saja.
Hingga kemudian, wajah di bawahnya bergerak, embusan napas hangat terasa di wajah Naruto.
Naruto menjauhkan wajahnya.
"Ngh … Naruto?"
Netra itu terbuka sedikit, menatap dengan intensitas redup.
"Ya, Sakura-chan."
Degup di jantung Naruto belum berhenti saat pria itu memilih memalingkan wajah dan ikut berbaring di samping Sakura.
Melupakan niat awalnya untuk membersihkan diri.
…
Bias-bias cahaya yang menembus melewati ventilasi dan memancarkan hangat ke belah-belah pipi membuat Naruto membuka kelopaknya. Sayup-sayup suara gemercik air terdengar di indera pendengarannya. Refleks, sebelah tangan Naruto terulur membelai ranjang, mencari-cari entitas di sana yang kemungkinan dapat ia tangkap, namun, yang ia dapat hanya kekosongan.
Hal itu membuat safirnya terbuka sepenuhnya. Ia menoleh ke kiri untuk mendapati sisi ranjang di sebelahnya yang tersisa kosong melompong. Sebuah selimut putih tebal yang lembut sudah terlipat rapi di atas bantal yang juga tertata. Melepas kuap, Naruto pun bangkit untuk menyandarkan tubuh di kepala ranjang.
Seperti yang ia bayangkan, masalah berbagi ranjang bukan lagi masalah untuk mereka berdua. Meski di awal sebelum perjalanan Sakura terlihat sedikit keberatan, namun pada akhirnya semalam berlalu tanpa sedikit pun urgensi. Mungkin karena salah satu faktornya mereka telah terlalu lelah—juga Naruto yang terlalu sibuk dengan perasaannya. Memang, tidur satu ranjang dengan Sakura bukanlah hal baru yang pernah Naruto lakukan. Dulu, di masa-masa belia mereka, tak jarang Sakura menginap di kamarnya, begitupun sebaliknya. Juga beberapa waktu di usia dewasa mereka, ketika Naruto terlampau mabuk dan membutuhkan seseorang untuk membangunkannya pagi-pagi sekali, tak jarang ia menginap di kamar apartemen gadis itu. Dan itu memang bukan masalah.
Tapi, bagaimana jika hal itu terjadi selama tujuh hari berturut-turut?
Naruto belum pernah memikirkannya sejauh itu.
Memilih untuk mengabaikan pemikirannya, Naruto bangkit dan turun dari ranjang. Ia melangkah pelan menuju cermin besar yang terdapat di meja rias. Pria itu menguap lagi, kemudian meneliti wajahnya sendiri. Sosok pria berumur dua puluh tiga tahun, dengan ukiran wajah ramah namun memiliki rahang-rahang yang tegas di sekitar wajahnya. Safirnya yang biru bening seolah mempertegas kelembutannya di antara kulit tan yang ia miliki. Sekilas, ia merasa bangga, inilah kelebihan yang membuat para gadis tak bisa mengabaikannya.
Ketika Naruto berbalik untuk kembali berbaring di ranjang, tepat pada saat itu pintu kamar mandi terbuka, Sakura keluar dari sana dengan tergesa dan tanpa mengecek keadaan kamar. Saat ia hendak menutup pintu kamar mandi kembali itulah, netranya menangkap Naruto yang tengah terpaku dengan wajah semi terkejutnya.
Sakura hanya memakai …
… handuk.
Handuk putih yang melilit erat di sekitar tubuh proporsionalnya. Naruto dapat melihat leher jenjang dan bahu gadis itu yang putih masih dibasahi titik-titik air yang menetes dari rambut merah mudahnya yang masih basah. Kemudian netranya beralih begitu saja, kepada paha Sakura yang terlampau terekspos. Tiba-tiba lehernya terasa kering, Naruto kesulitan menelan ludahnya sendiri. Sepersekian detik berikutnya, pria itu mengalihkan wajah, menahan rasa panas yang menjalari sebagian tubuhnya.
Belum sempat ia berbalik lagi, terdengar suara bantingan di pintu kamar mandi. Gadis itu telah kembali masuk ke kamar mandi.
"BAKA-NARUTO! KENAPA KAU TIDAK BILANG KALAU SUDAH BANGUN?!"
Pikiran Naruto terdistraksi, namun kemudian, seringainya muncul menghiasi wajah tampannya.
"Siapa suruh kau keluar tanpa pakai baju, he?" Ia mengulum tawanya. "Atau kau sengaja ingin menggodaku?"
"MESUM!"
Tawa Naruto akhirnya lepas. Ia memegangi perutnya yang kaku mendadak. "Ujarkan kata itu pada dirimu sendiri, my sugar."
"OH, shut up! Lebih baik kau sekarang pergi ke luar dulu, atau ke mana pun, asal tidak di dalam kamar. Biarkan aku berpakaian sebentar, Naru-baka!" Suara gadis itu kembali terdengar dari dalam, kini dengan intensitas yang sudah tak setinggi sebelumnya.
"Kalau aku tidak mau bagaimana?" Naruto masih ingin menggoda.
"Narutoooo." Suara itu kini terdengar frustrasi. "Please, onegaiii."
Tawa terdengar lagi dari vokal Naruto. "Pakai saja di sini, aku tak akan mengganggu. Aku juga sudah biasa telanjang di hadapan—"
"—NARUTO! CEPAT KELUAR!"
Ucapan dan tawa Naruto akhirnya terinterupsi. Masih dengan sisa-sisa redaman tawanya, pria itu kemudian bangkit, mengambil jaket dan dompet, lalu melangkah menuju pintu kamar. "Baiklah, baiklah. Aku sekalian cari sarapan. Kukunci dari luar, ya, Sakura-chan."
Sakura hanya membalasnya dengan gumaman tak jelas.
Sebelum benar-benar menutup pintu, Naruto mengatensi lagi kamar hotelnya yang besar itu. Pagi pertama di London sudah menggelitik perut hingga perasaannya, membuat sudut-sudut bibirnya tak berhenti terangkat.
Jika seperti ini, segalanya akan terlihat baik-baik saja.
…
Di antara teriknya matahari yang mulai meninggi, Naruto dan Sakura berjalan beriringan. Setelah selesai sarapan dan menunggu Naruto mandi tadi, akhirnya mereka memutuskan untuk berkeliling ke tempat-tempat yang tak jauh dari hotel dengan berjalan kaki. Hotel mereka terletak di dekat pusat kota, kakofoni yang menghias sekitar membuat Sakura terus melebarkan senyum.
"Katanya, ada taman bagus di sekitar sini." Naruto menggumam sembari menaikkan kacamata hitamnya. "Mau ke sana?"
Sakura mengangguk afirmatif. Helai merah mudanya bergoyang seiring pergerakan kepalanya. "Di mana, di mana?" lanjutnya bersemangat.
"Di dekat Harrods. Mungkin setelah dari taman kita bisa mampir ke Harrods juga, sekalian makan siang di sana."
Sakura mengangguk-angguk lagi. Sejak semalam, Harrods—salah satu mall besar di London—telah menarik perhatiannya. Ia ingin pergi ke Kinokuniya—mencari buku-buku bestseller yang belum tentu ada di Tokyo. Selain itu, ingin memborong baju-baju ataupun pernak-pernik unik yang hanya ada di sini.
Selang beberapa menit, mereka sampai di taman kota. Sakura segera mendudukan diri di salah satu kursi panjang yang ada di tepi taman. Napasnya lumayan terburu, dan keringat mulai merembes di sekitar wajahnya. Naruto yang memandangnya sedikit terkekeh karena melihat wajah Sakura yang mulai memerah karena kepanasan.
"Kau seperti kepiting rebus." Naruto melontar ejekannya, namun, sebelah tangannya mengulurkan sapu tangan hijau lembut kepada Sakura.
"Oh, thanks, my shitty." Sakura membalas penuh sarkasme, tangannya mengambil sapu tangan yang diulurkan Naruto untuk kemudian ia bubuhkan ke sekitar wajahnya. Ada aroma sitrus yang menguar, membuat Sakura terpana sesaat.
"Excuse me,"
Sebuah suara menginterupsi mereka, membuat keduanya mendongak. Sepasang pemuda-pemudi berdiri di hadapannya, yang pria memegang kamera di tangan kirinya.
"I'm terribly sorry to bother you, but, I wonder if you would mind helping me a moment? As long as it's no trouble, of course."
Sakura menoleh, menatap Sakura dengan pandangan ragu. Namun Naruto segera dapat menguasai diri dan balik menanggapi orang di depannya.
"Ah, how can I help you?"
Pria dan wanita di hadapan mereka tersenyum semringah. Kemudian, yang pria mengulurkan tangan dengan kameranya ke arah Naruto.
"Just shoot us."
Mereka meminta Naruto merekamnya. Sakura memerhatikan dari kursi tempatnya duduk, kedua pasangan itu berbicara pada kamera yang tengah Naruto pegang. Ada banyak hal yang mereka katakan, namun Sakura hanya mendengar sayup-sayup. Hingga sekitar tiga menit kemudian, mereka mengucapkan "happy 3rd anniversary for us!" dan mengecup bibir pasangan satu sama lain dalam kurun waktu yang lumayan lama. Sakura menahan tawa ketika melihat Naruto menoleh ke arahnya dengan tatapan tak nyaman. Rasakan kau, monolog Sakura dalam hati. Namun, akhirnya, sekitar satu menit kemudian mereka melepaskan wajah masing-masing dan mengucap closing pada kamera.
"Thank you so much. You're really helping." Mereka mengujar terima kasih pada Naruto. "I'm Danny and she's Sam, my girlfriend. Once again, thank you so much—err …"
"Naruto." Naruto tersenyum. "I'm Naruto."
"Ah, thank you, Naruto. You're so nice." Kali ini giliran gadis yang bernama Sam itu yang berujar.
"You're welcome. Happy anniversary, by the way. Both of you are so sweet. Longlasting."
Wajah keduanya memerah, kemudian keduanya saling bergandengan tangan. "Well, thanks again."
Sakura masih melihat Naruto mengangguk pelan dengan senyum lebarnya. Kemudian kedua pasangan itu melambai hendak melangkah pergi. Namun, sebelum benar-benar melangkah, Sakura melihat Danny meliriknya singkat, kemudian tersenyum dan berkata pada Naruto. "Longlast for you both, too. She's your girlfriend? The girl with that beautiful pink hair?"
Sakura terdiam, tapi kemudian ia melihat Naruto ikut menoleh dan menyeringai ke arahnya. "Yeah, she's my girlfriend. Thanks, btw."
"You're very welcome. Nice to meet you and her. See you, yes."
Pada akhirnya, kedua pasangan itu benar-benar pergi. Naruto masih menyeringai ketika kembali melangkah ke kursi panjang untuk menghampiri Sakura.
"Oh, you're so sweet, my honey." Sakura mencibirnya.
"Thank you so much, my sugar." Naruto tertawa. "Sebab jika aku mengatakan kau bukan pacarku, akan ada makin banyak pertanyaan di benak mereka. Bukan begitu?"
Sakura menunduk, meremas pelan sapu tangan Naruto di genggamannya.
Begitukah?
Sebanyak apa kuantitas pertanyaan yang diuarkan orang-orang tentang a guy and a girl who have friend-relationship?
Sakura tak menemukan jawabannya.
…
Mereka kembali ke hotel tepat ketika jarum jam di swatch putih Sakura menunjukkan pukul enam sore. Setelah dari Harrods, mereka mampir ke sebuah kedai pancake yang tak jauh dari hotel. Selesai puas dengan asupan manis itu, keduanya akhirnya memilih kembali ke kamar untuk membersihkan diri.
"Aku mandi duluan."
Sakura mengucap cepat dengan satu seringaian di bibir tipisnya. Naruto mendelik dan mendesah kesal, kalah cepat.
"Jangan lupa bawa bajumu, atau aku tidak akan pernah mau lagi kausuruh keluar kamar seperti tadi pagi."
Sakura mencibir, tubuh mungilnya melangkah menuju koper di sudut kamar dan memilih beberapa pakaian untuk ia bawa ke kamar mandi. "Iya, cerewet."
Tak beberapa lama, gadis itu masuk ke dalam kaamr mandi. Suara shower terdengar menyala sepersekian detik kemudian. Naruto merebahkan tubuh kekarnya, menatap langit-langit dengan pandangan mangatensi absurditas, tak menentu.
Mengapa akhir-akhir ini ia sering melamun ketika sedang sendiri?
Naruto memejamkan netra, kemudian mengusap wajahnya yang terasa lelah. Ia meraih ponsel di sakunya. Ada banyak pesan di sana—ajakan kencan sampai pesan-pesan seduktif yang membuat Naruto merinding. Padahal, sebulan yang lalu, ia masih senang merespons pesan penuh godaan itu. Tapi, terhitung sejak sebulan yang lalu, Naruto hampir lupa rasanya flirting dengan wanita. Ia meneguk ludah, kemudian menjilat bibirnya. Bahkan … sudah lupa bagaimana rasanya berciuman.
Astaga.
Ada apa dengan dirinya?
Mungkin, besok malam atau besok lusa, ia akan menyempatkan diri pergi ke kelab. Sendiri, tanpa Sakura. Ia akan mencari gadis London yang cantik di sana, untuk ia ajak kencan semalaman. Demi menghilangkan rasa aneh yang mengambang ini.
Atau …
—drrrrt.
Belum sempat ia meneruskan monolognya, sebuah ponsel di atas meja rias bergetar. Naruto bangkit, melangkah pelan menghampiri meja dan menangkap sebuah ponsel merah muda tengah berkedip-kedip di sana.
Itu ponsel Sakura.
Ada yang menelepon.
Tapi, bukan itu yang menyebabkan kedua safir Naruto melebar gamang, segamang perasaannya yang terasa dilempar sebuah benda tumpul.
Tak begitu sakit, namun meninggalkan jejak tak nyaman.
Beberapa saat, ponsel itu masih berdering, membuat Naruto perlahan menunduk, untuk kemudian melangkah mundur dan terduduk di ranjangnya.
Matanya menangkap lamat-lamat sebaris nama di atas permukaan layar ponsel Sakura tersebut. Nama yang membuat pemikirannya terdestruksi.
Menumpuk gamangnya hingga berkali-kali.
… Nara Shikamaru.
.
.
To be Continued
.
.
a/n: it's been a long long long time :'D
Hastagah, maafkan atas segala keterlambatan. Rasanya waktu berjalan terlalu cepat hingga saya nggak sadar udah terlalu lama meninggalkan cerita ini, dari masa-masa Naruto mau ultah sampai sekarang masa-masa Sakura hampir ultah lagi hiks. Maaf dan terima kasih saya ucapkan untuk teman-teman yang masih setia menunggu.
This chapter special for you all: HyperBlack Hole, sakura sweetpea, ichachan21, Rye Matsumoto, zeedezly clalucindtha, Aiichi No Kannazuki, kHaLerie Hikari, akasuna no hataruno teng tong, Guest, yassir2347, Guest, Amai Sora, Guest, SR not AUTHOR, Ihfaherdiati395, Usf namikaze, Siskap906, Coccoon, Uni-chan552, Aiko, Vii Violetta Anais, elle ns, febriano, kiutemy, Stanlic, malaikat008, Reina Murayama, KozukiShin, wowwoh geegee, linnap, Guest, shuben, Anonymous, nona fergie kennedy, Rikii, Auroran, cassiemoex, emaazkia36, Aosei Rzhevsky Devushka, Katsumi, Haru no Hira, Yuyun Dinata, NenkcChubby, Ayu. Terima kasih sudah mau mengikuti fik ini sampai sini. Maaf ya kalau alurnya lambat :")
Oh ya, terima kasih juga untuk teman-teman yang kasih ucapan selamat ultah. Maaf, baru bisa bilang makasih sekarang x'D better late than never, right? hihiw.
Lastly, masih sabar ngikutin kisahnya NaruSaku di sini, kan? :"D
LastMelodya
