Lord Never See Your Majesty

Now You On Inverted Cross


.

.

.

INVERTED CROSS

.

Chapter 11: Zero Gravity Part 2

.

Made By © IllushaCerbeast

.

MFBeyblade © Takafumi Adachi

.

Rate: T

.

WARNING(s): OOC, OC, Cerita seakan-akan season baru dari 4D, Misstypo, trick yang sulit dimengerti, a bits bloody, dll.

.

DON'T LIKE DON'T READ

Enjoy~

.

.


"Menurut penelitian kantor pusat di Amerika, gravitasi bumi berkurang! Ada apa ini sebenarnya?"

Mendengar itu membuat Ginga dan penghuni kota Metal Bey City lainnya tercengang. Sungguhkah ini tanda-tanda akan kiamat? Benarkah ini tanda bahwa Richel―musuh Ginga―sudah semakin dekat pada titik masalahnya atau...

"Celaka, apa yang harus aku lakukan―" seruan Ginga terputus begitu tiba-tiba Eva menarik lengannya. Sekarang mereka memang masih dalam keadaan melayang, begitu juga dengan beberapa barang-barang bumi lainnya. Tapi yang membuat si jabrik merah heran adalah begitu Eva tampak bisa berjalan di tengah gravitasi nol itu. Gadis bersurai hitam itu tampak menariknya menuju ke suatu tempat, "Etto, Eva, kau mau membawaku kemana?"

"..." Ginga tak mendapatkan jawaban dari Eva. Gadis itu tetap diam sembari menarik lengannya dan melayang menuju ke suatu tempat. Si iris emas terkesima sedikit begitu gadis misterius itu ternyata mempunyai kemampuan seperti ini―mengendalikan gravitasi―. Akhirnya Ginga memutuskan untuk diam juga, menunggu sampai kemana gadis itu membawanya.

"Eh..." Bosan berdiam diri, tanpa sadar Ginga menengok ke langit masih dengan tubuh melayangnya yang diseret Eva. Dan saat itu juga matanya membulat sempurna, syok lebih tepatnya. Diatas sana terlihat sebuah batu raksasa―mungkin―yang dikitari oleh spiral-spiral hitam pekat. Karena jauh, Ginga tak bisa memastikan jelas apa itu. Tapi detak jantungnya berdetak lebih cepat tanpa sadar, pemandangan itu membuatnya berkeringat dingin dan juga...

...takut.

Lawannya kali bukan Ryuga, ataupun Faust dan Rago. Lawannya kali ini sungguh-sungguh diluar pemikiran dan logika. Tubuh beratnya yang melayang ini menjadi bukti nyata bahwa ia tidak boleh lengah dalam masalah kali ini. Diawali dari gempa yang mendadak terjadi disaat ia ingin diramal oleh Blessed ―Ehm, maksudnya Eva? Lalu disusul dengan munculnya spiral aneh yang mengganggu atmosfer bumi dan menyebabkan alam tidak stabil, sehingga timbulah yang namanya bencana alam disana-sini, tanda munculnya dewa-dewi yang mulai bangkit dan kembali berpijak pada dunia.

Semuanya... Semuanya Ginga saksikan dengan mata kepalanya sendiri. Semuanya bagaikan tetesan air hujan yang terus menghantam tubuhnya tanpa henti. Semuanya sudah jelas... Bahwa ialah yang nantinya akan berperan menjadi patung raja putih di papan catur, dan Richel si patung raja hitam yang akan menjadi lawannya. Kini kedua patung berkedudukan tinggi itu masih dalam posisi awal mereka, berdiam diri dengan sekian banyak tentara mengelilinginya.

Namun suatu saat... Patung-patung yang mengitari si raja pastinya akan hilang. Hilang karena bertembur, bersimbah darah, cucuran air mata... Di saat itulah, Ginga dan Richel harus berhadapan satu lawan satu.

"A-apa itu!?" seru Ginga sedikit terkejut begitu sadar dari lamunannya, tahu-tahu Eva berhenti menyeret tubuh melayangnya itu. Di hadapannya terlihat sebuah tempat yang familiar bagi seorang bladers sepertinya, stadium tanding beyblade. Tapi yang membuatnya berbeda adalah, gedung itu tidak dihiasi sorak-sorak penonton yang bersemangat, tidak ada kembang api yang meledak-ledak diatasnya, ataupun suara gesekan gasing yang saling mengadu satu sama lain...

Ginga terhenyak. Gedung itu tampak mengerihkan sekarang. Aura hitam pekat yang mengelilingi gedung itu membuat perasaannya tidak enak. Perasaannya terasa tercekik aura mematikan yang menyeruak disekitarnya. Bangunan kesayangan Metal Bey City itu tidak lagi utuh, bagian atasnya hancur berkeping-keping seakan terhantam ledakan dahsyat, lampu kelap-kelip yang biasanya menghiasi pinggir gedung tinggal rongsokan yang menambah kesan seram bangunan itu.

"Apa yang terjadi―" baru saja Ginga ingin mendekat, ia hampir terjungkir balik lupa kalau sekarang ia dalam keadaan melayang dan tidak bisa berpijak pada tanah dengan baik. "―U-uwaa!" sebisa mungkin Ginga kembali pada posisinya.

"Kau tidak apa-apa?" ujar gadis disampingnya membantu Ginga untuk kembali ke posisi awalnya. Ginga mengangguk singkat, berpegangan pada Eva takut-takut ia kelepasan dan terjungkir-balik lagi.

"Eva, kau bisa berjalan ditengah gravitasi nol ini, 'kan? To-tolong antar aku kesana, perasaanku merasakan ada sesuatu di dalam," mohon Ginga sembari melihat kembali pada stadium. Perasaan takut semakin menjadi-jadi di hatinya begitu dari dalam sana terdengar suara raungan yang cukup keras, seiring aura hitam yang hampir sama dengan warna spiral tadi meletus keluar dari stadium.

GRRRAAAOHH!

"Baiklah," gadis itu mengerti. Eva pun menggenggam pergelangan tangan Ginga dan menarik pria itu untuk mendekat dan masuk ke dalam sana. Ginga melirik sekilas gadis itu. Tatapannya masih datar memang, tapi sepertinya Eva berkeringat dingin tanda ia juga cemas dan takut. Sama sepertinya. Kondisi yang tidak terduga ini membuat siapa saja panik akan kiamat. Langit yang mulai gelap tanpa ada matahari bersinar pun membuat perasaannya tambah risau.

Kini keduanya mulai memasuki lorong menuju dalam stadium. Masih Eva yang mengambil ahli stir ditengah gravitasi yang semakin berkurang ini. Ginga menenguk ludahnya sendiri susah payah, ia semakin takut. Detak jantungnya semakin tidak beraturan. Ia berharap kalau apa yang dilihatnya ini lebih baik daripada yang diluar, namun ternyata dugaannya salah.

...Ginga mengendus bau anyir darah,

...Beberapa raga berkulit pucat tampak mengisi lorong itu, membuatnya ngeri sendiri. Beberapa dari tubuh anak kecil itu memiliki tatapan kosong seakan mereka mati dengan terpaksa... Ginga semakin penasaran dengan apa yang terjadi pada bangunan ini.

Gedung yang seharusnya dipenuhi suara ricuh para supporter, suara gesekan beyblade yang saling beradu, gelak tawa anak-anak, kini bagaikan rumah angker bersimbah darah..."Ginga, kita hampir sampai. Kau siap?"

Ginga mengangguk mantap. Bagaimana pun juga ia tidak akan memaafkan ini. Dunia beyblade yang dicintainya ini menjadi sarana bunuh-membunuh, Ginga tidak terima itu. Apapun akan ia hadapi untuk sekarang, terlebih ia tetap percaya pada Pegasis kesayangannya yang setia menemaninya sampai sekarang.

Eva terdiam sebentar begitu mendengar suara hati Ginga.

"Percaya...?"

"Ah..." Ginga sedikit menyipit matanya begitu sedikit cahaya dari luar menerpa wajahnya. Namun hal itu tidak lama karena memang penerangan sedang minim sekarang. Dan suara raungan yang tadi sempat menakutinya kembali terdengar. Ginga membulatkan mata, syok untuk kesekian kalinya. Keringat dingin tanpa sadar turun membasahi pipi kecoklatannya.

Tidak...

"K-kau..."

...Ia tidak ingin mempercayai ini.

"Kyoya!" Ginga berteriak panik begitu ditemukannya raga sesosok yang begitu familiar baginya. Sosok yang selalu dipandangnya rival begitu juga sebaliknya, sosok yang selama ini berjuang dalam garis hidup seorang bladers tangguh. Iris keemasannya menyirat rasa tidak percaya untuk kesekian kalinya. Dengan kuat Ginga berusaha menghampiri tubuh Kyoya yang melayang dan tidak sadarkan diri disana. Cukup jauh, namun Ginga tidak peduli...

...Ia ingin menggapainya. Teman yang seharusnya juga ikut berjuang bersamanya di masalah ini juga.

"KYOYA―!"

"Ahahahahahahaha!" gelak tawa mengerihkan menginterupsi Ginga sesaat. Pemuda berambut jabrik itu tidak bisa mendekat, karena ia tidak bisa berlari bahkan berjalan sekalipun. Kedua kakinya melayang di gravitasi nol ini. Ginga menengada kepalanya, merasa familiar dengan suara itu. Walau tidak bisa menebak sampai 100%―"Apa yang kulihat sekarang, hah? Kau membawa mangsa baru untukku, Eva?"

Ginga terbelalak syok begitu melihat sesosok figur melayang diatas sana, cukup tinggi sampai-sampai tadi si jabrik merah tidak memperhatikannya. Dan yang membuatnya semakin terkejut adalah, "D-Damian... Damian Hart!?"

Figur itu menyeringai lebar bagaikan monster ganas yang berada di sampingnya, sosok anjing penjaga gerbang neraka, Cerberus yang terasa begitu nyata di mata keemasan Ginga. "Eh? Suatu kehormatan kau masih mengingatku dan bahkan namaku juga... Hagane Ginga, kalau tidak salah?" tanya Damian sembari mengetuk-ngetuk pipinya dengan telunjuk kirinya sendiri.

Ginga mendecih seketika, ia semakin pusing sekarang. Kenapa dan bagaimana bisa anak yang diketahuinya sudah dikalahkan Kyoya itu ternyata masih bernafas dan sekarang melayang di hadapannya. "Damian, j-jangan bilang kalau kau yang―"

"Aku yang apa, huh? Yang menghabisi anak ingusan tidak berguna itu, huh?" tanya Damian sembari memandang remeh pada raga Kyoya yang melayang dan tidak sadarkan diri. Tubuh itu penuh luka goresan serius dan juga hantaman kuat, Ginga tahu itu. Kondisi Kyoya sungguh mengenaskan sekarang dan yang―Damian membuang ludah ke arah tubuh Kyoya yang tidak bergeming. "Bukannya bagus kalau aku menghabisi sampah sepertinya? Ahahahahahaha!"

"Damian!" bentak Ginga serasa dipermainkan emosinya. Kesal, tidak terima temannya diperlakukan remeh seperti itu. Sayangnya, gertakannya sama sekali tidak bearti karena―GRAAAAAAHHH!

"Ugh!" raungan hewan buas yang sedari tadi meraung-raung di samping Damian menciptakan hempasan angin yang cukup kuat. Tentu saja dengan tubuh yang tidak memiliki gravitasi itu, si jabrik merah langsung tehempas ke belakang, lebih tepatnya ke dinding pembatas stadium―BRUKK!

"Yang namanya Tategami Kyoya sudah tiada, Ginga."

'Ti-tidak mungkin, aku tidak akan mempercayai kenyataan pahit itu!'

Bantingan yang cukup kuat, namun si jabrik merah ini tidak mau kalah begitu saja. Ia berpegangan pada salah satu sisi pinggir stadium dan membuka kembali matanya yang sempat terpejam karena nyeri di punggungnya. Sepasang mata emasnya terkesima begitu melihat di depannya sudah ada yang melentangkan kedua tangannya, melindungi Ginga dari Damian.

Damian menyipitkan matanya begitu menerima kenyataan tidak menyenangkan ini. Sosok yang dianggapnya teman sekarang... "Eva, apa yang kau lakukan?"

"Kau sendiri, apa yang mau kau lakukan?" si gadis satu-satunya dalam ruangan itu pun bertanya balik. Dengan tubuh ringannya yang melayang seimbang, Eva masih melentangkan kedua tangannya tidak membiarkan ada serangan yang lolos dari Damian kepada Ginga. Damian memiringkan kepalanya, memasang pos berpikir.

"Menghabisinya, tentu saja. Aku bosan menunggu Dia untuk menghabisi reinkarnasi malaikat yang bodoh itu! Kalau Leone bisa kuhancurkan, maka Pegasis juga harus kuhancurkan sebelum dia berubah menjadi kuda bersayam enam atau sejenisnya! Hah, jangan membuatku tertawa! Minggir, Eva!" Ginga terdiam sesaat mendengar teriakan anak berambut aquamarine itu.

Damian mengenalnya... Damian tahu namanya Eva...

Bagaimana pun juga bagaimana dia masih hidup adalah tanda tanya besar bagi Ginga. Ia yakin kalau waktu itu Kyoya sudah mengalahkannya, tapi... "Ja-jangan-jangan..."

"Kau hanya membuat-Nya marah kalau kau mengambil mangsanya, jadi sebaiknya kau hentikan ini," balas Eva yang bersikeras tidak mau menyingkir membuat kesabaran Damian habis. Pria dengan Cerberus sebagai patnernya itu tidak suka menunggu seperti ini. Mau tidak mau ia mulai―

"Cerberus, singkirkan dia!" perintah Damian lantang sembari menunjuk Eva mentah-mentah. Dan hal itu yang membuat Ginga menjadi panik, bodoh sekali ada gadis yang melindungi pria seperti ini, pikirnya. Ia harus melakukan sesuatu, atau tidak kali ini Eva benar-benar jadi korban. Tapi ia harus bagaimana!? Tubuhnya tidak bisa bergerak sesuka hatinya, semua benda yang tidak merekat ke bumi melayang bebas termasuk dirinya.

"Maafkan aku," ujar Eva kemudian. Memejamkan matanya sebentar, tetap tenang meskipun kini Cerberus mulai mengambil ancang-ancang untuk menyerangnya. " ...Aku tahu kau istimewa karena kau salah satu dari manusia terpilih yang mewarisi kemampuan dewa,"

Ginga yang serasa hanya menjadi penonton tak berdaya membulatkan matanya―lagi. Kemampuan dewa... Kata itu seakan asing di gendang telinganya. Kata-kata yang sulit dipercayai kaum manusia jikalau tak ada bukti spesifik dan logika. Tapi semua yang terjadi belakangan ini...

Gempa yang terjadi di kotanya, angin badai yang terjadi di Afrika, dan angin tornado yang melanda Amerika baru-baru ini...

"Iya, orang yang didatangi dewa dan dewi, akan bisa melihat cahaya aneh yang tidak bisa dilihat manusia biasa, dan cahaya itu akan selalu datang disaat bencana alam terjadi,"

"Da-Damian, di-dia juga―"

"―Tapi sebenarnya, sejak dulu aku tidak setuju dengan bangkitnya Babylonia baru, sekalipun waktu itu Dia dan kau menemukanku, memasukanku ke dalam tubuh ini, menjadikanku sekutu kalian. Tapi dari dulu..."

Damian membulatkan matanya, ia melentangkan tangan kanannya memberi aba-aba pada Cerberus untuk tidak menyerang terlebih dahulu sebelum Eva menyelesaikan kata-katanya. Perkataan yang sama sekali tidak diduga oleh Damian sebelumnya...

Tubuh Damian sedikit bergetar, ia sama sekali tidak terima. Tidak terima dengan kenyataan ini, "E-Eva... J-jangan... Jangan bilang... Jangan bilang kalau kau―!"

"Ya, aku mengkhianati Dia, Damian. Juga mengkhianatimu yang memihak pada-Nya,"


:InvrtdCrss:

"Ke-Kenta!?"

"Kau?"

Masamune maupun Nile berseru bersamaan begitu melihat sosok yang familiar di mata mereka terlihat dari kejauhan ruangan gelap itu―yang hanya ada tiang-tiang berlampu biru diujungnya sebagai penerangan―. Kenta membulatkan matanya, entah terkejut, haru, atau bagaimana. Spontan Kenta langsung berlari tidak ragu untuk mendekati mereka.

"Ma-Masamune, Nile! Ke-Kenapa kalian disini?" tanya Kenta yang tanpa sadar suaranya bergemah di ruangan itu.

"Ah, itu..." ucapan Masamune tersendat. Pria dengan beyblade Unicorno itu tampak menggaruk-garuk tengkuknya sendiri, menengok ke kiri dan ke kanan, menghindar kontak mata dengan Kenta.

"...Aku sendiri tidak tahu kenapa aku disini. Begitu terbangun aku sudah disini, dan..." jawab Nile begitu ia berusaha memflashback memori-memori di otaknya yang tampak seperti puzzle kasat mata. Pria asal Afrika yang sangat pandai bermain bey itu sendiri msih tidak paham betul. "...Sepertinya aku baru saja terkena badai saat menyebrang jembatan bersama Demure, lalu... bangun-bangun sudah ada disini," lanjutnya.

"E―Eh?" Kenta tampak bingung. Iris kecoklatannya memasang raut wajah cemas begitu mendengar jawaban Nile. Kenta ingat betul dimana kabar buruk yang bagaikan petir membahana bagi Ginga, Kyoya, dan lainnya waktu itu. Dimana waktu itu dikabarkan Nile terjatuh dari jembatan karena badai, lalu hilang ingatan dan...

"Oh, ya, sebelum terjatuh, Nile mengucapkan kata yang aneh,"

Mata kenta membulat begitu ia teringat sesuatu yang penting. Sangat penting karena peristiwa itu ada hubungannya dengan Babylonia baru...

"Kata yang aneh?"

"Iya, dia bilang... ia melihat cahaya yang aneh, setelah itu Nile langsung kehilangan keseimbangan dan jatuh. Ha –hanya itu yang bisa kuberitakan sekarang, maaf tidak bisa membantu,"

Kenta meremat dadanya sendiri, seakan meremas jantungnya yang kini berdetak kencang. Ia mulai panik dan cemas sendiri. Ternyata Nile ada disini... Bisa dibilang karena ada alasan yang kuat. Lalu Masamune juga...

"Kata mereka, Masamune mengatakan sesuatu yang aneh. Dia bilang melihat cahaya, padahal Toby maupun Zeo tidak melihat apa-apa."

"Masamune juga salah satu orang yang melihat cahaya itu, jangan sampai ia bernasib sama seperti Nile."

Deg! Jantung Kenta kini terasa mau copot saja. Masih lebih baik kalau mereka disini sama halnya dengan Kenta, yaitu membantunya untuk menggagalkan bangkitnya Babylonia baru, yang ingin menghancurkan ras manusia dan menggantinya dengan dewa dan dewi yang ingin kembali berpijak ke dunia. Tapi...

"Kenta? Kau kenapa? Kau terlihat gemetaran," ujar Masamune sedikitnya cemas dengan anak berambut hijau itu. Si jabrik hitam pun mendekatinya berinisiatif untuk mengecek kesehatannya. Tapi begitu tangannya berupaya menyentuh Kenta, entah sadar atau tidak anak itu menepis tangan Masamune.

Masamune sedikit terkejut dengan apa yang Kenta lakukan padanya, menepis tangannya. Menolak untuk dikhawatirkan. "Hei, hei, aku tidak akan menyakitimu, kok! Aku khawatir tahu!" omelnya sembari berkacak pinggang. Kenta meneguk ludahnya susah payah, berkeringat dingin juga. Perlahan-lahan langkahnya mundur menjauhi keduanya.

"Ma-maafkan aku..." ujar Kenta pelan dengan suara bergetar, masih menatap mereka berdua dengan tatapan tidak percaya. Ya, Kenta tahu. Kenta tahu yang berdiri di depannya ini Masamune dan Nile. Salah satu dari temannya sendiri. Tapi...

Tapi sekarang mereka―GRRREEEEEKKK!

Ketiganya terkejut seketika begitu merasakan getaran di ruangan itu. Menyerupai gempa memang, tapi tidak cukup besar dan masih bisa mereka imbangi. "Se-sekarang apa lagi!?" batin Kenta takut. Namun dengan susah payah, Nile berjalan di tengah getaran itu dan menghampiri Kenta.

"Kenta, cepat bersembunyi," bisiknya sembari mendorong Kenta menjauh dari mereka. Mendengar itu membuat si iris brown terkejut. Maksud Nile mengusirnya atau―"Sepertinya orang yang mengirim kami kesini akan datang, percayalah. Kembali ke tempat persembunyianmu tadi, sekarang!"

Kenta tidak banyak bicara lagi, cepat-cepat ia mengangguk dan berusaha berjalan―ditengah gempa kecil itu―mencari tempat bersembunyi. Untungnya masih sempat, ia kembali bersembunyi di salah satu tiang yang ujungnya ada api biru yang menyala-nyala. Raksasanya tiang itu sangat cukup untuk menyembunyikan keseluruhan badannya dan tidak akan terlihat dari arah Masamune dan Nile berdiri.

Whoooushh...

Kini dari meja bulat besar yang ada di depan Masamune dan Nile melakukan sebuah perubahan. Pinggirannya yang bewarna biru tua menurun membuat isi meja itu―lingkaran yang memiliki corak ukiran kuno― mencondong keluar. Dan dari celah itulah keluar asap biru yang sangat pekat. Asap itu sampai menyebar ke seluruh ruangan dengan cepat. Sampai-sampai menggapai tempat dimana Kenta bersembunyi sekarang, yang padahal jaraknya cukup jauh.

Kenta meneguk ludah melihat asap yang menyerupai kabut itu. Tidak mengganggu pernafasannya atau apa, tapi ia mulai takut dengan apa yang terjadi disana―tempat dimana Masamune dan Nile berada. Getaran yang tadi sempat membabi buta di tempat itu mulai mereda, membuat Kenta sedikit lega. Tapi tak lama kemudian ia mendengar suara...

"Selamat datang, wahai manusia-manusia yang terpilih untuk mewarisi kekuatan dewa dan dewi!"

Mata coklat Kenta membulat mendengar itu, ia tahu itu bukan suara Nile, ataupun suara Masamune. Suara yang lebih berat dan menggemah ke seluruh ruangan itu sangat asing di pendengarannya. Ia ingin menengok untuk melihat―karena rasa penasaran yang tinggi juga―tapi tidak berani.

"Tsu-Tsubasa!? Kenapa kau disini, kawan!?"

Deg! Rasa penasaran Kenta semakin mengubun-ngubun begitu mendengar seruan Masamune itu.

"Tsubasa?"

Mendengar nama itu, yang terbayang di pikirannya adalah sesosok pria jangkung yang memiliki rambut abu-abu panjang terawat, bekerja menjadi PSY di perusahaan Hagane Ryusei, teman baik Yuu dan Titi...

"Terakhir kita melihat Yuu itu kemarin, 'kan? Saat dia ingin menemui Tsubasa dan Titi yang katanya bermain di taman"

"Sepertinya Tsubasa ada hubungannya dengan semua ini,"

"Suatu kekuatan yang meluap bagaikan ombak, berderu kencang bagaikan guncangan rasio, juga menghantam semua yang dilihatnya,"

Memori-memori yang sempat melekat di otaknya kini mulai terbayang-bayang kembali. Mengingat itu membuat Kenta menyandarkan punggungnya di tiang besar itu, dengan tubuh bergetar. Kedua tangannya kini memeluk badannya sendiri, ingatan-ingatan yang dulu sama sekali tidak ditangkapnya dengan serius kini membuatnya menggila. "Ja-jangan-jangan..."

Kenta menggeleng pelan lalu menundukan kepalanya. "...Ja-jangan-jangan Ts-Tsubasa... D-dia juga―"

"Masamune, Nile, Tsubasa, tidak tahukah kalian adalah orang-orang terpilih? Dipilih untuk mewakili warisan keahlian dewa dewi yang agung?"

Dan begitu mendengar itu, rasanya Kenta ingin menitikan air matanya...


:InvrtdCrss:

Ginga yang notabene menyaksikan adu mulut diantara Damian dan Eva hanya mampu membisu di pinggir stadium. Karena apa daya, ia masih dalam kondisi yang sama sekali tidak mengenakan. Melayang. Gravitasi bumi sepertinya benar-benar berubah menjadi nol sekarang. Tidak ada toleransi bagi mereka-mereka yang tidak memiliki bobotan untuk terus berpijak di bumi. Tapi masalahnya...

...Masalahnya bukan itu, melainkan kenyataan―atau lebih tepatnya terbongkarnya rahasia―yang disaksikannya sekarang mungkin membantunya sedikit, untuk bisa menghadapi masalah berikutnya.

"Kau..." perkataan Damian serasa tersendat, atau jangan-jangan ia tidak mampu berkata-kata. Sedangkan gadis bersurai hitam kelam yang ada di hadapannya tetap memasang raut wajah yang sama sekali tidak membantu. Tampang datar handalannya.

Ginga meneguk ludah, sebenarnya ia tidak menyangka kalau gadis misterius satu itu ada hubungannya dengan Damian yang mendadak mendarat dan berulah di Jepang. Setelah hampir setahun tidak ada kabar sejak dikalahkan Kyoya dengan telak. Dan sekarang, begitu ia menyaksikan keduanya beradu mulut sesaat, ia menemukan kenyataannya.

Bencana alam di Amerika, angin tornado waktu itu. Tidak hanya Masamune yang bisa melihat cahaya itu, tapi juga Damian.

"Eva, katakan kalau ini bohong! A-aku... aku tidak percaya hal konyol seperti ini... Eva!"

Dan waktu itu Eva mendatangi Damian dan memberikannya wahyu―semacam surat wasiat suci―terlebih dahulu padanya, sebelum pewaris kekuatan dewa dan dewi lainnya tahu. Dan dari sanalah...

"Go Shoot!"

"A-apa!?" Ginga terkejut begitu tiba-tiba Eva mengeluarkan sebuah launcher dan... bey. Ginga sama sekali tidak tahu kalau gadis itu seorang bladers'Ah, aku ingat... Saat pertama bertemu, dia menolongku, Madoka, dan Kenta ditengah gempa juga dengan bey,'

"Ck―" bey dari gadis itu kini mengeluarkan aura merah pekat yang mulai menyeruak dan bergesekan ganas dengan aura hitam keunguan dari Cerberus. Gesekan itu pun menimbulkan badai angin yang lebih dahsyat dari pada yang tadi.

BYASSHHH!

"Kh!" Ginga hampir saja terlempar kalau ia tidak berpegangan pada pinggir stadium. Sialnya, pinggir stadium itu kini mulai menampakan kerusakan, seperti retak atau sejenisnya. Dan si jabrik merah sudah tahu kalau penyebab keretakan itu adalah...

"A-apa? Kenapa bisa bey mereka―" seru Ginga tak bisa menahan rasa keterkejutannya begitu tahu ada dua bey yang kini berputar dengan rotasi yang sama dan melayang. Yang membuat Ginga terkejut adalah begitu kedua bey itu tetap berputar meskipun tidak menyentuh pijakan.

'Ini gila!' batin Ginga berteriak frustasi. Lama ia tidak melihat pertandingan bey lalu sekarang ia disuguhkan dengan pertandingan yang berlangsung tanpa pijakan dan gravitasi sekalipun. Dilihatnya jelas, si rambut aquamarine masih memakai bey yang sama seperti dulu. Hell Kerbecs. Mungkin saja karena wahyu dan pengaruh kemampuan dewa yang kini bersemayam dalam tubuhnya, bey itu berubah menjadi kuat. Tapi sepertinya Eva―

"Ginga, tangkap ini!" seru Eva sembari melemparkan sesuatu ke arah Ginga. Otomatis pemuda yang dari tadi berpegangan pada pinggir stadium mau tidak mau melepas tangan kanannya berupaya mengambil. Badai yang disebabkan gesekan aura dari kedua bey itu mereda, kesempatan bagus bagi Ginga untuk mengambil benda itu dan―Hap!

Benda yang berhasil jatuh ke dalam genggaman Ginga kini bersinar, membuat pemuda beriris emas itu terkesima. Damian yang tahu persis apa itu langsung membulatkan mata, mengernyitkan dahinya penuh amarah. Bagaimana bisa kalau Eva memberikan benda itu pada pihak musuh bagi Damian. "EVA! KAU GILA! KENAPA KAU BERIKAN ITU PADANYA?!"

Eva kembali memalingkan wajahnya ke arah Damian, dengan tatapan tajam. "Aku memberikan apa yang pantas dia dapatkan,"

"U-Uwaaa!" Ginga memejamkan matanya begitu benda itu kini mengeluarkan cahaya yang sangat menyilaukan. Sinar itu sampai keluar dan menembus kabut hitam yang mulai menyelimuti permukaan bumi. Damian yang ekor matanya juga melirik ke arah Ginga pun ikut menyipitkan kedua irisnya. Sedangkan Eva yang posisinya membelakangi Ginga hanya diam, menunggu reaksi cahaya itu berikutnya...

'Richel...'

'...Maafkan hambamu, yang berdosa ini,'

"A-apa ini!?" Ginga terbelalak begitu ia membuka matanya karena sinar iu mereda, tahu-tahu ia sudah menaiki sesuatu. "Eva! Apa ini? Mo-motor?" tanya Ginga bingung. Si iris merah gelap kembali melirik ke arah Ginga, dengan tatapan datar khasnya.

"I-itu..." Damian juga sama terkejutnya dengan Ginga, melihat sebuah kendaraan yang menyerupai motor ski yang sekarang dinaiki Ginga.

"Ginga, sebut saja itu Gravitation Air Gear, benda masa depan yang khusus dikendarai di udara. Dengan itu, kau bisa menetralisir gravitasi bumi dan berjalan sesuai arah yang kau mau," Eva mulai memberi penjelasan. Dan Ginga pun mendengarnya baik-baik, karena ia tahu gadis itu sangat irit kata―mungkin―.

Tapi benar saja, Ginga sedikit salut begitu ia menduduki kendaraan itu, ia seperti menduduki kursi di bumi dengan gravitasi. Tidak melayang. Sesekali jarinya menyentuh kendaraan masa depan yang dominan bewarna putih itu. "Alat itu kuberikan padamu, dan dengan itu pergilah ke sana," kemudian Eva menunjuk diikuti arah mata Ginga dan Damian bersamaan.

Irisnya membulat seketika begitu melihat benda itu lagi. Bongkahan batu yang tadi dilingkari spiral-spiral hitam. Dan sekarang dilihatnya bongkahan batu itu mengalami perubahan. "Ta-Tapi kau sendiri bagaimana, Eva?"

Tidak menjawab, kini Eva kembali menatap Damian sehingga kedua iris mereka bertubrukan. Saling melempar pandang dengan artian tak menentu. "Aku akan menghadapinya disini,"

"Berani kau bicara begitu, Eva?! Aku tidak percaya ini tapi kau benar-benar―"

"Ya, aku memihak Hagane Ginga," potong Eva cepat. Membuat Damian langsung mengernyitkan dahinya penuh amarah. Disisi lain ia tidak terima, baginya kebangkitan Babylonia ini adalah surga baginya. Karena ia orang yang dipilih. Ia istimewa. Ia menantikannya dimana nanti diperlakukan adil disana tapi... Eva berkhianat, memihak Ginga.

Itu kenyataan yang sangat menyakitkan, sehingga tanpa sadar hati Damian serasa berdenyut dan nyeri. Karena bagaimana pun juga yang menariknya dari keterpurukan ini adalah...

"Semoga saja Yumiya Kenta bisa menemukan 'Crafethaur Ring' dan memberikannya padamu, Ginga. Dengan itu, kau akan secara resmi mewarisi darah malaikat dan bisa mengimbangi Richel," bisik Eva lalu merapatkan kedua tangannya mengambil posisi berdoa sesaat. Namun Ginga bisa mendengarnya dengan jelas.

"Cra-Crafe―Uwaaaaa!" sontak Ginga terkejut dan langsung berpegangan pada Gravitation Air Gear-nya begitu alat itu tiba-tiba bergerak dan melayang ke udara, keluar stadium. Dan yang membuat Damian sedikit panik adalah begitu alat itu membawa Ginga melayang menuju bongkahan batu yang sedang melayang jauh diatas sana.

"Aku tidak akan membiarkannya!" seru Damian lalu memerintah Cerberus-nya untuk mengejar dan menghentikan Ginga. Kalau perlu mencabik-cabik anak yang dulu sempat menjadi musuh besarnya itu. Tapi tidak bisa begitu aura merah pekat yang tadi sempat beradu dengannya mulai menghalau dari segara sudut. Cerberus yang terkunci dengan aura merah itu pun berhenti bergerak membuat Damian mendecih.

"Sial! Menyingkirlah, Eva! Kalau tidak aku akan―"

"...Akan apa?" balas si gadis tidak mau kalah. Tatapannya senantiasa datar dan tenang, dengan gerakan-gerakan yang terbentuk di tangannya, kini aura merah itu mulai mencekik Cerberus sehingga makhluk siluman itu meraung-raung.

Damian, yang sepertinya sudah sedarah daging dengan monster raksasa berwarna ungu gelap pekat itu mulai meremat dadanya. Merasakan sakit yang sama seperti Cerberus rasakan. Dengan pandangan buram, ia berusaha menatap gadis itu lagi. Ia tahu, anak yang ada di hadapannya yang merupakan dewi asli tidak akan terkalahkan semuda itu dengannya yang juga mewarisi kemampuan dewa.

Tapi, ia tidak menyangka ini akan terjadi...

"Eva, persetan kau! Kenapa kau melakukan ini, hah!? Kenapa... Kenapa kau membela Hagane Ginga!?"

"Hei, Damian Hart."

"A-Siapa kau!?"

"...Jangan takut, aku hanya ingin menyampaikan wahyu ini untukmu. Kau, baru saja melihat sebuah cahaya, bukan?"

"Kenapa kau berkhianat padaku!? Padahal kau yang datang padaku! Kau, kau juga yang memberitahukanku wahyu itu! Tapi, tapi kenapa!?"

"...Oh, jadi sampah sepertiku ini mewarisi kemampuan dewaAtau apalah itu, teserahlah,"

"Ya, itu benar. Di dalam dirimu, ada seorang dewa yang memilihmu."

"Waktu itu kau yang mengulurkan tanganmu padaku, kau yang mengajakku, Eva! Kau dengar, tidak, hah!? Kau menjanjikanku dunia baru!"

"...Dengan kemampuan itu, Dia ingin kau membantunya untuk membangkitkan Babylonia baru, tempat dimana era dewa dan dewi akan kembali berjaya. Wahyu itu akan memberimu kekuatan,"

"...Aku, aku..."

"Percuma kau berteriak seperti itu, Damian Hart," suara itu sontak membuat Damian dan Eva yang sedari tadi saling berkontak mata langsung terkejut. Keduanya bersamaan menengok ke asal suara, dimana di salah satu pintu stadium melayanglah sesosok figur yang melipat kedua tangannya angkuh.

Damian dan Eva membulatkan mata melihatnya. "Y-Yang Mulia!?" seru Damian agak takut-takut. Sosok pirang yang kini memain-mainkan rambutnya sebentar mulai menatap mereka berdua dengan tatapan membunuh. Menyadari kondisi, Eva mulai mengatur bey-nya agar melepas ikatannya dari Cerberus. Gadis itu pun menangkap bey-nya lagi beserta Damian yang melakukan hal yang sama.

"Richel," panggil Eva dengan suara pelan, juga sedikit bergetar. Ia masih sedikit trauma begitu Richel murka atas tindakannya yang berkhianat ketahuan. Syukurnya waktu itu ditolong Ginga. Tapi, untuk sekarang... Ia tidak tahu akan selamat atau tidak. Richel, sosok itu, melirik sebentar ke arah Eva dengan tatapan dingin dan tajam yang tidak bersahabat.

"...Masih berani kau memanggil namaku dengan nyamannya, huh?" tanya Richel dengan nada yang menusuk. Eva tahu itu, ia tahu kalau pemuda yang merupakan sahabat sejak kecilnya itu tidak akan mempercayainya lagi.

"Dan kau," kini Richel melirik ke arah Damian. "Berani sekali kau ingin mengambil mangsaku, kau betul-betul tidak berguna..." tangan kanan pemuda berambut pirang itu kini terangkat, mengarahkannya pada Damian yang hanya sanggup membatu di tempatnya melayang. Pemuda berambut aquamarine itu tampak tidak tahu harus berbuat apa, tubuhnya seakan membeku.

"Awaas!" buru-buru Eva melayang ke arah Damian, memeluk tubuh itu dan mendorongnya ke arah lain sebelum sebuah aura hitam melayang ke arahnyaBLAAAARR!

Gratak gratak gratak!

Stadium yang bagaikan ruang mayat itu mulai roboh sebagian begitu aura yang tadi Richel lemparkan tidak mengenai Damian melainkan salah satu sisi stadium itu. Dan tentu saja aura mematikan itu langsung menghancurkannya. Damian dan Eva tidak mendarat ke tanah meskipun Eva sudah mendorongnya keras tadi, karena bumi sudah tidak bergravitasi. Namun, Damian memandang Eva dengan tatapan tidak percaya.

"Kau tidak apa-apa?" dan suara itu membuat Damian membatu. Dilihatnya Eva memandangnya dengan tatapan khawatir.

'Ba-bagaimana bisa... Eva betul-betul mengkhianati Dia dan... menolongku?'

"E-Eva..." dan kini tangan Damian tak bisa menghentikan gadis itu begitu Eva kini maju ke depannya, memberanikan diri untuk menghadapi Richel. Atau dengan kata lain membiarkan Damian di belakangnya agak pemuda itu tidak terluka. Dan sekarang, gadis itu mengeluarkan launcher-nya lagi, dengan bey-nya yang sudah siap untuk bertempur.

Richel menautkan alisnya sesaat melihat apa yang dilakukan teman masa kecilnya yang berkhianat itu. "Jadi sekarang kau berani melawanku? Kalau begitu aku akan menghabisimu langsung disini," seru Richel dengan tatapan garang dan juga mengeluarkan launcher dan bey-nya yang sudah siap di saku jubahnya tadi.

Damian membulatkan mata melihat itu. "E-Eva, jangan bodoh! Kau tidak akan bisa melawannya!" seru pemuda yang masih melayang di belakang Eva. Namun sepertinya gadis itu tidak peduli, atau bahkan berusaha untuk tidak mendengarnya.

"Tiga, dua, satu―GO SHOOT!"

Keringat dingin membasahi wajah Damian begitu ia tidak bisa menghentikan gadis itu. Pertandingan mereka berdua kini berlangsung, dengan bumi tanpa gravitasi sebagai arena-nya. Benar saja, bey keduanya memang berputar tapi tidak menyentuh permukaan tanah sama sekali. Sama halnya tadi Eva bertarung dengan Richel.

"Seraang, Darkness Aprhodi!" seru Eva kini tidak ragu lagi untuk menyerang. Bey-nya yang tadi hanya diam berputar di tempat kini mulai maju berusaha menggapai lawannya. Seiring aura merah pekat yang kembali menyeruak dari dalam bey-nya. Ia tahu, yang diserangnya ini adalah Dia... Aloise Richel. Teman pertamanya selama ia hidup di dunia ini.

TRANG! TRANG!

"Hooh, boleh juga," puji Richel terkekeh sedikit. Raut wajahnya yang tadi menyeramkan berubah menjadi santai. Dan wajah itu juga yang membuat Eva terdiam sesaat, tercekat. Ia ingat sekali raut wajah ceria itu... Dulu sekali...

"Richel..." panggil Eva―lagi. Sekalipun ia tahu pemuda itu tidak suka nama kecilnya dipanggil begitu saja oleh seorang pengkhianat sepertinya. Dan panggilan itu sukses membuat Richel yang sedari tadi memandangi bey-nya menengok ke arah Eva.

Dan sekarang mereka saling bertukar pandang...

'Kalau dipikir-pikir, sudah lama sekali aku dan Tuan tidak bertarung bey lagi,'

"Kau, ingat janji kita, 'kan?" sambungnya kemudian, walau Eva sendiri tidak yakin atas pertanyaannya ini. Namun ia ingin memastikannya, juga membatalkan hancurnya dunia ini. Richel yang mendengar itu mulai menautkan alisnya, kemudian tersenyum kecil.

Eva, untuk sesaat lega bisa melihat senyum terukir di wajah pemuda itu lagi, mungkinkan ia ingat―Dan sekarang senyuman itu berubah menjadi seringai yang menyeramkan membuat Eva maupun Damian sedikit ngeri.

"Janji? Ya, tentu saja aku ingat. Kita berjanji untuk membahagiakan seluruh dunia ini! Dan cara itu adalah dengan bangkitnya Babylonia baru dan musnahkan ras manusia, Eva!" serunya dengan wajah sadistik yang entah sejak kapan terlukis di wajahnya. Eva membulatkan matanya, ia... sama sekali tidak ingin Richel terlihat jahat seperti ini, tidak mau. Ia tahu anak itu sebenarnya baik, tapi tidak untuk sekarang...

"Tidak, kau salah! Tidak bisakah kau mengimbangi antara manusia dan dewa-dewi, hah!?" balas Eva kemudian memerintah bey-nya kembali meluncurkan serangan kepada lawannya. Serangan dan ikatan-ikatan beracun yang dihasilkan dari bey Darkness Aprhodi-nya sanggup membuat putaran bey lawannya goyah. Dan hal itu...

...Membuat setitik harapan muncul di hatinya. Kalau saja ia bisa menghentikan Richel, kalau saja dunia ini tidak jadi perseteruan antara dewa-dewi dan manusia― "...Imbang? Mengimbangi katamu?" tanya Richel balik dengan suara berat yang membuat si gadis bungkam sesaat.

"Aku tidak butuh yang seperti itu... Manusia sudah banyak berulah di bumi dan mengecewakan dewa dan dewi, mereka tidak perlu dikasihani!" gertak Richel dengan senyumannya yang semakin melebar, memasang tampang gila seakan-akan ia mulai kehilangan rasio dan kenormalan pada pikirannya. Dan kini dari bey miliknya yang hanya diam mulai membalas serangan. Mengeluarkan aura hitam pekat yang jauh lebih buas dibandingkan aura merah Darkness Aprhodi yang sedari tadi mendominasi.

"Kau juga, yang berkhianat... Akan kuberi pelajaran!" teriak Richel membahana hampir ke seluruh stadium hancur itu. Damian menggeleng-geleng pelan begitu dirasakannya bumi menimbulkan getaran hebat atas perubahan yang terjadi pada bey Richel. Eva memasang posisi was-was, dengan sekuat tenaga ia berusaha untuk melawan aura hitam yang kini mulai beradu dengan aura merah miliknya.

Tapi semua ituCTAAAANGG!

"Kyaaaa!" BRAAAAKKK!

"EVA!" Damian menyerukan nama itu dengan tatapan tidak percaya. Ia tidak menyangka kalau Richel akan main habis langsung seperti ini. Dengan gerakan cepat bey-nya mementalkan bey Eva tepat di dahi gadis itu dan melempar Eva sampai menabrak salah satu sisi stadium yang retak dengan ganas.

Damian menatap horror ke arah sisi stadium tempat dimana Eva mendarat hancur berkeping-keping, dan kepingan disertai darah manusia-manusia yang tadi kena serangan pun melayang-layang tanpa gravitasi. Hantaman kuat dan dahsyat itu...

Ia tidak yakin kalau Eva masih bernafas karena semua itu.


:InvrtdCrss:

TO BE CONTINUED

A/N: Halo, halo minna-san! XD Genki desu ka? Fanfic terjelek dan teraneh sefandom MFBeyblade Indonesia ini sudah update~ XD /plak. Apa ada yang sudah mulai bosan dengan ceritanya? Atau tambah risih sama OC-nya (baca: Aloise Richel & Carbincle Eva)? XDD

Ehehe, chapter ini dibuat dengan memakan waktu yang cukup lama. Tapi untungnya kelar juga. Hehehe, sebenarnya lama karena kami kembali mengubrak-abrik chapter-chapter IC sebelumnya. Sayangnya chapter 1-4 nggak tahu kemana, hilang dari USB mendadak(?). Jadi tinggal chapter 5-10 yang kami punya sebagai bahan flashback sesaat. Semoga tidak membuat minna-san bosan, yah. :)

Soal Original Character-nya… Honto ni Gomenasai! Kami tidak bermaksud membuat mereka jadi Gary-sue atau Mary-sue karakter (original karakter yang kelewatan sempurna). Kami menggambarkan karakter mereka seperti apa yang terbayang di ide kami sendiri, namanya juga big-boss, mana yang dari awal muncul sudah lemah, ya nggak? Ya nggak? XD /alasanajaluberdua/ Kalau memang ada yang nggak suka dengan mereka, nanti di ujung cerita kami buat mereka berdua tewas, bagaimana? XD /digebuk.

Chapter depan bakal full-flashback atau dominan flashback masalah Richel dan Eva yang pastinya akan membuat kalian bosan nggak karuan, wahahahaha *langsungdipentongpanci* Tapi kami harap kalian tetap menyukainya. Jangan lupa review, ya! Semakin banyak semakin baik karena kami akan semakin semangat untuk melanjutkannya! XDD

Jaa!

SPOILER Chapter 12:

"Richel, kau itu anak suci! Kenapa kau berteman dengan monster sepertinya, hah!? Jangan membuat orang tua malu!"

"Dengan ini, aku akan berkuasa penuh… Tidak akan ada yang bisa mengalahkanku dan mengaturku. Sekalipun itu orang tuaku, mereka semua akan tunduk padaku, hahahahaha!"

"Brengsek, teserah kalian mau mengataiku anak durhaka atau apa, tapi aku tidak akan berpisah dengan Eva!"

"Jadi Hagane Ginga yang itu…" "…Musuhku?"