i do not own KH (IM GETTING SICK OF SAYING THIS OVER AND OVER AGAIN. ISN'T ITS OBVIOUS THAT I OWN NOTHING BUT MY MIND?)

WARNING :

1. OOC CHARA

2. VIOLENCE, tapi saya gak keberatan kalo Seifer dihajar...

HAPPY READING!AND CHECK OUT not so enchanted buatan gue (ditabok karna iklan)


Chapter 10 : ATTACK!ATTACK!ATTACK!

"Namine…" Roxas berbisik memohon pada Namine, Roxas mencoba meraih tangan Namine yang kini Namine gunakan untuk menyeka air mata yang terus mengucur dari kedua mata berwarna indigonya. Sesaat Roxas tidak tahu harus berbuat apa. Dia ingin sekali berteriak pada Namine kalau Dia tidak memendam perasaan apapun pada Xion. Tapi hati Roxas berontak, Dia tahu itu adalah sebuah kebohongan. Apa yang bisa Roxas lakukan sekarang?

"…Aku tidak tahan lagi akan semua ini" ujar Namine di tengah isakannya, hati Roxas tercabik melihat gadis mungil di depannya itu menangis KARENA dirinya. "Semua ini membuatku ta-takut. Pikiranku penuh hanya karena masalah ini. Ba-bahwa Aku menikah dengan seseorang yang tidak mencintaiku sepenuh hati, bahkan mungkin Dia Cuma menganggapku sebagai penggantinya"

Hati Roxas mencelos. Jadi ini yang telah membuat Namine sangat murung sebulan terakhir ini. Pikiran bahwa Namine telah menikah dengan orang yang salah?. Roxas menggigit bibirnya yang kering, Dia meras dingin bukan karena angin musim salju yang menggelitik tubuhnya. Tapi karena rasa bersalah yang menghujam dirinya seperti es yang sangat dingin.

"Aku mau pulang…" Namine bergumam masih setengah terisak, Namine tampak merah dan sangat berantakan saat itu, rambut pirang-putihnya menempel pada wajahnya karena air laut yang membasahi rambutnya. Roxas menggangguk. Bersama Namine Dia memasuki mobilnya dan memasang penghangat agar Namine tidak kedingninan.

Perjalanan pulang terasa sangat canggung bagi Roxas, Dia merasa tidak nyaman sama sekali. Namine memunggunginya dan memandang kosong ke arah jendela pintunya. Mungkin mencoba menyembunyikan fakta bahwa Dia masih menangis.

Satu setengah jam berikutnya mereka sudah sampai di kediaman Cavaler yang berwarna perak karena salju. Lokasi Kediaman Cavaler yang terpisah dari kota membuat mereka bisa tiba setengah jam lebih awal, meski sebagian lagi berterima kasih pada pengalaman Roxas yang mengetahui hamper semua jalan tikus yang ada di Twilight Town.

Namine tidak berkata apa-apa begitu mereka tiba di lorong kamar mereka masing-masing. Roxas hanya memandang punggung Namine berharap gadis itu masih sudi memberinya waktu untuk meluruskan benang ruwet yang dia sebut sebagai perasaannya.


Dari warna kelabu langit,tampak jelas bahwa hari telah melewati tengah malam. tapi Roxas Cavaler tidak merasa kantuk menyerangnya sedikitpun, Ia hanya terenyak pasrah di sofa panjang kamarnya. Ya, dari dulu Roxas memang menderita insomnia yang cukup parah, terutama bila pikirannya tengah bergemuruh tidak tenang. Dengan mata yang terjaga, pemuda berambut emas itu memandang kosong ke telapakk tangannya. Sudah entah berapa lama berlalu sejak dia dan Namine sampai di mansion milik keluarga Cavaler ini.

Roxas tidak bias berdalih sedikitpun saat Namine mengatakan bahwa Dia lebih menyukai Xion. Memang Dia punya perasaan yang kuat pada Xion. Tapi Roxas harus mengakui kalau Dia juga sangat menyukai Namine. Sejak awal mungkin ini memang kesalahan Roxas sendiri, kalau dia mau sedikit berusaha memilih siapa yang benar-benar dia sukai, mungkin kekacauan ini tidak perlu terjadi.

Membayangkan punya istri semuda ini menakuti Roxas pada mulanya. Maksudnya, siapa yang tidak. Hal terburuk bisa saja terjadi.

Tetapi Roxas sama sekali tidak keberatan kalau itu Namine. Dia juga tidak mengerti kenapa, ada yang berbeda dari Namine sejak pertama kali mereka bertemu di gang lebih dari sebulan yang lalu. Gadis berambut pirang-putih itu menariknya sama seperti saat Roxas bertemu Xion.

Pergemulan benak Roxas terinterupsi oleh getaran ponsel di saku belakang celananya. Terlonjak kaget, Roxas segera mengeluarkan ponsel tipis miliknya itu dan membaca nama orang yang menelponnya ;

SAIX .

"XII disini" kata Roxas parau, Dia sudah tahu apa yang Saix inginkan. Hanya satu tujuan Dia menelpon yakni memberi misi pada tiap anggota Organization.

"XII. Kau dibutuhkan sekarang para heartless berulah lagi. Kalau kondisimu memungkinkan tolong datang ke markas sekarang" Saix menjawab dengan nada datar di balik telepon.

Mendengar nama Heartless, Roxas mendengus penuh kebencian. Heartless adalah musuh bebuyutan dari Organization XIII . Anggota Heartless adalah bajingan pengecut yang bebal di mata Roxas, sama seperti ketua mereka ; Maleficient , nenek sihir tua yang keji luarbiasa.

"Yeah. Aku segera kesana" gumam Roxas, Dia segera bangkit dari sofanya dan berjalan kearah lemari miliknya untuk mengambil jubah hitam miliknya. Roxas mengira Saix akan segera memutuskan telepon mereka, tetapi Saix melanjutkan pembicaraan. Nada suara Saix menjadi agak sedikit aneh.

"Seifer sudah kembali, Roxas"

Mata Roxas melebar seketika mendengar sepucuk informasi ini dari Saix. Roxas menggeretakkan giginya penuh amarah hanya dengan mendengar nama Seifer. Dia menjambret dengan kasar jubah miliknya dari hanger di lemari.

"Ba-bagaimana bisa?hukuman penjaranya-"

"Maleficient yang mengurus masalah penjaranya. Alih-alih lima tahun, Dia bebas setelah setahun" jawab Saix cepat.

Roxas bisa merasakan rasa benci menjalar di seluruh tubuhnya hanya dengan mendengar nama pria itu. Tanpa sedikitpun keraguan, Roxas membalas Saix dengan suara lantang yang tenang.

"Aku pasti datang Saix. Seifer akan membayar semua perbuatannya"


Mengendarai bmw silver miliknya dalam kecepatan mengerikan. Mobil milik Roxas menembus kabut malam bersalju menuju sebuah hutan terselubung yang ada di belakang Market Street, suara mesin mobil silver miliknya terdengar menembus pusat perbelanjaan yang tengah tertidur itu. Markas milik Organization XIII tersembunyi dengan aman dibalik rindangnya pepohonan. Orang-orang akan tersesat bila tidak mengenal hutan ini. Tapi lain halnya dengan para anggota Organization XIII. Mereka bahkan tahu dengan pasti dimana jalan tikus yang bisa dilalui oleh mobil mereka.

Markas Organization XIII menyerupai sebuah kastil dengan warna putih yang menyeluruh di seluruh bagiannya. Entah berapa banyak yang tahu kalau geng besar semacam ini sebenarnya menguasai banyak jalur ekonomi, makanya Organization XIII bisa berkembang sepesat ini. Memarkir mobilnya di garasi bawah tanah, Roxas buru-buru melangkah memasuki bagian dalam markas tempat para Nobody tertinggi berkumpul. "Where Nothing Gather"

Tidak begitu banyak orang di dalam markas. Hanya beberapa dusk junior yang baru masuk ke dalam Organization XIII yang berlalu lalang, mereka membungkuk rendah ketika melihat Roxas yang tengah bertudung masuk. Karena mereka masih tidak berpengalaman biasanya dusk-dusk ini hanya di suruh menjaga markas sementara dusk tingkatan lebih tinggi dan ketiga belas Nobody tengah pergi ke misi mereka.

Mendorong pintu putih ganda terbuka, Roxas mendapati dirinya berada di dalam sebuah ruang dengan tiga belas kursi putih tinggi yang menyerupai tahta. Ruangan ini nyaris kosong hanya berisi dua Nobody, Saix dan Zexion yang tengah berbicara cepat sambil menunjuk-nunjuk Lexicon miliknya yang berupa sebuah kamus besar,sepertinya mereka tengah membicarakan teknik penyerangan Heartless.

Keduanya langsung berhenti ketika menyadari bahwa Roxas telah tiba. Zexion menutup dengan keras Lexicon di tangannya sementara Saix mengisayaratkan Roxas untuk mendekatinya.

"Kau Akan bertugas di gang boot tepat di depan gerbang menuju hutan kita. Bawa dusk milikmu, musuh utama yang mungkin kau hadapi langsung adalah Seifer, Rai dan Fuu" jelas Saix dengan nada resmi yang biasa miliknya. Mata emasnya berkilau ketika membicarakan ini. Pria berbekas luka X besar ini memang sedikit terobsesi dengan Organization XIII.

Roxas mengangguk mengerti. Dia kemudian mengalihkan pandangannya pada Zexion. Pria muda yang hanya kebih tinggi beberapa senti darinya itu sedari tadi menatapnya dengan mata indigonya yang tidak tersembunyi seakan ingin memberitahunya sesuatu.

"Jangan biarkan emosimu mengganggu Roxas. Itu bisa sangat-sangat riskan." Bisik Zexion dalam nada memperingatkan. Roxas tahu jelas hal ini. Kode utama Organization XIII adalah tidak menggunakan hati mereka dalam melaksanakan misi. Beberapa Nobody bahkan nyaris sampai pada tahap tidak memiliki perasaan. Tapi Roxas tahu betul dibalik topeng besi mereka masih ada hati yang tersembunyi.

Menangkap rasa ragu di mata biru Roxas, Zexion meneruskan kata-katanya.

"Tapi sebagai temanmu,jujur saja Kau tidak akan kuampuni kalau kulihat Kau tidak mengeluarkan semua emosimu dan menghajar si Seifer habis-habisan"

Roxas mendongak memandang Zexion yang tersenyum padanya, bahkan Saix pun tersenyum tipis padanya. Menggangguk sekali lagi Roxas keluar dari Where Nothing Gather.

Di luar markas, Samurai Dusk , bawahan langsung Roxas sudah menunggu. Kira-kira dua puluh orang berkerah tinggi dengan jumpsuit putih dan pedang ganda mengangguk hormat pada Roxas. Seorang yang paling dekat dari Roxas memberikan senjata khas dari Roxas. Menyerupai pedang namun memiliki desain yang jauh lebih rumit dan memiliki gagang yang menyerupai kepala kunci. Terbuat dari besi kokoh yang tidak tajam dan tipis tapi cukup untuk membuatmu gegar otak. Satu berwarna putih dan satunya lagi sekelam malam, atau lebih dikenal sebagai keyblade Oathkeeper dan Oblivion.

Misi dimulai untuk Key of Destiny-julukan Roxas.


Mereka hanya berjalan kaki menuju gang boot untuk menghindari keributan. Roxas dan para Dusknya bergerak dengan cepat dan dalam diam. Dia tahu pasti para Nobody lain tengah menghadapi hal yang sama dengannya, Axel sama sekali tidak perlu dikhawatirkan. Larxene bahkan jauh lebih beringas dari pria, tapi dia yakin Demyx tengah dalam kesulitan. Pria berambut sandy blonde itu pasti tengah mencari cara untuk kabur tetapi takut Xemnas dan Saix mendampratnya.

Merasa gang boot jauh lebih sunyi dari biasanya hingga Roxas bisa mendengar suara nafasnya. Dia tahu akan ada masalah. Dia menyuruh dusk miliknya membagi kelompok menjadi dua,saat terjadi pertigaan di gang yang mereka lewati. Satu kelompok menuju kiri,sarunya lagi ke kanan. Roxas sendiri memilih jalan terus.

Roxas cukup percaya diri dengan kemampuannya untuk jalan sendiri, yang paling parah terjadi barangkali Cuma beberapa tulang yang patah. Tidak ada yang serius. Disaat bersamaan Roxas terpaksa membayangkan akan seperti apa reaksi Namine kalau mengetahui apa yang tengah Dia lakukan. Dulu dia hanya khawatir pada pikiran orang tuanya dan Ventus. Xion sendiri selalu bersamanya saat mereka masih dusk. Merka berdua sama-sama ada di jalur yang keras. Hal seperti ini adalah sesuatu yang biasa bagi mereka.

Belum pernah Dia merasa setakut ini akan ada yang kecewa padanya.

Segera saja Roxas menajamkan kelima inderanya ketika dia berada di ujung gang. Seifer bisa muncul kapan saja sekarang.

Dan benar saja tiga siluet orang yang remang-remang di bawah lampu jalanan redup gang itu segera muncul dari belakangnya.

Tidak peduli segelap apa, Roxas akan selamanya mengingat musuh besarnya itu. Satu-satunya perempuan adalah gadis kurus yang tidak lebih tua darinya, berambut silver dan mata merah yang dingin, Fuu. Adapula pria beotot tinggi besar berkulit terbakar dengan rambut hitam cepak yang berotak dangkal, Rai. Dan tentu saja, laki-laki dengan rambut pirang yang tersembunyi di topi hitamnya, bekas luka tampak di sekujur tubuhnya yang berotot dengan bekas luka terbesar tampak membelah wajahnya yang bengis; Seifer Almasy.

"Hei pencundang!"gertak Seifer penuh kebencian pada Roxas yang mengabaikan ejekannya. Rai mulai mengepalkan tinjunya dan Fuu bersiap di tempat tapi Seifer belum bergerak, matanya terpacu pada keyblade milik Roxas. Seifer tampak gentar sedikit.

"Kulihat kau sekarang sudah berjubah hitam. Apa Organisasi sintingmu sudah sangat kekurangan orang sampai memilih banci sepertimu jadi Nobody?" Hina Seifer. Dia dan Rai tertawa setelahnya sementara Fuu hanya tersenyum sadis. Sekali lagi Roxas mengabaikan Seifer, dia menggemgam dengan lebih erat Keyblade miliknya.

"Mana cewekmu? Apa dia terlalu pengecut sepertimu untuk kembali setelah kuhajar dulu?"

Kata-kata Seifer itu cukup untuk membakar habis sisa kesabaran Roxas. Gara-gara orang ini, Xion terpaksa menghabiskan waktunya terbaring di rumah sakit. Roxas sudah menunggu kapan Seifer dikeluarkan dari penjara akibat perbuatannya pada Xion setahun lalu. Menunggu dengan sabar kapan Dia bisa membalas dendam Xion.

"IBLIS Kau Seifer!Gara-gara Kau Xion…" Roxas tidak menyelesaikan kata-katanya, hatinya membuncahkan amarah sekali lagi. Seperti menunggu untuk dikeluarkan.

Satu hempasan keyblade Roxas menghantam sisi kiri perut Seifer, Rai mencoba menghujamnya dengan tinju kemudian, tapi dia tidak cukup cepat. Dengan gesit dia menebas sekali lagi kea rah Fuu yang sudah siap menangkisnya, karena bobotnya yang terlalu ringan Fuu terhempas juga ke dinding bata gang. Saat Roxas berbalik kepada Seifer, pria itu sudah pilih dari serangan tiba-tiba Roxas. Refleks Roxas tidak cukup cepat untuk menghindari tendangan yang diluncurkan Seifer.

Saat lengah itulah Rai menangkap Roxas dan membetot lengannya, Fuu belari mendekat untuk menonjok mata Roxas sebagai balasan atas serangannya. Tapi yang terburuk belum selesai. Tertawa histeris, Seifer mengepalkan jemari tangannya dan memukul wajah Roxas sekeras mungkin.

Roxas bisa merasakan darah meleleh dari hidungnya, Dia tahu ini belum berakhir karena tawa Seifer makin histeris. Kali ini dia meninju dagunya, perut dan terakhir saat Rai melepasnya, Seifer memukul kepalanya cukup keras untuk terhantam di lantai gang.

Samar-samar Roxas bisa mendengar Seifer mulai memakinya,

"Cuma itu yang Kau bisa Hah?Besar kepala dan akhirnya Cuma begini?PECUNDANG!"

Itu tidak begitu penting untuk menanggapi mereka sekarang biarkan mereka lengah. Di saat yang tepat mereka akan merasakan keyblade Roxas. Meski terasa nyeri luarbiasa Roxas mengayunkan Oathkeeper putih miliknya orang terdekat darinya ; Rai . Roxas tergolong ringan untuk remaja seusianya, jadi mudah saja untuknya menghindari tinju Rai dan memukul belakang kepalanya dengan gagang keyblade miliknya. Rai selesai Fuu maju, sebisa mungkin Roxas tidak mau berurusan dengan Fuu karena dia perempuan. Jadi Diacukup melumpuhkan sendi kakinya saja, merintih kesakitan Fuu tergeletak di tanah.

Seifer punya tenaga yang lebih besar dari Roxas, tapi dia tidak punya pergerakan yang cepat karena ukurannya. Sejauh ini mereka seimbang, saling menyerang dan memblokir. Satu kesempatan terbuka untuk Roxas saat Dia melempar Oathkeeper kearah mata Seifer untuk mengecohnya, termakan umpan Seifer lengah. Menghantam Seifer sekali lagi dengan Oblivion kini Seifer sudah pingsan terbujur di tanah seperti teman-temannya.

Roxas terengah, Dia tidak mematahkan tulangnya sama sekali. Babak belur mungkin. Ini saat paling tepat untuk Roxas membuat Seifer merasakan hal yang sama dengan Xion. Seifer tidak punya hati untuk berhenti menghajar seorang gadis yang dia amat sayangi pingsan sampai koma. Kenapa dia harus punya rasa kasihan pada Seifer?.Mengeratkan pegangan Oblivion di tangannya, Roxas sudah siap membuat Seifer membayar perbuatannya.


"OUCH!Minggir Kau AXEL!" teriak Roxas saat sahabatnya yang berambut merah datang ke kamarnya di markas Organization itu dan merangkul pundaknya tanpa peduli Roxas tengah dibaluti perban, pria 23 tahun berambut merah itu mengacuhkannya dan mengalihkan perhatiannya pada Zexion yang tengah melumuri wajah Roxas dengan salep kuning aneh di tangannya, melakukan tugasnya sebagai dokter.

"Rasanya rahangku goyang, Zexy.Si tolol Pete ternyata punya genggaman yang cukup kuat" Ujar Axel sambil meraba-raba sekitar rahangnya dan mengernyit sedikit. Roxas masih berusaha menyinggkirkan Axel yang bertubuh luarbiasa jangkung dari tempat tidurnya yang berseprai putih menyebabkan salep Zexion tumpah kemana-mana.

"Salahmu sendiri" Zexion membalas dingin dan memukul kepala penuh warna merah Axel . " Jauh-jauh sana!"perintah Zexion. Axel mencibir dan duduk di kursi lipat samping tempat tidur Roxas.

"Kupikir Kau pasti akan membunuh Seifer setelah apa yang dia lakukan pada Xion" komentar Axel pada Roxas yang kini menjadi manusia salep-kuning.

Zexion memandangnya dengan tatapan mencela mendengar ini, tapi dia diam saja dan tetap melanjutkan sekarang memberi obat merah di lengan atas Roxas.

Roxas menghembuskan nafas keras-keras meski hidungnya sakit minta ampun. Dia mungkin saja sudah membunuh Seifer sekarang. Tapi rasanya sayang,untuk menghabiskan hidup seperti bajingan itu. Lagipula para samurainya datang di saat yang tepat untuk menghentikannya membunuh Seifer.

Roxas tidak perlu repot-repot menjawab komentar Axel ini, karena dua orang yang sangat familiar dimatanya datang memasuki kamarnya yang serba putih sama seperti seluruh ruangan di Markas Organization, kadang-kadang tempat ini mirip rumah sakit jiwa di mata Roxas.

Seorang wanita 22 tahun berambut pirang pucat dengan model seperti sungut belalang tengah di bantu berjalan oleh pria muda berambut mullet yang tampak segar kontras dengan sang wanita yang biru di sana-sini. Pastinya Demyx berlindung di belakang Larxene selama misi.

"Pasien baru?" kata Demyx dengan suara ketakutan pada Zexion yang tampak tidak suka mendapat pekerjaan tambahan.

"Kenapa harus kau bawa ke sini. Aku masih belum selesai dengan Roxas" gerutu Zexion, meski begitu dia mengisyaratkan Demyx untuk membawa Larxene ke samping Roxas.

"Kau tahu Aku benci Vexen" semprot Larxene ke wajah merengut Zexion sementara Demyx duduk melantai di samping Axel.

"Luka parah, babe?" Tanya Axel sambil mengedip nakal pada Larxene. Larxene tampak tambah jengkel meski Roxas bersumpah bisa melihat rona merah merayap di leher wanita sadis itu.

"Gara-gara si kurang ajar Marluxia. Tolol dan tidak berguna seperti Demyx, Aku harus turun tangan sendiri menghabisi puluhan heartless. Dan kalau kau tidak behenti memanggilku seperti tadi, kupatahkan lehermu" ancam Larxene.

Tetapi Axel tahu benar bahwa itu adalah ancaman kosong karena dia tertawa seperti Roxas dan Demyx.

"Dan kau" tambah Larxene tajam pada Roxas mengambaikan Zexion yang menyumpah padanya karena menyenggol botol alcohol di tangannya.

"Kurasa Kau sudah membabat si Seifer?". Roxas menyeringai sadis pada Larxene yang membalas cengirannya. "Oh!berhentilah mengeluh Zexion. Kau terus menjatuhkan barang karena berkeras menutupi matamu. Kau pikir kau ini Kitaro atau apa?"

Roxas, Axel dan Demyx tertawa lagi ketika Zexion memejamkan matanya mencoba menjaga kesabarannya yang mulai habis. Larxene memang beda.

"Ya, Aku liat si Seifer tadi, mukanya parah sekali. Tidak mati memang, tapi kurasa cukup untuk membalas dendam Xion dear. Ya kan Roxas?" Kata Axel kali ini tertawa pada Roxas.

"Xion dear?.Roxas? Kau masih suka sama Xion?Tapi kupikir-Bagaimana dengan Namine?" Tanya Demyx polos sembari mendongak ke arah Roxas yang memucat begitu topik mengenai Namine dibawa lagi.

Bagaimana dengan Namine?pikir Roxas. Dia tidak tahu…

"JANGAN bilang kau masih suka pada Xion!" teriak Larxene membaca ekspresi Roxas, Zexion sudah menyerah memberi semprotan luka di memar tangan Larxene sekarang karena wanita itu mengacungkan tangannya kearah Roxas.

"Larxene…" bisik Axel memelas pada wanita tempramen di hadapannya. Sekilas Roxas menjadi teringat pada nada suaranya pada Namine, berjam-jam yang lalu. Dia benar-benar bersyukur bahwa Namine adalah seorang gadis baik,sama sekali beda dengan Larxene.

"Aku heran, Axel sudah bilang pada cewek itu soal Xion dan kupikir kalau kalian masih menikah sampai sekarang itu karena kau sudah tidak suka lagi samaXion. Aku tidak tahu lagi mana yang lebih menyedihkan kau atau si Namine"

Mata cobalt Roxas bertemu dengan mata hijau pucat Axel. Dugaan Roxas memang benar, Axel yang memberitahu masalah Xion ke Namine. Axel tersenyum minta maaf pada Roxas. Tidak, Axel tidak salah dengan tindakannya. Namine berhak tahu.

"Larxene!" Axel sekarang berdiri, menatap pacarnya dengan ekspresi memperingatkan.

"Jangan menatapku begitu Axel!. Kau tahu Aku benar. Dia seharusnya melupakan Xion, bagaimanapun juga Namine adalah istrinya"

Hening sejenak terjadi di kamar Roxas, mata Roxas memerah karena tidak berkedip begitu lama. Kalau kata-kata Demyx tadi membuatnya mencelos. Sekarang Larxene tengah mengirisnya. Sebegitu tidak adilnya kah dia pada Namine?

"Untuk seseorang yang baru bertemu dengan Namine sekali,Kau benar-benar perhatian padanya" komentar Zexion pedas pada Larxene. Sekarang mata turquoise Larxene memelototi Zexion yang berdiri di ujung ruangan.

"Aku tidak perhatian padanya. Aku hanya kasian pada si Namine" desis Larxene.

Kali ini Axel memijat jidatnya dengan lelah, tingkah Larxene memang terkadang membuat pusing, apalagi kalau dia kurang tidur.

"Demyx, antar Roxas keluar. Anak itu harus pulang sekarang sudah jam lima" ujar Axel pada Demyx yang bengong sedari tadi. Dengan senang hati Demyx menarik lengan Roxas ke luar kamar sebelum Larxene mulai berteriak-teriak lagi.


Roxas tidak begitu yakin bagaimana caranya pulang, sepertinya Demyx menawarkan diri untuk menyupir BMW –nya sampai di Mansion Cavaler. Tapi bagaimana Demyx kembali ke markas tanpa kendaraan. Roxas tidak mau memikirkannya.

Badannya baru terasa sakit semua ketika dia terbangun pada pukul Sebelas pagi menurut ponselnya. Dengan tangan yang nyeri luarbiasa Roxas memotret dirinya dengan kamera ponselnya. Lebam di hidung Roxas sudah hilang sama sekali meski rasa sakitnya belum, tapi itu yang penting, jangan sampai ada yang tahu apa yang dia lakukan semalam. Roxas membuang ponselnya begitu saja di ranjangnya. Dia masih sangat capek. Mungkin dia akan tidur seharian hari ini…

"ROXAS!"

Belum setengah jam dia tidur, Roxas dibangunkan lagi oleh suara seseorang yang mirip dengan seuaranya sendiri.

"Ventus!" Roxas mengeluh jengkel pada Ventus yang terus mengguncang tubuhnya. "Mau apa kau?.Biarkan Aku tidur" kini Roxas tidak bisa menahan kuapannya.

Ventus mencibir mendengar jawaban Roxas sehingga wajahnya menjadi identik dengan adiknya itu.

"Oh Yeah, Tidur saja terus. Kalau ibu murka padamu, bukan urusanku" gumam Ventus.

Mata Roxas kini terbuka sepenuhnya meski terasa perih dan berair. Dia tidak cukup bodoh untuk membuat ibunya marah.

Menaiki tangga pualam berputar dengan chandelier Kristal yang besarnya cukup untuk langsung membunuhmu seketika jika terlepas dari plafonnya, Roxas berjalan dengan ogah-ogahan ke lantai tiga rumahnya. Tepatnya menuju ruang baca keluarga. Roxas sudah menduga akan menemukan Ayah dan Ibunya di ruang besar berisi rak-rak buku tebal yang menjulang tinggi. Keduanya tengah duduk di kursi berlengan di dekat jendela besar dan masing-masing tengah meneguk segelas apple martini. Roxas mengangkat sebelah alisnya melihat pemandangan ini. Kalau sudah minum sepagi ini berarti mereka sedang stress berat.

Roxas berdeham keras agar kedua orangtuanya menyadari kehadiran Roxas.

"Oh, Roxas!. Duduk nak" ujar Rasler, Ayahnya dengan suara berwibawa, ia kemudian meletakkan gelas kaca miliknya di end table samping kursi empuknya, sementara Ibunya hanya memandang Roxas dibalik kacamata bacanya.

Mengabaikan saran Ayahnya untuk duduk di sebuah sofa merah tak jauh dari tempatnya berdiri, Roxas langsung bertanya mengapa dia dipanggil kemari. Kedua Orangtuanya saling pandang sebentar sebelum akhirnya memutuskan kontak mata mereka.

"Yah, Ayahku-kakekmu, memutuskan datang kemari untuk melihat menantu dari cucunya. Dia akan membawa Vanitas kemari juga"

Roxas tersedak ludahnya sendiri. Kakeknya dan Vanitas akan datang?Dua anggota keluarga Cavaler yang paling Roxas benci akan datang kemari? . Mereka tidak datang ke pernikahannya karena masalah jarak. Kenapa tiba-tiba mereka mau kemari? Pasti bukan hanya sekedar untuk menemui Namine. Mereka merencanakan sesuatu, dan itu bisa lebih buruk dari ide terkonyol Ibunya soal pernikahannya dengan Namine, pikir Roxas.

"Eh, Mau apa mereka?" Tanya Roxas keheranan pada Ayahnya. Pria tampan berambut pirang pendek kaku itu hanya mengangkat bahu dan tersenyum lemah pada Roxas, Ayahnya juga segan pada Kakek tua itu. Tapi Ibu Roxas mengernyitkan hidungnya yang kecil.

"Jaga sopan santunmu Roxas. Kakekmu akan datang malam ini. Pergi dan beritahukan Namine" perintah Ashe sambil membuat isyarat dengan tangannya untuk mengusirnya dari ruang baca. Melangkah dengan ogah-ogahan di lantai berkarpet ruang baca Roxas tidak tahu apa harinya bisa lebih buruk lagi.


HAHAHA EH?

Fast update?Slow update? you decide.

Nah! Saya berpikir buat update NOT SO ENCHANTED CHAP2 habis ini (padahal nulis juga belon). ADA YANG SUDAH BACA? INI NAMI/ROX JUGA! BACA DOOOONKKKK DAN REVIEW JUGAAAA

Special thanks to :

KumbangMerah, MAKASIH masih ingat story ini,,,dan haha Namine mengalah ama Xion, waah...gimana ya

ggr, thanks buat nasihatnya!

a-Nobody XIII eh,Nami marah ama Roxas?*catat biar inget*

RANDOM oke boozzz

addict fanfic hahah gak mati kok!makasih mau setia dari awal!

XxDarkDemonVanitasxX haha Xion emang penghalang! kutunggu ficnya yah!

noname namanya juga drama hahah makasih!

Megahalo jangan mati dulu!hahaha

Roxas Sora Coolz yep POOR nami, Makasih uda ngingetin buat update!

miyako WELCOME BACK!i miss you!keep reading

drilicious LOL!

Axe-Nyoo HHA AKU JUGA GAK IKHLAS NAMI ama Xion

Picasso 1309 Makasih

Rinkaro-chan Sori banget updatenya molor hehehe makasih udah review

XXKagura-himeXX hehee kalo Xion muncul gimana yahhh...

Thanks and Keep Reading!