Loha!

Shisui balik lagi nih, aishishishishi!#Miya Amagami SS Mode:on

Apa kabar Minna semua? Semoga semuanya baik-baik saja ya?

Maaf yah semuanya Shisui jadi hiatus. Sebenarnya Shisui jadi hiatus begini karena Shisui lagi sibuk nyusun skripsi, dan besok selasa adalah pengumpulan Skripsinya. Maafkan Shisui yah Minna, Shisui mengaku salah#hiks...hiks T_T

Tetapi jangan khawatir, karena kelamaan update ini, Shisui bakal panjangin cerita ini untuk menebus kesalahan Shisui yang sudah hiatus, semoga dengan memperpanjang fic ini, kesalahan Shisui bisa dimaafkan. Amiin!

Oh iya, tolong do'a kan Shisui yah, semoga skripsi Shisui bisa tembus, hehehe ^^v

Yosh! Ikuzo!

Disclaimer : Masashi Kishimoto de arimasshhou!

Rate : M (Khusus untuk umur 17+)

Pairing : Karena permintaan para readers kebanyakan tidak mau Naru-chan jadi murahan... Shisui akan membuat pairing hanya untuk SasufemNaru saja, yang lain hanya sekedar ecchi standart. Okeh ^^d

Hareem No Jutsu Permanent

Chapter 10

By : Shisui Namikaze Deandress Chan

OOC, OC, typo(s), Gaje, Lime/Lemon and many more...

Ini Lime/Lemon pertama Shisui jadi gomen yah kalau tidak terlalu memuaskan dan hot

DLDR!

Enjoy it!

Previous Chapter: "Merasa mual?"

Naruto menolehkan kepalanya kearah daun pintu saat mendengar suara Sasuke disana. Sasuke berjalan mendekati Naruto kemudian setibanya disana, ia memeluk Naruto penuh kasih sayang tak perduli kalau dirinya masih dalam keadaan telanjang, begitupula Naruto.

"Sa..."

"Lusa besok kita akan menikah, jadi kau tenang saja, aku pasti akan bertanggung jawab"

"HAH! Apa maksudmu?! Aku tak mau!"

"Lalu siapa yang merawat anak kita yang berada di perutmu itu? Kau sendiri? Jangan bercanda" balas Sasuke dingin seraya memegang kedua bahu Naruto. Sedangkan Naruto masih terdiam karena belum konek akan perkataan Sasuke itu.

1%

10%

50%

89%

99%

"NANI! APA KATAMU?!"

Chapter 10

_=Flashback=_

10 days ago...

"Kau mau kemana?" tanya Naruto seraya memegang pergelangan tangan kanan Gaara ketika Gaara memutarkan tubuhnya.

"Menemui Tsunade, aku ada urusan dengannya" sahut Gaara.

"Oh, Gaara kau mau 'kan menyembunyikan semua ini kepada yang lain?"

"Kenapa?" tanya Gaara seraya mengerutkan alis.

"Itu karena aku malu. Dan lagi, aku masih belum siap kalau misalkan teman-temanku tahu soal ini semua" balas Naruto seraya menundukkan kepalanya.

"Baiklah, tetapi ingat Naruto. Bertanggung jawablah. Cepat atau lambat rahasiamu pasti akan terungkap, dan hal itu pasti akan membuat hubunganmu dengan temanmu akan melonggar. Jadi sebelum itu terjadi, beritahukan temanmu atas apa yang terjadi padamu sebelum mereka mengetahuinya lebih dulu."

"Ha'i, wakatta-ttebayo" balas Naruto lesuh seraya melepaskan genggamannya di pergelangan tangan Gaara.

"Hn. Sekarang aku pergi dulu" gumam Gaara dan melesat berjalan menjauhi Naruto yang masih memikirkan ucapan Gaara.

Setelah Gaara menutup pintu kamar ruangan rawat Naruto, ia berdiam sejenak di balik daun pintu tersebut, ia mendongahkan kepalanya memandangi langit-langit atap rumah sakit yang diselimuti dengan cat berwarna coklat sawo. Gaara melakukan hal itu karena ia merasa sangat khawatir akan keadaan Naruto sekarang. Padahal yang ia khawatirkan itu bukanlah sesuatu hal yang perlu ia khawatirkan, karena hal yang ia khawatirkan itu bukanlah tanggung jawabnya melainkan tanggung jawab Naruto sendiri dan hanya Naruto yang harus menyelesaikannya. Tetapi entah kenapa ia merasa begitu sangat memikirkan nasib Naruto, apakah mungkin itu karena perasaannya yang memang benar-benar ingin membantu Naruto? Atau apakah karena ia merasa kasihan saat tahu kalau Naruto bakal menjadi Hokage banci?.

Saat dirinya mengingat penjelasan Naruto tadi, dirinya merasa hampir saja OOC. Naruto menjelaskan kalau dirinya tak bisa berubah menjadi pria kembali sebelum ia melakukan ritualnya, yakni mencari perjaka yang mau melakukan seks dengannya. Dan yang lebih lucunya lagi, selama 3 bulan terakhir ini, semua yang ia rencanakan selalu saja gagal dan tak pernah mendapatkan rating sedikitpun.

Ketika Gaara mendengar penjelasan Naruto tersebut, sebenarnya ia tak mempercayainya, karena menurutnya penjelasan Naruto itu sangat konyol dan terdengar kekanak-kanakkan. Bagaimana mungkin sang Uzumaki Naruto yang dikenal sebagai pahlawan Shinobi terkuat yang mengalahkan Duo Uchiha tiba-tiba saja berubah menjadi perempuan dan tak bisa mengembalikan tubuhnya seperti semula? Tentu saja hal itu mampu membuat Gaara berfikiran kalau apa yang Naruto jelaskan tadi terlihat sangat konyol. Namun ketika ia melihat ekspresi serius sekaligus bingung yang dipancarkan oleh wajah Naruto tadi, ia jadi mempercayainya. Didalam hati, Gaara berdo'a, semoga Naruto bisa melewati semua ini, dan berharap ia mendapatkan orang yang cocok untuk membantunya kembali menjadi pria.

"Gaara" seru seorang wanita berambut kuncir tiga yang merangkul kipas besar di punggungnya. Dan seseorang yang dipanggil namanya pun menoleh kearah wanita tersebut.

"Dimana Tsunade-sama?" tanya Gaara dingin kearah wanita berkuncir tiga.

"Tadi setelah kau masuk kedalam ruangan rawat Naruko. Tsunade-sama dan Shizune-san pergi menuju ruangan kamar rawat yang lain dan setelahnya selesai ia meminta izin untuk berpisah dengan kami berdua di koridor sana" Sahut seorang pemuda yang mempunyai garis-garis aneh seperti tatto di wajahnya seraya menunjuk kearah koridor yang berada di timur.

"Sou ka. Mungkin sekarang dia sudah kembali ke istana Hokage. Ayo pergi" ajak Gaara seraya berjalan melewati kedua temannya. Sedangkan kedua temannya yang dilewati oleh Gaara hanya bisa saling pandang dan kemudian mengikuti Gaara dari belakang.

"Gaara?" bisik wanita berkuncir tiga memanggil Gaara.

"Hn"

"Sebelumnya, aku meminta maaf jika pertanyaanku ini terdengar lancang..." bisik Temari ragu-ragu.

"Katakan saja" sahut Gaara singkat.

Setelah mendengar jawaban Gaara, wanita berkuncir tiga tersebut menoleh kearah teman disebelahnya, ia mengangkat sebelah alisnya seraya memandangi pemuda bertatto tersebut dengan pandangan aneh yang terlihat seperti meminta dukungan. Dan pemuda yang dipandangi wanita itu pun menganggukkan kepalanya bermaksud mencoba untuk mendukung teman seperguruannya tersebut.

"Begini, Gaara... aku ingin bertanya, sebenarnya apa yang kau lakukan di kamar Naruko tadi? Kenapa kau lama sekali?" tanya Temari takut-takut.

"Aku tak melakukan apa-apa, aku hanya ingin berbicara dengannya. Itu saja"

"Sou ka, maaf Gaara kalau pembicaraanku ini mengganggumu" akhir Temari. Sebenarnya ia ingin bertanya lebih banyak lagi kepadanya, karena dirinya masih belum puas akan jawaban temannya itu. Namun karena saat ini mood Gaara sedang dalam keadaan minim dan mendengar cara bicaranya yang lebih dingin dari sebelumnya, ia merasa dirinya harus mengakhiri pembicaraan ini.

-x-x-x-x-

Tsunade berjalan menyusuri koridor istana Hokage bersama dengan Shizune dan Sakura. Mereka bertiga baru saja kembali dari rumah sakit setelah mereka bertiga memeriksa pasiennya di rumah sakit yang memang hari ini sedang banyak.

Dari tiga wanita yang berada disana, hanya Tsunade-lah yang terlihat tak sibuk sama sekali, sedangkan dua asistennya benar-benar sangat sibuk dengan beberapa berkas pasien yang mereka bawa diantara kedua tangannya. Terkadang Shizune merasa ingin mengeluh akan kebanyakan berkas yang ia bawa ini dan juga akan ketidakadilan ketuanya itu. Tetapi sebelum itu, ia baru sadar akan latar belakang ketuanya itu. Tsunade memang orang yang tak mau diajak pusing ataupun susah, dirinya hanya mau bersenang-senang dan menyerahkan segala hal yang membebani fikirannya kepada orang lain termasuk Shizune dan Sakura. Dan semua itu 'wajib' dituruti oleh mereka. Entah bagaimana jadinya kalau misalkan Shizune dan Sakura menolak perintahnya sedikit saja, mungkin saja mereka berdua akan mati dan hanya bisa dikenang oleh banyak ninja. Mengingat hal itu, Shizune jadi menelan ludahnya sendiri.

Selang lima belas menit, Tsunade dan kedua asistennya akhirnya tiba di kantor Hokage. Setelahnya masuk kantor, Sakura dan Shizune meletakkan berkas-berkas pasiennya ke meja kerja Tsunade. Sedangkan Tsunade yang duduk didepannya Cuma bisa menatap ngeri kepada berkas-berkas yang baru saja diletakkan oleh kedua asistennya.

"Sakura, bisa tolong carikan aku data Naruko?" tanya Tsunade bossy.

"Ah...ha'i" 'Aku lagi?' keluh Sakura.

Saat Sakura sedang berkutat dengan beberapa berkas dimeja, Tsunade memutarkan kursi duduknya sekitar 90 derajat dan beralih kearah jendela istana yang menuju kearah desa Konoha bermaksud hanya sekedar mengalihkan perhatiannya dari berkas yang berada di meja kerjanya. Ketika sekitar tujuh belas menit, Sakura berhasil menemukan profil dan hasil pengecekkan kesehatan Naruko a.k.a Naruto. Sebelum menyerahkannya kepada Tsunade, Sakura merapihkan susunan berkas tersebut dengan teliti agar tak terlihat kusut dan tak rapih, ia menyusun satu persatu dengan rapih hingga sampai akhirnya pada berkas ke-5 atau berkas yang terakhir, ia berhenti sejenak bermaksud untuk mencoba mengintipnya.

Karena selama ini ia merasa khawatir sekaligus penasaran penyakit apa yang di idap temannya itu. Selama ini dirinya dilarang mengecek atau sekedar memeriksa keadaannya oleh Tsunade. Dirinya hanya diperbolehkan merawat dan memberi makan Naruto. Itu pun jika dalam pengawasan Tsunade ataupun Shizune. Sakura yang selalu dilakukan seperti itu selama ini merasa tak nyaman dan merasa ganjil seakan-akan ada sesuatu yang disembunyikan darinya. Oleh karena itu, mumpung sekarang Tsunade sedang lengah dan Shizune tak memperdulikan gerak-geriknya saat ini, dia mengambil kesempatan ini untuk mengetahui penyakit apa yang diidap Naruto dengan mengintip salah satu berkasnya sedikit.

Tetapi alhasil dirinya malah keasyikan dan akhirnya tak menyadari kalau dirinya membaca terlalu banyak. Awalnya Sakura biasa-biasa saja membacanya, tetapi ketika ia membaca bagian tengah hasil pengecekkan Naruto tersebut, ia hampir saja terlonjak dan berteriak. Jantungnya berdegup cepat saat membaca berkas itu dan ia sedikit bergetar ketika menyadari kalau 'hal' ini baru lima hari terjadi atau bisa disimpulkan kalau Naruto baru saja mengidap'nya'. 'Naru...c...h...a...n...?' batin Sakura kaget.

"SAKURA! APA YANG KAU LAKUKAN?!" bentak Tsunade keras ketika menyadari tindakan Sakura. Karena hal yang ia lakukan ini, Tsunade mengutuk dirinya sendiri. Ia lupa kalau 'hal' ini harus disembunyikan oleh siapapun, dirinya tak mau 'hal' ini diketahui oleh siapapun selain dirinya dan Shizune. Namun karena kecerobohannya ini, semua rencanananya yang dia buat matang-matang gagal sudah.

Srek...sre...sreek...

"G-gom-gomena-sai sensei!" balas Sakura seraya menundukkan kepalanya tak menyadari kalau dirinya melepaskan genggamannya dari berkas pengecekkan Naruto hingga kertas berkas tersebut terjatuh ke lantai.

Ekspresi wajah Tsunade terlihat kebingungan dan berkeringat sedangkan Shizune hanya memandangi kertas berkas yang terjatuh tersebut dengan mata melebar dan mulut ternganga.

"Apa...apa...yang...kau...lakukan?" ulang Tsunade lagi, namun ini terdengar sangat rendah dan lemas.

"Gomenasai Sensei, aku khawatir akan penyakit apa yang diidap Naru-chan. Selama ini aku hanya disuruh merawatnya bukan untuk memeriksanya jadi aku merasa penasaran dan khawatir akan keadaan Naru-chan...se...sensei boleh hukum aku. Apapun hukumannya, aku akan men-menerimanya" sahut Sakura masih menundukkan kepalanya.

Tsunade menghela nafas kemudian ia berjalan selangkah demi selangkah mendekati Sakura sedangkan Sakura yang mendengar derap langkah kaki gurunya itu hanya bisa memejamkan matanya rapat-rapat sambil menggigit bibir bawahnya. Sebenarnya ini bukan pertama kalinya ia akan dihukum, ini adalah yang keempat kalinya jika dihitung dengan yang satu ini. Tetapi meskipun begitu, ia tetap saja takut karena setiap ia terkena hukuman, dirinya pasti akan berakhir di rumah sakit dengan luka memar.

Tap...!

"!"

"Sudahlah tak apa-apa, jika sudah begini aku tak bisa melakukan apa-apa" bisik Tsunade lembut seraya membelai-belai rambut Sakura

"Sensei?" sahut Sakura seraya menegakkan tubuhnya kembali

"Aku tak bisa menghukummu hanya karena hal ini. Lagipula hal ini tak ada kaitannya dengan latihanmu jadi aku tak perlu menghukummu."

"Sensei...?"

"Ja...sekarang kamu sudah tahu 'kan apa yang terjadi pada Naruko?"

"Ha'i... aku merasa kasihan sama Naru-chan. Kenapa dirinya harus menerima cobaan ini sendiri? Naru-chan itu orangnya baik dan murah senyum seperti Naruto, tetapi kenapa dirinya harus hamil diluar pernikahan. Padahal aku sangat berharap kalau Naru-chan akan bisa bertemu dengan Naruto dan menikah dengannya. Karena kepribadian mereka mirip sekali."

Tsunade sweatdrop saat mendengar pendapat Sakura tersebut, alis kirinya mengangkat keatas berkali-kali merasa kalau pendapat Sakura adalah hal yang mustahil. Lagipula mana mungkin orang yang sama bisa menikah dengan orang yang sama juga. Apakah ini lelucon?

"Y...y...a...ku...rasa juga begitu" sahut Tsunade mencoba untuk tak tertawa kemudian ia menundukkan tubuhnya seraya membereskan berkas-berkas Naruto yang dibantu oleh Sakura.

Selang lima menit, Tsunade dan Sakura akhirnya selesai membereskan berkas-berkas pemeriksaan Naruto dan setelah itu Tsunade pun membaca berkas-berkas tersebut secara keseluruhan mencoba memeriksa perkembangan bayi yang ada di perut Naruto tersebut.

"Sakura..." panggil Tsunade seraya membaca berkas Naruto.

"Ha'i"

"Bisakah kau keluar, aku ingin berbicara 4 mata dengan Shizune."

"Ha'i, wakarimashita." sahut Sakura sambil menundukkan kepalanya kemudian memutar balikkan tubuhnya memunggungi Tsunade.

Ketikanya Sakura keluar dari ruangan tersebut, Tsunade menghela nafas panjang sambil meletakkan berkas pemeriksaan Naruto ke meja kerjanya. Ia tersungkur lemas di kursi besarnya dengan wajah depresi, dirinya memijit-mijitkan dahinya yang merasa sangat pusing, dan ia juga sering menggebrak mejanya ketika mengingat semua rencananya yang ia buat telah gagal. Ia pusing memikirkan Naruto, jika begini terus maka Naruto tak mungkin bisa kembali menjadi pria, ini semakin sulit bagi dirinya untuk membuat Naruto melepaskan jutsunya dan juga sulit baginya untuk membuat Naruto menjadi Rokudaime. Apakah ini memang sudah takdir Naruto? atau apa karena memang Naruto dari awal sudah sial?!.

Shizune yang melihat gurunya sekaligus ketuanya itu pun mulai memberanikan dirinya untuk mendekati guru sekaligus ketuanya itu. Sebenarnya ia takut mendekati Tsunade, karena biasanya jika Tsunade sedang depresi atau pusing, dia sering hilang kendali hingga jika ada yang mendekatinya maka orang tersebut akan menjadi korban 'KDRT' Tsunade.

Shizune yang memang sudah kebanjiran keringat akhirnya berhasil mendekati Tsunade dan menyentuh bahunya. 'Tak ada respon?' begitulah kata Shizune dalam hati hingga kemudian dirinya mendengar desahan keras Tsunade dan berbisik

"Rencana pengarbosian Naruto gagal, dia sangat menyayangi 'Naruto', aku yakin jika Sakura tahu akan rencanaku, dia pasti tak akan tinggal diam. Dia pasti akan marah padaku jika dia tahu aku akan melakukan aborsi pada Naruto. Menyuruhnya untuk membungkam mulutnya soal kehamilan Naruto pun akan semakin mencurigakan baginya, ingin jujur pun aku merasa sulit karena itu pasti akan membuat Sakura memberontak dan membenciku. Aku harus bagaimana Shizune? Aku sudah berjanji pada Naruto untuk tak membocorkan rahasianya, tetapi aku juga tak mau Sakura marah dan kecewa padaku karena aku harus melakukan hal yang tidak asusila kepada sahabatnya itu. Ini semakin sulit bagiku, lagipula Shizune coba fikirkan...bagaimana mungkin seorang pria bisa mempunyai rahim? Ini semua aneh bagiku, kau tahu?!" Teriak Tsunade sambil menggebrak mejanya hingga terbelah dua. Gara-gara tindakan kasar Tsunade tersebut, berkas-berkas yang awalnya sudah tersusun rapih jadi berantakan dan tersebar kemana-mana tak tentu arah. Sedangkan Shizune yang tadinya berada disebelahnya harus melompat mundur beberapa meter dari tempat awalnya. 'Aku meski hati-hati, penyakitnya kumat lagi' batin Shizune sweatdrop.

Tsunade terengah-engah menahan emosinya, ia mencoba bersabar dan mengosongkan fikirannya dengan berdiam dibelakang meja kerja terbelahnya, namun apa daya, semua usahanya sia-sia, dirinya tak bisa mengendalikan emosinya, seberapa kali pun dia mencoba, 'iblis pemarah' dalam dirinya selalu saja memberontak dan meminta sesuatu hal yang perlu dihancurkan. Apakah ini artinya akan ada kiamat kecil di Konoha?.

-x-x-x-x-

Selang 18 menit, Gaara, Temari dan Kankurou tiba didepan pintu ruangan Hokage, tetapi ketika dia bersiap-siap membuka pintu, ia mendengar suara bising yang terdengar keras dan kasar, suara itu seperti orang mengamuk dan dirinya juga mendengar caci makian dan kata-kata kasar terlontar dimulut seseorang yang dikenalinya. Mungkin dari luar suara ini tak terdengar karena jarak dan tinggi gedung ini, tetapi jika berada didekat ruangan hokage atau lebih tepatnya didepan pintu itu, maka hal itu negatif tak terdengar.

Brak! Gubrak! Gusrak!

"Tsunade-sama, hentikan! Jangan hancurkan semuanya, tidak! Jangan yang itu, nanti anda bisa kena marah oleh Penasihat!" teriak seorang wanita dibalik pintu ruangan Hokage.

"Biarin, biarkan mereka tahu begitu pusingnya aku ketika menjadi Hokage. Kakek dan nenek tua itu bisanya hanya marah-marah, menasihatiku, dan memerintahkanku saja dengan seenak jidatnya. Apakah jika begini dia ingin membantuku, hah?! Tidak 'kan?!"

"Yahh...tapi Tsunade-sama. Anda tahu 'kan ini memang kewajiban anda sebagai Hokage. Bukannya anda yang mengatakannya sendiri kalau anda sangat yakin ingin membuat Naruto menjadi Hokage?"

"Yah memang aku yang mengatakannya, tetapi semua yang terjadi sekarang ini adalah diluar logika-ku! Diluar nalar dan imajinasiku! Seharusnya aku bisa hidup tenang di masa-masa 7 bulan menuju pensiunanku, tetapi kenapa...kenapa semua ini harus kubuang dengan meladeni anak bodoh itu yang berubah menjadi perempuan...!"

Deg!

Gaara melebarkan matanya ketika mendengar suara keras Tsunade tersebut, ia merasa terkejut mendengarnya. Apakah ini berarti Tsunade memang tahu akan rahasia Naruto? Batin Gaara. Gaara memperpendek jaraknya didekat pintu ruangan Hokage tersebut bermaksud mencoba menguping 'Pembicaraan' antar Ketua-assisten itu.

Ketika dirinya sedang 'berkonsentrasi', tiba-tiba saja Temari mengganggunya, Temari berbisik kepada Gaara dengan bertanya 'Gaara, kenapa kau diam saja?' dengan nada sedikit tak sabar. Dan Gaara yang jelas-jelas sedang berkonsentrasi hanya bisa memberi bahasa tubuhnya kearah Temari bermaksud menyuruh Temari diam. Dan ketika itu pun Temari terdiam, namun masih dengan wajah masam tak mengerti, begitupula Kankurou.

"Cobalah hitung waktunya Shizune? 28 hari...28 hari lagi dia akan dilantik. Dia masih belum bisa membuat dirinya berubah menjadi pria lagi. Dan sekarang cobaan pun ditambah lagi dengan mengetahui kalau dia sedang mengandung seorang bayi! Rencana aborsiku gagal karena Sakura tahu akan kehamilannya, dan sekarang aku harus mencari rencana lain lagi selain aborsi! Apakah aku tak stress memikirkannya?! Cobalah bayangkan bagaimana jadinya kalau Naruto si pahlawan Konoha harus menjadi Hokage banci dengan perut buncit melempung layaknya bola basket, hah?! Nanti aku juga yang malu tahu!"

'Naruto...!' Batin Gaara

'Hamil!' lanjut Temari dan Kankurou seraya menelan ludahnya. Temari dan Kankurou melebarkan matanya merasa tak percaya akan apa yang mereka dengar. Awalnya mereka berfikir kalau mereka mungkin salah dengar, tetapi ketika mendengar kata 'hamil' dan 'Naruto' terus dilontarkan oleh Tsunade, mereka jadi yakin kalau mereka memang tak salah dengar. Didalam otak mereka saat ini hanya membayangkan kalau Naruto pulang setelah misi bukanlah langkah gerak gagahnya melainkan langkah lenggak-lenggok sambil memegang perut layaknya ibu-ibu hamil yang mau melahirkan bayinya. Temari dan Kankurou saling berpandangan dengan mata berkedip-kedip masih tak percaya. Yang mereka tahu Naruto adalah seorang pria, tetapi kenapa bisa hamil? Hanya itu pertanyaan yang saat ini terpendam didalam otak mereka masing-masing. Sedangkan Gaara, dia hanya terdiam tak berbicara dengan ekspresi stoic-nya. Padahal didalam hatinya, dirinya begitu terkejut saat mendengar ocehan Tsunade tersebut.

"Tetapi Tsunade-sama, perut Naruko...maksudku Naruto tak mungkin langsung membuncit dalam 28 hari, pengembungan perut wanita saat hamil itu butuh tahap dan proses, bayi didalam rahim Naruto tak mungkin langsung membesar. Seharusnya anda tahu soal itu?"

Deg!

Lagi-lagi Kankurou dan Temari dikejutkan lagi oleh aksi 'pengupingannya'. Meskipun sekilas, mereka yakin mereka mendengar nama 'Naruko' dalam pembicaraan itu. Dan dalam pembicaraan itu juga mereka mendengar kalau nama Naruko langsung diganti dengan nama Naruto tepat sebelum kata 'Maksudku'. Dan hal itu sudah membuktikan bahwa Naruko itu adalah...Naruto!. Membayangkan kalau Naruko adalah Naruto, mereka jadi ingat kalau Naruto bisa merubah wujudnya menjadi wanita, apakah ini berarti Naruko itu adalah wujud Naruto yang menjadi perempuan? Tetapi mana mungkin? Yang mereka lihat waktu itu, wujud Naruto yang mereka lihat saat merubah wujudnya itu pasti mempunyai 3 garis kumis kucing, tetapi kalau Naruko tidak!

Temari dan Kankurou menggerakan ekor matanya memandangi Gaara yang sedang 'berkonsentrasi' didepan pintu, mereka berfikir mungkin 'sesuatu' yang Gaara bicarakan tadi itu adalah menyuruh Naruko mengaku bahwa dirinya adalah Naruto. Jika memang begitu, berarti Gaara sudah tahu kalau Naruko sebenarnya adalah Naruto.

"Yah, aku tahu itu. Tetapi bagaimana penjelasanmu jika Naruto sudah memimpin? Apakah perut itu tak terus membuncit selama berjalannya waktu dirinya memimpin? Dan bagaimana rasa keterkejutan para penduduk ketika melihat Naruto adalah Naruko ketika dipelantikan?"

"Ano...Et..to..."

"Ini semua memusingkanku!"

Ckrieettt!

"!"

"Maaf tadi aku menguping pembicaraan kalian, sebenarnya aku tak bermaksud demikian namun karena aku mendengar nama Naruto disebut-sebut aku jadi merasa perlu mendengarnya" seru Gaara dingin setelah membuka pintu. Temari dan Kankurou hanya diam dengan wajah polosnya seakan-akan mereka terlihat seperti manusia yang tak punya dosa.

"Kazekage-sama" gumam Shizune seraya menoleh kearah Gaara.

"Gaara" seru Tsunade melakukan hal yang sama seperti Shizune.

Gaara tak menyahut panggilan kedua wanita didepannya itu, karena dirinya sedang fokus pada setiap barang-barang rusak yang berada disekitarnya. Sebenarnya ini bukan yang pertama kalinya dia melihat barang berantakan begini, jadi dirinya tak terlalu terkejut dan hanya bergumam 'hn' andalannya.

"Kita langsung to the point saja. Tsunade-sama, sudah berapa lama anda mengetahui kalau Naruko adalah Naruto?" kata Gaara.

"Sekitar...3 bulan yang lalu"

"Darimana anda mengetahuinya?"

"Kenapa aku seperti di..."

"Jawab saja, Hokage-sama"

Diam sejenak, Tsunade dan Gaara saling berpandangan satu sama lain dengan tatapan intens. Sebenarnya Tsunade merasa tak suka akan pertanyaan sang Kazekage-5 tersebut, ia merasa seperti sedang di interogasi. Sisa emosinya ia tahan sejenak, mencoba menahan dirinya agar tak melakukan sesuatu hal yang buruk pada Gaara. Ia mengepal tangannya keras-keras kemudian berkata

"Dari Shizune, waktu itu aku yang memintanya mence..."

"Aku hanya menanyakanmu 'darimana' saja, tidak lebih dari itu. kenapa anda menceritakan kejadiannya secara detail?"

Tsunade menggigit bibir bawahnya berusaha mencoba menahan geramannya agar tak terdengar oleh Gaara.

"Baiklah, sekarang Shizune-san..." gumam Gaara seraya mengalihkan perhatiannya kearah Shizune.

"Ah! Ha'i!"

"Darimana anda mengetahui kalau Naruko adalah Naruto...?"

"KENAPA ANDA HARUS IKUT CAMPUR DALAM PERMASALAHAN INI!" potong Tsunade keras. Dirinya sudah tak bisa menahan emosinya lagi. Mendengar nada Gaara yang seperti sedang interogasi itu membuat emosi Tsunade kembali menguap. Nafas Tsunade naik turun disaat Gaara menoleh kearahnya, sedangkan Shizune menganga ketakutan melihat aura membunuh Tsunade kemudian dirinya refleks berlari mendekati Tsunade ketikanya menyadari kalau Tsunade melangkahkan kakinya mendekati Gaara.

"APA URUSANMU DENGAN SEMUA INI? ANDA ITU TAK PANTAS MENGIKUT CAMPURI SEMUA PERMASALAHAN INI! SEMUA INI ADALAH URUSANKU SENDIRI! PEMIMPIN LAIN TAK PERLU IKUT CAMPUR, MENGERTI!" bentak Tsunade yang mencoba memberontak dari pelukan Shizune yang mencoba menahannya. Sedangkan Gaara, dirinya hanya memejamkan matanya sambil menghela nafasnya. Dirinya merasa tak takut sama sekali, bahkan saat ini Gaara masih tetap keukeuh atas semua ini.

"Memang ini bukan urusanku, tetapi aku merasa harus mencari tahu semua yang terjadi, terutama soal kehamilan Naruto."

"!"

"Aku bingung, kenapa Naruto yang sebenarnya pria itu bisa hamil? Yang kutahu pria itu tak mempunyai rahim, bagaimana dirinya bisa mempunyai rahim?"

"JIKA AKU TAHU, AKU PASTI BISA MENYELESAIKAN PERMASALAHAN INI. MASALAHNYA AKU TAK TAHU AKAN BAGAIMANA NARUTO BISA MENDAPATKAN RAHIM. YANG KUTAHU ORANG BODOH ITU TELAH BERUBAH MENJADI PEREMPUAN KARENA DIA MELAKUKAN HAREEM NO JUTSU UNTUK YANG KE-100 KALINYA. AKU TAK TAHU MENAHU AKAN RAHIM YANG TUMBUH DIDALAM PERUTNYA ITU!"

"Sou ka"

"Sekarang aku bingung, bagaimana caranya aku bisa menyelesaikan permasalahan Naruto itu, pelantikannya tinggal sebentar lagi tetapi dirinya belum mendapatkan titik pencerahan sama sekali selama ini. Aku pusing, apakah aku harus mengundurkan dirinya untuk pelantikan Hokage?"

"Sebaiknya jangan, dirinya pasti akan sangat kecewa jika hal itu benar-benar akan terjadi. Aku sudah mengobrol dengannya tadi, sebenarnya selama ini dirinya sudah berjuang mati-matian untuk merubah dirinya menjadi pria, tetapi dirinya selalu gagal karena dirinya membuat 'korban'-nya lari terbirit-birit ketika hampir melakukan 'ritual'-nya. Hingga sampai saat ini dia tak dapat merubah dirinya menjadi pria kembali" jelas Gaara panjang lebar seraya mendekati Tsunade dan Shizune. Sedangkan Tsunade dan Shizune hanya bisa mengerutkan keningnya merasa bingung akan penjelasan sang Kazekage ke-5 tersebut.

"Apa yang anda maksud?" tanya Tsunade kemudian ia menoleh kearah Shizune lalu menganggukkan kepalanya bermaksud untuk menyuruhnya melepaskan dirinya, dan Shizune yang merasa memang sudah tak ada kericuhan lagi, akhirnya melepaskan Tsunade. Dan setelah itu Shizune melangkahkan kakinya maju kedepan hingga dirinya tepat berada disebelah kanan Tsunade.

"Apakah anda tak mengetahuinya?" tanya Gaara heran.

"Apanya?"

"Soal penangkal perubahan Hareem no jutsunya" seru Gaara dengan tatapan intens.

Tsunade mengerutkan keningnya semakin bingung, begitupula dengan Shizune kemudian mereka saling pandang satu sama lain ketika menyadari kalau mereka melupakan hal penting itu. Saat itu Tsunade hanya membentak Naruto untuk cepat-cepat berubah kembali menjadi pria, tanpa bertanya 'bagaimana caranya?'. Jika pada hari 'itu' Tsunade menanyakannya bagaimana cara menangkal Hareem no jutsu Naruto, mungkin dirinya masih mempunyai kesempatan untuk merubahnya menjadi perempuan. Tetapi sayangnya selama ini Tsunade tak pernah mengingat hal itu, membayangkannya saja tak pernah, karena selama ini mereka hanya disibukkan dengan hal-hal yang tak penting dan bodoh.

Jujur, Shizune dan Tsunade tak pernah berfikir untuk mempelajari jutsu itu, dan mereka tak terlalu memperdulikannya. Karena menurut mereka jutsu itu terlihat seperti merendahkan martabat para wanita. Dan karena ketidak perduliannya akan jutsu itu, mereka jadi seperti kambing congek. Mereka jadi tak tahu apapun soal menangkal jutsu-nya itu. Kemalasan mereka akan mempelajari jutsu itu ternyata ada imbalan yang setimpal.

"Kami tidak tahu. Maaf, sebenarnya aku maupun Shizune tak berniat untuk mempelajarinya karena menurutku jutsu itu seperti jutsu yang merendahkan martabat para wanita. Ha-ah~ jujur, karena ketidak acuhanku ini soal jutsu itu ternyata mampu membuatku sedikit menyesal. Sekarang aku sadar kalau jutsu itu seharusnya kupelajari agar nanti bisa dipakai kapan-kapan, contohnya saat ini."

"Jadi anda tak tahu penangkalnya?" tanya Gaara santai. Dan dibalas oleh Tsunade dengan anggukkan kepala.

"Baiklah, biar kuberitahu. Sebenarnya ritual yang ia lakukan itu sedikit ekstrim. Mungkin bisa dibilang 'kedewasaan'. Sebenarnya awalnya aku tak menyetujui akan ritualnya itu, tetapi katanya hanya cara itulah satu-satunya yang mampu merubahnya menjadi pria kembali. Dan fakta kalau Naruto bisa hamil seperti ini mungkin ada kaitannya dengan ritualnya ini. Sebenarnya... ritual yang ia jalankan selama ini adalah... melakukan hubungan seks dengan seorang perjaka"

"..."

"..."

"Dan seperti yang kukatakan sebelumnya, soal kehamilan Naruto mungkin ada kaitannya dengan rencananya itu."

Ketika Gaara berbicara panjang lebar, Temari dan Kankurou yang berada jauh dibelakangnya memandangi Gaara dengan pandangan kagum. Sebenarnya ini kali pertama mereka melihat Gaara terlihat begitu antusias dan serius dalam memecahkan masalah. Mereka tersenyum tipis melihat Gaara memancarkan aura kedewasaannya yang sudah lama tak terlihat. Melihat Gaara yang sekarang seakan-akan mereka merasa seperti melihat Naruto.

"Berarti maksud anda Naruto sudah melakukan seks dan ketika melakukannya, Naruto membiarkan sperma si pria perjaka itu memasukki rahimnya?" tanya balik Shizune

"Yah, seperti itulah. Menurutku, mungkin sperma perjaka itu yang bisa mengembalikannya seperti semula."

"Jika memang benar begitu kejadiannya, kenapa dia belum berubah menjadi pria?" ikut Tsunade.

"Karena mangsa yang dia jadikan korban itu sudah tak perjaka sejak lama... Sebenarnya ada satu hal yang mengganjal fikiranku soal setengah alasan Naruto itu. Sebenarnya waktu Naruto menceritakan rencana-rencananya, dia bilang dia selalu gagal mendapatkan mangsa, namun ketikanya dia mendapatkannya, dirinya malah mendapatkan seorang pria yang tak perjaka. Keganjalan yang kurasakan ini sebenarnya kutunjukkan kepada pria yang tak perjaka itu. Karena pada saat Naruto berbicara pada kata 'pria yang tak perjaka' itu, ekspresinya tiba-tiba saja berubah menjadi gugup seolah-olah seperti sedang mencoba menyembunyikan pria itu. Kurasa Naruto menyembunyikannya karena dirinya tak mau identitas pria itu ketahuan olehku. Atau lebih tepatnya karena Naruto telah mencintainya..." Gaara berhenti bicara sejenak, ketika Tsunade ingin menanyakan 'Ada apa?', Gaara langsung memberikan isyarat kepada Tsunade untuk menutup mulutnya dan kemudian menyuruh Tsunade dan orang yang berada diruangan itu untuk memfokuskan chakra-nya kesegala tempat. Gaara dan lainnya terdiam lumayan lama saat itu hingga akhirnya mata dinginnya mengarah kearah pintu masuk dan...

"SIAPA DISANA?!" Gaara berteriak seraya memutar balikkan tubuhnya kebelakang, tepatnya kearah pintu masuk.

Shizune, Kankurou, Temari dan Tsunade refleks menolehkan kepalanya kearah pintu ketika Gaara berteriak kearah pintu. Mereka bersiaga mempersiapkan senjata mereka masing-masing seraya menatap pintu masuk dengan pandangan intens. Sedangkan Gaara, dia hanya menyipitkan matanya kearah pintu, namun tatapan matanya tak kalah dingin dengan yang lainnya.

"Siapa disana?!" beo Tsunade. Dan dua puluh detik setelah Tsunade berteriak demikian, suara pintu pun berdenyit diikuti dengan terbukanya pintu secara perlahan-lahan.

Krrieet!

Ketikanya pintu tersebut terbuka sekitar 20 derajat, terlihatlah sesosok bayangan bias berbaju chuunin dengan rambut perak mengkilap yang melawan gravitasi sedang mengangkat tangan kirinya kedahinya layaknya memberi hormat.

"Osshhu!" salam pemuda bermasker dibalik pintu dengan tatapan mata yang terlihat lesu.

"Kakashi!" seru Tsunade, Kankurou, Temari dan Gaara.

"Kakashi-san~" seru Shizune, namun nadanya sedikit berbeda dengan yang lainnya. Nadanya terdengar lucu dan panjang seolah-olah seperti nada gadis manja.

"Apa yang kau lakukan disini?" tanya Tsunade datar.

"Yare-yare, sebenarnya aku datang kemari tak bermaksud menguping pembicaraan kalian. Aku kemari hanya ingin menginformasikan misiku dengan Gai"

"Hah! Oh iya, aku lupa dengan itu. ayo-ayo kita bahas misimu dulu" balas Tsunade bodoh. Karena keseriusannya akan permasalahan Naruto, ia jadi lupa soal tugasnya sebagai Hokage.

-x-x-x-x-

Selang setengah jam, akhirnya pembahasan soal misi Kakashi telah usai. Namun setelah itu semua selesai Kakashi tak langsung meninggalkan ruangan tersebut. Dirinya tertarik dengan berkas-berkas yang bertebaran disetiap lantai. Dia menggerakkan bola matanya keseluruh arah hingga sampai pada akhirnya ia berhenti tepat di berkas yang tergeletak di dekat Gaara.

Kakashi melangkahkan kakinya mendekati berkas tersebut kemudian sesampainya disana ia langsung mengambil berkas tersebut tanpa memperdulikan seruan Tsunade yang memanggil namanya.

"Sepertinya ini akan sangat sulit" gumam Kakashi sambil membaca berkas rontgen yang notabene adalah salah satu berkas hasil rontgen Naruto.

"Kau tidak tahu soal kehamilan Naruto? Bukannya tadi kau telah menguping?" tanya Gaara

"Sebenarnya aku baru datang. Jadi aku tak mendengar terlalu banyak. Untung saja Gai tidak ikut denganku tadi, jika dia ikut denganku mungkin dia akan terkena serangan jantung kalau melihat hasil rontgen Naruto/Naruko ini. Dia pasti tak akan percaya"

"Kau tidak kaget kalau muridmu hamil?" tanya Gaara heran.

"Dia tak akan kaget karena dialah orang yang pertama kali mengetahui kalau Naruko adalah Naruto" ikut Tsunade.

"Sou ka. Jadi anda adalah orang yang pertama kali mengetahuinya?" balas Gaara santai.

"Yare-yare. Itu juga kebetulan. Aku mengetahuinya tepat ketika aku datang kerumah Iruka"

"Jadi Iruka-san juga tahu akan permasalahan Naruto?"

"Yah, bisa dibilang begitu"

"Sudah berapa orang yang mengetahui kalau Naruko adalah Naruto?"

"Oh Gaara-san jangan terlalu energik seperti itu..."

"Aku tak sedang ber-energik"

"Yare-yare, tenang saja hanya aku, Tsunade, Shizune, dan Iruka saja yang mengetahuinya tak ada yang lain"

"Sou ka"

"Sejujurnya..."

Hening sesaat, semua orang yang berada diruangan tersebut saling menatap Kakashi dengan tatapan intens, sedangkan seseorang yang menjadi bahan penglihatan hanya cuek bebek saja dengan menatap berkas Naruto. Terlihat sedikit kerutan di dahinya ketika melihat kata 'Mengandung 14 hari' tertulis di berkas tersebut, dan dirinya menggigit bibir bawahnya dibalik masker hitamnya ketika melihat foto Naruto yang berubah menjadi perempuan sedang memandanginya sambil tersenyum. Dan kemudian dirinya mengendurkan mata lesunya dan berkata...

"Aku sudah mengira hal ini cepat atau lambat pasti akan terjadi"

"Apa?" seru semuanya.

"Soal kehamilan Naruto" sahut Kakashi menoleh ke mereka semua dengan ekspresi bodoh.

"KAMI SUDAH TAHU ITU! DAN HEY! BUKANNYA KITA SUDAH MEMBAHAS INI BEBERAPA MENIT YANG LALU!" bentak semuanya negatif Gaara.

"Maksud kami adalah apa maksudmu dengan kata 'Sudah kuduga hal ini cepat atau lambat pasti akan terjadi'?" tanya Gaara.

"Oh~ yare-yare, sebenarnya aku sudah tahu kalau Naruto suatu hari nanti akan hamil."

"..."

"Kakashi, berarti kau tahu asal-usul Naruto hamil?" ikut Tsunade.

"Yare-yare~, soal asal usul Naruto hamil sih aku tak tahu menahu. Itu adalah urusan pribadinya dengan pasangannya. Aku tak bisa ikut campur soal urusan pribadi orang. Tapi aku bisa memberitahukan sesuatu hal yang berkaitan tentang pertumbuhan rahim di perut Naruto, sebenarnya rahim yang tumbuh di perut Naruto itu adalah efek dari hareem no jutsu permanent-nya. Jika Naruto tak bisa mengubah dirinya menjadi pria kembali pada kurun waktu yang ditentukan, maka sedikit demi sedikit sebuah rahim akan tumbuh di perut Naruto. Awalnya rahim yang tumbuh diperut Naruto hanya sekedar seperti biji semangka, namun jika hal ini terus berlanjut maka rahim itu secara sedikit demi sedikit akan tumbuh membesar bersama dengan berjalannya hari. Jika satu hari itu sebuah rahim diperut Naruto hanya sebesar biji semangka maka keesokan harinya rahim pada tubuh Naruto akan tumbuh besar sebesar biji jagung, lalu lusa akan tumbuh lagi sebesar biji salak dan seterusnya. Kalau bentuk rahim tersebut masih berukuran demikian, mungkin kita masih punya kesempatan untuk menghilangkannya, tetapi sayangnya rahim tersebut sudah cepat membesar sebelum aku menghalanginya. Ini semua karena aku salah memperhitungkan soal kurun waktu pertumbuhan rahimnya tersebut."

"Memangnya berapa kurun waktu yang benar yang ditentukan oleh jutsu itu?" tanya Gaara datar.

"Kira-kira sekitar 1 minggu setelah perubahan."

"APA?!"

"Yah, saat itu aku mengira kalau rahim tersebut akan mulai aktif ketika sebulan setelahnya. Gomen, ini semua karena buku hareem no jutsu yang kubaca tersebut tintanya sudah mulai luntur karena terkena air hujan. Tepatnya dikata '1' dan setelahnya yang memang tulisannya sudah semakin hilang. Wajar, buku tersebut selalu kubawa kemana-mana sejak insiden perubahan Naruto. Jadi, aku hanya bisa memprediksi apa tulisan selanjutnya."

"Ha-ah~, apakah sekarang kau membawa bukunya?" tanya Tsunade seraya mendekati Kakashi dan mengacungkan telapak tangan kanannya kearah Kakashi.

"Ha'i" sahut Kakashi sambil memberikan buku bersampul putih pucat ke Tsunade, dan Tsunade langsung menerimanya seraya berjalan mundur kearah meja terbelahnya.

Tsunade membaca buku pemberian Kakashi dengan sangat teliti, ketika ia membuka buku tersebut, tinta huruf-huruf pada buku tersebut terlihat berhimpitan dengan tinta huruf lainnya layaknya tinta yang terkena air. Tetapi meskipun begitu, ia masih terus berusaha membacanya. Ia membaca buku tersebut selembar demi selembar dengan dahi berkerut dan mata memicing. Kata demi kata yang berada di buku tersebut benar-benar terasa memalukan baginya, meskipun tulisan-tulisan tersebut tak terlihat jelas, tetapi ia yakin kalau huruf-huruf yang tertulis di buku tersebut memang cocok dengan prediksinya. Ia tak menyangka kalau isi buku tersebut lebih memalukan daripada apa yang ia bayangkan. Jika ia boleh jujur, buku ini ingin sekali ia bakar, karena isi buku tersebut benar-benar tak pantas dibaca oleh kalangan wanita dan anak-anak. Dan didalamnya benar-benar mengajarkan sesuatu tentang organ sensitif wanita dengan begitu teliti. Meskipun ini adalah buku pelajaran jutsu, tetapi ia merasa buku ini tak pantas untuk dipelajari oleh setiap kalangan. Karena menurutnya buku ini 'lebih menjijikan dan sangat menjijikkan dari buku porno yang menijikkan'.

'Inilah kenapa aku tak mau mempelajarinya!' batin Tsunade kesal.

Tsunade berhenti tepat di halaman 79, di halaman tersebut, huruf-huruf kanji di buku itu mulai sulit dibacanya, malahan tinta lunturnya lebih terlihat jelas dari pada sebelumnya sehingga ia benar-benar sulit membacanya. Tsunade menggigit bibir bawahnya kemudian meletakkan buku tersebut ke meja terbelahnya yang hampir miring 90 derajat.

"Tulisannya sangat sulit sekali dibaca..."

"Sudah kubilang 'kan" sahut Kakashi sambil menggaruk-garukkan belakang kepalanya.

Tsunade memandangi Kakashi sejenak kemudian beralih ke kaca yang berada dibelakangnya. Ia memutar kursinya ke belakang lalu beranjak berdiri mendekati kaca istananya tersebut. Seperti biasa, Tsunade memandangi desa Konoha yang berada didepannya dengan tangan ditempelkan ke pinggangnya. Ia melamun lumayan lama disana, hingga sampai pada akhirnya ia berdeham dan kembali memutar tubuhnya kearah Kakashi dan yang lainnya.

"Shizune, panggil orang pemecah kode untuk datang kemari, kita butuh bantuannya untuk merapihkan huruf-huruf luntur pada buku menjijikkan itu..." perintah Tsunade bossy.

"Ha'i" terima Shizune seraya membungkukkan sedikit tubuhnya.

"Dan Shizune, panggil pemecah kode laki-laki. Jangan perempuan!" 'Aku tak mau perempuan yang membacanya mati tak tenang' lanjut Tsunade dalam hati.

"Ha'i" seru Shizune seraya memutar tubuhnya kekiri bermaksud untuk keluar, namun sayangnya sebelum Shizune hampir mendekati pintu keluar. Pintu keluar tersebut sudah diselimuti oleh banyak pasir sehingga Shizune tak dapat keluar dari ruangan tersebut. Tsunade menoleh kearah Gaara dengan tatapan mata bingung, begitupula Shizune yang memang tak tahu apa maksud dari Gaara yang mencoba menghalanginya tersebut.

"Apa kalian tak memikirkannya?" tanya Gaara santai sambil melipat kedua tangannya di dada.

"Apa maksudmu Gaara?" balas tanya Tsunade sinis.

"Memanggil pemecah kode kemari berarti sama saja anda membuka kandang burung yang dikunci rapat-rapat oleh majikannya."

"...!"

"Anda bilang anda mau menjaga rahasia Naruto, tetapi kenapa anda ingin memanggil pemecah kode?. Tidakkah anda sadar? Memanggil pemecah kode kesini sama saja anda membongkar rahasia Naruto ke orang tersebut."

"...!"

"Kita tak memerlukan buku itu lagi, lagipula kita sudah punya cukup bukti yang jelas. Kita hanya perlu mencari solusi untuk Naruto agar dia bisa kembali menjadi pria lagi sebelum waktu pelantikan. Tidak lucu kalau Naruto harus menjadi hokage wanita. Apa yang akan dikatakan oleh orang nanti? Aku benar-benar heran, bagaimana caranya dia bisa menjadi banci begini?" kata Gaara dengan ekspresi wajah sedikit kecewa.

"Ano sa... sebenarnya itu juga kesalahannya. Dia yang membuat hareem no jutsunya menjadi permanent." Ikut Kakashi sambil tersenyum sweatdrop dibalik masker.

"Eh?" ngeh Gaara.

"Teknik Hareem no jutsu mempunyai batasan tertentu, dan batasan teknik tersebut adalah melakukan teknik itu sebanyak 100 kali, dan jika korban yang memakai teknik tersebut sudah memakainya lebih dari 100 kali, maka korban yang melakukannya akan otomatis berubah menjadi wanita cantik secara permanent." Lanjut Kakashi

"Sou ka. Kalau begini jadinya, kita tak punya cara lain selain dengan cara 'itu'" gumam Gaara santai.

"Apa maksudmu dengan 'Itu'?" tanya Temari ikut campur namun tak dijawab oleh Gaara. Gaara hanya menundukkan kepalanya dengan mulut tertutup dan mata tertutup. Gaara kembali mendongahkan kepalanya lima menit kemudian dan lalu ia menoleh kearah Tsunade.

"Jangan bilang kalau kau!?" teriak Tsunade kaget ketika menyadari apa maksud dari rencana Gaara tersebut.

"Kita tak punya rencana lain lagi. Kita akan membantu Naruto mencari perjaka untuk melakukan ritual tersebut. Jika kita yang mencarinya, maka Naruto tak perlu susah-susah mencari perjaka lagi. Aku yakin rencana ini akan sukses membuat Naruto kembali menjadi pria karena kita lebih pintar dari orang bodoh tersebut."

"Tetapi Gaara, bagaimana nasib bayi yang ada di rahimnya? Meskipun dia berubah menjadi pria, bayi tersebut tetap ada di perutnya, bagaimana nanti jadinya kalau Naruto hamil dengan jenis kelamin laki-laki. Apakah itu masuk akal? Tidak bisakah kita menunggu Naruto melahirkan anaknya tersebut?" tanya Shizune menolak ketika membayangkan kalau Naruto kembali menjadi pria dengan perut buncit.

"Shizune! Tidak bisakah kau tenang sedikit! Jangan berargumen kalau melahirkan bayi itu mudah! dan Shizune?! Apakah kau lupa?! Melahirkan bayi itu butuh waktu sekitar 9 bulan! Dan 9 bulan itu tentunya sudah benar-benar lewat dari jangka waktu pelantikan!"

"Jika memang begitu, kenapa tak dibiarkan saja Naruto menjadi perempuan, tidakkah anda kasihan kepadanya dan bayi itu?!"

"Diam Shizune!, ini urusanku dan Gaara. Kau tak perlu ikut campur!."

"Ta...ta...tapi..."

"Jika hal itu terjadi, maka Naruto akan tetap melahirkan bayinya meskipun dirinya telah berubah menjadi pria." Sahut Gaara to the point dan santai.

_=Flashback End=_

-x-x-x-x-

Musim dingin, adalah musim bagi para penduduk desa Konoha untuk beristirahat dirumah mereka masing-masing, dan penghangat semacam kotatsu juga ikut serta menghangatkan setiap para penghuni rumah di desa Konohagakure.

Sebenarnya cara menghangatkan tubuh itu bukan hanya beristirahat dan diam saja di kotatsu. Padahal mereka masih bisa merasakan kehangatan ketika keluar dari rumah maupun ketika bekerja, contohnya adalah seperti yang dilakukan Ibu rumah tangga Akimichi dan ibu rumah tangga Nara. Mereka sejak tadi berjalan bolak-balik ke setiap toko dengan penuh antusias.

Wajah antusias mereka terlihat begitu panas dan menghangatkan suasana, bahkan karena saking semangatnya, para penduduk yang tak sengaja melihat mereka jadi ikut kepanasan dan penuh semangat, apalagi ketika salah satu penduduk didesa tersebut sengaja ingin mengobrol dengan mereka.

"KYAAAAAA!"

Kita lupakan sejenak apa yang dilakukan ibu rumah tangga Nara dan Akimichi tersebut. Kita beralih ke lima Shinobi muda yang sedang berjalan di sudut kota yakni Kiba, Ino, Hinata, Chouji, dan Shikamaru.

"Hey, kalian dengar sesuatu tidak?" tanya Kiba memulai pembicaraan.

"Mendokusai..." sahut Shikamaru.

"Sebenarnya aku mendengar suara perempuan disekitar sini, kedengarannya sih aku kenal dengan suara itu, tapi siapa yah? Dan kenapa dia berteriak?"

"Iya benar, sejak tadi aku selalu mendengar suara perempuan" ikut Ino

"M-m-mu-mungkin p-pe-pe-perempuan itu sedang melihat sesuatu yang menyenangkan, seperti diskon pakaian 35 persen gitu" lanjut Hinata.

"Heh! Hinata, mana ada yang seperti itu. perempuan-perempuan disini cuek-cuek dan jahat-jahat Hinata. Lagipula jika memang ada, mungkin mereka hanya lihat-lihat sebentar lalu pergi, gak perlu berteriak selebay itu!" sahut Kiba sambil mengangkat kedua tangannya dan menempelkannya kebelakang kepala.

"Ta-tapi..."

Twitch!

"Hey Kiba, tidakkah kau sadar, omonganmu itu menyakiti perasaanku!" bentak Ino seraya memukul kepala Kiba.

"Mungkin mereka melihat makanan yang enak, jadi mereka berteriak" ikut Chouji.

"Ha-ah~ mendokusai! Tidakkah kau menyadarinya Chouji?" gumam Shikamaru malas.

Chouji, Kiba, Ino dan Hinata menoleh kearah Shikamaru. Posisi Shikamaru berada ditengah-tengah mereka jadi mereka semua mudah memandangi Shikamaru. Mata mereka memandangi Shikamaru penuh penasaran, bahkan ada juga yang sampai tak bisa mengedipkan matanya sebelum Shikamaru mengeluarkan suaranya. Yaitu Kiba.

"Itu adalah suara konsumen ibu kita"

"Eh?"

"Tidakkah kau ingat, waktu kau dan aku secara tak sengaja mendengar pembicaraan ibu kita waktu kau dan ibumu datang kerumahku"

"Tidak" sahut Chouji singkat sambil menggelengkan kepalanya

"Memangnya apa sih yang dibicarakan oleh ibumu dan ibu Chouji?" tanya Kiba penasaran. Dan kemudian disusul oleh anggukkan Ino dan Hinata.

"Ha-ah~ mendokusai, kalian akan tahu kalau kita sudah tiba di pertengahan desa" akhir Shikamaru seraya berjalan lebih cepat dari keempat temannya.

Ketika Shikamaru berjalan lebih cepat, Ino, Hinata, Kiba serta Chouji saling berpandangan satu sama lain dengan alis berkedut dan kemudian mereka berjalan kembali mengikuti Shikamaru dari belakang.

15 menit kemudian, Shikamaru dan yang lainnya tiba di pertengahan desa, awalnya Kiba, Ino, Hinata dan Chouji biasa-biasa saja tetapi seketikanya mereka tiba di dekat toko oden, mereka berhenti tiba-tiba ketika melihat pemandangan 'tak menyenangkan' terfokus di mata mereka. Sebelah alis mereka saling berkedut melihat tingkah laku ibu Shikamaru dan ibu Chouji disana tersebut, bahkan karena saking terkejutnya mereka sampai-sampai sweatdrop dan akhirnya bergumam aneh dan menelan ludah mereka.

"?"

Shikamaru bingung dengan ekspresi teman-temannya tersebut, padahal sesuatu yang mereka lihat ini tak terlalu begitu mengejutkan, karena menurutnya hal ini adalah sesuatu yang wajar. Namanya juga ingin mencari uang, kenapa harus malu? Begitulah batin Shikamaru dalam hati.

"Kami siap menghangatkan tubuh anda?" kata Kiba sambil menganga terkejut ketika melihat papan stand ruko kombinasi ibu Shikamaru dan ibu Chouji.

"Kenapa harus yang begituan?" tanya Ino panas dingin.

"A-a-aku t-tak men-menyangkanya. Begi-beginikah aktifitas i-i-bumu Shika-san" gagap Hinata.

"Mendokusai yo!, ada apa sih dengan kalian? Padahal ini masih wajar kali!"

"Wajar apanya!? Lihatlah ibumu itu Shika-san, apa kau tak malu melihat ibumu melakukan hal yang begituan!" bentak Ino seraya menunjuk-nunjukkan jemarinya kearah stand ruko.

Shikamaru menggaruk-garukkan belakang kepala nanasnya lalu dia bergumam tak jelas mencoba menenangkan fikirannya agar tak terlalu mengeluarkan banyak tenaga.

"Mendokusai, memang apa salahnya kalau ibuku menjual koyo! Tidak merugikan ini!"

"Iya, kurasa ibuku cocok menjadi ahli terapi, hahaha" kata Chouji sambil tertawa terbahak-bahak.

"Tidak merugikan gimana?! Coba dong lihat yang jelas, ibumu dan ibu Chouji memaksa orang-orang yang lewat untuk membeli koyonya apa itu tak merugikan!" balas Ino lagi namun nada suaranya sedikit naik 1 oktaf hingga sampai-sampai ibu Shikamaru dan Chouji bisa mendengar suara Ino.

"Hey anak-anak, kemarilah! Cobalah koyo bibi ini! Harganya murah! Cuma 10 yen" teriak ibu Shikamaru dan Chouji.

"TIDAK USAH BIBI!" teriak mereka bersamaan (minus Shikamaru dan Chouji) sambil menarik Chouji dan Shikamaru pergi dari tempat tersebut. Sedangkan Ibu Shikamaru dan Chouji hanya bisa memiringkan kepala mereka bingung.

Ketikanya mereka merasa jarak mereka sudah sangat jauh dari stand tersebut, mereka akhirnya berhenti berlari dan kemudian berjalan santai lagi.

"Hah... ibumu gila Shikamaru, Chouji" seru Kiba seraya mencoba menormalkan stock udaranya.

"Su-su-sudahlah, daripada memi-kir-kan itu, le-lebih baik kita je-jenguk Na-naru-naruko saja dirumah sakit" potong Hinata bermaksud mencoba menenangkan suasana.

"Lah, Hinata. Apa kau tidak diberitahu Sakura? Naru-chan 'kan sudah pulang dari rumah sakit" seru Ino kaget.

"Dan yang lebih mengejutkan lagi... kata Sakura Naru-chan itu sedang mengandung anak orang" bisik Ino seraya mempersempit jaraknya dengan teman-temannya.

Mata Hinata dan yang lainnya melebar ketika mendengar tuturan Ino tersebut, mereka merasa tidak percaya pada tuturan Ino tersebut, bagaimana tidak? Mereka sangat mengenal Naruko, gadis itu adalah gadis baik dan peramah, senyumannya begitu hangat bagaikan mentari pagi dan cara bicaranya pun begitu bersahabat. Naruko adalah gadis yang tak pernah membuat orang kesal ataupun marah, dia bukanlah tipe gadis yang liar dan nakal, bagaimana mungkin gadis manis seperti Naruko bisa melakukan hal yang tak senonoh begitu?

"Ino-san, itu 'kan mustahil! Naruko itu orang yang baik, dia tak mungkin melakukan hal yang tak senonoh begitu" balas Hinata merasa tak percaya.

"Heemmm, awalnya aku juga tak percaya. Tetapi kalian tahu 'kan kita tak mungkin bisa tahu sifat seseorang dibalik kita, mungkin saja Naruko baik didepan kita tetapi ketika kita pergi, Naruko jadi liar. Itu mungkin saja 'kan?"

"Aku juga setuju dengan Ino..." gumam Kiba santai

Hinata menoleh kearah Kiba yang berada disebelahnya dengan mata melebar, ia tak percaya ternyata Kiba setuju atas penyimpulan Ino tersebut. Padahal awalnya ia berfikir bukan hanya dia saja yang menolak penyimpulan Ino. Tetapi ternyata dugaannya telah salah, Kiba tak mendukungnya sama sekali.

"Aku juga pernah melihat Naruko itu melakukan skinship dengan Sasuke. Shikamaru dan Chouji saksinya. Kalian tahu, waktu itu Naruko marah-marah pada Sasuke, karena Sasuke telah berani menyentuhnya. Tetapi dari pandangan matanya waktu itu, aku bisa melihat kalau Naruko juga menginginkannya, matanya memancarkan rasa ingin lebih dan lebih pada saat itu, dan wajahnya pun memerah merona. Aku pernah membaca buku novel 17 keatas, kalau jika seorang gadis yang telah disentuh bagian sensitifnya itu tiba-tiba saja wajahnya memerah, berarti gadis itu sedang horny. Dan waktu itu aku melihat Sasuke menjilati, menggigit bahkan mencium leher Naruko. Leher adalah salah satu bagian sensitif wanita. Jadi aku yakin Naruto pun horny saat itu."

"Kau sudah membaca buku hentai, Kiba? Memangnya umurnya sudah cukup untuk membacanya?" tanya Ino seraya memancarkan mata jijik pada Kiba.

"Hei! Aku ini sudah 17 tahun! Jadi wajar saja kalau aku membacanya kan?!"

"Buku hentai hanya khusus untuk berumuran 17 tahun keatas! Bukan tepat 17 tahun! Kau masih belum cukup umur baka!" bentak Ino ketika selesai menjitak kepala Kiba.

"Aww...itt...ittei! kenapa kau memukulku!" bentak Kiba merasa tak terima dengan perlakuan Ino padanya.

"Aku hanya memberikanmu pelajaran, konno baka!"

"Memberiku pelajaran! Memangnya kau itu sensei-ku ha?!"

"Apa! Kau berani berteriak didepan wanita ha! Apa kau mau mati!? Ini namanya pelecehan! Kalau kau berteriak padaku lagi, aku bakal memanggil anggota perlindungan wanita dan anak untuk menghukummu!"

"Panggil saja aku tak perduli! Lagipula mana ada yang begituan di jepang! Baaaaakkkaaaaa!"

Disaat Kiba dan Ino saling beradu mulut, tiba-tiba saja terdengar suara teriakkan yang sangat keras dan melengking didekat mereka. Mendengar suara lengkingan tersebut, Kiba dan Ino berhenti mengadu mulut lalu mereka refleks kearah suara tersebut begitupula Hinata, Shikamaru, dan Chouji. Dua puluh detik kemudian suasana disekitar sana sunyi kembali tetapi 2 menit kemudian suara lengkingan perempuan tersebut terdengar kembali.

"APA KATAMU! AKU TAK AKAN MAU MENIKAH DENGANMU, SAMPAI DEWA JASHIN MENYABUT NYAWAKU PUN AKU TIDAK AKAN MAU!"

Kiba dan yang lainnya tertawa nista dan sweatdrop ketika mendengar teriakkan perempuan misterius tersebut. Didalam fikiran mereka, mereka membayangkan sesuatu hal yang tak mengenakkan, dan mereka pun membatin apakah beginikah kedengarannya kalau seorang perempuan itu menolak disunting?

"SUDAH KUBILANG TAK MAU YA TAK MAU SASUKE!"

DEEEEEEEEEENNNNGGG

"He...he...he, kurasa aku tahu siapa dalang dari suara ini?" gumam Kiba nista.

"Hem, sepertinya kau benar Kiba. Sejak tadi kita terus berjalan dan tak menyadari kalau kita berada dijalanan yang menuju rumah kost-an Naruko" seru Shikamaru seraya melihat-lihat sekeliling.

Gubrak! Prak! Gusrak!

Sebelas menit kemudian Shikamaru dan yang lainnya dikejutkan oleh suara pintu terbuka ketika mereka sedang asyik ber-sweatdrop ria. Dan pada saat itu juga terlihatlah kedua sosok 'pasangan serasi' yang berjalan kearah mereka dengan cara 'Bergandengan'. Melihat pemandangan tersebut, mereka jadi tertawa nista lagi dengan ekspresi aneh.

"LEPASKAN! AKU TAK MAU MENIKAH DENGANMU! JANGAN SERET AKU!" Teriak Naruko aka Naruto yang terpuruk ditanah dengan tangan ditarik-tarik Sasuke.

"Hn, sebelum kita menikah, ayo kita beli perlengkapan pernikahan dulu" gumam Sasuke dingin seraya 'Menggandeng' Naruto.

"SUDAH KUBILANG AKU TAK MAU –TTEB...BAKA!"

Setibanya disana, Naruto dan Sasuke tak menyapa mereka sama sekali, menyerukan kata 'hai' saja tak mereka lakukan. Bagaimana mungkin mereka bisa melakukan hal itu? Mereka tak menyadari sama sekali akan kehadiran Shikamaru dan yang lainnya. Itu semua karena Naruto dan Sasuke sibuk dengan fikiran mereka masing-masing, sehingga mereka lupa dengan dunia nyata, termasuk manusia.

"Sasuke! Lepaskan..." suara Naruto semakin mengecil dan tak terdengar ketikanya jaraknya dengan Shikamaru dan yang lainnya sudah sangat jauh.

Shikamaru menghela nafasnya, begitupula Kiba, Chouji dan Hinata. Shikamaru merasa lelah akan tingkah laku mereka selama ini, entah kenapa sejak Naruko aka Naruto kembali dari rumah sakit, kejadian ini jadi semakin parah dan aneh saja. Bahkan sekarang Naruto jadi terlihat lebih sedikit dingin dan Sasuke jadi lebih sedikit agresif. Apa arti dari semua ini? Apakah kepribadian mereka tertukar atau bagaimana?.

Sedangkan Ino yang sejak tadi terdiam tiba-tiba saja mengeluarkan suara pertamanya dengan desahan tak jelas, Shikamaru dan yang lainnya menoleh kearahnya, sekarang ini posisi Ino sedang memunggungi mereka semua. Shikamaru mengerutkan keningnya ketikanya ia melihat getaran di tubuh Ino. Lalu tak lama kemudian ia mendengar suara cegukan tangisan didepannya.

"Sa...hiks...su...hiks...ke...hiks...na...nan...NAN DESUKA?!" teriak Ino sekencang-kencangnya dan kemudian ia berlari dengan kecepatan turbo bermaksud ingin mengejar Sasuke dan Naruto yang memang sejak tadi sosoknya sudah menghilang.

"Sepertinya bakal ada cinta segitiga nih, Shikamaru" tutur Kiba sambil menyengir lima jari.

"Ha-ah, mendokusai" balas Shikamaru seraya menggeleng-gelengkan kepala.

TBC

A/N: Gomen semua! Untuk kali ini aku hanya bisa memunculkan SasuNaru di akhir cerita di chapter ini. tee-hee :p

Habis aku lagi fokus dengan penjelasan soal rahim yang tumbuh di perut Naruto. Hihihi^^

Tunggu chap selanjutnya yah, bye! Dan oh iya, aku minta maaf kalau misalkan masih ada beberapa typo disana-sini, maklum, manusia 'kan juga sering salah, aishishishi Miya Amagami SS mode: on :D

Jaa~