Hola Minna, ketemu lagi dengan fic saya.

.

Disclaimer : Tite Kubo

.

RATE : M For Safe

.

Warning : OOC, AU, Misstypo

.

Attention : Fic ini hanyalah fiksi belaka. Apabila terdapat kesamaan atau kemiripan situasi dan karakter atau apapun itu dengan cerita lain dalam bentuk apapun adalah tidak disengaja. Mohon maklum, heheheh

.

.

.

Rukia semakin bingung bagaimana dirinya harus bereaksi sekarang.

Apa yang sebaiknya dia katakan?

"Kenapa... kau diam saja?" akhirnya Ichigo tak tahan untuk tidak bertanya.

Gadis ini berubah diam seperti ini. Ichigo bahkan berpikir mungkin gadis ini sama sekali tidak mengerti apa yang baru saja dikatakan oleh Ichigo.

"Apa... aku harus mengatakan sesuatu sekarang?" tanya Rukia dengan takut-takut.

"Tentu saja kau harus. Sekarang... apa jawabanmu?"

Jawaban? Apa sekarang ini Rukia sedang berada dalam test? Kenapa pula dosennya ini butuh jawaban di saat seperti ini?

Lalu Rukia harus menjawab apa? Pura-pura gila?

"Sensei... bukankah... Sensei mengatakan kalau aku ini... mengganggumu?"

"Hah?"

"Sebelumnya... Sensei mengatakan kalau sejak awal aku sudah mengganggumu. Apa yang sudah kulakukan sampai... Sensei terganggu olehku?"

Kini giliran Ichigo yang terdiam untuk beberapa saat. Kenapa jadi seperti ini?

"Itu... karena kau terus muncul dalam pikiranku begitu saja. Karena itulah yang membuatku terganggu," kata Ichigo kemudian.

"Apa aku melakukan kesalahan?"

"Hah?"

"Maksudku... apa aku melakukan kesalahan sampai... aku begitu mengganggumu? Kesalahan apa yang sudah kulakukan sampai... kau memikirkanku? Apa aku begitu kurang ajar?"

Ichigo kemudian tertawa geli mendengar semua kata-kata polos gadis ini. Dia sama sekali tidak mengerti atau sebenarnya dia bodoh. Ichigo sendiri tidak tahu. Entah kenapa untuk beberapa saat Ichigo merasa sia-sia untuk gugup di depan gadis seperti ini.

Rukia yang melihat dosennya ini tertawa seperti itu justru bertambah mengerutkan keningnya bingung. Apa tadi ada kata-kata Rukia yang membuatnya tertawa sampai seperti itu?

Memangnya apa sih yang membuat Ichigo jadi begitu geli? Rasanya Rukia sama sekali tidak melakukan lelucon apapun dari tadi.

"Bisa kulihat sepertinya kau tidak pernah mendapatkan pengakuan seperti ini. Apa kau tidak pernah pacaran sebelumnya? Atau berkencan dengan seseorang?"

"Tidak pernah," jawab Rukia singkat dan jelas. Tanpa embel-embel sedikitpun.

Ichigo semakin tersenyum geli mendengar jawaban terakhir Rukia.

"Benar. Anak bodoh dan polos sepertimu tahu apa tentang pengakuan seseorang," gumam Ichigo.

"Sensei... mengatakan apa?"

"Apa kau pernah menyukai seseorang?"

"Eh?"

"Setidaknya kau pernah kan sewaktu sekolah atau dulu... menyukai seseorang."

Rukia menunduk diam.

Bohong kalau Rukia tidak pernah tertarik dengan siapapun. Tapi sejak dulu bukan itu prioritasnya. Rukia tak pernah merasa bahwa dia layak untuk mendapatkan balasan dari rasa sukanya pada seseorang. Apalagi di saat dirinya yang seperti ini. Rukia hanya merasa... tidak pada tempatnya.

Selagi Rukia sibuk berada dalam pikirannya sendiri, tiba-tiba satu tangan Ichigo terangkat dan langsung menyentuh puncak kepala Rukia.

Mendapati perlakuan seperti itu, tentu saja Rukia langsung terkejut dan membelalakkan matanya selebar mungkin. Karena Ichigo bukan hanya menyentuh puncak kepalanya tapi mengelusnya.

"Sekarang kau bisa merasakannya. Perasaan seseorang yang menyukaimu. Kau tidak perlu menjawab sekarang, tapi aku tetap akan menunggunya kapanpun kau siap menjawabnya."

Rukia tidak tahu apa yang terjadi. Hanya saja pandangan mata mereka berdua saling beradu. Mata Ichigo menatapnya dengan begitu lembut dan Rukia yang membalasnya dengan mata terbelalak bingung. Entah mengapa Rukia merasa momen saat ini tidak terasa begitu romantis karena perbedaan tinggi badan mereka yang terlalu kentara.

Tapi perasaannya terasa melompat-lompat tidak karuan. Entah apa yang membuatnya jadi merasa seaneh ini. Apa yang sebenarnya membuatnya merasakan sesuatu yang sangat baru baginya hari ini. Rukia merasa begitu gugup bukan main hingga membuat perutnya terasa tergelitik begitu saja. Perasaan yang sepertinya... memang terlalu baru untuknya.

Perasaan... seseorang yang menyukainya?

.

.

*KIN*

.

.

Sebenarnya apa yang terjadi semalam? Rukia sama sekali tidak menyangka tentang apa yang terjadi padanya semalam. Kenapa tiba-tiba terjadi sesuatu seperti itu?

Apa mereka sungguh serius pada Rukia?

Tapi... kenapa harus Rukia?

Rukia malah lebih senang mendengar kemungkinan kalau mereka hanya bertaruh untuk mendapatkan Rukia dan mempermainkannya. Hal itu jauh lebih realistis daripada kelihatannya. Setidaknya Rukia lebih mudah untuk mengambil sikap dan menjauhi mereka.

Tapi setiap kali memikirkan berbagai tindakan yang mereka berdua lakukan pada Rukia, rasanya tidak mungkin kalau mereka... hanya mempermainkannya.

Baik Ichigo, maupun Kaien...

Mereka berdua sama-sama terlihat begitu serius dan bersungguh-sungguh.

Tapi kenapa Rukia sulit menerimanya? Kenapa Rukia merasa begitu gelisah dan takut bukan main?

Bukankah seharusnya ketika mendapatkan pengakuan dari seseorang, ada suatu perasaan yang menggebu dan menyenangkan? Tapi kenapa rasanya kepada Rukia... tidak seperti itu?

Kenapa rasanya begitu berbeda?

"Tapi pasti perasaanmu berbeda kan dengan mereka berdua?"

Setelah perkuliahan selesai hari ini, Rukia dan Hinamori duduk di taman belakang gedung kampus. Tempat yang strategis untuk menyembunyikan diri karena di sini jarang dilewati oleh dosen dan pegawai kampus.

Lagi, Rukia menceritakan semua yang terjadi padanya kemarin.

Tentang bagaimana Ichigo tiba-tiba muncul dan mengungkapkan perasaannya pada Rukia.

"Haaa... aku belum pernah melihat seorang gadis yang ketakutan seperti ini setelah mendapatkan pengakuan cinta dari seseorang," lanjut Hinamori lagi.

"Itu karena situasinya berbeda. Kalau yang mengaku cinta padaku itu seorang mahasiswa yang sama sepertiku atau seorang pemuda yang tidak ada kaitannya dengan kampus ini tentu saja aku akan menerimanya dengan senang hati."

"Jadi... kau tidak senang hati mendengar pengakuan cinta yang begitu tulus itu?"

"Hei! Ayolah! Kau ini di pihak siapa sebenarnya?"

"Tentu aku ada di pihakmu. Tapi apa kau pikir aku tidak iri dengan pengakuan cinta dari seseorang seperti mereka berdua? Sudah mapan, tampan, pintar... haa... apalagi kurangnya mereka. Di saat semua perempuan mengejar-ngejar mereka, di sini ada gadis bodoh yang tidak tahu harus menjawab apa untuk pengakuan mereka."

"Apa sebaiknya... aku mengajukan cuti saja ya?"

"Cuti? Apa kau tidak masalah jika tahun kelulusanmu diundur?"

"Mungkin itu lebih baik. Seharusnya aku menghilang lebih dulu dari semua masalah di sini. Atau lebih baik aku pindah kampus..."

"Kenapa caramu melarikan diri seperti itu sih? Lagipula ini kan bukan masalah besar. Hanya pengakuan cinta yang harusnya kau jawab. Apa kau tidak punya jawabannya?"

Rukia diam untuk beberapa saat.

Rukia pikir dia memang tidak punya jawabannya. Entah dia harus menolaknya atau menerimanya. Rukia tidak tahu itu.

Tapi... ketika memikirkan seseorang... Rukia merasa jawaban apapun akan jadi kesalahan untuknya. Situasi ini sungguh rumit. Rukia tidak pernah berhadapan dengan situasi serumit ini meskipun perutnya jadi taruhan. Biasanya Rukia selalu bisa menemukan jalan keluar untuk masalahnya sendiri. Tapi kenapa yang satu ini justru...

"Hinamori... kalau kau ada di posisiku... apa yang akan kau lakukan?"

"Hah?"

"Kau akan memberikan jawaban seperti apa?"

"Serius kau tanya padaku? Aku bahkan tidak pernah mendapatkan pengakuan seromantis itu loh."

"Jawab saja," kata Rukia dengan nada yang terdengar begitu lelah.

"Kalau aku... sepertinya aku akan menerimanya sih."

"Hah? Kenapa?"

"Kenapa? Tentu saja karena dia yang menyatakan perasaan duluan. Saat seseorang menyatakan perasaan padamu, hal pertama yang harus kau lakukan adalah menerimanya. Setelah menerimanya, kau mulai berpikir akan menjalaninya. Selama menjalaninya, jika kau menemukan banyak kecocokan kau bisa melanjutkannya. Jika tidak kau tinggal memutuskannya saja. Seperti itukan?"

Rukia terdiam mendengar jawaban dari sahabatnya ini.

"Wah... aku tidak menyangka kalau kau orang yang benar-benar fleksibel seperti ini."

"Hei, kenapa aku harus berpikir rumit hanya karena pengakuan seseorang. Toh itu sama sekali tidak merugikanku. Bukankah justru banyak untungnya jika kita berkencan dengan seorang dosen? Dia bisa membantu kita dalam banyak hal dan mungkin akan banyak berguna untuk ujian akhir kita nanti. Lagipula, jika dalam menjalani hubungan nanti ada banyak perbedaan atau ketidakcocokan, setidaknya kita tidak perlu merasa rugi sedikit pun karena bukan kita yang memulai."

"Apa maksudmu bukan kita yang memulai?"

"Tentu saja bukan kita yang menyatakan duluan kan? Tapi ya yang lebih penting itu perasaanmu. Jika kau merasa berat dan tidak suka padanya ya tolak saja. Kau tidak punya kewajiban untuk menerimanya jika itu membebanimu. Dengan catatan... itu kalau kau tidak punya perasaan apapun padanya."

Rukia lagi-lagi terdiam dan berpikir sejenak.

Benarkah Rukia tidak memiliki perasaan apapun pada... Kurosaki Ichigo?

Sedikit pun?

"Apa ini? Kenapa kau mendadak diam? Tunggu... apa kau sungguh punya perasaan pada Kurosaki Sensei?" tembak Hinamori.

"Hah? T-tentu saja—jangan memutuskan seenaknya begitu!"

"Pantas saja kau ragu untuk berkencan dengan Shiba Sensei! Ternyata kau punya perasaan pada orang lain rupanya!"

"Hinamori! Bukan seperti itu!" bantah Rukia dengan nada suara yang nyaris meninggi.

"Ternyata kau juga tidak bisa menolak pesona Kurosaki Sensei. Sepertinya pernyataan cinta Kurosaki Sensei sungguh cukup membuatmu bertekuk lutut ya?" goda Hinamori pula.

"Bukan begitu! Astaga..."

Rukia tidak tahu harus menjawab apa ketika Hinamori bersemangat menggodanya. Tapi di saat Rukia hendak mencari alasan, tiba-tiba ponselnya mendadak berdering. Rukia sempat melihat ponselnya dan kemudian berubah bimbang. Dirinya begitu ragu untuk menjawab panggilan itu. Panggilan yang sudah beberapa hari ini diabaikannya.

"Hei, siapa yang menelponmu? Kenapa tidak kau angkat?"

Hinamori kemudian mengintip ke layar ponsel Rukia dan mendapati nama Shiba Sensei di sana. Hinamori kemudian melihat wajah bimbang Rukia yang begitu kentara.

"Kau... tidak mau menjawabnya?"

Rukia tetap diam dengan pandangan kosong sampai akhirnya dering ponsel Rukia berhenti berbunyi.

"Bagaimana aku bisa mengangkatnya..." lirih Rukia.

"Hei, jangan merasa bersalah begitu. Kau kan tidak melakukan kesalahan apapun. Dengan kau menghindarinya seperti ini justru terlihat aneh. Lebih baik bersikap biasa saja."

"Begitu kah?"

Hinamori sebenarnya tidak tahu bagaimana menjadi Rukia sebenarnya. Dia juga tidak bisa merasakan apa yang dirasakan oleh Rukia. Apa yang membuat sahabatnya ini merasa begitu bimbang dengan yang terjadi saat ini?

"Baiklah, aku pergi dulu. Sebentar lagi aku harus interview di kafe dekat sini," kata Rukia seraya membereskan barang dan isi tasnya.

"Kafe? Bukannya kau kerja sambilan di minimarket dekat rumahmu."

"Shift-nya malam terus. Aku jadi kurang tidur belakangan ini."

"Bukannya kau selalu kurang tidur?"

"Sudahlah, aku pergi—"

Belum selesai Rukia menyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba dirinya terkejut bukan main karena ada seseorang berdiri tak jauh dari mereka sambil memegang ponselnya.

"Ada apa? Apa yang kau lihat?"

Hinamori pun sampai ikut penasaran dan melihat arah pandang Rukia. Ternyata dari tadi ada seseorang yang memperhatikan mereka.

Itu Shiba Kaien.

"Hei, kau tidak bisa kabur lagi tahu," bisik Hinamori sambil tersenyum tak enak ke arah Kaien. Rukia masih terpaku diam dan menundukkan kepalanya.

Kaien pun perlahan berjalan mendekati mereka, dan tentunya dengan senyum mengembang di wajahnya. Walaupun tampaknya raut wajahnya sama sekali tidak tampak sedang tersenyum.

"Kau tidak mengangkat teleponku lagi?" tanya Kaien dengan nada suara yang terdengar biasa saja. Tapi wajahnya sama sekali tidak menunjukkan itu.

Wajahnya terlihat sekilas lebih menunjukkan kekhawatiran.

"Maafkan aku, Sensei," lirih Rukia yang masih menundukkan kepalanya.

"Apa kau keberatan kita bicara sebentar?" tanya Kaien.

"Baiklah, kalau begitu aku permisi lebih dulu. Sampai nanti Rukia," potong Hinamori yang kemudian langsung mengambil langkah cepat untuk meninggalkan mereka berdua.

Rukia masih ragu untuk menjawab pertanyaan Kaien meskipun Hinamori sudah pergi sejak tadi meninggalkan mereka.

"Apa... kau keberatan?" tanya Kaien lagi melihat reaksi Rukia yang diam saja.

"B-baiklah..." kata Rukia akhirnya.

Meskipun Rukia tak tahu apa yang akan mereka bicarakan, tapi memang sebaiknya mereka harus bicara. Walaupun Rukia tak tahu persis apa ang sebaiknya mereka bicarakan.

Kaien mengajaknya kembali duduk di tempat dimana Rukia dan Hinamori tadi berbincang. Rukia duduk dengan di ujung kursi dan berjarak cukup jauh dari Kaien. Mereka tampak canggung satu sama lain, terutama Rukia. Padahal sepertinya mereka harusnya sudah cukup dekat.

"Aku ingin tahu mengenai banyak hal tentangmu. Tapi aku takut kau keberatan memberikan jawabannya. Tapi aku begitu penasaran," buka Kaien kemudian.

Rukia masih tetap diam dan tak berani sedikit pun memandang ke arah Kaien.

"Apa... kau masih keberatan untuk berteman denganku?" tanya Kaien akhirnya.

Apakah masalah seperti ini tidak bisa datang satu-satu saja ke dalam hidup Rukia?

"Tidak, tentu saja aku tidak keberatan berteman dengan Sensei," jawab Rukia kemudian.

"Kalau begitu... kenapa kau menghindariku setelah... kita pergi waktu itu?"

"Aku... hanya sedikit lebih sibuk saja."

"Mungkinkah... kau keberatan dengan perasaan sukaku padamu?"

Rukia langsung membatu dan terdiam.

Kaien dapat melihat ekspresi yang berubah terlalu kentara di wajah Rukia. Kaien tidak menyangka bahwa ada seseorang yang begitu terbebani dengan perasaan menyukai dari orang lain. Kaien pikir selama ini, semua perempuan yang mendapatkan perasaan menyukai dari seseorang akan terlihat begitu bahagia dan gembira setengah mati. Tapi apa yang dia lihat dari seorang Kuchiki Rukia tampak sangat berbeda. Kaien juga tidak tahu harus menghadapinya seperti apa. Melihat gadis dihadapannya ini tampak begitu terbebani... sebenarnya membuat Kaien juga merasa sedikit bersalah.

"Atau mungkin sebenarnya kau tidak menyukaiku sama sekali," lanjut Kaien lagi.

Rukia langsung mengangkat wajahnya dengan ekspresi ketakutan dan langsung menyela.

"Tidak! Tidak seperti itu! Sungguh Sensei! Aku... aku bukan tidak menyukaimu..."

"Kalau begitu... apa ada seseorang yang kau sukai?"

Dan untuk pertanyaan itu sungguh membuat Rukia terdiam bukan main.

Menyadari hal itu, Kaien berubah tertawa kecil.

Mungkin saja benar. Tentu saja. Seharusnya Kaien menyadarinya.

"Begitu rupanya. Kau harusnya mengatakannya padaku kalau ada seseorang yang kau sukai."

Rukia sendiri tidak menyangka kalau Kaien akan menganggap diamnya Rukia sebagai jawaban ya. Rukia sendiri tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Rukia terlalu tidak paham perasaannya sendiri. Dan ini sungguh menyebalkan.

"Kalau memang kau punya seseorang yang kau sukai, harusnya kau mengatakannya padaku. Mungkin aku bisa membantumu. Kau kan tidak keberatan berteman denganku."

"Sensei..."

"Aku juga sebenarnya penasaran tentang siapa orang yang kau sukai itu. Tapi jika kau keberatan untuk menceritakannya padaku, itu bukan masalah sama sekali. Aku benar-benar tulus ingin berteman denganmu. Karena itu... kumohon jangan menghindariku lagi. Aku tidak akan melakukan hal-hal yang tidak akan kau sukai lagi. Bisa?"

"Kenapa... Sensei begitu baik padaku? Aku benar-benar..."

"Karena kupikir kau sudah sangat dekat denganku. Meskipun kau tidak bisa membalas perasaan sukaku, tapi aku sungguh ingin tetap berhubungan baik denganmu. Mungkin... aku bisa menjadi seorang kakak yang baik untukmu."

Rukia mengangkat wajahnya dan memberanikan diri untuk menatap Kaien secara langsung. Wajah Kaien tampak begitu cerah bersinar seperti matahari. Apalagi dengan senyum khasnya yang membuatnya menjadi jauh lebih tampan.

"Kenapa... Sensei tetap ingin berhubungan baik denganku?"

"Apakah untuk bersikap baik perlu sebuah alasan?"

Lagi-lagi Rukia terdiam.

"Sejujurnya... aku merasa bersimpati padamu karena kau benar-benar seorang diri di dunia ini. Aku membayangkan bagaimana kau bisa menjalani hidup seorang diri seperti ini. Tanpa sadar, akhirnya diriku menyukaimu untuk membuatmu merasa nyaman dengan perhatianku selama ini. Aku ingin menjadi seseorang yang bisa kau andalkan ketika kau sangat kesulitan dan membutuhkan bantuan," lanjut Kaien lagi.

Setelah mengatakan hal demikian, Kaien tersenyum kemudian berdiri tepat di depan Rukia. Rukia bahkan sampai harus mendongakkan kepalanya karena Kaien ada di depannya.

Perlahan, satu tangan Kaien terangkat dan tiba di puncak kepala Rukia. Tangan Kaien menyentuh ringan puncak kepala Rukia dan mengelusnya sebentar.

Rukia sempat kaget karena gerakan itu. Ingatannya langsung memutar pada saat malam kemarin, waktu dimana Ichigo yang melakukan hal itu padanya juga. Tapi sayangnya, perasaan itu sangat berbeda ketika Kaien dan Ichigo melakukan hal yang sama padanya. Rukia tidak merasa bingung ataupun gugup ketika Kaien melakukan hal tersebut padanya. Sangat berbeda yang dia rasakan pada Ichigo waktu itu.

Apa ini?

"Kuharap kau tidak menghindariku lagi kali ini. Karena kau pernah mengatakan bahwa kau tidak keberatan menjadi temanku kan?"

"Sensei..."

"Sampai nanti."

Kaien kemudian berlalu begitu saja tanpa menoleh kembali kepada Rukia.

Bagaimana sekarang?

.

.

*KIN*

.

.

"Heee? Ada apa denganmu Shiba-kun?"

Orihime sedikit terkejut melihat Kaien masuk ke ruangan mereka dengan wajah yang tampak begitu lesu dan tidak bersemangat.

"Hm, tidak apa-apa, Inoue-san."

"Apanya yang tidak apa-apa. Wajahmu terlihat begitu jelas loh. Ada apa? Masa kau baru saja ditolak sih?" gurau Orihime.

"Ya... memang begitu..." lirih Kaien sembari duduk di mejanya dan langsung menelungkupkan kepalanya.

Orihime yang tidak sengaja mendengar langsung bereaksi histeris.

"Haa?! Kau serius? Kau baru saja ditolak?" ujar Orihime heboh.

"Sepertinya aku memang tidak begitu menarik," keluh Kaien.

"Hei! Gadis bodoh mana yang berani menolak seseorang sepertimu huh? Sudahlah tidak apa-apa, gadis itu pasti akan menyesal karena sudah menolak seorang yang mengagumkan sepertimu, Shiba-kun!" hibur Orihime.

"Sepertinya ada sesuatu hal yang seru di sini. Suara kalian terdengar sampai ke luar ruangan loh," sindir Ichigo yang ternyata baru saja kembali ke ruangan.

"Dengar, Kurosaki-kun! Masa ada seorang gadis yang menolak Shiba-kun? Apa kau percaya itu?" kata Orihime bersemangat.

"Seorang gadis yang menolak Kaien? Apa kau menyatakan perasaanmu pada seseorang?" ejek Ichigo lagi.

Kaien kemudian menegakkan punggungnya tapi kemudian bahunya merosot dan terlihat begitu putus asa.

"Aku sudah menyatakan perasaanku. Aku sudah melakukan segala cara untuk membuatnya menyukaiku. Tapi ternyata dia sudah memiliki orang lain yang dia sukai. Hhh... entah kenapa aku menyesal karena terlambat satu langkah," jelas Kaien.

"Memang siapa gadis yang membuatmu begitu berusaha keras? Apa dia gadis yang istimewa?" sambung Ichigo pula sambil membereskan kertas-kertas yang harus dia koreksi kemudian.

"Aku sudah memberitahukannya pada kalian tentang gadis itu," kata Kaien lagi.

"Jangan-jangan... sungguh gadis itu Kuchiki... Rukia-san?" tebak Orihime sedikit ragu.

Tanpa basa basi Kaien pun menganggukkan kepalanya menyetujui kata-kata Orihime.

"Luar biasa. Kau sungguh serius soal dia? Wah... kau benar-benar hebat, Shiba-kun!" puji Orihime.

Saat Orihime mengucapkan nama Rukia, otomatis Ichigo sempat berhenti sesaat dari kegiatannya. Tapi kemudian dirinya berusaha mengendalikan diri untuk tidak terlihat terlalu kentara.

Jika benar kata-kata Kaien bahwa gadis itu sudah memiliki seseorang yang dia sukai... siapa orangnya?

Untuk beberapa alasan Ichigo benar-benar sangat penasaran di bagian ini.

"Hei, jika aku menyukai seseorang tentu saja aku sangat serius. Kenapa kau berpikir aku bermain-main?" rajuk Kaien.

"Ah, bukan begitu. Karena tidak kusangka kau akhirnya menyukai seseorang dengan serius. Bukankah selama ini aku tidak pernah mendengarmu begitu serius menyukai seseorang?" balas Orihime.

"Itu pelajaran dariku. Jika kau sungguh menyukai seseorang kau harus serius tidak peduli apapun. Bagaimana kalau terjadi seperti aku? Sepertinya aku memang terlalu lama menunggu sampai tidak tahu kalau dia sudah menyukai orang lain. Inoue-san, sebaiknya ketika kau memutuskan untuk menyukai seseorang, kau harus bergerak serius. Jangan sampai orang lain salah paham dan membuatmu kehilangan kesempatan," nasihat Kaien.

"Wah, kau baru sekali patah hati dan langsung mendapatkan hikmahnya begitu?" sindir Ichigo lagi.

"Hei, ini juga berlaku untukmu tahu! Kalau kau menyukai seseorang kau harus melakukannya dengan serius. Kau juga sama sepertiku, tidak pernah berkencan serius dengan perempuan mana pun!" balas Kaien pula.

"Karena aku tidak pernah membicarakannya," lanjut Ichigo.

"Terima kasih Shiba-kun. Berkat kata-katamu sekarang aku sudah sangat memantapkan diri," sela Orihime.

"Eh? Apa maksudmu?" tanya Kaien pada Orihime.

"Untuk lebih serius menyukai seseorang."

Saat itu pandangan Orihime tertuju pada sesuatu yang membuatnya mengambil pilihan serius itu. Wajahnya tersenyum dengan pasti dan benar-benar terlihat sangat percaya diri.

"Eh? Benarkah? Ah... tapi aku juga merasa ingin berusaha sekali lagi. Siapa tahu orang yang dia sukai ternyata tidak membalas perasaannya kan? Aku harus berusaha di bagian itu," kata Kaien lagi.

"Tentu saja. Orang yang belum menyukai kita bukan berarti dia tidak akan menyukai kita. Jika kita berusaha, tentu saja mereka akan menyadari perasaan sesungguhnya dari kita bukan?" timpal Orihime.

"Oh, kau benar sekali. Tentu saja! Kita harus terus berusaha sampai titik darah penghabisan."

Ichigo tidak begitu mendengar obrolan dua orang temannya ini yang terdengar begitu serius itu.

Saat ini pikirannya justru pergi sendiri ke satu arah.

.

.

*KIN*

.

.

"Kenapa kau pindah ke tempat kerja sambilan yang baru? Ada apa dengan yang kemarin?" tanya Hinamori setelah kelas mereka berakhir hari ini.

"Sepertinya aku kurang beruntung di sana," ujar Rukia pula.

Memang benar. Entah kenapa setelah malam itu Rukia jadi memutuskan untuk berhenti dari sana. Rukia hanya takut kalau dosennya itu akan muncul lagi di sana. Melihatnya saja sudah membuat Rukia jantungan, bagaimana kalau dia iseng datang ke sana lagi?

"Ah~ kau membuat masalah di sana?" tebak Hinamori.

"Hei, apa kau pikir aku ini tukang buat masalah?"

"Tidak juga sih, tapi kau memang selalu bermasalah bukan?" ledek Hinamori.

"Menyebalkan," geram Rukia.

"Kuchiki-san!"

Seseorang memanggil nama Rukia dengan begitu bersemangat. Saat melihat ke arah sumber suara, Rukia terkejut bukan main karena Kaien lagi-lagi muncul dan langsung menghampirinya.

Hah?

"Kau punya waktu?" tanya Kaien setelah berhasil menyusul Rukia.

Apa-apaan sekarang ini?

"Oh... sebenarnya tidak—"

"Bagus! Ayo kita pergi makan siang. Hari ini aku ingin sekali pergi makan siang bersamamu. Bagaimana?"

Hah?

"Eh? Tapi aku..." Rukia kemudian melirik ke arah Hinamori.

Apa yang harus dia katakan? Setidaknya Hinamori harus memberikannya pertolongan!

"Oh, temanmu juga boleh ikut," kata Kaien kemudian.

"Aku sudah ada janji lain, Sensei. Mungkin lain kali aku akan ikut. Kalau begitu aku permisi lebih dulu ya."

Hinamori bersiap akan pergi, tapi dengan reflek Rukia menahan tangan Hinamori untuk jangan menjauh darinya. Rukia nyaris menangis ditinggalkan Hinamori seperti ini, tapi Hinamori tidak begitu. Dia hanya tersenyum dan melepaskan dengan paksa genggaman tangan Rukia darinya. Hinamori pun menjauh dan melambaikan tangannya lalu menunjuk telinganya sendiri sebagai kode kalau dia akan menelpon Rukia.

Tapi situasi ini...?

"Sepertinya... kau tidak mau pergi makan siang denganku," kata Kaien kemudian yang melihat gelagat aneh dari Rukia.

"Eh? Tidak kok! Tidak begitu Sensei! Aku..."

"Baiklah kalau begitu, karena kau tidak menolak sebaiknya kita pergi sekarang. Ayo!"

Kata siapa Rukia tidak menolak?

Dia tidak bisa menolaknya tahu!

Dengan amat sangat terpaksa sekali lagi, Rukia akhirnya terjebak di sini bersama dengan Kaien.

Rukia juga tidak bisa berbuat apapun jika Kaien sudah bertindak. Lagipula Rukia juga berpikir, kalau dia semakin sering menolak Kaien, malah akan semakin menyulitkannya. Lagipula Kaien selalu berniat baik padanya. Dan tentu saja orang ini sama sekali tidak bisa ditolak.

"Kau mau pesan apa Kuchiki?" tanya Kaien kemudian.

"Menu yang sama dengan yang dipesan oleh Sensei," ujar Rukia.

"Begitu? Wah, sepertinya kau mulai menyukai seleraku ya? Ok, aku akan segera memesannya."

Rukia benar-benar tidak tahu bagaimana cara menghadapi Kaien, tapi sepertinya dengan begini mereka tetap terlihat baik-baik saja kan?

"Rasanya senang sekali aku memiliki teman sepertimu, Kuchiki," kata Kaien kemudian.

"Ke... napa begitu, Sensei?" tanya Rukia penasaran.

Tentu saja penasaran, memang seperti apa Rukia ini di dalam pikiran Kaien?

"Kau perempuan paling mandiri yang pernah kutemui. Kau juga orang yang sangat sopan juga mampu membawa dirimu. Aku menyukai semua hal darimu. Makanya aku selalu ingin tahu tentangmu," jelas Kaien.

Wajah Rukia memanas untuk sesaat, hingga akhirnya dia bisa mengendalikan dirinya.

"Aku... bukan seperti yang Sensei pikirkan. Aku tidak... aku tidak seperti apa yang Sensei bayangkan."

"Kau tidak perlu memikirkan seperti apa yang aku pikirkan dan aku bayangkan tentangmu. Aku hanya melihat seperti apa dirimu dan itulah kau. Kau tidak perlu hidup untuk memenuhi ekspektasi orang lain. Kau tetap Kuchiki Rukia apapun yang orang pikirkan tentangmu. Jadi, kau tidak perlu menolak semua hal yang dipikirkan oleh orang lain tentangmu."

Rukia diam beberapa saat dan memandangi wajah Kaien yang begitu bersahabat.

Sejak awal Rukia mengenal Kaien, wajah dosennya satu ini memang terlihat berbeda. Dia begitu baik, terlihat berwibawa namun juga mudah bergaul. Kaien bersikap baik pada siapa saja, bahkan jauh lebih baik lagi kepada Rukia.

"Sensei... terima kasih," lirih Rukia.

"Hm? Kau mengatakan sesuatu?"

"Karena Sensei begitu baik padaku, meskipun aku... selalu bersikap tidak baik padamu."

"Karena itu harusnya kau mempertimbangkan perasaanku padamu, bukan?" ujar Kaien pula.

"Eh?"

"Shiba-kun!"

Saat mereka hendak mengobrol lebih banyak, sebuah suara menginterupsi pembicaraan mereka. Rukia jelas mengenal suara itu dan ketika mereka berdua menoleh ke sumber suara, tentu saja Orihime datang mendekati meja mereka.

Tentu saja bersama Ichigo.

Rukia sempat merasa gugup saat Ichigo mendekati mereka, tapi sebisa mungkin dikendalikannya sebaik mungkin.

"Maaf terlambat! Tadi kami mampir dulu dan tiba-tiba jalan berubah macet," ujar Orihime setelah menghampiri meja mereka.

"Seharusnya kalian bisa pergi lebih lama. Ayo cepat duduk, kami sudah pesan makanan loh," ujar Kaien.

"Hei, kau tidak bilang kalau kau... bersama dia?" sela Ichigo yang ternyata cukup terkejut melihat keberadaan Rukia di sana.

"Memangnya aku tidak bilang akan kemari bersama Kuchiki?" sahut Kaien.

"Tidak!" sambar Ichigo.

"Sudahlah, ayo duduk Kurosaki-kun! Kita harus memesan makanan juga. Perutku sudah lapar sekali."

Tunggu dulu...

Tunggu! Kenapa jadi begini? Mereka memang janjian makan siang bersama tapi Rukia tidak tahu?

Astaga... kenapa selalu seperti ini?

Rukia hanya makan dalam diam ketika meja mereka sudah penuh dengan makanan. Orihime asyik mengobrol dengan Kaien dan sesekali ditanggapi oleh Ichigo. Mereka tampak begitu akrab dan Rukia seperti berada bukan pada tempatnya.

"Nee Kuchiki-san, kau juga berpikir begitu kan?" celetuk Orihime yang tepat duduk di sebelah Rukia.

"Eh? Apa...?"

Rukia nyaris terkejut karena tiba-tiba saja Orihime menyapanya begitu saja.

"Oh ya, ada yang ingin kutanyakan. Kuchiki-san, apa kau punya seseorang yang kau sukai?"

Ketika mendengar pertanyaan itu tentu saja Rukia terkejut bukan main hingga membuat makanan yang ada di mulutnya malah membuatnya tersedak. Kontan saja Rukia menjauhkan wajahnya dari mereka bertiga sampai tersedaknya membaik. Orihime yang sama terkejutnya langsung membantu Rukia meredakan tersedaknya.

"Kuchiki, kau tidak apa-apa?" tanya Kaien khawatir.

Rukia langsung melambaikan tangannya tanda dia baik-baik saja. Apa-apaan orang-orang ini? Bukankah mereka lebih tua dari Rukia? Tapi sepertinya mereka justru bersikap lebih kekanakan dari Rukia.

"Maafkan aku, apa kau terkejut, Kuchiki-san?" tanya Orihime lagi.

"Tidak apa-apa Sensei. Maafkan aku," lirih Rukia.

"Kuchiki-san, bukankah kau seharusnya berkencan dengan seseorang? Kalau kau tidak punya seseorang yang kau sukai, apa kau mau kukenalkan dengan seseorang?" ujar Orihime lagi.

"Eh? A-aa, tidak usah repot-repot—"

"Hei, apanya yang dikenalkan? Aku masih berkencan dengan Kuchiki kok!" sambar Kaien.

Rukia tentu saja melotot bukan main melihat ke arah Kaien. Wajahnya bahkan tersenyum dengan bodoh begitu.

Selagi Orihime dan Kaien saling mengobrol, diam-diam Rukia melihat ke arah Ichigo yang masih fokus pada makanannya. Sepertinya Ichigo tidak lagi ikut pembicaraan setelah Orihime menyenggol soal Rukia.

"Kalau Shiba-kun dan Kuchiki-san berkencan... apa sebaiknya kita juga berkencan Kurosaki-kun? Kita bisa pergi double date!" usul Orihime kemudian.

Sontak saja suasana di meja itu berubah hening. Kaien yang langsung menoleh ke arah Ichigo dan Rukia yang mendadak terdiam. Ichigo terlihat sempat terdiam ketika Orihime menatapnya langsung dengan senyum menawannya. Entah Orihime bermaksud apa, tapi sepertinya tatapan Orihime seperti tengah menanti jawaban dari Ichigo.

"Bukankah kau banyak teman kencan?" kata Ichigo akhirnya.

"Aku tidak pernah serius pada mereka. Semuanya berakhir setelah satu atau dua kali kencan. Bagaimana menurutmu? Apa kau mau berkencan denganku?" tanya Orihime lagi.

"Wuah... Inoue-san sangat mempesona. Dia mengajak pria membosankan sepertimu kencan loh, Kurosaki!" tambah Kaien pula.

Tanpa sadar, diam-diam Rukia memandangi wajah Ichigo yang masih fokus pada makanannya. Dia hanya tersenyum menanggapi semua itu. Tapi kenapa Rukia tiba-tiba penasaran dengan apa yang akan dikatakan oleh Ichigo?

Hah?

"Mungkin lain kali," kata Ichigo dengan senyum tipisnya.

"Aku pasti akan menagih lain kalimu itu loh," balas Orihime.

Mungkin lain kali?

Lain kali?

Katanya... lain kali?

Apa maksudnya itu?

Kenapa... Rukia merasa sedikit... kecewa?

.

.

*KIN*

.

.

Setelah kejadian kemarin, Rukia jadi semakin tidak bisa tidur.

Alhasil insomnianya kembali kambuh.

Rukia hanya bisa memejamkan mata sekitar tiga jam kemudian dia terbangun karena mendengar suara aneh di sebelah apartemennya. Suaranya memang tidak begitu besar, tapi bagi Rukia suara itu sangat mengganggunya. Dan sekarang dampaknya adalah hari ini.

Usai kelas hari ini, Hinamori langsung pulang ke rumahnya karena ibunya mendadak dirawat di rumah sakit. Sebenarnya Rukia ingin menjenguknya, tapi hari ini kepala Rukia terasa pusing karena kurang tidur, apalagi wajahnya terlihat pucat seperti biasa. Hinamori juga menyadari kondisi Rukia dan mengatakan untuk tidak perlu khawatir. Ibunya hanya mendapatkan kambuh karena asam lambungnya naik saja. Hinamori juga sudah mendengar cerita Rukia mengenai makan siang kemarin, tapi belum memberikan tanggapan karena tidak sempat. Tapi Hinamori berjanji akan segera menelpon Rukia begitu keadaan ibunya membaik.

"Kurosaki-kun!"

Saat melewati taman kampus, Rukia mendadak terkejut mendengar suara itu lagi. Suara yang begitu dikenalnya baik. Itu suara Orihime, dan sepertinya mereka ada di dekat sini. Begitu mencari sumber suara itu, ternyata Rukia ada di belakang mereka. Benar-benar tak begitu jauh.

Karena panik yang tidak jelas, Rukia justru menyembunyikan dirinya di balik tanaman yang mampu menutupi siluet dirinya.

Tunggu? Kenapa Rukia bersembunyi?

Merasa bahwa perbuatannya sangat konyol, Rukia memutuskan untuk segera pergi dari sana secepat mungkin.

"Aku menagih lain kalimu," ujar Orihime lagi.

Tiba-tiba Rukia berhenti bergerak dan diam beberapa saat.

Sialan, suaranya terdengar sampai di tempat Rukia. Kenapa juga suaranya bisa sedekat ini? Tidak, mereka berbicara terlalu keras, makanya Rukia bisa dengar.

Begitu Rukia mengintip, ternyata jarak mereka hanya terpaut 5 meter dan Ichigo tepat membelakangi Rukia. Sepertinya Rukia harus bersyukur dengan tanaman ini yang mampu menyembunyikan dirinya dengan baik.

"Lain... kali?"

Sekarang suara Ichigo yang terdengar.

Benar-benar... bagaimana mungkin suara mereka jadi terdengar seperti ini?

Kepala Rukia jadi semakin pusing.

"Kau bilang kemarin lain kali akan berkencan denganku kan?"

"Ah... itu."

"Kau lupa? Wah, aku tidak percaya kau bisa lupa semudah itu loh."

Tentu saja, bagaimana mungkin Ichigo bisa melupakan ajakan kencan seorang wanita cantik seperti Inoue Orihime? Dia pasti sudah tidak waras.

"Kukira kau tidak serius soal itu," jawab Ichigo kemudian.

"Tidak serius? Kau pikir... aku mengajakmu kencan itu tidak serius?"

Tunggu dulu... kenapa pembicaraannya jadi serius begini?

Ada jeda diam beberapa saat dari mereka. Rukia bahkan jadi sedikit penasaran kenapa tiba-tiba mereka diam begini?

"Kau serius?" tanya Ichigo tak percaya.

"Ya, aku serius. Aku ingin kita berkencan. Bagaimana menurutmu?"

Astaga...

"Kenapa aku? Kupikir kita hanya teman baik."

"Aku sudah lama memperhatikanmu. Aku juga tahu sejak awal kau memang tidak pernah serius untuk urusan berkencan bahkan menyukai seseorang. Makanya aku menunggu waktu yang tepat untuk bisa mengatakannya. Aku menunggu selama ini, sampai akhirnya aku berani mengatakannya."

Orihime... benar-benar menyukai Ichigo?

Benarkah itu?

Rukia sempat menunggu lama jawaban dari Ichigo, tapi suara Ichigo tidak terdengar sama sekali. Apa yang dipikirkan orang itu?

"Sudah kuduga, Kurosaki Ichigo Sensei bukan orang yang mudah mengambil keputusan. Kau selalu mempertimbangkan segala sesuatu dengan cermat. Ketika kau mengambil keputusan, kau pasti sudah memikirkan semua resikonya. Kau terlalu serius, Kurosaki-kun. Tapi karena itulah aku menyukaimu."

Apa?

Benarkah?

"Kau tidak perlu menjawabnya sekarang. Tapi aku akan menunggunya. Karena itu jangan buat aku menunggu terlalu lama. Aku ingin segera menjadi satu-satunya wanita yang ada di sisimu. Aku duluan ya."

Satu-satunya... wanita yang ada di sisi Ichigo.

Lalu bagaimana dengan Rukia?

.

.

*KIN*

.

.

"Bagaimana keadaan ibumu?" tanya Rukia.

"Sudah lebih baik. Dia hanya tidak pantang dengan makanannya," gerutu Hinamori.

"Hei, bukankah sudah tugasmu untuk memperhatikan ibumu?"

"Baiklah aku mengerti. Kau dimana sekarang?"

Rukia melihat sekelilingnya dan berjalan dengan sangat pelan.

"Aku baru mau pulang," ujar Rukia.

"Malam begini? Bukankah ini hampir jam 10 malam?"

"Aku kerja sambilan tadi. Jadi, kapan ibumu pulang?"

"Besok sudah bisa pulang. Ah ya, apa yang mau kau ceritakan hari ini?"

"Eh?"

"Kau biasanya menelponku untuk mengatakan sesuatu kan? Apa? Apa terjadi sesuatu tadi? Ah ya, kita bahkan belum selesai membahas makan siangmu kemarin ya?"

Rukia diam beberapa saat.

Setelah pulang dari kerja sambilannya tadi, Rukia hanya iseng mencoba menelpon Hinamori sambil berjalan pulang ke rumahnya. Entah kenapa Rukia saat ini ingin sekali berbicara dengan Hinamori atau membicarakan apapun. Kepalanya terlalu aneh hari ini. Walaupun sepertinya kepala Rukia pusing dan matanya begitu mengantuk tapi dia tidak bisa melakukan apapun. Dia tidak bisa tidur bahkan hanya untuk menutup matanya.

Penyakit ini benar-benar gila.

Haruskah Rukia ceritakan saat Orihime dengan serius mengajak Ichigo berkencan?

Tapi kenapa Rukia merasa... ada yang aneh?

"Hinamori... menurutmu bagaimana Inoue Sensei itu?"

"Haaa? Kenapa tiba-tiba kau membahas Inoue Sensei?"

"Tidak... hanya saja... apakah kau pikir... adakah seseorang yang akan menolak ketika Inoue Sensei mengajaknya... berkencan?" tanya Rukia dengan suara ragu.

Ya, dia ragu mengapa dirinya bertanya demikian.

"Tunggu... apa terjadi sesuatu hari ini? Tiba-tiba kau membahas Inoue Sensei dan—apa Inoue Sensei mengajak Shiba Sensei berkencan?" tembak Hinamori.

"Bukan. Bukan Shiba Sensei—"

Rukia langsung mengerem mulutnya. Tapi sepertinya kurang cepat ketika Rukia menyebutkan nama Kaien. Kenapa harus ketika menyebut nama Kaien, Rukia baru ingat?

"Bukan Shiba Sensei? Kurosaki Sensei? Serius?! Inoue Sensei mengajak kencan Kurosaki Sensei?!" kata Hinamori histeris.

"Hei, kau bisa dalam masalah kalau orang kampus sampai dengar hal ini. Aku bisa kena masalah lagi."

"Kenapa kau bisa kena masalah? Tunggu, bagaimana kau tahu itu?"

"Aku tidak sengaja mendengar mereka mengobrol setelah selesai kelas tadi."

"Wuah... sudah kuduga. Selera Inoue Sensei jelas saja selevel Kurosaki Sensei. Kalau mereka sungguh berkencan, mereka bisa jadi pasangan paling populer di kampus."

"Paling populer? Kenapa begitu?"

"Inoue Sensei terkenal cantik, seksi, menawan dan pintar. Kurosaki Sensei juga tampan, seksi, menawan dan pintar. Apa kau tahu itu artinya? Tentu saja mereka akan jadi pasangan paling populer. Siapa yang tidak iri dengan pasangan yang sangat serasi begitu."

Rukia kembali diam beberapa saat.

Tentu saja...

Tidak ada hal yang aneh jika mereka berdua berkencan. Mereka sangat serasi dan mirip satu sama lain. Jika semua orang tahu hubungan mereka, pasti akan mendapat restu dari banyak orang. Pasti akan banyak orang yang mendoakan kebahagiaan mereka. Ichigo bisa memiliki pasangan yang cocok dengan dirinya.

Rukia sendiri... apa?

Dia sama sekali tidak cantik apalagi seksi. Menawan pun sangat jauh dari deskripsi dirinya apalagi pintar. Rukia juga tidak populer bahkan mendekati sulit dikenali. Apanya yang bisa dia banggakan dari dirinya sendiri?

Jelas Kurosaki Ichigo dan dirinya sangat berbeda jauh.

"Begitu ya..." lirih Rukia.

"Hei, kenapa suaramu terdengar lesu begitu?"

"Tidak apa-apa. Aku hanya kurang tidur. Sepertinya aku butuh istirahat lebih banyak."

"Hei, aku memang bilang mereka pasangan yang serasi. Tapi bukankah Kurosaki Sensei mengungkapkan perasaannya padamu. Apa kau lupa itu?"

"Apa...?"

"Makanya kalau kau memang ada perasaan pada Kurosaki Sensei segera jawab saja pengakuan cintanya. Inoue Sensei sudah bergerak untuk mendapatkan hatinya loh. Kalau kau banyak tingkah, Kurosaki Sensei bisa segera melupakan perasaannya padamu."

"Apa maksudmu? Memangnya aku—"

"Ya sudah. Besok kita lanjutkan, kau bukannya harus istirahat? Aku juga sudah mengantuk. Hati-hati ya."

Hinamori langsung mematikan hubungan telepon itu.

Rukia langsung menggerutu kesal. Di saat dia butuh semangat, temannya itu malah begitu.

Argh! Menyebalkan!

Mungkin seharusnya sejak awal Rukia tidak menceritakan saat dimana Kurosaki Sensei mengatakan perasaannya itu pada Hinamori.

Atau mungkin... seharusnya Rukia tidak memikirkannya.

Tidak memikirkannya?

Sepertinya itu hal mustahil.

Rukia kemudian sampai di apartemennya.

Saat Rukia mengeluarkan kunci apartemennya, Rukia terkejut karena melihat lubang kuncinya dalam keadaan aneh.

Tiba-tiba Rukia merinding bukan main, karena ternyata pintunya tidak dalam keadaan terkunci. Bahkan lubang kuncinya sendiri hanya tertempel di sana. Tentu saja Rukia ketakutan bukan main.

Akhirnya Rukia mencoba membuka pintu apartemennya dan menyalakan lampu ruangannya. Saat itulah Rukia cemas bukan main. Perasaannya jadi gelisah dan tak beraturan.

Rukia bahkan sulit bernapas.

Keadaan apartemennya sangat kacau bukan main. Lemarinya seperti digores oleh benda tajam. Kasurnya bahkan dirobek-robek begitu mengerikan. Pakaiannya berhamparan di dekat lemarinya. Jelas sekali kalau ada seseorang yang mengacak-acak rumahnya.

Rukia berusaha meredakan kecemasan dan ketakutannya setelah akhirnya bergerak pergi ke pemilik apartemen untuk melaporkan keadaan tempatnya.

Saat Rukia melaporkan keadaan apartemennya, kaki Rukia mendadak lemas hingga membuatnya sulit berdiri. Pemilik apartemen sangat terkejut karena ini pertama kalinya ada pencuri yang mengacak-acak apartemennya. Setelah memastikan keadaan Rukia dengan meminta Rukia menunggu di apartemennya, pemilik apartemen langsung melaporkan kejadian itu ke polisi.

Ketika pemilik apartemen tengah menunggu kedatangan polisi, Rukia akhirnya menangis juga.

Apa yang terjadi padanya kali ini? Kenapa sepertinya cobaan terus datang seperti badai begini padanya?

Tangan Rukia masih gemetaran, tapi dia merasa sedih bukan main. Rukia mencoba menghubungi Hinamori walaupun tahu temannya itu mungkin sangat lelah dan mencoba beristirahat.

"Hei, bukankah kubilang—"

"Hinamori..." isak Rukia kemudian.

Mendengar suara Hinamori di ujung telepon itu langsung membuat tangisan Rukia meledak bukan main.

"Hei? Ada apa?" tanya Hinamori kemudian. Suaranya langsung panik.

"Rumahku... sepertinya... ada orang yang... masuk ke rumahku..." jelas Rukia di sela tangisannya.

"Apa? Ada yang masuk ke rumahmu?"

"Maaf aku menelponmu... aku... aku tidak tahu harus memberitahu siapa..."

"Kau baik-baik saja di sana? Sudah lapor polisi?"

Rukia hanya menganggukkan kepalanya saja walaupun Hinamori jelas tidak melihatnya.

"Kau dimana sekarang?"

"Di... di apartemen pemilik..."

"Baiklah, kau tunggu sebentar, aku akan segera ke sana."

"T-tidak usah kemari. Aku hanya—"

Hinamori langsung memutuskan teleponnya. Sekarang Rukia yang menyesal menghubungi Hinamori. Ketika Rukia akan menelponnya lagi, jaringan Hinamori malah sibuk.

Bagaimana sekarang?

Rukia berusaha menghentikan tangisannya. Sepertinya sudah lama Rukia tidak menangis seperti ini. Perasaannya jadi kacau balau tidak karuan begini.

Tak lama kemudian terdengar sirine polisi dari luar. Pemilik apartemen segera menghampiri Rukia karena polisi sudah tiba. Rukia berusaha untuk tetap kuat walaupun kakinya masih gemetaran mengingat bagaimana rumahnya yang berantakan itu.

Ditemani oleh pemilik apartemen, Rukia dimintai keterangan mengenai apa yang terjadi di rumahnya. Rukia hanya menjelaskan semampunya saja karena jujur dia jadi tidak ingat apa-apa lagi setelah menelpon Hinamori. Pikirannya saat ini hanya mengingat kengerian yang terjadi di apartemennya.

Melihat kondisi Rukia yang tidak cukup baik, polisi memintanya untuk datang ke kantor polisi untuk membuat keterangan. Mereka datang bersama tim penyelidik untuk mendapatkan petunjuk tentang kasus ini. Apakah ini pencurian biasa atau ada orang yang sengaja masuk untuk sekadar mengacak-acak rumah Rukia.

"Kau baik-baik saja? Bagaimana kalau kau tidur di tempatku malam ini," kata pemilik apartemen.

Rukia masih bingung untuk menjawabnya.

Dia tidak ingin merepotkan siapapun.

"Apa kau punya seseorang yang bisa kau hubungi saat ini?" tanya pemilik apartemen lagi.

Seseorang.

Rukia tidak punya siapapun di dunia ini. Siapa yang kiranya bisa dihubunginya saat ini?

Rukia tadi sudah menghubungi Hinamori karena pikirannya sangat kacau tadi. Tapi setelahnya Rukia menyesal sudah menghubungi Hinamori karena pasti akan merepotkan sahabatnya itu.

"Rukia!"

Selagi berpikir mengenai apa yang harus dia lakukan, Rukia terkejut karena mendengar seseorang memanggil namanya.

Suara... yang sangat dikenal oleh Rukia.

"Kurosaki... Sensei?"

Ichigo muncul di sana secara ajaib dan sangat tiba-tiba. Ichigo menerobos kerumunan polisi dan orang-orang yang melihat kejadian ini. Rukia sendiri sampai tidak percaya bahwa dia melihat Ichigo datang kemari seperti ini.

Ketika Ichigo sudah tepat berada di depan mata Rukia, barulah Rukia menyadari bahwa dia benar-benar Ichigo.

"Bagaimana Sensei bisa—"

Tanpa basa basi lagi, Ichigo segera memeluk Rukia dengan erat.

Hal yang membuat Rukia merasa... begitu lega.

.

.

*KIN*

.

.

Ichigo menjelaskan kepada pemilik apartemen kalau dia adalah pengajar yang bekerja di kampus Rukia. Setelah mendapat penjelasan itu, Ichigo segera mengajak Rukia keluar dari gedung apartemen itu dan masuk ke dalam mobilnya. Mereka diam untuk beberapa saat di sana. Rukia sendiri bingung kenapa Ichigo hanya diam saja di dalam mobil ini.

"Sensei...?" panggil Rukia akhirnya.

"Ada banyak hal yang ingin kukatakan padamu. Kau baik-baik saja?" ucap Ichigo.

Rukia terdiam sejenak.

"Tidak begitu... baik," lirih Rukia.

Ichigo langsung menoleh ke arah Rukia dan menatapnya dengan tajam. Wajah Ichigo terlihat begitu serius dan sedikit menakutkan.

"Bukankah aku pernah bilang padamu kalau terjadi sesuatu kau bisa menghubungiku? Jika temanmu tidak memberitahu keadaanmu sekarang, aku mungkin tidak akan tahu apa yang terjadi padamu. Kenapa kau selalu menganggap enteng masalah besar seperti ini?"

"Teman... ku yang menghubungi Sensei?"

"Ya, temanmu. Dia menelponku dengan panik karena tidak bisa menyusulmu."

Hinamori?

Jadi Hinamori menghubungi Ichigo? Bagaimana Hinamori bisa memiliki nomor telepon Ichigo?

"Aku... takut merepotkan..."

Ichigo akhirnya terdiam.

Itu alasan yang masuk akal, namun juga alasan yang setiap kali Rukia katakan setiap kali menolak bantuan dari orang lain. Ichigo bahkan harus melakukan apapun untuk membantunya tanpa meminta persetujuan Rukia. Karena jelas dia akan segera menolaknya tanpa berpikir panjang.

"Kau tidak bisa menempati apartemenmu malam ini. Apa kau punya tempat lain?" tanya Ichigo.

Rukia tidak merespon apapun dan hanya tertunduk diam.

"Polisi sudah menyelidikinya, kurasa... tidak masalah aku kembali ke apartemenku."

Tanpa menunggu penjelasan Rukia lebih panjang lagi, Ichigo segera menyalakan mesin mobilnya dan mengunci pintu sesegera mungkin. Rukia baru sadar ketika mobil itu sudah bergerak menjauh dari tempat tinggalnya.

"Sensei! Apa yang Sensei lakukan?" tanya Rukia panik.

"Kau tidak punya tempat lain, dan aku tidak akan membiarkanmu sendirian di tempat seperti itu. Apa kau mengerti?"

"Tapi aku—"

"Kalau kau memaksa melompat dari mobil ini aku tidak akan memaafkanmu. Meskipun kau mengemis dan memohon aku tidak akan membiarkanmu pergi. Apa kau dengar itu?"

Setelah mengatakan itu, Ichigo tidak berbicara apapun lagi.

Untuk sesaat, Rukia merasa takut untuk mengatakan sesuatu kepada dosennya ini. Ichigo selalu bersikap tegas di saat-saat tertentu. Contohnya seperti ini. Dia tidak akan memberikan Rukia pilihan pada situasi seperti ini. Pada saat dimana Rukia tidak punya pilihan lain.

Sepanjang perjalanan itu, dada Rukia berdebar bukan main. Perasaannya masih campur aduk. Dia masih merasa takut dan ngeri dengan kejadian yang terjadi di rumahnya. Tapi dia juga merasa aman dan nyaman ketika bersama dengan Ichigo di sisinya saat ini. Entah bagaimana perasaan yang tepat untuk menggambarkan dirinya saat ini.

Tak berapa lama pun, Rukia akhirnya tiba di apartemen Ichigo. Tentu saja Rukia berulang kali memikirkan apakah dirinya benar untuk datang kemari.

Tapi Ichigo tidak membiarkan Rukia mengatakan apapun, karena dia langsung menarik tangan Rukia keluar dari mobilnya. Sekali lagi Ichigo tidak mengatakan sepatah kata pun pada Rukia.

Bahkan setelah masuk ke apartemen Ichigo pun, Rukia hanya dibiarkan di ruang tengahnya dan Ichigo pergi menuju dapur.

Tempat ini jadi tidak asing sedikit pun untuk Rukia.

"Duduklah, aku akan membuatkan minuman hangat."

Suara Ichigo terdengar dari arah dapur. Tentu saja Ichigo berbicara kepada Rukia.

Tak lama kemudian, Ichigo datang sambil membawa mug berisi cairan hangat yang asapnya masih tampak mengepul itu.

"Minumlah," tawar Ichigo.

Rukia hanya melihat mug yang berada di tangan Ichigo.

Dia tak berani memandang ke arah lain.

"Sensei... kurasa aku sebaiknya kembali ke apartemenku saja."

Wajah Ichigo tampak mengeras. Tapi kemudian Ichigo menarik napas panjang dan menghembuskannya secara perlahan. Hingga akhirnya Ichigo menaruh mug yang berada di tangannya itu di atas meja terdekatnya.

"Kenapa kau harus begitu keras kepala? Apa kau tidak bisa mengalah sekali ini saja?"

"Apa... maksud Sensei?" tanya Rukia tak mengerti dan akhirnya memberanikan diri melihat wajah Ichigo.

"Wajahmu masih sangat jelas ketakutan! Tanganmu bahkan masih gemetaran sejak keluar dari mobilku tadi. Situasi di apartemenmu itu sangat tidak aman untuk saat ini! Bagaimana mungkin kau berpikir untuk kembali ke sana seorang diri? Kenapa kau selalu menolak bantuan yang memang kau butuhkan?"

Rukia hanya terdiam sambil tetap memandang wajah Ichigo yang tampak begitu frustasi padanya.

"Apa kau tidak bisa berhenti keras kepala di situasi seperti ini? Kau sudah sering mengalami situasi berbahaya seperti ini tapi selalu menolak orang lain membantumu. Kenapa aku harus selalu memaksamu hanya untuk sekadar menerima hal kecil seperti ini?"

"Karena aku takut terlalu bergantung kepada Sensei. Aku takut, aku akan selalu membutuhkan bantuan Sensei seperti ini."

Kali ini Ichigo yang terdiam mendengar jawaban Rukia.

"Bagiku... menerima bantuan seseorang itu adalah sebuah kemewahan. Untukku yang hidup berjuang seorang diri, seseorang yang menawarkan bantuan kepadaku itu adalah hal yang sangat mewah. Jika aku terlalu sering menerima bantuan seperti ini, mungkin aku tidak bisa berjuang sendirian lagi. Mungkin aku akan selalu bergantung dan berharap bantuan seperti ini lagi. Aku tidak ingin berharap dan bergantung pada seseorang yang belum tentu bisa selalu bersamaku."

"Apa... maksudmu?"

"Waktu itu Sensei menyatakan perasaan padaku bukan? Sensei mengatakan akan menunggu jawaban dariku kapanpun itu. Inilah jawabanku. Aku tidak bisa menerima perasaan seseorang yang belum tentu bisa bersamaku selamanya. Jika Sensei hanya terbawa perasaan saat itu aku bisa memakluminya. Sensei bisa menarik semua kata-kata Sensei saat itu. Aku sama sekali tidak masalah."

"Darimana kau yakin tentang hal itu? Bagaimana kau bisa membuat kesimpulan yang bahkan kau sendiri tidak tahu akan berakhir seperti apa? Apa kau pikir saat aku mengungkapkan perasaanku, aku hanya terbawa suasana saja? Kau pikir perasaanku semudah itu?"

"Bukankah Inoue Sensei meminta Sensei berkencan?"

"Inoue?" ulang Ichigo tak yakin.

"Sensei jauh terlihat lebih serasi bersama dengan Inoue Sensei. Dibandingkan Inoue Sensei... aku tidak punya apapun yang layak untuk dibanggakan. Karena itu... sebaiknya Sensei berkencan dengan seseorang seperti Inoue Sensei."

"Tunggu, kenapa kau menyebut soal Inoue di sini? Aku tidak pernah mengatakan apapun soal ajakan kencan Inoue."

"Aku bukan orang yang sepadan untuk Sensei. Aku mungkin bisa mengecewakan Sensei. Jika Sensei kecewa padamu, Sensei pasti akan meninggalkanku. Karena itu sebaiknya Sensei lupakan soal aku."

Rukia tidak tahu kenapa mulutnya malah meracau tidak jelas seperti ini. Ichigo sendiri sampai melongo mendengar semua kata-kata tidak jelas Rukia. Apalagi ketika mereka membahas tentang Inoue. Ichigo pikir Rukia tidak peduli apapun soal itu seperti dirinya yang sama sekali tidak tertarik untuk membahas ajakan kencan itu.

Rukia sadar dengan sikap bodohnya lalu berbalik hendak mencapai pintu keluar. Dia harus pergi dari sini sekarang juga demi menyelamatkan wajahnya!

Tapi sayangnya, Ichigo juga bergerak cepat dan segera menarik tangan Rukia sebelum kaki kecilnya melangkah lebih jauh. Rukia terlebih dahulu terkejut sebelum sempat berkata apapun ketika Ichigo mencium bibirnya begitu saja.

Gerakannya bahkan terlalu cepat untuk Rukia ingat.

Ichigo hanya menarik lengannya, membalik tubuhnya kemudian menundukkan wajahnya hingga sejajar dengan Rukia, lalu menempelkan bibirnya begitu saja.

Ichigo menciumnya begitu dekat dan intim sampai membuat Rukia lupa bernapas dan lupa bergerak. Ichigo menarik lengan Rukia lebih mendekatinya dan merangkul pinggang Rukia.

Sungguh di saat seperti itu Rukia justru berubah menjadi patung batu dan membuatnya tidak berani bergerak. Saat Ichigo membuka bibirnya untuk merangkul bibir Rukia lagi, kesempatan itulah yang digunakan oleh Rukia untuk menjauh.

"Sensei!"

Ichigo membuka matanya saat Rukia memanggilnya. Tapi Ichigo tidak melepaskan rangkulan pinggang dan lengan Rukia.

"Kau gadis terbodoh yang pernah kutemui seumur hidupku. Ketika seorang pria mengungkapkan perasaannya pada seorang gadis, apa kau pikir perasaannya bisa berubah semudah itu hanya karena ajakan kencan perempuan lain? Kalau kau berpikir begitu, kau sangat salah menilaiku. Sebaiknya kau berhati-hati karena aku tidak akan melepaskanmu lagi."

Rukia terdiam mendengar kata-kata itu dan merasa tak sanggup untuk mengatakan apapun. Mereka hanya saling bertatapan untuk beberapa waktu hingga akhirnya Ichigo kembali mendekatkan bibirnya dan menangkap bibir Rukia lagi.

Kali ini Ichigo melepaskan pegangannya pada lengan Rukia dan berpindah membelai pipi Rukia.

Setiap sentuhan Ichigo, Rukia merasa begitu panik tapi tidak berusaha untuk melarikan diri. Meskipun dirinya panik dan cemas, tapi perasaan ini membuatnya merasa aman dan nyaman. Dadanya memang berdebar bukan main, tapi sekaligus merasa berbunga-bunga.

Ichigo menyentuh segenap dirinya dengan begitu indah. Ciuman ini jauh lebih intens mereka lakukan ketimbang ciuman yang pertama kali Rukia rasakan. Mungkin saat pertama kali itu Rukia terlalu kaget hingga membuatnya tidak sadar dan lupa bagaimana rasanya saat itu.

Tapi kali ini, Rukia bisa mengingat setiap sentuhan yang diberikan oleh Ichigo padanya. Sentuhan lembut itu berubah menghangat dan membuat dirinya berdebar-debar bukan main.

Ichigo menyentuhnya begitu perlahan dan sangat berhati-hati. Rukia bisa merasakan gairah yang meletup tapi berubah menjadi belaian kasih sayang yang begitu hangat. Setiap kali Ichigo menciumnya, Rukia hanya diam dan tak berani melakukan apapun selain menutup matanya. Perasaan ini terlalu nyata hingga membuat Rukia merasa bermimpi.

Ichigo pun sesekali tersenyum dalam ciumannya karena menyadari bahwa gadis ini di dalam pelukannya ini begitu rapuh. Karena itulah Ichigo memperlakukannya dengan begitu hati-hati dan teramat sayang.

Ichigo menghentikan ciumannya, ketika merasa kaki Rukia tak sanggup lagi menahan beban tubuh kecilnya itu. Rukia sepenuhnya jatuh ke dalam pelukan Ichigo dan bersandar padanya.

"Sebaiknya kau beristirahat sekarang," bisik Ichigo.

Usai mengatakan itu, Rukia baru sadar bahwa kepalanya sudah berubah pusing dan matanya mulai mengantuk. Begitu berat bahkan untuk membuka kelopak matanya saja.

.

.

*KIN*

.

.

TBC

,

,

Oke, kita bersambung di sini, karena harusnya beberapa chap lagi fic ini bisa ditamatkan. Harap bersabar ya.

Maaf malam ini gak sempat bales review, karena pengerjaan fic ini dikebut banget semingguan ini. Sepertinya semakin sulit untuk seproduktif dulu, tapi saya sebisa mungkin akan terus mengetik.

Doain laptopnya sehat terus ya sampai saya ada dana untuk mendapat yang lebih baik lagi...

Terima kasih yang udah ngeluangin waktu untuk fic saya.

Jaa Nee!