Title : I Did It For Love
Genre : Romance, Drama, Hurt/Comfort
Cast : Park Chanyeol x Byun Baekhyun and others
Rating : T (Yaoi / Genderswitch)
Length : Chaptered
A/N : Aku memutuskan untuk membuat FF ini kembali pada cerita awalnya, aku enggak akan mempersingkat jalan cerita atau bikin FF ini selesai dengan secepatnya, bagi yang enggak suka jalan cerita yang penuh konflik atau berkepanjangan, dipersilahkan untuk tidak membaca FF ini, terima kasih :)
Chapter 11
Baekhyun baru diperbolehkan pulang dari rumah sakit setelah waktu hampir menjelang pagi hari, itu pun dengan nasihat dan catatan panjang yang harus diperhatikan Baekhyun dari dokter yang memeriksanya tadi.
Dalam perjalanan pulang, baik Baekhyun maupun Yixing tidak ada yang berniat untuk memulai sebuah percakapan.
Sesekali Yixing akan mengelus tangan Baekhyun yang sedari tadi digenggamnya, berusaha menenangkan diri sahabatnya itu yang terlihat masih begitu terguncang dengan kabar yang baru saja didengarnya.
Sesampainya di hotel tempatnya menginap, Yixing menuntun Baekhyun menuju kearah kamar mandi disudut dapur, menyerahkan sekotak testpack yang tadi dibelinya saat menebus obat yang diresepkan dokter untuk Baekhyun diapotik.
Baekhyun menatap kotak yang diberikan Yixing dan sosok sahabatnya itu secara bergantian, dan dibalas Yixing dengan usapan menenangkan dibahunya.
"Kalau kau ingin meyakinkannya sendiri," ucapnya berusaha meyakinkan.
Baekhyun menatap benda ditangannya itu sekali lagi, mempertimbangkannya sesaat lalu mengangguk pelan dan mengunci pintu kamar mandi setelah masuk kedalamnya.
Kedua tangannya bergetar saat ia berusaha membuka segel kotak tersebut dan mengeluarkan isinya.
Padahal beberapa waktu terakhir Baekhyun sudah sering melakukan hal ini, tapi entah mengapa Baekhyun seolah masih dapat merasakan degupan jantungnya yang sama seperti dulu saat ia pertama kali melakukannya.
Awalnya Baekhyun masih menatap ragu-ragu pada benda panjang ditangannya tersebut, hingga akhirnya ia menyadari kalau memang tidak ada alasan baginya untuk tidak mencoba.
"Baek, kau butuh bantuan?" teriak Yixing tidak tenang dari balik pintu kamar mandi, sekaligus untuk memastikan kalau Baekhyun baik-baik saja didalam sana.
"Tidak, aku bisa melakukannya sendiri." sahut suara Baekhyun yang teredam oleh suara air yang keluar dari flush kloset yang ia tekan.
Baekhyun mulai menatap cemas pada alat tes ditangannya, menunggu hasil.
Hingga samar-samar satu garis merah mulai muncul disana. Baekhyun menahan nafasnya kuat-kuat, gugup.
Hingga akhirnya ia memekik saat satu garis merah lagi akhirnya muncul.
Ia positif hamil.
Baekhyun tertegun. Ia masih tidak dapat mempercayai keadaan. Dirinya merasa semua ini masih tidak nyata dan saat ini ia tengah bermimpi.
Sambil masih setengah melamun, Baekhyun mendudukkan dirinya diatas kloset yang tertutup, memikirkan segala macam kemungkinan terburuk yang akan ia alami karna sebuah kenyataan tidak terduga yang seharusnya tidak boleh terjadi dihidupnya.
Karna bagaimana bisa Baekhyun menerima begitu saja kenyataan kalau saat ini dirinya tengah hamil sedangkan ia baru saja menyerah pada keinginannya untuk mempunyai anak itu beberapa hari lalu.
Apalagi ditambah saat ini hubungannya dan Chanyeol yang telah berakhir, maka tentu saja hamil disaat seperti ini bukanlah waktu yang tepat untuk dirinya.
Yixing mulai mengetuk pintu kamar mandi dengan tidak sabar, ia mulai khawatir karena Baekhyun yang ia rasa sudah terlalu lama didalam sana.
"Baek, kau baik-baik saja? Kau tidak-"
KLEK
Baekhyun muncul dari balik pintu kamar mandi dengan wajah tertunduk dan tatapan khawatir Yixing yang telah menyambutnya.
"Bagaimana?"
"Hasilnya positif. Aku benar-benar hamil." ucap Baekhyun sambil mengangkat tangannya yang memegang testpack dengan dua garis merah yang tertera jelas disana.
"Syukurlah," ucap Yixing, lalu memeluk Baekhyun dengan erat.
Baekhyun terdiam, ia membiarkan Yixing memeluknya hingga sahabatnya itu melepaskan sendiri rengkuhannya karna merasa tidak mendapatkan respon apapun dari Baekhyun.
"Setidaknya berbahagialah Baek, aku tahu ini masih terlalu mengejutkan untukmu tapi bukankah ini yang kau inginkan selama ini. " Yixing menatap sahabatnya prihatin.
"Haruskah?" sahut Baekhyun tanpa minat.
"Tentu saja, memangnya kau tidak bahagia?"
Baekhyun menghela pelan nafasnya, lalu memutar tubuhnya sambil mengangkat bahu tak acuh dan berjalan melewati Yixing menuju dapur.
Ia mengambil gelas dari lemari penyimpanan, membuka kulkas, mengisi gelasnya dengan air dingin dan dalam satu kali tarikan nafas Baekhyun meneguk habis semuanya.
"Baek, kita perlu membicarakan ini." ucap Yixing yang telah menyusul Baekhyun kedapur.
"Aku tidak ingin membicarakannya."
Yixing menyandarkan tubuhnya pada kusen pintu dapur, sedangkan matanya memandang lekat pada sosok Baekhyun yang tengah menatap datar pada gelas kosong ditangannya.
"Lalu apa yang sekarang akan kau lakukan?"
"Memang menurutmu apa yang harus aku lakukan?" ucap Baekhyun balas bertanya.
"Kau akan merawat bayi itu kan?"
"Tentu saja, aku akan membesarkan bayi ini,"
"Ya, Chanyeol juga pasti akan senang kalau tahu-"
"Tidak!" potong Baekhyun dengan cepat. "Jangan beritahu siapapun, tidak juga dengan Chanyeol."
"Kenapa?" tanya Yixing binggung. "Aku bisa mengerti kalau kau bilang tidak ingin orang lain tahu tentang kehamilanmu, tapi Chanyeol.. Ia berhak tahu."
"Kau pikir ia akan menerimanya? Hubungan ku dengannya baru saja berakhir karna aku mengatakan dirinya-lah penyebab aku tidak bisa hamil, lalu apa menurutmu ia akan menerima kehadiran bayi ini bahkan setelah ia juga menuduhku tidur dengan pria lain?" ucap Baekhyun yang sudah bersiap menumpahkan air matanya.
"Bayi itu.. anak Chanyeol, kan?" tanya Yixing tiba-tiba.
"Tentu saja, kau pikir ini anak siapa!? Kau dengar sendiri saat dokter mengatakan bayi ini berumur tiga minggu. Aku tidak pernah berhubungan dengan pria lain." ujar Baekhyun dengan suara meninggi.
"Jangan bilang kau juga tidak percaya denganku dan menganggap aku hamil karna pria lain?" sorot kecewa terlihat jelas dari mata Baekhyun, dan ia juga sudah tidak bisa lagi menahan air matanya yang seolah tengah berlomba-lomba membasahi pipinya.
Yixing menarik Baekhyun kedalam pelukannya. "Astaga, maafkan aku. Aku bukannya tidak percaya padamu, Baek." ucap Yixing merasa bersalah, "Aku hanya ingin tahu kenapa kau tidak ingin Chanyeol mengetahuinya. Sekali lagi maafkan aku, aku tidak bermaksud mengatakan hal seperti itu." ia merutuki dirinya sendiri karna telah mengatakan hal yang begitu menyakitkan bagi Baekhyun.
"Chanyeol tidak akan mempercayainya, Yixing-ah. Ia tidak akan mau mengakui bayi ini adalah anaknya." ucap Baekhyun memelas, membayangkan betapa menyakitkannya perkataan Chanyeol saat pertengkaran mereka kemarin, Baekhyun tidak yakin kalau Chanyeol justru akan bersenang hati saat menerima kabar kehamilannya.
"Kalau ia tidak percaya, kalian bisa melakukan tes-"
"Tidak! Itu akan menyakiti bayiku, aku tidak akan membiarkannya. Aku lebih baik membesarkan bayiku sendiri," ucap Baekhyun keras kepala.
"Kau tidak akan bisa membesarkannya seorang diri, Baekhyun. Merawat anak itu tidak semudah yang kau pikirkan, kau membutuhkan ayahnya."
Tatapan Baekhyun perlahan mulai melemah, suaranya tercekat saat tiba-tiba terlintas bayang-bayang tentang masa depan anaknya kelak yang mungkin akan tumbuh tanpa sosok seorang ayah seperti dirinya.
Membayangkan kehidupan masa kecilnya dulu membuat Baekhyun merasa seperti merobek luka lama yang sudah coba ia sembuhkan. Masa kanak-kanak yang membuatnya tumbuh dewasa tanpa mempercayai akan janji-janji kehidupan yang lebih baik.
Hingga akhirnya saat ia memutuskan untuk meninggalkan kehidupan bebas yang selama ini ia jalani dan luka masa lalunya dengan menjalin hubungan serius dengan Chanyeol, Baekhyun akhirnya dapat merancang mimpi masa depan yang dulu bahkan tidak pernah terpikirkan olehnya.
Memiliki hubungan romantis, saling memiliki, menikah hingga akhirnya memiliki anak adalah mimpi terbesar yang telah coba Baekhyun rancang didalam hidupnya.
Dan tentu saja memiliki anak tanpa sosok ayahnya tidak pernah masuk kedalam daftar masa depan yang diinginkan oleh Baekhyun.
.
.
.
Chanyeol mengigit ujung filter rokok yang terselip disela bibirnya, menghirup dalam-dalam lalu untuk kesekian kalinya menghembuskan asap pekat itu dari mulutnya dengan putus asa.
Chanyeol masih berusaha memfokuskan dirinya pada layar komputer dan setumpuk kertas lain yang berada diatas meja kerjanya, mengetik beberapa kata sebelum akhirnya menghapusnya kembali.
Ia melirik jam yang melingkar dipergelangan tangannya, pukul sebelas malam. Chanyeol tidak sadar telah menghabiskan banyak waktu kerjanya dengan tanpa menyelesaikan satu pun pekerjaan yang seharusnya ia kerjakan hari itu.
Hingga untuk kesekian kalinya dalam beberapa hari belakangan Chanyeol meraih handphone-nya hanya untuk mendengus kecewa karna tidak menemukan panggilan atau pesan masuk baru disana, seperti yang ia harapkan.
Pria bersurai cokelat itu mengerang pelan, mematikan puntung rokoknya di asbak lalu menenggelamkan kepalanya pada kedua tangan yang ia lipat diatas meja.
Ia memang merasa tubuhnya ada padanya tapi ia juga merasa pikirannya yang melayang entah kemana tanpa raganya.
Chanyeol menyadari semua berawal sejak saat ia tidak menemukan sosok Baekhyun dirumah setelah pertengkaran mereka malam itu.
Chanyeol kira Baekhyun hanya keluar untuk menenangkan dirinya karna pertengkaran itu lalu pada akhirnya akan kembali pulang kerumah, tapi kenyataannya sudah lebih dari tiga hari Baekhyun tidak juga kembali dan Chanyeol juga tidak mengetahui dimana keberadaannya.
Dan sayangnya Chanyeol juga tidak memiliki cukup keberanian untuk menghubungi Baekhyun terlebih dulu sebesar apapun keinginannya itu untuk menanyakan keberadaan Baekhyun, mengigat dirinya lah yang malam itu mengakhiri hubungan mereka dan meminta Baekhyun untuk pergi darinya.
Jadi apa lagi yang bisa Chanyeol harapkan saat ini karna nyatanya dirinya lah yang telah membuat Baekhyun pergi.
"Jadi sekarang kau sudah mulai tertular virus dari kekasihmu, Tuan Park?"
Chanyeol mengangkat wajahnya saat suara seseorang yang sedang berdiri bersandar didepan pintu masuk ruangannya dengan kedua tangan berada di saku celana terdengar.
Chanyeol membulatkan matanya agak terkejut, lalu kemudian tersenyum kecil setelah mengenali sosok tersebut. "Kau datang, Hyung?"
Junmyeon memutar malas bola matanya ketika Chanyeol mulai menegakkan tubuhnya dan beranjak dari balik meja kerjanya menuju sofa besar di tengah ruangan.
Junmyeon masuk dan menghampiri Chanyeol yang telah duduk disana, lalu tiba-tiba mengerutkan keningnya saat mengenali bau bekas asap rokok yang tercium samar-samar dari dalam ruangan tertutup tersebut.
"Kau merokok? Aku tidak tahu,"
"Sedikit, hanya saat sedang stres,"
"Aku kira kau itu pria sempurna yang tidak suka minum alkohol dan merokok, ternyata kau manusiawi juga." ucap Junmyeon berbasa-basi.
Chanyeol tersenyum tipis, lalu menyandarkan lehernya pada sandaran sofa dan mulai memejamkan matanya, tidak berniat membalas ejekan bernada halus dari atasannya tersebut.
Chanyeol memang tidak begitu akrab dengan Junmyeon, walaupun ruang kerja keduanya berada di lantai yang sama. Bahkan Chanyeol baru menyadari kalau ia memang tidak pernah bertemu dengan Junmyeon diluar dari urusan pekerjaan.
Chanyeol memang terkenal jarang bergaul diperusahaan tempatnya bekerja, karna Chanyeol memang merasa tidak terlalu cocok dengan lingkungan pertemanan dikantornya yang lebih sering menghabiskan waktu setelah pulang bekerja dengan mengunjungi klub malam dan bar untuk melepas penat.
Bukan karna ia sombong, tapi Chanyeol yang memiliki sifat tenang dan realistis memang tidak terlalu menyukai hal-hal seperti itu. Dan Junmyeon adalah salah satu dari sekian banyak rekan kerjanya yang memiliki kebiasaan yang tidak disukai Chanyeol tersebut.
Tapi mungkin naluri sesama lelaki yang membuat Chanyeol tidak terlalu canggung saat berhadapan dengan Junmyeon saat ini, mengingat keduanya tidak pernah menghabiskan waktu berdua saja untuk membahas hal pribadi, akan tetapi Junmyeon yang seolah telah mengetahui masalah yang ia alami tanpa perlu bertanya terlebih dulu, membuat Chanyeol tidak keberatan saat atasannya itu mendatangi ruangannya saat hampir tengah malam seperti sekarang.
"Lalu, apa sekarang gantian kau yang sedang mengalami fase itu? Aku kira hanya Baekhyun saja yang merasakannya."
"Fase apa?"
"Uring-uringan, suasana hati yang buruk dan tidak bisa berkonsentrasi dengan pekerjaan. Kau tidak sadar telah melakukannya?" ucap Junmyeon setelah menghela nafas dan ikut menyandarkan punggungnya di sofa.
"Aku melakukannya?" Chanyeol mengangkat alisnya, lalu mengatupkan bibirnya setelah menyadari kalau ia memang melakukannya. "Ya, aku mungkin melakukannya." ucapnya pasrah.
Junmyeon mengangkat bahunya, tidak berniat untuk bertanya lebih jauh lagi.
Karna apa? Alasan yang akan didengarnya mungkin akan sama dengan apa yang Baekhyun katakan beberapa waktu yang lalu padanya, jadi untuk apa bertanya.
"Kau butuh cuti?" tawarnya kemudian.
"Tidak, tidak perlu." Chanyeol berusaha mengatakannya seringan mungkin.
"Lalu kau akan begini terus setiap hari?"
Chanyeol menegakkan tubuhnya, "Tapi aku baik-baik saja, Hyung." ucapnya sambil menatap datar pada Junmyeon dengan wajah lelah dan lingkaran hitam disekitar matanya.
"Kau bilang baik-baik saja setelah mengacaukan presentasi dengan klien China pagi tadi dan akhirnya aku harus turun tangan sendiri untuk menyelesaikannya?"
"Kontrak perjanjiannya belum selesai dan aku terlambat bangun pagi tadi-"
"Maka dari itu, saat ini kau tidak sedang baik-baik saja, Park Chanyeol-ssi." ucap Junmyeon dengan nada serius.
Junmyeon sudah tidak tahan lagi, ia dan prinsip kerja sempurnanya tidak lagi bisa mentolerir Chanyeol yang sedang dalam keadaan kacau balau seperti ini untuk menghabiskan waktunya dibalik meja kerja.
"Apa hubungan kalian semakin memburuk? Aku kira dengan memberikan Baekhyun cuti bisa membantu memperbaiki hubungan kalian."
"Entah, aku juga tidak tahu darimana awalnya letak semua kesalahan pada hubungan kami, sampai semuanya menjadi berantakan seperti ini." ucap Chanyeol bersuara rendah, nyaris tidak terdengar.
Junmyeon menghela pelan nafasnya. "Pulang lah, lagipula sekarang hampir tengah malam, tidak ada gunanya kau menghabiskan waktu lemburmu hanya dengan duduk diam dibalik meja kerja tanpa melakukan apapun seperti itu,"
Chanyeol hendak mengatakan sesuatu, sebelum Junmyeon berdiri dari sofa dan memberi tanda agar Chanyeol tidak mengatakan apapun lagi.
"Liburlah satu atau dua hari untuk sekarang, aku tidak ingin mempekerjakan pengacara yang tidak bisa berkonsentrasi dengan pekerjaannya." Junmyeon sudah hampir keluar dari ruangannya. "Lakukan saja, aku memberikan waktu cuti supaya kau dapat membuat pikiranmu kembali jernih ." ucapnya sambil berlalu kembali keruangannya sendiri.
.
.
.
Chanyeol mengerang kesal saat suara denting bel yang berasal dari depan pintu rumahnya terdengar.
Ia berusaha mengabaikan dengan menyambar bantal sofa diujung kakinya untuk menutup telinga dan kembali tidur, berharap si-pelaku-penekan-bel akan menyerah setelah beberapa lama pintu depan yang tidak kunjung dibuka.
Dan sialnya tepat saat ia nyaris kembali ke alam mimpi suara denting bel itu kembali terdengar.
Sambil bersumpah serapah Chanyeol melempar bantal sofa yang tadi digunakannya untuk menutup telinga keujung ruangan dan berusaha bangkit dari sofa ruang tengah yang ia tiduri semalam.
Sambil masih memegang kepala yang terasa sakit karna efek hangover dari alkohol yang ia minum semalam, Chanyeol menyeret kakinya menuju pintu depan.
Sungguh keterlaluan, dari sekian banyak hari kenapa Chanyeol tidak bisa beristirahat dengan tenang justru disaat ia sedang menikmati waktu cuti pertamanya dari setelah nyaris empat tahun ia mulai bekerja.
Lagipula bukankah sudah jelas saat kalian bertamu kerumah orang lain dan saat beberapa kali menekan bel pintu dan tidak ada jawaban pertanda bahwa si pemilik rumah sedang tidak ada ditempat atau bisa juga sedang tidak ingin diganggu, seperti Chanyeol saat ini.
Tetapi mata Chanyeol tiba-tiba membulat sempurna, hilang sudah rasa kantuknya saat mengenali sosok yang berdiri dibalik pintu rumahnya tersebut.
"Hai, Chanyeol. Maaf, apa aku mengganggu?" sapa ramah 'si pelaku' yang menekan bel pintu rumahnya yang ternyata-
"Oh, Yixing-ah."
-adalah sahabat Baekhyun.
Chanyeol mengerjap dengan cepat, lalu mengumpat didalam hati saat menyadari betapa berantakan penampilannya saat ini untuk menerima tamu dengan celana kain panjang yang menggantung malas dipinggulnya dan tubuh atas yang tidak terbalut kaus serta rambut coklatnya yang mencuat berantakan seperti sarang burung.
"Apa aku harus kembali lagi lain hari?" Yixing mengigit ujung bibirnya serba salah.
Dan Chanyeol menggeleng cepat, "Tidak, masuklah kedalam." ucap Chanyeol sambil menggeser tubuhnya dan mempersilahkan Yixing masuk kedalam.
Yixing tersenyum sopan, kemudian segera melangkahkan kakinya masuk kedalam.
"Aku melihat mobilmu masih didepan jadi aku tahu kau belum berangkat bekerja dan masih ada didalam. Jadi aku menekan bel, aku tidak tahu kau ternyata masih terti... dur,"
Yixing tertegun setelah sampai diruang tengah rumah Chanyeol yang biasanya selalu terlihat rapi tapi kini menjadi berantakan dengan satu botol wine kosong dan bekas semangkuk jajangmyeon yang masih tersisa separuh diatas meja, dan televisi besar yang masih menyala sepertinya hampir semalaman serta beberapa bantal sofa yang terjatuh dilantai.
"Aku sedang cuti dan semalam aku ketiduran diruang tengah," Chanyeol menjelaskan dengan cepat seolah takut terjadi salah paham, lalu berusaha merapikan kekacauan yang telah ia buat diruang tengah.
Yixing tersenyum kecil. "Kau tidak perlu menjelaskannya."
Chanyeol balas tertawa canggung sambil masih berusaha menyingkirkan botol wine kosong dari atas meja lalu memakai kausnya yang semalam ia lepas dan tergeletak diujung sofa.
"Ngomong-ngomong ada apa?" tanya Chanyeol sambil mengusap belakang kepalanya berusaha menghilangkan kecanggungan diantara mereka.
"Hm, sebenarnya aku kesini untuk mengambil beberapa barang milik Baekhyun," ucap Yixing pelan, melirik dari sudut matanya untuk memperhatikan reaksi Chanyeol terhadap ucapannya.
Chanyeol terdiam.
Raut wajahnya yang mendadak berubah, seolah menunjukkan kalau ia memiliki sesuatu yang mengganggu di dalam pikirkannya akibat dari perkataan Yixing barusan .
"Ia akan pergi?" tanyanya kemudian, pelan bahkan nyaris berbisik.
"Tidak, Baekhyun hanya memintaku untuk mengambil beberapa pakaian miliknya, sekarang Baekhyun ada dihotel tempatku menginap dan ia membutuhkan pakaiannya untuk tinggal beberapa waktu disana." jelas Yixing seolah dapat membaca apa yang ada didalam pikiran Chanyeol.
Chanyeol memaksakan dirinya untuk tersenyum, "Barang-barangnya masih ada dikamar atas, kau bisa mengambilnya." lalu kembali menyibukkan dirinya pada bantal sofa dilantai dan merapikanya ketempat semula.
Yixing mengangguk, lalu berjalan menuju kamar dilantai atas dimana barang-barang Baekhyun berada.
Membiarkan Chanyeol berpura-pura sibuk dengan pikirannya sendiri, Yixing tahu kalau saat ini Chanyeol hanya sedang bersikap seolah baik-baik saja dengan menyibukkan diri dan menyembunyikan perasaannya.
.
.
.
Lima belas menit kemudian Chanyeol sudah selesai membereskan semua kekacauan diruang tengahnya.
Ia berjalan pelan menuju kamar utama dilantai atas yang pintunya terbuka lebar, kamar yang dulu ia tempati dengan Baekhyun.
Mengintip sesaat kedalam kamar tersebut dan ia dapat melihat Yixing yang sedang berjinjit dengan kedua ujung jari kakinya untuk meraih tumpukan pakaian yang berada dibagian atas dari lemari.
"Butuh bantuan?" tawar Chanyeol.
Yixing tertawa kecil, membalikkan tubuhnya lalu mengangguk. "Kalau kau tidak keberatan, aku tidak bisa menggapai tumpukan sweater dibagian atas."
Chanyeol dengan mudah meraih beberapa tumpukan sweater Baekhyun dan menyerahkannya pada Yixing untuk dimasukkan kedalam koper yang sudah terisi barang-barang lainnya.
"Apa ia baik-baik saja?" tanya Chanyeol tiba-tiba sambil berdeham pelan setelahnya.
"Ia baik-baik saja, hanya saja nafsu makannya yang begitu meningkat akhir-akhir ini dan itu membuatku cukup gila." jawab Yixing sambil tertawa lucu.
"Baguslah, ia sepertinya bahagia." balas Chanyeol datar dan tanpa ekspresi.
Seharusnya Chanyeol tidak bertanya kalau akhirnya ia malah menyesal karna pertanyaannya itu sekarang membuatnya mengetahui kalau hidup Baekhyun baik-baik saja tanpa dirinya.
Dan juga menyadari keputusannya untuk melepas Baekhyun ternyata memang jalan yang terbaik untuk hubungan mereka.
"Atau sepertinya mungkin tidak," balas Yixing dengan raut serius.
Yixing menahan dirinya untuk tidak mengatakan sebuah kenyataan yang saat ini sudah nyaris berada diujung lidahnya. Ia masih berusaha untuk tidak melanggar janjinya pada Baekhyun untuk merahasiakan hal itu, terutama dari sosok Chanyeol.
Sedangkan Chanyeol hanya terdiam sesaat, lalu menarik ujung bibirnya dan tersenyum tipis. Ia hanya tidak tahu harus memberikan respon seperti apa atas perkataan Yixing.
Yixing hendak mengatakan sesuatu sebelum Chanyeol justru berjalan melewatinya menuju lemari pakaian lain disebelahnya.
"Sepertinya kau juga harus membawa ini." Chanyeol menyerahkan setumpuk hoodie yang baru ia ambil dari tumpukan pakaiannya. "Baekhyun biasanya suka memakai hoodie, itu membuatnya merasa nyaman saat berada dirumah."
Yixing menunduk menatap beberapa hoodie yang diberikan Chanyeol padanya, dari tumpukannya yang terlihat besar, Yixing dapat memastikan kalau itu bukanlah pakaian milik Baekhyun.
"Apa ini milikmu?"
Chanyeol tersentak, ia baru sadar kalau dirinya baru saja menyerahkan pakaian miliknya untuk diberikan kepada Baekhyun.
"Oh maaf, Baekhyun pasti tidak menginginkannya."
Baru saja Chanyeol ingin mengambil kembali hoodie yang tadi diberikannya pada Yixing, sebelum Yixing dengan cepat menjauhkannya dari jangkauan tangan Chanyeol dan buru-buru memasukkannya kedalam koper.
"Siapa yang tahu, mungkin Baekhyun akan senang kalau aku membawa pakaian yang memang sering dipakainya."
"Tapi-"
Yixing kembali membalikkan tubuhnya untuk menghadap Chanyeol, lalu menatap pria itu dengan raut wajah serius.
"Baekhyun tidak meninggalkanmu Chanyeol," ucap Yixing seolah dapat membaca jalan pikiran Chanyeol saat ini. "Ia hanya sedang membutuhkan waktu untuk dirinya sendiri, dan aku rasa kau pun juga begitu."
Chanyeol menghela nafas panjang, lalu balas menatap Yixing sambil masih terdiam tanpa berniat untuk membalas.
Karna ia tidak memiliki hal apapun lagi untuk dikatakan, bagi Chanyeol hubungannya dengan Baekhyun sudah berakhir sejak saat Baekhyun meninggalkan rumahnya dan semakin yakin setelah Yixing datang kerumahnya pagi ini untuk mengambil beberapa barang milik mantan-kekasihnya tersebut. Bolehkah sekarang Chanyeol menyebutnya seperti itu.
Hanya tinggal menunggu waktu saja sampai Baekhyun mendatanginya sendiri, mengucapkan perpisahan yang layak dan mengambil seluruh barang-barang miliknya yang ada dirumah Chanyeol dan benar-benar menghilang dari hidupnya.
"Boleh aku meminta satu hal darimu?" sela Yixing tiba-tiba memecah pikiran Chanyeol.
Chanyeol menaikkan alisnya. "Apa?"
Yixing mengigit bibir bawahnya sebelum melanjutkan, "Bisakah kau untuk tidak menyerah pada Baekhyun? Maksudku, kau harus mempertahankannya sebesar apapun keinginanmu untuk melepaskannya pergi."
"Tapi ia tidak akan bahagia denganku, aku tidak bisa memaksanya."
"Aku tidak tahu pasti dengan perasaanmu tapi aku berani bertaruh kalau Baekhyun masih sangat mencintaimu sampai dengan saat ini." lanjut Yixing dengan raut wajah meyakinkan.
Chanyeol terlihat berpikir sejenak, sebelum menjawab. "Itu bukan cinta, itu hanya obsesinya. Ia tidak benar-benar mencintaiku."
Yixing terperangah, ditatapnya Chanyeol dengan pandangan tidak percaya. "Kenapa kau berpikir seperti itu?"
"Selama ini yang Baekhyun inginkan dariku adalah seorang anak dan aku tidak bisa memberikannya, bahkan aku tidak pernah sekalipun mendukungnya atas segala usaha yang telah ia lakukan untuk mewujudkan keinginannya itu, padahal ternyata aku lah penyebab kenapa ia tidak bisa memilikinya." lanjutnya bersuara rendah, merasa menyesal.
Chanyeol tidak ingin menutup matanya akan kenyataan yang harus diterimanya akibat pertengkarannya dengan Baekhyun beberapa waktu lalu, semua pengakuan Baekhyun malam itu dan alasan mengapa ini semua bisa terjadi sudah cukup menegaskan bahwa sebenarnya hubungan mereka akhir-akhir ini hanya dilandasi dengan obsesi dan bukan lagi cinta.
Yixing meremas kuat surai abu-abunya. "Tidak, itu tidak benar. Astaga, aku bisa gila." keluhnya sambil mendengus kesal.
Chanyeol menatap sahabat Baekhyun itu dengan raut wajah binggung.
Sedangkan Yixing semakin kuat menggigit ujung bibirnya. "Sebenarnya ada suatu hal yang telah terjadi, tapi aku tidak bisa mengatakannya padamu karna memang aku tidak memiliki hak untuk melakukan hal itu,"
"Suatu hal apa?" ucap Chanyeol semakin binggung, Yixing seperti ingin mengatakan sesuatu tapi ia terlihat begitu menahannya sedari tadi sehingga membuat Chanyeol menjadi penasaran.
Yixing mengeram frustasi. "Persetan! Mungkin Baekhyun akan marah padaku kalau aku mengatakan yang sebenarnya, tapi aku tidak perduli lagi, aku benar-benar tidak bisa melihat kalian berdua saling menyiksa seperti ini."
Yixing menelan ludahnya gugup lalu ia menarik nafasnya dalam-dalam sebelum menatap lekat pada mata Chanyeol, berusaha membenarkan perbuatannya kali ini yang untuk pertama kalinya akan melanggar janjinya dengan sahabatnya sendiri.
"Baekhyun hamil, saat ini didalam perutnya ada bayi berumur tiga minggu-" ucap Yixing menggantung kalimatnya hanya untuk melihat bagaimana reaksi Chanyeol sesaat.
"..dan bayi itu adalah anakmu, Chanyeol." lanjutnya kemudian.
Sedangkan dilain sisi Chanyeol telah membulatkan matanya, ia terdiam sepersekian detik hanya untuk mencoba mengulang kembali ingatannya tentang ucapan Yixing atau untuk mengetes pendengarannya yang mungkin saja salah dengar.
Hingga saat ia melihat raut wajah serius dari sosok sahabat mantan-kekasihnya itu, Chanyeol tiba-tiba merasa telah kehilangan seluruh kalimatnya hanya untuk meminta penjelasan atas perkataaan Yixing barusan.
-To Be Continued-
Yeah, akhirnya bisa update juga /hehe/
Maaf buat yang bolak-balik nanya kelanjutkan ff ini karna aku yang akhir-akhir ini lagi disibukkan dengan jam pulang kerja kantor yang enggak tentu /huhu/
Dan maafkan kalo ada beberapa typo di ff ini karna aku ngetiknya pun kadang di sela-sela jam kerja jadi kadang enggak diperiksa ulang lagi /hehe/
Just info, ff ini akan end 1 atau 2 chapter lagi ya, tapi seperti biasa jangan berharap ff ini bakal fast update /haha/
Ask me for question by PM or Line ID chococone53 /bye/
