Dear Mello

Author: SheilaLuv, salah satu rabid fangirl Mello yang mulai dihantui obsesinya sendiri -dodges rotten tomatoes-

Disclaimer: Death Note is the property of Ooba Tsugumi and Obata Takeshi. Hanya isi cerita dan plot yang menjadi properti pribadi saya.

Timeline: Mello, 10 tahun. Salah satu momen di Wammy's House.

Thanks buat nae-rossi chan, .cho.d-chocolicious, lovely lucifer, Moy'n Kouzuki, Dani Shijou, GoodBoyTobi, dan Uchiha Yuki-chan atas review-review yang suportif! Maaf kalo masih ada yang belum dibales lewat PM, Infan atau FS, saya sedang dibanjiri tugas. DX But the show must go on, right?

Dedicated for my dear virtual sister, Isumi-chan (isumi 'kivic'). Happy birthday, sista! Saya memang gak bisa ngasih hadiah yang pantas, tapi saya harap sedikit asupan fluff bisa menceriakan hari Isumi-chan, ya? –hugs- May the Force of MelloNear be with you, mwahahaha… XD

There, in friend's genuine heart, you'll find peace and ease, my dear Mello.

Enjoy!


11

-Kanvas-

Bertahun-tahun lalu, sebelum L pergi untuk selamanya, sebelum Mello dikuasai desakan hati untuk mengalahkan Near dalam setiap hal, sebelum tekanan persaingan menjauhkan mereka dari kemungkinan untuk saling menatap tanpa rasa canggung hingga mengakibatkan kumpulan rasa tak bernama belum singgah dan menjamur di hatinya, memenuhi pikirannya hanya dengan satu sosok, satu nama, satu pribadi untuk dijatuhkan: Near—obsesi yang mendarah daging itu belumlah tercipta.

Di waktu-waktu seperti itu, ketika kepolosan masih belum meninggalkannya sepenuhnya, Mello bahkan tak begitu peduli apakah mereka berada di kubu yang berlawanan; apakah suatu saat mereka harus berpisah jalan, apakah suatu hari nanti L hanya akan memilih salah satu dari mereka sebagai pewaris namanya.

Karena dia tidaklah menyimpan prasangka tak berarti.

Kala itu, yang penting baginya hanyalah L yang hadir di sisinya. Hidup, bernafas, kekal menghiasi dunianya.

Near sendiri belum menjadi misteri tak terdefinisi yang mengancam keteguhan hatinya—Near hanyalah Near; figur ringkih penuh perhitungan dalam setiap langkahnya, bocah berotak brilian namun lemah dalam hal fisik, sekaligus satu-satunya anak yang tidak menunjukkan rasa takut sedikit pun manakala kemarahan Mello bangkit.

Dia hanya Near semata, dan Mello adalah Mello, senantiasa.

Ingatannya sama sekali belum pudar, segala detil terkecil tetaplah terbayang sebening embun. Pada waktu itu, Mello masih berumur 10 tahun—dan Near sendiri, katakanlah, masih berusia 8 tahun. Masih berupa tunas-tunas muda yang bertumbuh pesat, jiwa mereka pada masa itu.

Mello bisa dengan mudah bicara pada Near, dan meski Near tak selalu merespon, meski Near hampir tak pernah menatap matanya berlama-lama, Mello tahu Near mendengarkannya, kata demi kata, tanpa jeda. Acapkali Mello memperhatikan dengan seksama bagaimana halusnya nafas Near berhembus, bagaimana jemarinya melingkar di rambutnya saat dia sedang berpikir serius, bagaimana suaranya mengalun dalam nada-nada halus namun menyimpan kekuatan tersembunyi.

Oh, mungkinkah momen-momen seperti itu sungguh-sungguh terjadi? Terkadang Mello merasa semuanya hanya keping-keping mozaik yang sudah terlupa—namun berkas-berkas sinarnya masih saja menyusup di relung hatinya.

Dia tak akan pernah lupa, kali pertama ketika akhirnya Near menatapnya lurus-lurus, suaranya tegas penuh autoritas, dan betapa dia terpaku di tempat karena Near berkata,''Saya ingin melukis Mello. Sekarang juga.''

Near menepati kata-katanya. Dia tak pernah menariknya kembali. Mello sadar sepenuhnya, kedua mata itu berbicara padanya dengan seribu makna yang hanya bisa dipahaminya. Maka dia mengangguk, terhipnotis, dikontrol sepenuhnya, tak sekalipun memberontak.

Mello membiarkan Near mengabadikan sosoknya dalam sapuan kuas yang menari dengan anggun di atas permukaan kanvas. Mengherankan, sebab dia tak menyangka Near mampu memukaunya hanya dalam satu aksi sederhana. Siang digusur senja, senja pun berganti malam, tapi dia telah kehilangan hitungan waktu. Antusiasme bercampur kegelisahan melandanya.

Apa yang dilihatnya dalam diriku? Seperti apa sosokku di matanya?

Momen pertama saat Mello mengetahuinya, semua penghalang berupa dinding kebisuan yang dulu membubung sontak runtuh. Pelangi terindah seolah lumer di matanya, terpesona mengamati mahakarya realisme yang disuguhkan Near. Keindahan yang terlukis di atas kanvas merupakan segala elemen yang melekat pada dirinya. Bola mata sewarna birunya langit yang membentang tanpa tepi. Helai-helai rambut pirang keemasan. Raut wajah yang elok. Senyuman yang diperciki nyala kebanggaan. Tegarnya pahatan tubuh dan konstruksi rangka.

Namun sentuhan final yang paling menggelitik kesadarannya hadir dalam wujud yang tidak terduga.

Pantulan sosok Near di kedua bola matanya tergurat jelas, berpendar memancarkan kilauan penuh daya pikat, sementara kedua lengan kokoh seputih pualam melingkari pundaknya, merengkuhnya erat-erat dari belakang—pelukan protektif dari mentor sekaligus pusat dunianya, L.

Impresif. Meneduhkan hatinya dalam sekejap. Membuat bibirnya kelu, termangu bisu.

Sesaat, waktu seolah terhenti. Detik-detik berdetak dalam harmoninya melodi. Mello terpana. Tersihir oleh mantra yang terpancar dari semburat warna-warni seni.

"Mello boleh menyimpannya,'' putus Near sembari membereskan kuas dan paletnya, kelihatan letih namun puas. Menyadari gelagat Mello yang tidak biasa, dia menambahkan,''kalau Mello menginginkannya, tentu saja.''

"Yeah! Tentu, aku—aku...,'' dia tergagap,''kau pikir aku akan meninggalkannya begitu saja? Setidaknya kau sudah berusaha,'' ujarnya. Mello melempar pandang aneh pada Near sesaat, lalu berkata,''Near, mungkin kau tidak diluar jangkauan seperti yang kukira.''

Dia mampu memahami duniaku dengan caranya.

Mello mengulurkan tangan kanannya pada Near, mantap. "Teman?''

Near ragu-ragu sejenak, hingga akhirnya senyuman lembut merekah dari bibir mungilnya. Jemari pucatnya segera bertaut dengan jemari kecokelatan milik Mello. "Teman,'' balasnya.

Kulit mereka saling memagut. Hangat, melekat kuat.

Hitam maupun putih tak lagi berarti ketika seribu warna jiwa berpijar dari senyum keduanya.

Kisah dan lembar baru dalam buku kehidupan pun dimulai.


Author's note: Siapa bilang Mello dan Near gak bisa jadi teman baik? Saya yakin, sebelum mereka dewasa dan aura persaingan memanas, mereka berdua tetaplah bocah-bocah kecil yang mendambakan persahabatan. Meski kepribadian keduanya berbeda, mereka sesungguhnya saling mengerti dengan sempurna. Duo Near dan Mello-lah yang akhirnya bisa mengalahkan Kira, menuntaskan apa yang telah ditinggalkan L. Mereka berdua memang dua sisi dunia yang saling melengkapi. –ngibarin panji MelloNear-

Komentar, tanggapan, kritik, saya terima dengan senang hati lewat review. XD Sampai jumpa di chapter selanjutnya!