| HUNHAN | DARK & GOLD | CHAPTER 11 |
Author : LarasAfrilia1771
Genre : Drama, Angst, Tragedy, YAOI, Romance, Little action
Cast : Lu Han
Oh Sehun
Wu Yifan
Park Chanyeol
Byun Baekhyun
.
A/N : Judul FF ini terispirasi dari salah satu iklan kesukaan saya. Cerita milik saya almiah, buka remake apalagi jiplak punya orang. Tanpa ada unsur menjelek - jelekkan tokoh saya ciptakan ff ini (?) Juga Luhan punya keluarganya semua member juga kecuali sehun yang mutlak punya saya bhaqq ^o^
.
.
Summary
Setiap orangtua pasti ingin anaknya menjadi penerus keluarga. Orangtua yang berpangkat jendral dengan kekayaan berlimpah tak menjamin keinginannya pada Luhan sang anak bungsu. Luhan terlahir dengan figur yang berbeda dari keluarga kemiliteran Choi. Lemah lembut, penyayang juga cantik meski Luhan seorang namja. Keluarga Choi menjadi khawatir akan hal itu, mereka takut Luhan akan diperebutkan oleh siapapun yang menginginkannya.
.
.
.
_Sebelumnya_
Sehun berpikir, ia mulai mengingat kembali kejadian waktu itu. Tidak mungkin jika ini adalah milik Luhan karena waktu mereka membawanya dari rumah sakit, namja cantik itu tidak membawa apa – apa.
Tangannya menekan tombol on pada siisan ponsel itu. Dan segera layar pipih ditangannya menampilkan sebuah wallpaper yang membuat Sehun menyeringai ke arahnya.
"Kau akan mengenalnya Yeol"
.
.
.
_D&G_
Malam sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Baekhyun dengan pandangan kosongnya hanya bisa menerima setiap kecupan yang ia terima dari sang kekasih. Baekhyun hanya diam saat bibir itu dicium beberapa detik sebelum ia menyudahi dengan mendorong sedikit dada bidang itu.
Di perjalanan menuju apathemen Baekhyun tadi, suasana sangatlah hening. Rintik hujan yang turun membuat suasana itu menjadi lebih kaku. Baekhyun tidak mau untuk sekedar berbicara dengannya, itu tidak seperti biasanya dan Yifan merasa kesal. Bukan kesal terhadap Baekhyun, ia hanya kesal pada dirinya yang membuat Baekhyun seperti itu.
Yifan menatap Baekhyun penuh kepahaman, ia masih mengerti dengan perasaan Baekhyun sekarang. Meminta maaf saja mungkin tidak cukup, dan Yifan merasa bersalah sekali karena telah membentak Baekhyun saat dirumah tadi. Ia tahu Baekhyun adalah orang yang sangat sensitif.
"Maaf aku tidak bermaksud seperti itu" Ucapan Yifan memang penuh ketulusan, namun Baekhyun sedikit menampik itu. Ia rasa Yifan adalah pribadi yang egois.
Baekhyun tidak membalas, karena kecupan terakhir yang diberikan Yifan tepat didahi membuatnya ingin segera masuk kedalam apathemennya. Ia menyudahi itu semua, tanpa salam perpisahan dan namja mungil itu segera melenggang masuk. Meninggalkan Yifan yang menatapnya sedih. Ini semua memangnya salahnya, namun ia pun bingung untuk bertindak bagaimana lagi. Dan sepertinya ia tak akan mengikut campurkan Baekhyun dalam masalah Luhan kali ini.
Dan ditengah rintik hujan yang turun. Namja tampan itu berbalik untuk kembali menuju mobilnya, juga Baekhyun yang nampak sudah benar – benar masuk kedalam gedung tersebut.
.
.
Setelah memencet beberapa digit kata sandi apathemennya, Baekhyun segera berjalan terburu – buru menuju dapur di sudut ruangan itu. Dengan perasaan seperti ini Bakehyun ingin sekali meminum sesuatu yang membuat otaknya segar lagi.
Dengan cepat ia membuka isi kulkas, mencari sebotoh air mineral dan menuangkannya kedalam gelas sebelum meminumnya.
Untuk perlakuan dirinya pada Yifan tadi, ia pikir itu masih dalam hal yang wajar. Itu memang bukan sepenuhnya salah Yifan. Ia mengerti kondisi Yifan tadi. Kekasihnya pasti sangat emosi mengetahui adiknya sepetri itu. Ya, Baekhyun sangat mengerti meskipun pada akhirnya ia pun menjadi kesal sendiri dengan Yifan karena telah membentaknya. Tak tahukah ia sangat tidak suka dibentak seperti itu.
Baekhyun menghela napas berat. Berjalan menuju lemari dikamarnya dan segera mengganti pakaian yang masih ia pakai sekarang. Tidak baik juga mandi di waktu yang sudah hampir larut seperti ini, dan ia pikir sekedar mengganti baju saja kemudian lekas tidur.
Ia mencoba untuk naik keatas ranjang, merogoh isi tas untuk mengambil ponsel yang ada disana. Ia sebenarnya memiliki dua ponsel sekarang. Karena satu ponsel untuk semua urusan pekerjaan, dan satu lagi untuk pribadi. Tapi belakang ini ia tak menemukan ponsel satunya lagi. Entah hilang dimana ia tak mengerti, pantas saja sejak di rumah sakit tadi banyak temannya yang bertanya jika dirinya selalu tidak mengangkat panggilan dan semacamnya. Baekhyun juga tidak menyadari jika ponselnya yang dikhususkan untuk pekerjaan hilang sekarang.
"Oh ayolah, kenapa ponsel itu harus hilang" Baekhyun merengek, ia mengambil posel pribadinya yang berdering. Siapa orang yang malam – malam seperti ini mengganggunya.
Apa mungkin Yifan?, tidak mungkin.
Baekhyun segera meraih ponsel itu. Melihat nama siapa yang menghubunginya malam – malam seperti ini.
"Hanya nomer saja?"
Tanpa menunggu lebih lama ia segera mengangkat itu. Suasana ruangan sangatlah hening, hanya suara rintik huja yang terdengar dari luar. Untung saja tak ada petir, jika benar ada sudah dipastikan ia akan bangun dengan kantung mata yang sangat baik.
"Yeobboseo?"
"..."
Tak ada jawaban dari seberang. Baekhyun mengerutkan alisnya, kenapa belum ada yang membalas juga.
"Nuguseyeo?" Ulang Baekhyun.
Beberapa lama Baekhyun menunggu akhirnya orang di seberang sanapun akhirnya berbicara. Sontak raut wajah Baekhyun berubah saat mendengar suara siapa yang ia dengar sekarang. Ini jelas sangat familiar sekali, ohh ayolah Baekhyun tidak sedang bermimpi bukan?
"Apa kabar Baekhyun"
"Chanyeol?"
Baekhyun tidak bisa untuk berkata apa – apa sekarang. Suara ini membuatnya teringat dengan Chanyeol. Ya, suara bass yang sontak membuat bulukuduknya berdiri.
"Apa itu kau, tolong jawan aku!" Baekhyun mengulang, ia ingin memastikan kebenarannya. Jika itu benar adalah Chanyeol, Baekhyun pikir ia akan senang sekali sekarang.
"Ne"
Suara dari seberang sana membuat jantungnya berdegup lebih cepat. Baekhyun merasa kosong, entah kenapa perasaannya menjadi seperti ini. Antara takut dan juga senang.
"Malam ini di Cafe Lotus, pinggiran Gangnam"
Sambungan diputus secara sepihak oleh Chanyeol. Belum apa –apa Baekhyun sudah melonjak dari posisinya sekarang.
Ia mengambil mantel yang tergantung disisi pintu dengan terburu – buru. Dengan memakai kaos lengan pendek berwarna putih dan celana tibur Bakehyun segera melesat pergi. Ia tak memperdulikan penampilannya sekarang, dan ia pun lupa jika ia masih mengenakan sandal rumah.
"Uhh Sialan" Baekhyun menggerutu sepanjang jalan. Dengan menggunakan payung ia berusaha keluar dari pekarangan apathemen itu. Ia tahu tempat yang Chanyeol bilang tadi. Tempat itu tidak jauh dari gedung apathemennya, dan sekarang dengan penampilan seperti ini Baekhyun berjalan sambil membawa payung. Menembus hujan yang lama kelamaan semakin basar.
Langkahnya sedikit lebih cepat. Baekhyun sangat penasaran tentang ini. Sangat penasaran, karena melibatkan seseorang yang sudah tak ada kabarnya beberapa hari ini.
Seoul memang tidak pernah sepi, terbukti di malam ini aktifitas masih terjadi. Ini memang pusat kota dan Baekhyun tidak heran jika seperti itu.
Langkahnya terus ia bawa menuju tempat yang dimaksud. Baekhyun menatap cafe yang memang dibuka duapupuh empat jama tersebut. Dari kaca besar itu Baekhyun bisa melihat namja berperawakan tinggi yang kini sedang menyesap kopinya. Sontak jantung Baekhyun kembali berpacu kencang, ia seperti sedang berada dalam situasi yang sangat membingungkan.
Beberapa detik Baekhyun terdiam dan belum beranjak dari tempatnya. Hingga seseorang yang ditatap menoleh. Wajahnya tertutup masker hitam dengan topi yang ia kenakan. Baekhyun mungkin tak salah lagi, disana adalah Chanyeol yang sedari tadi menunggunya.
Dengan langkah yang berat Baekhyun berjalan masuk. Pintu cafe berbunyi menandakan jika ada pelayan yang datang.
Chanyeol yang sedari tadi memandang Baekhyun hanya bisa tersenyum didalam masker tersebut. Ia tidak akan membukanya jika Baekhyun belum benar – benar berada dihadapannya. Namja tinggi itu berdiri saat dirasa Baekhyun belum kunjung untuk mendekat. Ia sangat paham seklai jika Baekhyun sangalah kaget dengan kedatangannya sekarang. Namun apa boleh buat, dibalik ini semua sesungguhnya Chanyeol sangat merindukan Baekhyun.
"Chanyeol"
Entah kenapa suara Baekhyun nampak sangat lembut ditelinganya. Chanyeol membuka masker hitam itu, dan tersenyum saat namja mungil itu perlahan mendekat. Dan dugaan sebelumnya yang Chanyeol bayangkan akan seperti di film romansa pupus sudah, saat ia merasakan perih pada pipi kirinya. Ya, Baekhyun menamparnya.
PLAK
"Kau memang brengsek"
Chanyeol menatap Baekhyun dengan pandangan yang lain saat namja mungil itu menatapnya dengan tajam.
"-Berhentilah membuatku seperti ini..hikss" Rasa sesak yang dirasakan Chanyeol saat melihat namja mungil itu tengah menangis dihadapannya. Baekhyun menepis semua isak tangisnya, mencoba untuk menahannya sekuat mungkin namun ia rasa tetap saja.
"-Kau" Tunjuk Baekhyun padanya "-Membuatku gila..hiks"
Chanyeol tak tahu bagaimana mengutarakan perasaannya sekarang. Tujuannya sekarang hanya ingin bertemu Baekhyun, itu saja.
"Kau membuatnku seakan ingin mati ketika tak ada kabar sama sekali darimu. Aku pikir kau sudah dibunuh oleh Yifan dan tak akan kembali. Tapi kenapa? Kenapa kau kembali dengan tampang bodohmu itu..Hikss.. Aku seperti bermimpi sekarang. Dan bisakah kau bangunkan aku?" Perntanyaan konyol Baekhyun membuat Chanyeol seakan ingin tertawa terbahak – bahak. Oh ayolah Baekhyun ini buka situasi yang tepat untuk membuat lelucon.
Baekhyun masih menunggu balasannya, namun tak kunjung dibalas oleh Chanyeol. Dan hal itu membuat Baekhyun menangis tersedu – sedu di cafe itu. Menjadi bahan tontonan disana, dan Chanyeol meminta maaf pada seorang pelayan yang kebetulan lewat disitu.
"Hey jangan menangis!" Ujar Chanyeol sebari mencoba membuka jemari yang menutup wajah namja mungil tersebut. Baekhyun sesegukan, dan hal itu membuat Chanyeol merasa bersalah sekali.
GREP
"Uljima, aku tidak suka melihatmu menangis"
Dalam pelukan Chanyeol ia menangis, meluapkan semua kekesalan yang tidak jelas datangnya dari mana. Chanyeol mengelus bahu itu sayang sebari membisikan kata – kata yang mungkin dapat menenangkannya.
Chanyeol tersenyum dan semakin mengeratkan pelukannya. Keduanya larut dalam suasa malam yang diguyur hujan ini. Hingga beberapa detik berikutnya, saat suara isakan itu mulai mereda ia menatap Baekhyun, menghapus sisa air mata yang menghiasi pipi mulusnya.
"Kau dapat darimana nomer teleponku?" Tanya Baekhyun saat ia benar – benar siap untuk bicara.
"Apa aku harus menjelaskannya?" Ujar Chanyeol sedikit menggoda Baekhyun.
Baekhyun menatap jengah saat pertanyaan baliklah yang ia dapatkan. Chanyeol tersenyum menawan, dan hal itu sontak membuat Baekhyun bersemu merah.
Suasana menjadi aneh saat dirasa banyak pasang mata yang tak lain adalah para pegawai yang menyaksikan drama yang mereka buat. Baekhyun melepaskan pelukan itu dan menggaruk tengkuknya. Ia malu sekali sekarang.
"Kita ke mobilku"
Ajakan Chanyeol segera diangguki Bakehyun. Namja mungil itu mengikuti kemanapun Chanyeol pergi karena tangannya sudah digenggam olehnya. Di malam yang hujan itu entah kenapa dingin tidak lagi mempan pada kulitnya. Chanyeol menggenngam jemarinya erat, dan itu membuat Baekhyun merasakan kehangatan yang menjalar hingga keseluruh tubuhnya.
.
.
.
"Katakan apa yang kau ingin tanyakan sekarang?"
"Nomer teleponku, dan dimana Sehun?"
"Hanya itu?"
"Tentu masih banyak"
Chanyeol mengangguk paham. Dan Baekhyun sudah siap untuk mendengar penjelasan dari Chanyeol.
"Masalah nomor teleponmu, aku pikir kau kehilangan ponsel berwarna hitam ini" Baekhyun melihat benda yang Chanyeol pegang sekarang. Ia menatapnya kaget, bukankah itu ponselnya yang hilang?
"Itu ponselku" Tutur Baekhyun.
"Ya, ponselmu tertinggal di rumah Sehun waktu itu"
"Benarkah?"
"Lihat saja"
Baekhyun segera meraih ponsel yang sedari tadi berada ditangan Chanyeol. Mungkin karena kejadian waktu itu, dan ia menjatuhkannya disana.
"Tapi Baek, kenapa kau menanyakan Sehun?"
Baekhyun melirik kearah Chanyeol yang menatapnya dalam. Ada rasa tak rela saat mereka bertemu dan Baekhyun menanyakan keberadaan Sehun. Seharusnya Baekhyun lebih peka, kenapa namja mungil itu tak menayakan kabarnya.
"Oh kau belum tahu Yeol" Baekhyun melirik sekilas kearah Chanyeol yang sepertinya bingung juga dengan ekspresi yang diberikan namja mungil tersebut.
"Belum tahu apa?" Ulang Chanyeol.
Baekhyun menghela napas berat sebelum akhirnya membuka suara
"Luhan hamil"
"MWO?" Baekhyun hanya diam saat melihat reaksi Chanyeol, tangannya ia genggam. Baekhyun gugup "-Bagaimana bisa?"
Oh ayolah bukan itu yang diharapkan Baekhyun dari Chanyeol. Pertanyaan Chanyeol tadi membuatnya berpikir jika namja tinggi itu memang bodoh sekali.
"Kau bodoh atau apa heh? Luhan seperti itu karena kalian" Tunjuk Baekhyun tepat di depan wajah Chanyeol. "-Kalian memang brengsek" Tukas Baekhyun akhirnya. Ia sejujurnay sangat emosi, namun apa boleh buat ia tak akan melampiaskan kekesalannya sekarang.
"Aku menanyakan Sehun, karena aku tahu jika ayah dari janin itu adalah dia"
"Kenapa kau berpikiran seperti itu? Siapa tahu jika aku ayahnya" Chanyeol mengucapkan itu tanpa beban. Bukannya ia mengaku jika dirinyalah yang menghamili Luhan. Tapi ada sedikit kemungkinan bukan, karena Chanyeol juga pernah melakukan itu bersama Sehun. Ya, meski ia menjamin jika spermanya tidak akan pernah sampai pada rahim Luhan karena memang ia selalu mengeluarkannya di luar.
"Mungkin saja seperti itu, Ya mungkin kau juga ayah dari janin itu" Ujar Baekhyun kikuk.
Baekhyun menatap Chanyeol dalam. Kenapa ia merasa sangat tidak rela Chanyeol berbicara seperti itu. Dan juga dirinya yang terlanjur gugup tadi.
"Yifan dan Appanya telah membincarakan ini. Jika kalin terlambat menolongnya janin Luhan akan diaborsi, dan aku tidak ingin itu terjadi"
"Kenapa mereka seperti itu?" Tanya Chanyeol sedikit miris.
"Aku juga tidak tahu, tapi aku ingin kau membantuku"
"Apa?"
Baekhyun sedikit menimang namun untuk hal ini orang yang dapat ia andalkan adalah mereka berdua, Chanyeol dan juga Sehun.
"Bantu aku untuk membawa pergi Luhan"
Dengan keyakinan Baekhyun mengutarakan itu. Chanyeol disana hanya bungkam, ia sedang berpikir keras. Memang untuk kejadian waktu itu mereka belum memiliki persiapan yang matang. Namun untuk kali ini Chanyeol pikir Sehun tak akan menolak dan malah sahabatnya itu pasti sangat senang.
"Apa yang kau katakan membuatku merasakan apa yang tengah Luhan rasakan" Chanyeol menatap Baekhyun gugup. Sebenarnya jauh dari dalam hatinya ia sangatlah bersalah akan hal ini. Tapi apa boleh buat itu semua sudah terjadi.
"Ini semua salah kalian. Antas dasar apa kalian menculik Luhan? Uang? Jabatan? Apa yang kau inginkan dari mereka?"
"Baek..."
"Jika saja kalian tidak melakukan itu mungkin Luhan tak akan seperti ini. Jika aku yang berada diposisinya mungkin aku sudah gila sekarang. Masih muda dan ia sudah mengandung anak dari sosok yang jahat seperti kalian" Baekhyun mendesis setelah mengucapkan itu. Ia tidak mengatakannya dengan raut kemarahan, ia bisa mengendalikan itu. Namun dari ucapan biasa itu makna lah yang terpenting dan itu mengoyak hati Chanyeol.
"Kau menganggapku jahat?"
"Ya, kau jahat Yeol. Jelaskan sekarang padaku, apa yang membuatmu menculik Luhan waktu itu?"
Chanyeol mengacak rambutnya gusar. Ia ingin mengatakan semuanya pada Baekhyun. Tapi ia takut akan disangka psikopat atau semacamnya. Entahlah rasa ketertarikan terhadap Luhan membuatnya seperti ini. Namun untuk Chanyeol, Luhan hanyalah pemuas napsunya. Dan atas semua yang ia lakukan waktu itu tanpa dasar rasa cinta atau semacamnya pada namja cantik tersebut. Mengingat ini membuat Chanyeol merasa ialah sosok yang paling berdosa. Namun ia pun bingung, karena rasa ketertarikan itu perlahan memudar dan ia pun tak tahu kenapa bisa seperti ini.
"Jika aku jelaskan kau juga tidak akan mengerti Baek" Chanyeol menggeram tertahan, suhu tubuhnya memanas dan pikirannya menjadi berantakan.
"-Ini hanya sebuah ketertarikkan saja di awal, namun seiring berjalannya waktu aku sudah tak menginginkan Luhan lagi. Dulu Luhan bagaikan morvin bagiku, terlalu membuatku terus terangsang dan akhirnya melakukan penculikan itu. Aku..aku tidak tahu apa maksud sebenarnya, tapi sekarang rasa itu sudah tidak ada lagi pada diriku" Ia menghela napas, melirik melalui ekor matanya ke arah Baekhyun. Apa yang ia ucapkan tadi memang tak terkontrol, dan ia merasa seperti psikopat sekarang.
"-Kau boleh mengataiku apapun itu. Psikopat atau semacamnya, tapi jangan pernah kau membenciku. Tolong mengertilah"
Baekhyun membisu. Sejujurnya ia kurang paham akan maksud Chanyeol barusan. Namun ia bisa menangkap kebingungan dalam setiap gestur yang Chanyeol lakukan. Namja tinggi itu memang dalam keadaan tidak baik.
"Ok, aku pikir kita bisa lupakan itu sementara. Karena yang terpenting sekarang adalah bantuanmu juga Sehun"
Chanyeol menatap raut penuh keyakinan Baekhyun. Baiklah ini memang keadaan yang sangat baik untuk mempererat hubungannya bersama Baekhyun. Ia bilang melupakan masalah itu sementara, dan ia tak perlu untuk pusing memikirkan kejadian yang lalu. Yang terpenting sekarang adalah bagaiman caranya mereka membawa pergi Luhan dan menyelamatkan janin yang tengah ia kandung. Ya, mungkin seperti itu dulu.
.
.
.
_D&G_
"Kita berangkat sekarang"
Pagi itu dikediaman megah seorang Oh Sehun yang nampaknya terdapat satu anggota baru disana. Sehun tersenyum saat melihat namja mungil yang kini sudah lengkap dengan seragam barunya.
Jinhwan menangkup wajahnya malu karena Sehun menatapnya dengan sneyuman yang errr.. membuatnya gugup.
"Hey kenapa kau menutup wajah seperti itu, kau manis sekali dengan seragam barumu"
"Aku hanya malu hyung, berhentilah menatapku seperti itu"
Jinhwan mencoba kembali, membuka tangkupan pada wajahnya dan merunduk menatap lantai. Sehun tak ambil pusing, sekarang waktunya untuk mengantar Jinhwan pergi ke sekolah.
"Kajja, nanti kau terlambat"
"Ne"
.
.
Jinhwan duduk di kursi sebelah pengemudi. Pagi ini sesuai dengan apa yang dijanjikan sebelumnya Jinhwan akan memulai kehidupan sekolahnya. Sepanjang perjalanan ia tersenyum tak henti karena merasa sangat bahagia sekarang.
Pagi ini Sehun mengantarkannya ke sekolah karena ia belum mengetahui jalan menuju kesana. Sehun yang fokus pada kemudianya seketika melirik ke arah Jinhwan yang kini sedang membuka beberapa aplikasi pada smartphone yang diberikan Sehun kemarin.
"Jika sudah pulang kau hubungi aku OK"
"Ne" Ujar namja mungil itu masih fokus pada layar "- Hyung, kenapa Chanyeol hyung belum pulang?"
"Oh dia sedang menemui seseorang, nanti siang mungkin sudah pulang" Ujarnya masih fokus pada kemudi.
"Seseorang?" Ulang Jinhwan dan Sehun mengangguk.
"Seseorang yang penting sekali, nanti akan aku kenalkan padamu" Sehun mengelus kepala Jinhwan dengan tangan kirinya. Jinhwan sendiri hanya mengangguk paham.
Dan beberapa menit berlalu akhirnya mereka sampai di depan gerbang sekolah yang nampak sangat besar itu.
Jinhwan melirik Sehun sekilas karena namja itu kini tengah menuntunnya menuju ruang kepala sekolah.
"Tidak apa – apa nanti kau akan terbiasa" Sehun menyemangati Jinhwan yang kini mulai dibawa oleh sang wali kelas. Jinhwan terus menatap Sehun yang sudah berada jauh dari pandangannya. Ia menjadi gugup dengan situasi ini, karena baru kali pertamanya setelah sekian lama dan sekarang kehidupannya berubah.
Semoga kehidupannya sekarang membuat dirinya menjadi pribadi yang lebih untuk bersosialisasi. Semuanya memang tergantung dengan lingkungan sekitarnya, dan sekarang Jinhwan akan menyesuaikan diri.
.
.
.
Sehun menekan remote mobilnya sambil terus berjalan keluar gerbang sekolah. Ia masih terus berjalan dan tak menyadari jika ada satu namja yang menatapnya sekarang.
Sehun mendongkak dan menemukan Chanyeol disana sedang bersandar pada sisi mobil miliknya sendiri. Ia mengerti dan segera mendekat ke arahnya, ia ingin mengetahui hasil yang Chanyeol peroleh sekarang.
"Bagaimana?"
"Aku membawa Baekhyun, kita bicarakan ini di rumah"
Sehun mengangguk atas penuturan itu. Rumahnya memang tempat yang bagus untuk berdiskusi.
Mereka semua mengendarai mobilnya masing – masing untuk kembali ke rumah. Chanyeol yang bersama Baekhyun di dalam mobilnya dan Sehun yang sendiri dengan keheningan yang melandanya. Entah kenapa perasaan Sehun tidak enak, ada sesuatu yang mungkin terjadi tanpa sepengetahuannya. Sontak pikirannya tertuju pada Luhan. Ia sudah lama tak menemui namja cantik itu. Ia merindukannya sangat, dan ingin mengetahui kabarnya sekarang.
.
.
.
Setelah sampai di rumahnya. Mereka semua segera melesat menuju ruangan untuk membicarakan yang memang penasaran segera menanyakan apapun mengenai Luhan saat itu juga, dan Baekhyun menjawab semuanya. Tentang bagaiman kondisi Luhan sekarang dan apapun itu.
"Aku tahu kalian berdua melakukannya, dan Luhan tengah hamil sekarang"
Sehun menatap Baekhyun kosong. Atas penuturannya barusan Sehun langsung terdiam beribu bahasa. Chanyeol menatap sahabatnya dan hal itu membuat dadanya bergemuruh.
"Aku sudah menduganya"
"Maksudmu?" Tanya Baekhyun.
Sehun menyeringai, dan membuat Baekhyun penasaran.
"Jangan tanyakan masalah ini pada Chanyeol. Aku ayah dari janin itu, aku yakin itu adalah anakku" Sehun penuh keyakinan dan Baekhyun entah kenapa menjadi senang sendiri. Jika saja pengakuan ini tak ia dengar dari mulut Sehun melainkan Chanyeol, mungkin saja ia akan menangis.
"Kenapa kau begitu yakin?" Tanya Baekhyun penasaran.
"Chanyeol tak mengeluarkan spermanya didalam, karena aku yang melakukan itu. Bukan begitu Yeol?"
Chanyeol melirik Baekhyun sebelum berkata "Ya".
"Bukan Chanyeol yang menghamili Luhan. Yang melakukannya adalah aku"
Baekhyun mengangguk. Ya ini tak rumit, Sehun sudah mengakuinya dan sekarang ia harus membicarakan ini. Tentang rencana Yifan mengaborsi jani Luhan.
"Baiklah jika seperti itu. Tapi kalian harus bergerak cepat membawa pergi Luhan dari ruamahnya, sebelum Yifan dan Siwon mengaborsi janin itu" Sehun dan Chanyeol menatap lekat Baekhyun. Sehunlah yag paling kaget sekarang, dan untuk hal ini ia akan melakukan apapun untuk Luhan. "-Yifan dan Siwon sedang pergi dinas sekarang dan akan pulang seminggu lagi. Dan waktu ini jangan kita sia – siakan".
"Kita lakukan sekarang" Ujar Sehun gemas.
"Tentu, aku akan mencoba masuk kedalam rumah itu untuk membawa Luhan, kalian harus mengawasi setiap pengawal dirumah itu. Jangan sampai gagal, jika gagal ini akan berakibat fatal"
"Aku akan melakukan apapun untuk Luhan"
.
.
.
Luhan menatap pantulan dirinya dicermin besar kamarnya. Semakin hari kondisi Luhan semakin memburuk. Setiap harinya ia merasa ketakuan dan tak bisa tidur. Memikirkan dirinya yang akan dibawa oleh ayah dan hyungnya pergi untuk melakukan aborsi.
Luhan benci mengatakan ini. Namun sekarang rasa sayangnya pada kedua orang tersebut memudar. Luhan benci sekali dengan mereka sekarang karena perbuatan yang sangat diluar dugaannya. Ia pikir keluarganya sudah sangat tega pada dirinya.
"Kenapa kalian menyuruhku membunuh janin tak berdosa ini"
"Kalian jahat, aku tak menyangka"
Dengan napas yang memburu Luhan hanya bisa menahan semua gejolak emosi yang terus merayapi tubuhnya.
Ia menggeram, menghempaskan apa yang ada dihadapannya sekarang hingga berserakan dilantai. Emosinya meledak dan tak bisa ditahan lagi. Wajahnya memerah dengan teriakkan yang memekikkan tersebut. Luhan menatap pantulan dirinya nyalang, sepedih inikah kehidupan yang ia hadapi. Oh Luhan merasa ingin mati saja.
Dengan perasaan yang berkecamuk Luhan mengambil sesuatu yang berada didalam nakasnya. Ia menyeringai sejenak sebelum mengacungkan benda tajam itu.
"Sia – sia aku melakukan operasi demi kesehatanku. Semuanya terasa hambar dan itu membuatku ingin mati"
Luhan mendudukkan dirinya di ranjang tersebut. Berpikir keras tentang apa resiko yang akan ia dapatkan jika melakukan ini. Mungkin dengan melakukan bunuh diri seperti ini ia tak akan pernah bertemu lagi dengan Sehun. Ya, itulah yang membuat Luhan bimbang, ia ingin mati namun ia pun ingin bertemu Sehun.
Intinya Luhan masih bimbang, namun ia sudah lelah jika terus seperti ini. Hidupnya terasa diatur dan itu adalah hal yang membuatnya kesal. Sesakit – sakitnya dirinya, seorang Luhan juga ingin melakukan apa yang ia lakukan di umurnya yang masih remaja seperti ini. Namun semua itu hanya dalam angan – angan. Keluarganya terlalu menyayangi dirinya hingga membuat Luhan juga bingung mengartikannya. Karena yang ia dapatkan sekarang adalah seperti ini, sesuatu yang memuakkan.
Dan Luhan bertekat sekarang, jika memang kehidupan yang hidapati seperti ini. Ia akan mengakhiri semua dengan bunuh diri. Ia mungkin tak akan bertemu Sehun lagi.
Luhan menggigit bibirnya, ia berusaha mati – matian untuk menahan isak tangisnya.
Dan mungkin ini lebih baik untuknya dan semuanya...
.
.
CKLEK
.
.
"LUHANNN"
.
.
.
.
T
B
C
.
.
.
Sorry postnya kelamaan udah tanpa banyak cingcong saya minta kalian partisipasi aja lah. Karena setiap comment yang diberi membuat saya merasa seneng banget dan makin semangat ngelanjutin ff nya. Maafnya jika alurnya makin gaje dan typo yang berserakan.
