[DISCLAIMER]

The story belongs to it's real author. I just remake it into ChanBaek version.

.

DATING WITH THE DARK

어둠과 데이트하기

[ChanBaek GS]

.

Remake story by Santhy Agatha

.

.

CHAPTER TEN

Yerin yang sekarang berpenampilan berbeda dan tampak begitu seksi tersenyum puas, "Dan kurasa aku pantas mendapatkannya, mengingat berbulan-bulan aku menyamar di kantor itu, berusaha menjadi sahabat dekat Baekhyun."

"Kau memang mengerjakan tugasmu dengan baik." Tentu saja Chanyeol juga menyadap seluruh pembicaraan Yerin dengan Baekhyun, mengetahui bagaimana Yerin berhasil menempatkan dirinya sebagai sahabat baik yang paling dipercaya oleh Baekhyun, tempat perempuan itu menumpahkan segalanya. Hal itu membantu Chanyeol untuk mengetahui kondisi hati Baekhyun dan juga perasaan Baekhyun yang terdalam.

"Dan kau menempatkan Baekhyun di kamarmu." Yerin menatap tidak suka ke arah pintu itu, mengulang kembali komentarnya karena merasa sangat terganggu dengan kenyataan yang ada di depannya. Kamar Chanyeol adalah ruang pribadi yang tidak boleh dimasuki siapapun, tetapi Chanyeol malahan menempatkan Baekhyun di kamarnya... seharusnya Yerin yang berhak memasuki kamar itu! Tidur di atas ranjang Chanyeol, menghirup aroma khasnya dan menikmati pelukannya!

Chanyeol menatap perubahan ekspresi Yerin dengan tatapan mata menilai, kemudian memutuskan untuk menghempaskan perasaan perempuan itu, sebelum angan Yerin mulai melambung dan membahayakan mereka semua.

"Tempatnya memang ada di situ, Yerin." Gumamnya penuh arti, membuat wajah Yerin pucat pasi.

Tetapi dengan segera perempuan itu menutupi perasaannya, tersenyum manis seolah-olah tidak mendengarkan kalimat Chanyeol barusan, dia menggayutkan dirinya di lengan Chanyeol dengan manja dan bergumam menggoda, "Aku ingin makan malam yang enak malam ini."

.

.

.

Gongyoo membawa nampan berat itu, makan malam Baekhyun, dia melihat Baekhyun masih duduk dengan tegang, di sofa. Dengan tenang pelayan itu meletakkan nampan di meja, di depan Baekhyun, "Anda sama sekali tidak berbaring dan beristirahat."

Baekhyun menoleh dan menatap Gongyoo, pelayan ini memang sepertinya ditugaskan untuk mengawasi dan mengurusinya karena selain para pelayan perempuan yang bertugas membersihkan kamar dan pakaiannya, hanya pelayan inilah yang selalu membawakan makanan untuknya. Baekhyun mengawasi lelaki itu, Wajah lelaki ini tampak teduh, mengingatkannya kepada ayahnya, hingga mau tak mau ekspresi Baekhyun melembut,

"Bagaimana aku bisa beristirahat kalau aku tidak tahu dan terus menerus cemas akan apa yang akan terjadi pada diriku nantinya?"

Gongyoo berdiri di sana, ragu, dia melirik nampan makanan yang penuh itu dan berpikir bahwa mungkin Baekhyun juga tidak akan mau memakan makanan yang disediakan untuknya. Nampan-nampan yang kemarin dibawanya keluar, semuanya masih utuh, Baekhyun hanya minum dan tidak menyentuh makanannya, sepertinya mogok makan adalah salah satu bentuk pemberontakan Baekhyun sebagai protes atas perlakuan Chanyeol kepadanya. Baekhyun harus makan, dia akan membutuhkan segala kekuatan yang bisa diperolehnya nanti.

"Anda harus memakan makanan anda nona Baekhyun, anda akan membutuhkannya." Gongyoo menyuarakan pemikirannya, melihat Baekhyun menghembuskan napas enggan, "Tuan Chanyeol tidak akan melukai anda selama anda tidak berbuat hal-hal nekat untuk melarikan diri."

"Aku tidak akan bisa melarikan diri dalam penjagaan seketat itu." Baekhyun mencibirkan bibirnya, "Kenapa tuanmu menyekapku seperti ini? Jikalau memang aku adalah kegagalan dalam reputasi membunuhnya, kenapa dia tidak langsung membunuhku saja?"

Gongyoo tercenung mendengar pertanyaan Baekhyun itu. Oh dia sungguh ingin menjawab. Jawaban itu sudah terkumpul di ujung bibirnya, menunggu untuk dimuntahkan. Tetapi tuan Chanyeol sudah memaksanya untuk bersumpah agar menutup mulutnya sampai waktunya tiba, dan Gongyoo tidak berani melanggar sumpahnya.

"Saya tidak bisa mengatakan apapun, yang pasti saya yakin anda akan baik-baik saja. Tuan Chanyeol akan memastikan anda baik-baik saja." Setelah mengucapkan kata-kata singkat itu, Gongyoo sedikit membungkukkan tubuhnya untuk berpamitan dan melangkah pergi.

.

.

.

Chanyeol mengajak Yerin makan malam di sebuah restoran di pinggiran kota, ini merupakan restoran langganan Chanyeol dan merupakan pilihan yang tepat untuk mengajak Yerin karena tempatnya yang cukup umum, sedikit ramai dan tidak ekslusif seperti ketika dia mengajak Baekhyun makan malam dulu.

Yerin duduk dengan gaun merahnya yang seksi, menikmati pandangan dan lirikan kagum dari beberapa orang yang melewati mereka, dia melirik ke arah Chanyeol dan merasa sebal karena lelaki itu memasang ekspresi datar, bahkan sama sekali tidak ada pujian dari Chanyeol tentang penampilan mempesonanya itu, "Jadi apa rencanamu nanti?" Yerin menyesap minuman yang dihidangkan pelayan sebagai pendamping makanan pembuka mereka. Dia menatap Chanyeol tajam mencoba melihat sepercik emosi, sesedikit apapun itu yang bisa menggambarkan perasaan lelaki itu, tetapi sepertinya percuma, Chanyeol tetap saja tidak terbaca.

"Aku akan membawa Baekhyun ke tempat yang tidak bisa terlacak."

"Kemana?" Yerin sangat ingin tahu. Dia ingin ikut kemanapun Chanyeol akan membawa Baekhyun, dia tidak boleh membiarkan sampai lelaki itu lepas dari genggamannya.

Tatapan Chanyeol menajam, "Kau tidak perlu tahu."

"Tetapi aku selalu ada dari awal rencanamu, Chanyeol!" suara Yerin meninggi, "Kau harusnya bisa mempercayaiku." Chanyeol menatap Yerin dan tercenung.

Mempercayai Yerin? Meskipun memasang tampang datar seolah-olah tidak tahu, Chanyeol tahu bahwa Yerin terobsesi kepadanya.

Perempuan itu sudah tergila-gila kepadanya sejak lama, dihari ketika kakak Yerin satu-satunya, keluarganya, meninggal karena sakit. Kakak Yerin adalah salah satu pegawai dan sahabat Chanyeol ketika Yerin dan kakaknya masih tinggal di Italia, karena itulah ketika kakak Yerin meninggal dan Yerin sebatang kara di dunia ini. Chanyeol menawarkan diri untuk menanggung Yerin, menjadikannya pegawainya dan menganggap perempuan itu sebagai adiknya.

Sayangnya Yerin memiliki kesimpulan berbeda, dia mengira Chanyeol begitu karena ada hati dengannya, perempuan itu lalu menumbuhkan khayalan cinta yang tinggi kepada Chanyeol dan berusaha menarik perhatian Chanyeol.

Yang sudah pasti percuma. Karena pada waktu itu, Chanyeol masih setia kepada perempuan yang pernah melingkarkan cincin emas di jari manisnya, perempuan yang dulu pernah menjadi isterinya. Isteri yang sangat dicintainya. Yerin seharusnya sadar bahwa bagaimanapun dia berusaha, Chanyeol tidak akan pernah mengalihkan hati kepadanya.

Kemudian karena membutuhkan bantuan, Chanyeol terpaksa menggunakan Yerin untuk mendekati Baekhyun. Dengan bantuan kekuasaannya, Chanyeol yang mempunyai koneksi di bagian personalia, memasukkan Yerin lebih dulu ke perusahaan itu, kemudian mengatur supaya Baekhyun juga masuk ke perusahaan itu. Yerin berperan sangat bagus menjadi sahabat Baekhyun dan Baekhyun sama sekali tidak curiga.

Meskipun sebenarnya Chanyeol sedikit mencemaskan keselamatan Baekhyun ketika berada di dekat Yerin, mengingat betapa terobsesinya Yerin kepada dirinya.

Tetapi sekarang Chanyeol memutuskan bahwa mungkin tidak membutuhkan Yerin lagi, keberadaannya apalagi bersama obsesinya mulai terasa mengganggu rencana Chanyeol. Siapa yang tahu apa yang akan dilakukan oleh Yerin kepada Baekhyun nantinya?

"Jadi kau akan membawa Baekhyun kemana?" Yerin tidak mau menyerah, menatap Chanyeol dengan tatapan mata penuh tekat. Dia akan mencari tahu bagaimanapun caranya, dan dia akan berusaha agar Chanyeol bersedia mengikutkannya dalam rencananya. Enak saja Baekhyun akan pergi berduaan dengan Chanyeol tanpanya!

"Aku tidak bisa mengatakan padamu." Tiba-tiba Chanyeol menyipitkan mata, menatap Yerin dengan tatapan mata mengancam, "Mungkin lebih baik kau tidak bertanya-tanya lagi." Yerin langsung tertegun. Hatinya terasa sakit. Kenapa Chanyeol bersikap begitu kasar kepadanya? Apakah karena Baekhyun?

Yerin menggertakkan giginya, selama ini dia mengikuti rencana Chanyeol, mendekati Baekhyun, berpura-pura menjadi sahabatnya, mengorek-ngorek informasi sekecil apapun dan memberikannya kepada Chanyeol, dan sekarang dia akan dibuang begitu saja? Yerin tidak akan membiarkan itu terjadi. Kalau dia tidak bisa memiliki Chanyeol. Maka tidak akan ada orang lain yang bisa!

.

.

.

"Kau akan membawanya besok?" Jongin duduk di rumah Chanyeol dan mengerutkan keningnya, "Kenapa begitu cepat? Bukankah rencananya masih minggu depan?"

"Aku punya firasat buruk." Chanyeol teringat pada Yerin dan instingnya mengatakan bahwa dia harus segera memindahkan Baekhyun, dia sangat ahli membaca ekspresi wajah seseorang, dan instingnya mengatakan Yerin merencanakan sesuatu yang buruk. Ditatapnya Jongin dengan tatapan mata menyesal, "Aku menyusupkan orangku ke perusahaanmu."

Jongin tampak tidak terkejut, "Hmm.. setelah Sehun agen pemerintah juga menyusup ke sana, aku tidak terkejut kalau kau menempatkan orangmu di sana. Kau sengaja memilih perusahaanku bukan sebagai tempat Baekhyun bekerja?"

Chanyeol menganggukkan kepalanya, "Memang. Aku sengaja mengatur semuanya."

Jongin terkekeh, "Padahal akan lebih mudah kalau kau menghubungiku duluan dan menceritakan semuanya, aku bisa mengatur semuanya untukmu."

"Tapi kau nanti akan dicurigai."

Jongin menganggukkan kepalanya, sangat mengerti akan pertimbangan Chanyeol, "Kalau kau akan berangkat malam ini, aku akan meminta jet pribadi keluarga stand by di bandara nanti malam, mereka akan mengantarmu ke bandara di pulau Jeju, bandara terdekat dari pulau, kemudian kau bisa melanjutkan perjalanan ke pulau dengan speed boat."

Chanyeol mengerutkan keningnya, "Aku akan membawa beberapa pengawal dan pegawaiku ke sana."

"Oke, aku akan menyuruh mereka menyiapkan beberapa speed boad untuk mengangkut semuanya, kalau masalah pelayan, kau tidak perlu cemas. Rumah Paman Siwon penuh dengan pelayan yang setia."

"Apakah mereka bisa tutup mulut?" Chanyeol tidak suka jika ada pelayan yang bergosip. Gosip bisa membahayakan untuk seseorang yang berada di posisinya.

"Dijamin. Sebagian besar dari mereka adalah penduduk asli pulau itu, dan mereka menjadi pelayan turun temurun, beberapa di antaranya, ayah atau ibunya pernah menjadi pelayan di sana dan sudah pensiun, beberapa keluarganya merupakan pekerja perkebunan yang juga di miliki Choi Siwon di sana. Mereka sangat setia kepada paman Siwon, dan karena kau tinggal di sana sebagai tamu dari Choi Siwon, mereka akan setia kepadamu juga."

"Bagus. Terima kasih Jongin, suatu saat aku akan membalas bantuanmu ini."

Jongin menyandarkan tubuhnya di sofa dan terkekeh, "Kuharap sekarang kita sudah impas Chanyeol." Jawabnya dalam canda.

.

.

.

Sehun dan teamnya sudah putus asa, mereka tidak bisa menemukan jejak Baekhyun di manapun, "Sang Pembunuh" tampaknya sangat licin dan ahli menyembunyikan diri sehingga mereka tidak bisa melacak keberadaannya. Dalam ruangan itu, Sehun termenung dan meremas rambutnya frustrasi.

Alam bawah sadarnya bahkan sudah berpikir bahwa Baekhyun sudah mati... dibunuh oleh "Sang Pembunuh" yang tak punya hati.

Marah atas pemikirannya itu, Sehun bangkit berdiri, meraih jaketnya dan mengenakannya, lalu melangkah ke luar. Dia butuh kopi, kalau tidak dia mungkin akan mati karena frustrasi. Dengan langkah panjang-panjang dia keluar dan melalui trotoar. Angin dingin langsung menerpa wajahnya, membawa uap air.

Sehun mendongakkan kepalanya ke atas dan melihat langit yang gelap dan mendung. Sebentar lagi hujan. Benaknya berkelana sambil melangkah memasuki cafe yang menjadi langganannya, Cafe itu terletak di ujung jalan yang banyak dilalui orang sehingga cukup ramai, meskipun sedikit ramai dan sesak, tetapi cafe itu menyediakan kopi yang sangat enak, aromanya harum dan kental dengan cream nabati yang sangat cocok ketika dipadukan.

Sehun memasuki cafe itu dan memilih tempat duduk di ujung, dia memesan kopi yang selalu dipesannya, kopi robusta yang pekat, dengan cream tanpa gula. Setelah itu dia duduk dan menunggu.

"Hai Sehun."

Sehun langsung mendongakkan kepalanya, dan menatap sosok yang tiba-tiba saja duduk di depannya. Dia mengangkat alisnya, "Hai Yerin."

Semula Sehun hampir tidak mengenali Yerin karena potongan rambutnya baru dan di highlight merah, Yerin tampak... berbeda. Dia berdandan dan berpenampilan seksi sangat berbeda dengan penampilannya di tempat kerja dulu.

"Tak kusangka akan menemukanmu di sini." Yerin tersenyum manis, "Apakah kau tahu bahwa Baekhyun menghilang dari kantor? Perusahaan bilang dia tugas ke luar kota, tetapi aku meragukannya, ponselnya tidak bisa dihubungi."

Perusahaan bilang Baekhyun ke luar kota? Sehun langsung waspada, bukankah sudah jelas Baekhyun hilang karena diculik oleh "Sang Pembunuh"? Kenapa perusahaan bisa menutup-nutupi hilangnya

Baekhyun? Apakah ada orang dalam di perusahaan yang merupakan kaki tangan "Sang Pembunuh"?

"Mungkin saja Baekhyun sedang bersenang-senang dengan salah satu pengawal Mr. Kris yang tampan itu."

"Apa?" Kali ini Sehun benar-benar fokus sepenuhnya pada Yerin.

"Kau tidak tahu ya?" Yerin masih tetap tersenyum manis, "Setelah kau pergi, Baekhyun dekat dengan seorang lelaki yang ditemuinya tanpa sengaja pada suatu malam, dan sungguh suatu kebetulan lelaki itu adalah pengawal Mr. Kris, klien terpenting perusahaan kita, mereka bertemu lagi di salah satu meeting perusahaan, dan dari yang aku dengar mereka menjadi dekat." Yerin mengedipkan matanya, "Menurutku Baekhyun sedang menghabiskan waktu bersama kekasih barunya di sebuah tempat eksotis, dan karena lelaki itu pengawal Mr. Kris, bisa saja Mr. Kris memberikan bantuan pengaruhnya sehingga bisa membuat seolah-olah Baekhyun sedang tugas keluar kota." Yerin memutar bola matanya, "Abaikan kata-kataku, mungkin memang imajinasiku yang berlebihan... aku mungkin terlalu cemas karena Baekhyun sama sekali tidak bisa dihubungi, aku ke rumahnya beberapa kali dan dia tidak ada." Wajah Yerin tampak sedih.

Sehun menghela napas panjang, tiba-tiba saja ingin segera pergi dari tempat itu dan kembali ke kantornya, lalu menghubungi segala sesuatu yang berhubungan dengan Mr. Kris, Yerin tanpa sadar mungkin telah memberikan petunjuk penting bagi Sehun, mungkin saja hal itu layak diselidiki, mungkin saja "Sang Pembunuh" ada hubungannya dengan Mr. Kris, dan mungkin saja lelaki misterius yang dikatakan sebagai pengawal Mr. Kris adalah "Sang Pembunuh" yang sebenarnya.

Dengan gelisah, Sehun menyesap kopinya, lalu setengah membanting gelasnya ke meja, "Maafkan aku Yerin, aku harus pergi."

Dan kemudian tanpa menunggu jawaban Yerin, Sehun meletakkan uang pembayaran di mejanya lalu bergegas pergi.

Sementara itu Yerin menatap kepergian Sehun dengan senyum licik dikulum di bibirnya yang berlapiskan lipstick merah menyala. Sekarang tinggal menunggu saja. Yerin berharap Sehun segera menemukan Baekhyun, sehingga perempuan itu tidak bisa dekat-dekat lagi dengan Chanyeolnya. Dia bisa saja memberitahu Sehun langsung, tetapi itu sama saja membuka penyamarannya sebagai kaki tangan Chanyeol, dan juga bisa membuat Chanyeol membencinya karena membuka mulut. Ini adalah cara terbaik. Yerin tersenyum membayangkan kesempatan besar di depannya ketika Baekhyun sudah terpisah dari Chanyeol.

.

.

.

Yang dirasakan Baekhyun pertama kali adalah perasaan hangat dan jatuh cinta yang mendalam. Baekhyun tersenyum manis, menatap lilin-lilin berwarna biru yang menyala redup, jumlahnya ada sembilan buah dan diatur setengah lingkaran, tampak begitu indah.

Baekhyun mengernyit ketika menelaah perasaannya. Rasa yang dirasakannya bukanlah rasa takut yang membuatnya mual dan sakit... rasa yang dirasakannya adalah kebahagiaan... hampir mendekati euforia mendadak... kenapa bisa begitu?

Sebelum Baekhyun bisa mendapatkan jawabannya, tiba-tiba saja sosok Chanyeol sudah ada di sana. Lelaki itu menatapnya dengan tatapan mata redup yang khas dan dalam, tatapan mata penuh kesedihan. "Apakah kau mengerti apa artinya itu?" Chanyeol mengedikkan dagunya ke arah lilin-lilin itu, dan tiba-tiba saja Baekhyun merasa sesak napas.

Baekhyun langsung membuka matanya, menatap langit-langit dan begitu tegang. Napasnya terengah dan dia merasa gelisah. Mimpi lagi, mimpi tentang Chanyeol lagi..

Ketika dia menolehkan kepalanya, Baekhyun tersentak mendapati Chanyeol ada di sana. Lelaki itu duduk di kursi yang diseret mendekati ranjang, termenung di sana dan tampaknya sudah lama menatap Baekhyun yang tertidur. Matanya tampak tajam, menatap dalam. Lelaki itu sepertinya sudah lama duduk di sana mengawasi Baekhyun.

"Mimpi buruk?" suara Chanyeol terdengar serak... dan lembut. Baekhyun mengernyitkan keningnya, semua informasi yang diberikan kepadanya menunjukkan bahwa lelaki ini sedang menargetkannya untuk menjadi korban berikutnya, tetapi sekian lama Baekhyun dalam tahanannya dan lelaki ini tidak segera membunuhnya. Apakah yang direncanakan oleh Chanyeol sebenarnya?

Baekhyun mengangkat tubuhnya hingga duduk di atas ranjang, beringsut sejauh mungkin dari Chanyeol, membuat lelaki itu mengangkat alisnya dan menatap Baekhyun penuh arti, tetapi tidak mengatakan apa-apa.

"Mimpi apa?" Chanyeol bertanya lagi, dan hal itu membuat pipi Baekhyun merona. Dia tidak mungkin mengatakan bahwa dia bermimpi mengalami perasaan euforia bersama Chanyeol bukan?

"Bukan apa-apa." Baekhyun merasakan keringat mengaliri dahinya, meskipun kamar ini berpendingin. Mimpi tadi rupanya telah sangat mempengaruhinya, entah kenapa.

Lilin berwarna biru itu... kenapa seolah-olah Baekhyun harus bisa mengingat apa maknanya? Dan apa hubungan ini semua dengan Chanyeol, lelaki itu pasti tahu sesuatu, pasti. Karena Baekhyun yakin bahwa Chanyeol lah yang telah meninggalkan tanda itu di mana-mana, di restoran waktu dia kencan makan malam dengan Sehun, di dapurnya waktu dia diculik, dan di kamar ini ketika dia sadarkan diri pertama kali. Baekhyun harus bertanya kepadanya.

"Apakah arti lilin berwarna biru yang ditata seperti itu?" Baekhyun menyuarakan pemikirannya, menatap Chanyeol, setengah takut, setengah menantang. Lelaki itu seharusnya memberitahu Baekhyun apapun yang dia tahu. Baekhyun tidak akan berhenti bertanya sampai dia mendapatkan jawaban, Chanyeol sendiri, tidak disangka malahan menatap Baekhyun dengan tatapan sedih.

"Kau tidak ingat?"

Baekhyun mengernyitkan keningnya. Ini hampir sama dengan mimpinya, Chanyeol menatapnya dengan tatapan sedih, membuat Baekhyun merasa bersalah, membuat Baekhyun merasa bahwa seharusnya dia tahu apa arti lilin-lilin itu.

"Aku mengalami amnesia, setelah kecelakaan itu." Mata Baekhyun menyipit, "Kecelakaan yang membunuh ayahku." Matanya menatap Chanyeol penuh tuduhan.

Tetapi rupanya lelaki itu tidak terpengaruh dengan tatapan mata Baekhyun, dia menatap perempuan itu datar, "Amnesia. Yah, sayang sekali kau tidak bisa mengingatnya Baekhyun." Tiba-tiba jemari lelaki itu terulur, dan Baekhyun tidak bisa menghindar ketika lelaki itu meraih jemarinya dan mengangkatnya ke mulutnya, lalu mengecupnya lembut, "Kuharap kau bisa mengingatnya nanti."

"Aku tidak bisa mengingatnya karena aku amnesia" sela Baekhyun jengkel, "Katakan padaku apa arti lilin-lilin itu dan kenapa kau selalu menunjukkannya kepadaku? Apa maksudmu? Kau ingin menggangguku?"

Chanyeol menatap Baekhyun tajam, "Aku hanya ingin kau mengingatnya."

"Aku tidak bisa mengingatnya!" Baekhyun setengah menjerit, menatap Chanyeol dengan frustrasi.

Dan kemudian, tanpa disangkanya, secepat kilat Chanyeol mendorong tubuh Baekhyun ke atas ranjang dan menindihnya. Napasnya begitu dekat dengan Baekhyun, bibirnya ada di depan bibirnya, hanya berjarak beberapa inci, membuat Baekhyun gugup dan gemetar, kedua tangannya ada di samping kepalanya, masing-masing ditahan oleh Chanyeol. Tubuh lelaki itu menguncinya, kakinya menekan kaki Baekhyun, membuatnya tidak bisa bergerak.

"Mungkin aku akan membantumu supaya kau ingat." Lalu lelaki itu menundukkan kepalanya dan mencium Baekhyun.

Ciumannya selalu terasa seperti ini. Baekhyun setengah meronta, tetapi tidak berdaya ketika Chanyeol melumat bibirnya penuh gairah. Chanyeol selalu menciumnya tanpa peringatan dan efek yang dirasakan oleh Baekhyun selalu sama, seluruh tubuhnya menggelenyar, rasanya seperti aliran listrik yang merayap dari ujung kepala ke ujung kakinya, membuatnya gemetar dan meremang.

Lidah lelaki itu agak memaksa, menguakkan bibir Baekhyun sehingga terbuka lalu menyeruak masuk dan menjelajah di sana, membagi panas dan gairahnya yang menggoda lidah Baekhyun. Baekhyun sibuk menolak sekaligus menahan gairahnya. Oh astaga, dia hanyalah perempuan yang tidak berpengalaman, apa dayanya menghadapi lelaki yang sangat ahli mencium ini?

Seluruh diri Baekhyun gemetar akan ciuman Chanyeol yang membakar, lelaki itu melumat bibirnya, benar-benar melumatnya, seakan sudah sekian lama dia menanti untuk melakukan hal ini, tidak ada satu jengkalpun bibir Baekhyun yang terlewat oleh cecapan lidah dan bibirnya, kadang Chanyeol menyesap ujung bibir Baekhyun, kadang memberikan kecupan-kecupan kecil yang menggoda, kadang langsung memagut bibir Baekhyun dengan gemas, dan kadang lidahnya memilin lidah Baekhyun, mengajarinya cara memuaskannya dan membalas Ciumannya.

Baekhyun merasakan kepalanya pening dan dorongan gairah itu menghentaknya, datang dari sensai panas yang menyengat di pangkal pahanya, rasa yang tidak disangkanya akan muncul dari sana.

Oh Ya Ampun! Bagaimana mungkin Baekhyun bisa merasa bergairah atas cumbuan lelaki ini?

"Tidakkah kau ingat ini Baekhyun?" Chanyeol memiringkan kepalanya dan mendesah di telinga Baekhyun, lalu menggoda dengan memagut telinga Baekhyun, napasnya terasa hangat di sana, "Tidakkah kau ingat bibirku ini?"

Apakah ini berarti Baekhyun pernah bersama Chanyeol sebelumnya?

Apakah ini berarti Baekhyun pernah bercumbu dengan Chanyeol seperti ini sebelumnya?

Mungkinkah itu...?

Tiba-tiba kelebat bayangan itu muncul begitu saja, dua tubuh yang menyatu. Sama-sama telanjang dan menyatu... dan itu adalah Baekhyun dan Chanyeol!

Baekhyun terkesiap dan berusaha meronta meskipun tangannya masih ada dalam cengkeraman Chanyeol, dia membelalakkan matanya ketakutan.

"Apa yang kau lakukan kepadaku? Apakah kau memberikan obat kepadaku dan membuatku berhalusinasi?"

Chanyeol tersenyum tipis mendengarkan perkataan Baekhyun, "Berhalusinasi? Kenapa kau menuduhku seperti itu? Apakah kau tidak peenah berpikir bahwa 'halusinasimu' itu adalah sebuah kenangan?"

Baekhyun meringis. Kenangan? Bagaimana mungkin dia punya kenangan? Baekhyun tidak bisa mengingat, dia tidak bisa mengingat!

.

.

.

Sementara itu Sehun menatap komputernya, semua data pemerintah tentang Mr. Kris muncul di hadapannya. Lelaki itu datang ke negara ini satu tahun yang lalu, membawa nama besar perusahaannya yang membuat semua perusahaan berlomba-lomba untuk mendapatkan investasi darinya. Kemudian dia memilih bekerjasama dengan perusahaan milik Kim Junmyeon.

Sehun tidak pernah menghubungkan hal ini sebelumnya, dia berpikir adalah wajar, Mr. Kris memilih bekerjasama dengan perusahaan yang dimiliki oleh pria kaya itu. Perusahaan Junmyeon adalah salah satu yang paling maju dan potensial dibanding saingannya di bidang sejenis. Sehun hanya tidak pernah menyangka bahwa seluruh keputusan ini berhubungan dengan Baekhyun. Seharusnya dia mengingatnya, Baekhyun lah yang meng-golkan tender

Mr. Kris... seharusnya dia sadar bahwa semuanya berhubungan. Sehun mengernyitkan keningnya ketika membaca informasi itu, Mr. Kris telah menyewa properti atas namanya, di sebuah kompleks perumahan mewah yang dijaga ketat... padahal setahu Sehun, Mr. Kris mempunyai rumah lain yang ditinggalinya selama berkunjung ke negara ini.

Memang tampaknya benang merahnya terlalu tipis, tetapi bagaimanapun juga, Ini patut untuk diselidiki, Sehun akan segera mengkoordinasi orang-orang terbaiknya untuk mengawasi di sana, mencari keberadaan Baekhyun dan menangkap "Sang Pembunuh".

.

.

.

"Aku pernah mengecupmu di sini." Chanyeol meraih jemari Baekhyun dan mengecupnya lembut, membuat sekujur tubuh Baekhyun menggelenyar. "Dan juga di sini." Lelaki itu kemudian membalikkan telapak tangan Baekhyun, mengecup pergelangan tangannya dan kemudian bibirnya merambat naik, ke bagian dalam siku Baekhyun, dan sekali lagi menghadiahinya dengan kecupan lembut.

Baekhyun mengernyit, dia berusaha meronta, tetapi Chanyeol masih menahannya dengan tubuhnya, tangannya yang sebelah juga masih di cengkeram oleh lelaki itu sehingga seluruh usaha Baekhyun tidak ada gunanya.

"Jangan meronta Baekhyun, aku tidak mau menyakitimu." Chanyeol berbisik dengan suara rendah, membuat Baekhyun menahan gerakannya, gemetar.

"Jangan sentuh aku." Baekhyun bergumam sambil mengernyit, "Kau tidak boleh melakukannya."

"Siapa bilang?" Chanyeol mengecup dagu dan rahang Baekhyun dengan menggoda, suaranya misterius, tatapannya menggoda, "Aku bisa melakukan apapun yang aku mau padamu, Baekhyun." Bibir Chanyeol mulai menyentuh bibir Baekhyun, napasnya terasa hangat, dan Baekhyun tahu bahwa Chanyeol akan menciumnya dalam sedetik...

Kemudian tiba-tiba pintu kamarnya diketuk, membuat tubuh Chanyeol menegang. Matanya berkilat marah dan bibirnya membeku hanya satu inci dari bibir Baekhyun.

Dia menarik kepalanya dan menatap ke pintu dengan geram, merasa tidak senang atas gangguan yang tidak menyenangkan di saat yang tidak tepat itu,

"Siapa itu?"

Jawaban dari pertanyaan itu berasal dari Sebuah suara yang mengejutkan membuat Baekhyun mengernyitkan keningnya dan mendesah karena terkejut, merasa mengenali suara itu.

"Ini aku. Ada hal penting yang ingin kukatakan."

Chanyeol yang mendengar suara Yerin, tak kalah terkejutnya, tidak menyangka bahwa Yerin akan seberani itu mengambil resiko untuk membuka kedok penyamarannya sendiri di depan Baekhyun. Dan yang paling membuat Chanyeol geram adalah karena Yerin begitu beraninya mengganggu saat-saat pribadinya bersama Baekhyun. Perempuan itu mulai menjadi pengganggu dalam rencananya, bahkan Chanyeol mulai merasa menyesal karena melibatkan Yerin dalam rencananya untuk Baekhyun. Selama ini Chanyeol masih menoleransi Yerin karena masih menghormati mendiang kakaknya yang merupakan sahabat Chanyeol. Tetapi rupanya sekarang Chanyeol harus bertindak tegas.

"Siapa itu?" Baekhyun bergumam bingung, lalu ketika dia benar-benar yakin akan pendengarannya, dia mengalihkan tatapannya dari pintu ke arah Chanyeol dengan bingung, "Siapa itu?" ulangnya bingung. Astaga... suara itu mirip suara Yerin!

Chanyeol menatap Baekhyun datar, "Aku harus pergi, nanti kita akan melanjutkan ini, Baekhyun." Suaranya penuh peringatan.

Kemudian dengan gusar, Chanyeol bangkit dan melepaskan tindihannya dari tubuh Baekhyun, lalu berdiri dan tanpa kata maupun penjelasan kepada Baekhyun, lelaki itu melangkah meuju pintu dan keluar dari kamar itu.

Baekhyun langsung terduduk, menatap ke arah pintu tempat Chanyeol pergi. Lelaki itu tidak menjawab perkataannya, mungkinkah itu tadi suara Yerin? Tapi bagaimana mungkin? Mungkin itu hanyalah salah satu pegawai Chanyeol yang suaranya mirip dengan Yerin.

Baekhyun menghela napas panjang, berusaha mengusir pikiran-pikiran aneh yang menghantuinya.

.

.

.

[ To Be Continued ]

.

.

.

Author's Note :

Annyeong :)

Authorwatiek pengen nanya dong. Kalian ada yang pernah nonton drama BL (Boys Love) Thailand yang judulnya 2Moons ?

Authorwatiek pengen banget rekomendasikan drama itu ke kalian :D

Ceritanya ala-ala fanfict yaoi gitu karena diadaptasi dari Novel dengan judul yang sama :3 si uke yang diam-diam jatuh cinta sama si seme yang merupakan seniornya di kampus... ulalaa XD

Uke-nya imut-imut kayak aku *dilempar palu* Seme-nya gantengnya ga ketulungan !!! ㅎㅇㅎ

Pokoknya rekomen banget deh! buat yang penasaran silahkan nonton di youtube pake keyword 2moons the series sub Indo Ada 12 episode dan semuanya wajib banget ditonton :) dan kabarnya bakal lanjut season 2 tahun depan :D :D

Tapi jangan salahkan Authorwatiek yess kalau nanti kalian kena 'mabok 2moons' kayak eykee ㅋㅋㅋㅋㅋㅋ :D :D