Chapter 11

Main Cast :

Chanyeol: Raja dari kerajaan Viering

Baekhyun: Putri satu satunya dari bangsawan Earl of Hielfinberg

Grand Duke / Duke of Krievickie / Jungsoo: Penasehat Raja, ayah kandung dari Luhan & Sehun

Luhan & Sehun

Jongin / Duke of Binkley: Sepupu dari Chanyeol, putra mahkota Viering

Kyungsoo / Duchess of Binkley

Earl of Hielfinberg / Kyuhyun

*Duke/Duchess itu adalah tingkatan dari pemimpin bangsawan, Earl/Count juga bangsawan tetapi lebih rendah dari Duke/Duchess.

.

.

.

Chanyeol menurunkan kaki Baekhyun di atas tanah.

"Kita sudah sampai," ia memberitahu.

Baekhyun melepaskan tangannya dari leher Chanyeol dan membuka matanya.

Ia tersenyum lebar melihat jalan setapak ke villa kerajaan, Corogeanu.

Matanya langsung melihat Luhan yang berdiri tak jauh di depannya bersama Sehun.

"Luhan!" Baekhyun berlari riang.

Luhan menyambut gadis itu dengan pelukannya. Ia lega melihat Baekhyun yang kembali segar bugar.

"Ayo kita pergi, Luhan," Baekhyun menarik lengan wanita itu, "Aku sudah tidak sabar menjelajahi tempat ini."

Luhan tidak mempunyai kesempatan untuk melawan Baekhyun. Ia hanya bisa membiarkan gadis itu menariknya dengan paksa.

"Hati-hati Baekhyun!" Sehun berseru cemas, "Awas Luhan!" serunya ketika melihat Luhan hampir terjatuh karena Baekhyun.

Sehun memegang dahinya dan mengeluh panjang. Baekhyun memang selalu bisa membuatnya cemas.

Sejujurnya, Sehun tidak terlalu cemas akan Baekhyun. Ia lebih mencemaskan Luhan. Luhan bukan seorang gadis liar seperti Baekhyun. Ia adalah seorang lady!

Chanyeol tertawa.

Sehun terkejut. Entah sejak kapan Chanyeol telah berada di belakangnya.

"Sepertinya Baekhyun sudah pulih."

Sehun melihat kedua wanita yang terpenting dalam hidupnya itu telah menjauh.

Chanyeol pun tersenyum melihat Baekhyun yang kembali ceria itu. Baekhyun di atas daratan memang berbeda dengan Baekhyun di atas laut.

"Paduka," Sehun berkata serius, "Saya telah mendengarnya. Anda mengetahui tentang Baekhyun."

"Ya," gumam Chanyeol.

Sehun melihat Chanyeol dengan serius.

"Itu adalah cerita masa lalu. Kejadian itu murni kecelakaan. Tidak ada gunanya mengungkit cerita masa lalu. Lagipula itu akan terlalu kejam untuk Baekhyun."

Sehun lega mendengarnya.

"Mungkin hari ini aku boleh memberi kebebasan pada Baekhyun," Chanyeol tersenyum penuh arti melihat gadis itu membuat Luhan panik.

"Mari kita pergi," Chanyeol menepuk pundak Sehun.

"Kau mencemaskan Luhan, bukan?" Chanyeol melalui Sehun, "Aku tidak mencemaskan Baekhyun tapi aku mencemaskan Luhan. Aku percaya Baekhyun akan membuat Luhan celaka," dan pemuda itu tertawa.

Sehun terperangah. Mau tak mau ia pun tersenyum. "Baik, Paduka," katanya mengikuti Chanyeol mengejar kedua gadis di depan itu.

"Sehun, kau bisa memanggilku Chanyeol," Chanyeol memberitahu. "Aku sudah bukan hanya seorang Raja bagimu. Sekarang aku juga menjadi bagian dari keluarga kalian."

"Saya juga sependapat," kata Sehun, "Tapi… Papa."

"Jungsoo memang seorang yang masih kolot," Chanyeol tertawa geli.

Sehun terperangah. Baru kali ini ia mendengar Chanyeol berkomentar tentang ayahnya.

"Tapi kerajaan ini membutuhkan orang seperti dia, bukan?" kata Chanyeol serius.

Sehun mengangguk. Andai bukan karena pikiran kolot ayahnya, mungkin ayahnya sudah langsung mengambil alih tahta ketika Chanyeol masih terlalu kecil untuk menjadi seorang Raja.

.

.

.

Grand Duke bingung melihat Raja Chanyeol duduk santai di Ruang Duduk Corogeanu menikmati anggurnya.

Beberapa saat lalu seorang pelayan menyampaikan panggilan Chanyeol. Ia menduga ada sesuatu yang hendak dirundingkan Chanyeol dengannya.

Namun apa yang dilihatnya saat ini berbeda dengan dugaannya.

"Duduklah," ia menyambut kedatangan sang Grand Duke.

"Paduka Ratu?" Jungsoo melihat sekelilingnya.

"Ia ada bersama Luhan dan Sehun yang menemaninya menjelajahi Corogeanu. Untuk sementara waktu ini aku memiliki waktu luang," lalu ia menawari, "Kau mau minum apa? Brandy? Armagnac? Atau Sherry? Vodka?"

"Anggur merah," jawab Grand Duke.

Chanyeol tersenyum, "Kau masih tidak berubah." Chanyeol menuangkan segelas anggur merah untuk Grand Duke.

Jungsoo menerima gelas itu.

Chanyeol menuju jendela dan memperhatikan kegiatan para tamunya di luar.

Sekitar lima ratus bangsawan dan keluarga ternama yang diundang itu tampak menikmati keindahan Corogeanu. Sekelompok wanita tampak berkumpul di bawah rimbunan pepohonan dan bercanda riang.

Sekelompok tamu menikmati jamuan yang disiapkan di kebun. Beberapa pria tampak merundingkan sesuatu dengan serius.

Sekelompok anak kecil yang turut serta bersama orang tuanya, bermain dengan riang.

Entah di mana sekarang Baekhyun berada. Begitu melihat bangunan villa yang dinamakan sesuai dengan nama pulau ini, Baekhyun berseru gembira.

Ia menarik Luhan menjelajahi Corogeanu sambil mengumumkan, "Ini adalah waktu penjelajahan!"

Melihat Baekhyun kembali membawa kabur kakaknya, Sehun langsung mengikuti mereka. Chanyeol memutuskan untuk menyerahkan mereka pada Sehun. Ia masih punya pekerjaan yang perlu dilakukannya sejak awal perjalanan ini yaitu menyambut tamu-tamunya.

Chanyeol berpikir andai bencana itu tidak pernah terjadi, mungkin Baekhyun sudah dari dulu jatuh cinta pada tempat ini.

Corogeanu bukanlah pulau besar. Bahkan pulau ini masih terlalu kecil untuk disebut pulau kecil.

"Sepertinya suasana tahun ini berbeda dari tahun-tahun yang lalu." Grand Duke mengangguk setuju.

"Entah mengapa aku merasa Baekhyun akan membawa sebuah kejutan."

"Mungkin karena ia selalu membuat kejutan," Jungsoo memberikan komentarnya.

"Dia suka membuat keributan," Chanyeol membenarkan. Matanya mencari cari Baekhyun di seputar pulau kecil ini.

Chanyeol melihat sesuatu melompat dari beranda di lantai tiga Corogeanu tak lama kemudian muncul seorang wanita dengan wajah paniknya disertai seorang pria.

Sesaat kemudian wanita itu melompat dari beranda.

Pria itu tampak panik dan kemudian ia pun melompat dari beranda ke pohon di bawah beranda itu.

Pemandangan itu membuat Chanyeol teringat peristiwa serupa yang dilihatnya beberapa tahun lalu.

Chanyeol masih ingat saat itu ia berada di dalam kereta menanti sang Grand Duke yang mengambil barang di dalam Mangstone.

Di saat ia menanti itulah tiba-tiba ia melihat sebuah sosok kecil melompat dari beranda ke pohon terdekat.

Ia bergelayutan dari satu dahan ke dahan yang lain dengan lincahnya selayaknya seekor monyet.

Sesaat kemudian tampak seorang gadis remaja muncul di beranda dengan wajah geramnya. Ia bertengkar dengan seorang pemuda sebelum ia melompat dari beranda.

Chanyeol membelalak kaget. Ia mengenali wajah gadis itu. Ia adalah Luhan, putri Duke of Binkley!

Pemuda yang tak lain adalah Sehun itu tampak panik dan ia pun mengejar kedua gadis itu.

Chanyeol tertawa. Ia benar-benar tidak menduga Luhan, putri Duke of Binkley yang anggun ternyata bisa bertingkah seperti ini.

Grand Duke yang muncul dari dalam Mangstone kebingungan melihat rajanya tertawa geli.

Chanyeol tidak pernah memberitahu Jungsoo apa yang membuatnya tertawa saat itu. Jungsoo juga tidak pernah bertanya.

Chanyeol tersenyum geli melihat Luhan dengan susah payah mengejar Baekhyun yang dengan lincahnya melompat dari satu dahan ke dahan yang lain.

Sehun, di sisi lain, kebingungan mengejar kedua gadis itu.

"Aku tidak bisa hanya berdiam diri di sini," Chanyeol beranjak meninggalkan jendela, "Sehun membutuhkan bantuan."

Grand Duke tidak mengerti tapi ia juga tidak menghentikan Chanyeol.

Chanyeol langsung menuju halaman tempat ia melihat kedua wanita itu saling kejar mengejar dan Sehun yang kewalahan menghentikan keduanya melakukan tindakan yang berbahaya dengan gaun mereka yang merepotkan itu.

Chanyeol berdiri di bawah sebatang pohon dan menengadah.

"Sudah waktunya kau berhenti."

Baekhyun terkejut. Kakinya terpeleset. Tangannya langsung bertindak cepat berpegangan pada dahan pohon.

Luhan membelalak kaget. Ia melihat Chanyeol yang berdiri di bawah mereka dengan wajah memerah.

Sehun juga tidak kalah kagetnya melihat Chanyeol tiba-tiba muncul.

Baekhyun memanjat dahan pohon tempat ia menggelantung dan duduk.

Matanya langsung menatap tajam Chanyeol, setajam suaranya, "Apa-apaan kau ini!? Apa kau ingin mencelakaiku!?"

"Aku tidak mencelakaimu," kata Chanyeol tenang, "Kau sendiri yang mencari bahaya."

"Apa katamu!?" Baekhyun marah.

Chanyeol menghela nafas panjang.

"Apa!?" Baekhyun tidak suka melihat wajah lelah pria itu. Ia tidak melakukan apa-apa yang menganggu pria itu. Untuk apa ia memasang wajah itu!?

Baekhyun benar-benar tidak menyukai Chanyeol!

Chanyeol mendekati pohon itu. Di luar dugaan Baekhyun, pria itu mulai memanjat ke arahnya.

Luhan membelalak.

Sehun melotot.

"Sehun, dia," bisik Luhan.

"Aku tidak tahu apa yang sedang dipikirkannya," jawab Sehun.

Beberapa tahun lalu Chanyeol tidak bisa berbuat apa-apa selain bisa tertawa dan menahan rasa iri hatinya melihat ketiganya bersenda gurau sambil melompat dari pohon yang satu ke pohon yang lain.

"Apa yang kau lakukan!?" Baekhyun memelototi pria yang langsung duduk santai di pangkal dahan yang sama dengannya.

"Bukan hanya kau yang ingin duduk di sini," Chanyeol menyandarkan punggung ke batang pohon. Ia menutup matanya seolah-olah sedang menikmati hawa segar di sekitar pohon itu.

"Sebaiknya kau jangan melakukan sesuatu yang bodoh!" Chanyeol memperingati, "Aku tidak mau merepotkan diriku sendiri."

"Siapa yang menyuruhmu merepotkan dirimu sendiri?!" Baekhyun memalingkan badan. Gerakannya yang tiba-tiba itu membuat tubuh Baekhyun kehilangan keseimbangan.

Baekhyun membelalak kaget. Dahan tempatnya duduk terlalu dekat dengan ujung dahan dan tidak cukup kuat untuk menahan gerakannya yang tiba-tiba itu.

Chanyeol segera meraih tangan Baekhyun dan memeluknya erat-erat.

"Kau benar-benar liar," keluh Chanyeol, "Kau hanya akan membuat masalah besar kalau kau jatuh. Duduklah yang manis seperti Luhan."

Mendengar namanya disebut, wajah Luhan memerah lagi. Selama ini tidak seorang pun selain Baekhyun dan Sehun tahu ia bisa memanjat pohon.

Bahkan ayahnya pun tidak tahu!

Sehun melompat dari dahan tempatnya berdiri ke sisi Luhan. Berdua mereka memperhatikan Baekhyun yang masih belum pulih dari kekagetannya, meringkuk di pelukan Chanyeol.

"Kurasa kita harus meninggalkan mereka," bisik Sehun.

Luhan mengangguk mengerti dan menerima uluran tangan Sehun.

Baekhyun berusaha menenangkan dirinya sendiri. Sesaat yang lalu ia merasa nyawanya telah pergi meninggalkan raganya.

Chanyeol tersenyum geli melihat gadis itu. "Kau sudah kehilangan nyalimu?"

Kemarahan Baekhyun langsung bangkit lagi mendengar suara mengejek itu.

Ia memelototi Chanyeol.

"Sekarang tinggal kita berdua," kata Chanyeol sebelum Baekhyun sempat melontarkan kemarahannya.

Baekhyun langsung melihat tempat Luhan dan Sehun beberapa saat lalu berada.

"Mereka sudah pergi," Chanyeol memberitahu.

Mata Baekhyun menangkap sosok Sehun yang membantu Luhan turun dari pohon.

Baekhyun memalingkan kepala.

"Jangan!" Chanyeol mencoba memperingati tetapi ia terlambat. Mata Baekhyun menggelap melihat hamparan laut di belakangnya.

Tubuhnya bergetar keras. Ia merasa seluruh dunia berputar dan bersamaan dengan itu tenaganya menghilang.

Chanyeol kembali memeluk Baekhyun erat-erat. "Tidak apa-apa," bisiknya, "Tidak akan terjadi apa pun."

Baekhyun mencengkeram kemeja Chanyeol. "A-aku ingin kembali."

"Tidak ada salahnya kau menemaniku di sini," Chanyeol memegang tangan Baekhyun.

Baekhyun melihat senyum lembut Chanyeol. Jantungnya berdebar keras. Ia tidak tahu apa yang harus dilakukannya.

Sementara itu di dalam, Luhan berdiri di sisi jendela. Matanya tidak lepas dari pohon tempat Chanyeol dan Baekhyun berada.

"Kau tidak perlu mencemaskan mereka," Sehun berkata, "Paduka tidak akan melakukan sesuatu yang berbahaya."

Luhan tidak menanggapi.

"Seharusnya kau lebih tenang sekarang," Sehun membuka mulut,

"Setidaknya sekarang ada Paduka yang mengawasi Baekhyun."

"Aku bingung," gumam Luhan, "Haruskah aku memanggil mereka?"

Sehun bingung melihat kegundahan Luhan.

"Makan malam sudah hampir siap."

Sehun tersenyum. "Kulihat kau tidak perlu memusingkan hal itu. Paduka sudah tahu. Lihatlah."

Luhan memperhatikan halaman.

Chanyeol sudah berdiri di dahan kemudian ia meloncat.

Luhan terkejut. Di sana, Baekhyun pun membelalak kaget.

"Apa yang kaulakukan!?" seru Baekhyun panik.

Chanyeol mendarat di tanah dengan mulusnya kemudian ia menengadah.

"Melompatlah."

"APA!?"

"Aku akan menangkapmu," Chanyeol mengulurkan tangan.

"Siapa yang akan melakukan hal gila sepertimu!?" Baekhyun kesal.

Chanyeol tersenyum geli. "Bukannya kau selalu melakukannya?"

Baekhyun termenung.

"Ia tidak akan melakukannya, bukan?" Luhan menatap adiknya dengan cemas, "Baekhyun tidak akan melompat seperti Paduka, bukan?"

"Siapa tahu," gumam Sehun, "Aku tidak yakin apa yang akan dilakukan Baekhyun tetapi aku tahu Paduka tidak akan mencelakakan Baekhyun."

"Baekhyun, jangan melompat," Luhan berdoa namun di saat yang bersamaan Baekhyun menjatuhkan diri dari dahan.

"BAEKHYUN!" Luhan terpekik kaget.

Sehun langsung menangkap tubuh lemas kakaknya. "Tidak apa-apa," katanya menenangkan, "Baekhyun tidak apa-apa. Lihatlah itu."

Luhan membuka matanya.

Paduka Raja tengah membopong Baekhyun. Ia tidak menurunkan Baekhyun malah membawanya ke dalam.

"Tampaknya ia lebih kuat dariku," gumam Sehun.

"Ya, Tuhan, Baekhyun…," Luhan tidak tahu harus berkata apa.

Sementara Luhan sedang memulihkan kekagetannya, Baekhyun berusaha keras melepaskan diri dari Chanyeol.

"Turunkan aku!" Baekhyun memasang wajah cemberutnya.

"Mengapa?" Chanyeol bertanya tidak mengerti, "Ini adalah bulan madu kita. Apakah salah kalau aku bersikap manis pada istriku selama bulan madu?"

"Bulan madu?" Baekhyun mencibir. "Tidak ada orang yang berbulan madu dengan membawa berpuluh-puluh penonton."

Chanyeol hanya tersenyum. Sudah sejak tadi ia menyadari puluhan pasang mata yang terus memperhatikannya membopong Baekhyun.

"Apakah itu artinya kau ingin berbulan madu hanya denganku?" ia sengaja menggoda Baekhyun, "Setiap malam kita bisa berbulan madu."

"Mati pun aku tidak sudi!" Baekhyun menanggapi dengan cepat.

"Aku tidak akan membiarkannya," Chanyeol meneruskan godaannya, "Kalau kau mati, aku tidak akan mempunyai pasangan bulan madu."

"Dengan rekor kekasihmu, aku yakin dalam satu jam kau akan menemukan pasangan baru."

Alis Chanyeol terangkat. "Kau cemburu?"

"S-si-si," wajah Baekhyun merah padam, "Siapa yang cemburu!?" suaranya meninggi dengan kesal.

Chanyeol tertawa geli. Ia tidak tahu wajah Baekhyun memerah karena kesal atau memang karena malu. Chanyeol hanya tahu Baekhyun tidak menyukai godaannya dan itu sudah cukup untuknya.

Chanyeol melihat Duke Jungsoo mendekat diikuti putra-putrinya.

"Sudah, jangan marah," Chanyeol menurunkan Baekhyun, "Luhan akan menggantungku kalau melihat wajahmu itu."

"Aku akan melaporkanmu pada Luhan!" Baekhyun menjulurkan lidahnya pada Chanyeol dan langsung berlari ke pelukan ibu angkat kesayangannya itu.

Chanyeol hanya tersenyum melihat Baekhyun menarik Luhan pergi dengan gembira. Dalam hati ia berpikir Baekhyun memang masih anak-anak.

"Apa yang terjadi, Paduka?" Duke Jungsoo bertanya cemas, "Tampaknya Paduka Ratu tidak senang berada di dekat Anda."

Chanyeol hanya tertawa. "Dia alergi padaku," katanya kemudian ia bertanya,

"Ada apa kau mencariku, Jungsoo?"

"Saya hanya ingin bertanya apakah Anda akan menginap di sini atau langsung pulang bersama tamu-tamu yang lain."

Chanyeol melihat Baekhyun yang kini sudah berbaur dengan tamu-tamu yang lain dikawal Sehun.

"Aku tidak berani menjamin Baekhyun dapat melupakan laut di sekitarnya ini," Chanyeol memutuskan, "Kami akan pulang bersama kalian."

Dan sebelum sang Grand Duke berkata, ia menambahkan, "Dapatkah kau mencari Lawrence untukku?"

Walaupun tidak mengerti akan permintaan Rajanya, Duke Jungsoo tetap berkata, "Tentu, Paduka Raja."

Kemudian, seperti Baekhyun, Chanyeol pun berbaur dengan tamu-tamunya sambil menunggu makan malam.

.

.

.

Baekhyun sedang bercanda dengan tamu-tamunya, ketika terdengar bentakan kasar.

"APA!? Apa kalian sudah puas melihatku!" Kyungsoo bersila pinggang memelototi sekelompok wanita, "Memangnya kalian pikir siapa kalian!? Beraninya kalian memelototi Duchess of Binkley!?"

Seperti semua orang di tempat itu, Luhan melihat Kyungsoo melabrak sekelompok wanita itu tanpa dapat berkata apa-apa.

Baekhyun langsung mendekati mereka.

"Kita akan melihat pertunjukan menarik," Sehun tersenyum simpul.

Luhan langsung memelototi Sehun dengan tidak senang. Sementara itu Baekhyun sudah tiba di sisi kumpulan orang yang menjadi pusat perhatian itu.

"Apa yang terjadi, Kyungsoo?" Baekhyun sengaja bertanya pada wanita itu dengan senyum manis tersungging di wajah lembutnya.

Karena Kyungsoo tampak tidak ingin menjawab pertanyaannya, Baekhyun berpaling pada sekelompok wanita di sisi yang lain. "Dapatkah kalian memberitahuku apa yang telah terjadi?"

Mereka pun tidak mengeluarkan suara.

Baekhyun pun menyadari sesuatu. "Walau aku tidak mengerti apa yang telah terjadi, sebagai senior Kyungsoo, aku meminta maaf yang sebesarbesarnya."

Baik Luhan maupun Sehun terperanjat.

"Aku harap kalian bisa memaklumi tindakan Kyungsoo. Ia masih baru dalam lingkungan ini," Baekhyun berkata dengan segenap ketulusannya,

"Aku tidak terlalu mengerti masa lalu Kyungsoo. Namun sepertinya, Kyungsoo tidak suka terus-terusan menjadi pusat perhatian. Aku berharap kalian bias memaklumi sikapnya ini. Selain itu aku juga berharap kalian bisa membantu Kyungsoo terbiasa dengan kehidupan barunya."

Bibir Sehun membentuk senyum geli. "Aku sudah tahu Baekhyun tidak akan berpihak pada Kyungsoo."

"Sejak kapan dia pandai menyindir orang?" gumam Luhan.

Tidak seorang pun dari mereka yang membuka suara. Kemudian Baekhyun berpaling pada Kyungsoo.

"Kyungsoo, sebagai Duchess of Binkley, aku ingin kau memahami kedudukanmu. Aku berharap engkau bias memperlakukan tamu-tamuku seperti tamu-tamumu sendiri. Aku yakin Duke Jongin sudah menjelaskan pentingnya kedudukanmu ini." Raut wajah Baekhyun dipenuhi rasa bersalah.

"Maafkan aku, tak seharusnya aku berkata sekeras itu padamu." Sepasang bola matanya menatap Kyungsoo lekat-lekat, "Aku lupa engkau pasti masih tidak dapat meninggalkan kebiasaan masa lalumu."

Tangan Kyungsoo terkepal erat di sisi tubuhnya.

"Aku tidak tahu apakah Duke Binkley sudah mengajarkan dasar-dasar tata krama pergaulan kelas ini. Aku hanya ingin mengulangi sebagai seorang Duchess, kau tidak boleh mengumbar emosimu seperti itu.

Perbuatan itu hanya merendahkan dirimu sendiri. Semoga engkau bias memahaminya. Aku tidak ingin orang lain memandang rendah pada wanita yang akan menjadi penerusku sampai putra kami lahir.

Engkau juga perlu memahami sebagai Duchess of Binkley, engkau tidak akan dapat terlepas dari pusat perhatian. Jangan khawatir, perhatian setiap orang padamu berbeda dengan perhatian tiap pria ketika kau masih bekerja di Dristol."

Kemudian Baekhyun mendesah kecewa. "Aku sungguh iri padamu. Aku, sang Ratu Kerajaan Viering, tidak mendapatkan banyak perhatian walau kedudukanku lebih tinggi darimu." Lalu Baekhyun tersenyum manis,

"Apa boleh buat, kau lebih punya daya tarik daripada aku. Bukankah begitu, Duke Jongin?" mata Baekhyun tertuju pada sang suami Kyungsoo, Duke of Binkley yang sejak awal hanya berdiri terpaku di tempatnya.

Duke Jongin terperanjat. "B-benar, Paduka Ratu." Ia menjawab dengan gugup.

Sehun tidak dapat menahan tawa gelinya. "Baekhyun benar-benar luar biasa."

"Dia benar-benar tidak mudah dihadapi."

Sehun terperanjat. Ketika ia menoleh, Chanyeol sudah berdiri di belakangnya.

"Luhan, aku perlu bantuanmu," kata Chanyeol ketika ia mendapat perhatian wanita itu.

"Dengan senang hati, Paduka."

Chanyeol mengeluarkan sebuah botol kecil dari saku bajunya. "Aku ingin kau memasukkan obat ini pada minuman Baekhyun."

Keduanya membelalak kaget.

"Aku sudah mengatur tempat duduk kalian selama makan malam," lanjut Chanyeol, "Aku akan mengalihkan perhatian Baekhyun untuk memberi kesempatan pada kalian."

"I-ini?" Luhan menerima botol itu dengan bingung.

"Ini adalah obat tidur yang kuterima dari Lawrence," Chanyeol menjelaskan,

"Lebih baik membiarkan Baekhyun tidur sepanjang perjalanan daripada membiarkannya membuat ulah."

"Baekhyun pasti akan marah besar," komentar Luhan.

"Tidak ada cara lain," Sehun juga berkomentar, "Hanya ini satu-satunya cara untuk membawa pulang Baekhyun tanpa membuat gadis itu ketakutan."

Chanyeol tersenyum penuh arti. Kemudian ia berkata, "Sudah saatnya aku menghentikan ini." Chanyeol pun mendekati Baekhyun.

Luhan menarik baju Sehun untuk mendapatkan perhatiannya. "Sejak kapan ia berada di sana? Apakah ia melihat semuanya?"

"Entahlah," hanya itu yang dapat dijawab Sehun.

"Baekhyun, sayangku," Chanyeol menyelipkan tangannya di pinggang Baekhyun, "Aku tahu engkau tertarik pada masa lalu Kyungsoo namun sekarang bukan saatnya mendengar cerita yang menarik itu."

Baekhyun langsung menengadah melihat Chanyeol.

"Aku yakin makan malam sudah siap," Chanyeol memberitahu, "Engkau mau ke sana sendiri atau kugendong?"

Wajah Baekhyun langsung memerah. "Aku bisa berjalan sendiri," ia langsung membalikkan badan.

Chanyeol tersenyum melihatnya. Ia berpaling pada Jongin dan berkata,

"Kuharap engkau bisa membantu istri pilihanmu terbiasa dengan kehidupan barunya ini," dan ia segera mengikuti Baekhyun.

.

.

.

"Di mana Baekhyun?" Chanyeol menatap tajam pelayan pribadi Baekhyun,

"Katakan padanya aku menyuruhnya datang sekarang juga!" Chanyeol marah.

"Ehm…, Paduka Raja. Itu… anu… Paduka Ratu," Nicci bingung, "Dia… Paduka Ratu…"

Chanyeol menghela nafas.

Kemarin malam ketika Baekhyun masih terlihat segar bugar ketika mereka akan kembali ke Tognozzi, Chanyeol sempat curiga kakak beradik Krievickie tidak melakukan tugas mereka. Namun ketika Baekhyun terus berpegang padanya ketika mereka sudah memasuki kapal, Chanyeol tahu keduanya telah berhasil tanpa sedikit pun menimbulkan kecurigaan Baekhyun. Hanya semangat Baekhyunlah yang membuat obat itu tidak bekerja seperti yang diharapkan Chanyeol.

Baekhyun sempat membuat keributan ketika ia tiba-tiba terjatuh tak lama setelah kapal meninggalkan Corogeanu.

Chanyeol segera mengatasi keadaan dengan membawa Baekhyun ke kamar dan memanggil Lawrence untuk memeriksanya.

Tentu saja keduanya tahu apa yang membuat Baekhyun tiba-tiba jatuh pingsan namun tak seorang pun dari mereka yang membuka suara.

Lawrence sempat mengagumi daya tahan Baekhyun pada obat tidurnya.

Namun ia yakin, Baekhyun akan terus tertidur hingga mereka mencapai Istana. Dan memang itulah yang terjadi. Baekhyun terus tidur hingga pagi ini!

Ketika Baekhyun muncul di Ruang Makan dengan wajah cerianya, Chanyeol yakin gadis itu tidak tahu apa yang membuatnya pingsan kemarin malam.

Namun rupanya ia terlalu menyepelekan Baekhyun. Gadis cerdas itu pasti tahu apa yang sudah diperbuatnya dan sekarang ia memberikan pembalasannya!

Pagi ini ia sudah memberitahu Baekhyun mereka akan menghadiri sebuah perjamuan sosial. Sekarang, gadis itu menghilang. Seharusnya ia sudah tahu akan begini jadinya.

"Ke mana dia?"

Nicci terkejut.

"Ke mana biasanya dia menghilang?"

Nicci sadar ia tidak bisa berbohong pada Raja Chanyeol. "Baju pelayan yang Paduka Ratu minta tidak ada di tempatnya,"

Nicci memberitahu dengan hati-hati. Matanya terus mengawasi setiap perubahan di wajah tampan Chanyeol,

"Mungkin Paduka Ratu pergi ke Loudline. Paduka Ratu suka pergi ke Loudline dengan menyamar sebagai pelayan Earl Hielfinberg."

Dengan tingkah Baekhyun yang seperti itu, Chanyeol sama sekali tidak terkejut. "Nicci, kau bisa mencarikan baju pelayan untukku?"

Nicci terperanjat. "Paduka, Anda… Anda… tidak bermaksud… bukan?"

"Seseorang harus menjemput Baekhyun."

"Anda bisa mengirim saya untuk menjemput Baekhyun. Saya tahu di mana biasanya Ratu berada."

"Aku tidak ingin mengulangi perintahku, Nicci," Chanyeol memperingati.

"B-baik, Paduka. Hamba akan segala melaksanakan perintah Anda," Nicci langsung bergegas pergi.

Kalau semua orang mengatakan Baekhyun adalah satu-satunya orang yang bisa menghadapi amarahnya, Chanyeol pun mempunyai kepercayaan diri ia adalah satu-satunya orang yang bisa mengatasi pemberontakan Baekhyun.

Chanyeol menghela nafas. Tampaknya hari ini ia tidak akan bisa ke mana mana.

Ia harus mengirim seseorang ke perjamuan itu.

"Paduka," Jancer, sang Kepala Pengawal Istana muncul dengan wajah pucatnya, "Saya telah mendengarnya. Saya bisa mengirim pasukan untuk menjemput Paduka Ratu."

Chanyeol tidak terkejut melihat wajah panik pria itu. "Harus aku sendiri yang menjemput Baekhyun."

"Saya akan mengatur pasukan untuk menemani Anda."

"Tidak, Jancer. Aku tidak mau dikawal," perkataan Chanyeol membuat Jancer membelalak, "Aku punya tugas lain untukmu."

Jancer tidak mengerti rajanya. Semenjak kehadiran Baekhyun di Istana ini, Chanyeol mulai berubah.

Sekarang ia menjadi seseorang yang benar-benar tidak dikenal Jancer.

Dulu Chanyeol selalu berkepala dingin menghadapi setiap masalah. Ia jarang mengumbar emosinya.

Sekarang, tiada hari mereka tidak mendengar bentakan Chanyeol. Anehnya, amarah Chanyeol tidak lagi semenyeramkan dulu.

Entah itu karena mereka sudah mulai terbiasa dengan suara nyaring Chanyeol yang mengagetkan istana setiap saat ataukah karena kehadiran Baekhyun yang selalu membantah Chanyeol dengan suara nyaringnya pula.

Jancer tidak mengerti.

Dulu Chanyeol tidak pernah menolak setiap wanita cantik yang muncul di depannya.

Sekarang Chanyeol hanya memfokuskan perhatiannya pada tugas-tugas kerajaan. Chanyeol tidak pernah lagi terlihat bersenda gurau dengan wanita-wanita cantik kecuali menyangkut urusan kerajaan.

Baekhyun membawa banyak perubahan pada Chanyeol.

Semenjak kedatangannya, Jancer sering mendengar tawa pemuda yang hamper tidak pernah tertawa semenjak kematian orang tuanya itu.

Ia juga sering memergoki rajanya itu mengawasi tingkah Baekhyun dengan senyum penuh arti.

Baekhyun…

Jancer tidak tahu bagaimana ia harus menggambarkan gadis itu. Di satu saat gadis itu tampak masih kanak-kanak. Di saat yang lain, ia begitu berwibawa. Di satu kesempatan ia sungguh liar dan di kesempatan lain ia sangat anggun.

Kemarin ia melihat sendiri sisi Baekhyun yang lain. Sebagai Kepala Pengawal Istana, sudah menjadi kewajibannya mengawal pasangan nomor satu di kerajaan ini.

Ia berada di tempat itu ketika Baekhyun menghadapi Kyungsoo yang menjadi pusat perhatian.

Gadis itu tampak begitu manis dan polos ketika ia mengucapkan kata katanya yang memahami posisi sang Duchess baru itu.

Kata-katanya yang lembut berpihak pada Kyungsoo. Setidaknya itulah yang dilihat setiap orang pada saat itu.

Namun bila seseorang berpikir lebih jauh, tidak sulit menangkap sindiran-sindiran tersembunyi gadis belia itu.

Jancer tidak tahu haruskah ia berkata Ratu Baekhyun adalah seorang malaikat, atau seorang iblis atau seorang iblis berbaju malaikat atau seorang malaikat berbaju iblis. Ia sungguh tidak dapat memahami tindakan ratunya yang satu ini.

Ratu Viering satu ini suka berbuat sesuka hatinya tanpa berpikir banyak.

Dan sekarang ia juga membuat Raja Viering ikut-ikutan.

Tidak! Tunggu dulu! Jancer tidak dapat menjamin Ratu akan dalam keadaan selamat ketika pasukan Istana mulai menyisir Loudline.

Jangan jangan keberadaan pasukan Istana di Loudline malah membahayakan Ratu.

Jancer tersenyum Rajanya memang orang yang dapat dihandalkan.

Duke Jungsoo pasti tahu kedua orang itu memang cocok hingga ia memilih Baekhyun.

Seperti Baekhyun yang selalu bisa menghadapi Chanyeol, Chanyeol juga adalah satu-satunya orang yang bisa menghadapi Baekhyun.

Namun keyakinan itu mulai goyah ketika Jancer melihat pekikan ngeri Duke Jungsoo saat ia menyampaikan pesan Raja untuknya.

"Paduka Raja ingin Anda mewakilinya dalam perjamuan siang ini. Bila mereka bertanya apa yang terjadi, Anda diminta untuk mengatakan Paduka Ratu sedang dalam keadaan tidak sehat sehingga Paduka Raja memutuskan untuk menemaninya."

"Apa katamu!?"

"Sekarang Paduka Raja pergi ke kota dan melarang seorang prajurit pun menemaninya," Jancer mengulangi.

"Mengapa kalian begitu ceroboh? Bagaimana kalau terjadi sesuatu pada Paduka Raja? Bagaimana kalau tiba-tiba ada perampok?" Jungsoo gelisah,

"Cepat kirimkan prajurit ke kota!"

"Tenanglah, Duke Jungsoo," Jancer menenangkan.

"Bagaimana kau bisa tenang!? Ini menyangkut keselamatan Paduka Raja!"

"Saya juga mencemaskan keselamatan Paduka Raja. Namun, saya merasa lebih berbahaya bila tiba-tiba segerombolan prajurit menyusuri kota. Mungkin akan lebih aman bila membiarkan mereka berdua berada di kota tanpa seorang prajurit pun. Tidak akan ada seorang rakyat pun yang akan mengenali mereka. Paduka Raja pasti tahu bagaimana menyembunyikan identitasnya."

"Mereka?" Duke bertanya tidak percaya.

"Bukankah saya telah mengatakan Paduka Raja pergi ke kota untuk menjemput Paduka Ratu?"

"Oh, Tuhan," Jungsoo tiba-tiba lemas, "Baekhyun…."

Jancer tercengang. Tampaknya tidak seorang pun benar-benar memahami sang Ratu Terpilih ini.

.

.

.

"Apa kau sudah membeli semua kebutuhanmu?" seseorang memegang pundak Baekhyun.

Baekhyun terkejut. Matanya terbelalak lebar.

Chanyeol menatap tajam Baekhyun dengan kesal. Tidak sulit menemukan gadis ini di Loudline. Seperti yang dikatakan Nicci, gadis ini berada di satu di antara toko-toko langganan Fauston. Tapi Nicci lupa mengatakan keberadaan pemuda yang jelas-jelas jatuh cinta pada Baekhyun di toko ini.

Chanyeol tidak tahu apakah Baekhyun benar-benar cerdas atau bodoh.

"Baekhyun, siapa dia?" tanya Daehyun.

"Dia… dia…," kepala Baekhyun langsung berputar cepat, "Dia juga adalah pelayan Earl."

"Oh, jadi dia teman sekerjamu," Daehyun mengambil kesimpulan.

"Bukan hanya itu saja," Chanyeol menarik Baekhyun mendekat ke sisinya, "Aku juga adalah suaminya." Matanya melihat pemuda itu dengan penuh kemenangan.

Mata Baekhyun melotot pada Chanyeol.

Daehyun tampak terpukul. "Oh," mata nanarnya menatap Baekhyun, "Kau tidak pernah memberitahuku, Baekhyun."

"Itu karena kau tidak pernah bertanya," Baekhyun menjawab cepat.

Chanyeol tersenyum puas melihat reaksi pemuda itu. Pemuda itu salah kalau ia berpikir Baekhyun juga tertarik padanya.

Chanyeol tahu Baekhyun hanya senang berteman dengannya. Tidak lebih dari itu!

"Maaf, aku masih ada pekerjaan lain," Daehyun mundur.

Baekhyun merasa bersalah melihat Daehyun. "Besok aku akan datang lagi," janjinya.

Chanyeol tersenyum puas melihat pemuda itu kabur dengan wajah pucat pasi.

"Apa maumu!?" bentak Baekhyun – menatap tajam Chanyeol. "Engkau membuat Daehyun kabur. Apa yang harus kulakukan kalau ia membenciku karenanya!?"

Chanyeol tidak suka mendengarnya. "Rupanya kau memihak pemuda itu."

"Aku tidak memihak siapa pun! Daehyun adalah temanku!" Baekhyun tertegun, "Jangan-jangan…,"

Ia melihat wajah kesal Chanyeol lekat-lekat, "Kau cemburu?"

"Jangan memancing pertengkaran di tempat ini," Chanyeol memperingati dengan berbahaya.

"Apa maumu datang ke sini?"

"Menurutmu?"

"Aku tidak mau pulang!" Baekhyun bersikeras, "Aku tidak mau kembali pada orang licik sepertimu! "

"Aku juga tidak ingin mengajakmu pulang."

Baekhyun tertegun.

"Hari ini aku ingin menjalankan tugasku sebagai seorang suami yang baik," Chanyeol memanfaatkan kesempatan itu untuk menyelipkan tangan Baekhyun di sikunya.

"Apa kau ingin mencari kesempatan untuk memberiku obat tidur lagi?" Baekhyun menyelidiki.

Chanyeol tersenyum tak bersalah. "Biasanya apa yang dilakukan seorang suami ketika istrinya berbelanja?"

"Mengomel sepanjang jalan, melarang istrinya menghamburkan uang," Baekhyun menjawab spontan.

"Tidak, kau salah," Chanyeol membenarkan, "Seorang suami yang baik berkewajiban mengeluarkan uang ketika istrinya yang bijaksana memutuskan membeli sesuatu dan membawakan barang belanjaan istrinya." Chanyeol tersenyum lembut.

"Aku adalah seorang suami yang baik dan aku percaya kau adalah seorang istri yang bijaksana."

Wajah Baekhyun memerah.

"Jadi, kau mau ke mana?"

Ketika keduanya menyibukkan diri di kota, sebuah gosip baru beredar di Loudline.

Orang-orang heran melihat sang Grand Duke muncul di jamuan social yang seharusnya dihadiri pasangan nomor satu Kerajaan ini. Mereka mulai berspekulasi mendengar penjelasan sang Grand Duke.

"Apakah itu mungkin?"

"Tidak mungkin salah lagi. Bukankah kemarin kita juga mendengar sendiri Ratu mengatakannya?"

"Tidak. Itu tidak mungkin. Mereka baru menikah."

"Mengapa tidak mungkin?"

"Bukannya kemarin Ratu terlihat tidak segar. Bahkan ia pingsan dalam perjalanan pulang. Raja juga tampak cemas sekali hingga ia terus berada di sisi Ratu."

"Tidak mungkin salah! Kemarin aku melihat Raja berbicara dengan Dokter Lawrence."

"Kalau itu benar, mengapa sampai sekarang tidak ada pengumuman resmi dari Istana?"

Setiap orang menggabung-gabungkan peristiwa kemarin dengan absennya Raja dan Rau dari perjamuan sosial yang juga dihadiri bangsawan-bangsawan ternama Viering ini.

Begitu cepat dan liarnya gosip itu berkembang hingga berita itu sampai di telinga Luhan.

"Sehun, apakah engkau sudah mendengarnya?" Luhan bertanya. "Apakah mungkin Baekhyun…?"

"Baekhyun juga seorang wanita?" Sehun balik bertanya.

"Ini bukan saatnya bergurau!" Luhan naik pitam, "Ini bukan masalah sepele!"

Sang pasangan yang sedang digosipkan sedang asyiknya berkeliling Loudline tanpa menyadari gosip tentang mereka juga akhirnya sampai di telinga Kyungsoo.

Sang Duchess of Binkley itu langsung panik mendengarnya. "Tidak! Ini tidak boleh terjadi!" pekiknya sambil terus berjalan mondar-mandir di depan suaminya.

"Kita sudah tidak punya waktu! Kita tidak boleh membiarkan anak itu lahir!"

"Apa yang kaukhawatirkan?" Jongin heran melihat kepanikan istrinya,

"Belum tentu gosip itu benar."

"Bagaimana kalau gadis ingusan itu benar-benar sedang mengandung!?"

"Belum tentu anak itu adalah pria."

"Engkau memang bodoh! Apa kau tidak sadar kritisnya posisimu ini!?" emosi Kyungsoo meledak.

"Aku harus melakukan sesuatu," Kyungsoo berbalik meninggalkan Jongin, "Aku harus melakukan sesuatu. Todd! Benar, aku harus segera menyuruh Todd membunuh gadis sialan itu!"

Jongin hanya duduk bengong melihat Kyungsoo terus bergumam sambil menjauh.

Ia tidak mengerti mengapa istrinya harus panik seperti itu hanya karena mendengar gosip yang beredar di jamuan sosial siang ini.

Bukankah ini adalah hal bagus kalau Baekhyun memang sedang hamil?

.

.

.

Nicci tercengang melihat Raja membantu istrinya turun dari kuda.

Mereka masing-masing pergi hanya dengan seekor kuda.

Sekarang keduanya kembali dengan menunggangi seekor kuda sementara kuda yang lain membawa dua keranjang besar yang menggelantung di kedua sisi pelana kuda di atas punggungnya.

Nicci tidak dapat mengeluarkan suara apa pun.

Chanyeol menyuruh prajurit yang juga tercengang di pintu, untuk menurunkan dua keranjang besar itu.

"Pa-paduka," Jancer juga tidak kalah kagetnya melihat kepulangan keduanya sore ini bersama belanjaan mereka, "Apa yang Anda lakukan?"

"Berbelanja," Chanyeol menjawab santai.

"Anda tidak perlu melakukan itu. Anda bisa menyuruh Vicenzo mengatur orang untuk membeli barang-barang yang Anda perlukan," kata Grand Duke Jungsoo yang juga menyambut kedatangan mereka.

"Istriku ingin memilih sendiri bahan-bahan dapurnya," Chanyeol tersenyum melihat Baekhyun yang sekarang dengan gembira memamerkan hasil belanjanya pada Nicci.

"Panggil Vicenzo untuk menyimpan belanjaan kami," katanya pada seorang prajurit, "Katakan padanya pula kami sudah kenyang."

Kemudian ia berbalik pada Jancer, "Apakah kau punya seorang prajurit tengah baya yang tangguh dan tidak kaku?"

Jancer terkejut oleh pertanyaan tidak terduga itu.

"Paduka Raja?" tanya Jungsoo.

"Lebih baik membiarkan dia pergi ke tempat yang kita ketahui daripada membiarkannya menghilang tanpa petunjuk."

"Tapi… itu…," Duke Jungsoo tidak sependapat dengan keputusan Chanyeol.

"Ia punya caranya sendiri untuk melakukan tugasnya sebagai seorang Ratu," Chanyeol percaya keputusannya ini tidak salah.

Seharian bersama Baekhyun di kota membuat Chanyeol menyadari mengapa gadis itu mengetahui banyak hal yang tidak diketahuinya.

Harus diakui Chanyeol, ia sempat terkejut menyadari betapa terkenalnya Baekhyun di Loudline. Rasanya hampir tidak ada yang tidak menyapa Baekhyun.

Melihat Baekhyun tampak begitu akrab dengan mereka, Chanyeol yakin kegiatan Baekhyun ini bukan hanya masalah sehari dua hari.

Sejujurnya, barang barang yang mereka bawa pulang kebanyakan adalah pemberian teman teman Baekhyun.

Tak heran Baekhyun suka kabur ke Loudline.

"Jancer, aku harap engkau segera menemukan prajurit itu. Aku tidak berani menjamin Baekhyun akan duduk diam sampai engkau menemukannya."

"Saya mengerti, Paduka. Saya rasa saya tahu siapa yang dapat menerima tugas itu."

"Suruh ia menemuiku di ruang kerjaku," kata Chanyeol.

"Saya akan segera melaksanakan perintah Anda," Jancer mengundurkan diri.

Chanyeol pun masuk ke dalam istana diiringi Jungsoo. "Bagaimana perjamuan siang ini?"

"Semua berjalan dengan lancar, Paduka," Duke Jungsoo memulai laporannya. "Saya memberi penjelasan sesuatu petunjuk Anda."

"Bagus," Chanyeol puas. Ia memasuki Istana diiringi Duke Jungsoo.

"Hm…, Paduka," Duke Jungsoo ragu-ragu. Ia tidak tahu bagaimana harus mengutarakan pertanyaannya, "Apakah Paduka Ratu… apakah ia…"

Chanyeol melihat Jungsoo dengan tertarik.

"Semua orang di jamuan membicarakannya. Paduka Ratu sedang hamil."

Chanyeol terperanjat. Kemudian ia tertawa geli.

Jungsoo bingung melihat reaksi itu.

"Baekhyun pasti senang mendengarnya," Chanyeol tidak menyangkal juga tidak membenarkan pertanyaan Jungsoo.

TBC –c-

Oh ya, maaf karena minggu ini saya sibuk banget jadi pasti agak jarang update. Tapi saya janji gak bakal lama lama hiatus. FF remake ini ada 18 chapt (panjang banget wkwk) saya harap readers gak bosen bosen bacanya paiii~