Skipper's Father Side
Chapter 11 : Worries
Disclaimer : Semua karakter dari Penguins of Madagascar bukan milik saya, melainkan DreamWorks dan Nickelodeon. Kecuali OC yang dibuat oleh saya sendiri.
"S-Skipper… kau…" Kowalski benar-benar tak bisa berkata apa-apa.
"Biarkan saja, Kowalski. Dia pantas mendapatkannya." Kata Skipper dengan ekspresi dingin.
"Tapi… aku rasa dia punya alasannya!" Kowalski melihat muka Skipper yang sangat tidak biasa. Ia benar-benar meledak hari ini.
"Alasan apa, Kowalski? Alasan apa?" Nada bicara Skipper makin menaik. "Lihatlah sekitarmu! Tidakkah kau sadar?"
"Tapi Skipper… aku bisa membuaat senjata itu lagi." Kata Kowalski.
"Butuh berbulan-bulan untuk membuatnya lagi bukan?" Skipper mendekatkan wajahnya ke depan wajah Kowalski.
"Ya… tapi…"
"Tapi apa?"
Kowalski kehabisan kata. Ia pun terdiam.
"Dia sudah menghancurkan seisi markas ini, bahkan memecahkan cangkirku!" Lanjut Skipper. Kowalski hanya menundukan kepalanya.
"Dia harus dihukum, Kowalski." Tegas Skipper. "Sekarang bantu aku membersihkan semua ini."
Kowalski dan Rico hanya mengangguk. "Siap, pak."
Sementara itu, Private masih menangis sambil memegangi pipi kanannya. Ia terus berlari keluar kebun binatang. Ia tak tahu harus kemana, yang pasti dapat menjauhkannya dari Skipper. Karena lelah berlari, ia berhenti di danau dan duduk dipinggirnya.
Ia terus menangis sambil melihat bayangan dirinya di air. Ia melihat kedua pipinya sangat merah, terutama yang sebelah kanan. Air matanya berjatuhan ke air. Rasa sakit dari tamparan Skipper masih berasa di pipinya. Ia benar-benar ingat kata-kata yang di katakana Skipper.
"Baru kami tinggal beberapa menit, kau sudah menghancurkan seluruh ruangan ini."
Kata-kata itu terus mengiang di kepalanya.
"Kau benar-benar bodoh."
"Bodoh… ya… aku memang anak yang bodoh dan tidak berguna." Gumam Private. "Aku tidak pantas menjadi anakmu, Skippah."
Ia terus menangis disana. Menangis… hanya itu yang ia lakukan.
Hari mulai gelap. Skipper, Kowalski, dan Rico baru saja membersihkan markas. Tapi… Private masih belum pulang. Mereka mulai khawatir, terutama Skipper.
"Skipper, Private belum juga kembali. Apakah kita harus mencarinya?" Tanya Kowalski.
"Kau tak usah pedulikan dia, Kowalski. Nanti juga dia pulang dengan sendirinya." Jawab Skipper. Padahal, dalam hatinya ia sangat mengkhawatirkan Private.
Kowalski terus bersikeras membujuk si pemimpin, "Tapi Skipper… bagaimana kalau dia hilang atau diculik?"
"Tak mungkin, Kowalski." Jawab Skipper. "Itu takkan terjadi."
Kowalski mulai kehabisan kata. "Tapi-"
"Cukup, Kowalski!" Skipper langsung memotong perkataan Kowalski. "Sekarang kalian cepatlah tidur! Besok ada yang harus kita kerjakan!"
Kowalski mendesah. Ia dan Rico lalu mengangguk dan pergi ke tempat tidur mereka masing-masing.
Skipper beranjak dari tempat berdirinya menuju meja. Ia merasa ingin meminum kopi. Tapi… ia tak memiliki cangkir lain. Ia lalu mencari cangkir yang bisa ia gunakan untuk meminum kopinya. Ia membongkar kardus yang berisi barang-barang yang sudah tak terpakai. Tapi, ia tak menemukan satu cangkir pun. Ia lalu mencari di lab Kowalski. Ia hanya menemukan benda-benda penemuan Kowalski disana.
Skipper mendesah dan memutuskan untuk tidur. Ia berjalan ke tempat tidurnya dan langsung berbaring disana. Tapi… ada sesuatu yang mengganjal di pikirannya.
"Private…" Gumam Skipper. Ia tak bisa berhenti memikirkannya. Ia berusaha menghilangkan pikiran itu.
"Hm… Nanti juga dia kembali." Dengan itu, ia memejamkan matanya dan tertidur.
Tak lama kemudian, Skipper mulai tidak tenang dalam tidurnya dan wajahnya seperti sangat ketakutan. Bahkan keringat mulai membasahi keningnya.
Ia mulai mengigau, "Private… Private…"
Ia bermimpi buruk tentang anak angkatnya. "Private… jangan pergi…"
Ia terus mengigau, "Private… maafkan aku…"
Sementara itu, Private masih di danau. Ia tak tahu harus berbuat apa lagi. Ia tak mau kembali ke kebun binatang. Tapi disini… Ia sendirian dan kegelapan ada dimana-mana. Itu membuatnya takut, ia memutuskan mencari tempat untuk tidur.
"Fred. Ya, dia pasti bisa membantu." Pikir Private. Ia lalu berjalan menuju pohon yang di diami Fred dan mengetuknya.
"Fred! Fred!" Teriak Private. Tapi tak ada respon.
"Fred!" Ia mengetuk pohonnya lebih keras. Fred masih belum keluar.
"FRED!" Kali ini, ia mengetuknya dengan sangat keras.
"Bisakah kau mengetuk lebih pelan?" Kata seseorang dari dalam.
"Fred! Aku butuh bantuanmu." Teriak Private. Fred lalu keluar dari pohonnya.
"Ada apa, Private?" Tanya Private.
"Apakah… masih ada cukup ruangan di rumahmu?" Tanya balik Private.
"Sejauh ini ada, kenapa?" Fred heran dengannya.
"Bolehkah… aku menginap di rumahmu?" Pinta Private tanpa basa-basi lagi.
"Um… tentu saja." Fred melihat mata Private yang sembab dan merah. Ia seperti habis menangis.
"Terima kasih, Fred." Private tersenyum. Ia dan Fred lalu masuk ke dalam.
"Private, apakah kau habis menangis?" Tanya Fred. Private hanya mengangguk.
Ia melihat pipi Private yang merah. "Dan kenapa pipimu?"
"Aku tak mau membicarakannya." Jawab Private sambil memalingkan wajahnya. Tiba-tiba ia menguap.
"Kau pasti lelah. Tidurlah dulu, Private." Ucap Fred.
"Baiklah, Fred." Dengan itu, mereka mulai berbaring dan lama-kelamaan tertidur.
- Keesokan harinya -
Skipper bangun dengan terengah-engah. Tubuhnya merinding seperti habis melihat sesuatu yang tragis.
"Mimpi… itu hanya mimpi…" Gumam Skipper sambil memegangi kepalanya. Ia berusaha menenangkan dirinya. Ia lalu melihat ke tempat tidur Private.
"Kosong!" Skipper benar-benar khawatir kali ini. Private belum juga kembali.
"Kowalski! Rico! Bangun!" Seru Skipper. Dengan cepat, mereka langsung bangun.
"Ada apa, Skipper?" Tanya Kowalski sambil mengusap matanya.
"Private belum pulang!" Jawab Skipper dengan sangat lantang.
"Apa?" Kowalski dan Rico sangat terkejut lalu menoleh ke tempat tidur Private yang kosong.
"Kita harus mencarinya!" Tegas Skipper. Kowalski dan Rico benar-benar bingung dengan perilaku Skipper hari ini. Padahal kemarin ia seperti sangat tidak peduli pada Private.
"Skipper, tenanglah!" Kata Kowalski sambil memegangi kedua pundak si pemimpin.
"Bagaimana bisa aku tenang, Kowalski!" Balas Skipper. Kowalski dapat melihat bahwa Skipper sedang sangat ketakutan dan panik. Ia belum pernah sepanik ini. Bahkan ini meliebihi seperti pada saat Private menanyakan siapa ayahnya sebenarnya.
"Baiklah, ayo kita cari Private." Kata Kowalski. Skipper mangangguk lalu kelauar lewat pintu belakang. Tapi ketika ia ingin keluar, ia menabrak seseorang dari luar. Mereka pun langsung terjatuh.
"Aw! Hey, lihat-lihat kalau jalan!" Rintih Marlene.
"Ugh… Marlene! Apa yang kau lakukan disini?" Tanya Skipper sambil membangunkan Marlene.
"Aku hanya ingin mengunjungi kalian." Jawab Marlene.
"Maaf, ada misi yang harus kami selesaikan!" Kata Skipper.
Marlene menengok ke belakang Skipper. " Mana Private?"
"Itulah masalahnya." Balas Skipper.
"Maksudmu… Private hilang?"
Skipper hanya mengangguk.
"Boleh aku ikut?"
"Tidak, Marlene. Ini hanya untuk anggota disini saja."
"Ayolah, Skipper." Marlene mulai menggoda Skipper.
"Hm… bagaimana ya?" Skipper berpikir sejenak.
"Ayolah… Kumohon…" Marlene terus menggodanya.
Akhirnya Skipper tak kuat mendengar rayuannya itu. "Terserah… Tapi jangan buat masalah."
Marlene hanya mengangguk. Dengan itu, mereka semua pergi keluar mencari Private.
A/N : Ya... kayaknya chapter ini nggak terlalu seru ya? ada yang bisa menebak Skipper bermimpi apa? XD well... RnR please :)
