Who is she? she is, Luhan.

Baby Aery HHS

-Big Event HunHan INDONESIA-

Main cast : Luhan, Sehun.

Genre : Hurt, Comfrot, Romance.

Rate : M 17+.

Warning : Genderswitch, Mature content, Dirty talk, Typo.

Length : Chapter.

PS : Semua pemain milik bersama(?) tapi FF ini cuma punyaku^^ hargai FF ini dengan review kalian. menerima keritikan tapi menolak bash! Kalo suka Alhamdulillah kalo ga suka cukup close FF ini. Happy reading^^

BACA SETELAH BUKA PUASA!

.

.

.

.

.

Eunhwa berjalan seorang diri di koridor sebuah apartement dengan menggered satu koper berwarna hitam. Dari mulutnya yang dipoles lipstick berwarna merah tidak kunjung berhenti mengeluarkan umpatan untuk Sehun karena anak satu-satunya itu menolak untuk datang menjemput dirinya di Incheon airport dengan alasan sibuk.

Tidak tau lah Eunhwa harus mengapakan Sehun nanti, tapi anak itu sudah benar-benar membuat ia kesal!

"Anak sialan. Berapa password apartementnya." Eunhwa kembali mengumpat sembari jemari miliknya yang dihiasi kutek berwarna biru menekan acak sederet angka yang berhasil membuat otaknya berputar tidak menentu. Seharusnya sekarang Eunhwa menunggu jemputan Sehun di hotel tapi Eunhwa merasa sungkan dan memutuskan untuk langsung datang ke apartement Sehun tanpa sepengetahuan anaknya, walau sekarang dirinya malah berakhir berdiri di depan pintu.

Pundak Eunhwa jatuh dengan lelah. Perjalanan dari New York ke Korea itu tidak sebentar tapi bukannya bisa langsung beristirahat kini ia justru terjebak. "Oh." Kaki Eunhwa mundur beberapa langkah saat melihat pintu di depannya terbuka. "Sehun." Berpikir jika itu adalah putranya namun mata Eunhwa melebar saat melihat wanita terkutuklah yang muncul dari dalam.

"Astaga! Sedang apa kau di apartement anakku?"

"Nyonya." Tiffany pun sama. Ia terkejut melihat kemunculan Eunhwa.

.

.

Sehun berjalan dalam balutan jas berwarna hitam yang dipadu kemeja biru tua bersama beberapa orang yang mengiringi langkahnya sembari menjelaskan apa tugas yang harus ia lakukan kelak di Mall yang sekarang menjadi tanggung jawabnya. Dengan baik Sehun mendengarkan matanya pun fokus mengikuti setiap toko yang ditunjuk oleh pegawai yang Luhan turunkan.

"Maaf." Sehun berujar saat ponselnya bergetar pelan. Sedikit menjauh Sehun menerima telepon dari ibunya. "Aku sibuk, bu." Itu adalah kalimat pertama yang Sehun keluarkan.

Dengusan terdengar dari ujung sana. "Cepat pulang. Ibu sudah ada di apartementmu."

"Ibu sudah ada di apartement?" Sehun mendelik terkejut. "Aku sudah menyuruhmu menunggu di hotel sampai aku datang menjemput."

"Kenapa? Kau ingin menyembunyikan wanita ini? Cepat pulang! Atau ibu akan menjual kembali saham yang kau miliki."

Pip

"Shit!" Ponselnya Sehun genggam dengan kesal. Tidak ada pilihan lain jika sudah begini.

.

.

Setelah menyelesaikan semua urusannya di Mall, Sehun bergegas pulang ke apartement.

Pintunya Sehun tutup dengan debuman keras dan hal pertama yang Sehun lihat adalah tumpukan koper di ruang tengah. "Ibu." Kaki Sehun melankah lebar mendekati Eunhwa yang sedang menggered koper lain. "Apa yang sedang kau lakukan?"

"Kau bertanya apa yang sedang ibu lakukan? Tentu saja mengemasi barang wanita itu!" Sembari menjawab dengan jengkel, Eunhwa memukuli Sehun menggunakan sebuah kemoceng. "Dasar anak tidak berguna! Kau sudah membuat ibu kehilangan muka di depan ayahmu dan sekarang kau mau membuat ibu tidak memiliki muka di depan kakakmu, hah?"

"Yak! Bu, hentikan!" Sehun mencoba membuat pertahanan dengan menyilangkah tangannya di depan kepala. "Dengarkan aku dulu."

Masih emosi, Eunhwa berhenti memukuli Sehun. "Apa yang mau kau jelaskan? Sekarang jawab ibu. Apa kau masih berhubungan dengan Tiffany?"

"Apa salahnya? Carey sudah menikah dengan wanita lain." Tanpa memiliki beban, Sehun menjawab tenang hingga membuat kekesalan Eunhwa semakin memuncak.

"Jadi menurutmu itu tidak salah? Carey tau kau berselingkuh dengan Tiffany dan sekarang kau masih berhubungan dengannya kau anggap itu tidak salah? Di mana letak malumu Sehun!" Eunhwa menatap Sehun dengan tatapan tidak mengerti. "Ibu tidak tau, apa dosa ibu sampai bisa memiliki anak sepertimu!" Pelan-pelan Eunhwa menghela napas, mencoba menenangkan dirinya sendiri. "Carey lebih beruntung darimu. Dia memilih wanita lain untuk dinikahi, tapi kau justru melepaskan Luhan hanya untuk wanita tidak berguna seperti dirinya." Ucapan Eunhwa terlempar pada kejadian saat malam itu Luhan keluar dari rumah.

Luhan! Benar, Eunhwa mengingat sesuatu. "Dan apa kau bilang? Kau ingin mendekati Luhan?" Eunhwa teringat kata-kata Sehun di telepon tempo hari. "Jangan bilang kau berniat mempermainkan Luhan."

"Kau berlebihan, bu." Sehun menjatuhkan tubuhnya di sofa. "Kau mau aku menikahi Luhan kan?"

"Ibu ingin kau menikah dengan Luhan karena ibu tau Luhan adalah wanita baik tapi jika kau hanya ingin mempermainkannya lebih baik Luhan menikah dengan pria lain."

"Itu tidak akan."

Eunhwa melirik Sehun yang mendengus. "Jika kau benar menginginkan Luhan kau harus melupakan Tiffany! Ibu pun tidak setuju jika kau menikah dengan wanita gila itu."

"Terserah." Sehun beranjak dari sofa dengan acuh dan berjalan ringan menuju kamarnya. Setelah pintunya ia tutup Sehun mengambil ponsel di dalam saku. "Kau ada di mana?"

"Sehun." Terdengar suara Tiffany di ujung telepon sana. "Aku ada di hotel."

"Ibu akan menginap di sini beberapa hari dan aku pun sedang sibuk di Mall jadi apa tidak apa-apa jika kau di sana sendirian untuk sementara waktu?"

"Hemmm, aku tidak apa-apa. Tapi bagaimana dengan-"

"Aku akan mentransfernya besok." Sehun menyela ucapan Tiffany karena Sehun tau apa yang menjadi kebutuhan kekasihnya.

"Ok, kau tidak usah khawatir. Aku menicintaimu."

Sambungan telepon terputus tanpa ada jawaban dari Sehun dan Sehun segera menjatuhkan tubuh lelahnya di atas ranjang. "Ibu ingin kau menikah dengan Luhan karena ibu tau Luhan adalah wanita baik tapi jika kau hanya ingin mempermainkannya lebih baik Luhan menikah dengan pria lain." Ucapan ibunya masih terngiang di telinga Sehun dan itu menghantarkan Sehun pada kenangan masa lalu.

"Aku di Korea dan kau di New York. Mengingat kau sangat menyukai sex apa kau akan berpaling?"

"Jangan berpikiran macam-macam, Lu."

"Seorang wanita selalu memiliki kehwatirannya sendiri, Sehun."

"Phone sex.. selalu ada solusi di jaman modern seperti sekarang."

"Bodoh.. apa kau tidak berpikir untuk menikahiku sebagai solusinya? Semuanya sudah aku berikan kepadamu, Sehun.. harusnya kau menjawab kalau kau akan menikahiku agar aku tidak khawatir."

"Baiklah.. aku akan menikahimu."

Keningnya Sehun pijat dengan mata terpejam saat bayang-bayang senyuman bahagia Luhan saat itu terpampang seperti nyata di depan matanya.

Luhan..

Kenapa ia jadi mengingat wanita itu? Ah, sial! Sehun beranjak dari ranjang. Bermaksud membersihkan diri dari kepenatan yang ia rasakan. Atau lebih tepatnya menghilangkan perasaan risau tanpa alasan yang tiba-tiba ia rasakan karena Luhan.

.

.

Beberapa orang di perusahaan Guman Group membungkuk ketika Sehun berjalan melewati mereka dan itu benar-benar seperti udara sejuk bagi Sehun karena ia merasa dirinya seperti di hormati.

"Baiklah. Sampai bertemu lusa."

Kepala Sehun tertoleh saat mendengar suara Luhan dan baner ada Luhan di ujung koridor sana. Dengan senyuman tipis Sehun berjalan menghampiri Luhan yang juga mengambil langkah mendekat kepadanya. "Selamat pagi nona Luhan." Secara sopan Sehun membungkuk.

Luhan yang melihat hal itu mendecih jijik. "Telepon tuan Lee untuk bertemu denganku nanti siang."

"Baik nona."

Sehun terkekeh saat Luhan mengabaikannya dan lebih memilih mengobrol bersama Chanyeol. Dengan sedikit tidak sopan, Sehun menarik tangan Luhan hingga mendekat kepadanya dalam jarak wajah yang sedikit dekat. "Tidak menjawab sapaan orang lain itu tidak sopan nona."

Luhan tidak menjawab dan hanya menatap Sehun dengan jengkel.

"Harusnya kau menjawab, Selamat pagi tuan Sehun. Bukankah kita sudah menjadi partner kerja?"

"Aku masih atasanmu Sehun dan apa yang sekarang kau lakukan bukanlah tindakan sopan."

"Aku masih bisa melakukan tindakan yang lebih tidak sopan." Satu kecupan di bibir Luhan, Sehun curi secara lembut. "Aku merindukanmu." Berbisik pelan kepada Luhan yang mulai mencoba memberontak. "Jangan lagi acuhkan aku." Sehun melepaskan cengkramannya pada dua tangan Luhan dan membiarkan Luhan pergi bersama Chanyeol yang masih ternganga tidak menyangka dengan hal apa yang baru dia lihat. "Ingat nanti malam nona Luhan." Berteriak kencang saat jarak Luhan sudahlah sedikit jauh dari dirinya.

Bibir tipiasnya Sehun usap menggunakan jempol. Di sana masih tertempel lipstick yang Luhan kenakan dan entah apa yang special hingga Sehun tersenyum sendiri melihatnya.

Mencuri ciuman dari sang ratu ternyata hal yang menyenangkan.

.

.

Pulang dalam keadaan lelah luar biasa adalah yang sekarang sedang Luhan rasakan. Tubuh rampingnya tanpa mampu dielak terasa begitu nyaman ketika ia jatuhakan di atas ranjang. Chanyeol menyeringit melihat mata Luhan terpejam. Sekarang sudah jam tujuh malam dan seharunya Luhan bersiap-siap untuk menghadiri acara peresmian Sehun sesuai ketentuan biasanya.

"Nona, apa kau tidak bersiap-siap untuk berangkat ke acara peresmian tuan Sehun?" Dengan hati-hati Chanyeol mengingatkan. Mungkin Luhan melupakan malam ini.

"Keluarlah. Kau bisa istirahat karena aku tidak berniat mendatanginya."

"Tapi nona, itu bisa memberi pengaruh buruk di kalangan pemilik saham."

"Itu yang aku inginkan agar mereka semua tau kalau aku tidak menyukai Sehun."

Chanyeol menghela napas dan tanpa bisa mengelak ia keluar dari kamar Luhan. "Nona Luhan sudah tidur, kita bisa beristirahat."

Woo bin dan beberapa anak buahnya mengangguk setelah mendapat pemberitahuan dari Chanyeol. Mereka dengan segera berjalan menuju tempat istirahat masing-masing.

.

.

Tuxedo berwarna silver dengan dasi kupu-kupu hitam melekat sempurna membalut tubuh tegap seorang Oh Sehun. Rambutnya yang dulu berwarna blonde kini sudah berubah menjadi hitam pekat dengan tatanan ke belakang hingga mampu memikat perhatian dari setiap tamu yang datang.

Eunhwa pun berpenampilan sama memukaunya. Gaun dari disainer New York yang memiliki detail apik nan mangagumkan sengaja ia bawa untuk ia kenakan di hari penting putra semata wayangnya. Tentu ia tidak ingin terlihat buruk malam ini karena malam ini adalah malam peresmian Sehun sebagai pemegang Mall.

Tamu dari pemilik saham, pegawai di Gumam group atau orang yang sengaja Sehun undang mulai silih berganti berdatangan sampai memenuhi tempat diadakannya sebuah pesta yang berkonsep modern juga elegan. Namun sampai satu jam sebelum mencapai puncak acara, orang yang ditunggu tidak kunjung datang menampangkan wajah cantiknya yang sudah Sehun tunggu sejak acara dimulai.

Mata tajam itu melirik resah pada jam tangan rolex yang ia kenakan. Sekarang sudah pukul setengah sembilan dan seharusnya Luhan sudah berada di sini karena sebentar lagi wanita itu harus menyampaikan sepatah kata di atas mimbar sana.

"Sehun, dimana Luhan?" Eunhwa menghampiri dengan tatapan sama cemasnya.

"Aku tidak tau. Teleponku tidak dia angkat"

"Kenapa kau tidak mencoba menjemputnya? Jika dia tidak datang para tamu bisa berpikir hal yang macam-macam."

Benar! Imagenya bisa rusak jika wanita itu tidak muncul. Atau dia sengaja tidak datang untuk mengacaukan malam peresmiannya? "Sial!" Menyadari kejanggalan yang ada, Sehun bergegas pergi dari tempat pesta.

.

.

Mobilnya Sehun kendarai dalam kecepatan penuh, kini ia sedang dikejar waktu karena sekarang sudah pukul sembilan malam. Gerbang tinggi nan lebar itu terbuka secara otomatis saat mobil Sehun sudah dalam jarak dekat. Dengan sembarangan Sehun memarkirkan mobilnya di halaman rumah Luhan dan segera memasuki kediaman megah sang nona besar.

"Maaf tuan, tapi nona Luhan sedang beristirahat." Seorang maid menghentikan langkah Sehun untuk menuju kamar Luhan yang masih ia ingat terletak di mana.

Sedikit mendengus Sehun beerkacak pinggang dengan tatapan tajam. "Apa kau ingin dipecat? Aku kekasih nona besarmu dan aku sedang terburu-buru sekarang."

"Tapi tuan, aku hanya melakukan pekerjaan sesuai ketentuan nona Luhan."

"Menyingkir atau aku laporkan kau kepada Luhan."

"Ya?" Maid itu menjadi merasa serba salah, namun dirinya berakhir membiarkan Sehun menaiki tangga menuju lantai dua.

Tidak tau apa yang akan Luhan lakukan nanti kepada dirinya, tapi di atas masih ada anak buah Woo bin yang bisa menangani kan?

.

.

Pintu kamar Luhan yang bebas dari kawalan para anjing penjaga Sehun masuki dengan begitu mudah. Langkahnya tersusun lebar mendekati Luhan yang tertidur di atas ranjang king size dalam balutan gaun tidur transparan berwarna hitam yang mempu membuat Sehun kehilangan fokus.

Gaunnya hanya sepangkal paha, menampilkan dalaman yang membalut kewanitaan Luhan yang sudah lama tidak Sehun sentuh. Payudaranya terlihat menggoda di balik samarnya gaun tidur yang mengganggu penglihatan Sehun. Sungguh! Itu bagai neraka untuk Sehun. Bisa kah ia perkosa wanita ini sekarang juga?

Shit! Singkirkan otak busukmu Oh Sehun!

Menggeram tertahan Sehun tanpa aba-aba membopong –bride style- Luhan yang masih tertidur hingga sang nona besar terbangun karena terkejut. Mata Luhan membola, tangannya dengan sigap merangkul leher Sehun karena dirinya hampir saja terjatuh.

"Kenapa kau ada di kamarku?"

"Membangunkanmu." Sehun menjawab kalem dan membawa langkahnya menuju kamar mandi pribadi Luhan. Dengan hati-hati Sehun meletakan Luhan di dalam bathtub yang belum terisi air. "Mandilah."

"Kau sinting?" Luhan mendelik kesal kepada Sehun. "Apa yang sedang kau lakukan sekarang?!"

"Kau pikir apa lagi? Semua orang menunggumu di pesta. Kau sengaja tidak datang agar membuat image ku jelek kan?"

"Ya! Memang itu yang aku inginkan agar semua orang tau kalau aku tidak menyukai kau yang terpilih." Tanpa ketakutan Luhan menjawab dengan nada menantang.

"Sudah aku duga." Sehun menghela napas jengah. "Sekarang cepat bersiap-siap. Atau kau mau aku mandikan?"

Tidak menghiraukan perintah Sehun, Luhan beranjak dari dalam bathtub. "Chanyeol!" Berteriak nyaring beberapa kali namun tidak kunjung mendapat sahutan.

"Bisakah kau tidak selalu memanggil nama pria itu? Tidak ada siapapun di depan sana."

Benar. Chanyeol sudah ia suruh untuk beristirahat. Luhan terdiam beberapa detik sampai langkahnya ia ambil untuk keluar namun Sehun dengan sigap membopong Luhan kembali dan membaringkan Luhan di dalam bathtub dengan dirinya menduduki pangkal paha Luhan.

Kini Luhan tidak mampu berkutik karena Sehun yang mengungkung dirinya dalam jarak dekat. "Gaunmu terlalu pendek, Lu."

"Aku tidak butuh pendapatmu." Luhan mencoba untuk bangun namun Sehun menahannya dengan kuat.

"Kau tau penampilanmu yang seperti ini tidak lah baik untukku. Jadi turuti ucapanku atau aku akan menggagahimu sekarang juga."

"Kau pikir aku takut dengan ancamanmu?"

"Ini bukan ancaman tapi kau tau jika aku tidak selalu bisa menahan diri." Kewanitaan Luhan, Sehun tekan lembut menggunakan penisnya yang masih terbalut di dalam sana, sekedar memberi tahu Luhan jika dirinya sudah terpancing parah karena penampilan Luhan. "Kau merasakannya? Sekarang buat pilihanmu."

"Kau menjijikan Oh Sehun!" Luhan melepaskan tangannya dari cengkraman Sehun. "Keluarlah. Aku akan bersiap-siap." Dan dengan sedikit terpaksa ia menuruti kemauan Sehun.

Sehun tersenyum lebar dan beranjak dari atas tubuh Luhan. "Aku tidak akan keluar." Berujar enteng sembari menatap Luhan yang mendelik kepada dirinya. "Kenapa?"

"Idiot!" Luhan mengumpat jengkel. "Bagaimana aku akan bersiap-siap jika kau masih berada di sini."

"Kau malu? Aku sudah hafal setiap lekuk tubuhmu, Lu. Aku tau kau akan sengaja mengulur waktu jadi aku akan diam menunggumu di sini."

"Keluar atau aku tidak akan datang."

"Ok, aku akan menunggu di depan pintu." Sehun menyerah dan keluar dari kamar mandi Luhan dengan siulan senang yang mempu membuat Luhan merasa ingin mencekik leher pria itu sekarang juga.

Sedikit menghela napas Luhan mulai mempersiapkan diri.

.

.

Menunggu hampir empat puluh menit, akhrinya Luhan keluar dengan penampilannya yang sudah anggun serta menyilaukan. Sehun tersenyum saat melihat Luhan berjalan dalam balutan ketat long dress putih yang ditaburi butiran berlian kecil. Cantik dan begitu sempurna bagai bidadari yang Tuhan turunkan dalam keadaan suci bersih tanpa cela.

"Panggilkan Chanyeol."

"Tidak perlu. Kau akan berangkat bersamaku."

Luhan menatap Sehun ketika menyela perintah yang ia turunkan pada salah satu maid. Tidak ingin berdebat semakin panjang, Luhan memakai coat berbulunya dan keluar dari dalam rumah. Dia meninggalkan Sehun yang masih tersenyum menatap punggung Luhan. Ia terpesona kepada Luhan. Kepada wanita yang dulu ia campakan.

.

.

Disepanjang perjalanan suasana begitu hening dan sunyi. Entah kenapa tapi Sehun merasa asing dengan situasi seperti sekarang. Ini bukan pertama kalinya ia berada di dalam satu mobil bersama Luhan, walau memang sudah dalam sekat waktu yang lama tapi Sehun masih bisa mengingat atmosfer ketika mereka bersama dulu, dan yang sekarang ia rasakan tidaklah sama.

Dulu Luhan selalu memenuhi keriuhan bunyi kendaraan dengan suaranya yang merdu. Ia bercerita segala hal disepanjang jalan dengan tawa yang sesekali terselip manis disetiap kalimat yang terangkai. Dulu Luhan mampu membuat perjalanan yang panjang menjadi terasa singkat namun saat ini perjalanan yang hanya membutuhkan waktu kurang dari tiga puluh menit menjadi terasa lama dan begitu membosankan.

Sadar atau tidak, tapi Sehun merindukan Luhan'nya yang dulu.

Mata Sehun yang masih terfokus dengan jalan yang ada di depan melirik singkat kepada Luhan yang hanya menatap ke samping jendela mobil. Sehun merasa ingin menegur tapi dirinya terlalu sungkan untuk membuka obrolan hingga perjalanan berakhir menjadi kosong tanpa suara.

.

.

Sehun membukakan pintu mobil untuk Luhan begitu mereka sampai di tempat pesta. Bisa dibilang sekarang sudah terlambat tapi ia memberitahukan ibunya untuk menahan para tamu agar tidak dulu pergi dari tempat.

"Mau bersama?"

Luhan melirik Sehun yang memberi isarat agar Luhan mengapit lengannya yang sudah terbuka, namun dengan acuh Luhan mengabaikan Sehun, memilih untuk berjalan seorang diri. Melihat hal itu Sehun mendecih dan segera meraih tangan Luhan dalam genggamannya.

"Kau apa-apaan, Sehun?" Luhan berbisik sembari mencoba melepaskan tangannya yang semakin erat Sehun genggam.

"Sudah aku peringatkan untuk tidak mengabaikanku, Luhan." Tersenyum tipis Sehun memposisikan tangan Luhan untuk mengapit lengannya. "Kita pasangan serasi kan?"

Luhan mendecih tanpa memberontak karena saat ini mereka sedang berada di tempat umum dan Luhan tidak ingin imagenya rusak hanya untuk meneriaki Sehun saat ini juga.

.

.

Semua mata teralih dari segela hal yang semula mereka jadikan fokus utama begitu melihat sang nona besar yang sejak tadi ditunggu para tamu tlah datang bersama Oh Sehun di sampingnya.

Eunhwa tersenyum senang melihat apa yang saat ini ia saksikan, ekspresinya begitu berbeda dari Kai yang terpekur tidak menyangka. Para tamu mulai saling berbisik, memberi nilai seberapa serasinya Luhan bersama Sehun, mereka hanya tidak paham kalau Luhan sedang menahan hati untuk tidak meneriaki mereka semua.

"Kau ingin terus berdiri di sini?" Luhan menyindir Sehun yang tidak kunjung pergi walau kini mereka sudah berada di dalam tepat pesta.

Sadar kalau dirinya belum melepaskan diri dari apitan jemari Luhan, Sehun pun berlalu meninggalkan Luhan untuk menemui tamu yang sempat ia tinggalkan.

"Luhan." Eunhwa mendekat kepada Luhan.

Secara sopan Luhan membungkuk. "Apa kabarmu?"

"Baik." Eunhwa mengelus lengan Luhan tanpa canggung. "Kau tumbuh menjadi wanita yang semakin cantik dan mengagumkan."

"Terima kasih."

"Aku tau ini terdengar keterlaluan tapi bisakah kau memberi Sehun kesempatan?"

Kening Luhan berkerut tipis. Kesempatan? Kesempatan semacam apa? "Aku tidak paham dengan kesempatan apa yang kau maksud."

Eunhwa hanya menatap Luhan penuh arti, menepuk dua kali lengan Luhan dan pergi meninggalkan Luhan dalam kebingungan.

"Boleh aku temani?" Kai datang menghampiri sembari membawa dua gelas wine yang salah satunya ia sodorkan kepada Luhan.

Menghapus segala kebingungannya, dengan anggun Luhan menerima wine dari Kai dan mengukir sebuah senyuman tipis. "Aku tidak tau kalau kau datang."

"Kebetulan aku adalah sahanbat Sehun." Kai menjawab jujur.

"Dunia begitu sempit ternyata. Aku tidak menyangka kalau kau mengenal Sehun."

"Dan aku pun tidak menduga kalau ternyata kau adalah kekasih Sehun."

Apa tadi yang dia bilang? Kekasih Sehun? Luhan ingin terawa mendengarnya.

"Kai."

Dua orang itu menoleh kepada sosok wanita yang Luhan tau adalah pegawainya. "Kau mengenalnya?" Bertanya lembut seraya menunjuk kepada Kai yang mulai terlihat risau.

"Ya, nona. Dia kekasihku."

"Ah." Luhan mengangguk paham. "Pria ini sangat sering mencoba mendekatiku. Kau harus berhati-hati pada pria semacam ini."

Kai mendelik begitu mendengar Luhan mengatakan hal yang memang sebetulnya adalah benar, tapi wanita ini mengatakannya di depan kekasihnya!

"Baik nona, saya akan berhati-hati." Kekasih Kai yang tidak lain adalah Kyungsoo menjawab sopan kepada Luhan sebelum dirinya pergi dalam keadaan wajah tertekuk masam.

"Soo." Kai mulai gelagapan sembari mengejar wanita yang sudah ia pacari selama dua tahun terakhir ini. Kyungsoo sangatlah bahaya jika sudah dalam keadaan marah. "Aku bukan mendekatinya untuk berselingkuh tapi hanya sebatas teman."

Kyungsoo berbalik menghadap Kai dengan tatapan matanya yang semakin membola besar. "Bodoh! Kau pikir nona Luhan akan mau denganmu, hah? Di dunia ini hanya aku yang bersedia menjadi kekasih pria sepertimu! Awas kalau kau berani berselingkuh. Aku akan memotong penismu menjadi dadu." Kyungsoo berujar sengit dan meninggalkan Kai yang tengah merinding ngilu saat mendengar ancaman dari Kekasihnya.

Disuguhkan pertengkaran kecil Kyungsoo bersama Kai membuat Luhan merasa geli sendiri hingga senyumannya tanpa sadar terukir samar di bibir miliknya. Kejadian itu tanpa sengaja mengingatkan Luhan saat bertengkar karena hal sepele bersama Sehun dulu.

"Kau tersenyum?"

Seketika senyuman itu lenyap saat matanya menangkap wajah Sehun. Sedikit malas Luhan memilih mengalihkan arah pandangnya. "Bisakah untuk membiarkanku sendiri?"

"Tidak." Sehun menggeleng sembari terkekeh. "Tapi sekarang waktumu untuk naik ke atas podium."

Tanpa menghiraukan Sehun kembali Luhan berjalan untuk menuju podium, membuat semua perhatian tersedot sepenuhnya untuk dirinya.

"Terimakasih karena tlah datang diacara peresmian tuan Willian Edison dan maaf karena saya datang terlambat." Luhan berujar datar dan mulai melakukan apa yang biasanya ia lakukan. Yaitu mengumumkan dan memberi jabatan resmi kepada Sehun yang kini juga tlah berdiri di samping Luhan.

Tepukan meriah adalah sambutan begitu Sehun selesai menandatangani segala kesepakatan yang tercantum di dalam document. Sembari tersenyum lebar Sehun menatap semua tamu yang datang di malam peresmian dirinya.

"Terimakasih karena sudah memilihku dan aku akan bekerja keras untuk mengembangkan Mall milik nona Luhan."

Mendengar itu Luhan mendecih pelan. Satu kesalahan fatal Sehun lakukan Luhan bisa memecat Sehun ada atau tanpa dukungan dari pemilik saham dan Luhan benar-benar menunggu saat itu tiba.

"Dan boleh kah aku memberitahukan sesuatu?" Setelah selesai dengan segala hal yang harus ia sampaikan Sehun barhasil membuat para tamu berkasak kusuk karena sepertinya apa yang akan Sehun katakan selanjutnya bukanlah untuk kepentingan bisnis. "Aku memiliki kekasih sejak aku tinggal di New York." Melanjutkan ucapnnya sembari memandang Luhan yang tengah mendelik tajam. "Dan aku berniat untuk melamarnya saat ini."

Semua tamu dibuat terkejut akan pernyataan Sehun yang tiba-tiba belum lagi semua orang saling memandang seolah bertanya-tanya siapa wanita yang akan Sehun lamar.

"Ini tidak ada hubungannya denganku terpilih menjadi pemegang Mall karena orang itu adalah wanita yang saat ini sedang berdiri di depanku." Sebuah kotak transparan berukuran kecil Sehun ambil dari dalam saku. "Luhan, mau kah kau menikah denganku?"

Mata Luhan melirik kotak cincin yang Sehun sodorkan kepada dirinya. Oh, jadi apa ini kesempatan yang Eunhwa maksud beberapa menit lalu? Mereka sudah merencanakannya? Menggelikan! Pandangan Luhan terarah kepada Sehun, kemudian jemarinya mengambil kotak cincin yang Sehun pegang.

Sembari memegang kotak cincin itu Luhan menghadap kedepan, menghadap para tamu yang tlah dibuat tidak menyangka sekaligus penasaran dengan jawaban apa yang akan Luhan berikan.

.

.

.

.

.

To be continue..

Lohaaaaaaaa! Chap 11 up^^ mangap TBCnya gantung banget lol cieee yang pada ngira Kris nongol di chap ini. Aku kasih bocoran deh, dia nongol di chap depan. Tapi ini Luhan jawab apa hayo ke Sehun? Go, review buat chap ini^^

Ini ko masih pada sebel aja ma Sehun lmao jadi Sehun sama Tiffanynya aku bunuh aja kah? Lol tapi terusnya ni FF end dong. Ini maapkan ya KaiSoo atau Chanbaeknya secuil nganggur karena aku fokus ke HunHan, mereka nongol hanya untuk pendukung cerita /bow/ mohon dimaklumi.

Chenma & kris : cieee baca marathon hahahaha

Hunhancherry1220 : siiipppppp

Jj : thank you dear.

Sanshaini hikari : contoh? Hahaha

Hea : pinter! Sehun ga cinta tp lebih terobsesi ke Luhan. ko br ada yg paham lol

Sephi dobby : ampun mba, mas, bu, pa hahaha

Zuhrohlulu. Shiners : harusnya bisa simpulin sendiri dong kkk Sehun suka ke Tiff tapi Tiffnya bisa dikira-kira sendiri.

Wollfdeer520 : beres mak /jempol/

Fnny1234 : jelasin ko. Tunggu aja chapnya^^

Dayahbyun : ok ditunggu.

Selena oh : ok, nama korea mu apa?

Dmitrievxzk : tenang-tenang hahaha

Memei122004 : biar CBHS pada seneng mangkannya aku pake Taeyeon yang Baekhyun jambak2 lol tsp nanti ya.

Lisnaohlu120 : iya, kkkk

Oohsxhun : baca chap satu.

Thanks untuk semua review dan saran kalian^^ semuanya aku baca ko dan hampir semuanya minta Sehun dapat karma lol tenang2 ada saatnya Sehun akan menangis^^ untuk follow dan favoritnya thanks juga ya, ga nyangka ni FF bisa tembus 800 review. Doakan aja aku bisa selesein semua FF huhuuuhuu batrey PC ku rusak jadi gitulah lmao selamat menjalankan ibadah puasa^^

Kita ketemu di next chap. See you^^ jump! Jump! Jump! Jump! We are HHS.

I LOVE YOU ALL.. BYE BYE