Uchiha Sasuke27 tahun, tampan, pengacara terkenal, temperamen, perfeksionis. Haruno Sakura17 tahun,kabur dari panti asuhan, polos, spontan, tidak peka. Ada yang bisa membayangkan apa jadinya jika mereka berdua berinteraksi?

.

.

.

.

NAIVE

Disclaimer: Naruto milik Masashi Kishimoto, saya cuma minjam tokoh-tokohnya aja

Story by Morena L

Warning: AU, OOC, typo, terinspirasi dari Ingenuo, dldr

.

.

.

.

.

Sakura menyentuh kedua bibirnya pelan. Ia masih bisa merasakan hangatnya kecupan kecil dari Sasuke. Permintaannya tentang hadiah satu kecupan itu hanyalah keisengannya semata karena ia tahu Sasuke tak mungkin mau memenuhinya. Mencium seorang anak kecil saat sorang model cantik sedang menunggunya dia ruangan bawah adalah hal yang mustahil dilakukan oleh seorang Uchiha Sasuke. Namun, siapa yang mengira kalau Sasuke benar-benar melakukannya?

Sakura tak tahu apa efek sentuhan itu bagi Sasuke, tapi buatnya ciuman kecil itu memiliki arti yang sangat banyak. Itu adalah ciuman pertamanya dari pria yang sangat ia idamkan. Terserah kalau Sasuke sudah melupakan kejadian itu, yang pasti Sakura tak akan bisa melupakannya. Selamanya.

Efek paling menyakitkan adalah rasa yang ada di dalam hatinya tumbuh semakin besar. Terus dan terus membesar sampai terasa sangat menyesakkan karena ia sadar perasaannya tak akan terbalas. Uchiha Sasuke adalah orang yang sangat jauh dari jangkauannya. Katakanlah ia tak tahu diri, tapi biarlah rasa ini ia simpan sendiri.

.

.

.

oOo

.

.

.

"Sakura, maaf hari ini Ibu tak bisa mengantarmu ke sekolah," ujar Karin sembari mengoles mentega pada roti tawar. Setiap hari ia sendiri yang memastikan putrinya berangkat ke sekolah dengan perut yang tidak lapar.

"Tidak apa-apa, Bu," jawabnya maklum. Sakura mengerti kalau ibunya sedang sangat sibuk karena peluncuran produk baru.

"Pulang sekolah nanti langsung ke gedung K2, ya, kita ada pemotretan lagi. Kali ini kau akan mengenakan baju-baju cantik untuk remaja perempuan seusiamu. Kita akan membuat semua orang gempar kalau model remaja pria yang cute itu ternyata adalah putriku yang cantik."

Otomatis, wajah manis Sakura bersemu merah. Ia berpikir kalau ibunya terlalu tinggi dalam menilainya. Sakura merasa ia tak memiliki kemampuan seperti yang selalu dibanggakan ibunya. "Aku takut mengecewakanmu, Bu. Aku takut penampilanku tak maksimal dan membuatmu malu."

Karin menatap putrinya penuh sayang. Ia mendekat dan merangkul bahu Sakura. "Kau jangan pesimis. Ibu yakin kau akan memberikan yang terbaik. Kau hanya belum menyadari kemampuanmu saja, Sayang."

"Hm, aku akan mencobanya, Bu."

"Bagus, itu baru putriku."

Setelah sarapan pagi, Sakura lalu mengecek kembali tasnya. Semua buku yang ia perlukan sudah dibawa, tugasnya sudah dikerjakan, bekalnya juga sudah. Ia lalu berpamitan pada Karin sebelum pergi meninggalkan gedung apartemen yang kini menjadi kediamannya bersama sang ibu.

oOo

Namikaze Menma yang tak pernah berangkat pagi kini sudah bersiap di depan gedung apartemen Haruno Sakura—atau Uzumaki Sakura jika dokumen yang diurus Karin sudah selesai. Ia begitu tak nyaman karena masih ada kesalahpahaman antara dirinya dan Sakura. Rasa gugup melandanya dengan semakin hebat saat sosok mungil Sakura sudah keluar dari gedung besar tersebut.

"Menma-senpai?" Suara Sakura terdengar sangat kecil, sepertinya ia tak menyangka kalau Menma akan menunggunya di sini.

"Kumohon, jangan takut. Aku hanya ingin berbicara empat mata denganmu. Kau mau, kan?" pinta Menma lembut. Ia berusaha keras agar Sakura tak lagi takut padanya. Tatapan mata Sakura padanya saat di kelas dulu terus menghantui Menma. Ia hanya ingin bisa lebih dekat dengan gadis itu. "Aku janji tidak akan berteriak atau berlaku kasar padamu lagi."

Melihat ekspresi Menma yang sedikit memelas dan menyiratkan ketulusan, Sakura menjadi tidak tega. Yah, pada dasarnya dia memang gampang merasa iba pada orang lain. "Tapi, Menma-senpai harus berjanji tidak akan menarik tanganku dengan kasar lagi."

Uzumaki Menma tersenyum dan mengangguk. Mana mungkin dia tega berlaku kasar pada gadis ini lagi? Ia sudah terlalu sayang pada Sakura. "Aku janji. Damai?" ujarnya sambil mengulurkan tangannya hendak berjabat tangan dengan Sakura.

"Damai." Sakura juga mengulurkan tangannya dan membalas jabatan tangan Menma.

Dalam hati, Menma berusaha menahan diri. Sabar. Sabar. Ia tak mau membuat Sakura kembali menjauh karena keinginannya untuk memeluk Sakura sangat kuat.

Hanya Haruno Sakura yang bisa membuat standarnya turun. Dulu, ia bisa dengan mudah mendapatkan wanita yang ia inginkan, tak jarang mereka bersenang-senang sampai Menma merasa puas. Sekarang, hanya dengan satu jabat tangan biasa, Menma sudah merasa begitu senang. Melihat Sakura berjalan di sebelahnya sambil berceloteh riang juga membuat sudut hatinya yang tak pernah tersentuh siapapun terasa begitu hangat. Sakura bilang dia punya alasan kenapa menyamar menjadi laki-laki dulu, dan Menma berusaha untuk menghormati alasan itu. Ia ingin terus berada di samping Sakura, menjadi orang spesial dalam kehidupan gadis itu.

Turun dari bus yang mengantarkan mereka ke sekolah, Menma kembali dibuat kesal karena Ino mengambil alih perhatian Sakura. Ino yang bertemu dengan keduanya di pintu gerbang tanpa tendeng aling-aling langsung menggandeng lengan Sakura dan membawanya meninggalkan Menma. Tampaknya seharian ini ia tak bisa memonopoli Sakura karena gadis itu telah menjadi buah bibir di mana-mana. Iklan baru K2 yang memasangnya sebagai model sudah disiarkan di seluruh stasiun TV tadi malam. Walaupun berpenampilan seperti remaja putra pada iklan tersebut, tapi teman-teman di sekolahnya yang sudah tahu kalau Sakura adalah anak perempuan langsung mengenalinya. Iklan itu menjadi buah bibir sepanjang hari, bahkan ada yang tak lagi segan meminta tanda tangan padanya. Sakura sampai kebingungan karena menghadapi ketenarannya yang mendadak ini. Beruntung ia memiliki Ino yang dengan kegalakannya menghadang gerombolan orang yang ingin masuk ke dalam kelas mereka.

.

.

.

oOo

.

.

.

"Sebentar, Teme ... kaubilang apa tadi? Kau memimpikan Sakura? Tak perlu kaukatakan, aku sudah bisa menebak mimpi macam apa yang kaumaksud." Naruto bahkan sampai mengerjapkan matanya beberapa kali untuk memastikan kalau ia tak salah dengar. "HAHAHA!" Sedetik kemudian gelak tawanya sudah terdengar.

"Diam, Dobe! Aku menceritakan ini padamu bukan untuk mendapat ejekan," balas Sasuke ketus.

"Teme, kau harusnya sudah tahu kalau aku pasti akan menertawakanmu."

Naruto benar, Sasuke sebelumnya sudah menduga kalau hal pertama yang akan dilakukan Naruto adalah menertawainya. Tapi, apa boleh buat, satu-satunya sahabat dan orang yang bisa ia percayai hanyalah Naruto. Oleh karena itu, saat ini ia mendatangi studio foto milik sahabatnya itu untuk bercerita mengenai penderitaannya semalam.

"Kau suka padanya, Teme. Hanya itu kesimpulanku."

"Ck."

Naruto semakin ingin menertawakan Sasuke. Dengan bukti yang sudah sangat jelas, ia masih mau menyangkal? Ia tak habis pikir dengan kisah cinta sahabatnya ini.

"Karin akan menguburmu hidup-hidup, Teme. Dia tak akan membiarkanmu memacari putrinya."

"Siapa yang bilang aku berniat memacari anak itu? Dia bukan tipeku."

Tsk, ingin rasanya Naruto menjambak rambut mencuat milik Sasuke. "Jangan menyangkal lagi, Teme. Kau tertarik pada anak itu dan sekarang kau sudah mulai menyukainya. Aku berani bertaruh kalau dalam waktu dekat kau bisa benar-benar jatuh cinta padanya. Selamat, Teme, aku turut berduka cita untukmu."

Kali ini giliran Sasuke yang ingin menonjok wajah menyebalkan yang dipamerkan Naruto. Tidak, ia tak mungkin suka pada Sakura, apalagi sampai jatuh cinta. Itu hal yang sangat mustahil. "Aku tak punya minat pada anak kecil, Dobe."

"Mulutmu bilang tak punya minat, tapi kau punya hasrat yang sangat tak sopan padanya." Kembali Naruto menyengir jail. "Kau sudah terlalu lama hidup dengan membohongi perasaanmu sendiri, Teme, karena itu kau tak mau mengakui kalau kau memiliki rasa pada Sakura." Walaupun diucapkan dengan nada bercanda, tapi Sasuke tahu kalau Naruto serius.

"Lalu, apa yang harus kulakukan?"

Rasanya Naruto seperti ingin melompat ke tengah lautan karena ini pertama kalinya Sasuke meminta nasihat darinya. Selama ini, selalu Sasuke yang memberinya peringatan dan memberi masukan padanya. Sasuke adalah orang yang sangat terencana, ia tak pernah terlihat membutuhkan bantuan dari siapapun.

"Ambil atau tinggalkan."

Sasuke mengerutkan keningnya.

"Kalau memang kau serius, kejar dia, dapatkan dia. Sesulit apa pun itu, kau harus mendapatkannya. Tapi, kalau kau ragu, lebih baik kautinggalkan dia dan tidak perlu berada di sekitar anak itu lagi. Karena, entahlah, aku hanya merasa kalau kalian akan menghadapi masa sulit kalau terus bersama."

"Aku lebih memilih opsi kedua."

Naruto mengangguk-angguk. "Teme, aku tidak tahu ini kesialan atau keberuntungan. Tapi, izinkan aku menilai kalau nasibmu kali ini adalah sebuah kesialan. Jatuh cinta pada ibu dan anak? Ini benar-benar lucu." Sebelum Sasuke benar-benar memukulnya, Naruto sudah berlari untuk menghindar.

Sasuke menggerutu pelan. Sebenarnya, ia harus mengakui kalau semua kata-kata Naruto ada benarnya. Segala hal terasa rumit sekarang. Ambil atau tinggalkan. Sebelum semuanya terlambat, ia lebih memilih untuk mengeluarkan Sakura dari dalam hidupnya. Begitu lebih baik. Sasuke tak mau semuanya menjadi lebih rumit dari ini. Keadaan mereka seperti benang kusut yang begitu sulit untuk diurai. Sasuke hanya berharap kalau malam ini ia tak perlu bertemu dengan Sakura saat datang ke kantor K2.

.

.

.

oOo

.

.

.

Sakura hampir memekik girang saat ia menemukan sebuah pesan di ponselnya. Sesuatu yang sudah ia inginkan sejak lama. Sakura bahkan tak bisa menutupi ekspresi senangnya di depan Ino.

"Ada apa, Saku?"

"Ino-chan, hari Minggu besok mau menemaniku bermain di Disneyland?"

"Tentu saja!"

Teman ibunya yang baru saja ia kenal memang sangat baik. Pertama kali bertemu dulu, Sakura mengira dia adalah orang yang jahat karena wajahnya memang tidak bersahabat. Ternyata, Sakura salah. Paman itu sangat baik. Sambil menunggu Kakashi yang tak kunjung datang, paman itu menemaninya berbincang-bincang. Dia bahkan memesan banyak makanan enak untuk Sakura. Saat hari sudah semakin gelap, dia berbaik hati untuk mengantarkan Sakura pulang. Yang pasti, Sakura sangat senang karena teman-teman ibunya begitu baik.

"Ngomong-ngomong, kau mendapat tiketnya dari siapa?"

"Teman ibu yang memberikannya padaku."

"Hmm ... kau ini sepertinya magnet bagi pria tua, ya," goda Ino. Ia mengatakan hal itu karena sudah melihat sendiri kedekatan Sakura dengan pria-pria yang bisa dibilang sudah berusia sangat matang.

"Kudoakan semoga kau mendapat jodoh yang lebih tua dari Paman Sasuke!" balas Sakura yang menyadari ejekan jail Ino padanya.

"Aaaaaw ... kenapa harus Paman Sasuke, Sakura-chan?" Ino semakin menjadi-jadi dalam menggodanya. Sakura yang salah tingkah memilih untuk tidak meladeni Ino lagi. Ia melanjutkan menyantap bekal makan siang yang ia siapkan bersama Karin, ibunya. Membahas tentang Sasuke selalu membuatnya menjadi orang lain. Wajahnya akan tersipu tanpa alasan yang jelas, makanya Sakura tak menceritakan mengenai kejadian semalam pada Ino, bisa-bisa sahabatnya itu semakin menggodanya.

oOo

Sesuai dengan jadwal pemotretan, maka setelah jam pulang sekolah Sakura langsung bergegas menuju kantor pusat K2. Ia tak mau terlambat karena hal tersebut akan berimbas pada ibunya. Orang-orang K2 memang belum tahu kalau dirinya adalah putri Karin, tapi karena Sakura menjadi model karena andil besar Karin, maka ia tak mau membuat ibunya malu.

Sakura merasa sedikit tak nyaman saat harus berpose bersama Kin. Ia tak mengerti, Kin seperti sedang memusuhinya. Wanita itu memberikan tatapan mengintimidasi dan rasa tak suka. Apalagi, Sakura masih amatir, berbeda dengan Kin yang merupakan seorang model profesional. Berkali-kali Kin memberikan protes pada Deidara—fotografer mereka—karena merasa tak puas dengan hasil foto yang diambilnya. Ia merasa Deidara terlalu menojolkan Sakura. Bukan hanya itu, Kin terus memprotes mengenai gerakan Sakura yang ia anggap sangat kaku. Kalau saja Sakura tidak mengingat ia harus menjaga reputasi Karin di sini, ia pasti sudah melempar sesuatu ke wajah belagu Kin.

"Tak ada yang salah dengannya, Kin. Heran, dari tadi kerjamu hanya protes, protes, dan protes," tegur Deidara yang mulai merasa gerah dengan segala tingkah Kin.

"Aku adalah pro di sini, dan bocah ini," tunjuknya pada Sakura, "adalah amatirnya. Aku tak mau disandingkan dengan orang yang tidak berada pada kelas yang sama denganku." Nada merendahkan terdengar jelas dari suaranya.

"Kalau begitu protes saja pada para pimpinan!" Semua orang, termasuk Kin, terkejut karena Sakura tanpa takut menimpalinya. Sakura sangat kesal karena sejak tadi model sexy itu terus menerus menyinggungnya.

"Ah, sudah mulai berani rupanya," balas Kin angkuh.

"Kin, jangan kekanakan," tegur Deidara lagi. "Kita break tiga puluh menit. Setelah ini, aku tak mau ada hambatan lagi."

Semua orang yang ada di dalam ruangan itu menggerutu. Sudah hampir tiga jam pemotretan dilakukan, akan tetapi belum ada hasil yang memuaskan. Ada yang aneh dengan Kin. Wanita itu selalu bekerja dengan profesional, ia jarang bermasalah dengan rekan-rekan seprofesinya. Kin juga terhitung orang yang sangat total dalam bekerja dan tak pernah bertingkah tak wajar seperti hari ini.

"Bocah, jangan pernah berharap kalau Sasuke akan tertarik padamu," kata Kin tajam. Setengah berbisik, saat mereka berdua beristirahat di ruang ganti.

"..."

"Tak usah sok polos. Mata berbinarmu saat menatap Sasuke itu sangat menjijikan." Kin memberikan senyum penuh kesombongan. "Kau bukan tipenya. Jadi, kau harus tahu diri!"

OK, sekarang sepertinya Sakura sudah dapat menebak di mana letak permasalahannya dan kenapa sejak tadi Kin bersikap tak suka padanya. "Tak ada yang perlu Anda khawatirkan. Aneh kalau model populer seperti Anda merasa terancam karena anak kecil sepertiku."

Kin melotot. Ucapan Sakura memang ada benarnya. Ia seharusnnya tak perlu merasakan ancaman. Penampilan mereka berbeda jauh. Anak kecil seperti Sakura sama sekali bukan tandingannya. Kin hanya tak mengerti dari mana asalnya perasaan tak suka itu. Rasa cemburu menyusup dalam hatinya saat melihat tatapan Sasuke pada Sakura saat berdansa. Sebagai seorang wanita, ia tentu tahu arti dari tatapan Sasuke ... tatapan memuja. Kin berusaha meyakinkan diri kalau Sasuke tak punya perasaan apa pun pada Haruno Sakura karena dalam hatinya ia terus berharap bisa kembali merajut cinta berdua. Hatinya begitu panas saat dulu Sasuke menjalin hubungan dengan Shion, sekarang ia tak akan menyerah hanya karena seorang anak kecil!

"Sasuke?" panggil Kin cepat. Matanya langsung menangkap sosok tegap Sasuke yang lewat di depan pintu ruang ganti yang terbuka. "Sedang apa?" tanyanya saat menghampiri lelaki itu.

"Ada urusan dengan para pimpinan K2."

"Membahas mengenai kasus plagiat yang dulu?"

"Hn."

Kin lalu meraih lengan Sasuke dan memberikan ciuman singkat pada pipi lelaki itu. "Aku merindukanmu." Ia bahkan sengaja berbalik ke belakang untuk memberikan ekspresi kemenangannya pada Sakura.

"Hn."

"Bagaimana kalau malam ini kita keluar bersama?"

"Terserah."

"Baik. Aku akan menunggumu setelah selesai pemotretan." Suara wanita itu sengaja ia besarkan agar terdengar jelas di telinga Sakura.

Sementara itu, Sakura menunduk pasrah. Ia tak mau melihat ke arah dua orang yang sepertinya sedang melepas rindu di depan pintu. Sakura sempat melihat ekspresi Kin yang sangat senang dan itu membuat hatinya semakin sakit. Sudahlah, Sasuke memang bukan tercipta untuknya. Gadis biasa saja sepertinya harus tahu diri.

oOo

Pertemuan dengan Sasuke rupanya sukses membuat suasana hati Kin membaik, dia tak lagi protes pada hal-hal yang tidak penting. Pekerjaan mereka pun hari itu bisa dilalui dengan lancar—tidak penuh masalah seperti beberapa saat sebelumnya.

Hanya saja, Deidara menyadari satu hal yang disadari orang lain. Senyum Sakura tak lagi lepas—terkesan seperti senyum paksa. Ia memanggil Sakura dan memintanya beristirahat. Deidara menganggap bahwa Sakura belum terbiasa dengan pekerjaan seperti ini sehingga gampang lelah. Pada dasarnya, Deidara menginginkan hasil terbaik untuk setiap gambar yang ditangkap kameranya. Oleh karena itu, ia selalu menginstruksikan modelnya untuk memberikan ekspresi yang ia inginkan, membuat mereka senyaman mungkin selama sesi foto berlangsung.

"Sakura-chan, sudah cukup. Kau bisa beristirahat sekarang."

"Oh, Dei, kau selalu memanjakan model baru," timpal Kin yang tak terlalu senang pada perlakuan khusus yang diterima Sakura.

"Aku hanya ingin modelku bekerja dengan maksimal. Sakura terlihat sudah lelah." Wajar saja, ini sudah lebih dari dua jam sejak mereka beristirahat tadi. Anak baru seperti Sakura sudah tentu belum terbiasa dengan ritme kerja seperti ini. "Oh, ya, ada pesan dari Karin. Dia memintamu menunggunya di ruang ganti, kalian akan pulang bersama setelah pertemuannya dengan tim pengacara selesai."

"Hm."

Kin bertindak acuh tak acuh saat Sakura meninggalkan ruangan pemotretan. Satu lagi yang membuatnya makin tak suka pada Sakura adalah bocah itu mendapat perlakukan khusus dari Uzumaki Karin, salah satu petinggi K2. Huh, jika tak ada Karin belum tentu dia bisa menjadi model. Kin juga yakin kalau orang-orang di sini, terutama Deidara, bersikap baik pada Sakura hanya karena faktor Karin. Mana ada bawahan yang tak mau menjilat atasan? Model tanpa kerja keras seperti Sakura hanya akan muncul sesaat kemudian meredup. Kin sangat yakin akan hal tersebut karena ia bukan anak baru dalam dunia fashion yang kejam. Ia bisa bertahan sejuh ini karena kerja kerasnya dan trik khusus 'main mata' dengan para perancang busana atau petinggi brand ternama.

oOo

Sakura menatap cermin besar di ruang ganti. Ia sudah berganti pakaian dengan seragam sekolahnya. Mata hijaunya menatap bayangan yang terpantul dari cermin dengan saksama. Interaksi Sasuke dan Kin tadi sedikit banyak mempengaruhi isi kepalanya. Ia tak bisa membebaskan pikirannya dari ingatan tentang bagaimana Kin merengkuh tangan Sasuke, bagaimana Kin mengecup pipi pria itu, bagaimana Sasuke tak menolak ajakan Kin yang merayunya dengan nada suara yang sangat sensual. Ia tak bisa.

"Mana Kin?"

Gadis itu tersentak ketika suara Sasuke tiba-tiba muncul dari balik pintu. Sakura berbalik dan mendapati Sasuke, bibirnya sedikit bergetar saat berkata, "Masih melakukan sesi terakhir pemotretan."

"Hn."

"Tadi katanya Paman rapat bersama ibu. Apa ibuku juga sudah selesai?"

"Belum, masih ada yang mau dia bahas bersama Yuuhi-san."

"Oh." Sakura menggaruk lehernya, ia lalu berpura-pura mencari buku di dalam tasnya. Suasana di antara mereka sedikit aneh. Sakura bisa merasakan kalau Sasuke tak ingin berada di dekatnya—dan ia resah karena hal tersebut. "Tsuchi-san sebentar lagi akan selesai. Paman bisa menunggu di sini kalau mau," kata Sakura yang kini sudah duduk di depan meja rias besar yang ada di dalam ruangan tersebut.

"Hn."

Sakura semakin menudukkan kepalanya, berpura-pura sedang tenggelam dalam kata demi kata yang ada di dalam buku bacaannya.

"Saat aku masuk tadi kau sedang melakukan apa?"

"Ha? Tak ada!" jawabnya secara refleks. Duh, tak mungkin dia memberitahu Sasuke, kan?

Balasan dari Sasuke adalah tatapan penuh penilaian. Jelas kalau ia tak percaya dengan jawaban Sakura. Anak itu sedang melakukan sesuatu yang membuatnya penasaran.

"A-aku ... aku hanya bertanya-tanya kenapa Paman dulu bisa segera tahu kalau aku adalah anak perempuan."

Sasuke mengangkat sebelah alisnya. "Itu sudah terlihat dengan sangat jelas, Bocah."

"Tapi, banyak yang tak menyadarinya, makanya aku merasa aneh kenapa Paman bisa tahu."

"Sini, kutunjukkan." Buku yang dipegang Sakura ditarik paksa dan diletakan di atas kursi begitu saja.

Sasuke menariknya berdiri berhadapan dengan cermin. Sakura menahan napasnya karena tubuh Sasuke tepat berada di belakangnya, sangat rapat. Satu tangan lelaki itu menahan lengan Sakura, tangannya yang lain menyentuh leher gadis itu. "Di sini, tak ada jakun di sini." Sakura semakin merinding saat telunjuk lelaki itu menyusuri sepanjang garis lehernya, membuat gadis itu tanpa sadar memiringkan kepalanya berlawanan arah dengan arah jari Sasuke. "Laki-laki tak punya leher sejenjang ini. Leher pria lebih kaku dan memiliki otot yang lebih keras dari leher perempuan." Napas Sakura tercekat saat Sasuke membalikkan tubuhnya. Kedua tangan pria itu menyusuri sepanjang garis tulang punggungnya dan kedua sisi perutnya. Sangat pelan sampai-sampai Sakura ingin menggigit bibirnya sendiri. Walaupun tubuhnya menghadap ke belakang, tapi kepalanya masih mengarah pada cermin besar yang menunjukkan bayangan mereka berdua. "Apa anak laki-laki punya lekuk punggung seperti ini?" bisiknya begitu pelan.

Sakura yang hampir tak sanggup lagi bereaksi menggeleng pelan. Tubuh mereka terlalu dekat, terlalu rapat malah. Tangan kiri Sasuke melingkari pangkal punggungnya. "Ini." Tangan kanan pria itu menyentuh sepanjang garis pinggangnya "Laki-laki tak punya garis pinggang yang sangat menggoda seperti ini. Punggung dan pinggang kami sangat lurus, tidak memiliki lekuk."

"Hhhh …." Deru napas Sakura tak bisa lagi ditahan. Bagaimana tidak? Tangan Sasuke menuruni lekuk bokong sampai ke pahanya.

"Apa kau pernah melihat laki-laki memiliki kaki seindah kakimu?"

Mata Sasuke kini seperti diselimuti kabut tipis. Kedua tangannya kini memegang pinggang Sakura, merambat naik ke sepanjang punggungnya. Pakaian lengkap yang menutupi tubuh gadis itu sama sekali tak bisa menyebunyikan setiap getaran yang menjalar di sekujur tubuhnya. Ia dapat merasakan semua sentuhan Sasuke—sekecil apa pun sentuhan itu.

Pria itu mengusap perut rata Sakura, semakin naik, dan terus naik. "Dada laki-laki itu kurus, datar, dan bertulang." Ia menurunkan lagi tangannya, kembali menyentuh pinggang Sakura. "Laki-laki tak punya bokong yang kenyal, " bisiknya perlahan. "Dan ada satu bagian di mana kau sangat feminim. Ibumu akan membunuhku jika aku menyentuhnya." Wajah Sakura benar-benar sudah seperti kepiting rebus sekarang. Bibir Sasuke sudah terlalu dekat dengan telinga Sakura. Suara Sasuke yang berat dan dalam memberikan getaran sampai ke sumsum tulang gadis itu. "Celana tidak dapat membuatmu mirip laki-laki, malah celana itu semakin mempertegas bentuk tubuhmu yang feminim. Orang lain mungkin tak menyadarinya, tapi aku sangat sadar."

Cu-cukup, Sakura tak sanggup lagi kalau lebih dari ini. Kakinya seperti ingin berubah menjadi jelly yang tak mungkin lagi menyangga bobot tubuhnya. Suhu dingin akibat AC sama sekali tidak memberikan pengaruh bagi mereka berdua. Panas dalam diri mereka mengalahkan segalanya.

"Kau paham?"

Sasuke baru melepaskannya setelah gadis itu mengangguk patuh. Napas Sakura tak beraturan, detak jantungnya juga mengalami hal yang sama. Gadis itu terlihat ... kacau.

"Sasuke-kun?"

Suara Kin membuat mereka kembali pada kenyataan. Bagi Sasuke, bukan hal sulit untuk memasang ekspresi datar. Ia bertingkah seperti tak terjadi apa-apa. Pria itu melangkah pergi seolah ia tak membawa beban berat, meninggalkan Sakura yang masih merasa kacau akibat perlakuannya.

oOo

Karin berkali-kali menanyakan keadaan putrinya karena Sakura terlihat sangat lemas. Sudah pasti ia tak ingin putrinya jatuh sakit. Ia sudah menceritakan perihal operasi Sakura pada Deidara dengan harapan rekannya itu tidak membebani Sakura dengan jadwal yang terlalu padat.

"Sayang, benar kau tidak apa-apa?"

"Aku tidak apa-apa, Bu." Sakura memaksakan dirinya untuk tersenyum. "Boleh aku tidur? Aku hanya merasa lelah."

"Tidurlah, nanti Ibu bangunkan saat kita sudah sampai."

Sakura sedikit menurunkan sandaran kursinya, mencari posisi yang nyaman untuk tidur. Ia sama sekali tak mengerti dengan semua perlakuan Sasuke padanya. Rupanya, kondisi fisik Sakura tak bisa berbohong, kelelahan membuat rasa kantuknya menyerang dengan begitu cepat. Tak ada salahnya ia mengistirahatkan tubuh dan pikirannya sekarang, melupakan sejenak kebingungan yang ia rasakan.

.

.

.

oOo

.

.

.

Kin menggoyangkan tubuhnya mengikuti alunan musik. Ia memang sengaja mengenakan little black dress yang memamerkan pundaknya dengan begitu menggoda. Tempat duduk VIP yang mereka pesan menampakan kerumunan orang yang sedang asik berdansa di bawah sana. Wanita itu kemudian menyentuh tangan Sasuke, dada pria itu, lalu tulang rahang tegasnya. "Aku merindukanmu, Sasuke-kun." Ia mendekatkan tubuhnya, menghapus jarak di antara mereka dengan ciuman panas yang sangat menggoda.

Namun, ia tak tahu kalau Sasuke sedang membayangkan orang lain saat sedang bercumbu dengannya. Seorang gadis yang sekali lagi sukses membangkitkan hasrat besar dalam dirinya. Tadinya, Sasuke menerima ajakan Kin di depan Sakura sebagai salah satu langkah menjauhi anak itu. Nyatanya, yang ia dapatkan sungguh jauh berbeda. Ia semakin, semakin, dan semakin menginginkan anak itu.

Terutama saat ia menunjukkan semua sisi feminim pada fisik Sakura.

Awalnya, Sasuke hanya berniat menunjukkan hal-hal yang tidak Sakura sadari. Hanya itu. Tak lebih. Ia sendiri tak tahu kenapa semuanya menjadi kacau. Mata indahnya, senyum manisnya, garis lehernya, punggungnya, perutnya, lekuk pinggangnya, kaki jenjangnya, bokong sexy-nya ... sial! Semua itu merusak niat baiknya di awal. Sasuke berpikir penjelasannya seharusnya berakhir dalam waktu tiga sampai empat menit. Ia hanya perlu memberikan penjelasan singkat pada bukti fisik kasat mata yang bisa dengan mudah dilihat pada tubuh anak itu. Dan semua itu berakhir dengan ia yang harus mati-matian menahan diri agar tidak mengunci ruangan tersebut, membaringkan Sakura di lantai, melepaskan semua kain sialan yang menutupi tubuh gadis itu, menciumi seluruh tubuhnya, dan membuat gadis itu memekik, mendesah, melafalkan namanya.

Dengan kasar, ia melepaskan ciumannya pada Kin. "Sebaiknya kita pulang saja sekarang."

Kin menatapnya bingung. "Kenapa, Sasuke-kun? Aaah, apa kau mau pulang ke rumahku? Sudah lama kita tak melewatkan malam bersama."

Tidak menggubris, Sasuke malah bangkit berdiri. "Aku pulang duluan kalau begitu." Ia sama sekali tidak menghiraukan pekikan marah Kin. Sasuke hanya tak bisa menyentuh seorang wanita sementara pikirannya kacau karena gadis lain. Jika seperti ini terus, bagaimana mungkin ia bisa melepaskan Sakura? Bisa-bisa niatnya yang tak ingin lagi berurusan dengan Haruno Sakura malah berubah menjadi sesuatu yang sebenarnya sangat ingin ia hindari. Jangan sampai niatnya berubah menjadi ingin memiliki anak itu. Karena kalau sampai hal itu terjadi, maka tak ada seorang pun yang bisa menghentikannya.

.

.

.

oOo

.

.

.

Mobil yang dikendarai Karin berhenti di depan gedung apartemennya. Pegangannya pada kemudi mobil semakin mengencang, wajahnya tegang luar biasa. Seseorang yang sedang berjalan dari pintu masuk apartemen ke arah mobilnya membuat Karin berpikir bahwa lebih baik ia menghadapi dewa kematian daripada orang itu.

Karin keluar dari dalam mobil dengan ekspresi yang tak terbaca. Syukurlah Sakura masih belum bangun. Ia tak tahu apa jadinya kalau Sakura bertemu dengan lelaki itu sekarang.

"A-Anda?"

"Dia tidur rupanya." Karin semakin takut karena fokus lelaki itu tak beralih sama sekali dari Sakura. "Di mana kamarnya?" Karin berdiri tak berdaya saat pintu samping dibuka, lelaki itu sangat cekatan menggendong Sakura yang masih terlelap dalam mimpi indahnya. Beberapa menit dalam lift terasa begitu seperti melewati berabad-abad lamanya.

Karin merasa semakin takut saat lelaki itu menyelimuti tubuh Sakura. Setelah mencium kening gadis itu, pria itu berbalik menatap tajam Karin yang berdiri di ambang pintu kamar.

"Aku memberikan uang yang sangat banyak pada Kakashi demi info tentangnya."

"A-aku bersumpah, aku juga baru tahu mengenai Sakura."

Laki-laki itu maju dengan langkah mantap. Ia mencengkeram dagu Karin. "Kita perlu bicara, tapi tak di sini. Aku tak mau dia terbangun." Tatapan matanya saat melihat Sakura sangat jauh berbeda dengan caranya menatap Karin. Ia menatap gadis itu dengan sangat lembut.

Ruang kerja Karin menjadi saksi pertemuan kembali dua orang sudah belasan tahun tak bertemu. Karin tak pernah merasakan ketakutan seperti ini. Lelaki itu sudah jelas sangat marah padanya.

"Apa kau punya penjelasan?"

"Dulu kupikir dia sudah meninggal," jawab Karin lirih.

"Dan kenapa aku sama sekali tak tahu kalau kau sedang hamil?"

"Si-situasi pada saat itu sangat rumit." Karin sama sekali tak berbohong. Situasi mereka dulu tak dapat dikatakan mudah. Orang ini tak akan mengerti.

"Aku tak peduli. Kutanya satu hal lagi, apa Uchiha Sasuke mantan pacarmu?"

Karin mengangguk perlahan, rasa takutnya semakin menjadi-jadi.

"Apa kau pernah tidur dengannya?"

"Ya ...," jawabnya pasrah.

Pria itu memejamkan matanya. Wajahnya begitu tenang, tapi itulah yang paling Karin takutkan. Semakin tenang, pria di hadapannya ini semakin berbahaya.

"Aku akan menghancurkannya kalau dia berani mendekati putriku."

.

.

.

.

Tbc

A/N:

Selamat untuk iya baka-san yang sudah menebak sejak awal kalau lelaki misterius itu adalah ayah kandung Sakura. Good job teteh, insting yang bagus ;)

Siapa sosok si lelaki misterius itu? Mau nebak? :3

Btw, lagu-lagu yang ada di chapter kemarin itu memang lagu yang sudah sesuai dengan penyanyinya. Lagu When a Man Loves a Women yang saya ambil di sini adalah lagu milik Otis Redding. Dan lagu For The First Time memang juga lagunya Rod Stewart. Saya pecinta lagu-lagu jadul jadi saya ga bakal ngasih lagu yang salah wkwk

Yo, maaf ga bisa balas review. Lagi sibuk. Tapi, saya sangat mengapresiasi semua review yang masuk #hugsatusatu. Kalau sempat saya akan balas yang review login via PM.

Terima kasih buat semua yang sudah baca, review, fave dan follow. Saya tunggu tanggapannya untuk chapter ini ;)