Disclaimer: I do not own Naruto

Specially dedicated to my beautiful readers who had been so kindly and patiently keeping up with this story. I love you guys!


Chapter 11

Tempat itu mungkin bisa dikatakan tempat terindah yang pernah Gaara lihat sepanjang hidupnya. Siang itu, ketika Hinata sesuai janji datang menjemputnya, Gaara pikir kunoichi itu akan membawanya menjelajahi desa dan mengunjungi kedai-kedai makanan. Ia tidak menyangka ketika gadis itu memandunya keluar dari gerbang Konohagakure, lalu membawanya berjalan memasuki hutan lebat yang selama ini menyembunyikan Desa Konoha dari dunia luar.

Kalau saja ia tak mengenal Hinata dan sifat lembut wanita itu, ia pasti sudah mengira kunoichi itu mencoba menculiknya. Ia bahkan tak bisa mengingat jalan yang mereka ambil menuju tempat tersebut. Namun, ketika mereka akhirnya tiba di tempat tujuan, Gaara yakin napasnya tercekat di tenggorokan akibat pemandangan lanskap dihadapannya.

Tebing itu tidak terlalu tinggi, namun cukup tinggi hingga membuat sungai yang mengalir diatasnya jatuh dan membentuk sebuah air terjun alami. Rimbunan semak bunga ivy membentuk tirai yang menutupi dinding tebing. Tepat dibawah air terjun tersebut, terdapat sebuah danau dengan air sebiru batu safir dan membuat Gaara dapat melihat bebatuan di dasarnya. Sementara disekelilingnya, pepohonan yang tinggi membentuk pagar rapat seolah-olah berusaha menjaga keindahannya dari keingintahuan dunia luar.

Hinata mengawasi ekspresi Gaara yang terpukau dalam diam. Air terjun ini adalah tempat persembunyian rahasia miliknya. Letaknya di jantung hutan Negara Api, tersembunyi secara sempurna dari dunia luar; hampir sama seperti Konoha, hanya pepohonan disekitarnya lebih tinggi dan lebih lebat. Hinata menemukan tempat ini beberapa tahun yang lalu, ketika ia masih seorang genin dan menjalankan misi untuk mencari seorang anak kecil yang hilang karena bermain di hutan.

Keberadaan air terjun ini seharusnya hanya dia seorang yang tahu di dunia ini. Ia tidak tahu apa yang mendorongnya untuk membawa Gaara ke tempat ini. Beberapa jam yang lalu, ketika Hinata dalam perjalanannya menuju apartemen sang Kazekage, ia berpikir apa yang harus ia lakukan sepanjang sisa hari itu bersama Gaara. Untuk orang seperti sang Kazekage, Hinata hanya menginginkan yang terbaik. Sesuatu yang eksotis dan tak terduga. Saat itulah ide mengenai air terjun ini melintasi kepalanya. Dan sesuatu dalam dirinya yakin, bahwa berbagi rahasia mengenai air terjun ini dengan Gaara bukanlah hal buruk.

"B-Bagaimana menurutmu?" tanya Hinata malu-malu, memancing perhatian Gaara yang sejak tadi terbengong-bengong menatap air terjun.

"Menakjubkan." sahutnya singkat. "Aku tak bisa menemukan kata yang lebih baik untuk menggambarkannya. Bagaimana kau bisa menemukan tempat ini?"

Hinata tersenyum lega mendengar jawaban Gaara. Ia senang pria itu menyukai air terjun ini. "Dulu sekali, ketika aku sedang... umh... melaksanakan misi."

"Misi apa?"

Hinata hanya menggelengkan kepala, kemudian mengalihkan pembicaraan, "Itu tidak penting. Yang penting sekarang, aku akan mengajarkanmu cara bermain lempar bola air." Ia mulai mencopot sandalnya, kemudian menggulung ujung celananya keatas hingga mencapai lututnya.

"Bola... air?" Bagi Gaara dua kata tersebut tak seharusnya berdampingan. Bagaimana air bisa membentuk bola?

Hinata hanya terkikik mendengar kebingungan dalam suara si rambut merah. "Karena itulah aku akan mengajarkanmu. Dulu aku melatih kontrol chakraku dengan melakukan permainan itu." Dia sudah selesai menggulung celana dan melepas jaketnya. "Apa kau akan tetap membawa gucimu?" tanya Hinata sambil menatap guci dipunggung Gaara.

"Terserahmu sajalah." Ia mencopot gucinya, lalu meniru Hinata mencopot sandalnya.

Tanpa menunggu Gaara, Hinata berjalan ke arah danau. Si Kazekage menaikkan alisnya saat melihat kunoichi berambut indigo itu terus melenggang hingga berjalan diatas air.

"Aku yakin kau juga bisa melakukannya," kata Hinata yang tersenyum sambil menelengkan kepalanya. "Alirkan chakra ke kakimu, ini tak sulit."

Gaara mengikuti petunjuk Hinata. Alirkan chakra ke kaki, dan kau bisa mengapung di air...

Hanya saja Hinata tak memberitahu Gaara bahwa ia menganggap itu tak sulit karena sudah melakukannya selama bertahun-tahun. Sementara Gaara, yang pengalamannya nol persen, besar kemungkinan tak mengetahui sebesar apa chakra yang harus ia alirkan ke kakinya.

Karena itulah saat Gaara melangkah ke air, mereka berdua tak siap saat si Kage berambut merah tersebut mendadak jatuh dan badannya tenggelam ke bawah permukaan.


"Maksudmu, Sang Kazekage tiba-tiba ingin pulang ke desanya besok?"

Tsunade menyipitkan mata ke arah jonin berambut pirang yang duduk dengan anggun dihadapannya. Kipas raksasanya ia letakkan disamping kursi, kakinya menyilang, dan tangannya berada diatas lutut.

"Ya." jawabnya diikuti anggukan singkat.

"Maksudmu, setelah mengancamku dan membuatku mengizinkannya tinggal seminggu disini, ia mendadak ingin pulang?" Tsunade menekankan pertanyaannya lagi.

"Begitulah."

Si Hokage kelima menghembuskan napas kesal, kemudian menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. "Aku benar-benar tak mengerti apa yang ada di pikiran anak itu," erangnya.

"Keinginannya untuk memperpanjang masa tinggalnya disini pun diluar perhitungan saya. Oleh karena itu, atas nama Sunagakure saya minta maaf atas masalah yang sudah ditumbulkan sang Kazekage." ujar Temari dengan nada diplomatis.

"Dia tidak menyebabkan masalah apapun." Tsunade mengibaskan tangan. Ia merasa Temari terlalu berlebihan dengan ucapannya. "Hanya sedikit salah paham."

"Saya mengerti. Pasti mengizinkannya tinggal disini pertimbangan yang berat bagi anda."

"Ya, cukup berat." sahut Tsunade. Ia menatap langit-langit. Tentu saja ia tak keberatan mendengar si bocah kage mau pulang. Ia justru senang karena ia tak perlu dibombardir dengan pertanyaan dari Dewan Konoha lagi. Ia rasa si pewaris Hyuuga juga akan senang mendengarnya, karena misinya akan lebih cepat selesai dari yang mereka kira.

Hanya saja... Tsunade mengernyit. Masih ada satu misteri yang belum terpecahkan.

"Aku bertanya-tanya..." Ia memulai, menarik perhatian Temari. "Apa sebenarnya yang adikmu lakukan disini?"

Temari terdiam sebentar. Pandangannya terfokus pada satu titik di meja Tsunade. "Sebagai bawahannya, saya tak mempunyai hak untuk berkata apapun."

"Oh ayolah..."

"Tapi," Temari menghentikan protes Tsunade, "Sebagai kakaknya, aku punya beberapa dugaan."

Dugaan ya? Ekspresi bingung Tsunade menghilang, digantikan dengan sepasang mata berwarna madu yang dipenuhi semangat. Jika ada satu hal yang Tsunade sukai selain judi dan sake, itu adalah dugaan-dugaan orang lain, atau istilah populernya –gosip.

Ia langsung menarik kursinya merapat ke meja, tubuhnya condong ke depan, sementara tangannya menangkup wajahnya diatas meja. "Dan apakah dugaanmu? Boleh aku mendengarnya?"

Temari menatap perubahan sikap Tsunade dengan bingung. Tapi ia tak memikirkannya lebih jauh. Mungkin itu hanya kebiasaan wanita itu. "Tentu saja Tsunade-sama." Ia menarik kursinya mendekati meja Tsunade, kemudian berbicara dengan suara pelan seakan-akan hal itu hanyalah rahasia diantara mereka. Suara Temari yang rendah itu pun semakin membuat Tsunade penasaran. "Dugaan pertamaku adalah, dia terlalu stres dengan pekerjaannya yang bertumpuk di Suna."

"Tuh 'kan? Sudah kuduga." ujar Tsunade dengan nada kemenangan.

"Tapi... Gaara bukanlah tipe orang yang suka mengeluh." Si Hokage menaikkan sebelah alisnya. "Dia tak pernah mengeluh meskipun dokumen yang harus ia kerjakan memenuhi ruangannya. Itulah yang membuatku bingung."

"Setiap orang punya batasannya masing-masing. Mungkin adikmu sudah mencapai titik jenuh dan butuh refreshing?"

"Kupikir juga begitu. Tapi tetap saja caranya salah. Mengambil waktu ekstra saat sedang dinas ke desa lain. Itu licik. Karena itulah aku disini, datang menjemputnya. Yang membuatku mempunyai dugaan kedua..." Temari menyeringai.

Tsunade ikut menyeringai, "Dan itu adalah...?"

"Kurasa kau tak akan senang mendengarnya."

"Coba saja." tantang Tsunade.

Dan Temari pun mulai memaparkan dugaan keduanya...


Hinata merasa dirinya sudah kehabisan napas saat ia menyeret langkahnya keluar dari air. Dengan napas ngos-ngosan ia menjatuhkan diri keatas tanah berumput pendek, kemudian berbalik terlentang menghadap langit dengan sebelah lengan menutupi matanya.

Ia bisa mendengar saat Gaara keluar dari air, kemudian menurunkan tangannya untuk melihat si pria berambut merah.

Saat itu sudah sore, langit sudah berwarna ungu oranye dan pohon-pohon disekitar danau menciptakan bayangan gelap yang menimpa air terjun dan juga pria basah kuyup yang saat ini sedang berjalan ke arah Hinata.

Rambut merahnya lepek karena air dan menempel di dahinya. Bajunya yang tadi berwarna merah sekarang berubah warna menjadi gelap karena basah. Napasnya pun sama ngos-ngosannya dengan Hinata. Kemudian setelah menyeret langkahnya seperti si kunoichi tadi, ia juga menjatuhkan dirinya disamping gadis itu.

"Kau kabur karena tahu kau akan kalah 'kan?" katanya tiba-tiba tanpa melihat Hinata.

Kegiatan yang awalnya Hinata rencanakan untuk mengajari Gaara bermain lempar bola air hancur berantakan. Setelah pria itu jatuh ke air, atau lebih tepatnya pura-pura jatuh ke air, Hinata dengan panik menyelam dan mencoba menyelamatkan pria itu. Hanya untuk menemukan dirinya ditahan oleh lengan Gaara dibawah air. Ia harus meronta-ronta baru pria itu mau melepaskannya. Begitu mereka berdua muncul di permukaan, Gaara tersenyum jail melihat Hinata yang wajahnya merah karena campuran malu dan panik.

Karena tak mau kalah, Hinata pun membalas Gaara dengan melemparkan bola air ke mukanya. Tindakan itu membuat mereka akhirnya bermain hiu-hiuan –salah seorang dari mereka menjadi hiu kemudian berenang dan menangkap yang lain. Selama mereka bermain Hinata tak bisa berhenti tertawa. Ada satu kali ketika Hinata berhasil menangkap Gaara, ia berpura-pura ingin menggigit pria itu (layaknya hiu) kemudian ia tertawa sangat keras saat melihat kepanikan di wajah pria itu. Gaara pun membalasnya dengan benar-benar menggigit bahunya saat pria itu berhasil menangkapnya. Hinata yang menjerit kaget karena digigit rupanya sesuatu yang sangat lucu bagi Gaara hingga ia tertawa lepas –hal yang sangat jarang bahkan hampir tak pernah pria itu lakukan.

Hinata tak percaya betapa serunya hari itu untuknya. Sudah lama sekali ia tidak kecapaian karena tertawa seperti ini. Terakhir kali ini terjadi... well... terakhir kali ini terjadi... Hinata tidak ingat. Mungkin ia memang belum pernah bermain air sepuas ini.

Apalagi bersama seseorang.

"Mungkin saja." kata Hinata, suaranya serak karena terlalu banyak tertawa. "Kalau aku lengah bisa-bisa kau menelanku hidup-hidup."

Gaara tertawa mendengarnya. "Untung kau keluar dari air. Aku tak akan ragu-ragu memakanmu setelah kau menarik kakiku seperti tadi." katanya.

Orang biasa mungkin akan merinding mendengar Gaara berkata seperti itu. Namun Hinata tidak. Waktu-waktu yang sudah ia habiskan bersama Sang Kazekage membuatnya mampu mendeteksi nada jail yang hampir tak kentara pada suara pria itu.

Hinata berbalik menyamping ke arah Gaara. Kepalanya bertumpu pada lengan kirinya. Gaara menyadari perubahan posisi Hinata. Ia pun melakukan hal yang sama; hanya saja ia menumpukan kepalanya pada lengan kanannya, untuk menatap wanita itu.

Mereka saling berpandangan selama beberapa saat. Ekspresi Hinata lembut, senyuman kecil bermain di bibirnya saat melihat wajah pria dihadapannya. Ia bahkan bisa melihat refleksi wajahnya sendiri pada bola mata pria itu. Momen itu begitu damai. Keheningan yang diciptakan hutan belantara disekitar mereka serta cahaya langit yang semakin meredup menciptakan kesan magis bagi kedua orang itu.

Seminggu yang lalu, Hinata bahkan tak mungkin bermimpi tentang hal ini. Berbaring diatas rumput disamping air terjun favoritnya bersama Sabaku no Gaara... Hal-hal seperti ini hanya terjadi di dalam novel. Tapi, bukankah ia memang selalu berandai-andai agar suatu hari kehidupannya berubah menjadi seperti dalam novel?

"Terima kasih." ucap Gaara tiba-tiba, memecah keheningan diantara mereka.

Hinata menaikkan kedua alisnya. "Untuk apa?"

"Hari ini sangat menyenangkan." Ia berhenti sebentar sebelum melanjutkan, "Belum pernah aku bersenang-senang seperti ini."

Senyum Hinata melebar. "Sama-sama. Aku juga belum pernah bersenang-senang seperti ini."

Keheningan kembali menggantung diantara mereka. Hinata tidak menganggap keheningan tersebut canggung. Ia justru menyukainya. Ia suka saat Gaara menatap wajahnya dengan kedua mata azurenya. Ia suka mendengar suara napas pria itu. Ia suka berada di samping pria itu. Hanya dirinya sendiri, dan tak ada sesuatu diantara mereka.

Hinata menyadari saat Gaara mendekatkan wajahnya. Ia bisa melihat dari mata pria itu bahwa ia sedang mempelajari setiap sudut wajahnya. Ia mengamati, mencermati, menginvestigasi wajahnya seakan-akan berusaha menemukan suatu jawaban. Jawaban akan apa, Hinata tak tahu. Setelah beberapa saat, perlahan-lahan tangan kiri pria itu terangkat. Ia menggunakan telunjuknya untuk menyentuh pipi Hinata.

"Pipimu ini selalu merah."

Saat itu Hinata bahkan tak sadar bahwa wajahnya sedang merona. Dan pernyataan pria itu hanya menambah rona pada pipinya.

"Aku suka warna merah."

Sebelum Hinata bisa bereaksi atas kalimat tersebut, bibir Gaara sudah menempel pada pipinya.


"Kau berbohong..." Kedua mata berwarna madu milik Sang Hokage terbelalak tak percaya menatap wanita dihadapannya. Wanita tersebut hanya mendengus, kemudian menyilangkan kedua tangannya di depan dada.

"Sudah kuduga kau akan berkata seperti itu."

"Hinata Hyuuga 'kan?" Serunya tak percaya.

Temari mengangguk-angguk.

"Aku tak percaya. Hinata kami bukan orang seperti itu." Tsunade bersandar pada kursinya, kemudian menggeleng-gelengkan kepala. Ia tidak bisa mempercayai setiap kata yang tadi keluar dari mulut kunoichi Sunagakure itu.

Ia memergoki si bocah kage tidur dengan Hinata –maksudnya tidur berdampingan, bukan tidur yang seperti ITU. Yah walaupun tidak tidur seperti ITU, YANG BENAR SAJA! Sampai sejuta tahun pun Hinata yang ITU, yang pemalu itu, tak akan mungkin melakukannya.

"Baiklah," Temari berdiri dari kursinya, "Bukan Hokage namanya kalau tidak keras kepala seperti ini. Karena itulah aku akan membawa pelayan kepercayaanku. Dia sudah melihat lebih banyak dariku."

Temari berjalan ke arah pintu, membukanya, kemudian melongokkan kepalanya keluar. Persis disamping pintu tersebut, Tori berdiri menunggu, seperti yang sudah diperintahkan oleh majikannya. "Tori, ayo masuk."

Tori tak punya pilihan lain kecuali menuruti perintah Temari. Kedua orang itu pun kembali masuk ke ruang Hokage. Tori menutup pintu dibelakangnya sebelum berdiri disamping majikannya di depan meja sang Hokage. Ia membungkuk sopan di depan lady pemimpin Konoha tersebut.

"Silahkan duduk." Tsunade mengangguk pada kursi kosong disamping Temari.

"Terima kasih, Hokage-sama. Saya berdiri saja." tolaknya sopan. Tidak mungkin ia yang pelayan ini duduk berdampingan dengan majikannya, begitulah pikir Tori.

"Sekarang, Tori..." Temari tiba-tiba berkata, "Ceritakan pada Lady Hokage semua yang kau ketahui tentang Kazekage dan Hyuuga-sama."

Tori terbelalak mendengar permintaan majikannya. "Maafkan saya, Miss Temari. Tapi Kazekage sudah membuatnya jelas bahwa tak ada apapun antara beliau dan Hyuuga-sama."

Tsunade mengawasi kedua orang dihadapannya dengan tertarik. Si Tori ini jelas-jelas informan paling bagus karena ia yang tinggal bersama Kazekage. Ia memang tak bisa mempercayai Temari, tapi kalau Tori... Pasti yang dikatakan perempuan, eh maksudnya laki-laki ini, valid.

Seandainya saja Ino ada disini, pasti akan lebih seru, pikir Tsunade. Ino adalah ratu gosip nomor satu di Konoha. Perempuan itu mengetahui segala skandal shinobi-shinobi Konoha dari yang terkecil sampai yang terbesar. Jika Ino ada disini, mungkin ia bisa mengait-ngaitkan beberapa informasi yang akan membuat gosip ini makin juicy. Sayang sekali kunoichi itu sedang dalam misi. Sehingga menjadi tugas Tsunade-lah untuk mengumpulkan gosip yang sedang santer di Konoha sementara bawahannya itu absen.

"Oh berhentilah berada di pihak Gaara! Kau juga punya kewajiban mematuhiku!" Tori menunduk malu. Itu memang benar. Inilah beratnya menjadi seorang pelayan bagi tiga orang dewasa yang memiliki sifat berbeda. Terkadang ia harus berpihak pada satu orang, lalu merugikan yang lain.

"Kazekage-sama sudah..."

Temari menghentakkan kipas raksasanya ke lantai. "Ceritakan. sekarang." kata wanita itu perlahan-lahan. Hentakan kipasnya sendiri cukup membuat Tori melupakan janjinya pada sang Kazekage.

Ia menghela napas, dalam hati ia berbisik maafkan saya Kazekage.

"Baiklah, tapi jangan sampai Kazekage tahu kalau saya yang mengatakan semua ini."

Temari tersenyum penuh kemenangan.


Hinata memejamkan matanya saat merasakan bibir Gaara perlahan-lahan bergerak dari pipinya menuju kesamping... ke arah bibirnya. Dalam hati Hinata tahu, ini adalah saat-saat yang sudah ia tunggu selama ini.

Ciuman pertamanya.

Sepanjang hidupnya Hinata selalu berimajinasi bahwa Naruto adalah laki-laki yang akan memberinya ciuman pertamanya. Dan meskipun yang ada disampingnya ini versi pendiam, bermata hijau, dan berkulit lebih pucat dari Naruto, ia tidak menyesal.

Ya, ia memang sangat menyedihkan hingga di umur dua puluh tahun belum ada seorang pria pun yang mencoba mencium bibirnya. Tapi apa pedulinya sekarang? Sekarang ia justru sangat bersyukur karena sudah menyimpan ciumannya untuk saat-saat seperti ini.

Sensasi saat bibir Gaara menyentuh bibirnya mungkin adalah sensasi teraneh yang pernah ia rasakan. Sebagian dirinya berpikir bahwa bibir Gaara mungkin akan terasa kasar seperti pasir, namun apa yang menempel pada bibirnya saat ini sangat jauh dari pasir. Bibirnya Gaara lembut namun dingin karena pengaruh air yang membasahi seluruh tubuhnya. Rasanya tidak begitu buruk. Malahan bisa dikatakan... menyenangkan.

Selama beberapa menit Gaara tidak melakukan apa-apa. Ia hanya membiarkan bibirnya menempel pada Hinata. Kemudian perlahan-lahan tangan kirinya melingkari pinggang wanita itu dan membawa tubuh mereka agar saling mendekat. Namun, sebelum Hinata bisa melingkarkan tangannya di punggung Gaara dan memperdalam ciuman mereka, pria itu sudah menarik bibirnya. Ia tidak menjauhkan dirinya dari Hinata ataupun melepaskan pelukannya, malahan ia menempelkan dahinya pada dahi wanita itu, membuat hidung mereka saling bersentuhan.

Pandangan Hinata melembut. Tangan kanannya yang sedari tadi tidak melakukan apa-apa kini berada di pipi Gaara, mengelus kulit yang tak tertutup armor pasir tersebut.

Seandainya aku bertemu dengannya lebih cepat... pikirnya. Mungkin momen ini bisa berlangsung lebih lama.

Tapi ia tahu, Gaara tak selamanya bisa berada disini. Ia hanya bisa berada disini sampai akhir minggu. Setelah itu Hinata tak tahu lagi kapan bisa bertemu dengannya. Hinata memejamkan mata. Ia sudah membuat keputusan. Apapun yang terjadi, ia akan memanfaatkan segala waktu yang mereka punya dengan sebaik-baiknya.

"Gaara..." bisik Hinata.

"Hmm?"

"Kau tahu... dua hari lagi adalah Jumat pertama musim panas. Konoha biasanya mengadakan Festival. Akan ada kembang api, makanan, minuman, pokoknya semua orang akan bersenang-senang." bisiknya.

"Mhmm."

Hinata membuka matanya. "Kau mau pergi denganku?"

Gaara tak berkata apapun. Ia hanya menatap Hinata dengan pandangan intensnya. Karena akhir-akhir ini Gaara selalu bersikeras ingin bersamanya, Hinata hampir yakin pria itu tak akan menolak. Tidak ada orang yang bisa menolak Festival Konoha. Pada hari itu semua pekerjaan diliburkan agar semua orang bisa bersenang-senang.

"Aku tidak bisa."

Harapannya yang sudah melambung tinggi terhempas ke tanah oleh kalimat tersebut. Hinata bisa merasakan hatinya melesak kemudian merosot jatuh ke dasar perutnya. Gaara menolak?

"K-Kenapa?" Bukankah mereka sudah berciuman? Hal itu jelas-jelas mengatakan bahwa pria ini tertarik padanya. Hinata yang tak menolak dicium juga menandakan bahwa dirinya juga tertarik pada pria itu. Tidakkah dia menyadarinya? Lalu demi Tuhan mengapa ia menolak? Tidak mungkin ia sudah punya janji dengan orang lain 'kan?

Pertanyaan yang bertubi-tubi tersebut terjawab hanya oleh sebuah kalimat.

"Aku akan pulang besok."

Kata-kata itu terdengar bagaikan guntur di telinga Hinata. Kedua mata pucatnya pun serta-merta melebar.

"A-Apa?"

"Aku akan pulang besok." ulang Gaara lagi.

"T-T-Tapi..." Suara Hinata mulai terdengar panik sekarang. Kenapa dia mau pulang? Tadi dia jelas-jelas berkata bahwa ia bersenang-senang disini. Lalu apa yang salah? "B-B-Bukannya kau akan tinggal disini sampai akhir minggu?"

Gaara tiba-tiba mengernyit. "Bagaimana kau tahu aku seharusnya berada disini sampai akhir minggu?" tanyanya bingung.

Jantung Hinata mencelos. Bagaimana dia bisa keceplosan? Ia cepat-cepat berbalik, menjauhkan dirinya dari Gaara. Berada di bawah tatapan pria itu hanya akan membuat dirinya makin gugup. Ia pun bangkit duduk, lalu berpura-pura membersihkan rambutnya dari rumput yang menempel.

Dia memang seharusnya tak tahu kalau Gaara extend seminggu di Konoha. Hal itu seharusnya hanya diketahui oleh Gaara, Tsunade, dan... "T-T-Tori. Tori y-yang memberitahuku."

Dan pelayan yang mengurus Gaara tentunya.

Pria itu menerima penjelasan Hinata, kemudian ikut bangkit duduk. "Aku tak bisa berada disini..."

"K-Kenapa? B-Bukankah kau bilang tadi kau bersenang-senang disini?" Hinata merasa dikhianati, tentu saja. Pria itu datang memasuki kehidupannya, membuatnya bingung, membuatnya merasa spesial, dan setelah Hinata akhirnya menikmati kehadiran pria itu disampingnya, ia tiba-tiba berkata akan pulang. Tentu saja dia merasa kesal!

Tanpa menunggu jawaban Gaara, Hinata pun berdiri, berjalan menuju tempat dimana ia meletakkan jaket serta sandalnya. Ia memunggungi Gaara saat memakai kembali jaket tersebut.

Ia bisa merasakan saat Gaara berjalan mendekatinya. Pria itu berdiri dibelakangnya, kemudian berkata dengan nada yang hampir terdengar seperti meminta maaf, "Aku adalah Kazekage."

Jari-jari Hinata yang sedang menarik ritsleting jaketnya berhenti ditengah jalan saat ia mulai memahami kata-kata Gaara.

Aku adalah Kazekage.

Ya, tentu saja. Hinata menunduk, malu pada Gaara dan malu pada dirinya sendiri. Tentu saja dia mau pulang. Dia adalah Sang Kazekage. Dia punya pekerjaan yang lebih penting di Suna daripada menghabiskan waktu dengan bermain air bersama seorang wanita sepertinya. Tapi... Seorang Kazekage 'kan juga butuh refreshing selama sesaat...

"T-T-Tapi... D-Di festival nanti... akan ada banyak sekali jajanan enak. Jajanan yang bahkan belum pernah kau lihat. Kemudian, a-ada kembang api. K-Kudengar mereka akan membakar kembang api Lotus. K-Konon, kembang api itu adalah k-kembang api terbesar di a-abad ini..."

Gaara menghela napas. "Aku pun ingin melihatnya." katanya. "Tapi aku sudah mendapatkan cukup banyak liburan."

Hinata rasanya ingin menangis. Pasti ia terdengar sangat egois dan jahat. Orang macam apa yang menghasut seorang Kage untuk menonton kembang api saat pria itu punya kewajiban pada desanya? Pada orang-orangnya? Hinata memang menginginkan Gaara disini. Tapi penduduk desa Suna membutuhkannya. Ia tidak boleh serakah dan menahan Gaara disini untuk dirinya sendiri.

"M-M-Maafkan aku." ucap Hinata terbat-bata sambil berusaha memasang sandalnya.

"Tidak apa." Dari ekor matanya, Hinata bisa melihat Gaara juga memasang sandalnya. Pria itu kemudian melanjutkan, "Karena itulah kau harus datang ke Festival Suna." Hinata terbelalak mendengarnya. Kepalanya sontak menoleh ke arah Gaara, namun pria itu masih melihat ke bawah untuk memasang sandalnya. "Hanya saja, festival kami diadakan dua minggu lagi."

Jika apa yang Gaara katakan seperti yang Hinata pikirkan, ia akan melakukan apapun agar bisa berada di Sunagakure dua minggu yang akan datang.


Hello guys! Kuharap kalian tidak menunggu terlalu lama untuk chapter kali ini xD aku sedang semangat-semangatnya nulis Broken Arrow. hehehe.

Di chapter ini seperti yang sudah kalian baca, GaaHina akhirnya ciuman juga. (ayo kita kenduri *kicked*) waktu aku baca ulang Broken Arrow, aku mikir, kenapa yaa GaaHina gak pernah ciuman? Aku jadi gregetan sendiri hahahha. Kuharap ciuman mereka gak terlalu kaku yaa. Aku betul-betul menunggu opini kalian mengenai ciuman ini hehehehe. (so, jangan lupa review yah!)

Di review sebelumnya, aku membaca banyak dari kalian yang bersimpati pada Neji-kun. Jadi, karena aku juga bersimpati pada Neji-kun, aku ingin kalian yang juga ingin Neji-kun happy ending membantuku memutuskan siapa kunoichi yang akan menyembuhkan sakit hatinya Neji-kun. Kunoichi yang paling banyak dapet suara, akan aku beneran bikin pasangan sama Neji-kun di Broken Arrow ini. ehehehe. So, kalian yang peduli Neji, ayo vote!

Yak sekarang balesan untuk review-review di chapter sebelumnya:

Nanairo Zoacha: Halo icha, nih aku bales kan reviewnya ehehe. Iya, Gaara mau balik ke Suna. Hinata gimana? Baca aja di chapter berikutnya, okeh?

lonelyclover: Hello clover! Penasaran apa yang akan terjadi sama Hinata? Baca chapter depan nyeheheh.

OraRi HinaRa: Gapapa review panjang kok. Aku suka baca review yang puanjaang. Iya manusia emang ga terhindarkan dari typo. Semoga typonya ga gitu ganggu.

Zaskey-chan: Hello zaskey. Iya, akun fb aku yang Tiffany xxx itu hahahha. Mau ketemu Gaara? Dateng aja ke Suna *kicked*

Rishawolminyu: Happy ending kok ceritanya. hehe. Iya udah mau masuk konflik nih (mungkin itu alasannya kenapa aku jadi semangat nulis Broken Arrow ya. haha)

ulva-chan: Baca chapter depan ya ulva, tar kejawab deh pertanyaannya.

Dee: Temari bukannya ga setuju. Tapi Temari ga nyangka kalo adeknya bukannya kerja malah pacaran di desa orang. Hmm, Neji cerita ke Hiashi ga ya? Tar aku tanyain deh. hehe.

MeraiKudo: Congrats yaa. Kalo GaaHina ketemuannya gampang jadinya ga seru dong. hehe.

shirayuki nao: Baca chapter depan nao~ you'll get your answer ;)

mayra gaara: *peluk Mayra balik* ehehe makasih ya Mayraa. Yah tenang aja May, namanya jodoh gak akan lari kemana-mana deh. Semoga romance di chapter ini lumayan buat nutupin kekurangan di chapter kemarin ok?

Ai HinataLawliet: Yah namanya juga fanfic, penuh dengan drama. hahaha. Temari kesel itu karena adeknya (yang dia sangkain kerja) ternyata malah pacaran di Suna. Dia ga bermaksud rusakib hubungan orang kok. Jangan benci Temari yaa.

Lullaby Afa: Aaaa jangan benci Temari. Temari ga bermaksud jahat kok. Cuman kesel aja dia adeknya bolos kerjaa.

Uzumaki Panda: Halo Panda. Semoga kamu ga terlalu lama nunggu chapter 11 ini yaa. I love you too. ehehe.

Rei kun: Aku senyum-senyum sendiri baca review kamu. *blush* Iya boleh kok panggil Shiorin aja. Aaa tar aku tanyain Gaara deh dia mau bawa oleh-oleh apa dari Konoha, kalo dia bawa Hinata bisa-bisa di kill ama bapaknya, bapaknya Hinata kan galak (sereeem). hm hm kapan konfliknya memanas? Cuma satu kata untukmu! BACA TERUS! muahaha. Aduuh iya sama-sama, ini fic penyaluran imajinasi aku. Aku seneng deh kamu suka baca ini. MUACH!

Rufa Kha: Iya SMA asik, tapi jangan samain kek SMP. ehehe. Baca terus yaa biar ga penasaran.

anna just reader: Iya karena romancenya dikit itulah makanya ada komunitas penuh imajinasi seperti ini *ALL HAIL FFN* selamat datang di FFN yaa.

YamanakaemO: Baca yang komplit dong. Ga seru kan kalo sepotong" aja. Kamu ketinggalan adegan-adegan penting. hehe.

ck mendokusei: makasih destiii. hahaha aku juga EUFORIA pas nulis ini XD Semoga romance di chapter ini sesuai harapan desti yaa. Baca terus yaa xoxo.

azalea ungu: cuman ada dua orang di review aku yang nyebut" tentang 'pisau cukur' itu ehehe. Aku seneng kamu anggap ceritaku lucu. Artinya aku punya selera humor. haha.

Wew, lumayan panjang juga daftarnya. Makasih yaa atas reviewannya guys, jangan lupa review lagi! Yak, saatnya shiorinsan undur diri dulu *lirik jam desktop* waah udah 3:30am dan aku belom tidur (akhir-akhir ini jadwal tidur berantakan T-T)

Makasih ya udah baca cerita inii, see you guys in the next chap!

xoxo
shiorinsan