Naruto .. Oh Naruto
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Pairing : SasuNaru, ShikaNaru slight AllSemeNaru
Rated : T+
Genre : Romance (genre bisa berubah sesuai suasana hati 'Loshi kalau lagi nulis,hehe#plak)
Warning : Yaoi/BL/MalexMale, Typo(s) dan Miss typo(s), Lime, AU, OOC, OC, EYD tidak mendukung, Perkataan sehari-hari, dll
...
Chapter kemarin:
Seorang pemuda dengan rambut pirang panjang, tubuh ramping terbungkus sebuah pakaian hangat mendekat ke arah Sasori. "Ternyata kau peka juga," ucap pemuda itu—Deidara.
Sasori mendengus mendengar apa yang dikatakan Deidara. Diangkatnya kakinya itu dan berbalik melihat pemuda pirang panjang di belakangnya. Mereka saling melihat, "Sosokmu begitu mencolok bagaimana mungin aku tidak merasakannya." Jawab Sasori dengan santainya.
Deidara hanya diam, tidak ada kemauan untuk menyanggah dan beradu mulut dengan pemuda di depannya. Mereka memang sudah saling mengenal—baik.
"Duduklah," ajak Sasori menggerakkan kepalanya—memberikan isyarat.
Deidara tersenyum lalu melangkah mendekati Sasori. Terduduk berdua sambil melihat langit tanpa bintang. Polusi udara yang begitu pekat membuat bintang-bintang indah itu terhalang. "Kau sungguh-sungguh akan melindunginya bukan?" tanya Deidara memecah keheningan.
"Tentu, dia orang yang berharga untukku... dan juga untukmu bukan?" jawab Sasori ambigu. Entah dia bertanya atau menjawab.
Hening..
Mereka hanya diam, tidak ingin memberatkan kembali pikiran mereka yang sudah begitu berat.
.
-Chapter 11-
.
Tidak baik. Semenjak kejadian kemarin, keadaan sekarang semakin terasa tidak baik. Bukannya dia tidak merasa dari dulu perubahan yang sedang terjadi perlahan-lahan, tapi sekarang rasanya berbeda—sangat berbeda. Hatinya gundah, bukan hanya karena dia belum tau keadaan Kyuubi yang sekarang berada di rumah sakit, tapi dia juga sedikit merasakan perubahan beberapa sifat seme-semenya.
Beberapa hari yang lalu semenjak kejadian Kyuubi yang tiba-tiba histeris, Naruto tidak bisa tidak walau diam hanya untuk beristirahat. Pikirannya terus berkecambuk, dia was-was, dia khawatir. Dia takut terjadi apa-apa dengan Kyuubi. Dia hanya tidak habis pikir, kenapa Kyuubi bisa histeris? Sebenarnya apa yang terjadi dengan Kyuubi?
Naruto menghela nafas lagi.
Halaman belakang sekolah. Ah, dia memang dia paling suka berada disini. Hanya beberapa orang yang tau, membuatnya bisa merasa lebih rileks dan nyaman. Untuk sementara waktu mungkin Naruto ingin disini dulu, tidak ingin kembali ke kelasnya. Di kelas juga hanya membuatnya pusing, dan galau. Jika melihat betapa perhatiannya Shikamaru sekarang, terkadang Naruto berpikir kalau dia ingin kembali pada pada kekasihnya itu. Berbuat banyak hal seperti dulu, hingga akhirnya mereka akan semakin romantis dari dulu.
Tapi, jika mengingat Sasuke yang entah kenapa dapat begitu cepat merebut perhatiannya, dia menjadi sedikit bimbang. Terkadang dia berpikir, kenapa dia bisa begitu cepat mencintai pemuda berambut raven itu? bukannya dia dulu hanya dapat mencintai Shikamaru? Bahkan itu pun tidak begitu kilat seperti sekarang cintanya pada Sasuke, atau jangan-jangan Sasuke memeletnya? Pikirnya aneh.
Berpikir seperti itu terus-menerus membuatnya pusing.
Skesek!
Naruto tersentak. Siapa itu? bukannya sekarang jam pelajaran sedang berlangsung? Kenapa ada siswa selain dia yang mau-maunya membolos?
Naruto melihat ke sekelilingnya. Mengamati dengan jelas apa ada yang ganjil disana. Mata birunya melihat ke arah kanan. Matanya membulat, 'Kenapa harus sekarang?' pekiknya dalam hati.
Rambut itu tidak asing, bahkan tidak berubah sama sekali. Jelas itu rambut yang dulu begitu ingin dia belai dengan lembut. Wajah itu jelas, wajah yang membuatnya begitu terpesona—membuatnya dulu begitu ingin terus memandanginya hingga dia tidak bisa melihat. Seragam sedikit keluar sesuai stylenya, dan mulutnya yang terus menguap.
Tubuh Naruto kaku saat nama itu keluar dari mulutnya, "Shika?"
Shikamaru melihat Naruto masih dengan gaya malasnya, "Sudah kuduga, kau pasti disini," ucapnya menghampiri Naruto. Langkahnya sedikit terasa berat saat melihat mata biru itu bergerak tidak nyaman saat beradu pandang dengannya yang semakin intens melihatnya. "—Kurenai-sensei tadi mencarimu, tumben kau membolos saat pelajarannya," ucapnya saat tepat berada di depan Naruto yang masih terduduk—mendongak melihatnya. "...seingatku, kau malah paling suka pelajarannya, bukan?"
Naruto menundukkan kepalanya. Sungguh, sekarang dia benar-benar tidak nyaman untuk berada di dekat Shikamaru. Walaupun dia sudah membuka hatinya untuk Sasuke, tapi Shikamaru bukan hanya pacarnya untuk beberapa hari. Shikamaru pernah menempati hatinya. Shikamaru pernah menjadi orang yang benar-benar penting untuknya. Shikamaru pernah menjadi satu-satunya orang yang bisa membuatnya bahagia. Shikamaru pernah mengambil hatinya secara utuh.
Dan sekarang, baru setengah hatinya yang kembali dan berada dalam genggaman Sasuke.
Yang artinya, Naruto jelas masih mempunyai perasaan yang dalam untuk Shikamaru.
Pernah mendengar jika perempuan menganggap cinta pertama sebagai masa lalu, dan cinta terakhir adalah cinta sejatinya? Lelaki justru sedikit berbeda. Mereka memang mengakui jika cinta terakhir mereka adalah pasangan hidupnya, tapi cinta pertama adalah cinta yang tak akan pernah bisa dilupakan. Cinta yang akan terus diingatnya, walaupun sudah mendapatkan cinta yang baru—maupun cinta itu lebih besar dibanding cinta pertamanya.
Dan, sekarang inilah yang dirasakan Naruto.
Jatungnya masih berdetak dengan cepat saat Shikamaru berjalan lebih mendekat padanya. Mencium wangi Shikamaru yang terbawa angin pun masih tetap membuatnya melayang.
Dia memang sudah menyerah untuk Shikamaru. Sudah memberikan hatinya untuk Sasuke, tapi...
... "Kau kenapa?"
—hanya dengan mendengar suaranya sekali lagi saja, Naruto merasa hatinya sakit sekali. Ingatan tentang kejadian di bilik kamar mandi waktu itu pun terulang lagi. Meruntuki dirinya yang tidak bisa mengambil keputusan—yang benar-benar bijak, hingga membuat semuanya semakin sulit.
TAP
"Eh?"
Matanya membulat sempurna. Sentuhan di ujung dagunya membuatnya terbelalak. Tangan halus dan kokoh ini. Wangi yang dirindukannya. Pancaran mata malas, dingin namun hangat. Suasana yang begitu mendukung.
'Apa yang harus aku lakukan?'
"Aku tanya, kau kenapa? Wajahmu terlihat merah. Apa kau sakit?"
'Bukan itu!'
Tep
"Emm... tidak panas sama sekali," gumam Shikamaru menempelkan keningnya pada kening Naruto. Wajah mereka begitu dekat, bahkan wangi mulut Shikamaru pun dapat dicium dengan jelas oleh Naruto. Wangi mint yang pernah dirasakan untuk beberapa kali—dulu.
PLAK
Srak srak srak
Mata kuaci itu membulat penuh. Dia tidak tau kalau Naruto benar-benar sudah menolaknya. Menepisnya dengan kencang, dan menjauh darinya hingga tidak memperdulikan dirinya sendiri terjatuh seperti sekarang.
'Seperti itu kah?'
"Keh.."
Naruto membuatkan matanya ragu. Dia tidak salah lihatkah? Shikamaru terkekeh di depannya sambil sedikit mengelus pipinya. Meletakkan satu tangannya di pinggang, pemuda di depannya melihatnya dengan tajam. Naruto tidak tau, sejak kapan hatinya begitu sakit seperti ini. Jauh lebih sakit dibandingkan saat Shikamaru tidak memperhatikannya, atau saat tadi dia menampik semua kehangatan yang diberikan pemuda ini. Tatapan tajam dan sakit itu... lebih menyakitkan untuk dilihatnya.
"...kenapa?" Naruto memberanikan bertanya pada Shikamaru. "..kenapa kau lakukan hal itu?" tanya Naruto lirih memandang Shikamaru dengan ragu. Jauh dalam dirinya, dia belum mau mendengar pernyataan dari pemuda itu. Dia tidak sanggup untuk mendengar alasan dari pemuda ini. Dia tidak sanggup untuk terjatuh pada jurang yang sama untuk kedua kalinya. Cukup untuknya mendengar pernyataan kemarin. Tapi mulutnya tidak bisa diandalkan. Mengeluarkan pertanyaan yang menjebaknya dalam pilihan sulit sekali lagi.
"Karena kau tetap milikku,"
...pilihan yang terus menghantuinya.
Naruto belum juga memutuskan hubungannya dengan Shikamaru ingat? Dan inilah pilihannya,
"—kau belum resmi putus denganku, Naru,"
...akhiri hubungannya dengan Shikamaru?
"—dan kau juga masih menginginkanku, sama sepertiku,"
...atau terus berada dalam pilihan itu.
Hanya mata biru dengan sinar redup yang akhirnya dilihat mata hitam kuaci itu. Hanya sebuah jawaban yang mungkin dapat dia simpulkan menjadi pilihan akhir Naruto. Karena itu, Shikamaru mendekat ke arah pemuda pirang itu. Berjongkok hingga dapat melihat dengan jelas lelehan air mata yang jatuh dari sana. Tidak bergeming, dia hanya akan melihat Naruto menangis.
Bukan untuk menenangkan, tapi hanya untuk menonton.
Bukan untuk memberikan ketenangan, tapi tekanan.
"Karena hanya inilah caraku untuk mendapatkanmu kembali."
.
.
.
Di sisi lain, Sasuke jelas muak. Shikamaru tidak masuk di kelas, sangat bertepatan dengan menghilangnya bocah bondle yang sedang dicarinya sekarang. Tumben sekali Naruto membolos. Naruto mungkin memang nakal, tapi tidak untuk urusan pelajaran Kurenai. Naruto sedikit mengagumi guru perempuan dengan mata merah itu. Menurut Naruto, Kurenai adalah guru perempuan yang cantik dan juga jenius, selain ramah dan baik tentunya. Sasuke bukannya berpikiran negatif pada Naruto, tapi kenapa harus bertepatan dengan Shikamaru?
Sasuke tau, Naruto tidak mungkin dengan begitu mudah berpindah padanya. Tapi, setidaknya Naruto sudah mendeklarasi pada pemuda nanas itu kalau dia sudah menjadi miliknya. Dan sekarang, sekarang semuanya malah berbalik padanya.
Naruto dan Shikamaru menghilang, bahkan seme-seme Naruto yang lain pun tidak tau—dan malah bertanya padanya.
Dia begitu ingat saat Kiba bertanya kemana Naruto pergi dan apa Naruto pergi bersama Shikamaru.
Shit! Sasuke rasanya ingin sekali berteriak saat itu juga.
Tap
Mata Sasuke melihat mata pemuda lain yang melihat ke arahnya. Rambut coklat itu, Sasuke tidak akan pernah lupa. Orang yang pernah membentak Naruto saat di taman bermain.
"Kenapa kau bisa masuk ke sini?" Sasuke menajamkan matanya—seperti ingin mengintimidasi pemuda di depannya.
Orang itu berjalan ke arahnya dengan tangan yang dimasukkan ke dalam saku celana berwarna coklat tua itu. Melihat Sasuke tanpa merasa terintimidasi sama sekali—bahkan mungkin tidak merasa kalau dia sedang diserang deathglare Sasuke. Mendengus dengan pelan, Shukaku hanya melirik ke samping Sasuke lalu melihat langsung mata Sasuke.
"Kemana anak berambut kuning itu?" tanya Shukaku tanpa menjawab pertanyaan Sasuke terlebih dahulu.
Sasuke mengenyitkan keningnya—tidak suka. Orang ini, datang tanpa permisi ke sekolahnya dan tiba-tiba menyakan Naruto—yang setahu Sasuke baru bertemu satu kali saja. Apa maksudnya? Jangan bilang dia juga kepincut jaring pesona Naruto setelah membentak Naruto kemarin?! Jangan bilang dia kesini untuk memperbaiki kesannya pada Naruto?! Hell no! Sasuke tidak akan semudah itu membiarkannya. Setelah menyingkirkan Shikamaru, tidak akan dia biarkan ada orang lain lagi yang mendekati Naruto-NYA!
Dimasukkan sebelah tangannya ke dalam saku celana seragamnya, Sasuke jelas menunjukkan raut tidak suka pada Shukaku. Sedangkan yang ditatap dengan tidak suka hanya mengenyitkan kening. Dia tau kalau orang di depannya ini sama sekali tidak bersahabat, tapi melihat orang seperti ingin mencabiknya seperti itu... sungguh tidak sopan, pikirnya.
"Jadi, aku tanya ada apa kau mencari Naruto?" tanya Sasuke dingin.
Shukaku melihat Sasuke biasa saja, "Hanya ingin berbincang sebentar..." Sasuke melihat Shukaku semakin tajam. "...masalah Kyuubi,"
Sasuke membulatkan matanya, "Kyuubi?" tanyanya. "Orang yang kemarin terlihat aneh, dan menyebalkan itu?" tanyanya.
Shukaku menghela nafas lelah—karena mamang dikatakan Sasuke benar. Kyuubi itu menyebalkan dari caranya berbicara yang selalu mengejek dan seperti ingin menjatuhkan orang. "Iya, itu dia," jawab Shukaku pelan. Tapi Shukaku jelas sangat mengenal Kyuubi setelah hampir bertahun-tahun bersama. Kyuubi sebenarnya hanya menutupi sesuatu. Sesuatu yang sebentar lagi mungkin akan dia berikan tahukan pada orang yang benar-benar harus tau masalah itu.
"Jadi bisa kau beritahu aku dimana anak itu?" tanya Shukaku lagi.
Sasuke berdecak pelan, "Kalaupun aku memberitahumu, belum tentu kau akan menemukannya sekarang," jawab Sasuke datar. Shukaku mengenyitkan kening mendengar apa yang dikatakan Sasuke. Sasuke melihat Shukaku dengan pandangan malas, "Karena dia mungkin ada di tempat itu sekarang,"
.
.
.
.
...
Di sisi lain Itachi sedang memandang ke atas langit. Tidak biasanya dia membolos saat ada mata kuliah. Dia termasuk murid teladan di kampusnya. Dan sekarang dia malah membolos hanya karena ingin melihat langit biru yang sedang sangat cerah—di atap kampusnya.
Sungguh tidak Uchiha Itachi sekali!
Pikirnya terkekeh.
"Jadi?" Itachi menghela nafas lelah setelah menyucapkan pertanyaannya. "Aku tau kenapa kau ke sini," Itachi beranjak dari tempatnya tidur semula menjadi terduduk sambil merapihkan pakaiannya. Acaranya yang semula menyenangkan menjadi terganggu hanya karena kedatangan orang ini. Padahal tempatnya seharusnya tidak disini, dan hanya hal itu yang membuatnya datang kemari—menemuinya. "...Sasori?"
Sasori berjalan semakin mendekat ke arah Itachi. Sasori sama seperti Pein, teman dari rekan Itachi. Tapi berbeda dengan Pein, Itachi jelas tidak merasakan sesuatu yang buruk pada diri pemuda di belakangnya sekarang. Jika Pein terlihat seperti benar-benar berandalan, mungkin Sasori memang terlihat seperti anak baik-baik, atau baca saja anak rumahan. Hingga dulu pertama kali bertemu, Itachi tidak yakin jika Sasori adalah salah satu teman rekannya yang terkenal begitu 'begajulan'.
Tap tap tap
Itachi melirik sebelahnya. Melihat bayangan hitam yang sedang berdiri dengan menjulang tinggi. "Duduklah, bukannya kurang nyaman membicarakan hal seperti ini dengan berdiri," ucap Itachi menepuk tempat di sampingnya.
Sasori tidak bicara apapun, dan hanya menuruti apa yang disuruhkan Itachi padanya. Raut wajahnya benar-benar tidak dapat ditebak. Melihat ke atas, Sasori hanya melihat langit dengan awan sirus yang bergerak lambat dengan pandangan datar.
"Shisui telah sudah menjadi yang pertama," ucap Sasori sembari menutup matanya dan menundukkan kepalanya kembali. Membuka matanya, melihat beton di bawahnya dengan pandangan sayu. "Aku belum dapat memperkirakan yang selanjutnya," ucap Sasori.
Itachi melirik Sasori lalu menghela nafas pelan. Diangkatnya tangan kanannya, lalu diletakkan di atas kepala Sasori.
"Setidaknya kau sudah melakukan hal yang benar," ucap Itachi. Tangannya beralih dari pucuk kepala Sasori ke bahu pemuda itu. Menepuknya beberapa kali sebelum bicara kembali, "Mungkin memang harus dimulai dari sekarang," ucap Itachi tersenyum. "Kita akan bergerak bersama, Sasori."
Sasori kembali mengangkat kepalanya setelah tangan Itachi tidak lagi bertengger di bahunya. "Kau terlalu lama berdiam diri, dan hanya melihat dari balik layar," ucapnya melihat Itachi tajam.
Itachi terkekeh pelan, "Kau pikir aku bisa apa? kalian terlalu jauh jika harus aku pantau setiap waktu," jawabnya.
Sasori menghela nafas, pandangan matanya yang sekarang lebih tenang. Tidak lagi terlihat hampa ataupun seperti tadi. Mungkin setidaknya dengan bergabungnya Itachi, dia dapat sedikit lebih tenang—walaupun dia sendiri belum mengetahui dipihak mana Itachi. Itachi itu orang yang tidak dapat ditebak olehnya. Seperti hitam dan putih, lalu terkadang tidak termasuk keduanya. Sasori tidak dapat melihat ataupun memperkirakan jalan pikiran pemuda dengan peringkat pertama di kampusnya itu.
Entah dia sudah memilih teman yang benar atau tidak, yang penting hanya satu. Yaitu sekarang!
Setidaknya sekarang dia sedikit demi sedikit dapat melindungi Naruto. Entah itu dari dalam, ataupun dari luar.
Sasori maupun Itachi hanya terdiam berpikir dengan sangat keras sambil melihat langit yang tadinya cerah menjadi sedikit mendung. Angin pun semakin berhembus dengan kencang. Membuat rambut kedua pemuda itu harus terkibar pelan.
"Sepertinya akan hujan,"
.
.
.
.
...
"Kenapa kau tidak bilang," Sasuke berjalan dengan perlahan menuju kedua pemuda yang sedang bercengkraman sekarang. Melihat keduanya dengan sorot mata yang sangat tajam. Naruto dengan seragam yang sedikit acak-acakan hanya tetap diam tanpa melihat Sasuke sedikit pun. Sedangkan, Shikamaru hanya melihat Sasuke tanpa minat. "...jika kau mamang belum sepenuhnya dapat meninggalkannya," lanjut Sasuke melihat Shikamaru dengan pandangan tajam lalu melihat Naruto.
Naruto tidak bergerak sama sekali.
"Jadi, Shika bisa kau lepaskan Naruto sekarang?" tanya Sasuke lagi.
Shikamaru hanya bergumam dan melihat Naruto. Merapihkan rambut jabriknya yang sedikit berantakan. Melepaskan pelukannya dan pelukan Naruto padanya dengan pelan. Beranjak pergi tanpa melihat kembali Naruto dengan santai—seperti tidak pernah terjadi apapun.
Shikamaru melihat Shukaku dengan mata kuacinya. Melirik mata coklat Shukaku dengan tajam, lalu mendengus, "Kyuubi," lirihnya terdengar dengan jelas Shukaku.
Shukaku sendiri hanya menajamkan matanya, tidak bermaksud sama sekali semakin memperparah keadaan sekarang. Mengalihkan perhatiannya pada Sasuke yang menghampiri Naruto, Shukaku dapat dengan jelas melihat pemuda berambut pirang itu menangis dalam diam.
Semua orang jelas memang tidak akan pernah bisa melepaskan pemuda pirang itu. 'Termasuk Kyuubi,' pikirnya sambil melihat Naruto dengan pandangan sayu.
Semunya dimulai dari Sasuke yang tidak dia sangka membimbingnya kemari. Mengantarnya ke suatu tempat yang tadinya dia pikir adalah tempat yang memang dipakai siswa di sekolah ini untuk membolos. Hanya sebuah taman belakang sekolah, dengan pemandangan yang menakjubkan. Bukan hanya pemandangan alamnya, tapi juga pemandangan 'kegiatannya'.
Shukaku pertamanya kaget melihat dua orang pemuda sedang bercumbu. Bukan bercumbu mungkin ya? Karena hanya satu pemuda yang terlihat sangat aktif, sedangkan yang satu hanya menerima dalam diam. Terlalu pasrah untuk dikatakan menyerahkan diri sepenuhnya—jika dia dan Sasuke tidak mengganggu.
Dan semuanya berlangsung dengan sangat cepat sampai Sasuke tidak menunggu beberapa detik untuk terus melangkah.
—dan sekarang, hanya tertinggal dia dan satu pasang pemuda raven dan pirang yang sedang berpelukkan dalam diam.
Siapa bilang dicintai banyak orang itu menyenangkan?
Mungkin menyenangkan apabila orang tersebut memperlakukanmu seperti seharusnya. Mungkin akan menyenangkan apabila orang itu membuatmu senang. Mungkin akan menyenangkan apabila orang tersebut membuatmu nyaman.
Bukannya seperti orang terobsesi, mengekang, memperlakukanmu bagaikan barang antik yang tidak boleh dipegang seorang pun selain dirinya.
Jadi? Siapa yang bilang dicintai banyak orang itu menyenangkan?
.
.
.
Semua itu berjalan seperti dalam jalurnya. Selagi semuanya terpaku pada satu tujuan, Shikamaru berjalan ke arah lain—bukan kembali ke kelas. Shikamaru hanya ingin tahu, kenapa Deidara dari dulu selalu mengintip semua kejadiannya dari balik pohon? Sama seperti dulu, Shikamaru dapat melihat Deidara melihat dari balik pohon yang sedang memperhatikan Sasori yang sedang mendengarkan curhatan Naruto.
Ya, mungkin dia akan menanyakan semua itu sekarang.
Saat semuanya terpaku pada tujuan yang sama.
Dia akan memulainya dengan tujuan yang sama, tetapi dengan jalan yang berbeda.
.
.
.
.
Tbc~
Gomen lama. Semoga chapter ini dapat mengobati rasa penasaran^^
Big thanks for: Uzumaki Prince Dobe-Nii, TheBrownEyes '129, kkhukhukhukhudattebayo, Nauchi Kirika-RE22, sheren, AkiraNaru-desu, Aichan hime, CcloveRuki, GerhardGeMi, xxx, akbar123, mae and jae-chan, UraHima Hikaru, MermutCS, RaFa Llight S. N, Amach cie cerry blossom, UzumakiKagari, Indahyeojasparkyuelfsaranghae Kim Hyun Joong, Qnantazefanya, ichinose kyou, temedobe9, Yun Ran Livianda, rylietha. Kashiva.
Maaf belum bisa bales review, masih curi-curi waktu sebelum ujian senin besok soalnya. Sekalian publish pas lagi nyari kisi-kisi agama buat ujian besok XDD
Mind to review?
