Disclaimer: Always Kubo Tite's, not mine! *Uki hanya memiliki fanfic gaje ini*
Warning: Romance (g berasa), Drama (g mutu), Humor (garing), Salah2 ketik, OOC (bertebaran), Gombalizm
Rated: Uki masih setia pasang T
Drama sejarah tentang konflik *Nobunaga Oda dan Mitsuhide Akechi sepanjang 32 episode yang dimana Ichigo ikut berpartisipasi, ditayangkan di NHK setiap Selasa jam setengah sembilan malam dengan durasi 49 menit jika tanpa iklan. Ichigo yang berperan sebagai salah satu pelayan Mitsuhide hanya tampil sebanyak 3 episode. Meski demikian, kakek menyukainya –menurut kakek, akting yang dibawakan Ichigo jauh lebih baik daripada aktor yang memainkan peran *Ranmaru Mori–
"Tuan, utusan Shogun menyampaikan perintah!"
"... Imamura! Bawa orang-orangmu ke selatan bukit!"
"Siap, Jenderal!"
"Tuan?"
"Kakek! Ada telepon!"
"Ya! Rukia buatkan teh!"
"Baik!"
PITTSS
"Jadi dengan kekuatan shoseiki, Armageddon bisa dikalahkan?"
"Tapi kalau menggunakannya, kau akan mati, Daisuke!"
"Jika tidak kulakukan, bumi akan hancur!"
"Jangan Daisuke! Biar aku dan Kyuubi saja yang menghadapinya!"
"Ryu!"
"Lukamu masih belum sembuh! Dengan tubuh seperti itu, Armageddon bukan tandinganmu!"
"Tapi-"
"Aku akan mengulur waktu untukmu."
"Kenapa kau mau lakukan itu! Kau ini lebih lemah dariku!"
"Karena kita ini teman, kan?"
"Ryu... Daisuke..."
"Hahahaha... kenapa kau menangis Nanami?"
PITTSS
"Jenderal Mitsuhide!"
"Semua! Lindungi jenderal!"
"Kok diganti, Ru-"
"Kenapa kau di sini, Byakuya? Bukannya besok kau ujian? Jangan nonton anime terus!"
"Yah... Kek, ini episode terakhir..."
"Belajar!"
Drama itu jadi drama yang ratingnya tertinggi sepanjang musim dingin. Oleh karena itu, biarpun Ichigo adalah pemain baru, semua hal tentang Ichigo mulai dicari. Banyak analis mengatakan bahwa seorang pemain baru tidak akan dikenal oleh masyarakat dari usia muda jika tidak tampil dalam sebuah kuis atau drama remaja. Nyatanya, Ichigo justru mulai terkenal secara nasional karena drama sejarah ini. Aktingnya banyak menuai kritik postif, Ichigo disebut-sebut sebagai calon bintang yang akan datang dan berbagai tawaran pekerjaan mengalir lancar.
Yah... Selain hal yang positif tentu saja ada hal yang negatif. Salah satunya adalah banyaknya papparazi yang mengincar foto Ichigo. Tentu saja mereka bukan mengincar foto wajah Ichigo saat ia bekerja, tapi wajah Ichigo yang 'lain'.
...
Try Me! : My and His Affair
Saat kejadian yang menghebohkan karena Ichigo –yang pertama kali bagiku– itu kami sudah kelas 3.
Di tahun terakhir kami sebagai siswa itu aku dan Ichigo tidak sekelas. Ichigo sekelas dengan Ishida-san, sedangkan aku sekelas dengan Mizuiro-san, Chizuru-san dan Chad. Waktu itu sulit untuk kami bayangkan kalau kurang genap dari setahun lagi kami benar-benar akan berpisah –bukan soal antara aku dan Ichigo lho!– Saat pembagian kelas saja, aku sedikit kaget karena tidak sekelas lagi dengan Ichigo.
Tentu saja di awal tahun itu Yadoumaru-senpai lulus dan dapat rekomendasi dari *Universitas Sophia –meski kemudian senpai menolaknya, namun senpai tetap melanjutkan studinya di Tokyo–
Pada saat kelulusan Yadoumaru-senpai, aku merasa kecurigaan yang sudah lama kupendam makin menjadi. Kami, para kouhai menunggu para senpai selesai upacara kelulusan. Biasanya Ichigo tidak pernah hadir di upacara kelulusan, saat kelulusan Matsuda-senpai yang notabene mantan kapten klub kyudo saja Ichigo tidak datang. Tapi dia datang saat upacara kelulusan Yadoumaru-senpai.
Ichigo khusus membawakan senpai sebuah buket mawar merah, yang membuat heboh para senpai dan kouhai yang hadir. Termasuk aku. Lalu mereka berdua menghilang. Lalu aku menemukan mereka. Tidak sengaja, tentu saja. Mereka bicara berdua di ruang klub sastra. Saat itulah aku baru sadar kalau Ichigo tidak pernah memanggil senpai dengan panggilan 'Yadoumaru-senpai' tapi 'Risa-san'. Mereka berdua terlibat pembicaraan serius. Dan baik itu Yadoumaru-senpai maupun Ichigo sama-sama merona merah.
Kuputuskan untuk menjauh dari sana. Aku benar-benar tidak ingin berlama-lama di sana. Tapi Ochi-sensei memintaku untuk memanggil Shihouin-sensei. Dan di koridor dekat ruang kesehatan, aku mendengar Yadoumaru-senpai sedang berbicara dengan sekelompok siswi.
"A-anu..."
"..."
"A-anu... Ma-maaf, tapi..."
"Ayo semangat, Miyuki-chan!"
"Mau bicara apa?"
"Se-sebenarnya se-senpai punya hubungan apa dengan Kurosaki-senpai?"
"Maksudmu?"
"Jangan kalah Miyuki!"
"Saya sering melihat senpai bicara berdua saja dengan Kurosaki-senpai... Lalu saya..."
"Langsung saja, jangan sungkan-sungkan. Kau menyukai Kurosaki-kun?"
"I-iya."
"Maaf saja ya, Tanaka-san. Aku memang punya hubungan khusus dengan Kurosaki-kun."
DEGG
Aku tidak bisa memikirkan apapun. Limbung.
Dan di pintu gerbang sekolah, Yadoumaru-senpai mencium pipi Ichigo.
...
Setelah itu, Ichigo makin sibuk, ditambah kami sekarang kami beda kelas, aku merasa kesepian. Selain pemotretan, drama dan iklan, Ichigo juga mulai mencoba layar perak. Dengan begitu, jadwalnya semakin padat. Bahkan menurut Ishida-san, Ichigo sering tidak hadir. Awalnya karena kupikir kami sudah sangat terbiasa untuk bertengkar dan bertaruh, makanya aku merasa kesepian.
Meski masih sering saling berbalas e-mail, aku merasa tidak puas.
Tahun itu terjadi dua peristiwa yang menggemparkan dalam kehidupanku. Yang pertama adalah terungkapnya kekasih Momo-chan. Sudah kusebutkan kan kalau Momo-chan punya kekasih rahasia? Tidak hanya aku dan Ran-chan yang gempar, tapi juga seisi sekolah.
Kekasih rahasia Momo-chan adalah Aizen-sensei.
Sungguh aku sama sekali tidak memiliki petunjuk mengenai hubungan mereka berdua! Salah satu siswa kelas 2 yang melihat mereka berdua kencan di taman hiburan dan memotretnya. Lalu foto itu langsung menyebar dan akhirnya sampai di dewan guru dan orang tua siswa.
Hujatan dan cacian ditujukan kepada Momo-chan dan Aizen-sensei. Bahkan Momo-chan menerima hal yang lebih buruk dari itu. Renjilah yang melindungi Momo-chan saat sebotol air mineral yang masih penuh dijatuhkan ke arah Momo-chan dari lantai dua. Memang Aizen-sensei terlihat licik, tapi beliau adalah pengajar dan guru pembimbing yang baik bagiku. Aku dan semua anggota klub basket putera tidak terima dengan hal itu. Kami hampir tawuran dengan anak-anak klub judo. Klub kyudo memilih diam dan bersikap netral, sementara komite berkebun melindungi Momo-chan. Karena beban mental yang berat, Momo-chan jatuh sakit.
Tepat sebelum rapat antara pihak sekolah dan orang tua siswa digelar, Aizen-sensei mengundurkan diri dan pindah mengajar di prefektur yang jauh dari Saitama. Setelah itu, Shihouin-sensei yang menjabat sebagai guru pembimbing klub basket.
...
Kepergian Aizen-sensei membuat Momo-chan terpuruk. Dan dengan gayanya yang cuek, Ichigo mencoba menghibur Momo-chan. Itulah awal dari peristiwa menggemparkan yang kedua.
Ichigo memberi dua lembar tiket pertunjukan teater untuk Momo-chan dan aku. Bukan hanya kami berdua saja sih yang diberi, Chad, Ran-chan dan Tsukishima-san juga. Dan yah..., Yadoumaru-senpai juga. Pertunjukan drama yang diangkat dari kisah kabuki yang terkenal *Agemaki no Miura-ya. Ichigo mendapat peran di drama ini.
Lalu terjadilah hal yang memicu kegemparan.
Aku menemui Ichigo di belakang panggung, tepatnya ruang rias pemain. Sepertinya kebiasaan menerobos masukku sudah menjadi hobi ya? Dan di sana hanya ada Ichigo dan beberapa staf kostum.
"Kubawakan mawar nih! Maaf ya, bukan *mawar ungu."
"Wahahaha... Kau terlalu pendek untuk jadi 'Si Mawar Ungu'! Lagipula, buket bunga seharusnya diberikan sebelum atau sesudah pertunjukan!"
"Kau ini, padahal sudah kubawakan buket mawar tapi malah meledek lalu protes. Tidak jadi saja, ah!"
"Jangan dong!"
"Tegang ya?"
"Ya. Kelihatan ya?"
"Di atas tadi tidak terlihat kok."
"Benar?"
"He-eh."
"..."
"..."
"Uhh." Salah satu staf memindahkan tangga dan debunya masuk ke mataku.
"Kenapa?"
"Tidak apa-apa, cuma kemasukan debu saja."
"Jangan dikucek! Sini."
"Uhh."
"Buka matamu yang lebar."
"Tidak bisa."
"Sebentar saja. Tahan..."
FUHH
Kami berdua tidak menyadari bahwa ada yang memperhatikan kami. Dua hari kemudian foto kami berdua saat itu –yang sekilas seperti berciuman, lengan salah satu staf menutupi area bibir kami– terpampang di majalah.
Aku dan Ichigo jadi dikejar-kejar untuk dimintai penjelasan. Entah itu reporter, wartawan lokal, maupun bibi tetangga sebelah. Itulah pertama kalinya aku merasa kasihan pada selebritas. Mereka kehilangan ruang privasinya. Dan aku kembali mengalami teror yang dilancarkan para penggemar Ichigo. Aku sih berharap kehebohan itu cepat berlalu dan terus mendoakan supaya artis-artis lain membuat sensasi yang lebih heboh. Tapi nihil.
Waktu itu aku, yang memang tugas piket, datang pagi-pagi sekali. Saat melintasi koridor, aku di dorong masuk ke salah satu stall toilet wanita dan dikunci di sana –pintunya diganjal dengan sapu– Tidak berhenti di situ, mereka juga menyiramku. Aku mendengar suara tawa puas mereka, tapi aku diam saja. 'Jangan pernah menunjukkan bahwa kau dalam keadaan terpojok', ajaran kakek benar-benar kuterapkan. Jika aku marah apalagi menangis, mereka akan tambah antusias bukan?
Ketika suara langkah kaki mereka mulai menjauh, aku berusaha membuka pintu tapi tidak bisa. Saat akan kudobrak paksa, suara Ichigo terdengar dari balik pintu stall toilet.
"Jangan ditendang."
KREEEKK
"Wah, kau seperti tikus kecebur got, ya Rukia?"
"ICHIGO? NGAPAIN KAMU DI TOLET CEWEK?"
"Toilet cowok sedang dibersihkan! Hei! Jangan lihat aku seolah-olah aku ini maniak dong!"
"Habisnya, mencurigakan."
"Kau mau kemana?"
"Ya, ke kelas dong."
"Dengan baju basah begitu? Ikut aku!"
Ichigo menyeretku ke kyudojo dan menyuruhku untuk pakai keikogi, sementara seragamku di keringkan. Ichigo sendiri juga mengganti pakaiannya dan mulai latihan pagi.
"Sudah lama, ya? Tidak melihatmu latihan seperti ini."
"Iya juga ya?"
"Aku boleh coba tidak?"
"Boleh. Coba saja untuk memanah *makiwara yang di sana."
"Ughh..., keras sekali."
"Jelas saja. Yuminya tidak sesuai untukmu. Eh Rukia?"
"Hmm?"
"Tenang saja soal wartawan-wartawan itu. Manajerku sudah mengatur rencana."
...
Setelah pakaian seragamku kering, aku kembali memakai seragamku dan kembali ke kelas. Sedangkan Ichigo masih membereskan peralatan di kyudojo. Saat melintas di depan kelas 3-4, Inoue-san memanggilku.
"Ku-Kuchiki-san."
"Ya?"
"Sebenarnya soal foto itu... Apa benar? Apa kau pacarnya Kurosaki-kun?"
"..." Saat itu aku benar-benar tidak tahu untuk menjawab apa. Kulihat wajah Inoue-san sangat serius.
'Masa sih?' pikirku. '... Apa perlu kujawab kami hanya bertaruh?'
"Kuchiki-san?"
"Kami hanya te-"
"Kami berdua memang pasangan kekasih. Ada yang salah?" Ichigo muncul di belakangku.
"Ichigo!"
"Ponselmu tertinggal nih," katanya sambil menyodorkan ponselku.
"Be-begitu ya? Ti-tidak ada yang salah kok... A-aku permisi." Sosok Inoue-san bergegas menuju gedung barat. Sepertinya ia menuju dojo klub karate. Aku mendorong Ichigo menuju tangga.
"Ichigo! Kenapa kau bilang begitu? Kita ini-"
"Pacaran."
"Maksudnya apa?"
"Selama kita tidak bertaruh untuk putus atau merasa bosan, status kita 'pacaran' kan?"
Bersambung...
Yuuhuu...! gimana dengan chap 11 ini? Oh ya mo promo nih! Uki kmrn publish fic "Kamu Kan Punya Papa! ?" di pair Zaraki-Yachiru rate M! #mungkin udah ada yg tau ya? Rate M gara2 ada Ichiruki tamarin n kata2 ga sopan n sekarang udah update! Komen, kritik, flame? Boleh! RnR!
Glossary:
~Oda Nobunaga: jenderal paling berpengaruh n memerintah pada masa Momochi-Azuyama
~Ranmaru Mori: pelayan setia Nobunaga
~Sophia University: salah satu universitas swasta bergengsi di Jepang
~Agemaki no Miura-ya: salah satu lakon kabuki terkenal selain Koyuki Benten n Sannin Kichisa
~mawar ungu: bunga yang biasa dikirimkan Masumi Hayami buat Maya Kitajima di Garasu no Kamen
~makiwara: sasaran tembak untuk pemula
