IRENE DAN CONAN
(PART 11)
CHAPTER 11 !
ENJOY !
Keesokan harinya, proyek penelitian untuk menemukan penawar APTX 4869 yang awalnya dilakukan oleh Haibara seorang diri, kini ia dibantu oleh Irene, sepupu Shinichi Kudo karena ia tidak ingin melihat sepupunya dan Haibara terjebak selamanya dalam keadaan tubuhnya yang mengecil. Irene bertekad membantu penelitian ini sebaik mungkin agar penelitian untuk menemukan penawar permanen cepat selesai. Selama liburan musim panas ini, Irene rela tidak bertemu pacarnya . bahkan ia terpaksa berbohong kepada Hakuba untuk membantu penelitian dosen farmasi keluar kota selama beberapa waktu. Akan tetapi, Hakuba dapat memaklumi alasannya tersebut. Selain itu, rutinitas Irene menjenguk dan menjaga sahabatnya yang sedang sakit, Sakura yang biasanya selesai pada sore hari, kini saat liburan musim panas waktunya ia pangkas dan hanya bisa menjenguknya hingga siang hari. Sakura dapat memakluminya semuanya ini. Hal ini bertujuan agar tak ada seoarngpun yang tahu rahasia obat yang telah mengecilkan keduanya tersebut. Begitupun juga dengan Ran, Sonoko dan grup detektif cilik, mereka dapat memaklumi apa yang dikatakan Irene walaupun harus berbohong kepadanya.
Setelah memastikan semuanya baik-baik saja, Irene akhirnya bisa leluasa untuk membantu penelitian Haibara. Selama penelitian tersebut berjalan, Irene tidak tinggal di apartemennya untuk sementara waktu. Ia tinggal sementara di rumah profesor Agasa. Tak hanya itu, selama liburan musim panas ini, Shinichi yang masih berwujud Conan, setiap hari berkunjung ke rumah profesor untuk memantau perkembangan harian dari penelitian yang dilakukan oleh Haibara dan Irene untuk memastikan saja apakah penelitiannya berjalan dengan lancar.
"Rrrr..rrrr..rrr..rrr", Handphone Irene berdering
"Irene, sepertinya ada SMS dari Handphone kamu yang masuk", ucap Haibara
"Terima kasih Haibara telah memberitahuku"
Ketika Irene membuka handphonenya, isi SMS tersebut benar-benar membuatnya sangat terkejut. Suatu hal yang benar-benar di luar dugaannya, yang tak mudah ia terima sepenuhnya. Seketika tatapan Irene menjadi kosong dan handphonenya terjatuh dari tangan yang ia pegang.
"Ada apa Irene?"
"Te..temanku..."
"Memangnya ada apa dengan temanmu ?"
"Sahabatku. dia...dia"
"Apa yang terjadi dengan dia?"
"Dia meninggal.."
"Apa katamu ?"
"Benar, yang mengirim SMS ini adalah ibunya Sakura. Ibunya mengatakan bahwa Sakura meninggal setelah mengalami kritis pada sore ini di rumah sakit Beika, tempat ia dirawat sejak pertengahan semester 6 kemarin."
"Aku turut berduka atas kepergian sahabatmu, Irene"
Irene langsung memeluk Haibara. Namun ia tidak bisa mengucapkan satu katapun. Yang ada hanyalah air mata berlinang membasahi pipinya dan suara tangisan dari Irene. Ia tidak menyangka bahwa ketika hampir menyelesaikan penelitian penawarnya tersebut, Sahabatnya telah tiada. Ia sangat terpukul sekali mendengarnya seolah ia tidak percaya terhadap isi SMS yang dikirim oleh ibunya Sakura.
Keesokan hari setelah pemakaman Sakura Hakuba datang untuk menemani Irene dalam upacara pemakaman Sakura. Hakuba mengetahui hal itu setelah Irene mengirim SMS pada malam hari kemarin. Walaupun ia harus berbohong lagi untuk izin pulang penelitian bersama dosen selama beberapa hari, namun Hakuba tetap tidak mengetahui hal yang sebenarnya.
"Sudahlah Irene, Sakura sudah tenang di alam sana. Biarkan dia tenang di surga sana"
"Aku tidak bisa..Aku tidak bisa melepaskan kepergian dia begitu saja. Dia adalah sahabatku. Dia adalah teman terbaikku yang kukenal selama aku kuliah"
"Sabar ya Irene. Aku yakin kau pasti kuat dalam menghadapi ini semua. Janganlah itu menjadi alasan bahwa kau mempunyai masa depan yang suram setelah kepergiannya"
"Terima kasih Hakuba. Kau selalu ada di sampingku dalam keadaan sulit maupun mudah. Aisiteru Hakuba"
Beberapa hari setelah meninggalnya Sakura, Irene kembali lagi ke rumah profesor Agasa untuk melanjutkan penelitiannya. Namun, setelah kepergiannya, kini semangat Irene untuk menyelesaikan penelitiannya cenderung menurun. Walaupun telah dihibur oleh Hakuba, kekasihnya serta orang-orang terdekat yang dikenalnya, namun itu semua belum bisa menghapus semua kesedihan yang Irene alami saat ini. Terkadang saat penelitian, ia melamun bahkan enggan melakukan yang diperintahkan oleh Haibara. Walaupun demikian, dengan kesabaran yang dimiliki, Haibara berusaha membangkitkan semangat Irene agar penelitiannya cepat selesai dan berhasil.
"Irene..Irene..Irene..", sahut Haibara
"Eh..Haibara, ada apa?", ucap Irene dengan terkejut
"Kau melamun lagi ?", tanya Haibara
"Mmm..Maad Haibara, jika aku melamun lagi", ucap Irene dengan terbata-bata.
"Sudah berapa kali kau melamun terus akhir-akhir ini?",tanya Haibara dengan agak sinis
"Maafkan aku Haibara, jika akhir-akhir ini aku melamun terus. Mulai sekarang aku janji tidak akan mengulangi itu lagi", ucap Irene dengan agak lesu
"Bagus. Kalau begitu, sekarang pindahkan sampel tabung ini ke dalam tabung tersebut", perintah Haibara kepada Irene
"Baik Haibara"
Dengan sedikit keterpaksaan, Irene memindahkan sampel tersebut ke tabung yang akan dipindahkannya. Walaupun mood dia sedang terganggu, namun ia masih mau melakukan yang diperintahkan Haibara seperti keinginan dirinya agar penelitiannya berhasil.
Flashback
"Aduh, tabung yang berisi sampel yang kubuat ada dimana ya?, padahal aku ingat sampel ini kutaruh di dalam kotak lemari ini", ucap Irene dengan kebingungan
"Sampel yang mana Irene ?, sampel yang praktikum kemarin lusa?", tanya Sakura
"Iya, Sakura. Padahal aku sudah susah payah membuat sampel itu. Kalau sampel itu hilang, aku terpaksa mengulang lagi dari awal dan praktikumku sesi ini bisa-bisa gagal"
"Aku juga tidak melihatnya Irene, mungkin sampelmu mirip dengan teman-teman yang lain, jadinya bisa saja terbawa"
"Sebentar ya, kutanyakan pada teman-temanku dulu"
Irene menginterogasi satu per satu uteman-temannya untuk menyelidiki hilangnya sampel miliknya tersebut. Namun ia tidak menemukannya.
"Bagaimana, sampelnya ketemu, Irene ?"
"Tidak Sakura. Wah, siap-siap saja aku mengulang dari awal lagi", ucap Irene dengan lesu
"Sebenarnya sampel itu.."
"Kenapa Sakura?, apakah kau menemukan sampel itu?"
"Surprise..!, sampelmu ada disini, kusembunyikan di balik bajuku", Sakura memberi kejutan kepada Irene
"Dasar kau !, lain kali kubalas kau", Irene marah bercanda kepada Sakura
"Hahahaha, maaf ya Irene atas kejahilanku"
Akhirnya keduanya terbawa terbahak-bahak atas kejahilan yang dilakukan oleh Sakura.
End of Flashback
"Sakura, kenapa aku jadi teringat kau lagi ?, aku benar-benar rindu kau. Kau adalah sahabat terbaikku", ucap Irene dalam hati sambil memindahkan sampelnya ke dalam tabung lainnya.
"Bagaimana ?, kau sudah memindahkannya?"
"Su..sudah Sakura", ucap Irene sambil menyerahkan sampel yang telah dipindahkannya.
"Aku bukan Sakura, Irene, aku adalah Haibara"
"Maaf. Maksudku Haibara"
"Bagus Irene. Sekarang kau boleh Istirahat dulu. Barangkali kau lelah Irene. Biarkan sampel itu kuurus sendiri"
"Terima kasih Haibara"
Irene beristirahat sebentar di ruang tamu rumah profesor Agasa setelah beberapa lama membantu Haibara di laboratorium. Masalah yang masih mengganjal di pikiran mengenai kepergian Sakura belum berakhir juga. Terkadang ketika ia membantu Haibara, ia salah sering salah menyebut Haibara dengan menyebut Sakura, seolah-olah Sakura masih berada di sampingnya.
Tak lama setelah ia beristirahat beberapa lama, ia melihat kumparan putih yang beterbangan di halaman rumah profesor. Karena rasa penasarannya itu, Irene mencoba untuk keluar menuju halaman rumah profesor untuk melihat apa yang terjadi. Ketika berada di halaman untuk melihat kumparan putih yang beterbangan itu, salah satu kumparan putih itu menyangkut di saku baju Irene.
"Ini..ini adalah bunga dandelion. Mustahil !, ternyata angin yang meniupkan semua buga dandelion ini. Benar-benar tidak ada bosannya melihat bunga ini tertiup oleh angin"
Flashback
Ingatan Irene akan masa SD-nya ketika berada di padang rumput bunga dandelion.
"Kau tahu tidak Ran ?, bahwa bunga dandelion itu adalah bunga yang tampak kuat walaupun rapuh secara fisik. Tapi ia dapat terbang jauh dan tinggi yang dapat diterbangkan oleh angin. Ia bisa mendarat dimana saja. Dimana ia mendarat, ia dapat berkembang biak lagi", ungkap Irene kepada Ran
"Wah !, bunga dandelion benar-benar indah sekali ya kak Irene. Aku benar-benar suka sama bunga Dandelion", ucap Ran dengan perasaan Kagum
"Tak hanya itu saja. Bunga dandelion yang terbang tinggi dan jauh menandakan bahwa kita harus memiliki cita-cita yang tinggi dan harus menggapai cita-cita tersebut setinggi-tingginya. Walaupun ia harus terpisah dari satu kesatuannya, tetapi ia memiliki visi dan misi yang jauh. Ia tidak peduli seberapa jauh harus terbang dan bersama-sama atau terpencar karena ia memiliki pandangan yang jauh akan tujuannya"
"Aku ingin sekali seperti bunga dandelion yang memiliki sikap sepeti yang kak Irene"
"Benar, kita harus memiliki sikap seperti layaknya bunga dandelion jika kita ingin berhasil"
End of Flashback
"Aku tahu..aku tahu apa yang harus kulakukan sekarang. Aku tidak boleh terus menerus berpangku pada kesedihanku karena kehilangan seseorang yang kucintai. Aku tidak boleh cengeng, aku harus tegar, aku harus berani, aku harus mempunyai pandangan yang jauh dan luas seperti bunga dandelion. Bunga dandelion saja yang harus kehilangan anggotanya karena tertiup angin bisa membuat kehidupan baru. Mengapa aku tidak bisa membuat sesuatu yang bermafaat pada orang lai walaupun Sakura sudah tidak berada di sampingku lagi", ucap Irene dalam hati
"Akhirnya aku mendapat petunjuk dari semua ini, aku harus menyelesaikan apa yang kuhadapi sekarang untuk membawa manfaat bagi orang lain", lanjutnya
TO BE CONTINUED (PART 12)
MOHO REVIEW DARI PEMBACA SEMUA..THANKS
