Title : Master Mean – chapter 11 (Sakura)
Cast : Uchiha Sasuke, Haruno Sakura, Sabaku Gaara, Uzumaki Naruto, Hyuuga Hinata, Tsunade, Tenten, Choji, Ino
Genre : romance, friendship, hurt/comfort
Rate : T
Disclaimer, this is work of fiction, the characters are not mine, they belong to the rightfully author Masashi Kishimoto.
-Sakura-
Mulutku menganga lebar, tidak percaya dengan apa yang kulihat dihadapanku. Sudah banyak orang-orang dan kamera yang berjejer di depan restoran Sasuke. Sepertinya mereka akan meliput pembukaan restoran chef terkenal ini, chef terkenal milikku.. errmm.. mungkin aku belum pantas menyebutnya milikku, tapi aku berpikir kejadian kemarin dan tadi sudah menggambarkan semuanya.
Aku tersadar dari lamunanku karena tepukan di bahuku, saat aku menoleh terlihat Naruto yang nyengir lebar kearahku kemudian mendorong bahuku sehingga aku berdiri tepat di sebelah Sasuke. Dengan ragu aku melihat Sasuke, dia hanya menatapku balik dengan tatapan datar seperti biasa namun dia melipat tangannya dan dengan malu-malu aku menggapai tangannya dan menggandengnya. Aku menatap restoran baru Sasuke dengan kagum, masih belum percaya bahwa orang di sebelahku ini adalah termasuk orang yang berpengaruh di dunia kuliner.
"Welcome, selamat datang di restoran baru kami. Restoran ini adalah hasil kerjasama antara chef kebanggaan kalian, Uzumaki Naruto, dan saya sendiri Uchiha Sasuke. Silakan menikmati makanan dan layanan yang ada di restoran kami. Jika ada pertanyaan bisa kalian ajukan saat ini," kata Sasuke dengan suara tenang dan wajah datar seperti biasa, aku hanya bisa menatapnya kagum melihat dia tidak terlihat nervous sama sekali berbicara di depan orang banyak seperti ini.
Tiba-tiba puluhan orang mengacungkan tangannya ingin memberikan pertanyaan, kebanyakan dari mereka adalah wartawan yang ingin meliput berita, aku hanya terduduk diam seperti patung di sebelah Naruto, tidak menyangka aku akan duduk dengan mereka berdua di hadapan orang-orang ini.
"Sasuke-san, dari mana kau mendapatkan inspirasi nama restoranmu?"
"Sasuke-san, siapa wanita cantik yang duduk diantara kau dan Naruto-san?"
Dan banyak pertanyaan lainnya, kepalaku semakin tertunduk karena malu dengan semua perhatian yang ku dapat dari media. Aku tidak menyangka kehadiranku disini akan sangat menarik perhatian. Huft, who am I kidding? Dua orang disebelahku adalah chef paling terkenal di seluruh negri, tentu saja akan menarik perhatian membawa wanita ditengah 2 orang lelaki most wanted dan single dari seluruh negri.
"Oh, akhirnya kalian menanyakan pertanyaan yang sangat ingin sekali aku jawab, tapi sepertinya aku bukan orang yang tepat untuk menjawabnya. Sasuke-kun, kau bersedia menjawabnya kan?" kata Naruto menggoda sambil mengedipkan sebelah mata.
Sasuke berdehem sejenak kemudian sekilas mengarahkan pandangannya ke arahku. Dia menatapku dengan tatapannya yang biasa, namun aku bisa melihat dari sorotan matanya bahwa dia ingin mengatakan sesuatu yang drastic setelah ini.
"Minna-san, perkenalkan wanita ini adalah orang yang menginspirasiku untuk member nama restoranku dengan nama yang sekarang. Dia juga adalah koki yang akan menjadi asistenku di restoran ini. Perkenalkan namanya Haruno Sakura." Aku terbelalak mendengar pernyataan Sasuke. Apa aku tidak salah dengar? Apa benar Sasuke mengatakan hal itu? Aku tidak mimpi kan? AKu pikir dia akan mengatakan hal lain, tapi ini… tidak pernah terlintas dalam pikiranku sedikitpun.
Tiba-tiba semua kamera dan lampu blitz mengarah ke arahku, aku hanya berkedip menatap Sasuke kemudian dengan perlahan mengarahkan kepalaku ke depan kamera. AKu mencoba tersenyum kemudian mengeluarkan senyuman professionalku dan berusaha untuk tidak merasa canggung. Aku mengatakan terimakasih dan segala basa-basi yang bisa kupikirkan, kemudian menghela nafas panjang dan meninggalkan panggung saat acara break.
"Kau tidak apa kan, Sakura-chan? Kukira kau akan pingsan di acara konferensi pers tadi." Kata Naruto dengan nada mengejek. Aku meliriknya tajam kemudian menginjak ujung sepatunya, dia mengaduh kesakitan sambil memegang jempolnya yang sepertinya bakalan sakit beberapa saat.
"Ugh, kalian berdua sama saja, sama-sama suka menggunakan kekerasan. Pantas saja kalian berpacaran, kalian memang cocok, made in heaven." Katanya sambil melengos sebal kemudian berjalan ke arah seorang cewek cantik yang terlihat sangat kebingungan memilih menu disana.
"Sakura?" Sasuke membuatku mengalihkan tatapanku dari Naruto, kemudian menghadapnya. Sasuke mengisyaratkan padaku supaya mengikutinya, tapi kemudian aku melihat rambut bewarna merah itu, dan aku pasti akan mengenalinya dimana-mana. Sepertinya Sasuke juga melihatnya, terlihat dari ekspresinya yang tiba-tiba datar dan tubuhnya yang berubah menjadi berdiri kaku dan tegak. Aku melihat Gaara mengenali kami dan menghampiri tempat kami berdiri sambil melambaikan tangan.
"Hai, kupikir kau tidak datang, Sakura-san." Katanya menyapaku, dan Gaara sama sekali tidak menyapa Sasuke, seperti dia tidak terlihat saja. Aku melihat tangan Sasuke mengepal, seperti terlihat ingin meninju Gaara saat itu juga. Aku mengulurkan tanganku dan menggenggam tangan Sasuke erat, dia mengendorkan kepalannya dan menyambut gandengan tanganku.
"Ah, sepertinya aku mengganggu kalian." Katanya dengan wajah sedih, aku hanya tersenyum pada Gaara dan tidak ingin membuat keadaan semakin buruk.
"Err.. aku minta maaf atas perkataanku dirumah kemarin Gaara-san, aku tidak bermaksud mengatakannya seperti itu. Kau mau kan memaafkan ketidak-sopananku?" Gaara hanya tersenyum kecil kemudian melirik ke arah Sasuke, dia mengangguk dan mengusap puncak kepalaku pelan.
"Tidak apa, asalkan kau mau menerimaku sebagai teman Sakura-san. Bagaimana?" aku mengangguk antusias, itu merupakan hal yang adil. Gaara tersenyum senang kemudian pamit untuk melihat-lihat keadaan sekitar. Kemudian aku tersadar, bagaimana Gaara bisa disini? Apa dia di undang oleh Sasuke? Dia tidak mungkin melakukannya, karena aku tahu Sasuke sangat tidak suka dengannya. Mungkin Naruto? Tapia apa dia akan tetap mengundangnya tidak mengetahui hubungannya dengan Sasuke tidak begitu baik? Entahlah…tapi perasaanku mengatakan akan ada sesuatu yang buruk yang akan terjadi.
"Sakura, apa yang kau lakukan berdiri di situ seperti orang bingung? Ayo kesini, kita cicipi masakan Sasuke." Kata Naruto antusias, dia menarikku ke salah satu meja dan memanggil pelayan. "Aku tidak bisa melewatkan dimana aku bisa melihat Sasuke memasak dan aku memakannya tanpa dia mencoba meracuniku. Hmm.. aku ingin makan ayam hari ini, jadi…" aku tidak mendengar sisa ocehan Naruto karena pikiranku focus ke arah pantry yang ternyata terlihat dari arah meja tamu, ternyata Sasuke membuat restorannya seperti mini bar, jadi kita bisa melihat koki memasak apa yang kita pesan dari meja tamu.
Aku melihat Sasuke sedang sibuk di dapur dengan beberapa asistennya, dia meneriakkan perintah sambil memasak sesuatu. Aku yang tidak tega melihatya sibuk seperti itu segera berdiri dan ingn menghampirinya, tapi sebelum aku beranjak tanganku digenggam oleh Naruto. Dia mengatakan bahwa Sasuke ingin melayani pelanggannya sendiri kali ini dan ingin kau menikmati makanan yang dia sajikan sendiri. Aku hanya menghela nafas dan kembali duduk di kursiku sambil melihat Sasuke berdiri disana, memasak dengan gagah dan elegan. Entah kenapa aku tidak bisa memalingkan pandanganku darinya, rasanya aku seperti terhipnotis olehnya.
"..Kura.. Sakura-chan…. Halooooo?" aku memfokuskan pandanganku ke sekitar dan menemukan Naruto melihatku dengan pandangan cemberut, sepertinya aku melamun lagi.
"Ada apa Naruto? Kau menggoda cewek lagi dan gagal ya?" kataku pura-pura cool dan bersikap tidak peduli, tapi Naruto yang seperti sudah hafal dengan sifatku hanya memandangku skeptis sambil mengangkat sebelah alisnya seperti meminta penjelasan.
"Sudahlah, aku tetap akan membantu Sasuke. Aku tidak bisa diam saja melihat para pelanggan kelaparan. Untuk apa kita punya banyak koki disini jika tidak bisa memuaskan keinginan pelanggan?" kataku sambil mengedipkan sebelah mata dan berjala menuju pantry. Sasuke yang melihatku berjalan ke arahnya hanya memandangku sekilas kemudian kembali sibuk dengan masakannya. Saat aku tepat beridiri di belakangnya agak lama, dia mendesah pelan dan menggeser tubuhnya sedikit hingga aku bisa berdiri di sebelahnya.
"Jadi, apa yang ingin kau lakukan kali ini Sakura? Kau ini sangat keras kepala." Kata Sasuke tiba-tiba, seperti dia bisa menebak apa yang kupikirkan. Aku bersandar pada pantry dan memandangnya dari samping, mencoba mengerti apa yang dia pikirkan.
"Aku hanya ingin melihatmu dari dekat. Hm.. lagipula aku tidak tega membiarkan para pelanggan menunggu lama padahal ada lebih banyak orang yang bisa memasak, iya kan?" aku segera mengambil wajan anti lengket dan segera membuat pasta seperti yang diminta, aku memasak beriringan dengan salah satu chef terkenal yang kini menjadi salah satu orang terdekatku, "hmm.. tidak buruk juga" gumamku sambil tersenyum.
"Kau yakin tidak apa-apa memasak seperti ini di dapur denganku? Bukannya kau dulu membenciku?" Tanya Sasuke dengan alis terangkat, seperti menantang, aku hanya mengendikkan bahu dan melanjutkan memasak.
Entah sudah berapa lama, dan berapa masakan yang telah ku buat, tetapi waktu terasa begitu cepat. AKu mengelap peluh yang menetes dari dahiku, dan mendapati Sasuke melapnya dengan tissue yang dia bawa. Aku terkikik geli kemudian tersenyum padanya, mengambil satu lagi panci dan mulai memasak kari kesukaanku. Setelah selesai aku mengambil beberapa untukku dan Sasuke kemudian memberikan sisanya pada staff dapur yang sepertinya kelelahan karena memasak non-stop sedari tadi.
"Maaf jika ini tidak enak, kuharap kari ini bisa mengembalikan stamina kalian. Selamat makan." Mereka mengucapkan terimakasih dan mulai makan dengan lahap. Aku membawa 2 piring kari bagianku dan meletakkannya di meja pantry, menyeret stool dan duduk berdampingan dengan Sasuke.
"Jadi bagaimana hari ini? Apa kau puas melihat muka bahagia pelanggan yang menikmati makananmu tanpa menunggu? Tapi maaf, mungkin aku mengacaukan rasanya." Kataku sambil meringis, aku tahu bahwa kemampuanku tidak sehebat dirinya. Heck, bahkan kemampuanku tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan asistennya di dapur tadi.
"Kau sudah membuktikan kemampuanmu, Sakura. Buktinya tadi rasa percaya dirimu sangat tinggi dan masakanmu juga enak, aku tidak menyesal kau membantuku di pantry tadi. Memangnya apa lagi yang bisa aku keluhkan setelah melihatmu berusaha keras memuaskan pelangganku padahal kau bisa saja duduk dengan Naruto disana."
Aku tersenyum mendengar perkataannya, ternyata Sasuke yang kukenal pertama kali sangat berbeda dengan sekarang. Aku sangat suka perubahan yang dia tunjukkan, memang sikap cuek dan cool nya masih sering muncul, tapi paling tidak sekarang dia tidak menjadi orang yang sok dan menjengkelkan seperti dulu.
"Thanks, sepertinya aku berutang banyak padamu. Aku tidak tahu harus berbuat apa untuk membalas semua kebaikanmu padaku." Sasuke diam sejenak kemudian muncul seringaian nakal di wajahnya, aku hanya berkedip melihatnya dengan ekspresi seperti itu, ini adalah kejadian langka.
"Bagaimana kalau dimulai dengan menjadi my girlfriend?" katanya tiba-tiba sehingga membuatku hampir tersedak kari yang sudah berada di kerongkongan. Aku segera mengambil minum dan meneguknya banyak-banyak, aku tidak salah dengar kan?
"Kau bercanda kan? Bukannya kau sudah menanyakannya kemarin?" dia mengangguk-angguk tapi kemudian menampilkan ekspresi kesal.
"Tapi tetap saja kau belum menjawab pertanyaanku, malahan kau dan aku salah paham dengan jawaban masing-masing. Jadi sekarang jawab aku dengan jelas, would you be mine?"
Aku mengangguk kecil kemudian tersenyum ke arahnya, kemudian menggenggam tangannya dan mengelusnya perlahan. "Pasti berat untuk orang dengan harga diri tingga dan keras kepala sepertinya untuk menyatakan perasaannya seperti ini, dia pasti berpikir bahwa dia sudah seperti wanita." Aku terkikik geli memikirkan hal itu, Sasuke menatapku sejenak kemudian menggelengkan kepala karena tidak mengerti dengan reaksiku.
"Oh, tapi jangan harap kau bisa lepas dari kemarahanku. Kenapa kau tidak bilang tentang acara ini, restoranmu dan aku yang akan bekerja disini?" aku melipat kedua tanganku di depan dada kemudian menatapnya tajam. Dia hanya duduk dengan gelisah, seperti salah tingkah dan merasa bersalah.
"So… apa pembelaanmu, Sasuke-san?" tiba-tiba Sasuke berdiri dari tempat duduknya dan menarik tanganku, dia menyeretku ke arah mobilnya kemudian membawaku menuju ke arah pegunungan, aku tidak tau dia akan membawaku kemana, tapi sepertinya ini arah ke bandung?
"Kita mau kemana? Sasuke!" teriakku kesal, dia tidak menjawabku yang sudah berteriak-teriak dari tadi disampingnya. Aku menghela nafas panjang kemudian menatap ke arah jendela, pemandangan diluar sungguh menakjubkan dengan hamparan pepohonan dan villa yang berdiri kokoh, menimbulkan efek menenangkan. Sasuke menghentikan mobilnya di sebuah yang sangat besar, kemudian pintu pagarnya yang tinggi dan kokoh terbuka menampikan rumah dengan gaya jepang yang menyatu dengan alam, tidak sesuai jika harus dikaitkan dengan pintu pagar besar yang bergaya barat.
"Kita dimana? Kau tidak menculikku kemudian membunuhku dan membuang mayatku di hutan kan, Sasuke?" kataku cepat kemudian menutup mulutku, kenapa aku jadi terdengar seperti Naruto yang suka berkata hal tidak masuk akal? Sasuke terkikik kecil kemudian membukakan pintu mobilku, aku keluar dan melihat sekeliling dengan seksama, rumah ini sangat bagus dan udaranya sejuk. Tiba-tiba aku merasa kedinginan karena blouse tipisku tidak bisa menahan udara dingin disini, Sasuke memelukku kemudian mengelus-elus lenganku untuk menghangatkanku.
"Maaf karena aku membawamu kesini dengan tiba-tiba. Apa dinginnya sudah berkurang?" katanya yang masih menggosok lenganku, aku mengangguk kemudian dia menuntunku menuju ke arah rumah,
"Ayo masuk, aku tidak mau kau kedinginan disini. Oh dan maaf baru mengatakannya, ini rumah orangtuaku." Aku berhenti secara tiba-tiba dan terbelalak sambil memandang Sasuke, dia bercanda kan? Aku akan menemui orangtuanya dalam keadaan seperti ini? Berantakan setelah memasak dan tanpa membawa hadiah apapun?
"Sasuke, stop! Aku tidak bisa melakukannya! Kau tidak lihat penampilanku saat ini seperti apa? Apa lagi aku tidak membawa apa-apa untuk diberikan pada ibumu!" kataku setengah berteriak karena kesal, aku tidak mau menemui orangtuanya dengan keadaan seperti ini.
"Tapi Sakura, kita sudah sampai disini. Sebentar lagi okaasan pasti akan keluar menyambut kedatangan kita karena mendengar suara mesin mobilku." Katanya kaku dengan wajah berkerut, mungkin dia tidak berkewajiban seperti itu karena mereka adalah orantuanya, tapi bagaimana dengan kesan pertamaku bertemu dengan mereka? Oh my god! Ini lebih parah dari yang kupikirkan.
"Sasukeee.. kenapa kau baru pulang sekarang? Kau kan tau kalau a- oh, kau membawa seseorang rupanya?" kata seorang wanita berparas cantik dengan rambut hitam dan panjang, umurnya terlihat seperti 30 tahun, masih terlihat sangat muda. Dia menghentikan kata-katanya setelah melihatku, dan aku hanya berdiri canggung di sebelah Sasuke, tidak tahu harus mengatakan apa.
"Okaasan, maaf aku tidak pulang lebih cepat karena masih sibuk. Oh perkenalkan ini rekanku di restoranku yang baru, namanya Haruno Sakura." Sasuke beranjak dan mengenalku pada ibunya, aku hanya mengangguk canggung dan mengulurkan tanganku untuk menyalaminya. Tapi sambutan yang ku terima sungguh tidak terduga, ibu Sasuke menarik tanganku dan memelukku kemudian menatapku dengan mata berkaca-kaca.
"Oh sudah lama anak ini tidak membawa wanita kemari, kukira dia menjadi gay dengan Naruto. Ternyata seleranya bagus, kau sangat cantik Haruno-chan." Tiba-tiba ibu Sasuke berteriak gembira dan membawaku ke dalam rumahnya, beliau mengajakku berkeliling kemudian mengajakku berbincang di ruang tamu. Sasuke duduk di sebelahku setelah mengganti setelan jas nya dengan baju casual dan mendengar pembicaraanku dengan ibunya, sesekali tangannya menggenggam tanganku untuk menenangkanku yang sangat nervous karena tidak menyangka akan bertemu dengan ibunya.
"Jadi, kapan kalian menikah? Kau kan sudah berjanji pada Okaasan bahwa akan membawa wanita ke rumah ini jika memang berniat menikah dengannya?" aku menarik nafas panjang mendengar pernyataan ibu Sasuke, oh my god, jangan biarkan aku terkena serangan jantung sekarang.
"Kami akan menjalani dengan perlahan okaasan, tidak usah terburu-buru seperti itu. Lagipula aku tidak yakin Sakura sudah siap, karena kami masih baru saja menjalin hubungan resmi, okaasan!" kata Sasuke sedikit jengkel, dia sepertinya tidak suka mendengar perkataan ibunya yang secara tidak langsung seperti menuduh Sasuke hanya main-main dengan wanita.
"Bukan maksudku seperti itu, kau tau kan aku khawatir denganmu karena umurmu sudah merupakan usia siap menikah. Lagipula apa yang kata orang nanti melihatmu membawa seorang wanita kerumah tetapi tidak segera menikah?" Sasuke hanya mendesah nafas keras mendengar pernyataan ibunya. Aku mencoba menengahi perbedabatan mereka dengan mengalihkan perhatian.
"Maaf mengganggu pembicaraan anda, apa aku boleh meminjam dapur sebentar? Aku akan memasakkan makan malam jika anda tidak keberatan?" ibu Sasuke mengangguk dengan antusias kemudian menuntunku menuju dapur, aku berhenti ditengah jalan karena teringat kalau aku belum belanja. Uhh sial!
"Maaf, saya belum berbelanja. Apa anda bisa menunjukkan supermarket terdekat agar saya bisa membeli bahan-bahannya." Ibu Sasuke menggeleng kemudian membuka kulkas besar dihadapanku, disana ada berbagai bahan makanan yang sepertinya siap dimasak.
"Kau bisa menggunakan semua yang ada disana. Tapi apa tidak sebaiknya kau istirahat saja, Haruno-chan? Kau pasti capek setelah perjalanan jauh dan menghadapi sikap Sasuke yang seperti itu seharian." Aku menggeleng dan tersenyum kepada beliau, tidak bisa begitu saja membiarkan ibunya memasak sedangkan aku enak-enakan tidur.
"Biar saya saja yang memasak, anda teruskan saja berbincang dengan Sasuke. Ini tidak akan memakan waktu lama." Beliau mengangguk kemudian meninggalkanku di dapur, aku mulai memikirkan apa yang sebaiknya kumasak untuk memberikan kesan yang baik.
"Apa yang kau lakukan?" aku terlonjak kaget karena mendengar suara Sasuke yang tiba-tiba dari belakangku, dia melingkarkan tangannya di pinggangku dan memelukku dari belakang. Aku mengelus dadaku sebentar karena kaget kemudian meneruskan membuat sup.
"Bukan apa-apa, kau teruskan saja mengobrol denggan ibumu. Aku takut nanti beliau merasa kesepian karena kau tinggal lagi." Sasuke membalikkan tubuhku sehingga menghadapnya kemudian memelukku erat, aku merasakan desahan nafasnya di eherku dan merasa geli.
"Sasuke, apa yang kau lakukan? Ini tidak sopan!" lalu aku terkikik geli saat sasuke mulai menggelitikku tanpa ampun hingga membuatku tertawa, dia kembali memelukku dari belakang dan meneruskan serangannya. Tiba-tiba terdengar suara benda jatuh yang sangat keras dan kami segera menghentikan aktivitas kami kemudian menoleh ke arah sumber suara. Disana terlihat lelaki yang sangat kubenci, lelaki yang dulu pernah menghancurkan hidupku dan selalu mengahntuiku. Tubuhku bergetar dan aku segera berlindung di balik Sasuke, mencoba menutupi pandangannya dariku.
"Apa yang kau lakukan bersama dengan wanita itu, Sasuke?" katanya geram dan terlihat dia membawa tongkat baseball di tangannya.
"Apa yang maksudmu, onii-san?"
TBC
Oke bagi kalian yang belum membaca author note ku kemarin, ku beritahu sekali lagi, cerita ini belum berakhir. BELUM! Wkwk masih ada beberapa chapter lagi sebelum end jadi please stay tune terus ya! Dan terimakasih untuk kritik dan sarannya, support kalian sangat berharga bagiku.
Doakan semoga aku bisa menyelesaikan cerita ini secepatnya ya!
Your fave author,
Sloppy writer.
hanazono yuri : maaf ini belum end, wkwkwk ini masih klimaks #sayangnya XD
Chiharu Kazawa : thanks, semoga cerita yang aku tulis menghibur ^^v~
Wow : belum.. belum,,, tapi chapter kemarin memang terlihat seperti itu sih T.T
