Disclaimer: Tidak mengakui apapun kecuali apa yang saya tulis.


General Warnings: AU, canon divergence, language, violence, Naruto-centric, Emotionless Naruto, Root Naruto. And of course, OOC Mc.


Chapter 11: Uzumaki Naruto.


Naruto menarik nafasnya yang dalam. Udara yang dingin menusuk kulit dengan rasa yang mendalam. Angin malam yang berhembus dengan pelan menenangkan diri yang bersiap. Hidup atau mati, ia tidak akan tahu bagaimana hasilnya... namun entah mengapa dirinya tidak merasa takut. Tidak merasakan emosi negatif manusia seperti dirinya yang seharusnya datang ketika menghadapi situasi seperti ini. Tidak ada penyesalan sama sekali. Karena itulah, Naruto merasa dirinya bisa keluar habis-habisan; tanpa mengkhawatirkan apapun. Mata yang terbuka menatap langit hitam pekat yang kosong akan hitam.

Apakah itu mungkin karena ini memang takdir dirinya? Yang pada akhirnya tidak memiliki apa-apa untuk diperjuangkan? Kekosongan yang sama seperti berada di dalam dadanya. Di dalam hatinya yang busuk. Pertama kali merasakan dan memikirkan hal seperti ini, dan Naruto tidak membenci hal itu. Menerima aspek manusia miliknya yang perlahan muncul kembali. Sona.. perempuan itu... semua karena dia. Naruto menyalahkan perempuan itu karena dirinya mulai menerima emosi yang dulu ia kunci dalam-dalam. Tapi setelah memikirkan kembali dengan kepala yang dingin... mungkin hal itu tidak terlalu buruk. Hal ini memang baru bagi dirinya, terasa asing namun bukan hal yang harus dibenci atau ditolak meskipun Danzo dulu mengatakan emosi adalah kelemahan.

Tapi mungkin karena apa yang dilakukan oleh Sona mengapa dirinya sekarang bisa memutuskan apa yang harus dilakukan. Mereka tidak harus mengikuti jalan berdarahnya seperti ini. Mereka masih polos dibandingkan dirinya yang merupakan bagian dari kegelapan bayangan yang mereka langkahi. Walaupun Iblis, tapi mereka adalah remaja pada zaman di mana perdamaian bisa ditemukan. Di mana mereka tidak perlu khawatir membunuh atau dibunuh di setiap langkah yang diambil. Mereka tidak berjalan di jalan dengan genangan darah dan dinding putih yang menjadi merah gelap. Mereka tidak pernah berjalan tanpa peduli meskipun ada potongan tubuh atau kepala dengan mata terbuka yang memandangmu dengan ekspresi yang mereka gunakan sebelum mati.

Mereka tidak akan sanggup.

Mereka masih polos.

Naruto tersenyum memikirkan hal itu. Tersenyum kembali mengingat pertemuan mereka dengan dirinya yang pertama kali. Mengingat kembali perbincangan dan waktu yang dirinya habiskan bersama mereka. Ingatan itu bertahan lama ketika gadis berkacamata yang selalu terlihat serius, tersenyum malu dengan memalingkan wajahnya. Dan ketika melihat itu, Naruto sudah merasa tenang. Apa yang ia lakukan pada saat ini juga untuk mereka, agar mereka tidak melihat bagaimana mengerikannya hasil dari pertarungan ini. Untuk mereka tetap berpikir sama tentang dirinya. Agar di kenangan mereka, dirinya tetap menjadi laki-laki yang tidak bisa menggunakan emosi dengan baik, namun bisa menjadi seseorang yang mereka butuhkan.

Naruto tidak ingin mereka melihat dirinya membunuh dengan darah dingin dan brutal tanpa emosi di wajah saat melakukan hal itu.

Ia tidak ingin pandangan mereka akan Uzumaki Naruto berubah. Karena itu ia memilih menghapus ingatan mereka tentang dirinya. Karena lebih baik dilupakan daripada diingat sebagai seorang Monster.

Sona...

Sona...

Sona...

Nama itu selalu ia bisikkan di dalam hatinya. Nama yang akan selalu ia ingat dengan baik-baik. Meskipun yang mempunyai nama mungkin tidak akan mengingatnya kembali setelah apa yang ia lakukan. Di dalam sudut otaknya, ia masih mengingat kembali kejadian itu; di mana dirinya diam tanpa memberikan jawaban. Naruto tahu ia sudah memiliki jawaban untuk pernyataan yang diberikan perempuan itu. Meskipun tidak sedalam yang bisa ia rasakan.

Naruto menyukai gadis itu.


Mata menghadap malam pekat, cahaya kecil tidak murni menjadi ribuan jarum yang melayang di udara. Kepakan sayap, dengan bulu hitam yang jatuh ke bumi dan di bawah pandangan pemuda yang menatapnya. Ke dua kaki terbuka sedikit melebar. Aura biru bercampur merah bagaikan kulit ke dua muncul dari tubuh pemuda tersebut. Wajah yang tadinya tidak memiliki emosi kini berganti menjadi penuh keyakinan. Rambut yang turun perlahan bergelombang mengikuti angin. Bebatuan kecil yang berada di bawah kaki mulai bergetar.

Seorang Malaikat Jatuh menatap dengan mata yang menyipit. Dengan berada paling tinggi di antara lainnya di udara. Pasukan yang selama ini setia padanya dari zaman kematian Tuhan menunggu di belakang dengan senjata masing-masing. Kokabiel menaikkan satu tangannya ke atas, dan membuka lebar jemarinya.

Angin berhenti bertiup. Malam hening tanpa suara bagaikan tidak ada yang menghuni. Wajah yang memiliki jawaban masing-masing, yang akan ada hanya satu. Yang berdiri pada akhir hanyalah satu. Kokabiel yakin itu adalah dirinya.

"Serang!"

Suara lantang dan tidak bergelombang tersebut menjadi satu instruksi yang menjadi kunci untuk pasukannya bergerak.

Tangan bersamaan kembali terbuka, cahaya terbentuk satu per satu membentuk tombak yang memiliki warna berbeda. Tidak mengambil waktu lama, dengan bidikan yang tercipta selama ratusan tahun berlatih. Hujan cahaya jatuh ke bumi yang menjadi pusat Naruto. Mengeluarkan suara yang memecah udara. Dengan satu tujuan menjadi tempat target mereka berdiri. Ledakan satu demi persatu terdengar hingga menjadi suara tidak jelas yang berdengung ke segala arah. Cahaya dan asap mengepul dari segala tempat dan naik ke langit. Tidak menyisakan tempat di mana manusia itu berdiri.

Asap perlahan mulai menghilang, menyisakan tanah yang tadinya datar menjadi kubangan raksasa yang menghancurkan lapangan hijau yang seharusnya ada. Dengan ratusan tombak yang tertancap di segala arah.

"Apa kita mendapatkannya?"

Pertanyaan itu dikeluarkan oleh perempuan dengan paras cantik yang merupakan salah satu pasukan Kokabiel. Pakaian yang ia gunakan merupakan seragam pasukan yang dimiliki malaikat jatuh. Menunjukkan lekuk tubuh dan beberapa bagian kulit yang tidak tertutupi dengan pelindung, menyisakan imajinasi bagi lawan jenis yang melihatnya. Tidak ada jawaban yang diterimanya, dan dirinya perlahan turun dan menginjakkan kaki ke tanah memastikan nasib manusia lemah yang hancur tanpa sisa di bawah pasukan tuannya.

Ketika itu tangan keluar dari permukaan tanah dan mencengkram dengan kuat hingga mengeluarkan suara sesuatu yang patah. Wanita itu mengeluarkan teriakan yang mewakili rasa sakit yang ia terima. Tidak berhenti di situ, tanpa perlawanan tubuh targetnya keluar, membawa dan memutar kakinya yang patah ke arah lain sebelum cengkraman tangan menemukan tempat ke lehernya. Dan suara perempuan itu berhenti. Naruto melepaskan tangannya, dan tubuh itu jatuh tidak bergerak ke permukaan tanah.

Naruto tidak memberikan perhatian lebih dari itu, wajahnya yang tercipta tanpa emosi menatap malaikat jatuh yang masih diam tidak bergerak melihat kecepatan dirinya membunuh perempuan tersebut. "Mengapa kalian tidak turun? ...dan aku akan memberikan kalian nasib yang sama pada rekan kalian."

Tantangan itu menjadi pemicu yang kuat, dan malaikat jatuh yang tidak terhitung jumlahnya melesat bagaikan peluru ke arah Naruto berniat membalaskan nasib rekan mereka. Manusia itu tidak akan mungkin dapat mengatasi mereka yang jumlah banyak seperti ini, bukan? dengan niat seperti itu mereka menyerang Naruto. Ninja itu menarik nafasnya yang dalam sebelum melompat cepat dengan lincah ke belakang menjauhi malaikat yang sekarang sudah berada di tempatnya berpijak dahulu.

Naruto yang berada di udara saat melompat membuat satu segel tangan sebelum belasan malaikat berada di permukaan tanah.

"Katsu!"

Ledakakan keras tercipta dari tanah yang mereka pijak. Mereka yang tidak beruntung kehilangan anggota tubuh mereka dalam ledakan besar tersebut, dan nyawa pun ikut melayang bersamaan ledakan itu. Mereka yang beruntung hanya mendapat luka bakar kecil dari ledakan itu. Suara rintihan dan erangan kesakitan terdengar dari asap yang mengepul di mana mereka terkena jebakan tersebut.

Naruto berputar di udara dan memberikan tendangan kuat terhadap malaikat jatuh yang datang di timing yang sama. Kedua tangan yang menjadi tumpuan saat pendaratan memberikan kembali tempo dan tenaga yang mencukupi untuk serangan ke dua yang saat ini sudah bersentuh dengan dada musuhnya. Naruto bisa merasakan ia sudah mematahkan tulang rusuk mereka dari tendangannya. Dari tenaga tersebut, dua malaikat yang terkena tendangan itu melayang ke udara dan jatuh di antara pepohonan.

Naruto menurunkan tubuhnya sesaat sebelum menggunakan ke dua tangannya kembali melompat ke arah depan menghindari lemparan tombak cahaya yang kemudian meledak menyisakan kubangan kecil. Dengan mendarat menggunakan kakinya, Naruto menghisap udara dengan dalam dan membuat beberapa segel tangan. "Fūton: Renkūdan!"

Dari mulut Naruto keluar bola udara yang telah dikompres dengan chakra kuat yang kemudian ditembakkan ke arah di mana malaikat jatuh berada. Saat bersentuhan dengan musuh, bola tersebut meledak memberikan serangan tidak terlihat yang menggores kulit hingga berubah menjadi sayatan yang menyayat daging dan melepaskan mereka dari pijakan sebelum menabrak pohon. Naruto tidak berhenti dan tidak akan pernah berhenti, sebelum ia melesat dengan kecepatan tinggi menghindari kembali serangan yang diberikan.

"Jangan lari kau!"

Naruto berhenti secara tiba-tiba dari kecepatan tingginya dan menunduk ke arah belakang menghindari pukulan kuat yang mungkin dapat menghancurkan tulang manusia biasa. Tapi tidak bagi Naruto. Dari sudut matanya, Naruto bisa melihat malaikat jatuh yang datang memberikan bantuan. Tidak memberikan waktu untuk merespon, Naruto mencengkram pergelangan tangan musuhnya dan memukul wajahnya dengan bagian detar di atas tinjunya, memberikan tendangan ke tulang kering kaki yang mengeluarkan suara. Naruto menunduk, dan memberikan tendangan putaran kepada kaki-kaki yang berada di sekitarnya, sebelum mengangkat tubuhnya dan menyalurkan chakra ke ujung tumit dan menjatuhkannya ke kepala malaikat jatuh yang tidak beruntung. Tanpa perlawanan, kepala itu menghantam tanah membuat retakan.

Kokabiel hanya bisa mengerutkan alis matanya melihat pasukannya satu persatu dilumpuhkan Naruto dengan brutal dan efisien tanpa pergerakan yang dibuang-buang. Dengan taktik berlari zig-zag tersebut, manusia itu membelah dan perlahan memisahkan bagian pasukan yang tadinya berkumpul kuat menjadi satu. Namun sekarang, Naruto memisahnya dan menyerang bagian penting. Pasukannya mungkin tidak menyadari itu mengingat pergerakan Naruto yang terlalu cepat untuk diikuti oleh Malaikat jatuh kelas bawah. Manusia itu sudah terlihat menyimpan tenaganya.

Tapi, Kokabiel menunggu. Menunggu di saat yang tepat. Saat yang tepat di mana Naruto perlahan kehabisan tenaganya saat bertarung tanpa henti.

"Jika kau tidak beraksi... pasukanmu akan habis duluan, Kokabiel-kun." Suara dalam dan sedikit serak terdengar dekat dengan telinganya. Kokabiel tahu akan pemilik suara itu, meskipun ia jujur merasa tidak nyaman dengan 'parasit' yang bertinggal di setengah tubuhnya. Kokabiel mangakui bahwa tenaganya bertambah dengan drastis, meskipun begitu dirinya tidak suka berbagi tubuh dengan makhluk rendahan berwarna hitam ini. Meski apa yang dikatakan Kaguya merupakan benar apa adanya.

"Aku tidak meremehkannya. Aku hanya mununggu saat yang tepat." Kokabiel menjawab dengan datar serta pandangan terfokus pada Naruto. Tidak menunjukkan reaksi berlebihan ketika anak buahnya kehilangan nyawanya satu per satu.

"Naruto-kun merupakan salah satu Ninja paling berbahaya pada waktunya. Dan banyak orang yang kehilangan nyawanya karena merasa superior atau meremehkan kemampuannya. Ketika musuhnya mengeluarkan teknik destruktif dan juga kekuatan yang besar, Naruto malah sebaliknya, ia hanya akan menggunakan energinya seminimal mungkin namun dengan daya perlawanan yang sama. " Zetsu hitam melihat ledakan kembali terjadi ketika pasukannya memasuki perangkap Uzumaki Naruto.

Menggunakan peralatan Ninja, segel menyegel dan juga sekililingnya untuk membuat musuh memasuki zona kebingunan dan kemudian perlahan melumpuhkan inti musuh. Semua Menggunakan kecerdikan dan pengalaman peperangan yang sudah ia lewati. Uzumaki Naruto adalah sosok yang paling mungkin berdiri hidup setelah melawan ratusan pasukan dari musuh. Dan sebisa mungkin membunuh dengan brutal saat seluruh mata tertuju padanya. Tujuannya untuk menurunkan mental mereka dengan signifikan. Namun ketika ingin hasil cepat, mereka tidak akan menyadari bahwa mereka sudah mati ketika dilewati Naruto."

Kokabiel mengerutkan alis matanya. "Kau terlalu memujinya. Dia hanyalah manusia. Berbeda denganku yang merupakan Malaikat, ataupun penciptamu yang merupakan Dewi yang telah menghancurkan dunia asalnya."

"Hehehehe, Kokabiel... ini belum apa-apa dibandingkan apa yang telah dilewati Uzumaki Naruto. Bahkan ia belum menggunakan kemampuan aslinya. Ini hanyalah permainan anak kecil. Dan kau telah mengirimkan pasukanmu ke kuburan mereka sendiri. Ah, itupun kalau mereka masih dalam satu bentuk." Provokasi itu membuat Kokabiel mengeratkan rahangnya.

"Akan kutunjukkan bahwa aku bukanlah seseorang yang bisa dipermainkan seperti ini!" Malaikat jatuh itu membawa satu tangannya ke udara, dan mencitpakan tombak cahaya senjata yang ia miliki. Dengan tambahan tenaga yang membuat eksternal tombak itu mengambil bentuk lain yang lebih komplex. Aura hitam mengelilingi tombak itu, memancarkan kekuatan yang membuat anak buah dan juga musuhnya memberikan perhatian. Dalam hitungan detik, tombak cahaya itu membesar beberapa kali lipat.

"Mari kita lihat... apakah manusia kesayangan Dewi-mu itu bisa bertahan dari serangan yang bisa menghancurkan satu kota Kuoh ini dari permukaan bumi." Ini adalah kekuatan Malaikat dengan dua belas sayap. Dan Kokabiel akan menunjukkan siapa yang dimainkan dalam pertarungan ini. Zetsu hanya tersenyum sinis melihat Kokabiel beraksi.

'Serang, serang dan serang terus. Buat dia sampai pada limitnya, dan pada saat itu terjadi 'dia' akan kembali.' Zetsu melihat Naruto dengan kesenangannya sendiri.

Naruto mengepalkan tangannya ketika melihat sihir surgawi yang dikeluarkan oleh Kokabiel. Sementara anak buahnya yang tadinya melawan dirinya kini sudah terbang kembali ke langit, menghindari serangan yang akan dilancarkan oleh pimpinan mereka, Kokabiel. Shinobi terakhir itu hanya bisa menelan ludah. Ini sama dengan Bijudama... itu adalah yang terlintas di benak Naruto ketika merasakan kekuatan yang berada di balik bentuk tombak raksasa tersebut.

Kurama yang merasakan bahaya mendatangi dirinya dan kontainernya hanya bisa mendengus dari dalam. Naruto tidak akan bisa dibawa bicara untuk menyelesaikan ini secepat mungkin. Tanpa ada pemberitahuan, dari sekitar tubuh Naruto keluar kembali chakra emas yang kemudian terbentuk menyurupai kepala dari Kyuubi itu sendiri.

Ledakan itu pun tercipta, ketika tombak cahaya modifikasi Kokabiel berbenturan dengan pertahanan absolut Naruto. Kilatan cahaya dari ledakan tersebut membuat pandangan mata susah untuk mencari apa yang terjadi setelah itu.

Kokabiel hanya bisa mengeratkan rahannya, nafasnya terasa sedikit berbeda setelah mengeluarkan serangan yang ia maksud untuk menghancurkan Naruto. Tapi, saat asap itu telah hilang, yang ada hanya manusia itu berdiri tanpa ada goresan satu pun, di tempat ia berpijak rata seperti tidak ada apa-apa. Namun, dua meter setelahnya hancur tidak terkira hingga puluhan meter radius. Pandangannya yang dingin tertuju padanya.

"Kan sudah kubilang, selama Naruto memiliki Makhluk itu, ia tidak akan bisa diserang dengan mudah." Zetsu bergumam dengan netral, tidak perlu merasakan atau melihat, dirinya sudah tahu Kokabiel frustasi dengan keadaan dan kemarahan yang telah muncul itu sudah mulai memuncak.

*Gunakan kekuatanku.*

Kurama mendesis dari dalam tubuh Naruto, mengingatkan kembali mode Chakra yang dirinya ijinkan Naruto akses.

'Tidak... ini bukan saatnya. Aku masih mempunyai banyak cara mengalahkan Kokabiel dan juga Zetsu hitam. Bukankah kau sendiri yang bilang, agar tidak selalu bergantung pada kekuatanmu? Dan menggunakannya untuk situasi di mana aku terdesak?' Meskipun terlihat baik-baik dari luar, namun Naruto merasakan beban di tubuhnya ketika Kurama dengan paksa mengeluarkan chakranya. Hal itu memang sakit, tapi dirinya sudah lama merasakan hal seperti ini dari perjanjian yang ia buat. Semakin lama ia menggunakannya semakin berat beban yang dirasakan tubuhnya.

*Kau dan lidahmu itu. Semenjak kapan kau berani membalas kata-kataku?* Kurama berkata dengan nada dalamnya, namun Naruto tidak merasakan emosi negatif Kyuubi pada biasanya. Kurama mungkin tidak peduli dengan bagaimana tubuhnya setelah menggunakan chakra Bijuu tersebut, yang ia pedulikan adalah hasil dan di mana ia terbukti masih menjadi makhluk yang terkuat.

Naruto tidak menjawab, dan hanya mengepalkan kedua tangannya secara bersamaan serta menutup matanya. Energi ungu menggantikan aura yang menyelimuti tubuhnya. Garis kecil terbentuk memanjang mengelilingi kelopak matanya dan kulit putihnya berubah menjadi pucat. Kekuatan yang ia peroleh setelah membuat perjanjian dengan Pemimpin klan Ular. Senjutsu. Naruto yang dalam mode senjutsu itu bisa merasakan kekuatannya bertambah berkali lipat dari biasanya. Hal yang sudah sering ia rasakan ketika sudah memasuki mode yang tidak dapat dimiliki oleh Orochimaru. Di samping itu berbeda dengan Sannin Konoha yang satu-satunya bisa menggunakan Senjutsu, jenis bela diri yang diajarkan juga berbeda.

*Senjutsu.. apa kau yakin bisa menggunakan teknik itu untuk mementalkan jurus yang digunakan burung hitam itu? jika kau menggunakan kekuatanku kita bisa menyelesaikan ini dengan mudah dan lebih cepat, dengan begitu kau juga bisa mengurangi kehancuran dan kasualitas yang akan terjadi. Semakin lama kau mengulur waktu, semakin cepat dinding pelindung akan mulai melemah, dan ketika itu terjadi, satu kota akan mendengar dan merasakannya.* Kurama memberikan argumen yang menyuapkan langsung semua fakta dan juga hal logis yang seharusnya dilakukan. *Seberapa ahlinya kau dalam fuinjutsu, namun dengan pertarungan seperti ini, itu akan mencapai batasnya.*

'Ada hal yang ingin kucari tahu terlebih dahulu...' jawaban singkat itu menjadi penanda bagi Naruto kembali fokus dalam pertarungannya. Dirinya tidak selalu keluar dengan selamat setiap menghindari serangan yang dilancarkan dengan beruntun, terbukti dengan goresan memanjang kecil yang berada di lengannya dan juga beberapa bagian tubuh lainnya. Tidak terlalu membahayakan, tapi jika hal seperti ini terus berlanjut maka lainnya ceritanya. ' Di mana? Di mana? Di mana kau, Kaguya!?' Naruto melebarkan area senjutsu-nya hingga mencapai belasan kilometer. Namun tidak membuahkan hasil.

Naruto melompat salto ke belakang bersamaan dengan membuat segel tangan setelah menyadari musuh baru yang perlahan keluar dari permukaan tanah. "Senjutsu; Katon: Hōsenka no Jutsu!"

Tidak terhitung jumlah bola api kecil yang keluar dari mulut Ninja itu menuju musuhnya yang berada di bawah. Menuju Zetsu putih yang tumbuh dari tanah. Naruto mengeluarkan dua kunai berbentuk khusus dari tas kecil senjatanya dan langsung mengalirinya dengan chakra senjutsu miliknya. Kunai yang tadinya pendek itu kini telah berubah menjadi pedang panjang akibat chakra yang telah menjadi media eksternalnya. Shinobi itu berputar dan mementahkan beberapa bentuk projektil yang ditembakkan oleh Malaikat jatuh di udara yang terlalu penakut untuk turun ke tanah.

Matanya mungkin tidak sehebat Uchiha dalam memprediksi serangan dan juga arah serangan, tapi penglihatannya sudah cukup untuk menyelamatkan nyawanya dari serangan fatal. Namun dengan senjutsu yang bisa melacak dan merasakan sekitarnya, hal itu sudah menjadi taruhan Naruto.

"Kenapa kalian kalah dengan manusia ini? jangan membuat Kokabiel-sama kecewa dengan aksi kalian! Ingat kita adalah ciptaan yang bangga akan diri kita! kita lebih berharga daripada manusia. Manusia hanyalah kecoa yang harusnya kita musnah-"

Naruto tidak menunggu lebih lama, dirinya langsung menggunakan kecepatan superiornya untuk memotong jarak dan memotong bersih dan memisahkan kepala Malaikat jatuh bersayap empat itu dari lehernya. Mereka memang memiliki kekuatan yang lebih besar daripada malaikat jatuh yang hanya sepasang sayap. Tapi, terlihat dengan jelas prajurit Kokabiel sudah tidak berada lagi dalam masa prima-nya. Mereka terlalu arogan hingga belum menyadari siapa yang akan mati. Bahkan dengan jumlah mayat yang sudah berjatuhan dan mewarnai tanah dengan darah mereka tetap belum sadar.

Naruto tidak peduli dengan nama yang saling disahutkan satu sama lain. Suara raungan rasa sakit dan juga suara malaikat yang meneriakkan nama temannya tidak berarti di telinga pemuda itu. Wajah mereka sebelum kematian menjemput bagaikan blur di pandangannya yang dingin. Meskipun kutukan itu akan selalu ada. Kutukan di mana dirinya akan mengingat semua wajah yang telah ia rebut dari haknya untuk hidup.

Ia akan bertahan. Dirinya masih kuat menjadi senjata pembunuh massal yang bisa menghancurkan satu batalion peperangan dalam hitungan menit. Dirinya tidak gentar dengan kutukan yang mereka keluarkan sebelum suara mereka hilang di antara suara benturan senjata lainnya. Ia masih bertahan melihat tatapan penuh keputus-asaan yang mereka tunjukkan sebelum pedang chakra miliknya menusuk dada kiri mereka. Ia bisa merasakan detak jantung dari getaran senjatanya sebelum ia mengeluarkan dan menusuk kembali musuh nya. Ia masih bergerak tanpa keraguan membunuh mereka yang jelas sudah menyerah dan jatuh dalam kedua lututnya.

Dirinya masih kuat meskipun pandangan yang telah mati itu masih membeku dalam waktu melotot kepadanya!

Pengguna Senjutsu itu bisa merasakan energi alam mulai meninggalkannya.

Naruto menarik nafasnya yang dalam, sudut pandangan melihat teknik yang seharusnya tidak ada lagi muncul ke permukaan. Cahaya kecil berada di samping Naruto, berada di bawah telingnya tepat di mana anting Sacred Gear buatan yang ia terima dari Azazel. Matanya bergerak ke seluruh penjuru di mana musuhnya berada, kanji hitam terbentuk dari ketiadaan menempel di masing-masing tubuh putih telanjang Zetsu putih.

Mereka yang merupakan ciptaan dari Kaguya, atau Zetsu hitam. Yang tercipta dari manusia-manusia tidak bersalah yang tidak tahu apa-apa mengenai takdirnya yang menyedihkan. Mereka adalah penduduk Kuoh dan daerah lain jepang yang hilang seperti ditelan bumi. Wajah mereka bukanlah lagi perbedaan yang ada, melainkan wajah putih pucat dengan facial cetakan yang sama satu sama lain. Naruto tidak memberikan kedipan mata emosi, ia tahu mereka tidak berada lagi di dunia, mereka hanyalah satu dan sama, hanya musuh di depan matanya yang harus ia selesaikan. Tidak ada lagi kesempatan mereka hidup ketika sudah menjadi bahan penciptaan Zetsu.

Terlintas di benaknya mengenai dunia-nya yang sudah tidak ada. Teringat kembali wajah rekan sesama Ninja Konoha di pandangan. Apakah nasib manusia pengguna chakra di mana tempat ia berasal? Apa mereka tertidur dalam dunia ilusi di mana hanya ada keinginan terdalam mereka tercipta? Di mana mereka semua bisa bahagia tanpa ada yang kalah seperti Madara palsu itu katakan?

Apakah mereka mati bagaikan hama sementara daya hidup yang mereka miliki diserap kembali oleh Kaguya? Menyisakan tubuh kering tidak hidup seperti apa yang pernah ia lihat ketika chakra mereka diambil seluruhnya. Chakra adalah daya hidup jenis seperti dirinya. Di mana keseluruhan aspek kehidupan memiliki chakra untuk dikatakan sebagai kehidupan. Dan ketika Kaguya berhasil mewujudkan keinginannya, Makhluk hidup tidak lagi berada dalam alam kehidupan. Atau mereka menjadi makhluk yang ia bunuh pada saat ini?

Pemuda itu membawa pedang chakra-nya ke belakang menangkis pedang bercahaya miliki malaikat jatuh tersebut, sebelum menggunakan satu pedangnya untuk menyayat dada perempuan tersebut. Laki-laki, perempuan... sama saja. Tidak ada tempat belas kasihan di mana nyawa adalah taruhan. Itu adalah sifat asli seorang pecundang manusia yang tersudutkan suasana.

Merasakan persiapan sudah selesai, cahaya yang berada di antingnya berkilau kuning. Mata Naruto menyipit. "Hiraishin!"

Tidak ada bentuk tubuh. Hanya kilatan cahaya yang muncul di berbagai tempat sebelum mata bisa berkedip. Tidak tahu berapa kali kilatan itu berpindah tempat dan menyisakan Zetsu yang mati jatuh di tanah dengan eskpresi yang sama saat menyerang. Mereka tidak mengetahui kematian menjemput mereka setelah kata itu terucap.

Kilatan itu berhenti di satu tempat yang jauh. Dan ratusan tubuh yang berdiri jatuh secara bersamaan dengan berbagai macam bagian tubuh yang hilang dengan teknik yang ia gunakan. Tidak ada suara, hanya hening. Tidak ada teriakan atau raungan, yang hanya ada suara menyakitkan tubuh terpisah satu sama lain dengan ekspresi membeku. Kilatan kuning itu tidak menembus udara, tidak menembus jarak satu ke lainnya. Melainkan menggunakan aspek utama dimensi dalam Hiraishin di mana tubuhnya terbawa ke semua tempat di mana bait utama Hiraishin diciptakan.

Hiraishin hanya bisa mengeluarkan tiga pemancing setiap kali digunakan. Itu adalah pernyataan Azazel pertama kali saat menciptakan pengganti Kunai Hiraishin dengan Sacred Gear buatan yang sebenarnya cara kerja-nya simpel. Namun, Naruto bukan tipe yang puas dengan ciptaan prototype, melainkan mempelajari dan memperhitungkan kemampuan dan limit seberapa banyak anting itu bisa menciptakan Kanji pengait Hiraishin. Dan kali ini dia membawanya ke batas kemampuannya.

Naruto mengusap keringat miliknya dan darah musuh yang berada di pipinya dengan bagian pakaian yang masih utuh miliknya. Matanya menatap ke atas, dan ia bisa melihat ketakutan yang terpancar dari malaikat jatuh yang berada di udara."Apakah hanya ini? di mana keberanian kalian tadi? Di mana kearagonan kalian tadi? Apakah hilang bersama dengan setiap tusukan yang kuberikan pada kalian? Kalian tidak berbeda dari manusia. Banyak bicara namun aksi omong kosong! Menganggap diri lebih tinggi daripada makhluk lainnya padahal kalian sendiri hanyalah sampah yang dikeluarkan dari tempat kalian asalnya. Merangkak dan bertahan bagaikan gagak hitam yang memiliki sayap sama dengan kalian! Kalian bukanlah apa-apa!"

Wajah Naruto terukir dari pecahan batu es yang paling dingin. Tatapan mata tajam yang bisa menggores permukaan kulit hanya dari sekali melihat. Ekspresi itu tidak gentar, meskipun sekujur tubuhnya terdapat bercak darah yang tidak sedikit dari lawan yang telah ia sayat. Setiap langkah yang ia ambil menyisakan pijakan kaki yang mencokelat di permukaan tanah. Yang merupakan darah.


Tangan bersilang satu sama lain, pungguh bersandar di tiang besi kontruksi sebuah bangunan tinggi menjulang. Meskipun dalam ketinggian dan angin yang cukup kencang pada malam hari itu, sosok tersebut tidak terlihat gugup atau mengeluarkan rasa takut. Pandangannya tertuju pada satu tempat yang jauh. Bagi orang biasa, mereka tidak akan bisa melihat apa yang saat ini ia pandang. Tapi baginya, apa yang ia lihat sekarang jelas di mata. Ekspresi sosok tersebut tercipta merengut karena apa yang ia lihat.

Lingkaran sihir tercipta di sampingnya, namun pemuda berambut silver itu tidak memberikan perhatian.

"Oi, Vali... katanya kau akan membereskan Kokabiel dan pasukannya, apa yang kau lakukan di sini melihat-lihat?" Suara cukup tidak sopan menyapanya dari samping. Tidak mendapatkan respon, Pria itu menyipitkan matanya ke arah tempat yang dilihat oleh rekannya. "Oh, hebat juga. Mengalahkan pasukan seperti itu—oh, pengguna Senjutsu ya? Tanpa terpengaruh dengan efek negatif yang biasanya dimiliki oleh energi alam. Hm, Malaikat jatuh itu masih tidak memiliki goresan satu pun. Oi, Vali, bukannya ini saat yang tepat untuk masuk dalam pertarungan?" Sosok itu memberikan seringai haus darah akan kemungkinan yang terjadi. "Adrenalin, dan setiap detiknya dalam pertaruhan hidup dan mati... bukankah itu menyenangkan?"

"Bikou, jangan ikut campur." Suara dingin Vali membalas. Matanya menyipit menatap Yokai tersebut.

"Oh, ada apa ini?" Bagaikan tidak takut, Bikou menaikkan alis mata menantang, "Tidak biasanya kau melewatkan pertarungan yang menegangkan seperti ini. Bukankah Azazel menyuruhmu membereskan Kokabiel jika keadaan memaksa?"

"Azazel dalam kondisi lemah pada saat ini. Pak tua itu ceroboh, membiarkan Kokabiel bertingkah seenaknya dan lihat pada akhirnya dia menggigit ekornya sendiri karena agenda yang dimiliki pengkhianat dalam kepemimpinannya." Vali menatap Bikou di mata, "Dan, ada elemen lain yang tidak kita ketahui ikut campur dalam bertambah kuatnya Kokabiel."

"Jadi, kau biarkan manusia itu melawannya sendiri? Oh, Vali... manusia melawan Malaikat Jatuh bersayap 12, tidakkah kau terlalu kejam? Bahkan aku pun tidak yakin bisa keluar dengan hidup jika melawan Kokabiel dan pasukannya."

Vali terdiam sesaat kemudian menggelengkan kepalanya. "Tidak, sebelumnya aku mendapat informasi bahwa masih ada musuh utama yang berada di balik ini semua."

Bikou menatap rekannya dengan bingung. "Apa maksudmu? Bukannya Kokabiel yang ingin memulai peperangan dengan Iblis?"

"Kau salah, ada elemen tidak diketahui yang di luar perkiraan ku, dan dia tidak mau aku ikut campur, lengkap dengan ancaman."

Yokai berambut hitam itu hanya bisa memberikan tatapan tidak percaya. "Kau diancam? Kok bisa? Jangan katakan kau takut dengan ancaman seorang manusia. Lagipula bukankah kau selalu berkata tidak pernah mundur dari tantangan atau pertarungan yang menarik? ... kau ini aneh sekali, tidak biasanya kau mengikuti perintah dari orang lain. Yah, tapi terserahmu saja, lagipula aku akan mendapat bagian kita masing-masing jika waktunya tiba."

Keturunan dari Lucifer itu hanya bisa mengeluarkan seringai kecil. Namun yang berada di dalam pikirannya lain dari apa yang wajahnya tunjukkan. 'Apa yang kau lakukan? ... bermain-main dengan Kokabiel? Di mana kekuatanmu yang besar tanpa batas itu? kau terlihat lemah, Naruto.'

Dirinya masih mengingat betul duel yang ia lakukan dengan Ninja pirang tersebut, di mana dirinya dipaksa menggunakan balance breaker dan juga kemampuan taktik sihir dari darah Iblisnya ke tingkat paling atas. Di mana Naruto membalasnya dengan kekuatan yang sama dan juga strategi yang membuat orang terkecoh. Di tambah lagi dengan energi emas yang membentuk rubah tersebut. Naruto tidak menggunakannya. Memang terlihat, bahwa Ninja itu menggunakan strategi tapi... untuk apa mengulur waktu? Apa yang ia tunggu. Mungkin ini yang dikatakan oleh Shinobi tersebut... berusaha memancing musuh yang sebenarnya. Dirinya tidak tahu apa itu, tapi jika cukup membuat Uzumaki Naruto terlihat ketakutan berarti itu adalah musuh yang setingkat dengan dewa atau berada di atasnya.


"Khehehe, sepertinya kita harus menaikkan tempo permainan bukan begitu?" Zetsu hitam terkekeh gelap dari setengah wajah Kokabiel. Memberikan perintah batin kepada minion kecilnya, ia menyusun rencana.

para Zetsu putih bangkit dari tanah, menatap Naruto dengan senyuman menghina, mereka tidak takut, mereka tidak merasakan apa-apa. Hanya sebuah tugas yang diperintahkan untuk dilaksanakan. Kedua telapak tangan menyentuh permukaan tanah, tidak mengeluarkan suara. Tidak juga meneriakkan jurus yang mereka gunakan. Namun tidak lama berselah, tanah bergetar hebat dan membelah satu sama lain membentuk retakan yang kemudian menjadi jalan bagi akar pohon besar.

Dari segala arah, menjulang tinggi dan terus merobek permukaan tanah ke mana pun pergi. Segala arah menuju Naruto dengan niat menghancurkannya dengan segala kekuatan yang ada. Mokuton yang merupakan teknik hokage pertama mereka gunakan bagaikan sudah sifat alami kedua diri mereka. Meskipun tidak sehebat pemilik DNA yang asli, namun dengan bersama, mereka dapat menghasilkan efek yang menyamai Shodai.

"Hanya ini?"

Gelombang tinggi dibawa dalam kenyataan, menyinari kegelapan yang ditutupi oleh teknik pohon yang dimiliki Zetsu. Naruto membawa tangannya ke depan dadanya, dan sekujur tubuhnya langsung diselimuti oleh chakra emas yang berasal dari Kurama. Membentuk kembali jubahnya yang berasal dari chakra hidup tersebut. Percikan api merah yang terkadang berasal dari jubah tersebut menjadi penanda. Selanjunya yang terjadi merupakan suatu hal yang menyebabkan suara benturan keras tercipta. Dari punggung Naruto keluar beberapa tangan raksasa yang bertindak bagaikan ekor kemarahan yang mengibas semuanya.

Setiap serangan yang datang, dtahan dengan satu tangan chakra dan dihancurkan oleh tangan chakra yang lainnya lagi. Hal itu terus berulang, bahkan bagi mereka yang melihat dengan mata telanjang, hanya akan bisa melihat kilatan emas yang bertindak bagaikan pelindung hidup yang melindungi orang di dalamnya. Tanpa pengecualian. Di sekitarnya, kerusakan sudah tidak dihindarikan, gedung sekolah Kuoh perlahan bagaikan bangunan terbuat dari pasir hancur dihadang oleh gelombang pertarungan antar teknik itu. Tapi meskipun hal itu terjadi, tidak ada yang berhasil memasuki titik aman perlindungan chakra Naruto.

Kokabiel hanya dapat melihat sekilas, namun tatapan dari manusia itu seperti membuat lubang di dadanya. Ekspresi void akan emosi layaknya mesin pembunuh tanpa perasaan kembali ia pandang. Meskipun perhatiannya seharusnya berada ke pertarungan, namun energi yang keluar dari manusia itu seperti memiliki pemikiran sendiri dalam bertindak.

Naruto menepukkan kedua tangannya, bersamaan dengan tangan chakra yang menghantam permukaan tanah. Membuat bongkahan batu dan tanah padat melayang sebentar di udara sebelum menjadi bola hantaman yang dilakukan anggota tubuh ekstra Naruto. tembakan pertama tidak mengenai Zetsu melainkan pertahanan mereka. Namun Naruto tidak berhenti, bahkan dia masih jauh dari kata berhenti, hingga permukaan tanah sekitarnya menyisakan kubangan puluhan meter. Teknik doton itu tidak berhenti. Dirinya tidak bisa mengatakan bahwa ini adalah jurus doton, karena dirinya bukanlah seorang Ninja dengan afinitas kepada tanah. Melainkan ini adalah teknik paksaan yang menggunakan kekuatan chakra yang telah menjadi padat dalam kenyataan.

Shinobi terakhir itu menarik nafas, sebelum menghilang dengan meninggalkan getaran kepada tanah. Pandangannya muncul bertatapan dengan mata hijau Zetsu, tidak ada yang dikatakan. Tidak lebih dari satu detik, Naruto mengeluarkan tinjunya dan memukul musuh yang berada dalam jangkauannya. Jubah chakra bergetar dengan kekuatan yang baru, sebelum gelombang keras keluar dari tubuh Naruto menghantam apapun yang berada di sekitarnya hingga terpental ratusan meter dan menghantam dinding pelindung dengan suara keras yang menyakitkan di telinga. Tubuh melayang satu persatu yang mulai mendekati Naruto.

Pemuda itu mengulurkan tangannya ke samping, dan bunyi menggesek satu sama lain terdengar dengan jelas. Lebih keras daripada suara mesin jet yang akan lepas landas. Energi hitam terbentuk perlahan dengan gelembung-gelembung kecil dan mengompres mengecil menjadi satu bagian. Satu tangan Naruto yang bebas menghantam wajah malaikat jatuh yang berusaha menghentikan pengumpulan energi tersebut. Tapi, Naruto sudah selesai. Waktu merupakan hal sangat penting dan berharga dalam keadaan seperti ini.

Matanya menangkap arah, dan tujuannya sudah terkunci. Tidak mengambil ancang-ancang, Naruto langsung meluruskan tangannya terbuka pada arah Kokabiel. Energi negatif-posifit chakra tersebut tidak melayang atau terlempar. Tapi seperti laser hitam raksasa, chakra tersebut bagaikan pedang laser raksasa menangkap semua yang berada di arahnya, baik itu malaikat jatuh maupun Zetsu, hingga sampai pada tujuan utamanya di langit.

Kokabiel dan Zetsu membawa kedua tangannya membentuk pertahanan, energi malaikat jatuh bercampur dengan Yin Zetsu hitam, membentuk pertahanan berlapis. "HAAAA!" Teriakan perlawan keluar dari mulut Kokabiel ketika tembakan laser hitam itu berbenturan dengan pertahanannya. Kokabiel dan Zetsu hitam tahu, bahwa jika mereka terkena serangan satu ini, maka kematian adalah jawaban satu-satunya yang tersisa. Dengan melihat bagaimana intensitas dan juga insting mereka yang berteriak bertapa berbahayanya serangan itu jika kontak langsung dengan tubuh.

Retakan kecil mulai terlihat pada pelindung pertama lapis tiga tersebut. Ini adalah 1/3 energi yang ia keluarkan dari tubuhnya untuk membuat perlindungan absolut yang seharusnya bisa menahan serangan bom nuklir. Tapi, Naruto adalah hal lain, dirinya tidak mengenal konsep menahan diri dalam memberikan serangan yang memang bertujuan memusnahkan musuhnya. Retakan pertama akhirnya cukup melebar hingga membuat pelindung tersebut hancur.


"...Sial."

Hanya itu yang keluar dari mulut Bikou. Matanya melebar dan ekspresinya membeku pada satu emosi melihat pertunjukan kekuatan tersebut. "Jadi ini kekuatan yang kau bilang menganggu itu? jangankan Kokabiel, aku pun pasti mati jika menerima serangan itu secara langsung." Bikou kemudian menatap rekannya, "Inikah mode perubahan yang kau bilang sulit untuk dilawan? Hm..." Bikou menaruh jemarinya di dagu, "...Dengan chakra hidup yang membuat kulit ke dua, terlihat memiliki pemikiran sendiri dan memberikan perlindungan absolut kepada penggunanya. Ketika musuh mencoba menyentuh tubuh manusia itu, chakra itu akan langsung memberikan serangan mematikan yang langsung memakan tangan yang menyentuhnya atau jika tidak beruntung menghancurkan disaat itu juga. Dilihat dari reaksinya, chakra itu bertindak sebagai mata keduanya..."

"Benar..." Vali mengangguk, "Aku tidak merasa malu mengatakan hal tersebut. Ini adalah mengapa alasan aku susah untuk membelah tenaganya. Sudah banyak cara yang telah kuperhitungkan, dan dari kekalahan yang kuterima aku hampir mencapai cara untuk melawan balik Naruto dengan kekuatan penuh. Tentu saja aku yang akan keluar menjadi pemenang."

Jadi karena itu... jangan membuang nyawamu di sini.

"Di mana yang lainnya?" Vali tidak perlu menyebut namanya, karena Bikou sudah paham siapa yang dimaksudkan. Menutup matanya sebentar, Yokai itu langsung menjawab.

"Mereka berada di sekitar sini. Bukan hanya kita yang menjadi penonton ternyata..."

"Ophis... dia juga berada di sini."

Pernyataan Vali membuat Bikou melebarkan matanya sedikit sebelum mengikuti arah pandangan rekannya ke langit. "Aku tidak tahu harus mengucapkan syukur atau mengasihani kepada teman manusiamu itu." Yang dimaksudkan adalah sebuah objek yang berada di atas langit, berdiri bagaikan langit itu sendiri merupakan bidang datar pijakan. Itu bukanlah objek, namun sosok kecil dengan rambut hitam panjang yang menatap satu tempat.

"Meskipun sudah diberi pengaman dan penyegel... tetap saja dia bisa mendeteksi apapun yang menurutnya menarik." Keturunan Sun Wukong itu mengerutkan bibirnya ke bawah. "Oi, Vali, apa ini tidak apa-apa?"

"Jangan bertanya padaku." Vali menjawab singkat, "Sampai sekarang, aku tidak mengerti jalan pikiran Naga itu." Hening sesaat sebelum pemuda berambut silver itu kembali membuka mulutnya. "Pekerjaan kita hari ini hanya untuk mengunci agar dunia lain tidak merasakan apa-apa, jika pekerjaan Kuroka dan Arthur sudah selesai, maka mereka bebas melakukan apapun yang mereka mau. Azazel masih dalam masa penyembuhan... kebodohannya yang menurunkan pertahanan disekitar jenisnya hanya membawanya dalam kesengsaraan. Satu jenis atau ikatan keluarga hanyalah omong kosong."

"...Vali tetaplah Vali."


"Kurang ajar! Jangan meremehkanku! Aku tidak akan mati semudah ini!" Kokabiel meneriakkan suaranya sekeras mungkin, pakaiannya mulai robek dan menunjukkan urat ototnya yang kejang satu sama lain mengeluarkan tenaga yang terus menerus untuk menghentikan serangan dari Naruto. Energi pertahanan kedua mulai retak dan hancur, Kokabiel tahu dia harus segera mencari cara. Dengan memaksa kembali tubuhnya melawan tekanan, Kokabiel mendorong serangan tersebut hingga melencengkan arahnya ke langit.

Bijudama tersebut tertembakkan ke langit, hingga melewati awan gelap pada malam hari. Lingkaran hitam tercipta di atas langit, meninggalkan langit yang terang untuk sesaat.

"Hebat hebat sekali, inilah yang kutunggu-tunggu!" Setengah wajah Kokabiel menyeringai. Meskipun baru saja hampir menemui ajal, Zetsu hitam tidak memberikan reaksi takut sama sekali, bahkan sebaliknya. Senyumnya melebar sebelah dengan tatapan yang seperti tahu tujuan selanjutnya. Dengan setengah kendali Zetsu hitam membawa dirinya dan Kokabiel turun ke permukaan tanah. Hanya berjarak beberapa puluh meter dari berhadapan. Zetsu menendangkan salah satu mayat yang berada di sekitarnya, "Oh, lihat Kokabiel-chan, bahkan pasukanmu tidak ada artinya di bawah Naruto. Ibu senang melihatnya."

"Jangan bermain denganku! Pengikutku bukanlah percobaan untuk dibuang begitu saja!" Entah mengapa Kokabiel merasa marah akan hal itu. Dirinya bukanlah tipe yang takut untuk mengorbankan sesama ataupun anak buahnya jika hasil yang diberikan memang memuaskan. Tapi melihat keadaan, menatap prajuritnya membuang nyawanya sia-sia, sudah terlihat jelas mereka bukanlah tandingan. Dan parasit yang berada di tubuhnya ini tertawa layaknya semuanya hanyalah permainan dan untuk mengetes manusia di depannya. "Ini tidak seperti apa yang dijanjikan Nona Kaguya!"

"Oh oh oh... Kokabiel, jangan menghina Ibu-ku, dia akan menepati janjinya padamu... pasti." Zetsu mengingatkan dengan nada ringan meskipun fokusnya berada pada Naruto pada saat ini. "Menyenangkan bukan? seperti kendali berada di tanganmu sendiri? bagaimana Ayah... bagaimana dengan kekuatan yang berada di tanganmu? Hanya bagian kecil dari porsi sesungguhnya... jika kau berkenan Ibu tentu saja akan memberikanmu kekuatan yang sesungguhnya. Yang cukup untuk menulis kembali dunia ini sesuai harapanmu sendiri."

Naruto tidak menjawab, namun dari postur tubuhnya itu sudah menjadi cukup. Dengan percikan chakra emas, ia pun menghilang dari pandangan. Kokabiel menciptakan dua pedang besar yang terbuat dari energi cahaya korupnya. Ninja itu muncul dari samping dengan kepalan tangan siap digunakan. Namun Kokabiel yang telah hidup lama memiliki reaksi yang jauh dari kata normal, dengan bersamaan ia juga memutar arah pedangnya dan mengayunkan kepada Naruto.

Jinchuriki itu tahu serangan dibalas, menghentikan kecepatannya secara spontan, menunduk menghindari pedang tersebut sebelum melancarkan pukulan yang bisa membelah gunung jika mengenai sesuatu. Malaikat jatuh itu mendengus dan membawa satu pedangnya menghantam pukulan Naruto tepat di bagian datarnya. Seharusnya apapun yang bersentuhan dengan pedang cahaya akan langsung hangus, namun berkat hal yang sama bekerja pada Naruto, benturan tersebut hanya membuat gelombang energi yang saling berbenturan.

"Kau masih terlalu muda menghadapiku satu lawan satu!"

"Omongan besar dari seseorang yang akan mati!" Naruto mendesis dingin. Tangan chakranya tumbuh kembali dari sekitar tubuhnya hendak menghancurkan Kokabiel. Namun hal tersebut batal terjadi berkat sayap-sayap hitam Kokabiel yang mengembang bersamaan.

"Jangan pikir hanya kau yang bisa menggunakan teknik seperti itu!" Sayap Malaikat jatuh terkenal keras bagaikan baja jika sang Malaikat tersebut mau mengalirkan energinya ke anggota tubuh berbulu tersebut. Namun, Kokabiel tidak hanya terkenal karena namanya namun juga penggunaan sayapnya. Hal itu terjadi dengan cepat, berubah seperti cambuk tajam yang bisa memotong siapapun dan apapun dalam sekali ayunan.

Layaknya belasan cambuk mengamuk, sayap Kokabiel menyerang tangan-tangan chakra tersebut. Naruto tidak mau kalah, mengepalkan kedua tangannya, chakra yang diberikan Kurama bertambah signifikan dengan jubahnya yang kembali hidup, serangan satu sama lain dimentahkan menyebabkan getaran dan juga benturan keras yang mengeluarkan bunyi menyakitkan telinga. Naruto dan Kokabiel sama-sama melompat mundur. Shinobi itu kemudian mengulurkan ke dua tangannya, dan dengan chakra yang terhisap terbentuk bola chakra yang sangat sering ia gunakan. Sedangkan Kokabiel menggengam kedua tangannya sebelum ia membukanya, belasan bola merah energi dengan dilingkari listrik marah tercipta satu sama dan melayang ke di depan matanya.

Dengan satu tangannya, bagaikan gerakan mendorong, Kokabiel melepaskan bola kematiannya ke arah Naruto.

Satu detik, itulah waktu yang Naruto butuhkan untuk merubah Rasengan-nya menjadi Rasenshuriken, di mana teknik memanipulasi chakra tersebut bisa dilepaskan ke udara. Dengan timing yang sama Naruto melemparkan rasenshuriken pertamanya. Kedua serangan itu membentur satu sama lain, Rasenshuriken Naruto membesar ketika berbenturan dan membuat lingkaran chakra yang mementahkan seluruh serangan Kokabiel tadi. Melihat kesempatan, Naruto melemparkan Rasenshuriken yang berada di tangan satunya ke arah Kokabiel.

"Cih!"

Malaikat jatuh itu membawa seluruh sayapnya melindungi dirinya dari serangan Naruto. Ia bisa merasakan gesekan antara teknik yang dilemparkan oleh musuhnya pada sayapnya. Seharusnya tidak sepert ini! Itulah yang dipikirkan Kokabiel ketika mulai merasakan sakit pada sayap-sayapnya yang berusaha melindunginya dari hal berbahaya. "Apa-apaan ini!?" mengapa!?" meskipun dalam kesakitan Kokabiel masih bisa mengeluarkan kebingungannya.

"Dasar bodoh... Rasenshuriken setahuku tidak menyerang langsung secara fisik. Namun menjebak lawannya dalam serangan di mana jarum-jarum kecil yang hanya bisa dilihat dengan Doujutsu dan alat tertentu. Apa yang kau tahan tadi bukanlah serangan fisik, melainkan serangan yang bertujuan untuk masuk ke dalam tubuhmu dan menghancurkannya dari dalam, mulai dari jaringan energi cahayamu, hingga saraf-saraf tertentu." Tidak bisa menahan lagi, Kokabiel melompat ke udara dan terbang menjauhi Rasenshuriken yang kemudian meledak.

"Kau pikir aku membiarkanmu bebas begitu saja!?"

Kokabiel menatap ke atas, dan bisa melihat Naruto yang sudah lompat puluhan meter terlebih dahulu dengan tangan satu tangan mengepal bergabung dengan chakra Kurama. "Aku. Tidak. Akan. Berhenti. Sebelum. Kau. Mati!"

Dengan tenaga penuh Naruto memberikan pukulan pada Kokabiel. Bagaikan meteor jatuh, Malaikat jatuh itu menghantam bumi dengan keras dan membuat kubangan raksasa yang dipenuhi kepulan asap. Shinobi terakhir itu mendarat di ujung kubangan dan menunggu asap menghilang. Pemuda itu mengerutkan wajahnya, merasakan sakit tidak terlihat yang berada dalam tubuhnya.

*Lepaskan.. kau sudah tidak tahan lagi menanggung.* Suara halus terdengar membisik, Naruto tidak perlu menduga siapa itu. Perlahan chakra itu menghilang dari tubuh Naruto. Meninggalkan Naruto dengan pakaiannya yang compang-camping. Ia tidak tahu mengapa ia menggunakan pakaian ini saat dalam pertarungan. Ah... Naruto baru mengingat... ia telah membuang pakaian Ninja-nya ketika mulai merasa nyaman dengan dunia baru-nya.

"Kau... meremehkanku."

Sebelum Naruto tahu, Kokabiel sudah berada di depannya. Wajah dan tubuhnya penuh akan luka, namun tidak dengan dengan tatapannya yang penuh dengan keinginan membunuh. Dan sebelum ia sadar, pedang telah menembus perutnya. Naruto tahu rasa sakit, ia sudah merasakan dan menerima luka yang jauh lebih parah dulu. Tapi, meskipun ia merasakan rasa sakit ditusuk, pedang cahaya itu seperti membakar dalam tubuhnya secara perlahan dan Naruto tahu rasa tahan pada sakitnya hanya pada sampai beberapa.

"Kau terlalu arogan untuk seorang manusia bisa percaya untuk bisa mengalahkanku." Suara yang keluar dari tenggorokan Kokabiel bercampur dengan Zetsu hitam. Ia kemudian memutar perlahan pedangnya di perut Naruto. "Sakit bukan? seharusnya manusia sepertimu langsung mati berubah menjadi debu jika terkena tusukan dari pedangku, tapi... kau bukan manusia biasa. Tapi, apakah kau bisa menahan lebih lama? Apa toleran rasa sakit dan mentalmu bisa menahan rasa neraka yang kuberikan padamu? Kau pikir bagaimana aku bisa jatuh dari pangkuan Tuhan? Aku berdosa aku melakukan tindakan hina yang lebih kejam dari sifat alami manusia. Dan saat ini... aku menggunakan sifat alamiku itu padamu. Sifat licik yang tidak akan kalah meskipun pada detik terakhir."

Kokabiel memberikan dorongan keras, dan Naruto terlempar menabrak gedung olahraga dan terus hingga ke gedung utama sekolah tersebut. Suara tabrakan satu persatu terdengar hingga berhenti pada satu tempat.

Pemuda berambut emas itu menyingkirkan bongkahan materi yang menindihnya, bernafas dengan pelan dengan menyandarkan tubuhnya ke dinding. Salah, hal itu adalah kesalahan yang menyakitkan. Ia tidak menyangka Kokabiel bisa bertahan dari serangan seperti itu. Darah, Naruto melihat cairan itu mulai menggenang di bawahnnya. Dengan perlahan, meskipun tangan terbakar saat kontak dengan pedang cahaya itu, ia mengeluarkannya dari perutnya.

Naruto tertawa pelan dengan sedih, sepertinya ini adalah hadiah yang ia dapatkan ketika mulai meninggalkan latihannya. Mulai perlahan melupakan keharusannya, yaitu berlatih, berlatih, berlatih secara terus menerus jika tidak ada misi. Itu adalah kegiatan yang ia lakukan selama berada di bawah Danzo. Namun setelah tiba di dunia yang bukan miliknya, ia mulai meringankan perkembangan yang seharusnya ia paksa secara terus menerus agar bisa menjadi lebih kuat.

Mungkin manis yang ditawarkan dunia ini terlalu menggoda sehingga ia ingin menutupi masa lalunya. Tapi pada akhirnya, itu hanya menggigitnya kembali.

Pemuda itu menengadah ke atas, dan melihat sebuah papan kecil penanda ruangan. "Ruangan OSIS..." sebuah ruangan tempat di mana ia terkadang menghabiskan waktunya. Hingga dirinya bisa membuat gambaran mengenai ruangan itu karena seringnya ia berada di tempat tersebut. Mungkin ini terakhir kali ia melihat ruangan ini. Seharusnya para Bunshin sudah selesai menghapus semua ingatan tentang orang yang pernah melihatnya. Tapi, jika melihat kerusakan sekitarnya... 'Ah, tidak... Azazel bisa membereskannya untuk ku.'

"Kau... Kau... begitu menyedihkan."

Suara itu, Naruto mengenalnya. Kali ini ia tidak mendengar nada takut pada saat ia akan membunuh iblis itu. Saat ini ia tidak mendengar lagi nada arogan yang seharusnya berada di darahnya. Pertama kali... ia tidak merasakan kebencian itu lagi pada suara yang keluar dari bibirnya. Berdiri di situ, seorang gadis muda dengan seragam Kuoh. Seragam yang terlihat dimodifikasi untuk tujuan tertentu namun tidak mengurangi kecantikan yang dia miliki.

Rambutnya juga tidak sama seperti yang ia ingat, tidak panjang bergelombang dan ditata bagaikan nona bangsawan, namun dipotong pendek hingga hanya sampai pada leher dan terlihat simpel. Meskipun telah mengalami perubahan images sepert itu, gadis itu bukannya kehilangan aura kecantikannya. Namun mencapai level baru dengan aura berbahaya yang membuat laki-laki ragu mendekatinya. Dan dengan pedang pendek yang berada diantara pinggangnya sudah cukup untuk mengenal siapa perempuan itu.

"Ravel Phenex... apa yang kau lakukan di sini?" ia bertanya dengan senyuman yang tidak mencapai matanya, "Bukankah kau seharusnya..."

"Jangan bodoh. Klon mu tidak akan cukup untuk bisa membuatmu bisa bertingkah seenaknya dengan ingatanku." Gadis bernama Ravel itu menjawab dengan dingin. "Kau sangat menyedihkan sekarang. jadi inikah wajahmu yang sesungguhnya? Kau tidak terlihat sama pada waktu itu. Di mana manusia kuat mengerikan yang membunuh Riser Phenex, di mana manusia yang menghentikan pergerakanku dengan mudah dalam hitungan detik!? Tidak ada di sini! Dia sekarang terlihat seperti pecundang!"

Naruto terdiam, dan hanya menghela nafas lelah mengeluarkan senyuman pahit sebelum ia menundukkan kepalanya. "Jika kau ingin membunuhku... lakukan sekarang, potong kepalaku dengan pedang itu. Jika kau melakukannya dengan bagian tubuh yang lain, aku akan regenerasi kembali dalam hitungan menit."

"K-Kau bodoh! Bodoh! Tidak punya otak! Mesin pembunuh tidak punya hati!" Ravel mencengkram ke dua tangannya, suaranya terasa serak berbicara dengan pria yang duduk menyedihkan di depannya. "Aku tidak akan membunuh orang yang sudah seperti kehilangan tujuannya sepertimu! Aku tidak akan membunuh manusia yang sudah terlihat menyedihkan tanpapelru aku bunuh! Dan aku sudah berjanji pada diriku sendiri, aku akan melawan dan membunuhmu ketika dirimu berdiri tegak seperti predator yang seharusnya dirimu. Aku akan mengalahkanmu di saat kau berada di dalam kekuatan penuhmu, bukan pria pengecut yang memilih menghapus semua ingatan orang demi keeogisannya sendiri tanpa memikirkan perasaan orang lain!

Aku tidak mengerti mengapa Iblis bangga dan anggun seperti Sona Sitri bisa jatuh cinta padamu. Aku tidak mengerti mengapa keluarga Rias Gremory dan yang lainnya menganggapmu orang baik yang bisa menyelesaikan semua masalah. Padahal lihat dirimu sendiri! kau tidak bisa menyelamatkan dirimu sendiri! kau menyelamatkan Rias dari Kakakku, dan... dan... kau terlihat menyedihkan. Terlihat hidup tanpa memiliki alasan untuk bernafas."

Pemuda itu perlahan menatap Ravel, dan pertama kali dirinya terkejut melihat air mata mengalir di pipi gadis tersebut. "Kau..tidak mengerti apa-apa mengenai diriku, Ravel." Naruto mengatakannya dengan nada pelan, "Aku seharusnya tidak berada di sini, aku seharusnya... tidak bertahan hidup. Ada orang yang lebih baik dariku, lebih tidak berdosa dariku yang seharusnya hidup... sedangkan aku... aku bahkan tidak bisa lagi dikatakan manusia. Aku adalah monster... dan entah mengapa... mengapa hanya aku yang dibiarkan hidup!?"

"Orang lain tidak mengerti dirimu karena kau tidak memberikan kesempatan bagi orang itu untuk mengert dirimu! Kau mendorong Sona dari hal itu. Kau membiarkan mereka yang ingin mengenalmu lebih baik begitu saja tanpa memberikan kesempatan itu. Bagaimana kau bisa berkata orang lain tidak mengerti mengenai dirimu jika masalahnya seperti itu!? kau pikir aku tertarik dengan cerita menyedihkanmu itu? tidak! aku tidak tertarik. Tapi, aku juga tidak akan membiarkan musuh utamaku pergi ke jalan kehancuran dirinya sendiri. Pertarungan diantara kita masih belum selesai, balas dendam tidak akan bisa kudapatkan hanya dengan membunuh orang yang sudah menyerah sepertimu!"

Ravel menarik nafasnya dengan dalam. "Berdiri dan kalahkan musuhmu seperti kau mengalahkan Kakakku. Berikan mereka keputusasaan seperti apa yang kau berikan pada musuh-musuhmu sebelumnya. Hanya dengan itu... hanya dengan itu aku masih percaya kau adalah... orang yang harus aku bunuh."

Naruto menengadah sesaat. "Aku tidak pernah menyangka akan dinasehati perempuan yang lebih muda dariku. Sampai kapan pun aku tidak akan pernah mengerti jalan pemikiran kalian." Pemuda itu perlahan berdiri, tubuhnya yang tinggi langsung memperlihatkan perbedaan tubuhnya dengan gadis tersebut. "Hm?" Naruto melirik pegangan pedang yang kini disodorkan Ravel padanya.

"B-Bukan berarti aku memberikan pedang itu balik padamu. Tapi, aku meminjamkannya! Aku akan memintanya balik lagi. Aku sudah melihat kau lebih baik bertarung dengan menggunakan pedang itu."

"...Terima kasih." Naruto memberikan senyumnya pada gadis Iblis tersebut.

"Jangan berterima-kasih. Kita adalah musuh. Ingat itu."

Senyum pemuda itu hilang digantikan dengan wajah tanpa emosi yang dikenal betul oleh Ravel. Meskipun sudah sering melihat wajah itu, tetap saja ia tidak pernah merasa terbiasa. Seperti ada suatu dorongan yang membuatnya merasa takut. "Sekarang pergilah, Kokabiel memang Malaikat jatuh yang arogan. Tapi dia tidak akan menunggu lama. Tunggu sebentar... bagaimana kau bisa memasuki area yang kusegel? Tidak... itu bukan menjadi masalah saat ini. Sekarang pergilah cari tempat yang aman."

Naruto tidak perlu menunggu jawaban dari Ravel, dia telah melesat dengan kecepatan tinggi menuju tempat di mana Kokabiel berada dengan Tanto di tangan kanannya.


Ravel hanya terdiam beberapa saat sebelum berjalan kembali. "Apa kau puas? aku tidak tahu kau itu orang yang pemaksaan. Sekarang bawa aku kembali, aku tidak ingin mati muda hanya karena berada diantara pertarungan dua monster."

.

.

"Hm, maaf Ravel-san. Tapi, jika aku tidak memberitahumu hal sebenarnya, kau tidak mungkin mau menemui Naruto itu saat ini. Yah, tapi mau bagaimana lagi... aku hanya bisa melakukan sampai di sini sebelum Naruto kembali berada di jalan yang salah. Itu sudah menjadi tugasku, membimbingnya dari jalan kegelapan." Samar-samar, bayangan sosok itu mulai menunjukkan wujud aslinya.

"Kenapa kau tidak menemuinya sendiri?" Ravel bertanya pada sosok yang memberikannya senyuman lembut itu. "Kenapa kau malah memilih aku daripada yang lain. Kenapa tidak Sona? Kenapa tidak yang lain?"

Senyuman di wajahnya kini berubah menjadi yang sedih. "Karena aku tahu... Naruto tidak akan pernah menerimaku atau pun alasanku. Menemuinya hanya membuat keadaannya lebih buruk dari yang sekarang. Jika ini menjadi jawabannya, aku akan memilihnya. Aku memilihmu... karena, kau adalah musuh pertama yang mau berbicara dengan Naruto. Mau mengerti akan keadaannya. Kau adalah orang pertama yang tidak dikonsumsi kebencian atas apa yang dilakukan Naruto padamu. Karena hal itu dia akan mendengarkanmu."

"Jangan salah paham, aku tetap membencinya!"

"Hm, tapi kalau begitu mengapa kau mau mengikuti permintaanku Ravel?" tanya sosok itu dengan menaikkan alis mata. Dari pancaran matanya ia sudah tahu jawabannya.

"I-Itu bukan urusanmu."

Sosok itu tidak membahas itu lebih dalam, namun hanya melihat langit malam yang tembus dari gedung yang runtuh. Suaranya mengecil.. namun Ravel tetap bisa mendengarnya. "Kau tahu... banyak sekali kesalahan yang telah aku buat. Karena pilihan yang aku buat, dia menjadi seperti ini. Meminta maaf pun tidak akan membuat semua rasa sakit yang pernah dialami Naruto menghilang... itu hanya akan membuatnya semakin sakit. Aku... aku ingin sekali bertemu dengannya... tapi, aku tidak punya keberanian. Aku menghancurkan masa depan anakku sendiri... dan melihatnya sekarang... aku tahu tidak akan bisa mengubahnya. Karena itu... aku butuh orang yang berada di sekitarnya."

"Seharusnya aku tidak mati pada saat itu... atau Ibu-nya... ataupun menyegel itu ke dalam tubuhnya. Karena di saat itu aku menyegel takdir anakku menjadi mesin pembunuh. Aku seharusnya tahu, dan aku tahu! tapi aku tetap melakukannya. Berharap semua akan berjalan baik-baik saja dan Naruto akan memiliki masa depan yang cerah... namun yang kudapatkan.. hanya kegagalan karena kesalahanku."

Ravel menundukkan kepalanya, melihat Pria dengan kemiripan yang hampir sama dengan Naruto itu menangis dalam kesendirian sudah cukup membuat dadanya terasa sesak. "Tapi, lihat Naruto sekarang... dia sudah menjadi lebih baik bukan? dia mulai berubah..."

"Tapi harga yang dibayar terlalu besar...terlalu besar bahkan aku pun bisa menjadi gila karena itu." Minato menjawab pelan, tidak meyakinkan gadis di sampingnya ataupun membenarkan aksinya. Yang ada di dalam hatinya adalah perasaan penyesalan. "Mempercayai... takdir seseorang hanya karena ramalan merupakan kesalahanku. Takdir tidak ditentukan oleh siapapun... kita sendiri yang membuat takdir kita. Aku ingin Naruto membuat jalannya sendiri. Jalan di mana ia akan tersenyum dengan keadaannya dan bahagia sampai dia menutup matanya untuk terakhir kali."

"Seharusnya kau yang mengatakan itu sendiri pada anakmu."

"...Aku ingin. Tapi... aku hanya akan menangis dan merasa bersalah kembali ketika melihat mata anakku sendiri. Dosa ini akan kutanggung sendiri." Tubuh Pria itu perlahan mulai memudar dari pandangan. "Kebahagiaan... aku ingin Naruto menemukan itu." Minato melihat tangannya sesaat, "Sepertinya Chakraku sudah habis..."

"Kau bodoh. Ayah dan Anak sama-sama bodoh!" Entah mengapa Ravel mengatakan itu. Mendengar kembali cerita Pria itu, mengetahui lagi apa yang ia sembunyikan dari yang lain. Dosa Ayah kepada Anaknya... itu semua... menyedihkan. "Setidaknya katakan selamat tinggal padanya. Bodoh... bodoh..."

Minato hanya memberikan senyuman sedih meskipun mendengar itu. Ia menutup matanya, dan bayangannya pun menghilang dari kenyataan. Meninggalkan bisikan disetiap detik akhirnya.

'Naruto... aku percayakan semuanya padamu. Maaf... aku bukanlah Ayah terbaik yang bisa kau dapatkan. Aku tidak bersamamu sejak kau lahir. Tidak membesarkanmu dengan cinta layaknya Ayah dan Ibu seharusnya berikan padamu. Dan membiarkanmu sendiri menghadapi semuanya. Kau layak membenciku... Tapi, jangan pernah membenci Ibu mu... semua hanyalah kesalahanku.'

Kata-kata dari Ayah kepada Anaknya itu tidak akan pernah didengar... bisikan kecil yang hanya dibawa oleh angin dan akan menghilang di kegelapan malam. Perasaan seorang Ayah kepada anaknya yang tidak akan pernah sampai pada sosok yang ditujukan. Meninggalkan kilasan dan hanya secercak ingatan kepada penyebab semuanya.

Ravel meremas tangannya.'Hatiku memang tidak sekuat yang kukira. Hanya karena mendengar cerita sedih dari hantu yang sudah lama mati... aku tidak berniat lagi membunuhmu.'


Naruto terhenti beberapa saat. Matanya melebar dan pandangan mencari entah ke mana. 'Apa tadi?' Naruto menggelengkan kepalanya menghilangkan pemikiran itu.

Di saat yang sama berhasil menghindari tembakan energi suci dari Kokabiel.

*Fokus pada pertarungan Naruto!*

"Aku tahu.. maaf." Ninja itu melompat di udara sebelum membawa ke dua tangannya ke kantong belakangnya dan melemparkan belasan Kunai sekaligus ke arah Kokabiel.

"Kau pikir senjata mainan itu akan berpengaruh padaku!?" Seru Malaikat jatuh itu bersamaan dengan mudahnya tubuhnya menghindari projektil tersebut. "Dasar bodoh.."

Kunai yang dimaksudkan meledak secara bersamaan ketika sudah memasuki area Kokabiel. Menyebabkan ledakan keras yang membuat tanah di sekitarnya menjadi hitam. Menggunakan beberapa sayapnya yang masih berfungsi, Kokabiel menggunakannya sebagai tameng. Namun Naruto sudah berada di depannya di hitungan yang sama dan memberikan pukulan keras yang membuatnya terpental belasan meter.

Kokabiel langsung bangkit sebelum melesat dengan kecepatan tinggi ke arah Naruto. Matanya melebar ketika di tangan manusia itu tiba-tiba muncul pedang. Ia tidak akan mati begitu saja, itulah yang berada di pikiran Kokabiel pada saat ini. Dengan kedua tangannya yang mengepal, muncul dua pedang berbasis energi yang ia ciptakan sendiri. "Pedang kecil lemah seperti itu tidak akan bisa melukai ku!"

Naruto tidak menjawab. Ia tidak perlu kata-kata untuk mengartikan apa yang ia lakukan. Mengayunkan dengan kecepatan tinggi, dengan mudahnya pedang laser milik Kokabiel hancur ketika bertemu dengan Tanto miliknya. Mata pria itu terlihat terkejut akan apa yang terjadi, namun emosi itu tidak bertahan lama ketika rasa sakit tercipta pada saat itu.

Robekan dalam tercipta di dadanya. Pedang berdarah mengayun ke samping. Mata tajam biru itu kini telah berubah.

'Aku... tidak melihatnya bergerak.' Batin Kokabiel.

Naruto menghembus nafasnya dan membawa pedangnya ke depan arah matanya. Postur tubuhnya berubah mengikuti arah angin.

"Kurama!"

*Aku tahu!*

Chakra emas tercipta mengelilingi pemuda itu, mengitari hingga sampai kepada badan pedangnya. Naruto menusukkan ke arah Kokabiel berada. Getaran tercipta dengan hebat, chakra yang menempati media pedang tersebut meraung mengeluarkan bentuk kepala Rubah yang tertembak ke arah Kokabiel. Bentuk rubah itu bertahan hanya beberapa saat sebelum berubah menjadi chakra tajam dikelilingi pusaran yang terlihat seperti tombak raksasa yang ditembakkan ke musuhnya. Arah pergerakannya tidak hanya satu jalur, namun zig-zag yang membuat mata musuhnya bergerak mengikuti arah serangan tersebut.

Kokabiel mencoba membuat pertahanan untuk mementahkan serangan dari Naruto. Harga dirinya menolak untuk menghindari serangan dari manusia. Penghinaan tadi tidak akan terulang kembali! ia sudah memiliki dua belas sayap! Dirinya sudah setera dengan Azazel dan Michael! Tidak akan ada yang bisa mengalahkannya begitu saja dengan serangan murahan seperti itu. ia akan menunjukkan kepada manusia ini bahwa dirinya bukan lagi malaikat jatuh yang harus menggunakan taktik untuk menang. Melainkan kekuatan besar yang telah ia raih!

Mencoba... itu hanyalah kata yang bisa ia keluarkan. Karena perlindungan yang ia buat hancur bagaikan kaca satu persatu di bawah serangan dengan kekuatan penuh tersebut. "Tidak! aku tidak akan mati di sini!"

Jurus tanpa nama, itulah yang selalu Naruto ingat mengenai apa yang barusan ia lakukan. Teknik yang ia ciptakan di waktu luangnya dalam misi. Mengasah kemampuan pedangnya dan menggabungkan kekuatan partner-nya menjadi satu dan menciptakan teknik pedang yang mematikan. Ia tidak terlalu suka menggunakan jurus tersebut, bukan karena kekuatan serangnya. Melainkan karena betapa destruktifnya serangan itu jika mengenai targetnya.

Kokabiel melotot ke arah pemuda itu dengan seluruh kebencian yang bisa ia keluarkan. Manusia rendahan itu menatapnya seperti pertarungan ini sudah selesai. Menatapnya bagaikan binatang yang hanya menunggu ajalnya mati. Kokabiel benci akan tatapan itu! ia tidak akan direndahkan lagi. Ia harus mengeluarkan seluruh kekuatannya.

Naruto membuka kembali ke dua telapak tangannya, "Kurasa... semua yang kau katakan tadi, hanyalah sebuah omong kosong belaka, Kokabiel. Kau memang lebih kuat daripada musuh-musuh yang pernah kulawan sebelumnya. Tidak ada yang bisa bertahan lama seperti dirimu. Namun, semua yang kau lakukan pada akhirnya sia-sia... apa kau melihat tubuh-tubuh pasukanmu yang berserakan? Nyawa mereka yang terbuang sia-sia hanya karena kepercayaan dirimu yang tinggi hanya karena sayapmu sudah menjadi dua belas? Tidak... apa karena bisikan makhluk parasit yang berada di tubuhmu?" Suara gesekan yang membuat telinga kembali sakit itu terdengar lagi. Ninja itu memberikan tatapan dinginnya pada bagian hitam wajah Kokabiel.

"Zetsu... akan kupastikan kau mati detik ini juga." Naruto melepaskan kedua Rasenshuriken yang berada di tangannya ke arah Kokabiel yang masih memasang dinding energi pertahan dari serangan Naruto sebelumnya.

Kokabiel hanya bisa melebarkan matanya dan mengeluarkan kutukan demi kutukan. Tidak hanya masih menahan serangan pertama yang tidak berhenti-berhenti dari pedang manusia itu, kini musuhnya kembali memberikan serangan yang mematikan. Ini tidak mungkin, dirinya tidak bisa menerima jika ia akan kalah di sini.

Kokabiel mengeluarkan seluruh energi baik dari dirinya ataupun chakra yang diberikan oleh Zetsu, semua ia keluarkan demi menahan jurus yang sudah mulai membuat kulitnya tergores dan melepuh di berbagian tertentu karena intensitasnya. Tapi, semua hanya sia-sia. Dinding itu jatuh tanpa perlawanan lebih dan Kokabiel mendapati tubuhnya berada dalam siksaan Rasenshuriken Naruto. Suara agoni rasa kesakitan memecah segalanya, mereka... anak buah Kokabiel yang hidup hanya bisa berdiri tanpa bisa melakukan apapun melihat Pemimpinnya yang tadinya berkuasa berubah menjadi budak rasa sakit. Wajahnya yang selalu memiliki aura bangsawan dan kejahatan sehitam sayap mereka kini tidak ada lagi. Yang ada hanyalah Kokabiel yang perlahan kehilangan kewarasannya.

Jurus itu perlahan mati, tidak bergabung di udara, melainkan memasuki tubuh Kokabiel.

Naruto menarik Tanto-nya yang tertancap di tanah dan berjalan menuju kubangan tempat Kokabiel berada.

"A-Aku tidak akan membiarkanmu mendekati Kokabiel-sama! Aku tidak akan membiarkanmu!" Satu Malaikat jatuh berdiri di depan kubangan itu, membuka ke dua tangannya dengan protective kepada Tuannya yang sudah berada di pintu kematian. Malaikat jatuh itu adalah seorang perempuan. Perempuan dari sudut pandang manapun akan dikatakan menarik, baik dari wajah maupun bentuk tubuhnya. Ia adalah pasangan Kokabiel, atau lebih tepatnya salah satu wanita yang ia gunakan untuk memuaskan nafsunya. Dari interaksi tubuh tersebut, wanita itu mulai menaruh hati kepada pemimpinnya yang berkarismatik, yang selalu menjunjung tinggi diri mereka malaikat jatuh.

Dirinya percaya, dengan kekuatan dan dengan pimpinan Kokabiel, mereka akan menjadi yang terbaik. Menjadi spesies yang memegang kekuasaan dari Fraksi surga ataupun Fraksi Iblis. Ia selalu percaya, bahwa tidak ada yang akan mengalahkan tuannya.

Hal itu ia percayai hingga pada saat Tuannya berada dalam siksaan teknik manusia yang tidak memiliki ekspresi di wajahnya itu.

"Minggir... atau kau yang selanjutnya." Naruto berkata dengan dingin, tidak memperlambat sama sekali. Atau memberikan perhatian kepada wanita tersebut. "Kalian bukan apa-apa tanpa Pimpinan kalian, jika aku mau... aku pun bisa memusnahkan kalian yang merupakan sisa dari pasukan Kokabiel, yang jelas-jelas mengkhianati Azazel pimpinan kalian yang seharusnya."

"Aku tidak akan membiarkanmu!" Wanita itu, meskipun kedua kakinya sudah gemetar dengan lemah di bawah pandangan manusia itu tetap berdiri dengan sumpahnya tadi.

Naruto tidak merespon, namun suara sayatan terdengar dan wanita itu jatuh terbaring di tanah dengan darah mulai menggenang. Ia tidak melihat wanita itu dan tetap berjalan. "Aku tidak membunuhmu, lukamu tidak akan membunuhmu jika itu dibereskan sekarang... seharusnya kalian tahu, aku tidak memiliki rasa kasihan pada kalian. Tapi...Pertarungan ini sudah selesai... aku tidak ada kewajiban membunuh kalian." Meskipun dengan suara dingin itu, Malaikat jatuh itu mendengar hanya kebenaran dari mulut manusia tersebut. "Jangan membuatku menunggu! Pergi!"

Salah satu malaikat datang dan mengangkat wanita itu pergi.

Naruto molompat memasuki kubangan tersebut, tempat di mana Kokabiel berada, pedang di tangan siap menjalankan aksinya.

"Khe... ta..tadi itu...menyenangkan.." Suara tersendat-sendat itu terdengar dari Zetsu, meskipun sudah tidak memiliki kekuatan lagi, tapi makhluk ciptaan Kaguya itu masih bisa menyeringai.

"Zetsu katakan di mana Kaguya!" Naruto menatap dingin makhluk hitam tersebut.

"I..Ibu.. kau tidak akan bisa... menemukannya... jika ia ingin... kau hanya membuang waktumu... Ayah. "

Naruto mengerutkan alisnya, "Aku bukan Ayahmu! Aku tidak tahu siapa yang kalian bicarakan... namaku bukan orang lain. Aku Uzumaki Naruto!" Dengan pernyataan itu, Naruto menusuk pedangnya kepada dada Kokabiel yang sudah tidak bisa berbicara lagi. Aliran api tercipta dari pangkal pedang itu dan membakar tubuh yang terhubung dengannya.

Kokabiel memang sudah mati ketika menerima serangan itu, namun Zetsu yang masih hidup hanya memberikan Naruto seringai lebar yang mengerikan. Meskipun tubuhnya mulai perlahan hangus, Zetsu menatap Naruto. "Aku hanya satu... diantara yang lain... dan Ibu... akan mendapatkan... yang ia inginkan..."

Naruto hanya terdiam ditempat, meskipun dirinya menang dalam pertarungan... tapi melihat wajah Zetsu, ia merasa ada yang kalah di dalam dirinya. Pemuda itu hanya bisa menggelengkan kepalanya dan melihat tubuh Kokabiel kini tidak dikenali lagi dan perlahan berubah menjadi abu hitam yang kemudian ditiup angin.

Tanpa ekspresi, Naruto melompat dari kubangan itu... ia sudah selesai di sini. Dan melihat ke atas langit, Naruto tahu pasukan Azazel sudah tiba mengepung pasukan Kokabiel yang masih tersisa. Tanpa perlawanan, mereka mengangkat ke dua tangannya ke atas ketika melihat pasukan Azazel dan Shemhazai tiba.

"Naruto..."

Pemuda itu menatap ke samping dan melihat sosok yang ia kenal cukup lama. "Azazel..." Naruto melihat pandangan yang diberikan Pimpinan malaikat jatuh itu padanya dan hanya bisa mengerutkan wajahnya, "Jangan memberikanku tatapan itu... aku tidak butuh..." Meskipun tertutupi pakaian yang ia gunakan, Naruto bisa melihat perban yang membalut dada pria tersebut. "Sebaiknya... kau... merawat lukamu..."

Ia tidak tahu, Naruto tidak mengerti. Ia mencoba menggelengkan kepalanya, namun itu tidak berhenti. Dirinya tidak bisa melihat dengan jelas, ada yang salah.. kontrol tubuhnya mulai tidak bisa ia pegang. Semuanya terasa berat.

"Uhuk..."

Naruto mengusap bibirnya.. dirinya tidak pernah merasa sakit atau batuk sebelumnya. Tidak selama Kurama berada di dalam dirinya. Tapi, kenapa ada darah berada di tangannya, kenapa lidahnya merasakan rasa darah yang bagaikan besi tersebut?

"Naruto! fokus padaku! Naruto! Hey, medis cepat datang ke sini! Hey, Naruto! jangan tutup matamu! Hey!"

Naruto tidak tahu, dirinya tidak pernah mendengar nada suara itu dari Azazel. Wajah panik itu tidak cocok dengan pria tua itu. Sama sekali tidak. Tapi... ia tidak bisa mengatakannya. Tidak ada suara yang keluar dari mulutnya.

..

..

Kenapa semakin gelap?

Dirinya yakin.. ia menang...

.

Naruto yakin, dirinya tidak terluka.

.

..

..

Tapi...

Kenapa susah sekali menarik nafas?

.

Tapi kenapa?

...

...

...

...

...Semua menjadi gelap.


Hm, update... sudah kuduga. Setelah 5 bulan lebih... hebat. Tapi, dengan update ini berarti aku mengupdate cerita? Hm... ya. Hah, saya tidak akan meminta maaf karena keterlambatan, karena saya baru saja selesai mengurus Universitas di mana saya masuk. Kalau ada yang sama saya masuk snmptn diterima di Universitas lambung mangkurat kedokteran. Yah, nggak terlalu buruk lah.


Gumaman si Author itu.

AN: Terima kasih yang sudah menunjukkan kesalahan berupa typo di chapter ini, chapter ini baru selesai tadi pagi sekitar jam 3, jadi tidak ada kesempatan untuk membaca untuk mencari kesalahan, jika pembaca melihat typo itu tolong dibilang, akan saya perbaiki secepat mungkin. Dan juga jika ada kalimat tidak efektif boleh juga dibilang ke saya.


Oke, kembali ke cerita; dalam chapter ini ada beberapa kesulitan yang saya temui untuk menulis, baik itu dari segi pertarungan maupun elemen suprise(More plot). Saya bukannya tidak terlalu berpengalaman dalam menulis, tapi saya dibantu kris dalam masalah ini karena ada saat di mana saya tidak tahu harus menulis apa. Terimakasih untuknya meskipun kadang-kadang itu manusia menyebalkan kalau diajak bahas scene. Jika dibaca, tentu kalian akan menemukan beberapa titik di mana membuat kalian bertanya... dan terkejut.

Hasil polling, tidak mengejutkan dipimpin oleh Sona Sitri. Para Author terlalu tergantung dengan pasangan yang mainstream. Sona harus diberi cinta juga! Meskipun tubuhnya tidak sebagus Rias atau Akeno!


Mengenai DxD born, entah mengapa saya kecewa. Bukan karena plotnya tapi... entah yang produksi. Mungkin karena saya terlalu terpana dengan Fate/Stay Night UBW, wow... wow... gila banget. Saya bahkan sampai menonton ulang beberapa kali karena scene pertarungannya. Yah, karena itu mungkin espektasi saya jadi kontras dengan DxD menyebabkan ada kekecewaan sendiri dari pertarungannya yang terlihat... boring. Apa daya, tujuan adaptasi kedua itu memang berbeda.

Update selanjutnya... tentu saja akan menyakitkan untuk dilihat. Huh... baik dari pihak ini maupun pihak sana... atau yang di sananya lagi. Wew, jadi takut nulisnya, padahal sudah selesai kerangka chapter depannya. Karakter Naruto bukan typical Naruto di mana dia tidak akan melukai atau membunuh perempuan hanya karena dia cantik. Apa yang kalian harapkan? Dia dari ROOT, di mana perempuan dan pria itu sama saja jika menjadi musuh.

damn, summary ingin ganti, tapi tidak ada yang cocok. Ada saran?

Hm, review, please?