Naruto milik Masashi Kishimoto.


Jiraiya menatap lurus-lurus wanita bersurai pirang di depannya. Tangannya ia silangkan di depan dada—sikap yang biasa dikeluarkannya setiap kali ia serius. Di hadapannya, Tsunade juga memasang ekspresi yang sama seperti dirinya.

"Ceritakan semua yang sudah kau ketahui, Hime." Tidak ada rayuan atau pun lelucon yang keluar dari mulut Jiraiya. Sebagai seorang shinobi veteran, ia mengerti dan paham, bagaimana untuk memposisikan dirinya dalam berbagai situasi. Dan saat ini, tidak ada waktu untuk bertingkah konyol untuk mendapat perhatian dari wanita yang disukainya.

Karena, tidak ada kata main-main bagi mereka ketika menyangkut orang yang mereka sayangi.

Segera setelah Jiraiya mendapat kabar bahwa Naruto telah ditemukan, tanpa buang waktu lagi ia langsung kembali ke Konoha. Meskipun ia sudah menggunakan kecepatan penuh, ia baru bisa sampai ke desa kelahirannya ketika matahari sudah seperempat jalan dari jalur agungnya di angkasa.

Jiraiya memutuskan untuk menemui Tsunade terlebih dahulu. Ia masih belum siap untuk menatap mata Naruto secara langsung. Hanya memikirkannya saja sudah memunculkan benih-benih rasa bersalah dalam benaknya, apalagi bila bertemu langsung dengannya?

Jiraiya telah melarikan diri dari tanggung jawabnya selama enam belas tahun sebagai wali Naruto. Ia sudah tidak punya muka lagi untuk dihadapkan di depan wajahnya. Mungkin anak itu tidak mempermasalahkannya—tidak mengingatnya. Tapi sungguh, apakah ia pantas memasang muka tak bersalah dihadapan mata tak berjiwa miliknya?

Andai saja Jiraiya langsung membawa Naruto bersamanya pada waktu malam bencana enam belas tahu lalu, tentu semuanya akan berakhir berbeda. Rasa sesal tentu saja ada, seperti karat yang memakan hatinya yang sudah sekebal baja. Tapi, bukan Jiraiya namanya kalau sampai membiarkan emosi terlibat dalam pekerjaannya sebagai seorang shinobi.

Suara helaan nafas membuat Jiraiya kembali tersadar akan situasi yang saat ini dihadapinya. Pikirannya yang sempat melayang entah kemana cepat-cepat ia kumpulkan untuk bersiap menganalisa pernyataan yang akan keluar dari mulut Tsunade.

"Setelah pemeriksaan singkat tadi malam, bisa dikatakan bahwa kondisi mental Naruto saat ini cukup stabil. Dia bisa menjawab semua pertanyaanku dengan lancar dan masuk akal. Tidak ada tanda-tanda trauma ataupun paranoid ketika aku berkontak fisik dengannya. Untuk ukuran orang yang menjadi tahanan Orochimaru selama bertahun-tahun, kita beruntung Naruto masih bisa sewaras itu. Untuk lebih pastinya aku akan meminta tolong pada Inoichi untuk memeriksa kondisi psikis anak itu lebih jauh.

"Untuk kondisi fisik ... selain malnutrisi ringan, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Sama sekali tidak ada bekas atau tanda-tanda kekerasan di tubuh Naruto. Mungkin ini juga dikarenakan sistem regenerasinya yang luar biasa, sehingga tidak ada satu pun bekas luka yang ditemukan di tubuhnya. Kelima indera juga masih berfungsi dengan baik dan tajam seperti dulu. Secara keseluruhan, kondisi Naruto saat ini bisa dibilang normal." Kedua alis Tsunade berkerut. Roman mukanya mengeras. Jiraiya bisa menangkap ada kata 'Tapi' yang tertinggal. Dengan sabar ia menunggu Tsunade yang tampak kesulitan untuk kembali merangkai kata.

"Sebenarnya ada satu hal yang menggangguku," kata Tsunade beberapa saat kemudian. "Dari sampel darah Naruto yang aku ambil kemarin, ditemukan adanya mutasi dalam DNA anak itu. Setelah ditelusuri, ternyata gen asing yang ditambahkan adalah milik Shodaime Hokage, Senju Hashirama."

Percobaan manusia ilegal, sesuatu yang lumrah dilakukan oleh seorang ilmuwan sinting seperti Orochimaru. Tanpa sadar, kepalan tangan Jiraiya mengerat. Masalah sepertinya selalu mengikuti kemana pun Naruto pergi. Dan yang paling membuatnya frustasi adalah, dirinya yang mendapat gelar Densetsu no Sannin (Legendary Three Ninja) ternyata tidak becus melindungi satu-satunya peninggalan berharga Minato.

"Jadi maksudmu, Naruto memiliki Mokuton (Wood Release)?" tanya Jiariaya kaku.

"Aku tidak tahu," jawab Tsunade dengan nada lelah. "Tapi tidak ada tanda-tanda penolakan dari tubuh Naruto dengan kedatangan gen asing tersebut. Jadi kemungkinan besar, ya."

"Apa itu berbahaya bagi Naruto nantinya?"

Tsunade kembali menggelengkan kepalanya pelan. "Untuk saat ini memang terlihat baik-baik saja. Hanya saja, aku khawatir soal Kyuubi. Kau tahu sendiri, chakra Kyuubi dan chakra kakekku selalu bertentangan. Jika kedua chakra itu ditempatkan di satu tubuh..."

Tak perlu diteruskan pun, Jiraiya sudah mengerti maksud Tsunade. Dengan dua kekuatan besar yang terus-terusan bertarung di dalam tubuhnya, pastinya sangat menyiksa Naruto. Jika saja anak itu tidak memiliki darah Uzumaki, pasti tubuh kecil itu sudah hancur seak dulu.

"Sampai aku tahu dampak terburuknya, akan kularang Naruto untuk menggunakan chakra ataupun ninjutsu." Jiraiya mengangguk setuju. Yah, sepertinya itu memang keputusan terbaik untuk saat ini. "Bagaimana dengan Orochimaru?" tanya Jiraiya lagi. "Apakah kita perlu mengejarnya? Mungkin dia punya cara untuk mengembalikan kondisi Naruto seperti semula."

Tsunade tampak menimang-nimang jawabannya. "Kuharap aku bisa melakukan itu ... Tapi dengan situasi sekarang rasanya agak sulit." Jiraiya langsung paham maksud Tsunade.

Sang Fajar, Akatsuki.

Kondisi Naruto yang sangat rawan membuatnya menjadi prioritas utama Hokage sekarang, mengingat Akatsuki sudah mulai bergerak. Lengah sedikit saja, maka mereka akan kehilangan Kyuubi dan Naruto. Daripada memecah pasukan untuk mengejar Orochimaru, lebih baik mengumpulkan shinobi sebanyak mungkin di dalam dinding Konoha.

"Lagipula—" Punggung Jiraiya menegak, bersiap menerima informasi baru dari Tsunade. "—sebenarnya aku tidak terlalu yakin dengan keterlibatan Orochimaru dalam kasus penculikan Naruto." Kedua mata hitamnya lantas menyipit. "Maksudmu?"

Tsunade menceritakan percakapan Sakura dan Orochimaru beberapa waktu yang lalu, mengenai siapa musuh sebenarnya yang tengah mereka hadapi.

"'Lihat lebih jauh ke dalam', ya ... Hm ... Jadi itu sebabnya kau ragu soal Orochimaru, Hime?" Tsunade mengangguk. "Sebenarnya kalau dipikir lagi, Orochimaru tidak memiliki motif untuk menghapus ingatan, menculik, melakukan percobaan, dan mengembalikan Naruto lagi ke kita. Dia sudah memilih Sasuke sebagai tubuh pengganti, dan kurasa dia juga sudah puas dengan pasukan elit buatannya, terbukti dengan nihilnya segel Ten no Juuin di tubuh Naruto. Yang tersisa hanya kemungkinan kalau ular itu pengalih perhatian, membuat kita mengejar jejak palsu yang menuntun kita ke jalan buntu."

"Itu yang kupikirkan ... Tapi, siapa?"

Keheningan menyelimuti ruangan. Dua manusia sibuk dengan benaknya masing-masing. Pikiran mereka melayang, mencoba mengingat, mencari, menganalisis, dan mencari kesimpulan akan misteri yang diumpankan.

"Ck."

Jiraiya menoleh, mendapati wajah Tsunade yang tampak frustasi. "Kau menemukan sesuatu?" tanyanya.

"Danzo," jawab Tsunade dengan nada pahit.

Jiraiya menaikkan alis. "Kau yakin?"

Menggeleng pelan, seakan ragu, Tsunade menjawab, "Memang tidak ada bukti ... Tapi entah kenapa wajah keriputnya selalu muncul tiap kali aku memikirkan Naruto."

"Hum ... Memang benar gerak-geriknya sangat mencurigakan akhir-akhir ini, terutama soal Ne. Tiba-tiba saja menyodorkan anak buahnya kepada Kakashi, antah apa tujuan tua bangka itu sebenarnya."

"Menurut laporan Yamato, Sai berusaha membunuh Sasuke dalam misi kemarin."

Mata Jiraiya menyipit, tertarik. "Heee? Begitukah? Kalau begitu akan kumasukan Si Tua Bangka itu dalam daftarku," kata Jiraiya sembari bangkit. Wajahnya terlihat lebih ringan dari sebelumnya.

"Mau kemana?"

"Menghubungi beberapa agenku."

Pelipis Tsunade berkedut. "Jadi kau mau kabur? Meninggalkan tanggung jawabmu. Lagi?" tanyanya geram.

Jiraiya menghentikan langkahnya. Ekspresinya tak terbaca. Ia berbalik menatap Tsunade. Dengan senyum dipaksakan, ia menjawab dengan suara kaku, "Tentu saja tidak, Hime~ Aku tidak sejahat itu tahu. Nah, ini benar-benar penting, jadi aku harus segera pergi. Jya~"

Tanpa aba-aba, asap putih menelan tubuhnya, meninggalkan Tsunade yang masih melotot kesal ke titik Jiraiya baru saja mengilang.

"Si Mesum itu ... Akan kucincang begitu ia kembali nanti. Che."


Sakura tidak tahu apa yang terjadi dengan dirinya. Ia hanya bisa berdiri mematung di depan pintu ruangan tempat Naruto berada, bingung sendiri dengan benaknya yang ragu untuk memilih antara masuk atau sebaliknya, lari menjauh.

Sakura mendesah pelan. Padahal kemarin malam ia tidak bisa tidur karena tidak sabar untuk bertemu sahabatnya yang sudah lama hilang. Sekarang, kemana perginya semangat yang kemarin?

"Sakura-san."

Sakura berbalik. Mata hijaunya bertemu dengan sepasang kelereng lavender milik Sang Tuan Puteri Hyuuga. Bisa dilihatnya berbagai macam emosi berpusar di kedua mata Hinata. Ia yakin, gadis itu juga bisa mengerti apa yang saat ini tengah ia rasakan.

"Aku baik-baik saja Hinata," kata Sakura sambil memasang senyum kecil. "Ayo kita masuk."


Ia menatap wajah-wajah baru yang memasuki ruangannya dengan pandangan datar. Tujuh orang; tiga perempuan dan empat laki-laki. Ia tahu mereka semua. Profil-profil seluruh shinobi Konoha dan data kekuatan mereka telah ia hapalkan. Atas perintah Master, tentunya.

Mereka berdiri berjejer di depan tempat tidur yang tengah di tempatinya. Sebagian besar dari mereka menolak untuk bertemu pandang dengannya. Memangnya begitu jelekkah wajahnya hingga tidak ada yang mau menatapnya?

"Naruto-kun, maaf menggangu istirahatmu. Tapi kurasa mereka perlu memastikan keadaanmu dengan mata kepala mereka sendiri. Mungkin kau tidak ingat mereka, tapi mereka adalah teman-temanmu dulu. Mereka sangat senang ketika medengar kabar bahwa kau sudah kembali." Ia mengalihkan perhatiannya kepada Shizune yang tengah tersenyum kepadanya. "Kau ingat dia?" tanya Shizune pada gadis berambut merah muda yang berdiri paling depan.

"...Sakura-san." Ia melihat mata gadis bernama Sakura itu berkaca-kaca. Dengan senyum dipaksakan, ia berkata, "Senang bertemu lagi denganmu, Naruto."

Bingung harus melakukan apa, ia hanya bisa mengangguk menanggapinya. Matanya kemudian beralih ke gadis bermata levender pucat di sebelah Sakura, yang juga memasang raut yang sama seperti gadis Haruno. Tapi entah kenapa, semakin ia menatapnya, detak jantung sang Hyuuga terdengar semakin cepat. Mau tidak mau ia harus memutuskan kontak mata, khawatir akan membuat gadis itu mengalami serangan jantung mendadak jika diteruskan.

Ia mendesah. Sepertinya misi yang diberikan Master akan lebih sulit dari perkiraannya.

"Se-selamat siang ... Na-Naruto-kun. A-Aku Hyuuga Hinata. Senang ... berkenalan ... denganmu..." Ia mengernyit ketika semakin lama suara Hyuuga semakin lirih, nyaris seperti bisikan.

"Senang bertemu denganmu, Hyuuga-sama." Ia membungkukkan tubuhnya sedikit, pertanda bahwa ia menghormati lawan bicaranya. Untuk mengambil perhatian seseorang, hal pertama yang harus dilakukan adalah menunjukkan rasa hormat pada orang itu.

Tapi sepertinya hal itu tidak berhasil pada Tuan Puteri Hyuuga. Dengan panik ia berkata, "Ti-Tidak perlu f-formal begitu Naruto-kun. Kita adalah te-teman. Dan … tolong panggil aku Hi-Hinata."

Ia mengangguk, menyanggupi permintaan gadis itu. Dari data yang ia baca, Hyuuga Hinata memang terkenal pemalu dan tidak suka jika orang-orang menganggap tinggi kedudukannya sebagai Puteri Hyuuga. Sebaliknya, ia sangat membenci statusnya itu.

Perhatiannya beralih ke gadis terakhir. Ekspresinya lebih ringan dibandingkan Sakura dan Puteri. Dari yang ia baca, dulu mereka tidak terlalu dekat. Gadis tomboy yang terobsesi dengan senjata. Terlahir dari pasangan shinobi tanpa klan. Status: Chuunin. "Panggil aku Tenten. Kita memang tidak satu angkatan, tapi dulu kita beberapa kali melakukan misi bersama. Senang bertemu lagi denganmu, Naruto."

"Namaku Aburame Shino. Senang bertemu denganmu, Naruto-san." Dengan pembawaan selalu tenang dan misterius, Sang pewaris dari klan Aburame. Sama seperti klan Aburame lainnya, mereka selalu menutupi mata mereka karena terlalu sensitif dengan cahaya. Pakaian tebal yang mereka gunakan berfungsi sebagai sarang kikaichuu. Kelebihannya terletak pada taijutsu dan kemampuannya untuk berfikir jernih dalam situasi apapun. Status: Chuunin.

"Yo! Aku Kiba. Dan dia Akamaru." Pewaris klan Inuzuka. Terkenal dengan temperamennya yang pendek serta loyalitasnya. Tracker handal dan penyerang yang tangguh dengan mengandalkan ninjutsu klan Inuzuka. Status: Chuunin.

"Yosh! Akhirnya kita kembali dipertemukan, wahai rekan seperjuanganku. Namaku Rock Lee! The Konoha's Beautiful Green Beast! Semoga semangatku yang penuh masa muda juga ikut mengalir dalam nadimu! Untuk itu, bergabunglah bersamaku dan Guy-sensei untuk menyebarkan semangat penuh gairah ini!" Ia terpaku. Jumpsuit hijau yang disodorkan Lee di depannya ia abaikan begitu saja. Selama beberapa saat otaknya berhenti mengalirkan data dikarenakan overload informasi. Ia tahu bahwa pemuda di depannya memang … tidak biasa. Tapi ia tidak menyangka kalau separah ini. Ahli taijutsu terbaik rookie Konoha, benar-benar di luar dugaannya.

"Hentikan Lee! Kau membuat Naruto takut dengan sifatmu itu!" Ia tersentak, menyadari bahwa ada satu lagi pemuda yang berdiri di samping Lee. Rambut coklat panjang, mata levender pucat, dan raut wajah yang angkuh. "Neji Hyuuga." Hanya kata itu yang keluar dari bibirnya.

Ah, tentu saja. Sang Hyuuga jenius. Anak kebanggaan keluarga cabang Hyuuga, yang mampu menguasai teknik rahasia keluarga utama. Saking terkenalnya, bahkan dikabarkan kalau Master berniat merekrutnya sebagai Ne.

"Jya~ Kalau begitu aku tinggal dulu. Aku akan kembali besok pagi untuk menjemputmu. Dan, Naruto," Ia melirik Asisten yang kini sudah berada di ambang pintu, "akrablah dengan teman-temanmu, oke?"

"…Mm." Dilihatnya Asisten melemparkan senyum padanya, sebelum akhirnya hilang dari pandangan.

Dan sekarang … apa yang harus ia lakukan dengan mereka? Ia perhatikan lagi wajah-wajah di hadapannya, menilai karakter dan sifat mereka dari gerakan tubuh. Di antara mereka, si Puteri dan Rambut Sakura lah yang paling tidak stabil. Detak jantung mereka tidak beraturan dan tubuh mereka terus bergerak. Sementara Rambut Panda terus-terusan mengetukkan jemarinya, sambil sesekali mencuri pandang ke arahnya. Jumpsuit Hijau tampak bingung mencari topik pembicaraan. Berkali-kali ia membuka mulutnya, namun kemudian ia tutup kembali. Di sebelahnya, Taring Inuzuka tampak kesal, membuat anjingnya ikut gelisah. Hanya Jenius Hyuuga dan Pengendali Serangga yang tampak tenang, meskipun mata mereka (tampak) menerawang entah kemana.

Menit demi menit berlalu dalam keheningan. Tidak ada satu pun dari mereka yang bersedia menjadi sukarelawan memecah suasana canggung di sana. Dalam situasi biasa, hal seperti ini bukan masalah baginya. Tapi saat ini ia dalam misi—misi yang mengharuskannya bisa akrab dengan mereka. Tapi, bagaimana caranya? Haruskah ia yang pertama membuka topik pembicaraan? Bagaimana jika ia salah dan malah mengacaukan semuanya? Dia sama sekali tidak punya pengalaman untuk bersosialisasi dengan orang lain. Semua percakapan yang dilakukannya semata-mata untuk kelancaran misi. Interaksinya dengan orang lain juga hanya sebatas dengan Master, Sai, Tayuya, dan beberapa anggota lain.

Jika yang berada di situasi ini adalah Sai…

"Selamat siang, orang-orang tidak berguna. Kalian terlihat berantakan sekali hari ini. Apa kalian baru saja keluar dari kandang babi? Pantas saja, bau ka—"

Sejujurnya, ia tidak mau meneruskan simulasi percakapan itu. Prosentase kegagalannya terlalu tinggi.

Dan jika ia menggunakan gaya Tayuya…

"Kau lihat apa, brengsek? Apa ibumu yang pelacur itu tidak mengajarimu sopan santun?! Asal kau tahu saja, aku paling benci dengan keparat—"

… Itu … sepertinya tidak akan berhasil.

Bagaimana kalau ia memberikan trik pembunuhan yang baru saja dipelajarinya dari Tayuya? Atau menceritakan situasi politik di Ookami no Kuni (Land of Wolf) yang mulai memanas? Atau cara membuat racun mematikan dari ekstrak bunga Monkshood. Atau—

"A-Ano…" Ia tersentak, dan mendapati Sakura yang tampak salah tingkah karena mendapat semua penghuni ruangan. "Naruto…"

"Ya, Sakura-san?"

"Bagaimana kabarmu?"

"Baik."

Selama beberapa saat suasana kembali canggung. "A-Apa lukamu masih sakit?"

"Tidak."

"Oh ya, tadi Shizune-san bilang, dia akan menjemputmu besok pagi. Apa kau sudah boleh pulang besok? Ke rumah siapa?

"Hokage-sama."

"Begitu…" Wajah Sakura tampak berpikir keras, seperti tengah menghadapi soal ujian jounin saja. Ia penasaran apa sebenarnya yang telah membebani pikiran gadis pintar itu.

"Eto … Kau sudah makan siang?"

"Sudah," jawabnya sambil mengisyaratkan mangkuk kosong yang tergeletak di atas lemari samping tempat tidurnya.

"Oh, uh … Maaf, aku tidak melihatnya…"

"Tidak apa-apa."

Dan dengan itu, keheningan kembali melanda ruangan tempatnya berada. Bahkan hingga akhir kunjungan mereka, tak ada satu pun yang berani memecah kecanggungan itu.

Ia mendesah. Benar-benar awal yang buruk.


"Bagaimana kesanmu tentang mereka?"

Ia melirik Sai yang baru saja muncul dari pusaran tinta di jendela ruangannya. "Biasa saja," jawabnya pendek.

"Benarkah?" Mata Sai menyipit. "Bagaimana dengan Si Jelek? Aku perhatikan dia selalu menatapmu dengan pandangan aneh."

Ia memiringkan kepalanya. "Siapa?"

"Setan cerewet berrambut merah jambu."

"Maksudmu ... Sakura?" Sai mengangguk.

"...Pantas saja kau selalu kena sial jika berhadapan dengannya."

"Memangnya kenapa? Wajar kan, kalau teman satu tim memberikan julukan pada temannya. Semakin jelek julukan yang diberikan berarti persahabatan kami semakin dekat."

"Benarkah?" Ia merasa sedikit sangsi. Di Ne, mereka memang jarang menggunakan nama asli mereka, agar identitas mereka tidak mudah terbongkar. Sebagai gantinya, mereka menggunakan nama julukan. Ia pun memiliki julukan tersendiri dari rekan-rekannya, entah itu Rubah, Jinchuuriki, Little Pet, Mesin Pembunuh, dan masih banyak lagi. Sebagai gantinya, ia juga memiliki kebiasaan untuk memanggil semua orang dengan julukan, kecuali teman-teman terdekatnya di Ne.

Memang tidak ada yang mempermasalahkan nama julukan mereka, seburuk apapun itu. Tapi, memangnya yang seperti itu juga berlaku bagi orang 'normal'?

"Itu yang tertulis di buku." Sai kemudian melemparkan sebuah buku kecil, yang dengan tangkas ia tangkap sebelum memberi kesempatan benda itu mendarat di wajahnya. Ia memandang sampulnya yang berwarna orange cerah, dengan beberapa ilustrasi berupa balon-balon kecil dan beberapa hewan lucu.

'Panduan Berteman untuk Para Idiot'

Ia mengerjap, meyakinkan dirinya kalau ia benar-benar tidak salah baca.

"Jadi bagaimana?" Atensinya kembali ke arah Sai yang kini tengah berusaha menyamankan diri di ambang jendela.

"Apanya?"

"Si Jelek tadi."

"Aku merasa sedikit tidak nyaman, sebenarnya." Ia berhenti sejenak. Buku yang sedari tadi dipegang kini tergeletak di pangkuannya. Matanya ia arahkan ke pemandangan muram di belakang Sai. "Gadis itu selalu mengingatkanku pada kenangan-kenangan yang tidak ingin aku ingat kembali. Memori yang begitu hangat dan menyenangkan, seolah mengejek diriku yang sekarang."

"Kalau begitu lupakan. Hilangkan semuanya. Ulangi lagi dari nol." Mata mereka bersitatap, saling memantulkan bayangan dari cermin jiwa yang telah rusak. "Kau sendiri yang bilang kalau kita akan menyanyikan lagu masa kini. Lalu kenapa malah ragu?"

"... Kurasa kau benar."

"Fokus saja ke misimu. Jangan sampai mengecewakan Danzou-sama. Kau tidak mau kejadian 'itu' terulang kembali kan?" Ia berjengit, namun tetap mengangguk. "Aku ... mengerti."

Selama hampir sepuluh menit tidak ada suara yang keluar dari bibir mereka. Keheningan yang canggung namun susah untuk dipecahkan. Berbagai pikiran berkecamuk di benak mereka, memberontak untuk dikeluarkan dalam bentuk emosi. Namun yang bisa mereka tunjukkan adalah topeng tanpa ekspresi dan mata tanpa jiwa.

"Maaf." Ia mendongak begitu mendengar bisikan pelan dari mulut Sai. Pemuda itu memilih membelakanginya, menolak untuk menunjukkan topengnya yang retak.

"Akulah yang seharusnya meminta maaf. Karena aku ... Shin—"

"Tayuya sedang tidak ada misi sekarang," potong Sai cepat.

Ia mengerjap, bingung dengan perubahan topik yang mendadak, namun ia segera memakluminya. Bagi mereka, Shin adalah nama yang tabu. Belum ada yang pernah menyebut nama itu lagi sejak bertahun-tahun lalu.

"Mau mengunjunginya? Kebetulan aku tidak ada pekerjaan malam ini." tanggapnya kasual, menuruti permainan Sai.

Sai tampak mempertimbangkan tawaran darinya. "Bagaimana kondisimu?"

"Tidak usah khawatirkan aku."

"Kemarin kau pingsan di perjalanan ke tempat Orochimaru."

"Itu karena obatku habis," jawabnya tidak sabar. Melihat Sai yang terlihat masih ragu ia segera menambahkan, "Kita hanya ke markas, bukan ke luar Konoha. Lagipula aku hanya mennton kalian sparring."

Ia langsung bergegas sebelum Sai berubah pikiran. Diangkatnya kedua tangan membentuk segel silang dan poof, duplikat dirinya kini tengah berdiri di sampingnya. Tanpa diperintah, kembarannya langsung mengambil alih tempatnya di ranjang. Sementara ia sendiri sibuk mengeluarkan semua perlengkapan Ne miliknya, mulai dari sarung tangan, armor, tanto, hingga topeng poselen berlukiskan wajah seekor rubah yang tengah menyeringai dari tato segel di lengannya. Kurang dari satu menit, penampilannya kini telah berubah. Dari seorang pemuda kurus tak berdaya menjadi sosok mengintimidasi yang menguarkan hawa kematian.

"Sudah?" Ia menoleh. Dua lubang hitam dari topeng bergambar serigala balik menatapnya.

Ia mengangguk. "Ayo."


Jauh dari mata awas para ANBU Konoha, dua siluet tengah berakrobat di atap-atap rumah penduduk. Tanpa suara, mereka berlari dengan kecepatan di luar batas normal manusia, membuat mereka semakin sulit tertangkap mata. Mereka terus berlari, menghindari sorotan lampu jalanan dan patroli yang sesekali melintasi rute mereka, hingga akhirnya mereka berhenti di depan sebuah gubuk reyot di kawasan kumuh Konoha. Tak ada yang spesial dengan rumah itu. Sepitas terlihat seperti bangunan bobrok seperti yang ada di sekitarnya, yang berhiaskan jaring laba-laba dan coretan tanpa makna.

Gelap dan berkabung sampah, membuat orang-orang tak berani melewati kawasan terlarang itu. Hanya terdengar lengkingan anjing dan kucing yang berkelahi di gang sebelah—dan beberapa lenguhan penuh nafsu di pojok-pojok tak terjamah yang bersedia menghidupkan suasana malam di sana.

Tanpa mempedulikan itu semua, mereka terus memasuki gubuk kayu, melewati labirin pendek berlapis genjutsu, dan menghindari beberapa perangkap mematikan di tengah jalan. Sebuah pintu kayu menghentikan petualangan mereka, tanda bahwa perjalanan sudah sampai di tujuan akhir.

Salah satu dari mereka kemudian mengangkat kedua tangannya, merapalkan segel tangan yang memakan waktu hingga sampai dua menit, dan—

Blam!

Dipertemukannya kedua permukaan tangannya ke daun pintu di depannya. Cahaya biru temaram keluar dari aksara yang sebelumnya tak terlihat mata biasa. Perlahan, pintu kayu itu terbuka, menampilkan pemandangan dari lorong panjang yang membentang di hadapan mereka. Dibantu oleh penerangan lampu minyak yang menempel di dinding, mereka kembali memulai perjalanan mereka menuju markas rahasia Ne.


"Lama sekali, dasar sialan."

"Kau diam saja, Pelacur."

"Che. Kau mau kuhajar lagi, Mayat?!"

"Aku tidak ingat pernah dikalahkan olehmu."

"Mau kujadikan ini yang pertama?" Dalam sedetik, sebuah tanto telah menempel erat di leher sang pemakai topeng serigala, Sai.

"Kalau kau bisa." Tanpa peringatan, sejumlah ular dari tinta telah melilit leher, tangan dan kaki penyerang Sai, yang tak lain adalah Tayuya. Tanto yang semula bersentuhan dengan kulit pucat Sai kini perlahan-lahan mundur karena kuatnya belitan para ular buatan. Wajah Tayuya pun mulai membiru karena kehabisan oksigen. Namun tanpa diduga Sai, Tayuya menggunakan kepalanya sebagai senjata terakhir, membuat pemuda itu kehilangan fokus.

Tayuya tidak menyia-nyiakan kesempatan emas itu. Ia langsung mendaratkan kakinya di perut Sai dan bersalto ke belakang. Satu per satu, ia melemparkan ular buatan Sai ke tanah dan mendaratkan shuriken ke tubuh cair mereka.

"Che. Merepotkan saja." Gadis berrambut merah itu kemudian mengeluarkan sebuah seruling dari balik bajunya. "Oi, Rubah, kau tidak mau ikutan menghajar mayat hidup itu?"

"Aku menonton saja," kata sosok yang memakai topeng rubah dengan nada lelah. Ia berjalan ke sisi ruangan, dimana sebuah kursi kayu panjang terpasang di sana. Begitu ia telah mendaratkan tubuhnya di permukaan keras kursi, ia segera membuka topengnya, menampakkan wajah berhiaskan tiga garis tipis di masing-masing pipi. Wajahnya tampak pucat, dengan peluh yang tak hentinya mengalir. Ia kemudian mengambil botol kecil dari saku celananya, menuangkan beberapa butir pil kecil berwarna hitam pekat, dan langsung menelannya tanpa bantuan air.

"Haaah…" Naruto menghela nafas lega begitu obat yang diminumnya langsung bekerja. Ekspresinya yang semula tampak kesakitan kini berubah rileks. Memejamkan mata, ia menyenderkan kepalanya ke penyangga kursi. Diangkatnya tangan kanannya ke wajah untuk menghalau cahaya lampu sorot yang menyakiti retinanya.

"Ck. Kalau kondisimu memang separah itu kenapa kau malah ke sini? Merepotkan kalau aku harus menyeret bokongmu ke rumah sakit." Naruto melirik Tayuya. Wajahnya tampak kesal, namun ia bisa melihat mata cokelat itu memancarkan kekhawatiran.

"Kau fokus saja ke Sai."

Tepat setelah ia menyelesaikan kalimatnya, puluhan singa buatan langsung menyerbu Tayuya. Setiap cakar dan taringnya mengarah ke titik vital gadis itu.

"Kaparat!" Bahkan di sela-sela kesibukannya menghindari serangan hewan-hewan itu, Tayuya masih sempat mengeluarkan umpatan. Dengan bersenjatakan tanto di tangan kanan dan kunai di tangan kiri, ia menebas, menyayat, memotong, dan menusuk sekumpulan makhluk hidup namun tak bernyawa itu, membuat mereka kembali ke bentuk asli mereka.

Bukannya semakin berkurang, hewan-hewan tersebut malah semakin banyak saja. Sepertinya Sai memang berniat untuk mengalahkannya kali ini. Tayuya berdecak kesal. Kalau saja ia bisa mengulur waktu sedikit saja untuk memainkan serulingnya…

Tapi, bagaimana? Tidak ada jalan untuk ia bisa lari dan bersembunyi. "Oi, bisa bantu sebentar tidak?" teriaknya pada Naruto.

"Kau tidak lihat kondisi Naruto? Biarkan dia mengambil nafas sebentar."

"Kau diam saja, Mayat Sialan."

"Kau yang seharusnya diam dan berkonsentrasi. Bisa-bisa mereka mengambil lidah tajammu yang berharga itu." Sai kembali mengirim puluhan pasukannya, membuat Tayuya menggeram kesal.

Naruto yang sedari tadi terdiam, akhirnya membuka suara. "Kau seharusnya belajar ninjutsu juga. Kurasa Suiton atau Fuuton level menengah sudah bisa mengatasi mereka."

"Ugh, kau juga diam, Rubah Jelek!"

"Dia benar. Memangnya kau tidak belajar dari kekalahanmu dengan si Rambut Nanas itu? Kau terlalu mengandalkan serulingmu. Meskipun harus kuakui, kau lumayan hebat di taijutsu. Kalau begini terus, kau akan kalah karena kelelahan."

"Khehehe…"

Sai dan Naruto memandang heran Tayuya. Bibirnya yang semula merengut kesal kini melengkung ke atas, membentuk seringai lebar yang seolah mengejek kebodohan lawannya.

"Siapa yang kau bilang kalah, eh?" Bersamaan dengan itu, semua makhluk yang semula menyerang Tayuya terdistorsi, seakan tubuh cair mereka ditarik ke segala arah oleh kekuatan tak terlihat. Mereka menggeliat, berusaha membebaskan diri dari jeratan teknik Tayuya. Tapi percuma. Dalam hitungan detik tubuh mereka pun meledak, tidak kuat menahan gaya yang melebihi kekuatan fisik mereka.

"Sepertinya hanya kau yang tidak belajar, Mayat Sialan," kata Tayuya angkuh. "Daripada terus-terusan menggambar sampah tidak berguna itu, kenapa kau tidak belajar cara menangkal genjutsu, hm?"

Mata Sai melebar. Ia segera mengambil kunai dan mengarahkannya ke tangannya, berusaha melarikan diri dari dunia ilusi Tayuya dengan menggunakan rasa sakit. Tapi terlambat…

"Jangan kabur dulu dong~" Tayuya menjentikkan jarinya, dan seketika puluhan rantai membelit tubuh Sai. "Bagaimana kalau kita bermain dulu? Mengingat kau terlihat sangat bersemangat tadi."

"Eggh," erang Sai ketika belitan rantai semakin membekap dirinya, membuat Tayuya semakin girang. "Ya! Seperti itu! Ayo lakukan lagi! Hahahahaha!"

"Jadi kau bisa menggunakan genjutsu tanpa bantuan seruling?" tanya Naruto di ujung ruangan. Matanya menatap datar adegan penyiksaan di depannya.

Tanpa menoleh sedikit pun ke arah san penanya, Tayuya dengan riangnya menjawab. "Yeah, begitulah. Memang masih belum terbiasa, jadi untuk menggunakannya membutuhkan cukup banyak waktu. Selain itu, aku juga harus menandai targetku secara manual. Merepotkan."

"Maksudmu?"

Tayuya melirik tajam Naruto, kesal karena kesenangannya diganggu. "Aku meninggalkan sedikit chakra milikku di tubuh target. Jika sebelumnya aku menggunakan suara, kali ini aku menggunakan chakra sebagai perantara. Memang cukup sulit untuk mengirimkan teknik ini tanpa diketahui oleh musuh, terlebih ketika aku harus membagi konsentrasi di tengah serangan musuh seperti tadi. Rasanya kepalaku mau meledak saja." Gadis itu menghela nafas pelan, terlihat jelas kalau ia kelelahan. Meskipun begitu, senyum kemenangan masih terukir di bibirnya.

Alis Naruto bertaut. "Kau meninggalkan chakramu di tubuh korban, apa itu artinya kau bisa menggunakan genjutsu pada targetmu di mana saja?"

"Masih belum." Dengan santainya Tayuya memerintahkan rantai-rantainya untuk menarik tangan kanan Sai. Diiringi bunyi tulang patah dan teriakan kesakitan, tangan itu lepas dari posisinya semula. Mengabaikan Sai, gadis berrambut merah itu melanjutkan, "Untuk saat ini hanya sampai ke radius kurang lebih satu kilometer. Tekniknya pun masih terbatas. Aku hanya bisa menggunakan teknik-teknikku yang dulu. Aku masih butuh banyak berlatih."

"Kurasa kau sudah hebat. Bisa melakukan genjutsu tanpa segel tangan dan menggunakan chakra sebagai medium. Terlebih lagi menggunakan rasa sakit sebagai bagian dari ilusi, yang jika tidak menggunakannya malah akan membebaskan korban dari genjutsu." Meskipun semua itu dikatakan Naruto dengan raut datar, namun dari nada suaranya, terdengar jelas bahwa ia kagum dengan kemampuan Tayuya. "Bahkan aku tidak yakin Kurenai bisa melakukan itu," tambahnya.

"Heh, kau pandai memuji juga, bocah." Mood Tayuya yang kembali naik langsung diuangkapkannya dengan kembali mengambil anggota tubuh Sai; kaki kirinya.

"Kita seumuran."

"Aku lebih tua setahun, bodoh. Hormatilah seniormu ini."

"Bagaimana aku bisa memberi hormat kepada orang yang lebih pendek dariku?"

Sebelum Tayuya sempat membalas, Sai, dengan suara tercekat memotong perdebatan mereka. "A-Apa ka … lian benar-benar be-berniat mem … bunuhku dengan ca … ra seperti i-ini?" Kondisi Sai kini tampak semakin mengkhawatirkan. Wajahnya yang sudah pucat kini semakin pucat dikarenakan darah yang terus menetes dari bekas tempat tangan dan kakinya semula berada. Hanya untuk berbicara saja sepertinya sudah menguras sebagian besar energinya.

"Ini hanya genjutsu, dasar bodoh/Sai," jawab mereka bersamaan.

"Ke-Kejam…"

"Oh~ Ini baru saja dimulai, Sai. Jadi jangan pingsan dulu, oke?" Hanya dengan jentikan jari, anggota tubuh Sai yang semula lepas kini kembali menyatu. "Saa, ayo kita lanjutkan permainan kita." Sai merinding ngeri ketika melihat seringai sadis Tayuya.


Orange.

Warna itulah yang pertama kali dilihatnya begitu ia membuka ruangan. Pandangannya beredar, memeriksa kamar yang diberikan Tsunade untuknya.

Orange, orange, dan orange ... lagi. Mulai dari tembok, seprai, bantal, jam dinding, hingga meja dan kursi juga berwarna serupa.

"Kau suka kamarmu?"

Ia menoleh, dan mendapati Tsunade yang tengah tersenyum lebar padanya. Di sampingnya berdiri Shizune dan seorang pria yang ia ketahui sebagai salah satu shinbi legenda Konoha, sekaligus walinya, Jiraiya. Meskipun rautnya tak menunjukkan emosi apapun, namun ia ia bisa melihat sekelebat emosi di mata hitamnya. Emosi yang ia kenal dengan baik; rasa bersalah.

Baguslah. Karena dengan begitu ia bisa dengan mudah memanipulasi orang tua itu.

"Kau tidak suka ya?" Senyum yang semula terkembang di bibir Tsunade kini layu, digantikan kerutan di dahi. "Kalau begitu akan kuganti—"

"Tidak perlu," potongnya cepat. Ia berbalik menghadap Tsunade dan membungkukkan badannya. "Tidak perlu merepotkan diri Anda dengan hal kecil seperti ini, Hokage-sama. Sebaliknya, saya sangat berterima kasih atas bantuan yang Anda berikan. Ini sudah lebih dari cukup."

"Tidak perlu sungkan begitu, Naruto." Ada nada aneh yang mengganjal di suara Hokage. "Hari ini dan seterusnya kita akan tinggal bersama. Anggap saja ini rumahmu sendiri. Dan aku akan senang jika kau memanggilku ... Ne-Nenek..." kata Hokage pelan. Suaranya tercekat.

"Itu akan terdengar sangat tidak sopan, Hokage-sama."

"Ka-Kalau begitu panggil saja aku Tsunade."

"Baik, Tsunade-sama." Hokage tampak kurang setuju, namun tidak berkata apa-apa.

"Jya~" Semua orang menoleh ke arah Asisten yang tengah tersenyum lebar. "Karena semua sudah berkumpul, ayo kita rayakan dengan makan bersama. Kau juga ikut, Jiraiya-sama."

"Maaf, aku tidak bisa Shizune. Aku sudah terlanjur membuat janji dengan Kakashi. Mungkin lain kali saja. Saa—"

"Mau kemana kau, Kakek Tua?" Ia perhatikan tangan besi Hokage yang telah tertanam kuat di pundak si Pertapa. Bunyi tulang retak terdengar jelas di telinganya yang sensitif. Meskipun begitu, raut orang tua itu tidak berubah. Senyum lebarnya masih terpasang seperti sebelumnya.

"Maa, Hime … Bukankah sudah kubilang—"

"Kau. Akan. Makan. Bersama. Kami." Kembali didengarnya suara tulang retak. Kali ini lebih keras. Senyum lebar Pertapa kini lebih terlihat seperti seringai kesakitan. Tanpa sadar ia menjauhkan tubuhnya dari jangkauan Hokage.

"Oke, oke…"

"Baguslah kalau begitu. Nah, sekarang ayo kita ke belakang. Aku sudah lapar." Selepas kepergian Hokage dan Asisten, tanpa sadar ia kembali mengendurkan kembali otot-otot tubuhnya yang semula menegang. Kini ia tahu kenapa Shin selalu memperingatkannya untuk menjaga sikap di depan wanita.

"Itulah yang akan terjadi jika kau mencoba melawan Tsunade, Nak." Matanya langsung tertuju pada dua manik hitam Pertapa. Masih ada jejak ekspresi pahit di dalam cengiran lebarnya. Sikapnya juga lebih kaku dari sebelumnya.

"Kau harus segera ke rumah sakit."

Mata hitam itu melebar, terkejut. "…Ini bukan apa-apa. Hanya luka kecil biasa."

"Tulangmu patah."

"Dan aku tidak ingin ada yang patah lagi jika aku tidak menuruti Nenekmu itu. Ayo, juga sebaiknya menyusul mereka."

Tak tahu harus berbuat apa, ia pun menuruti perintah sang shinobi. Terlihat Hokage sudah menunggunya di meja makan. Di tangan kirinya tergenggam cawan kecil berisi sake. Tatapan matanya tampak bosan ketika menonton sang Asisten yang tengah sibuk di dapur.

Ia kemudian mengambil tempat di samping Hokage, berhadapan dengan Pertapa. Selama hampir dua puluh menit tidak ada yang bicara di antara mereka. Hanya menatap kosong ke arah Asisten yang tampak tak nyaman dengan perhatian yang mendadak diterimanya.

"Makanan sudah siap~" Ia berjengit ketika mendengar seruan sang Asisten ketika ia meletakkan dua mangkuk ramen di hadapannya dan Hokage. Wanita itu kemudian kembali ke dapur untuk membawa dua mangkuk lagi untuk dirinya dan Pertapa.

"Untuk merayakan kepulanganmu, aku sengaja memasak ramen spesial kesukaanmu! Ayo, cobalah Naruto!" serunya lagi begitu ia mengambil tempat di seberangnya. Kedua mata perempuan itu menatap lekat dirinya, membuatnya tidak nyaman. Di sampingnya, meskipun terlihat tidak peduli, namun ia tahu bahwa Hokage dan Pertapa juga memperhatikannya.

"Ramen?" Ia perhatikan mie bercampur sayuran dan kaldu di depannya. Baunya terlalu tajam, pasti rasanya juga sangat ... berbumbu. Berbanding terbalik dengan makanan yang biasa ia ambil di dapur Ne, yang lebih mementingkan asupan kalori dibandingkan rasa.

"Yup. Kau pasti akan menyukainya!"

Diambilnya sepasang sumpit yang telah disediakan Asisten sebelumnya, mengambil sejumput mie yang masih menguap, memasukkannya ke mulut dan—

Puluhan memori meringsek masuk ke kepalanya.

"Jangan sungkan untuk bilang padaku kalau kau merasa lapar, Naruto."

Senyum itu...

"Terima kasih sudah memaafkanku. Akan akan memberimu ramen sepuasnya besok. Jika kau—"

Mata itu...

"Maukah kau tinggal denganku?"

Suara itu...

"Nah, kalau begitu ayo kita pergi, Naruto."

Hangat...

"Iblis keparat! Seharusnya kau membusuk saja di neraka!"

...Sakit...

"—to! Naruto!" Terkesiap, ia nyaris membunuh wanita di sampingnya dengan jarum kayunya, salah satu variasi teknik terbarunya, Mokuton. Namun untungnya otaknya masih sempat memberi sinyal ke tubuhnya untuk menghentikan aksi yang dapat membahayakan misinya itu. Tangannya yang semula terangkat mengarah ke leher Asisten kembali diturunkan.

"Kau tidak apa-apa?" Sepasang mata cokelat milik Asisten memandangnya khawatir.

"...Ya."

"Kau tidak merespon Shizune selama hampir dua menit." Perhatiannya kini beralih ke Hokage yang kini telah berdiri di sampingnya. Mata cokelat madunya menyipit. "Apa yang barusan terjadi?"

"...Ingatan," jawabnya jujur. Tak ada gunanya berbohong di situasi seperti ini.

"...Begitu." Ekspresi sang Hokage tampak melembut. Ia berjengit ketika tangan ramping Hokage menyentuh puncak kepalanya.

Ia tidak suka disentuh.

"Pasti berat bukan, menanggung beban itu sendirian? Begitu pula kami, yang harus melihatmu tersiksa di dalam penjara yang kau bangun sendiri..." Tangan Hokage mulai bergerak tak tentu arah, membuat rambutnya semakin berantakan. "Tidak ada salahnya membuka jeruji itu dan membiarkan kami masuk untuk mengambil yang ada di pundakmu. Karena tidak semua yang ada di luar sana akan menyakitimu." Gerakan di atas kepalanya terhenti. Dilihatnya Hookage tengah menatapnya dengan wajah berhias senyum sendu.

"Kami menyeyangimu, Naruto. Percayalah pada kami."

Ia termenung, menekuri setiap kata yang terucap dari bibir Hokage. Dan tetap saja, tak ada satupun yang bisa dimengerti olehnya. Konsep yang diberikan Hokage begitu asing dan tidak masuk akal baginya.

Ia menanggung beban itu karena memang itu sudah kewajibannya. Satu-satunya alasan bagi dia—jinchuuriki tetap hidup adalah untuk menjadi kuat, yang terkuat agar bisa melindungi Konoha. Itulah yang selalu dikatakan Master padanya.

Menjadi manusia yang dikorbankan, itulah takdirnya.

Ia tidak berniat untuk mendapat belas kasihan orang lain, karena hal itu hanya akan membuatnya goyah dan terjatuh dalam perangkap bernama emosi. Dan satu-satunya cara agar dapat menghindari hal itu adalah dengan tidak mempercayai orang lain. Manusia yang rapuh pasti akan selalu mencari cara untuk bisa mendapatkan sesuatu yang bernama kebahagiaan, meski harus melenyapkan nyawa seseorang sekalipun. Karena itu sulit baginya untuk membayangkan ada manusia yang dengan sukarela mengorbankan dirinya untuk orang lain.

Manusia itu egois. Sudah ratusan kali ia membuktikan fakta itu ketika ia berada di dalam misi, dimana korbannya tak segan-segan mengorbankan bahkan darah dagingnya untuk melindungi nyawa sendiri. Akhirnya, ia lebih memilih untuk menjadi pion yang dikorbankan Master untuk mendapatkan sang ratu.

Tanpa ada pengorbanan yang dilakukan, maka tidak akan ada kebahagiaan. Perdamaian tidak akan ada tanpa ada peperangan. Pelangi tidak akan muncul sebelum adanya hujan. Tak ada yang bisa dicapai jika ia hanya berdiam diri, terbuai oleh kelemahan bernama kizuna. Ia akan tetap berdiri tegak, tak peduli seberapa beratnya itu, tanpa menoleh ke cahaya menyilaukan di ujung sangkar besinya.

Ia terus menatap mata Hokage, menantangnya untuk berargumen tanpa kata. Sebenarnya ia ingin mengatakan bahwa wanita di depannya salah, tapi mulutnya terkunci. Segel yang dipasang Master melarangnya untuk membeberkan hal-hal yang tidak perlu.

Perdebatan sepihak dengan Hokage terpaksa ia akhiri, ketika merasakan puluhan chakra mendekati tempat mereka. ANBU, dan beberapa anggota Ne. Dilihatnya Hokage, Pertapa dan Asisten bergegas keluar ruangan. Raut mereka berubah serius.

'Ada apa?' Ia memberi isyarat tangan pada seorang anggota Ne yang ikut bersembunyi bersama beberapa ANBU.

'Akatsuki. Sarutobi Asuma gugur.'


AN:

Setelah hampir setahun... phew.

Ga ada yang bisa saya ucapkan, kecuali permintaan maaf yang sebesar-besarnya kepada semua yang sudah menunggu cerita ini.

Saya ucapkan terima kasih sebesar-besarnya pada Primara yang sudah setia menyemangati saya buat terus menulis. Chap ini saya persembahkan khusus untukmu, Prim. ^o^

Nah, jika ada kritik, pertanyaan, atau saran, silakan review atau PM.

C ya!