.

Rasa sakit itu lagi. Akhirnya ia tak tahan terus menerus mengacuhkan sinyal darurat dari tubuhnya itu, dan memutuskan untuk melihat penyebabnya.

Diangkatnya jemari kirinya perlahan—dan kedua iris hazelnya melebar sesaat.

Ada sesuatu yang menghilang disana.


Katalis

A SasoSaku (maybe..) fanfiction

Genre: Drama/Hurt/Comfort

Rate: T

Naruto © Masashi Kishimoto

Warning: Setting canon yang dimodifikasi, OOC (mungkin), romance gagal.


Iris plum milik gadis berambut merah muda itu terlihat menerawang sesaat, seakan tengah memikirkan sesuatu.

"Ya..sewaktu sedang bertarung dengannya, aku sampai merasa kalau yang tengah kuhadapi itu bukanlah seorang manusia," ia memberi jeda sesaat.

"—melainkan..lebih menyerupai sesosok mesin pembunuh yang hidup."

Temari terdiam. Sesaat, hening yang ganjil melingkupi ruangan itu.

"Sepertinya..memang tidak bisa.." gumam kakak sang Kazekage itu perlahan, seakan lebih seperti berbicara ke dirinya sendiri. Sakura mengangkat alis heran.

"Ehm..," ia memberi jeda sesaat, seakan ragu untuk mengatakan hal yang ada di pikirannya. "Apanya yang tidak bisa, kalau aku boleh tahu?"

Temari memandangi Sakura dengan ekspresi serius, sebelum kemudian meraih cangkir di depannya untuk menyeruput teh miliknya. Beberapa saat kemudian, ditaruhnya lagi cangkir itu ke meja—lalu menjawab pertanyaan gadis berambut merah muda itu barusan.

"Sepertinya..untuk mendapatkan informasi darinya itu memang tak mungkin. Gaara sudah melakukan berbagai teknik interogasi—bahkan yang agak brutal sekalipun—tapi ia tetap bungkam. Mungkin, lebih baik ia langsung dibunuh saja begitu ditangkap waktu itu." Kata Temari serius. Kedua alisnya bertaut, seakan mengesankan sesuatu yang rumit yang tengah dipikirkannya.

Sakura tercekat.

"..lebih baik bila ia langsung dibunuh saja begitu kita menemukan tubuhnya waktu itu, kan?"

Kata-kata yang terucap barusan dari sang kakak Kazekage itu sukses membuat gadis berambut merah muda itu terdiam. Dibunuh?

Di seberang meja, Temari masih tetap tenang, seakan menunggu balasan dari Sakura. Jeda yang panjang mengisi ruang tamu itu.

Dibunuh..? Bukankah..setiap orang berhak mendapatkan kesempatan kedua?

Gadis berambut merah muda itu segera menggelengkan kepalanya, berusaha mengusir perasaan sesak yang mendadak membuncah di dadanya. Mengapa ia merasa seperti ini? Seharusnya ia tak peduli—seharusnya ia tak ambil pusing. Bagaimanapun, Akasuna no Sasori adalah seorang kriminal kelas berat. Mantan Akatsuki.

Pengkhianat Sunagakure.

"Ada apa, Sakura? Kau kelihatan agak pucat," kata Temari heran. Sakura segera tersentak dari lamunan setengah sadarnya, dan kembali fokus pada dialog itu.

"Tidak apa-apa, Temari."balas Sakura cepat, sambil memaksakan seulas senyum. Kakak Kazekage itu terlihat sedikit bingung sesaat, tapi sejurus kemudian ekspresi wajahnya menjadi tenang seperti biasa lagi.

"Hm,..kau ada ide tentang hal yang merepotkan ini, Sakura?" gumam gadis berambut pirang itu seraya mengetuk-ngetukkan jari telunjuknya ke meja, seakan tengah berpikir keras. "Aku tidak begitu pandai dalam hal memikirkan strategi, cih.." sambungnya samar, seakan lebih ditujukan ke dirinya sendiri.

Gadis berambut harummanis itu tercenung. Strategi? Kalau seandainya saja kakak Kazekage itu menanyakan tentang hal yang berhubungan dengan medis dan semacamnya, pasti ia langsung bisa memberikan usul dengan cepat. Tapi..strategi?

Seandainya saja ia secerdik dan selihai Shikamaru dalam hal membaca situasi. Sayangnya, sepertinya ia tak terlalu memiliki kemampuan itu..

'Bagaimana sih, kau itu kan seorang shinobi, Sakura..' Inner-nya mulai memanas-manasinya di dalam hati. Sakura mengernyitkan keningnya, mencoba untuk memfokuskan konsentrasinya ke hal yang tengah dihadapinya sekarang.

Strategi..?

Mendadak Sakura terpikir akan sesuatu.

"Ehm..aku tak tahu apakah hal ini akan berhasil atau tidak," katanya agak ragu setelah hening beberapa saat, "kurasa..metode interogasi memang tak berpengaruh sama sekali baginya. Tak akan mempan."

Hening sesaat. Antusiasme dan penasaran yang tersurat jelas membayang di kedua iris milik sang kakak Kazekage itu.

"Apa karena ia mempunyai jutsu tertentu yang membuatnya kebal terhadap rasa sakit, sehingga metode interogasi yang digunakan Gaara tidak berpengaruh?"

Sakura memandangi gadis berambut pirang di depannya itu lekat-lekat. "Bukan," katanya sambil menggelengkan kepala, "tidak ada jutsu yang seperti itu di dunia ini. Ia tetap merasakan sakit dan luka-luka yang diterimanya di sekujur tubuhnya, hanya saja.."

Jeda sesaat.

"—hanya saja..ia tak memedulikannya. Sehingga terlihat seakan ia memiliki toleransi yang luar biasa terhadap rasa sakit itu, padahal badannya mungkin telah mencapai batasnya."

Kedua iris hitam milik Temari membulat sekilas, seakan tak menduga fakta yang didengarnya barusan.

"Begitukah..? Tapi, Sakura, metode interogasi yang digunakan Gaara memang benar-benar keras, mustahil kalau ia bisa tak terpengaruh sedikitpun sampai seperti itu.." Temari terdiam sesaat. "Seakan..terlihat seperti dia tak memiliki emosi sama sekali. Mungkin—untuk orang seperti dia, emosi yang dimilikinya sudah terganggu."

Gadis berambut merah muda itu menggeleng. "Tidak," sanggahnya tenang, "tak ada yang salah dengan emosinya. Ia tetap memiliki emosi yang sama—seperti kita."

Sorot heran yang tergambar di kedua iris milik kakak Kazekage itu sudah menjelaskan segalanya. "Tapi, Sakura, bagiku, sulit untuk memercayai bahwa kriminal seperti dia memiliki perasaan—hati yang seperti kita. Entahlah, aku tak begitu pandai dalam masalah seperti ini," gadis berambut pirang itu mengatakan pendapatnya seraya mengangkat bahu sedikit. Ekspresi mukanya yang tegas—menjadi terlihat lebih serius dari biasanya.

"Ia memang memiliki emosi, sama seperti kita dan orang lain, Temari, hanya saja.."

Ekspresi penasaran yang tersurat melintasi wajak gadis berambut pirang itu. "Hanya saja apa, Sakura?"

"Hanya saja..ia memilih untuk tak menunjukannya."


.

"Hanya saja..ia memilih untuk tak menunjukannya."

Hening yang ganjil segera melingkupi ruang tamu itu, begitu Sakura selesai menyelesaikan kata-katanya.

"Darimana..kau tahu?" tanya Temari sambil mengangkat alis, seakan heran.

Gadis berambut merah muda itu terdiam. Mendadak perasaan canggung yang samar melintas di hatinya. 'Darimana aku tahu..? Apakah aneh kalau kubilang kalau aku mendapatkan informasi itu dari orangnya sendiri?'

Sakura menghela napas.

"Ia sendiri yang bilang begitu padaku."

.

Kali ini, ekspresi setengah takjub dan tak percaya terang-terangan tergambar di wajah gadis berambut pirang itu.

"Benarkah?"

Gadis berambut merah muda itu memberikan anggukan kecil sebagai respon.

"Aneh sekali. Waktu diinterogasi kemarin, Gaara bilang ia tak mengatakan apa-apa yang berhubungan dengan dirinya—informasi pun tidak. Tapi kalau ia sampai memberitahu hal yang berhubungan dengan perasaan, untuk orang yang begitu tertutup seperti dia itu.."

Temari memberi jeda sesaat. Diraihnya cangkir teh di depannya, sebelum menghirup isinya yang tinggal setengah sampai habis.

"Sepertinya ia lebih terbuka kepadamu, Sakura."

.

Kali ini, iris plum milik gadis berambut harummanis itu sukses membulat penuh mendengar kata-kata dari kakak sang Kazekage itu barusan.


"Haruno-san." Kedua Anbu yang berjaga di depan pintu sel itu membungkuk hormat kepada Sakura yang baru tiba dengan diantar dua Anbu lain—untuk menjalankan tugasnya seperti biasa. Memeriksa kondisi sang mantan buronan yang berada di balik sel itu. Sakura tersenyum sopan sebagai balasan, sebelum melangkah memasuki ruang sel redup itu, yang telah dibuka kuncinya oleh Anbu yang berjaga tadi.

Bau lembab yang tersurat jelas segera menyambut Sakura. Sorot mata milik gadis berambut merah muda itu segera menangkap sosok berambut merah yang dicarinya—yang tengah duduk bersandar di sudut gelap sel itu. Kepalanya yang setengah tertunduk dengan helai-helai merah acak-acakan yang melintasi dahinya, membuat wajahnya tak terlalu terlihat jelas.

"Sasori, bagaimana kondisi Anda?" Sakura berusaha berbasa-basi sebentar, sambil tersenyum ramah untuk memecah kekakuan yang kini terlintas. Tak terlihat adanya tanda-tanda respon dari orang yang berada di depannya, sebelum kemudian kepala berambut merah itu terangkat perlahan.

iris hazel itu memandangi sang ninja medis di depannya lekat-lekat. Sejurus kemudian, kilatan sinis yang samar membayang di kedua bola cokelat yang terkesan hampa itu.

"Hentikan segala basa-basi tak penting itu, dan cepat selesaikan urusanmu disini. Jangan membuang-buang waktuku."

Gadis berambut merah muda itu tersentak mendengar kata-kata tajam yang diucapkan dengan nada datar itu barusan. Ia merasa—sedikit sakit dan tersinggung.

Tersinggung?

'Sudahlah Sakura, jangan dimasukan ke hati. Tak ada gunanya meladeni orang dingin seperti itu.' Inner-nya segera berbisik menenangkan dalam hati. Cih, sepertinya ia jadi gampang terbawa perasaan kali ini. Tunggu sebentar—bukankah dari dulu sifatnya memang sudah begitu?

Sakura tertawa kecil dalam hati, merasa geli akan pikirannya barusan.

"Sepertinya..kau ini memang hobi bermulut tajam, ya," gumam gadis berambut merah muda itu pelan seraya membuka kotak obat di depannya. Tapi rupanya sang tahanan yang berada di hadapan gadis itu mendengar kata-katanya tadi.

"Fufu, aku setuju dengan kata-katamu barusan, bocah." Sudut bibir milik tahanan berambut merah itu terangkat sedikit, membentuk sebuah seringai tipis. Sakura tersentak sesaat, tak menyangka kata-katanya tadi terdengar oleh orang yang di depannya itu. Entah kenapa, wajahnya terasa agak panas.

'Heh..?' gumam Inner-nya dalam hati, merasa canggung sekilas. Tapi segera diusirnya perasaan itu dari hatinya, dan kembali fokus ke tugasnya—memastikan bahwa kondisi 'pasien' di depannya itu dalam keadaan baik-baik saja. Heh, mustahil juga kalau mendapatkan interogasi rutin dengan orang semacam Gaara masih bisa masuk dalam kategori 'baik-baik'.

Ketika Sakura sedang sibuk mengeluarkan kapas dan alat-alat lain yang diperlukan untuk berjaga-jaga kalau tahanan di depannya itu mendapatkan luka serius lagi, suara Anbu di depan yang memanggil memecah konsentrasinya dari kesibukannya barusan.

"Haruno-san? Kami mendapatkan tugas untuk memberikan sesuatu kepadamu, kemarilah sebentar."

Ninja medis berambut merah muda itu segera menghentikan kegiatannya, dan berjalan ke depan untuk menghampiri Anbu tersebut setelah memberi lirikan sekilas kepada 'pasien' berambut merahnya.

"Ini," salah seorang dari Anbu itu menyerahkan sebuah kantong kecil di tangannya kepada Sakura. "Kami disuruh untuk memberikannya kepadamu."

Sakura menerima bungkusan kecil seukuran telapak tangan itu, sebelum terdiam sesaat. "Apa ini, Anbu-san?"

"Milik Akasuna no Sasori. Anda bisa membukanya di dalam," kata Anbu itu singkat. Gadis berambut merah muda itu memberikan anggukan kecil sekilas sebagai respon, meskipun dalam hati ia agak penasaran.

"Terima kasih," kata Sakura sopan, sebelum kembali masuk ke dalam sel itu untuk melanjutkan tugasnya yang tadi tertunda. Ia kembali ke posisinya di dekat sang tahanan itu tadi, sebelum membuka kantong kecil yang diterimanya barusan untuk melihat isinya. Kedua iris hazel milik sosok berambut merah itu mengawasi segala gerak-geriknya dalam diam—namun Sakura berpura-pura tak acuh.

Sejurus kemudian, ia tercekat begitu melihat lima benda tipis berwarna putih kemerahan pucat yang kecil, isi dari kantong itu. Ini..

Interogasi itu sepertinya benar-benar keterlaluan.


"Sasori, kemarikan tanganmu," kata Sakura cepat. Iris hazel itu memandangi gadis berambut merah muda di depannya yang kelihatan agak kesal—entah karena apa—dengan sorot tanpa ekspresi. Ia menyodorkan tangan kanannya ke arah gadis itu perlahan.

Sakura memandangi tangan di hadapannya, sebelum menggelengkan cepat. "Bukan, tanganmu yang satunya lagi."

Kali ini, sang tahanan di depannya tak memberikan respon.

"Jangan terlalu keras kepala, Sasori," kata gadis berambut merah muda itu tak sabar, sebelum meraih pergelangan tangan kiri sang tahanan di depannya itu dengan paksa. Sasori berjengit sedikit—meski wajahnya tak menunjukkan ekspresi apa-apa.

Sakura tercekat. Kelima jemari itu..tak ada kuku yang melekat disana. Bagian tempat kuku seharusnya berada itu kini sepenuhnya terbuka, menampakkan sebentuk daging kemerahan yang terlihat jelas tanpa pelindung.

Tak salah lagi, interogasi itu sepertinya memang benar-benar keterlaluan.

"Siapa yang melakukan ini?" tanya Sakura dengan nada tajam yang tak ditutup-tutupi. Iris hazel itu menerawang sesaat, namun tetap tak menunjukkan ekspresi apapun.

"Bukankah kau sudah tahu, bocah," jawabnya singkat. "Biarkan saja."

Sakura memandangi tahanan di depannya itu, sebelum kemudian menghela napas panjang beberapa kali, berusaha menenangkan dirinya yang tadi terbawa emosi. 'Heh, seharusnya aku tak perlu sampai kesal seperti ini, dia itu kan tahanan, kriminal kelas berat, Sakura—biarkan saja ia mendapatkannya' sebuah suara bergumam di kepala Sakura. Namun tetap saja—entah kenapa ia tak bisa membohongi perasaannya.

Ia peduli pada sang tahanan berambut merah itu.

Sakura menghela napas panjang sekali lagi. Pandangan iris plum itu kemudian beralih ke lima benda keras berwarna putih kemerahan yang tadi dikeluarkannya dari kantong kecil itu, lalu menaruhnya ke sebuah wadah steril. Ia menuangkan cairan alkohol ke dalam wadah itu, sehingga kelima benda tipis tadi terendam—memastikan bahwa bakteri atau kotoran yang melekat di benda berwarna putih kemerahan tadi tersingkirkan dan menjadi steril.

Selang beberapa menit kemudian, diangkatnya kelima benda tadi, dan dikeringkannya dengan sebuah kain pembersih dari dalam tas medisnya. Diraihnya tangan kiri sang tahanan itu dengan satu gerakan cepat—namun berhati-hati, dan ia mengambil beberapa perlengkapan operasi kecil dari dalam kotak di sampingnya.

Sosok berambut merah itu memandangi sang ninja medis berambut merah muda yang tengah sibuk dengan perlengkapan medisnya itu dengan alis terangkat—namun ia tak melakukan apa-apa.

Setelah memastikan bahwa semuanya telah siap, Sakura memandangi tahanan di depannya itu lekat-lekat. Iris plum bertemu iris hazel yang menatap hampa. Pinset tergenggam di tangan kanan milik ninja medis berambut merah muda itu—yang kini telah berlapis sarung tangan putih.

"Ini mungkin akan terasa sangat sakit," Sakura memberitahu perlahan, "namun bersabarlah. Aku memastikan kalau ini tak akan butuh waktu terlalu lama."


Setengah jam telah berlalu. Operasi kecil itu hampir selesai—tinggal menyelesaikan balutan perban di jari kelingking milik sang 'pasien' berambut merah itu.

"Fuuh, selesai," Sakura memandangi simpul ikatan yang dibuatnya, sebelum mengecek hasil pekerjaannya sekali lagi. Ia mengangguk puas setelah memastikan kalau semuanya berjalan lancar sesuai perkiraannya.

"Jangan sekali-kali membuka perbannya, atau merusak simpul ikatan yang kubuat."gadis berambut merah muda itu mewanti-wanti dengan ekspresi tegas. "Besok akan kuganti. Aku akan melepas perban itu setelah beberapa hari—butuh waktu untuk memastikan bahwa kuku tadi benar-benar..melekat kembali di jaringan epidermis di jarimu.

Sang tahanan berambut merah itu memandangi gadis di depannya sambil memiringkan kepala sedikit, sebelum kemudian pandangannya beralih ke jari-jari tangan kirinya yang kini telah terbalut perban rapi—dan kembali ke gadis berambut merah muda itu. Sebuah lengkungan tipis yang hampir tak terlihat melintas di bibir pucatnya.

"T'rima..kasih."

.

Sakura terpana. Kedua iris plumnya membulat sempurna—sepenuhnya tak percaya akan gumaman samar hampir serupa bisikan yang didengarnya tadi.

'Tak mungkin..aku pasti salah dengar—'


.

.

Bersambung…

.

Catatan Penulis: Chapter 11, update. Semoga menikmati ya. Maaf chapter ini update-nya lama, lagi banyak tugas minggu-minggu ini. o_o #melototin soal trigonometri

Terima kasih kepada akasuna no ei-chan, Moku-Chan, sasa-hime, Just Ana, Sherry Hoshie Kanada, Tsurugi De Lelouch, miikodesu, Ai Tanaka, SparkSomniA0321, poetry-fuwa, Mizuira Kumiko, Rieki Kikkawa, taintedIris (terima kasih banyak untuk concrit-nya, Iris-san! ^^), Lily cherry blossom luphlee scorpius, dan Aikawa Jasumin yang sudah mereview chapter kemarin. Terima kasih banyak untuk dukungan kalian, semoga kalian menikmati chapter kali ini. :D

Terima kasih juga bagi semua pembaca yang sudah menantikan kelanjutan cerita ini. 0_0*terharu* #ambil tisu


Catatan tambahan:

Kyaa~ ternyata pada ulang tahun Sasori tanggal 8 November kemarin, ada yang membuat side-story untuk Katalis, lho. Terima kasih kepada taintedIris-san. ^^ Berikut ini rinciannya..

Judul : Delapan November

Setting : Katalis - chapter 5

Author : taintedIris

.

Oh ya, satu lagi..bagi teman-teman para penggemar SasoSaku sekalian *SKSD*, bulan November ini diadakan event SasoSaku yang bernama "Black and White Remembance". Bentuk event ini adalah Fanfiction Challenge. Jangan lupa ikutan ya~ :D *ngibarin bendera*#plak

Untuk info lebih lanjut, silakan buka akun FFnet "Black and White Remembrance", atau PM ke salah satu dari panitia ( Uchiha Yuki-chan, taintedIris, Chilla, dan Zoccshan ).

Partisipasi teman-teman sangat diharapkan pada event ini. ^^ Ayo, ramaikan fanfiksi SasoSaku di FNI~


Terima kasih sudah membaca. Kritik atau komentar, jika berkenan? :)