Judul : The legend of prince wind

Chapter 11 :

Author : KyuuGa C'orangan SaWaH

Disclsimer : Naruto punya om Masashi ^_^

Rate : T+

Genre : fantasy, adventure, hurt and romance.

Pairing : SasuSaku.

Summary: akibat melemahnya segel, bagian dari diri Madara akhirnya keluar. Tepat saat Sasuke menemukan identiasnya sebagai elf api. Dan dia akhirnya pun telah memilih jalannya. Sementara itu, Hinata. Apa yang terjadi padanya paska serangan senja itu? Akankah Hinata selamat?

Perlahan hari malam kian gelap, menghantarkan bulan ke tempat tertinggi mencoba menyinari sudut hutan terlarang yang porak poranda. Hanya dalam sekejap sebagian dari hutan terlarang hancur berantakan hanya dengan satu serangan, pemandangan yang mengerikan yang terlihat saat beberapa pintogram dan kepulan asap bermunculan di lokasi ledakan.

"Ini, ini sungguh luar biasa! Serangan yang dasyat! Siapa yang melakukan ini?" tanya pemuda bertato taring seraya turun dari punggung anjingputihnya kemudian berjalan menyusuri bekas ledakan.

"Ini pasti bukan perbuatan akatsuki!" tambah pemuda berkaca mata ternganga melihat apa yang ada di depannya.

"Ini adalah serangan biju dama kyuubi," sahut pemuda bereyeliner menanggapi petanyaan teman-temannya.

"Kyuubi?" tanya pemuda lain terlihat tak percaya, karena setahunya kyuubi itu sudah lama mati.

"Yah, apa yang dikatakan Gaara itu benar. Aku sendiri nyaris terkena serangan itu," sahut pemuda besurai nenas yang baru saja muncul entah dari mana, pakaiannya terkoyak memperlihatkan luka bakar di beberapa bagian tubuhnya.

"Shikamaru! Apa yang terjadi padamu?" tanya Kiba terkejut melihat kondisi Shikamaru.

"Bom itu mengenaiku sesaat sebelum aku hilang," jelas Shikamaru, mengingat dia berada sangat dekat dengan kyuubi, dan itu membuat dia yang pertama mendapatkan serangan itu.

"Kalian jangan bercanda, itu tidak mungkin!" pemuda berkulit pucat aka Sai tetap tidak percaya dengan apa yang dikatakan Shikamaru.

"Aku sendiri pun tidak yakin," sahut Shikamaru yang juga bingung dengan situasi mereka. "Yang pastinya kyuubi kini telah muncul, kita semakin dekat dengan kebangkitannya," lanjut Shikamaru membuat rekan-rekannya menegang.

"Yah, kutukan Madara. Sungguh mengerikan jika dia hidup kembali, apa kita bisa menghadapinya? Konon katanya dia memiliki kekuatan empat elemen alam, apa itu benar?" entah pada siapa Kiba bertanya, karena semua rekan-rekannya saling diam dengan presepsi mereka masing-masing.

Lama, cukup lama mereka terdiam.

"Misi kita belum selesai, kita belum menemukan dua pewaris elemen alam yang hilang," ucap Shikamaru menatap lurus jauh ke depannya. "Jika ke empat elemen alam bersatu, kemungkinan kita bisa menghentikan kebangkitan Madara. Menemukan mereka yang hilang satu-satunya harapan kita," lanjut Shikamaru kembali memaparkan pandangannya pada rekan-rekannya.

Mendengar ucapan Shikamaru membuat Gaara tersentak, dia seperti baru menyadari sesuatu. Raut wajahya seketika berubah tegang dan kemudian ketakutan.

"Ada apa Gaara?" tanya Sai yang menyadari ekspresi Gaara yang langka itu.

"Aku, aku merasakan keberadaan Hinata semakin jauh dan perlahan menghilang!" suara Gaara bergetar saat mengatakan apa yang dia rasakan.

"Apa?"

"Apa maksudmu Gaara?!"

"Hinata? Tidak mungkin!"

"Bahkan keberadaan Neji pun tak ku rasakan sama sekali!"

"Mungkinkah mereka telah mendapatkan Hinata?"

Semua terdiam, tidak ada yang tahu keadaan Neji sekarang atau dimana dia berada sekarang, hingga suara Ino terdengar memamanggil mereka.

"Semua, kemari lihat ini!" panggil Ino.

"Ada apa Ino?" tanya Shikamaru.

"Sihir Sakura telah hancur! Dan disini, ada seseorang selain Sakura," jawab Ino dari tempat dia berada.

"Ayo, kita kesana!"

"Siapa dia?"

"Entahlah, dia terlihat sangat mencurigakan."

"Tapi wajahnya sangat tampan."

"Ini patut di curigai."

"Apa kau bisa merasakan aura yang dia miliki, Gaara?"

"Tidak, aku tidak merasakan adanya aura manusia dari dirinya."

Readers tentukan sendiri milik siapa-siapa percakapan di atas, yang jelas mereka berenam lumayan terkejut melihat Sakura di peluk oleh orang yang tidak mereka kenal sama sekali.

"Dia adalah Sasuke," suara Kakashi mengagetkan mereka dari acara analisa mereka tentang pemandangan di depan mereka.

"Sasuke? siapa dia?" tanya Shikamaru seraya berjalan mendekati Kakashi yang tengah mendekati mereka dengan langkah tertatih-tatih.

"Dia adalah salah satu dari keturunan elf api yang murni," terang Kakashi seraya menerima bantuan Shikamaru yang memapahnya mendekati mereka dan kemudian mendudukannya di salah satu dahan yang patah.

"Elf api murni?"

"Dia adalah keturunan terakhir Madara, dan dialah yang membawa segel kutukan yang akan melepaskan Madara," cerita Kakashi membuat mereka yang dengar tercengang.

"Ja, jadi cerita dalam legenda itu akan terjadi kembali? Pembawa segel dan kyuubi sekarang telah muncul, bukankah ini pertanda buruk?! Mana kita kehilangan satu pewaris elemen alam, dan tidak ada yang tahu dimana dua pewaris elemen yang lain!" suara Kiba terdengar bergetar.

"Situasinya semakin rumit, kita tidak boleh kehilangan Sasuke atau pun kyuubi," ucap Shikamaru seraya menoreh ke tempat dimana Naruto terbaring tak sadarkan diri.

….

Gelap, sunyi dan dingin. Sungguh perasaan ini sangat menyesakan dada, membuat paru-paru serasa menyempit. Entah mengapa tubuhnya tiba–tiba terasa mati dan sulit untuk di gerakan, apa yang sebenarnya yang terjadi? Dimana ini? tempat apa ini?

"Sasuke, ikutlah dengan ku. Aku akan membebaskanmu dari segel kutukan itu."

Suara itu, bukankah itu suara Itachi?

"Nii-san!" suara erangan Sasuke terdengar menggema di udara kosong dalam kegelapan.

"Kau tahu, kaa-san dan tou-san tidak meninggal dalam kecelakaan pesawat. Tapi kaulah yang membunuh mereka," lagi, suara Itachi terdengar menggelegar dalam ruang pendengarannya, mengucapkan kata-kata yang membuat dia semakin terpuruk.

"Hentikan! Aku bukan pembunuh! Bukan aku yang membunuh mereka!" teriak Sasuke mencoba mengusir suara Itachi yang terus berputar dalam otaknya.

"Terimalah kenyatan ini, Sasuke. Terimalah jika kau memang seorang pembunuh."

"Didalam dirimu ada kekuatan yang sangat besar, kekuatan yang selama ribuan tahun terkurung besama matahari. Kekuatan mu itulah yang telah mengancurkan keluarga kita."

"Aku tidak meminta kekuatan ini, dan aku tidak menginginaknnya. Aku pun tidak ingin dilahirkan membawa kutukan ini!" suara Sasuke perlahan terdengar pelan, hanya suara isakan pelan yang terdengar dari dalam kegelapan yang sepi dan dingin.

"Aku akan menawarkan sesuatu padamu. Kebebasan, ikutlah dengan ku. Aku berjanji akan membebaskanmu dari segel kutukan itu."

Seketika cahaya putih kebiruan mencuat keluar dari dalam kegelapan di depannya, perlahan cahaya biru itu membesar dan bergerak mendekatinya.

"Ikutlah denganku, hanya aku yang bisa membebaskanmu dari segel kutukan itu," sebuah suara terdengar dari balik cahaya putih kebiruan itu.

"Aku akan menuntunmu untuk menemuiku, kau hanya perlu mengikuti apa kata hatimu."

Sasuke terbelak kaget begitu cahaya putih kebiruan itu tiba-tiba terserap masuk kedalam tubuhnya menciptakan sensai panas yang membakar seluruh tubuhnya.

"Akh!"

Sasuke tersentak bangun dari pingsannya saat dia merasakan tubuhnya serasa terbakar, benar saja karena seluruh tubuhnya terasa sakit dan panas.

"Sasuke, kau sudah sadar?"

Suara itu? Sakura? Dia masih hidup?

"Sa, Sakura?"

Sakura tersenyum bahagia saat dia mendengar Sasuke menyebut namanya dengan nada cemas, sontak wajahnya sedikit memerah.

"Apa yang terjadi? Dan siapa mereka?" tanya Sasuke saat dia melihat sekelilingnya hancur terbakar, di tambah lagi muncul beberapa orang yang tidak dia kenal.

Merasa di sebutkan dalam pertanyaan itu, ke enam orang yang dimaksud langsung menatap intens pada Sasuke yang masih dalam mode bingung.

"Mereka teman-temanku, kami sama-sama bangsa elf," jelas Sakura seraya memperkenalkan ke enam temannya pada Sasuke.

Sasuke terlihat serius memperhatikan Sakura yang sibuk memperkenalkan keenam teman-temannya yang rata-rata lebih besar dari dirinya secara fisik, apa ini tidak salah? Dia berteman dengan orang-orang dewasa ini? Pantas saja dia bertingkah seolah dia telah dewasa, karena inilah penyebabnya. Sekiranya itulah yang Sasuke pikirkan saat dia melihat Sakura yang tertawa lepas bersama teman-temannya.

Dia tinggalkan sebentar Sakura yang masih sibuk bercerita tentang kebiasan teman pirangnya itu. jujur, hal itu sedikit membuat Sasuke bosan karena itu sama sekali tidak menarik buatnya. Dia alihakan pandangannya pada sosok naruto yang masih terbaring tak sadarkan diri dengan beberapa luka bakar di tubuhnya.

"Bukankah ini adalah tujuanku? Tujuan ku untuk masuk kedalam hutan terlarang? Sekarang aku sudah bertemu para elf yang sungguh di luar dugaan ku, ternyata mereka sama seperti manusia lainnya, atau kecuali mereka saat ini sedang menyamar."

Sasuke tersenyum lucu, dia membayangkan sosok asli Sakura yang nota benenya adalah seorang elf. Dia membayangkan sosok asli Sakura adalah mahluk dengan kulit berwarna hijau seperti Hulk dalam serial tv.

"Sekarang aku sudah bertemu mereka, tidak penting seperti apa wujud asli mereka. Aku tidak peduli. Yang penting sekarang aku sudah tahu bagaimana melepaskan segel ini."

"Sasuke, kau tak mendengarku?" Sasuke terbelak kaget dari dunia pikirannya begitu dia mendengar suara lembut Sakura menyapa pendengarannya dan sentuhan hangat Sakura menyedarkannya dengan apa yang dia lakukan.

"Sakura, apa kau yakin dia baik-baik saja. Sejak tadi dia hanya senyam senyum gak jelas sendirian," Kiba mulai kesal, dia merasa tidak menyukai keberadaan Sasuke.

"Maaf, aku harus pergi," kata Sasuke seraya beranjak berdiri, setelah merapikan celanannya dia mulai bergerak melangkah pergi.

"Tunggu, kau mau kemana?" pertanyaan Shikamaru seketika menahan langkah Sasuke.

"Aku ingin memenuhi panggilan alam," jawab Sasuke tenang tanpa menoreh pada Shikamaru atau yang lain, dia terus melangkah meninggalkan kerumunan itu.

"Shino, ikuti dia," perintah Shikamaru dan di susul anggukan pelan dari Shino.

Sai melihat Shino mulai bergerak menyusuli Sasuke yang kian menjauh, ada sesuatu yang membuat dia terlihat tidak tenang. Namun dia masih kurang yakin dengan apa yang dia pikirkan, Sai masih terdiam memantapkan apa yang dia pikirkan.

"Sasuke adalah elf api murni. Itu artinya dia adalah keturnunan langsung dari Madara yang kemungkinan selamat dari pembantaian 2500 tahun yang lalu?" tanya Sai setelah cukup lama dia terdiam wajahnya sedikit menegang.

"Yah, aku juga berpikir begitu sesuai dengan apa yang diceritakan Kakashi-san," terang Ino yang juga merasakan hal yang sama.

"Aku tak menyangka ternyata ada yang selamat dari pembantaian elf api, dan siapa sangka kita akan bertemu dengannya," tambah Gaara.

"Sebenarnya dia tidak tahu jika dia adalah ketunan dari elf api murni, yang dia tahu dia hanya manusia biasa yang kebetulan lahir dengan membawa segel kutukan itu," jelas Shikamaru membuat yang lain manggut-manggut dengan mulut mengerucut tanda mengerti.

"Semua ini terasa lucu, kyuubi dan segel kutukan sudah bertemu dan bahkan telah bersama dalam waktu yang lama. Tapi mereka sama sekali tidak menyadari potensi mereka," seru Kiba merasa bingung sekaligus ketakutan karena yang dia tahu jika segel kutukan dan kyuubi bersatu maka kekuatan mereka tak terkalahkan.

"Yang bisa mengendalikan kyuubi hanya keturnan murni dari elf api yang memiliki mata sharingan,dan Sasuke tidak tahu potensinya sebagai elf api," jelas Shikamaru seraya menguap lebar.

"Seandainya dia tahu potensinya itu, dia mungkin sudah membalaskan dendam bangsanya," tebak kiba bergidik ngeri.

"Semoga saja, dia tidak pernah tahu meski itu kemungkinannya kecil," harap Sai.

"Jika saja kita menemukan pewaris elemen angin, semua pasti lebih muda. Jika Sasuke tahu indentitas dirinya atau pun dia berhasil mengendalikan kyuubi, yang bisa menghentikannya hanya pewaris elemen angin, seperti yang ceritakan dalam sejarah Konoha," tambah Shikamaru seraya kembali menguap.

"Bertransformasi menjadi tubuh manusia membuat ku lebih cepat capek," lanjut Shikamaru. Sementara yang lain juga merasakan hal yang sama dengan Shikamaru, satu-satu dai mereka perlahan mulai menguap. Kecuali Sakura yang sedari terlihat cemas, sesekali dia meremas jemari mungilnya seraya menoreh ke arah yang di lewati Sasuke dan Shino.

"Kau kenapa, Sakura?" tanya Ino yang merasa terganggu dengan sikap Sakura.

"Mengapa mereka lama sekali? Aku aka pergi mengecek mereka," balas Sakura seraya berlari kearah yang di lewati Sasuke tanpa peduli pada Ino yang terbengong-bengong.

"Sa—," sayang Ino terlambat, karena Sakura begitu cepat menghilang dalam reruntuhan pohon-pohon dengan tubuh mungilny itu.

…..

Angin bertiup pelan menerbangkan dedunan yang terbakar ke langit malam yang berbintang, bulan yang berteger di langit malam seakan membisu melihat kobaran api yang meliuk-liuk diantara dahan-dahan pohon yang terbakar.

Di tengah bayangan pohon-pohon yang menyembunyikan cahaya bulan, berdiri sosok dengan tinju yang terkepal dengan api yang menyala memenuhi kedua kepalan tangannya. Perlahan api yang berkobar itu bergerak tertiup angin dan menerangi wajah sosok yang tengah menahan suara geraman.

Iris merah dengan tiga tanda koma yang bergerak cepat terlihat menyala dalam bayangan surai hitamnya.

Tatapan penuh amarah itu menatap tajam pada sosok yang terbaring dengan luka bakar di perutnya. Sosok itu terlihat tak bergerak sama sekali, seolah dia telah kehilangan kesadarannya atau dia memang dia benar-benar sudah mati.

Seulas seringai mengembang di wajah putihnya, menemani iris merahnya menambah kesan menakutkan pada sosok itu. siapa kah dia? apa yang dia lakukan di tengah hutan seperti ini?

Suara derap langkah terdengar cepat mendekati ke arah sosok itu, iris merahnya sontak menoreh pada sosok gadis kecil dengan surai pink sebahu yang tiba-tiba berhenti tak jauh darinya. Iris emerald gadis itu terihat bergetar, memperlihatkan ekspresi antara kaget, tak percaya, dan takut menyatu dalam satu tatapan.

"Sa, Sasuke?!"

Sungguh, walau hanya untuk menyebut namanya saja terasa bagai menelan sejuta paku. Terasa sulit dan sakit. Sementara sosok dengan iris merah dan api yang yang terus menyala dalam kepalan tangannya bergerak mendekati gadis pink itu, lama semakin dekat.

"Sakura," suaranya terdengar pelan, namun ada kegelapan yang tersirat disana. "Apa benar aku adalah seorang elf? Sama sepertimu?" Sakura terecengang medengar pertanyaan sosok itu yang ternyata adalah Sasuke.

"Sa, Sasuke," otak Sakura seakan mati, tak mampu berpikir dengan tenang atau sekedar menanggapi pertanyaan Sasuke yang sangat mudah untuk di jawab itu. semua serasa kosong.

"Mengapa seluruh elf api dibantai? Apa yang sebenarnya terjadi?" lagi Sasuke memberikan pertanyaan yang sangat sulit dan bahkan tidak mungkin untuk jelaskan oleh Sakura.

Sakura mencoba menelan ludahnya yang mungkin sudah seliter di tenggorokannya, akibatnya membuat dia terasa sulit untuk bernapas apa lagi untuk bicara. Sungguh, sosok Sasuke saat ini sangat berbeda dari yang dia tahu, ini bukan seperti Sasuke yang diam-diam dia sukai.

"Semua tidak seperti apa yang kamu pikirkan."

"Aku tahu, kau tidak akan memberitahuku. Kamu hanya seorang anak kecil yang sok dewasa, dan tentu saja kamu tidak tahu apa yang terjadi kan?"

Entah mengapa tekanan suara Sasuke seakan memakukan seluruh sendi-sendi di tubuh Sakura hingga dia tak mampu berbuat apa-apa, apa lagi saat dia melihat mata Sasuke. mata khas dari elf api murni.

"Baiklah, jika kau tidak ingin memberitahuku. Aku akan yang pergi mencari tahunya sendiri di tempat yang seharusnya," kata Sasuke mulai pelan, tekanan suaranya pun mulai normal. Perlahan api di kepalan tangannya berangsur menghilang di ikuti menghitam kembali iris matanya.

"Jangan pergi, Sasuke!" entah dari mana keberanian ini Sakura dapat hingga dia berani menahan langkah Sasuke.

"Kau tidak bisa menahanku. Aku sudah mendengar apa yang kalian bicarakan, tentang kutukan, kyuubi, dan Kristal elemen alam. Aku hanya ingin mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi hingga aku bisa berada di dunia manusia, mengapa elf api dibantai, dan pastinya melepaskan segel ini."

"Tidak! Kau tidak boleh melakukan itu," sontak Sasuke langsung menatap tak mengerti pada Sakura yang mencoba menahannya. "Kau tidak boleh melakukan itu, kau tidak boleh melepaskan segel itu! Aku mohon, Sasuke!" lanjut Sakura seraya mendekati Sasuke.

Namun entah mengapa Sasuke malah menjauh dan kembali menampilkan mata sharingannya.

"Apa yang kau bicarakan, Sakura! Kau tidak bisa menghentikan aku, keputusanku sudah bulat! Tak akan ada yang bisa menghentikan aku untuk menemukan kebenaran dari sejarah keluargaku dan membebaskan aku dari segel ini," suara Sasuke kembali meninggi, sontak api kembali keluar dari kepalan tangannya.

"Pokoknya, kau tidak boleh pergi!"

"Maaf, Sakura. Aku harus pergi."

"Tapi, Sa—."

Syut!

Entah sejak kapan Sasuke mulai bisa mengendalikan kekuatan elfnya sampai dia bisa menghilang dan muncul secara bersamaan di balik punggung Sakura.

"Arigatou," bisik Sasuke pelan di balik punggung Sakura sebelum akhirnya dia memukul punggung Sakura.

Bhuuk!

Sasuke hanya menatap kosong pada tubuh mungil Sakura yang roboh ke tanah dan tak sadarkan diri, kemudian dia melanjutkan jalannya menuju tempat yang dia tidak tahu. perlahan Sasuke kian menjauh dan menghilang dalam bayangan pepohonan, dari jauh jelas terlihat di punggung kiri Sasuke keluar bayangan putih kebiruan yang kemudian menyelubungi tubuhnya.

Kini, Sasuke telah mengetahui siapa dirinya. Tidak sengaja dia mendengar pembicaraan para elf itu, dan itu cukup membuat dia terpukul.

Flashback: on.

Sejak meninggalkan Sakura dan teman-temannya, perasaan Sasuke mulai tak enak. Dimulai dari rasa sakit dan nyeri yang tiba-tiba di punggungnya serta suhu tubuhnya yang entah mengapa malah terasa panas. Dia segera mempercepat laju jalannya agar bisa cepat sampai di tempat peristirahan dan mungkin dia bisa meminta bantuan elf air untuk mendinginkannya.

Namun langkahnya sedikit tertahan begitu dia mendengar namanya di sebutkan dalam pembicaraan para elf itu.

"Sasuke adalah elf api murni. Itu artinya dia adalah keturnuan langsung dari Madara yang berhasil selamat dari pembantaian 2500 tahun yang lalu, apa ada kemungkinan dia adalah pewaris elemen api?"

Sasuke masih terdiam, dia masih mendengarkan pembicaraan lanjutan mereka tentang dirinya.

"Yah, aku juga berpikir begitu sesuai dengan apa yang diceritakan Kakashi-san. Tapi sejauh ini, Gaara tidak merasakan adanya kekuatan kristal api dalam diri Sasuke,"

"Aku tak menyangka ternyata ada yang selamat dari pembantaian elf api, dan siapa sangka kita akan bertemu dengannya."

"Sebenarnya dia tidak tahu jika dia adalah ketunan dari elf api murni, yang dia tahu dia hanya manusia biasa yang kebetulan lahir dengan membawa segel kutukan itu."

Tap, tap, tap. Sasuke melirik pada pemilik langkah kaki yang mendekatinya.

"Kau sudah mendengarnya?" suara Shino terdengar dingin dan datar.

"Apa benar yang ku dengar ini?" tanya Sasuke tanpa menoreh pada Shino.

"Benar, kau adalah elf api. Mungkin kaulah yang tersisa, kalian memang pantas mendapatkan itu."

Syok, tentu saja. Siapa yang tak menyangka jika dirinya adalah seorang elf, mahluk yang selama ini hanya dia tahu melalui buku-buku yang diabaca.

"Mengapa, mengapa elf api dibantai?!" Sasuke terdengar bergetar bahkan sampai tubuhnya bergoncang.

"Itu karena kalian, para elf api adalah ancaman bagi elf yang lain itu karena kalian telah dikutuk."

Sontak iris onyx Sasuke seketika berubah merah dengan tiga tanda koma di dalamnya. "Dikutuk?" geram Sasuke seraya menatap Shino dengan iris merahnya yang seolah meminta bayaran atas apa yang di dengar.

"Aku tidak akan membiarkan mu pergi, karena kekuatanmu itu sangat berbahaya," ucap Shino tanpa peduli pada reaksi Sasuke yang terkejut.

"Seandainya dia tahu potensinya itu, dia mungkin sudah membalaskan dendam bangsanya."

"Semoga saja, dia tidak pernah tahu meski itu kemungkinannya kecil."

Kembali telinga Sasuke menangkap pembicaraan para elf itu.

"Apakah sampai sejauh ini, sebesar itukah kekuatan elf api? Hingga mereka setakut itu, apa karena itu alasannya elf api dibantai?" ucap Sasuke menahan geramannya.

Amarah Sasuke semakin meningkat apalagi ditambah dengan perkataan Shino yang telah membuat dia muak. Entah, apa yang tejadi pada Sasuke hingga dia merasakan suhu tubuhnya yang semula sudah panas kini semakin memanas, seolah terbakar. Rasa-rasanya dia ingin sekali menghajar pemuda berkaca mata itu dengan tinjunya, dan menyuruhnya meminta maaf atas apa yang dikatakannya terhadap keluarganya.

Dalam pikirannya, jika benar dia adalah seorang elf api, tentu dia bisa juga mengggunakan api. Bagaimana caranya, "Kau hanya tinggal mengikuti kata hatimu," itulah kata-kata yang dia dengar dalam mimpinya.

Sasuke mulai memejamkan matanya, mencoba berkomunikasi dengan hatinya, berharap dia bisa menggunakan kukuatan alam. Perlahan Sasuke bisa merasakan kepalan tangannya terasa panas dan kemudian rasa panas itu berangsur menghangat dan kemudian terasa dingin, bahkan lebih dingin dari es.

"Bahkan kau sendiri sudah bisa menggunakan kekuatan apimu!"

Sasuke menyeringai lebar saat dia melihat api, api yang menyala dalam kepalan tangannya. Dengan tatapan merendahkan dia menatap Shino, mencoba memberikan tekanan padanya.

"Kau ingin menyerangku?" apa yang ada dalam pikiran Shino sampai membuat dia bisa senekat itu membuat Sasuke marah!

Syut! Hanya bermodalkan percaya diri jika dia adalah elf api maka dia juga bisa melakukan apa yang dilakukan elf lain, seperti melesat cepat atau mendapatkan kekuatan ekstra.

Bhuuk! Hanya dalam sekejap, bahkan Shino sendiri yang sudah memprediksi kan serangan itu malah tak berkutik saat dia melihat Sasuke menghilang dan dengan cepat pula Sasuke sudah berada di depannya dengan kepalan tangan yang di penuhi api terarah pada perutnya.

Bruuk! Shino terhempas menabrak salah satu pohon, dan mengibaskan api yang menyala di perutnya hingga api beterbangan membakar beberapa dahan pohon.

"Dia, sungguh kuat. Padahal dia baru mengetahu dirinya adalah elf api, tapi secepat itu pula dia menguasai elemen api, kuso!" runtuk Shino menahan sakit di luka bakarnya.

"Jadi seperti ini kekuatan elf api? Dengan begini aku akan menjadi kuat, setelah segel kutukan itu terlepas, aku akan membalaskan dendam elf api!" kata Sasuke seraya berjalan mendekati Shino, dengan sekali pukul dia membuat Shino tak berdaya.

Setelah puas membuat Shino tak berdaya, Sasuke kembali menyeringai memperhatikan kobaran api di telapk tangannya.

"Kenapa aku sama sekali tak menyadari kekuatan ku ini? Dengan kekuatan ini, tak ada yang berani padaku!" desisi Sasuke pelan, dia terlihat begitu senang dengan kekuatan yang selama tersembunyi dalam dirinya.

"Elf api?"

"Kau jangan dulu senang, Sasuke. Apa yang kau miliki belum seberapa," sebuah suara terdengar dari dalam diri Sasuke.

"Kau?!" Sasuke terkejut dan ketakutan saat dia mendengar sebuah suara pria dewasa terdengar dari dalam dirinya.

"Aku adalah segel kutukan ini, aku adalah sumber kekutan terbesar dari elf api."

"Sejak kapan kau—."

"Aku sudah bersama mu sejak kau lahir, segel kutukan itu semakin lemah, karena itu kini aku sudah bisa berkomunikasi denganmu. Apa kau ingin melepaskan kutukan ini?!"

"Yah, aku tak membutuhkan kekuatan ini!"

"Baiklah, ikutlah denganku ke suatu tempat. Aku akan membantumu melepaskan segel ini, dan membebaskanmu!"

Sasuke menyeringai senang, iris merahnya seolah berubah menjadi tatapan penuh kebencian.

Sasuke mendelik ke tengah hutan, suara derap langkah terdengar cepat mendekatinya, iris merahnya sontak menoreh pada sosok gadis kecil dengan surai pink sebahu yang tiba-tiba berhenti didepannya.

Falashback: off.

"Diakah kyuubi?"

"Bukannya kyuubi adalah seorang wanita yang lumayan dewasa dengan ciri khas dengan rambut berwarnah merah?"

"Aku masih kurang yakin."

"Luka-lukanya sembuh dengan sendirinya, bukannya itu sudah membuktikannya?"

"Setelah ribuan tahun, dia mengapa dia beru muncul sekarang. Tepat saat pembawa segel kutukan lahir."

"Hei, kalian! Apa yang kalian lakukan?" suara bentakan Ino menghentikan aksi kempat pemuda yang saat ini tengah memperhatikan naruto yang masih tak sadarkan diri.

"Apa kau yakin dia adalah kyuubi, Ino?"

"Pertanyaan apaan itu, Kiba! Seharusnya kalian mencamaskan Shino dan Sakura, mereka sampai sekarang belum kembali!"

"Kuso! Kiba, kau ikut dengan ku. Gaara dan Sai, kalian tetap disini!" perintah Shikamaru begitu dia menyadari apa yang terjadi dan di balas dengan anggukan pelan ke empat rekannya.

"Ayo, akamru!"

…..

Di sisi yang lain di tengah hutan terlarang, tepatnya di sebuah kastil tua.

"Cih, kuso!" runtuk pemuda bersurai pirang. "Secepat itu KIsame mati?! Dasar tak berguna!"

"Kau tak apa-apa, Itachi?" tanya wanita bersurai biru dengan hiasan bunga mawar.

"Bagaimana dengan Sasuke?" tanya pria berpiercing.

"Dia—,"

"Dia dalam perjalanan ke tempat kita."

Itachi terbelak kaget, begitu pun yang lain. Seketika mereka langsung melihat pria bertopeng.

"Apa yang kau bicarakan, Tobi?" tanya Itachi.

"Karena penggunaan sihir waktu, kebangkitannya semakin dipercepat. Dan tak terasa segel itu semakin lemah, Madara tengah membimbingnya menuju kita."

Semua yang mendengar itu terlihat senang dengan apa yang mereka dengar, kecuali Itachi. Dia terlihat tidak menyukai ini.

"Baka! Seharusnya kau bisa melawannya! Di saat seperti ini aku hanya bisa mengharapkan Naruto, tapi itu tidak mungkin. Naruto juga terluka akibat pertempuran tadi!' inner Itachi.

"Kau kenapa, Itachi. Apa kau mengkhawatirkan adikmu?" Itachi menatap marah pada pria bertopeng. "Sebaiknya kau pikirkan kembali, bukankah ini yang selama ini kalian tunggu-tunggu? Masa di mana elf api kembali berkuasa!"

Itachi hanya terdiam, dia tidak bisa berbuat apa-apa atau hanya sekedar menyela perkataan Tobi.

Pria bertopeng itu masih menatap Itachi dengan tatapan tajamnya, di balik topengnya, pria itu tersenyum girang melihat Itachi tak berkutik.

"Sebentar lagi, aku akan menguasi ke empat elemen itu. tinggal selangkah lagi, cepatlah datang Sasuke!" batin pria itu.

….

"Sasuke!" Sakura tersentak bangun dari pingsannya, matanya liar kesana kemari mencari pemilik nama yang dia panggil..

"Sakura, apa yang terjadi padamu? Dimana Sasuke dan apa yang terjadi pada Shino? Apa kalian di serang?" Sakura menatap heran Ino yang menyerbunya dengan perrtanyaan-pertanyaan yang membuat dia tersadar dengan apa yang terjadi.

"Sasuke, dia—," Sakura menatap nanar pada teman-temannya yang masih menunggu lanjutan kata-katanya dengan tak sabar.

"Apa yang terjadi?" tanya Shikamaru.

"Dia telah pergi, dia mendengar pembicaraan kita."

Shikamaru tercekat, Gaara mendelik kaget, Sai terbelak, Kiba histeris, Ino terpaku.

"I, ini gawaattt!" pekik Kiba.

"Dia sudah tahu siapa dirinya, dan dia yang melukai Shino," cerita Sakura pelan, dia merasa menyesal karena tak bisa menghentikan Sasuke. "Maafkan aku, aku tidak bisa menahan Sasuke untuk tidak pergi," lanjutnya, setetes cairan bening jatuh membasahi genggaman tangannya.

"Kita harus segera melapor ke negeri tersembunyi, situasi mulai berubah dengan cepat!" tegas Shikamaru terlihat cemas.

"Sasuke!" ratap Sakura dalam hatinya.

…..

Jauh di tengah hutan terlarang, Sasuke berjalan menyusuri gelapnya malam dan dalam bayangan pepohonan yang rimbun. Dia terus berjalan menuju tempat yang dia sendiri tidak tahu dimana itu, dia terus berjalan tanpa henti bersama cahaya putih kebiruan yang menyelubungi tubuhnya.

Angin berhembus pelan menggoyangkan surai ravennya, menyapu wajahnya yang lembut. Suara dahan yang bergoyang seolah tengah menyanyikan lagu perpisahan yang menyedihkan, mencoba menyadarkan Sasuke akan sesuatu.

"Sasuke!"

Langkah Sasuke tertahan, dia mendengar suara Sakura jauh di tengah hutan. "Ini tidak mungkin, aku tidak mungkin mendengar suaranya, bukannya dia pingsan dan aku pun telah berjalan cukup jauh darinya," batin Sasuke mencoba mencari alasan atas apa yang dia dengar.

"Sasuke, kembalilah!"

Dia yakin, dia mendengar suara Sakura memanggilnya. Tapi dia tidak mendaptkan alasan yang logis untuk menjelaskan apa yang dia dengar.

"Ada apa Sasuke, kenapa kau berhenti?" suara dari dalam dirinya kembali terdengar menyadarkan Sasuke dari pikirannya.

"Tidak apa-apa, ayo kita pergi."

Sasuke kembali melanjutkan jalannya, kembali mengabaikan apa yang dia dengar.

"Sakura," entah Sasuke menyadarinya atau tidak, dia pikirannya kini tersemat sebuah nama yang dia simpan dalam sisi pikirannya yang tersembunyi.

….

Di ruangan yang temaram dan lembab, di atas sebuah ranjang yang kusut dan di penuhi beberapa alat medis. Seorang gadis kecil berusia sekitar 10 tahun tengah terbaring dengan beberapa selang memenuhi tubuhnya.

"Maaf, Orochimaru-sama. Aku hanya bisa membawa pewaris elemen alam, dan aku kehilangan Juugo dan Suigetsu."

"Masih mending kau membawa dia dari pada tidak sama sekali," seorang pria dengan lidah menjulur berjalan keluar dari bayangan dinding yang menyembunyikan sosoknya.

"Aku akan segera mendapatkan ketiga kekuatan yang lain begitu aku mendapatkan Kristal anak ini," lanjutnya sambil berjalan mendekati ranjang dan membelai surai indigo pendek milik gadis itu.

"Sebentar lagi purnama akan sempurna. Kabuto, bersiaplah untuk operasi kita."

"Baik, Orochimaru sama!" sahut Kabuto dari balik bayangan lain seraya berjalan keluar dari ruangan itu.

Di negeri tersembunyi.

Para petinggi negeri telah berkumpul, dari raut wajah mereka terlihat begitu tegang dan penuh kecemasan.

"Apa belum ada kabar dari Shikamaru?" tanya ketua elf bunga cemas, jelas sekali terlihat dari raut wajahnya yang tak tenang. Yang lain pun diam, tidak ada yang menbjawab pertanyaan ketua elf bunga.

"Ledakan kekuatan tadi benar-benar besar dan itu sangat dekat dengan negeri tersembunyi," tambah ketua elf angin ketakutan.

"Kakashi pun belum melapor, apa yang sebenarnya yang terjadi?!" gumam ketua elf api tak jelas, dia takut sesuatu yang tak terduga terjadi di luar sana.

"Dari ledakan itu, sepertinya masih di sekitar tepian hutan terlarang," terang seorang pria yang mirip dengan Shikamaru.

Drap! Drap! Drap!

Semua mata menoreh ke asal suara derap langkah yang terburu-buru mendekati mereka.

"Para tetua elf! Ini bahaya! Kabar buruk!" suara teriakan super terdengar dari balik pintu.

"Gai? Ada apa?" tanya ketua tanah melihat bawahannya ketakutan.

"Para elf penjaga segel, mereka melihat segel Madara semakin lemah. Bahkan sebagian dari dirinya telah keluar!"

"Apa?!" semua yang mendengarnya terkejut setangah mati, seolah kiamat kini di depan mereka.

"Aku berharap mereka segera melapor, apa yang sebenarnya terjadi. Kyuubi telah muncul, itu artinya kebangkitan Madara semakin dekat," gumam elf air.

"Kita hanya bisa berharap pada alam, semoga pewaris elemen alam angin segera muncul, hanya dia yang bisa menghentikan Madara," ucap ketua elf angin dan disambut dengan tatapan penuh harap dari yang lain.

Mereka hanya berharap segera menemukan pengganti pewaris elemen angin secepatnya, hanya dia yang bisa menghentikan Madara.

"Eto, para tetua elf. Se, sepertinya ada yang salah dengan Kristal bulan air," seorang elf dengan luka codet diwajahnya menatap ketakutan pada bulan yang mulai menggelap di langit.

"Apa?" semua mata langsung menatap ke langit dan sontak mereka semua lemas seketika.

"Hi, Hinata!"

"Kristal elemen air?"

Sementara itu di sudut hutan terlarang, tak terlalu jauh dari lokasi ledakan. Tampak sebongkah es yang masih utuh, di dalam bongkahan es itu terdapat seorang pemuda bersuari coklat panjang yang tak sadarkan diri.

Rupanya, Neji selamat dari serangan kyuubi. Tubuhnya terbungkus bongkahan es hingga membuat dirinya terlindung dari serangan kyuubi. Tapi, apakah dia tahu jika saat ini Hinata telah di culik dan sesuatu yang besar telah terjadi padanya?

Sedangkan Naruto? Dia? dia pun masih sama dengan Neji, mereka sama-sama tak sadarkan diri. Sama-sama tidak tahu dengan apa yang terjadi pada Hinata.

Di tempat berkumpulnya para elf, tampak Shikamaru tengah berkonsentrasi, dia bahkan sampai mengabaikan rasa kantuk yang terus menyerangnya.

"Kita harus mengambil kembali Hinata," serentak Shikamaru membuka matanya dan menatap jauh ke depannya.

….

Sasuke berhenti tepat didepan sebuah kastil tua dan gelap, di berdiri cukup lama di luar memperhatikan bangunan yang sudah sangat tua dan tak terurus itu.

"Apa kau yakin ini tempatnya?" tanya Sasuke pada sosok lain dalam dirinya, namun cukup lama tak ada jawab dari yang ditanya. Sampai muncul suara aneh dai dalam tanah kemudian sebuah atau mungkin seorang dengan kelopak bunga –apa namanya- muncul dari dalam tanah.

"Sasuke uchiha, akhirnya kau datang juga. Sudah lama kami menunggu kedatanganmu, selamat datang di markas Akatsuki!" sambut Zetsu seraya membukakan pintu dan mempersilahkan Sasuke masuk.

"Hn," sahut Sasuke malas seraya melangkah masuk ke dalam kastil, seketika sensasi suram dan gelap menghampirinya. Tak ada yang special dari tiap ruangan yang dia temui, hanya lorong yang gelap dengan penerangan yang secukupnya membuat suasana kastil itu seperti berada dalam rumah hantu.

Dari tiap lorong yang dia lewati tak ada yang menarik perhatiannya, hingga dia melihat sebuah lukisan seseorang.

"Dia adalah Madara, kastil ini adalah miliknya," Sasuke melirik Zetsu yang sedari tadi membuntutinya.

"Aku pernah mendengar namanya, apakah dialah pewaris elemen api yang pertama?" tanya Sasuke kemudian.

"Hn, akhirnya kau datang juga Sasuke," sebuah suara dari punggungnya terdengar dari punggunya.

"Siapa kau?" tanya Sasuke saat dia melihat pria bertopeng di belakangnya.

Tak ada respon apa-apa dari pria itu, dia melangkah mendekati Sasuke. "Sudah lama kami menunggumu, mari ku kenalkan pada anggota yang lain," kata pria bertopeng itu seraya mengajak Sasuke untuk mengikutinya.

"Aku kemari bukan untuk menjadi anggota kalian, aku hanya ingin melepaskan segel ini," tegas Sasuke membuat mata yang terlihat dibalik topeng pria itu menyipit sebagai isyarat dia tengah tersenyum.

"Baiklah," sahut pria itu tenang.

Sebuah ruangan yang luas dengan penerangan yang kecil, namun cahaya bulan dapat dengan leluasa masuk melalui ventilasi udara terbuka lebar. Sebuah meja yang panjang di kelilingi 10 buah kursi berjejer disepanjang meja itu, seorang pemuda bersurai pirang panjang berjalan keluar dari salah satu bayangan tiang menghampiri salah satu kursi.

"Jadi, ini adalah anak dalam ramalan itu? Anak yang dikutuk?" sebuah seringai lebar terukir di wajah pemuda itu.

Sasuke mendelik tajam pada pemuda itu, giginya bergemulutuk menahan marah. Dia tidak suka mendengar kata 'dikutuk' itu, seolah kata itu telah mendeskriminasikannya. Membawanya ke keadaan yang tidak dia inginkan.

"Bersikaplah yang sopan pada tamu istimewa kita, Deidara!" sebuah pinthogram tiba-tiba muncul dan seorang pria dengan pierching memenuhi wajahnya keluar bersama wanita bersurai biru.

Poof, poof, poof.

Sasuke sedikit kaget tapi dengan cepat dia mengembalikan ekspresi kagetnya pada tampang stoiknya seperti semula, padahal dalam hatinya dia terkegum-kagum melihat cara mereka muncul.

"Apa aku bisa juga seperti mereka?" batin Sasuke semakin tertarik dengan dunia elf.

Sementara itu di salah satu ruangan di dalam kastil tua itu tampak Itachi berdiri di depan sebuah ruangan yang temaram, iris merah Itachi terlihat kosong menatap ke dalam ruangan itu.

"Sasuke sudah datang, seperti yang kau rencanakan. Tou-san," ucap Itachi.

"Aku tahu itu, rasa bersalah dan tertekan akan membuatnya semakin kuat dan dia akan menemukan jati dirinya sebagai elf api."

….