Warn :
Bahasa masih ancur mampus/Joroknya masih ada, ya kayak chapter kemarin, tapi dikit.
Standard Disclaimer Applied
My Fiancé Chapter 10 - Ending
.
.
.
Junmyeon mulai merasa pusing. Kepalanya serasa mau pecah karena bagitu banyak kata-kata dari Yixing yang masuk. Kalau langsung tembus ke telinga kiri tidak masalah, lah ini malah sempat terserap otak. Junmyeon harus segera mencari cara bagaimana bisa melarikan diri dari Yixing yang sekarang arah pembicaraannya makin random saja. Masa masalah mencret kemarin masih dia bahas.
"—lau tidak segera dihentikan aku bisa dehidrasi karena banyaknya cairan yang ikut terbuang, Myeon. Untung saja kau segera tanggap membelikanku obat dan membuatkan oralit, jadi aku selamat—etapi bukannya aku berterima kasih padamu, lho ya."
Wajah Junmyeon menampakkan rasa malas yang amat sangat.
"Ternyata benar Luhan ge minta tambah sambel waktu itu. Padahal aku sudah bilang padanya kalau tidak usah pakai sambel. Katanya kurang greget. Greget apanya kalau menyebabkan kematian dan gangguan pencernaan seperti itu—ah, tidak perlu berterima kasih padaku, Myeon. Aku memang sudah biasa menyelamatkan hidup seseorang." Oceh Yixing sambil menepuk-nepuk pundak Junmyeon sembari terkekeh ringan.
Junmyeon sweatdrop. Untuk apa pula dia berterima kasih.
Tanpa Yixing sadari Junmyeon membawanya berbelok ke koridor yang sepi.
"Diare itu adalah penyakit yang paling aku benci sejak kecil, Myeon. Aku tidak suka sensasi panasnya. Tidak suka lutut yang pegal karena terlalu banyak jongkok—eh padahal kan kita pakai toilet duduk, ya? Ah kau jangan tertawa, Myeon. Dulu waktu aku masih di Cina, sering main ke sungai kuning dan BAB di sana, otomatis jongkok, jadi sampai sekarang terbawa kebisaaan itu. Meski pakai toilet duduk tetap saja aku naiki dan jongkok di atasnya—eh kok tiba-tiba sepi? Apa sudah pulang? Aku terlalu banyak bicara rupanya. Ckckck ternyata benar kata mama, kebanyakan pisang bikin kita lupa diri."
Junmyeon mengorek telinganya yang dirasa sudah penuh dengan serumen. "Sudah selesai?"
Yixing tak segera menjawab membuat Junmyeon berhenti dan berbalik menghadap Yixing yang berada beberapa langkah di belakangnya. "Kenapa berhenti?"
Mata Yixing memicing curiga, "Kau sengaja membawaku kemari, kan?"
Bola mata Junmyeon berputar, "Ya. Aku kasihan pada orang-orang yang mendengarkan ocehanmu. Pasti telinga mereka panas." Lalu kembali berjalan.
"Tapi kenapa kau betah bersamaku?"
Pertanyaan itu sukses membuat Junmyeon membatu di tempat. Padahal tidak ada medusa yang lewat. Ah, kitakore!
Dia menoleh sekilas sambil menggaruk kepala, "E-etto.. Um.. mungkin sudah terbiasa."
"Terbiasa apanya?" Yixing memiringkan kepala tak paham.
"S-sudah, lupakan. Sebentar lagi bel masuk. Aku kembali ke kelas dulu." Lalu kabur meninggalkan Yixing yang kini garuk-garuk pantat berusaha mencerna (dengan susah payah) kalimat sederhana Junmyeon barusan. Yixing itu benar-benar bolot. Otaknya pakai pentium berapa, sih? Jaman core 2 begini masih pakai pentium III.
"Apa, sih? Aku tidak—YA! JUNMYEON JANGAN LUPA NANTI KE RUANG DATAAAAA!"
Meski dirinya sudah cukup jauh dari Yixing, teriakan barusan masih dapat didengar dengan jelas oleh Junmyeon. Frekuensi suara gurunya itu memang tidak bisa diremehkan. Bahkan Junmyeon sempat mendengar suara kaca pecah.
Sekarang sudah pulang sekolah. Kenapa cepat sekali? Karena biar cepat selesai pula -_-
"Aku pulang dulu, Jun. Hati-hati nanti pulangnya, ya. Bai."
Setelah mengangguk membalas lambaian Tao, Junmyeon berputar arah menuju ruang data seperti yang diperintahkan Yixing. Dia dimintai oleh yang bersangkutan untuk membantunya mencatat data siswa, masa iya beli cilok.
Perlahan Junmyeon memutar kenop pintu. Melongokkan kepala melihat ke dalam ruangan yang dipenuhi oleh rak buku.
"Yixing kemana?" gumamnya sambil menutup pintu. Melempar tas ke meja terdekat lalu berjalan menuju salah satu rak.
"OY JUNMYEOOOOON!"
.
Brak!
.
Buku yang dipegang Junmyeon terlempar sembilan mil (bohong).
"Tsk! Tidak perlu berteriak susah, ya?" Junmyeon sewot. Berjongkok mengambil buku yang tadi terjatuh karena kaget. Sedangkan Yixing tersenyum ceria sambil meletakkan tasnya di sebelah tas Junmyeon.
"Sudah watak."
Mengabaikan ucapan Yixing, Junmyeon meletakkan kembali buku ke tempat semula, "Kita mulai darimana?"
"Ah, dari kelas XII IPA 1."
Sunyi. Hanya terdengar suara jarum panjang yang terus berputar tanpa henti kecuali baterainya habis. Seolah setia pada setiap detik yang minta dijamah(?), tanpa lelah mencari angka 13. Langit sudah gelap. Sepertinya sudah malam, begitu pemikiran dua orang di dalam sana. Padahal di luar cuma mendung.
"Myeon, hidupkan lampunya!"
Junmyeon melirik Yixing dari balik buku data yang dia pegang, "Kan kau yang lebih dekat dengan saklar, Xing."
Yixing menggelengkan kepala dengan elegan, "Aduh, Myeon. Kau tak lihat aku sedang sibuk."
Dengan berat hati Junmyeon beranjak dari duduk. Berjalan ke belakang Yixing dimana saklar tertempel cantik disana. Padahal jika Yixing mundur dan merentangkan tangan, beres. Dasar tuan sok mengatur. Begitu kata Dori.
"Sudah sampai mana?"
"HAIYAAAA!"
"Tsk! Sudah kubilang tak usah berteriak." Junmyeon menarik mundur tubuhnya yang condong ke depan mengintip pekerjaan Yixing.
"Kau saja yang selalu mengagetkanku."
Mengabaikan jawaban sang guru, Junmyeon berjalan menuju kursi di seberang Yixing. Kembali mendekte, "Kita lanjutkan. Oh Sehan, 18 tahun, hobi karaoke."
Tak segera mengetikkan apa yang Junmyeon ucap, Yixing menatap muridnya dengan alis terangkat, "Oh Sehan? Tadi Sehun."
"Sehan itu kembarannya Sehun. Sudah jangan cerewet cepat ketik."
Dengan bibir mengerucut Yixing mulai mengetikkan apa yang diucapkan Junmyeon tadi. Bertanya kenapa dia harus mencatat kembali data siswa-siswinya? Salahkan otak pikun Yixing yang lupa dimana dia meletakkan map berisi berkas data dan tidak menge-save sofcopy-nya.
Yixing mengunci pintu dengan Junmyeon berdiri di belakangnya. Sekolah sudah bebas dari lalat-lalat jantan dan betina jika diperhatikan dari keadaan yang sepi.
"Sepertinya di luar hujan." gumam Junmyeon sambil menoleh ke jendela kaca di ujung koridor.
"Kau membawa payung, kan?" Junmyeon mengangguk dan Yixing bernapas lega. Setidaknya dia tak perlu repot-repot berbagi payung dengan bocah satu ini. "Ayo."
Junmyeon mengikuti Yixing yang memakai mantel.
.
Jress!
.
Langitpun ngeces dengan biadab. Dua orang itu menengadah dengan tampang kecewa dan ingin menangis—yang satu itu untuk Yixing.
"Kau serius, Myeon?"
Yang diajak bicara menoleh, "Kok tanya aku? Terserah kamu, tapi lebih baik kita menunggu." Kemudian mengalihkan pandangan.
Hujan cukup deras. Bahkan tetesan airnya pun besar-besar. Pasti terasa sakit jika terkena kulit. Jarak pandang mereka terbatasi dan sangat pendek. Payung saja tak akan cukup jika musuh hujan angin seperti ini. Daripada payung jebol lebih baik mengalah. Sayang payung, keduanya memilih menunggu reda.
Sepi. Biasanya ada yang mengoceh. Junmyeon menoleh dan lalu ia sesali karena pemandangan yang didapatnya sungguh membuat jantung berdenyut-denyut. Yixing yang menengadah menikmati hujan dengan mata terpejam merasakan tiap percikan air hujan yang dingin menyentuh wajah manisnya. Tak berkedip Junmyeon dibuatnya. Ia memilih untuk membuang muka. Tidak bagus untuk kesehatan jantung. Zina mata katanya pak ustadz jika dilihat terlalu lama, nanti malah menimbulkan hasrat ingin—lupakan. Namun sekali lagi Junmyeon melirik dan masih mendapati hal yang sama.
Merasa ada yang memperhatikan, Yixing membuka mata lalu menoleh. Sekilas ia melihat Junmyeon yang memalingkan muka dengan cepat. Alis Yixing terangkat. "Apa yang kau lihat?"
"Tidak ada."
Aslinya mau jawab "Aku lihat ukiran indah sang dewata barusan. Sungguh menggugah rasa untuk selalu menatapnya." Karena tak mau dikemplang Yixing, Junmyeon memilih berdusta. Berdusta demi kebaikan walau sama-sama dosa. Apa iya?
Keduanya terdiam lagi. Mendengarkan rinai hujan yang tak kunjung berhenti. Junmyeon yang menatap lumpur di bawahnya dan Yixing yang kembali menikmati percikan hujan. Tanpa mereka sadari, keduanya saling mencuri pandang. Jika yang satu tak melihat, yang satunya melirik. Jika yang dilirik menoleh, akan selalu diakhiri buang muka dengan wajah memerah oleh yang melirik. Begitu seterusnya sampai ada yang membuka suara.
"Kau seperti fatamorgana."
Mata Yixing yang terpejam, otomatis terbuka. Ia menoleh mendapati Junmyeon yang menatap lurus gerbang nun jauh di sana. Meski tetap dengan ekspresi datar, terselip kecewa di wajah—yang sebenarnya dan Yixing akui—tampan itu.
"Sangat dekat kulihat namun mustahil kudapat."
Mulut Yixing terbuka, hendak menjawab namun ia urungkan dan memilih mengalihkan pandangan ke depan. Ikut menatap gerbang utama.
"Kau tak menjawab."
Yixing menunduk. Paham akan maksud dari perkataan Junmyeon.
"Setidaknya beri aku kepastian."
Dia diam. Memilih diam. Tak tahu harus menjawab apa.
"Dengan kata-kata."
"…"
"Kalau tidak bisa—"
Perlahan tangan Junmyeon bergerak meraih tangan lembut Yixing yang menggantung bebas di sebelahnya.
"—dengan tindakan."
"GYAAAAA!"
-_-a
Reflek Yixing melepaskan tangan saat dirasa Junmyeon mulai mengeratkan genggamannya. "A-a-a-ano..E-etto.. A-aku—ma-maaf!"
Dengan berani entah sadar atau tidak, Yixing menerobos hujan bagaikan menerobos semak belukar di hutan hujan tropisyang lebat—melarikan diri meninggalkan Junmyeon yang facepalm menatap gurunya berlari kesetanan. Pakai nabrak-nabrak pohon dan tiang segala.
"Apa, sih? Orang itu selalu saja merusak suasana."
Tanpa harus repot-repot memanggil Yixing yang sudah keburu basah kuyup dan babak belur untuk kembali, Junmyeon mengambil payung dari tasnya. Menorobos hujan dengan cara yang wajar tidak seperti Yixing yang tanpa perlindungan kecuali dengan mantelnya.
Seperti kebanyakan orang pada umumnya, mari kita persempit dengan kebanyakan adegan di komik shōjo kesukaan Junmyeon, setelah kehujanan otomatis si pelaku akan jatuh sakit. Dan benar Yixing sekarang jatuh sakit. Jika Yixing sudah sakit, Junmyeon yang repot. Waktu dia menelepon mama Yixing memberitahukan kondisi sang anak dengan harapan beliau akan datang dan merawat, dengan kejam mama Yixing menjawab,
"Kan kau yang ada bersamanya? Kenapa harus aku yang merawat anak itu? Dia tanggung jawabmu karena kau tinggal bersamanya. Aku tidak mau tahu dan tidak mau repot. Siapa suruh sakit? Urusi dia. Bai."
Lalu telepon ditutup secara sepihak. Junmyeon mulai berpikir mamanya itu siapa? Sempat pula Junmyeon berpikir kalau Yixing itu anak pungut. Bah, jahat sekali pikirannya.
Sekarang Junmyeon sedang di dapur. Membuat bubur dengan contoh resep dari Kris.
("Pada dasarnya aku ini orang baik. Hanya saja jika bertemu kalian berdua hormon adrenalinku terpacu begitu cepat aku tak tahu mengapa, jadi berubah jahat. Tapi untuk saat ini aku prihatin mendengar kabar bahwa si bodoh itu sakit karena hujan-hujanan. Kubantu kau, bocah, tapi setelah ini panggil aku tuan tampan.")
Sambil menggerutu Junmyeon mengaduk bubur dalam panci. "Cih. Apanya yang tampan? Giginya?" Kemudian mencicipi bubur buatannya. Mengecapkan lidah beberapa kali sambil pasang pose menerawang. "Not bad."
Berjalan ke lemari piring. Mengambil sebuah mangkuk kemudian menyendok bubur secukupnya. Bagaimana bisa dia menyentuh dapur, padahal sudah ada warn dari Yixing? Tentu saja dengan memanfaatkan ketidakberdayaan tuan sok mengatur itu.
Junmyeon melepas apron. Berjalan meninggalkan dapur menuju kamar Yixing dengan nampan berisi semangkuk bubur, segelas air, dan paracetamol.
"Xing, waktunya makan obat."
Tanpa mengetuk pintu, Junmyeon asal terobos. Di dalam kamar, Yixing terbaring lemah dengan selimut menutupi seluruh tubuhnya. Junmyeon mendekat. Meletakkan nampan di meja nakas dan berkacak pinggang di samping ranjang.
"Tidak bagus menghalangi panas untuk keluar." Dia menyibakkan selimut dengan paksa.
Yixing menggerutu, "Apa, sih, Myeon? Dingin tahu."
Junmyeon menghentikan tangan Yixing yang akan membungkus tubuhnya lagi, "Sekarang. Waktu. Makan. Obat."
Setelah kicep beberapa saat, terpaksa Yixing mengangguk. Terpesona dengan wajah Junmyeon begitu dekat. Sebenarnya bukan karena wajah tampan, namun mengerikan meski tetap tampan. Aduh Yixing labil dalam mengambil keputusan orang tampan.
"Bagus." Junmyeon mundur. Mengambil mangkuk bubur. "Duduk."
"Tsk! Setidaknya bantu aku, bodoh." Susah payah Yixing bangkit. Pening di kepala cukup membatasi gerakannya. Dengan sigap Junmyeon membantu, "Jangan marah-marah."
"Siapa yang marah-marah, Myeon?!"
"Kau."
"Hmph!" Yixing buang muka. Junmyeon menghela napas kemudian duduk di sisi ranjang.
"E-eh? T-tunggu sebentar." Gerakan tangan Junmyeon terhenti. Baru saja dia akan menyuapkan sesendok bubur namun tertahan oleh Yixing.
"Apa?"
"S-siapa yang menyuruhmu menyuapiku?"
Junmyeon berdecak, "Kau sakit. Simpanlah tenagamu. Biar aku yang menyuapimu."
"T-ta—mphh!"
"Sudah kubilang simpan tenagamu." Junmyeon berucap datar sambil terus menyuapkan bubur ke mulut Yixing.
Luhan berputar-putar di ruangan kepala sekolah. Di depan bapak kepala sekolanya pula. Dia melipat lengan sambil mengetuk-ngetukkan telunjuk ke dagu.
"Pak Luhan, bisakah berhenti? Saya pusing."
Luhan berhenti lalu menoleh ke Kepala Sekolah Min. Tebak siapa dia.
"Pak Kepala Sekolah, saya sedang berpikir, lagipula siapa yang menyuruh bapak untuk melihat saya?"
Kepala Sekolah Min hanya menggelengkan kepala dengan gerakan lemah, "Saya tahu, tapi kenapa Pak Luhan yang bingung? Saya akan menyuruh guru kesiswaan untuk mendatangi kediaman Pak Yixing, Pak Luhan. Guru baru itu sering absen akhir-akhir ini. Apalagi tiap kali dia tidak masuk, Kim Junmyeon juga ikut absen."
Luhan duduk dengan gerakan cepat. Mencondongkan tubuhnya ke depan, "Biar saya saja yang mengatasi ini, Kepala Sekolah. Saya yakin, Yixing benar-benar sering sakit akhir-akhir ini." Di kepala terbayang Yixing mencret karena makan bibimbap beracunnya.
Kepala Sekolah Min menggeleng, "Tidak, Pak Luhan. Secepatnya saya akan kirim guru kesiswaan. Kalau bisa sekarang juga."
"T-tapi—"
"Saya absolut, Pak Luhan."
Luhanpun kicep. Kepala Sekolah Min berambut merah dan absolut.
Yixing berjalan ke dapur. Membuka lemari penyimpanan amunisinya, mengambil beberapa bungkus keripik kentang, memeluknya sambil menutup lemari. Berjalan lagi meninggalkan dapur lalu mendarat ke sofa setelah menyalakan TV.
.
Kraus~ kraus~
.
Hanya itu dan suara channel berubah yang terdengar. Yixing melirik jam dinding, "Lama sekali bocah itu. Tersesat apa, yak?" Kemudian kembali mengkraus kripik kentang dan dengan malas menggonta-ganti channel.
"Ini apa pula sinetronnya aneh-aneh. GGS? Apa itu? Ganteng-ganteng Maling Kutang? Ah, kok aku jadi ngaco begini. Jelas-jelas itu jauh. Yixing peá. Mungkin efek sakit, yak? Ganti, deh."
.
Ting tong~
.
Yixing melirik pintu depan. "Junmyeon? Kenapa tidak langsung masuk saja, sih? Merepotkan." Sambil menggerutu Yixing beranjak ke pintu.
.
Ting tong~
.
"Iye iye nggak sabaran amat, sih, ah."
.
Ceklek~
.
"Langsung masuk saja kenapa, sih—""
"Selamat pagi."
"—Myeon?"
"Apa? Bapak bilang apa tadi?"
Yixing mengerjapkan mata. Tersadar. Di depannya bukan Junmyeon, melainkan guru kesiswaan sekolahnya.
"A—"
"Saya kesini atas perintah Kepala Sekolah Min untuk mengecek kondisi bapak. Akhir-akhir ini bapak sering absen jadi—"
"Yixing?"
Yixing dan guru kesiswaan menoleh. Junmyeon berdiri tak jauh dari pintu kamarnya.
"Kim Junmyeon?"
Yang punya nama diam. Menatap guru kesiswaannya dengan pandangan datar.
"Kenapa kau ada disini?" Guru kesiswaan itu beralih menatap Yixing. "Pak Yixing bisa jelaskan ini? Dan kalau tak salah dengar tadi anda juga menyebut nama Junmyeon, benar?"
Yixing cuma mangap-mangap, "A—e—ett—"
"Baiklah. Sepertinya sudah jelas. Saya pergi dulu. Selamat pagi maaf mengganggu kalian."
Sepeninggal guru kesiswaan, keduanya masih mematung di tempat. Junmyeon yang diam dan Yixing yang masih mangap-mangap. Shock.
"M-M-M-Myeon?"
Junmyeon menghela napas. Dia mendorong pelan pundak Yixing kemudian menutup pintu, "Sudah jangan dipikirkan."
"HAAA? APANYA YANG JANGAN DIPIKIRKAN? KITA KETAHUAN PIHAK SEKOLAH!"
"—Xing."
"KENAPA KAU DATANG DI SAAT YANG TIDAK TEPAT?!"
"Aku—"
"KITA DALAM BAHAYA! TINGKATAN WASPADA ASTAGA AKU BELUM SIAP DIKELUARKAN DARI—"
.
Grep!
.
Mata Yixing terbelalak. Junmyeon mendekapnya.
"Jangan pikirkan itu. Kau masih sakit. Semua pasti akan baik-baik saja. Aku yakin."
Ingin rasanya Yixing berontak. Menghardik Junmyeon tepat di depan wajah porselennya. Darimana baik-baik saja? Ketakutannya selama ini jadi kenyataan. Namun usapan lembut Junmyeon di kepala membuatnya tenang. Nyaman menelusup di sela-sela kegelisahannya.
"Percaya padaku."
Perlahan Yixing memejamkan mata. Menyamankan diri dalam pelukan Junmyeon. Menikmati setiap sentuhan laki-laki yang lebih muda empat tahun darinya itu. Entah mengapa dia mulai percaya saja pada ucapan Junmyeon. Benar ini akan baik-baik saja.
Helaan napas berat terus mengiringi langkah Yixing menuju kantor kepala sekolah. Dadanya terasa bergemuruh. Perutnya kebas dan kepalanya pening. Padahal Luhan sudah memberi semangat dengan sepiring batagor tadi di kantin. Biasanya itu manjur, namun kali ini kasusnya berat, jadi tidak manjur. Yixing tak bisa tenang sejak tadi malam meski Junmyeon sudah memberinya aji-aji.
"Aaaall iz well.. Aaaall iz well…"
Dia mengulangi aji-aji yang diajarkan Junmyeon setelah sampai di depan pintu. Yixing mendongak menatap benda coklat itu. Rasanya dia mengecil tiba-tiba. Ini pintu surga atau neraka?
"Huft~" Menghembuskan napas sambil memejamkan mata supaya merasa tenang, Yixing mulai memutar kenop. Melongokkan kepala mendapati Kepala Sekolah Min duduk tampan di singgasananya. "B-bapak memanggil saya?"
"Kemari. Duduklah." Kepala Sekolah Min mengangkat tangan mempersilahkan Yixing masuk dan duduk.
Dengan ragu Yixing mengangguk. Duduk di kursi panas memang sangat tidak nyaman. Bokongnya serasa makin tepos saja. Dia menunduk, tak berani menatap mata sang kepala sekolah.
"Tak perlu basa-basi, Pak Yixing. Anda pasti sudah tahu apa yang akan kita bahas."
Hanya suara detak jantung dan suara merdu membawa bencana Kepala Sekolah Min menggema di telinga Yixing. Dia hanya mengangguk tanpa mengangkat kepala.
"Kau sudah tahu masa lalu sekolah ini?"
Sekali lagi Yixing mengangguk.
"Lalu bisa kau jelaskan kenapa Kim Junmyeon ada bersamamu?'
"I-i-i-i-itu..s-sa-saya—"
"Ah, anda lama. Time up! Anda tahu konsekuensinya, Pak Yixing?"
Hampir menangis Yixing mendengar itu. Namun setelah diberi minum minuman yang bukan rasa-rasa oleh Luhan tadi, Yixing jadi benar-benar laki. Dia tahan air matanya. "Saya siap menerimanya, pak."
Padahal dalam hati dia menjerit, "TOLONG, PAK. JANGAN BUANG SAYA. ANAK KITA MASIH KECIL."
Kesimpulannya hanya satu. Ambigu.
Kepala Sekolah Min mengangguk, "Baiklah. Saya akan segera perintahkan bawahan saya untuk mengurus surat pengunduran diri anda."
Pengunduran diri? Dipecat iye, huweeee~ TAT
"Anda boleh keluar." Kepala Sekolah Min mempersilahkan atau lebih tepatnya mengusir. Yixing beranjak bangkit. Membungkuk hormat sebelum ngacir dari sana. Gerah. Kepala Sekolah Min tidak menyediakan AC. Tahun berapa ini? Masa masih saja menerapkan sistem ruangan dimana titan masih ada.
"Bagaimana?"
Hampir saja Yixing berteriak kalau saja tidak segera dibekap oleh Junmyeon yang bertanya barusan.
"Mphh! Mph! Mphh!"
Junmyeon melepas bekapannya. Mengelap tangannya ke celana.
"Hah! Kau itu selalu saja muncul tiba-tiba."
"Diam. Kita masih di kandang macan."
Yixing kicep. Junmyeon memasukkan tangan ke saku lalu bersandar. "Jadi?"
Mengerti maksud Junmyeon, wajah Yixing kembali kusut, "Aku dikeluarkan."
Junmyeon tak kalah kusut meski tetap ganteng. "Maafkan aku."
Kaget sebenarnya mendengar Junmyeon minta maaf. Yixing hanya tersenyum kucing sambil mengibas-ngibaskan tangan.
"Hahahaha, bukan masalah. Toh aku disini baru percobaan, kok."
Junmyeon diam. Matanya menatap Yixing. Terlihat datar namun penyesalan kental di sorot mata itu. Mau tak mau Yixing salah tingkah dibuatnya.
"Eheheh, t-tidak masalah, Myeon. Aku akan mencari kesempatan di tempat lain."
Masih menatap Yixing, Junmyeon bertanya, "Kau mau kemana?"
"Mungkin ke Cina." jawab Yixing sambil mengangkat bahu.
"Kau akan pergi dari Korea?"
Mengangguk mantap, "Kemungkinan besar sep—"
Yixing tak melanjutkan kalimatnya begitu ditinggal pergi Junmyeon. Sementara ia terus menatap punggung Junmyeon yang menjauh. Detik setelah itu sinar mata Yixing menyendu.
"Kau tak pulang bersama Junmyeon, Xing?"
"Tadi Junma izin pulang duluan, pak."
Luhan melirik Tao yang menjawab meski tidak diinginkan meski jawabannya memang berguna lalu kembali menatap Yixing yang menunduk sedari tadi. Terenyuh Luhan melihat teman rumpiknya sedih seperti itu. Aslinya tidak tahan, ingin menangis melihat wajah absurd Yixing.
"Sudahlah, Xing. Meski aku juga tak menginginkan ini, tapi pasti kau mendapat gantinya." ujar Luhan, menepuk-nepuk pundak Yixing yang menurun—lesu.
"Pak Kepala Sekolah begitu banget, ya. Pak Yixing tidak diberi kesempatan mengajar beberapa hari saja masa." Tao nyambung sambil makan pocky.
"Haaaaah~ mungkin ini memang jalan takdirku…" Tiba-tiba Yixing nyanyi. Luhan buru-buru menyetop sebelum Yixing melanjutkan satu album.
"Junmyeon pergi begitu saja saat kami bicara tadi. Aku bahkan belum sempat menyerahkan kunci apartemen kalau dia mau pulang. Aku khawatir dia minggat lagi seperti dulu. Lebih buruk lagi bagaimana kalau Junmyeon jadi putus asa dan ikut perkumpulan anak-anak punk jalanan. Lebih buruk lagi kalau Junmyeon diajak ngamen. Kan sayang sekali wajah gantengnya. Kalau jadi artis, sih okeh. Tempatnya elit. Nah ini? Sudah di lampu merah, kena debu, makan nasi bungkusan satu untuk semua pula. Bagaimana kala—MPHHH!"
"Ayo kita cari Junmyeon." Luhan menyeret sambil membekap mulut Yixing. Mungkin tadi dia sarapan pisang lagi.
Tiga orang itu berjalan beriringan. Sinar jingga matahari menjadi background mereka. Menampakkan siluet cantik karena kamera diambil dari arah depan(?).
"Junma dimanaaaah?" Tao mulai merengek. Badannya pegal-pegal daritadi disuruh melompat kesana-kemari seperti maling kutang oleh Luhan yang menjabat sebagai gembongnya hanya untuk mencari persembunyian Junmyeon. Untung dia pakai 3D Manuver Gear. Jadi tidak seberapa lelah sebenarnya.
"Jangan mengeluh, Huang. Kita harus segera menemukan Junmyeon sebelum fantasi Yixing makin berkembang ke arah yang tidak wajar." Luhan memperingatkan. Mendelik sangat ke panda di sebelah Yixing. Sementara yang berada di tengah-tengah terus menunduk lesu.
"M-mungkin di taman. Kita belum kesana, ge."
Luhan menatap Yixing lalu ke Tao kemudian mengangguk. "Budhal!"
"B-benar, kan apa kataku?" ucap Yixing sambil mengelap air mata yang sudah menganak sungai entah kapan. Lagaknya seperti anak kecil yang kehilangan induk(?) lalu dibantu oleh dua om-om untuk mencari induknya tersebut.
Luhan dan Tao saling pandang. Tak habis pikir Junmyeon berada di tempat seperti ini. Mereka pikir, sih taman yang dimaksud Yixing tempat romantis yang biasa digunakan sebagai lokasi syuting komik shōjo, eh ternyata -_-
Yixing mendekati Junmyeon yang sedang berkubang di kotak pasir. Gayanya mirip kuda nil.
"M-Myeon.. Hiks.."
Yang dipanggil menoleh, lebih tepatnya kaget kepergok di tempat seperti ini. Mana ada Luhan dan Tao pula.
"Yixing?" Dia bangkit dari kubangannya. Meninggalkan istana pasir yang baru separuh ia bangun. Setelah menepuk-nepuk tangan menghilangkan bekas debu dia mendekati Yixing. "Kenapa kau ada disini?"
"Dia khawatir kau jadi anak punk, Kim." Luhan menyahut. Mendekati Yixing dan Junmyeon diikuti Tao dibelakangnya.
"Ha?"
"Fantasi Pak Yixing berlebihan dan mengerikan, Jun. Lebih baik kau segera bawa dia pulang cepat sebelum jadi gila."
"Haaaa?"
"Sudah sana jangan ha ho ha ho saja. Lihat Yixing mewek lagi, tuh. Dia butuh penyemangat!" Luhan sewot dengan tanggapan Junmyeon. Kesal pula melihat tampan bloónnya. Sementara yang bloón mengalihkan pandangan ke Yixing yang mulai mewek.
Jelek banget, njir. Batin Junmyeon jujur mampus.
"Ayo." Segera Junmyeon menyambar tasnya kemudian menarik pergelangan Yixing. "Kami pulang dulu. Terima kasih Pak Luhan, Tao." Lalu menghilang terbiaskan sinar mentari. Luhan dan Tao cengo, speechless antara kaget mendengar Junmyeon berterima kasih dan terpesona dengan keindahan dua orang itu. Ini efek matahari!
Tak ada yang berarti setelah itu. Junmyeon berusaha menampung semangat Yixing yang menetes sedikit-sedikit lama-lama jadi habis dan Yixing yang terus berkata "Tidak masalah." atau "Tidak apa-apa." sambil tersenyum tapi dia menangis. Sama saja bohong.
Pagi ini Yixing tidak bangun lebih awal. Dia terlalu lelah menangis semalaman dan membiarkan Junmyeon ikut tidur di sampingnya. Pakai peluk-peluk pinggang segala. Ingat, Junmyeon itu tukang modus.
Dia menggeliat malas saat hidungnya mencium aroma makanan yang sedap. Keningnya berkerut kemudian membuka mata perlahan. Baru saja akan beranjak duduk, dia dikejutkan oleh ringtone norak smartphone-nya.
"Coba kau pikirkan, coba kau renungkan~
Apa yang kau inginkan telah aku lakukan~
Coba kau pikirkan, coba kau renungkan~
Tanya bintang-bintang hanya kaulah yang ku sayang~"
"Tsk! Sial, aku lupa mengganti ringtone kampret ini."
Melupakan permasalahan ringtone-nya, Yixing segera menyentuh gambar telepon hijau setelah melihat nomor asing di layar.
"Halooo? Cappa neeeeeh?"
Karena anak gaul, jadi jawabnya harus seperti itu. Yixing ingat petuah di stand-up comedy yang sering ia tonton.
["Pak Yixing?"]
Virus alay Yixing langsung mati saat mendengar suara cempreng Kepala Sekolah Min.
"Y-ya? I-ini benar saya. Ada a-apa, pak?"
["Cepat datang ke sekolah sekarang juga. Jangan lupa bawa Junmyeon. Hari ini dia membolos lagi."]
"T-tapi kan s-saya—"
["Ucapan saya adalah…"]
"Absolut." Yixing menjawab lemas.
["Tepat sekali. Jadi segera turuti perintah atau saya kirim gunting kematian ke apartemen anda."]
.
Tut..tut..tut..
.
Kepala Sekolah Min kebanyakan nonton anime ternyata, batin Yixing berghibah.
"Kau itu kenapa bolos?" Lagi-lagi Yixing mengomel di jalan. Sedangkan Junmyeon diam. Mereka sedang otw menuju sekolah.
"Kalau kau ikut dikeluarkan bagaimana?"
"Ya tinggal keluar saja."
"BUODOH, YA?" Yixing mulai mencak-mencak sambil nunjuk-nunjuk Junmyeon. "Kau itu sudah kelas 3. Mana mungkin pindah sekolah. Nanggung sekali hidupmu."
Junmyeon hanya memutar bola matanya. Mulai memasang headset daripada terus mendengar omelan Yixing yang mulai kemana-mana.
Dua orang itu menunduk dalam. Tak berani angkat kepala takut dikira sombong. Apalagi menatap tepat di mata. Daripada kena genjutsu lebih baik seperti ini. Kepala Sekolah Min menatap mereka satu per satu. Persis seperti seorang bapak yang siap marah pada anak-anaknya yang susah sekali disuruh berangkat mengaji. Padahal jarak dari rumah ke TPA cukup dekat. Ditempuh sepeda roda tiga hanya memakan waktu lima menit.
"Begini, kalian jangan bersikap seperti itu terlebih dahulu." Kepala Sekolah Min berucap dengan suara dilembut-lembutkan membuat dua orang di depannya nyaris muntah. Junmyeon mendongak sementara Yixing yang lebih pengalaman ditekan Kepala Sekolah Min memilih tetap menunduk.
"Ya sudah kalau begitu." kata Kepala Sekolah Min pasrah melihat Yixing merajuk. "Ini tentang pengeluaran Pak Yixing—"
"…"
"…"
"—saya cabut."
"EH?"
Yixing langsung mendongak cepat menatap Kepala Sekolah Min dengan tatapan tak percaya plus berharap yang tersembunyi. Sementara Junmyeon bergumam "All iz well..all iz well.." pelan sambil mengusap dada. Lega. Tapi jujur saja dia tak mengerti kenapa.
"B-benarkah?" Yixing masih excited. Dia menggebrak meja tanpa sadar.
"Benar." Kepala Sekolah Min membetulkan letak kacamata, "Saya telepon orangtua kalian berdua. Terutama Pak Yixing untuk membicarakan masalah pemecatan dan kenapa Kim Junmyeon ada bersama anda. Mama anda tanya kenapa, saya jawab apa adanya, lalu…"
Junmyeon berhenti bergumam. Yixing H2C.
"…beliau menjelaskan bahwa kalian sudah bertunangan sejak tiga tahun lalu."
"..."
"..."
"?"
"!"
"HEEEEEEEEE?!" Mata dua orang di depannya membesar sebesar bola basket.
"Jadi bukan masalah karena kalian sudah terikat sebelumnya, tapi tetap saja ini menjadi rahasia kami. Kami hanya takut terjadi hal buruk jika kalian ketahuan tinggal bersama tanpa alasan yang sangat kuat. Selamat, Pak Yixing anda tidak jadi dikeluarkan dan Junmyeon tolong kurangi membolos dan bersikap songong. Baik. Kalian boleh keluar." cerocos Kepala Sekolah Min.
"Tap-tapi, pak!" Yixing sukses menggebrak meja. Kini lebih keras. Hampir saja mejanya bobrok.
"Sudah sana keluar. Saya masih banyak perkerjaan." Keduanyapun diusir. Junmyeon menggeret kerah belakang kemeja Yixing sementara yang digeret masih berusaha menggapai kepala sekolah.
.
Blam!
.
Pintu tertutup. Kepala Sekolah Min menunduk. Melepas kacamatanya.
"Haaaa~ sudah kusangka mereka memang pasangan. Duh cucok, deh. Astaga aku mulai membayangkan yang tidak-tidak jika mereka satu atap. Huwooooh~" Kepala Sekolah Min geleng-geleng sambil menangkup kedua pipinya yang memerah. Dia Sulay shipper juga ternyata.
Sampai detik ini keduanya masih terdiam. Duduk berdampingan di sofa. Tak bergerak seperti manekin. Tatapan mereka lurus ke depan. Kosong. Terombang-ambing dalam pikiran masing-masing.
"Bohong."
"…"
"Pasti mama bohong."
"…"
"Mama bohong soal pertunangan itu supaya aku selamat, kan?"
"…"
"JUNMYEON, JAWAB!" Yixing membentak tepat di telinga Junmyeon bikin pengang seketika.
"Kok tanya aku? Tanya mama kamu sana!" Junmyeon ikutan sewot. Tahu apa dia tentang pertunangan itu. Dia tak tahu apa-apa. Masih polos. Ngomong-ngomong tunangan itu seperti apa?
Yixing menggembungkan pipi. "Huh, tidak asik. Mau main drama queen padahal."
"Tapi—"
Dengan cepat Junmyeon mengubah ekspresinya. "Apa?"
"MASA IYA KITA BERTUNANGAN DEMI APA?"
Menyandarkan punggung ke sofa, Junmyeon menghela napas, "Kalau misal iya, kenapa?"
"HIEEEEH?" Yixing loncat dari sofa, "MANA SUDI! Lagipula kenapa aku harus ditunangkan denganmu? Beda kita empat tahun, Myeon. Empat tahun." Yixing memamerkan empat jarinya di depan wajah Junmyeon.
Dengan halus Junmyeon menepis jari-jari itu, "Kan sudah pas?"
"APANYA?"
"Menurut feng shui—"
"Tunggu, itu ilmu topografi, bodoh!"
"Ralat. Menurut perhitungan, pasangan yang pas untuk menikah itu dengan beda usia empat tahun." Junmyeon berfatwa dengan mata terpejam dan diakhiri empat jari terangkat. Alis Yixing berkedut.
"Lagipula—" Mata Junmyeon terbuka. Menatap Yixing dengan pandangan yang ow-what-a-sexy-stare, bangkit mendekati Yixing dan langsung ditanggapi mundur oleh yang bersangkutan.
"—aku tak menolak jika harus ditunangkan denganmu." Dia mendesis sensual di telinga Yixing yang seketika membuat Yixing leleh.
"Me-menjauh!" Yixing mendorong dada Junmyeon namun ditahan. "Kubilang menjauh, Myeon."
"Tidak mau." Junmyeon menarik pergelangan Yixing. Membawa gurunya itu ke dalam pelukan. Mata Yixing membulat. Aroma bayi yang menguar dari tubuh Junmyeon membuat pipinya bersemu.
"Ugh! Myeon, se—sakh!" Ia mencoba melepaskan diri. Mendorong Junmyeon sekali lagi namun yang memeluknya tak bergeming.
"Aku merasa nyaman seperti ini. Diamlah."
Dapat Yixing rasakan pelukan Junmyeon semakin mengerat. Ia berhenti berusaha. Berkedip beberapa kali. Melirik Junmyeon meski tak akan terlihat wajahnya. Tak dapat dipungkiri, dia sendiri juga merasa nyaman. Perasaan yang sama muncul lagi saat Junmyeon berusaha menenangkannya kemarin dan Yixing memilih membiarkan Junmyeon memeluknya sekali lagi. Toh Junmyeon pernah berkata padanya bahwa setidaknya jawab dengan tindakan. Dia tak bisa menjawabnya dengan kata-kata. Kesimpulannya Yixing itu...
"Errr—Myeon?" Yixing menepuk punggung Junmyeon. Posisi mereka masih tetap seperti tadi. Apa tidak pegal? Jawabannya tentu saja tidak.
"Hn?"
"Kau tidak tidur, kan?"
"Tidak."
"Apa yang kau lakukan?"
"Menghirup aromamu sampai habis."
"EH O_O?" Yixing menggebuk Junmyeon."B-bodoh! Mana mungkin habis."
"Kau malu, Xing?"
"Tidak."
"Lalu kenapa meremas bajuku begitu erat?"
.
Whut?
.
Pipi yang sudah merah makin memerah. Yixing mengeratkan cengkeramannya di punggung Junmyeon. "Berisik, sekarang lepaskan aku. Aku mau telepon mama."
Bernapas lega akhirnya Junmyeon mau melepaskannya. Sesak, neh. Tanpa buang waktu atau sebenarnya ingin menyembunyikan warna merah di wajah, Yixing segera menyambar ponsel dan berbalik.
.
Tut..tut..tut..
.
["Halo?"]
"MAMA KITA HARUS BICARA!"
["Harus bicara atau sudah tahu~?"]
Belum habis merah di wajahnya, kini harus bertambah setelah mendengar nada bicara mamanya. "Apa, sih mama! Aku mau bahas tentang per—"
["Tepat sekali."]
"AKU BELUM SELESAI NGOMONG!"
["Hhh~mama tahu kamu pasti akan menanyakan hal itu."]
"Jadi beneran?"
["Yup. Kami sudah rencanakan ini sebelumnya. Sengaja tidak memberitahu kalian berdua, menyuruh Junmyeon tinggal bersamamu, dan voila~ SURPRISE!"]
"Grrr…"
["Halo? Xing?"]
Junmyeon menelan ludah. Jilatan api berkobar di sekitar Yixing.
"Mama..aku senang sekali. Surprise, ya ma?" Yixing melembutkan suaranya namun terdengar mengerikan di telinga Junmyeon.
["Fufufufu~ benar, sayang. Kamu suka?"]
"NO!" Yixing meledak. Junmyeon kicep dengan ganteng.
"I'm not surprised at all. I don't like this, Mom. You mothersucker. I almost got fired from the school cause of getting caught. You make me get heart attack, Mom!"
Junmyeon pusing mendengarnya.
["What? You should be thank to me. You don't need to bother looking for a boyfriend. You've got a handsome fiancé. Alright. Don't be argue! You'll be glad later. Bai!"]
Telepon terputus sepihak.
"What?Mom!Mom! Woy, Mom!Pick up the call—" Yixing teriak-teriak di depan layar. Hampir nangis dia. Sebenarnya sudah mewek daritadi.
"Xing?"
"—Mom—APA?" Dia menoleh dengan air mata berlinang. Junmyeon melingkarkan lengan memeluk pinggang Yixing. Menaruh dagu di pundak sang guru—mari kita ganti, sang tunangan.
"Ayo bikin anak."
"E-eeh? AAAAAAARGHH!"
.
.
.
The End
dengan tidak elitnya
Apa ini? Kenapa seperti ini? Dafuq -_-
