Title: Throwback

Cast: Kris Wu Yifan, Huang Zitao

Pairing: KrisTao

Warning: GS for uke, typo, bahasa tidak baku

Disclaimer: semua cast bukan milik saya, tapi cerita milik saya

.

.

.

.

.

PART 11

Berjalan di pusat perbelanjaan dengan Kris disampingnya. Hal sesederhana ini begitu Zitao hargai sekarang. Mata pandanya sedikit melirik sosok sang suami yang sibuk mendorong keranjang belanjaan dengan Sehan yang kini berusia 2 tahun duduk didalamnya. Bayi perempuan itu begitu asyik dengan mainan barunya.

Kembali pada Kris, pria itu tetap tampan di mata Zitao. Gadis itu sudah memutuskan untuk membiarkan perasaannya tumbuh berkembang dengan sendirinya. Karena , dulu Zitao sempat menyangkal perasaannya sendiri dan itu sungguh menyakitkan. Tentu jika boleh memilih Zitao tidak ingin jatuh cinta pada pemuda itu karena hanya akan mempersulit keadaan. Namun apa mau dikata, perasaan itu tumbuh begitu saja.

Zitao sadar akan perasaannya saat ia tiba-tiba begitu merasa kehilangan sosok Kris saat pemuda itu mulai menghindarinya. Permintaan perceraian yang diajukan Zitao sendirilah yang menyebabkan Kris menjauh. Pemuda itu benar-benar menepati kata-katanya jika ia tidak akan mengganggu Zitao lagi sampai waktu perceraian mereka tiba. Memang mereka masih tidur di kamar yang sama, namun Kris tidak pernah menyentuhnya lagi. Semua itu mereka lakukan agar kedua orang tua Kris tidak curiga dengan hubungan mereka yang mendingin.

Saat itulah Zitao sadar, saat Kris benar-benar tidak menganggapnya ada. Gadis itu begitu merasa sendirian dan tidak diinginkan. Zitao sadar betapa ia membutuhkan Kris. Betapa ia tidak bisa melewatkan satu haripun tanpa melihat Kris.

Sebenarnya saat ini Zitao sedikit merasa muram karena sudah mendekati keberangkatan Kris ke China. Ya, setiap bulannya suaminya itu tetap pergi ke China selama satu minggu untuk menggantikan ayahnya. Kadang Zitao juga tidak mengerti, kenapa sekarang hidupnya terlalu bergantung pada Kris.

Diam-diam Zitao masih memperhatikan Kris yang sedang sibuk memilih pisau cukurnya yang baru. Sosok tampak samping pemuda itu begitu tegas. Zitao tidak akan bosan untuk memandanginya. Aneh memang, akhir-akhir ini Zitao sering sekali memperhatikan Kris. Untuk menyimpan kenangan, alasannya.

"Hei, Kris apa itu kau?"sentak sebuah suara yang kini membuyarkan lamunan Zitao, maka mau tak mau gadis itu mengikuti arah pandang suaminya.

"Siwon Choi?"sentak Kris pada seorang pemuda di depan mereka. Pemuda yang sangat tampan, sejujurnya.

"Ahh lama tidak bertemu, kau sama sekali tidak berubah,"sapa pemuda itu sambil menjabat tangan Kris dan memberikan pelukan ringan,"Kau baik?"sambung orang itu.

Kris menggentikkan bahunya ringan,"Yah, seperti yang kau lihat. Aku baik,"

Zitao sedikit tersentak saat orang itu kini beralih memandang dirinya,"Biar aku tebak, kau pasti nyonya Wu yang terkenal itu?"

"Eh?"ulang Zitao tak mengerti, ikut membungkukkan badannya saat pemuda itu memberikan salam.

"Kau tahu nyonya, kecantikanmu sering menjadi buah bibir. Tapi sayang, kami jarang melihatnya karena Kris tidak pernah membawamu keluar,"

"Ya!"sepertinya Kris tidak setuju dengan omongan Siwon.

"Diamlah dulu Kris Wu, semua itu memang benar kan kau tidak pernah membawa istrimu ke pesta-pesta perkumpulan kita. Mungkin kau ingin memonopolinya sendiri?" Goda Siwon

Sekilas Zitao menangkap ekspresi Kris yang sedikit berbeda setelah mendengar penuturan Siwon. Bahkan Zitao sedikit tersentak saat Kris menarik pinggangnya untuk mendekat. Zitao memandang Kris penuh tanya, tapi pemuda itu masih bertahan dengan poker facenya.

Tiba-tiba Siwon tertawa melihat tingkah Kris,"Astaga Kris, sekarang aku semakin yakin jika semua hadiah-hadiah yang ku kirim tidak pernah sampai padanya,"

"Ku rasa tidak pantas untuk seorang pria terhormat memberi perhatian lebih pada seseorang yang sudah menikah, bukan begitu?,"Kris tidak mengiyakan maupun menyangkal pernyataan Siwon.

Sesaat ada ketegangan di dalam pandangan mereka berdua yang tidak lepas dari penglihatan Zitao.

"Kau beruntung karena kau bertemu dengannya lebih dulu. Sejujurnya Zitao-ssi bisa mendapatkan yang lebih baik darimu,"gumam Siwon dengan suara rendah yang hampir tidak terdengar.

Kris tersenyum miring,"Kau benar, aku memang sengaja menemukannya lebih dulu agar dia tidak bisa menemukan orang yang lebih baik dariku,"balas Kris tak mau kalah.

Sedangkan Zitao hanya bisa mengernyit tak mengerti. Memang kini dia sudah bisa bahasa korea walaupun hanya sedikit-sedikit. Namun tetap saja Zitao belum bisa menangkap dengan jelas makna suatu kalimat yang diucapkan terlalu cepat atau tidak terlalu jelas pengucapannya.

.

.

.

Dalam perjalanan pulang Zitao mencoba mengingat-ingat siapa gerangan Choi Siwon itu. Apakah dia pernah bertemu dengannya di sebuah pesta yang dia hadiri bersama Kris? Mungkin saja. Namun karena tak kunjung ingat, Zitao lebih memilih mengelus helai rambut Sehan yang kini terlelap di pangkuannya. Lagi-lagi Zitao hanya berani melirik ke arah Kris yang kini sibuk mengemudi. Pemuda itu hanya diam sedari tadi dan hanya fokus menyetir.

Tanpa sadar Zitao menghela nafas dan melempar pandangannya keluar jendela. Hatinya terasa begitu sesak, padahal Kris begitu sedekat ini. Namun menatap wajahnya saja Zitao tidak berani, alih-alih mengajak bicara. Tidak ada yang mengerti bagaimana perasaan Zitao saat ini, dia ingin mengungkapkan perasaannya tapi juga tidak ingin mengungkapkannya. Terlihat sangat rumit.

Tanpa terasa mereka sudah sampai di rumah, dengan hati-hati Zitao memnawa Sehan yang terlelap di gendongannya ke luar dari mobil di ikuti oleh Kris. Mereka masih saling diam sampai mereka masuk ke dalam rumah. Tak di sangka,Sehun ada di dalam dan berusaha menyambut mereka.

"Hei, aku sudah menunggu terlalu lama,"keluh Sehun yang kini menghampiri Zitao.

"Hati-hati, dia tertidur,"terang Zitao saat Sehun ingin mengambil alih putrinya itu.

"Ahhh benar dia tertidur, biar aku membawanya le dalam,"balas Sehun sambil berusaha tidak sakit hati saat Kris melewatinya begitu saja dan berjalan menjauh. Memang sampai sekarang hubungan mereka belum membaik, walaupun Sehun sudah berusaha untuk memperbaiki hubungan mereka.

Zitao pun tak kalah sendu melihat Kris, tanpa sadar dia menghela nafas lagi saat punggung Kris sudah mulai menghilang dari pandangannya. Gadis itupun lebih memilih mengikuti Sehun yang kini berjalan menuju kamar putrinya.

"Kenapa noona bisa jatuh cinta pada hyung?"tanya Sehun tiba-tiba yang membuat Zitao sedikit terkejut.

"K-kenapa kau bisa tahu?"

"Terlihat jelas di wajahmu noona"jawab Sehun,"Tapi sejak kapan?"

Zitao urung menjawab, memilih membukakan pintu kamar Sehan agar mereka bisa masuk lebih cepat.

"Kau tidak ingin memberitahuku?"tanya Sehun lagi sambil membaringkan Sehan di tempat tidur.

"Apa benar-benar terlihat jelas?"bukannya menjawab, Zitao justru berbalik bertanya.

Sehunpun hanya bisa tersenyum kecil sambil mengangguk,"Terlihat jelas sekali, matamu noona selalu tertuju pada Hyung dengan pandangan memuja,"

"Tidak,"sangkal Zitao,"Aku rasa aku sudah menyembunyikan perasaanku dengan rapi,"

"Kalau boleh jujur noona, mungkin hyung juga sudah menyadarinya,"

Zitao terperangah sedikit ketakutan,"Tidak mungkin!"sentak Zitao,"Oh ya Tuhan, jika dia menyadari perasaanku pasti Kris akan memandang rendah padaku. Dia pasti menganggapku munafik. Bagaimana ini?"Zitao terlihat kebingungan, dia tidak ingin Kris mengira Zitao terlalu mengharapkan balasan cinta darinya.

Melihat kakak iparnya yang kacau seperti ini Sehun sedikit tidak tega. Namun jelas bukan haknya untuk mencampuri urusan rumah tangga orang lain.

"Andai saja kau juga menyadarinya noona, aku melihat sorot mata yang sama pada Kris hyung saat memandangmu," batin Sehun di dalam hati.

.

.

.

Zitao mengambil nafas kuat saat dia sudah di depan pintu utama Wu corp. Sambil menenteng bungkusan yang berisikan makan siang, gadis itu memantapkan langkahnya masuk. Ini pertama kalinya Zitao datang ke Wu corp. Itupun karena paksaan Mrs. Wu yang tidak kenal lelah untuk membuat pernikahan Kris dan Zitao berhasil.

"Apa Tuan Kris ada?"tanya Zitao pada resepsionis,"Aku mencoba menghubunginya tapi tidak diangakat,"kilah Zitao berbohong, padahal kenyataannya dia tidak punya nomor ponsel milik Kris.

"Ah Selamat datang nyonya,"sambut resepsionis itu sambil tiba-tiba berdiri lalu membungkukkan tubuhnya, sama sekali tidak menyangka istri dari Direktur perusahaan ini akan datang,"Sajangnim ada di dalam, namun beliau sedang melakukan presentasi dengan salah satu investor penting. Jadi kemungkinan mereka akan melewatkan makan siang. Mungkin jika anda tidak keberatan silahkan tunggu saja di ruangan beliau. Saya akan menyuruh salah satu staff untuk mengantar anda,"

Zitao sedikit berfikir, sebenarnya dia senang Kris sedang sibuk karena itu berarti dia tidak perlu bertemu pria itu. Jujur saja akhir-akhir ini Zitao jadi mudah gugup saat berdekatan dengan Kris. Namun jika dia menolak dan pulang, mungkin resepsionis ini akan berfikir rumah tangga mereka tidak harmonis. Ya, walaupun memang kenyataannya seperti itu tapi paling tidak Zitao ingin menutupinya.

"Baiklah, aku akan menunggu diruangannya,"jawab Zitao.

"Kalau begitu tolong tunggu sebentar nyonya,"balas sang resepsionis sambil menghubungi seseorang lewat line telephon. Tak berapa lama seseorang datang menghampiri mereka.

"Nyonya, ini Jieun yang akan mengantar anda menuju ruangan Direktur,"sambung resepsionis itu.

"Mari nyonya saya antar,"tawar Jieun dengan sopan.

Zitao mengangguk,"Terima kasih, aku merepotkanmu,"

"Tidak usah sungkan nyonya, itu memang sudah tugas saya,"jawab Jieun, lalu merekanpun berjalan beriringan menuju ruangan Kris.

Tak butuh waktu lama sampai mereka sampai ruangan yang dimaksud,"Ini ruangannya nyonya, silahkan tunggu didalam,"

"Ya, sekali lagi aku ucapkan terima kasih,"

"Sama-sama nyonya, kalau begitu saya permisi dulu,"pamit Jieun, lalu perempuan itu segera perginmeninggalkan Zitao.

Zitao memandang pintu yang tertup di depannya. Walaupun dengan sedikit ragu akhirnya Zitao memberanikan mendorong pintu itu hingga terbuka. Selangkah memasuki ruangan itu Zitao segera menyapu seluruh ruangan. Memang benar apa kata resepsionis tadi Kris tidak ada. Padahal ini sudah jam makan siang.

Ruangan itu luas, namun dengan dekorasi yang sederhana. Zitao yakin yang di depan sana itu meja kerja Kris. Yang di belakangnya penuh dengan rak-rak buku. Ada sebuah sofa dan meja kecil di pojok ruangan. Ada mesin pembuat kopi yang siletakkan di atas kabinet yang entah berisikan apa. Namun saat Zitao membukanya, gadis itu melihat botol wine berjajar rapi di sana.

Menutup kabinet itu lagi Zitao berjalan menuju meja kerja Kris. Gadis itu duduk di kursi putar milik Kris yang nyaman, meletakkan bungkusan makan siangnya di atas meja. Zitao mengusap tepian meja kerja itu seolah ingin menemukan sesuatu. Namun tiba-tiba matanya menemukan sesuatu yang ganjil. Dia melihat foto pernikahannya dengan Kris di meja itu. Di letakkan dengan bingkai kecil yang cantik. Dengan dada bergemuruh Zitao meraih bingkai foto itu.

Zitao tersenyum miris saat melihat ekspresi mereka berdua di foto itu. Tidak heran sebenarnya, karena mereka berdua memang sangat menentang pernikahan itu. Zitao tidak mau berfikir macam-macam kenapa Kris memajang foto mereka disini, mungkin hanya sebagai formalitas. Karena sangat tidak mungkin Kris akan meletakkan foto Luhan disini.

Terlalu lama menunggu membuat Zitao bosan dan mengantuk. Maka gadis itu memilih meneggelamkan wajahnya dilipatan tangan yang ditumpukan pada meja. Tak berapa lama, Zitao benar-benar terlelap.

.

.

.

"Jongin, kau tahu Mr. Jonh sepertinya tertarik dengan kita. Aku harap-"Kris menghentikan ucapannya saat menyadari seseorang tengah berada di dalam ruangannya. Kris dan sekretarisnya Jongin memang baru saja membuka pintu dan dikejutkan dengan seseorang yang tengah tertidur di dalam.

Jongin tersenyum lembut saat menyadari siapa gerangan orang itu,"Saya sedikit iri dengan Sajangnim, pasti menyenangkan disambut oleh sleeping beauty setiap hari," sebenarnya Jongin sedikit menyindir kebiasaan Kris yang sering lembur dan pulang larut malam. Pemuda itu yakin istri direkturnya itu pasti sudah tertidur setiap Kris pulang kerumah.

Kris melayangkan tatapan tajam pada Jongin yang membuat sekeretarisnya itu bergeming,"M-maafkan saya sajangnim, saya tidak bermaksud untuk tidak sopan,"sesal Jongin,"Baiklah kalau begitu Sajangnim, saya permisi dulu,"pamit Jongin undur diri dan meninggalkan Kris seorang diri bersama dengan istrinya yang tertidur.

Setelah kepergian Jongin, Kris mengalihkan tatapannya pada Zitao. Denagn pelan Kris berjalan menuju meja kerjanya. Dipandanginya Zitao yang tertidur pulas. Wajah tamapk sampingnya terlihat cantik seperti biasa. Dengan sadar Kris menjumput helaian rambut hitam Zitao yang panjang dan mencium ujungnya.

"Kenapa kau datang?"tanya Kris lirih, yakin bahwa Zitao tidak akan mendengarnya. Kris gundah saat memandang wajah Zitao. Selama setahun ini Kris sudah berusaha untuk mengubur perasaannya pada Zitao. Pemuda itu ingin fokus pada Luhan, karena jelas mantan kekasihnya itu membutuhkan dirinya. Pada awalnya memang sangat berat, karena perasaan Kris belum terlalu stabil pada Zitao. Masih terkesan menggebu-gebu. Namun lambat laun Kris berhasil juga menjinakkan perasaanya. Dan Kris berfikir mungkin ini memang yang terbaik, karena Zitao tidak menginginkan dirinya.

Tidak tega melihat Zitao yang sepertinya tidak nyaman dengan posisi tidurnya, Kris memutuskan untuk memindahkan Zitao ke atas sofa di samping ruangan. Pemuda itu menyusupkan lengannya ke balik punggung dan lutuk Zitao. Mengangkatnya bridal style Kris membawa Zitao menuju sofa. Dengan perlahan Kris membaringkan Zitao disana. Pemuda itu ikut duduk bersimpuh di lantai dan memandang wajah Zitao.

"Sleeping beauty?" gumam Kris mengingat ucapan Jongin tadi,"Tapi sayang aku tidak bisa membangunkanmu dengan ciuman,"sambung Kris sambil menyingkirkan helaian rambut Zitao yang menutupi wajah cantiknya,"Akan sangat menyedihkan jika kau mengetahui perasaanku jika kau terbangun karena ciumanku, kau pasti akan menganggap aku bodoh bukan?"

Tidak ada yang mengerti, sama sekali tidak ada yang mengerti bagaimana perasaan Kris pada Zitao. Sedemikian kuatnya hingga pemuda itu hanya berhasrat pada gadis bermata panda itu. Selama setahun ini terasa bagaikan siksaan bagi Kris, karena dia tidak bisa menyentuh gadis itu. Kris hanya menginginkan Zitao, hanya Zitao. Mungkin akan menjadi sebuah catatan yang memalukan jika Kris sampai menuliskan apa saja yang ingin ia lakukan pada tubuh Zitao setiap harinya.

Seperti saat ini, Zitao begitu dekat namun dia tidak bisa melakukan apapun benar-benar membuat Kris frustasi. Kris ingin menyentuh Zitao, sangat. Namun keadaan tidak memungkinkannya. Kris menyusuri wajah Zitao dengan ujung hidungnya yang tidak menempel, merasakan suhu tubuh Zitao sedekat ini sudah cukup bagi Kris untuk sekarang. Memandang wajah Zitao sedekat ini mampu menggetarkan seluruh tubunh Kris, saat bola matanya bergulir pada lekuk cantik bibir Zitao, Kris mengerang frustasi.

"Ya Tuhan, aku menginginkanmu Zi..."Kris tidak perduli jika dia terdengar meratap.

Maka pendirian Kris pun runtuh juga, dikecupnya bibir ranum itu dan mengulumnya ringan. Tubuh Kris benar-benar bergetar sekarang, perasaan yang merayapi tubuhnya terasa panas dan membakar. Rasa enggan yang begitu kuat merayapi Kris saat ia harus menarik bibirnya dari atas bibir Zitao. Kris tahu rssa sesak ini begitu menyakitkan, pandangan matanya sendu menatap Zitao.

"Have a nice dream, my sweet..."lirih Kris sambil mengusap bibir Zitao yang baru saja ia kecup.

.

.

.

Zitao tidak tahu bagaimana dia bisa berada disini. Di tengah-tengah padang rumput yang luas dengan rumpun bunga disana-sini. Sejauh mata memandang hanya hamparan rumput dan bunga yang terlihat. Zitao bingung dan sedikit takut, gadis itu sedikit berlari untuk mencari bantuan. Namun dia baru sadar jika ia bertelanjang kaki saat telapak kakinya terasa sakit. Zitao tersentak, dia pun kini menyadari tengah mengenakan gaun berwarna putih selutut tanpa lengan. Zitao semakin tidak mengerti, sebenarnya dimana ini? Dan kenapa Zitao bisa berada di sini?

Di tengah kebingungannya, tiba-tiba ia merasakan seseorang merengkuhnya dari belakang. Sepasang lengan melingkari tubuhnya dan dada yang kokok menghimpit punggung Zitao. Zitao ketakutan dan ingin berteriak, namun aneh sekuat apapun ia ingin berteriak namun suaranya tidak mau keluar. Keringat dingin mulai muncul di pelipis Zitao. Kenapa semuanya menjadi aneh seperti ini.

Di tengah kebingungannya, tiba-tiba orang asing yang memeluknya itu membalik tubuh Zitao. Dan betapa terkejutnya gadis itu saat mendapati Kris yang berdiri di sana. Tersenyum lembut dengan mata yang terpancar penuh kasih. Bibir Zitao kelu, dia ingin bertanya namun lagi-lagi suaranya tidak mau keluar. Sekuat apapun ia mengerakkan bibirnya tetap saja tidak berhasil. Padahal ada banyak yang ingin ia tanyakan pada Kris.

Di tengah kesibukannya untuk mengeluarkan suara, Zitao justru melihat Kris mendekatkan wajahnya. Gadis itu membeku saat Kris memberikan kecupan-kecupan ringan di sepanjang wajahnya, kedua tangan pemuda itu menangkup wajah Zitao lembut dan mendongakkannya sedikit. Zitao merasa sedikit melayang, apakah ini nyata? Atau hanya mimpi?

Zitao semakin terbuai saat bibir panas Kris menyentuh bibirnya. Pemuda itu mencium Zitao penuh, lembut dan menuntut. Pagutan bibir Kris seolah melelehkan persendian Zitao. Bahkan gadis itu terpaksa mencengkeram kedua bahu Kris kuat agar tidak terjatuh. Semuanya benar-benar seperti mimpi. Dan anehnya Zitao tidak ingin semuanya berakhir.

Namun tiba-tiba saja bumi tempat mereka berpijak bergetar. Membuat pagutan mereka terpisah dan menjauh...

'CLAP' Seketika Zitao membuka matanya, berkedip dua kali untuk menyeuaikan cahaya. Zitao sadar dia masih berada di ruangan Kris. Tunggu, ruangan Kris? Maka dengan cepat Zitao bangkit dari tidurnya.

Wajah Zitao bersemu merah seketika saat ia melihat Kris sudah duduk di meja kerjanya. Bukan apa-apa, dia malu sendiri jika mengingat mimpinya barusan. Bagaimana mungkin bisa dia memimpikan hal itu? Keluh Zitao di dalam hati.

"Maaf, aku datang karena umma-nim menyuruhku membawakanmu makan siang,"jelas Zitao sambil merapikan bajunya yang sedikit kusut. Apa tadi dia tidur dengan berantakan? Hahhh memalukan sekali, begitu pikir Zitao.

"Aku tahu, aku sudah memakannya,"jawab Kris, benar-benar memakan semuanya jika kalian tahu apa maksud Kris, "Katakan pada umma aku berterima kasih,"tepatnya berterima kasih karena menyuruh Zitao datang kemari.

"Baiklah, nanti akan aku sampaikan,"Jawab Zitao,"Kalau boleh tahu ini jam berapa?"

"Jam empat sore,"

Walaupun Zitao sudah terbiasa dengan sikap dingin Kris, tetap saja ini sedikit menyesakkan,"Kalau begitu aku pulang dulu, sampai nanti," pamit Zitao sambil bangkit dari atas sofa dan berjalan menuju pintu keluar tanpa memandang lagi ke arah Kris.

Saat Zitao sudah menghilang dari balik pintu, Kris menyandarkan punggungnya dengan keras dan meremat rambutnya dengan kedua tangan,"Apa yang telah kau lakukan Wu Yifan?"geram Kris pada dirinya sendiri."Yang tadi itu hampir saja..."

.

.

.

Sesampainya di rumah Zitao segera menuju kamarnya dan masuk ke dalam kamar mandi. Gadis itu menuju meja washtafel untuk membasuh wajahnya. Kepalanya harus didinginkan dengan segera. Karena bayang-bayang ciumannya dengan Kris di mimpi tadi tidak mau hilang. Maka dengan cepat Zitao memutar kran dan menampung air di kedua telapak tangannya lalu membasuhkan air itu ke wajah. Rasa segar kini menghampiri Zitao. Lama Zitao memandang wajahnya di depan cermin. Gadis itu merasa begitu menyedihkan. Namun Zitao menangkap sesuatu yang aneh, dia melihat ada tanda merah di dekat tulang selangkanya. Maka untuk memastikan ia mendekatkan lehernya ke depan cermin, dan ternyata benar itu kissmark.

Dengan dada bergemuruh dan tangan bergetar Zitao membuka dua kancing teratasnya. Persendian Zitao serasa melumpuh saat ia mendapati beberapa Kissmark lagi menyebar diana. Apakah Kris yang melakukannya? Tapi kenapa?

Tiba-tiba Zitao teringat lagi akan mimpinya, dan juga bajunya yang sedikit kusut saat ia terbangun. Mungkinkah benar-benar Kris yang melakukannya? Zitao bingung tubuhnya merosot di samping washtafel. Gadis itu menekuk lututnya dan mengusap wajahnya frustasi.

"Memangnya apa yang aku harapkan?"desah Zitao merasa lelah dan putus asa.

TBC

Mungkin dianatara karakter 'Kris' yang pernah aku tulis, karakter 'Kris' di Throwback ini yang paling di benci ma reader. Yah kalau kita bandingkan ma 'Kris' di Turun Ranjang(om-om yang sayang istri, dia cuma kasar di ranjang, lol) atau 'Kris' di Cheated! (Remaja yang peuh tanggung jawab, hehe) Kris di cerita ini memang sedikit mengesalkan.

Tapi justru itu, aku paling sayang ma karakter ini. Kris disini adalah salah satu tokok yang paling ingin aku beri kebahagiaan. Ada sesuatu dari karakter Kris disini yang mengundang simpati aku(duh kok jadi njelimet gini?)

So readers tercinta, give Kris some love juseyo~~~~

Oh iya, aku sedikit bingung nih, kalian mau aku lanjut cerita ini terus digabung yang di Love Trauma, atau distop aja sampai sebelum love Trauma baru chap selanjutnya di lanjut cerita mereka yang setelah Love Trauma?