[REMAKE] Bittersweet Rain - Sandra Brown

.

.

.

Disclaimer: Cerita sepenuhnya milik Sandra Brown.

.

[ WARNING ]

DON'T LIKE, DON'T READ

NO BASHING! NO JUDGING!

.

.

HUNHAN – KAISOO – GS for UKE

FAMILY – DRAMA – HURT COMFORT – ROMANCE

.

.

.

Previous chapter...

"Ada masalah yang belum kita selesaikan, masalah antara kau dan aku, Lu."

Luhan mengangkat wajahnya yang bercucuran air mata, menatap Sehun. Sambil tersenyum ia berkata,

"Ya, kita harus menyelesaikannya."

"Tapi urusan itu sudah kedaluarsa,"

Kata Sehun tenang, membiarkan ibu jarinya menyeka air mata dari pipi Luhan.

"Sudah melewati batas waktu."

Sehun menjulurkan tangan ke belakang, menutup pintu.

.

.

.

Bittersweet Rain

Chapter 11

.

.

.

Suara pintu ditutup adalah satu-satunya suara yang terdengar di ruangan itu. Tak ada lampu yang dinyalakan. Sinar matahari baru saja merangkak naik di ufuk timur, satu-satunya cahaya alam, menyelinap menembus tirai tipis kamar. Wangi bunga magnolia yang tumbuh di luar menerobos masuk. Luhan memeluk Sehun, bukan lagi pelukan gadis remaja, tetapi perempuan dewasa yang membutuhkan, dan ingin memberikan seluruh dirinya kepada pria itu.

Sehun merasa sekujur tubuhnya panas. Sangat panas. Tubuhnya juga memancarkan gelombang energi seperti yang dirasakan Luhan ketika pertama kali mengenal Sehun. Gelombang yang berdaya isap, membuat Luhan hendak mendekat. Seperti yang dirasakannya saat ini. Karena ingin gelombang energi itu menguasai dirinya, sebagaimana menguasai Sehun, Luhan mendekap Sehun erat-erat, melingkarkan tangannya di pinggang Sehun yang ramping. Di dada yang bidang itu, Luhan tersenyum. Sehun balas memeluk Luhan. Ia memejamkan mata dengan bahagia. Tangannya mengelus punggung Luhan yang ramping.

Tangan itu kemudian menyelinap ke bawah, menyentuh bokong Luhan yang penuh. Dipegangnya bokong itu dengan lembut, dielusnya, kemudian diremasnya dengan penuh hasrat. Kejantanan Sehun bereaksi. Keduanya merasakan hal itu. Desah napas mereka memburu, menggema.

"Luhan...Lu,"

Desah Sehun sambil menciumi rambut Luhan yang basah, lalu menjauhkan tubuh wanita itu agar bisa menunduk dan mencium bibir Luhan yang membuka. Bibir mereka saling memagut. Lidah mereka saling menjilat. Luhan membiarkan Sehun mendominasinya, membiarkan lidah Sehun menyelinap masuk ke mulutnya. Itu menunjukkan kepemilikan Sehun, yang tak disesalinya. Lidah pria itu dengan penuh cinta menjelajah, menjilat, berputar-putar di dalam mulut Luhan.

Seluruh pancaindranya tergetar. Getaran yang merayap masuk ke dalam tubuhnya dengan halus. Kemudian mencapai puncaknya ketika Sehun menjulurkan lidah makin jauh ke dalam mulutnya, berputar-putar makin cepat, sampai akhirnya ia merasakan tubuhnya seperti tubuh Luhan bergetar. Rambut Sehun tersangkut di antara jemarinya, ketika ia membelai bagian belakang kepala laki-laki tersebut. Harum sabun mandi Sehun, colognenya, aroma tubuhnya yang khas, memenuhi penciuman Luhan, memabukkannya.

Ketika menggigit-gigit kecil bibir Sehun, ia mengecap rasa mint pasta gigi yang dipakai Sehun. Erangan lembut dan kata-kata mesra yang dibisikkan Sehun membuat napas Luhan makin memburu dan percaya diri. Luhan tahu, meskipun tidak sampai bercinta dengan Sehun saat itu, ia merasakan dirinya seperti sudah menyatu dengannya. Senantiasa menyatu, dan akan selalu menyatu. Takdir telah menggariskan demikian.

Sejak pertama kali mengenal Sehun dua belas tahun lalu, jalan hidupnya sudah ditentukan. Sambil mengangkat kepala, Sehun meletakkan tangannya di pundak Luhan, menjauhkan diri darinya beberapa inci. Mata Luhan yang sayu tampak berbinar-binar saat menatap mata Sehun yang juga sayu memabukkan. Perlahan-lahan Sehun membuka ritsleting celana jinsnya dan menurunkannya. Dengan pandangan yang tetap lekat pada tubuh Luhan, ia melemparkan celananya ke samping. Sehun berdiri telanjang bulat di hadapan Luhan. Mata Luhan beralih ke tubuh Sehun. Andai ia pria, pasti ia akan iri hati melihat bentuk tubuh Sehun.

Tubuh yang tegap, ramping, lagi lentur. Bentuk dadanya bidang mengusik Luhan untuk mempermainkannya. Kejantanan yang kini mengeras. Air kehidupan bagai mengaliri jantung Luhan ketika ia mengamatinya. Sejenak ia memejamkan mata untuk melawan rasa pening yang menyerangnya. Ia merasa seperti mau pingsan. Desakan yang menggebu menyerang dirinya seperti mencekiknya. Itulah gelora hasrat yang murni, dipicu perasaan cinta, sebagian alasan mengapa ia sangat mencintai Sehun.

"Kau tidak apa-apa?"

Luhan membuka mata, melihat Sehun tersenyum padanya. Luhan tertawa malu-malu, bak gadis remaja.

"Ya, Sehun, aku tidak apa-apa. Hanya saja kau begitu tampan, dan aku begitu menginginkanmu."

Sehun mengecup bibir Luhan dengan kelembutan yang tulus.

"Terima kasih untuk pujianmu. Kita lihat apa lagi yang bisa kita lakukan."

Sehun mencari-cari tali pengikat mantel Luhan, menggamitnya dengan jari-jarinya. Ia menarik tali itu dan membuka ikatannya. Dengan gerakan perlahan tetapi lembut, diselipkannya tangannya ke balik kerah mantel mandi yang lebar itu lalu diturunkannya.

"Ya Tuhan, betapa cantiknya dirimu."

Suara gumam Sehun tak terdengar lagi ketika ia melihat payudara Luhan. Seakan tidak percaya pada penglihatannya bahwa ada payudara sesempurna itu, cepat-cepat ia meloloskan mantel itu dari tubuh Luhan dan membiarkan matanya memandangi tubuh Luhan yang kini tanpa sehelai benang pun dengan kagum. Sorot matanya memancarkan gairah yang meluap-luap, dan seperti hendak menelannya bulat-bulat.

Kemudian ujung jarinya, perlahan, sangat perlahan, Luhan hampir tidak merasakan sentuhannya, mengarah ke tempat yang sama dengan arah matanya. Menatap payudara Luhan yang penuh, perut dan pinggulnya yang mulus.

"Oh, Tuhan. Kau cantik sekali. Begitu cantik dan menawan."

Luhan merasakan ketulusan kata-kata Sehun yang menggetarkan tubuhnya saat pria itu menundukkan wajah ke dekat payudaranya. Dengan penuh kekaguman Sehun menggenggam salah satu dan memijatnya. Luhan mengangkat tangan dan meletakkannya di rambut Sehun. Ia mencondongkan tubuh ke dekat Sehun, agak terhuyung-huyung. Sehun mencium Luhan. Dengan ibu jarinya, ia menelusuri puncak payudaranya. Sehun memandanginya, tersenyum, kemudian mencondongkan badan dan menciuminya. Berulang-ulang.

"Sehun," ujar Luhan, lirih memanggil namanya.

Pria itu tidak memedulikannya. Sehun terus beraksi makin panas. Luhan menjerit, tersentak kaget, dan melengkungkan punggungnya sehingga Sehun makin leluasa bergerak. Sehun merasakan pipinya panas ketika makin merapatkan tubuhnya ke tubuh Luhan. Sehun menciumi payudaranya yang satu lagi, membuat Luhan mengerang, mendesah, dan menjambak rambutnya.

"Sayangku."

Sehun membenamkan wajahnya di antara payudara Luhan, sudah lama ia ingin sekali melakukannya. Sambil merentangkan tangan di punggung Luhan, ia menarik tubuh wanita itu serapat mungkin ke tubuhnya. Didekapnya erat-erat beberapa saat, kemudian ditegakkannya tubuhnya. Dengan sorot mata penuh cinta ia menatap wajah wanita tersebut. Ia mengangkat salah satu tangan Luhan, mendekatkannya ke bibir, menciumnya, dan berkata,

"Sentuh aku, kumohon"

Sehun menuntun tangan Luhan ke bagian tubuhnya yang seakan memiliki nyawa sendiri itu. Ketika Sehun menarik tangannya, tangan Luhan sudah berada di kejantanannya. Dengan napas tercekat karena takut menyakiti, Luhan menggenggamnya. Mengocoknya secara berlahan.

"Oh, Tuhan."

Sambil membisikkan nama Luhan dan kata-kata cinta, Sehun kembali menggenggam tangan kekasihnya itu dan menuntunnya melakukan hal yang memberikan kenikmatan padanya. sampai Sehun tak kuasa lagi menahan perasaan itu lebih lama. Aliran darah yang mengalir disekujur tubuhnya terasa panas terbakar. Hanya dengan tangannya, membuat Sehun semakin menginginkannya. Napasnya yang memburu menerpa telinga Luhan ketika ia mengerang bergetar,

"Luhan, Sayang...cukup, hentikan."

Sambil memegang kedua pipi Luhan, Sehun menciumi wanita itu dengan penuh gairah, lidahnya bermain-main di dalam mulut Luhan. Tanpa menghentikan ciumannya, Sehun merebahkan Luhan di ranjang, lalu menindihnya. Luhan siap menyambutnya, dan Sehun menyusupkan pinggulnya di antara paha Luhan yang membuka. Perut Sehun bergesekan dengan perut wanita itu, dadanya bergesekan dengan payudara Luhan. Sehun mendaratkan hujan ciuman pada tenggorokan dan leher Luhan dengan penuh gairah.

"Kalau harus menunggu lebih lama..."

"Jangan menunggu lagi," sahut Luhan, sambil melengkungkan tubuh ke arah Sehun.

Karena butuh waktu dua belas tahun untuk mengalami hal seperti ini, Sehun tidak mau terburu-buru mewujudkan keinginannya. Tangannya meluncur di atas payudara wanita itu. Puncaknya menunggu belaian lembut jari-jarinya. Sehun menyingkirkan jari-jarinya dan menggantinya dengan mulut, menciumi payudara Luhan sampai wanita itu nyaris lupa diri. Sehun menurunkan tubuhnya. Tangannya membelai perut Luhan, terus ke bawah, terkagum-kagum merasakan kehalusan kulitnya.

Kemudian jari-jarinya tiba di vaginanya yang lembut dan menikmatinya. Diletakkannya telapak tangannya dan dibiarkannya jari-jarinya bergerak di antara kedua paha Luhan. Sehun menjauh, memberi jarak agar ia bisa mendekati bagian tubuh sensitif Luhan. Mereka saling menatap, mengamati perasaan mendalam yang terpancar di wajah masing-masing setiap kali kejantanan Sehun menyentuh bagian paling intim Luhan. Tak kenal malu dan harga diri lagi, Luhan mengelus dada Sehun.

"Sehun, lakukan sekarang."

Dengan sekujur tubuh tegang, Sehun mengarahkan kejantanannya memasuki pelabuhan hangat di tubuh Luhan dan menurunkan tubuhnya sendiri. Perlahan – lahan ia menekan, terus menekan, sampai akhirnya... Tubuh Sehun kaku dan matanya, mendadak terang, menatap tajam Luhan. Napas memburu membuat dadanya bergerak naik-turun dengan cepat ketika ia menumpukan badannya pada siku.

"Luhan."

Luhan melihat bibir Sehun menyebut namanya. Ia menyebutkannya dengan suara yang hampir tak terdengar saking takjubnya.

"Kau... masih perawan."

"Ya, ya."

Pekik Luhan gembira. Ia memegangi leher Sehun, mencegah pria itu mengangkat tubuhnya.

"Aku selalu milikmu, Sehun. Hanya kau. Aku milikmu."

Sehun terdiam sejenak, tapi kemudian sambil menggeram senang, kembali ia memeluk Luhan dan menindihnya di ranjang. Gerakan tubuhnya kali ini lembut tetapi mantap. Pemanasan panjang tadi membuat Luhan siap menerimanya. Ketika tubuhnya menyerah pada laki-laki itu, Luhan merasakan kesakitan sesaat. Jeritannya dibungkam bibir Sehun. Keduanya mendesah serentak karena emosi luar biasa ketika akhirnya Sehun menyatu seutuhnya dengannya. Mereka melebur. Tubuh Luhan mendekapnya. Lama keduanya tak bergerak. Mereka menikmati perasaan menyatu, keintiman dua anak manusia, meleburnya mereka karena...

Cinta, hasrat, dan penderitaan.

"Aku tak percaya. Betapa nikmatnya. Oh, Lu, jangan sampai ini hanya sekadar mimpi."

"Ini bukan mimpi, Sehun," bisik Luhan. "Aku bisa merasakan tubuhmu menyatu dengan tubuhku."

Sambil mengangkat kepala, Sehun tersenyum. Dikecupnya bibir Luhan.

"Betulkah?"

Bisik Sehun, dan memastikan Luhan bisa merasakannya. Luhan menengadah sambil menggeram pelan.

"Ya, ya."

Sehun mulai bergerak. Karena ia memikirkan Luhan, gerakannya tak terlalu dalam dan pelan, tetapi kenikmatannya tidak kurang, menarik Luhan ke dunia yang menghanyutkan. Lama – kelamaan ritme yang dipakai Sehun semakin intens dan cepat, membuat mereka hanyut dalam kenikmatan cinta yang sudah ditunggu lama.

"Sentuh aku, Lu...kumohon."

Masih dengan ritme cepat Sehun menggeram, nafasnya memburu, hawa panas mengaliri perasaanya. Luhan tidak menyangka Sehun akan memerintahkan hal yang sangat intens itu pada dirinya, dengan pelan dan gugup Luhan mengarahkan jari – jari tangannya kearah kejantanan Sehun yang keluar masuk dalam dirinya. Saat Luhan membelai dan menggenggamnya, kejantanan Sehun luar biasa besar dan sangat licin, karena gairah mereka.

"Akh, ya begitu sayang, Oh, Ya Tuhan. Rasanya sangat panas dan...nikmat"

Terus dengan kegiatan keluar masuk pada diri Luhan, Sehun memejamkan matanya dan merasa sebentar lagi ia akan dekat.

"Sehun." Suara Luhan tercekik.

"Apa aku menyakitimu?"

"Tidak, Sayang, tidak."

"Lu...Luhan"

Sehun tak lagi mampu menahan gairahnya yang terus meninggi. Tubuhnya bergetar ketika mencapai puncaknya, Sehun merasakan kenikmatan paling dahsyat yang pernah dirasakannya selama hidupnya. Kenikmatan itu terus membuncah bagai takkan berakhir. Dan ketika akhirnya kenikmatan itu berlalu, Sehun terkulai di pelukan cinta Luhan dalam keadaan lelah, puas, dan bahagia.

.

.

.

.

"Lama sekali oppa dan Luhan turun,"

Keluh Kyungsoo. Ia khawatir sarapan yang disiapkannya bersama Minseok menjadi dingin dan tak bisa dinikmati Jongin lagi.

"Kalian sarapan saja dulu," saran Minseok.

"Aku tak keberatan menunggu mereka," jawab Jongin.

"Jangan, kau sudah kelaparan. Aku tahu kau sudah lapar."

Kyungsoo menuangkan sesendok telur orak-arik ke piring Jongin.

"Berapa lembar ham yang kau mau?"

"Dua," jawab Jongin.

"Tiga saja," ujar Kyungsoo.

Minseok meletakkan teko kopi di meja. "Aku akan naik, menyuruh mereka segera turun. Aku yakin mereka tertidur. Tetapi mereka perlu makan setelah begadang semalaman."

Minseok naik sambil mengoceh, tetapi Jongin dan Kyungsoo tidak memedulikannya. Mereka asyik sendiri. Dari anak tangga paling atas, Minseok melirik pintu kamar Sehun dengan perasaan ingin tahu. Pintu itu terbuka, tetapi ketika ia melongokkan kepala ke dalam, ia tidak melihat Sehun di sana. Begitu pun di kamar mandi, tidak ada. Paling tidak, ia tidak menjawab ketika Minseok memanggilnya perlahan.

"Hmm..."

Minseok mendengus, sambil memukulkan tangan ke paha.

"Di mana kau berada...?" Minseok melirik kamar tidur Luhan. Pintunya tertutup rapat. Minseok menyipitkan mata.

"Tadi aku menyuruh Sehun naik membawa baki untuk Luhan. Sekarang, baki itu tidak ada, ia pun lenyap. Pintu kamar Luhan tertutup, aku yakin mereka berduaan." Minseok berbalik ke arah tangga lagi.

"...Hmm, jelas aku tak mau tahu apa yang mereka lakukan di dalam sana, tapi aku tidak mendengar mereka bercakap-cakap."

Ketika sampai di anak tangga paling bawah, Minseok mendongakkan kepala menatap ke atas, kearah kamar Luhan, mengangguk gembira.

"Memang lebih pantas ia dengan Sehun daripada menikah dengan ayahnya, si tua itu," gumam Minseok sambil melangkah balik ke dapur.

"Mereka akan turun?" tanya Kyungsoo.

"Tidak. Sebentar lagi barangkali." Minseok berbalik, hendak mencuci piring.

"Kenapa tidak sekarang?"

"Mereka sedang tidur, itulah sebabnya."

"Tetapi mereka kan harus mengisi perut dulu. Kau yang bilang begitu. Biar aku yang membangunkan mereka dan menyuruh mereka..."

"Kau duduk saja,"

Perintah Minseok, membalikkan tubuh dari bak cucian dan membersihkan air sabun dari jarinya.

"Mereka sangat lelah. Sudahlah, kau urus saja urusanmu sendiri, urus pria kelaparan yang duduk bersamamu itu."

Tersinggung mendengar suara Minseok yang tegas, Kyungsoo perlahan kembali ke tempat duduknya. Jongin menangkap sorot mata Minseok tapi tidak memahaminya. Sekilas Jongin melempar pandang ke langit-langit. Minseok memerhatikan Jongin ketika perlahan-lahan pria itu memahami situasi yang terjadi. Mata Jongin berbinar jail.

"Kyung, bagaimana kalau setelah sarapan kau ikut aku ke kandang kuda? Sudah beberapa hari kau tidak menengok anak kudanya."

Kyungsoo memandang Jongin, kegembiraannya kembali.

"Tapi kurasa kau butuh tidur pagi lni."

"Tidak," jawab Jongin santai. "Aku tidak lelah. Kalau Minseok mengizinkan, aku ingin kau bersamaku sepagian ini, membantuku."

"Oh, Jongin," ujar Kyungsoo, sambil mengepalkan tangan. "Aku mau."

Minseok bertukar pandang dengan Jongin, dan Jongin mengedipkan mata.

.

.

.

.

"Kenapa kau tidak berterus terang padaku?"

Tanya Sehun sambil menjumput rambut Luhan dan mengusapkannya di bibir. Sehun berbaring telentang. Luhan menelungkup, bersandar di tubuh Sehun. Luhan menyentuh dada Sehun dan mempermainkannya dengan jari-jarinya.

"Karena aku ingin tahu seberapa dalam cintamu padaku. Kalau aku memberitahumu, ayahmu dan aku tak pernah berhubungan intim, kau akan percaya?"

"Bisa saja. Aku bisa tahu cukup cepat."

Luhan menggeleng. "Aku tidak ingin hubungan intim pertama kita hanya sekedar ujian."

Mata Sehun menatap wajah Luhan dengan penuh kasih sayang.

"Aku paham maksudmu. Tapi bagaimana kalau aku memercayaimu dengan seluruh jiwa ragaku?"

Luhan menyentuh dada Sehun dan melihatnya bereaksi.

"Tapi aku tidak akan pernah tahu seberapa dalam cintamu padaku. Karena kau yang datang padaku, meskipun yakin aku sudah ternoda tetapi kau tetap mencintaiku, aku tahu kau bersedia mengorbankan keangkuhanmu demi cintamu."

Sambil menarik tubuh Luhan, Sehun menciuminya. Ketika akhirnya menghentikan ciumannya, ia berkata,

"Aku bukan hendak mendiskusikan masalah ini sekarang, tapi kenapa kau tidak pernah tidur dengan daddy? Jangan bilang ia begitu baik sehingga membiarkanmu tetap perawan."

"Tidak, aku tidak ingin meyakinkanmu soal itu. Kurasa, ia ingin melakukannya pada malam pengantin kami."

Luhan memejamkan mata dan tubuhnya gemetar.

"...Yunhomasuk ke kamar ini. Waktu itu aku tidak tahu bagaimana menjalaninya, karena aku masih mencintaimu."

Luhan meletakkan tangan Sehun ke pipinya, seperti orang linglung ia menggosok-gosokkan punggung jari-jari Sehun ke pipinya.

"...Tapi aku telah membuat kesepakatan dan berniat menjalaninya."

Luhan terdiam. Sehun menatap langit-langit, tidak ingin sedikit pun membayangkan Luhan berada di tempat yang sama, menghirup udara yang sama dengan ayahnya itu.

"Apa yang terjadi setelahnya?"

"Ia menciumku beberapa kali. Hanya itu. Kemudian ia meninggalkanku tanpa sepatah kata pun. Aku bingung. Aku tak tahu apa yang harus kulakukan. Baru beberapa hari kemudian aku tahu, waktu itu ia sedang sakit. Ia menelan sejumlah obat sakit perut, obat-obat seperti itulah. Aku sadar ketika ia tidak datang ke kamarku lagi, ia rupanya impoten dan itu akibat penyakit di perutnya. Tentu saja aku tahu pasti fakta itu sekarang. Kami tidak pernah membicarakannya. Egonya pasti hancur bila ia mencoba dan ternyata gagal."

Setelah diam sejenak, Sehun bertanya, "Terpikirkah kau untuk menceritakan semua itu padaku?"

"Maksudmu, supaya kita tidak membencinya? Entahlah, Sehun. Aku sendiri menanyakannya pada diriku setiap hari. Kenapa aku tidak mengatakannya padamu dan mengakhirinya?"

Luhan menelusuri hidung Sehun dengan jari.

"Aku juga punya harga diri. Aku ingin kau mencintaiku lebih dari apa pun."

"Aku sangat mencintaimu. Aku sangat menginginkanmu. Tapi setiap kali aku membayangkan dirimu dan laki-laki itu, aku..."

"Ssst,"

Ujar Luhan, menghentikan kata-kata Sehun dengan meletakkan jari telunjuknya di bibir pria itu.

"Aku tahu. Aku tahu siksaan yang harus kau tanggung."

"Kau tahu apa yang ia katakan padaku setelah kau meninggalkan kamar rumah sakit di hari ia meninggal?" Luhan menggeleng. "Aku mengatakan padamu ia meninggalkan warisan. Inilah warisannya. Daddy bilang aku takkan pernah bisa memilikimu karena harga diriku takkan membiarkanku melakukan hal itu."

Mata Sehun penuh cinta menatap Luhan, dan bibimya bergerak, menyunggingkan senyum.

"Ia keliru, bukan? la tidak mengira cintaku sedemikian besar padamu." Sehun mengelus wajah Luhan. "Kemudian ia mengatakan aku harus selalu ingat kau sudah jadi istrinya, bahwa dialah yang memilikimu pertama kali."

Padahal tidak.

Luhan menatap Sehun, terkejut. "Maksudmu, ia dengan sengaja membuat kesan agar kau percaya bahwa dia telah memiliki..."

"Ya."

"Oh, sayangku."

Luhan mencium pipi Sehun dengan lembut dan menepiskan rambut yang jatuh di atas alisnya.

"Kukira, kau hanya mengira-ngira, tidak kusangka ia benar-benar ingin kau mempercayainya."

Sehun tertawa sinis. "Ia kenal benar diriku. Hampir saja ia berhasil memisahkan kita."

"Aku senang kita tidak berpisah."

"Oh, Tuhan," gumam Sehun, "Begitu pun aku."

Diputar-putarnya sejumput rambut Luhan.

"Kalau kuingat detik-detik yang sangat menyiksaku itu. Kubayangkan dirimu bersamanya, hatiku sakit sekali. Ternyata, kau tetap orang yang sama."

Sehun menyentuh bibir Luhan.

"...Luhan, kekasih yang kukenal di musim panas di pinggir hutan. Tetap sama. Selalu sama."

Sehun menarik tubuh Luhan dan menciuminya sampai mereka berdua kehabisan napas.

"...Tetap sama, tapi tidak serupa."

Melihat air muka Sehun yang melembut, Luhan menangkap kesan Sehun menganggap pernikahannya dengan Yunho sudah berakhir.

"Tidak serupa? Bagaimana bisa?" tanya Luhan nakal, sambil menekuk lutut dan menjulurkan kaki ke udara.

Dijulurkannya kakinya seperti penari balet. Sehun memerhatikannya. Kaki itu indah sekali, ramping, panjang. Kuku kakinya dipoles cat kuku warna cokelat muda Sehun membayangkan hal-hal yang erotik melihat ibu jari tersebut. Sehun menanggapi godaan Luhan.

"Umpamanya..."

Sehun menyelipkan tangannya ke bawah tubuh Luhan.

"Payudaramu."

Ia memegang salah satunya dan meremasnya.

"Kenapa dengan payudaraku?"

"Lebih besar."

Ia menggelitik puncaknya.

"Ada yang lain?"

"Kau lebih lembut, lebih berisi, lebih dewasa, tapi sikapmu tetap malu-malu seperti gadis remaja. Kau seperti yang kukhayalkan selama bertahun-tahun. Bahkan lebih."

"Kau kecewa?"

Sehun menelusuri tulang leher Luhan dengan lidah lalu menciumi lekuk payudaranya.

"Tidak, oh, tidak."

Sehun melirik Luhan. Sorot matanya penuh penyesalan.

"Tetapi aku takut kau berubah."

"Tidak akan pernah, Oh Sehun," Luhan mencium alis Sehun. "Tidak akan pernah."

"Tapi kau tidak...kau tahu. Yang ditulis di majalah-majalah perempuan."

Tiga jari Luhan mempermainkan bibir Sehun.

"Itu sama sekali bukan masalah bagiku. Aku sudah merasakan milikmu. Aku melihatnya, merasakannya di dalam tubuhku, tahu bagaimana rasanya ketika bersamamu. Aku ingin menyaksikan kau mencintaiku."

Tangan Sehun erat mendekap tubuh Luhan.

"Aku sangat mencintaimu, kau tahu itu. Mencintaimu. Tingkahku seperti bajingan beberapa minggu ini, mencemoohmu, menyakitimu. Semakin aku mencintaimu, semakin buruk kelakuanku."

Sambil tertawa kecil, Luhan merebahkan kepala di dada Sehun dan meletakkan tangannya di bagian bawah perut laki-laki itu.

"Kau memang menyakitiku kadang-kadang. Tapi aku tahu apa sebabnya. Dan aku memaafkanmu. Aku mencintaimu."

Sehun memegang tangan Luhan dan menurunkannya.

"Keberatan?"

Luhan menggenggam tubuh Sehun. "Sama sekali tidak. Aku juga suka menyentuh tubuhmu. Tangan Sehun langsung ke dada Luhan dan mengelusnya.

"Ayo tidur sebentar."

"Kau ingin tidur?"

"Tidak juga. Tetapi aku ingin kau di sampingku ketika aku terbangun."

.

.

.

.

Hari menjelang petang ketika mereka berdua turun. Sambil bergandengan, saling tersenyum, mereka tidak melihat Kyungsoo dan Jongin sampai tiba di teras rumah.

"Jongin ingin bicara denganmu, oppa,"

Kyungsoo memberitahu. Tingkahnya seperti gadis kecil yang tidak sabar hendak membuka kado ulang tahunnya. Matanya berbinar-binar. Ia kelihatan resah. Sehun menatapnya dulu, kemudian Jongin, yang dengan gelisah memutar-mutar topinya.

"Luhan dan aku sudah lapar sekali. Bisakah kita membicarakannya setelah makan siang?"

"Ya."

"Tidak."

Mereka menjawab serentak. Luhan, menangkap apa yang ada di benak Jongin, menyela dengan diplomatis.

"Aku yakin akan lebih baik bila kita bicara setelah makan siang."

Sambil memandang mesra Sehun, Luhan melepaskan gandengan tangannya dan menghampiri Kyungsoo.

"Minseok sudah menyiapkannya." Diajaknya gadis itu ke ruang makan. "Apa yang akan disampaikan Jongin kepada Sehun?" tanya Luhan lembut.

"Kami akan menikah," Kyungsoo menjawab.

"Kalau begitu, kusarankan kita menunggunya sampai Sehun mengisi perut."

Luhan menggenggam tangan Kyungsoo, memberi dukungan. Selagi makan siang, Minseok membawa telepon nirkabel ke ruang makan.

"Dari Sheriff."

Sheriff menelepon hendak memberitahu mereka sudah menangkap orang-orang yang membakar pemintalan Oh Gin. Salah seorang di antaranya adalah yang menelepon Jongdae dan memperingatkannya soal kebakaran. Ia mengaku sakit hati dan menghasut yang lain.

"Tak ada gunanya mereka mengaku tidak bersalah. Aku tahu, kami sudah mendapat pengakuan resmi dari tiga orang lainnya menjelang makan malam."

"Terima kasih, Sheriff. Tzpi usahakan keluarga mereka tetap aman, terjamin makan, sewa, apa pun kebutuhan mereka selama beberapa bulan. Kirimkan tagihannya pada saya."

Sehun meletakkan telepon dan menyampaikan berita itu kepada yang lain. Begitu acara makan selesai, meja langsung dibereskan, Kyungsoo dengan gembira meminta semua orang ke ruang baca.

"Ayo, Jongin," katanya sambil menyenggol Jongin. ia menelan ludah.

"Tuan Oh Sehun, dengan restumu, aku ingin menikahi Kyungsoo."

Tanpa menunjukkan perasaannya tentang permintaan itu, Sehun duduk di kursi kulit di belakang meja lebar. Ia menyeruput es teh yang dibawanya dari ruang makan.

"Dan bila aku tidak merestui?"

Mata Jongin tidak menunjukkan keraguan sedikit pun.

"Aku akan tetap menikahinya."

Sehun menatap Jongin lama, suasana tegang. Tak satu pun mengalihkan pandangan. Akhirnya Sehun berkata,

"Nona – nona, maaf, kami ingin bicara empat mata. Dan, Lu, tolong tutup pintu itu."

.

.

.

.

"Bagaimana kau tahu aku ada di sini?"

"Naluri."

Sehun menepis ranting pohon cemara dan berjalan ke arah tempat terbuka. Luhan duduk di bawah pohon, sebuah buku tergeletak di pangkuannya. Ia belum selesai membacanya, matanya tertuju ke depan, melihat Sehun muncul di antara pepohonan. Sehun berjalan ke dekat pohon, meletakkan tangannya di batang pohon, menatap Luhan yang mendongakkan wajah.

"Tidak tahukah kau, berbahaya bagimu berada di hutan sendirian?"

"Kenapa? Ini hutanku."

"Tapi pemerkosa bisa muncul dan memperkosamu."

"Itulah yang kumau."

Sambil tertawa, Sehun duduk di sisinya dan memeluknya. Beberapa kali Sehun mengecup wajah Luhan, menekankan bibirnya, menyiratkan kepemilikannya atas Luhan. Luhan membiarkan pria itu melakukannya beberapa saat, baru kemudian mendorongnya.

"Tunggu. Pertama, aku ingin tahu apa yang kaukatakan pada Jongin."

"Kukatakan padanya, bila ia sekali saja menyakiti Kyungsoo, aku akan membunuhnya."

"Kau tidak boleh begitu!"

Sehun mengangkat bahu dan tersenyum jail.

"Yah, aku mengatakannya dengan baik-baik."

"Tapi kau setuju mereka menikah?"

"Ya, aku setuju," jawab Sehun.

Luhan mendekap Sehun erat-erat.

"Sehun, aku bahagia sekali."

Sehun agak menjauhkan diri, menatap Luhan.

"Oya? Kau rasa itu yang terbaik untuk Kyungsoo?"

"Ya, aku yakin. Kyungsoo sangat mencintainya. Dan kau tidak perlu khawatir Jongin menyakitinya. dia sangat memuja Kyungsoo. Aku yakin sosok Kyungsoo bak peri baginya. Jongin hampir tak tahan untuk tidak menyentuhnya."

"Kelihatannya ia juga orang yang tulus," kata Sehun.

"Aku mengajukan syarat bahwa Kyungsoo harus tetap tinggal di Mansion. Aku tidak yakin Kyungsoo bisa betah tinggal di rumah lain. Jongin setuju, tapi ia minta diberi tanggung jawab lebih. Ia tidak mau dianggap menikahi Kyungsoo karena harta warisannya, dan ia hanya karyawan biasa."

"Itu yang aku harapkan darinya. Ia bekerja lebih keras dibandingkan yang lain, padahal ia cacat. Itu sudah karakternya. Ia bilang padaku, atau mungkin memperingatkanku— itu kata yang lebih baik, bahwa pernikahan mereka tulus."

Alisnya berkerut. "Menurutmu, Kyungsoo bisa tidur dengan laki-laki?"

Luhan tertawa dan membenamkan hidungnya ke leher Sehun.

"Aku malah punya kesan Kyungsoo mengejar-ngejar Jongin berbulan-bulan lamanya. Justru Jongin yang mencoba menjauh demi kebaikannya."

"Tapi apa Kyungsoo mengerti tanggung jawab yang berkaitan dengan seks?"

"Sehun!"

Sambil meletakkan kedua tangan di pipi Sehun dan meminta seluruh perhatiannya, Luhan berkata,

"Kyungsoo dilahirkan dengan kekurangan dalam hal belajar. Tapi emosi dan tubuhnya tetap perempuan. Tak ada yang bisa menghapus kebutuhan biologis, juga kebutuhan akan makanan atau udara. Kyungsoo pasti lebih bahagia daripada hari-hari sebelumnya. Jongin sangat mencintainya. Ia akan menyayangi Kyungsoo."

Luhan melihat ketegangan Sehun menyurut, air mukanya tampak lebih santai. Hal itu menyulut rasa ingin tahu Luhan, tentang seberapa jauh Sehun menghargai pendapatnya.

"Bagaimana denganmu?"

"Aku?" tanya Luhan.

"Bagaimana dengan kebutuhanmu selama bertahun-tahun belakangan itu, apa yang kau lakukan pada dirimu?"

"Aku hidup dalam kenangan dan mimpi. Kenangan akan dirimu di tempat ini. Mimpi yang kutahu takkan pernah terwujud."

Sehun duduk di rumput yang lembut bersama Luhan dan membuka kancing blus wanita itu. "Kau memikirkan aku? Sekali-sekali?"

"Setiap hari. Setiap jam. Meskipun tidak pernah bisa berjumpa denganmu lagi, aku akan mengingatmu sampai ajal menjemputku."

Sesaat Sehun memejamkan mata, meresapi kata-kata Luhan. Ketika membuka mata, ia menatap Luhan dengan sorot berbinar-binar.

"Aku mendengar suara guntur. Atau itu suara debar jantungku?"

Luhan tersenyum. Sehun pernah mengatakan hal itu dulu.

"Guntur. Sebentar lagi hujan turun."

"Kau takut?"

"Aku lebih suka hujan."

"Sayangku, oh, sayangku," bisik Sehun di mulut Luhan. "Oh, Tuhan, aku mencintaimu."

Luhan menolong Sehun melepas kemejanya. Sehun berdiri dan Luhan seperti penonton yang sudah tidak tahan hendak membuka ikat pinggang Sehun, membuka ritsleting celananya, dan melepaskannya. Sehun memegang celana dalamnya, lalu meloloskannya. Tanpa pakaian selembar pun. Di bawah cahaya malam, deru hujan, tubuhnya berdiri tegak seperti manusia purba.

Apalagi ketika melihat titik hujan jatuh menerpa kulitnya. Sambil berlutut di samping Luhan, Sehun menariknya duduk ke sisinya, membuka blusnya. Bra Luhan berenda-renda cantik, sangat berbeda dengan bra yang dipakainya beberapa tahun yang lalu. Sehun menyentuh payudara Luhan yang berbalut bahan sutra.

"Lihat akibat perbuatanmu,"

Kata Luhan ketika melepas branya setelah Sehun membuka pengaitnya.

"Kau tidak malu pada dirimu sendiri?"

"Ya,"

Jawab Sehun dengan menyesal, tetapi wajahnya sama sekali tidak menampakkan penyesalan. Sehun membuka kancing rok Luhan dan melepaskannya, membiarkan tubuh Luhan hanya terbalut celana dalam. Kemudian ia membungkuk untuk melepaskan tali sepatu sandal yang dipakainya, yang melingkari kakinya yang indah. Ketika sandal sudah terlepas, Sehun mengelus-elus dan memijat kakinya. Luhan memiringkan badan, menopang tubuh dengan siku. Ia memerhatikan apa yang dibuat Sehun dengan bahagia. Tetapi ketika Sehun menunduk dan mencium ujung ibu jari kakinya, ia tergetar karena bergairah.

"Sehun," gumam Luhan lembut, dan merebahkan tubuh di rerumputan yang hijau.

Sehun menindih tubuh Luhan. Luhan merenggut rambut Sehun yang basah ketika pria itu menciuminya dengan panas. Sehun menikmati bibir Luhan seperti orang yang tengah memakan buah yang lezat. Kemudian, selembut titik hujan, bibirnya menciumi pipinya, berhenti di daun telinganya. Lidah Sehun mempermainkan lubang telinganya. Diciuminya leher dan dadanya. Titik-titik hujan jatuh menimpa dada Luhan, membuat bagian itu mengilap. Sehun menyeruput titik-titik air tersebut. Bibir Sehun terasa hangat di kulitnya yang dingin ketika laki-laki tersebut menciumi payudaranya.

"Aku tak pernah lupa bagaimana rasanya dirimu. Tidak pernah."

Luhan menggeliat di bawah tubuh Sehun, bergoyang, mencengkeram kejantanan Sehun. Mereka memang pasangan yang serasi, napas mereka melayang ke udara. Sehun mengelus bagian yang diinginkan Luhan tapi tidak diungkapkannya. Luhan menggumamkan nama Sehun dengan lirih.

"Jangan dulu," ujar Sehun dengan suara gemetar di atas perut Luhan. "Yang ini untukmu."

Sehun bergerak makin ke bawah, menghujani rusuk Luhan dengan ciuman. Bibirnya terus bergerak turun sampai pusar, menciumi bagian vaginanya, membuat Luhan menggeliat dan mengerang. Beberapa kali Sehun memasukkan ujung lidahnya ke dalam pusat Luhan. Kemudian, menggunakan hidung dan dagunya, ia menurunkan celana dalam Luhan sampai ke kaki, baru melepaskannya dengan menggunakan kakinya. Luhan merasa hampir hancur berkeping-keping karena menahan tekanan gairah di dalam tubuhnya. Ia merasa tidak mampu menahan lebih lama lagi. Tapi Sehun baru saja mulai. Bibir pria itu menciumi pusat tubuhnya, dan mengembuskan napas di situ.

"Sehun..."

Panggilannya tenggelam di antara bibirnya yang gemetar ketika mencengkeram rambut Sehun. Dengan lembut tangan Sehun membetulkan posisi Luhan, menyentuhnya. Tapi Luhan tidak siap menerima ciuman manis Sehun di vaginanya itu. Bibirnya yang penuh cinta, lidahnya yang terus menggoda dan membelai klirotisnya, melambungkan Luhan ke puncak kenikmatan dunia, yang merampas semua akal sehatnya.

Sehun terus membangkitkan gairah Luhan, sampai wanita itu merasa seluruh tubuhnya seperti hendak meledak. Sehun telah membangunkan gunung berapi di dalam tubuh Luhan. Ketika merasa lubang Luhan terasa basah dan siap, Sehun segera menindihnya. Mengarahkan kejantanannya pada lubang kehangatan itu dan memasukinya secara perlahan. Kata-kata cinta yang meluncur keluar dari bibir wanita itu, makin membangkitkan hasrat Sehun.

"Aku mencintaimu."

Tubuhnya tak menyisakan kesempatan untuk hal lain, kecuali mendorong kejantanannya untuk bergerak makin cepat, Sehun menggeram. Oh Tuhan. Ini adalah kenikmatan yang sangat dirindukannya selama bertahun-tahun. Sehun tidak ingin percintaannya berakhir sekarang. Luhan bergetar, lubangnya menjepit, meremas-remas kejantanannya. Sehun memejamkan mata dan mengerutkan alis, Sehun sudah dekat, tapi ia menahannya untuk tidak keluar sekarang, tidak ingin mengakhiri semua ini dengan cepat. Kejantanannya membengkak, Sehun sudah hampir mati menahan semua kejolak pada dirinya.

"Hmm..." Sehun gemetar.

Sebentar lagi, sayang. Sebentar lagi. beri aku waktu sedikit lagi untuk menikmatimu.

Sial. Seperti mendengar pikiran Sehun. Sekarang Luhan sangat basah dan semakin menjepit kejantanannya, menandakan ia tidak dapat menahannya lebih lama lagi, gesekan mereka semakin terasa panas dan licin. Kejantanan Sehun terasa sangat hangat dan membuatnya semakin bergairah dan ingin terus menyatu dengan kekasih tercintanya ini, yang sudah ada di bawah kukungannya. Luhan. Luhan kekasihnya.

Sampai akhirnya mereka gemetar hebat, meledak dan bermandikan titik-titik cahaya yang terang benderang. Setelah mereka berhasil mencapai puncak orgasme, kembali ke dunia nyata, titik-titik cahaya pun meredup. Mereka kembali berada di dunia yang remang-remang dan berkabut. Mereka terselubung kabut warna keperakan yang melingkupi hati dan pikiran mereka beberapa saat yang lalu. Dan tubuh mereka yang masih menyatu bermandikan air hujan yang turun membasahi bumi.

.

.

.

To be continue

.

.

.

28 Januari 2017

Haii ketemu lagi, gimana gimana?

Pembukaan dan penutupnya pake ENCEH, hmm enaklaa yaa haha. HunHan udah bersatu niih, gimana sudah encer(?) #eh LoL tolong bagian encehnya jangan di bayangin yah #TelatPichaaNgasihTaunya

Buat yang udah baca novel aslinya, hmm sepertinya kalian tau dimana letak perbedaanya *laughsweat , buat yang belum.. nikmati aja encehnya yah *uhuk

KaiSoo mah udah happy lah ya, mau meridd juga, akhirnya wkk

Ada yang nanya ff ini sampe chapter berapa(?)

Ada deeh, haha

Sampai ketemu di chapter selanjutnya~

GOOD NIGHT

See Ya!

.

Pichaa's notes:

Rencananya aku mau bikin ff sendiri tapi bingung ide ceritanya seperti apa, hmm karena aku adalah nunanya sehun *ehem, yang pasti aku suka cerita yang hawt enceh tapi berisi, bukan enceh2 doang isinya wkk, LoL. Tapi keknya kalian suka yang enceh full ya *smirk. Yang mau kasih ide bole lewat review atau pm, bebas sih ya. Ini mah selingan aja abis pengen banget bikin cerita sesuai imajinasi.

.

Thankyou:

luhanzone , hunhan5201 , gexa , MulanXoXo , Latifanh , ohjasminxiaolu , eci95 , MeriskaLu , pinzame , Hannie222 , Guest , aii , FeFebz , misslah , rosemary , , Dini695 , Ita Daiki , BlackDeer07 , Manggocillo , nisaramaidah28 , Arifahohse , pinkeury , Adella520 , Adelia548 , Guest , exo , exo12 , HH.947 , Feyaliaz307

.

.

.

with love, pichaa