Happy reading yeoreobun... ^^,
.
.
.
GS, No Bash please ^^,
Sorry for typo
.
.
.
I hope you'll like my story
ChikinChikin
Cast : Kim Jongin & Do Kyungsoo (GS)
CHAPTER 11
With You
Previous chapter
Kyungsoo datang seperti biasa untuk menyiapkan sarapan. Kunci yang diberikan halmeoni sudah kembali dipegang oleh Kyungsoo. Ternyata Jongin takut akan terkena masalah jika halmeoni tahu. Rumah masih sepi. Sepertinya Jongin masih tidur. Kyungsoo naik ke lantai dua, menuju kamar Jongin. Pelan-pelan Kyungsoo membuka pintu kamar Jongin. Kyungsoo masuk setengah mengendap-endap, sebisa mungkin Kyungsoo berusaha tidak membuat banyak suara. Kyungsoo berjongkok di samping ranjang Jongin. Kyungsoo menatap Jongin yang masih tidur sambil tersenyum.
.
.
.
.
"10 menit lagi", ucap Jongin yang belum membuka matanya sambil menarik tangan Kyungsoo. Kyungsoo sekarang berada diatas Jingin yang sedang memeluknya.
"Ya! Lepaskan!".
"10 menit, hanya 10 menit". Kyungsoo menyerah dan membiarkan Jongin melakukan itu.
"Ya, hari ini antar aku berbelanja".
"Tunggu sampai halmeoni pulang saja".
"Kau lihat isi kulkas. Sudah tidak ada apapun".
"Baiklah".
"Kau tidak kuliah? Cepatlah bangun. Aku pegal posisi tubuhku seperti ini".
"Kalau begitu kau tidur di sampingku".
"Ya! Kim Jongin!".
"Baiklah. Baiklah". Jongin melepaskan pelukannya dan Kyungsoo terbebas.
"Kau tidak kuliah?".
"Aku malas".
"Astaga, untuk apa kau pindah kesini jika kuliahmu sama saja seperti sebelumnya!".
"Aigu... kau lebih cerewet dari halmeoni. Baiklah, nunim. Aku akan kuliah".
Jongin sudah mandi, sedang menikmati sarapan yabg dibuat Kyungsoo. Jongin sudah rapi. Ada kuliah pagi. Itu yang membuat Jongin malas. Kyungsoo duduk di meja makan di depan Jongin.
"Kau selesai kuliah jam berapa?".
"Jam 2 aku selesai". Wajah Jongin tidak seperti biasanya. Kyungsoo bisa lihat Jongin kesal karena harus masuk kuliah pagi.
"Kau kesal padaku?".
Jongin menggeleng, "tidak".
"Aku menyuruhmu kuliah untuk kebaikanmu. Aku tidak mau kau terkena masalah". Jongin tersenyum.
"Aku tidak marah", sahut Jingun sambil mencubit pipi Kyungsoo. Jongin pergi ke dapur menyimpan piring kotor bekas dia makan.
"Besok bagaimana? Kau ikut kan?", tanya Jongin.
"Besok?".
"Ohh... ke acara ulang tahun temanku. Aku ingin pamer pacarku pada mereka. Halmeoni pulang siang nanti".
"Besok tidak tahu. Berarti siang nanti aku harus menyiapkan makan siang".
Jongin pergi menuju kamar halmeoni untuk mencari jaket miliknya, yang halmeoni cuci. Jongin diam di pintu kamar setelah melihat sesuatu.
"Kyungsooya... kemari", panggil Jongin.
"Ada apa?". Jongin mengangkat dagunya menunjuk sesuatu di depannya.
Mata buat Kyungsoo melebar, mulutnya menganga tidak percaya apa yang dia lihat. Ada foto ukuran besar menggantung di dinding kamar hameoni tepat mengarah ke pintu kamar. Foto-Kyungsoo-dan-Jongin. Foto mereka berdua saat Kyungsoo tertidur di sofa dengan Jongin, dan halmeoni sempat mengambil gambar mereka.
"Kenapa ada foto ini di kamar halmeoni?".
Tawa kecil Jongin muncul. Sedangkan Kyungsoo panik. Melihat foto dirinya sedang bersandar di pundak pria yang sekarang sedang tertawa.
"Kau senang?", tanya Kyungsoo.
"Tentu", jawab Jongin singkat.
"Kenapa? Halmeoni pasti...-".
"Setuju dengan hubungan kita", ujar Jongin.
"Pantas saja halmeoni tidak pernah marah jika aku pergi hingga larut denganmu", ucap Jongin sambil terus tertawa.
Kyungsoo terus menatap foto itu. Bagaimana nanti jika dia bertemu halmeoni. Kyungsoo malu. Jongin tiba-tiba mendekat. Mencium pipi Kyungsoo dan memfotonya.
"Ya! Apa yang kau lakukan?", protes Kyungsoo.
"Aku akan pajang foto ini di kamarku. Aku buat ukurannya lebih besar dari foto itu", jawab Jongin menunjuk foto di kamar halmeoni lalu pergi meninggalkan Kyungsoo. Kyungsoo yang tidak terima mengejar Jongin. Kyungsoo merebut handphone Jongin.
"Kembalikan, Kyungsooya. Jangan kau hapus".
"Setidaknya aku harus terlihat cantik di foto. Kemari", kata Kyungsoo yangbsudah siap memfoto menggunakan handphone Jongin. Jongin hanya tersenyum melihat Kyungsoo. Jongin mendekat. Sekarang Kyungsoo yang mencium pipi Jongin. Jongin mematung.
"Wah... Do Kyungsoo kau memang penuh kejutan". Kyungsoo tersenyum. Mengambil sling bagnya lalu berjalan keluar. Jongin menyusul Kyungsoo. Jongin mengantarkan Kyungsoo sampai restoran. Yuri, kakak Kyungsoo sudah lebih dulu ke restoran.
Yuri melihat Kyungsoo keluar dari mobil dan melihat seorang pria melambaikan tangan dari dalam mobil sambil tersenyum pada Kyungsoo.
"Siapa?", tanya Yuri.
"Teman".
"Kekasihmu?", tanya Yuri lebih pasti. Kyungsoo tak menjawab, ia langsung emasang apron dan pergi ke dapur.
"Jemiya... Soo nuna sudah punya kekasih", ucap Yuri bicara pada Jemi yang sedang digendongnya di punggungnya.
.
.
.
.
Halmeoni sudah pulang. Kyungsoo pergi ke rumah halmeoni setelah pamit pada Yuri. Halmeoni tidak pulang sendiri. Ada seorang pria paruh baya bersama halmeoni. Halmeoni menyuruh Kyungsoo pergi berbelanja dan halmeoni akan menyuruh Jongin menjemput Kyungsoo. Hanya berbelanja untuk makan malam hari ini saja. Kyungsoo masih berbelanja, Jongin menelepon karena sudah di supermarket. Kyungsoo tidak mengatakan pada Jongin bahwa di rumah halmeoni ada tamu. Selain karena Jongin tidak bertanya, juga karena Kyungsoo lupa tentang itu. Selesai berbelanja Kyungsoo dan Jongin pulang. Kyungsoo masuk lebih dulu dan Jongin menyusul sambil membawa plasti belanjaan. Jongin terkejut saat melihat siapa yang sedang mengobrol dengan halmeoni di ruang tengah.
"Abeoji?". Kyungsoo yang sedang mengeluarkan barang belanjaan langsung mematung saat mendengar Jongin memanggil pria paruh baya itu 'abeoji'. Itu ayah Jongin. Tn. Kim Minho.
"Ohh, Jongina. Kau pulang?".
"Abeoji kapan datang?".
Kyungsoo hanya melirik dan melanjutkan pekerjaannya di dapur. Jongin, halmeoni dan ayahnya mengobrol. Kyungsoo selesai menyiapkan makan malam. Seperti biasa halmeoni mengajak Kyungsoo ikut makan malam bersama.
"Kyungsooya, ayo kita makan malam".
"Tidak, halmeoni. Terima kasih. Sebelum kemari aku sudah makan".
"Benar? Ah, ini Kyungsoo. Dia yang menyiapkan makanan di rumah ini. Kau akan suka masakannya", ucap halmeoni memperkenalkan Kyungsoo pada ayah Jongin. Kyungsoo pun langsung membungkukkan badannya memberi salam.
"Annueonghaseyo, namaku Do Kyungsoo". Tn. Minho, ayah Jongin membalas sapaan Kyungsol dengan senyuman. Senyumnya sama seperti senyuman Jongin.
Kyungsoo menuju halaman belakang, menunggu halmeoni selesai makan malam. Jongin melihat Kyungsoo pergi ke belakang dan menghampiri Kyungsoo.
"Sedang apa kau disini? Ayo makan malam", ajak Jongin.
Kyungsoo menggeleng, "kau saja".
"Baiklah. Nanti pulang denganku". Jongin lalu masuk.
Kyungsoo duduk di ayunan seperti biasa. Memasang earphone di kedua telinganya. Kyungsoo menyandarkan tubuhnya. Kyungsoo merasa mengantuk tiba-tiba. Tanpa sadar Kyungsoo tertidur. Jongin menghampiri Kyungsoo di halaman belakang setelah selesai makan malam. Jongin yang melihat Kyungsoo tertidur, diam-diam mendekat dan duduk di samping Kyungsoo. Jongin lalu mengecup bibir Kyungsoo tanpa Kyungsoo tahu. Tak lama Kyungsoo terbangun dan melihat Jongin duduk di sampingnya dengan senyum yang mencurigakan.
"Apa? Apa yang sudah kau lakukan?", tanya Kyungsoo.
"Tidak ada. Aku baru saja selesai makan dan melihatmu tidur".
"Aku tidak percaya".
"Benar. Kalau kau ingin tahu aku bisa menunjukkan padamu dengan jelas dan tidak ada yang terlewat". Jongin lalu bangun dan kembali ke pintu masuk menuju halaman belakang.
Jongin memparaktekan lagi saat dia datang dan melihat Kyungsoo tertidur lalu duduk disampingnya.
"Lalu aku duduk di sampingmu. Lalu-". Jongin mencium bibir Kyungsoo lagi. Kyungsoo terkejut dan mendorong tubuh Jongin.
"Ya! Kau sudah gila? Ada halmeoni dan ayahmu di dalam".
"Lalu kenapa?". Kyungsoo memelototi Jongin.
"Kau benar melakukan itu-tadi?".
"Kau mau aku mengulangnya lagi?", tanya Jongin tersenyum jahil.
"Tidak. Thank you very much", jawab Kyungsoo lalu masuk meninggalkan Jongin.
"Ya, Do Kyungsoo mau kemana? Kau tidak mau membalas apa yang aku lakukan tadi?". Kyungsoo tidak menghiraukan Jongin yang sedang tertawa.
Kyungsoo membereskan dapur, mencuci semua piring kotor. Ayah Jongin yang sedang mengobrol dengan halmeoni bertanya pada Kyungsoo.
"Kau masih kuliah?".
"Tidak. Aku sudah lulus".
"Lalu apa yang kau lakukan?".
"Selain membantu halmeoni, aku membuka restoran ayam", jawab Kyungsoo ramah.
"Pantas saja masakanmu enak".
"Ah, terima kasih". Jongin yang baru saja datang dari halaman belakang langsung ikut bicara.
"Bagaimana menurut abeoji? Cantik, pintar, dan dia jago memasak", ucap Jongin. Ayahnya hanya tersenyum mendengar perkataan Jongin. Sedangkan Kyungsoo tentu kesal.
Bagaimana bisa dia bicara seperti itu pada ayahnya. Kyungsoo tidak berkomentar tentu saja. Hanya diam melirik sinis ke arah Jongin. Sedangkan Jongin begitu terlihat bahagia. Kyungsoo selesai membereskan semuanya. Lalu Kyungsoo pamit untuk pulang. Kyungsoo berjalan lebih dulu, Jongin menyusulnya di belakangnya. Jongin sudah menarik nafas untuk bicara pada Kyungsoo.
"Jangan bicara padaku", kata Kyungsoo.
"Kau marah?".
"Tidak".
"Lalu?".
"Aku kesal". Jongin tertawa.
"Tapi ini kemajuan", kata Jongin. Kyungsoo menatap Jongin.
"Maksudmu?".
"Kalau kau kesal, biasanya akan menyuruhku pergi. Lalu tadi, kau tahu aku menciummu saat kau tidur tapi kau tidak memukulku".
"Itu, karena akan melakukannya sekarang", Kyungsoo berlari setelah memukul lengan Jongin. Jongin lalu mengejar Kyungsoo. Akhirnya mereka sampai di depan rumah Kyungsoo.
"Masuklah. Halmeoni sudah bilang besok kau tidak perlu ke rumah?".
"Ohh, sudah. Oh ya, tentang pergi ke pesta ulang tahun temanmu aku ikut".
"Asa... baiklah. Setelah kau selesai di restoran akan ku jemput".
"Apa aku perlu pergi ke salon atai membeli baju baru?".
"Tidak perlu. Pakailah pakaian yang menurutmu nyaman. Kau tetap cantik".
Jongin pergi setelah melihat Kyungsoo masuk. Lagi-lagi rumahnya sudah sepi. Yuri pun hari ini tidak terlihat di ruang tamu. Kyungsoo lalu masuk ke dalam kamarnya. Saat Kyungsoo baru saja masuk, Kyungsoo mendengar pintu rumah yang terbuka. Siapa yang baru pulang? Kyungsoo pikir dia yang terakhir masuk rumah. Kyungsoo lalu membuka pintunya sedikit hanya sampai ada celah untuk melihat keluar. Yuri. Kakaknya baru saja datang sambil membawa keranjang bayi Jemi. Kyungsoo tak bertanya dari mana. Mungkin Yuri habis membeli keperluan Jemi.
.
.
.
.
"Jongina, aku sudah pulang dari restoran. Jika aku sudah siap baru aku hubungi kau lagi. Agar kau tidak terlalu lama menunggu".
"Ohh, baiklah".
Kyungsoo sedikit mempercepat langkahnya. Sudah hampir pukul 9 malam. Restoran tutu sedikit agak malam karena Kyungsoo mendapat pesanan untuk besok. Jadi dia menyiapkan semuanya agar besok tidak repot. Kyungsoo harus cepat-cepat sampai di rumah untuk siap-siap. Jongin bilang acaranya dimulai pukul 10. Kyungsoo sebenarnya bingung, kenapa acara pestanya begitu malam. Kyungsoo selalu lupa untuk menanyakan itu pada Jongin.
Kyungsoo sudah selesai menyulap dirinya sendiri. Dress berwarna biru langit diatas lutut, rambut Kyungsoo dia buat sedikit bergelombang dan ia ikat. Riasan wajah sederhana tapi tetap membuat Kyungsoo cantik. Sling bag warna merah menggantung di pundak Kyungsoo, warna tasnya senada dengan warna high heels yang Kyungsoo pakai. Kyungsoo sengaja tidak berdandan terlalu aneh, karena Kyungsoo tidak tahibdimana tempat pestanya. Jongin sudah menunggu di luar. Jongin seperti sudah sepakat dengan Kyungsoo. Memakai jas modern berwarna biru dongker. T-shirt dengan leher v. Celana jeans. Bagian depan rambutnya, Jongin buat sedikit naik. Simpel, tapi sangat cocok untuk Jongin. Jongin tersenyum lebar saat melihat Kyungsoo keluar.
"Waw... kau benar Do Kyungsoo yang setiap hari kesal padaku?".
"Hentikan itu. Jangan membuatku merasa menyesal memakai ini semua".
"Kau cantik". Jongin membukakan pintu mobil untuk Kyungsoo. Mereka pergi menuju tempat pesta. Ini pertama kalinya, Kyungsoo berdandan seperti ini dan pergi bersama seorang pria.
Akhirnya mereka sampai. Kyungso sempat bingung saat melihat lampu berbentuk huruf dengan lampu berkelap-kelip, bertuliskan 'club'.
"Disini tempat pestanya?".
"Hoo... kenapa?".
"Tidak. Untung aku tidak dandan berlebihan". Jongin menggenggam tangan Kyungsoo dan mengajaknya masuk.
Di dalam sudah ramai dengan teman-teman Jongin. Kyungsoo melihat satu persatu teman-teman Jongin. Jongin tidak pernah lupa memperkenalkan Kyungsoo jika ada temannya yang menyapa. Kyungsoo mengerutkan keningnya, kesal, atau tidak suka. Entahlah, yang jelas Kyungsoo merasa aneh. Saat beberapa teman wanita Jongin menyapa Jongin dan memeluk Jongin. Jongin. Dia membalas pelikan itu. Meski Kyungsoo tahu mereka hanya teman tapi bagaimana Jongin setenang itu melakukannya di depan Kyungsoo. Kyungsoo menyenggol tubuh Jongin dengan sikunya. Jongin mendekatkan tubuhnya agar Kyungsoo bisa berbisik padanya.
"Kau! Setenang itu memeluk wanita lain?".
"Kau cemburu?".
"Bukan. Hanya saja-".
"Maaf, mereka hanya teman", Jongin memotong perkataan Kyungsoo dan merangkul tubuh Kyungsoo.
"Aku, ke toilet". Kyungsoo pergi ke toilet untuk keluar dari suasana aneh. Ini pertama kali untuk Kyungsoo. Segalanya. Pergi ke club. Bersama seorang pria.
Saat menuju toilet Kyungsoo melewati sebuah lorong kecil. Di ujung lorong sebelum menuju toilet ada sebuah meja seperti meja receptionis dan ada beberapa pelayan club itu sedang menerima barang bawaan pengunjung. Itu seperti tempat penitipan barang atau semacamnya. Kyungsoo menghentikan langkahnya saat melihat ada keranjang bayi di meja itu. Kyungsoo seperti tahu keranjang bayi itu. Perlahan Kyungsoo mendekat. Melihat keranjang bayi itu. Betapa kagetnya Kyungsoo saat melihat bayi yang ada di dalam keranjang itu. Itu Jemi. Sedang tertidur. Di tempat seperti ini. Mata Kyungsoo melihat sekeliling mencari sosok Yuri, kakaknya. Kyungsoo pun bertanya pada pelayan yang ada di situ karena tidak bisa menemukan sosok Yuri.
"Maaf, bayi ini...-?"
"Ah, ibunya sedang di ruang VIP bersama tamunya", jawab pelayan tersebut.
"Heh?". Pelayan itu pun memberitahu dimana ruang VIP yang disebut oleh pelayan club itu.
Berbagai macam pertanyaan muncul di pikiran Kyungsoo. Ruang VIP? Bersama tamu? Apa maksudnya. Perlahan Kyungsoo mendeka ke ruangan yang katanya ada Yuri di dalamnya. Kyungsoo pelan-pelan membuka pintu ruangan itu. Kyungsoo benar-benar tidak percaya saat melihat apa yangbterjadi di dalam. Yuri sedang duduk di samping pria dengan pakaian rapi, dan tubuh Yuri sedang dipeluk oleh pria itu. Yuri sama kagetnya saat melihat ada Kyungsoo.
"Maafkan aku, aku salah ruangan", kata Kyungsoo dingin. Lalu kembali menutup pintu ruangan itu.
Kyungsoo berjalan keliar dari club. Jongin mencari kemana Kyungsoo yang tak juga kembali dari toilet, melihat Kyungsoo pergi keluar dan dibelakangnya ada Yuri. Jongin lalu menyusul mereka. Kyungsoo berbicara agak jauh dari depan club karena club sedang ramai sekali. Yuri tertunduk dihadapan Kyungsoo.
"Apa yang kau lakukan?".
"Kau membiarkan Jemi tidur di tempat seperti ini? Dan kau bersama-?", tanya Kyungsoo.
"Sooya".
"Jangan panggil aku seperti itu. Aku heran padamu. Tidak bisakah kau sekali saja tidak perlu melakukan hal aneh? Bagaiana jika ayah dan ibu tahu kau melakukan ini? Ini alasanmu sering pulang larut ke rumah? Aku tidak menyangka kau melakukan sejauh ini. Kau butuh uang? Katakan padaku! Tidak perlu melakukan ini".
"Aku melakukan ini untuk membayar ke bank", jawab Yuri yang sudah menangis.
"Apa? Aku bilang padamu, kau tidak perlu melakukan itu! Jika memang kau berniat membayar ke bank lakukan dengan cara yang baik. Kau tidak kasihan melihat anakmu sendiri ada di tempat seperti ini? Tolonglah, aku mohon padamu. Berhenti melakukan hal aneh yang membuat dirimu susah".
Yuri hanya menangis. Kyungsoo benar-benar keaal pada kakaknya yang berbuat sejauh ini. Jongin melihat Kyungsoo yang begitu marah pasa kakaknya dari kejauhan.
"Sekarang kau. Ganti pakaianmu bawa Jemi dan pulang". Kyungsoo lalu pergi meninggalkan Yuri. Kyungsoo terdiam saat melihat Jongin. Jongin tersenyum hangat pada Kyungsoo yang sedang menahan tangisnya.
"Jongina...".
"Ajak kakakmu pulang, aku tunggu di luar, hmm".
"Maafkan aku", ucap Kyungsoo.
"Tidak apa-apa. Ajak kakakmu pulang".
Kyungsoo lalu mengajak Yuri untuk masuk, mengganti pakaiannya dan pulang. Jongin sudah menunggu di luar, didepan mobilnya. Jongin mengantarkan Yuri pulang. Mereka sampai di depan rumah Kyungsoo. Kyungsoo turun dari mobil dan membantu Yuri membawa keranjang bayi Jemi.
"Aku harap kau berhenti melakukan ini, dan juga jangan sampai ayah dan ibu tahu tentang ini. Masuklah. Kasihan Jemi". Yuri tak banyak bicara ia langsung menuruti perkataan Kyungsoo.
Jongin keluar dari mobil mendekati Kyungsoo. Kyungsoo menghela mafas panjang, dia masih menahan tangisnya. Jongin memeluk Kyungsoo dan Kyungsoo mulai menangis.
"Menangislah, tidak perlu kau tahan".
Jongin memeluk Kyungsoo yang sedang menangis. Jongin tidak banyak berkomentar jika Kyungsoo sedang seperti ini. Ini pertama kalinya Kyungsoo terlihat begitu marah pada kakaknya. Sekarang mereka ada di taman bermain sekolah SD tempat biasa mereka diam. Kyungsoo duduk di ayunan kecil dan Jongin duduk di ayunan sampingnya. Jongin berdiri melepaskan jasnya dan dia pakaikan pada Kyungsoo. Kyungsoo melihat Jongin.
"Aku baik-baik saja", kata Kyungsoo lemas.
"Kau selalu seperti ini. Mengatakan kau baik-baik saja setelah menangis padaku".
"Maafkan aku".
"Kenapa kau meminta maaf?".
"Harusnya tidak seperti ini".
"Sudahlah. Apa aku harus menari lagi untukmu?", tanya Jongin yang berdiri di depan Kyungsoo yang sudah mulai melakukan gerakan aneh.
"Jangan".
"Kenapa?", Jongin masih melakukan gerakan aneh dengan bernyanyi lagu dadakan yang ia cipatakan sendiri tanpa nada yang jelas.
"Kau tampan hari ini. Jangan rusak penampilanmu dengan melakukan itu". Jongin berhenti menari dan bernyanyi.
"Do Kyungsoo kau membuatku malu. Ah, harusnya ku rekam perkataanmu tadi. Untuk merayakan karena kau telah menyebutku tampan. Jadi aku akan menari dan bernyanyi untukmu".
Jongin melanjutkan tarian aneh dan nyanyiannya yang tidak jelas. Kyungsoo mulai tersenyum dengan terus menyuruh Jongin berhenti melakukan itu. Lagi dan lagi, Kyungsoo menangis pada Jongin. Juga lagi dan lagi, Jongin menghiburnya dengan tarian dan nyanyian tidak jelasnya. Kyungsoo, beruntung bisa mengenal Jongin yang tetap menyebalkan.
.
.
.
.
Kkeut ! Done for this chapter ^^,
Maafkan telat update, semalam lupa update karena ada acara dan baru baca review kalian pagi ini... jeoseonghabnida *deep bow*
Thank you for your review yeoreobun, thank you karena sudah suka baca ff ku ini ^^,
Hari ini aku hanya bisa update chapter ini saja karena aku harus pergi dan baru kembali besok. Handphoneku tidak mendukung untuk bisa upload next chapter, mianhae :((
Wait for next chaper yeoreobun... ^^,
Review juseyo... ^^, *bow*
*kisshug*
*XOXO*.
