Hermione tak kunjung bangun. Ia sudah memberikan napas buatan tetapi tidak ada hasilnya.
"Sial! Pasti seseorang melakukan ini," desis Draco dengan segala amarahnya. "Argh! Aku akan menemukan mu penyihir sampah! Akan ku balas perbuatanmu!" Teriak Draco.
.
.
DISCLAIMER :
It's none of my character, it's all belongs to Mrs. J.K Rowling. Stories/Plot are mine. I take no profit in this fic. Kalau Harry Potter buatanku, sudah dari dulu kupasangkan Hermione dengan Draco.
WARNING :
Typo(s), A lot of mistake, EYD berantakan, Maybe OOC? Dan jauh dari kata sempurna.
.
.
Hope you like it! Enjoy this chapter! *smile*
.
Draco menggendong tubuh kaku Hermione. Tubuh mungil itu suhu nya sungguh dingin dan terlihat buruk – seperti manekin. Draco teringat dengan kejadian di mana Hermione terbujur kaku karena Basilisk. Ia tak kuasa untuk menyalahkan diri sendirinya karena ia pernah berharap Basilisk akan membunuh Hermione.
Draco membereskan segala barang-barang yang kini sudah berserakan. Ia memasukannya ke dalam tas Hermione, kemudian sambil tetap menggendong Hermione, ia menaiki sapu terbangnya dengan sangat hati-hati dan kemudian ia menerbangkan sapu nya tanpa memikirkan untuk menggunakan jubah tak terlihat milik Harry. Ia tahu, Filch atau Mrs. Norris tidak akan menemukan dirinya jika ia lewat jendela asrama ketua murid. Dengan modal nekat, ia memegang Hermione erat-erat sambil membawa dua tas, ia mengarahkan sapu nya untuk terbang ke arah menara tertinggi – asrama ketua murid – setelah menara astronomi. Ia merapal kan mantra untuk membuka jendela nya dan ketika jendela terbuka, ia langsung masuk.
Ia baru sadar setelah matanya melihat tembok ruangan yang kini ia tempati berwarna merah maroon. Ini kamar Hermione. Tanpa pikir panjang, Draco melempar tas yang ia bawa dan langsung merebahkan Hermione ke atas kasur milik Hermione. Draco menyadari kalau baju dirinya dan Hermione masih basah. Ia bingung apakah harus ia sendiri yang menggantikan baju Hermione? Tidak! Tidak boleh. Masih ada peri rumah yang bisa melakukan itu. Ia kemudian memanggil peri rumah perempuan.
"Dora!"
Peri rumah itu tak kunjung datang. Draco memanggilnya sekali lagi dan akhirnya peri rumah itu datang dengan suara 'pops' nya.
"Maaf Mister. A-ada yang bisa Dora lakukan?" Tanya peri rumah yang bernama Dora sambil gemetar.
"Cepat gantikan baju Hermione. Pakai kan baju yang hangat untuknya dan buat kan dua cangkir cokelat panas," titah Draco dengan nada yang tajam.
Peri rumah itu kaget saat melihat Hermione seperti orang mati. Ia tak berani menanyakan apa yang terjadi pada ketua murid putri. Ia tahu, Draco sedang dalam ke adaan yang tidak memungkinkan untuk di tanya.
Draco keluar dari kamar Hermione. Ketika Draco sudah pergi, peri rumah itu cepat-cepat mengganti baju Hermione dengan sweater yang tebal dan celana kain yang longgar dan hangat. Kemudian Dora menyelimuti Hermione. Setelah selesai menggantikan baju Hermione, ia pergi ke pantry untuk membuat dua cangkir cokelat panas sesuai yang di perintahkan Draco. Dengan cekatan, ia mengantarkan cokelat panas itu ke kamar Hermione.
Draco sudah berada di dalam kamar saat Dora mengantarkan cokelat panas tersebut. Tatapan Draco tidak berpindah selain menatap gadis yang ia cintai. Ia duduk di sebelah gadis bersurai cokelat madu itu. Tangannya mengelus-ngelus punggung tangan mungil gadis itu. Iris kelabu itu terlihat sedih dan kosong. Ia bahkan tak sadar Dora sudah ada di sana.
"T-tuan. Ini.. ini cokelat panasnya," ucap Dora.
"Simpan di meja. Terima kasih, kau bisa kembali tidur sekarang," ujar Draco tanpa melirik Dora.
"Baiklah. Selamat malam Mister Draco."
Peri rumah itu meninggalkan kedua ketua murid itu. Draco menggenggam lengan Hermione. Ia menciumi nya dan menaruhnya ke dekat pipinya. Draco menangis. Seumur hidupnya ia tak pernah menangis. Terkecuali saat di tahun ke enam, saat ia benar-benar memilih untuk mati ketimbang hidup dalam kegelapan. Kali ini, ia menangis untuk seorang wanita. Seorang gadis yang berani memukul dirinya, yang berani membentak di wajahnya, satu-satunya wanita yang tidak mau patuh terhadapnya dan gadis ini sudah memikat hati Draco. Hermione membuat dirinya jatuh cinta kepadanya. Apakah Draco akan kehilangan seseorang yang sangat berharga untuknya? Hell no! Draco akan melakukan apa pun bahkan ia akan mengeluarkan berjuta-juta galleon asalkan Hermione yang ia cintai terbangun dan sehat kembali. Draco mulai berbicara kepada tubuh kaku Hermione. Ia tahu, ia tidak akan mendapatkan jawaban apapun dari gadis itu, tetapi bicara adalah satu satunya yang bisa ia lakukan untuk menenangkan dirinya sendiri.
"Maafkan aku Hermione. Aku tak bisa menjaga mu dengan baik. Please, bangun Hermione. Aku tahu, kau kuat jadi kau harus bangun sekarang. Ku mohon Hermione," ucap Draco memohon.
Hermione tetap tidak bangun. Draco tidak peduli dengan pelajaran besok atau pun apa yang akan terjadi. Ia akan di sini bersama Hermione. Menjaganya sampai ia terbangun. Ia juga akan mencari siapa yang berniat membunuh Hermione. Ia tak akan memberi tahu siapa pun karena semakin banyak yang tahu, semakin panjang urusannya. Apalagi jika kedua bodyguard Hermione tahu bahwa Draco tidak becus menjaga Hermione.
Draco memutuskan untuk tidur dengan Hermione dan besok ia akan menemui madam Pomfrey untuk menyembuhkan Hermione. Ia juga akan melakukan tugas profesor Sprout sendirian. Ia penyebab yang membuat Hermione seperti ini jadi ia akan bertanggung jawab dengan caranya sendiri.
Sinar matahari sudah memancarkan sinar nya. Kicauan burung pun sudah terdengar. Draco terbangun dari tidurnya yang tidak begitu nyaman. Ia tertidur sambil duduk di kursi di sebelah Hermione. Ia mengerjap-ngerjapkan matanya. Surai platina nya berantakan. Draco terlihat berantakan dan ia tak begitu peduli sekarang dengan penampilan pagi hari nya. Ia melihat Hermione masih tak kunjung bangun namun suhu tubuhnya sudah tidak sedingin tadi malam.
Tanpa repot-repot Draco langsung pergi ke Hospital Wing untuk menemui madam Pomfrey. Ia tak sadar bahwa dirinya masih mengenakan piama tidurnya. Dengan tergesa-gesa ia berlari menyelusuri koridor-koridor sekolah dan mengabaikan tatapan aneh dari murid-murid yang sudah terbangun lebih awal dan sudah berpakaian rapih.
Sesampai di hospital wings, Draco menerjang pintu dan memanggil healer sekolah itu.
"Madam Pomfrey! Madam Pomfrey! Ma-"
"Ada apa Mister Malfoy? Mengapa kau masih mengenakan piama dan berteriak-teriak di pagi hari?"
Draco menepuk kening nya dan menghela napas. "Maafkan saya madam, tapi saya ingin madam ke kamar ketua murid putri sekarang. Aku akan menjelaskan apa yang terjadi nanti yang jelas aku ingin kau ke sana sekarang. Ini bersangkutan dengan Hermione."
"Apa yang kau lakukan padanya huh? Apa kalian saling melempar mantra kembali?" Tanya mada Pomfrey mulai panik.
"Sudah kubilang aku akan menjelaskannya di asrama ketua murid nanti. Sekarang bergeraklah lebih cepat untuk menyelamatkan Hermione," ucap Draco dengan kesal.
Madam Pomfrey memberenggut kesal kepada Draco, namun ia tetap mengikuti perintah Draco. Mereka berdua bergegas ke kamar ketua murid putri. Setelah mereka sampai di sana, betapa terkejut madam Pomfrey melihat Hermione yang tertidur kaku di sana.
"Oh my, oh my, apa yang terjadi? Kenapa baru sekarang kau memberi tahu ku? Sejak kapan ia seperti ini?" Tanya madam Pomfrey sambil memeriksa Hermione dengan tongkatnya.
"Tadi malam. Aku dengan Hermione sedang melakukan tugas Herbologi di pinggir danau hitam. Aku meninggalkannya sekitar lima menit untuk mengambil sari mahogany tetapi setelah aku kembali, aku menemukannya sudah mengambang di danau hitam," jelas Draco. "Aku yakin ada seseorang selain aku dan Hermione pada saat itu. Apakah ia bisa terbangun dan kembali seperti sedia kala madam?"
"Ya tentu. Suhu di malam hari memang sangat berbahaya apalagi ia ter gigit oleh duyung di bagian kaki nya. Kau cukup cepat untuk membawanya ke asrama dan menghangatkan badannya. Aku akan mengirimkan beberapa ramuan yang harus ia minum. Untuk saat ini biar kan ia tertidur. Ia akan bangun sekitar tiga sampai lima jam kemudian," ucap madam Pomfrey.
"Baiklah. Terima kasih dan madam, aku harap kau jangan menyebarkan berita ini kepada seluruh murid. Aku ingin tidak begitu banyak masalah yang akan datang. Aku harap juga, kau bersedia untuk memberi tahu professor McGonagall dan Profesor Dumbledore mengenai hal ini," ujar Draco agak memohon.
Madam Pomfrey terdiam sejenak dan mengamati wajah Malfoy junior itu. Setelah ia yakin, ia tersenyum dan mengangguk.
"Baiklah kalau begitu. Kau jaga dia dengan baik dan pastikan apa yang dia inginkan kau lakukan. Keadaannya masih lemah dan butuh perawatan ekstra. Aku akan menyampaikan ini pada McGonagall hari ini. Kabari aku kembali dua hari kemudian."
Draco mengangguk. Madam Pomfrey pergi meninggalkan kamar Hermione dan bergegas menemui kepala sekolah Hogwarts – Dumbledore.
Setelah madam Pomfrey menghilang, Draco duduk kembali di sisi Hermione. Ia membelai kepala Hermione. Ia bodoh sampai-sampai tidak tahu bahwa di danau hitam saat itu mereka berdua tidak sendirian. Mengapa ia bisa tidak merasakan keberadaan orang itu? Penyihir itu pasti orang Hogwarts dan memiliki dendam tersendiri kepada Hermione. Otak Draco mulai memiliki spekulasi siapa yang berniat mencelakakan gadisnya. Ia tahu, pasti salah satu siswa Slytherin. Apakah ia harus melakukan pencarian sekarang? Tetapi bagaimana dengan Hermione? Bagaimana ketika ia bangun dan dirinya tidak ada di sana? Draco mengacak-ngacak rambutnya dengan frustrasi dan menghela napas berat.
"In Salazar's name! mengapa masalah selalu datang satu persatu? Merlin! Apa kau menghukum ku? Aku benar-benar lelah," gumam Draco kepada dirinya sendiri.
Draco menyandarkan tubuhnya. Ia memijat pelipis kening nya. Ia terlalu lelah dengan semua masalah yang berdatangan satu persatu. Apakah salah jika ia mencintai seorang Hermione? Mengapa begitu banyak rintangan? Draco belum memikirkan bagaimana jika orang tuanya tahu? Draco benar-benar ferret pirang yang terlanjur hidup. Hidupnya tidak semudah remaja yang lainnya. Harry mungkin mengalami tekanan yang sama dengan dirinya, tetapi pada akhirnya ia berbahagia bukan? Ia bisa mendapatkan apa yang ia mau dan mendapatkan orang-orang yang ia cintai. Tidak seperti Draco, ia harus bersusah payah melakukan segala cara untuk mendapatkan atensi orang dan cinta dari seseorang.
Draco masih dalam lamunan nya sampai suara derit pintu menyadarkan nya. Ia sontak berdiri saat profesor Dumbledore dan McGonagall sudah berada di hadapannya.
"Mister Malfoy! Apa yang terjadi kepada Hermione?" Tanya McGonagall dengan kepanikkan nya.
"Tadi malam saya bersama Hermione pergi ke danau hitam. Kami melakukan percobaan membuat ramuan pengobatan untuk tugas Herbologi. Saat itu, saya meninggalkannya selama lima menit untuk mengambil sari mahogany dan setelah saya kembali, ia sudah mengambang di danau hitam. Saya yakin ada orang lain di sana dan pada saat saya meninggalkannya, orang itu mengambil kesempatan untuk mencelakai Hermione," ujar Draco panjang lebar.
"Mengapa kau malam-malam pergi dengannya? Apa kau yakin ada seseorang di sana?" Tanya Dumbledore.
"Karena buah yang di bahas oleh kami muncul pada saat tengah malam dalam keadaan bulan penuh. Tadi malam saatnya buah itu muncul, jadi kami pergi ke sana dan ya, saya benar-benar yakin Profesor. Anda bisa melakukan legillimens atau memberi veritaserum jika tidak percaya."
"Baiklah, aku percaya padamu Draco. Kau jaga dia dan Minerva, kau beri tahu profesor lain mengenai hal ini. Beri tahu pengajar lain bahwa ketua murid tidak bisa mengikuti pelajaran di karena kan sakit dan jika ada siswa lain yang menanyakan, beri tahu mereka ketua murid kita sedang melakukan studi ke Beauxbatons," ucap Dumbledore.
"Mengapa tidak memberi tahu mereka yang sebenarnya saja Aberforth? Ini mendadak dan aku yakin Harry tidak akan mempercayai berita ini," protes McGonagall.
"Ia akan percaya dan ketahui lah, jika semua tahu, kita tidak akan mendapatkan siapa pelakunya serta akan merunyamkan masalahnya bukan?" ucap Dumbledore. "Baiklah Draco, jaga dia baik-baik, aku akan kembali ke kantorku, masih banyak yang harus aku lakukan. Ayo, Minerva."
McGonagall tampak ragu, namun ia tahu Draco tidak akan menyakiti Hermione – murid favorit nya. "Baiklah Mister Malfoy, aku titipkan dan percayakan Hermione kepadamu," ujar McGonagall.
"Aku akan menjaganya Profesor. Terima kasih atas bantuannya," ucap Draco.
Kedua profesor itu meninggalkan Draco. Ia kembali sendirian. Tak lama setelah kepergian professor itu, peri rumah hospital wings memberikan lima buah ramuan Hermione beserta catatan kecil yang di tulis healer Hogwarts – madam Pomfrey.
'minum kan kelima ramuan ini setelah bangun tidur dan sebelum tidur. Pastikan ia memakan makanan yang halus dan meminum minuman yang hangat. Kemungkinan besar, Miss Granger akan berkeringat terus sebelum racun dari gigitan duyung sudah keluar. Di perkirakan Miss Granger akan kembali sehat dalam rentang waktu satu minggu. Jika ada pertanyaan dan keperluan lainnya, silahkan datang kembali ke Hospital wings. Pastikan ia meminum ramuan nya secara rutin dan sampai habis.' – madam Pomfrey, Hogwarts Healer.
Draco memandangi botol kecil itu. Ada lima buah. Ia tidak tega memaksa Hermione harus meminum kelima ramuan yang di pastikan tidak enak itu, tetapi tidak ada pilihan lain bukan? Ia akan memastikan, Hermione akan sembuh dan apa pun yang terjadi, Draco akan ada di sisinya.
Untuk membunuh waktu, Draco mengambil buku tentang fructum vinum. Buku itu memang tebal dan tulisannya begitu kecil. Hanya beberapa gambar yang tertera di sana sebagai ilustrasi. Dengan inisiatif, Draco akan mengerjakan tugasnya sendirian. Ia mulai mengambil barang-barang yang sempat di bawa ke danau hitam tadi malam. Ia tidak peduli melakukan tugasnya di mana. Ia akan membereskan nya setelah selesai.
Draco mulai memotong buah itu menjadi irisan tipis. Kemudian, setelah irisan-irisan buah itu menjadi banyak dan kecil-kecil, ia memasukkan nya ke dalam mangkuk dan mulai membubuhkan nya dengan batu yang di bentuk untuk membubuhkan makanan. Benda muggle yang di bawa Hermione tentunya. Draco tidak tahu benda apa itu. Setelah yakin sudah menjadi bubuk, ia memasukkan air danau hitam dan mencampurkan nya dengan sari-sari dari pohon mahogany yang sempat ia ambil. Kemudian, ia mengaduk-ngaduknya di dalam mangkuk itu.
Draco tidak yakin apakah ia akan berhasil atau tidak. Ia tidak bisa melakukannya sendirian jika harus jujur. Tetapi harga diri seorang Malfoy nya tetap saja melekat dalam dirinya. Seorang Malfoy bisa segala, jadi ia di haruskan untuk bisa melakukan projek itu sendirian bukan? Draco benar-benar ingin memaki marganya. Malfoy marga yang di banggakan namun merumitkan.
Ia kembali ke pekerjaannya. Iris kelabunya menangkap benda yang asing baginya. Ia mengambil benda itu dan menilik-nilik.
"Benda apa ini? Bagaimana cara benda ini bekerja?" pikir Draco.
Ia membaca instruksi yang tertulis dalam benda tabung berwarna putih tersebut. Namun tetap saja ia tidak mengerti dengan cara kerja benda muggle itu. Ia menaruh kembali benda itu dan membereskan kekacauan yang sudah ia perbuat di kamar Hermione. Ia putuskan akan menyelesaikannya setelah Hermione terbangun karena setengah dari proses pembuatan sampel nya sudah hampir selesai.
Draco menghela napas kembali. Ia tidak tahu sudah berapa banyak ia menghela napas hari ini. Hari ini juga ia tidak mengikuti pelajaran. Ia juga belum menyusun laporan tentang kinerja para perfek dan tugas lainnya. Ia juga belum menyusun untuk acara reuni nanti. Begitu banyak tugas yang menumpuk. Ia yakin perkerjaan rumah dari para professor juga akan menumpuk selama ia tidak mengikuti pelajaran. Draco benar-benar akan menyiksa penyihir yang sudah membawa malapetaka untuk dirinya dan Hermione.
Selama ia menunggu Hermione di kamarnya, yang ia lakukan hanya membaca, berjalan-jalan di sekitar balkon dan mengamati tugas Herbologinya. Ia juga sudah merancang sendiri bagaimana pesta untuk reuni nanti. Ia benar-benar bosan. Tidak ada teman untuk berbicara, tidak ada kegiatan lain yang harus ia lakukan. Apakah jika meninggalkan Hermione sebentar tidak akan menjadi masalah? Ia lupa, ia bisa meminta bantuan peri rumah untuk menjaga Hermione selagi ia pergi sebentar menemui teman-temannya dan menyelidiki penyihir brengsek itu. Ia berdiri dari duduknya yang nyaman dan memanggil peri rumah.
"Dora, Magd," seru Draco.
'pops' kedua house-elf itu muncul di hadapannya.
"Aku akan keluar sebentar menemui Blaise dan Theo. Kalian bisa menjaga Hermione sampai aku kembali kesini?"
"Tentu Mister Draco. Saya akan menjaganya dengan baik," cicit Magd – house-elf yang berjenis kelamin laki-laki.
"Oke, terima kasih. Aku percayakan dia pada kalian berdua," ucap Draco.
Draco pergi dari kamar Hermione. Setidak nya ia tidak begitu khawatir karena kedua peri rumah itu akan menjaga Hermione selagi ia pergi. Draco melangkahkan kaki panjangnnya ke arah dungeon Slytherin. Matanya mencari pemuda dengan kulit gelap dan pemuda yang berkulit putih pucat seperti dirinya. Ia memutuskan untuk menunggu kedua sahabatnya itu di ruang rekreasi asrama Slytherin. Ia tidak melewatkan untuk menggerutu dan memaki di bawah napasnya.
"Sial, lama sekali mereka," gerutu Draco.
Draco memberi tatapan membunuh kepada murid yang menatapnya dengan aneh. Jelas saja, ia tidak memakai seragam Hogwarts dan ia terlihat berantakan. Ia terus menggumamkan "sial" dan "aku benci menunggu". Setelah satu jam, akhirnya orang yang di tunggu datang ke hadapannya.
"Hey, mate. Apa yang kau lakukan di sini? Para professor mengatakan kau sedang studi ke Beaux," ujar Theo.
"Apa aku tak boleh berada disini hah? Aku sudah menunggu selama satu jam kau tahu? Apa kalian menggosip dahulu atau berjalan lambat seperti siput?" cerocos Draco dengan dingin.
"Calm yo' tits man, kau ini ada apa? Datang-datang sudah marah-marah. Kau ada masalah?" ucap Blaise.
"Yap, kau tidak seperti biasanya dan tentu saja kau akan menunggu lama. Aku dan Blaise kan ada empat kelas hari ini dan kau tidak masuk satu kelas pun jadi, kau akan menunggu kami lama, bodoh! Aku tidak menggosip dan jalan seperti siput," ujar Theo.
"Diam kau Nott. Aku sedang pusing dan frustrasi," ucap Draco jengkel.
"Yea, kau tampak berantakan. Apa kau bertengkar dengan Granger?"
"Tidak, bukan itu."
"Lantas? Apa masalahnya?"
"Aku akan menceritakannya tetapi kalian harus tutup mulut. Jika berita ini sampai terdengar ke telinga-telinga murid lain, kalian berdua yang akan aku cari pertama kali," ucap Draco berbahaya.
Blaise mengangkat sebelah alisnya sedangkan Theo mengangguk saja dan tahu jika Draco sudah mengancam, berarti masalahnya bukan perkara mudah dan Draco tidak pernah main-main dengan ucapannya. Mereka berdua menunggu untuk pria pirang dihadapannya untuk melanjutkan berbicara.
"Aku tidak tahu sudah berapa kali harus menjelaskan hal ini panjang lebar. Singkatnya saja, Hermione sekarat dan itu karena salah satu Slytherin mencelakakan dia dengan menceburkannya ke danau hitam tadi malam," ujar Draco.
"Kau tidak bercanda kan Draco Malfoy?" Tanya Theo.
"Apa wajahku terlihat seperti bercanda huh?"
"Tidak," ucap Blaise dan Theo bersamaan.
"Kalau begitu aku tidak sedang bercanda dan aku ingin meminta bantuan kalian untuk mencari tahu siapa pelakunya. Aku memberi tahu McGonagall dan Dumbledore tadi pagi jadi mereka memberi tahu murid-murid jika aku dan Hermione sedang studi ke Beauxbatons."
"Okey, tapi… mengapa kau tidak masuk kelas hari ini Drake?"
"Tidak bisa, aku tidak akan meninggalkan Hermione. Aku akan mengurusnya sampai ia sembuh dan kembali mendengar ocehannya jadi aku pastikan, aku tidak akan mengikuti pelajaran selama satu minggu ini."
"Mulai menjadi lelaki perhatian eh?"
"Diam kau Theodore," pekik Draco.
"Oh aku tak menyangka kau akan menjadi lelaki perhatian, sweet dan benar-benar out of character jika sudah berkaitan dengan Granger itu," ujar Blaise.
"Ya, aku salut dengan si semak itu. Ia bisa merubah Draco secara drastis. Kita harus memberi salut terhadapnnya dan mengadakan pesta kecil," timpal Theo.
Draco memutar bolat matanya. "Kalian terdengar seperti gadis yang senang bergosip kau tahu? Dan tidak ada pesta apapun. Kalian berdua mempunyai tugas yang harus kalian kerjakan. Oh dan Theo, kau juga berubah menjadi freak. Salut untuk Looney yang sanggup merubahmu," tukas Draco.
"Hey! Namanya Luna bukan Looney," protes Theo.
"Berubah menjadi protektif dan difensif eh, Theo?" ejek Draco sambil menyeringai khasnya.
"Kau juga sama, jika aku menyebutkan 'M' word aku yakin kau akan membunuh ku di tempat. Jadi kita sama-sama oke?"
"Terserah padamu saja Theo."
"Jadi, kau tidak akan melakukan training Quidditch? Kau juga tidak akan makan bersama di aula besar?"
"Tidak, aku akan berada di asrama," ucap Draco. "Baiklah, aku akan menunggu info dari kalian berdua. Aku akan kembali ke asrama. Aku sudah meninggal kan Hermione terlalu lama. Adios!"
Draco pergi dari asrama Slytherin. Blaise dan Theo menggelengkan kepalanya. Mereka tidak menyangka, Draco Malfoy yang begitu dingin dan angkuh bisa di taklukan oleh seorang muggleborn – Hermione Granger. Dunia sihir benar-benar sudah jungkir balik menjadi penuh kejutan.
Ketika Draco kembali dari asrama Slyhterin, Hermione sudah terbangun. Tubuhnya begitu lemah. Untuk bergerak sedikit saja butuh usaha cukup besar. Saat di ambang pintu, Draco cepat-cepat menghampiri Hermione dan membantunya terduduk sambil bersandar di tumpukan bantal yang sudah Draco atur.
"Hermine, jangan dulu banyak bergerak. Kau masih lemah," ucap Draco lirih.
"Apa yang terjadi Dray? Mengapa aku begitu lemas dan … sudah berapa lama aku tertidur? Kepalaku begitu pusing dan berat."
"Kau tercebur ke danau hitam Hermine. Maafkan aku karena saat itu aku tidak ada di sana. Kau butuh istirahat. Kau tertidur sudah lama dan sekarang sudah jam makan siang."
"Apa? Mengapa kau tidak membangunkanku? Tugas kita belum selesai! Aku melewatkan pelajaran! Apa yang akan di katakana professor nanti? Bag – "
"Hermione! Tenang! Kau sedang sakit, aku sudah mencoba membangunkan mu tetapi kau tidak sadar, love. Lupakan tugas, aku sudah menyelesaikan setengahnya jadi kita bisa bersantai sejenak. Masalah pelajaran, kita bisa mengerjakaan saat kau sudah pulih. Aku sudah memberi kabar kepada McGonagall dan Dumbledore mengenai hal ini."
"Tapi –"
"No but! Sekarang, istirahatlah ok? Jangan membantah," perintah Draco.
Hermione memanyunkan bibir mungilnya. Seenaknya saja si pirang ini memerintahnya. Ia tahu, Draco khawatir dengan dirinya tetapi tidak usah sampai seperti ini kan? Dasar, si pirang tidak pernah berubah dengan sikap keras kepalanya.
"Hey, jangan cemberut seperti itu! aku melakukannya demi kebaikan mu dan aku ingin yang terbaik untuk mu. Jika aku tak peduli, aku akan meninggalkan mu dan membiarkan mu mati di serang duyung-duyung itu," papar Draco.
"Tapi aku masih bisa melakukan apapun Dray, aku tidak lemah aku hanya lemas."
"Kau keras kepala sekali. Aku berpikir bagaimana bisa orang sakit mengelak dan meracau tentang pelajaran. Otak mu sudah terlalu sering di lobotomi oleh pelajaran dan buku-buku membosankan itu. Kau masih bisa saja ber-argumen denganku bahkan dalam keadaan sakit."
"Aku hanya tidak mau merepotkanmu Dray dan aku tidak mau nilaiku jatuh," ucap Hemione lirih.
"Kau tidak pernah merepotkanku kau tahu? Aku pastikan juga nilaimu akan baik-baik saja. Kau punya aku, jadi aku akan selalu ada untukmu."
Hermione tersenyum. Ia merasa betapa beruntungnya mendapatkan seorang Draco Malfoy. Ia juga baru menemukan sisi hangat seorang Draco Malfoy yang angkuh, bengis dan dingin. Hermione menggeser posisi duduk nya, kemudian ia menepuk space kosong di sebelahnya.
"Mau kah kau duduk di sini Dray? Dan.. tolong bawa kan kaca beserta buku untuk tugas herbologi kita," ujar Hermione.
"Kaca yes, buku no. Kau benar-benar gila, Otter. Sedang sakit masih kepikiran tentang buku? No way in hell!"
Draco berjalan mengambil kaca kecil se-ukuran buku dari meja rias milik Hermione. Kemudian ia kembali berjalan ke arah Hermione dan memposisikan duduknya di sebelah Hermione. Ia memasukkan kakinya ke dalam selimut dan merangkul Hermione. Kini kepala Hermione bersandar di pundaknya. Ia menyerahkan kaca yang di minta Hermione. Ia dapat merasakan betapa lemahnya Hermione saat ini. Tubuhnya kaku dan dingin walaupun sudah di selimuti. Badannya agak mengurus. Wajahnya pucat begitu juga dengan bibirnya. Rambut cokelat madunya terlihat agak redup warna nya. Hermione benar-benar sakit.
Hermione melihat refleksi dirinya di kaca. Ia terlihat memilukan. Hermione menghela napas. Tangannya mencoba menyimpan kaca itu ke meja di sebelah ranjangnnya. Draco mengambil kaca tersebut dan menyimpannya. Aroma tubuh Draco membuatnya tenang dan lega. Ia juga merasa begitu hangat dan aman berada di pelukan Draco. Ia memejamkan matanya dan jemari mungilnya ia mainkan di dada bidang Draco.
"Dray."
"Hm?"
"Apa… apa kau akan tetap mencintaiku walaupun aku sakit?"
"Tentu saja."
"Apa kau akan tetap mencintaiku walaupun aku tidak cantik? Walaupun aku kehilangan kecerdasan?"
"Ya, aku akan tetap mencintaimu."
"Apa kau akan meninggalkanku ketika aku berubah menjadi jelek seperti sekarang?"
"Tidak Hermione. Aku akan tetap bersamamu," ucap Draco. "Dengar Hermione Jean Granger. Aku akan tetap bersamamu dan mencintaimu dalam ke adaan apapun. Aku tak peduli jika suatu saat kau akan cacat atau pun tidak secantik sekarang. Bagiku kau wanita tercantik yang pernah aku temui. Aku tak peduli dengan hal lain. Bahkan dalam ke adaan sakit pun kau tetap cantik, kau tahu? Sekarang, jika aku tanya kepadamu pertanyaan yang sama apa jawaban mu?"
"Aku juga akan menjawab yang sama Dray. Aku akan tetap ada untukmu dan mencintaimu Draco Lucius Malfoy."
"Aku senang mendengarnya."
Draco mengecup puncak kepala Hermione. Ia merasa nyaman dalam keadaan seperti ini dan ia sadar dengan apa yang di katakan dua sahabatnya tadi. Ia benar-benar out of character, tetapi ia tidak menyesali atau merasa benci. Ia menyukai dirinya yang sepeti ini. Dirinya yang sebenarnya dan hanya berada di sekitar Hermione lah ia bisa menjadi dirinya sendiri tanpa harus menjadi seseorang yang bukan dia inginkan. Di tengah keheningan, suara asing terdengar dari perut Hermione. Draco terkekeh mendengarnya.
"Selalu perutmu yang mengatakan kau lapar, love," goda Draco.
"Diam kau, Ferret! Kau menyebalkan," tukas Hermione.
"Ya aku tahu, aku memang tampan. Terima kasih."
"Dasar narsis."
Draco terkekeh kembali. "Now, now, love. Sekarang aku akan mengambil kan makanan untukmu ok? Kau tunggu aku sebentar dan beri tahu aku jika ada apa-apa."
"Sekarang kita berada di asrama ketua murid, Dray. Tidak ada yang bisa menyelinap kesini kecuali ia tahu kata sandinya," ucap Hermione.
"Aku menggantinya hari ini. Jadi hanya aku dan Dumbledore saja yang tahu."
Hermione hanya tersenyum dan menegakkan tubuhnya. Draco turun dari tempat tidur. Sebelum ia pergi ke dapur, ia mengecup bibir Hermione.
"Aku tidak akan lama."
"Iya, sudah sana ambilkan dan kau tidak jijik mencium orang sakit?"
"Tidak selama itu kau."
Draco mengangkat bahunya dan ia melangkahkan kakinya ke arah dapur. Dengan bantuan sihir ia membuatkan satu mangkuk sup asparagus, cokelat hangat dan buah-buahan. Ia juga membuat smoke beef untuk dirinya dan jus labu untuk dirinya. Ia membawa makanan itu ke kamar Hermione dengan Wingardium Leviosa.
Setelah di kamar, ia memposisikan untuk menyuap Hermione, tetapi Hermione menolak.
"Tidak, kau duduk di sini, di sebalahku. Kau makan makananmu sendiri. Aku bisa makan sendiri."
"Jangan mengelak Hermione, kau masih sakit dan aku tak bisa membiarkanmu menguras tenaga lemahmu."
"Aku bisa melakukannya sendiri. Hanya mengangkat sendok dan menyodokannya ke dalam mulut itu perkara mudah, Ferret. Ber-argumen dengan mu yang menguras tenaga ku," cerocos Hermione dalam satu tarikan napas.
"Ok, Otter. Kau bisa makan makananmu tanpa bantuan. Geez, kau ini istri yang senang mengelak dan tidak patuh. Aku tidak yakin kau mau melakukan 'itu' tanpa perlawanan," gerutu Draco.
"Draco! Aku mendengarmu!"
"Mendengar apa?" tanya Draco dengan wajah tanpa dosa.
"Kau mengatakan jika aku akan melawan dan menolak mu untuk melakukan hubungan 'itu' nanti."
"Aku tidak berkata seperti itu."
"Aku tidak tuli, Ferret."
"Jadi, kau akan melawanku? Kau akan memberontak? Well, aku suka dan tidak keberatan. Itu menambahku buas kau tahu?"
Hermione melempar bantal ke wajah Draco.
"Hey, jangan main kasar. Kau senang permainan kasar rupanya bahkan dalam keadaan sakit sekali pun," goda Draco sambil menahan kikikannya.
"Draco Lucius Malfoy! Kau ferret pirang albino menyebalkan! Kalau aku sehat aku benar-benar akan mencekik dan memukulmu kau tahu? Kau benar-benar menjengkelkan!" pekik Hermione.
"Baiklah, baiklah aku berhenti membicarakan hal itu. Tapi kau terpesona dan jatuh cintakan kepada ferret albino tampan dan menawan ini?"
"Tidak!"
"Benarkah? Oh, kau menyakiti hatiku," ucap Draco mendramatisir.
"Sekarang biarkan aku makan atau kau akan kusumpal saja dengan kaus kaki? Pilih yang mana?"
"Aku maunya di sumpal mulutmu saja."
Hermione cemberut dan memasukkan sendok kedalam mulutnya dengan jengkel. Draco hanya mengeluarkan cengiran tak berdosanya. Akhirnya ia mendapatkan teman argumentasi tertangguhnya dan gadis tercintanya. Setidaknya seminggu menemani dan mengurus Hermione tidak menjadi masalah berat untuknya.
Mereka berdua menghabiskan waktu seharian penuh di kamar Hermione. Terkadang mereka ber-argumentasi hal tidak penting, terkadang hanya diam dan bergelung bersama, terkadang membicarakan hal serius dan waktu berjalan begitu saja tanpa mereka rasakan. Bahkan sekarang sudah waktunya jam untuk tidur. Draco ingat, Hermione harus meminum ramuan yang di berikan madam Pomfrey sebelum tidur. Ia juga harus mengganti baju Hermione yang sudah seharian di pakai Hermione.
"Kau harus mengganti baju mu dahulu, Hermine. Kau ingin aku memanggilkan peri rumah?"
"Tidak, antarkan aku ke kamar mandi saja."
"Kau yakin?"
"Ya."
Draco menaruh lengan Hermione di pundaknya, kemudian ia membantu Hermione untuk berdiri dan berjalan. Ia memapah Hermione menuju kamar mandi. Setelah di kamar mandi, ia menyuruh Hermione untuk berpegangan pada tembok atau lemari penyimpanan handuk. Draco masuk ke kamar Hermione dan mengambilkan baju ganti Hermione. Ia juga merapalkan mantra penghangat ke baju Hermione. Draco kembali ke kamar mandi dan menyerahkan baju yang ia ambil ke Hermione. Ia keluar memberikan privasi untuk Hermione mengganti bajunya. Tak lama ia keluar, Hermione memanggilnya kembali.
"Dray, bisa kau bantu aku?"
Draco masuk ke dalam kamar mandi. Betapa terkejutnya ia melihat Hermione hanya memakai pakaian dalamnnya saja. Ia mengerjapkan matanya beberapa kali kemudian ia menggelengkan kepalanya menghilangkan pikiran mesumnya.
"Bisa kau bantu aku kaitkan pengait bra-nya? Pengaitnya terlepas."
"K-kau… yakin ingin aku melakukan itu?"
"Aku tidak akan memanggil dan memintamu jika aku tidak yakin."
Draco mendekati Hermione. Ia melakukan apa yang di perintah Hermione. Ia mengaitkan bra Hermione dari belakang. Ia tak bisa menahan untuk mencium tengkuk dan pundak Hermione.
"Kau sungguh cantik, Hermine."
"Kita bisa melakukannya nanti setelah aku sehat Dray."
"Aku hanya tak bisa menahan untuk tidak mencium mu Hermine."
"Baiklah, sekarang bantu aku memakai sweater dan celanaku, will ya?"
Draco mengangguk. Ia membantu Hermione memakaikan sweater dan celana Hermione dengan cekatan. Ia juga membantu menahan berat tubuh Hermione agar tidak terjatuh. Ia juga mengikat rambut Hermione saat Hermione menggosok gigi dan mencuci wajahnya. Saat sudah selesai, Draco menggendong Hermione ala bridal style dan membawanya ke kamar Hermione. Setelah sampai di kamar, ia membaringkan Hermione dengan perlahan ke atas kasur.
"Sebelum tidur, kau harus meminum ramuan ini ok? Tidak ada bantahan."
"Ok, daddy," ucap Hermione sambil suaranya di kecilkan menyerupai anak kecil.
Draco terkekeh dan merasa asing di panggil "dad". Bagaimana rasanya menjadi seorang ayah? Ia tidak pernah membayangkan hal itu. Draco dengan telaten memberikan ramuan-ramuan tersebut kepada Hermione. Setelah semuanya di rasa selesai, Draco beranjak untuk tidur di sofa yang berada di kamar Hermione. Namun, langkahnya terhenti saat gadis itu memanggilnya.
"Dray, kau… mau tidur bersamaku?"
"Mmm, tentu, jika kau tidak keberatan."
"Aku ingin kau tidur di sisiku."
Draco kembali berbalik dan berjalan menuju ranjang dimana Hermione terbaring. Langkahnya terhenti saat telinganya mendengar ketukan di jendela. Ia melihat burung hantu yang tidak asing baginya. Burung keluarga Malfoy? Untuk apa burung itu datang kemari? Ah pasti ada sesuatu yang tidak beres. Draco berjalan membuka jendela itu. ia menemukan surat terikat di kaki kiri burung hantu berwarna cokelat itu. ia membuka ikatan itu dan mengambil suratnya, kemudian ia memberi burung itu chips dan membiarkannya terbang – pergi ke tempat asalnya.
Draco kembali berjalan ke arah Hermione dengan secarik surat di tangannya. Ia kemudian memanjat ranjang dan membaringkan tubuhnya di sebelah Hermione. Hermione langsung merapatkan diri dengan tubuh Draco. Ia menaruh kepalanya di dada bidang Draco dan memeluknya.
"Surat dari siapa Dray?"
"Entahlah, nanti pagi saja aku baca. Aku mengantuk."
"Ok. Good night, Dray."
"Good night, princess."
Draco mematikan seluruh penerangan yang ada di ruangan itu. Hermione sudah memejamkan matanya namun Draco tadi berbohong. Ia belum mengantuk. Ia membuka surat yang ia asumsikan bahwa itu adalah surat dari kedua orang tuanya. Ia membuka surat itu dan tiba-tiba saja ia merasa cemas dan kesal. Ia benar-benar harus ekstra sabar dan tabah karena sepertinya Salazar dan Merlin sedang menghukum dirinya.
"Salazar, beri aku kesabaran dan tahan aku untuk tidak membunuh manusia," bisik Draco dalam hatinya.
Ia melempar surat itu dengan sembarang dan memaksakan dirinya untuk tertidur tanpa memikirkan isi surat yang tertulis di surat tersebut.
Isi surat:
Dear Draco,
Hello Draco, apa kabar mu? Sudah lama kau tidak mengirim kami surat. Aku merindukanmu di rumah. Bagaimana tugas mu dan jabatanmu sebagai ketua murid? Aku dengar kau menjalin hubungan dengan gadis muggleborn itu ya? Mengapa kau tidak memberi tahu kami, Draco? Well, aku kira kau akan dengan Greengrass atau Parkinson. Aku dan ayahmu akan datang esok pagi atau di siang hari. Aku dan ayahmu akan membicarakan hal ini. Bisa-bisanya kau tidak mengabari kami Draco.
Semoga kau baik-baik saja. Sampai bertemu besok.
With Love,
Your dear mother, Narcissa.
P.S yang memberi tahu ini Pansy. Aku agak terkejut saat membaca surat darinya tetapi aku akan membicarakannya dengan mu dan begitu juga Astoria dan Pansy. Love you, Draco.
To Be Continue
Well, well… Bagaimana? Chapter ini aku rasa penuh romance nya dan maaf jika chapter ini tidak sesuai harapan atau membosankan. Maaf juga banyak kesalahan yang aku buat.
In the end, I hope you like this! Mind to RnR? and tell me what you think! *wink and smile*
Pojok Review:
Nadia Draco Diggory : Aww, thank you, dear! I feel so honored! And sure I will keep it continue until I find the end to complete these stories. I hope you like this chapter. Mind to RnR again, dear?
Uswatun: Iya, sandinya pakai bahasa jerman di campur bahasa spanyol. LoL
Adisti Malfoy : penasaran aku dengan review yg panjangmu tapi it's ok.. aku harap kamu suka dengan chapter ini. Mind to RnR? And thanks buat reviewnya, dear :*
Amuto: hehe, thanks reviewnya.. sudah di update nih.. mind to RnR?
Putims: hehe terima kasih, dear *.* mm.. cewek yang bernama Marilyn? Dia Slytherin jika cewek itu yang kau maksud, dear. aku harap kamu suka chapter ini juga, mind to RnR? teehee.
Pilelia Dramione : haha .. xD tenang saja, si dog-pug dengan Astoria bloody Greengrass itu bakal musnah nanti xD I hope you like this chapter, dear. Mind to RnR?
Shizyldrew: Thanks reviewnya! Pertanyaanmu, terjawab di chapter ini Mind to RnR again?
Terimakasih banyak atas semua review, fave and follow kalian. Aku sangat menghargai waktu dan review kalian yang telah kalian luangkan untuk ku.
I REALLY LOVE YOU ALL *HUGS AND KISSES*
Have a nice day guys
With love,
Gothicamylee,xo.
