Maafkan saya membuat Author Note di atas, jika kalian tertarik silahkan baca, tidak pun tidak masalah. Saya selalu membuat tulisan DLDR (Don't Like Don't Read) pasti kalian tahu itu.

So? Kenapa masih ada orang yang nyasar tidak suka bacaan. Padahal saya sudah membuat peringatan, pintar-pintarlah memilih bacaan. Jika Anda tidak suka dengan karakter, alur, apa lagi pairing yang sudah jelas tercantum, dan cerita gaje saya yang seperti sinetron ini silahkan log out. Pastikan bahwa cerita yang Anda baca itu sesuai yang dikategorikan Anda, jika tidak? Silahkan jangan di buka.

Saya tahu dan saya hargai setiap orang punya selera yang berbeda. So? Bisakah berkata sopan saat berkomentar? Apakah itu sulit? Saya buat fanfic ini untuk yang suka.

Jika sudah jijik dengan chapter satunya, log out aja kan tinggal tekan back:) daripada berkomentar yang tidak-tidak, untuk apa baca sampai akhir kalo ujungnya gini. Ini komentar terburuk saya setelah dua tahun menulis fanfic yang tidak seberapa ini. Yang dikata-katain mah saya sudah biasa, dikata begolah, sampahlah.

Saya salut dengan pembaca setia saya yang menyemangati saya, yang masih menunggu, terimakasih dukungannya, saya mencintai kalianđź’–... Penting! Ini chapter panjang, semoga nggak bosan...

.

.

.

Naruto © Masashi Kishimoto

Like An Ilusion © RiuDarkBlue

Warning: AU, OOC, typo sana-sini, asem, garing, maaf jika ide pasaran, alur kecepetan, yang nggak suka harap tekan back. Saya tekankan kembali! Bahwa ini adalah inspirasi saya! Nggak ngejiplak siapapun kecuali karakternya!

"Percakapan."

'Bicara dalam hati.'

Naruto Namikaze x Hinata Hyuuga

DLDR

.

.

.

Hari ini Minggu, dihabiskan Hinata dengan membaca buku sambil tiduran di kamarnya, sungguh menyenangkan. Apa lagi sambil mendengarkan musik dari penyanyi yang kau sukai. Ugh, paket komplite sekali.

Kepala Hinata mengangguk mengikuti irama musik, bibirnya juga sesekali menggumamkan lagunya.

Ia menurunkan bukunya, matanya terasa perih akibat membaca sambil terlentang. Lavender Hinata membulat. "Naruto-san! A-astaga!"

Bagaimana Hinata tidak kaget, jika kini Naruto tengah menindihnya dengan tangan sebagai tumpuan, wajahnya juga sangat dekat dan hanya terhalangi oleh buku jika saja Hinata tidak menyingkirkannya. Namun sekarang buku itu tidak ada.

Dan, yang paling penting. Sejak kapan Naruto masuk ke kamar Hinata dan menindihnya?!

Alis Naruto hanya terangkat. "Apa?"

Apa? Katanya? Bahkan jantung Hinata hampir lepas akibat posisinya.

Hinata menahan napasnya. "Na-Naruto-san?"

"Hm?" Untungnya Naruto berguling, sehingga sekarang pemuda itu tengah berbaring di samping Hinata.

Hinata yang masih kaget menolehkan kepalanya, ia juga melepaskan earphonenya, ternyata Naruto sedang menatapnya. "Ke-kenapa se–"

"–seperti tadi?"

Hinata mengangguk.

"Mau saja."

Oke. Naruto memang seenaknya.

"Y-ya sudah." Padahal jantung Hinata masih berdebar, ia tidak biasa dengan 'sesuatu' yang selalu dilakukan Naruto secara mendadak, tapi... Kenapa sentuhan Naruto berbeda dengan sentuhan Gaara?

Apa lagi sekarang manik sapphire Naruto tengah menatapnya intens dari samping, entah apa yang pemuda itu lakukan. Yang pastinya Naruto melakukan sesuatu selalu membuat Hinata terkejut.

Sedikit rasa kecewa hinggap di hati Hinata. Bolehkah ia diperlakukan istimewa? Bukankah Hinata istri–

Kepalanya menggeleng. Kenapa Hinata berpikiran seperti itu?

Kembali– Hinata meneruskan aktivitas membacanya. Ia terlentang dengan buku yang terangkat, menandakan Hinata akan mulai membaca.

"Jangan lakukan itu." Naruto melepaskan earphone yang sudah terpasang di telinga Hinata.

"E-eh–"

"–nanti mata jelekmu rusak."

Hinata cemberut, ia memiringkan tubuhnya mengikuti gaya Naruto. "Memangnya aku sejelek itu?" Hinata membulatkan matanya lalu berkedip.

Glek. Naruto meneguk ludahnya.

Sial! Siapa yang bilang Hinata jelek?

Rasanya Naruto ingin memel–

'Argh! Ada apa denganku?!'

Naruto menggeleng. "Iya."

"Lho?" Alis Hinata berkerut, pemuda itu menggeleng namun berkata iya. Jadi apa jawabannya? "Maksud Naruto-san apa?"

"Iya! Kau jelek!" Naruto memalingkan wajahnya, ia mengubah posisinya jadi terlentang. Padahal dalam hati Naruto sedang mengutuk dirinya, Hinata memang tidak cantik. Melainkan manis.

"Ah... Begitu ya?" Hinata merubah raut wajahnya, entah kenapa ia sedih di katai seperti itu oleh Naruto. Padahal biasanya juga pemuda bermulut pedas itu selalu mengatakan isi pikirannya tanpa di filter.

Naruto menoleh, ia mengernyitkan alisnya. "Astaga! Kau tambah jelek saja."

"Ya sudah. Kalau begitu jangan lihat, apa susahnya?"

"Wah! Wah! Kau marah?" Sekarang Naruto malah memiringkan tubuhnya menghadap Hinata. "Harusnya orang jelek itu tahu diri."

'Shit! Kenapa aku berkata seperti itu?!'

"Tidak aku tertawa." Padahal dalam hati Hinata sangat ingin menendang Naruto dari ranjangnya.

Naruto menggigit bibirnya, ia menahan tawanya mendengar protesan tidak langsung Hinata.

"Dan ya aku jelek, harusnya Naruto-san ceraikan aku."

Deg!

'–harusnya Naruto-san ceraikan aku.'

Empat kata yang keluar dari mulut Hinata membuat jantung Naruto jatuh ke perut dalam hitungan detik, bahkan persendian tubuhnya terasa lemas.

'Kalau begitu, kunikahi dia. Cepat kalian cerai.'

Belum lagi perkataan Sasuke yang teringat kembali, padahal Naruto sudah lupa beberapa hari yang lalu. Jika benar Sasuke menikahi Hinata, Naruto berjanji akan membunuh sahabat Ayamnya sebelum pernikahan.

"A-apa?" Tanya Hinata gugup. Tentu saja gadis manis itu gugup, manik sapphire Naruto kini tengah menatapnya tajam dengan alis pirang yang hampir menyatu.

"Oh... Kau mau cerai dariku?"

Hinata diam, sebenarnya yang tadi itu hanya candaan. Meski menikah di usia dini seperti ini, belum pernah sekalipun Hinata berpikir untuk mengakhirinya dengan perpisahan.

"I-itu–"

"–baiklah."

Deg!

Hinata melotot, ia menahan napasnya. Entah kenapa perkataan Naruto membuatnya... Hampa? Harusnya Hinata senang, bukan?

"Jika–" Naruto mendekat. "–kau bisa lepas dariku."

"A-ap–"

Grep!

"Na-Naruto-san!"

Teriakkan Hinata memenuhi kamar bernuansa ungu dan putih miliknya. Sementara Naruto tersenyum licik. Ia mengeratkan pelukannya, bahkan kakinya juga dililitkan di atas kaki Hinata.

Ya, Naruto memeluk erat Hinata. Bukan memeluk sih, tapi 'memaksa' memeluk.

Hinata mencoba melepaskan dirinya, bahkan kedua tangannya terhimpit dada Naruto, jadilah ia susah bergerak. Jangan lupakan kakinya yang seakan keram karena di lilit kaki Naruto.

"Ayo, lepas dariku." Dengan senyuman Naruto menutup matanya. Ia tidak memedulikan Hinata yang tampak tidak nyaman.

Kepala Hinata sekarang terpendam di leher Naruto, ia ingin bernapas. Sesak sekali. "Naruto-san, le-lepaskan..."

"Katanya mau cerai."

"Aku ma-mau dilepaskan saja."

Naruto menggeleng dengan bibir mengerucut, ia mengeratkan pelukannya. "Tidak. Tidak. Nanti kau kabur ke si Panda."

"Ti-tidak akan."

"Kau mau cerai, kan? Ayo lepaskan dirimu dari pelukanku. Bagaimana mau kepengadilan, jika kita masih berpelukan di ranjang."

Wajah Hinata memerah. "Ih.. Lepaskan. A-aku tidak bisa bernapas."

"Kau'kan punya hidung dan paru-paru sebagai sistem pernapasan. Kenapa tidak bisa bernapas?"

Naruto bodoh!

"Naruto-san, a-aku serius."

"Me too."

Hinata yang sudah kesal, memejamkan matanya.

Naruto sendiri tersenyum lebar, ia suka memeluk Hinata. Bukankah Naruto pernah bilang, bahwa Hinata enak di peluk?

"Argh! Apa yang kau lakukan?!"

Seketika pelukannya terlepas. Bahkan Naruto melepasnya secara kasar, dengan cepat si pirang memegang bahunya yang terasa di gigit vampire.

Ya, vampire polos, manis, mengesalkan, dan merepotkan.

Siapa lagi jika bukan Hinata Namikaze.

Hinata mengambil napas sebanyak-banyaknya. Naruto tidak memeluknya, melainkan menyiksanya. Mana ada pelukan yang mematikan orang yang di peluk. Bahkan Hinata serius, ia hampir mati tadi.

Wajah Naruto benar-benar menunjukkan bahwa ia manahan rasa sakit, gigi putih Hinata membuat bahu kirinya mati rasa.

"Kau!" Dengan galaknya Naruto melotot. Ia mendekat dengan tangan kanan yang memegang bahu kirinya.

Hinata? Sudah jelas takut, padahal waktu mengajaknya ke taman Naruto terlihat manis, lalu sekarang terlihat sangat mengerikan.

"I-iya. Aku–"

"–apa?!" Oke. Suara sinis Naruto terdengar.

"Aku susah bernapas! Pelukanmu itu mematikan! Kau pikir enak apa aku di peluk seperti itu?"

Jika berani Hinata pasti akan mengatakan itu, buktinya sekarang ia sedang memasang wajah panik.

"Lihat gara-gara kau bahu–"

Rasanya Hinata ingin bersorak, ia diselamatkan oleh bunyi bell apartemen. Siapapun yang bertamu, Hinata sangat berterimakasih.

Naruto manahan rasa kesalnya. Siapapun yang bertamu, Naruto sangat ingin membunuhnya.

Sapphire Naruto mendelik tajam, tanpa berkata apa-apa ia bangkit menuju pintu depan.

"Akhirnya... Aku selamat.

...

"Sebentar!"

Ceklek.

Sapphire Naruto membulat dengan tangan kanan yang memegang bahu kirinya. Ia menatap si 'tamu' yang menganggu acara bermainnya dengan Hinata. Mulutnya sedikit terbuka. Jujur saja, Naruto tidak bisa mengendalikan ekspresi kagetnya. "Kaa-san, sedang apa disini?"

Sepertinya Naruto harus menarik kata-kata ingin membunuh pada tamunya. Karena ia sangat menyayangi Ibunya.

Orang yang Naruto panggil Kaa-san itu menatap putra pirangnya dengan garang. "Astaga! Naruto! Tidak punya sopan santun. Setidaknya biarkan Kaa-san masuk."

Naruto mengangguk kaku. Ia menyingkir dari pintu mempersilahkan Kushina masuk.

Tidak. Naruto tidak merasa canggung pada Ibunya, hanya hubungan Naruto dan Minato saja yang renggang. Tidak dengan Naruto dan Kushina. Perjodohan ini memang membuat hubungan Ayah dan anak itu menjadi tidak stabil. Ingat Minato yang menampar Naruto? Yah, disanalah rasa kesal Naruto membuncah.

Tapi satu hal, Naruto tidak bisa marah pada Ibunya. Pemuda pirang itu terlalu sayang pada Nyonya Besar Namikaze yang selalu memarahinya itu.

"Kau tahu Naruto? Kaa-san sudah lima menit berdiri disana!"

"Lagi pula Kaa-san tidak lecet."

Kushina mendelik, bukan hanya pada orang lain saja Naruto berkata pedas. Melainkan padanya. Ia duduk di sofa, dengan beberapa paper bag di sebelahnya.

"Kenapa kau mengganti password apartemenmu?"

"Huh?" Naruto mengangkat alisnya.

"Bukankah password apartemen tanggal pernikahanmu dengan Hinata-chan?"

Apa katanya?

Tanggal pernikahan? Naruto tidak maulah, tentu saja ia menggantinya menjadi tanggal dan bulan lahirnya.

1010.

Nomor yang bagus bukan? Hinata saja tidak protes, lalu kenapa Ibunya yang super cerewet ini protes?

"It–"

"Kaa-san...?"

Panggilan yang terdengar ragu itu membuat Kushina menoleh, senyum lebar hadir di wajah Kushina. Ia manatap menantunya dengan ramah. "Hinata-chan, ayo kemari!"

Hinata meremas ujung t-shirt putihnya, ia maju perlahan.

"Kemari." Suara Kushina melembut.

Satu tarikan membuat Hinata terduduk di samping Kushina.

Grep!

Pelukan hangat Hinata terima, air matanya menggenang. Ini adalah pelukan pertama seorang Ibu setelah 13 tahun. Hinata mengangkat tangannya ia ingin membalas pelukan Kushina. Namun, lavendernya terkunci pada pemilik manik sapphire yang kini terduduk di single sofa. Ya, posisi berpelukannya memang, Hinata menghadap Naruto yang berada di belakang Kushina.

Seakan mengerti Naruto mengangguk, ia tersenyum manis. Tanpa bicara matanya seakan berkata–peluklah.

Hinata tersenyum. Ia memeluk Kushina. "A-aku merindukan Kaa-san..."

"Hey. Hey. Menantu cantik Kaa-san kenapa?"

Hinata menggeleng, ia mengeratkan pelukannya. Sangat nyaman, apa lagi sekarang Kushina membela surai indigonya yang di ikat pony tail.

"Kaa-san juga merindukanmu." Pelukan Hinata adalah pengganti pelukan Sara, wajar saja Kushina merindukannya.

Pelukannya terlepas, Kushina menyeka air mata Hinata. "Lihat, bahkan anak nakal itu tidak memeluk Kaa-san." Violetnya mendelik ke arah Naruto yang kini sibuk dengan paper bag. "Padahal Kaa-san baru pulang dari Amsterdam."

Seakan tersindir, Naruto menoleh. "Ah... Aku lupa." Ia tersenyum polos, lalu pindah ke sofa panjang yang berisi Hinata dan Kushina, mengabaikan sejenak oleh-oleh–yang sebenarnya sangat menarik di matanya.

Hinata tersenyum, melihat kedua orang dengan perbedaan warna rambut yang mencolok itu berpelukan.

"Aku juga merindukan Kaa-san."

"Bagus-bagus." Kushina mengelus punggung Naruto.

"Tapi oleh-oleh lebih kurindukan."

Bugh!

Punggung Naruto menjadi sasaran empuk Kushina.

"A-aw!" Sepertinya hari ini tubuh Naruto benar-benar terasa seperti sasaran 'kekerasan'. Padahal ia hanya bercanda, bagaimanapun keselamatan orangtuanya sangat penting.

"Dasar tidak tahu di untung!"

Kushina melepaskan pelukannya, sedangkan Naruto pindah kembali ke single sofa. Pemuda pirang itu disibukan dengan paper bag yang sangat menggugah seleranya.

"Apa kabar Hinata-chan?"

Hinata tersenyum. "Baik, Kaa-san sendiri?"

"Tentu saja baik." Wajah Kushina langsung sinis, ia melirik Naruto yang tampak sibuk seperti halnya anak TK yang merindukan oleh-oleh. "Hinata-chan baik sekali... Bahkan darah daging Kaa-san sendiri tidak menanyakan kabar."

"Oh..." Kedua wanita diruangan itu menoleh. "Kenapa Kaa-san beli t-shirt couple?"

Rasanya Kushina ingin menendang Naruto sekarang juga. "Ya tentu saja untuk kalian berdua pakai."

Naruto mengangguk. Ia melemparkan satu t-shirt yang ukurannya lebih kecil pada Hinata. "Punyamu!"

"A–"

"Naruto!"

"A-aw! Kaa-san! Sakit!" Kini telinga Naruto yang di jewer.

"Dimana sopan santunmu?"

"Kaa-san..."

Hinata sendiri melongo, ia kira Naruto yang tampak tenang dan sinis tidak pernah di jewer Kushina. Namun nyatanya, khayalan tak sesuai kenyataan.

"Hinata-chan istrimu, perlakukan dengan baik!"

"Ah! Iya. Iya. Lepaskan Kaa-san, bagaimana jika telingaku copot?"

Dengan kasar Kushina melepaskannya. "Hinata-chan, jika dia nakal. Beritahu Kaa-san ya?"

Dengan semangat Hinata mengangguk. Satu fakta baru dan sangat penting bagi Hinata, Naruto takut Kushina.

Naruto mendengus dengan tangan yang mengusap telinganya. Hinata dapat dukungan, bahkan tatapan tajam darinya saja dihiraukan gadis itu.

"Maaf ya Hinata-chan, Naruto memang nakal. Dulu saja kucing tetangga ia mandikan hingga mati."

Lavender Hinata membulat, tak lama kemudian ia tertawa. "Be-benarkah?"

Entah kenapa melihat Hinata tertawa, Naruto juga tersenyum.

"Lagi pula jika aku lewat kucing itu selalu mengeong. Ya sudah kubunuh."

Apa katanya? Hanya mengeong saja di bunuh? Pantas saja Hinata yang menghancurkan mimpinya di bully. Tanpa sadar gadis manis itu meneguk ludahnya.

Kushina mengangguk dengan tatapan tajamnya yang mengarah pada Naruto. "Dia itu nakal, entah turunan siapa, Tou-sannya mungkin."

"Laki-laki nakal itu wajib, nanti tidak keren."

"Wajib matamu?!"

"Nakalnya..." Suaranya tampak malas. Naruto mengangkat satu barang yang sangat tidak asing di matanya. "Lho, snack rumput laut'kan banyak disini."

"Ya siapa tahu rasanya beda, jadi Kaa-san beli."

Naruto berdecak, sama saja terbuat dari lumput laut. Kenapa dari sekian banyak snack Ibunya harus membeli rumput laut? Ah... Naruto juga bingung.

"Hinata-chan?"

"I-iya." Hinata yang dari tadi memerhatikan Naruto menolehkan kepalanya.

"Naruto itu baik, kan?"

Refleks kegiatan 'mengubek snack' Naruto hentikan. Sapphire birunya menatap Kushina dan Hinata bergantian. Tidak, sekarang bahkan Naruto menatap Hinata dengan sapphire yang memicing.

Hinata gelagapan, semua orang yang tahu kisahnya dan Naruto pasti akan mengatakan bahwa Naruto itu kejam. "Ba-baik?"

"Iya, tidak pernah melakukan sesuatu yang menyakitkan."

"Te-tentu saja tidak."

Naruto bernapas lega.

Sedangkan Hinata meminta maaf dalam hati akibat membohongi mertuanya.

Kushina tersenyum, ia berdiri.

"Kaa-san mau kemana?"

"Melihat-lihat apartemen kalian."

Refleks suami istri itu berdiri.

"Apa?" Naruto menaruh paper bagnya. "Kan dulu sudah melihat."

Kushina tersenyum jahil. "Siapa tahu kalian sekarang sekamar dalam program 'memberikan cucu' untuk Kaa-san." Iya, ia memang tahu bahwa pengantin baru itu tidak satu kamar. Kushina memakluminya.

Wajah Hinata memerah. "Te-tentu saja tidak..."

"Sudah Kaa-san duga." Ia tertawa sambil menepuk bahu kiri Naruto.

Sapphire Naruto mendelik, bahunya di pukul. Dan itu menyakitkan apa lagi ada bekas gigitan Hinata disana.

"Cepat, Kaa-san mau lihat yang mana?"

Tanpa memedulikan Naruto, Kushina berjalan. Ia melihat kamar Naruto terlebih dahulu, studio, ruang tamu dan ruang keluarga yang mereka tempati. Kepala merahnya mengangguk. "Rapi sekali."

Hinata tersenyum, ada Kushina rumah terasa ramai.

"Oh ya?"

Hinata menatap Kushina yang kini menatapnya. Naruto sendiri menganggkat alisnya. "Kamar Hinata-chan yang mana?"

"Yang itu Kaa-san." Hinata menunjuk ruangan di depan kamar Naruto.

Kushina mengangguk. Ia berjalan ke arah sana.

Ceklek.

Berantakan.

"Lho?" Otaknya memutar, kamar yang berantakan. Bantal guling dimana-mana, seprei yang tidak membungkus kasur dengan benar. Satu kata, ini aneh.

Kushina berbalik, ia menatap Hinata yang tampak memakai kaus putih kusut, jangan lupakan keringat yang belum kering. Violetnya menatap putranya, begitupun dengan Naruto. Kaus hitam yang Naruto gunakan kusut dibagian dada.

"Astaga!" Pekiknya. Bahkan Naruto dan Hinata saja menoleh.

Hinata hanya pasrah saat mendapat tarikan dari Kushina menuju Naruto yang kini menonton televisi dengan snack rumput lautnya.

"Apa Kaa-san mengganggu datang kesini?" Kushina duduk diantara Naruto dan Hinata di sofa panjang.

"Tid–"

"Tentu saja." Naruto mengangguk antusias. Ia memasukkan satu snack kemulutnya, mengunyah lalu menelannya. Matanya masih fokus pada layar televisi.

"Benarkah Hinata-chan?"

Hinata menggeleng.

"Dia bohong."

Kushina kembali menatap Naruto. "Kaa-san mengganggu, bahkan aku sampai di gigit. Mungkin Hinata terlalu sesak."

Kushina tersedak. Ia menatap Naruto garang. "Jangan menyakiti anakku!"

"Ya. Hinata yang mulai–"

Hinata melotot, bukankah yang tadi itu salah Naruto?

"Jadi apa yang kalian lakukan di kamar?"

Alis Naruto berkerut. "Hah?"

Sepertinya Kushina salah paham.

"Kaa-san?" Hinata menatap Kushina.

Hening beberapa detik, sampai akhirnya teriakan Kushina memenuhi apartemen.

"Astaga! Aku akan punya cucu ya ampun!" Ia memegang bahu Naruto. "Dengar Naruto, Kaa-san tak masalah jika harus punya cucu sekarang."

"Kaa–"

"–bagaimana Hinata-chan?"

Hinata menatap memelas ke arah Naruto, mengabaikan Kushina yang tengah memekik girang.

Kushina tersenyum, mengaku tidak mau namun sekarang pasangan itu malah sekamar dalam program 'memberikan cucu', sebenarnya Kushina hanya senang jika pasangan itu akur. Begitu saja sudah cukup.

"Terserah Kaa-san saja..."

...

Apartemen pasangan itu telah sepi, Kushina baru saja pergi setengah jam yang lalu. Sebenarnya Hinata kesepian, tidak ada ocehan Kushina yang macam-macam. Wanita paruh baya itu ingin menginap, namun dia sendiri yang menyangkalnya katanya takut mengganggu 'kegiatan' yang menghasilkan cucu.

Naruto saja di buat menghela napas saat Kushina mengoceh. Dan yang dilakukan pemuda itu hanya diam, biarlah Kushina berkhayal asal senang.

Berbeda dengan Hinata, gadis manis itu tampak gelisah. Ia takut dengan perkiraan Kushina yang berlebihan.

Hinata memakan kembali snack rumput laut yang Kushina berikan, ia memang sedang menonton televisi sambil melamun. Ya, melamunkan harapan Kushina tentang cucu.

"Makan saja. Nanti kau gendut."

Hinata menoleh, ia melihat Naruto yang mengambil snack di pangkuannya. "Lagi pula ini enak. Dan Naruto-san bisa cari yang lain."

Lavender Hinata melotot, Naruto kini menggigit snack rumput laut yang masih di gigit Hinata. Jika saja snack itu tidak panjang, sudah pasti bibir mereka bersentuhan.

Naruto memakannya, ia mengunyahnya masih dengan wajah yang berdekatan dengan wajah Hinata.

Si gadis sendiri masih kaku dengan sebagian snack yang masih di gigitnya.

"Jangan berkata begitu, aku tidak suka." Naruto mengelap ujung bibir Hinata yang masih terdapat bumbu.

Hinata mengangguk kaku dengan jantung yang berdetak kencang. Ia memakan snacknya karena takut Naruto melakukan hal seperti itu lagi.

Sudut bibir Naruto tertarik membentuk senyum tipis. Ia unggul dari Gaara, pasti pemuda Panda itu belum pernah melakukan hal ini pada Hinata. Tidak! Bukan belum tapi tidak akan!

Oke. Naruto memang pencemburu.

Dengan cuek namun bahagia Naruto menatap televisi. Ia mengambil snack Hinata dari pangkuannya. Dan menggantikan kepala pirangnya berbaring disana.

"Na-Naruto-san..."

"Apa?" Naruto menoleh, ia mendelik tajam.

Hinata meneguk ludahnya, dengan cepat ia menggeleng.

"Bagus." Naruto kembali menatap televisi dengan tubuh yang di miringkan, jangan lupakan snack yang dipeluknya.

"A-ano–"

"–hm?"

"Bagaimana..."

"Apa?" Naruto masih menatap televisi.

"JikaKaa-sanmemintacucu?"

Naruto menoleh, ia menatap Hinata dengan alis berkerut, apa gadis itu rapper? Berbicara tanpa jeda, biasanya juga gagap.

"Kau nge-rap?"

Hinata cemberut, ia mencubit pipinya memerah. Entah kenapa Hinata malu, ia takut Naruto salah paham. "Ih..."

"Ih..." Naruto ikut mencubit pipi Hinata.

"Naruto-san... Sakit..."

Naruto melepakan cubitannya. Ia menelan makanannya. "Makanya, jika bicara itu yang benar. Suka gagap malah sok nge-rap."

"Ta-tapi jangan salah paham..." Hinata mengigit bibirnya.

"Jangan gigit itu, atau aku yang gigit!"

Kan sayang bibir merah Hinata luka.

Dengan cepat Hinata melepaskan gigitannya. Lavendernya bergerak gelisah. "Jangan salah pah–"

"–oke katakanlah."

"Jika Kaa-san meminta cucu, kita harus bagaimana?"

"Ya berikan."

"Naruto-san!" Wajah Hinata memerah.

"Tentu saja, kau kira kita mau minta orang lain memberikan cucu pada Kaa-san?"

"Bu-bukan begitu... Kan Naruto-san tahu sendiri kita seperti ini."

Hening.

Naruto menatap Hinata, tangannya terulur pada kaus di depan perut Hinata. Ia mengangkatnya.

Hinata melotot. "Na-Naruto-san!" Ia menepis tangan Naruto.

"Apa? Katanya mau memberikan Kaa-san cucu, ya kita berikan sekarang."

"Bu-bukan begitu..."

Hinata gemas sendiri. Tanpa tahu Naruto malah semakin gemas pada gadis itu.

Naruto ingin tertawa, namun berusaha ia tahan. Si pirang bangkit dari tidurnya. Sapphire birunya menatap Hinata dalam.

Hinata yang di tatap seperti itu tentu saja gugup. "A-ada apa?"

Grep!

Lavender Hinata membulat, Naruto baru saja memeluknya erat. Bahkan kepala pirangnya menghadap leher Hinata.

"Naruto-san... Ke-kenapa?"

Naruto mengeratkan pelukannya. Kepalanya bahkan menyusup ke helaian indigo Hinata.

"Peluk aku."

Jantung Hinata berdetak cepat, ia ragu dengan permintaan Naruto.

"Peluk aku."

Dengan tangan bergetar, Hinata memeluk Naruto. Ia mengusap helaian pirangnya.

"Dan... Jangan tinggalkan aku."

.

.

.

.

"Masuk lebih dalam."

"Ah! Bukan begitu gayanya."

"Mantap!" Kiba mengacungkan jempolnya, ia tertawa dengan mata berbinar sambil menatap ponsel yang di pegang Sai.

"Kalau begini tidak akan menghasilkan banyak."

Sai mengangguk. "Kau benar, aku suka yang kemarin."

"Yang kemarin lebih hebat."

"Dan lebih bergairah."

"Jadi bisa–" Keduanya tertawa.

Naruto mengusap telinganya, ini berisik. Kiba dan Sai memang duo yang paling berisik di antara mereka berlima. Sejak 15 menit yang lalu mereka berdua memang berisik di bangku pojok kelas.

Bahkan ada beberapa teman sekelas mereka yang menoleh dengan wajah heran.

Naruto kini memang duduk di bangku kedua terakhir. Kelas mereka memang selalu mengadakan rolling tempat duduk setiap hari. Membuat siswa yang malas berada di bangku depan harus menikmatinya. Dan berakhirlah ia disini, di depan Kiba dan Sai dengan Sasuke sebagai teman sebangkunya.

"Ck! Apa yang kalian tonton?" Naruto menoleh, ia menatap Kiba dan Sai dengan alis berkerut.

Kedua pemuda di belakang bangku Naruto menatap si pirang dengan ekspresi heran. Mereka mengabaikan sejenak video dari ponsel Sai. Begitupun dengan earphone yang menyambung di telinga mereka.

"Apa?" Sai berkedip. Ia mempause videonya.

"Perkataan kalian itu ambigu."

"..."

"..."

Tawa Kiba meledak. Ia memegangi perutnya. "Astaga! Astaga!" Bahkan tangannya ikut bertepuk tangan. Beberapa siswa kelas juga merasa terganggu.

Bagaimana tidak. Ini jam kosong yang sangat berharga dan di hiasi tawa cempreng Kiba.

"Sai! Naruto... Dia mesum!"

Naruto melotot.

Sedangkan Sai ikut tertawa sambil menutup mulutnya. Sasuke juga menoleh ke belakang dan mengabaikan buku tentang politiknya beserta musik yang tersambung melalui earphone. Shikamaru? Tentu saja bangun dengan wajah malas.

"Apa katamu?" Tatapan Naruto benar-benar siap menelan Kiba saat itu juga.

Kiba mengabaikan Naruto. Ia malah asyik tertawa dengan bahagia. Bahkan matanya saja sudah berair. "Memangnya apa yang kau pikirkan?" Kiba mendekatkan wajahnya pada Naruto, padahal ekspresinya masih ingin tertawa.

Iya sih... Naruto berpikiran nakal.

"Buk–"

"Ya ampun. Ya ampun. Kau sudah dewasa rupanya." Tangan Kiba mengelus kepala Naruto.

Refleks Naruto menepisnya. "Diamlah!"

"Wih... Sensitif." Sai melepas earphonenya, ia fokus menatap Naruto. "Memangnya kau berpikiran apa?"

"Perkataan kalian yang ambigu membuatku berpikiran yah... Begitulah."

Tawa Kiba dan Sai kembali meledak. Ia tak menyangka orang cuek seperti Naruto dapat berpikiran kotor.

"Berisik!" Naruto melemparkan penghapus Kiba ke kepala coklatnya.

Kiba mencoba berhenti tertawa. "Itu penghapusku satu-satunya."

Naruto mengangkat bahunya. "Meskipun dua-duanya juga aku tidak peduli."

"Sasuke?"

Onyx Sasuke menatap Sai. "Hn?"

"Memang kau berpikiran kotor juga seperti Naruto?"

"Tidak."

Mereka berdua tertawa, kasihan sekali nasib Naruto yang hanya berpikiran kotor sendirian.

"Berisik! Berisik!"

Bletak!

"Aw!" Kiba dan Sai mengelus kepala mereka yang baru saja di pukul Naruto menggunakan buku yang sudah di gulung.

"Sejak kapan kau berpikiran kotor?"

Naruto menoleh, ia menatap Sasuke.

"Kemarin."

Oke, itu hanya jawaban dalam hati Naruto.

Naruto mengangkat bahunya, ia merebut ponsel Sai. "Siaran ulang sepak bola?"

Sai mengangguk. "Makanya, jangan berpikiran negatif dulu."

"Makanya, jika berkomentar itu jangan ambigu." Naruto mengembalikan lagi ponsel Sai. Sapphire birunya menatap Shikamaru. "Tidur saja."

"Daripada ribut."

Naruto berdecak. "Kau ikut jadi panitia?"

"Siapa? Aku?"

"Bukan kau." Naruto mendelik, ia menatap Kiba yang kini sedang menunjuk hidung mancungnya. "Tapi Shikamaru."

Pemuda malas itu menguap. "Tidak tahu, aku malas. Paling-paling ya kita bakal jadi panitia."

"Kudengar hanya untuk angkatan kita saja, kan?" Sasuke mengalihkan tatapannya pada Shikamaru.

"Iya, tapi tetap saja repot. Apa lagi jika camping. Pasti ada saja kejadian."

"Hush!" Kiba mengibaskan tangannya. "Jangan bicara yang tidak-tidak."

"Mending yang iya-iya." Sai mengacungkan jempolnya.

Sai dan Kiba hari ini aneh.

"Kiba?"

Kiba menoleh, ia menatap Naruto. "Apa?"

"Ada yang menunggumu."

"Siapa? Siapa?" Wajah Kiba menunjukkan bahwa kini pemuda penyuka anjing itu tengah kepo luar biasa. "Katakan tunggu aku sepulang sekolah."

"Siapa yang menunggu Kiba?" Rupanya Sai ikut kepo juga.

"Rumah Sakit Jiwa."

"Sialan! Kau!" Kiba mengepalkan tangannya ia sangat ingin memukul Naruto.

Sedangkan si tersangka sudah tertawa bersama Sai. Sasuke hanya menyeringai begitupun dengan Shikamaru.

Kiba misuh-misuh. Harusnya ia sudah menduga bahwa Naruto itu menyebalkan. "Kudo'akan istrimu selingkuh!"

Naruto melotot. "Akan kutelepon Rumah Sakit Jiwa sekarang."

"Akan kudo'akan istrimu pacaran dengan si Panda."

"Dan Akamaru akan kubunuh."

"Argh! Sial!"

Kiba memang tidak pernah menang berdebat dengan Naruto.

.

.

"Hinata?"

Hinata menoleh, ia mengabaikan ponselnya dan menatap Gaara. "Ada apa?"

"Ada yang ingin aku katakan kepadamu."

Tunggu. Kenapa Gaara terlihat serius?

Hinata tersenyum. "Katakan saja, aku tidak akan marah."

"Janji?" Gaara juga tersenyum.

Hinata mengangguk.

"Jika begitu ikut aku." Gaara menggenggam tangan Hinata, ia membawa gadis itu keluar dari ruang kelas.

Alis Hinata mengernyit, genggaman tangan Gaara memang tidak asing baginya. Namun... Kenapa Hinata merasa kosong? Tangan Naruto lebih hangat. Ya, lebih hangat.

Kaki mereka melangkah ke arah koridor ruang musik. Tempat ini memang jarang di lalui orang di jam istirahat seperti saat ini.

Gaara berhenti, refleks Hinata juga ikut berhenti. Pemuda itu menghadapkan tubuhnya ke arah Hinata. Tatapan jadenya berubah serius. "Hinata?"

"Iya?"

"Mungkin ini terdengar gila tapi aku..."

.

.

.

.

To Be Continued

A/N

Pengenya di up pas hari Minggu kemarin eh, tahunya bisa sekarang:) maaf ya... Maaf jika saya menyebalkan:'(...

Lah? Mana si 'dia' nanti aja:)... Gaara ngapain hayooo?

Yang udah masuk sekolah lagi semangat, semangat sama tugas yang bejibun:'). Siapa yang minggu pertama udah belajar? Senasib kita:(.. Sama Kakak yang udah kuliah pengen ngobrol:D..

Maaf sama typo, makasih sama yang udah review, fav, follow, sama silent reader. Please, kasih respon yah... Nanti saya tambah semangat:)

Saatnya balas review:

Nia Anis: iya Naruto emang gitu:v nyebelin dia. Ternyata si 'dia' nggak muncul sekarang:) hehehe makasih:D sama-sama:) makasih juga udah baca+review:) oke ganbatte!

Norma Yunita: akupun merona:v makasih:) muachh too untukmu:*

Kakek Legend: jika begitu minum air kaya Naruto:v, untung sekarang udah nggak panas:v saya sedih dengarnya:'(... Semoga sekarang Kakek-san nggak mengalaminya:D

antiy3629: makasih...makasih:v

riekincchan: wahhh Kakak hebat:D, nggak papa kok Kak:D hehehe iya:)

csalsabiil: makasih juga udah baca+review:) kita liat aja nanti;) hehehe iya:) nggak tahu saya masih mikir:D semangat!

Cicito: iya saya ngerti kok T_T :v

666-avanger: ini udah banyak:)

Yunnaa-chan: wah... Kakak keren:D nggak papa kok Kak:D, makasih:)) ini udah... Semangat!

Darkness Light Emperor: apa aja boleh:v, makasih do'anya:D.. Salam hangat juga

cecepantonii: iya deh kalo gitu:D, kita liat nanti aja:)

pebrek677: hehehe:D ajib juga:)

Wkwk: makasih:D, jika tidak suka silahkan jangan di baca... Semoga Anda bisa menemukan kategori cerita yang sesuai dengan selera Anda...

robbiyasinnadiva: minal aidzin juga:D, saya juga minta maaf:(, iya nggak papa:D.. Makasih:D

Nindria: wihh Kakak hebat:D, makasih:) ini juga udah lanjut:) pengen up kilat tapi suka nggak bisa;( makasih dah nunggu:)

robbiyasinnadiva: hehehe iya nih:) tapi yang ini malah lama:( sayangnya sekarang udah sekolahT_T, belum saya, masih kelas 3 SMK, ternyata tuaan saya:D, hehe saya juga pengen tapi apa daya:') ternyata belum ada dia:') semangat!

Hinari chan: iya nih:) makasih:) Gaara nggak punya doiT_T kasian:( iya nih dia, semangat!

uzunami28: iya ini udah:) makasih... Kasian Hinata kalo gitu:( iya saya seneng:D, iya aku perempuan, kamu mau apa...

uzunami28: yang mau OOC itu fanfic saya yang baru:D, kalo sempet:) hehehe Naruto emang gitu:v, makasih.. Makasih juga sarannya:)

Nana: makasih:) bisa aja tapi bener:v ini udah di lanjut semoga rasa penasarannya terbayar:) tapi dia belum muncul sekarang:( nggak papa Kak masa SMA itu terbaik:D

Hinari chan: makasih:) kamu memang memberi semangat:) sama saya juga:D, bisa aja nih:) iya kurang lebih kayak gitu, aaa makasih:D makasih dah nunggu:) ternyata belum:(

Emelda: makasih:) sayangnya dia belum datang:(

Key: saya juga kangen:( hehehe iya:) sayangnya dia belom ada:( makasih udah nunggu, semangat!

Uzna Chan: makasih...hehehe iya kepanasan melulu dia:) iya semoga aja:( apa lagi itu T_T dia ada belum muncul:v, semangat! Salam hangat juga:)

nawaha: hehehe bisa aja:v makasih... Apa iya baper? Akun kamu apa? Kita follow-follow:D makasih dah nunggu:) hehehe iya nih...

Nindri: apa benar berbelit-belit? Iya saya usahain... Maklum saya masih baru:)

TeoniMio: aaa masasih? *ekspresikepo* :v

Yuuna Anisaka: Kakak hebat:D, maunya Kak:) tapi sulit:(

Atago: silahkan:v, tapi kasian Gaara:v

fiya: ini udah;)

Guest: makasih sis! Ini udah;)

Guest: pengennya bisa cepet T_T

Guest: Hinata emang imut:) beneran baper?

salsal hime: Kasian Naruto sama Hinata dong:'(... Ini udah:)

: udah udah udah;))

Guest: ini udah:)

sasuhina lovers: kenapa?

alvkwan: sayangnya dia nggak muncul sekarang:v iya do'ain aja ya:) serem permintaannya:( tapi mau siksaan yang kayak gimana?:v

anirahani: beneran manis?:v iya menakutkan:(

Sampai jumpa di chapter depan... đź‘‹

Mind to RnR?

Arigatou minna-san.

~Peluk cium RiuDarkBlue~

.

.

.

21 Juli 2018