CHAPTER 11

Sacrifice

"Lisanna apa yang kau?"

"sstt.. sudah, lebih baik kau rileks saja Na-tsu"

Gadis yang sangat ia kenal itu mulai berani menyentuhnya bahkan mendekati bibirnya. Dia berani menyentuh Natsu meski para pelayan dan penjaga Natsu telah memandangi mereka.

"hoo.. kau berani menawarkan dirimu di depan lelaki seperti aku? Kau kira aku akan menolak gadis cantik sepertimu?"

Bukannya mendorong atau menampar gadis itu, Natsu justru mencengkram kedua lengan gadis itu erat "hm aku lupa, disini ada banyak orang yang melihat. Sebaiknya kita lakukan dikamar"

"eh?" Lisanna merubah raut wajahnya menjadi kaget dan sedikit ketakutan ketika Natsu mulai menggendong tubuhnya dengan kasar, padahal dia sendiri yang memulai semuanya. Dia tidak berpikir bahwa Natsu malah meladeninya bahkan sampai membawanya ke salah satu kamar tamu.

"le-lepaskan aku!" Lisanna memukul-mukul punggung Natsu.

Natsu menyeringai kecil "kau memberikan seekor singa sebuah daging segar di depan singa liar tanpa sebuah rantai atau kandang"

Lisanna semakin meronta ketakutan lantaran Natsu mengunci pintu kamar dan melempar tubuhnya ke kasur.

"a-apa yang kau lakukan?"

"apa yang kulakukan? Bukankah ini yang kau mau? Dan.. lihat dirimu, kau bahkan sudah sangat cantik dari terakhir kali kita bertemu. Semua pria pasti menginginkan tubuhmu" Natsu mulai merangkak naik ke atas tubuh si gadis yang sedang bergetar ketakutan itu dan mengelus sebentar leher mulus Lisanna.

"katakan padaku, apa kedatanganmu ini ada kaitannya dengan Luce? siapa yang sudah membuat skenario ini, Lisanna?" tanya Natsu tersenyum sinis di atas tubuh si gadis.

Lisanna bungkam untuk mengatakan yang sebenarnya. Tidak mendengar respon apapun dari si gadis Natsu mulai mengunci tubuhnya dan mendekatkan wajahnya pada wajah mulus Lisanna.

"N-Nyonya Poluchka!"

Mendengar jawaban itu, Natsu menghentikan gerakannya. "Nyonya Poluchka yang mau menjodohkanku denganmu! gadis itu sendiri yang mau pergi karna dia sadar dia tidak selevel denganmu! Kau harus sadar posisimu Natsu! dia itu hanya gadis biasa!"

Natsu tersenyum tipis "kau memang gadis manis, tidak akan ada lelaki yang menolakmu. Tapi tidak untukku"

Natsu mengangkat tubuhnya dan berdiri memandang gadis yang terlentang itu "aku hanya menyukai Luce dan hanya dia yang kuinginkan, maaf saja tadi aku hanya ingin mempermainkanmu" Natsu pergi keluar pintu dan meninggalkan gadis berambut putih itu sendirian di kamar.

Natsu mendengus kesal karna waktunya terambil sia-sia demi menguras informasi dari Lisanna meski harus menakutinya dulu. "apa benar kau kabur karna cemburu Luce? Aku yakin kau bukan gadis secengeng itu"

Kebetulan Igneel baru pulang dari bisnisnya dari luar negri dan tiba dirumah dengan girang sambil membawa oleh-oleh. "Natsuuu.. Lucy... aku membawakan kalian oleh-oleh"

Salah satu pelayan membantu membukakan jas tebal si pria paruh baya itu dan langsung menyuguhkan secangkir teh dan sebuah cold towel.

Igneel memanggil salah satu pelayannya dan meminta untuk memanggilkan Natsu dan Lucy yang mungkin sedang berada di kamar.

"ma-maaf tuan, sebenarnya.." belum sempat si pelayan menyelesaikan peryataannya, Natsu terlihat turun dari tangga dan memandang ayahnya terkejut.

"ahh.. itu dia! Natsu kemari-kemari, aku membelikan oleh-oleh dari Italia untukmu dan untuk Lucy"

Natsu menoleh kearah lain "Lucy kabur dari rumah"

Cangkir teh yang ia genggam itu langsung jatuh ke kemejanya dan mengotori celananya. "PANAASS!" teriak Ingeel.

Para pelayan langsung panik dan mencoba untuk membantu membersihkan air teh yang tumpah.

"bagaimana dia bisa kabur?! Kau apakan dia Natsu!?"

Disaat situasi sedang panas, Lisanna turun dengan baju acak-acakan dan berlari keluar pintu rumah melewati Igneel, Natsu dan para penjaga. "si-siapa gadis itu? jangan-jangan alasan Lucy pergi karna kau dengan gadis tadi..?" Igneel semakin marah menjadi akibat kesalahpahaman yang tidak sesuai dengan kejadian sebenarnya.

Melihat itu, salah satu pelayan menghampiri Igneel dan menunduk sopan "maaf tuan, saya tidak ingin tuan salah paham"

Baik Igneel maupun Natsu langsung menoleh melihat pelayan itu. Ya, dia adalah pelayan paling senior di rumah Natsu, dia juga yang menyaksikan langsung bagaimana Poluchka mengancam Lucy lewat ponsel.

"begini tuan, saya akan menjelaskan kejadian sebenarnya yang menimpa nona Lucy. Kemarin Nyonya Poluchka memang datang kemari dan meminta nona Lucy pergi dari rumah karna alasan nona Lucy tidak sederajat dengan Natsu-sama. Dan dia menjanjikan bayaran 2x lipat, namun nona Lucy menolak. Saya tidak tau apa yang terjadi selanjutnya tetapi tiba-tiba saya tidak sengaja mendengar nona Lucy yang baru pulang jalan-jalan bersama temannya mendapat telpon dari orang yang mengaku sedang menculik temannya, kalau tidak salah nona Lucy memanggilnya Levy. Saya tau kalau mereka menculik temannya dari perkataan nona dan suara seseorang yang berteriak kencang lewat ponsel dan alasan mereka menangkap temanya adalah demi mengancam nona Lucy untuk pergi dari rumah agar nyonya dapat dengan mudah menikahkan Natsu-sama dengan nona Lisanna. Dan saya yakin penelpon itu adalah nyonya Poluchka, karna nona sempat menyebut namanya." Jelas si pelayan itu panjang lebar.

Igneel meresponnya dengan sangat jengkel. Tidak sadar ia telah menendang salah seorang bodyguard dibelakangnya dengan emosi. Alhasil si bodyguard itu pingsan karna tendangan Igneel sendiri bukanlah tendangan biasa. Siapa tahu bahwa ternyata Igneel sangat ahli dalam ilmu bela diri, meski sangat salah ia melontarkan emosinya ke bodyguardnya sendiri.

Para pelayan yang melihat itu langsung menatap Igneel ketakutan. Natsu sendiri mengerutkan alisnya mengingat ayahnya dan Erza adalah teman dekat dalam hal bela diri.

"oh! Maafkan aku Jose! Aku terlalu emosi" ucapnya bersalah pada sang bodyguard yang tengah pingsan setelah sadar dengan tindakannya barusan.

"tolong bawa dia ke ruang pengobatan" perintah Natsu kepada ketiga pelayan yang sudah berdiri di depan bodyguard itu menunggu aba-aba.

"ayah, menurutku tindakan nenek sudah kelewat batas"

Igneel hampir kembali menendang menendang pelayan yang ada di sebelahnya saat emosinya sedang naik lagi, tapi untung saja Natsu langsung menahan tendangan ayahnya dengan tangannya demi melindungi pelayan itu. "ayah! Kendalikan emosimu! Bisa-bisa seluruh pelayan dan rumah kita jadi rumah sakit!" bentak Natsu emosi.

"ma-maaf, aku tidak bisa mengendalikan emosiku. Maaf ya semuanya"

Natsu memandang jengkel pada ayahnya. Dia hampir saja lupa kalau dia sedang memikirkan pembalasan apa yanga akan dia lakukan atas kelakuan Poluchka pada Lucy-nya.

"dasar mertua tidak tau di untung! Apa maksudnya melakukan itu pada calon menantuku? Tapi Natsu, tumben sekali? kenapa kau terlihat santai saja? apa kau sudah menjalani fase kesabaran dengan baik? Biasanya sebelum aku kau pasti sudah emosi duluan"

Natsu hanya diam tidak merespon. "a-anu Igneel-sama.. sebenarnya sembilan penjaga diatas sudah dihajar habis-habisan oleh Natsu-sama. Ka-karna itu ruang pengobatan jadi penuh" ucap salah satu pelayan lain.

Igneel menatap Natsu menyelidik "kau bilang tidak untuk merubah rumah ini jadi rumah sakit, tapi kau sendiri malah merubah rumah ini jadi pemakaman, kau curang ya" ledek Igneel menyipitkan mata onyx-nya yang sama dengan milik anaknya.

"ayah, daripada membicarakan itu lebih baik kita segera ke rumah nenek sihir itu"

Igneel hanya menganguk setuju dan segera bersiap untuk menghadapi orang yang telah merumitkan keluarganya itu.

.

.

.

Terlihat kerumunan penjaga sudah terkapar tidak berdaya di depan pintu rumah besar yang bercat putih itu. Ya, rumah itu adalah kediaman Poluchka.

Mendengar semua keributan itu sang wanita yang berumur sekitar 70 tahunan itu langsung keluar dari pintu yang dibukakan oleh pelayannya. "berisik sekali! Apa yang terjadi?"

Ia sempat terkejut melihat kerumunan penjaganya sudah habis dihajar oleh menantu dan cucunya serta beberapa orang bodyguard yang ada di belakang mereka.

"kurang ajar! mana etika kalian?!" bentak Poluchka pada mereka yang sudah berdiri di depan pintu dengan wajah jengkel.

Tanpa rasa takut atau ragu Natsu langsung maju dan mendekati wanita yang berambut sama dengannya "etika? Kau yang tidak punya etika nenek tua"

"maaf atas ketidaksopanan kami, tapi anda sama sekali tidak punya hak untuk menendang calon menantuku keluar dari rumahku" sahut Igneel menimpali.

"oh.. Anak level rendah itu adalah calon menantumu? Jangan bercanda" sahut Poluchka.

Mendengar itu emosi Natsu langsung naik. Ia hampir memukul wajah sang neneknya sendiri, tetapi Igneel dengan sigap menahan tangannya. "jangan pernah menjelekan Luce di depan wajahku atau tidak"

"hm.. kau memang cucu keras kepala. Dan ah! kebetulan gadis selevel yang ingin aku jodohkan denganmu sedang ada disini, kemarilah sayang" panggil Poluchka. Gadis itu keluar dengan ragu dan takut menatap Natsu.

"ga-gadis itu kan?" Igneel langsung menoleh kearah Natsu mengingat itu adalah gadis yang turun dari tangga dua di rumahnya dengan baju yang terkesan kusut.

Natsu tentu tidak terkejut dengan itu. Dia malah menyeringai kecil melihat sikap sang gadis yang ketakutan bahkan hanya sekedar menatapnya.

"Lisanna, kenapa diam? Kau kan bertemu dengan calon tunanganmu" ucap Poluchka memandangi Lisanna yang hanya menunduk.

"kau lihat Natsu? aku hanya ingin memberikan yang terbaik untukmu" kata Poluchka lagi menoleh kearah Natsu

Natsu menatap Poluchka santai namun berkesan sinis. "kau harus mendengar ini, kau orang paling jahat yang kukenal. Jadi sebanyak apapun hal terbaik yang kau berikan padaku, aku tetap menganggapmu jahat, maaf nenek sihir aku hanya menyukai Luce. Bahkan aku sendiri tidak tau hal apa yang akan kulakukan padamu jika terjadi sesuatu dengan Luce" ucap Natsu membalikan badan dan bersiap pergi.

"hm, aku sudah menduga kau pasti sudah menyukai anak itu dan menolak keinginanku"

Igneel langsung menoleh kesal ke arah mertuanya itu. "lalu apa maksud anda?"

"bagus kau bertanya, dengarkan aku Natsu. Aku akan memberikan sebuah mobil yang kau inginkan, rumah, apartemen mewah dan warisan besar padamu jika kau mau menikahi Lisanna. Bagaimana?" tawar Poluchka.

Para bodyguard dibelakang terlihat iri dengan majikan mereka yang sangat beruntung bisa memiliki seorang gadis cantik seperti Lisanna dan mendapat bonus mobil, rumah, apartemen dan warisan. Natsu menatap balik tajam para bodyguardnya yang sedang membicarakannya seperti sekumpulan ibu-ibu penggosip di sebuah arisan.

Si pemuda membalikkan badannya dan menghampiri nenek kandungnya itu lagi sambil tersenyum. "kau pasti setuju kan? Ayo kita bicarakan di dalam rumah saja"

Igneel agak terkejut dengan sikap Natsu yang mau saja diundang ke dalam rumah Poluchka.

Para pelayan Poluchka langsung melayani mereka dengan sangat baik sambil menyuguhi sebuah wine untuk menjamu mereka.

"keputusan bijak cucuku, aku akan membuat cek sementara untukmu. Kau bisa pakai itu untuk bersenang-senang kapanpun kau mau, dan besok aku akan menyuruh sekertarisku untuk memesan mobil, rumah dan apartemen mewah untukmu dan Lisanna" ucap si nenek senang merasa dia telah menang.

Natsu masih tetap diam dan tersenyum. Igneel memandang bingung dengan keputusan tiba-tiba yang diambil anaknya itu.

Poluchka pun mengeluarkan sebuah cek yang berisi nominal yang sangat banyak yang membuat para pelayannya sempat syok. Lantaran cek itu hanyalah sebuah penawaran pembuka saja.

"hei nenek, kau punya barang langka dan mahal kan? Misalnya seperti sebuah keramik atau guci mewah yang kau koleksi? Aku sangat tertarik dengan hal itu, boleh aku melihatnya?" Natsu akhirnya angkat bicara, tapi anehnya dia malah membicarakan soal barang antik dan mahal.

"ohh tentu ada! Kau bisa lihat ke ruangan khusus itu dan sekeliling ruang tamuku. Ini semua barang-barang langka dan harganya mencapai milyaran"

Natsu berdiri dan menghampiri ruangan yang ditunjuk oleh Poluchka tadi.

"kau lihat menantuku? Cucuku memang lebih pintar daripada kau" kata Poluchka menoleh pada Igneel yang sedang meminum wine-nya tanpa merespon.

*PRANG!

Seluruh orang yang ada di ruang tamu langsung menoleh ke arah suara mengejutkan itu. Poluchka langsung berlari ke arah ruangan tempat ia meletakkan 80% barang antiknya itu, ia memandang syok lantaran melihat Natsu sedang mengobrak abrik ruangan itu dan keluar melewatinya begitu saja.

Si pemuda kembali mendekati sebuah guci besar yang berdiri di sudut ruang tamu dan menatap Poluchka. "kau bisa ucapkan selamat tinggal dengan gucimu?"

"ja-jangan.. barang itu sangat mahal dan rapuh!"

*PRANG!

Dengan sekali tendangan, guci itu hancur di depan semua mata yang memandanginya. "ini yang kurasakan ketika tau kaulah yang mengusir Luce"

"a-anak sialan! Apa maksudmu? Guci itu adalah barang antik termahal di rumahku!"

"Ya benar, guci ini sangat rapuh tetapi memiliki harga yang sangat mahal dan berharga untukmu. Sama sepertiku, Luce memang rapuh dan tidak berdaya tapi bagiku Luce adalah aset terpenting dan berharga untukku. Tapi kau menghancurkan Luce layaknya aku menghancurkan guci ini."

Poluchka hanya menatap Natsu jengkel dan merasa tidak bisa menyerang balik perkataan cucunya.

Natsu menghampiri meja yang terdapat kertas cek tadi dan memandangi isinya.

Baik Lisanna, Poluchka, para pelayan, dan para bodyguard Igneel, tercengang melihat aksi Natsu yang merobek cek berisi nominal besar itu dengan santainya. Sedangkan Igneel? Ya, ia hanya tersenyum menyeringai melihat tingkah laku anaknnya yang sudah sangat ia kenali sifatnya itu. Sifat Natsu yang sama sekali tidak pernah tertarik dengan tawaran harta dan sifat seenaknya yang dia miliki.

"kau kira aku ini anak tk yang mau diberi segudang permen dan cokelat untuk menggantikan robot kesayangannya yang hilang? Jangan bercanda kau nenek tua penggila kehormatan dan harta"

Seusai mengatakan itu Natsu dan Igneel langsung beranjak pergi ke arah pintu keluar dengan dikawal oleh para bodyguard mereka.

Poluchka yang syok, mencoba untuk mencari kata-kata lain yang mungkin saja bisa merubah keputusan cucunya itu "da-dasar bodoh! Kau bisa kehilangan kehormatanmu sebagai penerus keluarga! Kau tidak mau kan jika namamu dicoret dari daftar penerus?!"

Natsu menghentikan langkahnya dan menoleh kebelakang. Poluchka hanya tersenyum kecil melihat Natsu yang langsung merespon perkataannya.

Natsu pun menyeringai "kau salah jika menilaiku begitu, sejak awal aku selalu malas dan tidak punya minat untuk jadi penerus keluarga ini. Jadi jika kau ingin mengancamku untuk mencoret namaku segala, silahkan saja"

Poluchka & Lisanna terdiam syok ketika Natsu menyerangnya balik dengan mudah. "N-Nyonya apa yang akan kita lakukan sekarang?" tanya Lisanna pasrah. "diam! Anak itu benar-benar tidak tau etika! akan kuberi dia pelajaran"

.

"kau hebat juga"

Natsu hanya memandang lurus kedepan tanpa peduli apa yang ayahnya katakan. Meski ia telah berhasil mempermalukan Poluchka neneknya sendiri, tetap saja pikirannya masih khawatir akan Lucy.

Igneel hanya tersenyum pasrah melihat raut wajah Natsu yang sangat terlihat sedang memikirkan Lucy. "ayah sudah menyuruh para pelayan ayah untuk mencari Lucy, tapi mereka belum juga memberikan kabar tentang anak itu"

"aku juga sudah mengerahkan beberapa polisi dan detektif untuk mencari Luce sampai keluar kota tetapi hasilnya nihil, sial" sahut Natsu tak mau kalah.

Natsu hanya mengumpat di dalam hati dan berkali-kali menyalahkan dirinya atas kepergian Lucy. "aku akan terus mencari Luce sampai ketemu, tidak peduli berapa lama itu"

.

.

"Sting aku mau belanja dulu, aku pergi ya" seorang gadis pirang yang memakai baju dress santai tersenyum berpamitan ke arah seorang pemuda pirang yang sedang duduk santai sambil memainkan ponselnya.

"kau tidak mau kuantar?" tanya Sting pada Lucy.

Gadis itu hanya menggeleng sopan demi untuk tidak merepotkan teman sekaligus orang yang dia anggap kakaknya sendiri itu. Gadis itu pun pergi keluar pintu dan menuju sebuah supermarket yang terletak di Magnolia.

Sting memperhatikan Lucy yang mulai menjauh dari rumahnya "Lucy, seandainya aku orang yang bisa membahagiakanmu. Tapi ,aku tau kau masih sangat mencintai Natsu seperti dia mencintaimu" batin Sting melihat Lucy yang mulai menghilang.

Lucy pergi ke sebuah supermarket untuk membeli sayur dan buah-buahan. Dia berencana untuk memasak makan malam untuknya dan Sting, meski Sting sebenarnya memiliki pelayan untuk memasak.

.

.

Satu jam berlalu setelah Lucy menyelesaikan acara belanjanya. Ia pun keluar dari supermarket dan sangat kebetulan ia melihat seorang wanita tua yang sangat tidak asing untuknya sedang mabuk dan tidak sadar berjalan ke tengah jalanan.

"ah? bukannya itu.."

Lucy menaikkan alisnya ketika mendapati sebuah mobil yang melintas akan menabrak si wanita tua yang sedang mabuk berat itu.

Tanpa pikir panjang dan seakan lupa akan masa lalunya yang pahit, Lucy hanya berlari ke arahnya. Lucy melempar belanjaannya dan melompat ke tengah jalan demi mendorong Poluchka yang akan tertabrak mobil.

.

.

.

"a-ah, Natsu, pandanganku mulai gelap. apa aku.." tenaga Lucy seolah hilang dan pandangannya mulai kabur. Ia tidak bisa bergerak dan hanya melihat sayuran yang dibelinya berantakan di tengah jalan, tersungkur seperti dirinya sekarang. Mobil yang harusnya menabrak Poluchka malah menabrak dirinya. Terlihat matanya mulai berubah dan darah segar keluar dari kepalanya.

Poluchka yang di dorong Lucy akhirnya terbangun dan sadar saat melihat kebelakang.

Ia melebarkan matanya dan menaikkan alisnya seakan melihat yang menolongnya adalah seorang malaikat yang sedang ada di ambang kematian. Ia terduduk lemas melihat Lucy yang terkapar demi menolongnya. Orang-orang sekitar mulai mengerubungi dan membantu dirinya dan Lucy untuk menghubungi ambulan.

Ia meletakkan tangannya ke kepala Lucy memandang dalam wajah orang yang menyelamatkan jiwanya. Tanpa sadar ia mengeluarkan air mata, air mata yang bertahun-tahun tidak pernah ia keluarkan sama sekali 'kenapa anak ini menolongku, menolong orang yang sudah menyakitinya'

Beberapa saat ambulan datang dan langsung memasukkan Lucy ke dalam mobil dan dibawa ke rumah sakit dengan Poluchka yang menemaninya. Poluchka menelpon asistennya untuk memberitahu seluruh keluarga Natsu dan teman-teman Lucy atas insiden yang terjadi.

Asistennya langsung menghubungi semua keluarga Natsu dan beberapa teman dekat Lucy.

Natsu yang sedang berada dikamar dan sedang menunggu berita tentang kehilangan Lucy menyadari bahwa ponselnya berbunyi. Ia pun mengangkat ponsel itu berharap ada berita baik mengenai Lucy. Tetapi kenyataan berkata lain.

"Lu-Lu-chan? t-tidak mungkin. Aku akan segera kesana!" Levy pun kaget mendengar kabar itu dan langsung bersiap pergi dengan panik dan bingung.

"Lucy kecelakaan? Aku akan pergi sekarang" ucap Erza tidak kalah terkejut dan segera menghubungi Jellal.

.

.

.

Sesampai di rumah sakit mereka semua sudah berkumpul dengan wajah khawatir dan sedih, mereka semua adalah Erza, Jellal, Gray, Levy, Gajeel, dan Igneel serta pelayan-pelayan Natsu yang dekat dengan Lucy. Natsu yang baru datang langsung terlihat kaget sekaligus emosi ketika melihat Poluchka juga ada disana.

"nenek sialan! Apa semua ini ulahmu?!" Semua memandang ke arah Natsu yang sedang menghadapi Poluchka.

Poluchka hanya diam tanpa berkata-kata. "oy.. tenanglah Natsu! sebaiknya kita tunggu hasil dokter" ucap Gray menahan Natsu dengan paksa.

"Gray benar, daripada kau ribut sebaiknya kita tunggu hasil dokter" ucap Erza sambil memegang pundak sang pemuda yang ia anggap seperti adik kandungnya sendiri itu.

.

.

Harapan tidak selalu akan menjadi baik. Jika Tuhan berkehendak lain, apa yang bisa dilakukan oleh manusia hanyalah berserah padanya.

Beberapa saat kemudian seorang dokter keluar dari ruangan dan membuka maskernya sopan.

Semuanya terpaku ketika dokter itu datang demi ingin mendengar hasilnya. Natsu langsung berlari dan menghampirinya "Dokter! bagaimana Luce? Dia tidak apa-apa kan? Dia selamatkan? kumohon cepat jawab aku!" Natsu emosi memegang baju dokter itu.

Dokter itu terdiam sementara dan akhirnya mulai berbicara. "Maafkan kami, kami sudah melakukan semampu kami. Pasien sangat lemah dan tidak bisa tertolong, kami turut berduka" jelas Dokter itu lalu meninggalkan mereka.

.

.

Semuanya terdiam syok ketika dokter mengabarkan berita yang sangat tidak ingin mereka dengar. Suasana yang tadinya buruk menjadi bertambah buruk lagi. Seolah oksigen disekeliling area rumah sakit menipis, mencengkram paru-paru beberapa orang yang telah kecewa dengan kenyataan yang pahit yang mereka harus terima. Hidung mereka mulai terasa berat, mata mereka mulai perih dan memerah juga kaki mereka mulai lemas untuk berdiri. Mereka harus menghadapi kenyataan bahwa Lucy telah meninggal dunia.

"sial, ini pasti bohong!"

Dengan segera Natsu langsung berlari ke arah kamar tempat Lucy berbaring kaku. Tubuhnya masih disana, tetapi Lucy sudah tidak ada disana lagi.

Ia memandang Lucy lemas dan berjalan gontai ke dekatnya. "sial, Luce, kau kuat kan? Kau pasti bisa bangun"

Mereka yang lainnya juga ikut memasuki ruangan dan melihat Natsu yang telah memandangi Lucy yang menutup matanya.

"Lu, Lu-chan.. ini tidak mungkin"