HOLA AKHIRNYA AKU KEMBALI! Maafkan aku teman-teman karena aku tidak cepat update dikarenakan aku ada kesibukan sendiri (padahal liburan) dan ada hambatan karena tidak adanya ide, aku bikin dan sempet ga suka karena terlalu klise, makanya aku revisi terus dan akhirnya ya TARAAAA update juga, aku ga tau jadinya lebih bagus apa engga tapi aku harap kalian enjoy bacanya dan kalau ada yang tidak jelas nih, ceritanya freak gitu, blh kok kasih kau masukan (aku sangat mengharapkan sebenernya makanya aku butuh komen kalian) oke deh langsung aja, selamat membaca! Sori kalo banyak typo :P

.

.

.

.

.

Pagi-pagi, seperti biasa, Kazuha melakukan pekerjaan rumah sendiri. Ayahnya yang selalu sibuk bekerja sudah berangkat pagi-pagi. Kini ia sekarang di jam setengah sembilan, sedang menyiram tanaman dan pepohonan kecil di halaman belakang rumahnya. Maklum, di musim panas ini, air sangat dibutuhkan untuk disiram ke tumbuhan. Ketika itu terdengar olehnya suara langkah kaki yang memijak lantai rumahnya, sehingga ia menengok ke belakang, mendapati Heiji duduk di teras belakang sambil berpangku tangan.

Dasar Heiji, suka menyelinap tanpa bilang-bilang, ujar Kazuha dalam hati.

"Hari ini kau latihan kendo?" tanyanya.

"Ya nanti siang jam 11," ujar Heiji sambil menatap Kazuha dengan topi terbalik, dan baju kaos yang sedikit kotor, "Penampilanmu seperti anak petani saja…" namun setelah dilihat lama-lama, Kazuha terlihat manis juga baginya, ia seperti gadis desa…

"Ahou, kau tidak bisa lihat sendiri? Aku sedang menyiram tanaman, dan tadi ada tanaman yang aku harus pindahkan…" ujar Kazuha masih sambil melakukan pekerjaannya.

"Hmmm…." Heiji mengangguk-angguk.

"Kazuha,"

"Apa?"

"Apa kau sudah punya pacar?" tanya Heiji tanpa ragu.

"Hah?" Kazuha melirik ke belakang punggungnya, dimana Heiji kini sedang duduk bersandar di dekat pintu, "Sepertinya kau pernah bertanya, dan kau tahu kan jawabannya… Tidak punya."

"Benarkah?"

"Ya terserah kalau kau tidak mau mempercayainya…" Kazuha mengangkat bahu dan kembali menyiram tanaman. Heiji tanpa sadar mulai bernapas lega. Dari dalam lubuk hatinya, ia merasakan hatinya seperti mencelos ke luar, karena sejak tadi pagi saat ibunya mengatakan sesuatu yang membuat dirinya merasa muak.

Flash back

"Aku tidak percaya pada perkataanmu bu,"

"Kau memang benar-benar tidak percaya atau berusaha untuk tidak melihat realita? Heiji… jangan bilang kau menyukai… Kazuha?"

Heiji yang kaget pun mulai menatap ke arah ibunya, ia terdiam sejenak tanpa berkata-kata.

"Hah? Hahaha!" Heiji pun tertawa, ibunya melebarkan matanya. "Apa sih yang ibu katakan? Aku, suka pada Kazuha? Yang benar saja… ibu kan tahu aku hanya berteman dengannya…"

Shizuka menatap anaknya dengan tajam, berusaha melihat apakah yang dikatakan Heiji tadi itu benar atau tidak. Heiji pun merasa gugup, "Ibu… kenapa dengan tatapanmu itu… kau begitu menakutkan…"

Shizuka menyadari sikapnya dan langsung kembali ke aktivitasnya dengan menyiapkan sarapan. Heiji hanya mengangkat bahu, lalu bersama ibunya. Mereka tidak saling berbicara satu sama lain saat makan.

"Baiklah, terserah padamu ya, asal jangan terlalu merepotkan Kazuha, kasihan dia…" ujar Shizuka yang berusaha bersikap bijak.

"Merepotkan? Apanya bu, justru aku yang kerepotan dengannya…" jawab Heiji asal, dan ibunya itu langsung menghujaninya dengan tatapan galak, lagi-lagi Heiji merasakan gugup dan bulu kuduknya seperti merinding.

"Iya-iya, aku janji tak akan terlalu merepotkannya…"

.

Begitu Heiji merasa sadar dari flash backnya, ia mendapati Kazuha sudah berada di dalam, dan berjalan ke arah kamar sambil mengalungkan handuknya di sekitar lehernya.

"Aku mandi dulu ya, baru nanti aku siapkan bekal untukmu latihan…" Kazuha pun naik ke lantai atas berjalan ke arah kamar mandi.

"Jangan nyanyi-nyanyi di dalam kamar mandi ya, kelamaan…" seru Heiji jahil.

"Diam kau ahou," sahut Kazuha yang masuk dan menutup pintu kamar mandinya. Heiji hanya tersenyum geli mendengarnya. Ya setidaknya ia cukup senang dan terhibur dengan reaksi teman masa kecilnya itu. Dan ia akan sedih sekali kalau tiba-tiba ia tidak bisa melihat ketusan dan ocehan Kazuha seperti biasanya. Ia tidak tahu mengapa, tapi kalau hal itu menghilang, ia seperti merasakan kehampaan.

.

.

Ran melipat tangannya. Ia merasakan keringat dinginnya mulai bercucuran dari dahinya. Telapak tangannya terasa basah. Ia dalam hati memohon-mohon adanya keajaiban dan keberuntungan terjadi kepadanya. Setelah mengucapkan permohonan singkat dengan bergumam, ia membuka tangannya, dan melihat kartu ujian di Universitas Tokyo.

Hari ini adalah hari yang menegangkan baginya, dimana akan ada pengumuman lolos atau tidaknya ia di universitas bergengsi itu. Ran yang termasuk salah satu murid terpintar di SMA Teitan punya harapan, agar prestasinya itu bisa menjadi kelebihan yang ia punya. Tapi ia melirik ke arah sekelilingnya, banyaknya peserta yang juga ingin lolos seperti dia. Dan yang membuat Ran makin tidak percaya diri, peserta-peserta tersebut banyak yang berasal dari sekolah swasta yang dikenal favorit.

"Tenang Ran, percayalah pada dirimu sendiri…" ujar Eri yang menepuk pundak Ran yang terasa tegang saat dipegang. Saat ini mereka sedang di luar gerbang Universitas Tokyo, menunggu pengumuman resminya ditempel di mading.

"Kalau kau tidak lolos pun, ayah dan ibumu masih menyayangimu…" ujar Kogoro yang berusaha melontarkan candaannya, namun tatapan Eri yang tajam langsung menhujaninya, sehingga membuat dirinya langsung diam merinding, "Iya tadi aku hanya bercanda Eri…" gumam Kogoro, "Intinya Ran, kami akan selalu mendukungmu apapun hasilnya, jadi jangan terlalu tertekan…" sang ayah tidak ingin anaknya terlalu dibuat stres dengan pendidikannya. Maklum, saat dirinya seumuran Ran, dia tidak peduli pada kehidupan sekolahnya. Toh, jadinya ia sekarang berprofesi menjadi detektif.

"Terima kasih ayah, ibu, tapi aku benar-benar merasa bahwa ini impianku… aku akan sangat sedih jika aku tidak masuk… tapi… andaikan keadaan terburuk terjadi, aku akan berusaha semangat…" ujar Ran yang berusaha membuat orang tuanya tidak khawatir akan keadaannya.

Akhirnya tak lama kemudian, gerbang universitas dibuka, ketua panitia memberikan pemberitahuan, bahwa pengumuman kelolosan sudah dipasang, jadi peserta bisa melihat hasilnya. Ran menarik napas, berjalan pelan didampingi orang tuanya dari belakang, berharap impian putri mereka tercapai.

Ran melihat ke kartu pesertanya, ia mengecek nomornya untuk memastikan lagi. Mulai terdengar teriakan kegirangan dari beberapa orang, artinya mereka lolos masuk, lalu ada juga terdengar tangisan dan mereka langsung memeluk orang terdekatnya dengan rasa putus asa, sepertinya mereka tidak beruntung. Ran pun akhirnya sampai di depan papan pengumuman, ia mengecek, dan….

Ran menutup mulutnya. Rahangnya seperti mau copot. Jantungnya seperti berhenti sebentar.

"Bagaimana Ran?" tanya Kogoro mulai khawatir. Ran hanya melihat ayahnya dengan pandangan kosong. Eri yang tidak sabar langsung menyambar kartu ujian Ran dan mengecek nomornya, Eri menyapukan pandangannya ke tiap barisan nomor. Akhirnya ia mengerti kenapa anaknya tidak bisa berkata-kata, dan langsung memeluk Ran dengan erat.

"Ran… selamat Ran… kamu lolos!" ujar Eri dengan bersemangat dan merasa terharu. Ran langsung membalas pelukan ibunya dengan teriakan gembira. Yang membuat dirinya terkaget adalah bukan hanya karena dirinya lolos, tetapi ia mendapatkan peringkat tinggi sehingga ia masuk ke golongan beasiswa. Kogoro yang melihat kebahagiaan keluarganya langsung memeluk bersama, merayakannya bersama-sama.

.

Mereka pun akhirnya keluar dengan bersama, Ran, Kogoro dan Eri. Sesampainya di luar universitas, mereka melihat seseorang yang mereka kenal sedang melirik ke arah jamnya sambil membawa sebuket bunga. Ran melihat orang itu dengan hati yang berdebar-debar. Mukanya begitu terlihat merah. Akhirnya orang itu mengangkat kepalanya dan melihat ke arah Ran sambil tersenyum tampan.

"Shinichi…" ujar Ran yang masih terpana. Shinichi melambaikan tangannya. Ia mendatangi keluarga Mouri dan membungkukkan badannya memberikan hormat pada orang tua Ran.

"Wah, Kudo, akhirnya kau datang juga…" ujar Eri, yang melirik ke arah Ran yang sudah tersenyum lebar.

"Tentu saja, aku harus memberikan selamat pada Ran," Ia menyerahkan buket bunganya kepada Ran, dan Ran mengambilnya.

"Kenapa kau langsung berpikir aku lolos? Padahal tidak ada yang memberitahumu…." ujar Ran yang sedikit bingung dengan tindakan Shinichi yang tidak terduga.

"Aku percaya kau bisa menempuhnya, karena kau mampu Ran…" ujar Shinichi. Ia sudah yakin dari awal bahwa Ran akan lolos, karena ia mengenal gadis itu selalu mendapatkan hasil kerja kerasnya dengan baik. Dan juga…. Ia datang karena ia merasa bahwa dirinya harus lebih memperhatikan teman kecilnya yang begitu mencintainya itu. Setidaknya dengan perhatian-perhatian kecil seperti itu.

Akhirnya mereka pulang, dan atas keberhasilan Ran, ia berencana mengundang teman-temannya, baik Detektif Cilik (Ayumi, Mitsuhiko, Genta), Sonoko, Heiji dan Kazuha, ke pesta syukuran. Rencananya diadakan di rumah Profesor Agasa karena rumah itu sudah tidak asing menjadi kamp tempat berkumpul bagi mereka.

Dua hari setelah undangan diberitahukan, akhirnya syukuran diadakan. Heiji dan Kazuha dari Osaka pun sampai ke rumah Profesor Agasa. Karena perjalanan jauh, mereka adalah tamu yang paling terakhir datang. Sedangkan Ran, Shinichi, para detektif cilik, dan Sonoko yang membawa pacarnya, Makoto, serta Profesor Agasa berada di kebun halaman belakang sedang menyiapkan pesta barbeque.

Tiba-tiba, ada teriakan dengan logat Kansai yang khas menghentikan aktivitas mereka.

"Apa kami sudah melewatkan acaranya?" seru Heiji.

Semua orang langsung menengok ke arah Heiji dan Kazuha. Mereka dengan ramah menyambut mereka.

"Wah, Kak Hattori!" seru Genta, serta diikuti dengan seruan Ayumi dan Mitsuhiko.

"Halo Hattori, Kazuha-chan!" Sonoko langsung berlari dan memeluk Kazuha.

"Sudah lama kita tidak bertemu, Sonoko!" sambut Kazuha balik. Terakhir mereka ketemu saat pesta pernikahan Takagi dan Sato. Kazuha melihat Makoto lalu mengangguk sedikit memberi salam karena mereka tidak pernah bertemu langsung, begitu juga Makoto.

Kazuha mendatangi Ran dan memeluknya, "Selamat ya Ran-chan! Aku senang setelah mendengar kabar baikmu…" ujar Kazuha.

"Terima kasih Kazuha, aku juga senang kau mau datang juga dengan Hattori…"

"Selamat Ran-neechan!" ujar Heiji. Ran pun berterima kasih.

Kazuha tanpa sadar mengedarkan pandangannya ke segala arah, ia langsung mencari sesosok orang yang ia tak sadar ia rindukan di dalam hatinya. Padahal ia baru temui orang itu beberapa hari yang lalu, tetapi hatinya seakan terasa sakit terus menunggunya. Ia mencari, dan menemukan orang itu sedang merapikan piring dan menaruhnya untuk jamuan. Kazuha terdiam, ia melihat ke arah itu, dan orang itu pun merasa ada yang melihatnya secara intens, lalu melihat ke arah Kazuha.

Shinichi menatap gadis Osaka itu, dan membuat dirinya tidak bisa melepaskan pandangannya. Gadis itu, seperti biasa, menggunakan pita untuk kuncir kudanya, biasanya gadis itu selalu terbuka dengan pakaiannya, kini ia menggunakan celana hitam panjang high waist dengan crop top dengan bahu terbuka berwarna pastel sehingga terlihat lebih feminine. Mukanya yang ia biasa lihat selalu ketus kini terlihat lebih lembut. Apakah ini efek sebagai wanita yang mengandung. Ia ingin sekali lari ke gadis itu lalu bertanya kabar, kesehatan, kesehariannya, dan pastinya calon bayinya ini. Shinichi sekali mendengar suara detak jantung anaknya itu. Begitu banyak keinginan yang menggebu-gebu dalam hati Shinichi yang ingin dilimpahkan kepadanya. Namun ia tidak bisa. Sekarang tidak. Semua orang akan bertanya-tanya karena tidak mengerti situasi yang sebenarnya.

"Toyama-san," Kazuha langsung tersentak, dan melihat ke arah orang yang datang dan menghampirinya. Orang itu tersenyum ramah padanya.

"Bagaimana kabar Profesor? Apakah sudah makan dengan baik?" tanya Kazuha sambil tersenyum.

"Akhirnya kau datang juga, aku senang bisa bertemu denganmu lagi…" Kazuha sangat tersentuh dengan sambutan ramah Agasa. Akhirnya mereka duduk di meja makannya, dimana sudah dipasang berderet. Mereka menikmati makanan yaitu ikan bakar, sate barbeque, beberapa hidangan kecil lainnya. Karena sudah cukup malam, sekitar jam 10, anak-anak detektif cilik pun diantar ke rumah masing-masing oleh Profesor Agasa dengan mobilnya, menyisakan Shinichi, Ran, Kazuha, Heiji, Sonoko, dan Makoto. Mereka yang seumuran itu meneguk jus dan saling mengobrol bersama.

"Ran-chan! Aku merasa senang sekaligus sedih sekali! Sekarang kita tidak akan bisa satu tempat universitas, apalagi satu kelas! Huaaaa, aku akan sangat merindukanmu…" ujar Sonoko dengan nada yang dibuat seperti sangat sedih dan memeluk Ran, yang duduk berada di sampingnya.

"Aduh Sonoko, kan kita bisa bertemu saat akhir pekan, jadi kau tidak usah sedih seperti itu," Ran terkekeh melihat tingkah Sonoko yang terlihat lucu. "Tentu saja dengan Kazuha, rasanya seru ya tiap weekend kita bertiga bisa jalan-jalan bersama!" tambahnya.

"Aku juga berharap begitu, tapi duitku bisa habis kalau bolak-balik Osaka-Tokyo tiap minggu, apalagi ditambah shopping macam-macam…" ujar Kazuha sambil meneguk gelas airnya.

"Suzuki, lagipula kenapa kau tidak coba melakukan tes masuk seperti Ran-neechan saja?" tanya Heiji heran.

"Wah, kau kira bisa sembarang orang masuk ke universitas paling top di Jepang itu? Haduh, dengan otak ku yang pas-pas an seperti ini, sudah pasti akan ditolak…" timpal Sonoko sambil meneguk kaleng birnya, setelah itu ia menelannya dan berbicara lagi, "Lagipula ya, kalau nanti aku masuk Universitasnya Ran, waktu shopping dan pacaranku akan berkurang banyak, lebih baik aku ke universitas biasa saja…"

"Ya ampun Sonoko, jangan langsung meneguknya begitu, nanti kau bisa mabuk tahu!" ujar Makoto menegurnya sambil menahan lengan Sonoko yang ingin meneguknya kembali.

"Aduh Makoto, tidak apa-apa lah, sekali-kali boleh…." elak Sonoko dan memasang muka dibuat menjadi imut, "Hei, di saat begini, lebih baik kita main Truth or Dare yuk!"

"Apa? Truth or Dare?" tanya Ran.

"Iya," Sonoko beranjak dari tempat duduknya dan mengambil botol kosong di meja belakang, ia juga mengambil gelas untuk mereka berenam, dan menuangkan bir pada gelas masing-masing, sambil menjelaskan peraturan mainnya, "Iya, jadi salah satu dari kita akan memutar botol ini, nah, kalau mulut botolnya mengarah ke salah satu dari kita, kita harus menjawab pertanyaan apapun secara jujur. Tapi kalau kalian tidak mau menjawab ya tidak apa-apa, tapi hukumannya kalian harus meminum satu teguk bir itu…"

"Permainan macam apa itu… aku tidak ikut ya…" ujar Shinichi dengan nada malas, ia ingin beranjak, namun tiba-tiba Heiji menarik lengan Shinichi.

"Kudo, kau rela Ran jadi mabuk-mabukan sendiri?" tanya Heiji berusaha memancing Shinichi agar dia mau bermain bersama.

"Hah?" Shinichi pun melirik ke arah Ran, yang seperti berharap dirinya tetap ikut bergabung dalam permainan kecil-kecilan ini. Ia pun menghela napas, "Baiklah…" ia pun duduk kembali.

Akhirnya karena Sonoko yang memberikan ide game itu, ia memutar botolnya, dan berhenti di sisi Makoto. Makoto pun menjadi kaget melihat gilirannya tiba.

"Kyougoku, berapa banyak gadis sebelum Suzuki?" tanya Heiji dengan gamblang. Sonoko terlonjak kaget, ia langsung menatap Makoto dengan lekat, berharap ia jujur dan jawabannya tidak mengecewakan.

"Ehm… ada satu…aku dulu naksir guru bahasa Inggris ku saat SD…" ujar Makoto sambil menggaruk-garukkan kepalanya. Semuanya tertawa kecuali Sonoko. Ia bermuka masam, "Kenapa kau tidak bilang padaku…"

"Haduh Sonoko… itu kan sudah lama… lagipula hanya kagum saja…" ujar Makoto kelabakan melihat pacarnya menjadi marah-marah. Akhirnya ia pun memutar botolnya dengan cepat, dan berhenti di depan Ran. Ran pun terkaget, dan Sonoko pun langsung tersenyum licik.

"Apakah kau sudah jadian dengan Shinichi?" tanya Sonoko. Ran membelalakan matanya, Shinichi yang awalnya terlihat cuek langsung terkaget juga. Seketika muka Ran langsung memerah.

"Ah… Sonoko! Pertanyaan macam apa itu?" tanya Ran panik. Ia melirik ke arah Heiji, Makoto, dan Kazuha yang sepertinya siap mendengar jawabannya. Ia menggelengkan kepalanya dengan cepat.

"Tidak kok, kami tidak pacaran!" menjawab itu, Ran sebenarnya merasa sedih, mengingat saat di Bali, di pinggir pantai dengan Shinichi, ia seperti ditolak mentah-mentah oleh teman kecilnya walaupun dirinya sudah berusaha untuk semakin dekat dengannya.

"Belum maksudmu?" tanya Heiji iseng. Ia menepuk punggung Shinichi, dan Shinichi membalas Heiji dengan tatapan kesal. Dasar, Heiji dan Sonoko memang jahil.

"Ah… ya, pokoknya tidak…" Ran langsung mengambil botolnya dan memutarnya. Dan karma pun terjadi, berhentilah mulut botol itu di depan Heiji. Heiji tentu mengumpat karena tidak ingin kena giliran mengatakan kejujuran.

Ran menunggu kesempatan itu dan langsung bertanya, "Hattori, apa kau sedang menyukai seseorang? Kalau ada siapa?" Heiji tersentak mendengar pertanyaan dari Ran. Yang ia sukai?

"Hei kenapa ada dua pertanyaan… curang tahu!" elak Heiji panik. Ia berusaha menahan mukanya yang sepertinya sudah memerah. Semua orang diam menunggu jawabannya. Heiji perlahan melihat ke mereka satu-satu, dan berhenti menatap Kazuha yang menundukkan kepala sibuk sendiri. Merasa dilihat, Kazuha perlahan mendongakkan kepalanya dan menatap Heiji yang kini sedang menatapnya dengan tatapannya yang tidak biasa. Shinichi yang melihat ke arah tatapan Heiji, yang kini sedang memandang Kazuha, dan ia tahu bahwa tatapan itu tidak seperti Heiji yang ia kenal. Awalnya Kazuha bingung apa arti tatapan Heiji padanya, namun dirinya mulai berpikir…. Masa….

"Ehmm… aku suka… diriku!" seru Heiji dengan terlihat penuh kebanggaan. Yang lain pun hanya menatap Heiji dengan pandangan 'apa yang ia katakan sih'. Heiji pun berusaha meyakinkan yang lain, "Iya, aku suka diriku yang tampan, seksi, dan pintar ini!"

"Hmmm ya kurasa kita tidak bisa memaksanya ya menjawab dengan benar," ujar Ran dengan nada sedikit kecewa, "Ya sudah, Hattori, giliran kau putar!"

Heiji menghela napas, ia pun perlahan memutar botolnya dengan asal jadi. Dan akhirnya mulut botol itu mengarah pada Kazuha. Kazuha mengangkat alisnya dan melihat ke arah teman-temannya.

Sonoko memiringkan kepalanya, sebenarnya ia berharap botol itu berhenti di Shinichi, karena ia selalu 'menjebak' Ran dan Shinichi sehingga mereka bisa memiliki hubungan yang romantis. Tapi kini malah berhenti di Kazuha. Ia berusaha memikirkan pertanyaan gila yang mungkin akan membuat permainannya semakin seru.

"Kazuha-chan, selama hidupmu ini… kau sudah ngapain saja dengan laki-laki?" mungkin pertanyaannya sedikit tidak sopan, namun Sonoko berusaha mengangkat suasana dengan pertanyaan yang konyol. Yang lain hanya bisa ternganga. Mereka merasa pertanyaan Sonoko sangat tidak benar untuk dikatakan. Kazuha terdiam, dalam hatinya jantungnya seperti melompat keluar. Bagaimana bisa ada orang yang bertanya seperti itu padanya… Shinichi yang melihat muka Kazuha yang diam kaku langsung berusaha menengahi,

"Apa-apaan sih kau Sonoko, kenapa kau bertanya seperti itu?" ujar Shinichi dengan nada kesal.

Sonoko menganyunkan telapak tangannya sambil tertawa, "Loh, ini kan hanya permainan… tidak apa-apalah, have fun saja…" Ran menyikut lengan Sonoko, ia juga merasa sahabatnya sedikit berlebihan.

Kazuha melihat suasana sedikit menegang, ia tidak ingin berlama-lama yang semakin memperkeruh, tapi mana bisa dia bilang dengan 'insiden' dirinya dengan Shinichi. Itu hal yang gila. Shinichi menatapnya dengan tatapan khawatir.

"Aku… tidak perlu menjawabnya… kan?" tanya Kazuha pelan. Pernyataan Kazuha membuat cukup kaget teman-temannya, kecuali Shinichi (karena ia tahu jawabannya). Mereka berpikir Kazuha akan mengatakan tidak pernah, atau langsung dengan tegas mengatakan tidak, tapi melihat Kazuha yang berpikir sebentar, dan menolak menjawab, mereka jadi berusaha menerka-nerka sebenarnya Kazuha pernah melakukan hal sejauh apa dengan seorang lelaki.

Sonoko yang awalnya tercengang pun mengangguk, "Iya, tapi hukumannya kau harus minum segelas bir ini," Sonoko lalu menaruh segelas penuh bir di hadapan Kazuha. Kazuha menelan ludah. Dia kan sedang hamil, masa iya dia minum bir, hal itu bisa membahayakan janinnya, tapi kalau dia tidak minum, yang lain akan bertanya-tanya kenapa. Mungkin kalau sedikit saja tidak apa-apa kali ya, segelas saja toh… pikir Kazuha dalam hati.

Baru saja ia ingin mengambil gelas itu, tiba-tiba seseorang di depannya merebut gelas birnya, dan langsung meneguk habis. Akhirnya gelasnya habis, dan orang itu mengelap mulutnya dengan tangannya. Semua orang terperangah, kaget, termasuk Kazuha.

"Ehm… Shinichi? Kenapa… kau yang minum jatahnya Kazuha?" tanya Sonoko dengan bingung. Setau dia mereka berdua bukan teman baik yang akan mau menggantikan diri seperti itu.

"Aku haus," ujar Shinichi singkat, "Lagipula ini salahmu sendiri, kenapa kau jadi sok ide dengan permainan ngaco seperti ini, kau ingin membuka-buka aib dan masalah pribadi orang ya? Cara yang seperti ini tidak lucu, tahu tidak?" nada dingin Shinichi begitu terdengar menusuk. Ia tidak suka, dengan membuka-buka 'aib', apalagi pertanyaan Sonoko yang diajukan ke Kazuha. Itu benar-benar membuatnya jengkel.

Sonoko yang mendengar itu merasa tersinggung, ia mengerutkan alisnya, "Hei, aku kan hanya bercanda, lagipula tujuanku itu hanya supaya kita semakin akrab kok…"

Shinichi tersenyum sinis, "Hah? Semakin akrab, omong kosong, aku malah merasa ini cuman untuk memuaskan rasa penasaranmu saja… kalau ingin mengakrabkan, bukan begini caranya, kau keterlaluan, tahu tidak…" Sonoko pun tersentak, ia merasa malu, mukanya mulai merah, dan matanya mulai basah. Makoto yang melihat pacarnya mulai ingin menangis, langsung bangkit emosinya, dan berdiri menghadap Shinichi,

"Hei, pelan-pelan saja ngomongnya… kau sudah membuat ia menangis tahu…" Untung di antara Makoto dan Shinichi, ada Heiji yang langsung berdiri dan siap menengahi mereka berdua. Sebenarnya ia juga tidak suka dengan pertanyaan Sonoko kepada Kazuha, namun ia tetap menahan dirinya.

Ran yang sudah mulai merasa pesta syukuran kelulusannya menjadi tidak asyik lagi dan malah menjadi dingin, sedingin angin malam yang mereka rasakan di halaman belakang, ia pun berdiri menenangkan, "Sudah, sudah… permainannya disudahi saja ya… lebih baik kita masuk ke dalam saja, anginnya begitu dingin di sini…"

"Ehm… iya iya, lebih baik kita masuk saja…" timpal Kazuha. Akhirnya mereka pun di ruang tengah, Ran dan Sonoko mengobrol di sofa, Makoto, Heiji, dan Kazuha duduk di depan TV sambil menonton, dan Shinichi sibuk membaca novel-novel sains milik Profesor Agasa.

Tak lama, Profesor Agasa pun kembali ke rumahnya, dan menyapa anak-anak muda di rumah, "Kalian masih belum pulang?" tanyanya ramah.

"Belum Profesor…" ujar Ran dengan tertawa kecil, "Mungkin tidak lama lagi sih…"

"Oh iya tidak apa-apa sih kalau mau berlama-lama, soalnya Profesor ingin ke ruang bawah tanah melanjutkan penelitian…" ujar Profesor sambil menggosok belakang kepalanya yang setengah botak.

Kazuha yang mendengar itu, merasa terhenyuh melihat bapak tua yang sepertinya terlihat sangat lelah. Dia pasti kecapekan karena malam-malam sudah mengantarkan anak-anak ke rumahnya, namun ia tidak langsung tidur, melainkan mengerjakan pekerjaannya. Akhirnya secara diam-diam, ia meninggalkan ruang tengah, lalu berjalan ke arah dapur. Shinichi pun melirik sedikit ke arah bergerak Kazuha namun tetap sambil membaca buku.

Di ruang bawah tanah, saat Profesor Agasa masih sibuk mengetik, tiba-tiba dari luar ada yang mengetuk pintunya.

"Ya, masuk saja," sahut Profesor Agasa.

Orang itu mengetuk pintu, yang ternyata adalah Kazuha, dengan tangannya sambil membawa segelas teh hijau hangat. Profesor Agasa yang melihatnya merasa terharu. Kazuha meletakkan gelas itu di meja kecil yang terpisah dari dokumen-dokumen Agasa.

"Kulihat kau begitu lelah, tapi masih kerja, jadi aku buatkan ini…" ujar Kazuha. "Jangan terlalu memaksakan dirimu untuk bekerja, lebih baik kau istirahat saja

Profesor Agasa tersenyum ramah, "Terima kasih ya Toyama-san… aku tidak apa-apa kok, lagipula aku juga menyukai yang aku lakukan sekarang…"

"Hmm… begitu ya kalau kau menyukai apa yang kau kerjakan, kau pasti tidak akan merasa lelah atau jenuh," ujar Kazuha mengangguk mengerti. Ia mengedarkan pandangannya ke setiap sisi ruangan, mulai dari meja praktikum untuk membuat alat-alatnya, rak-rak buku yang didalamnya terdapat ensiklopedia, jurnal, dan penelitian terdahulu.

"Tentu saja Toyama-san…" ujar Profesor Agasa, "Kalau kau, apa ada hal yang kau sukai?"

"Eh?"

"Apa kau punya hobi yang kau geluti dengan baik?" tanya Agasa.

"Entahlah, aku tidak punya aktivitas lain selain aikido… tapi bukan berarti aku mau menjadi atlet…" Kazuha menjawabnya dengan berusaha mengingat-ingat segala hal yang pernah ia lakukan, namun sejauh ini yang dia dapatkan tidak ada, hanya rutinitas. Menyadari itu, membuat dirinya sedih, ia seperti sia-sia.

Profesor Agasa yang melihat reaksi Kazuha, yang seperti domba yang terhilang, menghentikan pekerjaannya dan memundurkan sandaran kursinya.

"Begitu ya… hmm, ya sudah, aku tidak akan bertanya lebih lanjut, aku tahu topik tentang minat dan bakat itu kadang tidak terlalu disukai," ujar Profesor yang berusaha untuk menghibur Kazuha secara tidak langsung. Karena, ia melihat raut muka Kazuha yang menjadi sedih memikirkan masa depannya.

"Kalau begitu, aku keluar ya Profesor," ujar Kazuha dan langsung membalikkan badannya. Profesor hanya mengangguk senyum, namun di dalam pikirannya terlintas, 'Anak itu terlihat kasihan sekali, entah kenapa, aku seperti ingin menghiburnya dan mengatakan tidak apa-apa padanya…' Entahlah, dirinya punya firasat bahwa yang Kazuha alami terlihat berat… dan ya… kembali mengingatkan dirinya pada Shiho Miyano. Ia terdiam dan mengambil handphonenya, lalu menelepon seseorang yang begitu ia rindu sebagai anak angkatnya sendiri.

Orang itu pun mengangkat teleponnya,

"Halo, Profesor?" jawab orang itu.

Agasa begitu senang mendengar suara perempuan ini yang begitu tenang, "Shiho, apa kabarmu?"

"Baik, kau sendiri?"

"Aku baik juga, senang rasanya aku bisa mendengar suaramu lagi…" ujar Agasa dengan senyum yang mungkin tidak dapat dilihat Shiho.

Shiho pun tertawa, kini dirinya sedang memotong sayur "Oh my God, ada apa denganmu Profersor? Aku jadi merinding…"

Agasa tertawa dengan reaksi blak-blakkan ala Shiho Miyano, "Kau tahu, aku di sini bertemu dengan anak yang mirip denganmu, Shiho,"

"Oh ya, siapa?"

"Kazuha Toyama,"

"Siapa itu?" Shiho berusaha mengingat-ingat, "Oh.. teman si detektif Osaka itu…"

"Ya, dia mirip sekali denganmu, selalu mengomel karena kebiasaan burukku, tidak suka makanan instan, sikapnya galak tapi entah kenapa ia terlihat rapuh…" ujar Agasa. Shiho yang mendengarnya pun tersenyum kecil.

"Oh maaf ya prof kalau aku suka mengomel dan galak…" ujar Shiho dengan nada dibuat-buat kesal, ia mengangkat pundak kirinya untuk menjepit handphonenya lalu memotong sayur kembali.

"Astaga, bukan maksud untuk menyinggungmu Shiho…" ujar Agasa sedikit gelisah.

Shiho pun tertawa renyah, "Iya aku maafkan," akhirnya ia pun selesai memotong, dan segera memasaknya, "Kalau begitu, berikanlah perhatian professor, sama seperti yang kau lakukan padaku dulu…"

"Tentu saja, aku akan berusaha,"

"Saat aku mampir ke Jepang, aku jadi ingin bertemu dengan anak itu…" ujar Shiho tersenyum kecil lalu berbicara mengenai topik lain dengan Agasa.

.

Kazuha pun keluar dari ruangan Profesor, dan mendapati Shinichi sedang bersandar di depan ruangan itu. Ia yang mendengar suara tutup pintu pun berdiri tegap dan menatap Kazuha yang bingung dengan kehadirannya.

"Kudo-kun?"

Shinichi pun menatapnya dengan tatapannya yang tajam, "Bisa bicara sebentar?"

.

Kazuha dan Shinichi kini berada di halaman belakang tempat mereka melakukan barbeque tadi. Shinichi pun menghela napas, seperti ingin mengeluarkan kata-kata yang sudah ia tahan-tahan sedari tadi.

"Bagaimana kesehatanmu? Apa kau makan dengan teratur?" tanya Shinichi.

Kazuha mengerutkan alisnya, ia seperti ditanya oleh orang tuanya, "Iya begitulah…" jawabnya datar.

"Kapan lagi kau ke rumah sakit? Kau bisa beritahu aku, jadi aku tinggal lihat tanggal lagi…" tanya Shinichi lagi.

"Aku bisa ke sana sendiri, kau tidak usah…" ujar Kazuha dengan muka seperti penuh kebingungan dengan perlakuan protektif Shinichi, namun ia tidak merasa muak, namun cukup menikmatinya. Shinichi melebarkan matanya, ia menghela napas, ia seperti membuat gadis di depannya seperti tersangka yang ia suka interogasi.

"Aku hanya ingin… bertemu dengan anakku…" ujar Shinichi malu-malu sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Kazuha merasakan pipinya pun memerah, akhirnya ia menyerah dan mengangguk.

"Soal tadi, kau tidak apa-apa?" tanya Shinichi dengan nada khawatir. Kazuha mengangkat alisnya, seketika ia mengerti, pasti karena soal permainan Truth or Dare tadi.

"Aku tidak apa-apa," jawab Kazuha gugup, "Justru aku malah jadi khawatir karena tiba-tiba kau bertengkar dengan Sonoko, bahkan sampai membuat emosi pacarnya, aku takut pesta Ran malah jadi berakhir tidak baik…"

Shinichi yang awalnya seperti menatapnya dengan kuat, kini menjadi lebih tenang, rileks dan lebih terasa teduh. Kazuha pun merasakan oase yang begitu membuat hatinya terasa tenang dan nyaman. Inilah yang mungkin ia rindukan dari dalam Shinichi. Matanya yang biasanya terlihat percaya diri, yakin akan segala sesuatu, kini menjadi seperti payung yang melindunginya dari dinginnya hujan yang ia rasakan.

"Kau tahu kan kenapa aku bisa marah pada Sonoko? Pertanyaannya tidak pantas untuk dilontarkan walaupun hanya bercanda, makanya, aku langsung menegurnya…" ujar Shinichi, "Dan tadi, kenapa kau memaksakan dirimu untuk minum bir? Kau tahu kan dengan kondisimu yang seperti ini, kau tidak boleh minum alkhohol…"

Kazuha menelan ludahnya, dan mulai merasa sedikit jengkel, "Jangan seperti itu, aku tidak selemah yang kau pikir, tahu! Lagipula aku tadi memang ingin bersenang-senang dengan yang lain, jadi untuk apa aku was-was…"

Shinichi yang terus menatapnya lekat, membuat Kazuha merasakan detak jantungnya seperti tidak normal, "Berhenti bersikap seperti kau ibuku, Kudo-kun! Kenapa kau selalu khawatir dengan apapun yang aku lakukan… aku sudah tahu apa yang kulakukan itu benar apa tidak, jadi jangan selalu cerewet dan menceramahiku, aku bosan tahu mendengarnya!" ujar Kazuha yang terlihat sewot dan cemberut. Muka gadis itu terlihat lucu dan imut, sehingga Shinichi tak kuasa menahan rasa inginnya untuk mencubit pipinya. Kazuha pun terkaget dan makin panik dengan perlakuan Shinichi. Gila, dia selalu membuat jantungku semakin tidak jelas detaknya… ujarnya dalam hati.

"Hei!" teriak Kazuha namun ia seperti orang berbisik. Ia memegangi pipi kirinya yang dicubit Shinichi. Sedangkan Shinichi pun hanya tersenyum.

Rasa gemasnya pada Kazuha yang belum hilang, ia pun menaruh tangannya ke puncak kepala Kazuha, dan mengelusnya pelan.

"Toyama-san, kalau kau tidak ingin punya ibu sepertiku, apakah aku bisa memiliki peran yang lain untukmu?"

"Ma… maksudmu?" tanya Kazuha yang mengerjapkan matanya berkali-kali.

"Jadi pa…" Kazuha yang mengerti arah pembicaraan Shinichi, merasa bahwa itu hal yang tidak boleh diucapkan, langsung menyela perkataannya.

"Hei! Aku tiba-tiba ingin ke toilet! Duh, kalau begitu aku duluan ya!" ujar Kazuha panik dan berusaha untuk berlari meninggalkan Shinichi, namun tiba-tiba Shinichi menahan tangan Kazuha, lalu menariknya, perlahan memegang kepalanya dan mengarahkan ciuman di dahi gadis itu. Lantas yang dicium tersebut langsung bengong dan merasa pikirannya seperti buyar dalam sekejap.

Shinichi melepaskan ciumannya dan tersenyum jahil, "Hari ini kau… cantik," Tidak, baginya, setiap hari gadis itu selalu tambah cantik, dimatanya. Shinichi pun meninggalkan Kazuha dan balik ke ruang tengah, tentu saja dengan senyuman

Kazuha terbengong, dan tidak bisa menggerakan kakinya untuk bergerak. Ia seperti disihir oleh Shinichi Kudo untuk berada di tempat karena kakinya terasa gemetar. Rasa syok namun bercampur kesenangan atas kehangatan yang ada. Dan mungkin juga dengan percikan rasa… ehm… cinta? Ya dia tidak tahu, tapi ia seperti tidak bisa lagi melawan fakta bahwa dirinya sudah jatuh cinta dengan Shinichi Kudo. Pria yang selama ini selalu ia hindari untuk dekat dengannya namun ia sebenarnya tidak rela melakukan itu. Namun karena segala hal yang mereka alami dan lewati, perlahan cinta itu seperti tumbuh di dalam hatinya perlahan. Kazuha tak sadar tersenyum seperti orang yang dimabuk cinta. Dan…

"Apa yang tadi kalian lakukan?!"

Seruan yang terdengar di belakang membuat Kazuha mendadak seperti disengat listrik, ia merasakan kengerian, dan menghadap ke belakang dengan ragu, melihat siapa yang meneriakinya.

"So…Sonoko…." ujar Kazuha terbata-bata. Gawat, apa Sonoko melihatnya?

Sonoko menatap Kazuha dengan tatapan syok, kaget, bercampur dengan kehorroran yang ia rasakan, "Sebenarnya apa yang tadi kalian lakukan?" tanya Sonoko dengan suara lebih pelan namun lebih terdengar geram.

.

.

.

.

Gimana guys menurut kalian? Bagus? Aneh? Membingungkan? So, langsung komen aja di kolom review heheh, terima kasihh