Youth Butterfly

.

.


MW


Chapter 11

Beginning of Revenge


MW


.

.

Destinasi kedua mereka setelah dari kuil Beomeosa adalah kantor pusat Sebong grup. Letaknya ditengah kota, jadi setelah merilekskan diri di kuil dengan pemandangan indah, para siswa darmawisata itu dibawa ke hiruk pikuk perkotaan lagi. Kalau kata wali kelas mereka, di kantor pusat salah satu grup paling maju di Korea itu mereka akan belajar banyak soal ilmu ke-bisnis-an dan industri.

Terdengar menarik.

.

"Setelah makan malam, kalian punya waktu satu jam untuk beristirahat. Lalu kita akan berkumpul di aula untuk seminarnya, oke?" ucap Seungcheol di depan rombongan anak-anak disana, dan setelah perkataannya, rombongan anak-anak kelas satu itu menjawab 'iya' serempak kemudian mulai membubarkan diri. Termaksud Wonwoo dan tiga temannya.

Sekedar informasi, sekarang sudah pukul tujuh malam dan Wonwoo masih berada di kegiatan darmawisatanya. Tadi pagi mereka pergi ke kuil Beomeosa sampai menjelang sore, kemudian dilanjutkan dengan perjalanan dua jam menuju kota. Pemberhentian mereka berada di gedung milik perusahaan raksasa Sebong Grup. Menurut guru-gurunya, malam ini mereka akan melakukan tour singkat dan seminar sejenis kewirausahaan dan bisnis di perusahaan ini.

"Well, aku sudah menduga kita akan berada di sini…" gumam Soonyoung pelan, yang cukup untuk membuat Wonwoo menoleh.

Mereka bertiga memang sedang duduk di ruang tunggu lobi. Sekedar istirahat sambil makan snack sebelum nanti dipanggil untuk makan malam di kantin perusahaan, sedangkan Junhui pergi beberapa saat lalu ke kamar kecil—dan sekedar informasi, perusahaan itu agak lenggang. Mungkin karena malam, dan ini akhir pekan, jadi sejauh mata memandang, ruang lobi yang luas ini dipenuhi dengan rombongan murid-murid Pledisia.

Melanjutkan yang tadi, Soonyoung kembali bicara saat melihat wajah bingung Wonwoo "Kau belum tau ya? Sekolah kita itu masuk ke dalam Sebong Grup." Ucapnya "Dan pimpinan utama Sebong Grup adalah kepala sekolah kita" tambahnya kemudian.

Mendengar itu Wonwoo hanya mengangguk. Tak banyak yang bisa ia ekspresikan kecuali berpikir bahwa pantas saja sekolahnya terlihat mewah. Rupanya berada di bawah Grup raksasa bernama Sebong. Grup ini memang terkenal, termaksud yang paling besar di Korea dan punya banyak perusahaan besar di berbagai bidang. Oh ya, ini juga jadi mengingatkan Wonwoo bahwa Mingyu adalah anak kepala sekolah Pledisia.

Oh, ternyata anak yang suka memanjat di hutan itu adalah orang kaya. Pikirnya.

Wonwoo menatap ketiga temannya yang lain. Terlihat tak peduli. Sepertinya hanya Wonwoo yang tak mengetahui hal ini, jadi ia kembali bertanya "Lalu hubungannya kita berada di sini?"

"Tentu saja karena Sebong Grup membuat sebuah akademi yang nanti aluminya juga akan bekerja di perusahaan-perusahaan mereka." Jawab Jihoon "Jadi sejak awal, mereka akan membuat semua murid Pledsia tidak asing dengan Sebong Grup. Rasanya, darmawisata itu seperti pencucian otak untuk semua murid di Pledisia…" tambahnya dengan santai.

Pencucian otak ya, ucap Wonwoo dalam hati, ia menyesap minuman botolnya sebentar "Kalian menggunakan kata yang cukup kasar…" gumamnya.

"Memang begitu, Wonwoo-ya. Lagi pula sebagian besar orang mendaftar di Pledisia memang agar mudah masuk ke perusahaan-perusahaan raksasa Sebong Grup" Tanya Soonyoung "Pledisia itu memang begitu. Makanya tes masuknya sangat ketat." Jelasnya.

"Dan mungkin hanya kau yang masuk ke Pledisia tanpa tahu apa-apa." Timpal Jihoon, dan Wonwoo hanya menggaruk tengkuknya.

Iya. Wonwoo memang tak memikirkan banyak hal ketika memilih untuk masuk ke sini. Setelah kelulusan ia hanya tahu rencana ibunya ingin pindah ke Selandia baru, ibunya bilang sudah saatnya Wonwoo untuk mandiri (Wonwoo tahu itu hanya kedok karena ibunya ingin pergi tanpanya), dan tiba-tiba suatu hari ada surat dari Pledisia datang ke rumahnya, mengatakan kalau ia mendapat beasiswa di sana. Saat itu Wonwoo juga sadar bahwa ibunya dan Jisoo mungkin telah merencanakan sesuatu tanpa ia ketahui.

Tapi Wonwoo mencoba tak peduli. Toh, ia berpikir hidupnya pasti akan terjamin karena ia tinggal di asrama dan mendapatkan beasiswa.

Ia bahkan tak sekalipun mencari tahu seluk beluk Pledisia—kecuali tahu bahwa Pledisia merupakan sekolah yang memiliki predikat cukup baik di Korea.

Wonwoo kemudian tak mengatakan apa-apa lagi untuk menanggapi ucapan Jihoon barusan. Ia hanya menyetujuinya dalam hati karena, well, ia memang tak tahu banyak.

Lalu setelahnya Wonwoo hanya menghabiskan waktunya dengan melamun, ia menatap kedepan dengan tatapan kosong sedangkan Soonyoung dan Jihoon kembali bergosip soal sekolah mereka sendiri—sebenarnya ini lebih ke Soonyoung yang menyerocos dan Jihoon menimpali seadanya. Mereka kembali bicara soal pertama kali masuk, tentang sejarah Pledisia berdiri, juga tentang dua kubu yang berada di Pledisia. Wonwoo mendengarkan. Hanya mendengarkan tapi tak menyimak seutuhnya.

Entah kenapa yang ada diotaknya justru kejadian tadi siang. Soal ia yang melihat pria serba hitam itu di kuil Beomeosa.

.

Tuk.

.

Lamunan Wonwoo terpecah saat seseorang menyentil dahinya. Yang sontak saja langsung membuat remaja berambut hitam kelam itu mendongak. Menatap Seungcheol, yang sudah berlutut didepannya, menatapnya dengan sebuah senyuman hangat.

"Kau sehat, kan?" tanyanya, dan Wonwoo mengangguk sebagai jawaban "Tentu saja…" gumamnya.

"Bagus!" ucap Seungcheol seraya mengacak rambut Wonwoo.

Mendapat perlakuan itu, Wonwoo hanya mendesah malas. Berpikir apa sebenarnya alasan Seungcheol disini hanya untuk memastikan ia tidak sakit dan itu adalah urusan Jisoo? Tapi lihat saja senyuman bodoh itu, Wonwoo jadi tidak tega untuk kembali berpikir negatif. Pada Seungcheol ataupun pada Jisoo.

"Ada apa, hyung?" pertanyaan Soonyoung kemudian terdengar. Membuat Seungcheol menoleh "Oh, aku ingin meminjam Wonwoo sebentar." Jawabnya.

"Meminjam?" Jihoon menaikkan satu alisnya.

Seungcheol hanya terkekeh, ia kemudian menarik lengan Wonwoo untuk ikut berdiri "…Apa aku juga harus menjelaskan? Aku sedang memberikan kalian waktu berduaan, tahu! hahaha! Ayo Jeon." ujar remaja yang lebih tua itu. ia tertawa jahil pada Soonyoung dan Jihoon, kemudian menyeret Wonwoo untuk pergi bersamanya.

Wonwoo bahkan belum sempat berkata apa-apa. Ia hanya menatap Seungcheol bingung. sedangkan dua remaja lain yang ditinggal saling menatap. Sama sekali tak terusik dengan perkataan Seungcheol tadi, justru saling menatap penuh keheranan.

"Aku sebenarnya sudah penasaran dari tadi…" Soonyoung menggaruk tengkuknya.

"Sejak kapan Seungcheol hyung dan Wonwoo itu saling mengenal?" lanjut Jihoon.

.

.

.

"Kenapa hyung?"

Tanya Wonwoo pada akhirnya, setelah sekitar lima menit mereka berdiam diri di balkon lantai tiga gedung Sebong Grup. Seungcheol yang membawanya ke sini tadi, katanya ingin memberikan Soonyoung dan Jihoon waktu untuk berduaan. Tapi Wonwoo pikir bukan hanya sekedar itu.

Mendengar pertanyaan Wonwoo, Seungcheol kembali memberikan senyuman cerianya. Terlihat nakal, tapi menyenangkan—Wonwoo pikir senyuman ini adalah salah satu alasan kenapa Seungcheol itu terkenal dan banyak didekati wanita. Tapi mencoba mengabaikan hal itu, Wonwoo menatap remaja yang lebih tua itu dengan tatapan bingung.

Kenapa tidak mau bicara juga? pikirnya. Membuat Wonwoo menjadi was-was tanpa sebab.

"Tadi siang di kuil… kau mengikuti lelaki berpakaian serba hitam, kan?" ujar Seungcheol pada akhirnya.

Dan itu sukses membuat detak jantung Wonwoo terpacu. Berarti bukan hanya dia yang berpikiran sama, ucap remaja berambut hitam kelam itu dalam hati. Ia lalu mengangguk menjawab pertanyaan Seungcheol tadi.

"Apa hyung mengetahui sesuatu tentang pria itu?" tanya Wonwoo kemudian.

Kembali tersenyum, Seungcheol mengacak pinggang "Sedikit." Jawabnya. Kemudian remaja bermarga Choi itu mengerling "Apa kau sepenasaran itu?" tanyanya balik.

Melihat ekspresi Wonwoo kini sangatlah menggemaskan. Remaja yang biasanya memasang tatapan kosong kini berbinar. Terlihat sekali sedang sangat penasaran. Seperti setiap kata yang akan dikeluarkan Seungcheol adalah emas—dan itu sangat menggemaskan. Seungcheol rasanya ingin mencubit pipi Wonwoo, jika saja ia tak ingat apa tujuannya mengajak Wonwoo ke sini pada awalnya.

"Begini…" ucap Seungcheol "Tadi siang aku memang melihat pria itu sekilas, benar-benar sebentar, jadi kita tak bisa memastikan begitu saja jika itu adalah pria yang sama yang menyerang Mingyu." jelasnya.

"… Tapi aku merasa dia adalah orang yang sama…" ucap Wonwoo pelan. Remaja itu terlihat berpikir, berusaha keras mengulang memori singkatnya tentang pria hitam di kuil Beomeosa "Kupikir jangan-jangan Mingyu ada di sini, hyung." ujarnya kemudian.

Seungcheol menggeleng "Tidak. Ia masih di Pledisia, aku sudah menghubunginya tadi." Ucapnya, dan Wonwoo entah kenapa menghela napas lega mendengarnya. Seungcheol hanya tersenyum, lalu meneruskan "Pria itu seharusnya memang tak punya alasan untuk berada di kuil, kan?" remaja yang lebih tua itu kemudian mengangkat dua jarinya.

"Ada dua kemungkinan yang bisa terjadi. Pertama, pria itu memang bukan pria yang menyerang Mingyu. atau yang kedua, pria itu memang berasal dari Busan" atau yang ketiga, pria itu mengikuti mereka ke Busan—dan entah untuk apa. Seungcheol sengaja tak mengucapkan kemungkinan ketiga yang terpikir olehnya. Awalnya ia hanya tak ingin membuat Wonwoo justru cemas, tapi terlihat di wajah Wonwoo bahwa ia tak puas dengan ucapan Seungcheol tadi.

Wonwoo memang tak mengatakan apapun setelahnya. Ia justru menolehkan pandangannya ke pemandangan dari atas balkon. Jelas terlihat sedang berpikir dan ini adalah pertama kalinya Seungcheol melihat sisi Wonwoo yang seperti ini. remaja Jeon itu sama sekali tak terlihat cemas, justru penasaran. Seperti baru saja memerani tokoh detektif di televisi.

Sayang Mingyu tak bisa melihat sisi keren Wonwoo yang seperti ini, pikir Seungcheol.

Remaja bermarga Choi itupun berjalan mendekati Wonwoo beberapa saat kemudian. Ia menepuk bahu yang lebih muda hingga membuat pemiliknya menoleh. Seungcheol kembali tersenyum menenangkan "Aku tahu ada banyak kemungkinan yang bisa terjadi. Tapi yang terpenting adalah jangan mengejar pria itu jika kau bertemu dengannya, Wonwoo-ya…" ujar Seungcheol "Jika kau bertemu pria itu lagi—atau orang yang mencurigakan, kau tak seharusnya mendekati mereka seperti tadi siang. Justru kau harus pergi mendekat ke teman-temanmu." Lanjutnya menasehati.

"Kau sudah tahu kan betapa bahayanya pria hitam itu, kan? Kita harus siaga, Jangan ceroboh seperti tadi." Ucapnya diakhir. Sirat mata Seungcheol lekat sekali dengan kekhawatiran.

Seungcheol memang belum bisa mengungkapkan apa alasan pria hitam itu berada di Kuil. Tapi ia punya kemungkinan terburuk—dan ini berkaitan dengan Wonwoo. Ini berkaitan pula dengan alasan kenapa mereka (dia, Mingyu, dan Hansol) mengajak Wonwoo masuk ke klub rap dan memperkenalkan Oase sebagai tempat teraman.

Semua ini karena pria hitam itu pernah melihat Wonwoo dan hampir menyerangnya pula. Wonwoo dalam arti kata lain—dia dalam bahaya.

Ini terlepas dari alasan Seungcheol ikut darmawisata yang disuruh Jisoo untuk menjaga Wonwoo jika terjadi sesuatu, dan terlepas dari Wonwoo adalah orang yang mungkin disukai dongsaeng kesayangannya Kim Mingyu—ini soal Wonwoo, yang Seungcheol pikir termaksud kandidat dari Klan.

"Tapi hal penting lain adalah, darmawisata itu fungsinya untuk bersenang-senang. Jadi jangan banyak berpikir dan terima ini" Seungcheol merogoh saku celananya, kemudian memberikan sebuah ponsel model lama pada Wonwoo. yang langsung diterima dengan tatapan bingung.

"Aku tak benar-benar perlu…"

"Bawa saja. lagi pula itu ponsel lamaku, hanya bisa untuk menelpon. Setidaknya kalau ada apa-apa kau bisa menghubungi siapapun." Jelas Seungcheol, seraya mengacak surai hitam lurus Wonwoo.

Sebelum remaja yang lebih muda itu dapat bicara lagi, tiba-tiba seorang guru berlari mendekati mereka.

"Seungcheol! Kami butuh bantuanmu dibawah, ada siswa yang baru tertabrak motor diluar!" ucap pria itu panik lalu berlari lagi entah kemana.

Seuncheol dan Wonwoo melongo. Hanya untuk beberapa saat hingga akhirnya Seungcheol bergegas "Pokoknya, selalu waspada, oke?" tanya yang lebih tua, yang tanpa menunggu jawaban Wonwoo, ia pergi keluar dari balkon meninggalkan Wonwoo sendiri.

Setelah Seungcheol pergi, Wonwoo menoleh ke bawah sambil bersandar pada pagar pembatas balkon. Melihat jalanan yang sangat ramai. Berpikir kecelakaan yang terjadi mungkin sangat besar hingga banyak orang berkerumun di bawah—dan ini membuat hati Wonwoo sedikit tidak tenang.

.

.


MW


.

.

Mingyu memberi jel di rambutnya, menyisirnya rapi, lalu dinaikkan keatas hingga dahinya jelas terlihat. Setelah jas hitamnya telah ia pakai dengan sangat rapi, begitu pula jam tangan mahal, serta sepatu hitam mengkilat. Sempurna, pikirnya saat mematut diri didepan kaca.

Sebenarnya Mingyu itu bukan tipe narsis. Ia bukan orang yang suka mengagumi ketampanannya lama-lama didepan kaca dan menjaga agar tubuh sempurnanya ini tidak ada yang catat. Bukan seperti itu, tapi ada saatnya, Mingyu diingatkan kembali kalau ia memang punya wajah dan tubuh yang rupawan. Berterima kasih untuk ayah dan ibunya, mungkin.

"Sudah siap, ya?" tanya Seokmin, ia melirik teman sekamarnya itu dari balik buku tebal yang sedang ia baca.

Mingyu mengangguk "Hm, tapi Seokmin, apa menurutmu bajunya tidak kekecilan?" tanyanya "Padahal tiga bulan lalu masih cukup" Mingyu memutar-mutar tubuhnya agar Seokmin bisa melihat.

Tapi sang teman sekamar itu hanya memutar bola matanya malas "Kau terlihat baik." Ucapnya, setelan nge-pas kan memang sedang trend "… dan seksi." Tambahnya, yang sukses membuat bantal terlempar kearah wajahnya. Seokmin hanya tertawa.

"Perkataanmu itu…" gerutu Mingyu sambil memasukkan dompet dan ponselnya ke saku celana "Sudah, aku akan pergi dulu. Ayah sudah menunggu."

Mingyu pun berjalan menuju jendela kamarnya tanpa banyak pikiran dan berhenti saat tiba-tiba Seokmin berteriak "Ya! Yang benar saja, kau akan memanjat lagi?!" tanyanya kaget. Mingyu hanya menaikkan satu alisnya, tentu saja. apa lagi?

Seokmin menggelengkan kepalanya "Kau akan merusak setelan mahalmu itu, Tuan Muda Kim Mingyu." ucapnya.

"Oh?" Mingyu memasang wajah bodohnya "Begitu ya?" tanyanya, ia mencoba mengangkat kakinya. Rasanya memang sulit. Celananya tidak cukup elastis untuk dipakai bergerak kesana-kemari.

Melihat kelakuan Mingyu yang linglung, Seokmin menggelengkan kepalanya "Kau ini kenapa?" tanyanya heran "Belum sampai dua hari Wonwoo hyung pergi, kau sudah seperti anak ayam tersesat begitu." Ucapnya prihatin.

Mingyu hanya mendecih dan mengangkat kepalan tangannya ke udara. Seperti akan memukul teman sekamarnya yang jahil itu tapi tidak jadi. Membuat Seokmin justru tertawa amat keras dan puas—karena Mingyu itu sangat mudah ditebak, dan ekspresif. Seperti anak kecil, tubuhnya saja yang terlalu bongsor untuk seumurannya.

Memilih untuk tak menghiraukan tawa Seokmin, Mingyu pun beranjak. Ia kesal sekali karena Seokmin berhasil menggodanya (Well, Seokmin memang tidak salah, Mingyu memang selalu memikirkan Wonwoo bahkan disaat ia mengancingkan baju kemejanya di setiap saat), dan lagi, ia sudah terlambat!

.

.

Jadi dia ada di sini. Di sebuah aula hotel bintang lima di Seoul. Sekarang pukul delapan malam, dan jangan tanya bagaimana Mingyu dan ayahnya bisa sampai ke Seoul hanya dalam setengah jam dari pegunungan dekat Korea Utara itu. Well, keluarga Kim memang cukup kaya untuk mempunyai jet pribadi yang bisa membawa mereka kemana-mana.

Pada malam yang cerah itu, sebuah pesta ulangtahun diselenggarakan. Acara ini cukup formal, tapi masih terasa hangat dengan tawa. Tentu saja, ini adalah pesta ulang tahun Kim Youngja, nenek Mingyu lebih tepatnya.

"Astaga, astagaa! Kau bertumbuh tinggi lagi, Mingyu-ya!" ucap sang nenek, yang terlihat kepayahan memeluk sang cucu kesayangan. Sedangkan Mingyu memeluk erat tubuh yang mulai ringkih itu. melepas rindu.

Neneknya memang orang terbaik dalam keluarganya yang aneh. Hanya neneknya yang baik.

"Ibu, kau bahkan tak melihatku sama sekali." Ujar Tuan Kim, sang ayah dari cucu yang sedari berdiri di samping mereka.

Mingyu dan neneknya memang berpelukan cukup lama. saling membagi kehangatan karena sudah lama tak bertemu. Dan kemudian keadaan semakin menghangat karena suara tawa dari sanak saudaranya yang lain. Geli melihat Tuan Kim yang penuh wibawa terlihat cemburu dengan anaknya sendiri.

"Haha! Sini, sini!" wanita yang hari ini menginjak umur delapan puluh tiga tahunnya itu tertawa, ia merebahkan tangannya dan menyambut Tuan Kim ke dalam pelukannya. Membuat dua tampan dari keluarga Kim pun saling berdempet dalam pelukan wanita itu.

.

Keluarga Mingyu memang sehangat itu. Setidaknya begitu, jika mereka bertingkah seperti memang tak ada sesuatu yang terjadi.

.

.

"Ibu mertua, aku datang…"

Seluruh orang di aula tiba-tiba memusatkan perhatian mereka pada satu titik di depan pintu masuk. Itu adalah seorang wanita, yang cukup menarik perhatian dengan gaun berwarna hitam pekat mewah bertabur berlian. Dadanan dan tata rambutnya pun cukup berlebihan untuk datang ke sebuah acara ulang tahun keluarga. Well, wanita diumur tiga puluhan itu memang khasnya seperti itu—tapi sebenarnya, diluar dandangan super hebohnya, eksistensi dirinya sendiri saja sudah menjadi pusat perhatian. Oh, dan jangan lupakan ada dua pria rupawan tak dikenal yang berjalan mengirinya.

Itu Nyonya Kim Minhee, ibu kandung dari seorang Kim Mingyu.

Wanita itu berjalan dengan sangat anggun seolah membelah lautan orang untuk menuju si peran utama pesta. Wajahnya terlihat sangat percaya diri dan keangkuhan sangat kentara di wajah cantik itu, ia tersenyum puas saat melihat keluarganya menatap tidak percaya, terutama ibu mertuanya, suaminya, dan anaknya sendiri.

"Kau jelas tak diundang dalam pesta ini" ucap sang ibu mertua, Kim Youngja. Tegas, tajam, dan dingin. Mampu untuk menghentikan langkah Minhee.

"Apakah perlu sebuah undangan untuk mengucapkan selamat ulang tahun secara langsung padamu, ibu mertua?" tanya istri dari Tuan Kim itu "Aku secara khusus ingin menyelamatimu dan memberikanmu hadiah." Tambahnya dengan nada suara yang tenang.

Kemudian wanita itu menoleh ke samping kanannya, pemuda di belakangnya langsung menyerahkan sebuah kotak pada Minhee—dan langsung menunjukkannya pada Youngja "Ini adalah batu permata dari Rusia, sangat langka dan mahal, semoga ini bisa menambah koleksi ibu mertua" ucapnya kemudian menyerahkan kotak beriti baru permata besar berwarna cokelat ke pangkuan sang ibu mertua.

Melihat itu, wajah Kim Youngja justru menjadi merah, menahan kesal "Kuminta kau keluar dari sini!" ucapnya agak membentak. Harga dirinya telah tersakiti dengan ucapan menantunya itu.

Tuan Kim pun mulai menengahi, ia memberikan tatapan untuk pergi pada istrinya, tapi penyandang gelar 'Nyonya Muda Kim' itu hanya tersenyum sinis.

"Ibu mertua? Apa anda tidak suka dengan hadiah yang kuberikan?" tanyanya dengan nada bicara dibuat khawatir "Kalau begitu, sebagai gantinya tolong biarkan aku perkenalkan dua pemuda ini." ucapnya, sambil memandang sekitar, memastikan semua orang disana menatapnya.

"Ini adalah anak angkatku, Im Jaebum dan Park Jinyoung. Mereka sangat tampan, bukan? hohoho"

Tidak ada satupun yang tertawa disana, sebagian besar dari mereka menatap Mingyu yang sedari tadi hanya diam berdiri di sisi neneknya.

"Aku hanya ingin memperkenalkan mereka pada kalian, jadi kalian semua tidak akan terlalu kaget jika sesuatu yang besar akan terjadi pada keluarga ini…"

"Sekali lagi kuminta kau untuk pergi!"

"Aku belum selesai ibu mertua, jadi dua anak ini—"

"Kubilang pergi, kau wanita gila!"

Nenek dari Kim Mingyu itu berang, bahkan nyaris berdiri dari kursinya untuk mengampar menantunya itu. tapi sebelum hal itu terjadi, pemuda yang bernama Park Jinyoung sudah memposisikan diri dihadapan Nyonya Kim untuk melindungi.

Melihat aksi itu, Kim Minhee tertawa, keras sekali. Bahagia karena telah mempermalukan ibu mertua yang sangat ia benci di hadapan banyak orang, "Baiklah ibu mertua, aku akan pergi…" ucapnya kemudian seraya menggeser tubuh Jinyoung di depannya. Lalu ia membungkuk rendah kemudian berbalik untuk pergi. Selama perjalanannya menuju pintu keluar, ia menatap semua orang yang ada di sana, lalu menyeringai.

.

"Semoga memiliki pesta yang menyenangkan, keluarga besar Kim—ku tersayang…"

.

.

.

Begitu wanita eksentrik itu keluar dari ruangan, keadaan justru semakin terasa mencekam. Namun beberapa orang mulai bertingkah seperti mereka tidak tahu menahu soal kekacauan tadi dan bertingkah seperti biasa. Seperti tadi.

Inilah yang Mingyu bilang sebelumnya,

Keluarganya memang terlihat ramah, karena mereka bertingkah seperti sesuatu tak beres memang terjadi dalam keluarga ini.

Mingyu mengeratkan kepalan tangannya. Dadanya terasa sesak bukan main. Beberapa saat yang lalu neneknya dibawa masuk ke kamar, lelah katanya. Meninggalkan Mingyu yang masih berdiri di tempatnya yang sama sedari tadi, sambil menatapi hadiah dari ibunya untuk sang nenek diatas meja.

Kotak hadiah itu terbuka, menunjukkan batu permata besar yang berkilau berwarna cokelat gelap. Batu ini indah, sungguh. Dan Mingyu tahu neneknya sangat mencintai batu dan banyak mengoleksinya sejak dulu hingga bahkan Mingyu tahu arti ulasan dari setiap batu yang ada.

Batu permata berwarna cokelat itu artinya penipuan, niat jahat, dan harapan-harapan buruk.

Jadi jelas saja neneknya marah besar tadi. Untuk orang awam, mungkin tak akan mengerti kenapa neneknya begitu marah, tapi ini sungguh penghinaan bagi seorang yang mencintai batu dan mengetahui artiannya. Ibunya sungguh sukses besar malam ini, Mingyu menyeringai sinis.

.

Ugh,

Dadanya sungguh terasa makin sesak.

.

"Mingyu-ya?"

Pemuda itu merasakan tangannya yang mengepal digenggam oleh seseorang dengan lembut. Membuat ketegangannya secara otomatis menurun. Ia menoleh, dan itu ayahnya.

"Hm?" tanyanya.

"Kau baik-baik saja?" wajah Tuan Kim tersirat kekhawatiran, tapi tak begitu terlihat.

Mingyu hanya terkekeh "Tentu saja, memang kenapa?" tanyanya. Tak menyadari diakhir kalimatnya nada bicaranya agak bergetar. Melihat itu, ayah yang telah merawatnya dengan tulus sejak lahir itu menepuk-nepuk bahu lebar Mingyu seraya berjalan ke sudut ruangan.

"… Tidak apa… tidak apa, ada ayah." Gumam Tuan Kim pelan menenangkan.

Dada Mingyu rasanya sakit sekali, lebih dari yang bisa ia perkirakan dan ia hanya bisa menunduk dalam. Mingyu rasa saat ini adalah saat yang paling lemah dari dirinya saat tiba-tiba rasa sedih menghantamnya bagai tsunami.

Tapi Mingyu tak tahu,

Ia sedih karena nenek yang sangat ia cintai dipermalukan di depan umum

Atau,

Karena ibu kandungnya sendiri memperkenalkan dua anak angkatnya. Ibunya tadi memperlihatkan tatapan yang sangat hangat pada dua anak itu—layaknya hubungan ibu dan anak,

Sedangkan Mingyu tak pernah sekalipun diperlakukan seperti itu oleh ibunya sendiri…

.

.


MW


.

.

Dua hari kemudian,

.

Tak ada yang benar-benar mencurigakan setelah dua hari berlalu. Wonwoo menghabiskan waktu darmawisatanya dengan sangat lancar dan menyenangkan hingga di malam terakhir. Besok siang mereka akan pulang ke Pledisia setelah menjalani rangkaian kegiatan seperti kunjungan ke beberapa tempat wisata di Busan dan sebagainya.

"Aku sudah mendapatkan izin dari guru Han. Katanya kita boleh menginap ke tempatnya Jihoon, tapi harus kembali ke hotel pagi-pagi sekali" jelas Soonyoung di depan pintu kamar.

Tiga anggotanya yang lain hanya menatapnya sekilas, mengangguk mengerti, lalu kembali sibuk ke urusan masing-masing. Soonyoung mengerucutkan pipinya.

"Apa tidak bisa merespon dengan lebih bersemangat? Aku setengah mati membujuk guru Han agar bisa menginap!" ujarnya kesal.

"Kalau kau setengah mati, harusnya sekarang kau tidak bisa berdiri dengan tegak dan berteriak-teriak seperti ini." ucap Jihoon datar. Remaja itu sedang duduk diatas kasurnya, kembali sibuk dengan buku dan pensilnya. Sibuk menulis lirik lagu lagi mungkin.

Soonyoung menghela napasnya, menyerah sudah, karena kelakuan teman-temannya memang satu tipe. Ia kemudian berjalan kearah Jihoon, lalu berbaring diatas pangkuan remaja kecil itu yang anehnya tidak ditolak oleh Jihoon.

"Oh ya, malam ini akan ada festival di dekat pantai. Bagaimana jika kita ke sana dulu sebelum ke rumahnya Jihoon?" tanya Soonyoung kemudian.

"Boleh" Wonwoo menyahut, sambil tersenyum tipis.

"Lalu bagaimana jika nanti aku dan Jihoon, lalu Wonwoo dengan Junhui. Kita berpencar saja, biar seru."

"Boleh" jawab Wonwoo lagi dengan polosnya.

Sedangkan Junhui yang berada di pojok kamar menatapnya dengan tatapan menilai. Soonyoung tertawa saat tahu maksud tatapan itu "Bukan modus, tahu!" elaknya "Bukannya kita memang sudah cocok dengan pasangan masing-masing?" tanyanya.

"Pasangan apa?" Jihoon mendelik.

"Hmmmm~ pokoknya aku mau sama Jihoon!" rengek Soonyoung setelah terdiam beberapa saat.

Lalu apa balasan Jihoon jika Soonyoung sudah bertingkah seperti itu?

.

Tentu saja sebuah tendangan keras yang sanggup membuat Soonyoung berguling diatas kasur dan jatuh dengan keras di lantai.

Poor Kwon Soonyoung.

.

.

Malam sudah tiba dan empat sekawan itu pun sudah berada di depan pintu gerbang festival menyambut musim gugur. Keempatnya berjanji akan berkumpul di depan gerbang ini setelah dua jam dan langsung pergi ke rumah Jihoon yang letaknya setengah jam jika berjalan santai dari tempat festival.

"Selamat bersenang-senang~" kata Soonyoung sebelum menyeret Jihoon untuk pergi berlawanan arah dengan Junhui dan Wonwoo. wajahnya terlihat sangat senang—kelewat senang malah. Wonwoo pikir sehabis ini Jihoon akan mengalami masa-masa berat mengendalikan Soonyoung.

.

"Kau terlihat senang sekali." Junhui membuka pembicaraan saat keduanya telah menyusuri festival.

"Heh?" Wonwoo memasang wajah kaget "Yang benar saja…" gumamnya "Kau mungkin orang pertama dan satu-satunya yang mengatakan hal seperti itu padaku." Ujarnya kemudian.

"Karena wajahmu selalu terlihat tanpa emosi?" tebak Junhui, dan Wonwoo mengangguk.

"Kata orang-orang seperti itu…" ujarnya.

Ia kemudian membalikkan badannya kesamping untuk menatap Junhui "Rasanya aneh saat kita bisa mengobrol seperti ini" tutur Wonwoo "Karena kita berdua adalah orang yang jarang bicara…" Ujarnya sambil tersenyum.

Junhui tidak langsung merespon ucapan Wonwoo, beberapa saat kemudian ia justru menarik tangan Wonwoo mendekati salah satu kios. Itu kios aksesoris, dan Junhui melihat-lihat bagian gelang. Wonwoo hanya memperhatikan sejenak, berpikir Junhui akan membeli satu diantara barang dagangan itu. kalau Wonwoo sih, ia tak begitu tertarik.

"Menurutmu yang ini bagaimana?" tanya Junhui, menunjukkan sebuah gelang tipis yang terdiri dari beberapa tali hitam yang diikat dan ujungnya terdapat manik berornamen kupu-kupu. Wonwoo menatap bingung untuk beberapa saat, kemudian mengangguk.

"Bagus" ucapnya pendek.

"Kalau dengan yang ini?" remaja Cina itu bertanya lagi sambil menunjukkan gelang berwarna hitam dengan manik berwarna hitam bulat-bulat.

"Itu bagus juga" jawab Wonwoo.

Junhui mengerutkan dahinya "Lebih bagus yang mana?" tanyanya lagi, dan Wonwoo menggaruk tengkuknya. Punya hal yang ia favoritkan saja tidak, jadi memilih ada salah satu kesulitan baginya. Namun Junhui terlihat tegas sekali ingin diberikan jawaban, jadi Wonwoo menunjuk gelang yang dipegang tangan kanan Junhui. Gelang tipis bertali dengan manik berbentuk kupu-kupu.

Setelah itu pun Junhui mengangguk mengerti dan memberikan gelang pilihan Wonwoo ke penjual dan membayarnya begitu saja. membuat Wonwoo justru merasa tak nyaman, karena Junhui begitu saja setuju dengan tanggapannya.

"Ehm… kenapa langsung membeli yang itu?" tanyanya "Aku bahkan selalu ragu untuk pilihanku sendiri, tapi kau langsung menerimanya begitu saja…" gumamnya.

Remaja Cina itu menoleh sebentar sebelum mengeluarkan dompetnya "Hm? Tidak apa. Aku sebelumnya juga berpikir gelang itu yang lebih cocok." Ujarnya.

Wonwoo menggaruk tengkuknya "Well… kalau memang begitu." Ujarnya "Lagipula kau cocok memakai gelang apapun" tambahnya.

"Gelang ini bukan untukku" jawabnya setelah mendepat uang kembaliannya.

Wonwoo memiringkan kepalanya. Bingung. Junhui meraih tangan kanannya lalu memasangkan gelang berwarna hitam itu ke pergelangan tangan Wonwoo yang sangat kurus.

"Untukmu. Sebagai permintaan maaf." Ujar Junhui kemudian.

"Minta maaf apa?" tanya Wonwoo dengan polos.

Junhui menghela napasnya "Kau ini terlalu banyak bertanya" keluhnya seraya mengacak rambut hitam kelam Wonwoo dan beranjak pergi.

Wonwoo berjalan agak cepat untuk menyamakan langkah Junhui yang lebih cepat dari berjalan normal "Apa ini semacam gelang persahabatan yang dibicarakan di tv? Apa aku perlu membelikanmu satu juga?" tanya Wonwoo, setelah beberapa saat tak bisa menyembunyikan rasa bahagianya.

Namun Junhui langsung menghentikan langkahnya, lalu menatap Wonwoo "Sudah kubilang itu sebagai permintaan maaf karena salah bicara beberapa hari yang lalu dan… dan…" remaja Cina itu menatap langit sejenak "Pergelangan tanganmu itu kecil sekali. Jadi pakailah sesuatu disana agar tidak terlihat menyedihkan!" tambahnya dengan nada suara tinggi.

Well… well…

Wonwoo melongo atas dua hal. Pertama karena Junhui membelikannya sesuatu untuk meminta maaf, dan yang kedua karena remaja itu bicara dengan nada tinggi. Ini sangat—bukan—Wen—Junhui.

.

.

"Tunggu saja disini. Aku akan memesankan makanan" kata Junhui.

Wonwoo mengangguk, sambil duduk di salah satu meja makan yang ada dan melihat Junhui menghilang diantara kerumunan yang ramai. Mereka memang akhirnya memutuskan untuk makan setelah beberapa saat berjalan dengan canggung karena Junhui yang berteriak.

Tapi toh Wonwoo tak peduli, dan hatinya masih terasa hangat karena perlakuan Junhui barusan. Bukan masalah komplain pergelangan tangannya yang kurus, tapi soal Junhui yang sangat memperhatikannya dan tahu bahwa warna hitam adalah kesukaan—sebenarnya bukan kesukaan, hanya sebagian besar barang-barang Wonwoo memang berwarna hitam.

Junhui mengenalnya sampai situ, dan sangat menyenangkan mengetahuinya. Rasanya seperti Wonwoo sudah mendapatkan seorang teman yang sangat… sangat… seperti teman.

Well, abaikan saja pengolahan kata Wonwoo yang kacau. Ia hanya terlalu senang.

.

"Permisi… anak muda" tiba-tiba seseorang menyentuh bahunya dan Wonwoo pun menoleh, manatap seorang nenek tua renta di belakangnya "Maukah kau menolongku membawa barang-barang ini? aku sudah tak punya kekuatan lagi…" ucap nenek itu lemah.

Wonwoo mengangguk tanpa berpikir dua kali saat melihat wajah lelah nenek itu dan tubuhnya yang kecil ringkih. Ia juga melirik dua tas jinjing besar yang berada di sisi nenek itu.

"Aku ingin pergi ke warung anakku yang tidak jauh dari sini, anak muda…"

"Iya nek, biar kubantu." Ucap Wonwoo seraya berdiri dari tempat duduknya. Berpikir Junhui mungkin akan lama memesan makanan karena sekarang sedang ramai dan ia bisa kembali bahkan sebelum Junhui datang membawa makanan mereka.

"Terima kasih nak… terima kasih…" ujar nenek itu.

Wonwoo hanya tersenyum tipis dan mulai membawa dua tas yang berat sekali. Ia bahkan agak kewalahan, sedikit berpikir bagaimana seorang nenek bisa membawa dua tas seberat ini.

.

"Apa masih jauh, nek?" tanya Wonwoo beberapa saat kemudian.

Mereka kini telah keluar dari kawasan festival dan berada di pinggiran jalan raya yang sepi dan gelap. Wonwoo mulai merasa tak nyaman melihat sang nenek yang memimpin perjalanan. Bukan masalah tangannya yang pegal karena membawa dua tas ini, tapi karena ini sudah terlalu jauh. Wonwoo bahkan tak yakin apa ia bisa kembali ke tempatnya tadi tanpa tersesat. Junhui bisa marah lagi nanti.

"…Sebentar lagi sampai nak, lewat sini"ucap sang nenek, seraya berbelok ke sebuah gang sempit yang makin gelap.

.

Buk

.

Saking gelapnya, Wonwoo bahkan tak bisa melihat siapa yang tiba-tiba memberikan tinjuan di perutnya. Tau kan lemahnya Wonwoo itu seperti apa? Dengan mudah, Wonwoo jengkang ke belakang dengan keras. Ia menahan napasnya, saat ia dipojokkan ke dinding dan tubuhnya ditendangi beberapa kali.

"Ne…nek… nenek…" racau Wonwoo saat tubuh, kaki, tangan, kepalanya ditendangi. Berpikir ia dan nenek sedang menghadapi preman pinggir jalan. Ia mengkhawatirkan nenek tadi.

"Anak bodoh, kau itu dijebak. Haha! Polos sekali!" ucap sebuah suara yang terdengar sangat berat dan rendah.

Cukup untuk membuat Wonwoo bergidik ngeri. kemudian rambutnya dijambak hingga membuatnya terduduk dari posisi berbaringnya. Ia disandarkan lagi ke tembok dan tiba-tiba cahaya dari senter mengenai tepat diwajahnya.

"Ini anak yang benar, kan?" tanya seorang lagi dan yang lainnya mengiyakan.

Wonwoo tidak bisa menghitung ada berapa orang disana karena tiba-tiba ingatannya melambung saat dia di sekolah dan dibully, lalu saat dihutan bersama ayahnya dan ia melihat cahaya senter…

Tubuh Wonwoo bergetar hebat karenanya.

"Woah… lihat anak ini. dia sangat ketakutan sepertinya, haha!" ucap orang di depannya.

"JEON WONWOO!"

"Oh? ini dia anak yang ditunggu-tunggu"

.

Tidak… Junhui tidak…

.

Wonwoo memejamkan saat mendengarkan beberapa suara pukulan, lalu ia sudah kehilangan kesadaran karena satu pukulan di kepalanya. Saat itu Wonwoo hanya merasa tangannya digenggam kuat.

.

"Jangan takut… ada aku."

.

.

Bersambung

*tarik napas* ini sangat… dramatis. Sepertinya sudah lama saya tidak menulis cerita sedramatis ini selain terakhir di BBL. haha. saya tahu saya terlambat update lagi (dan sepertinya setiap chapter saya sering seperti itu, wkwkwk), terima kasih atas kesabarannya menunggu cerita ini dan beritahu saya bagaimana pendapat kalian tentang chapter ini~

tidak lupa, terima kasih untuk review, fav and follow-nya~ ^^