Sensual Caresses
Main Cast:
Byun Baekhyun
Park Chanyeol
Kris Wu
Genre:
Romance, hurt, little bit action
Rated:
M
Song Recommended:
Flower (Lizzy), Uncover (Zara Larsson), Taehyun (I'm Young), Say Yes ( Loco, Punch)
…
WARNING : MATURE CONTENS, little bit BDSM, Dirty Talk
DON'T LIKE GS DON'T READ
Summary:
Byun Baekhyun gadis berusia 23 tahun yang mau tidak mau harus tinggal bersama Park Chanyeol setelah dirinya sadar akan jaminan sebuah perjanjian konyol laki-laki tersebut. Terjebak akan gairah, dendam yang tersembunyi, cinta dan obsesi yang membuat perasaanya tak menentu.
.
.
Sinar mentari dipagi hari khas pukul sembilan tampak bersinar begitu cerah. Helaian tirai yang berada disepetak ruang kerja Chanyeol dengan motif strawberry tampak begitu cerah dengan sinar mentari yang menerpanya dan kesan udara yang berhembus begitu sejuk. Well, Chanyeol sebenarnya tidak menyetujui tirai yang berwarna abu-abu kesayangannya tersebut harus diganti dengan warna kuning pudar. Tetapi karena ini permintaan dua orang yang berpengaruh dalam hidupnya ia tidak bisa membantahnya. Apalagi mengingat bagaimana Jiwon dan Baekhyun yang berusaha untuk membujuknya dengan berbagai raut wajah yang amat-amat menggemaskan. Yah, dia harus merelakan tirai kesayangannya berakhir di bak pencucian dan tergantikan dengan tirai kuning pudar dengan corak buah berbintik. Well, itu tidak seberapa dibandingkan dengan keberadaan dua orang yang berpengaruh dalam hidupnya-lagi-berada ditengah-tengah diskusi sederhana diruang kerjanya.
Byun Baekhyun dan Jiwon Park.
Keduanya sekarang tengah duduk manis diapit oleh Sehun dan Jongin, Baekhyun yang tengah menatap serius Chanyeol namun terlihat menggemaskan dan Jiwon yang tengah asyik dengan lollipop yang ditangan kanannya, sementara ketiga pria lainnya hanya terdiam. Chanyeol sendiri juga merasa terkejut dengan adanya keberadaan putra kandungnya yang begitu penurut terhadap Baekhyun, ia dapat melihat hal itu dari interaksi sederhana mereka ketika si bocah lelaki meminta untuk dibukakan bungkus lollipopnya kepada Baekhyun dan wanita tersebut menyambutnya dengan senyum yang menawan. Chanyeol menatap jengah Baekhyun yang sedaritadi tidak beranjak dari tempatnya sementara Sehun dan Jongin hanya saling melempar tatapan seolah-olah berkata-apa yang harus kita lakukan- diantara mereka.
"Ekhem.." Jongin menoleh kearah Sehun yang berdehem dan berharap jika lelaki berwajah stoic tersebut akan memberikan solusi terbaik untuk mengusir Baekhyun secara halus.
"Well, aku rasa tayangan acara memasak akan memberikan pengalaman yang lebih mengesankan daripada mengikuti diskusi aneh seperti ini" Jongin menganggukkan kepalanya dan Jiwon hanya mengerjapkan matanya menatap Sehun sejenak dan kembali berkutat dengan lolliponya. Sementara Baekhyun masih setia menatap Chanyeol tanpa mengindahkan perkataan Sehun.
"Aku juga mengingat jika hari ini ada tayangan Ironman di_"
"ILONMEN! JI INGIN MELIHATNYAAA"
"Dan juga strawberry_"
"Fine. Aku keluar"Chanyeol tampak hanya memandang kepergian Baekhyun dengan alis terangkat. Sementara Jongin dan Sehun menghembuskan nafas leganya melihat dua perusuh mendadak tersebut meninggalkan ruang kerja Chanyeol.
"Bagaimana bisa ada makhluk seperti mereka"
"Lebih baik tarik ucapanmu Oh Sehun sebelum ku bakar rumah sakitmu" Oh Sehun menatap Chanyeol yang berkata begitu dengan santainya. Jongin yang melihat keduanya hanya menghela nafas pasrah. Pikirnya Oh Sehun dan Chanyeol tidak jauh berbeda dengan Baekhyun dan Kyungsoo jika sedang bertengkar. Kekanak-kanakan.
"Aku yakin kalian ingat tujuan kita berkumpul disini" Jongin meruntuki ulah mulutnya yang tidak dapat dikendalikan jika sudah berada dihadapkan dua orang yang ada didepannya ini. Karena selepas ia menyelesaikan perkataannya tatapan tajam keduanya secara terang-terangan menatap kearahnya. Jongin hanya berdehem untuk menetralkan rasa ketakutannya dan mengalihkan tatapannya kesembarang arah.
Ya, hari ini mereka merencanakan sebua diskusi singkat mengenai pergerakan Song Hana yang ingin memindahkan kepemilikan atas King Corp, perusahaan yang diketuai oleh kakek Byun dan dipimpin langsung oleh Tuan Byun menjadi miliknya. Keberadaan Baekbeom dan Baekhyun yang tidak diketahui ditambah lagi isu mengenai kematian keduanya yang disebarkan langsung oleh tangan kanan Song Hana membuat Chanyeol geram. Gerak gerik wanita keparat tersebut benar-benar mudah ditebak oleh Chanyeol, karena dengan adanya isu seperti ini akan menjadi lebih mudah para pemilik saham untuk mempercayakan perusahaan Byun jatuh ke tangan wanita jalang tersebut. Tidak, hal ini tidak akan dan tidak pernah menjadi kenyataan.
"Kita kehilangan beberapa suara pemilik saham untuk menentang pemindahan perusahaan itu, hyung. Jika kita masih berusaha untuk menentangnya kita mungkin akan jauh dua puluh persen dibawah Song Hana" Chanyeol semakin geram akan kenyataan yang baru saja disampaikan Jongin. Jika perusahaan Byun jatuh ketangan wanita tersebut dapat dipastikan perusahaannya semakin lama akan dikendalikan wanita tersebut.
"Aku pikir kau perlu mengadakan pertemuan rahasia kepada mereka untuk memperkuat penentangan ini hyung"
"Maksudmu?"
"Semua orang tahu bahwa kau salah satu CEO terkemuka dalam lingkaran kerja sama ini, hyung dan aku pikir menemui dan meyakinkan mereka secara satu persatu tidak buruk hyung" usulan Oh Sehun tampaknya mampu meredakan emosi Chanyeol, membuat laki-laki tersebut terdiam untuk sesaat dan menyeringai tipis.
"Tidak terlalu buruk. Aku akan melakukan penerbangan bersamamu besok di Jepang_"
"Hyung, sepertinya kau harus terbang ke China terlebih dahulu untuk menyelamatkan cabang perusahaanmu disana. Song Hana baru saja merencanakan pembangunan Casino bersama Tuan Fang untuk menutupi transaksi kalian mengenai Baekhyun"
Jongin mengernyitkan dahinya heran. Laki-laki tan tersebut menatap Sehun dengan beberapa kerjapan mata, merasa salut dengan Oh Sehun yang mendadak pintar mengenai urusan perusahaan seperti ini. Setahu dirinya, laki-laki berkulit pucat tersebut hanya berkutat didalam laboratorium gilanya yang penuh dengan racikan obat, bukan malah berurusan dengan perusahaan seperti ini. Ia juga yakin jika laboratorium kebanggan Sehun tersebut tidak ada setumpuk file seperti dimeja kerjanya. Jongin memajukan kepalanya menatap Sehun memicing.
"Darimana kau tahu hal itu?" Chanyeol bersedekap ikut menyimak apa yang ditanyakan Jongin. Dirinya juga merasa bingung dengan Oh Sehun yang mendadak sok tahu.
"Minseok noona" Jawaban yang diiringin dengan kerjapan polos milik Sehun membuatnya terdengar polos yang mana tidak membuat yang lebih tua mempercayainya.
"Maksudmu?"
"Minseok noona mendapatkan informasi tersebut dari Jongdae dengan racikan obatnya yang dicampurkan dalam jus mangga"
Jongin dan Chanyeol menghembuskan nafasnya lega tanpa menghilangkan tatapan datar mereka kearah Sehun. Mereka berdua masih diambang antara percaya atau tidak mengenai perkataan Sehun. Mereka bahkan tidak berfikir jika Minseok akan melakukan hal nekat seperti itu. Bahkan berfikir jika Jongdae akan dengan mudah ditakhlukkan seperti itu, sama sekali tidak terdapat dalam benak mereka. Tetapi setidaknya Minseok tahu diri kondisi yang benar-benar mendesak seperti sekarang ini. Dengan adanya Minseok mungkin ini akan mempermudah menguak informasi dari Jongdae lebih detail lagi. Well, memanfaatkan orang lain dalam waktu yang terdesak tidak burukkan?
.
.
e)(o
.
.
Amsterdam, Belanda
Kyungsoo duduk terdiam memandang Luhan yang tengah mengepak beberapa pakaian kedalam koper yang nantinya akan dibawa ke Manhattan. Mengabaikan ocehan Luhan yang menyuruhnya untuk segera membereskan beberapa pakaiannya yang masih tergeletak tidak karuan diatas tempat tidur mereka, Kyungsoo tetaplah terdiam seolah-olah suara Luhan hanyalah suara radio usang yang telah rusak. Bukan tanpa alasan ia berdiam diri diatas tempat tidur. Ia hanya tidak menyetujui rencana Luhan yang ingin menyusul Baekhyun ke Manhattan hanya karena takut terjadi apa-apa. Ini terlalu berlebihan dan ia takut jika Luhan akan mengacau disana.
"Kau kekasihku, aku mencintaimu dan aku mempercayaimu Kyung jadi kumohon, bantulah sepupumu dengan menjauhkan Luhan darinya"
Kyungsoo tidak bodoh untuk tidak menyadari maksud dari perkataan kekasihnya dulu sebelum kekasihnya tersebut kembali ke Manhattan menyusul Chanyeol. Menghilangnya Baekhyun setelah keberangkatan kekasihnya, ponsel Baekhyun yang tidak aktif dan permintaan Jongin untuk membatalkan rencananya pergi Manhattan, itu semua pasti ada sangkut pautnya dengan salah satu sahabatnya. Ia hanya mencoba menebak jika Chanyeol mengetahui masa lalu Luhan dan karena itu kekasihnya menyuruhnya untuk menjauhkan Luhan dari Chanyeol.
Lama bergelut dengan lamunannya membuat Kyungsoo tidak menyadari perempuan bersurai pirang yang merupakan sahabatnya tersebut kini sudah menempatkan diri didepannya. Memasang raut wajah semenakutkan mungkin untuk memarahi Kyungsoo.
"Aku tidak menyuruhmu untuk berdiam diri seperti ini Do Kyungsoo" perempuan yang baru dimarahinya tersebut tampak tersentak dn terkejut akan keberadaan dirinya yang sudah ada didepan Kyungsoo.
"Sepertinya aku tidak bisa menemanimu menemui Baekhyun, Lu" ucapan Kyungsoo tampak berhasil membuat Luhan mengerutkan dahinya. Gadis tersebut mengerjapkan matanya kebingungan akan perkataan Kyungsoo. Mengerti akan keterdiaman Luhan, Kyungsoo kembali melanjutkan bualannya untuk menghentikan Luhan.
"Kemarin Miss. Thomson memberitahuku jika kita akan dipindahkan dicabang perusahaan Chanyeol lainnnya"
"APA?!" Kyungsoo memejamkan matanya seketika mendengar teriakan tidak elit Luhan. Ia sudah menebak jika reaksi Luhan akan seperti ini maka dari itu ia tidak terlalu terkejut dan berusaha untuk mencari bualan lainnya.
"Kau serius Do Kyungsoo?"
Kyungsoo hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban atas pertanyaan Luhan. Ia takut jika ia terlau banyak membual mulutnya tidak akan terkendali dan menyebabkan kecerobohan tersendiri baginya. Berbagai umpatan terlontar begitu saja dari mulut Luhan mengenai atasan mereka yang tidak bersalah. Dalam hati ia terus memanjatkan kata maaf untuk Miss. Thomson yang kali ini menjadi sasaran bualannya. Pintu kamar mereka berdebum cukup keras yang mana mampu kembali membuat gadis bermata bulat tersebut terkejut. Setelah memastikan Luhan benar-benar meninggalkannya, ia bergegas menghubungi kekasihnya dan menceritakan semua kebohongannya tersebut kepada kekasihnya. Berharap jika kekasihnya akan membantu dirinya. Ia memutuskan untuk mengikuti permain sepupu dan kekasihnya untuk menjauhkan Luhan sementara waktu.
.
e)(o
.
Jika tadi ia menahan kesabaran untuk tirai kesayangannya yang berakhir di bak pencucian sekarang dirinya harus kembali bersabar dengan keadaan kamar tidurnya. Chanyeol berdiri didepan pintu masuk kamar pribadinya, menatap seluruh isi yang jauh dari kata rapi seperti biasanya. Mata bulatnya mengerjap penuh keherannya setiap dirinya mendapati mainan putra kandungnya yang berserakan dilantai kamar pribadinya. Tiga puluh menit yang lalu ia meninggalkan Baekhyun dan Jiwon yang ada dikamarnya untuk menemui Jongin sekaligus menyantap makan siangnya. Namun ketika dirinya kembali ia sudah disuguhi dengan pemandangan yang jujur saja hampir membuatnya meledak karena emosi. Tetapi ketika kedua mata bulatnya mendapati dua orang yang berpengaruh dalam hidupnya tanpa sadar sudut bibirnya terangkat hingga membentuk sebuah senyuman yang menawan. Disana, diatas tempat tidur ia mendapati Baekhyun yang tertidur dengan memeluk Jiwon yang tengah mendengkur karena tidur siangnya yang begitu nyenyak.
Terlihat begitu damai dan tenang, seolah kehidupannya hanya dipenuhi dengan jutaan bunga yang bertebaran dan pelangi yang menghiasinya dengan kebahagiaan yang menyelimutinya. Well, perandaian yang cukup bagus Park itu artinya kau juga tidak jauh berbeda dengan si Byun mungil yang berlebihan. Chanyeol menggelengkan kepalanya dengan kasar, mencoba untuk menghilangkan bayangan kebahagiaannya yang mana tampak seperti seseorang yang sedang jatuh cinta. Ia tersadar akan tujuannya mendatangi kamar pribadinya, bukan untuk istirahat tetapi untuk berbicara empat mata dengan Baekhyun mengenai apa yang sedang direncanakan Song Hana. Chanyeol pikir Baekhyun memang harus mengetahui hal ini. Semua ini menyangkut dengan masa depan perusahaan yang dirintis oleh kakek Byun. Ia tahu dan ia ingat bagaimana dulu kakek Byun mempertahankan perusahaannya yang masih diumur jagung. Perusahaannya yang sangat membantu dirinya hingga seperti ini dan seorang perintis yang mampu membuatnya menjadi seseorang yang dihormati oleh semua orang dan jangan lupakan bagaimana sosok kakek Byun yang selalu membantunya mendekatkan dirinya dahulu kepada Baekhyun, sosok gadis kecil yang polos dan lugu.
Ia tidak bisa berdiam diri dan melihat semua yang dilakukan Song Hana. Kehancuran King Corp akan membawa pengaruh yang besar terhadap perusahaannya, dirinya dan juga keluarga Byun dan Baekhyun adalah salah satu jalan utama yang ia harapkan mampu menghadapi kekejaman dunia bisnis seperti ini. Chanyeol berjalan menghampiri tempat tidur dan perlahan mengangkat tubuh Jiwon untuk dipindahkan kekamar pribadi milik bocah tersebut. Well, ia membutuhkan waktu sedikit lebih ekhem..intim bersama Baekhyun. Dua hari tanpa menyentuh wanita mungil tersebut sudah seperti puasa tiga tahun lamanya dan rasa haus adalah hal yang tepat untuk mendiskripsikan dirinya. Lebih tepatnya haus akan sentuhan Baekhyun. Pintu kamar baru saja dikuncinya selepas dirinya meletakan Jiwon ke kamar pribadi bocah tersebut. Melepas seluruh pakaiannya dan menggantinya dengan bawahan training, menyisakan tubuh bagian atasnya yang bertelanjang. Perlahan namun pasti dirinya merangkak, menyusup kedalam selimut dan menaruh tangan kanan Baekhyun untuk melingkari pinggangnya. Dan seketika itu pula ia merasakan sengatan gairah yang jujur saja tak dapat ditahannya.
'Sial'
Chanyeol mengumpat dalam hati kala dirinya merasakan sesuatu diantara selakangannya mulai menggembung. Benar-benar tidak dalam keadaan yang tidak tepat. Lagi-lagi ia mengumpat kesal ketika Baekhyun semakin mengeratkan pelukannya dan menyandarkan kepala mungilnya dipermukaan dada Chanyeol. Laki-laki bersurai Ash Grey tersebut hanya diam membeku merasakan betapa hangatnya tubuh mungil Baekhyun. Sudut bibirnya terangkat menciptakan senyum simpul yang meneduhkan. Telapak tangan kanannya menyentuh pipi gembil Baekhyun yang terasa begitu halus. Senyumnya kian merekah kala dirinya mendapati lipatan bibir merah muda tersebut terbuka dengan gerakan sensual seolah tengah mencecap belahan bibirnya dan senyumnya kian memudar ketika indra pendengarannya menangkap nama yang tak asing baginya.
"Robert, Robert Pattinson kiss me now honey ugh.."
'Shit'
Lagi-lagi Chanyeol kembali mengumpat dalam hati mendengarkan Baekhyun menyebut nama pria lain sekaligus mendesahkan nama actor pemeran Edward dalam serial Twilight tersebut. Oke, ini mungkin terdengar konyol dimana dirinya merasakan kecemburuan kepada si actor yang cukup terbilang tampan meskipun tidak lebih tampan darinya. Yeah..begitulah menurut Chanyeol. Hingga tiba-tiba bibirnya tampak menyeringai akan sepintas ide untuk membangunkan wanita yang ada dipelukannya tersebut. Tangan kanannya yang semula berlabuh diatas pipi gembil Baekhyun kini berpindah digaris pinggang ramping Baekhyun. Mengusap dan meremas diikuti dengan bisikan sensual oleh suara baritone miliknya.
"Datanglah padaku sayang, maka aku akan mencium bibirmu penuh dengan gairah"
Kerutan dikening begitu tampak selepas Chanyeol menyelesaiakan ucapannya, begitu kentara jika Baekhyun tengah merasakan perbedaan. Well, perbedaan dalam hal suara.
"Chanyeol?"
"Ya sayang"
Chanyeol masih bertahan dengan seringaian miliknya ketika Baekhyun menyebutkan namanya dengan mata tertutup. Perlahan kedua mata bak bulan sabit tersebut terbuka, mengerjap pelan yang mana tampak seperti lost puppy.
"Chanyeol?"
Tidak ada tanggapan dari laki-laki yang sekarang ini tengah memeluknya. Hanya senyuman yang lebih dominan terlihat seperti seringaian. Kedua tangan lentiknya mengusap matanya untuk memperjelas pandangannya. Ia terdiam seketika merasakan beban diatas pinggangnya dan rasa hangat yang melingkupi kulit polosnya. Kepalanya menoleh kearah pinggangnya dan menemukan tangan Chanyeol yang memasuki blouse dan menyentuh kulit polosnya. Tatapannya kembali mengarah ke Chanyeol dan mendapati laki-laki tersebut menyeringai semakin lebar dan tidak perlu menunggu lama untuk mendengar Baekhyun berte-
"AAAAA...APA YANG KAU LAKUKAN PARK CHANYEOL"
-riak.
Chanyeol hanya memejamkan matanya dan mempererat pelukannya setelah dirasa Baekhyun meronta mencoba untuk melepaskan diri dari dekapannya. Laki-laki tersebut kini malah menempatkan kaki kanannya diatas kedua kaki mungil Baekhyun, membuat wanita tersebut tidak dapat menggerakkan tubuhnya kembali.
"Apa yang kau lakukan brengsek"
"Memelukmu sayang"
"Lepaskan aku Park"
"Kau tidak ingin menagih ciuman kepadaku?"
What?
Baekhyun menghentikan aksi pemberontakannya dan beralih menatap Chanyeol. Kerutan didahinya samar-samar terlihat seiring dengan mulutnya yang terbuka menampilkan sebuah ekspresi kekagetan.
"Apa yang kau bicarakan Park? Siapa yang ingin menagih ciuman hah? Sebaiknya kau lepaskan aku daripada disini bersamamu"
Well, si mulut pedas Byun dan si penggoda Park. Dimanapun mereka berada pertengkaran konyol akan selalu mengelilingi mereka, seperti sekarang ini. Laki-laki bersurai ash grey tersebut hanya diam, menunggu kapan wanita yang ada dipelukannya tersebut lelah sendiri.
.
e)(o
.
Huilongguan Hospital, Beijing. China
Sepetak ruang dengan aroma lavender menyambut kedatangan si mantan penasehat keluarga Byun, Kim Jongdae. Baekbeom menolehkan kepalanya seketika indra pendengarannya menangkap suara derap langkah semakin dekat kearahnya. Tidak ada raut wajah keterkejutan maupun topeng penyakit gila yang hampir satu tahun ini ia pertahankan. Tatapan mata datar itulah yang Jongdae dapatkan, namun ia tahu dibalik tatapan tersebut laki-laki yang pernah menjadi tuan mudanya tersebut menyimpan banyak sekali pertanyaan dan segala rencana balas dendam untuknya. Ia meletakkan karangan bunga dan sebuah flash disk diatas nakas dan diikuti oleh bungkukan sebagai rasa sopan kepada sang mantan tuan muda.
"Tuan"
"Apa yang kau lakukan disini?"
Jongdae hanya tersenyum tipis, memaklumi akan nada suara Baekbeom yang tidak bersahabat. Ia tahu bahwa selama ini Baekbeom tidak mengalami gangguan jiwa semenjak kedatangan Minseok, dokter yang entah mengapa sedikit berhasil menarik perhatiannya. Ia menarik kursi pengunjung dan mendudukkan dirinya disana, menghadap tepat kearah Baekbeom.
"Aku hanya ingin mendatangimu sebelum semuanya mulai Tuan" tidak ada jawaban yang terlontar dari mulut Baekbeom dan Jongdae mengartikan hal itu sebagai kebebasan untuknya melanjutkan perkataannya.
"Aku tahu ini memang benar-benar terlambat untuk mengembalikan apa yang menjadi milik keluargamu. Aku tahu aku adalah seorang pengecut yang tidak bisa menjadi sanksi untuk tuannya. Semua dosaku atas apa yang kuperbuat selama ini mungkin tidak akan sebanding dengan harga satu nyawa yang terbunuh"
"Apa maksudmu Kim" semua perkataan Jongdae merasa begitu janggal bagi Baekbeom. Curiga? Bukan, ia tidak pernah menaruh curiga kepada mantan penasehatnya. Ia sama sekali tidak pernah menaruh rasa curiga sedikitpun terhadap laki-laki tersebut. Entah mengapa ia begitu mempercayai apa yang akan dilakukan Jongdae adalah sebuah usaha untuk membantunya keluar dari neraka yang diciptakan perempuan jalang yang mengaku sebagai ibunya tirinya. Sementara itu Jongdae masih bertahan pada keterdiamannya. Laki-laki tersebut tengah meyakinkan dirinya atas apa yang akan ia katakan pada sosok laki-laki yang tengah duduk diatas ranjang.
"Aku...aku akan membantumu untuk mengembalikan semuanya seperti sedia kala tuan" Baekbeom tidak terlalu terkejut dengan apa yang baru saja dikatakan Jongdae. Sebelah alisnya terangkat, mewakili rasa penasarannya akan apa yang membuat laki-laki tersebut mengatakan hal ini kepadanya.
"Kenapa?"
"Nde?"
"Kenapa? Kenapa kau ingin melakukan hal ini?" Jongdae menarik nafasnya sesaat kemudian menghembuskannya pelan-pelan. Ia memandang sosok yang selama ini ia kagumi dengan senyum hangat.
"Karena semuanya memang milikmu tuan. Kau dan keluargamu telah menampung keluargaku, mengangkat perekonomian keluargaku dan mengizinkanku untuk menggantikan ayahku untuk mendampingi keluargamu. Aku tidak meminta sebuah imbalan atas apa yang aku lakukan sekarang ini, aku hanya mencoba untuk membalas budi dan menolong kembali orang terpenting dalam hidupku. Orang yang sudah menganggap keluargaku sebagai bagian terpenting untuk kalian"
Baekbeom tidak pernah berfikir jika Jongdae akan melakukan ini semua hanya untuk membalas budi semua apa yang dilakukan keluarganya. Ia tidak akan tega untuk menutup mata dengan apa yang akan terjadi setelah laki-laki tersebut bertekat membantunya. Song Hana bukan lawan yang tepat untuk Kim Jongdae melakukan sebuah pengkhianatan. Wanita itu meskipun sudah berumur banyak tetapi mata, tangan dan kaki yang menjadi anjingnya sudah terlampau banyak. Otak liciknya seolah sudah teratur untuk melakukan sebuah tindak kejahatan hanya untuk sebuah kuasa. Dan Kim Jongdae dengan keberanian entah darimana berkata akan membantunya mengembalikan semuanya. Itu artinya akan ada banyak korban dalam permainan ini.
"Aku tidak memaksamu untuk membantumu_"
"Aku tahu kau akan mengatakan hal itu kepadaku tuan" Baekbeom menolehkan kepalanya menatap Jongdae dengan mata membulat. Marah? Tidak, ia tidak marah akan perkataannya yang terpotong, tetapi apa yang dikatakan Jongdae yang membuatnya cukup terkejut.
"Aku tahu jika kau akan melarangku untuk melakukan ini semua, tetapi aku sudah bertekat untuk menolongmu tuan. Tidak peduli jika nyawaku yang menjadi taruhannya"
"Pergilah"
"Aku akan menemui Tuan Park dalam jamuan dua hari kedepan tuan"
"Kenapa kau keras kepala sekali!"
"Karena masih banyak orang yang membutuhkanmu tuan, terutama nona Baekhyun"
Baekhyun. Byun Baekhyun gadis kecilnya yang amat menggemaskan. Adik kecilnya yang selalu memeluknya jika sedang ketakutan. Baekbeom memejamkan matanya, berusaha menghalau air matanya yang siap membasahi pipinya. Rasa rindunya sudah tak terbendung lagi, hingga membuat air matanya jatuh dengan isakan kecil yang memilukan Jongdae. Jongdae tahu bagaimana perasaan Baekbeom akan rasa rindunya, tidak dapat ia pungkiri lagi jika dirinya juga sama merindukannya dengan keluarganya yang entah berada dimana sekarang. Wanita itu benar-benar gila dengan terus memindahkan keluarganya dan menghilangkan jejaknya.
"Pergilah" Jongdae masih setia menatap Baekbeom yang kini tengah membelakanginya. Ia tahu laki-laki tersebut perlahan akan mengizinkannya.
"Pergilah temui Chanyeol dan katakan jika aku...aku siap untuk melarikan diri dengan semua bukti yang kau berikan"
Jongdae tersenyum dengan apa yang dikatakan Baekbeom. Tidak sia-sia ia meyakinkan Baekbeom dengan apa yang akan dilakukannya. Ia bergegas beranjak meninggalkan Baekbeom dengan bunkukan sembilan puluh derajat sebagai tanda penghormatan sebelum dirinya sepenuhnya meninggalkan laki-laki yang masih sibuk dengan kerinduan terhadap Baekhyun. Minseok yang saat itu baru saja memasuki ruang inap Baekbeom menatap heran Jongdae yang tampak berbeda. Tatapan matanya beralih kearah Baekbeom yang kini kembali berkutat dengan buah apel. Wanita yang berperan sebagai single parent tersebut menghampiri Baekbeom dengan perkataan konyol.
"Apa yang ia lakukan disini? Apa sudah waktunya aku menggodanya dengan berbagai racikan obatku?"
Minseok menatap cemas Baekbeom namun lelaki tersebut hanya membalasnya dengan tatapan datar yang jujur saja membuat Minseok ingin sekali memukul wajah tersebut.
.
e)(o
.
Baekhyun menatap tajam Chanyeol yang sekarang ini tengah duduk dihadapannya. Ngomong-ngomong mereka masih diatas tempat tidur dengan pakaian yang sama dikenakan tadi pagi dan jangan lupakan jika mereka belum membersihkan diri sama sekali. Ralat, maksudnya Baekhyun yang harus membersihkan diri dari penampilannya yang berantakan. Sementara itu Chanyeol menahan diri untuk tidak menerjang wanita yang sekarang ini tengah menatapnya tajam namun malah terlihat berlipat kali lebih sexy dengan pakaiannya yang kebesarannya. Tidak ada percakapan dalam dua puluh menit berlalu dan membuat mereka tampak seperti dua orang bodoh yang saling membodohi. Oh, oke lupakan hal itu.
"Apa yang ingin kau katakan?" Chanyeol hampir saja akan menepuk dahinya sebelum dirinya mengingat jika hal itu hanya akan membuatnya tampak begitu bodoh akan penyakit pikun yang tiba-tiba menyerang dirinya.
"Kita akan merebut perusahaanmu kembali"
"Maksudmu?"
"Wanita jalang yang berstatus ibu tirimu itu telah memberikan isu bahwa kau dan Baekbeom telah mati"
"APA!" inilah salah satu hal yang tidak disukai Chanyeol dari seorang wanita. Berteriak. Chanyeol mengusap telinganya dan mengabaikan tatapan Baekhyun yang kini tampak berkali-kali lebih tajam.
"Ya. Wanita itu telah menganggapmu tiada dan berencana akan memindah tangankan nama perusahaan kakekmu"
"King?"
"Ya"
"What The Fuck! Wanita jalang itu benar-benar harus mati dibalik jeruji Chan. Aku tidak bisa membiarkan hal itu terjadi"
"Ya. Oleh karena itu selama aku pergi kau akan mempelajari sistematika perusahaanmu bersama Oh Sehun dan Kim Suho"
"Oh Sehun? Kim Suho? Kau tidak salah memilih orang, Chan?"
"Tidak. Mereka adalah orang yang tepat, sesuai dan ramah lingkungan"
Ramah Lingkungan?
Well, sepertinya Baekhyun harus memahami Chanyeol lebih dalam lagi melalui dua orang yang telah disebutkan tadi. Terutama dalam hal berkata.
"Lalu kau sendiri?"
"Aku akan terbang ke China besok. Semua urusan akan ditangani Suho dan Oh Sehun. Jadi kau harus menurut dengan dua orang itu. Kau paham" Baekhyun hanya mengangguk layaknya anak kecil berusia lima tahun. Wanita tersebut hanya mencoba untuk menjadi seorang penurut dan mudah diajak kerjasama, mengingat sekarang Park Chanyeol adalah rekan kerjanya.
"Bagus. Sebaiknya kau perlu mempersiapkan diri dan juga.." Baekhyun mengangkat sebelah alisnya menunggu perkataan Chanyeol yang menggantung.
"Juga?"
"Perhatikan tata bahasamu saat mengumpat Baek"
Dan setelah itu Chanyeol menarik tengkuk Baekhyun dan menyatukan mulut mereka untuk beberapa saat. Hanya sebuah lumatan kecil dengan diikuti beberapa gigitan menggemaskan pada bibir tipis Baekhyun. Chanyeol menyeringai setelah berhasil membuat Baekhyun terengah akan ciuman mendadak.
.
.
.
To Be Continued
18 Juni 2017 00.07 A.M
Bunny-B99 Present
.
.
.
.
Hallo, masih ingatkah sama ff ini? Maaf ya kalo baru nongol wkwkw:v
No cuap cuap
Cuam mau bilang makasih yang udah nungguin ff ini. Kayaknya abis ini aku rajin update deh wkwkw:v sampe ketemu di chapter depan
p.s: jan lupa review ne
p.s.s: kotak komentar jan lupa diisi wkwkw:v
p.s.s.s: maaf kalo masih ada typo yang bertebaran
