Title: My Boyfriend Vampire
Disclaimer: All Character belong to Masashi Kishimoto
Warning: OOC, OC, Miss Typo, Incest, Don't Like Don't Read
...
Aneh! Alternatif judul Berbung-bunga.
.
Aku memasuki rumah, tentu saja dengan suara Haku yang masih terdengar entah mengoceh soal apa kepada Hiashi namun suaranya tidak seperti biasanya yang ceria, disuaranya ada sebuah ketegasan begitu juga dengan Hiashi di berwibawa sekali dan obrolan mereka semakin lama semakin tidak terdengar karena volume suara mereka dikecilkan oleh mereka berdua, tapi ada satu percakapan mereka tidak sadar bahwa aku berada disana satu ruangan yang hanya disekat oleh dinding tipis.
"Ada apa Hiashi?" tanya Haku sedikit panik.
"Mereka diserang lagi," jawab Hiashi penuh wibawa.
"Oh sial," gerutu Haku.
Namun sebuah suara kemudian muncul kembali dari mulut Haku.
"Fard malah memakai selubungnya," ucap Haku kalut.
"Biar aku saja," tawar Hiashi.
Ketika aku masuk ke ruangan itu, tidak terdengar suara apapun bahkan sebuah helaan nafas. Aku berjalan dan ketika aku menaiki tangga, aku menatap mereka, yeah walaupun ke dua bola mata mereka melotot menatap chanel televisi yang menampilkan iklan itu. Ku tahu jika pikiran mereka berdua tidak fokus pada apa yang mereka tonton –lagipula siapa yang sudi menonton iklan terus menerus. Entah ada dimana sekarang pikiran mereka, mungkin konser, restoran baru, kantor polisi, pub atau bioskop –itu jika mereka doyan menonton film terbaru.
Ku tinggalkan mereka memasuki kamarku, toh ini adalah kesempatan terbaik tanpa harus ada omelan atau sesuatu wejangan dari Hiashi maupun Haku karena pulang terlambat. Otakku sekarang penuh, penuh dengan pemikiran keanehan mereka berdua meskipun tidak mengalahkan pikiranku terhadap Naruto yang hampir menyelimuti saraf-saraf didalam otakku apalagi tentang yang terjadi tadi, apakah itu dapat dikatakan kencan? Ku akui aku memang menyukai Naruto tapi ketika sebelum kembali melihat matanya tadi perasaan itu hanya sekedar menyukai bukan sampai ditaraf mencintai, namun ketika aku menatap matanya yang selalu berubah-ubah itu seperti ada rasa lain menyentuh hatiku –bukan hampir seluruh badanku terhipnotis karenanya seakan aku bukan mencintainya namun sangat membutuhkan malah melebihi membutuhkan.
Aku menghempaskan diriku ke kasur quint size sambil menatap langit-langit kamar. Kuhirup sesuatu sangat dalam pada jaketku yang tadi ditimpa oleh jaket Naruto, wanginya manis persis apa yang kurasakan ketikaku menghirup bau kulit Naruto namun juga ada sesuatu yang menyakitkan hidung tetapi begitu dekat membuat aliran darahku deras dan detak jantung kembali berdegup kencang.
Apakah ini yang namanya cinta?
Aku tidak tahu mengenai jatuh cinta, namun yang kuingat dari beberapa baris kata yang ku ingat dari novel roman picisan yang pernah kupinjam diperpustakaan Arizona tempat tinggalku dulu yang menyatakan bahwa perasaan cinta itu seperti berbunga-bunga selalu membuat bahagia akan tetapi aku tidak merasakan perasaan tersebut seperti berbunga-bunga dan sejenisnya aku merasakan perasaan yang err sangat merindukan, aku membutuhkannya disampingku sangat membutuhkannya untuk mendampingiku. Ku rasa wajahku mulai memanas membayangi itu, sungguh memalukan. Ku berusaha memejamkan mataku untuk tertidur.
Namun baru saja aku menutup kelopak mataku, dering nada dari satu lagu westlife terdengar dari meja riasku. Aku membuka mataku dengan gerutuanku. Duduk dipinggir tempat tidur, mengambil telepon genggamku didekat speaker yang tidak berbentuk karena ulahku kemarin dulu. Aku menekan tombol hijau dan mendengarkan suara orang yang menelepon.
"Hinata!," suara nyaring Sakura terdengar.
"Ya, ada apa Sakura?" tanyaku.
Aku yakin itu mengenai barang-barangku yang tertinggal dimobilnya.
"Bagaimana kencannya?" tanya Sakura semangat.
Aku menganga, jauh sekali dari perkiraanku.
"Itu tidak kencan Sakura," jawabku. Aku berdiri melepaskan jaketku sambil melihat ke cermin. Tank top dan celana jeans panjang, tidak ada yang spesial.
Tapi tunggu dulu, ada yang aneh di leherku. Aku mendekat ke cermin untuk melihat sesuatu yang kecil itu.
Tato itu adalah tato, aku membelak. Aku tidak pernah merajah kulitku, dan kurasa juga ada dilenganku, aku mengsampingkan tubuhku.
Dan itu membuatku tambah membelakkan mataku. Tanda apa itu? Ku rasa ketika temanku akan mentato tidak ada gambar seperti itu atau mungkin simbol, entah simbol apa.
"Nata... Hinata," suara Sakura yang nyaring menyadarkanku dari lamunanku atau mungkin itu sebuah keterpanaanku.
Aku mengerjapkan mataku.
"Ada apa Sakura?" tanyaku.
"Kau tidak memperhatikan," kesal Sakura.
"M-maaf S-sakura," penyakit gagapku kembali kambuh.
"A-aku s-sedang m-mengganti b-bajuku." Itu tidak sepenuhnya benar, karena aku sedang membuka jaketku.
"Kalau begitu aku yang minta maaf padamu Hinata," ku dengar ada nada menyesal di suaranya.
"T-tidak a-apa-a-apa k-kok," ucapku tersenyum, walau kutahu itu tidak akan tampak.
Aku mengingat sesuatu.
"Oh ya, barang bawaanku tertinggal di mobilmu, besok aku akan mengambilnya," ucapku.
"Baiklah, dan kau harus menceritakannya." Ada nada perintah yang keluar dari Sakura.
"Tapi-," aku tidak menyelasaikan protesku ketika nada sambung itu berubah menjadi suara tanda dia mematikan koneksinya.
Aku menatap cermin lagi, dan kemudian mengukur tubuhku disebelahnya. Tinggiku sekarang seratus delapan puluh enam, naik tujuh senti. Tidak mengenakkan.
Apalagi aku paling jangkun dibandingkan anak-anak perempuan bahkan sebagian laki-laki yang satu angkatan denganku, aku yakin itu. Aku menghela nafasku berat, kemudian beranjak ke tempat tidur untuk menidurkan diriku, menggapai alam mimpi dan terbang di delamnya.
Aku ingin menghilangkan beban ini sejenak.
...
Belaian lembut menyentuh dahiku.
"Uugh, Hanabi sudah ku katakan jangan membelaiku," ucapku. Ini seperti kebiasaan kami ketika masih satu keluarga.
Tetapi tidak terdengar sama sekali cekikikan Hanabi yang riang, belaian lembut itu kembali menyentuh dahiku.
Aku membuka mataku, sinar matahari menyelusup menghentak diriku.
'Ini bukan kamarku, dimana ini?' batinku.
Pemandangan yang indah menyentuh sudut-sudut bola mata memantulkan cahaya benda-benda tersebut ke mataku, aku mengernyit aneh. Semua tanaman terpantul dengan jelasnya, sangat jelas malah. Ini tidak mungkin, bukan?
"Apanya yang tidak mungkin?" tanya seseorang dibelakangku.
Aku berbalik menatapnya, itu Naruto tapi bagaimana caranya dia mendengar pikiranku dan apa yang terjadi padaku.
"Akan ku tunjukkan padamu," senyum Naruto yang tadinya mengeluarkan suaranya yang merdu bagai lonceng.
Dia menggapai tanganku, kemudian kami berdua berjalan dengan sangat cepat. Terdengar aliran air sungai yang tenang, kami berdua mendekati air suangai tersebut.
"Tataplah!" sebuah perintah namun terkesan sebagai pinta.
Aku beringsut dengan takut menatap diriku pada pantulan air sungai tersebut dan memejamkan mataku
"Buka matamu Hinata," alunan lembut itu menyuruhku untuk membuka mataku.
Mataku membuka secara pelan, dan aku tidak percaya dengan apa yang ku lihat.
Apakah itu bayanganku? Sungguh sangat menawan sekali.
Wajahnya mempesona, cantik seperti bukan aku, matanya berwarna merah darah berbeda dengan Naruto. Apa maksudnya ini?
"Ayo kita berburu!" ajaknya.
Kami berdua berlari, rasanya ringan ketika berlari. Aku tidak tahu sudah berapa pohon yang tumbang olehku. Cukup aneh bukan. Kami saling berlarian memperebutkan posisi terdepan dan aku mulai memperlambat gerakkanku bersama dengan Naruto didepanku tanpa takut terjatuh.
"Sekarang, pejamkan matamu," perintah Naruto.
Aku mengikuti perintahnya.
"Coba kau cium baunya," kemudian sayup-sayup ku mencium bau yang menggiurkan.
Aku berlari mengejar buruanku, tanpa menggunakan penglihatanku melainkan instingku. Cukup sulit untuk itu, tentu saja.
Bau itu semakin mendekat ke indera penciumanku.
Satu, dua, tiga, ah tidak. Sekelompok rusa yang sangat menggiurkan, aku beringsut mendekatinya ketika arah angin berubah mendatangiku dari arah yang lain.
Awalnya aku tidak menyadarinya, namun bau itu semakin menguat, bau hangat dan sangat menghauskan itu. Ini bau dari darah manusia, aku berlari menuju asal baunya dengan cepat dan membiarkan nafsu menguasai diriku menuju asal bau.
"Hinata," teriakan Naruto sama sekali tidak ku hiraukan.
Aku berlari menuju tempat itu ketika kurasa diriku melayang terjatuh diruangan dengan pantulan kaca. Aku menatap ke sekeliling ruangan dengan seksama.
Bukankah ini studio Capoiera di Arizona?
"Kau tidak menarik manis, terlalu pasif," seseorang maju didepanku.
Aku menatap wajah itu, satu dari dua orang wajah yang kembar dengan senyuman bengisnya entah mengapa aku mengenalnya.
Pria itu mendekatiku, mencengkram daguku membuatku kesakitan dengan cengkramannya.
"Beritahu dia bagaimana sakitnya!" perintah orang itu menggunakan kamera video Rie.
Aku menggeram marah, ketikaku sadari bahwa kakiku patah. Kaki itu sembuh kembali dengan cepat, dan entah mengapa kemudian aku menatapnya yang telah berubah menjadi tinggi.
"Siapa kau sebenarnya? Kucing!" katanya menatapku dengan kebencian.
Aku akan menerkamnya namun dia memukulku menjauh dari tubuhnya. Aku memejamkan mata untuk merasakan rasa kesakitan menghantam dengan kecepatan tinggi itu namun tidak ada yang terjadi sama sekali padaku.
Malah aku merasakan ringan sebelum kembali menjejakkan kakiku ketanah.
"Grrrr," geraman itu keluar dari bibirku menatapnya penuh kebencian.
Lalu aku bergerak menerkamnya. Kami berdua bergelut, mencakar, dan saling menerkam. Aku tidak peduli yang pasti aku dapat membunuh seorang –eh seekor vampir itu membuatku seakan mahluk liar. Aku terpelanting sama juga dengan vampir itu.
"Dia berubah!," dua suara ada didalam otakku entah suara siapa.
Yang pasti aku menerkam kepala itu, mencabik jika saja bisa sebelum akhirnya aku menjadi lemah dan kedinginan seakan tidak ada pakaian yang menyelimutiku, aku hampir menutup mata ketika rasa panas menjalar di aliran nadiku, panas yang membuatku lemah dan menderita.
"Kau apakan dia? Vampir brengsek," teriak Naruto yang baru saja datang.
Bukankah Naruto juga vampir?
...
"Apa yang kau lakukan tadi?" tanya suara berat Haku.
Aku mengerjapkan mataku terbangun karena suara itu. Aku tidak tahu kenapa suara tersebut terdengar seakan Haku ada disini.
Diriku berada dipinggir kasur quint size, aku menelusuri semuanya. Lalu aku mendapati speaker yang kurusak kemarin telah bertengger dengan manis tanpa lecet sedikitpun.
Jika dunia ini dongeng seperti kisah kakek tua yang dibantu para kurcaci membuat sepatu, aku akan percaya jika saja tidak ada pilihan selain mempercayainya namun bedanya tidak seperti dongeng sepatu itu tapi speaker.
Seakan itu mungkin!
Aku menghela dengan pikiranku yang konyol itu membuatku tertawa sendiri.
"Aku sedang melakukan koneksi," jawab Fard pada Haku.
Aku mempertajam pendengaranku.
"Sama sekali tidak perlu memakai selubung bukan," delik Haku.
"Heh, seakan kau tidak tahu saja nasibku tadi ditempat pengisian bahan bakar itu, aku berjumpa mereka tahu," ucap Fard membela diri.
Mereka terdiam begitu juga aku yang semakin mempertajam pendengaranku.
Entah berapa lama mereka terdiam, hanya sayup-sayup suara komentator bola terdengar dari siaran televisi.
"Datuk mana?" tanya Fard.
"Dia itu kakekmu Fard," kata Haku seakan tidak percaya.
Kakek? Sejak kapan Fard jadi cucu ayahku, lagipula usia Hiashi baru menginjak kepala empat. Itu bukan usia ideal untuk seorang cucu –menurutku.
"Tidak, secara adat dia datuk, walaupun dia kakekku," ucap Fard penuh ketegasan.
Aku tidak tahu Fard memegang adatnya.
"Ya, ya. Tapi kau melekat pada bibimu sendiri," kata Haku dengan nada sedikit mengejek.
Fard terdiam sebentar.
"Secara adat ya, tapi usianya tiga puluh tahun dibawahku," ketegasan terdengar dari suaranya.
Apa maksud Fard? Bukankah hanya dua tahun setengah perbedaan usianya dengan Hanabi.
Aku bingung dengan itu.
"Lagipula kita tidak mengetahui siapa imprint kita dan ini bagai benjana takdir yang harus segera terpenuhi," suara itu kembali berdentang dengan nyalinya yang seperti biasanya.
Aku tidak tahu dia dapat senyali itu untuk berbicara dengan Haku yang menggunakan nada formal tersebut. Kalau aku yang diperintahkan untuk itu pasti sudah angkat tangan deh.
"Ada apa?" tanya Fard lagi.
"Ryan hampir menjadi tas kulit tahu karena kau, untung saja Hiashi pergi dengan jetnya malam tadi," jawab Haku.
Jet? Ayahku punya jet! Kukira dia tidak sekaya itu.
"Apa?" ucap Fard tidak percaya.
Ya aku tahu itu, aku juga tidak percaya bahwa ayahku memiliki jet pribadi.
"Kau akan ketempat Immanuel sekarang, dia berada di situasi genting karena ancaman dari lintah," perintah Haku.
"Baiklah, kau pergi kemana?" tanya Fard.
"Kawanan di Vietnam," jawab Haku.
Wow. Ini adalah liburan untuk ketiga orang itu.
Lalu aku tidak mendengar lagi obrolan antara mereka berdua, hanya gerakkan mereka dan suara pintu yang dibuka –pasti mereka ke kamar untuk bersiap-siap. Apa yang terjadi ini? aku menghela nafasku. Mereka tidak datang kembali ke rumah lagi, aku tahu itu. Karena pintunya tidak dibuka kembali untuk pergi membawa mobil atau sejenisnya. Jadi mereka akan pergi memakai apa? Hanya jalan kaki saja ke bandara, itu tidak mungkin jarak dari sini ke bandara sekitar sembilan puluh kilometer memerlukan waktu sekitar dua jam jika dalam kecepatan normal ke bandara dan akan menempuh seharian penuh untuk jalan sampai ke bandara. Cukup aneh bukan. Aku harus menenangkan pikiranku terlebih dahulu dengan pikiran yang aneh-aneh, memasak kayaknya bagus.
...
Tiga fakta yang aku dapatkan dari kejadian 'kencan' kemarin dari Naruto:
Naruto entah mengapa seperti sangat membutuhkanku diriku, bahkan kami tidak pernah bertemu seumur hidupku atau kehidupanku yang lalu.
Ada sebagian dari diri Naruto yang sangat menginginkan darahku seperti barang yang menggiurkan ketika sedang sale.
Entah mengapa aku melekat dengannya, aku seperti sangat membutuhkan dirinya disebelahku, rasa sayangnya, belaiannya, senyumannya, aku tahu ini bukanlah rasa cinta seperti apa yang ditulis di novel-novel romantis.
Jadi karena itulah, aku sekarang disini mempersiapkan diriku, untung saja Hanabi telah pergi dengan temannya atau mungkin salah satu teman Kiba. Dan kini, jaket yang sebenarnya sangat tebal itu menyusahkanku di udara sedingin ini.
'Tiin... tiin... tiin...'
Klakson mobil terdengar di depan rumah dengan suaranya yang lantang.
Aku berlari menuju mobil tersebut. Mobil yang bagus terparkir mengalahkan mobilku, tampak Naruto tersenyum lebar kepadaku dengan tenang.
"Hai lavender!" sapa Naruto.
"Jangan panggil aku begitu Naruto," ucapku malu dengan semburat merahku ku yakin.
"Ayo kalau begitu, sekolah telah menunggu untuk terpukau," ajaknya dengan senyuman tiga jari yang tidak pernah ku lihat membuatku mabuk kepayang.
Aku memasuki mobilnya dengan rasa yang penuh dengan perasaan yang berbunga dan menghangatkan hatiku.
...
.
.
TBC
.
.
...
Balasan review:
Bubble bee: hahaha, thanks atas reviewnya.
.
Yang lainnya di PM yah! :)
.
.
Review!
