Baekhyun membungkukkan badannya sesaat sebelum dirinya meninggalkan ruangan dokter. Kakinya melangkah pelan menuju ruangan tempat Sehun di rawat dengan mata yang menatap kosong kearah depan. Ini sangat mengejutkan baginya. Dan… dia tidak tau apa yang harus dilakukan saat ini.

"Selama ini Tuan Oh mengetahui kalau kau bukanlah Nyonya Luhan yang selama ini menemaninya."

Pernyataan yang diucapkan Dokter Lee masih terngiang ditelinganya. Satu kalimat yang mampu membuat dirinya kesulitan bernafas.

"Selama ini Tuan Oh menganggap anda Nyonya Luhan, beliau hanya ingin menghibur dirinya sendiri. Walaupun begitu, Tuan Oh tetap mengetahui diri anda yang sebenarnya."

Selama ini, Sehun… dia mengetahui siapa dirinya sebenarnya. Kenapa dia melakukan ini?

"Dapat dibilang kalau Tuan Oh berusaha mengubur Nyonya Luhan dan melupakannya. Walaupun hal tersebut sangat sulit dilakukan olehnya. Karena bagaimanapun nama Luhan terus diucapkan olehnya dan yang selama ini menemani Tuan Oh adalah anda."

Apa alasannya? Benarkah Sehun ingin melupakan Luhan? Tapi… kenapa harus seperti ini? Kenapa Sehun membuat dirinya selalu berbohong? Apa yang sebenarnya terjadi?

"Alasan mengapa Tuan Oh merasa sakit saat melihat Nyonya Luhan, karena alam bawah sadar dirinya menolak kehadiran Nyonya Luhan. Sehingga alam bawah sadarnya memberontak hingga menyakiti dirinya sendiri."

Baekhyun tidak mengerti lagi. Ini sangat mengejutkan baginya. Ini semua tidak pernah terpikirkan olehnya.

Tapi…

Akankah setelah ini dia tidak perlu berbohong lagi?

Lalu…

Apakah setelah ini dia akan tetap bersama dengan Sehun?

Chanyeol

Satu nama yang terlintas dipikirannya membuat langkahnya semakin cepat menuju kamar inap yang ditempati oleh Sehun.

.

Kang Seulla Present

COMEBACK (LIE)

BYUN BAEKHYUN (GS)

PARK CHANYEOL

OH SEHUN

XI LUHAN (GS)

Summary

Baekhyun tau kalau hidupnya benar-benar penuh dengan kebohongan. Mengajarkan anaknya untuk berbohong. Walaupun begitu, dia tetap bahagia diatas kebohongan ini. Tapi semua berubah saat seseorang berucap "Aku kembali."

.

Cerita ini murni hasil pemikiran Seulla. Jika ada kesamaan itu tidak disengaja

.

Happy Reading~

.

.

.

oOo

.

KRIET

Baekhyun mendorong pintu kamar inap yang ditempati Sehun kemudian berjalan pelan mendekati si lelaki yang tengah duduk bersila di atas ranjang. Televise yang menyala hanya menjadi sebuah alat agar ruangan tersebut terdengar ramai. Padahal sang pemilik ruangan sama sekali tidak menaruh perhatiannya pada enda persegi itu.

"Sehun…"

Iris mata tajam Sehun melirik kearah Baekhyun yang duduk disampingnya. Maniknya dapat melihat dengan jelas si wanita yang menghela nafas sesaat setelah dia mendudukkan dirinya.

"Kenapa? Jelaskan padaku."

Sehun mengambil remote televise yang berada disampingnya, kemudian mematikan benda persegi yang tengah menampilkan kartun pagi Disney. Dia mengerti kemana arah pembicaraan Baekhyun saat ini.

"Kenapa kau bertanya lagi?" manik tajam Sehun menatap kearah manik menggemaskan Baekhyun yang menatapnya bingung. "Okay. Pertama, aku ingin meminta maaf karena aku membohongimu…" tangannya terulur untuk menggenggam lembut tangan Baekhyun.

"Saat pertama kau datang lalu berkata bahwa kau… Luhan, aku sudah tahu kalau kau bukanlah istriku…" ibu jari Sehun mengelus lembut telapak tangan Baekhyun yang digenggamnya. "Aku hanya… menghibur diriku. Saat itu aku benar sangat tertekan dan tidak dapat berpikir jernih. Aku hanya… mengikuti keinginan dalam diriku."

Baekhyun menarik tangannya dari genggaman Sehun dan menatap tajam kearah lelaki yang masih menatapnya datar. "Lalu jika kau tahu aku bukan Luhan, kenapa kau tetap memanggilku Luhan?"

"Kau belum mengerti?" tangan Sehun kembali menggenggam tangan Baekhyun dan menarik pelan wanita didepannya agar semakin mendekat kearahnya. Baekhyun hanya terdiam saat pipinya dielus lembut oleh lelaki didepannya. "Aku melakukan itu agar kau tidak meninggalkanku…"

"A-apa?"

"Aku takut, jika kau mengetahui ini kau akan pergi. Karena kau tetap bersamaku karena aku yang menganggapmu orang lain…"

Mata sipit Baekhyun melirik kearah kepala Sehun yang saat ini tengah terkulai diatas pundaknya. "S-sehun?"

"Karena itu…" kedua tangan Sehun melingkar di pinggang Baekhyun, menariknya agar semakin mendekat kearahnya. "Kumohon jangan pergi, Baek. Walaupun kau sudah mengetahui kebohonganku."

Baekhyun terdiam tanpa mengucapkan satu katapun. Ia meremas jari-jari tangannya yang berada diatas pahanya. Batinnya berperang saat mendengar permintaan yang diucapkan oleh Sehun. Apa yang harus dia lakukan saat ini? Apa yang harus dia ucapkan saat ini?

"Sehun…"

"Kumohon Baekhyun… tetaplah di sisiku."

Dekapan Sehun semakin menguat. Lelai itu menggelamkan wajahnya pada ceruk leher Baekhyun, menghirup dalam-dalam wangi strawberry yang menguar dari tubuh si wanita. Ia tersenyum saat merasakan sepasang tangan Baekhyun membalas pelukkannya. Kemudian memejamkan matanya saat merasakan kepalanya di belai lembut oleh jari-jari lentik milik Baekhyun.

"Aku… aku tidak akan meninggalkanmu, Sehun."

Setelah itu sebuah senyuman puas terlukis diwajah tampan milik Sehun. Dia tau, dia selangkah lebih depan saat ini. Tapi dia selalu berharap kalau dirinya lah sang pemenang diakhir.

.

.

.

Chanyeol tersenyum cerah saat kaki panjangnya melangkah memasuki sebuah café yang terlihat cukup ramai pada siang ini. Sebuah bucket bunga mawar berwarna merah berada pada genggaman tangan besarnya, sesekali dengan senyuman ia akan menghirup harum bunga tersebut.

Matanya mengedar ke segala sudut café tersebut dan tersenyum saat melihat seorang wanita yang sedari tadi memenuhi pikirannya sedang duduk dikursi paling pojok dengan sebuah ponsel digenggamannya.

Chanyeol melangkah mendekati wanita tersebut kemudian menyembunyikan bucket bunga yang dibawanya dibalik tubuh besarnya.

"Hai," tangannya terjulur menyerahkan bucket bunga yang dibawanya kemudian mencium pipi si wanita dan mengambil tempat duduk disampingnya. Dia terkekeh saat melihat wajah terkejut yang ditunjukkan Baekhyun. "Serius sekali, hm?"

Baekhyun menatap kearah lelaki yang saat ini tengah duduk disampingnya dan menatap bunga yang diberikan untuknya secara bergantian. "Untukku?"

Si lelaki mengangguk dengan senyum lebarnya. "Tentu sayang, untuk siapa lagi memangnya."

Baekhyun mengambil bucket bunga tersebut kemudian menaruhnya pada sisi kosong meja didepannya. "Terima kasih," setelah itu dia hanya duduk diam menatap kumpulan bunga mawar yang berada didepannya.

Chanyeol menatap bingung kearah Baekhyun yang terdiam dengan wajah datarnya. Ia melingkarkan tangannya pada pinggang ramping Baekhyun, tapi tersentak saat tubuh si wanita menggeliat dan menyingkirkan tangannya.

"Hei, ada apa Baek?"

Si wanita hanya diam dengan tangan yang meremas jari-jemarinya. Kepalanya menunduk, menyembunyikan wajah ragunya. Bibir tipisnya mulai memerah karena dia terus menggigitnya.

"Chanyeol…" satu suara serak Baekhyun membuat si lelaki tersenyum kecil dan menatap kearah wanita yang masih menundukkan kepalanya. "Kita akhiri saja."

JDER

Bagai sambaran petir, kalimat yang keluar dari bibir Baekhyun benar-benar membuat Chanyeol berhenti bernafa. "A-apa?"

"Kita akhiri saja Chanyeol. Aku tidak bisa seperti ini. Aku merasa bersalah dengan Sehun."

Satu nama yang membuat emosi Chanyeol meningkat, dan karena itu Baekhyun sengaja membawa satu nama itu kedalam pembicaraan mereka.

"Jangan ucapkan nama itu jika kita sedang berdua, Baekhyun."

"Kenapa? Dia suamiku."

Chanyeol menatap tajam kearah Baekhyun, sedikit terkejut saat si wanita balas menatapnya tidak kalah tajam. Ia menghela nafasnya kemudian menetralkan ekspresi wajahnya. Tangannya terangkat untuk mengelus surai kecoklatan Baekhyun. Tapi sekali lagi tangannya ditepis oleh Baekhyun.

"Ada apa Baek? Kenapa kau seperti ini?"

Suasana kembali hening, Baekhyun kembali menghindari tatapan Chanyeol dan lebih memilih menatap jari-jarinya yang saling meremas.

"Sehun selama ini sudah mengetahui siapa diriku. Dia tahu kalau aku adalah Baekhyun, bukan Luhan…" Chanyeol memilih diam mendengarkan perkataan Baekhyun. Walaupun saat ini dirinya sudah merasa sesak. "Karena itu, aku tidak ingin melanjutkan hubungan kita."

"Kau lebih memilih dia?"

Baekhyun mengangguk mantap. Dia kembali menoleh kearah Chanyeol kemudian menggigit bibirnya saat melihat tatapan terluka yang ditunjukkan si lelaki. "Aku dan Sehun akan menikah-"

Ucapan Baekhyun terhenti saat kedua tangan Chanyeol memegang lengannya dan membuat mereka saling berhadapan. Dia meringis pelan saat merasakan cengkraman Chanyeol. "Aku juga akan menikahimu, Byun Baekhyun." Perkataan Chanyeol penuh dengan penekanan. "Dan aku tidak main-main dengan perkataanku."

"Aku juga tidak main-main dengan perkataanku, Park Chanyeol. Aku dan Sehun akan menikah secara resmi. Aku lebih memilih Sehun dibandingkan dirimu. Dan lupakan apa yang kita lakukan sebelumnya, anggap kita tidak pernah bertemu kembali. Lalu satu lagi, asal kau tau aku tidak pernah mencintaimu lagi. Kau hanya… sebagai pelaianku. Saat itu aku hanya takut kalau Sehun akan meninggalkanku jika dia bertemu dengan Luhan. Tapi sekarang, kenyataannya Sehun lebih memilih diriku dan jelas aku lebih milihnya."

Chanyeol menatap kearah Baekhyun dengan tatapan penuh luka. Cengkramannya pada lengan Baekhyun terlepas begitu saja. "Baek…"

"Jangan merasa sangat tersakiti Park Chanyeol. Ingat kau dulu juga meninggalkanku."

Satu kekehan keluar dari celah bibir Chanyeol. Lelaki itu menatap tajam kearah Baekhyun, walaupun luka tidak hilang dari tatapannya. "Kau yang pergi tanpa mendengarkan penjelasanku, Baek. Kau-"

"Jadi kau menyalahkanku?!" nada yang dikeluarkan Baekhyun meninggi, bahkan wanita itu memukul pelan meja di depannya. Sedangkan Chanyeol hanya diam, terkejut dengan reaksi yang diberikan Baekhyun. "Sekarang kita selesai, Chanyeol. Aku tidak ingin bertemu denganmu lagi."

Keduanya terdiam. Baekhyun menundukkan kepalanya, menatap lantai dibawahnya. Sedangkan Chanyeol masih menatap sendu kearah wajah Baekhyun yang memucat. Dia mengerti, ini semua diluar keinginan Baekhyun. Chanyeol dapat menangkap wajah ragu Baekhyun beberapa kali saat wanita itu ingin bicara dengannya.

"Baekhyun," tangan Chanyeol terangkat untuk menarik dagu Baekhyun hingga wanita itu menatap dirinya. Ah, tidak menatap dirinya, tapi manik cantik Baekhyun melirik kearah bawah. "Tatap mataku, Baek. Dan katakan kau tidak ingin bertemu denganku."

Baekhyun memejamkan matanya sekilas, setelah itu dia menatap manik bulat Chanyeol. Dadanya sesak seperti tertimbun beban berat saat menangkap tatapan sedih yang terlihat jelas di mata bulat milik Chanyeol. Tapi setelah itu dia menghela nafasnya kemudian menyingkirkan tangan Chanyeol yang berada diwajahnya.

"Aku…" suaranya bergetar. "Aku tidak ingin bertemu denganmu lagi Park Chanyeol. Aku membencimu."

Baekhyun mengambil tas kecilnya yang berada diatas meja kemudian berdiri dari duduknya. "Aku sudah tidak mempunyai urusan denganmu. Aku pamit, Sehun sudah menunggu diluar."

Chanyeol masih mematung menatap Baekhyun yang mulai melangkah menjauhi dirinya.

"Ah satu lagi," wanita itu kembali membalikkan tubuhnya dan menatap kearah Chanyeol yang masih mematung. "Kau tidak perlu datang kepertunjukkan Jesper minggu depan."

Dan setelah itu, bayangan tubuh mungil Baekhyun hilang dalam pandangan mata Chanyeol saat wanita itu keluar dari café dengan langkah yag cepat. Chanyeol tersenyum miring kemudian mengacak rambutnya asal dan meletakkan keningnya pada meja di depannya.

"Baek… hiks."

Bahkan Chanyeol tidak peduli jika banyak pasang mata yang menatap dirinya iba saat ini.

.

.

.

Lima hari kemudian

Jesper menonton acara kartun didepannya dengan tatapan yang kosong, membuat sang kakek yang tengah memangkunya bingung dengan sikap cucunya yang tidak seperti biasanya. Jesper adalah anak yang hyperactive, dia akan menonton kartun dengan semangat, bahkan akan menirukan tarian ataupun menyanyikan lagu yang terdapat di kartun tersebut.

"Jesper kenapa, sayang?" si bocah hanya menggeleng kemudian memeluk leher sang kakek. Menenggelamkan wajahnya disana, membuat Yunho semakin bingung. Mau tidak mau, lelaki paruh baya itu mengelus lembut surai hitam sang cucu dengan lembut. "Benar, Jesper tidak kenapa-kenapa?" si cucu mengangguk dan semakin menenggelamkan wajahnya pada ceruk leher sang kakek.

Sehun yang baru bergabung dengan ayah dan anaknya menatap heran kearah keduanya. Dia mendudukkan dirinya disamping sang ayah. "Ada apa, appa?"

Yunho menoleh kearah sang anak dan mengangkat bahunya. Sehun menjulurkan tangannya kearah Jesper, bermaksud mengambil sang anak agar berpindah kedalam gendongannya. Tapi respon yang diberikan oleh Jesper mengejutkan dirinya dan juga Yunho. Jesper menolak gendongan Sehun dan menyingkirkan tangannya, kemudian kembali memeluk erat leher sang kakek.

"Jesper ada apa, sayang?" suara bass Sehun mengalun lembut hingga ketelinga Jesper, tapi bocah tersebut tidak mengidahkannya. Dia hanya menggeleng dan semakin memeluk leher sang kakek dengan erat.

"Kakek… Jesper mengantuk."

Yunho terkekeh kemudian mengelus srai hitam cucunya. "Baiklah, kakek antarkan ke kamar-"

"Tidak, Jesper ingin dengan eomma saja."

Yunho yang hendak berdiri kembali menaruh bokongnya diatas sofa dan kembali menatap kearah Sehun. Sehun yang mengerti langsung mengangguk dan berjalan kearah dapur, menghampiri Baekhyun yang tengah mencuci piring bekas makan malam mereka.

Tidak lama, Sehun kembali keruang keluarga dengan Baekhyun yang mengekor dibelakangnya.

"Jesper?"

Mendengar suara sang ibu, bocah kecil itu langsung melepaskan pelukannya pada leher sang kakek dan langsung turun dari pangkuannya. Berlari menuju ibunya dan memeluk kakinya. Baekhyun terkekeh kemudian mengangkat tubuh mungil sang anak kedalam gendongannya. Setelah pamit dengan Sehun dan keluarganya, Baekhyun membawa anaknya memasuki kamarnya yang berada dilantai dua.

Sesampainya dikamar Jesper, Baekhyun menidurkan anaknya diatas kasur kemudian ia ikut berbaring disamping Jesper. Mengelus rambutnya pelan, sesekali menepuk-nepuk bokong Jesper.

"Eomma," Baekhyun hanya bergumam untuk membalas sahutan anaknya. "Jesper rindu Chanyeol-appa…"

Belaian rambut dan tepukkan bokong Baekhyun berhenti saat kalimat tersebut melewati gendang telinganya. Dia menatap kearah Jesper yang tengah menatapnya takut.

"Sudah eomma bilang, jangan mengingatnya lagi."

"Tapi Jesper rindu, eomma. Jesper benar-benar ingin bertemu dengan Chanyeol -appa…"

Baekhyun menghela nafasnya berat. Kedua tangannya menangkup wajah sang anak dan menatapnya lembut namun tajam. "Jesper sudah ada Sehun-appa disini. Jadi jangan pernah mencari Chanyeol-appa. Mengerti?"

Si bocah menggigit bibir bawahnya dan mengangguk singkat. "Jesper mengerti, tapi…"

"Tidak ada tapi-tapian Jesper! Sekarang tidur! Bukannya tadi mengantuk?"

Baekhyun mengutuk dirinya saat nada bicaranya meninggi. Dadanya terasa sesak saat melihat air mata yang jatuh dari mata sipit anaknya dan isak tangis yang menyayat hatinya. Dengan cepat dia memeluk tubuh mungil sang anak dan mencium lebut pucuk kepala Jesper. Membisikkan kata maaf dengan mengusap punggung si bocah, memintanya agar berhenti menangis.

Beruntung tidak ada penolakan dari Jesper, dan anak itu tidak menangis berlebihan. Baekhyun mengerti, betapa rindunya Jesper pada Chanyeol. Tapi dengan kejamnya, dia menyuruh sang anak agar melupakan ayahnya, ayah kandungnya. Dia benar-benar ibu yang kejam, memisahkan anak dan ayahnya. Sejujurnya dia juga sangat merindukan Chanyeol. Memeluk lelaki tinggi itu, mendengar suaranya, menghirup aroma tubuhnya. Tapi… dia tidak bisa meninggalkan Sehun, bahkan dia tidak tahu apa alasannya.

"Chan…"

"Baekhyun?" sebuah suara memaksa dirinya untuk menoleh cepat dan terkejut saat melihat sosok Sehun yang tengah berdiri tidak jauh dari ranjang kecil milik Jesper. "Apa Jesper sudah tidur?"

Baekhyun menatap bocah yang tengah terlelap dipelukkannya dan tersenyum simpul. Dia kembali menatap kearah Sehun dan mengangguk. Dengan gerakan yang pelan dia mulai turun dari ranjang milik Jesper dan berdiri disamping tubuh tinggi Sehun.

"Ada apa?"

Baekhyun tersentak saat tangan Sehun melingkar dipinggangnya dan menarik dirinya agar tubuh keduanya saling menempel. Manik sipitnya menatap bingung kearah lelaki didepannya yang saat ini tengah mempertemukan kening mereka.

"Aku merindukanmu, Baek."

Baekhyun terkekeh kecil. Dia melingkarkan kedua tangannya pada leher Sehun dan mengusap pelan bagian belakang rambut Sehun. Dia masih sedikit 'aneh' saat namanya disebut oleh Sehun. "Aku juga meindukanmu."

Setelah mengucapkan kalimat tersebut, Baekhyun dibuat bungkam karena Sehun menyatukan bibir mereka. Menekannya lembut, menyesapnya pelan. Mau tidak mau, Baekhyun ikut menikmati pagutan yang diciptakan oleh Sehun. Ia mulai memejamkan matanya dan membalas lumatan-lumatan pelan pada bibir Sehun. Celah bibirnya terbuka saat lidah Sehun menyapa bibirnya.

Sehun semakin mempererat pelukkannya pada pinggang sempit Baekhyun. Membawa tubuh mereka semakin menempel. Pagutannya pada bibir Baekhyun semakin menuntut, apalagi saat wanita itu mulai menghisap pelan lidahnya. Tidak mau semakin berbuat jauh, dengan terpaksa Sehun melepaskan pagutannya dan diakhiri dengan kecupan singkat dikening Baekhyun. Ibu jarinya terangkat untuk mengelus lembut pipi tirus Baekhyun dan tersenyum saat melihat wanita didepannya terengah.

"Ayo turun, keluargaku ingin membicarakan perihal pernikahan kita."

Baekhyun menatap kearah Sehun dan mengangguk dengan senyum 'riang'nya. Mata sipitnya terus mengawasi gerak-gerik Sehun yang mendekati ranjang Jesper dan mencium kening putranya dengan sayang. Setelah itu, ia berjalan keluar kamar Jesper mengikuti Sehun yang sudah keluar mendahuluinya. Setelah sebelumnya menatap sendu kearah ranjang sang anak yang tengah tertidur.

.

.

.

Baekhyun tidak tahu, apa masalah dirinya dengan Seulgi sehingga sahabatnya ini harus menariknya kehalaman belakang taman kanak-kanak Jesper. Apalagi wajah perempuan itu benar-benar menyeramkan. Mata kucingnya menatap nyalang kearah dirinya.

"Hei, ada apa?" Seulgi tidak menjawab pertanyaannya, melainkan semakin menatap tajam kearahnya. "Jangan menatapku seperti itu."

"Baekhyun…" mata sipit Baekhyun berkedip bingung saat namanya di panggil oleh Seulgi. Dia bergumam untuk sekedar membalas panggilan itu. "Apa yang kau lakukan pada anakmu sendiri, hah?"

"Maksudmu?"

Wanita bermata kucing itu menghela nafasnya dan menatap sebal kearah wanita bermata puppy yang tengah menatapya bingung. "Kenapa kau menjauhkan Jesper dari Chanyeol?"

Tatapan bingung Baekhyun berubah menjadi tatapan sendu. Wanita itu menundukkan kepalanya dan menatap batu-batu kerikil yang berada ditanah tempatnya berpijak. Membicarakan Chanyeol merupakan sebuah kelemahan baginya. Hanya mendengar namanya saja, dadanya terasa sesak. Mengingat dirinya yang sudah dengan kejamnya mencampakkan lelaki itu dan menyakitinya. Lalu memisahkan lelaki itu dengan Jesper, anak mereka.

"Memang seharusnya begitu… aku akan menikah dengan Sehun."

"Kalau begitu, kenapa kau mempertemukan mereka? Lalu, kenapa kau menjalin kasih dengan Chanyeol?"

"Aku tidak tahu kalau hal ini terjadi. aku-"

Kalimat Baekhyun terpotong saat Seulgi mengangkat tangannya didepan wajahnya. Memerintahkan dirinya agar berhenti berbicara. Dadanya semakin sesak saat melihat kilatan kekecewaan dari mata kucing wanita yang sudah ia anggap sebagai saudaranya.

"Aku mengerti dengan alasan itu Baekhyun, siapa yang menyangka kalau Sehun selama ini mengetahui identitasmu. Tapi, aku benar-benar kecewa terhadapmu. Kau boleh meninggalkan Chanyeol dan menikah dengan Sehun. Tapi kau tidak seharusnya memisahkan Jesper dengan ayahnya!"

Baekhyun menarik nafas dan menahannya sekilas, dirinya hendak berbicara tapi kalimatnya seakan tersangkut di tenggorokannya. "Seulgi-"

"Cukup. Aku tidak mau mendengarkan apapun…" wanita bermata kucing itu tersenyum miring dan menatap kecewa kearah Baekhyun. "Kau telah membuat anak kesayanganmu menjadi murung. Aku sangat kecewa, Baek."

Setelah mengucapkan itu, wanita bermata kucing itu langsung membalikkan tubuhnya meninggalkan Baekhyun yang terdiam tanpa mengucapkan satu katapun. Manik puppy milik Baekhyun memandang sendu kearah punggung Seulgi yang semakin menjauhinya hingga bayangan wanita tersebut menghilang dibalik bangunan sekolah.

Perlahan tubuh mungil Baekhyun merosot hingga wanita itu duduk dengan memeluk tubuhnya diatas tanah berbatu kerikil kecil. Ia menenggelamkan wajahnya pada lipatan kakinya, meredam isak tangisnya yang keluar tanpa dapat ia cegah.

Kenapa dirinya dapat menjadi sebodoh ini?

"Hiks…"

Kenapa dia lebih memikirkan egonya dibandingkan perasaan orang-orang yang menyayanginya?

"Chanyeol…"

Bahkan satu nama itu yang selalu diingatnya. Nama yang sudah ia sakiti, dia tinggalkan. Bukan nama yang membuat dirinya menjadi sebodoh ini.

.

.

.

Bersambung

.

.

.

A/N

Hallo~ gimana Chapter ini? Jujur, entah kenapa mood buat ngetik ff turun drastis. Dan alhasil, chapter ini menurutku chapter yang paling hancur dibandingkan chapter-chapter lainnya. Aku mohon maaf buat kekecewaan kalian yang udah nunggu chapter ini dan malah hancur begini. Tapi mohon dimaklumi ya. Seulla bakal berusaha membangun lagi mood buat bikin ff lagi.

Disini Seulla juga bakal kasih satu kabar baik. Kalau chapter depan adalah Chapter TERAKHIR dari ff ini~ ga nyangka bakal buat ff sepanjang dan serumit ini. Maaf juga kalo konflik terlihat pasaran u,u padahal niatnya Cuma mau bikin 8-10 chapter.

Dan mohon maaf buat yang minta diperpanjang lagi cerita setiap Chapternya Seulla gabisa kabulin(?) soalnya pernah ada pengalaman, ngetik panjaaaaang dan alhasil pada bosen sama cerita itu. Jadi daripada ngulang kesalahan yang sama, Seulla lebih suka ngetik yang singkat but menyeluruh. Intinya gitu sih(?) walaupun aku nyadar kalo tulisan aku ini masih perlu perbaikan. Dan kalimat yang aku susun juga ga bagus. Seulla bakal belajar lebih banyak buat kalian^^

Selain itu, ada kabar buruk karena untuk ff My Father, My Obsession kemungkinan besar akan Seulla hapus, karena diff itu banyak yang kurang suka. Tapi bisa aja ff itu dipending dulu(?) dan akan dilanjutkan entah kapan-_- untuk ff yang lain akan diupdate sesuai jadwal yang Seulla buat sendiri(?) gamau janji-janji soalnya ada kesibukan yang mendadak.

LAST! Makasih banyak buat yang setia sama cerita-cerita Seulla dan selalu mendukung^^ love u so much! Lopyupul lah muah.

REVIEW? Thank you^^