Disclaimer : Naruto milik Masashi Kisimoto

.

.

.


Jreennggg ckiitttt

Aku berhenti tepat di depan polindes dengan nama 'Polindes Midori' di papannya. Sebuah papan nama yang pernah ku duduki untuk melindungi diriku dari rintik-rintik hujan dulu.

Aku tak langsung turun, hanya diam saja memandangi tempat ini. Berbeda sekali kelihatannya kalau malam hari. Banyak gelapnya. Tak terlalu banyak kehidupan di sini, baru jam delapan begini sudah agak sepi. Tapi memang itu yang aku butuhkan.

Beberapa lamanya aku hanya diam saja, menatap sebuah tempat duduk yang ada di seberang jalan. Tempat biasa yang menjadi tongkronganku ketika aku sedang menunggu gadis itu. Ya, kenangan yang indah. Penuh dengan canda tawa kami.

Aku tersenyum, kemudian turun dan duduk membelakangi papan nama ini pada salah satu kakinya. Entahlah, rasanya agak menyedihkan membayangkan angan-angan remaja itu tak seperti yang diharapkannya.

Beberapa lamanya aku merenung. Pada satu titik pandanganku terpaku. Ku pandangi baik-baik gerbang polindes itu. Lalu pikiranku sekonyong-konyong kembali pada waktu itu, ketika gerimis berjatuhan dari atas langit, dan tepat di sini aku menunggu dengan gelisah. Dan di sanalah dia berdiri, mengangkat tangannya sambil memanggilku.

Mendadak terbetik dalam hatiku sebuah keinginan untuk menelpon gadis itu. Bagaimana pun juga dia adalah pemeran utama pada setiap adegan yang terjadi di tempat ini. Ku keluarkan ponselku dan menelponnya. Tapi panggilanku direject. Sangat mengecewakan.

Tetapi tiba-tiba aku tersentak manakala ku sadari ada sesosok orang yang berdiri di sebelah kananku. Dan aku menengok, ada seorang gadis cantik dengan rambut merahnya yang panjang dikuncir ke belakang, berdiri sambil tersenyum memandangku. Muncul suatu ingatan di pikiranku tentang seorang gadis cantik yang menjadi teman Hanabi.

"Hai," sapanya. Ah, aku hampir-hampir tak ingat kalau ada gadis lain yang pernah ku kenal selain Hanabi yang tinggal di sini.

"Sara?" tanyaku.

"Kau tak mengingatku? Itu jahat sekali. Seharusnya sebagai teman curhat kau tak melupakanku" rajuknya. Lalu duduk di sebelahku.

"Ah! Maafkan aku. Aku benar-benar lupa kalau kau juga tinggal di sini... Hiii..." aku tersenyum paksa dan agak merasa bersalah.

Wajahnya berubah cemberut. Kemudian memeluk ke dua lututnya. "Kau payah. Padahal aku sama sekali tak melupakanmu. Malah sering memperhatikanmu duduk sendirian menunggu Hanabi."

"Benarkah?" kataku dengan alis mengernyit. "lalu mengapa kau tak menyapaku waktu aku lewat di depan rumahmu?"

"Tidak, terima kasih." tolaknya. "tentu saja, aku takkan melakukan hal itu. Maksudku bukan perempuan yang harus menyapa duluan."

"Hah," aku mendesah sambil menyandarkan punggungku di kaki papan nama di belakangku. "gengsimu kebanyakan." sindirku.

Tak ada jawaban, aku pun bertanya, "Kenapa kau ke luar malam-malam begini?"

"Memangnya tidak boleh," jawabnya ketus. "lagi pula rumahku hanya dua puluh meter di belakang."

"Kau sudah makan?" tanyaku mengalihkan obrolan.

"Sudah." jawabnya singkat. Kami terdiam selama beberapa menit. Dan bosan juga kalau diam-diaman seperti ini.

"Bagaimana kekasihmu?" tanyaku basa basi.

Tak ku sangka, setelah mengucapkan itu, ekspresinya berubah. "Berakhir. Dia bukan tipeku. Juga bukan orang yang ku sukai. Aku hanya terpaksa menerimanya," ujarnya dengan wajah sendu. "mungkin awalnya ku pikir menerimanya bisa membuatku melupakan seseorang. Tapi ternyata yang ku lakukan malah membuatnya terluka,"

Kata terakhirnya tersebut membuatku tersentak. "Apa yang terjadi?"

"Aku telah mencintai orang lain...," katanya dengan lemah. Entah kenapa dadaku bergejolak. Orang yang ada do ceritanya tersebut mengingatkanku pada diriku.

"Seharusnya kau bisa mencoba untuk memberikannya waktu dan kesempatan," ucapku dengan suara yang agak tinggi. "karna kau tak mengetahui seberapa sakitnya menjadi orang yang tak dicintai."

Dia mengangkat wajahnya, menatap langsung ke arah mataku. Aku melihat suatu kesakitan dalam pandangan matanya yang berkaca-kaca. "justru karna aku mengerti, aku tidak ingin menyakitinya lebih lagi."

"Lalu untuk apa kau menerimanya dari awal jika hanya memberinya harapan palsu?"

"Kau tidak adil," dia membantah. Lalu melanjutkan. "kau hanya mau mengerti orang itu, tapi sama sekali tak mau mengerti keadaanku!"

"Tapi―"

"Cukup!" dia memotong. "tidak usah diperpanjang lagi." dia bangkit, bersiap-siap untuk pergi. Aku segera menggenggam tangannya untuk menghentikan keinginannya.

"Tunggu, Sara." dia melawan, aku mengeratkan genggaman tanganku.

"Maafkan aku... Aku terbawa emosi tadi." kataku dengan lembut. Pelan-pelan perlawanannya pun mulai melemah.

"Kau tak perlu memasukkannya dalam hati. Tadi itu aku mengatakannya karna apa yang menimpa orang itu sama seperti yang menimpaku."

Dia tampak terkejut. Sedetik kemudian dia menatapku dengan pandangan bertanya-tanya. "Maksudmu?"

Aku pun melepaskan genggamanku dari tangannya dan menghela napas. "Ya, aku juga mengalami hal yang sama dengan orang itu."

"Aku tidak mengerti. Terangkan apa maksudmu itu?"

"Hanabi tak pernah mencintaiku. Selama ini dia mencintai orang lain. Perasaannya sedikit pun tak pernah berpaling padaku. Dia masih mencintai kekasih lamanya."

cieee yang curhat-curhatan. :v :v :v :v

"Aku semakin tidak mengerti."

Aku menatapnya lagi. Setidaknya aku sedikit lebih lega. "Payah...," sindirku sambil menatapnya malas. "intinya cintaku bertepuk sebelah tangan..."

Tiba-tiba dia memukul lenganku. "Aduh!" aku memegang lenganku sembari menatapnya.

"Jangan mengejekku," katanya, kemudian menyandarkan bahunya di papan nama sambil bersidekap. "lalu bagaimana hubunganmu dengan dia sekarang?"

Aku mengangkat bahuku. "Aku tak tahu."

"Dia bodoh bukan? Mencintai sesuatu yang sudah tak digenggamnya."

"Hah... Sama sepertimu."

"Sepertimu juga,"

"Lalu," aku mengalihkan pembicaraan. "bagaimana dengan orang yang kau cintai itu?"

"Entahlah," katanya. "dia tak pernah tahu."

Dahiku mengernyit. Heran dengan apa yang dia ungkapkan. "Maksudmu?"

"Aku hanya memandanginya dari kejauhan, melihatnya duduk sendirian dengan gelisah... Aku tak pernah punya kesempatan untuk mengungkapkan perasaanku padanya. "

"He?" aku menjadi bertambah heran. "kenapa kau tak mencobanya?"

Ekspresinya tiba-tiba berubah serius. Matanya yang tajam tepat terarah ke padaku. "Sekarang aku tanya."

"A-apa?" tanyaku dengan gugup. Karna tatapannya yang serius itu.

"Apa yang akan kau lakukan jika sekarang ada yang mengungkapkan perasaannya padamu saat kau sudah mencintai orang lain?"

Aku agak kaget mendengar pertanyaannya. Beberapa detik aku berpikir. "Hah... Entahlah... Aku belum bisa sepertinya."

"Kau sendiri sudah menjawabnya."

"Ya," jawabku. Setelah itu tak ada pembicaraan lagi.

Kring! Kring!

Ponselku berbunyi. Menengahi keheningan di antara kami. Aku pun berdiri dan mengeluarkan ponselku dari saku celanaku.

"Ya, Halo?"

"Maaf tadi Hana reject. Ada kakak di sini,"

"Oh, tidak apa-apa. Hana sedang apa sekarang? Bagaimana sakitnya Hana?"

Gadis di sebelahku tiba-tiba menginterupsi. "Aku pulang dulu." tapi segera ku pegang tangannya.

"Jangan pergi dulu," pintaku.

"Kau sedang sibuk." ujarnya dingin.

"Tidak. Kau lihat sendiri aku tidak melakukan apa-apa."

"Kau sedang bicara dengannya. Aku takut mengganggumu."

"Sama sekali tidak mengganggu. Lagi pula aku tak punya teman di sini."

"Halo, kak. Bicara dengan siapa?"

"Oh, eh. Maaf Hana. Aku sedang bicara dengan Sara." jawabku tanpa melepaskan pegangan tanganku dari Sara.

"Loh? Memangnya sekarang kakak ada di mana?" tanyanya dengan suara nyaring.

"Di depan Polindes di kampung Hana." jawabku.

"Lagi apa di sana, kak?"

"Tidak apa-apa. Kakak hanya duduk sendirian. Ingin lihat-lihat sekalian bernostalgia dengan tempat―"

Tuth tuth

Sebelum aku menyelesaikan kata-kataku dia sudah mengakhiri duluan panggilannya.

"Kau lihat 'kan?" kataku sambil memasukkan ponselku ke dalam saku jaketku.

"Apa?"

"Dia memutuskan sambungannya secara sepihak. Sekarang ayo temani aku duduk sampai aku puas,"

Seulas senyum pun tampak pada wajah pucatnya. Seraya bersikap cuek dia berkata, "Entahlah... Mau sampai kapan? Nanti orang tuaku mencariku."

"Ya sampai orang tuamu mencarimu."

"Lalu siapa yang akan menemanimu?"

"Mungkin tidak ada. Ku rasa aku akan sendirian di sini setelah kau pergi."

"Begadang itu tidak baik untuk kesehatanmu, tampan." katanya menasehati.

"Ah. Kau patut diberi penghargaan atas pujianmu itu karna kaulah orang pertama yang menyebutku tampan, meski ku ragukan ucapanmu itu."

"Terima kasih," ucapnya. "kenapa harus di sini? Kita bisa ke rumahku dan bicara sepuas hati sampai kapan pun maumu di sana." dia mengundangku.

"Oh. Tawaran yang baik, nona. Tapi aku ini pemalu, dan mungkin lain kali saja. Lagi pula aku ingin menghabiskan malamku di sini bernostalgia dengan tempat ini. Ya, meski bukan bersama Hanabi, namun ku rasa kau sangat tepat berada di sini di saat seperti ini..." aku tersenyum bercanda seraya membalas tatapan matanya.

Selang sesaat kemudian dia membuka suara setelah diam beberapa detik lamanya. "Kita akan melakukan apa di sini? Ku harap bukan hal yang aneh-aneh." dahinya mengernyit memandangku.

"Mengapa kita tidak mulai saja dari nona cantik di dekatku ini? Mari kita dengarkan cerita tentang orang yang dicintainya itu."

"Hahahaha... Kau terlalu berlebihan." dia duduk diikuti aku.

"Ayo mulai,"

Dia berkata, "Aku tak tahu harus mulai dari mana, tapi akan ku usahakan lebih singkat" dia berhenti, lalu menyandarkan pelipis kirinya di ke dua lututnya dan wajahnya menghadap padaku. "dia punya mata yang indah, seumpama lautan biru yang terbentang luas atau bisa saja perumpamaan seperti langit biru. Selalu memancarkan keindahan dan kelapangan. Rambutnya seperti kilau keemasan yang menyala layaknya matahari. Tubuhnya tegap bagai dinding, tegak dan kokoh tak tergoyahkan..."

Ku rasa dia sedang teler, atau bodoh. Tidak ada yang terbayang dalam benakku kecuali sebuah tempat indah. Ada pantai dengan lautan biru, lalu ada matahari, lalu ada dinding, apa yang dia maksud itu pulau ya? Semua ungkapan yang dikatakannya kedengaran aneh sekali di telingaku.

Aku mengedipkan mataku, barangkali dia sedang berhalusinasi, pikirku. Tapi cara dia bercerita dan tatapannya padaku itu membuatku sedikit terhibur.

"...pertama kenal dengannya melalu temanku. Waktu itu aku lagi bete jomblo, habis di antara teman-temanku hanya aku saja yang tidak pernah pacaran. Bukan berarti aku ini tidak laku, tapi aku ini orangnya agak pilih-pilih. Yang pedekate sih banyak, tapi rata-rata semuanya membosankan, kebanyakannya tukang kritik, tukang nasehat, tukang gaya, dan yang paling banyak itu tukang mimpi..."

Dia sedang menyindirku 'kah? Hampir-hampir semua sifat laki-laki yang dia sebutkan itu ada dalam diriku. Ngajak berantem kayaknya ni bocah.

"...akhirnya aku mau menerima saran dari salah seorang dari temanku untuk berpacaran dengan mantannya. Yah, awalnya cuma dari pesan dan panggilan ponsel saja. Huh, aku malah dapat tukang curhat. Dan semua isi curhatnya itu yang dia bicarakan cuma temanku itu. Agak kesal juga awalnya, tapi lama-lama aku sering merasa terhibur dengan cara bicaranya yang konyol. Hal yang sebenarnya tampak biasa-biasa saja, kalau dia yang membahasnya jadi luar biasa konyol. Tetapi hal itulah yang membuatku tak pernah merasa bosan jika dia menghubungiku. Kami pun berteman. Pertama kalinya mendengar suaranya yang cempreng, aku berpikir dia itu orangnya jelek, item, dan bibirnya jontor..."

Aku bergidik, dalam benakku muncul sosok makhluk hitam yang sangat jelek rupanya dengan segudang kekurangannya.

"... tapi semua perkiraanku salah...,"

Sepertinya aku harus menghapus sosok makhluk buruk rupa itu.

"...ternyata jauh lebih tampan dari apa yang ku bayangkan. Saat ku lihat dia melewati rumahku, aku langsung jatuh hati padanya. Tapi setelah ku lihat dia berjalan bersama temanku. Hah... Aku agak kecewa. Semula ku pikir bukan keberuntunganku, tapi lama-lama aku mulai merasakan cemburu ketika melihat mereka berjalan di depanku..."

"Wow, menarik." potongku. "lalu kenapa kau tidak menyatakan perasaanmu?"

"Memangnya kau bisa?" tanyanya.

"Aku menyerah. Pandai sekali kau bicara,"

Dia tersenyum. Kami pun terdiam dengan pandangan terkait. Lama kelamaan aku merasa gugup saat dia terus-terusan memandangku.

"A-apa yang kau lihat?"

"Sesuatu yang indah." jawabnya singkat. Aku menjadi bingung dengan yang dimaksudnya. Tatkala aku ingin menanyakan apa yang dimaksudnya, tiba-tiba suara orang berdehem dari dekat kami mengagetkanku.

Aku segera menengok, dan langsung terbengong-bengong melihat Hanabi berdiri di hadapan kami seperti jin yang muncul tiba-tiba dari sebuah botol.

Penampilannya sangat mempesona. Dia mengenakan jaket polos berwarna putih dan rok panjang berwarna hitam. Model rambutnya sebagian diikat ke belakang, bagian depan rambutnya dibiarkan terjuntai sampai ke dadanya. Tapi matanya yang bercelak itu membuatku terheran-heran manakala ku lihat pandangannya yang memperlihatkan kebencian terus menyorot Sara.

"Aku pulang dulu," ucap Sara. Nada suaranya yang tadi lembut berubah dingin. Tanpa persetujuan dari kami dia segera berbalik dan pergi.

"Tunggu, Sara," tapi Sara tetap berjalan cepat sampai bayangannya hilang ketika dia berbelok masuk ke dalam gerbang rumahnya. Aku cukup bingung melihat tingkahnya tersebut.

Sara kenapa jadi aneh begitu, pikirku. Aku mendesah dan berbalik kembali menghadap Hanabi, lalu menyapanya, "Hai,"

Dia menghela napas. Pandangan bencinya redup dan wajah kakunya mengendur. "Sebelum kau datang ke sini, harusnya kau memberitahuku dulu."

"Maaf," sahutku dengan heran sambil mendekatinya. "ku pikir kau tidak akan mau ke luar. Tadi saja waktuku hubungi malah kau reject."

"Ck." dia berdecak. Sungguh tak enak sekali mendengar suara itu.

"Kau marah?" tanyaku. Tak ada jawaban darinya. Dia terus diam beberapa lamanya. Saat itu perasaanku sudah greget sekali ingin memeluknya seerat-eratnya. Tapi tentu aku ini masih tahu diri dengan statusku.

Dia masih juga enggan menjawab pertanyaanku, bahkan memandangku pun tak mau. Deru angin sepoi memecah keheningan yang melanda kami dengan hawa dinginnya. Meski aku sudah berjaket, tapi rasa dinginnya tak mampu menahannya.

"Bagaimana keadaanmu?" aku mencoba bertanya lagi. "Kau masih sakit 'kan?"

Dia mendesah berat, lalu menjawab, "Mau apa malam-malam ke sini?" tanyanya dengan nada mengusir. Mendengar jawabannya yang seolah tak ingin aku berada di sini aku merasa perasaanku serasa tersayat-sayat.

Ku telan ludahku, meski terasa sulit. "Tidak ada," jawabku murung. "hanya ingin mengenang tempat ini saja. Banyak kenangan indah yang terjadi di sini yang ingin ku kenang. Kau tak menyukainya?"

"Kalian bicara apa tadi?" dia mengalihkan percakapan. Dan aku tidak aku mengerti apa yang dia maksud.

"Kalian?" tanyaku kebingungan.

"Siapa lagi kalau bukan kau dan Sara." jelasnya dengan suara yang masih sama seperti sebelumnya.

Aku mengernyitkan dahi. "He? Aku dan Sara?" jawabku. "kami hanya mengobrol biasa saja."

"Bohong!" serunya langsung.

"Benar. Aku tidak bohong. Dia hanya menceritakan orang yang disukainya, hanya seputar itu saja."

"Aku tidak percaya. Semua laki-laki itu pembohong!" bentaknya. Suaranya penuh tekanan dan membuatku jadi bingung.

Aku pun mendekatinya, lalu membungkuk di hadapannya. Dia mengalihkan wajahnya dariku. "Hana...," panggilku dengan lembut, dan memegang lengannya sembari ku tangkup pipinya, lalu ku palingkan wajahnya ke arahku. "sekarang tatap aku." pintaku sengan suara memohon. Dia menundukkan wajahnya menghindariku, tapi segera ku pegang dagunya dan mengangkatnya pelan-pelan menghadapkan wajahnya lagi padaku. Dia menutup matanya rapat-rapat menolak seraya menggeleng beberapa kali. Melihat itu aku pun menarik tangannya dengan perlahan, lalu ku genggam tangannya dan ku angkat sampai menyatu dengan pipiku. Ku elus lembut telapak tangan kecilnya dengan penuh rasa sayang.

"Aku tidak pernah membohongimu, wahai cahaya mataku. Selama ini aku selalu bersikap terbuka padamu dan tak pernah menyembunyikan sesuatu pun padamu..." ujarku sembari ku angkat tanganku memegang pipinya, mengusap-usapnya dengan lemah. Mataku tak berpaling dari kelopak matanya yang tertutup, yang ku harapkan bisa terbuka. Memandangku langsung ke arah mataku.

Mendadak dengan gerakan yang cepat dia memeluk leherku dengan sangat erat dan menyatukan pipinya ke leherku. Menekannya, mengusapnya berkali-kali. Napasnya terdengar menderu dan terasa hangat menerpa kulitku. Maka ku balas ku balas pelukannya, ku lingkarkan ke dua tanganku pada tubuhnya, lalu menariknya mendekat sampai bisa ku rasakan dadanya melekat di dadaku. Hangat tubuhnya dengan sekejap membangkitkan gejolak hasratku. Naik sampai ke ubun-ubunku

Ku benamkan wajahku dalam-dalam ke lehernya, menghirup aroma wangi yang menguar dari tubuhnya. tapi semua itu belumlah cukup mengobati rasa rinduku padanya. Hasratku sangat menginginkannya, menginginkannya menjadi milikku seutuhnya. Apa yang ada pada dirinya telah menjadi candu bagi cinta dalam hatiku. AKu tak menginginkan yang lain lagi, hanya dirinya, hatinya, tubuhnya, semuanya. Bukan cintanya saja, atau pun tubuhnya, tapi ke dua-duanya menjadi milikku.

Ku angkat tanganku, memasukkan jemariku ke celah-celah rambutnya, lalu meremasnya pelan sembari cium lehernya, lalu turun ke pundaknya, kembali ke lehernya, naik ke telinganya. Semua cumbuan itu ku lakukan dengan cepat tanpa terlepas merasakan tiap inci dirinya.

Akan tetapi beberapa lama kemudian, cumbuan itu berakhir. Kami melepas pelukan kami dengan napas tersengal-sengal. Meski berat sekali rasanya.

Aku memandang wajahnya yang tepat berada di hadapan wajahku sambil menangkup ke dua pipinya. "Bagaimana keadaanmu? Bukankah kau sedang sakit?" aku mengulangi pertanyaanku yang tadi seraya ku usap-usap wajahnya. Dia menggelengkan menjawab pertanyaanku.

"Kau bohong. Wajahmu masih tampak pucat." ku menyisir rambutnya. "ayo pulang. Nanti kau tambah sakit lagi."

Dia berkata, "A-aku ingin menemanimu di sini."

"Tidak boleh," larangku. Dia mengedipkan mata lavendernya berulang kali. Aku melanjutkan perkataanku. "ayo pulang. Biar ku antar. Udara malam tidak baik untuk kesehatanmu, nanti kau tambah sakit lagi." tanpa menunggu jawaban darinya, ku pegang bahunya erat-erat, lalu ku bungkukkan tubuhku.

"Eh eh kau mau apa?" aku tak mengacuhkan kata-katanya, dan tetap saja ku lanjutkan aktivitasku. Aku memegang ke dua kakinya erat-erat, lalu ku angkat tubuhnya dan ku gendong dirinya. Beratnya tidak terlalu membebaniku, karna masih lebih berat Karin ketimbang Hanabi. Dia memeluk leherku lagi, lalu menyembunyikan wajahnya di leherku sambil protes dengan suara nyaring, "Jangan mengagetkanku..."

Aku tersenyum dan melangkah santai memasuki gang gelap yang ada di samping polindes ini. Jantungku tak henti-hentinya berdebar karna gadis ini. "Aku tidak tahu harus ke mana. Bisa kau tunjukkan jalannya?"

Dia menjauhkan kepalanya dariku. "Seharusnya tidak lewat sini. Agak jauh kalau dari sini dan agak gelap." bisiknya di telingaku.

"Itu bagus," sahutku dengan senang. "jadi aku bisa bersamamu lebih lama lagi."

Dia diam sejenak, lalu memeluk leherku dengan erat, membenamkan wajahnya lagi. Tak ada pembicaraan lagi, dalam keheningan itu deru angin menerpa tubuh kami. Membelai rambutku dan menggoyangnya dengan lembut.

Hanabi mendadak mengangkat wajahnya dan mengusap-usap pelan pipiku dengan pipinya, lalu diciumnya. Getaran-getaran hangat mengkilik-kilik hatiku sedari tadi melangkah, menghilangkan konsentrasiku yang sedang menatap jalan. Lalu deru napas hangatnya terdengar memburu, menerpa kulit leherku, telingaku dan wajahku. Membuat bulu romaku berdiri. Di saat-saat menyenangkan itu aku agak kaget begitu merasakan sesuatu yang basah dan hangat menyentuh kulitku.

"Kau menangis?" tanyaku khawatir. Dia menjawab dengan menggelengkan kepalanya dengan cepat. Aku tak bertanya lebih lanjut tentang itu, karna sekarang aku sedang memperhatikan sebuah pertigaan sepuluh meter di hadapanku. Dan ada penerangan sebuah lampu di sana.

"Di depan ada pertigaan. Kita lewat mana?" tanyaku seraya berhenti sebentar menunggu Hanabi menjawabnya. Dia menghela napas, lalu menghentikan kegiatannya, lalu menggerakkan wajahnya tanpa melepas pelukannya.

"Yang kiri." jawabnya seraya melonggarkan pelukannya dan menyandarkan kepalanya di pangkal leherku. Aku pun melanjutkan perjalananku. Ketika aku sudah sampai pada pertigaan itu, aku berbelok dan disambut pemandangan berderet-deret rumah agak jauh di depanku. Di kirì-kanan jalan ada pagar bambu, lalu tanaman-tanaman rambat yang menghiasinya. Kondisinya tak terlalu gelap, karna ada cahaya rembulan yang meneranginya.

Suara-suara jangkrik yang berdengung-dengung memenuhi tempat ini. Di tengah keheningan yang melanda kami aku teringat akan cerita Hanabi tentang Udon si culun yang pernah menjadi kekasihnya itu. Begaimana si culun itu membanjiri Hanabi dengan hadiah-hadiah dan merasa tersentil manakala ku bayangkan Hanabi berciuman dengannya. Dua bibir itu bertemu dan menyatu antara dua sejoli itu yang saling mencintai. Berciuman dengan nikmat, merasakan tiap inci dari masing-masing bibir mereka.

Aku merasakan amarahku bangkit. Hatiku menjadi panas tatkala bayangan bibir mereka sedang bergelut.

"Beruntung ya si culun itu bisa mendapatkan cintamu," kataku berbasa-basi tetapi dengan nada emosi. Rasanya aku mulai melihatnya seperti gadis pada umumnya. Tak ada tanggapan darinya. Aku pun melanjutkan. "dia bisa menciummu, merasakan lembutnya bibirmu dan kau juga begitu menikmatinya seakan kalian ini adalah dua sejoli yang tak terpisahkan selama-lamanya." amarahku semakin membara memikirkan itu.

Hanabi meremas kerah baju belakangku, kemudian bangkit dan memeluk leherku. "Jangan menyebutnya l-lagi..." dia berbisik nyaring di telingaku.

Mudah sekali dia mengatakan itu. Aku menarik napas panjang, semakin sakit ku rasa saat merasakan air matanya mengalir lembut di leherku. Tak ku sangka efek dari nama itu sangat menyakiti hatinya.

"Huh...," desahku dengan kepedihan mendalam. "apa kau ingin aku memberitahunya tentang perasaanmu yang masih menci―"

Tiba-tiba Hanabi melepas rangkulannya dengan cepat dan menampar pipiku dengan sangat keras. Hampir saja aku kehilangan keseimbangan gara-gara tamparannya itu. "Sudah ku bilang berhenti membicarakannya. Dasar bodoh!" teriaknya tepat di depan telingaku. Membuatku langsung membatu. Detik berikutnya dia menutup mulutnya dengan sebelah tangannya sambil menyembunyikan wajahnya di dadaku dan terisak dengan bahu terguncang-guncang.

Ku katup rapat mulutku. Sakitnya tamparan itu juga sampai ke dalam dadaku, bahkan menjalari nadiku. Rasanya sakit sekali ketika ku tahu begitu besarnya cinta Hanabi pada si culun itu. Dia memang beruntung sekali. Dua tahun yang lalu dia merebut Hanabi dariku, dan sekarang ketika aku berusaha merebut Hanabi kembali, ternyata dia sudah mendapatkan sepenuhnya cinta Hanabi dan tak tersisa sedikit pun ruang untuk cintaku bersemayam di hatinya. Ya, menyedihkan.

Aku mencoba menelan ludah. Namun seolah tenggorokanku terasa kering kerontang. Ku lirik dia sesaat, lalu memandang jalanan lagi. Melangkah lagi tanpa mau bicara apa pun, sementara dadaku terasa mendidih, kemudian menguap menjadi butiran-butiran air mata.

'Dasar cengeng!' batinku dalam hati mengutuk diriku yang sekarang mudah menangis cuma gara-gara cewek.

Bego banget ente. Tinggal nyari lain yang aja apa susahnya. Bahlul ente jadi orang.

Entah sudah berapa lama aku berjalan tanpa memperhatikan jalan, tatkala aku sadar, aku pun tersentak dan menyadari bahwa kami sudah berada di antara perumahan-perumahan di sisi-sisi jalan. Aku pun melirik Hanabi yang ternyata sudah tak menangis lagi, tetapi masih menyembunyikan mukanya di dadaku.

"Rumahmu yang mana?" tanyaku menyadarkannya sambil menurunkan ke dua kakinya. Dia pun tersadar, lalu menjauhkan wajahnya dari dadaku dan memijakkan kakinya di tanah.

"Sudah dekat," katanya seraya menunduk. Keadaan menjadi canggung untuk beberapa lamanya. Walau pun aku masih merasa sedih, namun sebisanya aku bersikap senormal mungkin.

"Pulanglah. Nanti keluargamu mencarimu." suruhku sambil memaksa tersenyum. Dia mengangkat wajahnya menghadap ke arahku.

"Maafkan aku, karna sudah menamparmu..." ujarnya sambil menundukkan pandangannya lagi.

"Hiiii..." aku melebarkan senyumanku menjadi cengiran untuk menutupi sedih dalam hatiku, dan bertingkah seperti orang yang tidak penting, namun sayangnya air mataku malah mengalir meruntuhkan semua cengiran palsu itu.

"Kau akan ke mana setelah ini?" dia bertanya ingin tahu.

Aku mengendikkan bahu. "Aku bisa ke mana saja. Masih banyak tempat yang belum ku kunjungi." jawabku santai.

Dia menatapku lekat-lekat, lalu mendekatiku. Aku berusaha memandang ke tempat lain untuk menghindari tatapan langsung Hanabi.

"Apa kau mencoba menyembunyikan sesuatu dariku?" dia bertanya lagi. Dasar crewet, pulang saja sana. Aku sudah lelah memasang tampang memuakkan ini.

"T-tidak," jawabku sambil tersenyum paksa. "ku rasa aku harus pergi."

"Pasti ingin bertemu Sara lagi 'kan?"

Gagasan itu sama sekali tak pernah terbesit dalam otakku, yang ku inginkan hanya segera pergi dari sini. Namun karna dia menyebutnya, aku jadi ingin melakukan itu.

"Entahlah...," jawabku sambil mengingat-ingatnya. "mungkin saja. Dia teman bicara yang baik." ku hela napas panjang setelah itu.

Raut wajahnya berubah melankolis, membuat hatiku agak mendingin. "Kau mengajak gadis lain ke luar dari rumahnya untuk mengobrol sementara kau menyuruhku untuk pulang. Padahal aku juga ingin menemanimu." katanya murung.

Tentu saja aku tidak akan mencurahkan kemarahanku padamu, karna kau takkan mengerti sama sekali apa yang akan ku bicarakan dan malah akan membuat kita bertengkar.

"Aku tidak mengatakan akan mengajaknya ke luar. Aku hanya mengatakan mungkin saja. Dia itu teman bicara yang baik."

"Sama saja." sahutnya nyaring. "kau juga punya keinginan untuk melakukan itu!"

Bugh!

Aku menghentikan kalimatnya dengan cara memeluknya erat, sangat erat seraya ku ciumi pipinya.

"Apakah kau akan bisa mengerti apa yang ku bicarakan jika nantinya itu hanya akan membuat kita bertengkar dan akan menjauhkanmu dariku, atau kau akan menganggapku terlalu memaksamu mencintaiku, atau bisa saja kau mengasihaniku dan berpura-pura mencintaiku."

Hanabi berkata, "Maaf, maafkan aku. Seharusnya sejak dari awal aku jujur padamu tentang―" saat itu ada sebuah suara teriakan yang mengagetkan kami berdua.

"Hanabi!"

Kami pun segera memisahkan diri, lalu memalingkan wajah ke asal suara. Di sana ada dua orang yang mendekati kami. Salah seorang di antaranya adalah kakaknya, sedang yang satunya ialah orang yang pernah ku lihat duduk bersama Hanabi dalam satu payung. Wajah mereka sama sekali tidak menunjukkan keramahan.

Hanabi berbalik padaku dan mendorongku. "Cepat pergi dari sini!" usirnya.

"Memangnya kenapa?" aku bertanya tak mengerti sambil memandang dia yang terus mendorongku.

Dia berkata, "Tidak ada waktu menjelaskannya. Cepat pergi dari sini, bodoh!"

Tatkala itu, firasatku mengatakan sesuatu yang buruk akan terjadi. Dan jantungku berdebar-debar ketika ku dapati mata ke dua orang itu tepat menyorot ke arahku.

"Ku mohon," Hanabi menggenggam tanganku dan menatapku dengan tatapan memelas. "cepat pergi dari sini..."

Akan tetapi aku tetap bergeming, tak mau memenuhi permintaannya. Setelah mereka mendekati kami, Hanabi segera berlari menghalangi kakaknya. Entah kenapa suasananya menjadi semakin menegangkan.

"B*****t kurang ajar! Sudah kau apakan adikku, anjing?!" teriak kakaknya sarkastik sambil menunjuk-nunjukku, tetapi Hanabi segera menghalanginya dengan cara memeluk orang itu. Orang yang satunya, yang rambutnya hitam jabrik memungut sebuah batu dan melemparnya ke arahku.

Aku segera melompat ke kanan menghindari batu itu. Lalu entah bagaimana caranya kakaknya bisa bebas dari pelukan Hanabi, tatkala aku melirik ke belakangnya, Hanabi sedang terduduk sambil menangis.

Wuuk

Sebuah kepalan tangan langsung lewat di depan wajahku, dan mengagetkanku. Aku mundur beberapa langkah untuk mengambil jarak, ternyata remaja berambut hitam itu yang mencoba menyerangku tadi.

Dia maju mendekat, lalu memukulku secara membabi buta. Aku menghindarinya ke kiri, kemudian sambil menendang kaki kirinya hingga dia jatuh tersungkur. Kakaknya Hanabi selang sesaat setelah itu datang dan menyerangku bertubi-tubi. Pukulannya acak dan tidak terkontrol sehingga aku menepis saja sambil mundur setiap pukulan yang dia lontarkan. Sebenarnya aku bisa saja merubuhkannya hanya dalam sekali pukul saja, karna yang ku lihat kuda-kudanya sama sekali tidak kuat. Tapi sebab dia kakaknya Hanabi yang ku lakukan hanya menghindar dan menepis saja. Nanti juga dia lelah sendiri.

Nyatanya memang begitu. Napasnya sudah tersengal-sengal. Aku melirik sebentar remaja berambut hitam yang tadi tersungkur, sekarang sudah bangkit dan akan maju menyerangku. Aku pun segera mendekatinya dan menendang dadanya sehingga dia kembali roboh. Kalau tidak begitu bisa kerepotan aku nantinya kalau harus dikeroyok dua orang. Naasnya setelah berhasil merobohkan orang itu, kepala bagian belakangku langsung disambut pukulan dari arah belakangku, yang seketika membuat kepalaku agak nyeri. Tetapi disaat-saat seperti ini aku harus melupakan rasa sakit itu dan bersegera menjaga jarak dengan cara berguling ke depan.

Tapi syukurlah dia tak langsung menyerangku sehingga aku bisa menggosok-gosok belakang kepalaku tanpa melepas pengawasan dari dia. Lalu yang satunya bangkit, bertambahlah yang satu itu jadi dua. Sementara Hanabi hanya menangis sambil berteriak yang tentu tak aku pedulikan.

Pada waktu itu orang-orang sudah berkerumun dan semakin bertambah banyak. Kira-kira sekitar 6-7 orang berdatangan mencoba menengahi, tapi karna lengah sedikit ketika pandangan ku tertuju pada Hanabi tiba-tiba wajahku dihantam oleh kakak Hanabi, tepat mengenai hidungku. Membuatku hampir jatuh, tetapi aku bisa segera menguasai diri.

"Berhenti mengganggu keluargaku jadah haram!" katanya menghinaku yang seketika itu membangkitkan amarahku.

Aku pun maju menghampirinya sambil berusaha berkelit dari beberapa orang yang berusaha menghentikanku. Ketika aku sudah berada di depannya ku pukul tenggorokannya. Setelah itu ku jambak dan ku tarik rambut panjangnya dengan keras, lalu ku hantam lehernya dengan pergelangan tanganku.

Orang-orang menarikku menjauh dari kakak Hanabi sambil berkata, "Woi! Woi! Jangan berkelahi lagi! Dasar bego!"

Tak lama setelah itu tiba-tiba ada seorang pria yang mirip betul sama Hanabi datang dari arah depanku dengan pandangan yang seakan-akan ingin membunuhku. Setibanya ia di depanku, ia mencekikku, lalu menamparku dengan telapak tangannya yang besar. Sedang ke dua tanganku yang dipenjara tak bisa berbuat banyak, hanya kaki kananku yang ku gunakan untuk mendorong perutnya, tetapi pertahanan pria itu kuat sekali.

"Begini ya cara orang tuamu mendidikmu, keparat!" katanya, yang hampir membuatku tersentak akan ucapannya.

"Berhenti menyalahkan orang tuaku, tua bangka!" teriakku membalas kata-katanya. Namun dia malah menamparku lagi, dan lagi sampai-sampai pipiku terasa sangat panas akibat tamparannya.

"Terus kamu mau apa, ha?! Lapor sana sama bapakmu!" tantangnya.

Beruntung orang-orang segera menariknya dan membebaskan leherku dari cengkraman tangannya, kemudian menariknya menjauh dariku. Aku pun berlutut sambil memegangi leherku.

"Uhuk, uhuk, uhuk!" aku terbatuk-batuk keras, sementara ada seorang lelaki yang berdiri di dekatku.

Kemudian suara tapak-tapak kaki dan pergumulan terjadi.

"Woi! Woi! Jangan memperpanjang masalah!"

"Lepaskan aku! Biarkan aku memukul bajingan itu!"

Aku sama sekali tak berminat dengan adu mulut dua orang itu. Nyatanya nyeri di tenggorokanku lebih penting dari mereka. tetapi tiba-tiba aku agak sedikit kaget ketika mendengar tapak-tapak kaki yang mendekat tidak jauh dari ku. Aku mencoba menengok dan agak kaget ketika menyaksikan Hanabi mendekati remaja berambut hitam yang tadi sudah jatuhkan dua kali itu. dan aku bertambah terkejut manakala dia menampar pipi orang itu. Lalu meneriakinya dengan suara yang keras sekali.

"Bisakah kalian berhenti menghinanya! Selama ini kalian selalu menekanku dan mengatakan dia bukan orang yang baik dan terus-terusan menghalang-halangiku!" bentaknya dengan nada memberontak.

"Hanabi!" teriak ayahnya yang sedang berdiri bersama seorang perempuan yang penampilannya tenang, hampir sama cantiknya dengan Hanabi.

"Apa?! Ayah ingin melarangku lagi?!" sahut Hanabi kasar. Dan seterusnya mereka saling meneriaki dan saling bantah.

Mataku mengerjap tak percaya. Dia, dia yang selama ini tampak lugu dan kalem. Sekarang begitu keras kepala. Ya, meski sikap yang ia tunjukkan padaku selama ini memang keras, tapi yang ini berbeda.

Aku merasakan hatiku menghangat. Suatu kehangatan yang membuatku mau tak mau tersenyum haru. Baru kali ini aku menyaksikan ada yang membelaku dari orang-orang yang mencelaku. Biasanya memang kebanyakan dari orang-orang yang ada di sekitarku selama ini lebih suka menertawakan dan mengolok-olokku ketika aku mendapat musibah.

Namun seperti apa pun dia mencoba untuk tampil kuat, pada akhirnya dia pun kembali seperti biasanya. Gadis yang kecil dan penuh kelembutan.

Setelah menyelesaikan kata-katanya, dia pun menjatuhkan dirinya sambil menangis tersedu-sedu. Dengan iba ku dekati dia yang sedang duduk membelakangiku.

Sesampainya aku didekatnya, langsung ku rebahkan diriku. Ku tangkup bahu kanannya dan ku genggam pergelangan tangan kirinya seraya menariknya menjauhi wajahnya.

"Sudah, jangan menangis lagi, cahaya mataku..." kataku sambil menangis dan tersenyum.

Lalu ku cium telapak tangannya dan menyatukannya dengan pipiku.

Dia berkata, "Me-mereka... M-mereka―" tapi segera ku potong ucapannya dengan telunjuk tangan kananku.

"Ssssttt... Mereka a-adalah keluargamu, bidadari. Tidak sepantasnya kau membentak dan menghardik mereka..." kataku menasehatinya.

Setelah itu ku cium pipinya sebentar. Tangisnya makin keras.

"Aku akan pulang supaya kalian tidak bertengkar lagi... Salahku yang datang ke sini malam-malam dan mengajakmu k-keluar..." dia menggeleng lemah. Tapi aku tak mengacuhkannya, segera ku cium lagi pipinya agak lama tanda perpisahan.

"Jaga dirimu baik-baik, cintaku..." aku pun bangkit. Agak berat harus melepasnya, karena hatiku masih ingin bersamanya. Tapi dari pada masalah akan semakin besar, sebaiknya aku pergi saja. Tiba-tiba saja aku tersentak manakala dia menarikku, memeluk leherku dan mencium pipiku. Tertegun bingung beberapa saat dengan apa yang telah dilakukannya. Meski aku tidak mengerti, aku hanya membiarkannya. Membiarkan bibir lembutnya menyentuh kulit pipiku. Aku pun tersenyum haru.

Beberapa lama kemudian dia melepas ciumannya. Ku rasakan kecewa tatkala dia menjauhkan bibirnya. Segera ku pandangi wajahnya dengan sedih sambil memegangi pipinya dan mengusap-usap air matanya. "Aku akan merindukanmu..." ujarku dengan berat hati. Dia mengangguk, kemudian memegang tanganku, menciumnya dan mengusap-usapkan pipinya.

Dengan terpaksa ku tarik tanganku dengan perlahan. Dia pun kembali terisak, membuat semakin berat hatiku. Tapi aku menguatkan diriku, dan dengan segera aku membalik tubuhku, berjalan berusaha tak mempedulikannya, meski air mataku terus bergulir. Suara-suara orang yang mengumpat dan menyumpahiku ku hiraukan. Aku hanya berjalan dengan pandangan lurus ke depan. Sesekali ku kedipkan mataku untuk mengusir air bening yang menghalangi pandanganku.

Baru setelah suara-suara mereka sudah hilang, aku menghentikan langkahku. Menumpahkan semua air mataku yang tadi tertahan sambil memegangi dinding di dekatku.

Apalagi yang lebih menyakitkan dari ini ketika aku harus meninggalkannya menangis sendirian? Meski pun dia tak pernah mencintaiku, tapi tiada yang lebih menyakitiku dari pada melihat air matanya mengalir tanpa bisa ku usap. Aku mencintainya dengan seluruh ruhku, sehingga jika melihatnya tersakiti maka aku pun merasa tersakiti.

Tidak. Tidak. Aku menggeleng sambil berusaha menahan tangisku dan kembali melangkah. Pulang ke rumah dengan tanpa berhenti mengkhawatirkannya.

Kring! Kring!

Ketika aku sedang melamun, sedang Karin sedang tidur membelakangiku, ponselku berbunyi. Aku mengeluarkannya dari saku jaketku dan menyaksikan nama Hanabi tertera. Maka tak perlu waktu panjang lagi. Aku langsung mengangkatnya.

"Halo." dia tak segera menjawab. Ku dengar semburan napas yang panjang dari seberang sana.

"Ha―"

"Bagaimana kabarmu?" tanyanya dengan cepat. Aku menangkap suatu getaran emosi pada suaranya.

"Aku tidak apa-apa... Maaf, sebenarnya aku sama sekali tak bermaksud mengacaukan hubunganmu dan keluargamu. Tidak ada niatku sedikit pun untuk menginginkan i―"

"Berhenti bicara! Jangan bicarakan itu lagi, ku mohon... Hiqs," dia memenggal kalimatku, sehingga aku pun terdiam. Tiada lagi yang suara kecuali hanya suara deru napas kami.

"T-tapi―"

"Sudah ku bilang hentikan! Aku tidak ingin mendengar itu lagi..." ucapnya lagi sambil menangis. "kau tahu... Dulu, aku pu-punya seorang kekasih yang sangat bo-bodoh. Bo-bodoh sekali... Hiks... Tapi w-walau pun dia itu bodoh, d-dia telah membuatku ja-jatuh hati. Meski awalnya aku s-selalu berusaha menyangkalnya. Namun, dia tak pe-pernah mengerti perasaanku padanya, ba-hiks bahwa setiap kali dia di dekatku, dia membuatku hangat. Sayangnya dia bodoh, sebodoh dirimu!" katanya dengan teriakan pada kata terakhir. Dan hancurlah hatiku mendengar itu.

Sekarang dia mempunyai cinta yang lain lagi? Dan dia tak pernah menceritakannya padaku?! Tak adakah kesempatan untukku meraih cintanya? Apakah aku ini hanya berperan sebagai penonton saja? Mengapa dia begitu mudahnya bisa mencintai orang lain sementara mencintaiku dia tak pernah bisa.

Untuk sesaat aku kehilangan kata-kata. Apa yang terdengar barusan cukup menusuk hatiku dan menghancurkan perasaanku.

"...tapi ke-keluargaku tak menyukainya... H-hal itu cukup berat bagiku... Hiks... Selain itu, aku j-juga mendapat tekanan dari te-teman-temanku. Menakut-nakutiku―"

"Bisakah," aku memotong ceritanya. Sudah muak aku dengan cerita-cerita orang-orang bodoh itu. "bisakah aku meminta satu hal padamu?"

"Hiks... A-apa?"

"Bisakah kau jangan berhenti menghubungiku meski kau telah mencintai orang lain? Bisakah kau tidak meninggalkanku? Aku tahu tidak ada kesempatan untukku bisa meraih cintamu. Oleh karna itu ku mohon sebagai seorang teman atau apa pun kau menganggapku, jangan menjauhiku. Walau pun kau sudah menikah dengan laki-laki itu. Bisakah kau memenuhinya?" aku tidak peduli lagi pada cintanya. Intinya aku hanya menginginkan dia tetap bersamaku. Menemani hatiku yang telah mencintainya sepenuhnya. Tak peduli dia mengobral cintanya pada semua lelaki yang dia sukai. Selama dia selalu berada di dekatku, aku takkan menuntut apa-apa lagi.

"Kau masih saja bo-bodoh. Kapan kau bisa mengerti bahasaku?"

Aku menundukkan kepalaku. Air mataku kembali berlinang. "Ya, kau benar. Aku memang bodoh telah mencintai gadis sepertimu. Tapi apa yang harus si bodoh ini lakukan? Sejak pertama kali mengenalmu lebih dari dua tahun yang lalu, gejolak di hatiku itu terus tumbuh. Semakin lama kian mengakar dalam jiwaku. Mengikat hatiku dan ruhku dengan gejolak cinta ini, hampir-hampir tiap hari aku tak berhenti memikirkan gadis itu. Dan sudah terlambat untukku menarik cinta ini... Ya, aku ini bodoh. Bodoh karna terlalu banyak bermimpi bisa meraih cintamu. Aku sangat menyadari aku ini banyak kekurangan, tidak seperti Udon yang selalu memberimu hadiah yang bagus-bagus. Bukan juga seperti laki-laki baik itu."

"Cukup. Kau sudah lebih dari cukup."

"Tapi nyatanya kata cukup itu tak bisa membuatmu mencintaiku."

"Itulah bodohnya dirimu. Selalu saja salah paham tentang apa yang ku maksud. Tapi karna kebodohanmu itu, aku selalu merasa terhibur dari segala kesedihanku ..."

"Terserah apa katamu sudah. Tapi bisakah kau penuhi permintaanku itu?"

"Tentu. Tentu saja. Dan nyatanya selama ini aku tak pernah meninggalkanmu bukan? Dan sampai sekarang pun aku tak berkeinginan melakukan itu,"

"Terima kasih," kataku meski aku tak puas dengan itu.

"Bodoh...," bisiknya dengan pelan. "bodoh... B-bodoh... Bo-bodoh..." dia mengulang kata-kata itu dengan suara yang semakin lama semakin terputus-putus dan kembali tangisnya terdengar. Pada akhirnya air mataku pun semakin banyak menyeruak, menerobos berdesakan untuk ke luar dan tak mampu ku tahan. Semua ini menjadi sangat menyedihkan manakala ku saksikan diriku tampak seperti pecundang.

Aku menangis seakan ingin mengerti, namun sejatinya tangisku hanya untukku sendiri. Menangisi keadaanku yang terbingungkan dengan liku-liku cinta yang begitu membingungkan. Semakin aku masuk padanya, semakin cinta itu menjadi penuh derita tangis.

Aku berusaha menyeka derai air mataku. Tetapi semakin ia tumpah ruah tak terbendung. Bersamaan dengan itu aku mendengar suara-suara orang berbisik.

"Sudah ku katakan bukan? Dia itu mirip sepertimu, di luarnya saja dia tampak tangguh dan keras, tapi dalamnya dia lembek..."

Aku tersentak dan segera mengangkat wajahku ke asal bisik-bisik itu. Dalam sekejap saja semua kesedihanku hilang berubah menjadi malu tatkala menyaksikan ayah, ibu, dan kakakku berdiri di ambang pintu sambil menahan tawa.

"Kalian sedang apa di situ?!" seruku dengan marah bercampur malu.

"Bwahahahahahah" ibu dan kakakku tertawa terbahak-bahak, sedangkan ayahku menghampiriku dan duduk di dekatku sambil memegangi bahuku. Aku menahan napas karna merasakan sesuatu.

"Sudah. Sudah. jangan menangis lagi...," kata ayahkuk menyemangati. "jadi lelaki harus tahan banting. Ditolak perempuan, cari lagi yang lain. Tolak sana, cari lagi. tolak sini, cari lagi yang lainnya. Jangan cengeng, ya. Perempuan itu banyak. Seabrek-abrek. Tahu se-abrek-abrek gak?"

Aku mengacungkan jari telunjuk ku di depan wajahku. "Ayah!" dia menoleh.

"Hmmm?"

"Jangan menginjak kakiku!"

"Bwahahahahahahaha!" tawa ibuku dan kakakku semakin keras, sehingga membangunkan Ryuzetsu.

OoOoO

Di sinilah aku, di stasiun kereta api bersama keluargaku yang hendak melepas kepergianku. Karin tak henti-hentinya menangis dalam pelukanku.

"Jangan lupa kabari Karin setelah sampai di sana..." ujarnya sedih.

"Iya, iya, Karin mana mungkin kakak lupa dengan sepupu kesayangan kakak ini. Ingat-ingat pesan kakak ya?" pesanku. Dia pun mengangguk menyetujui.

Tak lama setelah itu kereta pun datang. Karin malah semakin erat memelukku.

Aku menghela napas. "Karin... Keretanya sudah datang," kataku mengingatkan. Tetapi gadis ini masih tak mau melepaskan pelukannya. Aku pun membiarkannya sebentar. Sementara kakakku dan kakak iparku pamit pada orang tuaku.

Akhirnya setelah cukup lama dia menangis, ia pun melepas pelukannya dengan berat hati. Aku berkata, "Tenang saja. kakak cuma cari pengalaman kok di sana."

Selang tak lama kemudian orang tuaku menghampiriku dengan wajah sedih. Satu persatu mereka memelukku dan berpesan padaku. Akhirnya setelah perpisahan itu selesai, aku, kakak, dan kakak iparku serta Ryuzetsu masuk ke dalam kereta.

Aku berhenti sebentar di bingkai pintu gerbong sambil memandangi orang tuaku bersama Karin yang berdadah ria padaku. Di bawah langit senja ku pandangi mereka. Kereta pun berjalan, tangis karin kembali pecah. Semakin lama bayangan mereka pun makin mengecil. Sedih rasanya meninggalkan kota tempat kelahiranku, tempat aku dibesarkan, tempatku bermain, dan segala aktivitasnya yang sudah menghiasi hari-hariku. Air mata sedihku mulai menggenang, tapi segera ku hapus dan masuk ke dalam kereta.

Aku mengambil tempat duduk di depan iparku, sedangkan kakaku duduk sambil memangku Ryuzetsu di pangkuannya.

Kring! Kring!

Ponselku berbunyi. Ternyata dari Hanabi. Aku pun mengangkatnya.

"Halo?" sapaku.

"Kak,"

"Ya?"

"Bisa tidak kemari. Hana sedang duduk di tempat biasa kita bertemu." pintanya.

Aku tersentak. Tidak mungkin aku akan melakukan itu. "Maaf aku tidak bisa Hana."

"Kenapa tidak bisa?"

"Aku sudah tidak tinggal lagi di Konoha..."

"Jangan becanda kak..."

"Aku tidak bercanda Hana. Ini lagi di dalam kereta. Aku akan ke tinggal di Suna..."

"Bohong."

"Aku tidak bohong. Maaf tidak memberitahumu sebelumnya."

"Aku tidak percaya."

"Hana tanya saja Konohamaru kalau tidak percaya."

Tuth Tuth

TBC


AN : Hahahahaha akhirnya up juga... Chap 12nya hampir jadi. tinggal di edit dan diberi tambahan bagian akhirnya. Seminggu lagi mungkin. chap besok Hinata sudah muncul, dan cerita NaruHananya berakhir untuk sementara diganti NaruHina dan NaruSamui Mungkin... kwwkwkwkwkwkwkwk :v :v :v

Balasan reviews :

sutejonamikaze : Ah siapa yang bilang hanabi tak suka sama naruto? mmm tapi thanks kritikannya. kalau ada yang mengganjal atau kurang srek menurut agan tinggal dikritik aja. ane terima kritik, karna bagaimana pun juga ane masih belajar bikin cerita hahahah. thanks atas review apanjangnya.

NaMiKaZe Lucifer Phoenix : Udah up gan. thanks...

Samangga Otosaka : Ya, gan biar ada variasinya dikit aja hehehehe. naruto mau diajakin kerja bantuin usaha kakaknya di sana. thanks reviewnya :D :D

syifin no sekai : Sama-sama gan. thanks juga reviewnya.

Guest guest : taulah... Ane masih inget dengan jelas bagaimana agan mau ngejambak rambut ane...

BANYAK TERIMA KASIH BUAT YANG UDAH REVIEW, FAVE DAN FOLLOW FIC INI...