Chapter 9 : The Southern Raiders

Pagi itu suasana begitu damai. Orang-orang masih tertidur pulas. Baru sedikit yang terjaga pagi itu. Beberapa hari setelah Hakoda kembali diantara mereka, Hakoda dan Iroh berkenalan. Hakoda, Iroh, Zuko, Sokka dan Haru mendiskusikan apa yang harus mereka lakukan terhadap Fire Nation berikutnya.

Sokka masih tidak terima rupanya. Ia hampir saja mendapatkan kepala Fire Lord, namun karena Azula mengulur waktunya, maka ia kehilangan kesempatan emas itu.

Iroh sebagai orang tua yang memiliki banyak pengetahuan dan kebijaksanaan itu tampaknya menjadi jalan keluar bagi mereka. "Aku rasa harapan kita ada di kota Ba Sing Se. Menurut informasi yang kudengar baru-baru ini, Ba Sing Se mungkin sudah jatuh ke tangan Fire Nation, akan tetapi para penduduknya begitu gigih berjuang demi kemerdekaan mereka. Keadaan ini sudah pasti menjadi keadaan yang sangat tidak menguntungkan bagi pihak Fire Nation. Kita bisa memanfaatkannya. Kalau kita bisa menjadi harapan baru mereka, tentunya Ba Sing Se bisa kita ambil kembali dengan mudah. Setelah itu kita bisa mulai lagi segalanya mulai dari Ba Sing Se. Lagipula, kemarin kalian kalah karena kurang bantuan kan? apa jadinya bila seandainya saat itu kalian mendapatkan back up dari pasukan Earth Kingdoms?"

"Ide yang bagus! Aku juga akan bisa mengeluarkan ayahku dari penjara .. sekali lagi." kata Haru.

"Dengan cara apa kita merebut Ba Sing Se kembali?" tanya Sokka.

Zuko teralihkan perhatiannya oleh suara elang dari kejauhan. Ia segera berdiri untuk menyambut elangnya.

Sementara itu Iroh mengungkapkan siasatnya. "Aku hanya bisa memikirkan dua buah cara. Yang pertama, menggunakan cara yang sama dengan cara Azula merebut Ba Sing Se, menyusup ke dalam istana dan langsung menyerang ke pemimpin mereka. Dan yang kedua, kita menunggu hingga komet tiba dan pada saat itulah aku dan teman-temanku mendapatkan cukup kekuatan untuk menyerang kota itu hanya dengan sedikit pasukan saja."

Ada surat untuk Zuko. Kemudian Zuko menghampiri Iroh dan berkata "Kita tidak mungkin bisa melakukan cara yang kedua. Menurut informasi yang kudapatkan, Fire Lord kini ada di istana Ba Sing Se. Ia akan menjaga kota itu dan pada saat komet tiba, ia akan membinasakan sebagian besar warga Ba Sing Se untuk mematikan harapan dan semangat juang mereka sehingga pemberontakan di Ba Sing Se berakhir."

Iroh menjadi serius. Bila benar, maka berita itu adalah ancaman yang sangat serius. "Informasi dari siapa itu?"

"Aku kenal salah seorang murid Jeong Jeong. Dan sejak Sifu Jeong Jeong menghilang, ia menjadi mata-mata. Kau tentunya ingat bukan, tempat kita bersembunyi untuk menunggu pasukan Fire Nation meregang setelah gerhana bulan?" kata Zuko.

Iroh masih ingat. Setelah keluar dari penjara, pasukan Fire Nation ada dimana-mana dan terpaksa Zuko dan pamannya bersembunyi di tengah hutan. Di sana, mereka bertemu dengan salah seorang murid Jeong Jeong dan rupanya kini ia telah bekerja sama dengan Zuko.

Iroh akhirnya memutuskan untuk mempercayainya. "Kalau begitu kita harus memikirkan cara lain! Kita harus mampu melumpuhkan Ozai sebelum komet Sozin melewati atmosfer. Ozai sangat kuat, dan aku yakin bila kita menghadapinya saat komet tiba, kita tidak mungkin menang!"

Hakoda akhirnya angkat bicara. "Aku ada pertanyaan. Kalau Fire Lord sekarang ada di Ba Sing Se, maka siapa yang menjaga ibukota?"

"Sudah pasti adikku, Azula." Jawab Zuko dengan yakin.

"Bagaimana kalau kita rebut saja ibukota Fire Nation beberapa saat sebelum komet tiba, aku yakin perhatian Fire Lord akan teralihkan dan ia akan membatalkan siasatnya menghanguskan Ba Sing Se bila ia mendengar bahwa putrinya dalam masalah. Pada saat ia kembali ke ibukota, kita bebaskan Ba Sing Se. Dengan demikian, kita hanya perlu bertahan hingga komet selesai dan langsung menyerang Fire Lord dengan kekuatan baru." kata Hakoda.

Iroh tersenyum. "Ide bagus. Aku yakin untuk menghabisi Azula, tidak dibutuhkan kekuatan penuh. Kekuatan kecil juga sudah cukup. Asalkan tepat sasaran."

"Biar aku saja yang menyerang Azula…. Sekalian rematch." Kata Zuko dengan serius.

Iroh menggeleng. "Kau tidak bisa sendirian. Setidaknya kau bawa satu orang bersamamu."

Zuko tampak aneh. "Kalau begitu aku cari Toph dulu…"

Sebelum Zuko pergi dari sana, Iroh menarik kerah bajunya. "Mau kemana kau?"

Akhirnya Zuko tidak jadi pergi meninggalkan tempat rapat mereka. Iroh lalu berkata lagi. "Sebaiknya kau tahu betul siapa yang akan kau bawa, nak. Tentunya kau tidak mau mati sia-sia, kan?"

Iroh menunjukkan sedikit percikan petir di kedua jarinya yang tidak merenggut kerah baju Zuko. Ia tahu maksud pamannya. Tentu saja dari awal Zuko tahu ia harus mengajak siapa, dan siapa yang akan menjadi pilihan bagus untuknya menghadapi fire bender maniak seperti Azula yang suka sekali menyerang dengan petir. Tapi orang itu kini sedang berselisih dengannya. Mereka tidak bicara lagi sejak hari dimana mereka bersiap-siap untuk penyerangan pertama ke Negara api.

Iroh berbisik-bisik dengan pelan. "Kalau kau ada yang ingin dikatakan pada gadis itu, sebaiknya kau selesaikan urusan kalian. Aku yakin sesungguhnya hanyalah masalah pribadi dan salah paham. Karena kau masih di sini, dan dia masih memberikanmu semangkuk nasi setiap pagi, sekalipun kalian tidak pernah saling tatap lagi."

Maka Zuko dengan bingung berjalan pergi mencari Katara. Sesungguhnya Katara juga selalu memandang Zuko diam-diam dengan sedih. Ia ingin sekali mengatakan bahwa perkataannya waktu itu tidak sungguhan dan memiliki alasan bagus. Ia memang selalu bersama Aang Jr, tapi kini yang ia pikirkan hanyalah Zuko. Dan Zuko juga kini kelihatannya enggan berbicara dengan Katara. Barangkali karena tersinggung, bisa juga karena kecewa.

Katara ada di sana. Sedang menanak nasi. Ia memang terbiasa menjadi juru masak kelompok kecil mereka. Ia sedang bersama beberapa wanita lainnya yang sedang menggendong Aang Jr dan dengan gemas bermain-main dengan bayi imut itu.

Zuko mengambil nafas dalam-dalam dan setelah menghembuskannya, ia sudah merasa agak tenang. Ia siap bicara dengan Katara.

Melihat Zuko datang, para gadis tersenyum aneh dan sesekali melirik ke arah Katara yang sedang membelakangi mereka dan tanpa diperintah sudah diam-diam pergi dari dapur untuk membiarkan Katara berdua dengan Zuko.

Tentu saja Zuko merasa heran atas sikap mereka. Tapi ada yang lebih penting lagi sekarang. Ia harus bicara dengan Katara.

"Mel, sudah kau siapkan kaldunya?" tanya Katara.

Zuko melihat di meja di sebelahnya ada semangkuk kaldu yang masih hangat. Aromanya sangat harum. Zuko mengambilnya dan mendekati Katara.

"Kenapa mendadak tenang?" Katara akhirnya membalikkan tubuhnya. Dan ia terkejut sekali saat di hadapannya ada Zuko yang juga sama terkejutnya dengan Katara karena tidak menduga Katara akan membalikkan tubuhnya.

Namun Katara menurunkan alisnya dan menatap Zuko dengan benci seperti biasanya. "Ada apa?"

Zuko tahu ini bukan salahnya. Tapi kelihatannya dia harus mengalah. "Aku tidak merasa baik bila kita terus diam seperti ini. Kurasa kita harus saling memaafkan sekarang."

Itu juga yang kupikirkan selama ini… Ujar Katara dalam hati. Katara ingin tersenyum dan menggenggam semangkuk kaldu yang digenggam Zuko. Namun sebelum ia melakukannya ….

BLARRRR….!

Mendadak Kuil Udara Barat di bombardir. Pasukan penyerang berasal dari kapal udara Fire Nation.

Para lelaki yang sedang rapat itu segera membangunkan para wanita dan anak kecil untuk segera menyelamatkan diri.

Haru menggunakan kekuatan Earth Bendingnya untuk menutup pintu-pintu ruangan dengan bebatuan agar bom-bom tidak masuk ke dalam kuil dan mencelakai orang di dalamnya. Sementara itu Toph menggali terowongan dengan Earth Bendingnya.

Zuko meraih tangan Katara dan membawanya berlari untuk kembali berkumpul dengan yang lain.

Ada sebuah bom terlempar ke arah mereka. Zuko menyemburkan nafas apinya ke arah bom itu sehingga bom meledak duluan di udara dan hanya membuat sedikit hujan batu di sekitar sana.

Namun masih ada satu masalah lagi. Appa benci terowongan dan tidak mau masuk. Sementara itu bom-bom telah menghancurkan pintu yang ditutup Haru. Appa bisa menjadi penghalang mereka untuk melarikan diri.

"Kalian terus tarik Appa. Biar aku yang coba perlambat mereka." kata Zuko dan kemudian ia berlari pergi meninggalkan mereka dengan berani menyerbu Azula.

Begitu sampai di hadapan Azula, Zuko langsung menyerangnya. "Apa yang kau lakukan di sini?"

Azula menyeringai. "Bukankah sudah jelas? Aku di sini untuk merayakan karena kini aku adalah anak tunggal! Aku Fire Lord yang berikutnya!"

Azula langsung menyerang Zuko lagi dengan tendangan apinya. Zuko dengan berani melompat ke atas kapal Azula dan berduel dengannya di sana.

Namun Appa masih belum bergerak. Ia malah semakin mengamuk. Akhirnya Katara berkata. "Kalian pergilah, biar Appa aku yang urus."

Sokka keberatan. "Kau gila? Bagaimana bila kau tertembak?"

Itu yang tidak diperhitungkan oleh Katara. Dan ia cukup bingung menjawab pertanyaan itu.

"Biar aku ikut dengannya." Kata Haru. "Sokka, kau harus bersama paman Iroh. Kalian tidak bisa mengambil resiko menghadang serangan berbahaya seperti itu. Toph dibutuhkan bersama paman Iroh."

Iroh lalu menggendong Aang Jr dan menghampiri Katara. "Pergilah dengan Haru. Aang Jr biar aku yang urus. Kita tidak akan kehilangan kontak, Zuko sebenarnya punya messenger hawk."

Katara menatap ayahnya. Hakoda tersenyum bangga padanya dan mengangguk. "Aku percaya kau bisa, nak."

Katara memeluk ayahnya. "Ini takkan lama. Kita pasti akan bertemu kembali."

"Pasti nak, pasti." Kata Hakoda.

Maka dari itu, Katara berpisah dengan teman-temannya yang lain, memeluk mereka satu persatu. Katara menatap Aang Jr. Bayi itu masih terlihat optimis. Tersenyum polos pada Katara. Katara mengecupnya dengan mesra, setelah itu Aang Jr memanggilnya. "Mama.."

Iroh segera mengusir mereka. "Cepat! Kita tidak punya banyak waktu lagi. Tempat ini akan segera hancur!"

Haru membantu Katara naik ke atas Appa. Sementara orang dewasa masuk ke dalam terowongan, Katara menerbangkan Appa, dan Haru mengumpulkan bebatuan untuk menjadi perisai mereka. Dari serangan Fire Nation.

Azula dan Zuko saat itu sedang beradu tinju dan Katara melewati mereka. Haru melemparkan bebatuan satu persatu ke arah musuh. Lumayan kena sedikit demi sedikit. Ada beberapa kapal udara Fire Nation yang berhasil dilumpuhkan. Tapi itu tidak cukup.

"Katara! Kita harus berputar! Zuko tertinggal di belakang!" kata Haru.

"Aku tidak melihat Zuko." Kata Katara.

Haru melemparkan batu terakhir. Lalu ia bergerak ke kepala Appa. "Sini, biar aku yang kemudikan, aku tahu dia dimana."

Katara mundur ke sadel Appa dan menunggu sementara Haru mengarahkan Appa kembali untuk menjemput Zuko. Katara mengeluarkan air untuk melindungi mereka dari serangan api Fire Nation troops.

Sementara itu, Zuko dan Azula akhirnya beradu tinju seperti tokoh dragon ball beradu kamehame. Dan akibat dari tumbukan kedua api yang panas itu, terjadilah ledakan yang membuat kedua anak Fire Lord itu terjatuh dari atas kapal udara Fire Nation. Zuko akan terjatuh ke dalam lembah. Sedihnya, ia tidak bisa terbang… tentu saja.

Namun Haru segera datang dari balik kabut. Katara ada di atas sadel, mengulurkan tangan. Zuko juga mengulurkan tangannya.

Saat Katara meraih tangan Zuko, kecepatan Appa membuat cengkraman mereka terancam lepas. Namun Katara tidak menyerah, dan akhirnya Zuko mendarat dengan selamat di atas sadel Appa.

Zuko menyempatkan diri menoleh ke belakangnya. Azula masih melayang-layang. Zuko berbisik dengan khawatir. "Dia .. takkan selamat…"

Mendadak Azula menembakkan hentakan api dari kakinya dan membuatnya menabrak lembah dan Azula pun selamat. Menyaksikan Appa yang semakin menghilang di balik awan membawa kabur saudaranya, Zuko.

"Tentu saja dia selamat." Kata Zuko sambil memalingkan wajah dengan sedikit perasaan lega.

Mereka mendarat di sebuah pulau kecil tak berpenghuni dan mendirikan kemah. Malam harinya Haru dengan riang memuji keberanian Zuko. "Bila tadi terlambat sedikit, kau sudah hancur di dasar lembah! Kau berani sekali menerjang Kapal udara Fire Nation seperti itu!"

Zuko hanya tersenyum kalem.

Katara sudah selesai memasak sup dan menghidangkan untuk keduanya. Ia menyerahkan makanan kepada Haru dengan lembut. "Terima kasih, Katara."

Namun ia menyerahkan semangkuk sup pada Zuko dengan kasar. Tanpa senyum, tanpa kontak mata, tanpa bicara. Ditambah lagi, sup itu sedikit tumpah ke celana Zuko. Haru juga ikut tertegun menyaksikannya. Tapi ia tidak berani ikut campur.

"Kau kenapa?" tanya Zuko. "Masih marah padaku?"

Katara meletakkan mangkuk supnya dan meninggalkan Zuko dan Haru begitu saja.

"Kenapa dia?" tanya Zuko.

Haru tidak mau ikut campur. Ia tidak memberikan komentar apapun. Zuko akhirnya meletakkan semangkuk supnya dan menghampiri Katara.

Di bawah sinar bulan purnama yang besar, Katara duduk terdiam sambil memandangi ombak memecah karang sedikit demi sedikit. Sewaktu-waktu, karang yang keras akan terkikis air laut yang menyapanya lembut dan gigih. Sesungguhnya bukan hal buruk.. tapi entah kenapa, karang itu masih tetap tidak bisa menyerah.

"Semua orang sudah baik denganku sekarang. Aku salah satu dari kalian. Ada apa denganmu?" tanya Zuko.

Katara kembali menunjukkan sikap bencinya. "Oh ya? Bagaimana denganku? Aku yang pertama kali menerimamu. Tapi kemudian kau membunuh Aang! Kau membunuh harapan seluruh dunia, dan kini sudah tidak ada lagi Airbender di dunia ini! Entah apa yang akan terjadi saat siklus avatar memasuki siklus angin…"

Zuko menghela nafas. Satu avatar usianya panjang, kira-kira bisa mencapai ratusan tahun. Avatar Kyoshi usianya 350 tahun. Itu masih lama sekali, sesuatu pasti akan terjadi untuk mereka. Bila kematian Aang melahirkan Aang Jr, maka dunia tidak kiamat. Pasti akan ada jalan keluar, entah apa itu. Dan itu barangkali masih akan terjadi sekitar seribu tahun lagi. Lama sekali. Untuk apa mengkhawatirkannya? Harusnya saat ini mereka mengkhawatirkan hubungan mereka. Adalah tidak baik bila dalam sebuah kelompok, ada dua orang yang bermusuhan seperti mereka. Bertengkar dan berbeda pendapat itu wajar. Tapi bila sampai tidak berbicara sama sekali, itu sudah melibatkan perasaan benci. Dan itu sangat berbahaya.

"Aku ingin berbaikan denganmu. Apa yang harus kulakukan?" tanya Zuko.

Katara mendekati Zuko. "Oh, baik sekali kau. Barangkali kau bisa mengambil Ba Sing Se atas nama Earth Kingdom. Atau .. ah, aku tahu! Kau bisa menghidupkan ibuku kembali… atau lebih baik lagi … kau bisa menghidupkan kembali Aang!"

Lalu Katara melewati Zuko sambil menghantamkan bahunya ke bahu Zuko. Namun perkataan Katara membuat Zuko berpikir ulang. Ia teringat bahwa setiap kali Katara mengungkapkan rasa kesal terhadapnya, Katara selalu menyinggung soal Ibunya atau kematian Aang. Maka itu berarti dua hal yang dilampiaskan Katara padanya adalah tentang ibunya dan Aang.

Malam itu, Zuko melihat Katara bercanda gurau dengan mesra bersama Haru. Mereka saling menatap dan saling tersenyum hanya berdua di sekitar api unggun. Dan entah kenapa .. berbeda dengan Mai, sebelumnya Katara menyinggung perasaan Zuko dengan menuduh yang bukan-bukan. Itu adalah alasan Zuko tidak menyukai Mai. Dan kini dilakukan oleh Katara. Namun herannya, Zuko tidak bisa terima bahwa sekarang Katara sedang bercengrama dengan Haru. Zuko tidak mau melihat dan pergi berpikir apa yang bisa ia lakukan agar Katara mau memaafkannya lagi.

Saat Zuko berpikir-pikir, kemudian ia teringat sesuatu. Saat itu adalah saat dimana ia pertama kali melihat Katara. Dan di sana ada bangkai kapal. Dan bendera di atasnya …

Zuko segera berdiri untuk menghampiri Katara. Namun dari kejauhan, ia melihat Katara dan Haru tertawa-tawa. Haru berdiri dan menunjuk tendanya. Katara terlihat antusias. Ia berdiri dan mengikuti Haru masuk ke dalam tenda. Hal ini membuat Zuko terkejut dan panas.

Saat ia mendekati tenda, lampu tenda Haru dimatikan. Zuko sudah tidak tahu lagi harus sabar seperti apa. Ia kembali ke tebing dan meraung ke arah bulan. Semburan apinya sangat kuat karena kesalnya.

Satu jam kemudian, Zuko akhirnya memutuskan bahwa ia harus melakukannya. Maka ia kembali ke perkemahan dan duduk di depan tenda Haru. Menunggu semalaman di sana.

Akhirnya matahari terbit. Haru keluar dari tendanya dengan perasaan segar. Ia meregangkan otot-otot tubuhnya dengan wajah cerah. "Ahhhhhh nyenyak sekali tidurku semalam."

Saat ia menyadari Zuko sedang nongkrong di depan tendanya dengan mata setengah terbuka, Haru menjadi bingung. "Apa yang kau lakukan?"

Zuko berdiri. "Aku harus bicara dengan cewekmu. Penting."

Haru semakin bingung. "Ce, cewekku? …. Katara?"

Zuko jadi kesal. Dikira Haru sedang main-main. "Sudah, biarkan aku melihatnya!"

Katara keluar dari tendanya yang didirikan di depan tenda Haru. "Ribut sekali pagi-pagi! Kenapa kau sebut aku pacar Haru? Pacarku Aang Jr!"

Haru tertawa ironis. "Kau serius?"

Zuko membalikkan tubuhnya menatap Katara. Melihat tampang mengantuk Zuko, Katara menjadi sedikit kasihan, "Kau kelihatan menyedihkan."

Lalu Katara mengambil sisir dari tasnya dan menyisir rambutnya sambil membelakangi Zuko. Zuko menghampiri Katara. "Ada yang harus kukatakan. Kau harus dengar."

Haru pun seakan mengerti dan dia masuk ke dalam tenda. Tidak ingin ikut campur.

"Tidak bisa. Kita akan pergi mencari ayahku. Kalau kau tidak mau, kita tinggalkan kau sendirian di sini." Kata Katara.

Zuko mengusap matanya dan berkata. "Aku tahu siapa yang membunuh ibumu."

Dan Katara berubah pikiran.

Segera, Haru, Katara dan Zuko menggunakan pakaian hitam yang bisa membantu mereka menyusup ke dalam markas Southern Raiders. Dalam perjalanan, saat Zuko tertidur, Haru yang menjadi supir Appa, berkata pada Katara. "Maaf, aku tidak ingin ikut campur sebenarnya, tapi … aku kebetulan mendengar percakapan kalian. Menurutku, balas dendam bukanlah jalan keluar terbaik, Katara. Kau harus memaafkannya."

Katara diam saja. Hatinya tidak tenang karena bila teori Zuko benar, maka ia akan segera bertemu dengan pembunuh ibunya sebentar lagi. Namun ia sesekali menjawab Haru. "Kalau begitu sama saja dengan tidak melakukan apapun…"

Haru senang Katara mau mendengarkan dia. Ia masih berusaha membujuk Katara. "Berbeda, Katara. Diam saja berarti diam saja. Sedangkan memaafkan, berarti kau sudah berbuat baik demi dirimu sendiri dan demi orang yang bersalah kepadamu."

Mendadak Zuko tertawa. "Ya…. Kita akan maafkan dia, tuan bijak .."

Sesungguhnya ia setengah menyindir Katara yang tidak mau juga memaafkan dirinya. Haru hanya bisa menghela nafas.

Saat Katara dan Zuko menyusup ke dalam markas Southern Raiders, Haru diam di atas Appa sambil menjaga diri. Mereka harus menyusup atau petugas di markas akan memberitahu orang lapangan bahwa ada yang mengincar mereka dan mereka akan kabur sebelum Katara sampai di post mereka.

Akhirnya mereka mengetahui tempat para Southern Raiders itu berada. Di Welltall Island. Dengan cepat mereka segera terbang ke sana. Zuko terbangun dari tidurnya dan melihat Haru juga tertidur. Katara masih terjaga. Zuko berkata dengan lembut padanya. "Belum melihatmu tidur. Tidurlah. Kau butuh tenaga nanti."

"Jangan khawatir, aku punya banyak.." jawab Katara. "Aku bukanlah gadis lemah yang mereka lihat 8 tahun lalu."

Katara masih ingat dengan baik saat itu. Ia baru saja bermain dengan Sokka saat Southern Raiders datang dan menyerang desa. Para lelaki keluar untuk menyambut serangan Southern Raiders sehingga desa tidak ada yang menjaga dan saat Katara masuk ke dalam rumah, ia melihat seorang prajurit Fire Nation untuk pertama kalinya. Tatapan matanya sangat jahat dan tajam.

"Keluarlah nak, aku bisa mengurus ini." Kata Kya.

"Bu, aku takut.." Katara hampir menangis.

Kya dengan tenang tersenyum pada putrinya. "Cari ayahmu. Ini bukan masalah."

Maka Katara pergi meninggalkan rumahnya sambil memanggil-manggil ayahnya. Dan saat mereka kembali ke rumah untuk menolong Kya, prajurit Fire Nation yang menyeramkan itu sudah tidak ada di sana. Hanya ada ….

Katara tampak tegar di balik cahaya matahari tenggelam. Zuko menghampirinya dan mengambil tali kendali Appa. Katara menatap Zuko yang tersenyum padanya. "Lihatlah. Kau tidak membentakku atau memukulku lagi. Mana energimu? Tidurlah."

Akhirnya Katara menurut dan tertidur di sebelah Haru. Dan beberapa jam kemudian Zuko melihat kapal Southern Raiders dari kejauhan. "Kita sudah sampai!"

Haru dan Katara terbangun. Katara segera melindungi Appa dengan dinding air untuk menyusup ke dekat kapal Southern Raiders. Ia muncul bersama dengan gelombang lautan yang menghantam geladak atas kapal dan menyapu beberapa prajurit Fire Nation.

Haru lagi-lagi berjaga di atas Appa. Di atas kapal yang sedang berlayar di lautan, Earth bender tidak bisa berbuat banyak kecuali dia bisa berkelahi dengan menggunakan tangan kosong atau pedang.

Di dalam kapal, Zuko berlari di belakang Katara dan melindunginya dari musuh yang hendak menyerang mereka dari belakang. Katara membobol pintu anjungan kapal dimana pimpinan Southern Raiders berada. Tenaga air yang sangat kuat membuat pintu terjebol. Zuko segera melompat ke depan Katara untuk menangkis dua buah bola api yang dilepaskan ke arah mereka.

Saat pimpinan Southern Raiders itu hendak menantang Zuko, mendadak tangannya bergerak sendiri dan membuatnya panik. Katara melumpuhkannya dengan ilmu Blood Bending.

Namun saat melihat matanya, Katara sadar bahwa mereka salah orang. "Bukan dia.."

Zuko terkejut. "Apa maksudmu, bukan dia? Dia ini pimpinan Southern Raiders."

Katara tidak pernah melupakan tatapan mata jahat itu. Dan ia yakin sekali bahwa bukan dia. Zuko membekuk tangan pimpinan Southern Raiders dan menempelkan wajahnya ke kaca anjungan. "Kau pasti tahu orang yang kami cari!"

"Kau pasti mencari Yon Rha. Dia sudah pensiun 4 tahun lalu! Aku akan beritahukan kau tempat tinggalnya sekarang bila kau lepaskan aku!" katanya.

Segera setelah pimpinan Southern Raiders itu memberi tahu Zuko dan Katara tempat tinggal Yon Rha, mereka mendatanginya di tempat.

Yon Rha kini bernasib naas. Satu-satunya perempuan yang mau hidup dengannya hanyalah ibunya yang galak dan judes serta banyak maunya. Setiap hari ia menanam sayuran di kebunnya sendiri. Tapi sayurannya tidak ada yang enak. Ia bersikap baik pada ibunya, tapi ibunya terlampau galak dan selalu membentakinya.

Yon Rha turun ke desa untuk membeli sayuran yang diinginkan ibunya. Sepanjang jalan, Yon Rha merasa ada yang sedang membuntutinya. Sudah wajar bagi seorang pendekar, sekalipun sudah mantan untuk mengetahui bahwa dirinya sedang dibuntuti.

Akhirnya hujan pun turun dan di jalan sepi, Yon Rha menyerang semak-semak secara mendadak. "Aku tahu kau di sana!"

Namun tidak ada yang terjadi. Maka Yon Rha memunguti sayurannya dan berjalan kembali ke rumahnya. Akan tetapi baru satu langkah ia berjalan, ia sudah tersandung. Dan segera seseorang melemparkan bola api ke padanya sehingga Yon Rha mundur ketakutan.

"Kita ga sembunyi dibalik semak." Kata Zuko. Lalu ia maju selangkah sambil mengancam Yon Rha. "Dan aku takkan ragu untuk menyerangmu lagi!"

Yon Rha ketakutan. "Ampun.. ampuun… ambil barang-barangku, ambil uangku, tapi ampuni aku!"

Katara lalu muncul dan membuka penutup mulutnya. "Kau ingat aku?"

Yon Rha tidak terlalu ingat. "Sepertinya tidak …"

Zuko membentaknya. "Sebaiknya kau ingat karena hidupmu tergantung pada ingatanmu itu!"

Berangsur-angsur ingatan kembali kepada Yon Rha. "Ya.. aku ingat… kau gadis kecil dari suku air itu…"

"Kau bunuh ibuku!" kata Katara dengan marah. Lalu dengan sedih ia melanjutkan. "Ia sedang melindungi Water bender terakhir di South Pole."

Yon Rha menjadi penasaran. "Ha? Siapa?"

"Aku!" Katara lalu mengumpulkan air hujan yang jatuh. Di atas tanah, di udara, di sekitarnya. Lalu ia menjadikannya tombak-tombak es yang tajam dan runcing dan menyerang Yon Rha. Yon Rha meringkuk ketakutan.

Namun Katara menghentikannya dan menyudahinya. Tombak-tombak e situ mencair seketika mengguyur tubuh Yon Rha. Selamat dari kematian yang mengerikan, Yon Rha berlutut di hadapan Katara. "Ampun! Aku salah! Aku telah melakukan hal yang buruk. Kenapa tidak kau ambil nyawa ibuku saja? Adil, kan?"

Mendengar itu, Katara kecewa. "Selama ini aku selalu penasaran, monster seperti apa yang melakukan hal tersebut pada ibuku. Tapi setelah melihatmu sekarang… aku mengerti.. kau bahkan tidak berguna untuk dibunuh. Tidak ada apapun dalam dirimu. Kau kosong, hampa, dan menyedihkan."

Katara membalikkan tubuhnya dan berjalan pergi meninggalkan Yon Rha yang gemetaran dan lega karena baru saja selamat. Zuko mengikuti Katara dari belakang. Yon Rha bersedih karena ia harus kembali ke tempat ibunya yang galak.

"Sudah?" tanya Haru.

Melihat wajah kecewa Katara dan gadis itu tidak mau bicara sedikitpun, Haru menatap Zuko dengan bingung. Zuko menggeleng padanya untuk memberitahunya agar tidak menyinggung hal itu lagi untuk sementara waktu.

"Yip yip!" Haru menerbangkan Appa.

Di atas sadel, Zuko melihat Katara begitu sedih. Barangkali ia merasa kecewa. Kecewa karena apa? Karena tidak mampu membalas dendam? Bila ia membalas dendam, apakah ia akan seperti ini juga? Zuko ingin sekali menghiburnya, tapi belum bergerak saja, Katara sudah memalingkan wajahnya darinya. Akhirnya Zuko berjalan ke arah kemudi dan menyuruh Haru duduk di sebelah Katara.

Haru segera menghibur Katara yang tersenyum padanya.

Zuko hanya bisa membawa mereka ke Ember Island yang indah agar Katara bisa menenangkan diri di tempat yang damai.