A/N : Sulit juga. Aku malah gabungin tradisi pernikahannya zaman Tionghoa dengan yang DW8E. Tapi, not bad. *jangan muji diri hoi-ditampar Xujie* Maaf ya kalau ada yang mengecewakan. Tapi aku sudah cari dengan mbah gugel tapi hanya seperti ini hasil campur pernikahan ala author, teehee! *disambar petir*
Oke, balas review!
-safniradhika-
Blossom : Mweheheh, gitu ya? Syukurlah kalau begitu.
Scarlet : Kenapa malah kau yang malu-malu...
Guo Jia : Tentu saja, aku akan memperlakukan Xujie dengan sangat baik.
Scarlet : Now I'm worried, brudda.
Blossom : Oi.
Xujie : ...? Terima kasih atas reviewnya!
-xtreme guavaniko-
Xujie : U-Ular... dijadikan sate? *merinding*
Guo Jia: Kau tidak perlu membayangkannya Xujie. *sweatdrop*
Scarlet : Resep baru dari Wa-chan itu patut dicoba lho Xujie. Coba masak sana.
Guo Jia : *musou Scarlet*
Scarlet : GYAAAAA!
Blossom : *tutup mata Xujie* Terima kasih reviewnya Wa-chan!
Xujie : Eh? Lho?
-Yanagi277-
Scarlet : Ah, pendatang baru. Terima kasih sudah berkunjung dan favorite/follow kami. *bows*
Blossom : Kapak belati yang punya Yue Ying itu lho. Keren kan?
Scarlet : Kenapa malah kau yang bangga...
Xujie : IYKWIM? Apa itu?
Scarlet : *pasang headphone*
Blossom : *joget* Terima kasih reviewnya~
-crossmix-
Guo Jia : *chuckle* Bibir Xujie sangat lembut. Sama seperti teh, aku jadi tidak bisa berhenti menikmatinya.
Xujie : ... *blush* M-Maaf kalau aku memang lemah.
Scarlet : Minta maaf lagi.
Blossom : Yujie kemungkinan akan muncul di chapter berikutnya. Jadi stay tune~
Scarlet : Terima kasih reviewnya senpai!
Disclaimer : Dynasty Warriors milik KOEI. OCs dan alur cerita milik saya.
Warning : Guo Jia x OC (Mei Xujie); gak sengaja typo, fic abal(?), mungkin ada OOC karena disengajakan demi alur cerita.
Happy reading!
The Blue Butterfly : The Warmth of Life
Chapter 11
What I Found In This World
"A-Apa aku harus ikut tidak ya...?" gumam Xujie. Ia menggenggam kedua tangannya erat dan raut wajahnya terlihat cemas. "T-Tapi kalau tidak dibuatkan mereka pasti bertanya-tanya...Uuh." Xujie menepuk kedua pipinya. "...Tidak! Aku harus mengatakannya! Agar Fengxiao tidak—"
"Ah! Nona Mei Xujie. Kenapa nona berdiri didepan pintu dapur?" tanya seorang dayang yang berdiri tepat dibelakangnya.
"E-Eh!?" Xujie membalikkan badannya. Para dayang kemudian memberi hormat. "A-Ah, t-tidak! A-Aku hanya—"
"Jangan-jangan nona ingin membantu kami untuk menyiapkan perjamuan?" tanya dayang tersebut dengan nada ceria.
"Hei! Tidak sopan!" Bisik dayang yang satu lagi mencubit tangannya.
"Duh! Maaf."
"A-Aku akan ikut membantu." Ucap Xujie pelan.
"Sungguh? Wah! Saya senang sekali nona!" ucap dayang tersebut.
"Hei!"
'Sepertinya aku tidak akan bisa memerintahkan mereka untuk tidak membuatkan arak. Lagipula, sepertinya dia membutuhkanku, aku tidak bisa menolak.' Batin Xujie.
-xxx-
Xujie menyanggul rambutnya agar tidak mengganggu saat memasak, kemudia ia memasangkan apron putih.
"Ah, Nona Mei Xujie! Sebaiknya kami saja yang mengurus perjamuan. Nona tidak perlu repot-repot!" ucap dayang istana yang muncul dengan panik.
Xujie menggeleng pelan dan tersenyum. "Tidak apa kok. Lagipula aku tidak suka diam menunggu, aku juga ingin membantu kalian. Apakah tidak masalah?" tanya Xujie.
"Ah tidak kok, Nona! Kami senang sekali nona mau membantu! Kalau begitu mohon bimbangannya!" ucap dayang tersebut sambil membungkukkan badan.
"Eh? Bimbing?"
"Ya, Nona! Saya dengar Nona sangat berbakat dalam hal seperti ini. Saya yakin nona mengetahui resep makanan lebih banyak daripada kami."
"..." Wajah Xujie merona merah. "Ah, tidak. Aku tidak sebegitu berbakat kok..."
"Nona tidak perlu malu, kami ingin sekali diajarkan oleh Nona. Ahh, andai saja Nona Mei Xujie menjadi ketua dayang tertinggi di istana—Ah, maaf atas kelancangan saya! Saya berbicara terlalu banyak!"
Xujie hanya tertawa kecil dicampur malu. "T-Tidak apa. Kalau begitu, maukah kamu membantuku?"
"Baik, Nona!"
Kata-kata dayang tersebut masih berbunyi di dalam kepalanya. Menjadi ketua dayang istana mungkin ia bisa membantu para dayang. Tetapi entah kenapa Xujie merasa tidak pantas, dia memang banyak belajar saat di Luo Yang dan masih pemula menurut pendapatnya sendiri. Dirinya pun tidak menyangka dianggap demikian.
-xxx-
'Ini... pertama kalinya aku membuat arak. Apa kali ini akan membuatku mabuk lagi kalau aku mencobanya? Ah, jangan sekarang.' Batin Xujie.
"H-Hebat! Dari penampilan luarnya saja, sudah mengunggah selera!"
"Iya! Berbeda sekali dari perjamuan dulu!"
"Nona Mei Xujie hebat sekali!"
Mendengar pujian itu, tubuh Xujie merinding. Dia tidak mengerti kenapa tapi Xujie selalu merasa tidak enak badan jika dipuji. "S-Sudahlah, kalau begitu kita bawa ke tempat perjamuan."
"Ah, kali ini Nona istirahat saja." Kemudian dayang tersebut berbisik ke telinga Xujie. "Calon suami Nona Mei Xujie menunggu lho!"
"..." Wajah Xujie semakin memanas. Dia baru ingat kalau Xujie belum mengatakan apapun pada Guo Jia. Memang mereka pergi bersama-sama menuju istana, tetapi malah terpisah karena Xujie melamun sambil berjalan terlalu lama dan sampai di depan dapur istana karena saking cemasnya Guo Jia akan meminum arak lagi.
"T-Tidak, aku akan membantu kalian." Ucap Xujie pelan.
"Nona jangan memaksakan diri! Lagipula kami sudah banyak sekali berhutang budi pada Nona! Kami sudah banyak diajari banyak hal..."
"Kali ini biarkan aku membantu kalian." Ucap Xujie tegas.
Para dayang sedikit kaget dengan sikap Xujie yang tiba-tiba tegas. Kemudian mereka semua tersenyum. "Baiklah, Nona!"
"..." Guo Jia melirik kenan dan kekiri. Sedari tadi dia sudah sampai di tempat perjamuan dan baru sadar Xujie tiba-tiba menghilang. Cao Cao juga baru selesai berpidato dan perayaan sudah dimulai.
"Kenapa kau sendirian, Tuan Muda?" tanya Jia Xu.
"Sebenarnya aku bersama Xujie, tapi dia tiba-tiba menghilang." Ucap Guo Jia.
Para dayang masuk ke dalam aula perjamuan dengan makanan dikedua tangan. Mereka menaruh makanan dan arak diatas meja prasmanan. Setelah itu mereka semua mengundurkan diri. Guo Jia melihat Xujie diantara sekumpulan dayang tersebut. Xujie yang sadar ditatapi oleh Guo Jia bergegas menghampirinya.
"Fengxiao. Maafkan aku! Gara-gara aku melamun terlalu lama aku jadi sampai di dapur istana. Jadi... aku membantu mereka. Lalu...uhm."
Guo Jia tertawa pelan kemudian mengelus pipinya. "Terus terang seperti biasa."
"Eh...ah." Xujie berhenti berbicara dan menundukkan kepala. "M-Maafkan aku!"
"Dan peminta maaf seperti biasa." Lanjut Guo Jia.
"Eh..." Kali ini Xujie menutup mulutnya rapat dengan menggunakan kedua tangannya agar tidak berbicara lagi. Melihat reaksi lucu Xujie, calon suaminya semakin terhibur. Xujie yang ingin mengatakan 'Jangan tertawa!' tapi tidak bisa keluar karena takut ia akan berbicara lebih panjang lagi.
"Ngomong-ngomong, Xujie."
"Um?"
"Kau terlihat sangat cantik jika rambutmu disanggul seperti itu." Puji Guo Jia membelai rambutnya.
"Eh, aku lupa!" Xujie bergegas melepas sanggulannya kemudian mengikat tinggi dengan pita biru pemberian ayah angkatnya. "...Um, s-sepertinya aku terlambat untuk mendengar pidato Tuan Cao Cao." Ucap Xujie menukar pembicaraan.
"Ya."
Mendengar jawaban singkat dari Guo Jia, Xujie kini bingung apa yang harus dibicarakan. Kemudian dia baru ingat tadi Xujie membuatkan arak buatannya sendiri. "F-Fengxiao..."
"Hm?"
"T-Tadi aku... aku membuatkan arak... j-jadi... minum...uhm." Xujie berbicara terbata-bata dan suaranya bergetar.
Guo Jia tertawa kecil. "Tapi apakah tidak apa? Bukankah kau melarangku untuk tidak meminumnya?"
"I-Iya. Tapi... kalau aku membuat teh lagi... aku takut Fengxiao akan bosan... Jadi..."
"Hm? Siapa bilang aku bosan meminum teh buatanmu?" Guo Jia mendekatkan wajahnya dan tersenyum menggoda.
"Eh...i-itu...um..." Xujie memalingkan wajah dan pipinya merona merah padam.
"Baiklah. Aku akan meminumnya."
"...F-Fengxiao..."
"Ya?"
"F-Fengxiao boleh meminumnya sesukamu bahkan kalau sampai mabuk...aku tidak keberatan!" ucap Xujie.
Guo Jia menaikkan alisnya dan tertawa lagi. "Baiklah." Setelah Guo Jia mengambil cawan dan mengisi arak. Ia sadar bau araknya berbeda dari yang biasanya. Kemudian kembali duduk disamping Xujie. "Apapun yang kau buat, selalu berbeda dari yang orang lain."
"Eh? J-Jangan-jangan aku salah mencampurkan sesuatu!? Atau—"
"Tidak tidak." Guo Jia menggeleng dan membelai kepalanya. "Aku kan belum mencobanya." Ucap Guo Jia tersenyum
"Eh, iya." Xujie kembali tenang dan menunggu komentar dari Guo Jia setelah mencicipinya. Guo Jia meminum arak tersebut.
"Hm, rasanya juga berbeda."
"T-ternyata aku salah mencampurkannya!" ucap Xujie panik.
Guo Jia mendengus geli. Ia merasa seharian ini dia terlalu sering tertawa karena sikap Xujie. "Kau benar-benar menghiburku hari ini, Xujie..." ucapnya menahan tawa.
"Eh?"
"Araknya sangat berbeda dari yang biasanya yang kuminum, lebih enak."
Xujie tersenyum lebar mendengar jawabannya. "S-Syukurlah..." Ia menghela napas. "Kalau begitu, apa tidak apa ya kalau aku meminumnya?"
Guo Jia berhenti minum. "Lebih baik jangan, Xujie. Walaupun kamu sendiri yang membuat, yang namanya arak tidak akan ada yang tidak membuatmu mabuk."
"Iya juga." Ucap Xujie sedikit kecewa. Padahal dia sangat penasaran dengan rasa arak buatannya dan memastikan kalau Guo Jia berbohong. Xujie menggeleng kepalanya. "T-Tidak mungkin Fengxiao berbohong! Tidak mungkin!"
"Apanya?" tanya Guo Jia.
"B-Bukan apa-apa!" Xujie menggoyang kedua tangannya dengan panik. Ia langsung mengalihkan pandangan agar Guo Jia tidak bertanya lagi. 'Uh, aku bodoh! Aku malah mengira Fengxiao berbohong. Padahal dia mengatakannya agar aku tidak mabuk dan pusing.' Xujie menghela napas.
"Kau terlihat lelah sekali, putriku." Ucap Xun Yu menghampiri Xujie. Ia menaruh tangannya diatas kepala Xujie dan membelainya.
"Ayah, jangan elus kepalaku! Aku bukan anak kecil!" ucap Xujie kesal.
"Ya, karena Xujie sudah menjadi wanita yang akan menjadi istriku." Sambung Guo Jia sambil menaruh lengannya di sekitar bahu Xujie..
"..." Xujie tertunduk malu.
"Aku sudah tahu itu, Tuan Guo Jia. Jadi bisakah kau tidak menyentuh putriku di depan umum?"
Guo Jia tertawa pelan. "Anda adalah ayah yang sangat overprotektif, Tuan Xun Yu."
"A-Anu... apa kalian bertengkar?" tanya Xujie pelan.
"Tentu saja tidak." Jawab Guo Jia sambil tersenyum.
"Kau terlalu cepat untuk menyentuh putriku, Tuan Guo Jia."
"Oh? Tapi aku sudah menyentuhnya kok." Ucap Guo Jia sambil membelai rambutnya, Xujie hanya kembali tertunduk malu. Guo Jia tertawa pelan. "Anda tidak perlu khawatir, Tuan Xun Yu. Xujie akan baik-baik saja."
"...?" Xujie mengarahkan matanya pada Guo Jia.
"Ya kan?" tanya Guo Jia memandang Xujie.
"...um." Xujie mengangguk pelan dan tersenyum kecil. "J-Jadi kalian jangan bertengkar—aduh!"
"Bukannya calon suamimu bilang kalau kami tidak bertengkar?" ucap Xun Yu menyentil dahi Xujie. Ia tersenyum singkat pada Xujie. "Aku juga sudah tahu itu..." Ia membalikkan badannya.
Xujie tersenyum syukur. "Ayah." Xun Yu menoleh ke arah putri angkatnya, seulas senyuman menghiasi wajahnya. "Terima kasih." Xun Yu kembali menoleh ke depan, ia hanya menggaruk pipinya dengan jari telunjuk.
Beberapa hari kemudian setelah pertempuran di Guan Du. Guo Jia dan Xujie dinikahkan di Xu Chang, seperti yang dijanjikan oleh Cao Cao. Setelah upacara dilaksanakan, para dayang istana menebarkan kelopak bunga sakura pada mereka yang telah melakukan ritual pagi. Mereka saling bergandengan tangan menuju kereta kuda. Xujie mengenakan pakaian tradisional yang berwarna biru keemasan dan putih, diatas kepalanya dipasangkan ornamen mahkota berpangkal bunga mawar, rambut merah kecoklatannya dibiarkan tergerai bebas. Ia menutup wajahnya dengan sebuah kipas. Kecantikannya tidak bisa dibandingkan dengan apapun bahkan dengan pohon sakura yang lebat bermekaran.
Guo Jia membantunya masuk ke dalam kereta kuda. "Ayah!" seru Xujie. Xun Yu hanya melambaikan tangan sambil tersenyum. Xujie membalas senyumnya. Kemudian Guo Jia berkowtow sebelum memasuki kereta.
-xxx-
"..." Xujie masih menutup wajahnya dengan kipas. Detak jantungnya berdetak kencang, wajahnya merona merah. '...A-Aku harus bilang apa ya? Sekarang hanya kami berdua di dalam... Bagaimana ini?'
Xujie melirik kearah Guo Jia, suami barunya tersebut sedang memandang Xujie. Ia menumpukan dagunya di telapak tangan dan tersenyum. Detak jantung Xujie berdetak keras dan matanya langsung mengarah keluar jendela dan menutup wajahnya dengan kipas. 'D-Dia menatapku...!'
Melihat reaksi Xujie, Guo Jia menurunkan kipas dari wajah Xujie. Istrinya tersentak kaget, wajahnya mereka sangat dekat. Xujie tertunduk malu dan tidak berani menatap suaminya. Guo Jia menyentuh dagunya agar ia dapat melihat wajahnya.
"M-Maaf... aku... terlalu gugup. Aku tidak tahu kenapa... T-Tanganku tidak bisa berhenti bergetar..." ucap Xujie menggengam erat kedua tangannya dan tertawa paksa. Guo Jia tertawa pelan. Ia menggenggam kedua tangan Xujie. "T-Tapi, aku sangat senang... dengan begini... aku bisa lebih dekat dengan Fengxiao. Kalau saja aku tidak bertemu dengan Fengxiao, aku tidak akan bisa sebahagia ini..." Ucap Xujie tersenyum. Kini tangannya telah berhenti bergetar, kedua tangan mereka sama hangatnya. Guo Jia tersenyum lembut, kening mereka saling bersentuhan.
"Aku akan berjanji untuk mencintai dan melindungimu, Xujie. Karena kau adalah segalanya bagiku."
"Um." Xujie mengangguk. Sepasang mata merahnya terlihat basah, Guo Jia mengecup pelupuk matanya. "Ah...Kenapa aku terus seperti ini..." Xujie menyeka air matanya sambil tertawa kecil. "Aku tidak boleh seperti ini terus. Aku tidak boleh menangis lagi..."
"Tapi, itu kan air mata kebahagiaan." Sahut Guo Jia.
"Fengxiao benar..." ucap Xujie tertawa pelan.
-xxx-
"Uhm... ngomong-ngomong, Fengxiao?" Xujie menarik pelan lengan baju Guo Jia.
"Ya, istriku?" Guo Jia menoleh ke arah istrinya. Xujie yang dipanggil seperti itu membuat wajahnya kembali merona.
"U-Uhm... kita akan pergi kemana?"
Guo Jia mengedipkan sebelah mata dan menaruh jari telunjuk di depan bibirnya. "Rahasia."
"Eeeh?" Lalu Xujie menundukkan kepalanya dan berpikir kemana mereka akan pergi. "...Aku tidak bisa menebaknya." Guo Jia hanya tertawa pelan.
"Tempat dimana kita bisa menghabiskan waktu bersama dan juga tempat kelahiranku."
"...Tempat kelahiran Fengxiao? Ah, aku bisa bertemu dengan ayah dan ibumu ya?" tanya Xujie.
Guo Jia tersenyum sedih. "Sebenarnya aku ingin memperkenalkanmu pada mereka. Tapi mereka sudah tiada."
"Eh...ah. M-Maaf." Xujie menundukkan kepalanya. "Aku baru tahu..."
"Tidak apa." Sang suami mengelus pipinya. "Tapi kita bisa berkunjung ke makam mereka..."
Xujie tersenyum lembut. "Um. Aku menantikannya."
Setelah beberapa jam menuju Yangzhai akhirnya mereka sampai. Sementara itu, karena menunggu terlalu lama Xujie tertidur, kepalanya bersandar di bahu Guo Jia dan tangan mereka saling bergandengan. Sedangkan Guo Jia tidak merasa mengatuk sama sekali, dengan perlahan ia menyelitkan rambut Xujie kebelakang telinganya.
"Tuan Guo Jia, Nona Mei Xujie. Kita sudah sampai."
Guo Jia kemudian membangunkan Xujie, ia berbisik ke telinganya. "Kita sudah sampai, istriku..."
"Ngh..." Xujie membuka matanya dengan perlahan. "Eh? Sudah sampai?"
"Ya." Guo Jia kemudian keluar dari kereta, setelah itu membantu Xujie keluar. Ia mengulurkan tangan pada Xujie, dan istrinya memegang tangannya. Pakaiannya yang dalam membuatnya sedikit sulit bergerak.
"Ah. Tuan Guo Jia! Kau kembali!" Para penghuni Yangzhai menghampiri mereka. "Selamat atas pernikahan Tuan dan Nona!"
"Istri Anda sangat cantik, Tuanku. Bolehkah kami bertanya siapa nama nona?" tanya seorang wanita.
"M-Mei Xujie..." jawab Xujie pelan.
Para penduduk terdiam beberapa detik kemudian kembali tersenyum. "Oh! Nona Mei Xujie, ya!" Melihat reaksi mereka tadi, Guo Jia merasa sedikit aneh dengan sikap mereka. Mereka tidak mau mengatakan apa yang dipikiran mereka tentang Xujie.
Mengingat marga Xujie adalah Mei. Dia pernah mendengarnya tapi tidak tahu dengan keberadaan mereka yang bermarga Mei tersebut. 'Sepertinya aku harus mencari tahu tentang keluarga Xujie. Dan kakaknya...' batin Guo Jia. "Xujie. Ayo..." Guo Jia menggandeng tangan sang istri dan menariknya.
"I-Iya."
"Nona! Setidaknya terimalah ini sebagai ucapan selamat dari kami!" Beberapa dari mereka memberikan hadiah. "Mohon diterima."
"Eh...T-Terima kasih. Permisi..."
-xxx-
"Besar..." ucap Xujie takjub memerhatikan rumah kediaman Guo Jia. Kemudian ada tiga orang pelayan pria menyambut kedatangan mereka.
"Selamat datang, Tuan dan Nona!" Mereka memberi hormat dengan senyum bahagia menghiasi wajah mereka. Xujie menatap dengan bingung, lalu ia menoleh kearah Guo Jia.
"Mereka adalah pelayan di rumah ini sejak aku berada di Xu Chang.."
"Nama hamba adalah Fei Ling." Kata seorang pelayan pria. "Dan dari kanan saya, namanya Fei Qi, Chou Xin. Lalu yang perempuan itu adalah Fei Shi, Cheng Ming, dan Miao Ran"
"Salam kenal, Nona Guo." Ucap mereka serentak.
"N-Nona Guo...?" gumam Xujie.
"Kau kan sudah menjadi istriku. Wajar kalau mereka memanggilmu itu." Ucap Guo Jia diiringi dengan tawa pelan.
"B-Begitu ya." Xujie mengangguk.
"Ah, kami akan membawa barangnya ke dalam. Permisi Tuan, Nona." Tiga orang pelayan pria segera mengambil barang-barang.
Setelah Xujie mengganti pakaian, Guo Jia mengajaknya berkeliling agar Xujie tahu dimana ruangan yang ada di rumahnya.
"Dan yang terakhir, disini... taman."
Kedua matanya terbelalak lebar ketika memandang taman dibelakang rumahnya. Pepohon sakura yang lebat dan bermekaran, dengan paviliun di depan. Air kolam ikan yang jernih dengan jembatan yang diatasnya.
"...Indah sekali." Lalu Xujie berjalan menuju tengah taman. Kelopak bunga berwarna pink jatuh satu persatu, Xujie menadahkan tangannya untuk menangkap kelopaknya. Guo Jia berjalan mendekati Xujie. "Aku tidak pernah melihat pohon sakura sebanyak ini... Bahkan kolam ikan, akan belum pernah melihatnya..."
"Tapi syukurlah kau sudah bisa melihat semua itu."
"Um! Itu semua karena berkat Fengxiao." Xujie membalikkan badan menghadap Guo Jia. "Sejak aku kecil aku tidak boleh pergi keluar, semenjak itu aku hanya melihat pemandangan dari dalam kamarku." Ia memegang lengannya sambil menatap langit sore. "Aku ingin melihat banyak lagi, pasti ada banyak hal yang tidak aku tahu..." Ia menurunkan kepalanya dan menatap suaminya. "Dunia ini indah sekali ya." Ucap Xujie sambil tersenyum lembut.
Guo Jia terpana melihat wajah senyumnya. Xujie terlihat sudah tumbuh dewasa, dari cara bicaranya dan senyuman, Xujie sudah mulai berubah. Guo Jia tersenyum hangat, ia mengambil kelopak bunga yang jatuh diatas kepala Xujie. "Kalau begitu, aku akan membawamu ke suatu tempat."
"Eh? Kita akan pergi kemana?" tanya Xujie.
"Sebentar lagi, matahari akan terbenam kan?"
"...?"
Mereka berjalan melewati rumah para penghuni Yangzhai, sebagian dari mereka selesai mengerjakan aktivitas mereka masing-masing dan pulang ke rumah.
'Andai saja, perang sudah berakhir... Hatiku pasti akan merasa lebih tenang. Hidup di dunia yang indah dan damai ini dengan Fengxiao...'
"Nah, kita sampai..."
"Wah, airnya berkilauan!" Xujie berlari menuju tepi sungai. "Indahnya..." ucap Xujie takjub dan bermain dengan air menggunakan kedua tangannya diiringi dengan tawa kecil. Xujie kemudian melepas sandalnya dan memasukkan kakinya ke dalam air sungai yang tidak terlalu dalam. "Wah, kok bisa hangat?" Ia menaikkan pakaiannya agar tidak basah, dia kembali tertawa kecil. Guo Jia yang melihatnya menari diatas air hanya bisa tersenyum, jarang sekali ia melihat Xujie ceria seperti itu.
"Ah! Mataharinya sudah mulai terbenam!" Xujie menghadap ke arah pegunungan, dapat dilihat olehnya matahari sedikit demi sedikit mulai terbenam di ufuk barat. "Lima...empat...tiga...dua... sa...tu!" Dan akhirnya langit mulai kelam dan matahari tak terlihat lagi. Xujie kembali tertawa pelan, "Lho? Airnya sudah dingin..." Disaat Xujie membalikkan badan ternyata Guo Jia sedari tadi sudah berada di belakangnya. "Wah! Kaget!" pekik Xujie.
Xujie terdiam dan menatap Guo Jia kebingungan, suaminya menyentuh kedua pipinya dan mendaratkan kecupan singkat di keningnya. "Xujie... Melihatmu tersenyum dan tertawa seperti itu, hatiku terasa sangat damai." Ia membelai kulit pipinya yang lembut. "Teruslah tersenyum Xujie..."
Kedua mata merah indahnya berkaca-kaca, seulas senyuman di wajah istrinya kembali muncul. "Um..."
"...Nah, kalau begitu ayo kita pulang."
"Ya."
Guo Jia terlebih dahulu keluar dari sungai, ia mengulurkan tangan pada Xujie untuk membantunya keluar. Xujie segera menangkap tangan suaminya namun—"Kyaaa!" Xujie terpeleset dan jatuh, tangannya yang sudah menangkap tangan Guo Jia tidak sengaja ditariknya membuat Guo Jia ikut terjatuh.
"Xujie! Kau tidak apa-apa!?" Guo Jia langsung membantunya keluar dari sungai, ia hampir tenggelam. Xujie terbatuk karena hampir menelan air.
"...U-Um. Ah, maaf! Fengxiao jadi ikut basah karena aku..."
"Tidak apa. Ayo kita pulang."
"I-Iya..."
"Astaga! Tuan dan Nona basah kuyup!" seru Fei Ling. "Cepat ambilkan handuk dan baju ganti!"
"Baik!"
"M-Maaf! Ini semua gara-gara aku...hatchi!"
"Gawat! Nona Mei Xujie terkena pilek! Cepat! Nanti Nona bisa masuk angin!" seru Fei Shi panik. "Tuan dan Nona sebaiknya menunggu di kamar, kami akan mengambil pakaian yang hangat secepat mungkin!"
"Dan kami akan membuatkan makan malam secepatnya!"
"Terima kasih." Ucap Guo Jia sambil tertawa pelan.
-xxx-
Setelah berganti pakaian, Xujie menyelimuti tubuhnya dengan selimut. Ia duduk di tengah ranjang, kedua matanya setengah tertutup.
"F-Fengxiao tidak apa-apa?" tanya Xujie.
"Ya, aku baik-baik saja. Bagaimana denganmu? Wajahmu merah sekali..."
"N-Nanti sembuh kok—hatchi!"
Guo Jia mendekati Xujie kemudian menempelkan kedua dahi mereka. Wajah Xujie semakin memerah dan panas. "Panas sekali." Ucap Guo Jia cemas. "Aku akan membawakan makan malamnya ke kamar. Jadi istirahatlah sebentar."
"B-Baik..."
Tak beberapa lama kemudian, Guo Jia membawakan makanan hangat, air putih dan obat. Ia menaruh makanan tersebut di atas meja yang terletak disamping ranjang. "Nah, biar aku suapi."
"Y-Ya..."
-xxx-
"...Fuh." Xujie selesai makan, ia meminum air putih hangat yang dibantu oleh Guo Jia. "Terima kasih atas makannya..."
"Aku akan membantumu meminum obatnya." Guo Jia memberikan satu pil obat pada Xujie.
"E-Eh? Kenapa? B-Baiklah..."
Guo Jia tertawa pelan. "Tutup matamu."
Xujie memejamkan matanya, Guo Jia memasukkan pil tersebut di depan giginya kemudian memegang dagu Xujie. Bibir mereka hampir bersentuhan, Guo Jia kemudian mendorong pil tersebut dengan lidahnya agar masuk ke dalam mulut Xujie.
"...!?" Xujie bermegap-megap ketika lidah mereka saling bertemu. Guo Jia terus mendorong pil tersebut sampai Xujie menelannya. "Ah...haa..." Xujie merintih, ia kesulitan mengambil nafas. Guo Jia kemudian melepasnya, ia tersenyum menggoda.
"Bagaimana?"
"...P-Pilnya sudah kutelan..." ucap Xujie pelan tanpa menatapnya. "T-Terima kasih..."
"Sebaiknya, kita tidur. Kau pasti lelah..."
"B-Baik..."
Guo Jia menutup tirai ranjangnya setelah meniup lilin. Ia mendekap Xujie dari belakang dan menumpukan dagunya di bahu Xujie kemudian lengannya melingkar pada tubuh istrinya. "Apa terasa hangat?"
"U-Um..." Xujie menyembunyikan wajahnya dengan selimut. "A-Anu... Fengxiao? Aku tidak bisa tidur seperti ini..."
"Sebentar saja tidak apa kan?"
"...B-Baiklah."
Guo Jia menghirup aromanya yang harum, ia mengecup belakang leher Xujie yang terbuka. "...ah! F-Fengxiao! A-Apa yang—"
"Sepertinya kulitmu kembali menghangat. Aku yakin kau akan cepat sembuh..."
"Eh...anu..."
Guo Jia kemudian membaringkan Xujie, kemudian memposisikan dirinya diatas Xujie. Istrinya semakin kebingungan atas tindakannya. Ia ingin mendorongnya tetapi Xujie tidak berani melakukannya. "F-Fengxiao...?"
"Aku menginginkanmu Xujie..." Ia mengelus pipinya dengan perlahan, agar dia dapat merasakan kelembutan kulitnya. Guo Jia tersenyum dan tatapan matanya selalu berhasil membuat hati Xujie berdebar tak karuan.
"Eh?" Setelah itu suaminya tidak mengatakan apapun, ia memainkan telinga Xujie dengan bibirnya. "A-Ah!"
"Hatimu sudah menjadi milikku, kini... semua yang ada pada dirimu juga akan menjadi milikku." Bisiknya. Guo Jia menghembus pelan ke telinga Xujie. Xujie menutup rapat mulutnya agar tidak mendesah, tangan suaminya bergerak menuju pinggangnya. Ia memegang tali gaun tidurnya. "Ingat malam ini baik-baik Xujie, bahwa kau akan menjadi milikku seutuhnya."
A/N : Author udah mulai gila... tolong. /disambarpetirlagi
Blossom : *nosebleed sambil pukul2 lantai* Umu! Totemo ii zo! *nyuri kalimat Guo Jia(?)-nggak*
Scarlet : Xujie masih sakit sempat juga diserang si pirang. *tahan nosebleed*
Blossom : Review please! Pretty please! Onegaishimasu!
